Selasa, 27 Desember 2011

Hubungan Nabi Besar Muhammad Saw. dengan Nabi Musa a.s. dan Nabi Shalih a.s.


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ




HUBUNGAN  NABI YUSUF A.S. 
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
  
Bagian XIII

Tentang

  Hubungan Nabi Besar Muhammad saw. dengan Nabi Musa a.s. dan Nabi Shalih  a.s.  
 
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
 
قُلۡ  اَرَءَیۡتُمۡ  اِنۡ کَانَ مِنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ وَ کَفَرۡتُمۡ  بِہٖ وَ شَہِدَ شَاہِدٌ مِّنۡۢ  بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ  عَلٰی مِثۡلِہٖ  فَاٰمَنَ وَ اسۡتَکۡبَرۡتُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ  لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الظّٰلِمِیۡنَ ﴿٪۱۰

Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku jika Al-Quran ini dari Allah tetapi kamu tidak percaya kepadanya dan   seorang saksi dari antara Bani Israil  memberi kesaksian terhadap kedatangan seseorang semisalnya  lalu ia  (Musa) beriman tetapi kamu berlaku sombong?" Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. (Al-Ahqaf [46]:11).

Dalam Bab sebelumnya telah dijelaskan bahwa keadaan agama Islam dan Nabi Besar Muhammad saw.  dalam hubungannya dengan agama-agama  dan nabi-nabi sebelumnya  adalah bagaikan  lautan yang ke dalamnya sungai-sungai bermuara, karena itu sebagaimana halnya   lautan memiliki berbagai khazanah  yang jauh lebih banyak dan lebih lengkap daripada yang dimiliki sungai-sungai, demikian pula halnya dengan agama Islam dan Nabi Besar Muhammad saw. jika dibandingkan dengan agama-agama dan nabi-nabi yang diutus sebelumnya.

Bagaikan “Kedatangan Tuhan”  & “Nabi yang Seperti Musa a.s.”

      Kesempurnaan agama Islam (Al-Quran) dan kesempurnaan kemuliaan akhlak dan ruhani Nabi Besar Muhammad saw.  diakui oleh Nabi Musa a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.. Berikut adalah pernyataan Nabi Musa a.s. mengenai kedatangan Nabi Besar Muhammad saw. yang dikatakan dalam Bible sebagai “nabi yang seperti Musa”:
Seorang nabi dari tengah-tengahmu, dari antara saudara-saudaramu,  sama seperti aku, akan dibangkitkan bagimu oleh Tuhan Allah-mu, dialah yang harus kamu dengarkan. Tepat seperti yang kamu minta dahulu kepada Tuhan Allahmu di gunung Horeb pada hari perkumpulan dengan berkata:  Tidak mau   aku mendengar lagi suara Tuhan Allahku, dan api yang besar ini aku tidak mau melihatnya lagi, supaya jangan aku mati. Lalu berkatalah Tuhan kepadaku: Apa yang dikatakan mereka itu baik, seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka seperti engkau ini; Aku akan menaruh firmanKu dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala  yang Kuperintahkan kepadanya. Orang yang tidak mendengar segala firmanKu yang akan diucapkan nabi itu demi namaKu, daripadanya akan Kutuntut pertanggungjawaban. Tetapi seorang nabi yang terlalu berani untuk mengucapkan demi namaKu perkataan yang tidak Kuperintahkan untuk dikatakan olehnya, atau yang berkata demi nama allah lain, nabi itu harus mati. (Ulangan 18:15-20).
       Berikut beberapa point yang dapat diambil dari keterangan Bible tersebut tentang kedatangan “nabi yang seperti Musa”, yakni Nabi Besar Muhammad saw.:
(1)  Kalimat “nabi yang seperti engkau ini” merujuk kepada Nabi Besar Muhammad saw., karena  di dalam Al-Quran pun beliau saw. disebut “nabi yang seperti Musa” (QS.46:11).
(2)   Kalimat “Aku akan menaruh firmanKu dalam mulutnya”  merujuk kepada   Al-Quran yang semua ayat-ayatnya benar-benar merupakan firman Allah Swt. seutuhnya  (QS.53:1-11).
(3)   Kalimat  “segala firmanKu akan akan diucapkan nabi itu atas namaKu” mengisyaratkan bahwa hukum-hukum syariat yang dibawa oleh Nabi Besar Muhammad saw. telah mencapai puncak kesempurnaannya, baik dari segi kuantitasnya mau pun kualitas, sebagaimana dikemukakan dalam QS.5:4 sebelum ini.
(4)  Kalimat “atas namaKu” merujuk kepada seluruh Surah Al-Quran yang dimulai dengan ayat Bismillaahirrahmaanirrahiim yang artinya “Dengan nama Allah, Yang Maha Pemurah, Maha Penyayang”, kecuali surah Al-Taubat (Al-Bara’ah) karena merupakan lanjutan Surah Al-Anfaal.
     Pernyataan Allah Swt. melalui mulut Nabi Musa a.s. dalam Bible tersebut ditampilkan lagi oleh Allah Swt. dalam Al-Quran, yang membuktikan bahwa antara berbagai kebenaran yang terdapat dalam Bible benar-benar memiliki hubungan dengan kedatangan Nabi Besar Muhammad  saw., yang merupakan misal dari Nabi Musa a.s., yang memiliki kuantitas serta kualitas akhlak dan ruhani jauh lebih sempurna daripada Nabi Musa a.s,  itulah sebabnya kenapa Nabi Musa a.s. pingsan  saat menyaksikan hancurnya gunung ketika Allah Swt. bertajalli (menampakkan keagungan-Nya) ke atasnya (QS.7:143-144), dan ketika sadar langsung menyatakan  iman kepada Rasul Allah  yang seperti dirinya, yang kedatangannya dijanjikan, firman-Nya:
  قُلۡ  اَرَءَیۡتُمۡ  اِنۡ کَانَ مِنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ وَ کَفَرۡتُمۡ  بِہٖ وَ شَہِدَ شَاہِدٌ مِّنۡۢ  بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ  عَلٰی مِثۡلِہٖ  فَاٰمَنَ وَ اسۡتَکۡبَرۡتُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ  لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الظّٰلِمِیۡنَ ﴿٪۱۰

Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku jika Al-Quran ini dari Allah tetapi kamu tidak percaya kepadanya dan   seorang saksi dari antara Bani Israil  memberi kesaksian terhadap kedatangan seseorang semisalnya  lalu ia  (Musa) beriman tetapi kamu berlaku sombong?" Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. (Al-Ahqaf [46]:11).
      Saksi dari antara Bani Israil adalah Nabi Musa a.s..  Kepada nubuatan beliau berkenaan dengan kedatangan Nabi Besar Muhammad saw. itulah yang telah diisyaratkan dalam ayat ini. Adapun nubuatan itu  -- sebagaimana telah dikemukakan sebelum ini – antara lain berbunyi sebagai berikut: "Bahwa Aku akan menjadikan bagi mereka itu seorang nabi dari antara segala saudaranya yang seperti engkau, dan Aku akan memberikan segala firman-Ku dalam mulutnya dan ia pun akan mengatakan segala yang Kusuruh akan dia. Bahwa sesungguhnya barangsiapa yang tidak mau dengar akan segala firman-Ku yang akan dikatakan olehnya dengan nama-Ku niscaya Aku menuntutnya kelak kepada orang itu (Ulangan 18:18-19).
 Firman Allah Swt. tersebut yang didukung oleh Ulangan 18:18 di atas menunjuk kepada kedatangan seorang nabi dari kalangan Bani Isma’il. Ayat yang sekarang ini menunjuk ke tanah Arab sebagai tempat turunnya nabi, yang akan mempunyai persamaan dengan Nabi Musa a.s. itu dan juga kepada Kitab (Al-Quran) yang akan menggenapi nubuatan-nubuatan yang terkandung di dalam Kitab Musa dan juga akan diunggulinya. Nubuatan yang bersang-kutan adalah sebagai berikut: "Bahwa inilah firman akan hal negeri Arab: Di dalam gurun Arab kamu akan bermalam, hai kafilah orang Dedan. Datanglah mendapatkan orang yang berdahaga sambil membawa air, hai orang isi negeri Tema! Dan unjuklah roti kepada orang-orang yang lari itu" (Yesaya 21:13-15).

Nubuatan Dalam Kisah Nabi Musa a.s. 

      Berikut beberapa firman Allah Swt.  yang membuktikan bahwa  Nabi Besar Muhammad saw. adalah “nabi yang seperti Musa” atau misal Nabi Musa a.s.:
وَ لَقَدۡ اٰتَیۡنَا مُوۡسَی الۡکِتٰبَ مِنۡۢ بَعۡدِ مَاۤ اَہۡلَکۡنَا الۡقُرُوۡنَ الۡاُوۡلٰی بَصَآئِرَ لِلنَّاسِ وَ ہُدًی وَّ رَحۡمَۃً  لَّعَلَّہُمۡ  یَتَذَکَّرُوۡنَ ﴿۴۴   وَ مَا کُنۡتَ بِجَانِبِ الۡغَرۡبِیِّ  اِذۡ  قَضَیۡنَاۤ اِلٰی مُوۡسَی الۡاَمۡرَ  وَ مَا کُنۡتَ  مِنَ  الشّٰہِدِیۡنَ ﴿ۙ۴۵   وَ لٰکِنَّاۤ  اَنۡشَاۡنَا قُرُوۡنًا فَتَطَاوَلَ عَلَیۡہِمُ الۡعُمُرُ ۚ وَ مَا کُنۡتَ ثَاوِیًا فِیۡۤ  اَہۡلِ مَدۡیَنَ تَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِنَا ۙ وَ لٰکِنَّا کُنَّا  مُرۡسِلِیۡنَ ﴿۴۶  وَ مَا کُنۡتَ بِجَانِبِ الطُّوۡرِ  اِذۡ نَادَیۡنَا وَ لٰکِنۡ رَّحۡمَۃً مِّنۡ رَّبِّکَ لِتُنۡذِرَ قَوۡمًا مَّاۤ  اَتٰىہُمۡ مِّنۡ نَّذِیۡرٍ  مِّنۡ قَبۡلِکَ  لَعَلَّہُمۡ  یَتَذَکَّرُوۡنَ ﴿۴۷ 
Dan  sungguh  Kami benar-benar telah memberikan kitab Taurat itu kepada Musa setelah Kami membinasakan generasi  terdahulu, sebagai  bukti-bukti yang terang bagi manusia dan petunjuk serta rahmat supaya mereka mendapat pelajaran.   Dan engkau (Muhammad) sekali-kali tidak ada di sebelah barat gunung itu, ketika Kami menetapkan hukum risalat kepada Musa, dan engkau sekali-kali tidak termasuk orang-orang yang menyaksikan. Tetapi Kami telah  menjadikan generasi-generasi  maka  berlalulah atas mereka masa yang panjang, dan engkau (Muhammad) sekali-kali tidak tinggal bersama penduduk Midian, yang membacakan Tanda-tanda Kami kepada mereka, tetapi Kami-lah yang mengutus rasul-rasul.   Dan engkau sekali-kali tidak  berada di lereng gunung Thur   ketika Kami berseru kepada Musa, tetapi ini adalah rahmat dari Tuhan engkau,  supaya engkau memberi  peringatan kepada kaum yang tidak pernah datang kepada mereka seorang pemberi ingat sebelum engkau supaya mereka mendapat nasihat. (Al-Qashash [28]:44-47).
       Ayat 44   bermaksud mengatakan bahwa nubuatan Nabi Musa a.s. tentang Nabi Besar Muhammad saw. (Ulangan 18:18) telah genap begitu jelas dan demikian rincinya, seakan-akan beliau saw. secara pribadi hadir bersama Nabi Musa a.s. ketika Nabi Musa a.s. mengatakan nubuatan itu.
      Ayat 46 menjelaskan bahwa abad demi abad berlalu dan suatu silsilah (untaian) para nabi muncul sesudah Nabi Musa a.s. dan mereka itu menablighkan amanat masing-masing, namun tidak ada di antara nabi-nabi itu pernah mengaku sebagai  seorang nabi yang seperti Nabi Musa a.s.,   yang mengenainya Nabi Musa a.s.  telah membuat nubuatan seperti tercantum dalam Ulangan 18:18, hingga Al-Quran diturunkan.
Al-Quran mengumumkan  bahwa nubuatan agung Nabi Musa a.s.  itu telah genap dalam wujud Nabi Besar Muhammad saw.  (QS.73:16). Jelaslah  bahwa nubuatan itu dari Allah dan mustahil diletakkan dalam mulut Nabi Musa a.s. oleh Nabi Besar Muhammad saw.   yang datang beberapa abad kemudian sesudah Nabi Musa a.s.. Kaum Nabi Musa a.s.  hampir telah melupakan nubuatan itu dan nubuatan-nubuatan lain mengenai Nabi Besar Muhammad saw.  akibat   berlalunya masa.
     Kata-kata “dan engkau (Muhammad) sekali-kali tidak tinggal bersama penduduk Midian, yang membacakan Tanda-tanda Kami kepada mereka,  menunjuk kepada persesuaian besar antara Nabi Besar Muhammad saw. dengan Nabi Musa a.s..  Seperti Nabi Musa a.s.    tinggal di Midian  selama 10 tahun  di tengah-tengah suatu bangsa yang asing dan kemudian kembali ke Mesir untuk melepaskan kaum beliau yang tertindas dari perbudakan Fir’aun, demikian juga Nabi Besar Muhammad saw.   tinggal di Medinah selama 10 tahun dan kemudian datang ke Mekkah untuk menaklukkannya.
       Kalimat dalam ayat 47 “Dan engkau sekali-kali tidak  berada di lereng gunung Thur   ketika Kami berseru kepada Musa...”,  mengandung arti bahwa tidak mungkin Nabi Besar Muhammad saw.  yang mula-mula telah menyebabkan Nabi Musa a.s.   membuat nubuatan mengenai beliau (Ulangan 18:18) dan kemudian menda'wakan diri  rasul sebagai penggenap nubuatan itu.
        Jadi, sebagaimana halnya Nabi Musa a.s. harus berhadapan dengan Fir’aun  dan  para pembantunya,  yang melakukan berbagai kezaliman yang melampaui batas,  demikian pula halnya Nabi Besar Muhammad saw. pun harus menghadapi misal Fir’aun dan para pembantunya, yakni Abu Jahal dan kawan-kawannya.
Nubuatan Dalam Kisah Nabi Salih a.s.
       Dalam kisah Nabi Salih a.s.   disebutkan bahwa jumlah misal Fir’aun dan kawan-kawannya yang harus dihadapi oleh Nabi Besar Muhammad saw. adalah 9 orang, firman-Nya:
وَ لَقَدۡ اَرۡسَلۡنَاۤ  اِلٰی ثَمُوۡدَ  اَخَاہُمۡ  صٰلِحًا اَنِ اعۡبُدُوا اللّٰہَ  فَاِذَا ہُمۡ فَرِیۡقٰنِ یَخۡتَصِمُوۡنَ ﴿۴۶   قَالَ یٰقَوۡمِ لِمَ تَسۡتَعۡجِلُوۡنَ بِالسَّیِّئَۃِ قَبۡلَ الۡحَسَنَۃِ ۚ لَوۡ لَا تَسۡتَغۡفِرُوۡنَ اللّٰہَ لَعَلَّکُمۡ تُرۡحَمُوۡنَ ﴿۴۷   قَالُوا اطَّیَّرۡنَا بِکَ وَ بِمَنۡ مَّعَکَ ؕ قَالَ طٰٓئِرُکُمۡ عِنۡدَ اللّٰہِ  بَلۡ  اَنۡتُمۡ قَوۡمٌ تُفۡتَنُوۡنَ ﴿۴۸  وَ کَانَ فِی الۡمَدِیۡنَۃِ  تِسۡعَۃُ  رَہۡطٍ یُّفۡسِدُوۡنَ فِی الۡاَرۡضِ وَ لَا یُصۡلِحُوۡنَ ﴿۴۹   قَالُوۡا تَقَاسَمُوۡا بِاللّٰہِ لَنُبَیِّتَنَّہٗ وَ اَہۡلَہٗ ثُمَّ لَنَقُوۡلَنَّ لِوَلِیِّہٖ مَا شَہِدۡنَا مَہۡلِکَ  اَہۡلِہٖ  وَ  اِنَّا  لَصٰدِقُوۡنَ ﴿۵۰   وَ مَکَرُوۡا مَکۡرًا وَّ  مَکَرۡنَا مَکۡرًا  وَّ ہُمۡ لَا  یَشۡعُرُوۡنَ ﴿۵۱  فَانۡظُرۡ کَیۡفَ کَانَ عَاقِبَۃُ مَکۡرِہِمۡ ۙ اَنَّا دَمَّرۡنٰہُمۡ  وَ  قَوۡمَہُمۡ  اَجۡمَعِیۡنَ ﴿۵۲   فَتِلۡکَ بُیُوۡتُہُمۡ خَاوِیَۃًۢ بِمَا ظَلَمُوۡا ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیَۃً   لِّقَوۡمٍ  یَّعۡلَمُوۡنَ ﴿۵۳  وَ اَنۡجَیۡنَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ کَانُوۡا یَتَّقُوۡنَ ﴿۵۴


 Dan sungguh Kami benar-benar telah mengutus kepada Tsamud saudara mereka Shalih yang berkata: “Sembahlah Allah” maka tiba-tiba mereka menjadi dua golongan yang saling berbantah.   Ia, Shalih, berkata: “Hai kaumku, mengapakah kamu minta disegerakan keburukan sebelum datang kebaikanMengapakah kamu tidak memohon ampun kepada Allah, supaya kamu di kasihani?”   Mereka berkata: “Hai Shalih,   kami telah mendapatkan nasib malang disebabkan engkau dan orang yang beserta engkau.” Ia, Shalih, berkata: “Nasib buruk kamu ada di sisi Allah, bahkan kamu  kaum yang diuji.”   Dan dalam kota itu ada  sembilan orang   yang  berbuat keru-suhan di bumi  dan tidak mau meng-adakan perbaikan.  Mereka berkata: “Hendaklah kamu sekalian bersumpah dengan nama Allāh bahwa niscaya kami  akan menyerbu pada malam hari kepada dia dan keluarganya, kemudian kami niscaya akan berkata kepada pelindung-nya:  “Kami sekali-kali tidak me-nyaksikan keluarganya menjadi binasa dan sesungguhnya kami adalah     orang-orang yang benar.”  Dan mereka membuat makar buruk  dan Kami pun membuat makar tandingan, tetapi mereka tidak menyadari, lalu perhatikanlah bagaimana buruknya akibat makar buruk mereka, sesungguhnya Kami memusnahkan mereka dan kaumnya semua.. Maka itulah rumah-rumah mereka yang telah runtuh  karena mereka berbuat zalim. Sesungguhnya dalam yang demikian itu benar-benar ada Tanda untuk kaum yang mengetahui.  Dan Kami menyelamatkan  orang-orang yang beriman dan bertak-wa. (Al-Naml [27]:46-54).
      Dengan sendirinya yang diisyaratkan dalam ayat 49 adalah kesembilan musuh Nabi Besar Muhammad saw.   terkemuka.  Delapan di antaranya terbunuh dalam pertempuran Badar dan yang kesembilan, Abu Lahab, yang terkenal keburukannya itu, mati di Mekkah ketika sampai ke telinganya khabar tentang kekalahan di Badar. Kedelapan orang itu adalah Abu Jahal, Muthim bin Adiy, Syaibah bin Rabiah, Utbah bin Rabiah, Walid bin Utbah, Umayah  bin Khalf, Nadhr bin Harts, dan Aqbah bin Abi Mu’aith.
      Ayat 51 dan 52 “Mereka berkata: “Hendaklah kamu sekalian bersumpah dengan nama Allah bahwa niscaya kami  akan menyerbu pada malam hari kepada dia dan keluarganya, kemudian kami niscaya akan berkata kepada pelindung-nya: “Kami sekali-kali tidak me-nyaksikan keluarganya menjadi binasa dan sesungguhnya kami adalah     orang-orang yang benar.”  Dan mereka membuat makar buruk  dan Kami pun membuat makar tandingan, tetapi mereka tidak menyadari.  Ayat-ayat  tersebut merupakan nubuatan mengenai musuh-musuh Nabi Besar Muhammad saw. yang  bersekongkol untuk membunuh beliau  saw..  
       Rencana  atau makar buruk tersebut adalah dengan cara memilih seorang dari tiap-tiap kabilah kaum Quraisy, dan kemudian mengadakan serangan pembunuhan yang berencana atas beliau saw. pada malam hari, sehingga tidak ada kabilah tertentu dapat dianggap bertanggung-jawab atas pembunuhan terhadap beliau saw. itu. Rencana itu datang dari Abu Jahal, pemimpin kelompok jahat itu.
       Mengisyaratkan kepada pengulangan  makar buruk yang dirancang oleh musuh-musuh Nabi Shaleh a.s. itu pulalah   firman Allah Swt.  mengenai makar buruk yang dilakukan oleh para pemimpin Quraisy terhadap Nabi Besar Muhammad saw.

وَ اِذۡ یَمۡکُرُ بِکَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا لِیُثۡبِتُوۡکَ اَوۡ یَقۡتُلُوۡکَ اَوۡ یُخۡرِجُوۡکَ ؕ وَ یَمۡکُرُوۡنَ وَ یَمۡکُرُ  اللّٰہُ  ؕ وَ اللّٰہُ خَیۡرُ الۡمٰکِرِیۡنَ ﴿۳۱

Dan ingatlah ketika orang-orang kafir merancang makar  terhadap engkau, supaya mereka dapat menangkap engkau atau membunuh engkau atau mengusir engkau.    Mereka merancang makar buruk, dan Allah pun merancang  makar tandingan,  dan Allah sebaik-baik  Perancang makar. (Al-Anf al [8]:31).
       Ayat ini mengisyaratkan kepada musyawarah rahasia yang diadakan di Darun Nadwah (Balai Permusyawaratan) di Mekkah. Ketika mereka melihat bahwa semua usaha mereka mencegah berkembangnya aliran kepercayaan baru ini gagal, dan bahwa kebanyakan orang-orang Muslim yang mampu meninggalkan Mekkah telah berhijrah ke Medinah dan mereka sudah jauh dari bahaya, maka orang-orang terkemuka warga kota berkumpul di Darun Nadwah untuk membuat rencana ke arah usaha terakhir guna menghabisi Islam.
       Sesudah diadakan pertimbangan mendalam, terpikir oleh mereka satu rencana, ialah sejumlah orang-orang muda dari berbagai kabilah Quraisy harus secara serempak menyergap Nabi Besar Muhammad saw.   lalu membunuh beliau. Tanpa setahu orang Nabi Besar Muhammad saw.  meninggalkan rumah tengah malam buta, ketika para penjaga dikuasai oleh kantuk, berlindung di Gua Tsur bersama-sama  Abubakar Shiddiq r.a. (QS.9:40), sahabat beliau yang setia, dan akhirnya sampai di Madinah dengan selamat.
     Nabi Besar Muhammad saw.  terpaksa hijrah dari Makkah, tetapi hijrahnya itu akhirnya mengakibatkan kehancuran kekuatan kaum Quraisy yang tidak menyadari, bahwa dengan memaksa Nabi Besar Muhammad saw. hijrah dari Makkah, mereka meletakkan dasar kehancuran bagi mereka sendiri.

(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid      



Senin, 26 Desember 2011

Hubungan Nabi Besar Muhammad Saw. dengan para Rasul Allah Sebelumnya


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ




HUBUNGAN  NABI YUSUF A.S. 
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
  
Bagian VII

Tentang

  Hubungan Nabi Besar Muhammad Saw. dengan 
Para Rasul Allah Sebelumnya

Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma

 اِنَّ الدِّیۡنَ عِنۡدَ اللّٰہِ الۡاِسۡلَامُ ۟ وَ مَا اخۡتَلَفَ الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ اِلَّا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَہُمُ الۡعِلۡمُ بَغۡیًۢا بَیۡنَہُمۡ ؕ وَ مَنۡ یَّکۡفُرۡ بِاٰیٰتِ اللّٰہِ فَاِنَّ اللّٰہَ سَرِیۡعُ  الۡحِسَابِ ﴿۲۰

Sesungguhnya agama  yang benar di sisi Allah adalah Islam,   dan sekali-kali tidaklah berselisih orang-orang yang diberi Kitab melainkan setelah ilmu datang kepada mereka karena kedengkian di antara mereka. Dan barangsiapa kafir kepada Tanda-tanda Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat dalam menghisab. (Aali ‘Imraan [3]:20).

Dalam Bab-bab sebelumnya telah dijelaskan secara rinci mengenai makna gelar Khaataman Nabiyyiin kepada Nabi Besar Muhammad saw. sehubungan dengan pembelaan Allah Swt. terhadap tuduhan dusta orang-orang kafir  mengenai kasus pernikahan beliau saw. dengan Sitti Zainab  r.a. atas perintah Allah Swt  dalam rangka tegaknya salah satu hukum Islam (Al-Quran) mengenai dibolehkannya seseorang menikahi janda (bakas istri) anak-angkatnya, yang menurut adat-istiadat jahiliyah dilarang (QS.33:38-41).
         Sebelum masuk ke dalam  topik bahasan utama  dalam  Blog ini – yakni Hubungan Nabi Besar Muhammad Saw. dengan Nabi Yusuf a.s. --  terlebih dulu akan dibahas mengenai hubungan Nabi Besar Muhammad saw. dengan  para Rasul Allah yang diutus sebelum beliau saw..
        Sebagaimana diketahui bahwa Nabi Besar Muhammad saw. telah bersabda bahwa Allah Swt. telah mengutus rasul (nabi) tidak kurang dari 124.000 orang nabi, tetapi yang disebutkan di dalam Al-Quran hanya ada beberapa orang nabi saja, terutama para Rasul Allah yang dalam riwayat kenabiannya  berisi kabar gaib atau nubuatan yang akan terjadi lagi  dalam  masa kehidupan  Nabi Besar Muhammad saw. dalam kuantitas dan kualitas yang paling sempurna.

Sungai-sungai dan Samudera 

      Kenapa demikian? Sebab sesuai  firman Allah Swt. yang dikemukakan dalam Bab I: Law laka lamaa khalaqtul aflaa – kalau bukan bagi (karena) engkau, Aku tidak akan menciptakan alam semesta ini”, maka kedudukan kenabian Nabi Besar Muhammad saw.  dibandingkan dengan para Rasul Allah yang diutus sebelum beliau saw. adalah ibarat sebuah lautan   yang ke dalamnya  semua sungai  bermuara, khususnya sungai-sungai besar.  
    Seperti itu pulalah kedudukan agama Islam (Al-Quran) dibandingkan dengan agama-agama atau Kitab-kitab  yang diturunkan sebelumnya kepada para Rasul Allah pembawa syariat.  Dan atas dasar kenyataan itu pulalah Allah Swt. telah menyatakan bahwa sejak Allah Swt. mengutus Nabi Besar Muhammad saw. dan menurunkan wahyu Al-Quran – sebagai agama dan KItab suci terakhir dan tersempurna (QS.5:4) – maka sejak saat itu wajib bagi manusia untuk meninggalkan agama-agama sebelumnya dan harus menerima serta beramal sesuai dengan ajaran syariat Islam (Al-Quran) sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:
وَ اِذۡ اَخَذَ اللّٰہُ مِیۡثَاقَ النَّبِیّٖنَ لَمَاۤ اٰتَیۡتُکُمۡ مِّنۡ کِتٰبٍ وَّ حِکۡمَۃٍ ثُمَّ جَآءَکُمۡ رَسُوۡلٌ مُّصَدِّقٌ لِّمَا مَعَکُمۡ لَتُؤۡمِنُنَّ بِہٖ وَ لَتَنۡصُرُنَّہٗ ؕ قَالَ ءَاَقۡرَرۡتُمۡ وَ اَخَذۡتُمۡ عَلٰی ذٰلِکُمۡ اِصۡرِیۡ ؕ قَالُوۡۤا اَقۡرَرۡنَا ؕ قَالَ فَاشۡہَدُوۡا وَ اَنَا مَعَکُمۡ مِّنَ  الشّٰہِدِیۡنَ ﴿۸۲   فَمَنۡ تَوَلّٰی بَعۡدَ ذٰلِکَ فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡفٰسِقُوۡنَ ﴿۸۳   اَفَغَیۡرَ دِیۡنِ اللّٰہِ یَبۡغُوۡنَ وَ لَہٗۤ  اَسۡلَمَ  مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا وَّ اِلَیۡہِ یُرۡجَعُوۡنَ ﴿۸۴
Dan ingatlah  ketika Allah mengambil perjanjian dari manusia melalui nabi-nabi: “Apa saja yang Aku berikan kepada kamu berupa Kitab dan Hikmah, kemudian datang ke-padamu seorang rasul yang menggenapi  apa yang ada padamu,    kamu benar-benar harus beriman kepadanya dan   kamu  benar-benar harus membantunya.” Dia berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima tanggung-jawab yang Aku be-bankan kepadamu mengenai itu?” Mereka berkata: “Kami mengakui.” Dia berfirman: “Maka bersaksilah  dan Aku pun besertamu termasuk  orang-orang yang menjadi saksi.”   Maka  barangsiapa berpaling sesudah itu, maka merekalah orang-orang fasiq.  Apakah mereka itu mencari     yang bukan agama Allah, padahal kepada Dia-lah berserah diri siapa pun yang ada di seluruh langit dan bumi, dengan rela atau terpaksa,  dan kepada-Nya mereka akan dikembalikan? (Ali-‘Imraan [3]:82-84).
      Ungkapan miitsaq an-nabiyyiin dapat berarti “perjanjian nabi-nabi dengan Tuhan” atau “perjanjian yang diambil Tuhan dari orang-orang dengan perantaraan nabi-nabi mereka”. Ungkapan ini telah dipakai di sini dalam artian yang kedua, sebab qira'ah (pembacaan) lain seperti yang didukung oleh Ubayy bin Ka’b dan ‘Abdullah bin Mas’ud ialah miitsaq alladziina uutul Kitaab, yang artinya “perjanjian mereka yang diberi Kitab” (Bahrul Muhith).  Penafsiran ini didukung pula oleh kata-kata berikut, yaitu   “kemudian datang kepadamu seorang rasul yang menggenapi apa yang ada padamu”, sebab kepada orang-oranglah rasul-rasul Allah datang dan bukan kepada nabi-nabi mereka.
       Kata mushaddiq telah dipakai di sini untuk menyatakan tolok ukur yang dengan tolok ukur itu pendakwa yang benar dapat dibedakan dari seorang pendakwa yang palsu. Secara tepat kata itu telah diterjemahkan di sini sebagai “menggenapi”, sebab hanya dengan “menggenapi” dalam dirinya maka nubuatan-nubuatan yang terkandung dalam Kitab-kitab wahyu terdahulu, seorang pendakwa dapat dibuktikan kebenarannya.
   Ayat ini dianggap pula berlaku kepada para nabi pada umumnya dan kepada Nabi Besar Muhammad saw.  pada khususnya. Kedua pemakaian itu tepat. Ayat tersebut menetapkan suatu peraturan umum. Kedatangan setiap nabi terjadi sebagai penggenapan nubuatan-nubuatan tertentu yang dibuat oleh seorang nabi yang mendahuluinya, ketika nabi itu  menyuruh pengikutnya supaya menerima nabi yang berikutnya kapan pun nabi itu datang (QS.7:35-37).

Nabi Besar Muhammad Saw. Dinubuatkan Semua Nabi dan Agama

       Jika nabi itu datang memenuhi nubuatan-nubuatan dalam Kitab-kitab dari satu kaum saja, seperti halnya dengan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  dan para nabi Bani Israil lainnya, maka hanya kaum itu saja yang wajib menerima dan membantu beliau, tetapi  bila Kitab-kitab semua agama menubuatkan kedatangan seorang nabi, seperti halnya mengenai Nabi Besar Muhammad saw.    maka semua bangsa harus menerima beliau saw., sebab beliau saw. . datang sebagai penyempurnaan nubuatan-nubuatan, bukan hanya dari para nabi Bani Israil saja (Yesaya 21:13-15; Ulangan 18:18;  33:2; Yahya 14:25, 26; 16:7-13), tetapi juga dari ahli-ahli kasyaf bangsa Aria dan ruhaniawan-ruhaniawan agama Budha dan Zoroaster (Syafrang Dasatir hlm. 188, Siraji Press, Delhi Yamaspi, diterbitkan oleh Nizham Al-Masyaich, Delhi, 1330 Hijrah).
    Dari uraian  tersebut  jelaslah bahwa yang kemudian membuat  agama Allah menjadi   bermacam-macam   di dunia ini -- dengan berbagai persepsi yang berbeda-beda mengenai   Tuhan yang Hakiki, yakni Allah Swt. – adalah para pemuka agama dari kaum-kaum tersebut yang mengingkari perjanjian mereka dengan Allah Swt. melalui para  nabi mereka (QS.3:82), padahal dengan tegas Allah Swt. telah menyatakan bahwa sejak awal pun agama-agama yang diturunkan Allah Swt.  melalui para Rasul Allah itu adalah ISLAM,  namun nama ISLAM belum diberikan kepada agama-agama tersebut karena masih dalam proses penyempurnaan, atau ibarat perkembangan tubuh manusia agama-agama tersebut masih dalam proses menuju kepada kedewasaannya,   firman-Nya:
اِنَّ الدِّیۡنَ عِنۡدَ اللّٰہِ الۡاِسۡلَامُ ۟ وَ مَا اخۡتَلَفَ الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ اِلَّا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَہُمُ الۡعِلۡمُ بَغۡیًۢا بَیۡنَہُمۡ ؕ وَ مَنۡ یَّکۡفُرۡ بِاٰیٰتِ اللّٰہِ فَاِنَّ اللّٰہَ سَرِیۡعُ  الۡحِسَابِ ﴿۲۰

Sesungguhnya agama  yang benar di sisi Allah adalah Islam,   dan sekali-kali tidaklah berselisih orang-orang yang diberi Kitab melainkan setelah ilmu datang kepada mereka karena kedengkian di antara mereka. Dan barangsiapa kafir kepada Tanda-tanda Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat dalam menghisab. (Aali ‘Imraan [3]:20).
      Semua agama senantiasa menanamkan kepercayaan Tauhid Ilahi dan kepatuhan kepada kehendak-Nya, namun demikian hanya dalam Islam sajalah paham kepatuhan   kepada kehendak Ilahi mencapai kesempurnaan, sebab kepatuhan sepenuhnya meminta pengejewantahan penuh Sifat-sifat Allah Swt. serta telah sempurnnya hukum-hukum syariat yang mengatur seluruh segi kehidupan manusia, dan hanya pada Islam sajalah pengenjewantahan demikian telah terjadi (QS.5:4).
      Jadi dari semua tatanan keagamaan hanya Islam yang berhak disebut agama Tuhan pribadi (agama Allah) dalam arti  yang sebenarnya  meminta pengejawantahan penuh Sifat-sifat Allah Swt.,   dan hanya pada Islam sajalah pengejawantahan demikian telah terjadi. Jadi  dari semua tatanan keagamaan hanya Islam yang berhak disebut agama Allāh, dalam arti kata yang sebenarnya.
Semua agama yang benar --  lebih atau kurang -- dalam bentuknya yang asli adalah agama Islam, sedang para pengikut agama-agama itu adalah Muslim dalam arti kata secara harfiah, tetapi  nama Al-Islam tidak diberikan sebelum tiba saat bila agama menjadi lengkap dalam segala ragam seginya, karena nama itu dicadangkan untuk syariat yang terakhir dan mencapai kesempurnaan dalam Al-Quran.
     Atas dasar pengertian makna ISLAM dan MUSLIM seperti itulah setelah Allah Swt. menurunkan agama terakhir dan tersempurna yakni AGAMA ISLAM (Al-Quran) melalui Nabi pembawa syariat terakhir dan tersempurna yakni Nabi Besar Muhammad saw., namun manusia (umat beragama) tetap bertahan dalam agama mereka masing-masing maka agama dan keagamaan mereka tidak akan diterima  oleh Allah Swt., sebab agama-agama serta sikap keagamaan mereka itu tidak lagi ISLAM dan MUSLIM seperti pada awal diwahyukan Allah Swt. melainkan telah menjadi agama-agama yang bertentangan dengan ajaran asli agama-agama tersebut dan di dalamnya telah muncul berbagai bentuk kemusyrikan (syirik).  Mengisyaratkan kepada kenyataan itulah firman Allah Swt. berikut ini:
وَ مَنۡ یَّبۡتَغِ غَیۡرَ الۡاِسۡلَامِ دِیۡنًا فَلَنۡ یُّقۡبَلَ مِنۡہُ ۚ وَ ہُوَ فِی الۡاٰخِرَۃِ مِنَ الۡخٰسِرِیۡنَ ﴿۸۶
Dan   barangsiapa mencari agama yang bukan agama Islam, maka  agama itu tidak akan pernah diterima darinya, dan di akhirat ia termasuk orang-orang yang rugi. (Ali ‘Imraan [3]:86).
Firman-Nya lagi:

اَلۡیَوۡمَ اَکۡمَلۡتُ لَکُمۡ دِیۡنَکُمۡ وَ اَتۡمَمۡتُ عَلَیۡکُمۡ نِعۡمَتِیۡ وَ رَضِیۡتُ لَکُمُ الۡاِسۡلَامَ دِیۡنًا
Hari ini telah Kusempurnakan agamamu bagimu, telah Kulengkapkan nikmat-Ku atasmu, dan  telah Kusukai  Islam sebagai agama bagimu.  (Al-Maaidah [5]4).
    Ikmaal (menyempurnakan) dan itmaam (melengkapkan) merupakan akar-akar kata (masdar), yang pertama berhubungan dengan kaifiat (kualitas) dan yang kedua berhubungan dengan kammiat (kuantitas). Kata yang pertama menunjukkan bahwa ajaran-ajaran serta perintah-perintah mengenai pencapaian kemajuan jasmani, ruhani, dan akhlak manusia telah terkandung dalam Al-Quran dalam bentuk yang paripurna; sedang yang kedua menunjukkan bahwa tidak ada suatu keperluan manusia yang lepas dari perhatian (diabaikan).  Kata yang pertama (ikmaal) berhubungan dengan perintah-perintah yang bertalian dengan segi fisik atau keadaan lahiriah manusia, sedang yang kedua (itmaam) berhubungan dengan segi ruhaniah dan batiniahnya.
       Penyempurnaan dan pelengkapan agama dan nikmat Allah disebut berdampingan dengan hukum (peraturan) yang berlaku bertalian dengan makanan-makanan, untuk menjelaskan bahwa penggunaan makanan yang halal dan thayyib merupakan salah satu dasar yang amat penting untuk nilai akhlak yang baik dan pada gilirannya memberi dasar tempat-berpijak guna mencapai kemajuan ruhani. Secara sepintas baiklah kita ketahui bahwa ayat ini merupakan ayat yang diwahyukan terakhir, dan Nabi Besar Muhammad saw.  wafat hanya 82 hari sesudah ayat ini turun.

(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid

Minggu, 25 Desember 2011

Gambar Stempel "Khaataman-Nabiyyiin": Nabi, Shiddiq, Syahid dan Shalih


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ




HUBUNGAN  NABI YUSUF A.S. 
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
  
Bagian VI

Tentang

  Gambar Stempel Khaataman-Nabiyyin
Nabi, Shiddiq, Syahid, Shalih
 
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma

مَا کَانَ مُحَمَّدٌ اَبَاۤ  اَحَدٍ مِّنۡ رِّجَالِکُمۡ وَ لٰکِنۡ رَّسُوۡلَ اللّٰہِ وَ خَاتَمَ  النَّبِیّٖنَ ؕ وَ  کَانَ اللّٰہُ  بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمًا ﴿٪۴۱
Muhammad sekali-kali bukan  bapak salah seorang laki-laki di antara laki-laki  kamu,  tetapi ia adalah Rasul Allah dan Khaataman-nabiyyiin,  dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al-Ahzab [33]:41).

Dalam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan bahwa   jika Khaataman-Nabiyyiin  hanya diartikan sebagai tertutup rapatnya semua bentuk kenabian ­– sebagaimana yang difahami oleh umumnya umat Islam --  maka bukan saja  pengertian tersebut menghilangkan pembelaan Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhammad saw., bahkan menghinakan kemuliaan akhlak dan ruhani serta kenabian beliau saw., sebab – na’udzubillah min  dzaalik – kedatangan beliau saw. bukannya menjadi rahmatan- lil-‘aalamiin (QS.21:108) tetapi menjadi laknat bagi alam, sebab menurut mereka semua macam kenabian dan semua  macam wahyu Ilahi telah tertutup rapat dengan  pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. sebagai Khaataman-Nabiyyiin, padahal menurut Allah Swt. melalui wahyu Ilahi itulah Dia berkomunikasi dengan manusia (QS.42:52-54. Benarkah demikian makna Khaataman-Nabiyyiin Nabi Besar Muhammad saw.?
      Kalau pengertian mereka mengenai Khaataman- Nabiyyiin seperti itu maka semua tuduhan orang-orang kafir Quraisy Mekkah mengenai Nabi Besar Muhammad saw. benar adanya, termasuk tuduhan sebagai abtar (yang terputus keturunannya), padahal dengan tegas Allah Swt. menyatakan bahwa justru mereka itulah yang akan abtar, firman-Nya:
 بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿۱  اِنَّاۤ  اَعۡطَیۡنٰکَ  الۡکَوۡثَرَ ؕ﴿۲   فَصَلِّ  لِرَبِّکَ وَ انۡحَرۡ ؕ﴿۳  اِنَّ شَانِئَکَ ہُوَ الۡاَبۡتَرُ ٪﴿۵
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Sesungguhnya Kami telah  menganugerahkan kepada engkau ber-limpah-limpah kebaikan.  Maka shalatlah  bagi Tuhan eng-kau dan.   Sesungguhnya musuh engkau, dialah  yang  tanpa keturunan (Al-Kautsar [108]:1-5).
       Dengan  pernyataan Allah Swt. tersebut  ketiga tingkatan pembelaan Allah Swt.  dalam QS.33:41 menjadi  semakin kokoh dan tidak terbantahkan lagi, firman-Nya:
 مَا کَانَ مُحَمَّدٌ اَبَاۤ  اَحَدٍ مِّنۡ رِّجَالِکُمۡ وَ لٰکِنۡ رَّسُوۡلَ اللّٰہِ وَ خَاتَمَ  النَّبِیّٖنَ ؕ وَ  کَانَ اللّٰہُ  بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمًا ﴿٪۴۱
Muhammad sekali-kali bukan  bapak salah seorang laki-laki di antara laki  kamu,  tetapi ia adalah Rasul Allah dan Khaataman-Nabiyyiin,  dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al-Ahzab [33]:41).
Yakni: “Muhammad saw. bukanlah salah seorang laki-laki jasmani di antara kalian bangsa Arab, karena keberadaan anak-anak laki-laki jasmani mau pun anak-anak  perempuan jasmani bagi seorang Rasul Allah tidak penting, sebab kedudukan seorang Rasul Allah merupakan ayah ruhani  bagi kaumnya (QS.33:7), terutama sekali Nabi Muhammad saw.  merupakan ayah ruhani bagi seluruh umat manusia  (QS.7:159; QS.21:108; QS.25:2; QS.34:29), karena itu istri-istrinya  disebut ummul mukminiin (ibu orang-orang yang beriman):
اَلنَّبِیُّ  اَوۡلٰی بِالۡمُؤۡمِنِیۡنَ مِنۡ اَنۡفُسِہِمۡ وَ اَزۡوَاجُہٗۤ  اُمَّہٰتُہُمۡ ؕ وَ اُولُوا الۡاَرۡحَامِ بَعۡضُہُمۡ اَوۡلٰی بِبَعۡضٍ فِیۡ کِتٰبِ اللّٰہِ مِنَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ وَ الۡمُہٰجِرِیۡنَ  اِلَّاۤ  اَنۡ تَفۡعَلُوۡۤا  اِلٰۤی  اَوۡلِیٰٓئِکُمۡ مَّعۡرُوۡفًا ؕ کَانَ ذٰلِکَ فِی الۡکِتٰبِ مَسۡطُوۡرًا ﴿۷
Nabi itu lebih dekat kepada orang-orang beriman daripada kepada diri mereka sendiri, dan istri-istrinya adalah ibu-ibu  mereka.  Tetapi menurut Kitab Allah keluarga yang sedarah lebih dekat satu sama  daripada orang-orang beriman  dan orang-orang yang berhijrah,  kecuali jika kamu berbuat kebaikan terhadap sahabatmu, yang demikian itu telah tertulis di dalam Kitab Al-Quran.  (Al-Ahzab [33]:7).

“Bapak Ruhani” Umat Manusia

     Ayat ini menghindarkan kemungkinan timbulnya dua macam tanggapan dari penyalahartian perintah yang terkandung dalam QS.33:6 sebelumnya tentang  anak-angkat. Sementara dalam ayat itu orang-orang beriman dianjurkan supaya memanggil mereka dengan nama bapak mereka, maka dalam ayat 7 Nabi Besar Muhammad saw.   dengan sendirinya telah disebut bapak orang-orang beriman. Ayat sebelumnya membicarakan hubungan darah, tetapi ayat yang sedang dibahas ini, membicarakan hubungan ruhani yang ada antara Nabi Besar Muhammad saw.   dan orang-orang beriman, yakni hubungan ayah ruhani dengan anak-anak ruhani.
    Ukhuwah Islamiyah atau persaudaraan dalam Islam yang telah menjelma melalui kebapak-ruhanian Nabi Besar Muhammad saw.  mungkin telah menjuruskan orang-orang kepada salah pengertian, bahwa orang-orang Islam dapat saling mewarisi harta kekayaan masing-masing. Kalimat  “Tetapi menurut Kitab Allah keluarga yang se-darah lebih dekat satu sama  daripada orang-orang beriman  dan orang-orang yang berhijrah”,  ayat ini berikhtiar menghilangkan salah pengertian itu dengan menetapkan, bahwa hanya keluarga yang ada hubungan darah sajalah yang dapat mewarisi satu sama lain, dan bahwa dari keluarga sedarah pun hanya yang mukmin (orang beriman) saja yang dapat mewarisi satu sama lain, sedang orang-orang yang kafir telah dicegah dari mewarisi harta keluarga mereka yang beriman.
  Ayat ini pun melenyapkan (membatalkan)  bentuk persaudaraan yang diadakan antara kaum Muhajirin dan kaum Anshar, waktu kaum Muhajirin sampai di Medinah, yang menurut perjanjian persaudaraan itu bahkan seorang Muhajir (orang yang  hijrah) akan mewarisi juga harta yang ditinggalkan seorang Anshar
   Persaudaraan yang tadinya hanya merupakan tindakan sementara dan diambil guna memulihkan kembali keadaan kaum Muhajirin itu ekarang ditiadakan dan hanya hubungan darah — dan bukan hubungan atas dasar keimanan semata — menjadi faktor penentu dalam menetapkan pembagian warisan dan dalam urusan-urusan kekeluargaan lainnya. Akan tetapi Ukhuwah Islamiyah yang lebih luas berlanjut terus, dan orang-orang Muslim diharapkan memperlakukan satu sama lain seperti saudara. (QS.49:11).

Selanjutnya pembelaan Allah Swt. tersebut mencapai puncaknya, bahwa  kedudukan Nabi Besar Muhammad saw. bukan hanya terbatas sebagai Rasul Allah – yakni bapak ruhani belaka – seperti para Rasul Allah  yang diutus sebelumnya,  karena ia adalah Rasul Allah yang berpangkat Khaataman-Nabiyyiin, oleh karena itu bagaimana mungkin  ia akan melakukan keaiban-keaiban dalam hal akhlak dan ruhani sebagaimana yang kalian tuduhkan orang-orang kafir.

Putera-putera Ruhani  Nabi Benar Muhammad Saw. yang Terpuji

      Sebagai seorang “bapak ruhani” yang paling sempurna (Khaataman-Nabiyyiin) sudah tentu  Nabi Besar Muhammad saw. akan memiliki putera-putera ruhani  yang terpuji pula martabat akhlak dan ruhaninya, yang bahkan beliau saw. merasa takjub menyaksikan mereka itu, walau pun orang-orang kafir tetap mencemoohkannya,  firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿۱  نٓ  وَ الۡقَلَمِ وَ مَا یَسۡطُرُوۡنَ ۙ﴿۲   مَاۤ  اَنۡتَ بِنِعۡمَۃِ رَبِّکَ بِمَجۡنُوۡنٍ ۚ﴿۳   وَ  اِنَّ  لَکَ لَاَجۡرًا غَیۡرَ  مَمۡنُوۡنٍ ۚ﴿۴   وَ  اِنَّکَ لَعَلٰی خُلُقٍ عَظِیۡمٍ ﴿۵   فَسَتُبۡصِرُ وَ یُبۡصِرُوۡنَ ۙ﴿۶   بِاَىیِّکُمُ  الۡمَفۡتُوۡنُ ﴿۷   اِنَّ  رَبَّکَ ہُوَ اَعۡلَمُ بِمَنۡ ضَلَّ عَنۡ سَبِیۡلِہٖ ۪ وَ ہُوَ اَعۡلَمُ  بِالۡمُہۡتَدِیۡنَ ﴿۸   فَلَا تُطِعِ  الۡمُکَذِّبِیۡنَ ﴿۹   وَدُّوۡا  لَوۡ  تُدۡہِنُ  فَیُدۡہِنُوۡنَ ﴿۱۰

Aku baca dengan  nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.   Nuun, demi tempat tinta dan pena serta apa yang mereka tulis.  Dengan nikmat Tuhan engkau,  engkau sekali-kali bukanlah orang gila.  Dan sesungguhnya bagi engkau benar-benar ada ganjaran tanpa putus-putusnya.   Dan sesungguhnya engkau benar-benar memiliki akhlak yang agung.  Maka engkau akan segera melihat, dan mereka pun akan melihat,    siapa di antara kamu yang sesat.    (Al-Qalaam [68]:1-7).
      Dalam ayat ini tempat tinta dan pena serta semua sarana tulis-menulis disebutkan sebagai bukti guna mendukung serta membenarkan pernyataan yang dibuat pada tiga ayat berikutnya. Betapa Nabi Besar Muhammad saw. sebagai seorang nabi yang ummi (butahuruf) tetapi telah melahirkan anak-keturunan ruhani yang  melahirkan berbagai karya tulis luar biasa, baik menganei masalah-masalah keruhanian yang luar biasa maupun berbagai disiplin ilmu pengetahuan lainnya
  Ayat ini berarti bahwa dengan ujian pengetahuan dan penalaran apa pun dakwa Nabi Besar Muhammad saw.  diselidiki, beliau saw.   akan terbukti bukan orang yang dihinggapi penyakit gila seperti dikatakan oleh orang-orang kafir, melainkan beliau saw.  orang berakal sehat sesehat-sehatnya dan bijaksana sebijaksana-bijaksananya. Ayat berikutnya memberikan alasan-alasan mengapa tuduhan itu bukan saja tanpa dasar apa pun tetapi  juga amat bodoh dan khayali. 
Di Akhir Zaman ini putera ruhani terbesar Nabi Besar Muhammad saw. oleh Allah Swt. telah diberi gelar  Shulthanul- Qalam (raja pena), yakni Mirza Ghulam Ahmad a.s. yang telah menghasilkan berbagai karya tulis luar biasa  berupa  berbagai khazanah baru keruhanian Al-Quran, yang  rahasia-rahasia gaib-Nya  hanya dibukakan Allah Swt. kepada Rasul yang diridhai-Nya (QS.72:27-29), yakni guna mewujudkan  kejayaan Islam yang kedua kali di Akhir zaman ini (QS.61:10).
  Ayat 4 bersama ayat berikutnya, dengan ampuh sekali membukakan serta menampakkan kejanggalan tuduhan bahwa beliau saw. telah menjadi gila. Ayat ini bermaksud mengatakan bahwa perbuatan orang gila tidak membuahkan hasil kekal abadi lagi berguna, tetapi Nabi Besar Muhammad saw.  sangat berhasil menyempurnakan tujuan dan tugas Ilahi dan dalam menciptakan suatu revolusi yang menakjubkan dalam kehidupan kaum beliau yang sudah merosot dan rendah derajatnya. 
    Revolusi itu tidak berakhir dengan wafat beliau saw., sebab manakala pengikut-pengikut beliau  saw. menyimpang dari jalan lurus di masa yang akan datang, Allah akan membangkitkan di antara mereka mujaddid-mujaddid yang akan memperbaharui mereka dan akan meresapkan ke dalam diri mereka kehidupan baru. Dan peristiwa ini akan berlangsung terus hingga akhir zaman. Itulah makna ayat “Dan sesungguhnya bagi engkau benar-benar ada ganjaran tanpa putus-putusnya.” 
  Ayat 5 ini merupakan ulasan lebih lanjut mengenai kejanggalan yang dituduhkan kepada Nabi Besar Muhammad saw.  seakan-akan beliau saw.  gila. Menurut ayat ini Nabi Besar Muhammad saw.  bukan saja tidak  sakit jiwa melainkan beliau saw.   adalah yang paling mulia dan paling sempurna di antara umat manusia -- termasuk di kalangan para nabi Allah --  dan yang memiliki segala kesempurnaan akhlak dalam ukuran sepenuhnya, kesemua sifat itu bersama-sama membuat sang pemiliknya itu jadi gambaran sempurna Khaliqnya: “Dan sesungguhnya engkau benar-benar memiliki akhlak yang agung.” Seperti itulah keadaan pemilik   Khaataman-Nabiyyiin, yakni Nabi Besar Muhammad saw..

Gambar-gambar Stempel Khaataman-Nabiyyiin:  Nabi, shiddiq, syahid, Shalih

Nabi Besar Muhammad saw. adalah perwujudan segala nilai akhlak baik yang bisa dimiliki manusia. Segala nilai akhlak tinggi berpadu pada pribadi beliau saw. dalam suatu keseluruhan yang sempurna lagi serasi. Siti ‘Aisyah r.a.,  istri beliau saw., yang sangat berbakat, ketika pada sekali peristiwa diminta menerangkan peri keadaan Nabi Besar Muhammad saw.,berkata: “Beliau memiliki segala keagungan akhlak yang disebut dalam Al-Quran sebagai ciri-ciri istimewa seorang hamba Allāh yang sejati” (Bukhari).
  Ayat 7 mengembalikan tuduhan itu ke alamat penuduh-penuduh Nabi Besar Muhammad saw.  dan mengatakan kepada mereka dengan kata-kata bernadakan tantangan, bahwa waktu akan membuktikan nanti, apakah beliau saw. ataukah mereka sendiri yang menderita sakit ingatan ataukah  sesat, atau apakah pengakuan beliau saw. jadi Rasul Allah itu merupakan igauan otak yang panas, ataukah mereka sendirilah yang begitu berotak miring sehingga tidak dapat mengenali   tanda-tanda  zaman dan dengan demikian menolak beriman kepada beliau saw.: "Maka engkau akan segera melihat, dan mereka pun akan melihat, siapa di antara kamu yang sesat." (Al-Qalaam [68]:7)
     Jadi, kembali kepada masalah Khaataman-Nabiyyiin,  salah satu arti kata khatam adalah cap atau stempel. Sebagaimana halnya apabila sebuah stempel  dibubuhkan (dicapkan) ke atas  sehelai kertas maka pada kertas tersebut akan tertera gambar stempel yang sama dengan stempel tersebut. Itulah makna lain dari Khaataman-Nabiyyiin,   dan menurut Allah Swt.  gambar-gambar stempel Khaataman-Nabiyyiin ada 4 macam, sebagai firman-Nya sebelum ini:
وَ مَنۡ یُّطِعِ اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ فَاُولٰٓئِکَ مَعَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ ۚ وَ حَسُنَ اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا ﴿ؕ۷۰  ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا ﴿٪۷۱
Dan barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul ini maka mereka akan termasuk di antara orang-orang  yang Allah memberi nikmat kepada mereka yakni: nabi-nabi, shiddiq-shiddiq, syahid-syahid, dan orang-orang shalih, dan mereka  itulah sahabat yang sejati.   Itulah karunia dari Allah,  dan cukuplah Allah Yang Maha Mengetahui. (Al-Nisaa [4]:70-71).
     Demikianlah pembelaan bertingkat Allah Swt. dalam firman-Nya mengenai Khaataman-Nabiyyiin:
مَا کَانَ مُحَمَّدٌ اَبَاۤ  اَحَدٍ مِّنۡ رِّجَالِکُمۡ وَ لٰکِنۡ رَّسُوۡلَ اللّٰہِ وَ خَاتَمَ  النَّبِیّٖنَ ؕ وَ  کَانَ اللّٰہُ  بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمًا ﴿٪۴۱
Muhammad sekali-kali bukan  bapak salah seorang laki-laki di antara laki-laki  kamu,  tetapi ia adalah Rasul Allah dan Khaataman-nabiyyiin,  dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al-Ahzab [33]:41).

(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid