بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
HUBUNGAN NABI YUSUF A.S.
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
Bagian VI
Tentang
Gambar Stempel Khaataman-Nabiyyin:
Nabi, Shiddiq, Syahid, Shalih
Oleh
Ki Langlang
Buana Kusuma
مَا کَانَ مُحَمَّدٌ
اَبَاۤ اَحَدٍ مِّنۡ رِّجَالِکُمۡ وَ
لٰکِنۡ رَّسُوۡلَ اللّٰہِ وَ خَاتَمَ
النَّبِیّٖنَ ؕ وَ کَانَ
اللّٰہُ بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمًا ﴿٪۴۱﴾
Muhammad sekali-kali bukan bapak salah seorang laki-laki di antara laki-laki kamu, tetapi
ia adalah Rasul Allah dan Khaataman-nabiyyiin, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al-Ahzab
[33]:41).
Dalam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan bahwa jika Khaataman-Nabiyyiin hanya diartikan sebagai tertutup
rapatnya semua bentuk kenabian – sebagaimana yang difahami oleh
umumnya umat Islam -- maka bukan
saja pengertian tersebut menghilangkan pembelaan
Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhammad saw., bahkan menghinakan kemuliaan
akhlak dan ruhani serta kenabian beliau saw., sebab – na’udzubillah
min dzaalik – kedatangan beliau saw.
bukannya menjadi rahmatan- lil-‘aalamiin (QS.21:108) tetapi menjadi laknat
bagi alam, sebab menurut mereka semua macam kenabian dan semua macam wahyu Ilahi telah tertutup
rapat dengan pengutusan Nabi Besar
Muhammad saw. sebagai Khaataman-Nabiyyiin, padahal menurut Allah Swt. melalui wahyu Ilahi itulah Dia berkomunikasi dengan manusia (QS.42:52-54. Benarkah demikian makna Khaataman-Nabiyyiin
Nabi Besar Muhammad saw.?
Kalau pengertian mereka
mengenai Khaataman- Nabiyyiin seperti itu maka semua tuduhan
orang-orang kafir Quraisy Mekkah mengenai Nabi Besar Muhammad saw. benar adanya, termasuk tuduhan sebagai abtar
(yang terputus keturunannya), padahal dengan tegas Allah Swt. menyatakan bahwa
justru mereka itulah yang akan abtar, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ
الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿۱﴾ اِنَّاۤ
اَعۡطَیۡنٰکَ الۡکَوۡثَرَ ؕ﴿۲﴾ فَصَلِّ لِرَبِّکَ وَ انۡحَرۡ ؕ﴿۳﴾ اِنَّ شَانِئَکَ ہُوَ الۡاَبۡتَرُ
٪﴿۵﴾
Aku baca dengan
nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Sesungguhnya Kami telah menganugerahkan kepada engkau
ber-limpah-limpah kebaikan. Maka shalatlah bagi Tuhan eng-kau dan. Sesungguhnya
musuh engkau, dialah yang
tanpa keturunan (Al-Kautsar [108]:1-5).
Dengan
pernyataan Allah Swt. tersebut ketiga tingkatan
pembelaan Allah Swt. dalam QS.33:41 menjadi semakin kokoh dan tidak terbantahkan lagi,
firman-Nya:
مَا کَانَ
مُحَمَّدٌ اَبَاۤ اَحَدٍ مِّنۡ رِّجَالِکُمۡ
وَ لٰکِنۡ رَّسُوۡلَ اللّٰہِ وَ خَاتَمَ
النَّبِیّٖنَ ؕ وَ کَانَ
اللّٰہُ بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمًا ﴿٪۴۱﴾
Muhammad sekali-kali bukan bapak
salah seorang laki-laki di antara laki
kamu, tetapi ia adalah Rasul
Allah dan Khaataman-Nabiyyiin, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al-Ahzab
[33]:41).
Yakni: “Muhammad saw. bukanlah salah seorang laki-laki jasmani
di antara kalian bangsa Arab, karena keberadaan anak-anak laki-laki jasmani
mau pun anak-anak perempuan jasmani
bagi seorang Rasul Allah tidak penting, sebab kedudukan seorang Rasul
Allah merupakan ayah ruhani bagi kaumnya (QS.33:7), terutama sekali Nabi
Muhammad saw. merupakan ayah
ruhani bagi seluruh umat manusia (QS.7:159; QS.21:108; QS.25:2; QS.34:29), karena
itu istri-istrinya disebut ummul
mukminiin (ibu orang-orang yang beriman):
اَلنَّبِیُّ اَوۡلٰی بِالۡمُؤۡمِنِیۡنَ مِنۡ اَنۡفُسِہِمۡ
وَ اَزۡوَاجُہٗۤ اُمَّہٰتُہُمۡ ؕ وَ
اُولُوا الۡاَرۡحَامِ بَعۡضُہُمۡ اَوۡلٰی بِبَعۡضٍ فِیۡ کِتٰبِ اللّٰہِ مِنَ
الۡمُؤۡمِنِیۡنَ وَ الۡمُہٰجِرِیۡنَ
اِلَّاۤ اَنۡ تَفۡعَلُوۡۤا اِلٰۤی
اَوۡلِیٰٓئِکُمۡ مَّعۡرُوۡفًا ؕ کَانَ ذٰلِکَ فِی الۡکِتٰبِ مَسۡطُوۡرًا ﴿۷﴾
Nabi itu lebih dekat kepada orang-orang beriman daripada kepada diri
mereka sendiri, dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka. Tetapi menurut Kitab Allah keluarga
yang sedarah lebih dekat satu sama
daripada orang-orang beriman dan orang-orang yang berhijrah, kecuali jika kamu berbuat kebaikan
terhadap sahabatmu, yang demikian itu telah tertulis di dalam Kitab Al-Quran. (Al-Ahzab [33]:7).
“Bapak Ruhani” Umat Manusia
Ayat ini menghindarkan kemungkinan
timbulnya dua macam tanggapan dari penyalahartian perintah yang
terkandung dalam QS.33:6 sebelumnya tentang
anak-angkat. Sementara dalam ayat itu orang-orang beriman
dianjurkan supaya memanggil mereka dengan nama bapak mereka, maka dalam
ayat 7 Nabi Besar Muhammad saw. dengan
sendirinya telah disebut bapak orang-orang beriman. Ayat
sebelumnya membicarakan hubungan darah, tetapi ayat yang sedang dibahas
ini, membicarakan hubungan ruhani yang ada antara Nabi Besar Muhammad
saw. dan orang-orang
beriman, yakni hubungan ayah ruhani dengan anak-anak ruhani.
Ukhuwah Islamiyah atau persaudaraan
dalam Islam yang telah menjelma melalui kebapak-ruhanian Nabi Besar
Muhammad saw. mungkin telah
menjuruskan orang-orang kepada salah pengertian, bahwa orang-orang Islam
dapat saling mewarisi harta kekayaan masing-masing. Kalimat “Tetapi menurut Kitab Allah keluarga yang
se-darah lebih dekat satu sama
daripada orang-orang beriman
dan orang-orang yang berhijrah”, ayat ini berikhtiar
menghilangkan salah pengertian itu dengan menetapkan, bahwa hanya keluarga
yang ada hubungan darah sajalah yang dapat mewarisi satu sama lain,
dan bahwa dari keluarga sedarah pun hanya yang mukmin (orang beriman) saja yang
dapat mewarisi satu sama lain, sedang orang-orang yang kafir telah
dicegah dari mewarisi harta keluarga mereka yang beriman.
Ayat ini pun melenyapkan (membatalkan) bentuk persaudaraan yang diadakan
antara kaum Muhajirin dan kaum Anshar,
waktu kaum Muhajirin sampai di Medinah, yang menurut perjanjian
persaudaraan itu bahkan seorang Muhajir (orang yang hijrah) akan mewarisi juga harta yang
ditinggalkan seorang Anshar.
Persaudaraan yang tadinya hanya merupakan tindakan sementara dan diambil guna memulihkan kembali keadaan kaum Muhajirin itu ekarang ditiadakan dan hanya hubungan darah — dan bukan hubungan atas dasar keimanan semata — menjadi faktor penentu dalam menetapkan pembagian warisan dan dalam urusan-urusan kekeluargaan lainnya. Akan tetapi Ukhuwah Islamiyah yang lebih luas berlanjut terus, dan orang-orang Muslim diharapkan memperlakukan satu sama lain seperti saudara. (QS.49:11).
Selanjutnya pembelaan Allah Swt. tersebut mencapai puncaknya, bahwa kedudukan Nabi Besar Muhammad saw. bukan hanya terbatas sebagai Rasul Allah – yakni bapak ruhani belaka – seperti para Rasul Allah yang diutus sebelumnya, karena ia adalah Rasul Allah yang berpangkat Khaataman-Nabiyyiin, oleh karena itu bagaimana mungkin ia akan melakukan keaiban-keaiban dalam hal akhlak dan ruhani sebagaimana yang kalian tuduhkan orang-orang kafir.
Persaudaraan yang tadinya hanya merupakan tindakan sementara dan diambil guna memulihkan kembali keadaan kaum Muhajirin itu ekarang ditiadakan dan hanya hubungan darah — dan bukan hubungan atas dasar keimanan semata — menjadi faktor penentu dalam menetapkan pembagian warisan dan dalam urusan-urusan kekeluargaan lainnya. Akan tetapi Ukhuwah Islamiyah yang lebih luas berlanjut terus, dan orang-orang Muslim diharapkan memperlakukan satu sama lain seperti saudara. (QS.49:11).
Selanjutnya pembelaan Allah Swt. tersebut mencapai puncaknya, bahwa kedudukan Nabi Besar Muhammad saw. bukan hanya terbatas sebagai Rasul Allah – yakni bapak ruhani belaka – seperti para Rasul Allah yang diutus sebelumnya, karena ia adalah Rasul Allah yang berpangkat Khaataman-Nabiyyiin, oleh karena itu bagaimana mungkin ia akan melakukan keaiban-keaiban dalam hal akhlak dan ruhani sebagaimana yang kalian tuduhkan orang-orang kafir.
Putera-putera
Ruhani Nabi Benar Muhammad Saw. yang Terpuji
Sebagai seorang “bapak ruhani”
yang paling sempurna (Khaataman-Nabiyyiin) sudah tentu Nabi Besar Muhammad saw. akan memiliki putera-putera
ruhani yang terpuji pula
martabat akhlak dan ruhaninya, yang bahkan beliau saw. merasa takjub
menyaksikan mereka itu, walau pun orang-orang kafir tetap mencemoohkannya, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ
الرَّحِیۡمِ ﴿۱﴾ نٓ وَ
الۡقَلَمِ وَ مَا یَسۡطُرُوۡنَ ۙ﴿۲﴾ مَاۤ
اَنۡتَ بِنِعۡمَۃِ رَبِّکَ بِمَجۡنُوۡنٍ ۚ﴿۳﴾ وَ
اِنَّ لَکَ لَاَجۡرًا غَیۡرَ مَمۡنُوۡنٍ ۚ﴿۴﴾ وَ اِنَّکَ
لَعَلٰی خُلُقٍ عَظِیۡمٍ ﴿۵﴾ فَسَتُبۡصِرُ وَ یُبۡصِرُوۡنَ ۙ﴿۶﴾ بِاَىیِّکُمُ الۡمَفۡتُوۡنُ ﴿۷﴾ اِنَّ
رَبَّکَ ہُوَ اَعۡلَمُ بِمَنۡ ضَلَّ عَنۡ سَبِیۡلِہٖ ۪ وَ ہُوَ
اَعۡلَمُ بِالۡمُہۡتَدِیۡنَ ﴿۸﴾ فَلَا تُطِعِ الۡمُکَذِّبِیۡنَ ﴿۹﴾ وَدُّوۡا
لَوۡ تُدۡہِنُ فَیُدۡہِنُوۡنَ ﴿۱۰﴾
Aku baca dengan
nama Allah, Maha
Pemurah, Maha Penyayang. Nuun, demi tempat tinta dan pena serta apa yang mereka tulis. Dengan
nikmat Tuhan engkau, engkau
sekali-kali bukanlah orang gila. Dan sesungguhnya bagi engkau benar-benar ada ganjaran
tanpa putus-putusnya. Dan sesungguhnya engkau benar-benar
memiliki akhlak yang agung. Maka engkau akan segera melihat, dan mereka pun
akan melihat, siapa
di antara kamu yang sesat. (Al-Qalaam [68]:1-7).
Dalam ayat ini tempat tinta dan pena
serta semua sarana tulis-menulis disebutkan sebagai bukti guna
mendukung serta membenarkan pernyataan yang dibuat pada tiga ayat berikutnya. Betapa Nabi Besar Muhammad saw. sebagai seorang nabi yang ummi (butahuruf) tetapi telah melahirkan anak-keturunan ruhani yang melahirkan berbagai karya tulis luar biasa, baik menganei masalah-masalah keruhanian yang luar biasa maupun berbagai disiplin ilmu pengetahuan lainnya
Ayat
ini berarti bahwa dengan ujian pengetahuan dan penalaran apa pun dakwa Nabi
Besar Muhammad saw. diselidiki,
beliau saw. akan terbukti
bukan orang yang dihinggapi penyakit gila seperti dikatakan oleh
orang-orang kafir, melainkan beliau saw. orang berakal sehat sesehat-sehatnya dan
bijaksana sebijaksana-bijaksananya. Ayat berikutnya memberikan alasan-alasan
mengapa tuduhan itu bukan saja tanpa dasar apa pun tetapi juga amat bodoh dan khayali.
Di Akhir Zaman ini putera ruhani terbesar Nabi Besar Muhammad saw. oleh Allah Swt. telah diberi gelar Shulthanul- Qalam (raja pena), yakni Mirza Ghulam Ahmad a.s. yang telah menghasilkan berbagai karya tulis luar biasa berupa berbagai khazanah baru keruhanian Al-Quran, yang rahasia-rahasia gaib-Nya hanya dibukakan Allah Swt. kepada Rasul yang diridhai-Nya (QS.72:27-29), yakni guna mewujudkan kejayaan Islam yang kedua kali di Akhir zaman ini (QS.61:10).
Di Akhir Zaman ini putera ruhani terbesar Nabi Besar Muhammad saw. oleh Allah Swt. telah diberi gelar Shulthanul- Qalam (raja pena), yakni Mirza Ghulam Ahmad a.s. yang telah menghasilkan berbagai karya tulis luar biasa berupa berbagai khazanah baru keruhanian Al-Quran, yang rahasia-rahasia gaib-Nya hanya dibukakan Allah Swt. kepada Rasul yang diridhai-Nya (QS.72:27-29), yakni guna mewujudkan kejayaan Islam yang kedua kali di Akhir zaman ini (QS.61:10).
Ayat 4
bersama ayat berikutnya, dengan ampuh sekali membukakan serta menampakkan
kejanggalan tuduhan bahwa beliau saw. telah menjadi gila. Ayat ini
bermaksud mengatakan bahwa perbuatan orang gila tidak membuahkan hasil kekal
abadi lagi berguna, tetapi Nabi Besar Muhammad saw. sangat berhasil menyempurnakan tujuan
dan tugas Ilahi dan dalam menciptakan suatu revolusi yang
menakjubkan dalam kehidupan kaum beliau yang sudah merosot dan rendah
derajatnya.
Revolusi itu tidak berakhir dengan wafat beliau saw., sebab manakala pengikut-pengikut beliau saw. menyimpang dari jalan lurus di masa yang akan datang, Allah akan membangkitkan di antara mereka mujaddid-mujaddid yang akan memperbaharui mereka dan akan meresapkan ke dalam diri mereka kehidupan baru. Dan peristiwa ini akan berlangsung terus hingga akhir zaman. Itulah makna ayat “Dan sesungguhnya bagi engkau benar-benar ada ganjaran tanpa putus-putusnya.”
Revolusi itu tidak berakhir dengan wafat beliau saw., sebab manakala pengikut-pengikut beliau saw. menyimpang dari jalan lurus di masa yang akan datang, Allah akan membangkitkan di antara mereka mujaddid-mujaddid yang akan memperbaharui mereka dan akan meresapkan ke dalam diri mereka kehidupan baru. Dan peristiwa ini akan berlangsung terus hingga akhir zaman. Itulah makna ayat “Dan sesungguhnya bagi engkau benar-benar ada ganjaran tanpa putus-putusnya.”
Ayat 5 ini
merupakan ulasan lebih lanjut mengenai kejanggalan yang dituduhkan kepada Nabi
Besar Muhammad saw. seakan-akan
beliau saw. gila. Menurut ayat
ini Nabi Besar Muhammad saw. bukan
saja tidak sakit jiwa melainkan beliau saw. adalah yang paling mulia dan paling
sempurna di antara umat manusia -- termasuk di kalangan para nabi Allah -- dan yang memiliki segala kesempurnaan
akhlak dalam ukuran sepenuhnya, kesemua sifat itu bersama-sama membuat sang
pemiliknya itu jadi gambaran sempurna Khaliqnya: “Dan sesungguhnya engkau
benar-benar memiliki akhlak yang agung.” Seperti itulah keadaan pemilik Khaataman-Nabiyyiin, yakni Nabi Besar Muhammad saw..
Gambar-gambar Stempel Khaataman-Nabiyyiin:
Nabi, shiddiq, syahid, Shalih
Nabi Besar Muhammad saw. adalah
perwujudan segala nilai akhlak baik yang bisa dimiliki manusia. Segala
nilai akhlak tinggi berpadu pada pribadi beliau saw. dalam suatu keseluruhan yang sempurna
lagi serasi. Siti ‘Aisyah r.a., istri beliau
saw., yang sangat berbakat, ketika pada sekali peristiwa diminta menerangkan
peri keadaan Nabi Besar Muhammad saw.,berkata: “Beliau memiliki segala
keagungan akhlak yang disebut dalam Al-Quran sebagai ciri-ciri istimewa seorang
hamba Allāh yang sejati” (Bukhari).
Ayat 7 mengembalikan
tuduhan itu ke alamat penuduh-penuduh Nabi Besar Muhammad saw. dan mengatakan kepada mereka dengan
kata-kata bernadakan tantangan, bahwa waktu akan membuktikan nanti,
apakah beliau saw. ataukah mereka sendiri yang menderita sakit ingatan ataukah
sesat, atau apakah pengakuan beliau saw.
jadi Rasul Allah itu merupakan igauan otak yang panas, ataukah mereka
sendirilah yang begitu berotak miring sehingga tidak dapat mengenali tanda-tanda
zaman dan dengan demikian menolak beriman kepada beliau saw.: "Maka engkau akan segera melihat, dan mereka pun akan melihat, siapa di antara kamu yang sesat." (Al-Qalaam [68]:7)
Jadi, kembali kepada masalah Khaataman-Nabiyyiin,
salah satu arti kata khatam adalah cap
atau stempel. Sebagaimana halnya apabila sebuah stempel dibubuhkan (dicapkan) ke atas sehelai kertas maka pada kertas
tersebut akan tertera gambar stempel yang sama dengan stempel
tersebut. Itulah makna lain dari Khaataman-Nabiyyiin, dan menurut
Allah Swt. gambar-gambar stempel Khaataman-Nabiyyiin
ada 4 macam, sebagai firman-Nya sebelum ini:
وَ
مَنۡ یُّطِعِ اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ فَاُولٰٓئِکَ مَعَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ
اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ
الصّٰلِحِیۡنَ ۚ وَ حَسُنَ اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا ﴿ؕ۷۰﴾ ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی
بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا ﴿٪۷۱﴾
Dan barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul ini maka mereka
akan termasuk di antara orang-orang yang Allah memberi nikmat kepada
mereka yakni: nabi-nabi, shiddiq-shiddiq, syahid-syahid, dan orang-orang
shalih, dan mereka itulah
sahabat yang sejati. Itulah karunia dari Allah, dan cukuplah Allah Yang Maha Mengetahui. (Al-Nisaa
[4]:70-71).
Demikianlah pembelaan
bertingkat Allah Swt. dalam firman-Nya mengenai Khaataman-Nabiyyiin:
مَا کَانَ مُحَمَّدٌ
اَبَاۤ اَحَدٍ مِّنۡ رِّجَالِکُمۡ وَ
لٰکِنۡ رَّسُوۡلَ اللّٰہِ وَ خَاتَمَ
النَّبِیّٖنَ ؕ وَ کَانَ
اللّٰہُ بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمًا ﴿٪۴۱﴾
Muhammad sekali-kali bukan bapak
salah seorang laki-laki di antara laki-laki
kamu, tetapi ia adalah Rasul
Allah dan Khaataman-nabiyyiin, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al-Ahzab
[33]:41).
(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam
Farid
Tidak ada komentar:
Posting Komentar