Minggu, 25 Desember 2011

Gambar Stempel "Khaataman-Nabiyyiin": Nabi, Shiddiq, Syahid dan Shalih


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ




HUBUNGAN  NABI YUSUF A.S. 
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
  
Bagian VI

Tentang

  Gambar Stempel Khaataman-Nabiyyin
Nabi, Shiddiq, Syahid, Shalih
 
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma

مَا کَانَ مُحَمَّدٌ اَبَاۤ  اَحَدٍ مِّنۡ رِّجَالِکُمۡ وَ لٰکِنۡ رَّسُوۡلَ اللّٰہِ وَ خَاتَمَ  النَّبِیّٖنَ ؕ وَ  کَانَ اللّٰہُ  بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمًا ﴿٪۴۱
Muhammad sekali-kali bukan  bapak salah seorang laki-laki di antara laki-laki  kamu,  tetapi ia adalah Rasul Allah dan Khaataman-nabiyyiin,  dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al-Ahzab [33]:41).

Dalam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan bahwa   jika Khaataman-Nabiyyiin  hanya diartikan sebagai tertutup rapatnya semua bentuk kenabian ­– sebagaimana yang difahami oleh umumnya umat Islam --  maka bukan saja  pengertian tersebut menghilangkan pembelaan Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhammad saw., bahkan menghinakan kemuliaan akhlak dan ruhani serta kenabian beliau saw., sebab – na’udzubillah min  dzaalik – kedatangan beliau saw. bukannya menjadi rahmatan- lil-‘aalamiin (QS.21:108) tetapi menjadi laknat bagi alam, sebab menurut mereka semua macam kenabian dan semua  macam wahyu Ilahi telah tertutup rapat dengan  pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. sebagai Khaataman-Nabiyyiin, padahal menurut Allah Swt. melalui wahyu Ilahi itulah Dia berkomunikasi dengan manusia (QS.42:52-54. Benarkah demikian makna Khaataman-Nabiyyiin Nabi Besar Muhammad saw.?
      Kalau pengertian mereka mengenai Khaataman- Nabiyyiin seperti itu maka semua tuduhan orang-orang kafir Quraisy Mekkah mengenai Nabi Besar Muhammad saw. benar adanya, termasuk tuduhan sebagai abtar (yang terputus keturunannya), padahal dengan tegas Allah Swt. menyatakan bahwa justru mereka itulah yang akan abtar, firman-Nya:
 بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿۱  اِنَّاۤ  اَعۡطَیۡنٰکَ  الۡکَوۡثَرَ ؕ﴿۲   فَصَلِّ  لِرَبِّکَ وَ انۡحَرۡ ؕ﴿۳  اِنَّ شَانِئَکَ ہُوَ الۡاَبۡتَرُ ٪﴿۵
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Sesungguhnya Kami telah  menganugerahkan kepada engkau ber-limpah-limpah kebaikan.  Maka shalatlah  bagi Tuhan eng-kau dan.   Sesungguhnya musuh engkau, dialah  yang  tanpa keturunan (Al-Kautsar [108]:1-5).
       Dengan  pernyataan Allah Swt. tersebut  ketiga tingkatan pembelaan Allah Swt.  dalam QS.33:41 menjadi  semakin kokoh dan tidak terbantahkan lagi, firman-Nya:
 مَا کَانَ مُحَمَّدٌ اَبَاۤ  اَحَدٍ مِّنۡ رِّجَالِکُمۡ وَ لٰکِنۡ رَّسُوۡلَ اللّٰہِ وَ خَاتَمَ  النَّبِیّٖنَ ؕ وَ  کَانَ اللّٰہُ  بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمًا ﴿٪۴۱
Muhammad sekali-kali bukan  bapak salah seorang laki-laki di antara laki  kamu,  tetapi ia adalah Rasul Allah dan Khaataman-Nabiyyiin,  dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al-Ahzab [33]:41).
Yakni: “Muhammad saw. bukanlah salah seorang laki-laki jasmani di antara kalian bangsa Arab, karena keberadaan anak-anak laki-laki jasmani mau pun anak-anak  perempuan jasmani bagi seorang Rasul Allah tidak penting, sebab kedudukan seorang Rasul Allah merupakan ayah ruhani  bagi kaumnya (QS.33:7), terutama sekali Nabi Muhammad saw.  merupakan ayah ruhani bagi seluruh umat manusia  (QS.7:159; QS.21:108; QS.25:2; QS.34:29), karena itu istri-istrinya  disebut ummul mukminiin (ibu orang-orang yang beriman):
اَلنَّبِیُّ  اَوۡلٰی بِالۡمُؤۡمِنِیۡنَ مِنۡ اَنۡفُسِہِمۡ وَ اَزۡوَاجُہٗۤ  اُمَّہٰتُہُمۡ ؕ وَ اُولُوا الۡاَرۡحَامِ بَعۡضُہُمۡ اَوۡلٰی بِبَعۡضٍ فِیۡ کِتٰبِ اللّٰہِ مِنَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ وَ الۡمُہٰجِرِیۡنَ  اِلَّاۤ  اَنۡ تَفۡعَلُوۡۤا  اِلٰۤی  اَوۡلِیٰٓئِکُمۡ مَّعۡرُوۡفًا ؕ کَانَ ذٰلِکَ فِی الۡکِتٰبِ مَسۡطُوۡرًا ﴿۷
Nabi itu lebih dekat kepada orang-orang beriman daripada kepada diri mereka sendiri, dan istri-istrinya adalah ibu-ibu  mereka.  Tetapi menurut Kitab Allah keluarga yang sedarah lebih dekat satu sama  daripada orang-orang beriman  dan orang-orang yang berhijrah,  kecuali jika kamu berbuat kebaikan terhadap sahabatmu, yang demikian itu telah tertulis di dalam Kitab Al-Quran.  (Al-Ahzab [33]:7).

“Bapak Ruhani” Umat Manusia

     Ayat ini menghindarkan kemungkinan timbulnya dua macam tanggapan dari penyalahartian perintah yang terkandung dalam QS.33:6 sebelumnya tentang  anak-angkat. Sementara dalam ayat itu orang-orang beriman dianjurkan supaya memanggil mereka dengan nama bapak mereka, maka dalam ayat 7 Nabi Besar Muhammad saw.   dengan sendirinya telah disebut bapak orang-orang beriman. Ayat sebelumnya membicarakan hubungan darah, tetapi ayat yang sedang dibahas ini, membicarakan hubungan ruhani yang ada antara Nabi Besar Muhammad saw.   dan orang-orang beriman, yakni hubungan ayah ruhani dengan anak-anak ruhani.
    Ukhuwah Islamiyah atau persaudaraan dalam Islam yang telah menjelma melalui kebapak-ruhanian Nabi Besar Muhammad saw.  mungkin telah menjuruskan orang-orang kepada salah pengertian, bahwa orang-orang Islam dapat saling mewarisi harta kekayaan masing-masing. Kalimat  “Tetapi menurut Kitab Allah keluarga yang se-darah lebih dekat satu sama  daripada orang-orang beriman  dan orang-orang yang berhijrah”,  ayat ini berikhtiar menghilangkan salah pengertian itu dengan menetapkan, bahwa hanya keluarga yang ada hubungan darah sajalah yang dapat mewarisi satu sama lain, dan bahwa dari keluarga sedarah pun hanya yang mukmin (orang beriman) saja yang dapat mewarisi satu sama lain, sedang orang-orang yang kafir telah dicegah dari mewarisi harta keluarga mereka yang beriman.
  Ayat ini pun melenyapkan (membatalkan)  bentuk persaudaraan yang diadakan antara kaum Muhajirin dan kaum Anshar, waktu kaum Muhajirin sampai di Medinah, yang menurut perjanjian persaudaraan itu bahkan seorang Muhajir (orang yang  hijrah) akan mewarisi juga harta yang ditinggalkan seorang Anshar
   Persaudaraan yang tadinya hanya merupakan tindakan sementara dan diambil guna memulihkan kembali keadaan kaum Muhajirin itu ekarang ditiadakan dan hanya hubungan darah — dan bukan hubungan atas dasar keimanan semata — menjadi faktor penentu dalam menetapkan pembagian warisan dan dalam urusan-urusan kekeluargaan lainnya. Akan tetapi Ukhuwah Islamiyah yang lebih luas berlanjut terus, dan orang-orang Muslim diharapkan memperlakukan satu sama lain seperti saudara. (QS.49:11).

Selanjutnya pembelaan Allah Swt. tersebut mencapai puncaknya, bahwa  kedudukan Nabi Besar Muhammad saw. bukan hanya terbatas sebagai Rasul Allah – yakni bapak ruhani belaka – seperti para Rasul Allah  yang diutus sebelumnya,  karena ia adalah Rasul Allah yang berpangkat Khaataman-Nabiyyiin, oleh karena itu bagaimana mungkin  ia akan melakukan keaiban-keaiban dalam hal akhlak dan ruhani sebagaimana yang kalian tuduhkan orang-orang kafir.

Putera-putera Ruhani  Nabi Benar Muhammad Saw. yang Terpuji

      Sebagai seorang “bapak ruhani” yang paling sempurna (Khaataman-Nabiyyiin) sudah tentu  Nabi Besar Muhammad saw. akan memiliki putera-putera ruhani  yang terpuji pula martabat akhlak dan ruhaninya, yang bahkan beliau saw. merasa takjub menyaksikan mereka itu, walau pun orang-orang kafir tetap mencemoohkannya,  firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿۱  نٓ  وَ الۡقَلَمِ وَ مَا یَسۡطُرُوۡنَ ۙ﴿۲   مَاۤ  اَنۡتَ بِنِعۡمَۃِ رَبِّکَ بِمَجۡنُوۡنٍ ۚ﴿۳   وَ  اِنَّ  لَکَ لَاَجۡرًا غَیۡرَ  مَمۡنُوۡنٍ ۚ﴿۴   وَ  اِنَّکَ لَعَلٰی خُلُقٍ عَظِیۡمٍ ﴿۵   فَسَتُبۡصِرُ وَ یُبۡصِرُوۡنَ ۙ﴿۶   بِاَىیِّکُمُ  الۡمَفۡتُوۡنُ ﴿۷   اِنَّ  رَبَّکَ ہُوَ اَعۡلَمُ بِمَنۡ ضَلَّ عَنۡ سَبِیۡلِہٖ ۪ وَ ہُوَ اَعۡلَمُ  بِالۡمُہۡتَدِیۡنَ ﴿۸   فَلَا تُطِعِ  الۡمُکَذِّبِیۡنَ ﴿۹   وَدُّوۡا  لَوۡ  تُدۡہِنُ  فَیُدۡہِنُوۡنَ ﴿۱۰

Aku baca dengan  nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.   Nuun, demi tempat tinta dan pena serta apa yang mereka tulis.  Dengan nikmat Tuhan engkau,  engkau sekali-kali bukanlah orang gila.  Dan sesungguhnya bagi engkau benar-benar ada ganjaran tanpa putus-putusnya.   Dan sesungguhnya engkau benar-benar memiliki akhlak yang agung.  Maka engkau akan segera melihat, dan mereka pun akan melihat,    siapa di antara kamu yang sesat.    (Al-Qalaam [68]:1-7).
      Dalam ayat ini tempat tinta dan pena serta semua sarana tulis-menulis disebutkan sebagai bukti guna mendukung serta membenarkan pernyataan yang dibuat pada tiga ayat berikutnya. Betapa Nabi Besar Muhammad saw. sebagai seorang nabi yang ummi (butahuruf) tetapi telah melahirkan anak-keturunan ruhani yang  melahirkan berbagai karya tulis luar biasa, baik menganei masalah-masalah keruhanian yang luar biasa maupun berbagai disiplin ilmu pengetahuan lainnya
  Ayat ini berarti bahwa dengan ujian pengetahuan dan penalaran apa pun dakwa Nabi Besar Muhammad saw.  diselidiki, beliau saw.   akan terbukti bukan orang yang dihinggapi penyakit gila seperti dikatakan oleh orang-orang kafir, melainkan beliau saw.  orang berakal sehat sesehat-sehatnya dan bijaksana sebijaksana-bijaksananya. Ayat berikutnya memberikan alasan-alasan mengapa tuduhan itu bukan saja tanpa dasar apa pun tetapi  juga amat bodoh dan khayali. 
Di Akhir Zaman ini putera ruhani terbesar Nabi Besar Muhammad saw. oleh Allah Swt. telah diberi gelar  Shulthanul- Qalam (raja pena), yakni Mirza Ghulam Ahmad a.s. yang telah menghasilkan berbagai karya tulis luar biasa  berupa  berbagai khazanah baru keruhanian Al-Quran, yang  rahasia-rahasia gaib-Nya  hanya dibukakan Allah Swt. kepada Rasul yang diridhai-Nya (QS.72:27-29), yakni guna mewujudkan  kejayaan Islam yang kedua kali di Akhir zaman ini (QS.61:10).
  Ayat 4 bersama ayat berikutnya, dengan ampuh sekali membukakan serta menampakkan kejanggalan tuduhan bahwa beliau saw. telah menjadi gila. Ayat ini bermaksud mengatakan bahwa perbuatan orang gila tidak membuahkan hasil kekal abadi lagi berguna, tetapi Nabi Besar Muhammad saw.  sangat berhasil menyempurnakan tujuan dan tugas Ilahi dan dalam menciptakan suatu revolusi yang menakjubkan dalam kehidupan kaum beliau yang sudah merosot dan rendah derajatnya. 
    Revolusi itu tidak berakhir dengan wafat beliau saw., sebab manakala pengikut-pengikut beliau  saw. menyimpang dari jalan lurus di masa yang akan datang, Allah akan membangkitkan di antara mereka mujaddid-mujaddid yang akan memperbaharui mereka dan akan meresapkan ke dalam diri mereka kehidupan baru. Dan peristiwa ini akan berlangsung terus hingga akhir zaman. Itulah makna ayat “Dan sesungguhnya bagi engkau benar-benar ada ganjaran tanpa putus-putusnya.” 
  Ayat 5 ini merupakan ulasan lebih lanjut mengenai kejanggalan yang dituduhkan kepada Nabi Besar Muhammad saw.  seakan-akan beliau saw.  gila. Menurut ayat ini Nabi Besar Muhammad saw.  bukan saja tidak  sakit jiwa melainkan beliau saw.   adalah yang paling mulia dan paling sempurna di antara umat manusia -- termasuk di kalangan para nabi Allah --  dan yang memiliki segala kesempurnaan akhlak dalam ukuran sepenuhnya, kesemua sifat itu bersama-sama membuat sang pemiliknya itu jadi gambaran sempurna Khaliqnya: “Dan sesungguhnya engkau benar-benar memiliki akhlak yang agung.” Seperti itulah keadaan pemilik   Khaataman-Nabiyyiin, yakni Nabi Besar Muhammad saw..

Gambar-gambar Stempel Khaataman-Nabiyyiin:  Nabi, shiddiq, syahid, Shalih

Nabi Besar Muhammad saw. adalah perwujudan segala nilai akhlak baik yang bisa dimiliki manusia. Segala nilai akhlak tinggi berpadu pada pribadi beliau saw. dalam suatu keseluruhan yang sempurna lagi serasi. Siti ‘Aisyah r.a.,  istri beliau saw., yang sangat berbakat, ketika pada sekali peristiwa diminta menerangkan peri keadaan Nabi Besar Muhammad saw.,berkata: “Beliau memiliki segala keagungan akhlak yang disebut dalam Al-Quran sebagai ciri-ciri istimewa seorang hamba Allāh yang sejati” (Bukhari).
  Ayat 7 mengembalikan tuduhan itu ke alamat penuduh-penuduh Nabi Besar Muhammad saw.  dan mengatakan kepada mereka dengan kata-kata bernadakan tantangan, bahwa waktu akan membuktikan nanti, apakah beliau saw. ataukah mereka sendiri yang menderita sakit ingatan ataukah  sesat, atau apakah pengakuan beliau saw. jadi Rasul Allah itu merupakan igauan otak yang panas, ataukah mereka sendirilah yang begitu berotak miring sehingga tidak dapat mengenali   tanda-tanda  zaman dan dengan demikian menolak beriman kepada beliau saw.: "Maka engkau akan segera melihat, dan mereka pun akan melihat, siapa di antara kamu yang sesat." (Al-Qalaam [68]:7)
     Jadi, kembali kepada masalah Khaataman-Nabiyyiin,  salah satu arti kata khatam adalah cap atau stempel. Sebagaimana halnya apabila sebuah stempel  dibubuhkan (dicapkan) ke atas  sehelai kertas maka pada kertas tersebut akan tertera gambar stempel yang sama dengan stempel tersebut. Itulah makna lain dari Khaataman-Nabiyyiin,   dan menurut Allah Swt.  gambar-gambar stempel Khaataman-Nabiyyiin ada 4 macam, sebagai firman-Nya sebelum ini:
وَ مَنۡ یُّطِعِ اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ فَاُولٰٓئِکَ مَعَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ ۚ وَ حَسُنَ اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا ﴿ؕ۷۰  ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا ﴿٪۷۱
Dan barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul ini maka mereka akan termasuk di antara orang-orang  yang Allah memberi nikmat kepada mereka yakni: nabi-nabi, shiddiq-shiddiq, syahid-syahid, dan orang-orang shalih, dan mereka  itulah sahabat yang sejati.   Itulah karunia dari Allah,  dan cukuplah Allah Yang Maha Mengetahui. (Al-Nisaa [4]:70-71).
     Demikianlah pembelaan bertingkat Allah Swt. dalam firman-Nya mengenai Khaataman-Nabiyyiin:
مَا کَانَ مُحَمَّدٌ اَبَاۤ  اَحَدٍ مِّنۡ رِّجَالِکُمۡ وَ لٰکِنۡ رَّسُوۡلَ اللّٰہِ وَ خَاتَمَ  النَّبِیّٖنَ ؕ وَ  کَانَ اللّٰہُ  بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمًا ﴿٪۴۱
Muhammad sekali-kali bukan  bapak salah seorang laki-laki di antara laki-laki  kamu,  tetapi ia adalah Rasul Allah dan Khaataman-nabiyyiin,  dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al-Ahzab [33]:41).

(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid

Tidak ada komentar:

Posting Komentar