Senin, 26 Desember 2011

Hubungan Nabi Besar Muhammad Saw. dengan para Rasul Allah Sebelumnya


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ




HUBUNGAN  NABI YUSUF A.S. 
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
  
Bagian VII

Tentang

  Hubungan Nabi Besar Muhammad Saw. dengan 
Para Rasul Allah Sebelumnya

Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma

 اِنَّ الدِّیۡنَ عِنۡدَ اللّٰہِ الۡاِسۡلَامُ ۟ وَ مَا اخۡتَلَفَ الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ اِلَّا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَہُمُ الۡعِلۡمُ بَغۡیًۢا بَیۡنَہُمۡ ؕ وَ مَنۡ یَّکۡفُرۡ بِاٰیٰتِ اللّٰہِ فَاِنَّ اللّٰہَ سَرِیۡعُ  الۡحِسَابِ ﴿۲۰

Sesungguhnya agama  yang benar di sisi Allah adalah Islam,   dan sekali-kali tidaklah berselisih orang-orang yang diberi Kitab melainkan setelah ilmu datang kepada mereka karena kedengkian di antara mereka. Dan barangsiapa kafir kepada Tanda-tanda Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat dalam menghisab. (Aali ‘Imraan [3]:20).

Dalam Bab-bab sebelumnya telah dijelaskan secara rinci mengenai makna gelar Khaataman Nabiyyiin kepada Nabi Besar Muhammad saw. sehubungan dengan pembelaan Allah Swt. terhadap tuduhan dusta orang-orang kafir  mengenai kasus pernikahan beliau saw. dengan Sitti Zainab  r.a. atas perintah Allah Swt  dalam rangka tegaknya salah satu hukum Islam (Al-Quran) mengenai dibolehkannya seseorang menikahi janda (bakas istri) anak-angkatnya, yang menurut adat-istiadat jahiliyah dilarang (QS.33:38-41).
         Sebelum masuk ke dalam  topik bahasan utama  dalam  Blog ini – yakni Hubungan Nabi Besar Muhammad Saw. dengan Nabi Yusuf a.s. --  terlebih dulu akan dibahas mengenai hubungan Nabi Besar Muhammad saw. dengan  para Rasul Allah yang diutus sebelum beliau saw..
        Sebagaimana diketahui bahwa Nabi Besar Muhammad saw. telah bersabda bahwa Allah Swt. telah mengutus rasul (nabi) tidak kurang dari 124.000 orang nabi, tetapi yang disebutkan di dalam Al-Quran hanya ada beberapa orang nabi saja, terutama para Rasul Allah yang dalam riwayat kenabiannya  berisi kabar gaib atau nubuatan yang akan terjadi lagi  dalam  masa kehidupan  Nabi Besar Muhammad saw. dalam kuantitas dan kualitas yang paling sempurna.

Sungai-sungai dan Samudera 

      Kenapa demikian? Sebab sesuai  firman Allah Swt. yang dikemukakan dalam Bab I: Law laka lamaa khalaqtul aflaa – kalau bukan bagi (karena) engkau, Aku tidak akan menciptakan alam semesta ini”, maka kedudukan kenabian Nabi Besar Muhammad saw.  dibandingkan dengan para Rasul Allah yang diutus sebelum beliau saw. adalah ibarat sebuah lautan   yang ke dalamnya  semua sungai  bermuara, khususnya sungai-sungai besar.  
    Seperti itu pulalah kedudukan agama Islam (Al-Quran) dibandingkan dengan agama-agama atau Kitab-kitab  yang diturunkan sebelumnya kepada para Rasul Allah pembawa syariat.  Dan atas dasar kenyataan itu pulalah Allah Swt. telah menyatakan bahwa sejak Allah Swt. mengutus Nabi Besar Muhammad saw. dan menurunkan wahyu Al-Quran – sebagai agama dan KItab suci terakhir dan tersempurna (QS.5:4) – maka sejak saat itu wajib bagi manusia untuk meninggalkan agama-agama sebelumnya dan harus menerima serta beramal sesuai dengan ajaran syariat Islam (Al-Quran) sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:
وَ اِذۡ اَخَذَ اللّٰہُ مِیۡثَاقَ النَّبِیّٖنَ لَمَاۤ اٰتَیۡتُکُمۡ مِّنۡ کِتٰبٍ وَّ حِکۡمَۃٍ ثُمَّ جَآءَکُمۡ رَسُوۡلٌ مُّصَدِّقٌ لِّمَا مَعَکُمۡ لَتُؤۡمِنُنَّ بِہٖ وَ لَتَنۡصُرُنَّہٗ ؕ قَالَ ءَاَقۡرَرۡتُمۡ وَ اَخَذۡتُمۡ عَلٰی ذٰلِکُمۡ اِصۡرِیۡ ؕ قَالُوۡۤا اَقۡرَرۡنَا ؕ قَالَ فَاشۡہَدُوۡا وَ اَنَا مَعَکُمۡ مِّنَ  الشّٰہِدِیۡنَ ﴿۸۲   فَمَنۡ تَوَلّٰی بَعۡدَ ذٰلِکَ فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡفٰسِقُوۡنَ ﴿۸۳   اَفَغَیۡرَ دِیۡنِ اللّٰہِ یَبۡغُوۡنَ وَ لَہٗۤ  اَسۡلَمَ  مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا وَّ اِلَیۡہِ یُرۡجَعُوۡنَ ﴿۸۴
Dan ingatlah  ketika Allah mengambil perjanjian dari manusia melalui nabi-nabi: “Apa saja yang Aku berikan kepada kamu berupa Kitab dan Hikmah, kemudian datang ke-padamu seorang rasul yang menggenapi  apa yang ada padamu,    kamu benar-benar harus beriman kepadanya dan   kamu  benar-benar harus membantunya.” Dia berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima tanggung-jawab yang Aku be-bankan kepadamu mengenai itu?” Mereka berkata: “Kami mengakui.” Dia berfirman: “Maka bersaksilah  dan Aku pun besertamu termasuk  orang-orang yang menjadi saksi.”   Maka  barangsiapa berpaling sesudah itu, maka merekalah orang-orang fasiq.  Apakah mereka itu mencari     yang bukan agama Allah, padahal kepada Dia-lah berserah diri siapa pun yang ada di seluruh langit dan bumi, dengan rela atau terpaksa,  dan kepada-Nya mereka akan dikembalikan? (Ali-‘Imraan [3]:82-84).
      Ungkapan miitsaq an-nabiyyiin dapat berarti “perjanjian nabi-nabi dengan Tuhan” atau “perjanjian yang diambil Tuhan dari orang-orang dengan perantaraan nabi-nabi mereka”. Ungkapan ini telah dipakai di sini dalam artian yang kedua, sebab qira'ah (pembacaan) lain seperti yang didukung oleh Ubayy bin Ka’b dan ‘Abdullah bin Mas’ud ialah miitsaq alladziina uutul Kitaab, yang artinya “perjanjian mereka yang diberi Kitab” (Bahrul Muhith).  Penafsiran ini didukung pula oleh kata-kata berikut, yaitu   “kemudian datang kepadamu seorang rasul yang menggenapi apa yang ada padamu”, sebab kepada orang-oranglah rasul-rasul Allah datang dan bukan kepada nabi-nabi mereka.
       Kata mushaddiq telah dipakai di sini untuk menyatakan tolok ukur yang dengan tolok ukur itu pendakwa yang benar dapat dibedakan dari seorang pendakwa yang palsu. Secara tepat kata itu telah diterjemahkan di sini sebagai “menggenapi”, sebab hanya dengan “menggenapi” dalam dirinya maka nubuatan-nubuatan yang terkandung dalam Kitab-kitab wahyu terdahulu, seorang pendakwa dapat dibuktikan kebenarannya.
   Ayat ini dianggap pula berlaku kepada para nabi pada umumnya dan kepada Nabi Besar Muhammad saw.  pada khususnya. Kedua pemakaian itu tepat. Ayat tersebut menetapkan suatu peraturan umum. Kedatangan setiap nabi terjadi sebagai penggenapan nubuatan-nubuatan tertentu yang dibuat oleh seorang nabi yang mendahuluinya, ketika nabi itu  menyuruh pengikutnya supaya menerima nabi yang berikutnya kapan pun nabi itu datang (QS.7:35-37).

Nabi Besar Muhammad Saw. Dinubuatkan Semua Nabi dan Agama

       Jika nabi itu datang memenuhi nubuatan-nubuatan dalam Kitab-kitab dari satu kaum saja, seperti halnya dengan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  dan para nabi Bani Israil lainnya, maka hanya kaum itu saja yang wajib menerima dan membantu beliau, tetapi  bila Kitab-kitab semua agama menubuatkan kedatangan seorang nabi, seperti halnya mengenai Nabi Besar Muhammad saw.    maka semua bangsa harus menerima beliau saw., sebab beliau saw. . datang sebagai penyempurnaan nubuatan-nubuatan, bukan hanya dari para nabi Bani Israil saja (Yesaya 21:13-15; Ulangan 18:18;  33:2; Yahya 14:25, 26; 16:7-13), tetapi juga dari ahli-ahli kasyaf bangsa Aria dan ruhaniawan-ruhaniawan agama Budha dan Zoroaster (Syafrang Dasatir hlm. 188, Siraji Press, Delhi Yamaspi, diterbitkan oleh Nizham Al-Masyaich, Delhi, 1330 Hijrah).
    Dari uraian  tersebut  jelaslah bahwa yang kemudian membuat  agama Allah menjadi   bermacam-macam   di dunia ini -- dengan berbagai persepsi yang berbeda-beda mengenai   Tuhan yang Hakiki, yakni Allah Swt. – adalah para pemuka agama dari kaum-kaum tersebut yang mengingkari perjanjian mereka dengan Allah Swt. melalui para  nabi mereka (QS.3:82), padahal dengan tegas Allah Swt. telah menyatakan bahwa sejak awal pun agama-agama yang diturunkan Allah Swt.  melalui para Rasul Allah itu adalah ISLAM,  namun nama ISLAM belum diberikan kepada agama-agama tersebut karena masih dalam proses penyempurnaan, atau ibarat perkembangan tubuh manusia agama-agama tersebut masih dalam proses menuju kepada kedewasaannya,   firman-Nya:
اِنَّ الدِّیۡنَ عِنۡدَ اللّٰہِ الۡاِسۡلَامُ ۟ وَ مَا اخۡتَلَفَ الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ اِلَّا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَہُمُ الۡعِلۡمُ بَغۡیًۢا بَیۡنَہُمۡ ؕ وَ مَنۡ یَّکۡفُرۡ بِاٰیٰتِ اللّٰہِ فَاِنَّ اللّٰہَ سَرِیۡعُ  الۡحِسَابِ ﴿۲۰

Sesungguhnya agama  yang benar di sisi Allah adalah Islam,   dan sekali-kali tidaklah berselisih orang-orang yang diberi Kitab melainkan setelah ilmu datang kepada mereka karena kedengkian di antara mereka. Dan barangsiapa kafir kepada Tanda-tanda Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat dalam menghisab. (Aali ‘Imraan [3]:20).
      Semua agama senantiasa menanamkan kepercayaan Tauhid Ilahi dan kepatuhan kepada kehendak-Nya, namun demikian hanya dalam Islam sajalah paham kepatuhan   kepada kehendak Ilahi mencapai kesempurnaan, sebab kepatuhan sepenuhnya meminta pengejewantahan penuh Sifat-sifat Allah Swt. serta telah sempurnnya hukum-hukum syariat yang mengatur seluruh segi kehidupan manusia, dan hanya pada Islam sajalah pengenjewantahan demikian telah terjadi (QS.5:4).
      Jadi dari semua tatanan keagamaan hanya Islam yang berhak disebut agama Tuhan pribadi (agama Allah) dalam arti  yang sebenarnya  meminta pengejawantahan penuh Sifat-sifat Allah Swt.,   dan hanya pada Islam sajalah pengejawantahan demikian telah terjadi. Jadi  dari semua tatanan keagamaan hanya Islam yang berhak disebut agama Allāh, dalam arti kata yang sebenarnya.
Semua agama yang benar --  lebih atau kurang -- dalam bentuknya yang asli adalah agama Islam, sedang para pengikut agama-agama itu adalah Muslim dalam arti kata secara harfiah, tetapi  nama Al-Islam tidak diberikan sebelum tiba saat bila agama menjadi lengkap dalam segala ragam seginya, karena nama itu dicadangkan untuk syariat yang terakhir dan mencapai kesempurnaan dalam Al-Quran.
     Atas dasar pengertian makna ISLAM dan MUSLIM seperti itulah setelah Allah Swt. menurunkan agama terakhir dan tersempurna yakni AGAMA ISLAM (Al-Quran) melalui Nabi pembawa syariat terakhir dan tersempurna yakni Nabi Besar Muhammad saw., namun manusia (umat beragama) tetap bertahan dalam agama mereka masing-masing maka agama dan keagamaan mereka tidak akan diterima  oleh Allah Swt., sebab agama-agama serta sikap keagamaan mereka itu tidak lagi ISLAM dan MUSLIM seperti pada awal diwahyukan Allah Swt. melainkan telah menjadi agama-agama yang bertentangan dengan ajaran asli agama-agama tersebut dan di dalamnya telah muncul berbagai bentuk kemusyrikan (syirik).  Mengisyaratkan kepada kenyataan itulah firman Allah Swt. berikut ini:
وَ مَنۡ یَّبۡتَغِ غَیۡرَ الۡاِسۡلَامِ دِیۡنًا فَلَنۡ یُّقۡبَلَ مِنۡہُ ۚ وَ ہُوَ فِی الۡاٰخِرَۃِ مِنَ الۡخٰسِرِیۡنَ ﴿۸۶
Dan   barangsiapa mencari agama yang bukan agama Islam, maka  agama itu tidak akan pernah diterima darinya, dan di akhirat ia termasuk orang-orang yang rugi. (Ali ‘Imraan [3]:86).
Firman-Nya lagi:

اَلۡیَوۡمَ اَکۡمَلۡتُ لَکُمۡ دِیۡنَکُمۡ وَ اَتۡمَمۡتُ عَلَیۡکُمۡ نِعۡمَتِیۡ وَ رَضِیۡتُ لَکُمُ الۡاِسۡلَامَ دِیۡنًا
Hari ini telah Kusempurnakan agamamu bagimu, telah Kulengkapkan nikmat-Ku atasmu, dan  telah Kusukai  Islam sebagai agama bagimu.  (Al-Maaidah [5]4).
    Ikmaal (menyempurnakan) dan itmaam (melengkapkan) merupakan akar-akar kata (masdar), yang pertama berhubungan dengan kaifiat (kualitas) dan yang kedua berhubungan dengan kammiat (kuantitas). Kata yang pertama menunjukkan bahwa ajaran-ajaran serta perintah-perintah mengenai pencapaian kemajuan jasmani, ruhani, dan akhlak manusia telah terkandung dalam Al-Quran dalam bentuk yang paripurna; sedang yang kedua menunjukkan bahwa tidak ada suatu keperluan manusia yang lepas dari perhatian (diabaikan).  Kata yang pertama (ikmaal) berhubungan dengan perintah-perintah yang bertalian dengan segi fisik atau keadaan lahiriah manusia, sedang yang kedua (itmaam) berhubungan dengan segi ruhaniah dan batiniahnya.
       Penyempurnaan dan pelengkapan agama dan nikmat Allah disebut berdampingan dengan hukum (peraturan) yang berlaku bertalian dengan makanan-makanan, untuk menjelaskan bahwa penggunaan makanan yang halal dan thayyib merupakan salah satu dasar yang amat penting untuk nilai akhlak yang baik dan pada gilirannya memberi dasar tempat-berpijak guna mencapai kemajuan ruhani. Secara sepintas baiklah kita ketahui bahwa ayat ini merupakan ayat yang diwahyukan terakhir, dan Nabi Besar Muhammad saw.  wafat hanya 82 hari sesudah ayat ini turun.

(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid

Tidak ada komentar:

Posting Komentar