بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
HUBUNGAN NABI YUSUF A.S.
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
Bagian XIII
Tentang
Hubungan Nabi Besar Muhammad saw. dengan Nabi Musa a.s. dan Nabi Shalih a.s.
Oleh
Ki Langlang
Buana Kusuma
قُلۡ اَرَءَیۡتُمۡ
اِنۡ کَانَ مِنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ وَ کَفَرۡتُمۡ بِہٖ وَ شَہِدَ شَاہِدٌ مِّنۡۢ بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ عَلٰی مِثۡلِہٖ فَاٰمَنَ وَ اسۡتَکۡبَرۡتُمۡ ؕ اِنَّ
اللّٰہَ لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ
الظّٰلِمِیۡنَ ﴿٪۱۰﴾
Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku jika Al-Quran ini
dari Allah tetapi kamu tidak percaya kepadanya dan seorang saksi dari antara Bani
Israil memberi kesaksian
terhadap kedatangan seseorang semisalnya
lalu ia (Musa) beriman tetapi
kamu berlaku sombong?" Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada
kaum yang zalim. (Al-Ahqaf [46]:11).
Dalam
Bab sebelumnya telah dijelaskan bahwa keadaan agama Islam dan Nabi
Besar Muhammad saw. dalam
hubungannya dengan agama-agama
dan nabi-nabi sebelumnya
adalah bagaikan lautan
yang ke dalamnya sungai-sungai bermuara, karena itu sebagaimana
halnya lautan memiliki berbagai khazanah yang jauh lebih banyak dan lebih lengkap daripada
yang dimiliki sungai-sungai, demikian pula halnya dengan agama Islam
dan Nabi Besar Muhammad saw. jika dibandingkan dengan agama-agama
dan nabi-nabi yang diutus sebelumnya.
Bagaikan “Kedatangan Tuhan”
& “Nabi yang Seperti Musa a.s.”
Kesempurnaan
agama Islam (Al-Quran) dan kesempurnaan kemuliaan akhlak dan ruhani Nabi
Besar Muhammad saw. diakui oleh Nabi
Musa a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.. Berikut adalah pernyataan Nabi Musa
a.s. mengenai kedatangan Nabi Besar Muhammad saw. yang dikatakan dalam Bible
sebagai “nabi yang seperti Musa”:
Seorang nabi
dari tengah-tengahmu, dari antara saudara-saudaramu, sama seperti aku, akan dibangkitkan
bagimu oleh Tuhan Allah-mu, dialah yang harus kamu dengarkan. Tepat
seperti yang kamu minta dahulu kepada Tuhan Allahmu di gunung Horeb pada hari
perkumpulan dengan berkata: Tidak
mau aku mendengar lagi suara Tuhan
Allahku, dan api yang besar ini aku tidak mau melihatnya lagi, supaya jangan
aku mati. Lalu berkatalah Tuhan kepadaku: Apa yang dikatakan mereka itu baik, seorang
nabi akan Kubangkitkan bagi mereka seperti engkau ini; Aku akan menaruh
firmanKu dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka
segala yang Kuperintahkan kepadanya.
Orang yang tidak mendengar segala firmanKu yang akan diucapkan nabi
itu demi namaKu, daripadanya akan Kutuntut pertanggungjawaban.
Tetapi seorang nabi yang terlalu berani untuk mengucapkan demi namaKu perkataan
yang tidak Kuperintahkan untuk dikatakan olehnya, atau yang berkata demi nama
allah lain, nabi itu harus mati. (Ulangan
18:15-20).
Berikut beberapa point yang dapat
diambil dari keterangan Bible tersebut tentang kedatangan “nabi yang
seperti Musa”, yakni Nabi Besar Muhammad saw.:
(1) Kalimat “nabi yang seperti engkau ini”
merujuk kepada Nabi Besar Muhammad saw., karena di dalam Al-Quran pun beliau saw. disebut “nabi
yang seperti Musa” (QS.46:11).
(2) Kalimat
“Aku akan menaruh firmanKu dalam mulutnya” merujuk kepada Al-Quran yang semua ayat-ayatnya
benar-benar merupakan firman Allah Swt. seutuhnya (QS.53:1-11).
(3) Kalimat “segala firmanKu akan akan diucapkan
nabi itu atas namaKu” mengisyaratkan bahwa hukum-hukum
syariat yang dibawa oleh Nabi Besar Muhammad saw. telah mencapai puncak kesempurnaannya,
baik dari segi kuantitasnya mau pun kualitas, sebagaimana
dikemukakan dalam QS.5:4 sebelum ini.
(4) Kalimat “atas namaKu” merujuk
kepada seluruh Surah Al-Quran yang dimulai dengan ayat Bismillaahirrahmaanirrahiim
yang artinya “Dengan nama Allah, Yang Maha Pemurah, Maha
Penyayang”, kecuali surah Al-Taubat (Al-Bara’ah) karena merupakan
lanjutan Surah Al-Anfaal.
Pernyataan Allah Swt. melalui mulut Nabi
Musa a.s. dalam Bible tersebut ditampilkan lagi oleh Allah Swt. dalam Al-Quran,
yang membuktikan bahwa antara berbagai kebenaran yang terdapat dalam Bible
benar-benar memiliki hubungan dengan kedatangan Nabi Besar Muhammad saw., yang merupakan misal dari Nabi
Musa a.s., yang memiliki kuantitas serta kualitas akhlak dan ruhani
jauh lebih sempurna daripada Nabi Musa a.s, itulah sebabnya kenapa Nabi Musa a.s.
pingsan saat menyaksikan hancurnya
gunung ketika Allah Swt. bertajalli (menampakkan keagungan-Nya) ke atasnya
(QS.7:143-144), dan ketika sadar langsung menyatakan iman kepada Rasul Allah yang seperti dirinya, yang
kedatangannya dijanjikan, firman-Nya:
قُلۡ اَرَءَیۡتُمۡ
اِنۡ کَانَ مِنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ وَ کَفَرۡتُمۡ بِہٖ وَ شَہِدَ شَاہِدٌ مِّنۡۢ بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ عَلٰی مِثۡلِہٖ فَاٰمَنَ وَ اسۡتَکۡبَرۡتُمۡ ؕ اِنَّ
اللّٰہَ لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ
الظّٰلِمِیۡنَ ﴿٪۱۰﴾
Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku jika Al-Quran ini
dari Allah tetapi kamu tidak percaya kepadanya dan seorang saksi dari antara Bani
Israil memberi kesaksian
terhadap kedatangan seseorang semisalnya lalu ia (Musa) beriman tetapi kamu berlaku
sombong?" Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum
yang zalim. (Al-Ahqaf [46]:11).
Saksi
dari antara Bani Israil adalah Nabi Musa a.s.. Kepada nubuatan beliau berkenaan dengan
kedatangan Nabi Besar Muhammad saw. itulah yang telah diisyaratkan dalam ayat
ini. Adapun nubuatan itu -- sebagaimana
telah dikemukakan sebelum ini – antara lain berbunyi sebagai berikut: "Bahwa
Aku akan menjadikan bagi mereka itu seorang nabi dari antara segala saudaranya
yang seperti engkau, dan Aku akan memberikan segala firman-Ku dalam
mulutnya dan ia pun akan mengatakan segala yang Kusuruh akan dia. Bahwa
sesungguhnya barangsiapa yang tidak mau dengar akan segala firman-Ku
yang akan dikatakan olehnya dengan nama-Ku niscaya Aku menuntutnya kelak
kepada orang itu (Ulangan 18:18-19).
Firman Allah Swt. tersebut yang
didukung oleh Ulangan 18:18 di atas menunjuk kepada kedatangan seorang nabi
dari kalangan Bani Isma’il. Ayat yang sekarang ini menunjuk ke tanah
Arab sebagai tempat turunnya nabi, yang akan mempunyai persamaan dengan Nabi
Musa a.s. itu dan juga kepada Kitab (Al-Quran) yang akan menggenapi
nubuatan-nubuatan yang terkandung di dalam Kitab Musa dan juga akan
diunggulinya. Nubuatan yang bersang-kutan adalah sebagai berikut: "Bahwa
inilah firman akan hal negeri Arab: Di dalam gurun Arab kamu akan bermalam, hai
kafilah orang Dedan. Datanglah mendapatkan orang yang berdahaga sambil membawa
air, hai orang isi negeri Tema! Dan unjuklah roti kepada orang-orang yang lari
itu" (Yesaya 21:13-15).
Nubuatan Dalam Kisah Nabi
Musa a.s.
Berikut beberapa firman Allah Swt. yang membuktikan bahwa Nabi Besar Muhammad saw. adalah “nabi yang
seperti Musa” atau misal Nabi Musa a.s.:
وَ
لَقَدۡ اٰتَیۡنَا مُوۡسَی الۡکِتٰبَ مِنۡۢ بَعۡدِ مَاۤ اَہۡلَکۡنَا الۡقُرُوۡنَ
الۡاُوۡلٰی بَصَآئِرَ لِلنَّاسِ وَ ہُدًی وَّ رَحۡمَۃً لَّعَلَّہُمۡ
یَتَذَکَّرُوۡنَ ﴿۴۴﴾ وَ مَا کُنۡتَ بِجَانِبِ الۡغَرۡبِیِّ اِذۡ
قَضَیۡنَاۤ اِلٰی مُوۡسَی الۡاَمۡرَ
وَ مَا کُنۡتَ مِنَ الشّٰہِدِیۡنَ ﴿ۙ۴۵﴾ وَ لٰکِنَّاۤ
اَنۡشَاۡنَا قُرُوۡنًا فَتَطَاوَلَ عَلَیۡہِمُ الۡعُمُرُ ۚ وَ مَا کُنۡتَ
ثَاوِیًا فِیۡۤ اَہۡلِ مَدۡیَنَ تَتۡلُوۡا
عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِنَا ۙ وَ لٰکِنَّا کُنَّا
مُرۡسِلِیۡنَ ﴿۴۶﴾ وَ مَا کُنۡتَ بِجَانِبِ
الطُّوۡرِ اِذۡ نَادَیۡنَا وَ لٰکِنۡ
رَّحۡمَۃً مِّنۡ رَّبِّکَ لِتُنۡذِرَ قَوۡمًا مَّاۤ اَتٰىہُمۡ مِّنۡ نَّذِیۡرٍ مِّنۡ قَبۡلِکَ لَعَلَّہُمۡ
یَتَذَکَّرُوۡنَ ﴿۴۷﴾
Dan
sungguh Kami benar-benar telah
memberikan kitab Taurat itu kepada Musa setelah Kami membinasakan
generasi terdahulu, sebagai bukti-bukti yang terang bagi manusia
dan petunjuk serta rahmat supaya mereka mendapat pelajaran. Dan engkau
(Muhammad) sekali-kali tidak ada di sebelah barat gunung itu, ketika
Kami menetapkan hukum risalat kepada Musa, dan engkau sekali-kali
tidak termasuk orang-orang yang menyaksikan. Tetapi Kami telah menjadikan generasi-generasi maka
berlalulah atas mereka masa yang panjang, dan engkau (Muhammad) sekali-kali
tidak tinggal bersama penduduk Midian, yang membacakan Tanda-tanda Kami
kepada mereka, tetapi Kami-lah yang mengutus rasul-rasul. Dan engkau
sekali-kali tidak berada di lereng
gunung Thur ketika Kami berseru kepada
Musa, tetapi ini adalah rahmat dari Tuhan engkau, supaya engkau memberi peringatan kepada kaum yang tidak pernah
datang kepada mereka seorang pemberi ingat sebelum engkau supaya mereka
mendapat nasihat. (Al-Qashash [28]:44-47).
Ayat 44 bermaksud mengatakan bahwa nubuatan
Nabi Musa a.s. tentang Nabi Besar Muhammad saw. (Ulangan 18:18)
telah genap begitu jelas dan demikian rincinya, seakan-akan beliau saw. secara
pribadi hadir bersama Nabi Musa a.s. ketika Nabi Musa a.s. mengatakan nubuatan
itu.
Ayat 46 menjelaskan bahwa abad demi abad
berlalu dan suatu silsilah (untaian) para nabi muncul sesudah Nabi Musa a.s.
dan mereka itu menablighkan amanat masing-masing, namun tidak ada di antara
nabi-nabi itu pernah mengaku sebagai seorang
nabi yang seperti Nabi Musa a.s.,
yang mengenainya Nabi Musa
a.s. telah membuat nubuatan
seperti tercantum dalam Ulangan 18:18, hingga Al-Quran
diturunkan.
Al-Quran
mengumumkan bahwa nubuatan agung
Nabi Musa a.s. itu telah
genap dalam wujud Nabi Besar Muhammad saw. (QS.73:16). Jelaslah bahwa nubuatan itu dari Allah dan
mustahil diletakkan dalam mulut Nabi Musa a.s. oleh Nabi Besar Muhammad saw. yang datang beberapa abad kemudian
sesudah Nabi Musa a.s.. Kaum Nabi Musa a.s. hampir telah melupakan nubuatan
itu dan nubuatan-nubuatan lain mengenai Nabi Besar Muhammad saw. akibat
berlalunya masa.
Kata-kata
“dan engkau (Muhammad) sekali-kali tidak tinggal bersama penduduk Midian,
yang membacakan Tanda-tanda Kami kepada mereka”, menunjuk kepada persesuaian besar antara Nabi
Besar Muhammad saw. dengan Nabi Musa a.s.. Seperti Nabi Musa a.s. tinggal di Midian selama 10 tahun di tengah-tengah suatu bangsa yang asing dan
kemudian kembali ke Mesir untuk melepaskan kaum beliau yang tertindas dari
perbudakan Fir’aun, demikian juga Nabi Besar Muhammad saw. tinggal di Medinah selama 10 tahun
dan kemudian datang ke Mekkah untuk menaklukkannya.
Kalimat dalam ayat 47 “Dan engkau
sekali-kali tidak berada di lereng
gunung Thur ketika Kami berseru kepada
Musa...”, mengandung arti
bahwa tidak mungkin Nabi Besar Muhammad saw. yang mula-mula telah menyebabkan Nabi
Musa a.s. membuat nubuatan
mengenai beliau (Ulangan 18:18) dan kemudian menda'wakan diri
rasul sebagai penggenap nubuatan
itu.
Jadi, sebagaimana halnya Nabi Musa a.s. harus berhadapan dengan Fir’aun dan para pembantunya, yang melakukan berbagai kezaliman yang
melampaui batas, demikian pula halnya
Nabi Besar Muhammad saw. pun harus menghadapi misal Fir’aun dan para
pembantunya, yakni Abu Jahal dan kawan-kawannya.
Nubuatan Dalam Kisah Nabi Salih a.s.
Dalam kisah Nabi Salih a.s.
disebutkan bahwa jumlah misal Fir’aun dan
kawan-kawannya yang harus dihadapi oleh Nabi Besar Muhammad saw. adalah 9
orang, firman-Nya:
وَ
لَقَدۡ اَرۡسَلۡنَاۤ اِلٰی ثَمُوۡدَ اَخَاہُمۡ
صٰلِحًا اَنِ اعۡبُدُوا اللّٰہَ
فَاِذَا ہُمۡ فَرِیۡقٰنِ یَخۡتَصِمُوۡنَ ﴿۴۶﴾ قَالَ یٰقَوۡمِ لِمَ تَسۡتَعۡجِلُوۡنَ بِالسَّیِّئَۃِ
قَبۡلَ الۡحَسَنَۃِ ۚ لَوۡ لَا تَسۡتَغۡفِرُوۡنَ اللّٰہَ لَعَلَّکُمۡ تُرۡحَمُوۡنَ
﴿۴۷﴾ قَالُوا اطَّیَّرۡنَا بِکَ وَ بِمَنۡ مَّعَکَ ؕ قَالَ
طٰٓئِرُکُمۡ عِنۡدَ اللّٰہِ بَلۡ اَنۡتُمۡ قَوۡمٌ تُفۡتَنُوۡنَ ﴿۴۸﴾ وَ کَانَ فِی
الۡمَدِیۡنَۃِ تِسۡعَۃُ رَہۡطٍ یُّفۡسِدُوۡنَ فِی الۡاَرۡضِ وَ لَا
یُصۡلِحُوۡنَ ﴿۴۹﴾ قَالُوۡا تَقَاسَمُوۡا
بِاللّٰہِ لَنُبَیِّتَنَّہٗ وَ اَہۡلَہٗ ثُمَّ لَنَقُوۡلَنَّ لِوَلِیِّہٖ مَا
شَہِدۡنَا مَہۡلِکَ اَہۡلِہٖ وَ
اِنَّا لَصٰدِقُوۡنَ ﴿۵۰﴾ وَ مَکَرُوۡا مَکۡرًا وَّ
مَکَرۡنَا مَکۡرًا وَّ ہُمۡ
لَا یَشۡعُرُوۡنَ ﴿۵۱﴾ فَانۡظُرۡ کَیۡفَ کَانَ عَاقِبَۃُ
مَکۡرِہِمۡ ۙ اَنَّا دَمَّرۡنٰہُمۡ
وَ قَوۡمَہُمۡ اَجۡمَعِیۡنَ ﴿۵۲﴾ فَتِلۡکَ بُیُوۡتُہُمۡ خَاوِیَۃًۢ بِمَا ظَلَمُوۡا ؕ اِنَّ
فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیَۃً لِّقَوۡمٍ یَّعۡلَمُوۡنَ ﴿۵۳﴾ وَ اَنۡجَیۡنَا الَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡا وَ کَانُوۡا یَتَّقُوۡنَ ﴿۵۴﴾
Dan sungguh Kami benar-benar telah
mengutus kepada Tsamud saudara mereka Shalih yang berkata: “Sembahlah
Allah” maka tiba-tiba mereka menjadi dua golongan yang saling berbantah. Ia, Shalih, berkata: “Hai kaumku, mengapakah kamu minta
disegerakan keburukan sebelum datang kebaikan? Mengapakah
kamu tidak memohon ampun kepada Allah, supaya kamu di kasihani?”
Mereka berkata: “Hai Shalih, kami telah mendapatkan nasib malang
disebabkan engkau dan orang yang beserta engkau.” Ia, Shalih,
berkata: “Nasib buruk kamu ada di sisi Allah, bahkan kamu kaum yang diuji.” Dan dalam kota
itu ada sembilan orang yang berbuat keru-suhan
di bumi dan tidak mau meng-adakan
perbaikan. Mereka berkata: “Hendaklah kamu sekalian bersumpah dengan nama
Allāh bahwa niscaya kami akan
menyerbu pada malam hari kepada dia dan keluarganya, kemudian kami niscaya akan
berkata kepada pelindung-nya: “Kami sekali-kali tidak
me-nyaksikan keluarganya menjadi binasa dan sesungguhnya kami
adalah orang-orang yang benar.” Dan mereka membuat makar buruk dan Kami pun membuat makar tandingan,
tetapi mereka tidak menyadari, lalu perhatikanlah bagaimana buruknya akibat makar buruk
mereka, sesungguhnya Kami memusnahkan mereka dan kaumnya semua.. Maka
itulah rumah-rumah mereka yang telah runtuh karena mereka berbuat zalim.
Sesungguhnya dalam yang demikian itu benar-benar ada Tanda untuk kaum yang
mengetahui. Dan Kami menyelamatkan
orang-orang yang beriman dan bertak-wa. (Al-Naml
[27]:46-54).
Dengan
sendirinya yang diisyaratkan dalam ayat 49 adalah kesembilan musuh Nabi Besar
Muhammad saw. terkemuka. Delapan di antaranya terbunuh dalam
pertempuran Badar dan yang kesembilan, Abu Lahab, yang terkenal
keburukannya itu, mati di Mekkah ketika sampai ke telinganya khabar tentang
kekalahan di Badar. Kedelapan orang itu adalah Abu Jahal, Muthim bin Adiy,
Syaibah bin Rabiah, Utbah bin Rabiah, Walid bin Utbah, Umayah bin Khalf, Nadhr bin Harts, dan Aqbah bin Abi
Mu’aith.
Ayat
51 dan 52 “Mereka berkata: “Hendaklah kamu sekalian bersumpah dengan nama
Allah bahwa niscaya kami akan menyerbu
pada malam hari kepada dia dan keluarganya, kemudian kami niscaya akan berkata
kepada pelindung-nya: “Kami sekali-kali tidak me-nyaksikan
keluarganya menjadi binasa dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang benar.” Dan mereka membuat makar buruk dan Kami pun membuat makar tandingan,
tetapi mereka tidak menyadari.” Ayat-ayat tersebut merupakan nubuatan mengenai musuh-musuh
Nabi Besar Muhammad saw. yang bersekongkol untuk membunuh beliau saw..
Rencana atau makar buruk tersebut adalah dengan
cara memilih seorang dari tiap-tiap kabilah kaum Quraisy, dan kemudian
mengadakan serangan pembunuhan yang berencana atas beliau saw. pada malam hari,
sehingga tidak ada kabilah tertentu dapat dianggap bertanggung-jawab atas
pembunuhan terhadap beliau saw. itu. Rencana itu datang dari Abu Jahal,
pemimpin kelompok jahat itu.
Mengisyaratkan
kepada pengulangan makar buruk
yang dirancang oleh musuh-musuh Nabi Shaleh a.s. itu pulalah firman Allah Swt. mengenai makar buruk yang dilakukan oleh para
pemimpin Quraisy terhadap Nabi Besar Muhammad saw.
وَ
اِذۡ یَمۡکُرُ بِکَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا لِیُثۡبِتُوۡکَ اَوۡ یَقۡتُلُوۡکَ اَوۡ
یُخۡرِجُوۡکَ ؕ وَ یَمۡکُرُوۡنَ وَ یَمۡکُرُ
اللّٰہُ ؕ وَ اللّٰہُ خَیۡرُ
الۡمٰکِرِیۡنَ ﴿۳۱﴾
Dan ingatlah ketika orang-orang kafir merancang
makar terhadap engkau, supaya mereka
dapat menangkap engkau atau membunuh engkau atau mengusir
engkau. Mereka merancang makar buruk,
dan Allah pun merancang makar tandingan,
dan Allah sebaik-baik
Perancang makar. (Al-Anf al [8]:31).
Ayat ini mengisyaratkan kepada musyawarah
rahasia yang diadakan di Darun Nadwah (Balai Permusyawaratan) di
Mekkah. Ketika mereka melihat bahwa semua usaha mereka mencegah berkembangnya
aliran kepercayaan baru ini gagal, dan bahwa kebanyakan orang-orang Muslim yang
mampu meninggalkan Mekkah telah berhijrah ke Medinah dan mereka sudah jauh dari
bahaya, maka orang-orang terkemuka warga kota berkumpul di Darun Nadwah untuk
membuat rencana ke arah usaha terakhir guna menghabisi Islam.
Sesudah
diadakan pertimbangan mendalam, terpikir oleh mereka satu rencana, ialah
sejumlah orang-orang muda dari berbagai kabilah Quraisy harus secara serempak
menyergap Nabi Besar Muhammad saw. lalu membunuh beliau. Tanpa setahu
orang Nabi Besar Muhammad saw. meninggalkan
rumah tengah malam buta, ketika para penjaga dikuasai oleh kantuk, berlindung
di Gua Tsur bersama-sama Abubakar Shiddiq
r.a. (QS.9:40), sahabat beliau yang setia, dan akhirnya sampai di Madinah
dengan selamat.
Nabi Besar Muhammad saw. terpaksa hijrah dari Makkah,
tetapi hijrahnya itu akhirnya mengakibatkan kehancuran kekuatan kaum
Quraisy yang tidak menyadari, bahwa dengan memaksa Nabi Besar Muhammad saw. hijrah
dari Makkah, mereka meletakkan dasar kehancuran bagi mereka sendiri.
(Bersambung)
Rujukan:
The
Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid
Tidak ada komentar:
Posting Komentar