Selasa, 27 Desember 2011

Hubungan Nabi Besar Muhammad Saw. dengan Nabi Musa a.s. dan Nabi Shalih a.s.


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ




HUBUNGAN  NABI YUSUF A.S. 
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
  
Bagian XIII

Tentang

  Hubungan Nabi Besar Muhammad saw. dengan Nabi Musa a.s. dan Nabi Shalih  a.s.  
 
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
 
قُلۡ  اَرَءَیۡتُمۡ  اِنۡ کَانَ مِنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ وَ کَفَرۡتُمۡ  بِہٖ وَ شَہِدَ شَاہِدٌ مِّنۡۢ  بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ  عَلٰی مِثۡلِہٖ  فَاٰمَنَ وَ اسۡتَکۡبَرۡتُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ  لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الظّٰلِمِیۡنَ ﴿٪۱۰

Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku jika Al-Quran ini dari Allah tetapi kamu tidak percaya kepadanya dan   seorang saksi dari antara Bani Israil  memberi kesaksian terhadap kedatangan seseorang semisalnya  lalu ia  (Musa) beriman tetapi kamu berlaku sombong?" Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. (Al-Ahqaf [46]:11).

Dalam Bab sebelumnya telah dijelaskan bahwa keadaan agama Islam dan Nabi Besar Muhammad saw.  dalam hubungannya dengan agama-agama  dan nabi-nabi sebelumnya  adalah bagaikan  lautan yang ke dalamnya sungai-sungai bermuara, karena itu sebagaimana halnya   lautan memiliki berbagai khazanah  yang jauh lebih banyak dan lebih lengkap daripada yang dimiliki sungai-sungai, demikian pula halnya dengan agama Islam dan Nabi Besar Muhammad saw. jika dibandingkan dengan agama-agama dan nabi-nabi yang diutus sebelumnya.

Bagaikan “Kedatangan Tuhan”  & “Nabi yang Seperti Musa a.s.”

      Kesempurnaan agama Islam (Al-Quran) dan kesempurnaan kemuliaan akhlak dan ruhani Nabi Besar Muhammad saw.  diakui oleh Nabi Musa a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.. Berikut adalah pernyataan Nabi Musa a.s. mengenai kedatangan Nabi Besar Muhammad saw. yang dikatakan dalam Bible sebagai “nabi yang seperti Musa”:
Seorang nabi dari tengah-tengahmu, dari antara saudara-saudaramu,  sama seperti aku, akan dibangkitkan bagimu oleh Tuhan Allah-mu, dialah yang harus kamu dengarkan. Tepat seperti yang kamu minta dahulu kepada Tuhan Allahmu di gunung Horeb pada hari perkumpulan dengan berkata:  Tidak mau   aku mendengar lagi suara Tuhan Allahku, dan api yang besar ini aku tidak mau melihatnya lagi, supaya jangan aku mati. Lalu berkatalah Tuhan kepadaku: Apa yang dikatakan mereka itu baik, seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka seperti engkau ini; Aku akan menaruh firmanKu dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala  yang Kuperintahkan kepadanya. Orang yang tidak mendengar segala firmanKu yang akan diucapkan nabi itu demi namaKu, daripadanya akan Kutuntut pertanggungjawaban. Tetapi seorang nabi yang terlalu berani untuk mengucapkan demi namaKu perkataan yang tidak Kuperintahkan untuk dikatakan olehnya, atau yang berkata demi nama allah lain, nabi itu harus mati. (Ulangan 18:15-20).
       Berikut beberapa point yang dapat diambil dari keterangan Bible tersebut tentang kedatangan “nabi yang seperti Musa”, yakni Nabi Besar Muhammad saw.:
(1)  Kalimat “nabi yang seperti engkau ini” merujuk kepada Nabi Besar Muhammad saw., karena  di dalam Al-Quran pun beliau saw. disebut “nabi yang seperti Musa” (QS.46:11).
(2)   Kalimat “Aku akan menaruh firmanKu dalam mulutnya”  merujuk kepada   Al-Quran yang semua ayat-ayatnya benar-benar merupakan firman Allah Swt. seutuhnya  (QS.53:1-11).
(3)   Kalimat  “segala firmanKu akan akan diucapkan nabi itu atas namaKu” mengisyaratkan bahwa hukum-hukum syariat yang dibawa oleh Nabi Besar Muhammad saw. telah mencapai puncak kesempurnaannya, baik dari segi kuantitasnya mau pun kualitas, sebagaimana dikemukakan dalam QS.5:4 sebelum ini.
(4)  Kalimat “atas namaKu” merujuk kepada seluruh Surah Al-Quran yang dimulai dengan ayat Bismillaahirrahmaanirrahiim yang artinya “Dengan nama Allah, Yang Maha Pemurah, Maha Penyayang”, kecuali surah Al-Taubat (Al-Bara’ah) karena merupakan lanjutan Surah Al-Anfaal.
     Pernyataan Allah Swt. melalui mulut Nabi Musa a.s. dalam Bible tersebut ditampilkan lagi oleh Allah Swt. dalam Al-Quran, yang membuktikan bahwa antara berbagai kebenaran yang terdapat dalam Bible benar-benar memiliki hubungan dengan kedatangan Nabi Besar Muhammad  saw., yang merupakan misal dari Nabi Musa a.s., yang memiliki kuantitas serta kualitas akhlak dan ruhani jauh lebih sempurna daripada Nabi Musa a.s,  itulah sebabnya kenapa Nabi Musa a.s. pingsan  saat menyaksikan hancurnya gunung ketika Allah Swt. bertajalli (menampakkan keagungan-Nya) ke atasnya (QS.7:143-144), dan ketika sadar langsung menyatakan  iman kepada Rasul Allah  yang seperti dirinya, yang kedatangannya dijanjikan, firman-Nya:
  قُلۡ  اَرَءَیۡتُمۡ  اِنۡ کَانَ مِنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ وَ کَفَرۡتُمۡ  بِہٖ وَ شَہِدَ شَاہِدٌ مِّنۡۢ  بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ  عَلٰی مِثۡلِہٖ  فَاٰمَنَ وَ اسۡتَکۡبَرۡتُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ  لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الظّٰلِمِیۡنَ ﴿٪۱۰

Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku jika Al-Quran ini dari Allah tetapi kamu tidak percaya kepadanya dan   seorang saksi dari antara Bani Israil  memberi kesaksian terhadap kedatangan seseorang semisalnya  lalu ia  (Musa) beriman tetapi kamu berlaku sombong?" Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. (Al-Ahqaf [46]:11).
      Saksi dari antara Bani Israil adalah Nabi Musa a.s..  Kepada nubuatan beliau berkenaan dengan kedatangan Nabi Besar Muhammad saw. itulah yang telah diisyaratkan dalam ayat ini. Adapun nubuatan itu  -- sebagaimana telah dikemukakan sebelum ini – antara lain berbunyi sebagai berikut: "Bahwa Aku akan menjadikan bagi mereka itu seorang nabi dari antara segala saudaranya yang seperti engkau, dan Aku akan memberikan segala firman-Ku dalam mulutnya dan ia pun akan mengatakan segala yang Kusuruh akan dia. Bahwa sesungguhnya barangsiapa yang tidak mau dengar akan segala firman-Ku yang akan dikatakan olehnya dengan nama-Ku niscaya Aku menuntutnya kelak kepada orang itu (Ulangan 18:18-19).
 Firman Allah Swt. tersebut yang didukung oleh Ulangan 18:18 di atas menunjuk kepada kedatangan seorang nabi dari kalangan Bani Isma’il. Ayat yang sekarang ini menunjuk ke tanah Arab sebagai tempat turunnya nabi, yang akan mempunyai persamaan dengan Nabi Musa a.s. itu dan juga kepada Kitab (Al-Quran) yang akan menggenapi nubuatan-nubuatan yang terkandung di dalam Kitab Musa dan juga akan diunggulinya. Nubuatan yang bersang-kutan adalah sebagai berikut: "Bahwa inilah firman akan hal negeri Arab: Di dalam gurun Arab kamu akan bermalam, hai kafilah orang Dedan. Datanglah mendapatkan orang yang berdahaga sambil membawa air, hai orang isi negeri Tema! Dan unjuklah roti kepada orang-orang yang lari itu" (Yesaya 21:13-15).

Nubuatan Dalam Kisah Nabi Musa a.s. 

      Berikut beberapa firman Allah Swt.  yang membuktikan bahwa  Nabi Besar Muhammad saw. adalah “nabi yang seperti Musa” atau misal Nabi Musa a.s.:
وَ لَقَدۡ اٰتَیۡنَا مُوۡسَی الۡکِتٰبَ مِنۡۢ بَعۡدِ مَاۤ اَہۡلَکۡنَا الۡقُرُوۡنَ الۡاُوۡلٰی بَصَآئِرَ لِلنَّاسِ وَ ہُدًی وَّ رَحۡمَۃً  لَّعَلَّہُمۡ  یَتَذَکَّرُوۡنَ ﴿۴۴   وَ مَا کُنۡتَ بِجَانِبِ الۡغَرۡبِیِّ  اِذۡ  قَضَیۡنَاۤ اِلٰی مُوۡسَی الۡاَمۡرَ  وَ مَا کُنۡتَ  مِنَ  الشّٰہِدِیۡنَ ﴿ۙ۴۵   وَ لٰکِنَّاۤ  اَنۡشَاۡنَا قُرُوۡنًا فَتَطَاوَلَ عَلَیۡہِمُ الۡعُمُرُ ۚ وَ مَا کُنۡتَ ثَاوِیًا فِیۡۤ  اَہۡلِ مَدۡیَنَ تَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِنَا ۙ وَ لٰکِنَّا کُنَّا  مُرۡسِلِیۡنَ ﴿۴۶  وَ مَا کُنۡتَ بِجَانِبِ الطُّوۡرِ  اِذۡ نَادَیۡنَا وَ لٰکِنۡ رَّحۡمَۃً مِّنۡ رَّبِّکَ لِتُنۡذِرَ قَوۡمًا مَّاۤ  اَتٰىہُمۡ مِّنۡ نَّذِیۡرٍ  مِّنۡ قَبۡلِکَ  لَعَلَّہُمۡ  یَتَذَکَّرُوۡنَ ﴿۴۷ 
Dan  sungguh  Kami benar-benar telah memberikan kitab Taurat itu kepada Musa setelah Kami membinasakan generasi  terdahulu, sebagai  bukti-bukti yang terang bagi manusia dan petunjuk serta rahmat supaya mereka mendapat pelajaran.   Dan engkau (Muhammad) sekali-kali tidak ada di sebelah barat gunung itu, ketika Kami menetapkan hukum risalat kepada Musa, dan engkau sekali-kali tidak termasuk orang-orang yang menyaksikan. Tetapi Kami telah  menjadikan generasi-generasi  maka  berlalulah atas mereka masa yang panjang, dan engkau (Muhammad) sekali-kali tidak tinggal bersama penduduk Midian, yang membacakan Tanda-tanda Kami kepada mereka, tetapi Kami-lah yang mengutus rasul-rasul.   Dan engkau sekali-kali tidak  berada di lereng gunung Thur   ketika Kami berseru kepada Musa, tetapi ini adalah rahmat dari Tuhan engkau,  supaya engkau memberi  peringatan kepada kaum yang tidak pernah datang kepada mereka seorang pemberi ingat sebelum engkau supaya mereka mendapat nasihat. (Al-Qashash [28]:44-47).
       Ayat 44   bermaksud mengatakan bahwa nubuatan Nabi Musa a.s. tentang Nabi Besar Muhammad saw. (Ulangan 18:18) telah genap begitu jelas dan demikian rincinya, seakan-akan beliau saw. secara pribadi hadir bersama Nabi Musa a.s. ketika Nabi Musa a.s. mengatakan nubuatan itu.
      Ayat 46 menjelaskan bahwa abad demi abad berlalu dan suatu silsilah (untaian) para nabi muncul sesudah Nabi Musa a.s. dan mereka itu menablighkan amanat masing-masing, namun tidak ada di antara nabi-nabi itu pernah mengaku sebagai  seorang nabi yang seperti Nabi Musa a.s.,   yang mengenainya Nabi Musa a.s.  telah membuat nubuatan seperti tercantum dalam Ulangan 18:18, hingga Al-Quran diturunkan.
Al-Quran mengumumkan  bahwa nubuatan agung Nabi Musa a.s.  itu telah genap dalam wujud Nabi Besar Muhammad saw.  (QS.73:16). Jelaslah  bahwa nubuatan itu dari Allah dan mustahil diletakkan dalam mulut Nabi Musa a.s. oleh Nabi Besar Muhammad saw.   yang datang beberapa abad kemudian sesudah Nabi Musa a.s.. Kaum Nabi Musa a.s.  hampir telah melupakan nubuatan itu dan nubuatan-nubuatan lain mengenai Nabi Besar Muhammad saw.  akibat   berlalunya masa.
     Kata-kata “dan engkau (Muhammad) sekali-kali tidak tinggal bersama penduduk Midian, yang membacakan Tanda-tanda Kami kepada mereka,  menunjuk kepada persesuaian besar antara Nabi Besar Muhammad saw. dengan Nabi Musa a.s..  Seperti Nabi Musa a.s.    tinggal di Midian  selama 10 tahun  di tengah-tengah suatu bangsa yang asing dan kemudian kembali ke Mesir untuk melepaskan kaum beliau yang tertindas dari perbudakan Fir’aun, demikian juga Nabi Besar Muhammad saw.   tinggal di Medinah selama 10 tahun dan kemudian datang ke Mekkah untuk menaklukkannya.
       Kalimat dalam ayat 47 “Dan engkau sekali-kali tidak  berada di lereng gunung Thur   ketika Kami berseru kepada Musa...”,  mengandung arti bahwa tidak mungkin Nabi Besar Muhammad saw.  yang mula-mula telah menyebabkan Nabi Musa a.s.   membuat nubuatan mengenai beliau (Ulangan 18:18) dan kemudian menda'wakan diri  rasul sebagai penggenap nubuatan itu.
        Jadi, sebagaimana halnya Nabi Musa a.s. harus berhadapan dengan Fir’aun  dan  para pembantunya,  yang melakukan berbagai kezaliman yang melampaui batas,  demikian pula halnya Nabi Besar Muhammad saw. pun harus menghadapi misal Fir’aun dan para pembantunya, yakni Abu Jahal dan kawan-kawannya.
Nubuatan Dalam Kisah Nabi Salih a.s.
       Dalam kisah Nabi Salih a.s.   disebutkan bahwa jumlah misal Fir’aun dan kawan-kawannya yang harus dihadapi oleh Nabi Besar Muhammad saw. adalah 9 orang, firman-Nya:
وَ لَقَدۡ اَرۡسَلۡنَاۤ  اِلٰی ثَمُوۡدَ  اَخَاہُمۡ  صٰلِحًا اَنِ اعۡبُدُوا اللّٰہَ  فَاِذَا ہُمۡ فَرِیۡقٰنِ یَخۡتَصِمُوۡنَ ﴿۴۶   قَالَ یٰقَوۡمِ لِمَ تَسۡتَعۡجِلُوۡنَ بِالسَّیِّئَۃِ قَبۡلَ الۡحَسَنَۃِ ۚ لَوۡ لَا تَسۡتَغۡفِرُوۡنَ اللّٰہَ لَعَلَّکُمۡ تُرۡحَمُوۡنَ ﴿۴۷   قَالُوا اطَّیَّرۡنَا بِکَ وَ بِمَنۡ مَّعَکَ ؕ قَالَ طٰٓئِرُکُمۡ عِنۡدَ اللّٰہِ  بَلۡ  اَنۡتُمۡ قَوۡمٌ تُفۡتَنُوۡنَ ﴿۴۸  وَ کَانَ فِی الۡمَدِیۡنَۃِ  تِسۡعَۃُ  رَہۡطٍ یُّفۡسِدُوۡنَ فِی الۡاَرۡضِ وَ لَا یُصۡلِحُوۡنَ ﴿۴۹   قَالُوۡا تَقَاسَمُوۡا بِاللّٰہِ لَنُبَیِّتَنَّہٗ وَ اَہۡلَہٗ ثُمَّ لَنَقُوۡلَنَّ لِوَلِیِّہٖ مَا شَہِدۡنَا مَہۡلِکَ  اَہۡلِہٖ  وَ  اِنَّا  لَصٰدِقُوۡنَ ﴿۵۰   وَ مَکَرُوۡا مَکۡرًا وَّ  مَکَرۡنَا مَکۡرًا  وَّ ہُمۡ لَا  یَشۡعُرُوۡنَ ﴿۵۱  فَانۡظُرۡ کَیۡفَ کَانَ عَاقِبَۃُ مَکۡرِہِمۡ ۙ اَنَّا دَمَّرۡنٰہُمۡ  وَ  قَوۡمَہُمۡ  اَجۡمَعِیۡنَ ﴿۵۲   فَتِلۡکَ بُیُوۡتُہُمۡ خَاوِیَۃًۢ بِمَا ظَلَمُوۡا ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیَۃً   لِّقَوۡمٍ  یَّعۡلَمُوۡنَ ﴿۵۳  وَ اَنۡجَیۡنَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ کَانُوۡا یَتَّقُوۡنَ ﴿۵۴


 Dan sungguh Kami benar-benar telah mengutus kepada Tsamud saudara mereka Shalih yang berkata: “Sembahlah Allah” maka tiba-tiba mereka menjadi dua golongan yang saling berbantah.   Ia, Shalih, berkata: “Hai kaumku, mengapakah kamu minta disegerakan keburukan sebelum datang kebaikanMengapakah kamu tidak memohon ampun kepada Allah, supaya kamu di kasihani?”   Mereka berkata: “Hai Shalih,   kami telah mendapatkan nasib malang disebabkan engkau dan orang yang beserta engkau.” Ia, Shalih, berkata: “Nasib buruk kamu ada di sisi Allah, bahkan kamu  kaum yang diuji.”   Dan dalam kota itu ada  sembilan orang   yang  berbuat keru-suhan di bumi  dan tidak mau meng-adakan perbaikan.  Mereka berkata: “Hendaklah kamu sekalian bersumpah dengan nama Allāh bahwa niscaya kami  akan menyerbu pada malam hari kepada dia dan keluarganya, kemudian kami niscaya akan berkata kepada pelindung-nya:  “Kami sekali-kali tidak me-nyaksikan keluarganya menjadi binasa dan sesungguhnya kami adalah     orang-orang yang benar.”  Dan mereka membuat makar buruk  dan Kami pun membuat makar tandingan, tetapi mereka tidak menyadari, lalu perhatikanlah bagaimana buruknya akibat makar buruk mereka, sesungguhnya Kami memusnahkan mereka dan kaumnya semua.. Maka itulah rumah-rumah mereka yang telah runtuh  karena mereka berbuat zalim. Sesungguhnya dalam yang demikian itu benar-benar ada Tanda untuk kaum yang mengetahui.  Dan Kami menyelamatkan  orang-orang yang beriman dan bertak-wa. (Al-Naml [27]:46-54).
      Dengan sendirinya yang diisyaratkan dalam ayat 49 adalah kesembilan musuh Nabi Besar Muhammad saw.   terkemuka.  Delapan di antaranya terbunuh dalam pertempuran Badar dan yang kesembilan, Abu Lahab, yang terkenal keburukannya itu, mati di Mekkah ketika sampai ke telinganya khabar tentang kekalahan di Badar. Kedelapan orang itu adalah Abu Jahal, Muthim bin Adiy, Syaibah bin Rabiah, Utbah bin Rabiah, Walid bin Utbah, Umayah  bin Khalf, Nadhr bin Harts, dan Aqbah bin Abi Mu’aith.
      Ayat 51 dan 52 “Mereka berkata: “Hendaklah kamu sekalian bersumpah dengan nama Allah bahwa niscaya kami  akan menyerbu pada malam hari kepada dia dan keluarganya, kemudian kami niscaya akan berkata kepada pelindung-nya: “Kami sekali-kali tidak me-nyaksikan keluarganya menjadi binasa dan sesungguhnya kami adalah     orang-orang yang benar.”  Dan mereka membuat makar buruk  dan Kami pun membuat makar tandingan, tetapi mereka tidak menyadari.  Ayat-ayat  tersebut merupakan nubuatan mengenai musuh-musuh Nabi Besar Muhammad saw. yang  bersekongkol untuk membunuh beliau  saw..  
       Rencana  atau makar buruk tersebut adalah dengan cara memilih seorang dari tiap-tiap kabilah kaum Quraisy, dan kemudian mengadakan serangan pembunuhan yang berencana atas beliau saw. pada malam hari, sehingga tidak ada kabilah tertentu dapat dianggap bertanggung-jawab atas pembunuhan terhadap beliau saw. itu. Rencana itu datang dari Abu Jahal, pemimpin kelompok jahat itu.
       Mengisyaratkan kepada pengulangan  makar buruk yang dirancang oleh musuh-musuh Nabi Shaleh a.s. itu pulalah   firman Allah Swt.  mengenai makar buruk yang dilakukan oleh para pemimpin Quraisy terhadap Nabi Besar Muhammad saw.

وَ اِذۡ یَمۡکُرُ بِکَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا لِیُثۡبِتُوۡکَ اَوۡ یَقۡتُلُوۡکَ اَوۡ یُخۡرِجُوۡکَ ؕ وَ یَمۡکُرُوۡنَ وَ یَمۡکُرُ  اللّٰہُ  ؕ وَ اللّٰہُ خَیۡرُ الۡمٰکِرِیۡنَ ﴿۳۱

Dan ingatlah ketika orang-orang kafir merancang makar  terhadap engkau, supaya mereka dapat menangkap engkau atau membunuh engkau atau mengusir engkau.    Mereka merancang makar buruk, dan Allah pun merancang  makar tandingan,  dan Allah sebaik-baik  Perancang makar. (Al-Anf al [8]:31).
       Ayat ini mengisyaratkan kepada musyawarah rahasia yang diadakan di Darun Nadwah (Balai Permusyawaratan) di Mekkah. Ketika mereka melihat bahwa semua usaha mereka mencegah berkembangnya aliran kepercayaan baru ini gagal, dan bahwa kebanyakan orang-orang Muslim yang mampu meninggalkan Mekkah telah berhijrah ke Medinah dan mereka sudah jauh dari bahaya, maka orang-orang terkemuka warga kota berkumpul di Darun Nadwah untuk membuat rencana ke arah usaha terakhir guna menghabisi Islam.
       Sesudah diadakan pertimbangan mendalam, terpikir oleh mereka satu rencana, ialah sejumlah orang-orang muda dari berbagai kabilah Quraisy harus secara serempak menyergap Nabi Besar Muhammad saw.   lalu membunuh beliau. Tanpa setahu orang Nabi Besar Muhammad saw.  meninggalkan rumah tengah malam buta, ketika para penjaga dikuasai oleh kantuk, berlindung di Gua Tsur bersama-sama  Abubakar Shiddiq r.a. (QS.9:40), sahabat beliau yang setia, dan akhirnya sampai di Madinah dengan selamat.
     Nabi Besar Muhammad saw.  terpaksa hijrah dari Makkah, tetapi hijrahnya itu akhirnya mengakibatkan kehancuran kekuatan kaum Quraisy yang tidak menyadari, bahwa dengan memaksa Nabi Besar Muhammad saw. hijrah dari Makkah, mereka meletakkan dasar kehancuran bagi mereka sendiri.

(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid      



Tidak ada komentar:

Posting Komentar