Minggu, 01 Januari 2012

Hubungan Nabi Besar Muhammad Saw. dengan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.

بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ




HUBUNGAN  NABI YUSUF A.S. 
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
  
Bagian   IX

Tentang

  Hubungan Nabi Besar Muhammad saw. dengan 
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  
 
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
وَ اِذۡ  قَالَ مُوۡسٰی لِقَوۡمِہٖ یٰقَوۡمِ لِمَ تُؤۡذُوۡنَنِیۡ  وَ قَدۡ تَّعۡلَمُوۡنَ  اَنِّیۡ  رَسُوۡلُ اللّٰہِ  اِلَیۡکُمۡ ؕ فَلَمَّا  زَاغُوۡۤا اَزَاغَ  اللّٰہُ قُلُوۡبَہُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ  لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الۡفٰسِقِیۡنَ ﴿۶  وَ اِذۡ قَالَ عِیۡسَی ابۡنُ  مَرۡیَمَ یٰبَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ  اِنِّیۡ  رَسُوۡلُ  اللّٰہِ  اِلَیۡکُمۡ مُّصَدِّقًا  لِّمَا بَیۡنَ  یَدَیَّ  مِنَ  التَّوۡرٰىۃِ وَ مُبَشِّرًۢا  بِرَسُوۡلٍ یَّاۡتِیۡ  مِنۡۢ  بَعۡدِی اسۡمُہٗۤ  اَحۡمَدُ ؕ فَلَمَّا جَآءَہُمۡ  بِالۡبَیِّنٰتِ قَالُوۡا ہٰذَا  سِحۡرٌ  مُّبِیۡنٌ ﴿۷

Dan ingatlah ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, mengapa kamu menyakitiku, padahal kamu sungguh mengetahui bahwa aku Rasul Allah yang diutus kepada kamu?” Maka tatkala mereka menyimpang dari jalan benar Allah pun menyimpangkan hati mereka, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.  Dan ingatlah ketika Isa ibnu Maryam berkata:  ”Hai Bani Israil, sesungguhnya aku Rasul Allah kepada kamu menggenapi apa yang ada sebelumku dalam Taurat, dan memberi kabar gembira mengenai seorang rasul yang akan datang sesudahku namanya Ahmad.”  Maka tatkala ia datang kepada mereka dengan bukti-bukti yang jelas mereka berkata: “Ini adalah  sihir yang nyata.” (Al-Shaff [61]:6-7)

Dalam Bab sebelumnya telah dikemukakan hubungan Nabi Besar Muhammad saw. dengan Nabi Musa a.s. – dalam kapasitas beliau saw. sebagai misal Nabi Musa a.s. (QS.46:11) – serta hubungan Nabi Besar Muhammad saw. dengan Nabi Shalih a.s., dalam kapasitas bahwa keduanya memiliki banyak persamaan, antara lain:
     (1) kaumnya sama-sama menyatakan bahwa mereka   mempunyai harapan  kepada kedua Rasul Allah tersebut  mengingat ketinggian akhlak dan ruhani keduanya (QS.11:61-62),
     (2) tetapi ketika keduanya mendakwakan diri sebagai Rasul Allah  maka kaum keduanya sepakat merancang makar buruk untuk membunuhnya dengan cara melakukan penyergapan di malam hari ketika keduanya sedang tidur di rumahnya masing-masing, firman-Nya:
وَ لَقَدۡ اَرۡسَلۡنَاۤ  اِلٰی ثَمُوۡدَ  اَخَاہُمۡ  صٰلِحًا اَنِ اعۡبُدُوا اللّٰہَ  فَاِذَا ہُمۡ فَرِیۡقٰنِ یَخۡتَصِمُوۡنَ ﴿۴۶   قَالَ یٰقَوۡمِ لِمَ تَسۡتَعۡجِلُوۡنَ بِالسَّیِّئَۃِ قَبۡلَ الۡحَسَنَۃِ ۚ لَوۡ لَا تَسۡتَغۡفِرُوۡنَ اللّٰہَ لَعَلَّکُمۡ تُرۡحَمُوۡنَ ﴿۴۷   قَالُوا اطَّیَّرۡنَا بِکَ وَ بِمَنۡ مَّعَکَ ؕ قَالَ طٰٓئِرُکُمۡ عِنۡدَ اللّٰہِ  بَلۡ  اَنۡتُمۡ قَوۡمٌ تُفۡتَنُوۡنَ ﴿۴۸  وَ کَانَ فِی الۡمَدِیۡنَۃِ  تِسۡعَۃُ  رَہۡطٍ یُّفۡسِدُوۡنَ فِی الۡاَرۡضِ وَ لَا یُصۡلِحُوۡنَ ﴿۴۹   قَالُوۡا تَقَاسَمُوۡا بِاللّٰہِ لَنُبَیِّتَنَّہٗ وَ اَہۡلَہٗ ثُمَّ لَنَقُوۡلَنَّ لِوَلِیِّہٖ مَا شَہِدۡنَا مَہۡلِکَ  اَہۡلِہٖ  وَ  اِنَّا  لَصٰدِقُوۡنَ ﴿۵۰   وَ مَکَرُوۡا مَکۡرًا وَّ  مَکَرۡنَا مَکۡرًا  وَّ ہُمۡ لَا  یَشۡعُرُوۡنَ ﴿۵۱  فَانۡظُرۡ کَیۡفَ کَانَ عَاقِبَۃُ مَکۡرِہِمۡ ۙ اَنَّا دَمَّرۡنٰہُمۡ  وَ  قَوۡمَہُمۡ  اَجۡمَعِیۡنَ ﴿۵۲   فَتِلۡکَ بُیُوۡتُہُمۡ خَاوِیَۃًۢ بِمَا ظَلَمُوۡا ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیَۃً   لِّقَوۡمٍ  یَّعۡلَمُوۡنَ ﴿۵۳  وَ اَنۡجَیۡنَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ کَانُوۡا یَتَّقُوۡنَ ﴿۵۴
Dan sungguh Kami benar-benar telah mengutus kepada Tsamud saudara mereka Shalih yang berkata: “Sembahlah Allah” maka tiba-tiba mereka menjadi dua golongan yang saling berbantah.   Ia, Shalih, berkata: “Hai kaumku, mengapakah kamu minta disegerakan keburukan sebelum datang kebaikan?  Mengapakah kamu tidak memohon ampun kepada Allah, supaya kamu di kasihani?”   Mereka berkata: “Hai Shalih,   kami telah mendapatkan nasib malang disebabkan engkau dan orang yang beserta engkau.” Ia, Shalih, berkata: “Nasib buruk kamu ada di sisi Allah, bahkan kamu  kaum yang diuji.”    Dan dalam kota itu ada  sembilan orang   yang  berbuat kerusakan di bumi  dan tidak mau mengadakan perbaikan.  Mereka berkata: “Hendaklah kamu sekalian bersumpah dengan nama Allah bahwa niscaya kami  akan menyerbu pada malam hari kepada dia dan keluarganya, kemudian kami niscaya akan berkata kepada pelindungnya:  “Kami sekali-kali tidak menyaksikan keluarganya menjadi binasa dan sesungguhnya kami adalah     orang-orang yang benar.”  Dan mereka membuat makar buruk  dan Kami pun membuat makar tandingan, tetapi mereka tidak menyadari.   Maka perhatikanlah bagaimana buruknya akibat makar buruk mereka, sesungguhnya Kami memus-nahkan mereka dan kaumnya semua.  Maka itulah rumah-rumah mereka yang telah runtuh  karena mereka berbuat zalim. Sesungguhnya dalam yang demikian itu benar-benar ada Tanda untuk kaum yang mengetahui. Dan Kami menyelamatkan  orang-orang yang beriman dan bertakwa. (Al-Naml [27]:46-54).
      Berikut firman Allah Swt. mengenai  makar buruk  para pemuka kaum kafir Quraisy  Makkah terhadap Nabi Besar Muhammad saw.:
وَ اِذۡ یَمۡکُرُ بِکَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا لِیُثۡبِتُوۡکَ اَوۡ یَقۡتُلُوۡکَ اَوۡ یُخۡرِجُوۡکَ ؕ وَ یَمۡکُرُوۡنَ وَ یَمۡکُرُ  اللّٰہُ  ؕ وَ اللّٰہُ خَیۡرُ الۡمٰکِرِیۡنَ ﴿۳۱
Dan ingatlah ketika orang-orang kafir merancang makar  terhadap engkau, supaya mereka dapat menangkap engkau atau membunuh engkau atau mengusir engkau.    Mereka merancang makar buruk, dan Allah pun merancang  makar tandingan,  dan Allah sebaik-baik  Perancang makar. (Al-Anfaal [8]:31).
      Ada pun mengenai harapan kaum kedua Rasul Allah tersebut,  berikut firman-Nya mengenai harapan kaum Nabi Shalih a.s. terhadap beliau a.s., yang  juga  berlaku  bagi Nabi Besar Muhammad saw.:
وَ اِلٰی ثَمُوۡدَ  اَخَاہُمۡ صٰلِحًا ۘ قَالَ یٰقَوۡمِ اعۡبُدُوا اللّٰہَ مَا لَکُمۡ مِّنۡ  اِلٰہٍ غَیۡرُہٗ ؕ ہُوَ اَنۡشَاَکُمۡ مِّنَ الۡاَرۡضِ وَ اسۡتَعۡمَرَکُمۡ فِیۡہَا فَاسۡتَغۡفِرُوۡہُ  ثُمَّ تُوۡبُوۡۤا  اِلَیۡہِ ؕ اِنَّ  رَبِّیۡ  قَرِیۡبٌ مُّجِیۡبٌ  ﴿۶۱  قَالُوۡا یٰصٰلِحُ  قَدۡ کُنۡتَ فِیۡنَا مَرۡجُوًّا قَبۡلَ  ہٰذَاۤ   اَتَنۡہٰنَاۤ   اَنۡ  نَّعۡبُدَ مَا یَعۡبُدُ اٰبَآؤُنَا وَ اِنَّنَا لَفِیۡ شَکٍّ مِّمَّا تَدۡعُوۡنَاۤ  اِلَیۡہِ  مُرِیۡبٍ ﴿۶۲
Dan kepada kaum Tsamuud Kami utus saudara mereka Shalih. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia-lah yang  telah  membangkitkan  kamu dari bumi, dan memakmurkan kamu di dalamnya maka mohon-lah ampunan kepada-Nya, kemudian bertaubatlah kepada-Nya, sesungguhnya Tuhan-ku itu dekat, dan mengabulkan doa. Mereka berkata: “Hai Shalih, sungguh engkau sebelum ini adalah seorang di antara kami yang menjadi  harapan kami. Apakah engkau melarang kami menyembah apa yang bapak-bapak kami sembah? Dan sesungguhnya kami benar-benar dalam keraguan yang menggelisahkan mengenai apa yang engkau serukan kepada kami.” (Huud [11]:62-63).

Kesaksian Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.

       Nabi Musa a.s. telah menyebut Nabi Besar Muhammad saw. sebagai seorang Rasul Allah yang “akan menceritakan segala perintah Tuhan” dan akan berkata-kata “atas nama Tuhan” yakni: Aku akan menaruh firmanKu dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala  yang Kuperintahkan kepadanya....... Orang yang tidak mendengar segala firmanKu yang akan diucapkan nabi itu demi namaKu...”.    
     Berikut nubuatan Nabi Musa a.s. dalam Bible  mengenai kedatangan Nabi Besar Muhammad saw.   selengkapnya:
Seorang nabi dari tengah-tengahmu, dari antara saudara-saudaramu,  sama seperti aku, akan dibangkitkan bagimu oleh Tuhan Allah-mu, dialah yang harus kamu dengarkan. Tepat seperti yang kamu minta dahulu kepada Tuhan Allahmu di gunung Horeb pada hari perkumpulan dengan berkata:  Tidak mau   aku mendengar lagi suara Tuhan Allahku, dan api yang besar ini aku tidak mau melihatnya lagi, supaya jangan aku mati. Lalu berkatalah Tuhan kepadaku: Apa yang dikatakan mereka itu baik, seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka seperti engkau ini; Aku akan menaruh firmanKu dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala  yang Kuperintahkan kepadanya. Orang yang tidak mendengar segala firmanKu yang akan diucapkan nabi itu demi namaKu, daripadanya akan Kutuntut pertanggungjawaban. Tetapi seorang nabi yang terlalu berani untuk mengucapkan demi namaKu perkataan yang tidak Kuperintahkan untuk dikatakan olehnya, atau yang berkata demi nama allah lain, nabi itu harus mati. (Ulangan 18:15-20).
     Sesuai dengan kalimat: Aku akan menaruh firmanKu dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala  yang Kuperintahkan kepadanya. Orang yang tidak mendengar segala firmanKu yang akan diucapkan nabi itu demi namaKu, daripadanya akan Kutuntut pertanggungjawaban. Berikut ini adalah kesaksian Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dalam Injil mengenai kedatangan  Roh Kebenaran yang akan memimpin ke dalam seluruh kebenaran, yakni Nabi Besar Muhammad saw.
Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang  kamu belum mampu menanggungnya. Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran, sebab Ia tidak berkata-kata dari diriNya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengarNya itulah yang akan dikatakanNya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang (Yohanes 16:12-13).
     Jadi, Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  (Yesus Kristus) pun mengakui, bahwa hukum-hukum syariat yang diturunkan Allah Swt. kepada para rasul Allah sampai dengan masa beliau belum sempurna, sebab sampai saat itu manusia – termasuk Bani Israil – belum  mampu untuk melaksanakan (mengamalkan) hukum-hukum syariat yang terakhir dan tersempurna, yaitu agama Islam (Al-Quran) yang diwahyukan kepada “nabi yang seperti Musa” yakni Nabi Besar Muhammad saw. atau “Roh Kebenaran”, yang  sehubungan dengan kedatangannya Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (Yesus Kristus) telah berkata: “Diberkatilah dia yang datang dalam nama Tuhan” (Matius 23:37-39).
      Jadi, baik Nabi Musa a.s. mau pun Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (Yesus Kristus) telah menganggap bahwa kedatangan Nabi Besar Muhammad saw. seolah-olah merupakan kedatangan Allah Swt. Sendiri atau “kedatangan Tuhan.”  Itulah sebabnya ketika Nabi Musa a.s. menghadap Allah Swt.  di gunung Horeb, sebagaimana perjanjian yang telah disepakatinya dengan Allah Swt. selama 30 hari — yang kemudian ditambah 10 hari lagi, sehingga menjadi 10 hari – Nabi Musa a.s. telah menyebutkan keingintahuan beliau   akan kesempurnaan  akhlak dan ruhani Nabi Besar Muhammad saw. – yakni “” (QS.46:11) Nabi yang seperti Musa a.s. --   sebagai keinginan beliau “melihat Tuhan” (QS.7:143-144).

“Dia yang Datang Dalam Nama Tuhan” & “Ahmad”

      Mengenai kedatangan Nabi Besar Muhammad saw. -- yang seolah-olah merupakan “kedatangan Tuhan Sendiri” –  Allah Swt. melalui mulut Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  telah menyebutnya dengan kalimat “Diberkatikah Dia yang datang dalam nama Tuhan”, sehubungan dengan nubuatan kehancuran  yang kedua kali kota Yerusalem  (QS.5:79-81; QS.17:5-9), akibat kedurhakaan Bani Israil kepada Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. berupa upaya membunuh beliau melalui penyaliban (QS.4:157-159; QS.5:79-81):
Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau. Lihatlah rumahmu ini akan ditinggalkan dan menjadi sunyi. Dan Aku berkata kepadamu: Mulai sekarang kamu tidak akan melihat Aku lagi , hingga kamu berkata: Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan!” (Matius 23:37-39).
     Ungkapan kalimat “Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan!” identik dengan kalimat Bismillaahirrahmaanirrahim -- yang  merupakan ayat pertama dari setiap Surah Al-Quran, kecuali dalam Surah Al-Taubah,  karena merupakan lanjutan Surah Al-Anfaal --  yang artinya adalah “Dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang).
      Dalam Al-Quran Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. menyebut kedatangan “Nabi yang seperti Musa”  itu  dengan sebutan Ahmad, firman-Nya:
وَ اِذۡ  قَالَ مُوۡسٰی لِقَوۡمِہٖ یٰقَوۡمِ لِمَ تُؤۡذُوۡنَنِیۡ  وَ قَدۡ تَّعۡلَمُوۡنَ  اَنِّیۡ  رَسُوۡلُ اللّٰہِ  اِلَیۡکُمۡ ؕ فَلَمَّا  زَاغُوۡۤا اَزَاغَ  اللّٰہُ قُلُوۡبَہُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ  لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الۡفٰسِقِیۡنَ ﴿۶  وَ اِذۡ قَالَ عِیۡسَی ابۡنُ  مَرۡیَمَ یٰبَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ  اِنِّیۡ  رَسُوۡلُ  اللّٰہِ  اِلَیۡکُمۡ مُّصَدِّقًا  لِّمَا بَیۡنَ  یَدَیَّ  مِنَ  التَّوۡرٰىۃِ وَ مُبَشِّرًۢا  بِرَسُوۡلٍ یَّاۡتِیۡ  مِنۡۢ  بَعۡدِی اسۡمُہٗۤ  اَحۡمَدُ ؕ فَلَمَّا جَآءَہُمۡ  بِالۡبَیِّنٰتِ قَالُوۡا ہٰذَا  سِحۡرٌ  مُّبِیۡنٌ ﴿۷

Dan ingatlah ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, mengapa kamu menyakitiku, padahal kamu sungguh mengetahui bahwa aku Rasul Allah yang diutus kepada kamu?” Maka tatkala mereka menyimpang dari jalan benar Allah pun menyimpangkan hati mereka, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.  Dan ingatlah ketika Isa ibnu Maryam berkata:  ”Hai Bani Israil, sesungguhnya aku Rasul Allah kepada kamu menggenapi apa yang ada sebelumku dalam Taurat, dan memberi kabar gembira mengenai seorang rasul yang akan datang sesudahku namanya Ahmad.”  Maka tatkala ia datang kepada mereka dengan bukti-bukti yang jelas mereka berkata: “Ini adalah  sihir yang nyata.” (Al-Shaff [61]:6-7)
   Untuk nubuatan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.   mengenai kedatangan Paraklit (Paraclete) atau Penolong atau Ruh Kebenaran, lihat Injil Yahya 12:13; 14:16-17; 15:26; 16:17; yang dari situ kesimpulan berikut dengan jelas dapat diambil:
(a) Paraklit (Paraclete) atau Penolong atau Ruh Kebenaran tidak dapat datang sebelum Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.   berangkat dari dunia ini, yakni wafat (QS.3:56; QS.5:117-119).
(b) Beliau akan tinggal di dunia untuk selama-lamanya, akan mengatakan banyak hal yang Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  sendiri tidak dapat mengatakannya karena dunia belum dapat menanggungnya pada waktu itu.
(c) Beliau akan memimpin umat manusia kepada segala kebenaran.
(d) Beliau tidak akan bicara atas kehendak sendiri, tetapi apa pun yang didengar oleh beliau, itu pulalah yang akan diucapkan oleh beliau.
(e) Beliau akan memuliakan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dan memberikan kesaksian atas kebenarannya.
Lukisan mengenai Paraklit (Paraclete) atau Penolong atau Ruh Kebenaran itu serasi benar dengan kedudukan dan tugas Nabi Besar Muhammad saw. sebagaimana diterangkan dalam Al-Quran.  Nabi Besar Muhammad saw. datang sesudah Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  meninggalkan dunia ini (wafat);   beliau adalah nabi pembawa syariat terakhir dan Al-Quran merupakan syariat suci terakhir, diwahyukan untuk seluruh umat manusia hingga Hari Kiamat (QS.5:4; QS.7:159; QS.21:108; QS.25:2; QS.34:29).
Beliau tidak berkata atas kehendak sendiri, melainkan apa pun yang didengar beliau dari Tuhan, itu pulalah yang diucapkan beliau (QS.53:4). Beliau memuliakan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  (QS.2:254; QS.3:56). Nubuatan dalam Injil Yahya di atas adalah sesuai dengan nubuatan yang disebut dalam ayat yang sedang dibahas kecuali bahwa bukan nama Ahmad yang tercantum di situ melainkan Paraklit (Paraclete).
Para penulis Kristen menantang ketepatan versi (anggapan) Al-Quran mengenai nubuatan itu, sambil mendasarkan pernyataan-pernyataan mereka pada perbedaan kedua nama itu, dengan tidak memperhatikan kesamaan sifat-sifat yang dituturkan oleh Bible dan Al-Quran. Pada hakikatnya, Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  memakai bahasa Arami dan Ibrani. Bahasa Arami adalah bahasa ibu beliau dan bahasa Ibrani adalah bahasa agama beliau.
Versi Bible sekarang adalah terjemahan dari bahasa Arami dan bahasa Ibrani ke dalam bahasa Yunani. Suatu terjemahan dengan sendirinya tidak dapat membawakan sepenuh keindahan gubahan aslinya. Bahasa-bahasa mempunyai batas-batasnya masing-masing. Demikian pula mengenai kaum yang mempergunakan bahasa itu. Batas-batas mereka itu nampak pula dalam karya-karya mereka. Bahasa Yunani mempunyai penggunaan kata lain, ialah  Periklutos, yang mempunyai persamaan arti dengan Ahmad dalam bahasa Arab.

Periclutos – Ahmad dan Muhammad
  
Jack Finegan, seorang ahli ilmu agama Kristen kenamaan, mengatakan di dalam kitabnya bernama  Archaeology of World Religions  berkata, “Kalau dalam bahasa Yunani kata Paracletos (Penghibur) sangat cocok dengan kata Periclutos (termasyhur), maka kata itu berarti nama-nama Ahmad dan Muhammad”. Lebih-lebih   The Damascus Document”  (Dokumen atau Naskah asal Damaskus), suatu naskah yang ditemukan menjelang akhir abad ke-19 dalam gereja Yahudi di Ezra, Mesir Kuno (halaman 2) melukiskan bahwa Yesus telah menubuatkan kedatangan “Ruh Suci” dengan nama Emeth: Dan dengan Almasih-Nya Dia memberitahukan kepada mereka Rohulkudus-Nya. Sebab dialah Emeth ialah, Al-Amin (Si Jujur), dan sesuai dengan nama-Nya demikian pula  nama mereka ..... Emeth dalam bahasa Ibrani berarti “Kebenaran” atau Si Jujur (Al-Amin) dan orang yang kebaikannya dawam” (Strahan’s Fourth Gospel, 141).
Kata Emeth  ditafsirkan oleh orang-orang Yahudi  “Cap (meterai) Tuhan.” Dengan sendirinya, meskipun Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  mungkin telah mempergunakan nama Ahmad, persamaan bunyi lafal antara kedua kata (Ahmad dan Emeth) itu telah membuat para penulis di kemudian hari menulis kata Emeth sebagai alih-alih kata “Ahmad” yang adalah persamaan kosa-kata dalam bahasa Ibrani.
   Jadi, nubuatan yang disebut dalam ayat ini ditujukan kepada  Nabi Besar Muhammad saw. – yang salah satu nama panggilan lain beliau saw. adalah Ahmad, tetapi sebagai kesimpulan – sesuai dengan nubuatan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. sendiri mengenai kedatangan kedua kali beliau (Matius 24:23-36), dapat pula dikenakan kepada   Mirza Ghulam Ahmad a.s.,  Pendiri Jemaat Ahmadiyah, yang atas perintah Allah Swt. telah mendakwakan sebagai Al-Masih Mau’ud a.s.   (Al-Masih yang dijanjikan) atau sebagai misal Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58),  sebab beliau pun telah dipanggil dengan nama Ahmad di dalam wahyu-wahyu Ilahi yang diterimanya (Barahin Ahmadiyah), dan oleh karena dalam diri beliau terwujud kedatangan kedua atau diutusnya yang kedua kali Nabi Besar Muhammad saw. (QS.62:3-5)  telah pula dinyatakan dengan jelas dalam Injil Barnabas, yang dianggap oleh kaum gerejani tidak sah, tetapi pada pihak lain mereka menganggapnya otentik (dapat dipercaya), seotentik setiap dari keempat Injil.

(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid

Tidak ada komentar:

Posting Komentar