بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
HUBUNGAN NABI YUSUF A.S.
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
Bagian IX
Tentang
Hubungan Nabi Besar Muhammad saw. dengan
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
Oleh
Ki Langlang
Buana Kusuma
وَ
اِذۡ قَالَ مُوۡسٰی لِقَوۡمِہٖ یٰقَوۡمِ
لِمَ تُؤۡذُوۡنَنِیۡ وَ قَدۡ
تَّعۡلَمُوۡنَ اَنِّیۡ رَسُوۡلُ اللّٰہِ اِلَیۡکُمۡ ؕ فَلَمَّا زَاغُوۡۤا اَزَاغَ اللّٰہُ قُلُوۡبَہُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الۡفٰسِقِیۡنَ ﴿۶﴾ وَ اِذۡ قَالَ عِیۡسَی
ابۡنُ مَرۡیَمَ یٰبَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ اِنِّیۡ
رَسُوۡلُ اللّٰہِ اِلَیۡکُمۡ مُّصَدِّقًا لِّمَا بَیۡنَ
یَدَیَّ مِنَ التَّوۡرٰىۃِ وَ مُبَشِّرًۢا بِرَسُوۡلٍ یَّاۡتِیۡ مِنۡۢ
بَعۡدِی اسۡمُہٗۤ اَحۡمَدُ ؕ
فَلَمَّا جَآءَہُمۡ بِالۡبَیِّنٰتِ
قَالُوۡا ہٰذَا سِحۡرٌ مُّبِیۡنٌ ﴿۷﴾
Dan ingatlah ketika Musa berkata
kepada kaumnya: “Hai kaumku, mengapa kamu menyakitiku, padahal kamu sungguh
mengetahui bahwa aku Rasul Allah yang diutus kepada kamu?” Maka tatkala mereka
menyimpang dari jalan benar Allah pun menyimpangkan hati mereka, dan Allah
tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik. Dan ingatlah ketika Isa ibnu Maryam
berkata: ”Hai Bani Israil, sesungguhnya aku
Rasul Allah kepada kamu menggenapi apa yang ada sebelumku dalam Taurat, dan
memberi kabar gembira mengenai seorang rasul yang akan datang sesudahku namanya
Ahmad.” Maka tatkala ia
datang kepada mereka dengan bukti-bukti yang jelas mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata.” (Al-Shaff
[61]:6-7)
Dalam Bab
sebelumnya telah dikemukakan hubungan Nabi Besar Muhammad saw. dengan Nabi
Musa a.s. – dalam kapasitas beliau saw. sebagai misal Nabi Musa
a.s. (QS.46:11) – serta hubungan Nabi Besar Muhammad saw. dengan Nabi
Shalih a.s., dalam kapasitas bahwa keduanya memiliki banyak persamaan, antara
lain:
(1) kaumnya sama-sama menyatakan bahwa
mereka mempunyai harapan kepada kedua Rasul Allah tersebut mengingat ketinggian akhlak dan ruhani
keduanya (QS.11:61-62),
(2) tetapi ketika keduanya mendakwakan diri
sebagai Rasul Allah maka kaum
keduanya sepakat merancang makar buruk untuk membunuhnya dengan cara
melakukan penyergapan di malam hari ketika keduanya sedang tidur di rumahnya
masing-masing, firman-Nya:
وَ
لَقَدۡ اَرۡسَلۡنَاۤ اِلٰی ثَمُوۡدَ اَخَاہُمۡ
صٰلِحًا اَنِ اعۡبُدُوا اللّٰہَ
فَاِذَا ہُمۡ فَرِیۡقٰنِ یَخۡتَصِمُوۡنَ ﴿۴۶﴾ قَالَ یٰقَوۡمِ لِمَ
تَسۡتَعۡجِلُوۡنَ بِالسَّیِّئَۃِ قَبۡلَ الۡحَسَنَۃِ ۚ لَوۡ لَا تَسۡتَغۡفِرُوۡنَ
اللّٰہَ لَعَلَّکُمۡ تُرۡحَمُوۡنَ ﴿۴۷﴾ قَالُوا اطَّیَّرۡنَا بِکَ وَ بِمَنۡ مَّعَکَ ؕ
قَالَ طٰٓئِرُکُمۡ عِنۡدَ اللّٰہِ
بَلۡ اَنۡتُمۡ قَوۡمٌ تُفۡتَنُوۡنَ
﴿۴۸﴾ وَ کَانَ فِی
الۡمَدِیۡنَۃِ تِسۡعَۃُ رَہۡطٍ یُّفۡسِدُوۡنَ فِی الۡاَرۡضِ وَ لَا
یُصۡلِحُوۡنَ ﴿۴۹﴾ قَالُوۡا تَقَاسَمُوۡا بِاللّٰہِ لَنُبَیِّتَنَّہٗ
وَ اَہۡلَہٗ ثُمَّ لَنَقُوۡلَنَّ لِوَلِیِّہٖ مَا شَہِدۡنَا مَہۡلِکَ اَہۡلِہٖ
وَ اِنَّا لَصٰدِقُوۡنَ ﴿۵۰﴾ وَ مَکَرُوۡا مَکۡرًا
وَّ مَکَرۡنَا مَکۡرًا وَّ ہُمۡ لَا
یَشۡعُرُوۡنَ ﴿۵۱﴾ فَانۡظُرۡ کَیۡفَ کَانَ عَاقِبَۃُ مَکۡرِہِمۡ ۙ
اَنَّا دَمَّرۡنٰہُمۡ وَ قَوۡمَہُمۡ
اَجۡمَعِیۡنَ ﴿۵۲﴾ فَتِلۡکَ بُیُوۡتُہُمۡ خَاوِیَۃًۢ بِمَا ظَلَمُوۡا
ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیَۃً
لِّقَوۡمٍ یَّعۡلَمُوۡنَ ﴿۵۳﴾ وَ اَنۡجَیۡنَا
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ کَانُوۡا یَتَّقُوۡنَ ﴿۵۴﴾
Dan
sungguh Kami benar-benar telah mengutus kepada Tsamud saudara mereka Shalih
yang berkata: “Sembahlah Allah” maka tiba-tiba mereka menjadi dua
golongan yang saling berbantah. Ia, Shalih, berkata: “Hai kaumku, mengapakah
kamu minta disegerakan keburukan sebelum datang kebaikan? Mengapakah kamu tidak memohon
ampun kepada Allah, supaya kamu di kasihani?” Mereka
berkata: “Hai Shalih, kami telah mendapatkan nasib malang
disebabkan engkau dan orang yang beserta engkau.” Ia, Shalih,
berkata: “Nasib buruk kamu ada di sisi Allah, bahkan kamu kaum yang diuji.” Dan dalam kota itu ada sembilan orang yang berbuat kerusakan di bumi dan tidak mau mengadakan perbaikan. Mereka berkata: “Hendaklah kamu sekalian
bersumpah dengan nama Allah bahwa niscaya kami akan menyerbu pada malam hari kepada dia dan
keluarganya, kemudian kami niscaya akan berkata kepada pelindungnya: “Kami sekali-kali tidak menyaksikan
keluarganya menjadi binasa dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang benar.” Dan mereka membuat makar buruk
dan Kami pun membuat makar
tandingan, tetapi mereka tidak menyadari. Maka perhatikanlah bagaimana buruknya
akibat makar buruk mereka, sesungguhnya Kami memus-nahkan
mereka dan kaumnya semua. Maka itulah
rumah-rumah mereka yang telah runtuh karena mereka berbuat zalim.
Sesungguhnya dalam yang demikian itu benar-benar ada Tanda untuk kaum yang
mengetahui. Dan Kami menyelamatkan
orang-orang yang beriman dan bertakwa. (Al-Naml
[27]:46-54).
Berikut firman Allah Swt. mengenai makar buruk para pemuka kaum kafir Quraisy Makkah terhadap Nabi Besar Muhammad saw.:
وَ
اِذۡ یَمۡکُرُ بِکَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا لِیُثۡبِتُوۡکَ اَوۡ یَقۡتُلُوۡکَ اَوۡ
یُخۡرِجُوۡکَ ؕ وَ یَمۡکُرُوۡنَ وَ یَمۡکُرُ
اللّٰہُ ؕ وَ اللّٰہُ خَیۡرُ
الۡمٰکِرِیۡنَ ﴿۳۱﴾
Dan ingatlah ketika orang-orang kafir merancang
makar terhadap engkau, supaya mereka
dapat menangkap engkau atau membunuh engkau atau mengusir
engkau. Mereka merancang makar buruk,
dan Allah pun merancang makar tandingan,
dan Allah sebaik-baik Perancang makar. (Al-Anfaal
[8]:31).
Ada
pun mengenai harapan kaum kedua Rasul Allah tersebut, berikut firman-Nya mengenai harapan
kaum Nabi Shalih a.s. terhadap beliau a.s., yang juga
berlaku bagi Nabi Besar Muhammad
saw.:
وَ
اِلٰی ثَمُوۡدَ اَخَاہُمۡ صٰلِحًا ۘ قَالَ
یٰقَوۡمِ اعۡبُدُوا اللّٰہَ مَا لَکُمۡ مِّنۡ
اِلٰہٍ غَیۡرُہٗ ؕ ہُوَ اَنۡشَاَکُمۡ مِّنَ الۡاَرۡضِ وَ اسۡتَعۡمَرَکُمۡ
فِیۡہَا فَاسۡتَغۡفِرُوۡہُ ثُمَّ
تُوۡبُوۡۤا اِلَیۡہِ ؕ اِنَّ رَبِّیۡ
قَرِیۡبٌ مُّجِیۡبٌ ﴿۶۱﴾ قَالُوۡا یٰصٰلِحُ قَدۡ کُنۡتَ فِیۡنَا مَرۡجُوًّا قَبۡلَ ہٰذَاۤ
اَتَنۡہٰنَاۤ اَنۡ نَّعۡبُدَ مَا یَعۡبُدُ اٰبَآؤُنَا وَ
اِنَّنَا لَفِیۡ شَکٍّ مِّمَّا تَدۡعُوۡنَاۤ
اِلَیۡہِ مُرِیۡبٍ ﴿۶۲﴾
Dan kepada kaum Tsamuud Kami utus saudara mereka
Shalih. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, tidak ada bagimu Tuhan
selain Dia. Dia-lah yang telah membangkitkan
kamu dari bumi, dan memakmurkan kamu di dalamnya maka mohon-lah ampunan
kepada-Nya, kemudian bertaubatlah kepada-Nya, sesungguhnya Tuhan-ku itu dekat, dan
mengabulkan doa. Mereka berkata: “Hai Shalih, sungguh engkau
sebelum ini adalah seorang di antara kami yang menjadi harapan kami. Apakah engkau melarang kami
menyembah apa yang bapak-bapak kami sembah? Dan sesungguhnya kami benar-benar
dalam keraguan yang menggelisahkan mengenai apa yang engkau serukan kepada
kami.” (Huud [11]:62-63).
Kesaksian Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
Nabi
Musa a.s. telah menyebut Nabi Besar Muhammad saw. sebagai seorang Rasul Allah
yang “akan menceritakan segala perintah Tuhan” dan akan berkata-kata “atas
nama Tuhan” yakni: Aku akan menaruh firmanKu dalam mulutnya,
dan ia akan mengatakan kepada mereka segala
yang Kuperintahkan kepadanya....... Orang yang tidak mendengar
segala firmanKu yang akan diucapkan nabi itu demi namaKu...”.
Berikut nubuatan Nabi Musa a.s.
dalam Bible mengenai kedatangan Nabi
Besar Muhammad saw. selengkapnya:
Seorang nabi
dari tengah-tengahmu, dari antara saudara-saudaramu, sama seperti aku, akan dibangkitkan
bagimu oleh Tuhan Allah-mu, dialah yang harus kamu dengarkan. Tepat
seperti yang kamu minta dahulu kepada Tuhan Allahmu di gunung Horeb pada hari
perkumpulan dengan berkata: Tidak
mau aku mendengar lagi suara Tuhan
Allahku, dan api yang besar ini aku tidak mau melihatnya lagi, supaya jangan
aku mati. Lalu berkatalah Tuhan kepadaku: Apa yang dikatakan mereka itu
baik, seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka seperti engkau ini; Aku
akan menaruh firmanKu dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada
mereka segala yang Kuperintahkan
kepadanya. Orang yang tidak mendengar segala firmanKu yang akan diucapkan
nabi itu demi namaKu, daripadanya akan Kutuntut pertanggungjawaban.
Tetapi seorang nabi yang terlalu berani untuk mengucapkan demi namaKu perkataan
yang tidak Kuperintahkan untuk dikatakan olehnya, atau yang berkata demi nama
allah lain, nabi itu harus mati. (Ulangan
18:15-20).
Sesuai dengan kalimat: Aku akan
menaruh firmanKu dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada
mereka segala yang Kuperintahkan
kepadanya. Orang yang tidak mendengar segala firmanKu yang akan diucapkan
nabi itu demi namaKu, daripadanya akan Kutuntut pertanggungjawaban. Berikut
ini adalah kesaksian Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dalam Injil
mengenai kedatangan Roh Kebenaran
yang akan memimpin ke dalam seluruh kebenaran, yakni Nabi Besar Muhammad
saw.
“Masih
banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum mampu menanggungnya. Tetapi
apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu
ke dalam seluruh kebenaran, sebab Ia tidak berkata-kata dari diriNya
sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengarNya itulah yang akan
dikatakanNya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan
datang (Yohanes 16:12-13).
Jadi, Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (Yesus Kristus) pun mengakui, bahwa hukum-hukum
syariat yang diturunkan Allah Swt. kepada para rasul Allah sampai
dengan masa beliau belum sempurna, sebab sampai saat itu manusia –
termasuk Bani Israil – belum
mampu untuk melaksanakan (mengamalkan) hukum-hukum syariat yang terakhir
dan tersempurna, yaitu agama Islam (Al-Quran) yang diwahyukan
kepada “nabi yang seperti Musa” yakni Nabi Besar Muhammad saw.
atau “Roh Kebenaran”, yang
sehubungan dengan kedatangannya Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (Yesus
Kristus) telah berkata: “Diberkatilah dia yang datang dalam
nama Tuhan” (Matius 23:37-39).
Jadi, baik Nabi Musa a.s. mau pun Nabi Isa
Ibnu Maryam a.s. (Yesus Kristus) telah menganggap bahwa kedatangan Nabi
Besar Muhammad saw. seolah-olah merupakan kedatangan Allah Swt.
Sendiri atau “kedatangan Tuhan.”
Itulah sebabnya ketika Nabi Musa a.s. menghadap Allah Swt. di gunung Horeb, sebagaimana perjanjian
yang telah disepakatinya dengan Allah Swt. selama 30 hari — yang kemudian
ditambah 10 hari lagi, sehingga menjadi 10 hari – Nabi Musa a.s. telah
menyebutkan keingintahuan beliau akan kesempurnaan akhlak dan ruhani Nabi Besar
Muhammad saw. – yakni “” (QS.46:11) Nabi yang seperti Musa a.s. -- sebagai keinginan beliau “melihat Tuhan”
(QS.7:143-144).
“Dia yang
Datang Dalam Nama Tuhan” & “Ahmad”
Mengenai kedatangan Nabi Besar Muhammad
saw. -- yang seolah-olah merupakan “kedatangan Tuhan Sendiri” – Allah Swt. melalui mulut Nabi Isa Ibnu Maryam
a.s. telah menyebutnya dengan kalimat “Diberkatikah
Dia yang datang dalam nama Tuhan”, sehubungan dengan nubuatan
kehancuran yang kedua kali kota Yerusalem
(QS.5:79-81; QS.17:5-9), akibat kedurhakaan
Bani Israil kepada Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. berupa upaya membunuh
beliau melalui penyaliban (QS.4:157-159; QS.5:79-81):
Yerusalem,
Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi
dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali
Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan
anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau. Lihatlah rumahmu
ini akan ditinggalkan dan menjadi sunyi. Dan Aku berkata kepadamu: Mulai
sekarang kamu tidak akan melihat Aku lagi , hingga kamu berkata: Diberkatilah
Dia yang datang dalam nama Tuhan!” (Matius 23:37-39).
Ungkapan kalimat “Diberkatilah Dia yang
datang dalam nama Tuhan!” identik dengan kalimat Bismillaahirrahmaanirrahim
-- yang merupakan ayat pertama dari
setiap Surah Al-Quran, kecuali dalam Surah Al-Taubah, karena merupakan lanjutan Surah Al-Anfaal
-- yang artinya adalah “Dengan
nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang).
Dalam Al-Quran Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
menyebut kedatangan “Nabi yang seperti Musa” itu
dengan sebutan Ahmad, firman-Nya:
وَ
اِذۡ قَالَ مُوۡسٰی لِقَوۡمِہٖ یٰقَوۡمِ
لِمَ تُؤۡذُوۡنَنِیۡ وَ قَدۡ
تَّعۡلَمُوۡنَ اَنِّیۡ رَسُوۡلُ اللّٰہِ اِلَیۡکُمۡ ؕ فَلَمَّا زَاغُوۡۤا اَزَاغَ اللّٰہُ قُلُوۡبَہُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الۡفٰسِقِیۡنَ ﴿۶﴾ وَ اِذۡ قَالَ عِیۡسَی
ابۡنُ مَرۡیَمَ یٰبَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ اِنِّیۡ
رَسُوۡلُ اللّٰہِ اِلَیۡکُمۡ مُّصَدِّقًا لِّمَا بَیۡنَ
یَدَیَّ مِنَ التَّوۡرٰىۃِ وَ مُبَشِّرًۢا بِرَسُوۡلٍ یَّاۡتِیۡ مِنۡۢ
بَعۡدِی اسۡمُہٗۤ اَحۡمَدُ ؕ
فَلَمَّا جَآءَہُمۡ بِالۡبَیِّنٰتِ
قَالُوۡا ہٰذَا سِحۡرٌ مُّبِیۡنٌ ﴿۷﴾
Dan ingatlah ketika Musa
berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, mengapa kamu menyakitiku, padahal kamu
sungguh mengetahui bahwa aku Rasul Allah yang diutus kepada kamu?” Maka
tatkala mereka menyimpang dari jalan benar Allah pun menyimpangkan hati
mereka, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik. Dan ingatlah ketika Isa ibnu Maryam
berkata: ”Hai Bani Israil,
sesungguhnya aku Rasul Allah kepada kamu menggenapi apa yang ada sebelumku dalam
Taurat, dan memberi kabar gembira mengenai seorang rasul yang
akan datang sesudahku namanya Ahmad.” Maka tatkala ia datang kepada mereka
dengan bukti-bukti yang jelas mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata.” (Al-Shaff
[61]:6-7)
Untuk nubuatan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. mengenai kedatangan Paraklit (Paraclete)
atau Penolong atau Ruh Kebenaran, lihat Injil Yahya
12:13; 14:16-17; 15:26; 16:17; yang dari situ kesimpulan berikut dengan jelas
dapat diambil:
(a) Paraklit (Paraclete) atau
Penolong atau Ruh Kebenaran tidak dapat datang sebelum Nabi Isa
Ibnu Maryam a.s. berangkat
dari dunia ini, yakni wafat (QS.3:56; QS.5:117-119).
(b) Beliau akan tinggal di dunia
untuk selama-lamanya, akan mengatakan banyak hal yang Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
sendiri tidak dapat mengatakannya karena
dunia belum dapat menanggungnya pada waktu itu.
(c) Beliau akan memimpin umat
manusia kepada segala kebenaran.
(d) Beliau tidak akan bicara atas
kehendak sendiri, tetapi apa pun yang didengar oleh beliau, itu pulalah yang
akan diucapkan oleh beliau.
(e) Beliau akan memuliakan Nabi Isa
Ibnu Maryam a.s. dan memberikan kesaksian atas kebenarannya.
Lukisan mengenai Paraklit (Paraclete)
atau Penolong atau Ruh Kebenaran itu serasi benar dengan
kedudukan dan tugas Nabi Besar Muhammad saw. sebagaimana diterangkan dalam
Al-Quran. Nabi Besar Muhammad saw. datang
sesudah Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. meninggalkan
dunia ini (wafat); beliau adalah nabi pembawa syariat terakhir
dan Al-Quran merupakan syariat suci terakhir, diwahyukan untuk seluruh
umat manusia hingga Hari Kiamat (QS.5:4; QS.7:159; QS.21:108; QS.25:2;
QS.34:29).
Beliau tidak berkata atas kehendak
sendiri, melainkan apa pun yang didengar beliau dari Tuhan, itu pulalah yang
diucapkan beliau (QS.53:4). Beliau memuliakan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.2:254; QS.3:56). Nubuatan dalam Injil
Yahya di atas adalah sesuai dengan nubuatan yang disebut dalam ayat yang
sedang dibahas kecuali bahwa bukan nama Ahmad yang tercantum di
situ melainkan Paraklit (Paraclete).
Para penulis Kristen menantang
ketepatan versi (anggapan) Al-Quran mengenai nubuatan itu, sambil
mendasarkan pernyataan-pernyataan mereka pada perbedaan kedua nama itu, dengan
tidak memperhatikan kesamaan sifat-sifat yang dituturkan oleh Bible dan
Al-Quran. Pada hakikatnya, Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. memakai bahasa Arami dan Ibrani. Bahasa
Arami adalah bahasa ibu beliau dan bahasa Ibrani adalah bahasa agama beliau.
Versi Bible sekarang adalah
terjemahan dari bahasa Arami dan bahasa Ibrani ke dalam bahasa Yunani. Suatu
terjemahan dengan sendirinya tidak dapat membawakan sepenuh keindahan gubahan
aslinya. Bahasa-bahasa mempunyai batas-batasnya masing-masing. Demikian pula
mengenai kaum yang mempergunakan bahasa itu. Batas-batas mereka itu nampak pula
dalam karya-karya mereka. Bahasa Yunani mempunyai penggunaan kata lain, ialah Periklutos, yang mempunyai persamaan
arti dengan Ahmad dalam bahasa Arab.
Periclutos – Ahmad dan Muhammad
Jack Finegan, seorang ahli ilmu
agama Kristen kenamaan, mengatakan di dalam kitabnya bernama Archaeology of World Religions berkata, “Kalau dalam bahasa Yunani kata Paracletos
(Penghibur) sangat cocok dengan kata Periclutos (termasyhur), maka kata
itu berarti nama-nama Ahmad dan Muhammad”. Lebih-lebih The Damascus Document” (Dokumen atau Naskah asal Damaskus), suatu
naskah yang ditemukan menjelang akhir abad ke-19 dalam gereja Yahudi di Ezra,
Mesir Kuno (halaman 2) melukiskan bahwa Yesus telah menubuatkan
kedatangan “Ruh Suci” dengan nama Emeth: Dan dengan Almasih-Nya Dia
memberitahukan kepada mereka Rohulkudus-Nya. Sebab dialah Emeth ialah, Al-Amin
(Si Jujur), dan sesuai dengan nama-Nya demikian pula nama mereka ..... Emeth” dalam
bahasa Ibrani berarti “Kebenaran” atau Si Jujur (Al-Amin) dan orang yang
kebaikannya dawam” (Strahan’s Fourth Gospel, 141).
Kata Emeth ditafsirkan oleh orang-orang Yahudi “Cap (meterai) Tuhan.” Dengan
sendirinya, meskipun Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. mungkin telah mempergunakan nama Ahmad,
persamaan bunyi lafal antara kedua kata (Ahmad dan Emeth) itu telah membuat
para penulis di kemudian hari menulis kata Emeth sebagai
alih-alih kata “Ahmad” yang adalah persamaan kosa-kata dalam
bahasa Ibrani.
Jadi, nubuatan yang disebut dalam ayat ini ditujukan kepada Nabi Besar Muhammad saw. – yang salah satu
nama panggilan lain beliau saw. adalah Ahmad, tetapi
sebagai kesimpulan – sesuai dengan nubuatan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
sendiri mengenai kedatangan kedua kali beliau (Matius
24:23-36), dapat pula dikenakan kepada Mirza Ghulam Ahmad a.s., Pendiri Jemaat Ahmadiyah, yang atas perintah
Allah Swt. telah mendakwakan sebagai Al-Masih Mau’ud a.s. (Al-Masih yang dijanjikan) atau sebagai misal
Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58), sebab beliau pun telah dipanggil dengan nama Ahmad
di dalam wahyu-wahyu Ilahi yang diterimanya (Barahin Ahmadiyah),
dan oleh karena dalam diri beliau terwujud kedatangan kedua atau diutusnya
yang kedua kali Nabi Besar Muhammad saw. (QS.62:3-5) telah pula dinyatakan dengan jelas dalam
Injil Barnabas, yang dianggap oleh kaum gerejani tidak sah, tetapi pada
pihak lain mereka menganggapnya otentik (dapat dipercaya), seotentik setiap
dari keempat Injil.
(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam
Farid
Tidak ada komentar:
Posting Komentar