بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
HUBUNGAN NABI YUSUF A.S.
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
Bagian XIII
Tentang
Mimpi Nabi Yusuf a.s.
&
Hubungannya dengan Kisah Monumetal
"Adam - Malaikat - Iblis"
&
Hubungannya dengan Kisah Monumetal
"Adam - Malaikat - Iblis"
Oleh
Ki Langlang
Buana Kusuma
(Bersambung)
لَقَدۡ کَانَ فِیۡ یُوۡسُفَ وَ اِخۡوَتِہٖۤ اٰیٰتٌ لِّلسَّآئِلِیۡنَ ﴿۸﴾ اِذۡ قَالُوۡا لَیُوۡسُفُ وَ اَخُوۡہُ اَحَبُّ اِلٰۤی اَبِیۡنَا مِنَّا وَ نَحۡنُ
عُصۡبَۃٌ ؕ اِنَّ اَبَانَا لَفِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنِۣ
ۚ﴿ۖ۹﴾ اقۡتُلُوۡا یُوۡسُفَ اَوِ
اطۡرَحُوۡہُ اَرۡضًا یَّخۡلُ لَکُمۡ
وَجۡہُ اَبِیۡکُمۡ وَ تَکُوۡنُوۡا
مِنۡۢ بَعۡدِہٖ قَوۡمًا
صٰلِحِیۡنَ ﴿۱۰﴾
Sungguh pada peristiwa Yusuf dan saudara-saudaranya
benar-benar ada Tanda-tanda bagi orang-orang yang mencari kebenaran. Ketika
mereka berkata: “Sesungguhnya Yusuf dan saudaranya lebih dicintai oleh ayah
kita daripada kita, padahal kita satu golongan yang kuat, sesungguhnya ayah kita ada dalam
kekeliruan yang nyata. “Karena itu bunuhlah Yusuf atau buanglah dia ke negeri lain, supaya
perhatian ayahmu kepada kamu saja, dan sesudah itu kamu taubat dan
menjadi orang-orang yang shalih.” (Yusuf
[12], 8-10).
Dalam
Bab sebelumnya telah dikemukakan menghubungan khusus kisah Nabi Yusuf a.s.
dalam Surah Yusuf dengan perjalanan hidup Nabi Besar Muhammad saw. dalam
melaksanakan ajaran Islam (Al-Quran). Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
اِذۡ قَالَ یُوۡسُفُ لِاَبِیۡہِ یٰۤاَبَتِ اِنِّیۡ رَاَیۡتُ اَحَدَعَشَرَ کَوۡکَبًا
وَّ الشَّمۡسَ
وَ الۡقَمَرَ رَاَیۡتُہُمۡ لِیۡ سٰجِدِیۡنَ ﴿۵﴾ قَالَ یٰبُنَیَّ لَا تَقۡصُصۡ رُءۡیَاکَ عَلٰۤی اِخۡوَتِکَ فَیَکِیۡدُوۡا لَکَ کَیۡدًا ؕ اِنَّ الشَّیۡطٰنَ لِلۡاِنۡسَانِ عَدُوٌّ
مُّبِیۡنٌ ﴿۶﴾ وَ کَذٰلِکَ یَجۡتَبِیۡکَ رَبُّکَ وَ یُعَلِّمُکَ مِنۡ تَاۡوِیۡلِ الۡاَحَادِیۡثِ وَ یُتِمُّ نِعۡمَتَہٗ عَلَیۡکَ وَ عَلٰۤی اٰلِ یَعۡقُوۡبَ کَمَاۤ اَتَمَّہَا عَلٰۤی اَبَوَیۡکَ مِنۡ قَبۡلُ اِبۡرٰہِیۡمَ وَ اِسۡحٰقَ ؕ اِنَّ رَبَّکَ عَلِیۡمٌ حَکِیۡمٌ ٪﴿۷﴾
Ingatlah ketika
Yusuf berkata kepada ayahnya:
“Hai ayahku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi sebelas
bintang, matahari dan bulan, aku melihat mereka sujud kepadaku.” Ia, Ya’qub,
berkata: “Hai anakku, janganlah engkau menceriterakan mimpi engkau itu
kepada saudara-saudara engkau, karena mereka akan melakukan tipu-daya buruk
untuk memperdayakan engkau, sesungguhnya syaitan itu musuh yang
nyata bagi manusia. Dan demikianlah Tuhan engkau akan memilih
engkau dan akan mengajar engkau ta'wil mimpi-mimpi dan akan menyempurnakan
nikmat-Nya atas engkau dan atas keturunan Ya’qub, seperti
Dia telah menyempurnakannya atas kedua bapak engkau dahulu, Ibrahim
dan Ishaq, sesungguhnya Tuhan engkau Maha Mengetahui, Maha
Bijaksana.” (Yusuf [12]:5-7).
Pengulangan
Kisah Monumental “Adam – Malaikat – Iblis”
Nabi
Yusuf a.s. adalah putra kesebelas dari 12 belas putra Nabi Ya’qub a.s. (yang
disebut juga Israil). Nabi Yusuf a.s. adalah putra sulung dari antara kedua
putra dari istri beliau yang bernama Rakhel. Arti yang diberikan kepada nama
itu ialah “akan menambahi” yakni “Tuhan akan menambahi bagiku dengan
seorang laki-laki yang lain pula” (Kejadian 30:24).
Mengenai mimpi Nabi Yusuf a.s. tersebut adalah
perbedaan antara Bible dengan Al-Quran, yakni Bible mula-mula
menyebut matahari dan bulan, sesudah itu sebelas bintang sujud
kepada Nabi Yusuf a.s. (Kejadian 37:9), tetapi Al-Quran
membalikkan urutannya. Dan peristiwa yang sebenarnya menurut sejarah menguatkan
urutan yang dipakai oleh Al-Quran, sebab saudara-saudara Nabi Yusuf a.s. itulah yang pertama-tama berjumpa
dengan beliau dan bersembah sujud kepada beliau, sedang ayah bunda beliau
datang kemudian dan bersembah sujud. Ayat ini mengandung arti, bahwa ayah-bunda
dan saudara-saudara Nabi Yusuf a.s. akan tunduk kepada kekuasaan beliau.
Nama
itu diterangkan dalam Bible sebagai “sang perebut” (Kejadian 27:36).
Menurut pendapat kritis yang berlaku sekarang Ya’aakob (Ya’qub) itu
sesungguhnya bentuk kependekan dari Ya‘akobel, yang mengandung beberapa
arti seperti “Tuhan mengikuti” atau “Tuhan memberi pahala.” Nabi Ya’qub a.s. adalah putra Nabi Ishaq a.s. dari Ribkah, dan cucu Nabi Ibrahim a.s.,
dan adalah leluhur kaum Bani Israil dan terkenal sebagai Datuk
ketiga (Encyclopaedia Britannica & Jewish Encyclopaedia).
Bandingkan
nasihat Nabi Yaqub a.s. tersebut -- mengenai kemungkinan kedengkian saudara-saudara
tua Nabi Yusuf a.s. terhadap Nabi Yusuf
a.s.-- dengan perkataan para malaikat
ketika mengetahui Allah Swt. berkehendak akan menjadikan seorang Khalifah
di bumi, yakni Adam, firman-Nya:
وَ اِذۡ قَالَ رَبُّکَ لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اِنِّیۡ جَاعِلٌ فِی الۡاَرۡضِ خَلِیۡفَۃً ؕ قَالُوۡۤا اَتَجۡعَلُ فِیۡہَا مَنۡ یُّفۡسِدُ فِیۡہَا وَ یَسۡفِکُ الدِّمَآءَ ۚ وَ نَحۡنُ نُسَبِّحُ
بِحَمۡدِکَ وَ نُقَدِّسُ لَکَ ؕ قَالَ اِنِّیۡۤ
اَعۡلَمُ
مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ ﴿۳۱﴾
Dan ingatlah ketika Tuhan engkau berfirman kepada
para malaikat: “Sesungguhnya
Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi”, mereka berkata: “Apakah
Engkau akan menjadikan di dalamnya yakni di bumi orang yang akan membuat
kerusakan di dalamnya dan akan
menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan pujian Engkau dan kami
senantiasa mensucikan Engkau?” Dia berfirman: “Sesungguhnya Aku
mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Al-Baqarah
[2]:31).
Kebenaran “Predikisi” Para Malaikat
Sebagaimana
telah dijelaskan dalam tulisan dalam BLOG-BLOG sebelumnya mengenai Kisah Monumental
“Adam - Malaikat – Iblis”, bahwa yang
dimaksudkan oleh para malaikat tidak tertuju kepada Khalifah Allah
atau Adam, melainkan kepada Iblis, yang karena kedengkiannya kepada Adam
a.s. dan para pengikutnya, sehingga
terjadi kerusakan dan penumpahan darah di kalangan para pengikut
Adam a.s. dan juga di kalangan para Rasul Allah sesudahnya yang
dibangkitkan di kalangan Bani Adam (QS.7:35-37). Topik pembahasan
ini secara khusus dimuat dalam BLOG “Bintang
Tsuraya Galuh”.
Dalam
kisah Nabi Yusuf a.s. tersebut kedudukan Nabi Ya’qub a.s.
menggambarkan posisi Allah Swt.
dalam Kisah Monumental “Adam – Malaikat – Iblis”, yang oleh saudara-saudara
tua Nabi Yusuf a.s. dianggap telah berlaku tidak adil terhadap
mereka, sebagaimana halnya anggapan Iblis terhadap Allah Swt. yang telah
menjadikan Adam sebagai “Khalifah Allah” yang harus ditaati sepenuhnya,
padahal ia (Adam) diciptakan dari “tanah liat” sedangkan dirinya (Iblis)
diciptakan dari “api” (QS.7:12-19; QS.15:33-34).
Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai
adanya keteraitan erat antara kisah Nabi Yusuf a.s. dengan Kisah Monumental “Adam – Malaikat – Iblis”:
لَقَدۡ کَانَ فِیۡ یُوۡسُفَ وَ اِخۡوَتِہٖۤ اٰیٰتٌ لِّلسَّآئِلِیۡنَ ﴿۸﴾ اِذۡ قَالُوۡا لَیُوۡسُفُ وَ اَخُوۡہُ اَحَبُّ اِلٰۤی اَبِیۡنَا مِنَّا وَ نَحۡنُ
عُصۡبَۃٌ ؕ اِنَّ اَبَانَا لَفِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنِۣ
ۚ﴿ۖ۹﴾ اقۡتُلُوۡا یُوۡسُفَ اَوِ
اطۡرَحُوۡہُ اَرۡضًا یَّخۡلُ لَکُمۡ
وَجۡہُ اَبِیۡکُمۡ وَ تَکُوۡنُوۡا
مِنۡۢ بَعۡدِہٖ قَوۡمًا
صٰلِحِیۡنَ ﴿۱۰﴾
Sungguh pada peristiwa Yusuf dan saudara-saudaranya
benar-benar ada Tanda-tanda bagi orang-orang yang mencari kebenaran.
Ketika mereka berkata: “Sesungguhnya Yusuf
dan saudaranya lebih dicintai oleh ayah kita daripada kita, padahal kita
satu golongan yang kuat, sesungguhnya
ayah kita ada dalam kesesatan (keliruan) yang nyata. “Karena
itu bunuhlah Yusuf atau
buanglah dia ke negeri lain, supaya perhatian ayahmu kepada kamu saja,
dan sesudah itu kamu ber-taubat dan menjadi orang-orang yang shalih.” (Yusuf [12], 8-10).
Bandingkan dengan
firman Allah Swt. tersebut dengan penolakan
Iblis ketika diperintahkan Allah Swt. untuk “sujud” – yakni
patuh-taat – kepada Adam:
وَ
لَقَدۡ خَلَقۡنٰکُمۡ ثُمَّ صَوَّرۡنٰکُمۡ ثُمَّ قُلۡنَا لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ
اسۡجُدُوۡا لِاٰدَمَ ٭ۖ فَسَجَدُوۡۤا اِلَّاۤ
اِبۡلِیۡسَ ؕ لَمۡ یَکُنۡ مِّنَ
السّٰجِدِیۡنَ ﴿۱۲﴾ قَالَ مَا مَنَعَکَ اَلَّا
تَسۡجُدَ اِذۡ اَمَرۡتُکَ ؕ قَالَ اَنَا خَیۡرٌ
مِّنۡہُ ۚ خَلَقۡتَنِیۡ مِنۡ نَّارٍ
وَّ خَلَقۡتَہٗ مِنۡ
طِیۡنٍ ﴿۱۳﴾ قَالَ فَاہۡبِطۡ مِنۡہَا فَمَا یَکُوۡنُ لَکَ اَنۡ
تَتَکَبَّرَ فِیۡہَا فَاخۡرُجۡ اِنَّکَ
مِنَ الصّٰغِرِیۡنَ ﴿۱۴﴾
Dan sungguh
Kami benar-benar telah
menciptakan kamu, kemudian Kami memberi kamu bentuk, lalu Kami berfirman kepada para malaikat: ”Sujudlah yakni patuhlah
sepenuhnya kamu kepada Adam",
maka mereka sujud kecuali iblis, ia tidak
termasuk orang-orang yang sujud. Dia berfirman: “Apa
yang telah menghalangi engkau sehingga engkau tidak bersujud yakni
patuh sepenuhnya ketika Aku memberi perintah kepada engkau?” Ia
(Iblis) berkata: “Aku lebih baik daripada dia, Engkau menciptakan aku dari
api dan Engkau menciptakan dia dari tanah liat.” Dia
berfirman: ”Jika demikian,
pergilah engkau darinya, sebab
sekali-kali tidak patut bagi engkau berlaku takabur di dalamnya, karena
itu keluarlah, sesungguhnya engkau termasuk di antara orang-orang
yang hina.” (Al-‘Araaf [7]:12-14). Lihat pula QS.15:33-34;
QS.38:76-77.
Ucapan
saudara-saudara tua Nabi Yusuf a.s.: “Karena itu bunuhlah
Yusuf atau
buanglah dia ke negeri lain, supaya perhatian ayahmu kepada kamu saja,
dan sesudah itu kamu taubat dan menjadi
orang-orang yang shalih.” (Yusuf
[12]:10)” rencana buruk mereka itu selaras dengan tanggapan para malaikat terhadap
rencana Allah Swt. akan menciptakan seorang “khalifah” di bumi: “Apakah
Engkau akan menjadikan di dalamnya yakni di bumi orang yang akan membuat
kerusakan di dalamnya dan akan
menumpahkan darah (QS.2:31).
Atas
dasar itu pulalah Nabi Ya’qub a.s. telah melarang Nabi Yusuf a.s.
mencaritakan mimpinya kepada saudara-saudara tuanya:
اِذۡ قَالَ یُوۡسُفُ لِاَبِیۡہِ یٰۤاَبَتِ اِنِّیۡ رَاَیۡتُ اَحَدَعَشَرَ کَوۡکَبًا
وَّ الشَّمۡسَ
وَ الۡقَمَرَ رَاَیۡتُہُمۡ لِیۡ سٰجِدِیۡنَ ﴿۵﴾ قَالَ یٰبُنَیَّ لَا تَقۡصُصۡ رُءۡیَاکَ عَلٰۤی اِخۡوَتِکَ فَیَکِیۡدُوۡا لَکَ کَیۡدًا ؕ اِنَّ الشَّیۡطٰنَ لِلۡاِنۡسَانِ عَدُوٌّ
مُّبِیۡنٌ ﴿۶﴾ وَ کَذٰلِکَ یَجۡتَبِیۡکَ رَبُّکَ وَ یُعَلِّمُکَ مِنۡ تَاۡوِیۡلِ الۡاَحَادِیۡثِ وَ یُتِمُّ نِعۡمَتَہٗ عَلَیۡکَ وَ عَلٰۤی اٰلِ یَعۡقُوۡبَ کَمَاۤ اَتَمَّہَا عَلٰۤی اَبَوَیۡکَ مِنۡ قَبۡلُ اِبۡرٰہِیۡمَ وَ اِسۡحٰقَ ؕ اِنَّ رَبَّکَ عَلِیۡمٌ حَکِیۡمٌ ٪﴿۷﴾
Ingatlah ketika
Yusuf berkata kepada ayahnya:
“Hai ayahku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi sebelas
bintang, matahari dan bulan, aku melihat mereka sujud kepadaku.” Ia, Ya’qub,
berkata: “Hai anakku, janganlah engkau menceriterakan mimpi engkau itu kepada
saudara-saudara engkau, karena mereka akan melakukan tipu-daya buruk untuk
memperdayakan engkau, sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagi
manusia. Dan demikianlah Tuhan engkau akan memilih engkau
dan akan mengajar engkau ta'wil mimpi-mimpi dan akan menyempurnakan
nikmat-Nya atas engkau dan atas keturunan Ya’qub, seperti
Dia telah menyempurnakannya atas kedua bapak engkau dahulu, Ibrahim
dan Ishaq, sesungguhnya Tuhan engkau Maha Mengetahui, Maha
Bijaksana.” (Yusuf [12]:5-7).
“Kedengkian Iblis” di Zaman
Nabi Besar Muhammad Saw.
Saudara-saudara
Nabi Yusuf a.s. menjadi marah, karena mengapa bukan mereka, yang menurut
persangkaan mereka lebih unggul daripada beliau dalam segala segi, malah Nabi
Yusuf a.s. itulah yang telah menawan kasih ayah mereka dan telah menjadi pusat
perhatiannya.
Begitu
pulalah keadaan para pemimpin Quraisy yang mengatakan, bahwa Al-Quran
seharusnya diturunkan kepada salah seorang dari antara orang-orang terkemuka
dari Makkah atau Thaif (QS.43:32). Mereka memandang Nabi Besar Muhammad saw. terlalu rendah untuk memperoleh
kedudukan mulia sebagai nabi, firman-Nya:
وَ
قَالُوۡا لَوۡ لَا نُزِّلَ ہٰذَا الۡقُرۡاٰنُ عَلٰی رَجُلٍ مِّنَ
الۡقَرۡیَتَیۡنِ عَظِیۡمٍ ﴿۳۲﴾ اَہُمۡ یَقۡسِمُوۡنَ
رَحۡمَتَ رَبِّکَ ؕ نَحۡنُ قَسَمۡنَا بَیۡنَہُمۡ
مَّعِیۡشَتَہُمۡ فِی الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا وَ رَفَعۡنَا بَعۡضَہُمۡ فَوۡقَ
بَعۡضٍ دَرَجٰتٍ لِّیَتَّخِذَ بَعۡضُہُمۡ بَعۡضًا سُخۡرِیًّا ؕ وَ رَحۡمَتُ
رَبِّکَ خَیۡرٌ مِّمَّا یَجۡمَعُوۡنَ ﴿۳۳﴾
Dan mereka berkata: "Mengapakah Al-Quran ini tidak
diturunkan kepada seseorang besar dari kedua kota besar itu?"
Apakah mereka yang membagi-bagikan rahmat Tuhan
engkau? Kami-lah Yang membagi-bagikan di antara mereka penghidupan
mereka dalam kehidupan dunia dan Kami mengangkat sebagian mereka di atas
sebagian lain dalam derajat, supaya sebagian dari mereka dapat melayani
yang lainnya. Dan rahmat Tuhan engkau adalah lebih baik dari apa yang
mereka kumpulkan. (Al-Zukhruf [43]:32-33)
Kedua kota besar itu
pada umumnya difahami kota-kota Mekkah dan Tha'if. Pada zaman Nabi Besar
Muhammad saw. kota itu
merupakan dua buah pusat kehidupan sosial dan politik bangsa
Arab.
Ayat 33 menyatakan penyesalan keras terhadap
orang-orang kafir dengan mengatakan kepada mereka bahwa sejak kapankah mereka
telah menyombongkan diri mengambil peranan menjadi pembagi rahmat dan kasih-sayang
Allah Swt., atau mempunyai hak istimewa memutuskan siapa yang berhak dan siapa
yang tidak berhak menerima rahmat dan kasih-sayang Allah Swt.?
Jadi,
persis seperti saudara-saudara Nabi Yusuf a.s. yang bersekongkol untuk membunuh
beliau, orang-orang Quraisy pun berkomplot untuk membunuh Nabi Besar Muhammad
saw., firman-Nya:
وَ اِذۡ یَمۡکُرُ بِکَ الَّذِیۡنَ
کَفَرُوۡا لِیُثۡبِتُوۡکَ اَوۡ یَقۡتُلُوۡکَ اَوۡ یُخۡرِجُوۡکَ ؕ وَ یَمۡکُرُوۡنَ
وَ یَمۡکُرُ اللّٰہُ ؕ وَ اللّٰہُ خَیۡرُ الۡمٰکِرِیۡنَ ﴿۳۱﴾
Dan ingatlah ketika orang-orang kafir merancang
makar terhadap engkau, supaya mereka
dapat menangkap engkau atau membunuh engkau atau mengusir
engkau. Mereka merancang makar buruk,
dan Allah pun merancang makar tandingan,
dan Allah sebaik-baik Perancang makar. (Al-Anfaal
[8]:31).
Rujukan:
The
Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid
Tidak ada komentar:
Posting Komentar