Selasa, 03 Januari 2012

Mimpi Nabi Yusuf a.s. & Hubungannya dengan Kisah Monumental "Adam - Malaikat - Iblis"


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ




HUBUNGAN  NABI YUSUF A.S. 
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
  
Bagian   XIII

Tentang

     Mimpi Nabi Yusuf a.s.  
&
Hubungannya dengan Kisah Monumetal 
"Adam - Malaikat - Iblis"
  
 Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma

 لَقَدۡ کَانَ فِیۡ یُوۡسُفَ وَ اِخۡوَتِہٖۤ  اٰیٰتٌ لِّلسَّآئِلِیۡنَ ﴿۸   اِذۡ قَالُوۡا لَیُوۡسُفُ وَ اَخُوۡہُ  اَحَبُّ اِلٰۤی اَبِیۡنَا مِنَّا وَ نَحۡنُ عُصۡبَۃٌ ؕ اِنَّ اَبَانَا لَفِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنِۣ ۚ﴿ۖ۹  اقۡتُلُوۡا یُوۡسُفَ اَوِ اطۡرَحُوۡہُ  اَرۡضًا یَّخۡلُ لَکُمۡ وَجۡہُ  اَبِیۡکُمۡ وَ تَکُوۡنُوۡا مِنۡۢ  بَعۡدِہٖ  قَوۡمًا  صٰلِحِیۡنَ ﴿۱۰
Sungguh pada peristiwa Yusuf dan saudara-saudaranya benar-benar ada Tanda-tanda bagi orang-orang yang mencari kebenaran.   Ketika mereka berkata: “Sesungguhnya Yusuf dan saudaranya lebih dicintai oleh ayah kita daripada kita, padahal kita satu golongan yang kuat,  sesungguhnya ayah kita ada dalam kekeliruan yang nyata. “Karena itu bunuhlah Yusuf  atau buanglah dia ke negeri lain, supaya perhatian ayahmu kepada kamu saja, dan sesudah itu kamu taubat dan menjadi orang-orang yang shalih.”  (Yusuf [12], 8-10).

 Dalam Bab sebelumnya telah dikemukakan menghubungan khusus kisah Nabi Yusuf a.s. dalam Surah Yusuf dengan perjalanan hidup Nabi Besar Muhammad saw. dalam melaksanakan ajaran Islam (Al-Quran). Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
   اِذۡ  قَالَ یُوۡسُفُ لِاَبِیۡہِ یٰۤاَبَتِ اِنِّیۡ  رَاَیۡتُ اَحَدَعَشَرَ کَوۡکَبًا وَّ الشَّمۡسَ وَ الۡقَمَرَ رَاَیۡتُہُمۡ  لِیۡ  سٰجِدِیۡنَ ﴿۵   قَالَ یٰبُنَیَّ  لَا تَقۡصُصۡ رُءۡیَاکَ عَلٰۤی اِخۡوَتِکَ فَیَکِیۡدُوۡا لَکَ کَیۡدًا ؕ اِنَّ الشَّیۡطٰنَ  لِلۡاِنۡسَانِ  عَدُوٌّ  مُّبِیۡنٌ ﴿۶   وَ کَذٰلِکَ یَجۡتَبِیۡکَ رَبُّکَ وَ یُعَلِّمُکَ مِنۡ تَاۡوِیۡلِ الۡاَحَادِیۡثِ وَ یُتِمُّ نِعۡمَتَہٗ عَلَیۡکَ وَ عَلٰۤی اٰلِ یَعۡقُوۡبَ کَمَاۤ  اَتَمَّہَا عَلٰۤی  اَبَوَیۡکَ  مِنۡ قَبۡلُ  اِبۡرٰہِیۡمَ وَ  اِسۡحٰقَ ؕ اِنَّ رَبَّکَ عَلِیۡمٌ  حَکِیۡمٌ ٪﴿۷     
Ingatlah  ketika Yusuf  berkata kepada ayahnya: “Hai ayahku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi sebelas bintang, matahari dan bulan, aku melihat mereka  sujud kepadaku.” Ia, Ya’qub, berkata: “Hai anakku, janganlah engkau menceriterakan mimpi engkau itu kepada saudara-saudara engkau, karena mereka akan melakukan tipu-daya buruk untuk memperdayakan engkau, sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagi manusia.  Dan demikianlah Tuhan engkau akan memilih engkau dan akan mengajar engkau ta'wil mimpi-mimpi dan akan menyempurnakan nikmat-Nya atas engkau dan atas keturunan Ya’qub, seperti Dia telah menyempurnakannya atas kedua bapak engkau dahulu, Ibrahim dan Ishaq, sesungguhnya Tuhan engkau Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.” (Yusuf [12]:5-7).

Pengulangan Kisah Monumental “Adam – Malaikat – Iblis

        Nabi Yusuf a.s. adalah putra kesebelas dari 12 belas putra Nabi Ya’qub a.s. (yang disebut juga Israil). Nabi Yusuf a.s.  adalah putra sulung dari antara kedua putra dari istri beliau yang bernama Rakhel. Arti yang diberikan kepada nama itu ialah “akan menambahi” yakni “Tuhan akan menambahi bagiku dengan seorang laki-laki yang lain pula” (Kejadian 30:24).
      Mengenai mimpi Nabi Yusuf a.s. tersebut adalah perbedaan antara  Bible  dengan Al-Quran, yakni Bible mula-mula menyebut matahari dan bulan,    sesudah itu sebelas bintang     sujud kepada Nabi Yusuf a.s. (Kejadian 37:9), tetapi Al-Quran membalikkan urutannya. Dan peristiwa yang sebenarnya menurut sejarah menguatkan urutan yang dipakai oleh Al-Quran, sebab saudara-saudara Nabi Yusuf a.s.   itulah yang pertama-tama berjumpa dengan beliau dan bersembah sujud kepada beliau, sedang ayah bunda beliau datang kemudian dan bersembah sujud. Ayat ini mengandung arti, bahwa ayah-bunda dan saudara-saudara Nabi Yusuf a.s. akan tunduk kepada kekuasaan beliau.
      Nama itu diterangkan dalam Bible sebagai “sang perebut” (Kejadian 27:36). Menurut pendapat kritis yang berlaku sekarang Ya’aakob (Ya’qub) itu sesungguhnya bentuk kependekan dari Ya‘akobel, yang mengandung beberapa arti seperti “Tuhan mengikuti” atau “Tuhan memberi pahala.” Nabi Ya’qub a.s.   adalah putra Nabi Ishaq a.s.  dari Ribkah, dan cucu Nabi Ibrahim a.s., dan adalah leluhur kaum Bani Israil dan terkenal sebagai Datuk ketiga (Encyclopaedia Britannica & Jewish  Encyclopaedia).
     Bandingkan nasihat Nabi Yaqub a.s. tersebut -- mengenai kemungkinan kedengkian saudara-saudara tua Nabi Yusuf a.s. terhadap   Nabi Yusuf a.s.-- dengan  perkataan para malaikat ketika mengetahui Allah Swt. berkehendak akan menjadikan seorang Khalifah di bumi, yakni Adam, firman-Nya:
وَ  اِذۡ قَالَ رَبُّکَ لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اِنِّیۡ جَاعِلٌ فِی الۡاَرۡضِ خَلِیۡفَۃً ؕ قَالُوۡۤا اَتَجۡعَلُ فِیۡہَا مَنۡ یُّفۡسِدُ فِیۡہَا وَ یَسۡفِکُ الدِّمَآءَ ۚ وَ نَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِکَ وَ نُقَدِّسُ لَکَ ؕ قَالَ اِنِّیۡۤ اَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ ﴿۳۱

Dan ingatlah ketika Tuhan engkau berfirman kepada para  malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi”, mereka berkata: “Apakah Engkau akan menjadikan di dalamnya yakni di bumi orang yang akan membuat kerusakan  di dalamnya dan akan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa  bertasbih dengan pujian Engkau dan kami senantiasa mensucikan Engkau?” Dia berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Al-Baqarah [2]:31).
Kebenaran  “Predikisi” Para  Malaikat

     Sebagaimana telah dijelaskan dalam tulisan dalam BLOG-BLOG sebelumnya mengenai Kisah Monumental  “Adam -  Malaikat – Iblis”, bahwa yang dimaksudkan oleh para malaikat tidak tertuju kepada Khalifah Allah atau Adam, melainkan kepada Iblis,  yang karena kedengkiannya kepada Adam a.s. dan para pengikutnya,  sehingga terjadi kerusakan dan penumpahan darah di kalangan para pengikut Adam a.s. dan juga di kalangan para Rasul Allah sesudahnya yang dibangkitkan di kalangan Bani Adam (QS.7:35-37). Topik pembahasan ini  secara khusus dimuat dalam BLOG “Bintang Tsuraya Galuh”.
     Dalam kisah Nabi Yusuf a.s. tersebut kedudukan Nabi Ya’qub a.s. menggambarkan  posisi Allah Swt. dalam Kisah Monumental “Adam – Malaikat – Iblis”, yang oleh saudara-saudara tua Nabi Yusuf a.s. dianggap telah berlaku tidak adil terhadap mereka, sebagaimana halnya anggapan Iblis terhadap Allah Swt. yang telah menjadikan Adam sebagai “Khalifah Allah” yang harus ditaati sepenuhnya, padahal ia (Adam) diciptakan dari “tanah liat” sedangkan dirinya (Iblis) diciptakan dari “api” (QS.7:12-19; QS.15:33-34).
     Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai adanya keteraitan erat antara kisah Nabi Yusuf a.s. dengan  Kisah Monumental “Adam – Malaikat – Iblis”:
لَقَدۡ کَانَ فِیۡ یُوۡسُفَ وَ اِخۡوَتِہٖۤ  اٰیٰتٌ لِّلسَّآئِلِیۡنَ ﴿۸   اِذۡ قَالُوۡا لَیُوۡسُفُ وَ اَخُوۡہُ  اَحَبُّ اِلٰۤی اَبِیۡنَا مِنَّا وَ نَحۡنُ عُصۡبَۃٌ ؕ اِنَّ اَبَانَا لَفِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنِۣ ۚ﴿ۖ۹  اقۡتُلُوۡا یُوۡسُفَ اَوِ اطۡرَحُوۡہُ  اَرۡضًا یَّخۡلُ لَکُمۡ وَجۡہُ  اَبِیۡکُمۡ وَ تَکُوۡنُوۡا مِنۡۢ  بَعۡدِہٖ  قَوۡمًا  صٰلِحِیۡنَ ﴿۱۰
Sungguh pada peristiwa Yusuf dan saudara-saudaranya benar-benar ada Tanda-tanda bagi orang-orang yang mencari kebenaran.   Ketika mereka berkata: “Sesungguhnya Yusuf dan saudaranya lebih dicintai oleh ayah kita daripada kita, padahal kita satu golongan yang kuat,  sesungguhnya ayah kita ada dalam kesesatan (keliruan) yang nyata.   “Karena itu bunuhlah Yusuf  atau buanglah dia ke negeri lain, supaya perhatian ayahmu kepada kamu saja, dan sesudah itu kamu ber-taubat dan menjadi orang-orang yang shalih.”  (Yusuf [12], 8-10).
   Bandingkan dengan firman Allah Swt. tersebut  dengan  penolakan  Iblis ketika diperintahkan Allah Swt. untuk “sujud” – yakni patuh-taat –  kepada Adam:
وَ لَقَدۡ خَلَقۡنٰکُمۡ ثُمَّ صَوَّرۡنٰکُمۡ ثُمَّ قُلۡنَا لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اسۡجُدُوۡا  لِاٰدَمَ ٭ۖ فَسَجَدُوۡۤا  اِلَّاۤ  اِبۡلِیۡسَ ؕ لَمۡ  یَکُنۡ مِّنَ السّٰجِدِیۡنَ ﴿۱۲   قَالَ مَا مَنَعَکَ  اَلَّا  تَسۡجُدَ   اِذۡ   اَمَرۡتُکَ ؕ قَالَ  اَنَا خَیۡرٌ  مِّنۡہُ ۚ خَلَقۡتَنِیۡ مِنۡ نَّارٍ  وَّ  خَلَقۡتَہٗ  مِنۡ  طِیۡنٍ ﴿۱۳   قَالَ فَاہۡبِطۡ مِنۡہَا فَمَا یَکُوۡنُ لَکَ اَنۡ تَتَکَبَّرَ فِیۡہَا فَاخۡرُجۡ  اِنَّکَ مِنَ الصّٰغِرِیۡنَ ﴿۱۴

Dan  sungguh  Kami  benar-benar telah menciptakan kamu, kemudian Kami memberi kamu bentuk,  lalu Kami berfirman kepada para malaikat:  Sujudlah yakni patuhlah sepenuhnya  kamu kepada Adam",  maka mereka  sujud kecuali iblis, ia tidak termasuk orang-orang yang  sujud.   Dia  berfirman:  Apa  yang telah menghalangi engkau sehingga engkau tidak bersujud yakni patuh sepenuhnya ketika Aku memberi perintah kepada engkau?” Ia (Iblis) berkata: “Aku lebih baik daripada dia, Engkau menciptakan aku dari api dan Engkau menciptakan dia dari tanah liat.”   Dia berfirman:  ”Jika demikian, pergilah engkau darinya,   sebab sekali-kali tidak patut bagi engkau berlaku takabur di dalamnya, karena itu keluarlah, sesungguhnya engkau termasuk di antara orang-orang yang hina.” (Al-‘Araaf [7]:12-14). Lihat pula   QS.15:33-34; QS.38:76-77. 
     Ucapan saudara-saudara tua Nabi Yusuf a.s.:  “Karena itu bunuhlah Yusuf  atau buanglah dia ke negeri lain, supaya perhatian ayahmu kepada kamu saja, dan sesudah itu kamu  taubat dan menjadi orang-orang yang shalih.”  (Yusuf [12]:10)” rencana buruk mereka  itu selaras dengan  tanggapan para malaikat  terhadap  rencana Allah Swt. akan menciptakan seorang “khalifah” di bumi: Apakah Engkau akan menjadikan di dalamnya yakni di bumi orang yang akan membuat kerusakan  di dalamnya dan akan menumpahkan darah (QS.2:31).
      Atas dasar itu pulalah Nabi Ya’qub a.s. telah melarang Nabi Yusuf a.s. mencaritakan mimpinya kepada saudara-saudara tuanya:
   اِذۡ  قَالَ یُوۡسُفُ لِاَبِیۡہِ یٰۤاَبَتِ اِنِّیۡ  رَاَیۡتُ اَحَدَعَشَرَ کَوۡکَبًا وَّ الشَّمۡسَ وَ الۡقَمَرَ رَاَیۡتُہُمۡ  لِیۡ  سٰجِدِیۡنَ ﴿۵   قَالَ یٰبُنَیَّ  لَا تَقۡصُصۡ رُءۡیَاکَ عَلٰۤی اِخۡوَتِکَ فَیَکِیۡدُوۡا لَکَ کَیۡدًا ؕ اِنَّ الشَّیۡطٰنَ  لِلۡاِنۡسَانِ  عَدُوٌّ  مُّبِیۡنٌ ﴿۶   وَ کَذٰلِکَ یَجۡتَبِیۡکَ رَبُّکَ وَ یُعَلِّمُکَ مِنۡ تَاۡوِیۡلِ الۡاَحَادِیۡثِ وَ یُتِمُّ نِعۡمَتَہٗ عَلَیۡکَ وَ عَلٰۤی اٰلِ یَعۡقُوۡبَ کَمَاۤ  اَتَمَّہَا عَلٰۤی  اَبَوَیۡکَ  مِنۡ قَبۡلُ  اِبۡرٰہِیۡمَ وَ  اِسۡحٰقَ ؕ اِنَّ رَبَّکَ عَلِیۡمٌ  حَکِیۡمٌ ٪﴿۷     
Ingatlah  ketika Yusuf  berkata kepada ayahnya: “Hai ayahku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi sebelas bintang, matahari dan bulan, aku melihat mereka  sujud kepadaku.” Ia, Ya’qub, berkata: “Hai anakku, janganlah engkau menceriterakan mimpi engkau itu kepada saudara-saudara engkau, karena mereka akan melakukan tipu-daya buruk untuk memperdayakan engkau, sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagi manusia.  Dan demikianlah Tuhan engkau akan memilih engkau dan akan mengajar engkau ta'wil mimpi-mimpi dan akan menyempurnakan nikmat-Nya atas engkau dan atas keturunan Ya’qub, seperti Dia telah menyempurnakannya atas kedua bapak engkau dahulu, Ibrahim dan Ishaq, sesungguhnya Tuhan engkau Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.” (Yusuf [12]:5-7).

“Kedengkian Iblis”  di Zaman Nabi Besar Muhammad Saw.

      Saudara-saudara Nabi Yusuf a.s. menjadi marah, karena mengapa bukan mereka, yang menurut persangkaan mereka lebih unggul daripada beliau dalam segala segi, malah Nabi Yusuf a.s. itulah yang telah menawan kasih ayah mereka dan telah menjadi pusat perhatiannya.
Begitu pulalah keadaan para pemimpin Quraisy yang mengatakan, bahwa Al-Quran seharusnya diturunkan kepada salah seorang dari antara orang-orang terkemuka dari Makkah atau Thaif (QS.43:32). Mereka memandang Nabi Besar Muhammad saw.   terlalu rendah untuk memperoleh kedudukan mulia sebagai nabi, firman-Nya:
وَ قَالُوۡا لَوۡ لَا نُزِّلَ ہٰذَا الۡقُرۡاٰنُ عَلٰی رَجُلٍ مِّنَ الۡقَرۡیَتَیۡنِ  عَظِیۡمٍ ﴿۳۲  اَہُمۡ یَقۡسِمُوۡنَ رَحۡمَتَ رَبِّکَ ؕ نَحۡنُ قَسَمۡنَا بَیۡنَہُمۡ  مَّعِیۡشَتَہُمۡ فِی الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا وَ رَفَعۡنَا بَعۡضَہُمۡ فَوۡقَ بَعۡضٍ دَرَجٰتٍ لِّیَتَّخِذَ بَعۡضُہُمۡ بَعۡضًا سُخۡرِیًّا ؕ وَ رَحۡمَتُ رَبِّکَ خَیۡرٌ  مِّمَّا یَجۡمَعُوۡنَ ﴿۳۳
Dan mereka berkata: "Mengapakah Al-Quran ini tidak diturunkan kepada seseorang besar dari kedua kota besar itu?"     Apakah mereka yang  membagi-bagikan rahmat Tuhan engkau? Kami-lah Yang membagi-bagikan di antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia dan Kami mengangkat sebagian mereka di atas sebagian lain dalam derajat, supaya sebagian dari mereka dapat melayani yang lainnya. Dan rahmat Tuhan engkau adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. (Al-Zukhruf [43]:32-33)
   Kedua kota besar itu pada umumnya difahami kota-kota Mekkah dan Tha'if. Pada zaman Nabi Besar Muhammad saw.  kota itu merupakan dua buah pusat kehidupan sosial dan politik bangsa Arab.
  Ayat 33  menyatakan penyesalan keras terhadap orang-orang kafir dengan mengatakan kepada mereka bahwa sejak kapankah mereka telah menyombongkan diri mengambil peranan menjadi pembagi rahmat dan kasih-sayang Allah Swt., atau mempunyai hak istimewa memutuskan siapa yang berhak dan siapa yang tidak berhak menerima rahmat dan kasih-sayang Allah Swt.?
      Jadi, persis seperti saudara-saudara Nabi Yusuf a.s.   yang bersekongkol untuk membunuh beliau, orang-orang Quraisy pun berkomplot untuk membunuh Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:  
 وَ اِذۡ یَمۡکُرُ بِکَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا لِیُثۡبِتُوۡکَ اَوۡ یَقۡتُلُوۡکَ اَوۡ یُخۡرِجُوۡکَ ؕ وَ یَمۡکُرُوۡنَ وَ یَمۡکُرُ  اللّٰہُ  ؕ وَ اللّٰہُ خَیۡرُ الۡمٰکِرِیۡنَ ﴿۳۱
Dan ingatlah ketika orang-orang kafir merancang makar  terhadap engkau, supaya mereka dapat menangkap engkau atau membunuh engkau atau mengusir engkau.   Mereka merancang makar buruk, dan Allah pun merancang  makar tandingan,  dan Allah sebaik-baik  Perancang makar. (Al-Anfaal [8]:31).

(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid      


Tidak ada komentar:

Posting Komentar