بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
HUBUNGAN NABI YUSUF A.S.
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
Bagian XXIV
Tentang
Nabi Yusuf a.s. Dalam Penjara
Oleh
Ki Langlang
Buana Kusuma
وَ
دَخَلَ مَعَہُ السِّجۡنَ فَتَیٰنِ ؕ قَالَ اَحَدُہُمَاۤ اِنِّیۡۤ
اَرٰىنِیۡۤ اَعۡصِرُ خَمۡرًا ۚ وَ
قَالَ الۡاٰخَرُ اِنِّیۡۤ اَرٰىنِیۡۤ اَحۡمِلُ فَوۡقَ رَاۡسِیۡ خُبۡزًا تَاۡکُلُ الطَّیۡرُ مِنۡہُ ؕ
نَبِّئۡنَا بِتَاۡوِیۡلِہٖ ۚ اِنَّا نَرٰىکَ مِنَ الۡمُحۡسِنِیۡنَ ﴿۳۶﴾
Dan bersama dia (Yusuf) masuk ke dalam penjara dua orang pemuda. Seorang di antara keduanya berkata:
“Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi aku sedang memeras air anggur.” Dan yang lain
berkata: “Sesungguhnya aku melihat diriku dalam mimpi membawa di atas
kepalaku roti yang sebagiannya dimakan burung-burung. Beritahukanlah kepada
kami ta’birnya, sesungguhnya kami memandang engkau termasuk orang-orang yang
berbuat ihsan.” (Yusuf [12]:37).
Dalam Bab-bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai generasi penerus di lingkungan Bani Israil yang kemudian
menjadi para pecinta kehidupan duniawi, hal tersebut bukan saja bertentangan dengan keadaan
leluhur mereka, yakni Nabi Yusuf a.s. di Mesir – yang memilih penjara
daripada kesenangan duniawi yakni beliau tidak melayani bujuk rayu
istri Potifar (QS.12:24-30) – juga bertentangan dengan ajaran utama Nabi Isa
Ibnu Maryam a.s. (Yesus Kristus), baik berkenaan dengan Tauhid Ilahi
maupun dalam masalah kehidupan duniawi, firman-Nya:
فَخَلَفَ مِنۡۢ بَعۡدِہِمۡ خَلۡفٌ
وَّرِثُوا الۡکِتٰبَ یَاۡخُذُوۡنَ عَرَضَ ہٰذَا الۡاَدۡنٰی وَ یَقُوۡلُوۡنَ
سَیُغۡفَرُ لَنَا ۚ وَ اِنۡ یَّاۡتِہِمۡ عَرَضٌ مِّثۡلُہٗ یَاۡخُذُوۡہُ ؕ اَلَمۡ
یُؤۡخَذۡ عَلَیۡہِمۡ مِّیۡثَاقُ الۡکِتٰبِ اَنۡ لَّا یَقُوۡلُوۡا عَلَی
اللّٰہِ اِلَّا الۡحَقَّ وَ دَرَسُوۡا مَا
فِیۡہِ ؕ وَ الدَّارُ الۡاٰخِرَۃُ
خَیۡرٌ لِّلَّذِیۡنَ یَتَّقُوۡنَ ؕ
اَفَلَا تَعۡقِلُوۡنَ ﴿۱۷۰﴾
Maka datang
menggantikan sesudah mereka suatu generasi pengganti
yang mewarisi Kitab Taurat itu,
mereka mengambil harta dunia yang rendah ini dan mereka mengatakan: “Pasti
kami akan diampuni.” Dan jika datang kepada mereka harta semacam itu
lagi mereka akan mengambilnya. Bukankah telah diambil perjanjian dari
mereka dalam Kitab bahwa mereka tidak akan mengatakan sesuatu
terhadap Allah kecuali yang haq, dan
mereka telah mempelajari apa yang tercantum di dalamnya?
Padahal kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa,
apakah kamu tidak mau mengerti? (Al-A’raaf [7]:169-170).
Khutbah Nabi Isa Ibnu Maryam
a.s. di Bukit
Dalam
khutbahnya yang terkenal di bukit Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. atau Yesus Kristus memberi nasihat tentang larangan “mengumpulkan harta”:
Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan
karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Karena di mana
hartamu berada, di situ juga hatimu berada (Matius
6:19-21).
Demikian juga beliau
pun telah memberi petunjuk kepada 12
orang murid beliau yang utama sebelum pergi berdakwah:
Janganlah kamu membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat
pinggangmu. Janganlah kamu membawa bekal dalam perjalanan, janganlah kamu
membawa baju dua helai, kasut atau tongkat,
sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya (Matius
10:9-10).
Dengan demikian jelaslah
bahwa sikap “generasi penerus” Bani
Israil sebagaimana yang dikemukakan
dalam firman Allah Swt. sebelumnya (QS.7:169-170) benar-benar sangat bertolak-belakang dengan
ajaran asli Nabi Isa Ibu Maryam a.s.,
yang telah diamalkan oleh pengikit-pengikut sejati beliau di masa-masa
awal, yang mengenai mereka itu di dalam Al-Quran digambarkan sebagai “ashhabul kahf”
(para penghuni gua – QS.18:10-18).
Mengenai kehidupan
murid-murid sejati Nabi isa Ibnu Maryam a.s. di masa awal yang
penuh dengan kesulitan dan kezaliman
-- yang digambarkan sebagai ashabul kahf (para penghuni gua) -- tersebut
banyak yang salah menafsirkannya, seakan-akan mereka itu benar-benar tidur
nyenyak selama 300 tahun lamanya di dalam gua, padahal kenyataannya tidak seperti itu.
Firman Allah Swt. dalam
Surah Al-Kahf ayat 10-23 tersebut menggambarkan perbedaan dua keadaan yang
sangat mencolok antara para pengikut Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di masa awal
selama 300 tahun – yakni sampai dengan
Kaisar kerajaaan Romawi, Konstantin,
memeluk agama Kristen –
dengan para pemeluk agama Kristen yang sudah
berubah menjadi agama
yang mempertuhankan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., sebagaimana yang sengaja disalah-tafsirkan
oleh Paulus, sebagaimana diisyaratkan
dalam firman Allah Swt. sebelum ini:
فَخَلَفَ مِنۡۢ بَعۡدِہِمۡ خَلۡفٌ
وَّرِثُوا الۡکِتٰبَ یَاۡخُذُوۡنَ عَرَضَ ہٰذَا الۡاَدۡنٰی وَ یَقُوۡلُوۡنَ
سَیُغۡفَرُ لَنَا ۚ وَ اِنۡ یَّاۡتِہِمۡ عَرَضٌ مِّثۡلُہٗ یَاۡخُذُوۡہُ ؕ اَلَمۡ
یُؤۡخَذۡ عَلَیۡہِمۡ مِّیۡثَاقُ الۡکِتٰبِ اَنۡ لَّا یَقُوۡلُوۡا عَلَی
اللّٰہِ اِلَّا الۡحَقَّ وَ دَرَسُوۡا مَا
فِیۡہِ ؕ وَ الدَّارُ الۡاٰخِرَۃُ
خَیۡرٌ لِّلَّذِیۡنَ یَتَّقُوۡنَ ؕ
اَفَلَا تَعۡقِلُوۡنَ ﴿۱۷۰﴾
Maka datang
menggantikan sesudah mereka suatu generasi pengganti
yang mewarisi Kitab Taurat itu,
mereka mengambil harta dunia yang rendah ini dan mereka mengatakan: “Pasti
kami akan diampuni.” Dan jika datang kepada mereka harta semacam itu
lagi mereka akan mengambilnya. Bukankah telah diambil perjanjian dari
mereka dalam Kitab bahwa mereka tidak akan mengatakan sesuatu
terhadap Allah kecuali yang haq, dan
mereka telah mempelajari apa yang tercantum di dalamnya?
Padahal kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa,
apakah kamu tidak mau mengerti? (Al-A’raaf [7]:169-170).
Nabi Yusuf a.s. Dalam Penjara
Kembali
kepada topik pembahasan utama, yakni mengenai pilihan Nabi Yusuf a.s. untuk tinggal dalam penjara
daripada berada di rumah majikan beliau yang penuh dengan berbagai sarana kesenangan
duniawi namun sangat membahayakan akhlak dan ruhani beliau
serta Tauhid Ilahi yang merupakan warisan dari leluhur
beliau, Nabi Ibrahim a.s. (QS.2:131-134). Selanjutnya Allah Swt.
berfirman:
قَالَ
رَبِّ السِّجۡنُ اَحَبُّ اِلَیَّ مِمَّا یَدۡعُوۡنَنِیۡۤ اِلَیۡہِ ۚ وَ اِلَّا تَصۡرِفۡ عَنِّیۡ
کَیۡدَہُنَّ اَصۡبُ اِلَیۡہِنَّ وَ اَکُنۡ
مِّنَ الۡجٰہِلِیۡنَ ﴿۳۴﴾ فَاسۡتَجَابَ لَہٗ
رَبُّہٗ فَصَرَفَ عَنۡہُ
کَیۡدَہُنَّ ؕ اِنَّہٗ ہُوَ السَّمِیۡعُ
الۡعَلِیۡمُ ﴿۳۵﴾ ثُمَّ بَدَا لَہُمۡ مِّنۡۢ بَعۡدِ مَا رَاَوُا الۡاٰیٰتِ
لَیَسۡجُنُنَّہٗ حَتّٰی حِیۡنٍ ﴿٪۳۶﴾
Ia, Yusuf, berkata:
“Ya Tuhan-ku, penjara itu lebih kusukai bagiku daripada apa
yang mereka mengajakku kepadanya, dan jika Engkau tidak mengelakkan dari
diriku tipu-daya mereka tentu aku akan cenderung ke-pada mereka itu dan aku
akan terma-suk orang-orang yang jahil.” Maka Tuhan mengabulkan doanya lalu mengelakkan dari tipu-daya mereka, sesungguhnya Dia
Maha Mendengar, Maha Mengetahui. Kemudian
timbul pikiran pada mereka yakni para pembesar, setelah mereka
melihat tanda-tanda kesucian Yusuf itu, bahwa untuk menjaga
nama baik, mereka harus
memenjarakannya untuk sementara waktu (Yusuf [12]:34-36).
Selanjutnya Allah Swt.
berfirman mengenai mimpi dua orang pemuda yang dimasukkan ke dalam penjara
bersama Nabi Yusuf a.s.:
وَ دَخَلَ مَعَہُ السِّجۡنَ
فَتَیٰنِ ؕ قَالَ اَحَدُہُمَاۤ
اِنِّیۡۤ اَرٰىنِیۡۤ اَعۡصِرُ خَمۡرًا ۚ وَ قَالَ الۡاٰخَرُ
اِنِّیۡۤ اَرٰىنِیۡۤ اَحۡمِلُ فَوۡقَ رَاۡسِیۡ خُبۡزًا تَاۡکُلُ الطَّیۡرُ مِنۡہُ ؕ
نَبِّئۡنَا بِتَاۡوِیۡلِہٖ ۚ اِنَّا نَرٰىکَ مِنَ الۡمُحۡسِنِیۡنَ ﴿۳۶﴾
Dan bersama dia (Yusuf) masuk ke dalam penjara dua
orang pemuda. Seorang di antara
keduanya berkata: “Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi aku sedang memeras air anggur.” Dan
yang lain berkata: “Sesungguhnya aku melihat diriku dalam mimpi membawa
di atas kepalaku roti yang sebagiannya dimakan burung-burung.
Beritahukanlah kepada kami ta’birnya, sesungguhnya kami memandang engkau
termasuk orang-orang yang berbuat ihsan.” (Yusuf [12]:37).
Mengenai
mimpi-mimpi kedua pegawai istana yakni seorang saqi (pelayan minuman)
dan seorang tukang roti, lihat Kitab Kejadian bab
40. Masuknya Nabi Yusuf a.s. ke dalam penjara kemudian kepada beliau dikemukakan masalah mimpi dua orang rekan beliau sepenjara tersebut, pada hakikatnya peristiwa tersebut merupakan tahapan awal perjalanan hidup Nabi Yusuf a.s. sebelum genapnya (sempurnanya) tafsir mimpi Nabi Yusuf a.s. yang
dikemukakan ayah beliau, Nabi Ya’qub a.s.,
sebelumnya:
اِذۡ قَالَ یُوۡسُفُ لِاَبِیۡہِ یٰۤاَبَتِ اِنِّیۡ رَاَیۡتُ اَحَدَعَشَرَ کَوۡکَبًا
وَّ الشَّمۡسَ
وَ الۡقَمَرَ رَاَیۡتُہُمۡ لِیۡ سٰجِدِیۡنَ ﴿۵﴾ قَالَ یٰبُنَیَّ لَا تَقۡصُصۡ رُءۡیَاکَ عَلٰۤی اِخۡوَتِکَ فَیَکِیۡدُوۡا لَکَ کَیۡدًا ؕ اِنَّ الشَّیۡطٰنَ لِلۡاِنۡسَانِ عَدُوٌّ
مُّبِیۡنٌ ﴿۶﴾ وَ کَذٰلِکَ یَجۡتَبِیۡکَ رَبُّکَ وَ یُعَلِّمُکَ مِنۡ تَاۡوِیۡلِ الۡاَحَادِیۡثِ وَ یُتِمُّ نِعۡمَتَہٗ عَلَیۡکَ وَ عَلٰۤی اٰلِ یَعۡقُوۡبَ کَمَاۤ اَتَمَّہَا عَلٰۤی اَبَوَیۡکَ مِنۡ قَبۡلُ اِبۡرٰہِیۡمَ وَ اِسۡحٰقَ ؕ اِنَّ رَبَّکَ عَلِیۡمٌ حَکِیۡمٌ ٪﴿۷﴾
Ingatlah ketika
Yusuf berkata kepada
ayahnya: “Hai ayahku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi
sebelas bintang, matahari dan bulan, aku melihat mereka sujud kepadaku.” Ia, Ya’qub,
berkata: “Hai anakku, janganlah engkau menceriterakan mimpi engkau itu
kepada saudara-saudara engkau, karena mereka akan melakuk an tipu-daya buruk untuk
memperdayakan engkau, sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagi
manusia. Dan demikianlah Tuhan engkau akan memilih engkau
dan akan mengajar engkau ta'wil mimpi-mimpi dan akan menyempurnakan
nikmat-Nya atas engkau dan atas keturunan Ya’qub, seperti
Dia telah menyempurnakannya atas kedua bapak engkau dahulu, Ibrahim
dan Ishaq, sesungguhnya Tuhan engkau Maha Mengetahui, Maha
Bijaksana.” (Yusuf [12]:5-7).
Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam
Farid
Tidak ada komentar:
Posting Komentar