Selasa, 17 Januari 2012

Nabi Yusuf a.s. Dalam Penjara


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ

 
HUBUNGAN  NABI YUSUF A.S. 
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
  
Bagian   XXIV
Tentang
 
     Nabi Yusuf a.s. Dalam Penjara
 Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma

 
وَ دَخَلَ مَعَہُ السِّجۡنَ فَتَیٰنِ ؕ قَالَ اَحَدُہُمَاۤ  اِنِّیۡۤ  اَرٰىنِیۡۤ  اَعۡصِرُ خَمۡرًا ۚ وَ قَالَ الۡاٰخَرُ اِنِّیۡۤ  اَرٰىنِیۡۤ  اَحۡمِلُ فَوۡقَ رَاۡسِیۡ خُبۡزًا تَاۡکُلُ  الطَّیۡرُ مِنۡہُ ؕ نَبِّئۡنَا بِتَاۡوِیۡلِہٖ ۚ اِنَّا نَرٰىکَ مِنَ الۡمُحۡسِنِیۡنَ ﴿۳۶
Dan bersama dia (Yusuf) masuk ke dalam penjara dua orang pemuda.  Seorang di antara keduanya berkata: “Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi  aku sedang memeras air anggur.” Dan yang lain berkata: “Sesungguhnya aku melihat diriku dalam mimpi membawa di atas kepalaku roti yang sebagiannya dimakan burung-burung. Beritahukanlah kepada kami ta’birnya, sesungguhnya kami memandang engkau termasuk orang-orang yang berbuat ihsan.” (Yusuf [12]:37).

Dalam Bab-bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai  generasi penerus  di lingkungan Bani Israil yang kemudian menjadi para pecinta kehidupan duniawi, hal tersebut  bukan saja bertentangan dengan keadaan leluhur mereka, yakni Nabi Yusuf a.s. di Mesir – yang memilih penjara daripada kesenangan duniawi yakni beliau tidak melayani bujuk rayu istri Potifar (QS.12:24-30) – juga bertentangan dengan ajaran utama Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (Yesus Kristus), baik berkenaan dengan Tauhid Ilahi maupun dalam masalah kehidupan duniawi, firman-Nya:
 فَخَلَفَ مِنۡۢ بَعۡدِہِمۡ خَلۡفٌ وَّرِثُوا الۡکِتٰبَ یَاۡخُذُوۡنَ عَرَضَ ہٰذَا الۡاَدۡنٰی وَ یَقُوۡلُوۡنَ سَیُغۡفَرُ لَنَا ۚ وَ اِنۡ یَّاۡتِہِمۡ عَرَضٌ مِّثۡلُہٗ یَاۡخُذُوۡہُ ؕ اَلَمۡ یُؤۡخَذۡ عَلَیۡہِمۡ مِّیۡثَاقُ الۡکِتٰبِ اَنۡ لَّا یَقُوۡلُوۡا عَلَی اللّٰہِ  اِلَّا الۡحَقَّ وَ دَرَسُوۡا مَا فِیۡہِ  ؕ وَ الدَّارُ  الۡاٰخِرَۃُ  خَیۡرٌ لِّلَّذِیۡنَ  یَتَّقُوۡنَ ؕ اَفَلَا  تَعۡقِلُوۡنَ ﴿۱۷۰
Maka datang menggantikan sesudah mereka suatu generasi  pengganti  yang mewarisi Kitab Taurat  itu, mereka mengambil harta dunia yang rendah ini dan mereka mengatakan: “Pasti kami akan diampuni.” Dan jika datang kepada mereka harta semacam itu lagi mereka akan mengambilnya. Bukankah telah diambil perjanjian dari mereka dalam Kitab bahwa mereka tidak akan mengatakan sesuatu terhadap Allah kecuali yang haq, dan  mereka telah mempelajari apa yang tercantum di dalamnya? Padahal kampung  akhirat itu   lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa, apakah kamu tidak mau mengerti? (Al-A’raaf  [7]:169-170).

 Khutbah Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di Bukit

       Dalam khutbahnya yang terkenal di bukit Nabi Isa Ibnu Maryam  a.s. atau Yesus Kristus  memberi nasihat  tentang larangan   “mengumpulkan harta”:
Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada (Matius 6:19-21).
       Demikian juga   beliau pun telah memberi petunjuk  kepada 12 orang murid beliau  yang utama   sebelum  pergi berdakwah:
Janganlah kamu membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu. Janganlah kamu membawa bekal dalam perjalanan, janganlah kamu membawa baju dua helai, kasut atau tongkat,  sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya (Matius 10:9-10).
       Dengan demikian jelaslah bahwa sikap  “generasi penerus” Bani Israil  sebagaimana yang dikemukakan dalam firman Allah Swt. sebelumnya (QS.7:169-170)   benar-benar sangat bertolak-belakang dengan ajaran asli  Nabi Isa Ibu Maryam a.s., yang telah diamalkan oleh pengikit-pengikut sejati beliau di masa-masa awal, yang mengenai mereka itu di dalam Al-Quran  digambarkan sebagai “ashhabul kahf” (para penghuni gua – QS.18:10-18).
      Mengenai  kehidupan  murid-murid sejati Nabi isa Ibnu Maryam a.s. di masa awal yang penuh dengan kesulitan dan kezaliman  -- yang digambarkan sebagai ashabul kahf (para penghuni gua) -- tersebut banyak  yang salah  menafsirkannya,    seakan-akan mereka itu benar-benar tidur nyenyak selama 300 tahun lamanya di dalam gua, padahal  kenyataannya tidak seperti itu.
      Firman Allah Swt. dalam Surah Al-Kahf  ayat 10-23 tersebut  menggambarkan perbedaan dua keadaan yang sangat mencolok antara para pengikut Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di masa awal selama 300 tahun – yakni sampai dengan   Kaisar kerajaaan Romawi, Konstantin,  memeluk agama Kristen  – dengan para pemeluk agama Kristen yang sudah   berubah menjadi  agama yang mempertuhankan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., sebagaimana yang sengaja disalah-tafsirkan oleh Paulus, sebagaimana diisyaratkan  dalam firman Allah Swt. sebelum ini:
 فَخَلَفَ مِنۡۢ بَعۡدِہِمۡ خَلۡفٌ وَّرِثُوا الۡکِتٰبَ یَاۡخُذُوۡنَ عَرَضَ ہٰذَا الۡاَدۡنٰی وَ یَقُوۡلُوۡنَ سَیُغۡفَرُ لَنَا ۚ وَ اِنۡ یَّاۡتِہِمۡ عَرَضٌ مِّثۡلُہٗ یَاۡخُذُوۡہُ ؕ اَلَمۡ یُؤۡخَذۡ عَلَیۡہِمۡ مِّیۡثَاقُ الۡکِتٰبِ اَنۡ لَّا یَقُوۡلُوۡا عَلَی اللّٰہِ  اِلَّا الۡحَقَّ وَ دَرَسُوۡا مَا فِیۡہِ  ؕ وَ الدَّارُ  الۡاٰخِرَۃُ  خَیۡرٌ لِّلَّذِیۡنَ  یَتَّقُوۡنَ ؕ اَفَلَا  تَعۡقِلُوۡنَ ﴿۱۷۰
Maka datang menggantikan sesudah mereka suatu generasi  pengganti  yang mewarisi Kitab Taurat  itu, mereka mengambil harta dunia yang rendah ini dan mereka mengatakan: “Pasti kami akan diampuni.” Dan jika datang kepada mereka harta semacam itu lagi mereka akan mengambilnya. Bukankah telah diambil perjanjian dari mereka dalam Kitab bahwa mereka tidak akan mengatakan sesuatu terhadap Allah kecuali yang haq, dan  mereka telah mempelajari apa yang tercantum di dalamnya? Padahal kampung  akhirat itu   lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa, apakah kamu tidak mau mengerti? (Al-A’raaf  [7]:169-170).

Nabi Yusuf a.s. Dalam Penjara

     Kembali kepada topik pembahasan utama, yakni mengenai pilihan  Nabi Yusuf a.s. untuk tinggal dalam penjara daripada berada di rumah majikan beliau yang penuh dengan berbagai sarana kesenangan duniawi namun sangat membahayakan akhlak dan ruhani beliau serta Tauhid Ilahi yang merupakan warisan dari leluhur beliau, Nabi Ibrahim a.s. (QS.2:131-134). Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
قَالَ رَبِّ السِّجۡنُ اَحَبُّ اِلَیَّ مِمَّا یَدۡعُوۡنَنِیۡۤ  اِلَیۡہِ ۚ وَ اِلَّا تَصۡرِفۡ عَنِّیۡ کَیۡدَہُنَّ اَصۡبُ  اِلَیۡہِنَّ وَ اَکُنۡ مِّنَ الۡجٰہِلِیۡنَ ﴿۳۴  فَاسۡتَجَابَ لَہٗ  رَبُّہٗ  فَصَرَفَ عَنۡہُ کَیۡدَہُنَّ ؕ اِنَّہٗ  ہُوَ السَّمِیۡعُ الۡعَلِیۡمُ ﴿۳۵  ثُمَّ بَدَا لَہُمۡ مِّنۡۢ بَعۡدِ مَا رَاَوُا الۡاٰیٰتِ لَیَسۡجُنُنَّہٗ حَتّٰی حِیۡنٍ ﴿٪۳۶
Ia, Yusuf, berkata:  “Ya Tuhan-ku, penjara itu lebih kusukai bagiku daripada apa yang mereka mengajakku kepadanya, dan jika Engkau tidak mengelakkan dari diriku tipu-daya mereka tentu aku akan cenderung ke-pada mereka itu dan aku akan terma-suk orang-orang yang jahil.”  Maka Tuhan mengabulkan doanya lalu   mengelakkan dari   tipu-daya mereka, sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.  Kemudian timbul pikiran pada mereka yakni para pembesar, setelah mereka melihat tanda-tanda kesucian Yusuf itu, bahwa untuk menjaga nama baik,  mereka harus memenjarakannya untuk sementara waktu (Yusuf [12]:34-36).
       Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai mimpi dua orang pemuda yang dimasukkan ke dalam penjara bersama Nabi Yusuf a.s.:
 وَ دَخَلَ مَعَہُ السِّجۡنَ فَتَیٰنِ ؕ قَالَ اَحَدُہُمَاۤ  اِنِّیۡۤ  اَرٰىنِیۡۤ  اَعۡصِرُ خَمۡرًا ۚ وَ قَالَ الۡاٰخَرُ اِنِّیۡۤ  اَرٰىنِیۡۤ  اَحۡمِلُ فَوۡقَ رَاۡسِیۡ خُبۡزًا تَاۡکُلُ  الطَّیۡرُ مِنۡہُ ؕ نَبِّئۡنَا بِتَاۡوِیۡلِہٖ ۚ اِنَّا نَرٰىکَ مِنَ الۡمُحۡسِنِیۡنَ ﴿۳۶
Dan bersama dia (Yusuf) masuk ke dalam penjara dua orang pemuda.  Seorang di antara keduanya berkata: “Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi  aku sedang memeras air anggur.” Dan yang lain berkata: “Sesungguhnya aku melihat diriku dalam mimpi membawa di atas kepalaku roti yang sebagiannya dimakan burung-burung. Beritahukanlah kepada kami ta’birnya, sesungguhnya kami memandang engkau termasuk orang-orang yang berbuat ihsan.” (Yusuf [12]:37).
       Mengenai mimpi-mimpi kedua pegawai istana yakni seorang saqi (pelayan minuman) dan seorang tukang roti, lihat Kitab Kejadian bab 40. Masuknya  Nabi Yusuf a.s. ke dalam penjara  kemudian kepada beliau dikemukakan   masalah mimpi  dua  orang rekan beliau sepenjara tersebut, pada hakikatnya peristiwa tersebut merupakan tahapan awal  perjalanan hidup Nabi Yusuf a.s.  sebelum genapnya (sempurnanya)   tafsir mimpi Nabi Yusuf a.s. yang dikemukakan ayah beliau, Nabi Ya’qub a.s.,  sebelumnya:
   اِذۡ  قَالَ یُوۡسُفُ لِاَبِیۡہِ یٰۤاَبَتِ اِنِّیۡ  رَاَیۡتُ اَحَدَعَشَرَ کَوۡکَبًا وَّ الشَّمۡسَ وَ الۡقَمَرَ رَاَیۡتُہُمۡ  لِیۡ  سٰجِدِیۡنَ ﴿۵   قَالَ یٰبُنَیَّ  لَا تَقۡصُصۡ رُءۡیَاکَ عَلٰۤی اِخۡوَتِکَ فَیَکِیۡدُوۡا لَکَ کَیۡدًا ؕ اِنَّ الشَّیۡطٰنَ  لِلۡاِنۡسَانِ  عَدُوٌّ  مُّبِیۡنٌ ﴿۶   وَ کَذٰلِکَ یَجۡتَبِیۡکَ رَبُّکَ وَ یُعَلِّمُکَ مِنۡ تَاۡوِیۡلِ الۡاَحَادِیۡثِ وَ یُتِمُّ نِعۡمَتَہٗ عَلَیۡکَ وَ عَلٰۤی اٰلِ یَعۡقُوۡبَ کَمَاۤ  اَتَمَّہَا عَلٰۤی  اَبَوَیۡکَ  مِنۡ قَبۡلُ  اِبۡرٰہِیۡمَ وَ  اِسۡحٰقَ ؕ اِنَّ رَبَّکَ عَلِیۡمٌ  حَکِیۡمٌ ٪﴿۷     
Ingatlah  ketika Yusuf  berkata kepada ayahnya: “Hai ayahku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi sebelas bintang, matahari dan bulan, aku melihat mereka  sujud kepadaku.” Ia, Ya’qub, berkata: “Hai anakku, janganlah engkau menceriterakan mimpi engkau itu kepada saudara-saudara engkau, karena mereka akan melakuk   an tipu-daya buruk untuk memperdayakan engkau, sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagi manusia.  Dan demikianlah Tuhan engkau akan memilih engkau dan akan mengajar engkau ta'wil mimpi-mimpi dan akan menyempurnakan nikmat-Nya atas engkau dan atas keturunan Ya’qub, seperti Dia telah menyempurnakannya atas kedua bapak engkau dahulu, Ibrahim dan Ishaq, sesungguhnya Tuhan engkau Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.” (Yusuf [12]:5-7).

Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid


Tidak ada komentar:

Posting Komentar