بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
HUBUNGAN NABI YUSUF A.S.
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
Bagian XXXI
Tentang
Kesempurnaan Maqam (Martabat) Ruhani nabi Besar Muhammad Saw.
Oleh
Ki Langlang
Buana Kusuma
وَ
کَذٰلِکَ مَکَّنَّا لِیُوۡسُفَ فِی الۡاَرۡضِ ۚ یَتَبَوَّاُ مِنۡہَا حَیۡثُ
یَشَآءُ ؕ نُصِیۡبُ بِرَحۡمَتِنَا مَنۡ نَّشَآءُ وَ لَا نُضِیۡعُ اَجۡرَ الۡمُحۡسِنِیۡنَ ﴿۵۶﴾ وَ لَاَجۡرُ الۡاٰخِرَۃِ خَیۡرٌ لِّلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ
کَانُوۡا یَتَّقُوۡنَ ﴿٪۵۷﴾
Dan
demikianlah Kami telah memberikan kepada Yusuf kedudukan di negeri itu, ia
tinggal dimana saja yang ia kehendaki. Kami melimpahkan rahmat Kami kepada
siapa yang Kami kehendaki, dan Kami
tidak menghilangkan ganjaran orang-orang yang berbuat ihsan. Dan sesungguhnya ganjaran di akhirat
itu lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan bertakwa. (Yusuf [12]:57-58).
Dalam Bab sebelumnya telah dibahas mengenai maqam
(kedudukan) terhormat selanjutnya yang dianugerahkan Allah Swt. kepada Nabi
Yusuf a.s. dalam rangka genapnya
(sempurnanya) mimpi beliau yang telah diceritakan kepada ayah beliau,
Nabi Ya’qub a.s. (QS.12:5-7), yakni raja Mesir telah menetapkan Nabi Yusuf a.s.
sebagai seorang yang terhormat di sisi raja Mesir, firman-Nya:
وَ قَالَ الۡمَلِکُ ائۡتُوۡنِیۡ بِہٖۤ
اَسۡتَخۡلِصۡہُ لِنَفۡسِیۡ ۚ فَلَمَّا
کَلَّمَہٗ قَالَ اِنَّکَ الۡیَوۡمَ لَدَیۡنَا مَکِیۡنٌ اَمِیۡنٌ ﴿۵۵﴾
Dan raja itu berkata: “Bawalah dia kepadaku, supaya aku
memilih dia untuk tugas-tugas pribadiku.” Maka tatkala ia (Yusuf) berbicara dengannya ia (raja) berkata:
“Sesungguhnya engkau, Yusuf, hari ini seorang yang
berkedudukan tinggi di sisi kami lagi terpercaya.” (Yusuf [12]:55).
Kehormatan Nabi Yusuf a.s.
yang Semakin Meningkat
Maqam (martabat/kedudukan)
duniawi tersebut lebih tinggi daripada kehormatan
yang dianugerahkan Allah Swt. kepada Nabi Yusuf a.s. dengan perantaraan Potifar,
sebab kedudukan Nabi Yusuf a.s. di kerajaan Mesir bahkan lebih tinggi dari
kedudukan Potifar, yang juga adalah seorang pejabat tinggi di kerajaan Mesir,
yakni seorang komandan barisan pengawal raja, seorang perwira yang tinggi pangkatnya di zaman dulu, firman-Nya:
وَ
قَالَ الَّذِی اشۡتَرٰىہُ مِنۡ مِّصۡرَ لِامۡرَاَتِہٖۤ اَکۡرِمِیۡ مَثۡوٰىہُ عَسٰۤی اَنۡ
یَّنۡفَعَنَاۤ اَوۡ نَتَّخِذَہٗ وَلَدًا ؕ وَ کَذٰلِکَ مَکَّنَّا لِیُوۡسُفَ
فِی الۡاَرۡضِ ۫ وَ لِنُعَلِّمَہٗ مِنۡ تَاۡوِیۡلِ الۡاَحَادِیۡثِ ؕ وَ اللّٰہُ
غَالِبٌ عَلٰۤی اَمۡرِہٖ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَ النَّاسِ لَا یَعۡلَمُوۡنَ ﴿۲۲﴾
Dan orang dari Mesir yang membeli dia berkata kepada
istrinya: “Berilah dia tempat tinggal yang terhormat. Boleh jadi dia
akan bermanfaat bagi kita atau dia akan kita angkat sebagai anak.” Dan demikianlah Kami memberi
Yusuf kedudukan di ne-geri itu, dan supaya Kami mengajarkan kepadanya
ta’bir mimpi-mimpi. Dan Allah berkuasa penuh atas keputusan-Nya tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.
(Yusuf [12]:22).
Jadi, kalau di
lingkungan rumah Potifar Nabi Yusuf a.s.
diberi kebebasan hanya
terbatas di lingkungan rumah pejabat tinggi Mesir tersebut, tetapi
setelah menjadi salah seorang wazir (menteri)
kerajaan Mesir maka wewenang Nabi
Yusuf a.s. meliputi seluruh wilayah kekuasaan raja Mesir saat itu,
firman-Nya:
وَ
قَالَ الۡمَلِکُ ائۡتُوۡنِیۡ بِہٖۤ
اَسۡتَخۡلِصۡہُ لِنَفۡسِیۡ ۚ فَلَمَّا
کَلَّمَہٗ قَالَ اِنَّکَ الۡیَوۡمَ لَدَیۡنَا مَکِیۡنٌ اَمِیۡنٌ ﴿۵۵﴾
Dan raja itu berkata: “Bawalah dia kepadaku, supaya aku
memilih dia untuk tugas-tugas pribadiku.” Maka tatkala ia (Yusuf) berbicara dengannya ia (raja) berkata:
“Sesungguhnya engkau, Yusuf, hari ini seorang yang
berkedudukan tinggi di sisi kami lagi terpercaya.” (Yusuf [12]:55).
Atas kehormatan dari
raja Mesir Nabi Yusuf a.s. memberikan tanggapan, firman-Nya:
قَالَ اجۡعَلۡنِیۡ عَلٰی خَزَآئِنِ الۡاَرۡضِ ۚ اِنِّیۡ حَفِیۡظٌ
عَلِیۡمٌ ﴿۵۶﴾
Ia, Yusuf, berkata: “Jadikanlah aku bendahara negeri ini,
karena aku seorang penjaga yang baik serta memahami urusan
itu.” (Yusuf [12]:56).
Nabi
Yusuf a.s. lebih menyukai jabatan
keuangan. Pilihan beliau agaknya
didorong oleh keinginan untuk mencurahkan perhatian sebulat-bulatnya untuk
menyelenggarakan dinas pemerintahan dengan berhasil, yang sangat erat
kaitannya dengan menjadi sempurnanya mimpi sang raja. Selanjutnya
Allah Swt. berfirman:
وَ قُلۡنَا یٰۤاٰدَمُ اسۡکُنۡ اَنۡتَ وَ
زَوۡجُکَ الۡجَنَّۃَ وَ کُلَا مِنۡہَا رَغَدًا حَیۡثُ شِئۡتُمَا ۪ وَ لَا
تَقۡرَبَا ہٰذِہِ الشَّجَرَۃَ فَتَکُوۡنَا مِنَ الظّٰلِمِیۡنَ ﴿۳۷﴾
Dan Kami berfirman: “Hai Adam, tinggallah engkau dan isteri
engkau dalam kebun ini, dan makanlah darinya sepuas hati di
mana pun kamu berdua sukai, tetapi janganlah kamu berdua mendekati
pohon ini, jika tidak maka kamu berdua
akan menjadi orang-orang zalim.” (Al-Baqarah
[2]:37).
Arti “Sekehendak Hati”
Sunnatullah selanjutnya mulai berlaku, sesuai dengan janji Allah
Swt. bahwa orang-orang yang teguh dalam Tauhidnya – bagaimana pun
beratnya ujian-ujian keimanan yang harus dihadapinya (QS.41:31-33) – maka Allah Swt. akan
menganugerahkan maqam (martabat/kedudukan) “kehidupan surgawi” di dunia ini – yang dalam
Kisah Monumental “Adam, Malaikat, Iblis” digambarkan bahwa “Adam dan istrinya” diperintahkan
untuk tinggal di dalam “jannah”,
namun tetap harus memperhatikan peringatan Allah Swt., karena Allah Swt.
tidak pernah memberikan kebebasan yang mutlak kepada siapa pun
dalam melaksanakan kehidupannya atau kewajibannya, firman-Nya:
وَ قُلۡنَا یٰۤاٰدَمُ اسۡکُنۡ اَنۡتَ وَ
زَوۡجُکَ الۡجَنَّۃَ وَ کُلَا مِنۡہَا رَغَدًا حَیۡثُ شِئۡتُمَا ۪ وَ لَا
تَقۡرَبَا ہٰذِہِ الشَّجَرَۃَ فَتَکُوۡنَا مِنَ الظّٰلِمِیۡنَ ﴿۳۷﴾
Dan Kami berfirman: “Hai Adam, tinggallah engkau dan isteri
engkau dalam kebun ini, dan makanlah darinya sepuas hati di
mana pun kamu berdua sukai, tetapi janganlah kamu berdua mendekati
pohon ini, jika tidak maka kamu berdua
akan menjadi orang-orang zalim.” (Al-Baqarah
[2]:37).
Dalam dunia
keruhanian memang ada suatu maqam (martabat) di mana para hamba Allah yang hakiki diberi
“kebebasan” tertentu untuk melaksanakan apa pun yang diinginkannya, namun tidak seperti yang disalahartikan
oleh orang-orang yang berhati “bengkok”, bahwa pada maqam
seperti itu apa pun yang
sebelumnya dilarang atau diharamkan oleh agama maka menjadi halal (dibolehkan)
baginya.
Pemahaman seperti itu
jelas sangat keliru, karena bertentangan
dengan firman Allah Swt. mengenai Adam
dan istrinya, melainkan maknanya adalah
bahwa semakin sempurna maqam ruhani para
hamba Allah maka akan terjadi
banyak keselarasan antara kehendak
mereka dengan kehendak Allah Swt., karena yang terjadi sebenarnya adalah
justru hamba-hamba Allah itulah
yang terus menerus meningkatkan kuantitas dan kualitas keselarasan kehendaknya
dengan kehendak Allah Swt..
Mengisyaratkan kepada
kenyataan itu pulalah makna pernyataan
Allah Swt. “ “ dalam firman-Nya berikut ini:
اِنَّ الَّذِیۡنَ قَالُوۡا رَبُّنَا اللّٰہُ ثُمَّ اسۡتَقَامُوۡا تَتَنَزَّلُ عَلَیۡہِمُ
الۡمَلٰٓئِکَۃُ اَلَّا تَخَافُوۡا وَ لَا
تَحۡزَنُوۡا وَ اَبۡشِرُوۡا بِالۡجَنَّۃِ
الَّتِیۡ کُنۡتُمۡ تُوۡعَدُوۡنَ ﴿۳۱﴾ نَحۡنُ
اَوۡلِیٰٓؤُکُمۡ فِی الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا
وَ فِی الۡاٰخِرَۃِ ۚ وَ لَکُمۡ فِیۡہَا مَا تَشۡتَہِیۡۤ اَنۡفُسُکُمۡ وَ لَکُمۡ
فِیۡہَا مَا تَدَّعُوۡنَ ﴿ؕ۳۲﴾ نُزُلًا
مِّنۡ غَفُوۡرٍ رَّحِیۡمٍ ﴿٪۳۳﴾
Sesungguhnya orang-orang yang berkata: ”Tuhan kami Allah,”
kemudian mereka teguh, kepada
mereka turun malaikat-malaikat seraya
berkata: ”Janganlah kamu takut, dan jangan pula bersedih,
dan bergembiralah kamu dengan surga
yang telah dijanjikan kepadamu. Kami adalah teman-teman kamu
di dalam kehidupan dunia dan di akhirat. Dan bagi kamu di dalamnya apa yang diinginkan
dirimu dan bagi kamu di dalamnya apa yang kamu minta, sebagai hidangan
dari Tuhan Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Ha
Mim – Al-Sajdah [41]:31-33)
Dalam kehidupan di sinilah malaikat-malaikat turun
kepada orang yang beriman untuk memberi mereka kata-kata penghibur dan pelipur
lara jika mereka menampakkan keteguhan dan ketabahan di
tengah-tengah cobaan dan kemalangan yang berat.
Agar tetap selamat dari tipu-daya
syaitan – bagaimana pun tingginya maqam (martabat) keruhanian seseorang
– ia tetap harus menjadikan Nabi Besar Muhammad saw. sebagai panutan dan
suri teladan terbaik (QS.3:32; QS.33:22), yakni jika dalam kenyataannya beliau saw.
yang telah mendapat gelar Khaataman-Nabiyyiin (QS.33:41)
senantiasa mematuhi semua aturan syariat
yang ditetapkan Allah Swt. dalam Al-Quran -- termasuk tetap melaksanakan Rukun Iman dan Rukun
Islam – maka apalagi orang-orang
yang martabat ruhaninya jauh di bawah maqam (martabat) ruhani
beliau saw.
Pendek
kata, selama manusia masih hidup di dunia ini – bagaimana pun tingginya maqam ruhani yang telah dicapainya manusia tetap harus ingat akan peringatan Allah
Swt. kepada Adam dan istrinya ketika diperintahkan untuk tinggal di dalam “jannah”.
“Perpaduan”
Allah Swt. dengan Nabi Besar Muhammad saw.
Dalam peristiwa mikraj yang dialami oleh Nabi Besar Muhammad saw.,
kedudukan maqam ruhani Nabi Yusuf a.s. ada “di langit ruhani ketiga”
– satu tingkat di atas Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dan Nabi Yahya a.s. -- sedangkan
Nabi Besar Muhammad saw. saw. jauh melampaui tingkatan ruhani Nabi
Ibrahim a.s. yang berada di “langit ruhani
ketujuh”, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ
الرَّحِیۡمِ
﴿۱﴾ وَ النَّجۡمِ
اِذَا ہَوٰی ۙ﴿۲﴾ مَا ضَلَّ صَاحِبُکُمۡ وَ مَا
غَوٰی ۚ﴿۳﴾ وَ مَا یَنۡطِقُ عَنِ الۡہَوٰی ؕ﴿۴﴾ اِنۡ
ہُوَ اِلَّا وَحۡیٌ
یُّوۡحٰی ۙ﴿۵﴾ عَلَّمَہٗ
شَدِیۡدُ الۡقُوٰی ۙ﴿۶﴾ ذُوۡ مِرَّۃٍ ؕ
فَاسۡتَوٰی ۙ﴿۷﴾ وَ ہُوَ
بِالۡاُفُقِ الۡاَعۡلٰی ؕ﴿۸﴾ ثُمَّ
دَنَا فَتَدَلّٰی ۙ﴿۹﴾ فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ اَوۡ اَدۡنٰی ۚ﴿۱۰﴾ فَاَوۡحٰۤی
اِلٰی عَبۡدِہٖ مَاۤ اَوۡحٰی ﴿ؕ۱۱﴾ مَا کَذَبَ الۡفُؤَادُ
مَا رَاٰی ﴿۱۲﴾ اَفَتُمٰرُوۡنَہٗ
عَلٰی مَا یَرٰی ﴿۱۳﴾ وَ لَقَدۡ رَاٰہُ
نَزۡلَۃً اُخۡرٰی ﴿ۙ۱۴﴾ عِنۡدَ سِدۡرَۃِ الۡمُنۡتَہٰی
﴿۱۵﴾ عِنۡدَہَا
جَنَّۃُ الۡمَاۡوٰی ﴿ؕ۱۶﴾ اِذۡ یَغۡشَی السِّدۡرَۃَ مَا یَغۡشٰی ﴿ۙ۱۷﴾مَا زَاغَ الۡبَصَرُ وَ مَا طَغٰی ﴿۱۸﴾ لَقَدۡ رَاٰی مِنۡ اٰیٰتِ
رَبِّہِ الۡکُبۡرٰی ﴿۱۹﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah,
Maha Penyayang. Demi bintang apabila
jatuh. Sahabat kamu sekali-kali tidak sesat dan tidak
pula keliru. Dan ia
sekali-kali tidak berkata-kata menuruti keinginannya. Perkataannya
itu tidak lain melainkan wahyu yang diwahyukan. Tuhan Yang Mahakuat Perkasa mengajarinya, Pemilik Kekuatan, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arasy, dan Dia mewahyukan Kalam-Nya ketika ia,
Rasulullah, berada di ufuk tertinggi, kemudian ia, Rasulullah,
mendekati Allah, lalu Dia kian dekat kepadanya, Maka jadilah ia, seakan-akan, seutas
tali dari dua buah busur, atau lebih dekat lagi. Lalu Dia mewahyukan kepada hamba-Nya apa
yang telah Dia wahyukan. Hati
Rasulullah sekali-kali tidak berdusta apa yang dia lihat. Maka apakah kamu membantahnya mengenai apa
yang telah dia lihat? Dan
sungguh dia benar-benar
melihat-Nya kedua kali, dekat
pohon Sidrah tertinggi, yang di dekatnya ada surga, tempat
tinggal.Ketika pohon Sidrah diselubungi oleh sesuatu yang
menyelubungi, penglihatannya sekali-kali tidak menyimpang dan
tidak pula melantur. Sungguh ia benar-benar melihat Tanda paling besar
dari Tanda-tanda Tuhan-Nya. (Al-Najm [53]:1-19).
Pendek kata, kedekatan ruhani Nabi Yusuf a.s. kepada Allah Swt.
digambarkan dalam ucapan raja Mesir,
firman-Nya:
وَ قَالَ الۡمَلِکُ ائۡتُوۡنِیۡ
بِہٖۤ اَسۡتَخۡلِصۡہُ لِنَفۡسِیۡ ۚ
فَلَمَّا کَلَّمَہٗ قَالَ
اِنَّکَ الۡیَوۡمَ لَدَیۡنَا
مَکِیۡنٌ اَمِیۡنٌ ﴿۵۵﴾
Dan raja itu berkata: “Bawalah dia kepadaku, supaya aku
memilih dia untuk tugas-tugas pribadiku.” Maka tatkala ia (Yusuf) berbicara dengannya ia (raja) berkata:
“Sesungguhnya engkau, Yusuf, hari ini seorang yang
berkedudukan tinggi di sisi kami lagi terpercaya.” (Yusuf [12]:55).
Mengenai maqam (derajat) mulia orang-orang
bertakwa di sisi Allah Swt. Dia
berfirman:
اِنَّ الۡمُتَّقِیۡنَ فِیۡ جَنّٰتٍ وَّ نَہَرٍ ﴿ۙ۵۵﴾ فِیۡ مَقۡعَدِ صِدۡقٍ عِنۡدَ مَلِیۡکٍ مُّقۡتَدِرٍ ﴿٪۵۶﴾
Sesungguhnya
orang-orang yang bertakwa itu berada dalam kebun-kebun dan sungai-sungai,
dalam tempat tinggal yang mulia
di sisi Raja Yang Maha Kuasa. (Al-Qamar [54]:55-56).
Nahar,
di samping arti yang diberikan dalam teks – yakni “sungai-sungai” -- berarti pula:
kemewahan, cahaya (Aqrab-al-Mawarid).
Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid
Tidak ada komentar:
Posting Komentar