Senin, 30 Januari 2012

Kesempurnaan Maqam (Martabat) Ruhani Nabi Besar Muhammad Saw.

بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ

 
HUBUNGAN  NABI YUSUF A.S. 
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
  
Bagian   XXXI
Tentang
 
       Kesempurnaan Maqam (Martabat) Ruhani nabi Besar Muhammad Saw.  
 Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
 
 
 وَ کَذٰلِکَ مَکَّنَّا لِیُوۡسُفَ فِی الۡاَرۡضِ ۚ یَتَبَوَّاُ مِنۡہَا حَیۡثُ یَشَآءُ ؕ نُصِیۡبُ بِرَحۡمَتِنَا مَنۡ نَّشَآءُ  وَ لَا نُضِیۡعُ  اَجۡرَ الۡمُحۡسِنِیۡنَ ﴿۵۶ وَ لَاَجۡرُ الۡاٰخِرَۃِ خَیۡرٌ لِّلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ کَانُوۡا  یَتَّقُوۡنَ ﴿٪۵۷
Dan demikianlah Kami telah memberikan kepada Yusuf kedudukan di negeri itu, ia tinggal dimana saja yang ia kehendaki.  Kami melimpahkan rahmat Kami kepada siapa yang Kami kehendaki, dan  Kami tidak menghilangkan ganjaran orang-orang yang berbuat ihsan.    Dan sesungguhnya ganjaran di akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan bertakwa.   (Yusuf [12]:57-58).

Dalam Bab sebelumnya telah dibahas mengenai maqam (kedudukan) terhormat selanjutnya yang dianugerahkan Allah Swt. kepada Nabi Yusuf a.s. dalam rangka  genapnya (sempurnanya) mimpi beliau yang telah diceritakan kepada ayah beliau, Nabi Ya’qub a.s. (QS.12:5-7), yakni raja Mesir telah menetapkan Nabi Yusuf a.s. sebagai seorang yang terhormat di sisi raja Mesir, firman-Nya:
وَ قَالَ الۡمَلِکُ ائۡتُوۡنِیۡ بِہٖۤ  اَسۡتَخۡلِصۡہُ لِنَفۡسِیۡ ۚ فَلَمَّا  کَلَّمَہٗ  قَالَ  اِنَّکَ الۡیَوۡمَ  لَدَیۡنَا مَکِیۡنٌ  اَمِیۡنٌ ﴿۵۵
Dan raja itu berkata: “Bawalah dia kepadaku, supaya aku memilih dia untuk tugas-tugas pribadiku.” Maka tatkala  ia (Yusuf) berbicara dengannya ia (raja)  berkata:  Sesungguhnya engkau, Yusuf,  hari ini seorang yang berkedudukan tinggi di sisi kami lagi terpercaya.”  (Yusuf [12]:55).

Kehormatan  Nabi Yusuf a.s. yang Semakin Meningkat

      Maqam (martabat/kedudukan) duniawi tersebut  lebih tinggi daripada kehormatan yang dianugerahkan Allah Swt. kepada Nabi Yusuf a.s. dengan perantaraan Potifar, sebab kedudukan Nabi Yusuf a.s. di kerajaan Mesir bahkan lebih tinggi dari kedudukan Potifar, yang juga adalah seorang pejabat tinggi di kerajaan Mesir, yakni seorang komandan barisan pengawal raja, seorang perwira  yang tinggi  pangkatnya di zaman dulu, firman-Nya:
وَ قَالَ الَّذِی اشۡتَرٰىہُ مِنۡ مِّصۡرَ لِامۡرَاَتِہٖۤ  اَکۡرِمِیۡ مَثۡوٰىہُ عَسٰۤی اَنۡ یَّنۡفَعَنَاۤ  اَوۡ نَتَّخِذَہٗ  وَلَدًا ؕ وَ کَذٰلِکَ مَکَّنَّا لِیُوۡسُفَ فِی الۡاَرۡضِ ۫ وَ لِنُعَلِّمَہٗ مِنۡ تَاۡوِیۡلِ الۡاَحَادِیۡثِ ؕ وَ اللّٰہُ غَالِبٌ عَلٰۤی اَمۡرِہٖ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَ النَّاسِ لَا  یَعۡلَمُوۡنَ ﴿۲۲
Dan orang dari Mesir yang membeli dia berkata kepada istrinya: “Berilah dia tempat tinggal yang terhormat. Boleh jadi dia akan bermanfaat bagi kita atau dia akan kita angkat sebagai anak.”  Dan demikianlah Kami memberi Yusuf kedudukan di ne-geri itu, dan supaya Kami mengajarkan kepadanya ta’bir mimpi-mimpi. Dan Allah berkuasa penuh atas keputusan-Nya  tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Yusuf [12]:22).
     Jadi, kalau di lingkungan rumah Potifar Nabi Yusuf a.s.   diberi kebebasan hanya  terbatas di lingkungan rumah pejabat tinggi Mesir tersebut, tetapi setelah menjadi  salah seorang wazir (menteri) kerajaan Mesir maka  wewenang Nabi Yusuf a.s. meliputi seluruh wilayah kekuasaan raja Mesir saat itu, firman-Nya:
وَ قَالَ الۡمَلِکُ ائۡتُوۡنِیۡ بِہٖۤ  اَسۡتَخۡلِصۡہُ لِنَفۡسِیۡ ۚ فَلَمَّا  کَلَّمَہٗ  قَالَ  اِنَّکَ الۡیَوۡمَ  لَدَیۡنَا مَکِیۡنٌ  اَمِیۡنٌ ﴿۵۵
Dan raja itu berkata: “Bawalah dia kepadaku, supaya aku memilih dia untuk tugas-tugas pribadiku.” Maka tatkala  ia (Yusuf) berbicara dengannya ia (raja)  berkata:  Sesungguhnya engkau, Yusuf,  hari ini seorang yang berkedudukan tinggi di sisi kami lagi terpercaya.”  (Yusuf [12]:55).
      Atas kehormatan dari raja Mesir Nabi Yusuf a.s. memberikan tanggapan, firman-Nya:
قَالَ اجۡعَلۡنِیۡ عَلٰی خَزَآئِنِ الۡاَرۡضِ ۚ اِنِّیۡ  حَفِیۡظٌ  عَلِیۡمٌ ﴿۵۶
Ia, Yusuf, berkata: “Jadikanlah aku bendahara negeri ini, karena aku seorang penjaga  yang baik serta memahami urusan itu.” (Yusuf [12]:56).
 Nabi Yusuf a.s.  lebih menyukai jabatan keuangan. Pilihan  beliau agaknya didorong oleh keinginan untuk mencurahkan perhatian sebulat-bulatnya untuk menyelenggarakan dinas pemerintahan dengan berhasil, yang sangat erat kaitannya dengan menjadi sempurnanya mimpi sang raja. Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
وَ قُلۡنَا یٰۤاٰدَمُ اسۡکُنۡ اَنۡتَ وَ زَوۡجُکَ الۡجَنَّۃَ وَ کُلَا مِنۡہَا رَغَدًا حَیۡثُ شِئۡتُمَا ۪ وَ لَا تَقۡرَبَا ہٰذِہِ الشَّجَرَۃَ فَتَکُوۡنَا مِنَ الظّٰلِمِیۡنَ ﴿۳۷
Dan Kami berfirman: “Hai Adam,  tinggallah engkau dan isteri engkau dalam kebun ini, dan makanlah darinya sepuas hati di mana pun kamu berdua sukai,   tetapi janganlah kamu berdua mendekati pohon ini,    jika tidak maka kamu berdua akan  menjadi orang-orang  zalim.” (Al-Baqarah [2]:37).
Arti “Sekehendak Hati”
       Sunnatullah selanjutnya   mulai berlaku, sesuai dengan janji Allah Swt. bahwa orang-orang yang  teguh  dalam Tauhidnya – bagaimana pun beratnya ujian-ujian keimanan yang harus dihadapinya  (QS.41:31-33) – maka Allah Swt. akan menganugerahkan maqam (martabat/kedudukan)  “kehidupan surgawi” di dunia ini – yang dalam Kisah Monumental “Adam, Malaikat, Iblis” digambarkan  bahwa “Adam dan istrinya” diperintahkan untuk  tinggal di dalam “jannah”, namun tetap harus memperhatikan peringatan Allah Swt., karena Allah Swt. tidak pernah memberikan kebebasan yang mutlak kepada siapa pun dalam melaksanakan kehidupannya atau kewajibannya, firman-Nya:
وَ قُلۡنَا یٰۤاٰدَمُ اسۡکُنۡ اَنۡتَ وَ زَوۡجُکَ الۡجَنَّۃَ وَ کُلَا مِنۡہَا رَغَدًا حَیۡثُ شِئۡتُمَا ۪ وَ لَا تَقۡرَبَا ہٰذِہِ الشَّجَرَۃَ فَتَکُوۡنَا مِنَ الظّٰلِمِیۡنَ ﴿۳۷
Dan Kami berfirman: “Hai Adam,  tinggallah engkau dan isteri engkau dalam kebun ini, dan makanlah darinya sepuas hati di mana pun kamu berdua sukai,   tetapi janganlah kamu berdua mendekati pohon ini,    jika tidak maka kamu berdua akan  menjadi orang-orang  zalim.” (Al-Baqarah [2]:37).
       Dalam dunia keruhanian memang ada  suatu maqam  (martabat) di mana  para hamba Allah yang hakiki diberi “kebebasan” tertentu untuk melaksanakan apa pun yang diinginkannya,  namun tidak seperti yang disalahartikan oleh orang-orang yang berhati “bengkok”, bahwa pada  maqam  seperti itu  apa pun yang sebelumnya dilarang   atau diharamkan  oleh agama  maka menjadi halal (dibolehkan) baginya.
      Pemahaman seperti itu jelas sangat keliru, karena  bertentangan dengan firman Allah Swt.  mengenai Adam dan istrinya,  melainkan maknanya adalah bahwa semakin sempurna maqam ruhani para  hamba Allah maka akan  terjadi banyak keselarasan  antara kehendak mereka dengan kehendak Allah Swt., karena yang terjadi sebenarnya adalah justru hamba-hamba Allah  itulah yang terus menerus meningkatkan kuantitas dan kualitas keselarasan kehendaknya dengan kehendak Allah Swt..
      Mengisyaratkan kepada kenyataan itu pulalah  makna pernyataan Allah Swt. “   “ dalam  firman-Nya berikut ini:
اِنَّ  الَّذِیۡنَ قَالُوۡا رَبُّنَا اللّٰہُ  ثُمَّ اسۡتَقَامُوۡا تَتَنَزَّلُ عَلَیۡہِمُ الۡمَلٰٓئِکَۃُ  اَلَّا تَخَافُوۡا وَ لَا تَحۡزَنُوۡا وَ اَبۡشِرُوۡا بِالۡجَنَّۃِ  الَّتِیۡ  کُنۡتُمۡ تُوۡعَدُوۡنَ ﴿۳۱   نَحۡنُ اَوۡلِیٰٓؤُکُمۡ فِی الۡحَیٰوۃِ  الدُّنۡیَا وَ فِی الۡاٰخِرَۃِ ۚ وَ لَکُمۡ فِیۡہَا مَا تَشۡتَہِیۡۤ اَنۡفُسُکُمۡ وَ لَکُمۡ فِیۡہَا مَا تَدَّعُوۡنَ ﴿ؕ۳۲  نُزُلًا  مِّنۡ غَفُوۡرٍ  رَّحِیۡمٍ ﴿٪۳۳
Sesungguhnya orang-orang yang berkata: ”Tuhan kami Allah,” kemudian mereka teguh,  kepada mereka turun  malaikat-malaikat seraya berkata: Janganlah kamu takut, dan jangan pula bersedih, dan bergembiralah  kamu dengan surga yang telah dijanjikan kepadamu. Kami adalah teman-teman kamu di dalam kehidupan dunia dan di akhirat. Dan bagi  kamu di dalamnya apa yang diinginkan dirimu dan bagi kamu di dalamnya apa yang kamu minta, sebagai hidangan dari Tuhan Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Ha MimAl-Sajdah [41]:31-33)
 Dalam kehidupan di sinilah malaikat-malaikat turun kepada orang yang beriman untuk memberi mereka kata-kata penghibur dan pelipur lara jika mereka menampakkan keteguhan dan ketabahan di tengah-tengah cobaan dan kemalangan yang berat.
      Agar tetap selamat dari tipu-daya syaitan – bagaimana pun tingginya maqam (martabat) keruhanian seseorang – ia tetap harus menjadikan Nabi Besar Muhammad saw. sebagai panutan dan suri teladan terbaik (QS.3:32; QS.33:22),  yakni jika dalam kenyataannya beliau saw. yang telah mendapat gelar Khaataman-Nabiyyiin (QS.33:41) senantiasa mematuhi semua  aturan syariat yang ditetapkan Allah Swt. dalam Al-Quran -- termasuk tetap  melaksanakan Rukun Iman dan Rukun Islam – maka  apalagi orang-orang yang martabat ruhaninya jauh di bawah maqam (martabat) ruhani beliau saw.
      Pendek kata, selama manusia masih hidup di dunia ini – bagaimana pun tingginya  maqam ruhani yang telah dicapainya  manusia tetap harus ingat akan peringatan Allah Swt. kepada Adam dan istrinya ketika diperintahkan  untuk tinggal di dalam “jannah”.

“Perpaduan” Allah Swt. dengan Nabi Besar Muhammad saw.

       Dalam peristiwa mikraj  yang dialami oleh Nabi Besar Muhammad saw., kedudukan maqam ruhani Nabi Yusuf a.s. ada “di langit ruhani ketiga” – satu tingkat di atas Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dan Nabi Yahya a.s. -- sedangkan Nabi Besar Muhammad saw. saw. jauh melampaui tingkatan ruhani Nabi Ibrahim a.s. yang berada di “langit ruhani  ketujuh”, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ   ﴿۱     وَ النَّجۡمِ   اِذَا ہَوٰی  ۙ﴿۲ مَا ضَلَّ صَاحِبُکُمۡ  وَ مَا غَوٰی ۚ﴿۳   وَ مَا یَنۡطِقُ عَنِ  الۡہَوٰی  ؕ﴿۴  اِنۡ  ہُوَ   اِلَّا  وَحۡیٌ   یُّوۡحٰی  ۙ﴿۵  عَلَّمَہٗ  شَدِیۡدُ الۡقُوٰی  ۙ﴿۶  ذُوۡ مِرَّۃٍ ؕ  فَاسۡتَوٰی  ۙ﴿۷  وَ ہُوَ  بِالۡاُفُقِ الۡاَعۡلٰی ؕ﴿۸   ثُمَّ  دَنَا فَتَدَلّٰی ۙ﴿۹  فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ  اَوۡ اَدۡنٰی  ۚ﴿۱۰  فَاَوۡحٰۤی  اِلٰی عَبۡدِہٖ  مَاۤ  اَوۡحٰی  ﴿ؕ۱۱ مَا کَذَبَ الۡفُؤَادُ  مَا  رَاٰی  ﴿۱۲  اَفَتُمٰرُوۡنَہٗ  عَلٰی مَا یَرٰی  ﴿۱۳ وَ لَقَدۡ رَاٰہُ  نَزۡلَۃً   اُخۡرٰی  ﴿ۙ۱۴ عِنۡدَ سِدۡرَۃِ  الۡمُنۡتَہٰی ﴿۱۵  عِنۡدَہَا جَنَّۃُ  الۡمَاۡوٰی  ﴿ؕ۱۶ اِذۡ  یَغۡشَی السِّدۡرَۃَ  مَا یَغۡشٰی  ﴿ۙ۱۷﴾مَا زَاغَ الۡبَصَرُ  وَ مَا طَغٰی ﴿۱۸  لَقَدۡ رَاٰی مِنۡ اٰیٰتِ رَبِّہِ  الۡکُبۡرٰی ﴿۱۹
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.  Demi bintang  apabila  jatuh.   Sahabat kamu sekali-kali tidak sesat   dan tidak pula keliru.  Dan ia sekali-kali tidak berkata-kata menuruti keinginannya.   Perkataannya itu tidak lain melainkan wahyu yang diwahyukan.  Tuhan Yang Mahakuat Perkasa   mengajarinya,  Pemilik Kekuatan, lalu  Dia bersemayam  di atas ‘Arasy,  dan Dia mewahyukan Kalam-Nya ketika ia, Rasulullah, berada di   ufuk tertinggi, kemudian ia, Rasulullah, mendekati Allah, lalu Dia kian dekat kepadanya,  Maka jadilah ia, seakan-akan, seutas tali dari dua buah busur,  atau lebih dekat lagi.    Lalu Dia mewahyukan kepada hamba-Nya apa yang telah Dia wahyukan.  Hati Rasulullah sekali-kali tidak berdusta apa yang dia lihat.  Maka apakah kamu membantahnya mengenai apa yang telah dia lihat?   Dan  sungguh  dia benar-benar melihat-Nya kedua kali,  dekat pohon Sidrah tertinggi, yang di dekatnya ada surga, tempat tinggal.Ketika pohon Sidrah diselubungi oleh sesuatu yang menyelubungi, penglihatannya sekali-kali tidak menyimpang dan tidak pula melantur.   Sungguh  ia benar-benar melihat Tanda paling besar dari Tanda-tanda Tuhan-Nya. (Al-Najm [53]:1-19).
        Pendek kata,  kedekatan ruhani  Nabi Yusuf a.s. kepada Allah Swt. digambarkan  dalam ucapan raja Mesir, firman-Nya:
 وَ قَالَ الۡمَلِکُ ائۡتُوۡنِیۡ بِہٖۤ  اَسۡتَخۡلِصۡہُ لِنَفۡسِیۡ ۚ فَلَمَّا  کَلَّمَہٗ  قَالَ  اِنَّکَ الۡیَوۡمَ  لَدَیۡنَا مَکِیۡنٌ  اَمِیۡنٌ ﴿۵۵
Dan raja itu berkata: “Bawalah dia kepadaku, supaya aku memilih dia untuk tugas-tugas pribadiku.” Maka tatkala  ia (Yusuf) berbicara dengannya ia (raja)  berkata:  Sesungguhnya engkau, Yusuf,  hari ini seorang yang berkedudukan tinggi di sisi kami lagi terpercaya.”  (Yusuf [12]:55).
       Mengenai   maqam (derajat) mulia orang-orang bertakwa  di sisi Allah Swt. Dia berfirman:
اِنَّ الۡمُتَّقِیۡنَ فِیۡ جَنّٰتٍ وَّ نَہَرٍ ﴿ۙ۵۵   فِیۡ مَقۡعَدِ صِدۡقٍ عِنۡدَ مَلِیۡکٍ مُّقۡتَدِرٍ ﴿٪۵۶
Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam kebun-kebun dan sungai-sungai, dalam tempat tinggal yang   mulia di sisi Raja Yang Maha Kuasa. (Al-Qamar [54]:55-56).
 Nahar, di samping arti yang diberikan dalam teks – yakni “sungai-sungai” -- berarti pula: kemewahan, cahaya (Aqrab-al-Mawarid).

Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar