بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
HUBUNGAN NABI YUSUF A.S.
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
Bagian XIV
Tentang
Tentang
"Duel Makar &
Perubahan Rencana Membunuh Nabi Yusuf a.s.
Oleh
Ki Langlang
Buana Kusuma
اقۡتُلُوۡا
یُوۡسُفَ اَوِ اطۡرَحُوۡہُ اَرۡضًا
یَّخۡلُ لَکُمۡ وَجۡہُ اَبِیۡکُمۡ وَ
تَکُوۡنُوۡا مِنۡۢ بَعۡدِہٖ قَوۡمًا
صٰلِحِیۡنَ ﴿۹﴾ قَالَ قَآئِلٌ مِّنۡہُمۡ لَا تَقۡتُلُوۡا یُوۡسُفَ
وَ اَلۡقُوۡہُ فِیۡ غَیٰبَتِ الۡجُبِّ یَلۡتَقِطۡہُ بَعۡضُ السَّیَّارَۃِ اِنۡ
کُنۡتُمۡ فٰعِلِیۡنَ ﴿۱۰﴾ قَالُوۡا یٰۤاَبَانَا
مَا لَکَ لَا تَاۡمَنَّا عَلٰی یُوۡسُفَ
وَ اِنَّا لَہٗ
لَنٰصِحُوۡنَ ﴿۱۱﴾ اَرۡسِلۡہُ
مَعَنَا غَدًا یَّرۡتَعۡ وَ یَلۡعَبۡ وَ
اِنَّا لَہٗ لَحٰفِظُوۡنَ ﴿۱۲﴾
Seorang pembicara dari antara mereka berkata: “Janganlah kamu membunuh Yusuf, tetapi lemparkanlah
dia ke dasar sumur yang dalam maka
seorang musafir akan memungutnya, seandainya kamu mau berbuat sesuatu.” Mereka berkata: “Wahai ayah kami, mengapa
engkau tidak percaya kepada kami mengenai Yusuf, padahal sesungguhnya kami benar-benar berkemauan
baik terhadapnya? “Kirimlah dia esok hari beserta kami, supaya dia
bersenang-senang dan bermain-main, dan sesungguhnya kami benar-benar akan
menjaganya.” (Yusuf [12]:11-13)
Dalam Bab
sebelumnya telah dijelaskan mengenai kedengkian saudara-saudara Nabi Yusuf a.s.
terhadap Nabi Yusuf a.s. -- yang pada
hakikatnya menggambarkan pengulangan kedengkian
Iblis terhadap Adam yang telah dijadikan Khalifah oleh Allah
Swt. -- karena diri mereka mengganggap lebih patut dicintai daripada Nabi
Yusuf a.s. dan adik kandung Nabi Yusuf a.s., Benyamin. Demikian pula kedengkian Iblis dalam Kisah Monumental "Adam - Malaikat - Iblis" dan kedengkian saudara-saudara tua
Nabi Yusuf a.s. tersebut terulang lagi pada di zaman Nabi Besar Muhammad saw., dengan para pemeran yang berbeda.
Mengenai
bagaimana cara yang saudara-saudara tua Nabi Yusuf a.s. lakukan untuk melaksanakan kedengkian
mereka terhadap Nabi Yusuf a.s. tersebut, selanjutnya Allah Swt. berfirman:
یُوۡسُفَ
وَ اَلۡقُوۡہُ فِیۡ غَیٰبَتِ الۡجُبِّ یَلۡتَقِطۡہُ بَعۡضُ السَّیَّارَۃِ اِنۡ
کُنۡتُمۡ فٰعِلِیۡنَ ﴿۱۰﴾ قَالُوۡا یٰۤاَبَانَا
مَا لَکَ لَا تَاۡمَنَّا عَلٰی یُوۡسُفَ
وَ اِنَّا لَہٗ
لَنٰصِحُوۡنَ ﴿۱۱﴾ اَرۡسِلۡہُ
مَعَنَا غَدًا یَّرۡتَعۡ وَ یَلۡعَبۡ وَ
اِنَّا لَہٗ لَحٰفِظُوۡنَ ﴿۱۲﴾
Seorang pembicara dari antara mereka berkata: “Janganlah kamu membunuh Yusuf, tetapi lemparkanlah
dia ke dasar sumur yang dalam maka seorang
musafir akan memungutnya, seandainya kamu mau berbuat sesuatu.” Mereka berkata: “Wahai ayah kami, mengapa
engkau tidak percaya kepada kami mengenai Yusuf, padahal sesungguhnya kami benar-benar berkemauan
baik terhadapnya? Kirimlah dia esok hari beserta kami, supaya dia
bersenang-senang dan bermain-main, dan sesungguhnya kami benar-benar akan
menjaganya.” (Yusuf [12]:11-13).
Kalimat “Seorang pembicara dari antara mereka... “ merujuk kepada
Ruben (Kejadian 37:22), yaitu anak sulung Nabi Ya’qub a.s. dari istrinya
yang bernama Lea. Adik-adik Ruben seibu adalah: Simeon, Lewi, dan Yehuda. (Kejadian
24:31-35). Atas permintaan
saudara-saudara tua Nabi Yusuf a.s. tersebut Nabi Ya’qub a.s. menjawab,
firman-Nya:
قَالَ
اِنِّیۡ لَیَحۡزُنُنِیۡۤ اَنۡ تَذۡہَبُوۡا
بِہٖ وَ اَخَافُ اَنۡ یَّاۡکُلَہُ الذِّئۡبُ وَ اَنۡتُمۡ عَنۡہُ غٰفِلُوۡنَ ﴿۱۴﴾ قَالُوۡا لَئِنۡ
اَکَلَہُ الذِّئۡبُ وَ نَحۡنُ
عُصۡبَۃٌ اِنَّاۤ اِذًا
لَّخٰسِرُوۡنَ ﴿۱۵﴾
Ia, Yaqub, berkata:
“Sesungguhnya menyedihkanku kalau kamu membawanya, dan aku khawatir
serigala akan memakannya sedangkan kamu lengah terhadapnya.”
Mereka berkata: “Jika dia
benar-benar dimakan serigala,
padahal kami satu golongan yang kuat, sesungguhnya jika demikian kami
benar-benar orang-orang yang rugi.” (Yusuf
[12]:14-15).
Dari ayat ini nampak bahwa Nabi Ya’qub a.s.
agaknya telah diberitahu oleh Allah Swt. secara sambil lalu tentang maksud-maksud
jahat saudara-saudara Nabi Yusuf a.s. untuk membunuh beliau. Itulah sebabnya
Nabi Ya’qub a.s. memakai
kata-kata sama seperti yang mereka pergunakan kemudian, sebagai alasan untuk
meringankan kejahatan mereka yang mengerikan itu. Dengan menyebutkan "serigala" sebagai pemangsa yang dikhawatirkan ooeh Nabi Ya'qub a.s. akan memangsa Nabi Yusuf a.s. terkandung "sindiran" halus terhadap saudara-saudara tua Nabi Yusuf a.s. terhadap maksud-buruk mereka kepada Nabi Yusuf a.s..
Demikian pula jaminan kepercayaan yang mereka
kemukakan kepada Nabi Ya’qub a.s. – “padahal kami satu golongan yang kuat”
– walau pun sekedar berupa alasan
agar ayah mereka, Nabi Ya’qub a.s., mau melepaskan Nabi Yusuf a.s. bersama
mereka, hal tersebut memiliki persamaan dengan tipu-daya
syaitan yang dilakukan terhadap Adam
a.s. dan istrinya guna meyakinkan keduanya agar mempercayai
apa yang dikatakan syaitan kepada
mereka berkenaan peringatan Allah Swt. agar keduanya tidak mendekati “pohon
terlarang”, firman-Nya:
وَ
یٰۤاٰدَمُ اسۡکُنۡ اَنۡتَ وَ زَوۡجُکَ
الۡجَنَّۃَ فَکُلَا مِنۡ حَیۡثُ شِئۡتُمَا وَ لَا تَقۡرَبَا ہٰذِہِ الشَّجَرَۃَ فَتَکُوۡنَا مِنَ الظّٰلِمِیۡنَ ﴿۱۹﴾ فَوَسۡوَسَ لَہُمَا
الشَّیۡطٰنُ لِیُبۡدِیَ لَہُمَا مَا وٗرِیَ عَنۡہُمَا مِنۡ سَوۡاٰتِہِمَا وَ قَالَ
مَا نَہٰکُمَا رَبُّکُمَا عَنۡ ہٰذِہِ الشَّجَرَۃِ اِلَّاۤ اَنۡ
تَکُوۡنَا مَلَکَیۡنِ اَوۡ تَکُوۡنَا مِنَ
الۡخٰلِدِیۡنَ ﴿۲۰﴾ وَ قَاسَمَہُمَاۤ
اِنِّیۡ لَکُمَا لَمِنَ النّٰصِحِیۡنَ ﴿ۙ۲۱﴾
“Dan hai Adam, tinggallah engkau dan
istri engkau di dalam jannah (kebun) ini, lalu makanlah dan
minumlah dari mana saja kamu berdua sukai, tetapi janganlah
kamu berdua mendekati pohon ini, karena kamu berdua akan termasuk
orang-orang yang zalim. Lalu syaitan membisikkan nasihat
jahat kepada keduanya itu supaya ia dapat menampakkan kepada keduanya
itu apa yang tersembunyi dari keduanya itu aurat mereka, dan ia berkata: “Tuhan
kamu berdua sekali-kali tidak melarang
kamu berdua dari pohon ini melainkan agar kamu berdua jangan menjadi malaikat
atau menjadi di antara orang-orang yang hidup kekal.” Dan ia bersumpah kepada keduanya itu:
“Sesungguhnya aku benar-benar termasuk orang yang memberi nasihat yang
tulus bagi kamu berdua.” (Al-‘Araaf [7]:20-22).
Perlu ditegaskan lagi, bahwa mengapa akhirnya Nabi Ya’qub a.s. melepaskan Nabi
Yusuf a.s. untuk pergi bersama dengan kakak-kakaknya, hal itu bukan karena beliau tertipu oleh janji
perlindungan yang dikatakan oleh
mereka, melainkan karena Nabi Ya’qub a.s. menyadari bahwa takdir Ilahi
mengenai beliau akan hijrah ke Mesir
bersama anak-keturunan beliau -- sebagaimana yang telah diberitahukan Allah
Swt. mengenai hal itu kepada Nabi Ibrahim a.s. sebelumnya -- akan segera terjadi.
Namun walau pun demikian, sebagaimana umumnya manusia tentu Nabi Ya’qub a.s. merasa khawatir juga
mengenai kepergian Nabi Yusuf a.s. bersama kakak-kakaknya, dan kekhawatiran itulah
yang beliau kemukakan berupa peringatan
kepada mereka:
قَالَ اِنِّیۡ لَیَحۡزُنُنِیۡۤ
اَنۡ تَذۡہَبُوۡا بِہٖ وَ اَخَافُ اَنۡ یَّاۡکُلَہُ الذِّئۡبُ وَ اَنۡتُمۡ
عَنۡہُ غٰفِلُوۡنَ ﴿۱۴﴾
Ia,
Yaqub, berkata: “Sesungguhnya menyedihkanku kalau kamu
membawanya, dan aku khawatir serigala akan memakannya sedangkan
kamu lengah terhadapnya.” (Yusuf [12]:14).
Penglihatan Ruhani Nabi Ibrahim a.s. Mengenai Bani Israil
Sebagaimana
telah dikemukakan sebelumnya, bahwa alasan
mengapa Nabi Ya’qub a.s. tidak menolak secara tegas
permintaan kakak-kakak Nabi Yusuf a.s., mungkin karena beliau ingat akan takdir
Ilahi yang akan harus dijalani oleh beliau
dan anak-cucu beliau, yakni mereka akibat suatu peristiwa akan
hijrah dari Kanaan ke Mesir, sebagaimana sebelumnya
Nabi Ibrahim a.s. bersama istrinya, Sarah, telah hijrah sementara waktu
ke Mesir karena di Kanaan terjadi
bencana kelaparan hebat (Kejadian 12:10-20). Berikut
kesaksian Bible mengenai hal itu:
Menjelang
matahari terbenam tertidurlah Abram dengan nyenyak. Lalu turunlah meliputinya
gelap gulita yang mengerikan. Firman Tuhan kepada Abram: “Ketahuilah dengan
sesungguhnya bahwa keturunanmu akan menjadi orang asing dalam suatu negeri
yang bukan kepunyaan mereka, dan bahwa mereka akan diperbudak dan dianiaya.
Tetapi bangsa yang akan memperbudak mereka akan Kuhukum, dan sesudah itu
mereka akan keluar dengan membawa harta benda yang banyak. Tetapi engkau
akan pergi kepada nenek moyangmu dengan sejahtera; engkau akan dikuburkan pada
waktu telah putih rambutmu. Tetapi keturunan yang keempat akan kembali ke
sini, sebab sebelum itu kedurjanaan orang Amori belum genap.” (Kejadian 15:12-16).
Kembali kepada firman Allah Swt. di awal
Bab ini mengenai rencana buruk yang dirancang oleh kakak-kakak Nabi Yusuf a.s.,
firman-Nya:
اقۡتُلُوۡا
یُوۡسُفَ اَوِ اطۡرَحُوۡہُ اَرۡضًا
یَّخۡلُ لَکُمۡ وَجۡہُ اَبِیۡکُمۡ وَ
تَکُوۡنُوۡا مِنۡۢ بَعۡدِہٖ قَوۡمًا
صٰلِحِیۡنَ ﴿۹﴾ قَالَ قَآئِلٌ مِّنۡہُمۡ لَا تَقۡتُلُوۡا یُوۡسُفَ
وَ اَلۡقُوۡہُ فِیۡ غَیٰبَتِ الۡجُبِّ یَلۡتَقِطۡہُ بَعۡضُ السَّیَّارَۃِ اِنۡ
کُنۡتُمۡ فٰعِلِیۡنَ ﴿۱۰﴾ قَالُوۡا یٰۤاَبَانَا
مَا لَکَ لَا تَاۡمَنَّا عَلٰی یُوۡسُفَ
وَ اِنَّا لَہٗ
لَنٰصِحُوۡنَ ﴿۱۱﴾ اَرۡسِلۡہُ
مَعَنَا غَدًا یَّرۡتَعۡ وَ یَلۡعَبۡ وَ
اِنَّا لَہٗ لَحٰفِظُوۡنَ ﴿۱۲﴾
Seorang pembicara dari antara mereka berkata: “Janganlah kamu membunuh Yusuf, tetapi lemparkanlah
dia ke dasar sumur yang dalam maka seorang
musafir akan memungutnya, seandainya kamu mau berbuat sesuatu.” Mereka berkata: “Wahai ayah kami, mengapa engkau
tidak percaya kepada kami mengenai Yusuf, padahal sesungguhnya kami benar-benar berkemauan
baik terhadapnya? Kirimlah
dia esok hari beserta kami, supaya dia bersenang-senang dan bermain-main,
dan sesungguhnya kami benar-benar akan menjaganya.” (Yusuf [12]:11-13).
Dari firman
Allah Swt. tersebut nampak bahwa “duel makar” antara makar buruk
yang dirancang oleh saudara-saudara tua Nabi Yusuf a.s. dengan makar
tandingan Allah Swt. sudah dimulai,
yakni rencana semula untuk membunuh Nabi Yusuf a.s. telah berubah dengan upaya menjauhkan
Nabi Yusuf a.s. dari ayah mereka, Nabi Ya’qub a.s., dengan harapan perhatian
Nabi Ya’qub a.s. terhadap mereka semakin bertambah, sebagaimana yang dikemukakan dalam firman Allah Swt. sebelumnya:
لَقَدۡ کَانَ فِیۡ یُوۡسُفَ وَ اِخۡوَتِہٖۤ اٰیٰتٌ لِّلسَّآئِلِیۡنَ ﴿۸﴾
اِذۡ قَالُوۡا لَیُوۡسُفُ وَ اَخُوۡہُ اَحَبُّ اِلٰۤی اَبِیۡنَا مِنَّا وَ نَحۡنُ
عُصۡبَۃٌ ؕ اِنَّ اَبَانَا لَفِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنِۣ
ۚ﴿ۖ۹﴾ اقۡتُلُوۡا یُوۡسُفَ اَوِ اطۡرَحُوۡہُ اَرۡضًا یَّخۡلُ لَکُمۡ وَجۡہُ اَبِیۡکُمۡ وَ تَکُوۡنُوۡا مِنۡۢ بَعۡدِہٖ
قَوۡمًا صٰلِحِیۡنَ ﴿۱۰﴾
Sungguh pada peristiwa Yusuf dan saudara-saudaranya
benar-benar ada Tanda-tanda bagi orang-orang yang mencari kebenaran. Ketika
mereka berkata: “Sesungguhnya Yusuf dan saudaranya lebih dicintai oleh ayah
kita daripada kita, padahal kita satu golongan yang kuat, sesungguhnya ayah kita ada dalam
kekeliruan yang nyata. “Karena itu bunuhlah Yusuf atau buanglah dia ke negeri lain, supaya
perhatian ayahmu kepada kamu saja, dan sesudah itu kamu taubat dan
menjadi orang-orang yang shalih.” (Yusuf
[12], 8-10).
(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam
Farid
Tidak ada komentar:
Posting Komentar