Senin, 02 Januari 2012

Nabi Besar Muhammad Saw. & Kabar Gembira dalam Surah Al-Dhuhaa


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ




HUBUNGAN  NABI YUSUF A.S. 
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
  
Bagian   XI

Tentang

     Nabi Besar Muhammad saw.  & Kabar Gembira 
Dalam  Surah Al-Dhuhaa 
  
 Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿۱  وَ الضُّحٰی ۙ﴿۲   وَ الَّیۡلِ  اِذَا سَجٰی ۙ﴿۳   مَا وَدَّعَکَ رَبُّکَ وَ مَا قَلٰی ؕ﴿۴   وَ  لَلۡاٰخِرَۃُ  خَیۡرٌ لَّکَ مِنَ   لۡاُوۡلٰی ؕ﴿۴  وَ  لَسَوۡفَ یُعۡطِیۡکَ رَبُّکَ فَتَرۡضٰی ؕ﴿۵   اَلَمۡ  یَجِدۡکَ یَتِیۡمًا فَاٰوٰی ۪﴿۶  وَ  وَجَدَکَ ضَآلًّا فَہَدٰی ۪﴿۷   وَ وَجَدَکَ عَآئِلًا فَاَغۡنٰی ؕ﴿۸  فَاَمَّا    لۡیَتِیۡمَ  فَلَا تَقۡہَرۡ ؕ﴿۹   وَ اَمَّا السَّآئِلَ  فَلَا تَنۡہَرۡ ﴿ؕ۱۰   وَ اَمَّا بِنِعۡمَۃِ  رَبِّکَ  فَحَدِّثۡ ﴿٪۱۱

Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.  Demi Dhuhaa (terangnya sinar pagi ketika sedang naik),  dan demi malam apabila kegelapannya menyebar. Sekali-kali Tuhan engkau tidak meninggalkan engkau  dan tidak pula Dia murka atas engkau. Dan sesungguhnya keadaan  kemudian lebih baik bagi engkau dari-pada keadaan permulaan.   Dan Tuhan engkau   segera akan  memberikan kepada engkau hingga engkau menjadi puas.  Tidakkah Dia  mendapati engkau yatim lalu Dia memberikan per-lindungan?  Dan Dia mendapati engkau larut dalam kecintaan kepada kaum engkau lalu Dia memberi engkau petunjuk. Dan Dia mendapati engkau ber-kekurangan lalu Dia memperkaya engkau.  Karena itu terhadap anak yatim maka janganlah engkau berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang meminta-minta  janganlah engkau meng-hardik.  Dan terhadap nikmat Tuhan engkau hendaknya menyatakannya (Al-Dhuhaa [93 ]:1-12).

 Dalam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan firman Allah Swt. dalam Surah Al-Kautsar, yakni:
 بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿۱  اِنَّاۤ  اَعۡطَیۡنٰکَ  الۡکَوۡثَرَ ؕ﴿۲   فَصَلِّ  لِرَبِّکَ وَ انۡحَرۡ ؕ﴿۳  اِنَّ شَانِئَکَ ہُوَ الۡاَبۡتَرُ ٪﴿۵
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Sesungguhnya Kami  telah  menganugerahkan kepada engkau berlimpah-limpah kebaikan.  Maka shalatlah  bagi Tuhan eng-kau dan.   Sesungguhnya musuh engkau, dialah yang  tanpa keturunan (Al-Kautsar [108]:1-5).
Telah dijelaskan pula bahwa kautsar antara lain berarti berlimpah-limpah kebaikan. Kautsar berarti pula  orang yang mempunyai banyak kebaikan dan orang yang banyak dan sering memberi (Al-Mufradat Imam Raghib dan Tafsir Ibnu Jarir). Surah ini mengemukakan Nabi Besar Muhammad saw. sebagai pribadi yang telah dianugerahi Allah Swt.  kautsar yakni kebaikan berlimpah-limpah.

Sempurnanya Janji Allah Swt.  dalam Surah Al-Kautsar

Surah ini diturunkan kepada Nabi Besar Muhammad saw. pada saat ketika beliau saw.  tidak memiliki apapun dan tidak punya sesuatu untuk diberikan. Ketika itu beliau sangat miskin dan pengakuan beliau saw. sebagai nabi dipandang dengan hina dan sebagai sesuatu yang tidak perlu mendapat perhatian sungguh-sungguh.
Bertahun-tahun lamanya sesudah Surah ini turun, Nabi Besar Muhammad saw. masih terus juga diperolok-olokkan dan ditertawakan, dilawan serta ditindas, dan pada akhirnya beliau terpaksa meninggalkan Makkah, kota kelahiran beliau saw., sebagai seorang pelarian, dan telah dijanjikan hadiah bagi siapa yang berhasil menangkap beliau dalam keadaan hidup atau mati.
Selama beberapa tahun di Madinah pun jiwa Nabi Besar Muhammad saw. dalam keadaan bahaya dan musuh dengan tidak sabar menanti-nanti peluang untuk menyaksikan kesudahan Islam yang tragis (menyedihkan) dan cepat datangnya, yang menurut ukuran otak manusia memang bakal demikian terjadinya. Kemudian menjelang akhir hayat beliau saw. kebaikan berlimpah-limpah dalam segala corak dan bentuk turun kepada beliau  saw. bagaikan air hujan, dan janji yang terkandung dalam Surah Al-Kautsar ini  telah menjadi sempurna secara harfiah.
“Pelarian” dari kota Makkah itu telah menjadi orang yang menentukan nasib seluruh negeri Arab, dan sang putra padang pasir yang tidak dapat membaca dan menulis itu terbukti menjadi Guru Abadi seluruh umat manusia. Allah Swt. telah memberi beliau saw. sebuah Kitab yang merupakan petunjuk yang tidak mungkin gagal, untuk seluruh umat manusia dan untuk sepanjang masa; dan dengan meresapkan sifat-sifat Tuhan ke dalam diri beliau saw., Nabi Besar Muhammad saw. telah mencapai martabat tertinggi, yakni kedekatan kepada Khaliq-nya, yang mungkin dapat dicapai oleh seorang manusia.
 Nabi Besar Muhammad saw. dikaruniai sahabat-sahabat yang kesetiakawanan serta pengabdiannya tidak pernah ada tara bandingannya; dan ketika panggilan Al-Khaliq datang kepada beliau saw. agar meninggalkan dunia yang fana ini, beliau merasa puas telah melaksanakan tugas suci yang diserahkan kepada beliau dengan sepenuhnya dan sesempurna-sempurnanya. Pendek kata, segala macam kebaikan, baik bersifat kebendaan maupun moral, telah dilimpahkan kepada Nabi Besar Muhammad saw.  dalam ukuran yang penuh. Oleh sebab itu beliau saw. itulah yang paling pantas disebut “Nabi paling berhasil dari antara sekalian nabi” (Encyclopaedia   Britannica).
  Adalah sangat bermakna bahwa dalam ayat 5 Surah ini musuh-musuh Nabi Besar Muhammad saw.  telah disebut dengan kata-kata tegas bahwa mereka itu abtar (tidak mempunyai anak laki-laki), sedangkan menurut kenyataan sejarah sendiri, semua putra beliau saw. --  baik yang dilahirkan sebelum maupun sesudah ayat ini turun -- telah wafat dan beliau saw. tidak meninggalkan seorang pun putra. Hal itu menunjukkan bahwa kata abtar di sini hanya berarti: “orang yang tidak mempunyai keturunan ruhani (putra-putra ruhani) dan bukan putra-putra seperti biasa dikatakan orang.”
Pada hakikatnya, hal ini merupakan rencana Allah Sendiri bahwa Nabi Besar Muhammad saw.  tidak akan meninggalkan anak laki-laki seorang pun, oleh karena beliau saw. telah ditakdirkan menjadi ayah ruhani (QS.33:7) berjuta-juta putra ruhani, sepanjang masa sampai akhir zaman – putra-putra yang akan jauh lebih setia, patuh taat dan penuh cinta daripada putra-putra jasmani ayah mana pun.
Jadi, bukan Nabi Besar Muhammad saw.   melainkan musuh-musuh beliau saw. itulah yang mati tanpa berketurunan (abtar), sebab dengan masuknya anak-anak mereka ke dalam pangkuan Islam mereka itu telah menjadi putra-putra ruhani Nabi Besar Muhammad saw. – salah satunya adalah Ikrimah bin Abu Jahal  -- dan mereka itu merasa malu dan merasa hina, bila asal-usul mereka itu dikaitkan kepada ayah yang melahirkan mereka sendiri.

Kabar Gembira dalam Surah Al-Dhuhaa

 Dengan demikian sempurnalah firman Allah Swt. berikut ini mengenai Nabi Besar Muhammad saw.:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿۱  وَ الضُّحٰی ۙ﴿۲   وَ الَّیۡلِ  اِذَا سَجٰی ۙ﴿۳   مَا وَدَّعَکَ رَبُّکَ وَ مَا قَلٰی ؕ﴿۴   وَ  لَلۡاٰخِرَۃُ  خَیۡرٌ لَّکَ مِنَ   لۡاُوۡلٰی ؕ﴿۴  وَ  لَسَوۡفَ یُعۡطِیۡکَ رَبُّکَ فَتَرۡضٰی ؕ﴿۵   اَلَمۡ  یَجِدۡکَ یَتِیۡمًا فَاٰوٰی ۪﴿۶  وَ  وَجَدَکَ ضَآلًّا فَہَدٰی ۪﴿۷   وَ وَجَدَکَ عَآئِلًا فَاَغۡنٰی ؕ﴿۸  فَاَمَّا    لۡیَتِیۡمَ  فَلَا تَقۡہَرۡ ؕ﴿۹   وَ اَمَّا السَّآئِلَ  فَلَا تَنۡہَرۡ ﴿ؕ۱۰   وَ اَمَّا بِنِعۡمَۃِ  رَبِّکَ  فَحَدِّثۡ ﴿٪۱۱
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.  Demi Dhuhaa (terangnya sinar pagi ketika sedang naik),  dan demi malam apabila kegelapannya menyebar.  Tuhan engkau sekali-kali tidak meninggalkan engkau  dan tidak pula Dia murka atas engkau.  Dan sesungguhnya keadaan  kemudian lebih baik bagi engkau daripada keadaan permulaan. Dan Tuhan engkau   segera akan  memberikan kepada engkau hingga engkau menjadi puas.  Tidakkah Dia  mendapati engkau yatim lalu Dia memberikan perlindungan?  Dan Dia mendapati engkau larut dalam kecintaan kepada kaum engkau lalu Dia memberi engkau petunjuk. Dan Dia mendapati engkau berkekurangan lalu Dia memperkaya engkau.  Karena itu terhadap anak yatim maka janganlah engkau berlaku sewenang-wenang, dan terhadap orang yang meminta-minta maka  janganlah engkau menghardik, dan terhadap nikmat Tuhan engkau hendaknya menyebut-nyebutnya  dengan rasa syukur (Al-Dhuhaa [93 ]:1-12).
 Al-Dhuhaa  (terangnya sinar pagi ketika sedang naik) dapat berarti kebangkitan dan kemajuan Islam. Ungkapan ini dapat pula menunjuk kepada waktu “dhuhaa” tertentu, ketika Nabi Besar Muhammad saw.  masuk ke Mekkah memimpin suatu lasykar terdiri dari 10.000 prajurit kudus, dan Ka’bah dibersihkan dari berhala-berhala.
Makna “malam” dapat berarti masa-panjang kemunduran Islam. “Malam” itu dapat menunjuk kepada malam tertentu, ketika sesudah kegelapan malam tiba Nabi Besar Muhammad saw.  keluar dari rumah beliau saw. meloloskan diri dari para pengepungan rumah beliau saw. (QS.8:31) dan beliau saw. mencari perlindungan di Gua Tsaur  bersama-sama   Abu Bakar Shiddiq r.a. (QS.9:40).
Pada hakikatnya “malam” ialah, ketika Nabi Besar Muhammad saw.  meninggalkan Makkah dan hijrah ke Madinah, sedangkan “siang”  yaitu ketika Makkah jatuh; kedua-duanya (malam dan siang) itu, melukiskan berbagai keadaan turun-naiknya seluruh perjuangan Nabi Besar Muhammad saw..
  Tiap siang dan malam Nabi Besar Muhammad saw., yakni  kemenangan-kemenangan besar beliau saw. dan masa-masa kemunduran yang bersifat sementara, kegembiraan dan kesedihan beliau saw., ibadah-ibadah beliau saw. di waktu malam dan kegiatan beliau saw. pada siang hari, kesemuanya menjadi saksi bahwa Allah ada beserta beliau: “Tuhan engkau sekali-kali tidak meninggalkan engkau  dan tidak pula Dia murka atas engkau.”  Sedangkan makna ayat “Dan sesungguhnya keadaan  kemudian lebih baik bagi engkau daripada keadaan permulaan bahwa tiap saat di dalam kehidupan Nabi Besar Muhammad saw.  adalah lebih baik daripada saat sebelumnya
  Kabar gembira berikutnya adalah “Dan Tuhan engkau  segera akan  memberikan kepada engkau hingga engkau menjadi puas.  Tidakkah Dia  mendapati engkau yatim lalu Dia memberikan perlindungan?“  Nabi Besar Muhammad saw.   adalah seorang anak yatim, baik menurut arti kata sebenarnya maupun dalam arti kiasan. Keadaan yatim-piatu beliau termasuk macam yatim-piatu yang luar biasa. Ayahanda wafat ketika beliau saw. belum lahir, dan ibunda wafat ketika beliau baru berusia 6 tahun, dan kakek beliau saw., Abdul Muththalib, yang menjadi wali beliau saw. sesudah ibunda wafat telah wafat pula 2 tahun kemudian dan meninggalkan beliau saw. di bawah asuhan pamanda yang mempunyai mata pencaharian kurang mencukupi,   karena itu Nabi Besar Muhammad saw.  hanya sebentar mengenyam belaian dan kasih sayang orangtua, ketika beliau saw. masih kanak-kanak.
Namun kemudian Nabi Besar Muhammad saw. menerima kecintaan dan kasih sayang dari orang-orang di bawah maupun di atas usia beliau saw. – para sahabat dan teman sebangsa beliau saw., dari para pengikut beliau pada abad-abad kemudian, dalam kadar begitu tinggi, sehingga tidak ada seorang pun yang dilahirkan oleh seorang perempuan pernah menerima kecintaan semacam itu sebelum atau pun kelak kemudian hari.

Berbagai Makna Kata "Dhallaa" Mengenai Nabi Besar Muhammad Saw.

Kata dhaalla  dalam ayat “Dan Dia mendapati engkau larut dalam kecintaan kepada kaum engkau lalu Dia memberi engkau petunjuk“,   berarti:   ia bingung dan tidak mampu melihat arah tujuan; ia sama sekali tenggelam atau hilang dalam kecintaan, atau berkelana mencari sesuatu dan gigih dalam pencariannya (Lexicon Lane). Mengingat berbagai arti kata dhaalla tersebut ayat ini dapat ditafsirkan sebagai berikut:
 (1) Nabi Besar Muhammad saw.  berkelana mencari jalan dan sarana untuk mencapai Allah, lalu Dia mewahyukan kepada beliau saw. syariat (Al-Quran) yang membimbing beliau  saw. ke arah tujuan yang didambakan;
(2) Beliau saw.  bingung dan tidak mengetahui betapa cara menemukan jalan yang menjurus ke arah tercapainya apa yang dicari beliau saw. lalu  Allāh membimbing beliau saw. ke jalan itu;
(3) Seluruh wujud beliau saw. telah hilang dalam kecintaan kepada kaum beliau  saw., lalu Allah membekali beliau saw. dengan petunjuk sempurna bagi mereka;
(4) Beliau saw. tersembunyi dari mata dunia dan Allah  menemukan beliau lalu memilih beliau saw.  untuk mengemban tugas membimbing umat manusia sampai kepada-Nya.
Dengan demikian kata dhaala tidak dipakai sebagai celaan – sebagaimana yang umumnya diartikan  “sesat” -- bahkan sebagai pujian terhadap Nabi Besar Muhammad saw.. Kata ini tidak mengena dan tidak pula dapat dikenakan kepada beliau saw. dalam arti “telah tersesat,” sebab menurut ayat Al-Quran lain (QS.53:3) beliau  saw. kebal terhadap kesalahan atau kesesatan. Lebih-lebih 6 ayat terakhir dalam Surah ini menunjukkan suatu urutan tertentu ayat-ayat 7, 8, dan 9 masing-masing mempunyai hubungan erat dan bersesuaian dengan ayat-ayat 10, 11, dan 12.
Dhaalla dalam ayat 8, yang digantikan oleh kata saa’il dalam ayat 11, menjelaskan arti dhaalla, yaitu “orang yang mencari pertolongan Ilahi supaya dibimbing kepada-Nya atau supaya diberi petunjuk.” Ayat ini dapat pula berarti  “Allah mendapatkan diri engkau hilang dalam keasyikan mencari Dia dan membimbing engkau ke hadirat-Nya.”
Ayat-ayat 7, 8, dan 9 membicarakan karunia-karunia Allah Swt.  atas Nabi Besar Muhammad saw.  dan dalam 10, 11, dan 12 beliau saw.  diperintahkan supaya menunjukkan rasa terima kasih (syukur)  beliau saw. dengan jalan melakukan kebajikan serupa terhadap sesama manusia. Perintah ini berlaku sama pula bagi para pengikut beliau.
 Jadi, Nabi Besar Muhammad saw.  mengawali hidup beliau sebagai saw. seorang anak yatim lagi prihatin dan mengakhiri hayat beliau saw. sebagai seorang penguasa tanpa tanding di seluruh negeri Arab, itulah nubuatan berupa kabar gembira dalam Surah Al-Dhuhaa mengenai Nabi Besar Muhammad saw.

(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid

Tidak ada komentar:

Posting Komentar