بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
HUBUNGAN NABI YUSUF A.S.
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
Bagian XI
Tentang
Nabi Besar Muhammad saw. & Kabar Gembira
Dalam Surah Al-Dhuhaa
Dalam Surah Al-Dhuhaa
Oleh
Ki Langlang
Buana Kusuma
Berbagai Makna Kata "Dhallaa" Mengenai Nabi Besar Muhammad Saw.
Kata dhaalla dalam ayat “Dan Dia mendapati engkau larut dalam kecintaan kepada kaum engkau lalu Dia memberi engkau petunjuk“, berarti: ia bingung dan tidak mampu melihat arah tujuan; ia sama sekali tenggelam atau hilang dalam kecintaan, atau berkelana mencari sesuatu dan gigih dalam pencariannya (Lexicon Lane). Mengingat berbagai arti kata dhaalla tersebut ayat ini dapat ditafsirkan sebagai berikut:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ
الرَّحِیۡمِ ﴿۱﴾ وَ الضُّحٰی ۙ﴿۲﴾ وَ الَّیۡلِ
اِذَا سَجٰی ۙ﴿۳﴾ مَا وَدَّعَکَ رَبُّکَ وَ مَا قَلٰی ؕ﴿۴﴾ وَ لَلۡاٰخِرَۃُ
خَیۡرٌ لَّکَ مِنَ لۡاُوۡلٰی ؕ﴿۴﴾ وَ لَسَوۡفَ یُعۡطِیۡکَ رَبُّکَ فَتَرۡضٰی ؕ﴿۵﴾ اَلَمۡ یَجِدۡکَ یَتِیۡمًا فَاٰوٰی ۪﴿۶﴾ وَ وَجَدَکَ ضَآلًّا فَہَدٰی ۪﴿۷﴾ وَ وَجَدَکَ عَآئِلًا
فَاَغۡنٰی ؕ﴿۸﴾ فَاَمَّا لۡیَتِیۡمَ فَلَا تَقۡہَرۡ ؕ﴿۹﴾ وَ اَمَّا السَّآئِلَ فَلَا تَنۡہَرۡ ﴿ؕ۱۰﴾ وَ اَمَّا
بِنِعۡمَۃِ رَبِّکَ فَحَدِّثۡ ﴿٪۱۱﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha
Penyayang. Demi Dhuhaa (terangnya
sinar pagi ketika sedang naik), dan
demi malam apabila kegelapannya menyebar. Sekali-kali Tuhan engkau tidak meninggalkan
engkau dan tidak pula Dia murka atas
engkau. Dan sesungguhnya
keadaan kemudian lebih baik bagi engkau
dari-pada keadaan permulaan. Dan Tuhan engkau segera akan
memberikan kepada engkau hingga engkau menjadi puas. Tidakkah Dia
mendapati engkau yatim lalu Dia memberikan per-lindungan? Dan Dia mendapati engkau larut dalam kecintaan
kepada kaum engkau lalu Dia memberi engkau petunjuk. Dan Dia
mendapati engkau ber-kekurangan lalu Dia memperkaya engkau. Karena itu terhadap anak yatim maka janganlah
engkau berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang meminta-minta janganlah engkau meng-hardik. Dan terhadap nikmat Tuhan engkau hendaknya
menyatakannya (Al-Dhuhaa [93 ]:1-12).
Dalam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan firman Allah
Swt. dalam Surah Al-Kautsar, yakni:
بِسۡمِ اللّٰہِ
الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿۱﴾ اِنَّاۤ
اَعۡطَیۡنٰکَ الۡکَوۡثَرَ ؕ﴿۲﴾ فَصَلِّ لِرَبِّکَ وَ انۡحَرۡ ؕ﴿۳﴾ اِنَّ شَانِئَکَ ہُوَ
الۡاَبۡتَرُ ٪﴿۵﴾
Aku baca dengan
nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Sesungguhnya Kami telah menganugerahkan kepada engkau
berlimpah-limpah kebaikan. Maka shalatlah bagi Tuhan eng-kau dan. Sesungguhnya musuh engkau, dialah yang tanpa keturunan (Al-Kautsar
[108]:1-5).
Telah dijelaskan pula bahwa kautsar
antara lain berarti berlimpah-limpah kebaikan. Kautsar
berarti pula orang yang mempunyai banyak
kebaikan dan orang yang banyak dan sering memberi (Al-Mufradat Imam
Raghib dan Tafsir Ibnu Jarir). Surah ini
mengemukakan Nabi Besar Muhammad saw. sebagai pribadi yang telah
dianugerahi Allah Swt. kautsar yakni
kebaikan berlimpah-limpah.
Sempurnanya
Janji Allah Swt. dalam Surah Al-Kautsar
Surah ini diturunkan kepada Nabi
Besar Muhammad saw. pada saat ketika beliau saw. tidak memiliki apapun dan tidak punya
sesuatu untuk diberikan. Ketika itu beliau sangat miskin dan pengakuan beliau saw.
sebagai nabi dipandang dengan hina dan sebagai sesuatu yang tidak perlu
mendapat perhatian sungguh-sungguh.
Bertahun-tahun lamanya sesudah Surah
ini turun, Nabi Besar Muhammad saw. masih terus juga diperolok-olokkan dan
ditertawakan, dilawan serta ditindas, dan pada akhirnya beliau terpaksa
meninggalkan Makkah, kota kelahiran beliau saw., sebagai seorang pelarian,
dan telah dijanjikan hadiah bagi siapa yang berhasil menangkap beliau dalam
keadaan hidup atau mati.
Selama beberapa tahun di Madinah pun
jiwa Nabi Besar Muhammad saw. dalam keadaan bahaya dan musuh dengan tidak sabar
menanti-nanti peluang untuk menyaksikan kesudahan Islam yang tragis
(menyedihkan) dan cepat datangnya, yang menurut ukuran otak manusia memang
bakal demikian terjadinya. Kemudian menjelang akhir hayat beliau saw. kebaikan
berlimpah-limpah dalam segala corak dan bentuk turun kepada beliau saw. bagaikan air hujan, dan janji yang
terkandung dalam Surah Al-Kautsar ini telah menjadi sempurna secara harfiah.
“Pelarian” dari kota Makkah itu
telah menjadi orang yang menentukan nasib seluruh negeri Arab, dan sang putra
padang pasir yang tidak dapat membaca dan menulis itu terbukti menjadi Guru
Abadi seluruh umat manusia. Allah Swt. telah memberi beliau saw.
sebuah Kitab yang merupakan petunjuk yang tidak mungkin gagal, untuk
seluruh umat manusia dan untuk sepanjang masa; dan dengan meresapkan sifat-sifat
Tuhan ke dalam diri beliau saw., Nabi Besar Muhammad saw. telah mencapai martabat
tertinggi, yakni kedekatan kepada Khaliq-nya, yang mungkin dapat
dicapai oleh seorang manusia.
Nabi Besar Muhammad saw. dikaruniai
sahabat-sahabat yang kesetiakawanan serta pengabdiannya tidak pernah ada tara
bandingannya; dan ketika panggilan Al-Khaliq datang kepada beliau saw. agar
meninggalkan dunia yang fana ini, beliau merasa puas telah melaksanakan tugas
suci yang diserahkan kepada beliau dengan sepenuhnya dan
sesempurna-sempurnanya. Pendek kata, segala macam kebaikan, baik
bersifat kebendaan maupun moral, telah dilimpahkan kepada Nabi
Besar Muhammad saw. dalam
ukuran yang penuh. Oleh sebab itu beliau saw. itulah yang paling pantas disebut
“Nabi paling berhasil dari antara sekalian nabi” (Encyclopaedia Britannica).
Adalah sangat bermakna bahwa dalam ayat 5
Surah ini musuh-musuh Nabi Besar Muhammad saw. telah disebut dengan kata-kata tegas
bahwa mereka itu abtar (tidak mempunyai anak laki-laki),
sedangkan menurut kenyataan sejarah sendiri, semua putra beliau saw. -- baik yang dilahirkan sebelum maupun sesudah
ayat ini turun -- telah wafat dan beliau saw. tidak meninggalkan seorang
pun putra. Hal itu menunjukkan bahwa kata abtar di sini hanya
berarti: “orang yang tidak mempunyai keturunan ruhani (putra-putra
ruhani) dan bukan putra-putra seperti biasa dikatakan orang.”
Pada hakikatnya, hal ini merupakan
rencana Allah Sendiri bahwa Nabi Besar Muhammad saw. tidak akan meninggalkan anak
laki-laki seorang pun, oleh karena beliau saw. telah ditakdirkan menjadi ayah
ruhani (QS.33:7) berjuta-juta putra ruhani, sepanjang masa sampai
akhir zaman – putra-putra yang akan jauh lebih setia, patuh taat dan penuh
cinta daripada putra-putra jasmani ayah mana pun.
Jadi, bukan Nabi
Besar Muhammad saw. melainkan
musuh-musuh beliau saw. itulah yang mati tanpa berketurunan (abtar),
sebab dengan masuknya anak-anak mereka ke dalam pangkuan Islam mereka
itu telah menjadi putra-putra ruhani Nabi Besar Muhammad saw. – salah
satunya adalah Ikrimah bin Abu Jahal -- dan mereka itu merasa malu dan merasa
hina, bila asal-usul mereka itu dikaitkan kepada ayah yang
melahirkan mereka sendiri.
Kabar Gembira dalam Surah Al-Dhuhaa
Dengan demikian sempurnalah firman Allah Swt.
berikut ini mengenai Nabi Besar Muhammad saw.:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ
الرَّحِیۡمِ ﴿۱﴾ وَ الضُّحٰی ۙ﴿۲﴾ وَ الَّیۡلِ
اِذَا سَجٰی ۙ﴿۳﴾ مَا وَدَّعَکَ رَبُّکَ وَ مَا قَلٰی ؕ﴿۴﴾ وَ لَلۡاٰخِرَۃُ
خَیۡرٌ لَّکَ مِنَ لۡاُوۡلٰی ؕ﴿۴﴾ وَ لَسَوۡفَ یُعۡطِیۡکَ رَبُّکَ فَتَرۡضٰی ؕ﴿۵﴾ اَلَمۡ یَجِدۡکَ یَتِیۡمًا فَاٰوٰی ۪﴿۶﴾ وَ وَجَدَکَ ضَآلًّا فَہَدٰی ۪﴿۷﴾ وَ وَجَدَکَ عَآئِلًا
فَاَغۡنٰی ؕ﴿۸﴾ فَاَمَّا لۡیَتِیۡمَ فَلَا تَقۡہَرۡ ؕ﴿۹﴾ وَ اَمَّا السَّآئِلَ فَلَا تَنۡہَرۡ ﴿ؕ۱۰﴾ وَ اَمَّا
بِنِعۡمَۃِ رَبِّکَ فَحَدِّثۡ ﴿٪۱۱﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha
Penyayang. Demi Dhuhaa (terangnya
sinar pagi ketika sedang naik), dan
demi malam apabila kegelapannya menyebar. Tuhan engkau sekali-kali tidak meninggalkan
engkau dan tidak pula Dia murka
atas engkau. Dan sesungguhnya
keadaan kemudian lebih baik bagi engkau
daripada keadaan permulaan. Dan Tuhan engkau segera akan memberikan kepada engkau hingga engkau
menjadi puas. Tidakkah Dia mendapati engkau yatim lalu Dia
memberikan perlindungan? Dan Dia mendapati engkau larut dalam
kecintaan kepada kaum engkau lalu Dia memberi engkau
petunjuk. Dan Dia mendapati engkau berkekurangan lalu Dia
memperkaya engkau. Karena
itu terhadap anak yatim maka janganlah engkau berlaku sewenang-wenang,
dan terhadap orang yang meminta-minta maka janganlah engkau menghardik, dan
terhadap nikmat Tuhan engkau hendaknya menyebut-nyebutnya dengan rasa syukur (Al-Dhuhaa
[93 ]:1-12).
Al-Dhuhaa (terangnya
sinar pagi ketika sedang naik) dapat berarti kebangkitan dan kemajuan Islam.
Ungkapan ini dapat pula menunjuk kepada waktu “dhuhaa” tertentu, ketika Nabi
Besar Muhammad saw. masuk ke
Mekkah memimpin suatu lasykar terdiri dari 10.000 prajurit kudus, dan Ka’bah
dibersihkan dari berhala-berhala.
Makna “malam” dapat berarti masa-panjang kemunduran Islam.
“Malam” itu dapat menunjuk kepada malam tertentu, ketika sesudah kegelapan
malam tiba Nabi Besar Muhammad saw. keluar dari rumah beliau saw. meloloskan
diri dari para pengepungan rumah beliau saw. (QS.8:31) dan beliau saw. mencari
perlindungan di Gua Tsaur bersama-sama Abu Bakar
Shiddiq r.a. (QS.9:40).
Pada hakikatnya “malam” ialah, ketika Nabi Besar Muhammad
saw. meninggalkan Makkah dan
hijrah ke Madinah, sedangkan “siang”
yaitu ketika Makkah jatuh; kedua-duanya (malam dan siang) itu,
melukiskan berbagai keadaan turun-naiknya seluruh perjuangan Nabi Besar
Muhammad saw..
Tiap siang dan malam Nabi Besar
Muhammad saw., yakni kemenangan-kemenangan besar beliau saw. dan
masa-masa kemunduran yang bersifat sementara, kegembiraan dan kesedihan beliau
saw., ibadah-ibadah beliau saw. di waktu malam dan kegiatan beliau saw. pada
siang hari, kesemuanya menjadi saksi bahwa Allah ada beserta
beliau: “Tuhan engkau sekali-kali tidak meninggalkan engkau dan tidak pula Dia murka atas engkau.”
Sedangkan makna
ayat “Dan sesungguhnya keadaan
kemudian lebih baik bagi engkau daripada keadaan permulaan”
bahwa tiap saat di dalam kehidupan Nabi Besar Muhammad saw. adalah lebih baik daripada saat
sebelumnya
Kabar gembira berikutnya adalah “Dan
Tuhan engkau segera akan memberikan kepada engkau hingga engkau
menjadi puas. Tidakkah Dia mendapati engkau yatim lalu Dia
memberikan perlindungan?“
Nabi Besar Muhammad saw. adalah
seorang anak yatim, baik menurut arti kata sebenarnya maupun dalam arti
kiasan. Keadaan yatim-piatu beliau termasuk macam yatim-piatu yang luar biasa.
Ayahanda wafat ketika beliau saw. belum lahir, dan ibunda wafat ketika beliau
baru berusia 6 tahun, dan kakek beliau saw., Abdul Muththalib, yang menjadi
wali beliau saw. sesudah ibunda wafat telah wafat pula 2 tahun kemudian dan
meninggalkan beliau saw. di bawah asuhan pamanda yang mempunyai mata
pencaharian kurang mencukupi, karena
itu Nabi Besar Muhammad saw. hanya
sebentar mengenyam belaian dan kasih sayang orangtua, ketika
beliau saw. masih kanak-kanak.
Namun kemudian Nabi Besar Muhammad saw. menerima kecintaan
dan kasih sayang dari orang-orang di bawah maupun di atas usia beliau saw.
– para sahabat dan teman sebangsa beliau saw., dari para pengikut beliau pada
abad-abad kemudian, dalam kadar begitu tinggi, sehingga tidak ada seorang pun
yang dilahirkan oleh seorang perempuan pernah menerima kecintaan semacam
itu sebelum atau pun kelak kemudian hari.
Berbagai Makna Kata "Dhallaa" Mengenai Nabi Besar Muhammad Saw.
Kata dhaalla dalam ayat “Dan Dia mendapati engkau larut dalam kecintaan kepada kaum engkau lalu Dia memberi engkau petunjuk“, berarti: ia bingung dan tidak mampu melihat arah tujuan; ia sama sekali tenggelam atau hilang dalam kecintaan, atau berkelana mencari sesuatu dan gigih dalam pencariannya (Lexicon Lane). Mengingat berbagai arti kata dhaalla tersebut ayat ini dapat ditafsirkan sebagai berikut:
(1) Nabi Besar Muhammad saw.
berkelana mencari jalan dan
sarana untuk mencapai Allah, lalu Dia mewahyukan kepada beliau saw. syariat
(Al-Quran) yang membimbing beliau saw. ke
arah tujuan yang didambakan;
(2) Beliau saw. bingung dan
tidak mengetahui betapa cara menemukan jalan yang menjurus ke arah tercapainya
apa yang dicari beliau saw. lalu Allāh
membimbing beliau saw. ke jalan itu;
(3) Seluruh wujud beliau saw. telah hilang dalam kecintaan kepada
kaum beliau saw., lalu Allah membekali
beliau saw. dengan petunjuk sempurna bagi mereka;
(4) Beliau saw. tersembunyi dari mata dunia dan Allah menemukan beliau lalu memilih beliau saw. untuk mengemban tugas membimbing umat manusia
sampai kepada-Nya.
Dengan demikian kata dhaala tidak dipakai sebagai celaan
– sebagaimana yang umumnya diartikan “sesat”
-- bahkan sebagai pujian terhadap Nabi Besar Muhammad saw.. Kata ini
tidak mengena dan tidak pula dapat dikenakan kepada beliau saw. dalam arti
“telah tersesat,” sebab menurut ayat Al-Quran lain (QS.53:3) beliau saw. kebal terhadap kesalahan atau kesesatan.
Lebih-lebih 6 ayat terakhir dalam Surah ini menunjukkan suatu urutan tertentu
ayat-ayat 7, 8, dan 9 masing-masing mempunyai hubungan erat dan bersesuaian
dengan ayat-ayat 10, 11, dan 12.
Dhaalla dalam ayat 8, yang digantikan oleh kata saa’il dalam ayat
11, menjelaskan arti dhaalla, yaitu “orang yang mencari pertolongan
Ilahi supaya dibimbing kepada-Nya atau supaya diberi petunjuk.” Ayat ini
dapat pula berarti “Allah mendapatkan
diri engkau hilang dalam keasyikan mencari Dia dan membimbing engkau ke
hadirat-Nya.”
Ayat-ayat 7, 8, dan 9 membicarakan karunia-karunia
Allah Swt. atas Nabi Besar
Muhammad saw. dan dalam 10,
11, dan 12 beliau saw. diperintahkan
supaya menunjukkan rasa terima kasih (syukur) beliau saw. dengan jalan melakukan kebajikan
serupa terhadap sesama manusia. Perintah ini berlaku sama pula bagi para
pengikut beliau.
Jadi,
Nabi Besar Muhammad saw. mengawali
hidup beliau sebagai saw. seorang anak yatim lagi prihatin dan
mengakhiri hayat beliau saw. sebagai seorang penguasa tanpa tanding di
seluruh negeri Arab, itulah nubuatan berupa kabar gembira dalam
Surah Al-Dhuhaa mengenai Nabi Besar Muhammad saw.
(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam
Farid
Tidak ada komentar:
Posting Komentar