بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
HUBUNGAN NABI YUSUF A.S.
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
Bagian XV
Tentang
Nabi Yusuf a.s. Dijual ke Mesir
Oleh
Ki Langlang
Buana Kusuma
(Bersambung)
وَ
جَآءَتۡ سَیَّارَۃٌ فَاَرۡسَلُوۡا
وَارِدَہُمۡ فَاَدۡلٰی دَلۡوَہٗ ؕ قَالَ یٰبُشۡرٰی ہٰذَا غُلٰمٌ ؕ وَ اَسَرُّوۡہُ
بِضَاعَۃً ؕ وَ اللّٰہُ عَلِیۡمٌۢ بِمَا یَعۡمَلُوۡنَ ﴿۱۹﴾ وَ شَرَوۡہُ بِثَمَنٍۭ
بَخۡسٍ دَرَاہِمَ مَعۡدُوۡدَۃٍ ۚ وَ کَانُوۡا
فِیۡہِ مِنَ الزَّاہِدِیۡنَ ﴿٪۲۰﴾
Dan datang suatu kafilah, lalu mereka mengirim
pengambil air mereka, lalu ia menurunkan
timbanya ke dalam sumur itu. Ia berkata:
“Wahai, ada kabar suka! Ini seorang anak laki-laki!” Dan mereka
menyembunyikannya sebagai barang dagangan, dan Allah Maha Mengetahui apa yang
mereka kerjakan. Dan mereka
menjualnya dengan harga yang murah yaitu beberapa dirham saja, dan mereka
tidak peduli mengenai itu (Yusuf [12]:20-21).
Dalam Bab
sebelumnya telah dikemukakan perubahan makar buruk saudara-saudara tua
Nabi Yusuf a.s. dari rencana pembunuhan menjadi pembuangan,
firman-Nya:
لَقَدۡ کَانَ فِیۡ یُوۡسُفَ وَ اِخۡوَتِہٖۤ اٰیٰتٌ لِّلسَّآئِلِیۡنَ ﴿۸﴾ اِذۡ قَالُوۡا لَیُوۡسُفُ وَ اَخُوۡہُ اَحَبُّ اِلٰۤی اَبِیۡنَا مِنَّا وَ نَحۡنُ
عُصۡبَۃٌ ؕ اِنَّ اَبَانَا لَفِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنِۣ
ۚ﴿ۖ۹﴾ اقۡتُلُوۡا یُوۡسُفَ اَوِ
اطۡرَحُوۡہُ اَرۡضًا یَّخۡلُ لَکُمۡ
وَجۡہُ اَبِیۡکُمۡ وَ تَکُوۡنُوۡا
مِنۡۢ بَعۡدِہٖ قَوۡمًا
صٰلِحِیۡنَ ﴿۱۰﴾
Sungguh pada peristiwa Yusuf dan saudara-saudaranya
benar-benar ada Tanda-tanda bagi orang-orang yang mencari kebenaran.
Ketika mereka berkata: “Sesungguhnya Yusuf
dan saudaranya lebih dicintai oleh ayah kita daripada kita, padahal kita
satu golongan yang kuat, sesungguhnya
ayah kita ada dalam kekeliruan yang nyata. “Karena itu bunuhlah
Yusuf atau buanglah
dia ke negeri lain, supaya perhatian ayahmu kepada kamu saja, dan
sesudah itu kamu taubat dan menjadi orang-orang yang shalih.” (Yusuf [12], 8-10).
Selanjutnya Allah St. berfirman:
فَلَمَّا
ذَہَبُوۡا بِہٖ وَ اَجۡمَعُوۡۤا اَنۡ یَّجۡعَلُوۡہُ فِیۡ غَیٰبَتِ
الۡجُبِّ ۚ وَ اَوۡحَیۡنَاۤ اِلَیۡہِ لَتُنَبِّئَنَّہُمۡ بِاَمۡرِہِمۡ
ہٰذَا وَ ہُمۡ لَا یَشۡعُرُوۡنَ ﴿۱۶﴾ وَ جَآءُوۡۤ
اَبَاہُمۡ عِشَآءً یَّبۡکُوۡنَ ؕ﴿۱۷﴾ قَالُوۡا یٰۤاَبَانَاۤ اِنَّا ذَہَبۡنَا نَسۡتَبِقُ وَ تَرَکۡنَا
یُوۡسُفَ عِنۡدَ مَتَاعِنَا فَاَکَلَہُ
الذِّئۡبُ ۚ وَ مَاۤ اَنۡتَ
بِمُؤۡمِنٍ لَّنَا وَ لَوۡ کُنَّا صٰدِقِیۡنَ ﴿۱۸﴾ وَ جَآءَتۡ سَیَّارَۃٌ فَاَرۡسَلُوۡا وَارِدَہُمۡ فَاَدۡلٰی دَلۡوَہٗ
ؕ قَالَ یٰبُشۡرٰی ہٰذَا غُلٰمٌ ؕ وَ اَسَرُّوۡہُ بِضَاعَۃً ؕ وَ اللّٰہُ
عَلِیۡمٌۢ بِمَا یَعۡمَلُوۡنَ ﴿۱۹﴾
Maka tatkala mereka membawa dia (Yusuf) pergi dan telah sepakat untuk memasukkannya
ke dasar sumur yang dalam, dan Kami mewahyukan kepadanya: “Niscaya
engkau akan memberitahukan kepada mereka tentang perbuatan mereka
ini, sedangkan mereka tidak menyadari.” Dan mereka datang kepada
ayah mereka di waktu Isya sambil menangis. Mereka berkata: “Hai ayah kami, sesungguhnya kami
pergi berlomba-lomba, dan kami meninggalkan Yusuf bersama barang-barang
kami lalu ia dimakan serigala,
tetapi engkau sama sekali tidak akan mempercayai kami walaupun kami benar.” Dan mereka datang dengan darah palsu
pada kemejanya’ Ia, Ya’qub, berkata: “Tidak demikian, bahkan nafsu kamu telah membuat perkara itu
nampak baik, maka bersabar
adalah yang terbaik bagiku, dan
hanya Allah-lah yang dapat dimohon pertolongan-Nya mengenai apa yang
kamu ceriterakan itu.” (Yusuf [12]:16-19).
Kabar Gembira Kedua di Dalam Sumur
Firman Allah Swt.: “Kami
mewahyukan kepadanya: “Niscaya engkau akan memberitahukan kepada
mereka tentang perbuatan mereka ini, sedangkan mereka tidak
menyadari“ bukan sekedar sekedar merupakan kabar gembira berupa pemberitahuan
kepada Nabi Yusuf a.s. bahwa beliau akan selamat, tetapi juga Allah Swt.
memberitahukan yang akan terjadi di masa kemudian mengenai nasib buruk
kakak-kakaknya akibat perbuatan mereka.
Kalimat “tetapi
engkau sama sekali tidak akan mempercayai kami walaupun kami
benar” mencerminkan kegugupan
mereka dan membukakan kedok kelancangan mereka. Nabi Ya’qub a.s. tentu saja tidak
mempercayai kabar yang mereka sampaikan mengenai kematian Nabi Yusuf
a.s. oleh serigala, sebab jika
benar Nabi Yusuf a.s. menjadi mangsa serigala tentu pakaiannya akan rusak,
karena tidak mungkin Nabi Yusuf a.s. diserang hanya oleh seekor serigala
saja, sebab pada umumnya serigala dalam mencari mangsanya selalu dalam
bentuk kelompok serigala, seperti
juga yang dilakukan oleh singa.
Demikian juga kalau pun pakaian yang “berdarah”
yang dibawa mereka itu adalah benar pakaian Nabi Yusuf a.s., tentu Nabi
Ya’qub a.s. akan mengetahui perbedaan aroma darah manusia dengan darah
binatang lainnya. Dengan demikian walau pun Nabi Yusuf a.s. merasa sedih
dengan kabar dusta tersebut, tetapi Nabi Ya’qub a.s. merasa yakin
bahwa sebenarnya Nabi Yusuf a.s. masih hidup.
Jadi ucapan Nabi Ya’qub a.s.: “ bahkan nafsu
kamu telah membuat perkara itu nampak baik, maka bersabar
adalah yang terbaik bagiku, dan hanya Allah-lah
yang dapat dimohon pertolongan-Nya mengenai apa yang kamu ceriterakan itu” menunjukkan bahwa Nabi Ya’qub a.s. menganggap laporan putra-putra
beliau sebagai ceritera yang dibuat-buat.
Ada yang menarik kalimat yang diucapkan oleh Nabi Ya'qub a.s. ketika menanggapi laporan dusta yang dibuat oleh kakak-kakak Nabi Yusuf a.s. mengenai Nabi Yusuf a.s., yakni: "Bahkan, nafsu kamu telah membuat perkara itu nampak baik." Terjemahan kata anfusukum selain nafsu kamu berarti diri kamu. Jika kata anfusukum diatikan hawa nafsu kamu maka hal itu merujuk kepada tingkat terendah dari tiga tingkatan keadaan nafs (jiwa) manusia, yakni nafs Ammarrah. Mengenai keadaan nafs ammarah tersebut Nabi Yusuf a.s. bersabda:
Ada yang menarik kalimat yang diucapkan oleh Nabi Ya'qub a.s. ketika menanggapi laporan dusta yang dibuat oleh kakak-kakak Nabi Yusuf a.s. mengenai Nabi Yusuf a.s., yakni: "Bahkan, nafsu kamu telah membuat perkara itu nampak baik." Terjemahan kata anfusukum selain nafsu kamu berarti diri kamu. Jika kata anfusukum diatikan hawa nafsu kamu maka hal itu merujuk kepada tingkat terendah dari tiga tingkatan keadaan nafs (jiwa) manusia, yakni nafs Ammarrah. Mengenai keadaan nafs ammarah tersebut Nabi Yusuf a.s. bersabda:
وَ مَاۤ اُبَرِّیُٔ نَفۡسِیۡ ۚ اِنَّ النَّفۡسَ
لَاَمَّارَۃٌۢ بِالسُّوۡٓءِ اِلَّا مَا
رَحِمَ رَبِّیۡ ؕ اِنَّ رَبِّیۡ غَفُوۡرٌ
رَّحِیۡمٌ ﴿۵۴﴾
Dan aku sama sekali tidak menganggap diriku bebas dari
kelemahan, sesungguhnya nafsu ammarah itu senantiasa menyuruh
kepada keburukan, kecuali orang yang dikasihani oleh Tuhan-ku,
sesungguhnya Tuhan-ku Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Yusuf
[12]:54)
Anak
kalimat illa maa rahima rabbi
(kecuali orang yang dikasihani oleh Tuhan-ku) dapat mempunyai tiga tafsiran
yang berlainan: (a) Kecuali nafs (jiwa) yang kepadanya Tuhan-ku
berkasih sayang, huruf mā di sini
menggantikan kata nafs. (b) Kecuali dia, yang kepadanya Tuhan-ku
berkasih sayang, mā di sini
berarti man (siapa). (c) Memang begitu, tetapi kasih-sayang
Tuhan-lah yang menyelamatkan siapa yang dipilih-Nya. Ketiga arti tersebut
menunjuk kepada ketiga taraf perkembangan ruhani manusia.
Arti
pertama menunjuk kepada taraf ketika manusia telah mencapai tingkat
kesempurnaan ruhani — tingkat nafs muthmainnah (jiwa yang tenteram —
QS.89:28). Arti kedua dikenakan kepada orang yang masih pada tingkat nafs
lawwamah (jiwa yang menyesali diri sendiri — QS.75:3), ketika ia berjuang
melawan dosa dan kecenderungan-kecenderungan buruknya, kadang-kadang ia
mengalahkannya dan kadang-kadang ia dikalahkan olehnya. Arti ketiga dikenakan
kepada orang, ketika nafsu kebinatangannya bersimaharajalela dalam dirinya.
Tingkatan ini disebut nafs ammarah (jiwa yang cenderung kepada
keburukan).
Serigala Hawa Nafsu & Nabi Yusuf a.s. Dijual ke Mesir
Pendiri Jemaat Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad a.s., dalam buku beliau yang sangat terkenal “Falsafah Ajaran Islam”, ketika menjelaskan masalah tiga keadaan nafs (jiwa) manusia beliau menjelaskan berbahayanya keadaan nafs Ammarah sebagai berikut: “Jika kita meletakkan roti-rotil lembut di depan seekor anjing lapar dan kita berharap anjing itu tidak akan menghiraukan roti tersebut, maka dengan mempunyai pikiran seperti itu sesungguhnya kita melakukan kekeliruan. Jadi Allah Ta’ala menghendaki agar kekuatan nafsu itu tidak memperoleh kesempatan melakukan gerakan-gerakan tersembunyi, begitu pula tidak dihadapkan kepada kesempatan apa pun yang dapat menimbulkan bahaya-bahaya buruk.”
Jadi, keadaan nafs Ammarah itu ganas dan rakus bagaikan serigala atau anjing yang lapar. Salah satu keburukan lainnya sifat anjing adalah walau pun ia merupakan anjing peliharaan yang mendapat jaminan makanan yang cukup dari majikannya, tetapi kalau anjing tersebut menemukan tempat sampah atau bangkai maka ia tetap akan mencari makanan-makanan yang merangsang penciumannya dari tempat sampah atau bangkai tersebut. Karena itu sangat tepat perkataan Nabi Yusuf a.s. bahwa tidak akan ada seorang pun yang akan selamat dari ganasnya nafs ammarah kecuali orang yang dikasihani Allah Swt. illaa maa rahiima Rabbiy - QS.12:54).
Selanjutnya Allah Swt.
berfirman:Serigala Hawa Nafsu & Nabi Yusuf a.s. Dijual ke Mesir
Pendiri Jemaat Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad a.s., dalam buku beliau yang sangat terkenal “Falsafah Ajaran Islam”, ketika menjelaskan masalah tiga keadaan nafs (jiwa) manusia beliau menjelaskan berbahayanya keadaan nafs Ammarah sebagai berikut: “Jika kita meletakkan roti-rotil lembut di depan seekor anjing lapar dan kita berharap anjing itu tidak akan menghiraukan roti tersebut, maka dengan mempunyai pikiran seperti itu sesungguhnya kita melakukan kekeliruan. Jadi Allah Ta’ala menghendaki agar kekuatan nafsu itu tidak memperoleh kesempatan melakukan gerakan-gerakan tersembunyi, begitu pula tidak dihadapkan kepada kesempatan apa pun yang dapat menimbulkan bahaya-bahaya buruk.”
Jadi, keadaan nafs Ammarah itu ganas dan rakus bagaikan serigala atau anjing yang lapar. Salah satu keburukan lainnya sifat anjing adalah walau pun ia merupakan anjing peliharaan yang mendapat jaminan makanan yang cukup dari majikannya, tetapi kalau anjing tersebut menemukan tempat sampah atau bangkai maka ia tetap akan mencari makanan-makanan yang merangsang penciumannya dari tempat sampah atau bangkai tersebut. Karena itu sangat tepat perkataan Nabi Yusuf a.s. bahwa tidak akan ada seorang pun yang akan selamat dari ganasnya nafs ammarah kecuali orang yang dikasihani Allah Swt. illaa maa rahiima Rabbiy - QS.12:54).
وَ جَآءَتۡ سَیَّارَۃٌ فَاَرۡسَلُوۡا وَارِدَہُمۡ فَاَدۡلٰی دَلۡوَہٗ
ؕ قَالَ یٰبُشۡرٰی ہٰذَا غُلٰمٌ ؕ وَ اَسَرُّوۡہُ بِضَاعَۃً ؕ وَ اللّٰہُ
عَلِیۡمٌۢ بِمَا یَعۡمَلُوۡنَ ﴿۱۹﴾ وَ شَرَوۡہُ بِثَمَنٍۭ بَخۡسٍ دَرَاہِمَ
مَعۡدُوۡدَۃٍ ۚ وَ کَانُوۡا فِیۡہِ مِنَ
الزَّاہِدِیۡنَ ﴿٪۲۰﴾
Dan datang suatu kafilah, lalu mereka
mengirim pengambil air mereka, lalu ia
menurunkan timbanya ke dalam sumur itu. Ia berkata: “Wahai, ada kabar suka! Ini seorang anak
laki-laki!” Dan mereka menyembunyikannya sebagai barang dagangan,
dan Allah Maha Mengetahui
apa yang mereka kerjakan. Dan mereka
menjualnya dengan harga yang murah yaitu beberapa dirham saja, dan
mereka tidak peduli mengenai itu (Yusuf [12]:20-21).
Para
anggota kafilah memandang Nabi Yusuf a.s. sebagai harta yang sangat berharga. Huruf hi dan fihi (mengenainya)
dapat berarti “dia” ataupun “sesuatu” baik yang dimaksudkan itu Nabi Yusuf a.s.
atau harga, karena mereka itu adalah kafilah pedagang.
Sikap tidak peduli mereka itu pun merupakan
bagian dari rencana Allah Swt. pula, sebab seandainya mereka itu
tertarik terhadap ketampanan Nabi Yusuf a.s. lalu mengangkatnya sebagai anak – sebagaimana yang kemudian dilakukan oleh pejabat
dari Mesir– maka jalur ceritanya akan lain. Selanjutnya Allah Swt.
berfirman:
وَ
قَالَ الَّذِی اشۡتَرٰىہُ مِنۡ مِّصۡرَ لِامۡرَاَتِہٖۤ اَکۡرِمِیۡ مَثۡوٰىہُ عَسٰۤی اَنۡ
یَّنۡفَعَنَاۤ اَوۡ نَتَّخِذَہٗ وَلَدًا ؕ وَ کَذٰلِکَ مَکَّنَّا لِیُوۡسُفَ
فِی الۡاَرۡضِ ۫ وَ لِنُعَلِّمَہٗ مِنۡ تَاۡوِیۡلِ الۡاَحَادِیۡثِ ؕ وَ اللّٰہُ
غَالِبٌ عَلٰۤی اَمۡرِہٖ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَ النَّاسِ لَا یَعۡلَمُوۡنَ ﴿۲۲﴾
Dan orang dari Mesir yang membeli dia berkata kepada
istrinya: “Berilah dia tempat tinggal yang terhormat. Boleh jadi dia
akan bermanfaat bagi kita atau dia akan kita angkat sebagai anak.” Dan demikianlah Kami memberi
Yusuf kedudukan di negeri itu, dan supaya Kami mengajarkan kepadanya
ta’bir mimpi-mimpi. Dan Allah berkuasa penuh atas keputusan-Nya tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.
(Yusuf [12]:22).
Orang
Mesir yang telah membeli Nabi Yusuf a.s. dikenal dalam pustaka Yahudi dengan
nama Potifar (Encyclopaedia
Biblica & Kejadian
39:1). Ia adalah komandan barisan pengawal raja, seorang perwira yang
tinggi pangkatnya di zaman dahulu. Ia tampak memiliki pandangan lebih positif
mengenai Nabi Yusuf a.s.
dibandingkan sikap kafilah yang menjual Nabi Yusuf a.s.
(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid
Tidak ada komentar:
Posting Komentar