Rabu, 04 Januari 2012

Nabi Yusuf a.s. Dijual ke Mesir


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ




HUBUNGAN  NABI YUSUF A.S. 
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
  
Bagian   XV

Tentang

     Nabi Yusuf a.s. Dijual ke Mesir 
      
 Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma


وَ جَآءَتۡ سَیَّارَۃٌ  فَاَرۡسَلُوۡا وَارِدَہُمۡ فَاَدۡلٰی دَلۡوَہٗ ؕ قَالَ یٰبُشۡرٰی ہٰذَا غُلٰمٌ ؕ وَ اَسَرُّوۡہُ بِضَاعَۃً ؕ وَ اللّٰہُ عَلِیۡمٌۢ بِمَا یَعۡمَلُوۡنَ ﴿۱۹   وَ شَرَوۡہُ بِثَمَنٍۭ بَخۡسٍ دَرَاہِمَ مَعۡدُوۡدَۃٍ ۚ وَ کَانُوۡا  فِیۡہِ  مِنَ  الزَّاہِدِیۡنَ ﴿٪۲۰

Dan datang suatu kafilah, lalu mereka mengirim pengambil air mereka, lalu  ia menurunkan timbanya ke dalam sumur itu. Ia berkata:  “Wahai, ada kabar suka! Ini seorang anak laki-laki!” Dan mereka menyembunyikannya sebagai barang dagangan,  dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.  Dan mereka menjualnya  dengan harga yang murah  yaitu beberapa dirham saja, dan mereka tidak peduli mengenai itu (Yusuf [12]:20-21).

Dalam Bab sebelumnya telah dikemukakan perubahan makar buruk saudara-saudara tua Nabi Yusuf a.s. dari rencana pembunuhan menjadi pembuangan, firman-Nya:
لَقَدۡ کَانَ فِیۡ یُوۡسُفَ وَ اِخۡوَتِہٖۤ  اٰیٰتٌ لِّلسَّآئِلِیۡنَ ﴿۸   اِذۡ قَالُوۡا لَیُوۡسُفُ وَ اَخُوۡہُ  اَحَبُّ اِلٰۤی اَبِیۡنَا مِنَّا وَ نَحۡنُ عُصۡبَۃٌ ؕ اِنَّ اَبَانَا لَفِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنِۣ ۚ﴿ۖ۹  اقۡتُلُوۡا یُوۡسُفَ اَوِ اطۡرَحُوۡہُ  اَرۡضًا یَّخۡلُ لَکُمۡ وَجۡہُ  اَبِیۡکُمۡ وَ تَکُوۡنُوۡا مِنۡۢ  بَعۡدِہٖ  قَوۡمًا  صٰلِحِیۡنَ ﴿۱۰
Sungguh pada peristiwa Yusuf dan saudara-saudaranya benar-benar ada Tanda-tanda bagi orang-orang yang mencari kebenaran.   Ketika mereka berkata: “Sesungguhnya Yusuf dan saudaranya lebih dicintai oleh ayah kita daripada kita, padahal kita satu golongan yang kuat,  sesungguhnya ayah kita ada dalam kekeliruan yang nyata. “Karena itu bunuhlah Yusuf  atau buanglah dia ke negeri lain, supaya perhatian ayahmu kepada kamu saja, dan sesudah itu kamu taubat dan menjadi orang-orang yang shalih.”  (Yusuf [12], 8-10).
Selanjutnya Allah St. berfirman:
فَلَمَّا ذَہَبُوۡا بِہٖ  وَ  اَجۡمَعُوۡۤا اَنۡ یَّجۡعَلُوۡہُ  فِیۡ غَیٰبَتِ  الۡجُبِّ ۚ وَ  اَوۡحَیۡنَاۤ  اِلَیۡہِ لَتُنَبِّئَنَّہُمۡ بِاَمۡرِہِمۡ ہٰذَا وَ ہُمۡ لَا یَشۡعُرُوۡنَ ﴿۱۶   وَ جَآءُوۡۤ  اَبَاہُمۡ  عِشَآءً  یَّبۡکُوۡنَ ؕ﴿۱۷  قَالُوۡا یٰۤاَبَانَاۤ  اِنَّا ذَہَبۡنَا نَسۡتَبِقُ وَ تَرَکۡنَا یُوۡسُفَ عِنۡدَ مَتَاعِنَا فَاَکَلَہُ  الذِّئۡبُ ۚ وَ مَاۤ  اَنۡتَ بِمُؤۡمِنٍ لَّنَا وَ لَوۡ کُنَّا صٰدِقِیۡنَ ﴿۱۸  وَ جَآءَتۡ سَیَّارَۃٌ  فَاَرۡسَلُوۡا وَارِدَہُمۡ فَاَدۡلٰی دَلۡوَہٗ ؕ قَالَ یٰبُشۡرٰی ہٰذَا غُلٰمٌ ؕ وَ اَسَرُّوۡہُ بِضَاعَۃً ؕ وَ اللّٰہُ عَلِیۡمٌۢ بِمَا یَعۡمَلُوۡنَ ﴿۱۹
Maka tatkala mereka membawa dia (Yusuf)  pergi dan telah sepakat untuk memasukkannya ke dasar sumur yang dalam, dan Kami mewahyukan kepadanya: “Niscaya engkau akan memberitahukan kepada mereka tentang perbuatan mereka ini, sedangkan mereka tidak menyadari.”   Dan mereka datang kepada ayah mereka di waktu Isya sambil menangis.  Mereka berkata: “Hai ayah kami, sesungguhnya kami pergi berlomba-lomba, dan kami meninggalkan Yusuf bersama barang-barang kami  lalu ia dimakan serigala, tetapi engkau sama sekali tidak akan mempercayai kami  walaupun kami benar.”  Dan mereka datang dengan darah palsu pada kemejanya’ Ia, Ya’qub, berkata: “Tidak demikian,  bahkan nafsu kamu telah membuat perkara itu nampak baik,  maka bersabar adalah  yang terbaik bagiku, dan hanya Allah-lah yang dapat dimohon pertolongan-Nya mengenai apa yang kamu ceriterakan itu.” (Yusuf [12]:16-19).

Kabar Gembira Kedua di Dalam Sumur

  Firman Allah Swt.: “Kami mewahyukan kepadanya: “Niscaya engkau akan memberitahukan kepada mereka tentang perbuatan mereka ini, sedangkan mereka tidak menyadari“ bukan sekedar sekedar merupakan kabar gembira berupa pemberitahuan kepada Nabi Yusuf a.s. bahwa beliau akan selamat, tetapi juga Allah Swt. memberitahukan yang akan terjadi di masa kemudian mengenai nasib buruk kakak-kakaknya akibat perbuatan mereka.   
      Kalimat “tetapi engkau sama sekali tidak akan mempercayai kami  walaupun kami benar”  mencerminkan kegugupan mereka dan membukakan kedok kelancangan mereka.  Nabi Ya’qub a.s. tentu saja tidak mempercayai kabar yang mereka sampaikan mengenai kematian Nabi Yusuf a.s. oleh serigala, sebab  jika benar Nabi Yusuf a.s. menjadi mangsa serigala tentu pakaiannya akan rusak, karena  tidak mungkin  Nabi Yusuf a.s.   diserang hanya oleh seekor serigala saja, sebab pada umumnya serigala dalam mencari mangsanya selalu dalam bentuk  kelompok serigala, seperti juga yang dilakukan oleh singa.
      Demikian juga  kalau pun pakaian yang  “berdarah”  yang dibawa mereka itu adalah benar pakaian Nabi Yusuf a.s., tentu Nabi Ya’qub a.s. akan mengetahui perbedaan aroma darah manusia dengan darah binatang lainnya. Dengan demikian walau pun Nabi Yusuf a.s. merasa sedih dengan  kabar dusta  tersebut, tetapi Nabi Ya’qub a.s. merasa yakin bahwa sebenarnya Nabi Yusuf a.s. masih hidup.
 Jadi   ucapan Nabi Ya’qub a.s.: “ bahkan nafsu kamu telah membuat perkara itu nampak baik, maka bersabar adalah  yang terbaik bagiku, dan hanya Allah-lah yang dapat dimohon pertolongan-Nya mengenai apa yang kamu ceriterakan itu”   menunjukkan bahwa Nabi Ya’qub a.s.  menganggap laporan putra-putra beliau sebagai ceritera yang dibuat-buat
 Ada yang menarik kalimat yang diucapkan oleh Nabi Ya'qub a.s.  ketika menanggapi laporan dusta yang dibuat oleh kakak-kakak Nabi Yusuf a.s. mengenai Nabi Yusuf a.s., yakni: "Bahkan, nafsu kamu telah membuat perkara itu nampak baik." Terjemahan kata anfusukum selain nafsu kamu berarti  diri  kamu.   Jika kata anfusukum diatikan hawa nafsu kamu maka hal itu merujuk kepada tingkat terendah dari  tiga tingkatan  keadaan nafs (jiwa) manusia, yakni nafs Ammarrah. Mengenai keadaan nafs ammarah tersebut Nabi Yusuf a.s. bersabda: 

 وَ مَاۤ  اُبَرِّیُٔ نَفۡسِیۡ ۚ اِنَّ  النَّفۡسَ لَاَمَّارَۃٌۢ بِالسُّوۡٓءِ  اِلَّا مَا رَحِمَ  رَبِّیۡ ؕ اِنَّ رَبِّیۡ  غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ ﴿۵۴
Dan aku sama sekali tidak menganggap diriku bebas dari kelemahan, sesungguhnya nafsu ammarah itu senantiasa menyuruh kepada keburukan, kecuali orang yang dikasihani oleh Tuhan-ku, sesungguhnya Tuhan-ku Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Yusuf [12]:54)
 Anak kalimat illa maa  rahima rabbi (kecuali orang yang dikasihani oleh Tuhan-ku) dapat mempunyai tiga tafsiran yang berlainan: (a) Kecuali nafs (jiwa) yang kepadanya Tuhan-ku berkasih sayang, huruf  di sini menggantikan kata nafs. (b) Kecuali dia, yang kepadanya Tuhan-ku berkasih sayang,  di sini berarti man (siapa). (c) Memang begitu, tetapi kasih-sayang Tuhan-lah yang menyelamatkan siapa yang dipilih-Nya. Ketiga arti tersebut menunjuk kepada ketiga taraf perkembangan ruhani manusia.
 Arti pertama menunjuk kepada taraf ketika manusia telah mencapai tingkat kesempurnaan ruhani — tingkat nafs muthmainnah (jiwa yang tenteram — QS.89:28). Arti kedua dikenakan kepada orang yang masih pada tingkat nafs lawwamah (jiwa yang menyesali diri sendiri — QS.75:3), ketika ia berjuang melawan dosa dan kecenderungan-kecenderungan buruknya, kadang-kadang ia mengalahkannya dan kadang-kadang ia dikalahkan olehnya. Arti ketiga dikenakan kepada orang, ketika nafsu kebinatangannya bersimaharajalela dalam dirinya. Tingkatan ini disebut nafs ammarah (jiwa yang cenderung kepada keburukan). 

Serigala Hawa Nafsu & Nabi Yusuf a.s. Dijual ke Mesir 

  Pendiri Jemaat Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad a.s., dalam buku beliau yang sangat terkenal “Falsafah Ajaran Islam”, ketika menjelaskan  masalah tiga keadaan nafs (jiwa) manusia  beliau menjelaskan  berbahayanya keadaan nafs Ammarah sebagai berikut: “Jika kita meletakkan roti-rotil lembut di depan seekor anjing lapar dan kita berharap   anjing itu tidak akan menghiraukan roti tersebut, maka dengan mempunyai pikiran  seperti itu sesungguhnya kita melakukan kekeliruan. Jadi Allah Ta’ala menghendaki agar kekuatan nafsu itu tidak memperoleh kesempatan melakukan gerakan-gerakan tersembunyi, begitu pula tidak dihadapkan kepada kesempatan apa pun yang dapat menimbulkan bahaya-bahaya buruk.”
    Jadi, keadaan nafs Ammarah itu ganas dan rakus bagaikan serigala atau anjing yang lapar. Salah satu keburukan lainnya  sifat anjing  adalah walau pun ia merupakan anjing peliharaan yang mendapat jaminan makanan yang cukup dari majikannya, tetapi kalau anjing tersebut  menemukan tempat sampah atau bangkai  maka ia tetap akan mencari makanan-makanan yang merangsang penciumannya  dari tempat sampah atau bangkai tersebut.  Karena  itu sangat tepat perkataan Nabi Yusuf a.s. bahwa tidak akan ada seorang pun yang akan selamat dari  ganasnya nafs ammarah kecuali orang yang dikasihani Allah Swt.  illaa maa rahiima Rabbiy - QS.12:54).
 Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
 وَ جَآءَتۡ سَیَّارَۃٌ  فَاَرۡسَلُوۡا وَارِدَہُمۡ فَاَدۡلٰی دَلۡوَہٗ ؕ قَالَ یٰبُشۡرٰی ہٰذَا غُلٰمٌ ؕ وَ اَسَرُّوۡہُ بِضَاعَۃً ؕ وَ اللّٰہُ عَلِیۡمٌۢ بِمَا یَعۡمَلُوۡنَ ﴿۱۹   وَ شَرَوۡہُ بِثَمَنٍۭ بَخۡسٍ دَرَاہِمَ مَعۡدُوۡدَۃٍ ۚ وَ کَانُوۡا  فِیۡہِ  مِنَ  الزَّاہِدِیۡنَ ﴿٪۲۰
Dan datang suatu kafilah, lalu mereka mengirim pengambil air mereka, lalu  ia menurunkan timbanya ke dalam sumur itu. Ia berkata:  “Wahai, ada kabar suka! Ini seorang anak laki-laki!” Dan mereka menyembunyikannya sebagai barang dagangan,  dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.  Dan mereka menjualnya  dengan harga yang murah  yaitu beberapa dirham saja, dan mereka tidak peduli mengenai itu (Yusuf [12]:20-21).
     Para anggota kafilah memandang Nabi Yusuf a.s.  sebagai harta yang sangat berharga.  Huruf hi dan fihi (mengenainya) dapat berarti “dia” ataupun “sesuatu” baik yang dimaksudkan itu Nabi Yusuf a.s.  atau harga,   karena mereka itu adalah kafilah pedagang.   Sikap  tidak peduli mereka itu pun merupakan bagian dari rencana Allah Swt. pula, sebab seandainya mereka itu tertarik terhadap ketampanan Nabi Yusuf a.s. lalu mengangkatnya sebagai anak   – sebagaimana yang kemudian dilakukan oleh pejabat dari Mesir– maka jalur ceritanya akan lain. Selanjutnya Allah Swt. berfirman:  
وَ قَالَ الَّذِی اشۡتَرٰىہُ مِنۡ مِّصۡرَ لِامۡرَاَتِہٖۤ  اَکۡرِمِیۡ مَثۡوٰىہُ عَسٰۤی اَنۡ یَّنۡفَعَنَاۤ  اَوۡ نَتَّخِذَہٗ  وَلَدًا ؕ وَ کَذٰلِکَ مَکَّنَّا لِیُوۡسُفَ فِی الۡاَرۡضِ ۫ وَ لِنُعَلِّمَہٗ مِنۡ تَاۡوِیۡلِ الۡاَحَادِیۡثِ ؕ وَ اللّٰہُ غَالِبٌ عَلٰۤی اَمۡرِہٖ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَ النَّاسِ لَا  یَعۡلَمُوۡنَ ﴿۲۲
Dan orang dari Mesir yang membeli dia berkata kepada istrinya: “Berilah dia tempat tinggal yang terhormat. Boleh jadi dia akan bermanfaat bagi kita atau dia akan kita angkat sebagai anak.”  Dan demikianlah Kami memberi Yusuf kedudukan di negeri itu, dan supaya Kami mengajarkan kepadanya ta’bir mimpi-mimpi. Dan Allah berkuasa penuh atas keputusan-Nya  tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.  (Yusuf [12]:22).
       Orang Mesir yang telah membeli Nabi Yusuf a.s. dikenal dalam pustaka Yahudi dengan nama Potifar (Encyclopaedia  Biblica  & Kejadian 39:1). Ia adalah komandan barisan pengawal raja, seorang perwira yang tinggi pangkatnya di zaman dahulu. Ia tampak memiliki pandangan lebih positif  mengenai Nabi Yusuf a.s. dibandingkan sikap kafilah yang menjual Nabi Yusuf a.s.

(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid


Tidak ada komentar:

Posting Komentar