Rabu, 11 Januari 2012

Godaan Istri Potifar & Godaan Kesenangan Duniawi (1)


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


HUBUNGAN  NABI YUSUF A.S. 
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
  
Bagian   XVIII

Tentang

    Godaan Istri Potifar &  
Godaan Kesenangan Duniawi (1)
      
 Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma

زُیِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّہَوٰتِ مِنَ النِّسَآءِ وَ الۡبَنِیۡنَ وَ الۡقَنَاطِیۡرِ الۡمُقَنۡطَرَۃِ مِنَ الذَّہَبِ وَ الۡفِضَّۃِ وَ الۡخَیۡلِ الۡمُسَوَّمَۃِ وَ الۡاَنۡعَامِ وَ الۡحَرۡثِ ؕ ذٰلِکَ مَتَاعُ  الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا ۚ وَ اللّٰہُ عِنۡدَہٗ حُسۡنُ الۡمَاٰبِ ﴿۱۵
Ditampakkan indah bagi manusia kecintaan terhadap apa-apa yang diingini yaitu: perempuan-perempuan,  anak-anak, kekayaan yang berlimpah berupa emas dan perak,  kuda pilihan,  binatang ternak dan sawah ladang.  Yang demikian itu adalah perlengkapan hidupdi dunia, dan Allah, di sisi-Nya-lah  sebaik-baik tempat kembali.  (Ali ‘Imraan [3]:15).

Dalam Bab XII sebelumnya telah disinggung mengenai  seorang perempuan yang pesolek dan mengenakan  berbagai macam perhiasan  dalam peristiwa mikraj Nabi Besar Muhammad saw.. Diinformasikan oleh Malikat Iblis a.s. kepada Nabi Besar Muhammad saw. bahwa perempuan itu telah membunuh  banyak sekali suaminya. Dan ketika hal itu ditanyakan kepada Malaikat Jibril a.s. lalu dijelaskan kepada beliau saw. bahwa makna dari “perempuan pesolek” dan mengenakan berbagai perhiasan tersebut adalah  kehidupan dunia atau kesenangan kehidupan dunia. Sehubungan dengan kehidupan duniawi  tersebut Allah Swt. berfirman:
اِنَّمَا مَثَلُ الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا کَمَآءٍ اَنۡزَلۡنٰہُ مِنَ السَّمَآءِ فَاخۡتَلَطَ بِہٖ نَبَاتُ الۡاَرۡضِ مِمَّا یَاۡکُلُ النَّاسُ وَ الۡاَنۡعَامُ ؕ حَتّٰۤی اِذَاۤ اَخَذَتِ الۡاَرۡضُ زُخۡرُفَہَا وَ ازَّیَّنَتۡ وَ ظَنَّ  اَہۡلُہَاۤ   اَنَّہُمۡ قٰدِرُوۡنَ عَلَیۡہَاۤ ۙ اَتٰہَاۤ  اَمۡرُنَا لَیۡلًا اَوۡ نَہَارًا فَجَعَلۡنٰہَا حَصِیۡدًا  کَاَنۡ لَّمۡ تَغۡنَ بِالۡاَمۡسِ ؕ کَذٰلِکَ نُفَصِّلُ الۡاٰیٰتِ لِقَوۡمٍ  یَّتَفَکَّرُوۡنَ ﴿۲۵
Sesungguhnya perumpamaan kehidupan dunia adalah seperti air yang Kami menurunkannya dari langit, lalu bercampur dengannya tumbuh-tumbuhan bumi,  yang darinya manusia dan binatang ternak makan, sehingga apabila bumi telah memakai perhiasannya serta nampak keindahannya, dan pemilik-pemiliknya pun yakin bahwa sesungguhnya mereka berkuasa atasnya, lalu datang  kepadanya perintah  Kami di waktu malam atau siang, maka Kami menjadi-kannya laksana ladang yang telah disabit, seakan-akan  tidak pernah ada kemarin. Demikianlah Kami membentangkan Tanda-tanda Kami bagi orang-orang yang berpikir. (Yunus [10]:25).
Maksud perumpamaan itu ialah bahwa bila bangsa-bangsa – mau pun orang perorangan -- menjadi congkak serta manja, dan hidup di dunia ini dipandang gampang dan ringan, maka detik-detik kemunduran mulai tiba kepada bangsa-bangsa itu dan mereka ditimpa oleh nasib yang malang.
Mereka membanggakan diri bahwa semua kesuksesan duniawi mereka itu berkat upaya dan kerja-keras yang  mereka lakukan serta berkat ilmu pengetahuan yang mereka  miliki, sebagaimana yang terjadi dengan Qarun, Fir’aun dan kaum-kaum purbakala lainnya yang menentang para Rasul Allah (QS.28:77-83; QS.39:50-53; QS.43:52-57). firman-Nya lagi:
وَ اضۡرِبۡ لَہُمۡ مَّثَلَ الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا کَمَآءٍ اَنۡزَلۡنٰہُ مِنَ السَّمَآءِ فَاخۡتَلَطَ بِہٖ نَبَاتُ الۡاَرۡضِ فَاَصۡبَحَ ہَشِیۡمًا تَذۡرُوۡہُ  الرِّیٰحُ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ  مُّقۡتَدِرًا ﴿۴۴۶  اَلۡمَالُ وَ الۡبَنُوۡنَ زِیۡنَۃُ  الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا ۚ وَ الۡبٰقِیٰتُ الصّٰلِحٰتُ خَیۡرٌ عِنۡدَ  رَبِّکَ  ثَوَابًا  وَّ  خَیۡرٌ  اَمَلًا ﴿۴۷
Dan kemukakanlah kepada mereka misal kehidupan dunia, seperti air yang Kami menurunkannya dari awan, lalu tumbuh-tumbuhan bumi bercampur dengannya,  kemudian ia menjadi kering dan hancur serta tersebar diterbangkan oleh angin ke mana-mana, dan Allah memiliki  kekuasaan atas segala sesuatu.     Harta dan anak-anak laki-­laki adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi  amal  shalih yang kekal lebih baik di sisi Tuhan engkau dalam hal ganjaran, dan lebih baik dalam hal harapan. (Al-Kahf [18]:46-47).

Kehidupan Dunia Bagaikan “Fatamorgana”

        Allah Swt. telah menyatakan di dalam berbagai surah Al-Quran bahwa kesenangan dan kesuksesan kehidupan dunia ini  adalah bagaikan suatu fatamorgana yang menipu pandangan orang-orang yang mengejar-ngejar kesenangan hidup  duniawi, firman-Nya:
اِعۡلَمُوۡۤا اَنَّمَا الۡحَیٰوۃُ  الدُّنۡیَا لَعِبٌ وَّ لَہۡوٌ وَّ زِیۡنَۃٌ  وَّ تَفَاخُرٌۢ  بَیۡنَکُمۡ وَ تَکَاثُرٌ فِی الۡاَمۡوَالِ وَ الۡاَوۡلَادِ ؕ کَمَثَلِ غَیۡثٍ اَعۡجَبَ الۡکُفَّارَ نَبَاتُہٗ  ثُمَّ یَہِیۡجُ فَتَرٰىہُ مُصۡفَرًّا ثُمَّ  یَکُوۡنُ حُطَامًا ؕ وَ فِی الۡاٰخِرَۃِ  عَذَابٌ شَدِیۡدٌ ۙ وَّ مَغۡفِرَۃٌ مِّنَ اللّٰہِ وَ رِضۡوَانٌ ؕ وَ مَا الۡحَیٰوۃُ  الدُّنۡیَاۤ   اِلَّا مَتَاعُ  الۡغُرُوۡرِ ﴿۲۱  سَابِقُوۡۤا  اِلٰی مَغۡفِرَۃٍ  مِّنۡ رَّبِّکُمۡ  وَ جَنَّۃٍ عَرۡضُہَا کَعَرۡضِ السَّمَآءِ  وَ الۡاَرۡضِ ۙ اُعِدَّتۡ لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ ؕ ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ ﴿۲۲

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya  kehidupan dunia ini hanyalah  permainan, pengisi waktu, perhiasan, saling berbangga di antara kamu serta  bersaing dalam banyaknya harta dan anak. Kehidupan ini seperti hujan, tanaman-tanamannya mengagumkan para penanamnya kemudian  tanaman itu menjadi kering dan engkau melihatnya menjadi kuning lalu menjadi hancur. Dan di akhirat ada azab sangat keras dan ada ampunan serta  keridhan dari Allah. Dan sekali-kali tidaklah  kehidupan dunia ini melainkan kesenangan sementara yang menipu.    Berlomba-lombalah kamu dalam mencari ampunan Tuhan-mu dan surga yang nilainya setara dengan nilai langit dan bumi yang disediakan bagi  orang-orang yang beriman kepada Allah dan para rasul-Nya. Demikianlah karunia Allah, Dia menganugerahkannya kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Allah itu Pemilik karunia yang besar.  (Al-Hadiid [57]:21-22)
Karena “ardh” berarti nilai atau keluasan, maka ayat ini berarti bahwa: (a) ganjaran bagi orang-orang yang bertakwa di akhirat akan tidak terkira banyaknya; (b) karena surga itu seluas bentangan langit dan bumi – seluruh jagat raya – maka surga itu meliputi neraka juga. Hal itu menunjukkan bahwa surga dan neraka itu bukan dua tempat yang berbeda dan terpisah, melainkan dua keadaan atau kondisi alam pikiran.
Sebuah hadits Nabi Besar Muhammad saw.   yang terkenal memberikan pengertian yang mendalam mengenai paham Al-Quran mengenai surga dan neraka. Pada sekali peristiwa beberapa orang sahabat bertanya: “Jika surga itu meliputi bentangan langit dan bumi dalam keluasannya, maka di manakah terletak neraka itu?” Menurut riwayat Nabi Besar Muhamkmad saw.  telah memberikan jawaban atas pertanyaan itu: “Dimanakah malam bila siang tiba?” (Tafsir Ibnu Katsir).
Lebih jauh Allah Swt. berfirman mengenai kehidupan duniawi yang tidak kekal serta seperti fatamorgana tersebut:
 زُیِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّہَوٰتِ مِنَ النِّسَآءِ وَ الۡبَنِیۡنَ وَ الۡقَنَاطِیۡرِ الۡمُقَنۡطَرَۃِ مِنَ الذَّہَبِ وَ الۡفِضَّۃِ وَ الۡخَیۡلِ الۡمُسَوَّمَۃِ وَ الۡاَنۡعَامِ وَ الۡحَرۡثِ ؕ ذٰلِکَ مَتَاعُ  الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا ۚ وَ اللّٰہُ عِنۡدَہٗ حُسۡنُ الۡمَاٰبِ ﴿۱۵
Ditampakkan indah bagi manusia kecintaan terhadap apa-apa yang diingini yaitu: perempuan-perempuananak-anak, kekayaan yang berlimpah berupa emas dan perakkuda pilihanbinatang ternak dan sawah ladang.  Yang demikian itu adalah perlengkapan hidupdi dunia, dan Allah, di sisi-Nya-lah  sebaik-baik tempat kembali.  (Ali ‘Imraan [3]:15).

Tawaran Nabi Besar Muhammad saw. Terhadap Para istri Beliau saw.

      Islam tidak melarang mempergunakan atau mencari barang-barang yang baik dari dunia ini, tetapi tentu saja Islam mencela mereka yang menyibukkan diri dalam urusan duniawi dan menjadikannya satu-satunya tujuan hidup mereka. Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
قُلۡ اَؤُنَبِّئُکُمۡ بِخَیۡرٍ مِّنۡ ذٰلِکُمۡ ؕ لِلَّذِیۡنَ اتَّقَوۡا عِنۡدَ رَبِّہِمۡ جَنّٰتٌ  تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا وَ اَزۡوَاجٌ مُّطَہَّرَۃٌ وَّ رِضۡوَانٌ مِّنَ اللّٰہِ ؕ وَ اللّٰہُ بَصِیۡرٌۢ  بِالۡعِبَادِ ﴿ۚ۱۶ اَلَّذِیۡنَ یَقُوۡلُوۡنَ رَبَّنَاۤ اِنَّنَاۤ اٰمَنَّا فَاغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوۡبَنَا وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ ﴿ۚ۱۷ اَلصّٰبِرِیۡنَ وَ الصّٰدِقِیۡنَ وَ الۡقٰنِتِیۡنَ وَ الۡمُنۡفِقِیۡنَ وَ الۡمُسۡتَغۡفِرِیۡنَ بِالۡاَسۡحَارِ ﴿۱۸
Katakanlah: “Maukah kamu aku beri tahu sesuatu  yang lebih baik daripada yang demikian itu?” Bagi orang-orang yang bertakwa, di sisi Tuhan mereka ada kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya,  jodoh-jodoh suci dan keridhaan dari Allah, dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.    Yaitu orang-orang yang berkata:  “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman maka  ampunilah dosa-dosa  kami,  dan peliharalah kami dari azab Api.”   Orang-orang yang sabar, orang-orang yang benar, orang-orang yang taat, orang-orang yang mem-belanjakan  di jalan Allah dan orang-orang yang memohon ampun di bagian akhir malam (Aali ‘Imraan [3]:16-18).
      Kata Qul (katakanlah) terutama sekali ditujukan kepada Nabi Besar Muhammad saw., sebab apa yang selanjutnya dikemukakan dalam firman Allah Swt. benar-benar telah dilaksanakan oleh Nabi Besar Muhammad saw., yakni walau pun pada akhirnya seluruh wilayah jazirah Arabia    berada di bawah kekuasaan beliau saw., akan tetapi kekuasaan duniawi mau pun kekayaan duniawi tersebut sedikit pun tidak berhasil mengubah kesempurnaan akhlak dan ruhani Nabi Besar Muhammad saw. seperti lazimnya terjadi pada umumnya manusia yang tergoda oleh tahta (kekuasaan),  harta (kekayaan) dan wanita – “tiga serangkai” --  bagaikan rayuan istri Potifar terhadap Nabi Yusuf a.s.. (QS.12:22-36).
        Bahlan ketika di antara istri-istri  Nabi Besar Muhammad saw.  ada yang mengajukan usul  bahwa mengingat keadaan ekonomi umumnya umat Islam telah  bertambah  baik, maka  mereka mengajukan permintaan agar  keadaan  ekonomi di lingkungan rumah tangga beliau saw. pun ada sedikit peningkatan. Namun apa jawaban  beliau saw. terhadap keinginan yang sangat wajar dan bukan merupakan suatu dosa tersebut? Firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا النَّبِیُّ  قُلۡ  لِّاَزۡوَاجِکَ اِنۡ  کُنۡـتُنَّ تُرِدۡنَ  الۡحَیٰوۃَ  الدُّنۡیَا وَ زِیۡنَتَہَا فَتَعَالَیۡنَ اُمَتِّعۡکُنَّ وَ اُسَرِّحۡکُنَّ سَرَاحًا جَمِیۡلًا ﴿۲۹  وَ اِنۡ کُنۡـتُنَّ تُرِدۡنَ اللّٰہَ  وَ رَسُوۡلَہٗ وَ الدَّارَ الۡاٰخِرَۃَ  فَاِنَّ اللّٰہَ  اَعَدَّ لِلۡمُحۡسِنٰتِ مِنۡکُنَّ  اَجۡرًا عَظِیۡمًا ﴿۳۰   یٰنِسَآءَ  النَّبِیِّ مَنۡ یَّاۡتِ مِنۡکُنَّ بِفَاحِشَۃٍ  مُّبَیِّنَۃٍ یُّضٰعَفۡ لَہَا الۡعَذَابُ ضِعۡفَیۡنِ ؕ وَ کَانَ ذٰلِکَ عَلَی اللّٰہِ  یَسِیۡرًا ﴿۳۱
Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istri engkau: “Jika kamu menginginkan kehidupan dunia ini dan perhiasannya maka marilah aku akan memberikannya kepadamu dan aku akan menceraikan kamu dengan cara yang baik, tetapi jika kamu menginginkan Allah, Rasul-Nya, dan rumah di akhirat, maka sesungguhnya Allah telah menyediakan ganjaran yang besar bagi siapa di antaramu yang berbuat ihsan. Wahai istri-istri Nabi, barang-siapa di antara kamu berbuat kekejian yang nyata,  baginya azab akan dilipatgandakan   dua kali lipat, dan yang demikian itu mudah bagi Allah.    Tetapi barangsiapa  di antara kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta beramal saleh, Kami akan memberi kepadanya ganjarannya dua kali lipat, dan Kami telah menyediakan baginya rezeki yang mulia.  (Al-Ahzab [33]:29-32).
 K arena istri-istri Nabi Besar Muhammad saw. harus menjadi contoh dalam perilaku sosial, maka seyogianya beliau-beliau telah diminta supaya memperlihatkan suri teladan dalam sikap melupakan kepentingan diri sendiri. Bukanlah karena penggunaan uang dan kenikmatan hidup itu sama sekali terlarang bagi beliau-beliau, akan tetapi yang pasti beliau-beliau diharapkan memperlihatkan sikap melupakan diri sendiri bertaraf tinggi sekali.
 Kepada taraf pengorbanan yang tinggi bertalian dengan faedah kebendaan dan kehidupan mewah serta serba ada inilah yang dimaksudkan ayat ini dan beberapa ayat berikutnya. Kedudukan menjadi teman-hidup (istri-istri) Nabi Besar Muhammad saw. menghendaki pengorbanan ini, dan kepada istri-istri beliau saw.  dikatakan supaya memilih apakah mau kehidupan mewah ataukah menjadi teman-hidup beliau saw. dalam kehidupan rumahtangga yang sangat sederhana.
  Yang dimaksud kalimat : “barang-siapa di antara kamu berbuat kekejian yang nyata”  maknanya  “Perilaku yang tidak selaras dengan taraf keimanan yang tertinggi.  JIka istri-istri Nabi Besar Muhammad saw. lebih menyukai kesenangan-kesenangan duniawi — itulah arti kata fahisyah (Lexicon Lane) yang dipergunakan dalam ayat ini — niscaya beliau-beliau akan memperlihatkan contoh yang sangat buruk dan sebagai istri-istri Nabi Besar Muhammad saw.,  yang amal-perbuatannya harus ditiru oleh perempuan-perempuan lainnya, niscaya beliau-beliau harus memikul tanggung-jawab yang berat dan oleh karena itu akan pantas menerima hukuman sebanyak dua kali lipat. Kebalikannya, bila beliau-beliau patuh kepada Allah dan Rasul-Nya dan memperlihatkan contoh yang mulia dalam sikap melupakan diri sendiri, agar ditiru oleh orang-orang lain, maka ganjaran beliau-beliau pun akan sebanyak dua kali lipat.
        Jadi, betapa kesuksesan duniawi yang diraih oleh Nabi Besar Muhammad saw. – yang digambarkan dalam peristiwa mikraj sebagai “perempuan yang mengenakan  berbagai perhiasan indah” -- sedikit pun  tidak mempengaruhi kehidupan pribadi Nabi Besar Muhammad saw. dan juga kehidupan rumahtangga beliau dengan para istri beliau saw. yang berjumlah 9 orang, beliau saw. tetap berpegang pada prinsip Tauhid Ilahi dalam kadarnya yang paling sempurna, firman-Nya:
قُلۡ  اِنَّنِیۡ ہَدٰىنِیۡ رَبِّیۡۤ  اِلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ ۬ۚ دِیۡنًا قِیَمًا مِّلَّۃَ  اِبۡرٰہِیۡمَ حَنِیۡفًا ۚ وَ مَا کَانَ مِنَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ ﴿۱۶۲   قُلۡ  اِنَّ صَلَاتِیۡ  وَ نُسُکِیۡ وَ مَحۡیَایَ وَ مَمَاتِیۡ   لِلّٰہِ   رَبِّ  الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿۱۶۳﴾ۙ   لَا شَرِیۡکَ لَہٗ ۚ وَ بِذٰلِکَ اُمِرۡتُ وَ اَنَا  اَوَّلُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿۱۶۴
Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah diberi petunjuk oleh Tuhan-ku kepada jalan lurus, agama yang teguh,  agama Ibrahim yang lurus dan dia bukanlah dari   orang-orang musyrik.”   Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, pengorbananku,  kehidupan-ku, dan  kematianku  hanyalah untuk Allāh, Tuhan seluruh  alam;  164.  Tidak ada sekutu bagi-Nya, untuk itulah aku diperintahkan,  dan akulah orang pertama  yang berserah diri. (Al-An’aam [6]:162-164).
 Shalat, korban, hidup, dan mati meliputi seluruh bidang amal perbuatan manusia; dan Nabi Besar Muhammad saw. diperintah menyatakan bahwa semua segi kehidupan di dunia ini dipersembahkan oleh beliau kepada Allah Swt.,  semua amal ibadah beliau saw. dipersembahkan kepada  Allah Swt.,  semua pengorbanan dilakukan beliau saw. untuk Dia; segala penghidupan dihibahkan beliau untuk berbakti kepada-Nya, maka bila di jalan agama beliau mencari maut, itu pun guna meraih keridhaan-Nya.

(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid




Tidak ada komentar:

Posting Komentar