بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
HUBUNGAN NABI YUSUF A.S.
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
Bagian XVIII
Tentang
Godaan Istri Potifar &
Godaan Kesenangan Duniawi (1)
Godaan Kesenangan Duniawi (1)
Oleh
Ki Langlang
Buana Kusuma
زُیِّنَ
لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّہَوٰتِ مِنَ النِّسَآءِ وَ الۡبَنِیۡنَ وَ الۡقَنَاطِیۡرِ
الۡمُقَنۡطَرَۃِ مِنَ الذَّہَبِ وَ الۡفِضَّۃِ وَ الۡخَیۡلِ الۡمُسَوَّمَۃِ وَ
الۡاَنۡعَامِ وَ الۡحَرۡثِ ؕ ذٰلِکَ مَتَاعُ
الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا ۚ وَ اللّٰہُ عِنۡدَہٗ حُسۡنُ الۡمَاٰبِ ﴿۱۵﴾
Ditampakkan indah bagi manusia kecintaan terhadap apa-apa yang
diingini yaitu: perempuan-perempuan,
anak-anak, kekayaan yang berlimpah berupa emas dan perak, kuda pilihan,
binatang ternak dan sawah ladang. Yang demikian itu adalah
perlengkapan hidupdi dunia, dan Allah, di sisi-Nya-lah sebaik-baik tempat kembali. (Ali ‘Imraan [3]:15).
Dalam Bab
XII sebelumnya telah disinggung mengenai
seorang perempuan yang pesolek dan mengenakan berbagai macam perhiasan dalam peristiwa mikraj Nabi Besar
Muhammad saw.. Diinformasikan oleh Malikat Iblis a.s. kepada Nabi Besar
Muhammad saw. bahwa perempuan itu telah membunuh banyak sekali suaminya. Dan ketika hal itu
ditanyakan kepada Malaikat Jibril a.s. lalu dijelaskan kepada beliau saw. bahwa
makna dari “perempuan pesolek” dan mengenakan berbagai perhiasan
tersebut adalah kehidupan dunia
atau kesenangan kehidupan dunia. Sehubungan dengan kehidupan
duniawi tersebut Allah Swt. berfirman:
اِنَّمَا مَثَلُ الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا کَمَآءٍ اَنۡزَلۡنٰہُ مِنَ السَّمَآءِ فَاخۡتَلَطَ بِہٖ نَبَاتُ الۡاَرۡضِ مِمَّا یَاۡکُلُ النَّاسُ وَ الۡاَنۡعَامُ ؕ حَتّٰۤی اِذَاۤ اَخَذَتِ الۡاَرۡضُ زُخۡرُفَہَا وَ ازَّیَّنَتۡ وَ ظَنَّ اَہۡلُہَاۤ اَنَّہُمۡ قٰدِرُوۡنَ عَلَیۡہَاۤ ۙ اَتٰہَاۤ اَمۡرُنَا لَیۡلًا اَوۡ نَہَارًا فَجَعَلۡنٰہَا حَصِیۡدًا کَاَنۡ لَّمۡ تَغۡنَ بِالۡاَمۡسِ ؕ کَذٰلِکَ نُفَصِّلُ الۡاٰیٰتِ لِقَوۡمٍ یَّتَفَکَّرُوۡنَ ﴿۲۵﴾
Sesungguhnya perumpamaan kehidupan dunia adalah seperti
air yang Kami menurunkannya dari langit, lalu bercampur dengannya
tumbuh-tumbuhan bumi, yang darinya
manusia dan binatang ternak makan, sehingga apabila bumi telah
memakai perhiasannya serta nampak keindahannya, dan pemilik-pemiliknya pun
yakin bahwa sesungguhnya mereka berkuasa atasnya, lalu datang kepadanya perintah Kami di waktu malam atau siang, maka Kami
menjadi-kannya laksana ladang yang telah disabit, seakan-akan tidak pernah ada kemarin. Demikianlah
Kami membentangkan Tanda-tanda Kami bagi orang-orang yang berpikir.
(Yunus [10]:25).
Maksud
perumpamaan itu ialah bahwa bila bangsa-bangsa – mau pun orang perorangan -- menjadi
congkak serta manja, dan hidup di dunia ini dipandang
gampang dan ringan, maka detik-detik kemunduran mulai tiba kepada
bangsa-bangsa itu dan mereka ditimpa oleh nasib yang malang.
Mereka
membanggakan diri bahwa semua kesuksesan duniawi mereka itu
berkat upaya dan kerja-keras yang
mereka lakukan serta berkat ilmu pengetahuan yang mereka miliki, sebagaimana yang terjadi dengan Qarun,
Fir’aun dan kaum-kaum purbakala
lainnya yang menentang para Rasul Allah (QS.28:77-83; QS.39:50-53;
QS.43:52-57). firman-Nya lagi:
وَ
اضۡرِبۡ لَہُمۡ مَّثَلَ الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا کَمَآءٍ اَنۡزَلۡنٰہُ مِنَ السَّمَآءِ فَاخۡتَلَطَ بِہٖ نَبَاتُ الۡاَرۡضِ فَاَصۡبَحَ ہَشِیۡمًا تَذۡرُوۡہُ الرِّیٰحُ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ مُّقۡتَدِرًا ﴿۴۴۶﴾ اَلۡمَالُ وَ الۡبَنُوۡنَ زِیۡنَۃُ الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا ۚ وَ الۡبٰقِیٰتُ الصّٰلِحٰتُ خَیۡرٌ عِنۡدَ رَبِّکَ
ثَوَابًا وَّ خَیۡرٌ اَمَلًا ﴿۴۷﴾
Dan
kemukakanlah kepada mereka misal kehidupan dunia, seperti air yang
Kami menurunkannya dari awan, lalu tumbuh-tumbuhan bumi bercampur
dengannya, kemudian ia menjadi
kering dan hancur serta tersebar diterbangkan oleh angin ke
mana-mana, dan Allah memiliki
kekuasaan atas segala sesuatu.
Harta dan anak-anak laki-laki adalah perhiasan
kehidupan dunia, tetapi amal shalih yang kekal lebih baik di
sisi Tuhan engkau dalam hal ganjaran, dan lebih baik dalam hal
harapan. (Al-Kahf [18]:46-47).
Kehidupan
Dunia Bagaikan “Fatamorgana”
Allah Swt. telah menyatakan di dalam
berbagai surah Al-Quran bahwa kesenangan dan kesuksesan kehidupan dunia
ini adalah bagaikan suatu fatamorgana
yang menipu pandangan orang-orang yang mengejar-ngejar kesenangan
hidup duniawi, firman-Nya:
اِعۡلَمُوۡۤا
اَنَّمَا الۡحَیٰوۃُ الدُّنۡیَا لَعِبٌ
وَّ لَہۡوٌ وَّ زِیۡنَۃٌ وَّ
تَفَاخُرٌۢ بَیۡنَکُمۡ وَ تَکَاثُرٌ فِی
الۡاَمۡوَالِ وَ الۡاَوۡلَادِ ؕ کَمَثَلِ غَیۡثٍ اَعۡجَبَ الۡکُفَّارَ
نَبَاتُہٗ ثُمَّ یَہِیۡجُ فَتَرٰىہُ
مُصۡفَرًّا ثُمَّ یَکُوۡنُ حُطَامًا ؕ وَ
فِی الۡاٰخِرَۃِ عَذَابٌ شَدِیۡدٌ ۙ وَّ
مَغۡفِرَۃٌ مِّنَ اللّٰہِ وَ رِضۡوَانٌ ؕ وَ مَا الۡحَیٰوۃُ الدُّنۡیَاۤ
اِلَّا مَتَاعُ الۡغُرُوۡرِ ﴿۲۱﴾ سَابِقُوۡۤا اِلٰی مَغۡفِرَۃٍ مِّنۡ رَّبِّکُمۡ وَ جَنَّۃٍ عَرۡضُہَا کَعَرۡضِ
السَّمَآءِ وَ الۡاَرۡضِ ۙ اُعِدَّتۡ
لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ ؕ ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ
مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ ذُو
الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ ﴿۲۲﴾
Ketahuilah, bahwa
sesungguhnya kehidupan
dunia ini hanyalah permainan,
pengisi waktu, perhiasan, saling berbangga di antara kamu
serta bersaing dalam banyaknya harta
dan anak. Kehidupan ini seperti hujan, tanaman-tanamannya
mengagumkan para penanamnya kemudian
tanaman itu menjadi kering dan engkau melihatnya menjadi kuning
lalu menjadi hancur. Dan di akhirat ada azab sangat keras dan ada
ampunan serta keridhan dari
Allah. Dan sekali-kali tidaklah
kehidupan dunia ini melainkan kesenangan sementara yang menipu. Berlomba-lombalah kamu dalam mencari
ampunan Tuhan-mu dan surga yang nilainya setara dengan
nilai langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan
para rasul-Nya. Demikianlah karunia Allah, Dia menganugerahkannya
kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Allah itu Pemilik karunia yang besar.
(Al-Hadiid [57]:21-22)
Karena
“ardh” berarti nilai atau keluasan, maka ayat ini berarti
bahwa: (a) ganjaran bagi orang-orang yang bertakwa di akhirat akan
tidak terkira banyaknya; (b) karena surga itu seluas bentangan langit
dan bumi – seluruh jagat raya – maka surga itu meliputi neraka
juga. Hal itu menunjukkan bahwa surga dan neraka itu bukan dua
tempat yang berbeda dan terpisah, melainkan dua keadaan atau kondisi
alam pikiran.
Sebuah
hadits Nabi Besar Muhammad saw. yang
terkenal memberikan pengertian yang mendalam mengenai paham Al-Quran mengenai surga
dan neraka. Pada sekali peristiwa beberapa orang sahabat bertanya: “Jika
surga itu meliputi bentangan langit dan bumi dalam keluasannya, maka di manakah
terletak neraka itu?” Menurut riwayat Nabi Besar Muhamkmad saw. telah memberikan jawaban atas pertanyaan
itu: “Dimanakah malam bila siang tiba?” (Tafsir Ibnu
Katsir).
Lebih
jauh Allah Swt. berfirman mengenai kehidupan duniawi yang tidak kekal
serta seperti fatamorgana tersebut:
زُیِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ
الشَّہَوٰتِ مِنَ النِّسَآءِ وَ الۡبَنِیۡنَ وَ الۡقَنَاطِیۡرِ الۡمُقَنۡطَرَۃِ
مِنَ الذَّہَبِ وَ الۡفِضَّۃِ وَ الۡخَیۡلِ الۡمُسَوَّمَۃِ وَ الۡاَنۡعَامِ وَ
الۡحَرۡثِ ؕ ذٰلِکَ مَتَاعُ الۡحَیٰوۃِ
الدُّنۡیَا ۚ وَ اللّٰہُ عِنۡدَہٗ حُسۡنُ الۡمَاٰبِ ﴿۱۵﴾
Ditampakkan indah bagi manusia kecintaan
terhadap apa-apa yang diingini yaitu: perempuan-perempuan, anak-anak, kekayaan yang berlimpah
berupa emas dan perak, kuda
pilihan, binatang ternak dan sawah
ladang. Yang
demikian itu adalah perlengkapan hidupdi dunia, dan Allah, di
sisi-Nya-lah sebaik-baik tempat
kembali. (Ali ‘Imraan
[3]:15).
Tawaran Nabi Besar Muhammad saw. Terhadap Para istri Beliau saw.
Islam tidak melarang
mempergunakan atau mencari barang-barang yang baik dari dunia ini, tetapi tentu
saja Islam mencela mereka yang menyibukkan diri dalam urusan
duniawi dan menjadikannya satu-satunya tujuan hidup mereka. Selanjutnya
Allah Swt. berfirman:
قُلۡ
اَؤُنَبِّئُکُمۡ بِخَیۡرٍ مِّنۡ ذٰلِکُمۡ ؕ لِلَّذِیۡنَ اتَّقَوۡا عِنۡدَ
رَبِّہِمۡ جَنّٰتٌ تَجۡرِیۡ مِنۡ
تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا وَ اَزۡوَاجٌ مُّطَہَّرَۃٌ وَّ
رِضۡوَانٌ مِّنَ اللّٰہِ ؕ وَ اللّٰہُ بَصِیۡرٌۢ
بِالۡعِبَادِ ﴿ۚ۱۶﴾ اَلَّذِیۡنَ یَقُوۡلُوۡنَ رَبَّنَاۤ اِنَّنَاۤ اٰمَنَّا فَاغۡفِرۡ
لَنَا ذُنُوۡبَنَا وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ ﴿ۚ۱۷﴾ اَلصّٰبِرِیۡنَ وَ الصّٰدِقِیۡنَ وَ الۡقٰنِتِیۡنَ وَ الۡمُنۡفِقِیۡنَ
وَ الۡمُسۡتَغۡفِرِیۡنَ بِالۡاَسۡحَارِ ﴿۱۸﴾
Katakanlah: “Maukah kamu aku beri tahu sesuatu yang lebih baik daripada yang
demikian itu?” Bagi orang-orang yang bertakwa, di sisi Tuhan mereka ada kebun-kebun
yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di
dalamnya, jodoh-jodoh suci dan keridhaan
dari Allah, dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. Yaitu orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah
beriman maka ampunilah
dosa-dosa kami, dan peliharalah kami dari azab Api.” Orang-orang yang sabar, orang-orang
yang benar, orang-orang yang taat, orang-orang yang mem-belanjakan di jalan Allah dan orang-orang
yang memohon ampun di bagian akhir malam (Aali ‘Imraan [3]:16-18).
Kata Qul
(katakanlah) terutama sekali ditujukan kepada Nabi Besar Muhammad saw., sebab
apa yang selanjutnya dikemukakan dalam firman Allah Swt. benar-benar telah
dilaksanakan oleh Nabi Besar Muhammad saw., yakni walau pun pada akhirnya
seluruh wilayah jazirah Arabia berada
di bawah kekuasaan beliau saw., akan tetapi kekuasaan duniawi mau pun kekayaan
duniawi tersebut sedikit pun tidak berhasil mengubah kesempurnaan akhlak
dan ruhani Nabi Besar Muhammad saw. seperti lazimnya terjadi pada
umumnya manusia yang tergoda oleh tahta (kekuasaan), harta (kekayaan) dan wanita –
“tiga serangkai” -- bagaikan rayuan
istri Potifar terhadap Nabi Yusuf a.s.. (QS.12:22-36).
Bahlan ketika di
antara istri-istri Nabi Besar Muhammad
saw. ada yang mengajukan usul bahwa mengingat keadaan ekonomi umumnya
umat Islam telah bertambah baik, maka mereka mengajukan permintaan agar keadaan
ekonomi di lingkungan rumah tangga beliau saw. pun ada sedikit
peningkatan. Namun apa jawaban beliau
saw. terhadap keinginan yang sangat wajar dan bukan merupakan suatu dosa
tersebut? Firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا
النَّبِیُّ قُلۡ لِّاَزۡوَاجِکَ اِنۡ کُنۡـتُنَّ تُرِدۡنَ الۡحَیٰوۃَ
الدُّنۡیَا وَ زِیۡنَتَہَا فَتَعَالَیۡنَ اُمَتِّعۡکُنَّ وَ اُسَرِّحۡکُنَّ
سَرَاحًا جَمِیۡلًا ﴿۲۹﴾ وَ اِنۡ کُنۡـتُنَّ تُرِدۡنَ اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ وَ الدَّارَ الۡاٰخِرَۃَ فَاِنَّ اللّٰہَ اَعَدَّ لِلۡمُحۡسِنٰتِ مِنۡکُنَّ اَجۡرًا عَظِیۡمًا ﴿۳۰﴾ یٰنِسَآءَ
النَّبِیِّ مَنۡ یَّاۡتِ مِنۡکُنَّ بِفَاحِشَۃٍ مُّبَیِّنَۃٍ یُّضٰعَفۡ لَہَا الۡعَذَابُ
ضِعۡفَیۡنِ ؕ وَ کَانَ ذٰلِکَ عَلَی اللّٰہِ
یَسِیۡرًا ﴿۳۱﴾
Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istri
engkau: “Jika kamu menginginkan kehidupan dunia ini dan perhiasannya
maka marilah aku akan memberikannya kepadamu dan aku akan menceraikan
kamu dengan cara yang baik, tetapi jika kamu menginginkan Allah,
Rasul-Nya, dan rumah di akhirat, maka sesungguhnya Allah telah
menyediakan ganjaran yang besar bagi siapa di antaramu yang berbuat ihsan.
Wahai istri-istri Nabi, barang-siapa di antara kamu berbuat kekejian
yang nyata, baginya azab
akan dilipatgandakan dua
kali lipat, dan yang demikian itu mudah bagi Allah. Tetapi barangsiapa di antara kamu taat kepada Allah dan
Rasul-Nya serta beramal saleh, Kami akan memberi kepadanya ganjarannya
dua kali lipat, dan Kami telah menyediakan baginya rezeki yang mulia.
(Al-Ahzab [33]:29-32).
K arena istri-istri Nabi Besar Muhammad saw. harus
menjadi contoh dalam perilaku sosial, maka seyogianya beliau-beliau
telah diminta supaya memperlihatkan suri teladan dalam sikap melupakan kepentingan
diri sendiri. Bukanlah karena penggunaan uang dan kenikmatan hidup itu sama
sekali terlarang bagi beliau-beliau, akan tetapi yang pasti beliau-beliau
diharapkan memperlihatkan sikap melupakan diri sendiri bertaraf tinggi sekali.
Kepada taraf pengorbanan yang tinggi bertalian dengan faedah
kebendaan dan kehidupan mewah serta serba ada inilah yang dimaksudkan ayat ini
dan beberapa ayat berikutnya. Kedudukan menjadi teman-hidup (istri-istri)
Nabi Besar Muhammad saw. menghendaki pengorbanan ini, dan kepada istri-istri
beliau saw. dikatakan supaya memilih
apakah mau kehidupan mewah ataukah menjadi teman-hidup beliau
saw. dalam kehidupan rumahtangga yang sangat sederhana.
Yang dimaksud kalimat : “barang-siapa di
antara kamu berbuat kekejian yang nyata”
maknanya “Perilaku yang tidak
selaras dengan taraf keimanan yang tertinggi.
JIka istri-istri Nabi Besar Muhammad saw. lebih menyukai
kesenangan-kesenangan duniawi — itulah arti kata fahisyah (Lexicon
Lane) yang dipergunakan dalam ayat ini — niscaya beliau-beliau akan
memperlihatkan contoh yang sangat buruk dan sebagai istri-istri Nabi
Besar Muhammad saw., yang
amal-perbuatannya harus ditiru oleh perempuan-perempuan lainnya,
niscaya beliau-beliau harus memikul tanggung-jawab yang berat dan oleh
karena itu akan pantas menerima hukuman sebanyak dua kali lipat.
Kebalikannya, bila beliau-beliau patuh kepada Allah dan Rasul-Nya dan memperlihatkan
contoh yang mulia dalam sikap melupakan diri sendiri, agar ditiru
oleh orang-orang lain, maka ganjaran beliau-beliau pun akan sebanyak dua
kali lipat.
Jadi, betapa kesuksesan duniawi yang diraih oleh Nabi Besar
Muhammad saw. – yang digambarkan dalam peristiwa mikraj sebagai
“perempuan yang mengenakan berbagai
perhiasan indah” -- sedikit pun tidak
mempengaruhi kehidupan pribadi Nabi Besar Muhammad saw. dan juga kehidupan
rumahtangga beliau dengan para istri beliau saw. yang berjumlah 9 orang,
beliau saw. tetap berpegang pada prinsip Tauhid Ilahi dalam kadarnya
yang paling sempurna, firman-Nya:
قُلۡ اِنَّنِیۡ ہَدٰىنِیۡ رَبِّیۡۤ اِلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ ۬ۚ دِیۡنًا
قِیَمًا مِّلَّۃَ اِبۡرٰہِیۡمَ حَنِیۡفًا
ۚ وَ مَا کَانَ مِنَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ ﴿۱۶۲﴾ قُلۡ اِنَّ صَلَاتِیۡ وَ نُسُکِیۡ وَ مَحۡیَایَ وَ مَمَاتِیۡ لِلّٰہِ
رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿۱۶۳﴾ۙ لَا شَرِیۡکَ لَہٗ ۚ
وَ بِذٰلِکَ اُمِرۡتُ وَ اَنَا اَوَّلُ
الۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿۱۶۴﴾
Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah diberi petunjuk
oleh Tuhan-ku kepada jalan lurus, agama yang teguh, agama Ibrahim yang lurus dan dia
bukanlah dari orang-orang musyrik.” Katakanlah:
“Sesungguhnya shalatku, pengorbananku,
kehidupan-ku, dan kematianku hanyalah untuk Allāh, Tuhan seluruh alam; 164. Tidak ada sekutu bagi-Nya,
untuk itulah aku diperintahkan,
dan akulah orang pertama yang
berserah diri. (Al-An’aam [6]:162-164).
Shalat, korban, hidup, dan mati meliputi
seluruh bidang amal perbuatan manusia; dan Nabi Besar Muhammad saw. diperintah
menyatakan bahwa semua segi kehidupan di dunia ini dipersembahkan oleh
beliau kepada Allah Swt., semua
amal ibadah beliau saw. dipersembahkan kepada Allah Swt., semua pengorbanan dilakukan beliau saw. untuk
Dia; segala penghidupan dihibahkan beliau untuk berbakti kepada-Nya, maka bila
di jalan agama beliau mencari maut, itu pun guna meraih keridhaan-Nya.
(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid
Tidak ada komentar:
Posting Komentar