بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
HUBUNGAN NABI YUSUF A.S.
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
Bagian XIII
Tentang
Nabi Besar Muhammad saw. & Kabar Gembira
Dalam Surah Al- Insyirah
Dalam Surah Al- Insyirah
Oleh
Ki Langlang
Buana Kusuma
بِسۡمِ اللّٰہِ
الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿۱﴾ اَلَمۡ نَشۡرَحۡ
لَکَ صَدۡرَکَ ۙ﴿۲﴾ وَ وَضَعۡنَا عَنۡکَ وِزۡرَکَ ۙ﴿۳﴾ الَّذِیۡۤ اَنۡقَضَ ظَہۡرَکَ ۙ﴿۴﴾ وَ رَفَعۡنَا لَکَ ذِکۡرَکَ ؕ﴿۵﴾ فَاِنَّ مَعَ الۡعُسۡرِ یُسۡرًا ۙ﴿۶﴾ اِنَّ مَعَ الۡعُسۡرِ یُسۡرًا ؕ﴿۷﴾ فَاِذَا
فَرَغۡتَ فَانۡصَبۡ ۙ﴿۸﴾ وَ اِلٰی
رَبِّکَ فَارۡغَبۡ ٪﴿۹﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha
Penyayang. Tidaklah Kami telah
melapangkan bagi engkau dada engkau, dan Kami menghilangkan dari engkau beban
engkau, yang nyaris mematahkan punggung engkau?
Dan Kami meninggikan untuk engkau sebutan engkau. Sesungguhnya
bersama kesukaran ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesukaran ada kemudahan. Maka
apabila engkau telah menyeselesaikan tugas lalu kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan
yang lain, dan kepada Tuhan engkaulah hendaknya engkau memohon dengan
sungguh-sungguh (Al-Insyirah [94]:1-9).
Dalam Bab
sebelumnya telah dijelaskan secara terinci mengenai kabar gembira yang
terdapat dalam Surah Al-Dhuhaa berkenaan Nabi Besar Muhammad saw.,
firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ
الرَّحِیۡمِ ﴿۱﴾ وَ الضُّحٰی ۙ﴿۲﴾ وَ الَّیۡلِ
اِذَا سَجٰی ۙ﴿۳﴾ مَا وَدَّعَکَ رَبُّکَ وَ مَا قَلٰی ؕ﴿۴﴾ وَ لَلۡاٰخِرَۃُ
خَیۡرٌ لَّکَ مِنَ لۡاُوۡلٰی ؕ﴿۴﴾ وَ لَسَوۡفَ یُعۡطِیۡکَ رَبُّکَ فَتَرۡضٰی ؕ﴿۵﴾ اَلَمۡ یَجِدۡکَ یَتِیۡمًا فَاٰوٰی ۪﴿۶﴾ وَ وَجَدَکَ ضَآلًّا فَہَدٰی ۪﴿۷﴾ وَ وَجَدَکَ عَآئِلًا
فَاَغۡنٰی ؕ﴿۸﴾ فَاَمَّا لۡیَتِیۡمَ فَلَا تَقۡہَرۡ ؕ﴿۹﴾ وَ اَمَّا
السَّآئِلَ فَلَا تَنۡہَرۡ ﴿ؕ۱۰﴾ وَ اَمَّا
بِنِعۡمَۃِ رَبِّکَ فَحَدِّثۡ ﴿٪۱۱﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha
Penyayang. Demi Dhuhaa (terangnya
sinar pagi ketika sedang naik), dan
demi malam apabila kegelapannya menyebar. Tuhan engkau sekali-kali tidak meninggalkan
engkau dan tidak pula Dia murka
atas engkau. Dan sesungguhnya
keadaan kemudian lebih baik bagi engkau
daripada keadaan permulaan. Dan Tuhan engkau segera akan memberikan kepada engkau hingga engkau
menjadi puas. Tidakkah Dia mendapati engkau yatim lalu Dia
memberikan perlindungan? Dan Dia mendapati engkau larut dalam
kecintaan kepada kaum engkau lalu Dia memberi engkau
petunjuk. Dan Dia mendapati engkau berkekurangan lalu Dia
memperkaya engkau. Karena
itu terhadap anak yatim maka janganlah engkau berlaku sewenang-wenang,
dan terhadap orang yang meminta-minta maka janganlah engkau menghardik, dan
terhadap nikmat Tuhan engkau hendaknya menyebut-nyebutnya dengan rasa syukur (Al-Dhuhaa
[93 ]:1-12).
Beratnya
memikul Syariat Islam (Al-Quran)
Kabar Gembira dalam Surah Al-Dhuhaa
tersebut dilanjutkan dalam Surah Al-Insyirah, yang pada hakikatnya
menceritakan sangat beratnya
tugas suci yang dilaksanakan oleh Nabi Besar, di mana dalam bagian akhir
Surah Al-Ahzab digambarkan kecuali insan -- yaitu insan kamil (nabi
Besar Muhammad saw.) – digambarkan secara kiasan bahwa seluruh langit, bumi dan gunung-gunung
menolak untuk memikul amanat syariat Islam (Al-Quran) ketika
“ditawarkan” oleh Allah Swt. kepada mereka, firman-Nya:
اِنَّا
عَرَضۡنَا الۡاَمَانَۃَ عَلَی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ الۡجِبَالِ فَاَبَیۡنَ
اَنۡ یَّحۡمِلۡنَہَا وَ اَشۡفَقۡنَ مِنۡہَا وَ حَمَلَہَا الۡاِنۡسَانُ ؕ اِنَّہٗ
کَانَ ظَلُوۡمًا جَہُوۡلًا ﴿ۙ۷۳﴾
Sesungguhnya
Kami telah menawarkan amanat syariat
kepada seluruh langit, bumi dan gunung-gunung, tetapi semuanya
enggan memikulnya dan mereka takut terhadapnya, akan sedangkan manusia
memikulnya, sesungguhnya ia sanggup berbuat zalim
dan abai terhadap dirinya (Al-Ahzab [33]:73).
Hamala
al-amaanata berarti: ia membebankan atas dirinya atau menerima amanat; ia
mengkhianati amanat itu. Zhalum adalah bentuk kesangatan dari zhalim
yang adalah fa’il atau pelaku dari zhalama, yang berarti ia meletakkan
benda itu di tempat yang salah; zhalamahu berarti: ia membebani diri
sendiri dengan suatu beban yang melewati batas kekuatan atau kemampuan
pikulnya. Jahul adalah bentuk kesangatan dari kata jahil, yang
berarti lalai, dungu, dan alpa (Lexicon
Lane).
(1)
Manusia dianugerahi kemampuan-kemampuan dan kekuatan fitri besar sekali untuk
meresapkan dan menjelmakan di dalam dirinya sifat-sifat Ilahi untuk menayang
citra (bayangan) Khaliq-nya (QS.2:31). Sungguh inilah amanat agung yang
hanya manusia sendiri dari seluruh isi jagat raya ini yang ternyata
sanggup melaksanakannya; makhluk-makhluk dan benda-benda lainnya — para
malaikat, seluruh langit (planit-planit), bumi, gunung-gunung sama sekali tidak
dapat menandinginya. Mereka seakan-akan menolak mengemban amanat itu. Manusia
menerima tanggungjawab ini sebab hanya dialah yang dapat melaksanakannya.
Ia mampu menjadi zhalum (aniaya terhadap dirinya sendiri) dan jahul
(mengabaikan diri sendiri) dalam pengertian bahwa ia dapat aniaya terhadap
dirinya sendiri dalam arti bahwa ia dapat menanggung kesulitan apa pun
dan menjalani pengorbanan apa pun demi Khaliq-nya, dan ia mampu mengabaikan
diri atau alpa dalam arti bahwa dalam mengkhidmati amanat-Nya yang
agung lagi suci itu, ia dapat mengabaikan kepentingan pribadinya dan hasratnya
untuk memperoleh kesenangan dan kenikmatan hidup.
(2)
Jika kata al-amaanat diambil dalam arti sebagai hukum Al-Quran
dan kata al-insan sebagai manusia sempurna (insan kamil) yakni Nabi
Besar Muhammad saw., maka ayat ini akan berarti bahwa dari semua penghuni
seluruh langit dan bumi, hanyalah Nabi Besar Muhammad saw. sendiri saja
yang mampu diamanati wahyu yang mengandung syariat yang paling
sempurna dan penutup yakni syariat Al-Quran, sebab tidak ada
orang atau wujud lain yang pernah dianugerahi sifat-sifat agung yang
mutlak diperlukan untuk melaksanakan tanggungjawab besar ini sepenuhnya
dan sebaik-baiknya.
(3)
Kalau kata hamala diambil dalam arti mengkhianati atau tidak
jujur terhadap suatu amanat, maka ayat ini akan berarti bahwa amanat
syariat Ilahi telah dibebankan atas manusia dan makhluk-makhluk lainnya yang
ada di bumi maupun di langit. Mereka itu semua — kecuali manusia — menolak
mengkhianati amanat ini, yakni mereka itu sepenuhnya dan dengan setia
menjalankan segala hukum yang kepada hukum-hukum itu mereka harus tunduk.
Seluruh
alam setia kepada hukum-hukumnya dan para malaikat juga
melaksanakan tugas mereka dengan setia dan patuh (QS.16:50-51), hanya manusia
saja yang disebabkan telah dikaruniai kebebasan bertindak dan berkehendak
mau juga mengingkari dan melanggar perintah Allah Swt., sebab ia aniaya
dan mengabaikan serta tidak mempedulikan tugas dan kewajibannya.
Arti demikian mengenai ayat ini didukung oleh QS.41:12.
Hakikat “Pngsannya” Nabi Musa a.s.
Sebagai
bukti lainnya mengenai beratnya memikul “amanat syariat Islam”
(Al-Quran) tersebut dalam Surah Al ‘Araaf 144 digambarkan dalam pengalaman ruhani Nabi Musa a.s.
ketika secara kasyaf Allah Swt. memperlihatkan tajalliyat-Nya ke
atas sebuah gunung dan gunung tersebut hancur. Akibat
pengaruh kehebatan kehancuran gunung tersebut Nabi Musa a.s. pun pingsan,
dan ketika beliau siuman dari pingsannya
langsung menyatakan beriman kepada
“nabi yang seperti dirinya” (QS.46:11), yaitu Nabi Besar
Muhammad saw., firman-Nya:
وَ
لَمَّا جَآءَ مُوۡسٰی لِمِیۡقَاتِنَا وَ کَلَّمَہٗ رَبُّہٗ ۙ قَالَ
رَبِّ اَرِنِیۡۤ اَنۡظُرۡ اِلَیۡکَ ؕ قَالَ لَنۡ تَرٰىنِیۡ وَ لٰکِنِ
انۡظُرۡ اِلَی الۡجَبَلِ فَاِنِ اسۡتَقَرَّ مَکَانَہٗ فَسَوۡفَ
تَرٰىنِیۡ ۚ فَلَمَّا تَجَلّٰی رَبُّہٗ
لِلۡجَبَلِ جَعَلَہٗ دَکًّا وَّ
خَرَّ مُوۡسٰی صَعِقًا ۚ فَلَمَّاۤ
اَفَاقَ قَالَ سُبۡحٰنَکَ تُبۡتُ
اِلَیۡکَ وَ اَنَا اَوَّلُ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿۱۴۴﴾
Dan tatkala
Musa datang pada waktu yang Kami tetapkan dan Tuhan-nya
bercakap-cakap dengannya, ia berkata: “Ya Tuhan-ku, perlihatkanlah
kepadaku supaya aku dapat memandang Engkau.” Dia berfirman: “Engkau
tidak akan pernah dapat melihat-Ku
tetapi pandanglah gunung itu, lalu jika ia tetap ada pada
tempat-nya maka engkau pasti akan dapat melihat-Ku.” Maka tatkala Tuhan-nya menjelmakan
keagungan-Nya pada gunung itu Dia menjadikannya hancur lebur, dan Musa pun jatuh pingsan. Lalu
tatkala ia sadar kembali ia berkata: “Mahasuci
Engkau, aku bertaubat kepada
Engkau dan aku adalah orang pertama di antara orang-orang yang beriman
kepadanya di masa ini.” (Al-‘Araaf [144).
Ayat ini memberikan penjelasan mengenai
salah satu masalah keagamaan yang sangat penting, yaitu mungkinkah bagi
seseorang menyaksikan Allah Swt. dengan mata jasmaninya? Ayat itu sedikit
pun tidak mendukung pendapat bahwa Allah Swt. dapat disaksikan oleh mata jasmani
(QS.6:104). Jangankan melihat Allah Swt, dengan mata jasmani, bahkan manusia
tidak dapat pula melihat malaikat-malaikat, kita hanya dapat melihat penjelmaan
mereka belaka.
Begitu
pula hanya tajalli (penjelmaan keagungan) Allah Swt. sajalah yang dapat kita saksikan, tetapi
Allah Swt. sendiri tidak.
Oleh karena itu tidak dapat dimengerti bahwa seorang nabi yang besar seperti
Nabi Musa a.s. dengan segala
makrifat mengenai sifat-sifat Allah Swt. akan mempunyai keinginan mengenai
hal-hal yang mustahil.
Nabi
Musa a.s. mengetahui bahwa
beliau hanyalah dapat menyaksikan Tajalli (penampakkan kekuasaan) Allah Swt. dan bukan Wujud-Nya Sendiri. Akan
tetapi beliau sebelumnya sudah melihat suatu Tajalli Allah Swt. dalam bentuk “api” dalam perjalanan
beliau dari Midian ke Mesir (28:30). Jadi
apa gerangan maksud Musa a.s. dengan perkataan: “Ya Tuhan-ku,
tampakkanlah kepadaku supaya aku dapat
melihat Engkau?”
Permohonan
itu nampaknya mengisyaratkan kepada tajalli-sempurna Allah Swt. yang kelak akan menjelma pada diri Nabi
Besar Muhammad saw. – yakni “nabi
yang seperti Musa” -- beberapa
masa kemudian. Nabi Musa a.s. diberi
janji bahwa dari antara saudara-saudara Bani Israil akan muncul seorang nabi
yang di mulutnya Tuhan akan meletakakan Kalam-Nya (Kitab Ulangan
18:18-22).
Nubuatan
ini berkenaan dengan suatu tajalli lebih besar daripada yang pernah
dilimpahkan kepada Nabi Musa a.s. karena itu beliau dengan sendirinya sangat
berhasrat melihat macam bagaimana Keagungan dan Kemuliaan
Allah Swt. yang akan tampak dalam tajalli yang dijanjikan itu.
Beliau berharap bahwa Keagungan dan Kemuliaan itu, ada yang dapat
diperlihatkan kepada beliau.
Nabi
Musa a.s. diberi tahu bahwa
Tajalli ini berada di luar batas kemampuan beliau untuk
menanggungnya, tajalli itu tidak
akan dapat terjelma pada hati beliau, tetapi Allah Swt. memilih gunung untuk bertajalli.
Gunung itu berguncang dengan hebat serta
nampak seakan-akan ambruk, dan Nabi Musa
a.s. karena dicekam oleh
pengaruh guncangan itu rebah tidak sadarkan diri (pingsan).
Dengan cara demikian Nabi Musa a.s. dibuat
sadar bahwa beliau tidak mencapai taraf yang demikian tingginya dalam martabat
keruhanian yang dapat membuat beliau boleh menyaksikannya sendiri
tempat Allah Swt. bertajalli sebagaimana
dimohonkan beliau. Hak istimewa yang unik itu disediakan untuk seorang Rasul
Allah yang lebih besar daripada beliau, tak lain ialah Mahkota
segala makhluk Ilahi, Baginda Nabi Muhammad saw. yang bergelar Khaataman-Nabiyyiiin.
Kabar Gembira dalam Surah Al-Insyirah
Mengisyaratkan kepada kenyataan itulah
ungkapan dalam Surah Al-Insyirah berimut ini mengenai “beban yang nyaris mematahkan
tulang punggung” Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿۱﴾ اَلَمۡ نَشۡرَحۡ لَکَ صَدۡرَکَ ۙ﴿۲﴾ وَ وَضَعۡنَا عَنۡکَ وِزۡرَکَ ۙ﴿۳﴾ الَّذِیۡۤ اَنۡقَضَ ظَہۡرَکَ ۙ﴿۴﴾ وَ رَفَعۡنَا لَکَ ذِکۡرَکَ ؕ﴿۵﴾ فَاِنَّ مَعَ الۡعُسۡرِ یُسۡرًا ۙ﴿۶﴾ اِنَّ مَعَ الۡعُسۡرِ یُسۡرًا ؕ﴿۷﴾ فَاِذَا
فَرَغۡتَ فَانۡصَبۡ ۙ﴿۸﴾ وَ اِلٰی
رَبِّکَ فَارۡغَبۡ ٪﴿۹﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha
Penyayang. Tidaklah Kami telah
melapangkan bagi engkau dada engkau, dan Kami
menghilangkan dari engkau beban engkau, yang nyaris mematahkan punggung engkau?
Dan Kami meninggikan untuk engkau sebutan engkau. Sesungguhnya
bersama kesukaran ada kemudahan. Sesungguhnya bersama
kesukaran ada kemudahan. Maka apabila engkau telah menyeselesaikan tugas
lalu kerjakanlah dengan
sungguh-sungguh urusan yang lain, dan kepada Tuhan
engkaulah hendaknya engkau memohon dengan sungguh-sungguh (Al-Insyirah
[94]:1-9).
Nabi Besar Muhammad saw. telah dibebani tugas yang tidak
pernah dibebankan kepada siapa pun, begitu memakan syaraf dan mematahkan
punggung yaitu: pertama-tama mengangkat derajat suatu kaum -- yakni bangsa Arab jahiliyah -- dari jurang
kemunduran akhlak ke puncak keutamaan ruhani dan, kemudian dengan perantaraan
mereka membersihkan dan mensucikan seluruh umat manusia dari kezaliman,
kejahilan, dan ketakhyulan (QS.62:3-5). Hal itu sungguh suatu pertanggungjawaban
amat berat dan hampir-hampir meremukkan beliau saw. di bawah
himpitannya, namun Allah Swt. meringankan beban beliau.
Surah ini diwahyukan pada tahun ke-2 atau ke-3
Nabawi, ketika Nabi Besar Muhammad saw. benar-benar tidak dikenal oleh kalangan
di luar kaum beliau saw., tetapi dengan cepat beliau saw. bangkit menjadi orang
yang paling dikenal dan paling dicintai, dihormati, dan yang paling berhasil di
antara semua nabi. Tidak ada pemimpin, baik pemimpin agama ataupun pemimpin
duniawi, yang pernah menikmati kecintaan dan kehormatan dari para pengikutnya
demikian besarnya seperti Nabi Besar Muhammad saw.. Itulah makna ayat: “Dan Kami
meninggikan untuk engkau sebutan engkau.”
Ungkapan “Sesungguhnya bersama kesukaran
ada kemudahan”, telah dise-butkan dua kali. Ini menunjukkan bahwa agama
Islam akan harus melalui masa-masa penuh kesulitan, tetapi pada dua
peristiwa tersebut Islam menghadapi tantangan untuk mempe-tahankan wujudnya
– pertama, selang beberapa tahun permulaan hidupnya sendiri, dan kedua kalinya
pada Akhir Zaman (QS.62:3-5) – dan pada kedua-dua peristiwa itu Islam
akan keluar dari percobaan itu sebagai satu kekuatan baru, firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡ بَعَثَ فِی الۡاُمِّیّٖنَ رَسُوۡلًا
مِّنۡہُمۡ یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِہٖ وَ یُزَکِّیۡہِمۡ وَ یُعَلِّمُہُمُ
الۡکِتٰبَ وَ الۡحِکۡمَۃَ ٭ وَ اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ لَفِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ
ۙ﴿۲﴾ وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا
یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿۳﴾ ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ ذُو
الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ ﴿۴﴾
Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan
bangsa yang buta huruf seorang rasul dari antara mereka,
yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nya, mensucikan mereka, dan
mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah walaupun sebelumnya
mereka berada dalam kesesatan yang nyata. Dan juga akan
membangkitkan-nya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum
bertemu dengan mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha
Bijaksana. Itulah karunia Allah, Dia menganugerahkannya kepada siapa
yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (Al-Jumu’ah
[63]:3-5).
Rahasia Mencapai Kesuksesan Melaksanakan Tugas
&
Suri Teladan Terbaik
Ungkapan ayat-ayat “Sesungguhnya bersama kesukaran ada kemudahan” ini pun menunjukkan pula bahwa kesulitan-kesulitan
yang sedang dihadapi Nabi Besar Muhammad saw. dan orang-orang Islam itu hanya bersifat
sementara, tetapi keberhasilan-keberhasilan mereka akan kekal dan
senantiasa meningkat terus.
Nabi Besar Muhammad
saw. dihibur dengan kalimat “Maka apabila
engkau telah menyeselesaikan
tugas lalu kerjakanlah dengan
sungguh-sungguh urusan yang lain,” yakni beliau
saw. memperoleh jaminan bahwa lapangan kemajuan ruhani yang tidak
ada hingganya terbentang di hadapan beliau saw., dan bahwa sesudah Nabi Besar
Muhammad saw. menanggulangi kesulitan demi kesulitan yang
menghalangi jalan beliau saw., beliau saw. tidak boleh berpuas diri
dengan keberhasilan yang tercapai, tetapi sesudah beliau saw. menundukkan
suatu puncak, harus berusaha terus mendaki puncak lain, dan
perhatian beliau saw. harus senantiasa ditujukan seluruhnya kepada usaha menghidupkan
kembali umat manusia yang telah jatuh dan kepada usaha menegakkan Kerajaan
Ilahi di atas bumi. Itulah makna ayat “dan kepada
Tuhan engkaulah hendaknya engkau memohon dengan sungguh-sungguh.“
Ayat 8 dan 9 tersebut dapat pula mengandung arti bahwa manakala Nabi
Besar Muhammad saw. telah menyelesaikan tugas beliau saw. sehari-hari – mengajar
dan mendidik para pengikut beliau saw. dan membenahi urusan-urusan duniawi
lainnya – beliau saw. harus kembali
menghadap Allah dengan sepenuh hati
sebab perjalanan ruhani beliau saw.tidak terhingga.
Dengan demikian menjadi jelas bahwa mengapa kepada Nabi Besar
Muhammad saw. itulah Allah Swt. telah mewahyukan syariat terakhir dan tersempurna,
yakni agama Islam (Al-Quran – QS.5:4), sebab hanya beliau saw. sajalah
satu-satunya Rasul Allah yang mampu memikulnya serta mengamalkannya
secara sempurna, sehingga beliau saw. benar-benar merupakan suri teladan
yang paling baik dalam berbagai hal, firman-Nya:
لَقَدۡ کَانَ لَکُمۡ فِیۡ رَسُوۡلِ اللّٰہِ اُسۡوَۃٌ حَسَنَۃٌ لِّمَنۡ کَانَ یَرۡجُوا اللّٰہَ وَ
الۡیَوۡمَ الۡاٰخِرَ وَ ذَکَرَ
اللّٰہَ کَثِیۡرًا ﴿ؕ۲۲﴾
Sungguh
dalam diri Rasulullah benar-benar
terdapat suri
teladan yang sebaik-baiknya bagi kamu, bagi orang yang mengharapkan Allah serta Hari
Akhir, dan bagi yang
banyak mengingat Allah. (Al-Ahzab [33]:22).
Pertempuran Khandak
mungkin merupakan percobaan paling pahit di dalam seluruh jenjang kehidupan Nabi
Besar Muhammad saw., dan beliau saw. keluar dari ujian yang paling berat
itu dengan keadaan akhlak dan wibawa yang lebih tinggi lagi.
Sesungguhnyalah pada saat yang sangat berbahayalah, yakni ketika di sekitar
gelap gelita, atau dalam waktu mengenyam sukses dan kemenangan, yakni ketika
musuh bertekuk lutut di hadapannya, watak dan perangai yang sesungguhnya
seseorang diuji; dan sejarah memberi kesaksian yang jelas kepada kenyataan
bahwa Nabi Besar Muhammad saw. -- baik dalam keadaan dukacita karena dirundung
kesengsaraan dan pada saat sukacita karena meraih kemenangan — tetap
menunjukkan kepribadian agung lagi mulia.
Komentar Bosworth Smith dalam Bukunya
“Muhammad and Muham-madanism”
Pertempuran Khandak, Uhud, dan Hunain menjelaskan dengan
seterang-seterangnya satu watak beliau yang indah, dan Fatah Makkah
(Kemenangan atas Mekkah) memperlihatkan watak beliau saw. lainnya. Mara
bahaya tidak mengurangi semangat beliau saw. atau mengecutkan hati beliau saw.,
begitu pula kemenangan dan sukses tidak merusak watak beliau saw.. Ketika
beliau saw. ditinggalkan hampir seorang diri pada hari Pertempuran Hunain,
sedang nasib Islam berada di antara hidup dan mati, beliau tanpa gentar sedikit
pun dan seorang diri belaka maju ke tengah barisan musuh seraya berseru dengan
kata-kata yang patut dikenang selama-lamanya: “Aku nabi Allah dan aku tidak
berkata dusta. Aku anak Abdul Muthalib.” Dan tatkala Makkah jatuh dan
seluruh tanah Arab bertekuk lutut maka kekuasaan yang mutlak dan tak tersaingi
itu tidak kuasa merusak beliau saw.. Beliau saw. menunjukkan keluhuran budi yang
tiada taranya terhadap musuh-musuh beliau saw..
Kesaksian lebih besar mana lagi yang mungkin ada terhadap keagungan
watak Nabi Besar Muhammad saw. selain kenyataan bahwa pribadi-pribadi yang
paling akrab dengan beliau saw. dan yang paling mengenal beliau saw., mereka
itulah yang paling mencintai beliau saw. dan merupakan yang pertama-tama percaya
akan misi beliau saw., yakni, istri beliau saw. yang tercinta, Sitti Khadijah
r.a.; sahabat beliau saw. sepanjang hayat, Abu Bakar Shiddiq r.a.; saudara
sepupu yang juga menantu beliau saw., Ali bin Abi Thalib r.a.; dan bekas budak beliau saw. yang telah
dimerdekakan, Zaid bin Haritsah r.a..
Nabi Besar Muhammad saw. merupakan contoh kemanusiaan yang
paling mulia dan model yang paling sempurna dalam keindahan
dan kebajikan.
Dalam segala segi kehidupan dan watak Nabi Besar Muhammad saw. yang
beraneka ragam, tidak ada duanya dan merupakan contoh yang tiada bandingannya
bagi umat manusia untuk ditiru dan diikuti. Seluruh kehidupan beliau saw. nampak
dengan jelas dan nyata dalam cahaya lampu-sorot sejarah. Beliau saw. mengawali
kehidupan beliau saw. sebagai anak
yatim dan mengakhirinya dengan berperan sebagai wasit yang
menentukan nasib seluruh bangsa.
Sebagai kanak-kanak Nabi Besar Muhammad saw. penyabar lagi gagah,
dan di ambang pintu usia remaja, beliau saw. tetap merupakan contoh yang
sempurna dalam akhlak, ketakwaan, dan kesabaran. Pada usia setengah-baya beliau
saw. mendapat julukan Al-Amin (si Jujur dan setia kepada amanat) dan
selaku seorang niagawan beliau saw. terbukti paling jujur dan cermat.
Nabi Besar Muhammad saw. menikah dengan perempuan-perempuan yang di
antaranya ada yang jauh lebih tua daripada beliau saw. sendiri dan ada juga
yang jauh lebih muda, namun semua bersedia memberi kesaksian dengan
mengangkat sumpah mengenai kesetiaan, kecintaan, dan kekudusan beliau. Sebagai ayah
beliau saw. penuh dengan kasih sayang, dan sebagai sahabat beliau sangat
setia dan murah hati.
Ketika Nabi Besar Muhammad saw. diamanati tugas kenabian
yang amat besar dan berat dalam usaha memperbaiki suatu masyarakat yang sudah
rusak, beliau saw. menjadi sasaran derita aniaya dan pembuangan, namun beliau
saw. memikul semua penderitaan itu dengan sikap agung dan budi
luhur.
Nabi Besar Muhammad saw. bertempur sebagai prajurit gagah-berani
dan memimpin pasukan-pasukan. Beliau saw. menghadapi kekalahan dan beliau saw. saw. memperoleh kemenangan-kemenangan. Beliau menghakimi
dan mengambil serta menjatuhkan keputusan dalam berbagai perkara. Beliau
saw. adalah seorang negarawan, seorang pendidik, dan seorang pemimpin. Dalam buku Muhammad and Muham-madanism”
karya Bosworth Smith, ia menulis:
“Kepala negara merangkap Penghulu Agama, beliau adalah Kaisar
dan Paus sekaligus. Tetapi beliau adalah Paus yang tidak berlaga Paus, dan
Kaisar tanpa pasukan-pasukan yang megah. Tanpa balatentara tetap, tanpa
pengawal, tanpa istana yang megah, tanpa pungutan pajak tetap dan tertentu,
sehingga jika ada orang berhak mengatakan bahwa ia memerintah dengan hak
ketuhanan, maka orang itu hanyalah Muhammad, sebab beliau mempunyai kekuasaan
tanpa alat-alat kekuasaan dan tanpa bantuan kekuasaan. Beliau biasa melakukan
pekerjaan rumah tangga dengan tangan beliau sendiri, biasa tidur di atas
sehelai tikar kulit, dan makanan beliau terdiri dari kurma dan air putih atau
roti jawawut, dan setelah melakukan bermacam-macam tugas sehari penuh, beliau
biasa melewatkan malam hari dengan mendirikan shalat dan doa-doa hingga kedua
belah kaki beliau bengkak-bengkak. Tidak ada orang yang dalam keadaan dan suasana
yang begitu banyak berubah telah berubah begitu sedikitnya kecuali beliau.”
Itulah sedikit gambaran mengenai suri teladan
terbaik yang diperagakan oleh wujud
paling mulia Nabi Besar Muhammad saw., Khaataman-Nabiyyiin.
(Bersambung)
Rujukan:
The
Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid
Tidak ada komentar:
Posting Komentar