Senin, 02 Januari 2012

Nabi Besar Muhammad saw. & Kabar Gembira dalam Surah Al-Isyirah


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ




HUBUNGAN  NABI YUSUF A.S. 
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
  
Bagian   XIII

Tentang

     Nabi Besar Muhammad saw.  & Kabar Gembira 
Dalam  Surah Al- Insyirah
  
 Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
 
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿۱    اَلَمۡ نَشۡرَحۡ  لَکَ صَدۡرَکَ ۙ﴿۲    وَ وَضَعۡنَا عَنۡکَ وِزۡرَکَ ۙ﴿۳  الَّذِیۡۤ  اَنۡقَضَ ظَہۡرَکَ ۙ﴿۴   وَ رَفَعۡنَا لَکَ   ذِکۡرَکَ ؕ﴿۵   فَاِنَّ مَعَ الۡعُسۡرِ  یُسۡرًا ۙ﴿۶   اِنَّ مَعَ الۡعُسۡرِ  یُسۡرًا ؕ﴿۷   فَاِذَا  فَرَغۡتَ فَانۡصَبۡ ۙ﴿۸   وَ اِلٰی  رَبِّکَ فَارۡغَبۡ ٪﴿۹  
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.  Tidaklah Kami telah melapangkan bagi engkau dada engkau,   dan Kami menghilangkan dari engkau beban engkau,   yang nyaris mematahkan punggung engkau? Dan Kami meninggikan untuk engkau sebutan engkau. Sesungguhnya bersama kesukaran ada kemudahan.  Sesungguhnya bersama kesukaran ada kemudahan. Maka apabila engkau telah menyeselesaikan tugas  lalu kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain, dan kepada Tuhan engkaulah hendaknya engkau memohon dengan sungguh-sungguh (Al-Insyirah [94]:1-9).

Dalam Bab sebelumnya telah dijelaskan secara terinci mengenai kabar gembira yang terdapat dalam Surah Al-Dhuhaa berkenaan Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿۱  وَ الضُّحٰی ۙ﴿۲   وَ الَّیۡلِ  اِذَا سَجٰی ۙ﴿۳   مَا وَدَّعَکَ رَبُّکَ وَ مَا قَلٰی ؕ﴿۴   وَ  لَلۡاٰخِرَۃُ  خَیۡرٌ لَّکَ مِنَ   لۡاُوۡلٰی ؕ﴿۴  وَ  لَسَوۡفَ یُعۡطِیۡکَ رَبُّکَ فَتَرۡضٰی ؕ﴿۵   اَلَمۡ  یَجِدۡکَ یَتِیۡمًا فَاٰوٰی ۪﴿۶  وَ  وَجَدَکَ ضَآلًّا فَہَدٰی ۪﴿۷   وَ وَجَدَکَ عَآئِلًا فَاَغۡنٰی ؕ﴿۸  فَاَمَّا    لۡیَتِیۡمَ  فَلَا تَقۡہَرۡ ؕ﴿۹   وَ اَمَّا السَّآئِلَ  فَلَا تَنۡہَرۡ ﴿ؕ۱۰   وَ اَمَّا بِنِعۡمَۃِ  رَبِّکَ  فَحَدِّثۡ ﴿٪۱۱
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.  Demi Dhuhaa (terangnya sinar pagi ketika sedang naik),  dan demi malam apabila kegelapannya menyebar.  Tuhan engkau sekali-kali tidak meninggalkan engkau  dan tidak pula Dia murka atas engkau.  Dan sesungguhnya keadaan  kemudian lebih baik bagi engkau daripada keadaan permulaan. Dan Tuhan engkau   segera akan  memberikan kepada engkau hingga engkau menjadi puas.  Tidakkah Dia  mendapati engkau yatim lalu Dia memberikan perlindungan?  Dan Dia mendapati engkau larut dalam kecintaan kepada kaum engkau lalu Dia memberi engkau petunjuk. Dan Dia mendapati engkau berkekurangan lalu Dia memperkaya engkau.  Karena itu terhadap anak yatim maka janganlah engkau berlaku sewenang-wenang, dan terhadap orang yang meminta-minta maka  janganlah engkau menghardik, dan terhadap nikmat Tuhan engkau hendaknya menyebut-nyebutnya  dengan rasa syukur (Al-Dhuhaa [93 ]:1-12).

Beratnya memikul Syariat Islam (Al-Quran)

     Kabar Gembira dalam Surah Al-Dhuhaa tersebut dilanjutkan dalam Surah Al-Insyirah, yang pada hakikatnya menceritakan sangat beratnya  tugas suci yang dilaksanakan oleh Nabi Besar, di mana dalam bagian akhir Surah Al-Ahzab digambarkan kecuali insan -- yaitu insan kamil (nabi Besar Muhammad saw.) – digambarkan secara kiasan  bahwa seluruh langit, bumi dan gunung-gunung menolak untuk memikul amanat syariat Islam (Al-Quran) ketika “ditawarkan” oleh Allah Swt. kepada mereka, firman-Nya:
اِنَّا عَرَضۡنَا الۡاَمَانَۃَ عَلَی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ الۡجِبَالِ فَاَبَیۡنَ اَنۡ یَّحۡمِلۡنَہَا وَ اَشۡفَقۡنَ مِنۡہَا وَ حَمَلَہَا الۡاِنۡسَانُ ؕ اِنَّہٗ کَانَ ظَلُوۡمًا جَہُوۡلًا ﴿ۙ۷۳
Sesungguhnya Kami telah  menawarkan amanat syariat kepada seluruh langit, bumi dan gunung-gunung, tetapi semuanya enggan memikulnya dan mereka takut terhadapnya, akan sedangkan manusia memikulnya, sesungguhnya ia sanggup berbuat zalim dan  abai  terhadap dirinya  (Al-Ahzab [33]:73).
 Hamala al-amaanata berarti: ia membebankan atas dirinya atau menerima amanat; ia mengkhianati amanat itu. Zhalum adalah bentuk kesangatan dari zhalim yang adalah fa’il atau pelaku dari zhalama, yang berarti ia meletakkan benda itu di tempat yang salah; zhalamahu berarti: ia membebani diri sendiri dengan suatu beban yang melewati batas kekuatan atau kemampuan pikulnya. Jahul adalah bentuk kesangatan dari kata jahil, yang berarti  lalai, dungu, dan alpa (Lexicon Lane).
      (1) Manusia dianugerahi kemampuan-kemampuan dan kekuatan fitri besar sekali untuk meresapkan dan menjelmakan di dalam dirinya sifat-sifat Ilahi untuk menayang citra (bayangan) Khaliq-nya (QS.2:31). Sungguh inilah amanat agung yang hanya manusia sendiri dari seluruh isi jagat raya ini yang ternyata sanggup melaksanakannya; makhluk-makhluk dan benda-benda lainnya — para malaikat, seluruh langit (planit-planit), bumi, gunung-gunung sama sekali tidak dapat menandinginya. Mereka seakan-akan menolak mengemban amanat itu. Manusia menerima tanggungjawab ini sebab hanya dialah yang dapat melaksanakannya. Ia mampu menjadi zhalum (aniaya terhadap dirinya sendiri) dan jahul (mengabaikan diri sendiri) dalam pengertian bahwa ia dapat aniaya terhadap dirinya sendiri dalam arti bahwa ia dapat menanggung kesulitan apa pun dan menjalani pengorbanan apa pun demi Khaliq-nya, dan ia mampu mengabaikan diri atau alpa dalam arti bahwa dalam mengkhidmati amanat-Nya yang agung lagi suci itu, ia dapat mengabaikan kepentingan pribadinya dan hasratnya untuk memperoleh kesenangan dan kenikmatan hidup.
      (2) Jika kata al-amaanat diambil dalam arti sebagai hukum Al-Quran dan kata al-insan sebagai manusia sempurna (insan kamil) yakni Nabi Besar Muhammad saw., maka ayat ini akan berarti bahwa dari semua penghuni seluruh langit dan bumi, hanyalah Nabi Besar Muhammad saw. sendiri saja yang mampu diamanati wahyu yang mengandung syariat yang paling sempurna dan penutup yakni syariat Al-Quran, sebab tidak ada orang atau wujud lain yang pernah dianugerahi sifat-sifat agung yang mutlak diperlukan untuk melaksanakan tanggungjawab besar ini sepenuhnya dan sebaik-baiknya.
      (3) Kalau kata hamala diambil dalam arti mengkhianati atau tidak jujur terhadap suatu amanat, maka ayat ini akan berarti bahwa amanat syariat Ilahi telah dibebankan atas manusia dan makhluk-makhluk lainnya yang ada di bumi maupun di langit. Mereka itu semua — kecuali manusia — menolak mengkhianati amanat ini, yakni mereka itu sepenuhnya dan dengan setia menjalankan segala hukum yang kepada hukum-hukum itu mereka harus tunduk.
Seluruh alam setia kepada hukum-hukumnya dan para malaikat juga melaksanakan tugas mereka dengan setia dan patuh (QS.16:50-51), hanya manusia saja yang disebabkan telah dikaruniai kebebasan bertindak dan berkehendak mau juga mengingkari dan melanggar perintah Allah Swt., sebab ia aniaya dan mengabaikan serta tidak mempedulikan tugas dan kewajibannya. Arti demikian mengenai ayat ini didukung oleh QS.41:12.

Hakikat “Pngsannya” Nabi Musa a.s.

Sebagai bukti lainnya mengenai beratnya memikul “amanat syariat Islam” (Al-Quran) tersebut dalam Surah Al ‘Araaf 144 digambarkan  dalam pengalaman ruhani Nabi Musa a.s. ketika secara kasyaf Allah Swt. memperlihatkan tajalliyat-Nya ke atas sebuah gunung dan gunung tersebut hancur.  Akibat  pengaruh kehebatan kehancuran gunung tersebut Nabi Musa a.s. pun pingsan, dan  ketika beliau siuman dari pingsannya langsung menyatakan beriman kepada  “nabi yang seperti dirinya” (QS.46:11), yaitu Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:
وَ لَمَّا جَآءَ مُوۡسٰی لِمِیۡقَاتِنَا وَ کَلَّمَہٗ رَبُّہٗ ۙ قَالَ رَبِّ اَرِنِیۡۤ   اَنۡظُرۡ   اِلَیۡکَ ؕ قَالَ لَنۡ تَرٰىنِیۡ  وَ لٰکِنِ  انۡظُرۡ  اِلَی  الۡجَبَلِ فَاِنِ اسۡتَقَرَّ مَکَانَہٗ فَسَوۡفَ تَرٰىنِیۡ ۚ فَلَمَّا تَجَلّٰی رَبُّہٗ  لِلۡجَبَلِ جَعَلَہٗ  دَکًّا وَّ خَرَّ مُوۡسٰی صَعِقًا ۚ فَلَمَّاۤ  اَفَاقَ قَالَ سُبۡحٰنَکَ تُبۡتُ  اِلَیۡکَ  وَ اَنَا  اَوَّلُ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿۱۴۴
 Dan  tatkala Musa datang pada waktu yang Kami tetapkan dan Tuhan-nya bercakap-cakap dengannya, ia berkata: “Ya Tuhan-ku, perlihatkanlah kepadaku supaya aku dapat memandang Engkau.” Dia berfirman: “Engkau tidak akan pernah dapat melihat-Ku  tetapi pandanglah gunung itu, lalu jika ia tetap ada pada tempat-nya  maka engkau pasti  akan dapat melihat-Ku.” Maka  tatkala Tuhan-nya menjelmakan keagungan-Nya pada  gunung itu  Dia menjadikannya hancur lebur,  dan Musa pun jatuh pingsan. Lalu tatkala ia sadar kembali  ia berkata: “Mahasuci Engkau, aku bertaubat  kepada Engkau dan aku adalah orang pertama di antara orang-orang yang beriman kepadanya di masa ini.” (Al-‘Araaf [144).
   Ayat ini memberikan penjelasan mengenai salah satu masalah keagamaan yang sangat penting, yaitu mungkinkah bagi seseorang menyaksikan  Allah Swt.  dengan mata jasmaninya? Ayat itu sedikit pun tidak mendukung pendapat bahwa Allah Swt.  dapat disaksikan oleh mata jasmani (QS.6:104). Jangankan melihat Allah Swt,   dengan mata jasmani, bahkan manusia tidak dapat pula melihat malaikat-malaikat, kita hanya dapat melihat penjelmaan mereka belaka.
      Begitu pula hanya tajalli (penjelmaan keagungan) Allah Swt.  sajalah yang dapat kita saksikan, tetapi Allah Swt.  sendiri tidak. Oleh karena itu tidak dapat dimengerti bahwa seorang nabi yang besar seperti Nabi Musa a.s.  dengan segala makrifat mengenai sifat-sifat Allah Swt. akan mempunyai keinginan mengenai hal-hal yang mustahil.
Nabi Musa a.s.  mengetahui bahwa beliau hanyalah dapat menyaksikan Tajalli (penampakkan kekuasaan)  Allah Swt.  dan bukan Wujud-Nya Sendiri. Akan tetapi beliau sebelumnya sudah melihat suatu Tajalli  Allah Swt.  dalam bentuk “api” dalam perjalanan beliau dari Midian ke Mesir (28:30). Jadi  apa gerangan maksud Musa a.s. dengan perkataan: “Ya Tuhan-ku, tampakkanlah  kepadaku supaya aku dapat melihat Engkau?”
Permohonan itu nampaknya mengisyaratkan kepada tajalli-sempurna Allah Swt.  yang kelak akan menjelma pada diri Nabi Besar Muhammad saw.  – yakni “nabi yang seperti Musa” --  beberapa masa kemudian. Nabi Musa a.s.   diberi janji bahwa dari antara saudara-saudara Bani Israil akan muncul seorang nabi yang di mulutnya Tuhan akan meletakakan Kalam-Nya (Kitab Ulangan 18:18-22).
      Nubuatan ini berkenaan dengan suatu tajalli lebih besar daripada yang pernah dilimpahkan kepada Nabi Musa a.s. karena itu beliau dengan sendirinya sangat berhasrat melihat macam bagaimana Keagungan dan Kemuliaan Allah Swt. yang akan tampak dalam tajalli yang dijanjikan itu. Beliau berharap bahwa Keagungan dan Kemuliaan itu, ada yang dapat diperlihatkan kepada beliau.
      Nabi Musa a.s.  diberi tahu bahwa Tajalli ini berada di luar batas kemampuan beliau untuk menanggungnya,  tajalli itu tidak akan dapat terjelma pada hati beliau, tetapi Allah Swt. memilih gunung untuk bertajalli. Gunung itu berguncang dengan hebat  serta nampak  seakan-akan ambruk, dan Nabi Musa a.s.  karena dicekam oleh pengaruh guncangan itu rebah tidak sadarkan diri (pingsan).
       Dengan cara demikian Nabi Musa a.s. dibuat sadar bahwa beliau tidak mencapai taraf  yang demikian tingginya dalam martabat keruhanian yang dapat membuat beliau boleh menyaksikannya sendiri tempat  Allah Swt.   bertajalli sebagaimana dimohonkan beliau. Hak istimewa yang unik itu disediakan untuk seorang Rasul Allah yang lebih besar daripada beliau, tak lain ialah Mahkota segala makhluk Ilahi, Baginda Nabi Muhammad saw.  yang bergelar Khaataman-Nabiyyiiin.

Kabar Gembira dalam Surah Al-Insyirah

     Mengisyaratkan kepada kenyataan itulah ungkapan dalam Surah Al-Insyirah berimut ini  mengenai “beban yang nyaris mematahkan tulang punggung” Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:
 بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿۱    اَلَمۡ نَشۡرَحۡ  لَکَ صَدۡرَکَ ۙ﴿۲    وَ وَضَعۡنَا عَنۡکَ وِزۡرَکَ ۙ﴿۳  الَّذِیۡۤ  اَنۡقَضَ ظَہۡرَکَ ۙ﴿۴   وَ رَفَعۡنَا لَکَ   ذِکۡرَکَ ؕ﴿۵   فَاِنَّ مَعَ الۡعُسۡرِ  یُسۡرًا ۙ﴿۶   اِنَّ مَعَ الۡعُسۡرِ  یُسۡرًا ؕ﴿۷   فَاِذَا  فَرَغۡتَ فَانۡصَبۡ ۙ﴿۸   وَ اِلٰی  رَبِّکَ فَارۡغَبۡ ٪﴿۹  
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.  Tidaklah Kami telah melapangkan bagi engkau dada engkau,   dan Kami menghilangkan dari engkau beban engkau,   yang nyaris mematahkan punggung engkau? Dan Kami meninggikan untuk engkau sebutan engkau. Sesungguhnya bersama kesukaran ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesukaran ada kemudahan. Maka apabila engkau telah menyeselesaikan tugas  lalu kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain, dan kepada Tuhan engkaulah hendaknya engkau memohon dengan sungguh-sungguh (Al-Insyirah [94]:1-9).
  Nabi Besar Muhammad saw.  telah dibebani tugas yang tidak pernah dibebankan kepada siapa pun, begitu memakan syaraf dan mematahkan punggung yaitu: pertama-tama mengangkat derajat suatu kaum  -- yakni bangsa Arab jahiliyah -- dari jurang kemunduran akhlak ke puncak keutamaan ruhani dan, kemudian dengan perantaraan mereka membersihkan dan mensucikan seluruh umat manusia dari kezaliman, kejahilan, dan ketakhyulan (QS.62:3-5). Hal itu sungguh suatu pertanggungjawaban amat berat dan hampir-hampir meremukkan beliau saw. di bawah himpitannya, namun Allah Swt. meringankan beban beliau.
  Surah ini diwahyukan pada tahun ke-2 atau ke-3 Nabawi, ketika Nabi Besar Muhammad saw. benar-benar tidak dikenal oleh kalangan di luar kaum beliau saw., tetapi dengan cepat beliau saw. bangkit menjadi orang yang paling dikenal dan paling dicintai, dihormati, dan yang paling berhasil di antara semua nabi. Tidak ada pemimpin, baik pemimpin agama ataupun pemimpin duniawi, yang pernah menikmati kecintaan dan kehormatan dari para pengikutnya demikian besarnya seperti Nabi Besar Muhammad saw.. Itulah makna ayat: “Dan Kami meninggikan untuk engkau sebutan engkau.”
  Ungkapan “Sesungguhnya bersama kesukaran ada kemudahan”, telah dise-butkan dua kali. Ini menunjukkan bahwa agama Islam akan harus melalui masa-masa penuh kesulitan, tetapi pada dua peristiwa tersebut Islam menghadapi tantangan untuk mempe-tahankan wujudnya – pertama, selang beberapa tahun permulaan hidupnya sendiri, dan kedua kalinya pada Akhir Zaman (QS.62:3-5) – dan pada kedua-dua peristiwa itu Islam akan keluar dari percobaan itu sebagai satu kekuatan baru, firman-Nya:
 ہُوَ الَّذِیۡ بَعَثَ فِی الۡاُمِّیّٖنَ رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِہٖ وَ یُزَکِّیۡہِمۡ وَ یُعَلِّمُہُمُ الۡکِتٰبَ وَ الۡحِکۡمَۃَ ٭ وَ اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ لَفِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ ۙ﴿۲ وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿۳ ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ ﴿۴
Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan bangsa yang buta huruf seorang rasul dari antara mereka, yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nya, mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah walaupun sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata. Dan juga akan membangkitkan-nya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana. Itulah karunia Allah, Dia menganugerahkannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (Al-Jumu’ah [63]:3-5).

Rahasia Mencapai Kesuksesan Melaksanakan Tugas &
Suri Teladan Terbaik

Ungkapan ayat-ayat “Sesungguhnya bersama kesukaran ada kemudahan”    ini pun menunjukkan pula bahwa kesulitan-kesulitan yang sedang dihadapi Nabi Besar Muhammad saw.  dan orang-orang Islam itu hanya bersifat sementara, tetapi keberhasilan-keberhasilan mereka akan kekal dan senantiasa meningkat terus.
 Nabi Besar Muhammad saw.  dihibur dengan kalimat “Maka apabila engkau telah menyeselesaikan tugas  lalu kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain,” yakni beliau saw. memperoleh jaminan bahwa lapangan kemajuan ruhani yang tidak ada hingganya terbentang di hadapan beliau saw., dan bahwa sesudah Nabi Besar Muhammad saw. menanggulangi kesulitan demi kesulitan yang menghalangi jalan beliau saw., beliau saw. tidak boleh berpuas diri dengan keberhasilan yang tercapai, tetapi sesudah beliau saw. menundukkan suatu puncak, harus berusaha terus mendaki puncak lain, dan perhatian beliau saw. harus senantiasa ditujukan seluruhnya kepada usaha menghidupkan kembali umat manusia yang telah jatuh dan kepada usaha menegakkan Kerajaan Ilahi di atas bumi. Itulah makna ayat “dan kepada Tuhan engkaulah hendaknya engkau memohon dengan sungguh-sungguh.“
 Ayat 8 dan 9 tersebut  dapat pula mengandung arti bahwa manakala Nabi Besar Muhammad saw. telah menyelesaikan tugas beliau saw. sehari-hari – mengajar dan mendidik para pengikut beliau  saw. dan membenahi urusan-urusan duniawi lainnya – beliau  saw. harus kembali menghadap  Allah dengan sepenuh hati sebab perjalanan ruhani beliau  saw.tidak terhingga.
Dengan demikian menjadi jelas bahwa mengapa kepada Nabi Besar Muhammad saw. itulah Allah Swt. telah mewahyukan syariat terakhir dan tersempurna, yakni agama Islam (Al-Quran – QS.5:4), sebab hanya beliau saw. sajalah satu-satunya Rasul Allah yang mampu memikulnya serta mengamalkannya secara sempurna, sehingga beliau saw. benar-benar merupakan suri teladan yang paling baik dalam berbagai hal, firman-Nya:
 لَقَدۡ کَانَ لَکُمۡ  فِیۡ رَسُوۡلِ اللّٰہِ  اُسۡوَۃٌ حَسَنَۃٌ  لِّمَنۡ کَانَ یَرۡجُوا اللّٰہَ وَ الۡیَوۡمَ  الۡاٰخِرَ  وَ ذَکَرَ  اللّٰہَ  کَثِیۡرًا ﴿ؕ۲۲
 Sungguh dalam  diri Rasulullah benar-benar terdapat  suri teladan yang sebaik-baiknya bagi kamu,   bagi  orang yang mengharapkan Allah serta Hari Akhir,  dan bagi yang banyak mengingat Allah. (Al-Ahzab [33]:22).
   Pertempuran Khandak mungkin merupakan percobaan paling pahit di dalam seluruh jenjang kehidupan Nabi Besar Muhammad saw., dan beliau saw. keluar dari ujian yang paling berat itu dengan keadaan akhlak dan wibawa yang lebih tinggi lagi. Sesungguhnyalah pada saat yang sangat berbahayalah, yakni ketika di sekitar gelap gelita, atau dalam waktu mengenyam sukses dan kemenangan, yakni ketika musuh bertekuk lutut di hadapannya, watak dan perangai yang sesungguhnya seseorang diuji; dan sejarah memberi kesaksian yang jelas kepada kenyataan bahwa Nabi Besar Muhammad saw. -- baik dalam keadaan dukacita karena dirundung kesengsaraan dan pada saat sukacita karena meraih kemenangan — tetap menunjukkan kepribadian agung lagi mulia.

Komentar Bosworth Smith dalam Bukunya
Muhammad and Muham-madanism”  

Pertempuran Khandak, Uhud, dan Hunain menjelaskan dengan seterang-seterangnya satu watak beliau yang indah, dan Fatah Makkah (Kemenangan atas Mekkah) memperlihatkan watak beliau saw. lainnya. Mara bahaya tidak mengurangi semangat beliau saw. atau mengecutkan hati beliau saw., begitu pula kemenangan dan sukses tidak merusak watak beliau saw.. Ketika beliau saw. ditinggalkan hampir seorang diri pada hari Pertempuran Hunain, sedang nasib Islam berada di antara hidup dan mati, beliau tanpa gentar sedikit pun dan seorang diri belaka maju ke tengah barisan musuh seraya berseru dengan kata-kata yang patut dikenang selama-lamanya: “Aku nabi Allah dan aku tidak berkata dusta. Aku anak Abdul Muthalib.” Dan tatkala Makkah jatuh dan seluruh tanah Arab bertekuk lutut maka kekuasaan yang mutlak dan tak tersaingi itu tidak kuasa merusak beliau saw.. Beliau saw. menunjukkan keluhuran budi yang tiada taranya terhadap musuh-musuh beliau saw..
Kesaksian lebih besar mana lagi yang mungkin ada terhadap keagungan watak Nabi Besar Muhammad saw. selain kenyataan bahwa pribadi-pribadi yang paling akrab dengan beliau  saw.  dan yang paling mengenal beliau saw., mereka itulah yang paling mencintai beliau saw. dan merupakan yang pertama-tama percaya akan misi beliau saw., yakni, istri beliau saw. yang tercinta, Sitti Khadijah r.a.; sahabat beliau saw. sepanjang hayat, Abu Bakar Shiddiq r.a.; saudara sepupu yang juga menantu beliau saw., Ali bin Abi Thalib r.a.;  dan bekas budak beliau saw. yang telah dimerdekakan, Zaid bin Haritsah r.a..  Nabi Besar Muhammad saw. merupakan contoh kemanusiaan yang paling mulia dan model yang paling sempurna dalam keindahan dan kebajikan.
Dalam segala segi kehidupan dan watak Nabi Besar Muhammad saw. yang beraneka ragam, tidak ada duanya dan merupakan contoh yang tiada bandingannya bagi umat manusia untuk ditiru dan diikuti. Seluruh kehidupan beliau saw. nampak dengan jelas dan nyata dalam cahaya lampu-sorot sejarah. Beliau saw. mengawali kehidupan beliau  saw. sebagai anak yatim dan mengakhirinya dengan berperan sebagai wasit yang menentukan nasib seluruh bangsa.
Sebagai kanak-kanak Nabi Besar Muhammad saw. penyabar lagi gagah, dan di ambang pintu usia remaja, beliau saw. tetap merupakan contoh yang sempurna dalam akhlak, ketakwaan, dan kesabaran. Pada usia setengah-baya beliau saw. mendapat julukan Al-Amin (si Jujur dan setia kepada amanat) dan selaku seorang niagawan beliau saw. terbukti paling jujur dan cermat.
Nabi Besar Muhammad saw.  menikah dengan perempuan-perempuan yang di antaranya ada yang jauh lebih tua daripada beliau saw. sendiri dan ada juga yang jauh lebih muda, namun semua bersedia memberi kesaksian dengan mengangkat sumpah mengenai kesetiaan, kecintaan, dan kekudusan beliau. Sebagai ayah beliau saw. penuh dengan kasih sayang, dan sebagai sahabat beliau sangat setia dan murah hati.
Ketika Nabi Besar Muhammad saw. diamanati tugas kenabian yang amat besar dan berat dalam usaha memperbaiki suatu masyarakat yang sudah rusak, beliau saw. menjadi sasaran derita aniaya dan pembuangan, namun beliau saw. memikul semua penderitaan itu dengan sikap agung dan budi luhur.
Nabi Besar Muhammad saw. bertempur sebagai prajurit gagah-berani dan memimpin pasukan-pasukan. Beliau saw. menghadapi kekalahan dan beliau saw.  saw. memperoleh kemenangan-kemenangan. Beliau menghakimi dan mengambil serta menjatuhkan keputusan dalam berbagai perkara. Beliau saw. adalah seorang negarawan, seorang pendidik, dan seorang pemimpin. Dalam  buku Muhammad and Muham-madanism” karya Bosworth Smith, ia menulis:
Kepala negara merangkap Penghulu Agama, beliau adalah Kaisar dan Paus sekaligus. Tetapi beliau adalah Paus yang tidak berlaga Paus, dan Kaisar tanpa pasukan-pasukan yang megah. Tanpa balatentara tetap, tanpa pengawal, tanpa istana yang megah, tanpa pungutan pajak tetap dan tertentu, sehingga jika ada orang berhak mengatakan bahwa ia memerintah dengan hak ketuhanan, maka orang itu hanyalah Muhammad, sebab beliau mempunyai kekuasaan tanpa alat-alat kekuasaan dan tanpa bantuan kekuasaan. Beliau biasa melakukan pekerjaan rumah tangga dengan tangan beliau sendiri, biasa tidur di atas sehelai tikar kulit, dan makanan beliau terdiri dari kurma dan air putih atau roti jawawut, dan setelah melakukan bermacam-macam tugas sehari penuh, beliau biasa melewatkan malam hari dengan mendirikan shalat dan doa-doa hingga kedua belah kaki beliau bengkak-bengkak. Tidak ada orang yang dalam keadaan dan suasana yang begitu banyak berubah telah berubah begitu sedikitnya kecuali beliau.
     Itulah sedikit gambaran mengenai suri teladan terbaik yang diperagakan oleh wujud  paling mulia Nabi Besar Muhammad saw., Khaataman-Nabiyyiin.

(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid      

Tidak ada komentar:

Posting Komentar