بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
HUBUNGAN NABI YUSUF A.S.
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
Bagian XXX
Tentang
Nabi Yusuf a.s. Menjadi Pejabat Tinggi
di Kerajaan Mesir
di Kerajaan Mesir
Oleh
Ki Langlang
Buana Kusuma
وَ قَالَ الۡمَلِکُ ائۡتُوۡنِیۡ بِہٖ ۚ فَلَمَّا
جَآءَہُ الرَّسُوۡلُ قَالَ ارۡجِعۡ اِلٰی
رَبِّکَ فَسۡـَٔلۡہُ مَا بَالُ النِّسۡوَۃِ
الّٰتِیۡ قَطَّعۡنَ اَیۡدِیَہُنَّ ؕ اِنَّ رَبِّیۡ بِکَیۡدِہِنَّ عَلِیۡمٌ
﴿۵۱﴾
Dan raja itu berkata: “Bawalah dia kepadaku.” Maka tatkala utusan
itu datang kepadanya, ia, Yusuf, berkata: “Kembalilah kepada rabb (majikan)
engkau dan tanyakanlah
kepadanya, bagaimana keadaan para
perempuan yang telah mengerat tangan mereka sendiri, sesungguhnya Tuhan-ku Maha Mengetahui rencana tipu
daya mereka.” (Yusuf [12]:51).
Dalam Bab
sebelumnya telah dijelaskan takwil mimpi raja Mesir yang diterangkan
oleh Nabi Yusuf a.s., yang bukan saja
sangat berkait erat dengan akan terjadinya pengulangan bencana kelaparan yang
hebat, seperti juga telah terjadi di masa-masa sebelumnya, juga merupakan
nubuatan bahwa bencana serupa akan
terjadi di masa Nabi Besar Muhammad saw., sebagaimana firman-Nya:
بَلۡ ہُمۡ
فِیۡ شَکٍّ یَّلۡعَبُوۡنَ ﴿۱۰﴾ فَارۡتَقِبۡ یَوۡمَ
تَاۡتِی السَّمَآءُ بِدُخَانٍ مُّبِیۡنٍ ﴿ۙ۱۱﴾ یَّغۡشَی النَّاسَ ؕ ہٰذَا عَذَابٌ
اَلِیۡمٌ ﴿۱۲﴾ رَبَّنَا
اکۡشِفۡ عَنَّا الۡعَذَابَ اِنَّا
مُؤۡمِنُوۡنَ ﴿۱۳﴾ اَنّٰی لَہُمُ الذِّکۡرٰی وَ قَدۡ جَآءَہُمۡ
رَسُوۡلٌ مُّبِیۡنٌ ﴿ۙ۱۴﴾ ثُمَّ تَوَلَّوۡا عَنۡہُ وَ قَالُوۡا مُعَلَّمٌ مَّجۡنُوۡنٌ ﴿ۘ۱۵﴾ اِنَّا کَاشِفُوا
الۡعَذَابِ قَلِیۡلًا اِنَّکُمۡ
عَآئِدُوۡنَ ﴿ۘ۱۶﴾
Bahkan
mereka bermain-main dalam keraguan. Maka tunggulah Hari itu ketika langit membawa asap yang nyata, yang
meliputi seluruh manusia. Ini adalah suatu azab yang pedih. Mereka
berseru: "Hai Tuhan kami,
lenyapkanlah azab ini dari kami, sesungguhnya kami orang-orang yang
beriman." Bagaimanakah mereka
akan memperoleh manfaat dari peringatan itu, padahal telah datang
kepada mereka seorang rasul yang menerangkan dengan jelas, kemudian
mereka berpaling darinya dan berkata: "Ia telah diajari, ia orang gila."
Sesungguhnya Kami akan melenyapkan azab itu sementara waktu, tetapi sesungguhnya kamu akan kembali kepada
keburukan. (Al-Dukhaan [44]:10-16).
Bencana
Kelaparan yang Melanda Makkah
Kemudian
dalam Surah yang lain Allah Swt. berfirman:
وَ ضَرَبَ اللّٰہُ مَثَلًا قَرۡیَۃً کَانَتۡ اٰمِنَۃً مُّطۡمَئِنَّۃً
یَّاۡتِیۡہَا رِزۡقُہَا رَغَدًا مِّنۡ کُلِّ مَکَانٍ فَکَفَرَتۡ بِاَنۡعُمِ
اللّٰہِ فَاَذَاقَہَا اللّٰہُ لِبَاسَ الۡجُوۡعِ وَ الۡخَوۡفِ بِمَا کَانُوۡا یَصۡنَعُوۡنَ ﴿۱۱۳﴾
Dan Allah mengemukakan perumpamaan sebuah kota yang aman dan
sejahtera, rezekinya datang
kepadanya berlimpah-limpah dari setiap tempat tetapi tidak bersyukur
atas nikmat Allah, maka Allah merasakan kepadanya pakaian kelaparan dan ketakutan
disebabkan apa yang senantiasa mereka
kerjakan. (Al-Nahl [16]:113).
“Kota” yang diisyaratkan dalam ayat ini ialah Makkah. Ketakutan akan
perang yang di dalamnya kaum Mekkah terlibat dengan orang-orang Muslim dan
akhirnya dikalahkan. Mereka hidup dalam keadaan ketakutan yang amat sangat,
seakan-akan ketakutan akan perang itu telah mengurung mereka.
Dalam
muhawarah (pepatah) bahasa Arab kata dzaqa (merasakan) kadang-kadang digunakan untuk libas
(pakaian). Ada sebuah kalimat yang terkenal dalam bahasa Arab: qaaluu
iqtarih syai’an nujid laka thabkhahu qultu itbakhu li jubbatan wa qamisha,
yakni mereka mengatakan: “makanan apakah yang kiranya engkau kehendaki kami masak
bagi engkau.” Aku berkata: “Masaklah bagiku sehelai jas panjang dan sehelai
kemeja.” Malapetaka kelaparan yang mengerikan,
yang mencengkeram kota Makkah selama 7 tahun.
Mendengar
takwil mimpinya yang diterangkan oleh Nabi Yusuf a.s. raja Mesir sangat
puas, lalu ia memerintahkan agar segera menghadirkan Nabi Yusuf a.s. ke
hadapannya, firman-Nya:
وَ قَالَ الۡمَلِکُ ائۡتُوۡنِیۡ بِہٖ ۚ فَلَمَّا
جَآءَہُ الرَّسُوۡلُ قَالَ ارۡجِعۡ اِلٰی
رَبِّکَ فَسۡـَٔلۡہُ مَا بَالُ النِّسۡوَۃِ
الّٰتِیۡ قَطَّعۡنَ اَیۡدِیَہُنَّ ؕ اِنَّ رَبِّیۡ بِکَیۡدِہِنَّ عَلِیۡمٌ
﴿۵۱﴾
Dan raja itu berkata: “Bawalah dia kepadaku.” Maka tatkala
utusan itu datang kepadanya, ia, Yusuf, berkata: “Kembalilah kepada
majikan engkau dan tanyakanlah
kepadanya, bagaimana keadaan para
perempuan yang telah mengerat tangan mereka sendiri, sesungguhnya Tuhan-ku Maha Mengetahui
rencana tipu daya mereka.” (Yusuf [12]:51).
Pengulangan Kisah Monumental “Adam, Malaikat, Iblis”
Menyadari
bahwa Nabi Yusuf a.s. itu
bukanlah orang biasa, raja bermaksud membebaskan beliau dari penjara seketika
itu juga. Tetapi Nabi Yusuf a.s. menolak
untuk dibebaskan sebelum diadakan pemeriksaan lengkap mengenai perkara beliau,
dan sebelum beliau terbukti bersih dari tuduhan yang dikenakan kepada beliau.
Tujuan beliau, dalam menuntut agar diadakan pemeriksaan itu, agaknya ada dua:
Pertama, supaya raja dapat mengetahui bahwa beliau tidak bersalah, sehingga di
hari kemudian pikiran raja tidak dapat diracuni oleh orang-orang yang bersikap
tidak baik terhadap beliau atas dasar tuduhan-tuduhan yang karenanya beliau
dipenjarakan. Kedua, supaya Potifar, pelindungnya, jangan lagi mempunyai kesan
bahwa Nabi Yusuf a.s. terbukti
tidak setia kepadanya.
Mengenai
ayat ini telah dijelaskan secara terinci
dalam beberapa Bab sebelumnya, agar kasus rayuan istri Potifar terhadap
Nabi Yusuf a.s. tidak terpotong oleh ayat-ayat mengenai takwil mimpi
kedua teman sepenjara Nabi Yusuf a.s. yang dijelaskan sebelumnya (QS.12:37-43).
Setelah
kasus rayuan istri Potifar
duduk perkaranya jelas -- siapa yang benar dan siapa yang salah
(QS.12:52-54) – dan raja pun merasa puas
mendengarkan penjelasan Nabi Yusuf a.s. mengenai mimpinya, selanjutnya
Allah Swt. berfirman:
وَ
قَالَ الۡمَلِکُ ائۡتُوۡنِیۡ بِہٖۤ
اَسۡتَخۡلِصۡہُ لِنَفۡسِیۡ ۚ فَلَمَّا
کَلَّمَہٗ قَالَ اِنَّکَ الۡیَوۡمَ لَدَیۡنَا مَکِیۡنٌ اَمِیۡنٌ ﴿۵۵﴾
Dan raja itu berkata: “Bawalah dia kepadaku, supaya aku
memilih dia untuk tugas-tugas pribadiku.” Maka tatkala ia berbicara dengannya ia berkata: “Sesungguhnya engkau, Yusuf, hari ini seseorang yang berkedudukan
tinggi di sisi kami lagi ter-percaya.” (Yusuf [12]:55).
Sebagaimana telah
dijelaskan pada Bab-bab awal, bahwa
kisah Nabi Yusuf a.s. dengan saudara-saudaranya pada hakikatnya pengulangan kembali Kisah
Monumental “Adam, Malaikat, Iblis”, dimana sebagaimana halnya iblis karena
merasa tidak senang lalu ia menolak ketika diperintahkan Allah
Swt. untuk “sujud” (patuh-taat sepenuhnya) kepada Adam (khalifah Allah) bersama-sama para malaikat
(QS.2:35; QS.7:12-13;QS.15:29-33; 17:62; QS.18:51; QS.20:117; QS.38:72-77),
demikian juga saudara-saudara tua Nabi Yusuf a.s. seayah telah
menganggap perlakuan ayah mereka, Nabi Ya’qub a.s., lebih mencintai Nabi
Yusuf a.s. merupakan tindakan yang sangat
keliru, sehingga mereka merencanakan untuk membunuh Nabi Yusuf
a.s. (QS.12:8-11). Atas dasar kenyataan
itulah sebelumnya Nabi Ya’qub a.s. telah melarang Nabi Yusuf a.s.
menceritakan mimpinya kepada saudara-saudaranya (QS.12:5-7).
Nabi Ya’qub a.s. Tidak Mau Menentang Takdir Ilahi
Namun walau pun
demikian nampaknya Nabi Ya’qub a.s. menyadari bahwa pemberitahuan Allah Swt. kepada Nabi
Ibrahim a.s. melalui rukya (penglihatan ruhani) yang dialaminya – bahwa
keturunan beliau akan berada di negeri lain sebagai orang asing selama 400
tahun (Kejadian 15:12-16) -- akan mulai berlaku, itulah sebabnya
ketika kakak-kakak Nabi Yusuf a.s.
meminta kepada Nabi Ya’qub a.s.
agar mengizinkan mereka mengajak Nabi Yusuf a.s. untuk
bermain-main bersama mereka, tetapi Nabi
Yaqub a.s. tidak bisa menolak dengan tegas permintaan mereka, melainkan
hanya sekedar memberikan peringatan kepada mereka – bahwa Nabi Ya’qub a.s. khawatir Nabi Yusuf a.s.
akan menjadi mangsa serigala (QS.12:12-19).
Dengan demikian maka ada beberapa point kesimpulan yang dapat
diketahui sampai dengan firman Allah Swt. mengenai pemanggilan Nabi Yusuf a.s. oleh raja Mesir:
(1) Nabi Yusuf a.s. yang diupayakan oleh
saudara-saudara tuanya untuk mendapat kehinaan,
tetapi yang terjadi malah sebaliknya, yakni beliau secara duniawi
mendapat kehidupan yang jauh lebih baik daripada kehidupannya
bersama-sama dengan keluarga besarnya di Kanaan. (QS.12:22).
(2) Kehidupan secara duniawi yang dialami oleh Nabi
Yusuf a.s. di rumah Potifar terbukti merupakan ujian keimanan bagi
beliau, dan karena beliau tetap berpegangteguh pada Tauhid Ilahi maka
akibatnya – sesuai dengan Sunnatullah -- Nabi
Yusuf a.s. harus hidup di dalam penjara selama beberapa tahun, sesuai
dengan pilihan (keinginan) beliau sendiri (QS.12:23-36).
(3) Sunnatullah selanjutnya mulai berlaku, sesuai dengan janji Allah
Swt. bahwa orang-orang yang teguh dalam Tauhidnya – bagaimana pun
beratnya ujian-ujian keimanan yang harus dihadapinya (QS.41:31-33) – maka Allah Swt. akan menganugerahkan
maqam (martabat/kedudukan)
“kehidupan surgawi” di dunia ini – yang dalam Kisah Monumental “Adam,
Malaikat, Iblis” digambarkan bahwa “Adam
dan istrinya” diperintahkan untuk
tinggal di dalam “jannah”:
وَ قُلۡنَا یٰۤاٰدَمُ اسۡکُنۡ اَنۡتَ وَ
زَوۡجُکَ الۡجَنَّۃَ وَ کُلَا مِنۡہَا رَغَدًا حَیۡثُ شِئۡتُمَا ۪ وَ لَا
تَقۡرَبَا ہٰذِہِ الشَّجَرَۃَ فَتَکُوۡنَا مِنَ الظّٰلِمِیۡنَ ﴿۳۷﴾
Dan Kami berfirman: “Hai Adam, tinggallah engkau dan isteri
engkau dalam kebun ini, dan makanlah darinya sepuas hati di mana
pun kamu berdua sukai, tetapi janganlah kamu berdua mendekati
pohon ini, jika tidak maka kamu berdua
akan menjadi orang-orang zalim.” (Al-Baqarah
[2]:37).
Penghargaan Raja Mesir kepada Nabi Yusuf a.s.
Bandingkan firman Allah
Swt. tersebut dengan ucapan raja Mesir kepada Nabi Yusuf a.s. berikut
ini, firman-Nya:
وَ قَالَ الۡمَلِکُ ائۡتُوۡنِیۡ بِہٖۤ
اَسۡتَخۡلِصۡہُ لِنَفۡسِیۡ ۚ فَلَمَّا
کَلَّمَہٗ قَالَ اِنَّکَ الۡیَوۡمَ لَدَیۡنَا مَکِیۡنٌ اَمِیۡنٌ ﴿۵۵﴾
Dan raja itu berkata: “Bawalah dia kepadaku, supaya aku
memilih dia untuk tugas-tugas pribadiku.” Maka tatkala ia (Yusuf) berbicara dengannya ia (raja) berkata:
“Sesungguhnya engkau, Yusuf, hari ini seorang yang
berkedudukan tinggi di sisi kami lagi terpercaya.” (Yusuf [12]:55).
Fir’aun adalah
sebutan bagi para penguasa kerajaan Mesir, seperti halnya caesar (kaisar)
sebutan raja-raja kerajaan Rumawi, chosru (Kisra) sebutan raja-raja
Persia (Iran), tetapi yang unik dalam Surah Yusuf ini Allah Swt. tidak
mempergunakan sebutan fir’aun bagi raja (penguasa) Mesir, yang
dipergunakan adalah kata malik. Bahkan Nabi Yusuf a.s. menyebut raja
Mesir tersebut rabb – artinya
majikan -- ketika berbicara dengan orang yang dibebaskan dari penjara -- firman-Nya:
وَ
قَالَ لِلَّذِیۡ ظَنَّ اَنَّہٗ نَاجٍ مِّنۡہُمَا اذۡکُرۡنِیۡ عِنۡدَ رَبِّکَ ۫ فَاَنۡسٰہُ
الشَّیۡطٰنُ ذِکۡرَ رَبِّہٖ فَلَبِثَ فِی السِّجۡنِ بِضۡعَ سِنِیۡنَ ﴿ؕ٪۴۳﴾
Dan dia berkata kepada orang
yang diduganya akan dibebaskan dari antara kedua orang itu: “Ceriterakanlah mengenai diriku kepada
rabb (majikan) engkau.” Tetapi syaitan menyebabkannya lupa
menceritakannya kepada rabb-nya (majikannya) maka tinggallah dia
dalam penjara beberapa tahun lamanya. (Yusuf [12]:43).
Dengan demikian jelaslah bahwa walau pun arti utama kata rabb adalah tuhan -- arbaab (tuhan-tuhan) -- tetapi kata
rabb pun bisa juga memiliki makna lain, sebagaimana yang
dikatakan Nabi Yusuf a.s. mengenai raja Mesir dalam ayat tersebut. Kata kerja rabba
berarti: ia mengelola urusan itu; ia memperbanyak, mengembangkan, memperbaiki,
dan melengkapkan urusan itu; ia memelihara dan menjaga. Jadi Rabb
berarti: (a) Tuhan, Yang Dipertuan, Khaaliq (Yang menciptakan); (b) Wujud Yang
memelihara dan mengembangkan; (c) Wujud Yang menyempurnakan, dengan cara
se-tingkat demi setingkat (Al-Mufradat dan Lexicon Lane).
Dan jika dipakai dalam rangkaian dengan kata lain, kata rabb dapat
dipakai untuk orang atau wujud selain Allah Swt..
Jadi kembali kepada
perkataan raja Mesir kepada Nabi Yusuf
a.s. dalam firman-Nya sebelum ini:
وَ قَالَ الۡمَلِکُ ائۡتُوۡنِیۡ بِہٖۤ
اَسۡتَخۡلِصۡہُ لِنَفۡسِیۡ ۚ فَلَمَّا
کَلَّمَہٗ قَالَ اِنَّکَ الۡیَوۡمَ لَدَیۡنَا مَکِیۡنٌ اَمِیۡنٌ ﴿۵۵﴾
Dan raja itu berkata: “Bawalah dia kepadaku, supaya aku
memilih dia untuk tugas-tugas pribadiku.” Maka tatkala ia (Yusuf) berbicara dengannya ia (raja) berkata: “Sesungguhnya engkau, Yusuf, hari ini seorang yang
berkedudukan tinggi di sisi kami lagi terpercaya.” (Yusuf [12]:55).
Cara Nabi Yusuf a.s. Mensyukuri Nikmat Allah Swt.
Dalam firman Allah
Swt. tersebut raja Mesir
seakan-akan dalam posisi sebagai Rabb
yang Hakiki yakni Allah Swt., sebab kewajiban seorang raja
pun harus melaksanakan dari berbagai makna kata rabb yang telah
dijelaskan sebelumnya – termasuk raja Mesir di zaman Nabi Yusuf a.s. -- itulah sebabnya raja Mesir pun memiliki
kekuasaan untuk memberi kedudukan yang khusus
di sisinya kepada Nabi Yusuf a.s, sesuai kehendaknya, firman-Nya:
قَالَ اِنَّکَ الۡیَوۡمَ لَدَیۡنَا مَکِیۡنٌ اَمِیۡنٌ
ia (raja) berkata: “Sesungguhnya engkau, Yusuf, hari ini seorang yang
berkedudukan tinggi di sisi kami lagi terpercaya.” (Yusuf
[12]:55).
Namun demikian bukan berarti bahwa Nabi Yusuf a.s. dapat berbuat sekehendak hatinya,
karena beliau pun tetap harus mematuhi berbagai peraturan kerajaan yang
berlaku bagi semua orang yang ada di wilayah kerajaan Mesir – sebagaimana Allah
Swt. telah memperingatkan Adam dan istrinya agar jangan mendekati
“pohon terlarang” (QS.2:36) -- bahkan Nabi Yusuf a.s. harus melaksanakan
amanat
kehormatan dari raja Mesir
tersebut sebaik-baiknya. Untuk tujuan itulah Nabi Yusuf a.s. telah mengajukan permintaan
kepada raja Mesir, firman-Nya:
قَالَ اجۡعَلۡنِیۡ عَلٰی خَزَآئِنِ الۡاَرۡضِ ۚ اِنِّیۡ حَفِیۡظٌ
عَلِیۡمٌ ﴿۵۶﴾
Ia, Yusuf, berkata: “Jadikanlah aku bendahara negeri ini,
karena aku seorang penjaga yang baik serta memahami urusan
itu.” (Yusuf [12]:56).
Nabi
Yusuf a.s. lebih menyukai jabatan
keuangan. Pilihan beliau agaknya
didorong oleh keinginan untuk mencurahkan perhatian sebulat-bulatnya untuk
menyelenggarakan dinas pemerintahan dengan berhasil, yang sangat erat
kaitannya dengan menjadi sempurnanya mimpi sang raja.
Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid
Tidak ada komentar:
Posting Komentar