Minggu, 29 Januari 2012

Nabi Yusuf a.s. Menjadi Pejabat Tinggi di Kerajaan Mesir


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ

 
HUBUNGAN  NABI YUSUF A.S. 
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
  
Bagian   XXX
Tentang
 
      Nabi Yusuf a.s. Menjadi Pejabat Tinggi 
di Kerajaan Mesir 
 
 Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma

 
وَ  قَالَ الۡمَلِکُ ائۡتُوۡنِیۡ بِہٖ ۚ فَلَمَّا جَآءَہُ الرَّسُوۡلُ قَالَ ارۡجِعۡ  اِلٰی رَبِّکَ فَسۡـَٔلۡہُ مَا بَالُ النِّسۡوَۃِ  الّٰتِیۡ قَطَّعۡنَ اَیۡدِیَہُنَّ ؕ اِنَّ رَبِّیۡ بِکَیۡدِہِنَّ عَلِیۡمٌ ﴿۵۱
Dan raja itu berkata: “Bawalah dia kepadaku.” Maka tatkala utusan itu datang kepadanya, ia, Yusuf, berkata: “Kembalilah kepada rabb (majikan) engkau dan  tanyakanlah kepadanya, bagaimana  keadaan para perempuan yang telah mengerat tangan mereka sendiri,  sesungguhnya Tuhan-ku Maha Mengetahui rencana tipu daya mereka.” (Yusuf [12]:51).

Dalam Bab sebelumnya telah dijelaskan takwil mimpi raja Mesir yang diterangkan oleh Nabi Yusuf a.s.,  yang bukan saja sangat berkait erat dengan akan terjadinya pengulangan bencana kelaparan yang hebat, seperti juga telah terjadi di masa-masa sebelumnya, juga merupakan nubuatan bahwa  bencana serupa akan terjadi di masa Nabi Besar Muhammad saw., sebagaimana firman-Nya:
بَلۡ  ہُمۡ  فِیۡ  شَکٍّ  یَّلۡعَبُوۡنَ ﴿۱۰   فَارۡتَقِبۡ یَوۡمَ تَاۡتِی السَّمَآءُ بِدُخَانٍ مُّبِیۡنٍ ﴿ۙ۱۱  یَّغۡشَی النَّاسَ ؕ ہٰذَا  عَذَابٌ  اَلِیۡمٌ ﴿۱۲   رَبَّنَا  اکۡشِفۡ عَنَّا الۡعَذَابَ  اِنَّا مُؤۡمِنُوۡنَ ﴿۱۳   اَنّٰی لَہُمُ الذِّکۡرٰی وَ قَدۡ جَآءَہُمۡ رَسُوۡلٌ مُّبِیۡنٌ ﴿ۙ۱۴   ثُمَّ تَوَلَّوۡا عَنۡہُ  وَ قَالُوۡا مُعَلَّمٌ  مَّجۡنُوۡنٌ ﴿ۘ۱۵   اِنَّا کَاشِفُوا الۡعَذَابِ قَلِیۡلًا  اِنَّکُمۡ عَآئِدُوۡنَ ﴿ۘ۱۶

Bahkan mereka bermain-main dalam keraguan. Maka tunggulah Hari itu  ketika langit membawa asap yang nyata, yang meliputi seluruh manusia. Ini adalah suatu azab yang pedih.   Mereka berseru:  "Hai Tuhan kami, lenyapkanlah azab ini dari kami, sesungguhnya kami orang-orang yang beriman." Bagaimanakah  mereka akan memperoleh manfaat dari peringatan itu, padahal telah datang kepada mereka seorang rasul yang menerangkan dengan jelas,   kemudian mereka berpaling darinya dan berkata: "Ia telah  diajari, ia orang gila." Sesungguhnya Kami akan melenyapkan azab itu sementara waktu, tetapi  sesungguhnya kamu akan kembali kepada keburukan. (Al-Dukhaan [44]:10-16).

Bencana Kelaparan yang Melanda Makkah

Kemudian dalam Surah yang lain Allah Swt. berfirman:
وَ ضَرَبَ اللّٰہُ مَثَلًا قَرۡیَۃً کَانَتۡ اٰمِنَۃً مُّطۡمَئِنَّۃً یَّاۡتِیۡہَا رِزۡقُہَا رَغَدًا مِّنۡ کُلِّ مَکَانٍ فَکَفَرَتۡ بِاَنۡعُمِ اللّٰہِ فَاَذَاقَہَا اللّٰہُ لِبَاسَ الۡجُوۡعِ وَ الۡخَوۡفِ بِمَا  کَانُوۡا  یَصۡنَعُوۡنَ ﴿۱۱۳
Dan Allah mengemukakan perumpamaan sebuah kota yang aman dan sejahtera,  rezekinya datang kepadanya berlimpah-limpah dari setiap tempat tetapi tidak bersyukur atas nikmat Allah, maka Allah merasakan kepadanya   pakaian kelaparan dan ketakutan disebabkan   apa yang senantiasa mereka kerjakan. (Al-Nahl [16]:113).
  “Kota” yang diisyaratkan dalam ayat ini ialah Makkah. Ketakutan akan perang yang di dalamnya kaum Mekkah terlibat dengan orang-orang Muslim dan akhirnya dikalahkan. Mereka hidup dalam keadaan ketakutan yang amat sangat, seakan-akan ketakutan akan perang itu telah mengurung mereka.
        Dalam muhawarah (pepatah) bahasa Arab kata dzaqa (merasakan)   kadang-kadang digunakan untuk libas (pakaian). Ada sebuah kalimat yang terkenal dalam bahasa Arab: qaaluu iqtarih syai’an nujid laka thabkhahu qultu itbakhu li jubbatan wa qamisha, yakni mereka mengatakan: “makanan apakah yang kiranya engkau kehendaki kami masak bagi engkau.” Aku berkata: “Masaklah bagiku sehelai jas panjang dan sehelai kemeja.” Malapetaka kelaparan yang mengerikan, yang mencengkeram kota Makkah selama 7 tahun.
        Mendengar takwil mimpinya yang diterangkan oleh Nabi Yusuf a.s. raja Mesir sangat puas, lalu ia memerintahkan agar segera menghadirkan Nabi Yusuf a.s. ke hadapannya, firman-Nya:
وَ  قَالَ الۡمَلِکُ ائۡتُوۡنِیۡ بِہٖ ۚ فَلَمَّا جَآءَہُ الرَّسُوۡلُ قَالَ ارۡجِعۡ  اِلٰی رَبِّکَ فَسۡـَٔلۡہُ مَا بَالُ النِّسۡوَۃِ  الّٰتِیۡ قَطَّعۡنَ اَیۡدِیَہُنَّ ؕ اِنَّ رَبِّیۡ بِکَیۡدِہِنَّ عَلِیۡمٌ ﴿۵۱
Dan raja itu berkata: “Bawalah dia kepadaku.” Maka tatkala utusan itu datang kepadanya, ia, Yusuf, berkata: “Kembalilah kepada majikan engkau dan  tanyakanlah kepadanya, bagaimana  keadaan para perempuan yang telah mengerat tangan mereka sendiri,  sesungguhnya Tuhan-ku Maha Mengetahui rencana tipu daya mereka.” (Yusuf [12]:51).

Pengulangan Kisah Monumental “Adam, Malaikat, Iblis”

     Menyadari bahwa Nabi Yusuf a.s.  itu bukanlah orang biasa, raja bermaksud membebaskan beliau dari penjara seketika itu juga. Tetapi Nabi Yusuf a.s.   menolak untuk dibebaskan sebelum diadakan pemeriksaan lengkap mengenai perkara beliau, dan sebelum beliau terbukti bersih dari tuduhan yang dikenakan kepada beliau. Tujuan beliau, dalam menuntut agar diadakan pemeriksaan itu, agaknya ada dua: Pertama, supaya raja dapat mengetahui bahwa beliau tidak bersalah, sehingga di hari kemudian pikiran raja tidak dapat diracuni oleh orang-orang yang bersikap tidak baik terhadap beliau atas dasar tuduhan-tuduhan yang karenanya beliau dipenjarakan. Kedua, supaya Potifar, pelindungnya, jangan lagi mempunyai kesan bahwa Nabi Yusuf a.s.   terbukti tidak setia kepadanya.
       Mengenai ayat ini telah dijelaskan  secara terinci dalam beberapa Bab sebelumnya, agar kasus rayuan istri Potifar terhadap Nabi Yusuf a.s. tidak terpotong oleh ayat-ayat mengenai takwil mimpi kedua teman sepenjara Nabi Yusuf a.s. yang dijelaskan  sebelumnya (QS.12:37-43).
       Setelah kasus rayuan istri Potifar    duduk perkaranya jelas  --  siapa yang benar dan siapa yang salah (QS.12:52-54) – dan raja pun merasa puas  mendengarkan penjelasan Nabi Yusuf a.s. mengenai mimpinya, selanjutnya Allah Swt. berfirman:
وَ قَالَ الۡمَلِکُ ائۡتُوۡنِیۡ بِہٖۤ  اَسۡتَخۡلِصۡہُ لِنَفۡسِیۡ ۚ فَلَمَّا  کَلَّمَہٗ  قَالَ  اِنَّکَ الۡیَوۡمَ  لَدَیۡنَا مَکِیۡنٌ  اَمِیۡنٌ ﴿۵۵
Dan raja itu berkata: “Bawalah dia kepadaku, supaya aku memilih dia untuk tugas-tugas pribadiku.” Maka tatkala  ia berbicara dengannya ia berkata:  “Sesungguhnya engkau, Yusuf,  hari ini seseorang yang berkedudukan tinggi di sisi kami lagi ter-percaya.” (Yusuf [12]:55).
      Sebagaimana telah dijelaskan pada Bab-bab awal, bahwa   kisah Nabi Yusuf a.s. dengan saudara-saudaranya  pada hakikatnya pengulangan kembali Kisah Monumental “Adam, Malaikat, Iblis”,  dimana sebagaimana halnya iblis karena merasa tidak senang lalu ia menolak ketika diperintahkan Allah Swt. untuk “sujud” (patuh-taat sepenuhnya) kepada Adam  (khalifah Allah) bersama-sama para malaikat (QS.2:35; QS.7:12-13;QS.15:29-33; 17:62; QS.18:51; QS.20:117; QS.38:72-77), demikian juga saudara-saudara tua Nabi Yusuf a.s. seayah telah menganggap perlakuan ayah mereka, Nabi Ya’qub a.s., lebih mencintai Nabi Yusuf a.s. merupakan tindakan yang  sangat keliru, sehingga mereka merencanakan untuk membunuh Nabi Yusuf a.s.  (QS.12:8-11). Atas dasar kenyataan itulah sebelumnya Nabi Ya’qub a.s. telah melarang Nabi Yusuf a.s. menceritakan mimpinya kepada saudara-saudaranya (QS.12:5-7).

Nabi Ya’qub a.s. Tidak Mau Menentang Takdir Ilahi

    Namun walau pun demikian nampaknya Nabi Ya’qub a.s. menyadari bahwa  pemberitahuan Allah Swt. kepada Nabi Ibrahim a.s. melalui rukya (penglihatan ruhani) yang dialaminya – bahwa keturunan beliau akan berada di negeri lain sebagai orang asing selama 400 tahun (Kejadian  15:12-16)   -- akan mulai berlaku, itulah sebabnya ketika  kakak-kakak Nabi Yusuf a.s. meminta kepada Nabi Ya’qub a.s.  agar  mengizinkan  mereka mengajak Nabi Yusuf a.s. untuk bermain-main  bersama mereka, tetapi Nabi Yaqub a.s. tidak bisa menolak  dengan tegas permintaan mereka, melainkan hanya sekedar memberikan peringatan kepada mereka – bahwa   Nabi Ya’qub a.s. khawatir Nabi Yusuf a.s. akan menjadi mangsa serigala (QS.12:12-19).
     Dengan demikian  maka ada beberapa point kesimpulan yang dapat diketahui sampai dengan firman Allah Swt. mengenai pemanggilan Nabi Yusuf a.s.  oleh raja Mesir:
   (1) Nabi Yusuf a.s. yang diupayakan oleh saudara-saudara tuanya  untuk mendapat kehinaan, tetapi yang terjadi malah sebaliknya, yakni beliau secara duniawi mendapat kehidupan yang jauh lebih baik daripada kehidupannya bersama-sama dengan keluarga besarnya di Kanaan. (QS.12:22).
      (2)  Kehidupan  secara duniawi yang dialami oleh Nabi Yusuf a.s. di rumah Potifar terbukti merupakan ujian keimanan bagi beliau, dan karena beliau tetap berpegangteguh pada Tauhid Ilahi maka akibatnya – sesuai dengan Sunnatullah  --  Nabi Yusuf a.s. harus hidup di dalam penjara selama beberapa tahun, sesuai dengan pilihan (keinginan) beliau sendiri (QS.12:23-36).
   (3) Sunnatullah selanjutnya   mulai berlaku, sesuai dengan janji Allah Swt. bahwa orang-orang yang  teguh  dalam Tauhidnya – bagaimana pun beratnya ujian-ujian keimanan yang harus dihadapinya  (QS.41:31-33) – maka Allah Swt. akan menganugerahkan maqam (martabat/kedudukan)  “kehidupan surgawi” di dunia ini – yang dalam Kisah Monumental “Adam, Malaikat, Iblis” digambarkan  bahwa “Adam dan istrinya” diperintahkan untuk  tinggal di dalam “jannah”:
وَ قُلۡنَا یٰۤاٰدَمُ اسۡکُنۡ اَنۡتَ وَ زَوۡجُکَ الۡجَنَّۃَ وَ کُلَا مِنۡہَا رَغَدًا حَیۡثُ شِئۡتُمَا ۪ وَ لَا تَقۡرَبَا ہٰذِہِ الشَّجَرَۃَ فَتَکُوۡنَا مِنَ الظّٰلِمِیۡنَ ﴿۳۷
Dan Kami berfirman: “Hai Adam,  tinggallah engkau dan isteri engkau dalam kebun ini, dan makanlah darinya sepuas hati di mana pun kamu berdua sukai,   tetapi janganlah kamu berdua mendekati pohon ini,    jika tidak maka kamu berdua akan  menjadi orang-orang  zalim.” (Al-Baqarah [2]:37).

Penghargaan Raja Mesir kepada Nabi Yusuf a.s.

      Bandingkan firman Allah Swt. tersebut dengan ucapan raja Mesir kepada Nabi Yusuf a.s. berikut ini, firman-Nya:
وَ قَالَ الۡمَلِکُ ائۡتُوۡنِیۡ بِہٖۤ  اَسۡتَخۡلِصۡہُ لِنَفۡسِیۡ ۚ فَلَمَّا  کَلَّمَہٗ  قَالَ  اِنَّکَ الۡیَوۡمَ  لَدَیۡنَا مَکِیۡنٌ  اَمِیۡنٌ ﴿۵۵
Dan raja itu berkata: “Bawalah dia kepadaku, supaya aku memilih dia untuk tugas-tugas pribadiku.” Maka tatkala  ia (Yusuf) berbicara dengannya ia (raja)  berkata:  Sesungguhnya engkau, Yusuf,  hari ini seorang yang berkedudukan tinggi di sisi kami lagi terpercaya.”  (Yusuf [12]:55).
      Fir’aun adalah sebutan bagi para penguasa kerajaan Mesir, seperti halnya caesar (kaisar) sebutan raja-raja kerajaan Rumawi, chosru (Kisra) sebutan raja-raja Persia (Iran), tetapi yang unik dalam Surah Yusuf ini Allah Swt. tidak mempergunakan sebutan fir’aun bagi raja (penguasa) Mesir, yang dipergunakan adalah kata malik. Bahkan Nabi Yusuf a.s. menyebut raja Mesir tersebut  rabbartinya majikan -- ketika berbicara dengan orang yang dibebaskan dari penjara  --  firman-Nya:
وَ قَالَ لِلَّذِیۡ ظَنَّ اَنَّہٗ نَاجٍ مِّنۡہُمَا اذۡکُرۡنِیۡ عِنۡدَ رَبِّکَ ۫ فَاَنۡسٰہُ الشَّیۡطٰنُ ذِکۡرَ رَبِّہٖ فَلَبِثَ فِی السِّجۡنِ بِضۡعَ سِنِیۡنَ ﴿ؕ٪۴۳
Dan dia berkata kepada  orang yang diduganya akan dibebaskan dari antara kedua orang itu:  Ceriterakanlah mengenai diriku kepada rabb (majikan) engkau.” Tetapi syaitan menyebabkannya lupa menceritakannya kepada rabb-nya (majikannya) maka tinggallah dia dalam penjara beberapa tahun lamanya. (Yusuf [12]:43).
        Dengan demikian jelaslah  bahwa walau pun arti utama  kata rabb adalah tuhan  -- arbaab (tuhan-tuhan) -- tetapi kata rabb pun bisa juga memiliki makna lain, sebagaimana yang dikatakan Nabi Yusuf a.s. mengenai raja Mesir dalam ayat tersebut. Kata kerja rabba berarti: ia mengelola urusan itu; ia memperbanyak, mengembangkan, memperbaiki, dan melengkapkan urusan itu; ia memelihara dan menjaga. Jadi Rabb berarti: (a) Tuhan, Yang Dipertuan, Khaaliq (Yang menciptakan); (b) Wujud Yang memelihara dan mengembangkan; (c) Wujud Yang menyempurnakan, dengan cara se-tingkat demi setingkat (Al-Mufradat dan Lexicon Lane). Dan jika dipakai dalam rangkaian dengan kata lain, kata rabb dapat dipakai untuk orang atau wujud selain Allah Swt..
     Jadi kembali kepada perkataan raja Mesir kepada Nabi Yusuf  a.s. dalam firman-Nya sebelum ini:
وَ قَالَ الۡمَلِکُ ائۡتُوۡنِیۡ بِہٖۤ  اَسۡتَخۡلِصۡہُ لِنَفۡسِیۡ ۚ فَلَمَّا  کَلَّمَہٗ  قَالَ  اِنَّکَ الۡیَوۡمَ  لَدَیۡنَا مَکِیۡنٌ  اَمِیۡنٌ ﴿۵۵
Dan raja itu berkata: “Bawalah dia kepadaku, supaya aku memilih dia untuk tugas-tugas pribadiku.” Maka tatkala  ia (Yusuf) berbicara dengannya ia (raja)  berkata:  Sesungguhnya engkau, Yusuf,  hari ini seorang yang berkedudukan tinggi di sisi kami lagi terpercaya.”  (Yusuf [12]:55).

Cara Nabi Yusuf a.s. Mensyukuri Nikmat Allah Swt.

       Dalam firman Allah Swt.  tersebut raja Mesir seakan-akan  dalam posisi sebagai Rabb yang Hakiki yakni Allah Swt., sebab kewajiban seorang raja pun harus melaksanakan dari berbagai makna kata rabb yang telah dijelaskan sebelumnya – termasuk raja Mesir  di zaman Nabi Yusuf a.s. --  itulah sebabnya raja Mesir pun memiliki kekuasaan untuk memberi kedudukan yang  khusus  di sisinya kepada Nabi Yusuf a.s, sesuai kehendaknya, firman-Nya:
قَالَ  اِنَّکَ الۡیَوۡمَ  لَدَیۡنَا مَکِیۡنٌ  اَمِیۡنٌ
ia (raja)  berkata:  Sesungguhnya engkau, Yusuf,  hari ini seorang yang berkedudukan tinggi di sisi kami lagi terpercaya.” (Yusuf [12]:55).
      Namun demikian  bukan berarti bahwa Nabi Yusuf a.s.  dapat berbuat sekehendak hatinya, karena beliau pun tetap harus mematuhi berbagai peraturan kerajaan yang berlaku bagi semua orang yang ada di wilayah kerajaan Mesir – sebagaimana Allah Swt. telah memperingatkan Adam dan istrinya agar jangan mendekati “pohon terlarang” (QS.2:36) -- bahkan Nabi Yusuf a.s. harus melaksanakan   amanat kehormatan  dari raja Mesir tersebut sebaik-baiknya. Untuk tujuan itulah  Nabi Yusuf a.s. telah mengajukan permintaan kepada raja Mesir, firman-Nya:
قَالَ اجۡعَلۡنِیۡ عَلٰی خَزَآئِنِ الۡاَرۡضِ ۚ اِنِّیۡ  حَفِیۡظٌ  عَلِیۡمٌ ﴿۵۶
Ia, Yusuf, berkata: “Jadikanlah aku bendahara negeri ini, karena aku seorang penjaga  yang baik serta memahami urusan itu.” (Yusuf [12]:56).
       Nabi Yusuf a.s.  lebih menyukai jabatan keuangan. Pilihan  beliau agaknya didorong oleh keinginan untuk mencurahkan perhatian sebulat-bulatnya untuk menyelenggarakan dinas pemerintahan dengan berhasil, yang sangat erat kaitannya dengan menjadi sempurnanya mimpi sang raja.

Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid

Tidak ada komentar:

Posting Komentar