بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
HUBUNGAN NABI YUSUF A.S.
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
Bagian XVI
Tentang
Nabi Yusuf a.s. & Ancaman Dipenjara
Oleh
Ki Langlang
Buana Kusuma
قَالَ
ہِیَ رَاوَدَتۡنِیۡ عَنۡ نَّفۡسِیۡ وَ شَہِدَ شَاہِدٌ مِّنۡ اَہۡلِہَا ۚ اِنۡ
کَانَ قَمِیۡصُہٗ قُدَّ مِنۡ قُبُلٍ
فَصَدَقَتۡ وَ ہُوَ مِنَ الۡکٰذِبِیۡنَ ﴿۲۷﴾
Ia, Yusuf, berkata: “Dia-lah yang telah berupaya menggodaku
berlawanan dengan kehendakku.” Dan seorang saksi dari keluarga perempuan itu
memberi kesaksian: “Jika kemejanya robek di bagian depan, maka perempuan itu
berkata benar dan ia termasuk orang-orang yang berdusta” (Yusuf [12]:20).
Dalam Bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai hubungan kasus
istri Potifar yang berusaha menggoda Nabi Yusuf a.s., namun Nabi Yusuf
a.s. berusaha pula untuk menghindarkan
diri dari situasi yang sangat rawan tersebut, sehingga akhirnya
beliau berlari menuju pintu guna
membuka pintu itu agar beliau dapat
keluar dari ruangan, yang sebelumnya semua pintu dan jendelanya telah
ditutup oleh istri Potifar guna
melaksanakan maksudnya yang sangat tidak terpuji terhadap Nabi Yusuf a.s.,
firman-Nya:
وَ
اسۡتَبَقَا الۡبَابَ وَ قَدَّتۡ قَمِیۡصَہٗ مِنۡ دُبُرٍ وَّ اَلۡفَیَا سَیِّدَہَا
لَدَا الۡبَابِ ؕ قَالَتۡ مَا جَزَآءُ مَنۡ اَرَادَ بِاَہۡلِکَ سُوۡٓءًا
اِلَّاۤ اَنۡ یُّسۡجَنَ اَوۡ عَذَابٌ
اَلِیۡمٌ ﴿۲۶﴾ قَالَ ہِیَ رَاوَدَتۡنِیۡ عَنۡ نَّفۡسِیۡ وَ شَہِدَ
شَاہِدٌ مِّنۡ اَہۡلِہَا ۚ اِنۡ کَانَ قَمِیۡصُہٗ
قُدَّ مِنۡ قُبُلٍ فَصَدَقَتۡ وَ ہُوَ مِنَ الۡکٰذِبِیۡنَ ﴿۲۷﴾ قَالَ ہِیَ
رَاوَدَتۡنِیۡ عَنۡ نَّفۡسِیۡ وَ شَہِدَ شَاہِدٌ مِّنۡ اَہۡلِہَا ۚ اِنۡ کَانَ
قَمِیۡصُہٗ قُدَّ مِنۡ قُبُلٍ فَصَدَقَتۡ
وَ ہُوَ مِنَ الۡکٰذِبِیۡنَ ﴿۲۶﴾ وَ اِنۡ
کَانَ قَمِیۡصُہٗ قُدَّ مِنۡ دُبُرٍ فَکَذَبَتۡ وَ ہُوَ
مِنَ الصّٰدِقِیۡنَ ﴿۲۸﴾
Keduanya berlomba lari menuju pintu, dan perempuan itu
telah merobek kemeja dia dari belakang,
dan keduanya mendapati suami
perempuan itu sudah ada di depan pintu.
Ia, perempuan itu, berkata: “Apakah hukuman bagi seseorang
yang hendak berbuat keburukan terhadap istri engkau kecuali dipenjarakan
atau diberi azab yang pedih?” Ia, Yusuf, berkata: “Dialah
yang telah berupaya menggodaku berlawanan dengan kehendakku.” Dan seorang
saksi dari keluarga perempuan itu memberi kesaksian: “Jika kemejanya
robek di bagian depan, maka perempuan itu berkata benar dan ia (Yusuf)
termasuk orang-orang yang berdusta. Tetapi jika kemejanya robek di
bagian belakang, maka perempuan itu berdusta dan ia (Yusuf) termasuk
orang-orang yang benar.” (Yusuf [12]:26-28).
Potifar Berlebihan Mencintai Istri
Dari firman Allah Swt.
tersebut ada beberapa point yang menarik untuk dicermati, yaitu:
(1) Dari kalimat “Keduanya
berlomba lari menuju pintu, dan perempuan itu telah merobek kemeja
dia dari belakang...”
bertolak-belakang dengan pendapat yang
berkembang, pernyataan ayat Al-Quran tersebut membuktikan bahwa Nabi Yusuf a.s.
benar-benar berusaha menghindar dari ajakan tidak baik istri Potifar,
bahkan beliau segera berlari keluar dari ruangan yang sebelumnya sengaja telah
semua jendela dan pintunya telah ditutup oleh istri pejabat tinggi Mesir
tersebut.
(2) Kalimat “dan keduanya mendapati suami perempuan itu
sudah ada di depan pintu”, ada dua kemungkinan, yakni (a) suami
perempuan itu sebelumnya pun telah berada di balik pintu ruangan yang tertutup, (b) secara kebetulan
ia baru tiba di depan pintu yang telah
berhasul dibuka oleh Nabi Yusuf a.s..
(3) Tetapi mana pun yang benar dari dua kemungkinan tersebut,
yang pasti Potifar benar-benar tidak berani melakukan tindakan keras
terhadap istrinya karena ia sangat mencintainya, hal tersebut dapat
terbaca dari ucapan istrinya, yang walau pun perbuatan buruknya telah diketahui
oleh suaminya, tetapi perempuan tersebut terbukti lebih galak dari
suaminya yang seharusnya memarahi istrinya: “Ia, perempuan itu, berkata:
“Apakah hukuman bagi seseorang yang hendak berbuat keburukan
terhadap istri engkau kecuali dipenjarakan atau diberi azab yang
pedih?”
Adalah sangat wajar
bahwa terhadap tuduhan atau fitnah istri Potifar tersebut Nabi Yusuf a.s.
menjelaskan hal yang sebenarnya kepada majikan beliau, firman-Nya:
قَالَ
ہِیَ رَاوَدَتۡنِیۡ عَنۡ نَّفۡسِیۡ وَ شَہِدَ شَاہِدٌ مِّنۡ اَہۡلِہَا ۚ اِنۡ
کَانَ قَمِیۡصُہٗ قُدَّ مِنۡ قُبُلٍ
فَصَدَقَتۡ وَ ہُوَ مِنَ الۡکٰذِبِیۡنَ ﴿۲۷﴾
Ia, Yusuf, berkata: “Dia-lah yang telah berupaya
menggodaku berlawanan dengan kehendakku.” Dan seorang saksi
dari keluarga perempuan itu memberi kesaksian: “Jika kemejanya
robek di bagian depan, maka perempuan itu berkata benar dan ia termasuk
orang-orang yang berdusta” (Yusuf [12]:20).
Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa
Potifar memiliki pandangan yang baik terhadap Nabi Yusuf a.s., dan dalam
kenyataannya sampai sebelum terjadinya
“kasus” tersebut pendapatnya mengenai
Nabi Yusuf a.s. tersebut benar. Oleh karena itu mendengar penjelasan Nabi Yusuf
a.s. ia menjadi serba-salah, dan akhirnya meminta pendapat dari keluarga
istrinya, yang memberikan petunjuk cara
menentukan pihak mana yang salah dan siapa yang benar ia berkata: “Jika kemejanya robek di
bagian depan, maka perempuan itu berkata benar dan ia termasuk
orang-orang yang berdusta.”
Pendapatnya tersebut sangat logis, karena
seandainya benar bahwa dalam “kasus” tersebut Nabi Yusuf a.s. yang, na’uudzubillaah,
bermaksud tidak baik terhadap istri Potifar dan perempuan tersebut menolak maka pasti
ia akan melakukan aksi perlawanan yang
dapat membuat bagian depan pakaian Nabi Yusuf a.s. ada yang
sobek atau rusak. Selanjutnya ia berkata, firman-Nya:
وَ اِنۡ
کَانَ قَمِیۡصُہٗ قُدَّ مِنۡ دُبُرٍ فَکَذَبَتۡ وَ ہُوَ
مِنَ الصّٰدِقِیۡنَ ﴿۲۸﴾ فَلَمَّا رَاٰ قَمِیۡصَہٗ
قُدَّ مِنۡ دُبُرٍ قَالَ اِنَّہٗ
مِنۡ کَیۡدِکُنَّ ؕ اِنَّ کَیۡدَکُنَّ
عَظِیۡمٌ ﴿۲۹﴾ یُوۡسُفُ اَعۡرِضۡ عَنۡ ہٰذَا ٜ وَ
اسۡتَغۡفِرِیۡ لِذَنۡۢبِکِ ۚۖ
اِنَّکِ کُنۡتِ مِنَ الۡخٰطِئِیۡنَ ﴿٪۳۰﴾
“Tetapi jika kemejanya robek di bagian belakang, maka perempuan
itu berdusta dan ia (Yusuf) termasuk orang-orang yang benar.”
Maka tatkala ia (Potifar) melihat kemejanya robek di bagian belakang, ia
berkata: “Sesungguhnya ini adalah
tipu-daya kamu perempuan, sesungguhnya tipu-daya perempuan sangat besar. Hai Yusuf, lupakanlah
[peristiwa ini], dan hai engkau, perempuan, mohonlah
ampun atas dosa engkau, sesungguhnya engkau termasuk orang-orang yang
berdosa.” (Yusuf
[12]:28-30).
Perempuan-perempuan yang Tangannya Terkerat Pisau
Jadi,
dalam usahanya melindungi sang istri sejauh mungkin, Potifar rupa-rupanya
menuduh seluruh kaum perempuan sebagai licik dan curang. Hal
ini memperkuat bahwa Potifar sangat berlebihan dalam mencintai istrinya,
sehingga istrinya memanfaatkan kelemahan suaminya tersebut.
Kenyataan
itu dibuktikan dengan upaya istri Potifar selanjutnya untuk memaksa Nabi
Yusuf a.s. agar mau melayani keinginan hawa-nafsunya, firman-Nya:
وَ قَالَ نِسۡوَۃٌ فِی الۡمَدِیۡنَۃِ امۡرَاَتُ الۡعَزِیۡزِ تُرَاوِدُ
فَتٰىہَا عَنۡ نَّفۡسِہٖ ۚ قَدۡ
شَغَفَہَا حُبًّا ؕ اِنَّا لَنَرٰىہَا فِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ ﴿۳۱﴾
Dan perempuan-perempuan di kota itu berkata, “Istri Aziz itu
berusaha menggoda pemuda itu berlawanan dengan kehendaknya. Dia telah
membuatnya tergila-gila karena cinta, sesungguhnya kami memandang
perempuan itu dalam kesesatan yang nyata.” (Yusuf [12]:31).
“Aziz” itu sebutan bagi Potifar. Ia
adalah komandan pasukan pengawal raja. Agaknya di zaman Nabi Besar Muhammad
saw., para pemuka dan
bangsawan-bangsawan Mesir dikenal dengan gelar itu. Ucapan para perempuan tersebut memperkuat kenyataan bahwa
dalam “kasus” tersebut Nabi Yusuf a.s. sama sekali tidak bersalah.
Ungkapan bahasa Arab “qad syaghafahaa hubba” berarti bahwa cinta berahinya kepada Nabi Yusuf
a.s. telah meresap ke lubuk
jantung hati perempuan itu; atau kecintaan kepada beliau telah menguasai
seluruh jiwa raganya atau telah membelah shighaf-nya (kandung
jantungnya) (Lexicon Lane). Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
فَلَمَّا
سَمِعَتۡ بِمَکۡرِہِنَّ اَرۡسَلَتۡ
اِلَیۡہِنَّ وَ اَعۡتَدَتۡ لَہُنَّ مُتَّکَاً
وَّ اٰتَتۡ کُلَّ وَاحِدَۃٍ
مِّنۡہُنَّ سِکِّیۡنًا وَّ قَالَتِ اخۡرُجۡ عَلَیۡہِنَّ ۚ فَلَمَّا رَاَیۡنَہٗۤ اَکۡبَرۡنَہٗ وَ قَطَّعۡنَ اَیۡدِیَہُنَّ وَ
قُلۡنَ حَاشَ لِلّٰہِ مَا ہٰذَا بَشَرًا ؕ اِنۡ
ہٰذَاۤ اِلَّا مَلَکٌ کَرِیۡمٌ ﴿۳۲﴾
Maka tatkala ia mendengar gunjingan mereka, ia memanggil mereka dan
menyediakan bagi mereka jamuan makan, dan memberikan kepada setiap orang
dari antara mereka itu sebilah pisau, lalu ia berkata kepada
Yusuf: “Keluarlah di hadapan mereka.” Maka tatkala mereka melihat
dia seorang yang sangat mulia, mereka mengerat tangannya sendiri dan bberkata: “Allah Maha
Mulia! Ini bukan manusia, melainkan
ini malaikat yang mulia!” (Yusuf
[12]:32).
Kalimat
“maka tatkala mereka melihat dia seorang yang sangat mulia” maknanya mereka
mempunyai pandangan sangat tinggi mengenai Nabi Yusuf a.s.. Sedangkan ungkapan mengerat
tangan mereka dapat diartikan bahwa, ketika para perempuan itu melihat Nabi
Yusuf a.s., mereka itu begitu terpesona oleh wajah beliau yang kudus
lagi elok dan rupawan, sehingga dalam keadaan tidak sadar beberapa dari antara
mereka mengerat tangan sendiri dengan pisau yang sedang mereka pegang.
Atau
kalimat itu dapat diartikan sebagai kiasan, yang melukiskan keheranan
dan kekaguman mereka. Ungkapan bahasa Arab adhdhul anamili,
artinya “menggigit ujung jari”, dipakai pula untuk melukiskan ketakjuban,
dan karena kadang-kadang suatu benda keseluruhannya digunakan untuk hanya
sebagian, maka kata “tangan” boleh jadi telah dipakai di sini untuk
“ujung-ujung jari”. Menurut Talmud, jeruk telah dihidangkan kepada para tamu,
dan perempuan-perempuan itu dengan tidak sengaja mengerat tangannya sendiri,
karena asyiknya memandang Nabi Yusuf a.s. (Jewish Encyclopaedia & Talmud).
Persekongkolan & Ancaman Istri Potifar
Selanjutnya
Allah Swt. berfirman mengenai ancaman istri Potifar terhadap Nabi Yusuf
a.s., karena ia merasa telah dapat membungkam mulut perempuan yang
menggunjingnya kenapa ia tergila-gila kepada Nabi Yusuf a.s.:
قَالَتۡ فَذٰلِکُنَّ الَّذِیۡ لُمۡتُنَّنِیۡ
فِیۡہِ ؕ وَ لَقَدۡ رَاوَدۡتُّہٗ عَنۡ نَّفۡسِہٖ فَاسۡتَعۡصَمَ ؕ وَ لَئِنۡ
لَّمۡ یَفۡعَلۡ مَاۤ
اٰمُرُہٗ لَیُسۡجَنَنَّ وَ
لَیَکُوۡنًا مِّنَ الصّٰغِرِیۡنَ ﴿۳۳﴾ قَالَ رَبِّ السِّجۡنُ
اَحَبُّ اِلَیَّ مِمَّا یَدۡعُوۡنَنِیۡۤ
اِلَیۡہِ ۚ وَ اِلَّا تَصۡرِفۡ عَنِّیۡ کَیۡدَہُنَّ اَصۡبُ اِلَیۡہِنَّ وَ اَکُنۡ مِّنَ الۡجٰہِلِیۡنَ ﴿۳۴﴾
Ia, perempuan itu, berkata: “Maka inilah dia orangnya
yang karenanya kamu mencelaku, dan memang aku telah berusaha
menggoda dia berlawanan dengan kehendaknya, tetapi dia telah memelihara
kesucian dirinya. Dan jika dia
benar-benar tidak mengerjakan apa yang
kuperintahkan kepadanya niscaya dia akan dipenjarakan dan niscaya ia
akan termasuk orang-orang yang dihinakan.” Ia, Yusuf,
berkata: “Ya Tuhan-ku, penjara itu
lebih kusukai bagiku daripada apa yang mereka mengajakku kepadanya, dan jika
Engkau tidak mengelakkan dari diriku tipu-daya mereka tentu aku akan
cenderung kepada mereka itu dan aku akan termasuk orang-orang yang jahil.”
(Yusuf [12]:33-34).
Perkataan Nabi Yusuf a.s. “apa yang
mereka mengajakku kepadanya“ mengisyaratkan bahwa istri Potifar telah melakukan
kesepakatan dengan para perempuan yang juga terpesona oleh ketampanan
Nabi Yusuf a.s. untuk memaksa Nabi Yusuf a.s. dengan segala cara
agar melayani keinginan hawa-nafsu mereka. Nabi Nabi
Yusuf a.s. tetap teguh pada pendiriannya yang suci, firman-Nya:
فَاسۡتَجَابَ
لَہٗ رَبُّہٗ فَصَرَفَ عَنۡہُ کَیۡدَہُنَّ ؕ اِنَّہٗ ہُوَ السَّمِیۡعُ الۡعَلِیۡمُ ﴿۳۴﴾ ثُمَّ بَدَا لَہُمۡ
مِّنۡۢ بَعۡدِ مَا رَاَوُا الۡاٰیٰتِ لَیَسۡجُنُنَّہٗ حَتّٰی حِیۡنٍ ﴿٪۳۵﴾
Maka Tuhan mengabulkan doanya lalu mengelakkan dari tipu-daya mereka, sesungguhnya Dia
Maha Mendengar, Maha Mengetahui. (Yusuf [12]:35).
Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
ثُمَّ بَدَا لَہُمۡ مِّنۡۢ بَعۡدِ مَا رَاَوُا الۡاٰیٰتِ لَیَسۡجُنُنَّہٗ
حَتّٰی حِیۡنٍ ﴿٪۳۶﴾
Kemudian timbul pikiran pada mereka yakni para
pembesar, setelah mereka melihat tanda-tanda kesucian Yusuf itu,
bahwa untuk menjaga nama baik, mereka
harus memenjarakannya untuk sementara waktu. (Yusuf
[12]:36).
Rupa-rupanya
karena desas-desus tentang istri Potifar telah tersebar, kaum
keluarganya berpendapat, bahwa cara yang terbaik untuk menghentikan gunjingan
itu ialah dengan memenjarakan Nabi Yusuf a.s. agar supaya pendapat
umum akan memandang beliau sebagai orang yang bersalah, dan noda
itu dapat berpindah dari perempuan yang berdosa itu kepada beliau.
(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid
Tidak ada komentar:
Posting Komentar