Selasa, 10 Januari 2012

Nabi Yusuf a.s. & Ancaman Dipenjara


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ



HUBUNGAN  NABI YUSUF A.S. 
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
  
Bagian   XVI

Tentang
     Nabi Yusuf a.s. & Ancaman Dipenjara  
      
 Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma

 
قَالَ ہِیَ رَاوَدَتۡنِیۡ عَنۡ نَّفۡسِیۡ وَ شَہِدَ شَاہِدٌ مِّنۡ اَہۡلِہَا ۚ اِنۡ کَانَ قَمِیۡصُہٗ  قُدَّ مِنۡ قُبُلٍ فَصَدَقَتۡ وَ ہُوَ مِنَ الۡکٰذِبِیۡنَ ﴿۲۷
Ia, Yusuf, berkata: “Dia-lah yang telah berupaya menggodaku berlawanan dengan kehendakku.” Dan seorang saksi dari keluarga perempuan itu memberi kesaksian: “Jika kemejanya robek di bagian depan, maka perempuan itu berkata benar dan ia termasuk orang-orang yang berdusta” (Yusuf [12]:20).

Dalam Bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai hubungan kasus istri Potifar yang berusaha menggoda Nabi Yusuf a.s., namun Nabi Yusuf a.s.  berusaha pula untuk menghindarkan diri dari situasi yang sangat rawan tersebut, sehingga akhirnya beliau berlari menuju pintu  guna membuka pintu itu  agar beliau dapat keluar dari ruangan, yang sebelumnya semua pintu dan jendelanya telah ditutup  oleh istri Potifar guna melaksanakan maksudnya yang sangat tidak terpuji terhadap Nabi Yusuf a.s., firman-Nya:
وَ اسۡتَبَقَا الۡبَابَ وَ قَدَّتۡ قَمِیۡصَہٗ مِنۡ دُبُرٍ وَّ اَلۡفَیَا سَیِّدَہَا لَدَا الۡبَابِ ؕ قَالَتۡ مَا جَزَآءُ مَنۡ اَرَادَ بِاَہۡلِکَ سُوۡٓءًا اِلَّاۤ  اَنۡ یُّسۡجَنَ اَوۡ عَذَابٌ اَلِیۡمٌ ﴿۲۶  قَالَ ہِیَ رَاوَدَتۡنِیۡ عَنۡ نَّفۡسِیۡ وَ شَہِدَ شَاہِدٌ مِّنۡ اَہۡلِہَا ۚ اِنۡ کَانَ قَمِیۡصُہٗ  قُدَّ مِنۡ قُبُلٍ فَصَدَقَتۡ وَ ہُوَ مِنَ الۡکٰذِبِیۡنَ ﴿۲۷      قَالَ ہِیَ رَاوَدَتۡنِیۡ عَنۡ نَّفۡسِیۡ وَ شَہِدَ شَاہِدٌ مِّنۡ اَہۡلِہَا ۚ اِنۡ کَانَ قَمِیۡصُہٗ  قُدَّ مِنۡ قُبُلٍ فَصَدَقَتۡ وَ ہُوَ مِنَ الۡکٰذِبِیۡنَ ﴿۲۶  وَ  اِنۡ  کَانَ  قَمِیۡصُہٗ  قُدَّ مِنۡ دُبُرٍ فَکَذَبَتۡ  وَ ہُوَ  مِنَ  الصّٰدِقِیۡنَ ﴿۲۸       
Keduanya berlomba lari menuju pintu, dan perempuan itu telah merobek kemeja dia  dari belakang, dan  keduanya mendapati suami perempuan itu sudah ada di depan pintu.   Ia, perempuan itu, berkata: “Apakah hukuman bagi seseorang yang hendak berbuat keburukan terhadap istri engkau kecuali dipenjarakan atau diberi azab yang pedih?”   Ia, Yusuf, berkata: “Dialah yang telah berupaya menggodaku berlawanan dengan kehendakku.” Dan seorang saksi dari keluarga perempuan itu memberi kesaksian: “Jika kemejanya robek di bagian depan, maka perempuan itu berkata benar dan ia (Yusuf) termasuk orang-orang yang berdusta. Tetapi jika kemejanya robek di bagian belakang, maka perempuan itu berdusta dan ia (Yusuf) termasuk orang-orang yang benar.” (Yusuf [12]:26-28).

 Potifar Berlebihan Mencintai Istri

     Dari firman Allah Swt. tersebut ada beberapa point yang menarik untuk dicermati, yaitu:
      (1) Dari kalimat “Keduanya berlomba lari menuju pintu, dan perempuan itu telah merobek kemeja dia  dari belakang...” bertolak-belakang dengan  pendapat yang berkembang, pernyataan ayat Al-Quran tersebut membuktikan bahwa Nabi Yusuf a.s. benar-benar berusaha menghindar dari ajakan tidak baik istri Potifar, bahkan beliau segera berlari keluar dari ruangan yang sebelumnya sengaja telah semua jendela dan pintunya telah ditutup oleh istri pejabat tinggi Mesir tersebut.
     (2) Kalimat “dan  keduanya mendapati suami perempuan itu sudah ada di depan pintu, ada dua kemungkinan, yakni (a) suami perempuan itu sebelumnya pun telah berada di balik pintu  ruangan yang tertutup, (b) secara kebetulan ia baru tiba di depan pintu yang telah  berhasul dibuka oleh Nabi Yusuf a.s..
     (3) Tetapi  mana pun yang benar dari dua kemungkinan tersebut, yang pasti Potifar benar-benar tidak berani melakukan tindakan keras terhadap istrinya karena ia sangat mencintainya, hal tersebut dapat terbaca dari ucapan istrinya, yang walau pun perbuatan buruknya telah diketahui oleh suaminya, tetapi perempuan tersebut terbukti lebih galak dari suaminya yang seharusnya memarahi istrinya: “Ia, perempuan itu, berkata: “Apakah hukuman bagi seseorang yang hendak berbuat keburukan terhadap istri engkau kecuali dipenjarakan atau diberi azab yang pedih?”  
       Adalah sangat wajar bahwa terhadap tuduhan atau fitnah  istri Potifar tersebut Nabi Yusuf a.s. menjelaskan hal yang sebenarnya kepada majikan beliau, firman-Nya:
قَالَ ہِیَ رَاوَدَتۡنِیۡ عَنۡ نَّفۡسِیۡ وَ شَہِدَ شَاہِدٌ مِّنۡ اَہۡلِہَا ۚ اِنۡ کَانَ قَمِیۡصُہٗ  قُدَّ مِنۡ قُبُلٍ فَصَدَقَتۡ وَ ہُوَ مِنَ الۡکٰذِبِیۡنَ ﴿۲۷
Ia, Yusuf, berkata: “Dia-lah yang telah berupaya menggodaku berlawanan dengan kehendakku.” Dan seorang saksi dari keluarga perempuan itu memberi kesaksian: “Jika kemejanya robek di bagian depan, maka perempuan itu berkata benar dan ia termasuk orang-orang yang berdusta” (Yusuf [12]:20).
   Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa Potifar memiliki pandangan yang baik terhadap Nabi Yusuf a.s., dan dalam kenyataannya sampai   sebelum terjadinya “kasus” tersebut  pendapatnya mengenai Nabi Yusuf a.s. tersebut benar. Oleh karena itu mendengar penjelasan Nabi Yusuf a.s. ia menjadi serba-salah, dan akhirnya meminta pendapat dari keluarga istrinya,  yang memberikan petunjuk cara menentukan pihak mana yang salah dan siapa yang benar  ia berkata: “Jika kemejanya robek di bagian depan, maka perempuan itu berkata benar dan ia termasuk orang-orang yang berdusta.”
      Pendapatnya tersebut sangat logis, karena seandainya benar bahwa dalam “kasus” tersebut Nabi Yusuf a.s. yang, na’uudzubillaah, bermaksud tidak baik terhadap istri Potifar dan  perempuan tersebut menolak maka pasti ia akan melakukan aksi perlawanan yang  dapat membuat bagian depan pakaian Nabi Yusuf a.s. ada yang sobek  atau rusak.  Selanjutnya ia berkata, firman-Nya:
وَ  اِنۡ  کَانَ  قَمِیۡصُہٗ  قُدَّ مِنۡ دُبُرٍ فَکَذَبَتۡ  وَ ہُوَ  مِنَ  الصّٰدِقِیۡنَ ﴿۲۸   فَلَمَّا رَاٰ  قَمِیۡصَہٗ  قُدَّ مِنۡ دُبُرٍ قَالَ  اِنَّہٗ مِنۡ  کَیۡدِکُنَّ ؕ اِنَّ  کَیۡدَکُنَّ  عَظِیۡمٌ ﴿۲۹   یُوۡسُفُ اَعۡرِضۡ عَنۡ ہٰذَا ٜ وَ اسۡتَغۡفِرِیۡ  لِذَنۡۢبِکِ ۚۖ اِنَّکِ  کُنۡتِ مِنَ الۡخٰطِئِیۡنَ ﴿٪۳۰
“Tetapi jika kemejanya robek di bagian belakang, maka perempuan itu berdusta dan ia (Yusuf) termasuk orang-orang yang benar.” Maka tatkala ia (Potifar)  melihat kemejanya  robek di bagian belakang, ia berkata:  “Sesungguhnya ini adalah tipu-daya kamu perempuan, sesungguhnya tipu-daya perempuan sangat besarHai Yusuf, lupakanlah [peristiwa ini], dan hai engkau, perempuan, mohonlah ampun atas dosa engkau, sesungguhnya engkau termasuk orang-orang yang berdosa.”    (Yusuf [12]:28-30).

Perempuan-perempuan yang Tangannya Terkerat Pisau

Jadi, dalam usahanya melindungi sang istri sejauh mungkin, Potifar rupa-rupanya menuduh seluruh  kaum perempuan  sebagai licik dan curang. Hal ini memperkuat bahwa Potifar sangat berlebihan dalam mencintai istrinya, sehingga istrinya memanfaatkan kelemahan suaminya tersebut.
Kenyataan itu dibuktikan dengan upaya istri Potifar selanjutnya untuk memaksa Nabi Yusuf a.s. agar  mau melayani keinginan   hawa-nafsunya, firman-Nya:
 وَ قَالَ نِسۡوَۃٌ  فِی الۡمَدِیۡنَۃِ  امۡرَاَتُ الۡعَزِیۡزِ  تُرَاوِدُ  فَتٰىہَا عَنۡ  نَّفۡسِہٖ ۚ قَدۡ شَغَفَہَا حُبًّا ؕ اِنَّا لَنَرٰىہَا فِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ ﴿۳۱
Dan perempuan-perempuan di kota itu berkata, “Istri Aziz itu berusaha menggoda pemuda itu berlawanan dengan kehendaknya. Dia telah membuatnya tergila-gila karena cinta, sesungguhnya kami memandang perempuan itu dalam kesesatan yang nyata.” (Yusuf [12]:31).
 “Aziz” itu sebutan bagi Potifar. Ia adalah komandan pasukan pengawal raja. Agaknya di zaman Nabi Besar Muhammad saw.,   para pemuka dan bangsawan-bangsawan Mesir dikenal dengan gelar itu. Ucapan para  perempuan tersebut memperkuat kenyataan bahwa dalam “kasus” tersebut Nabi Yusuf a.s. sama sekali tidak bersalah.
  Ungkapan bahasa Arab “qad syaghafahaa hubba”   berarti bahwa cinta berahinya kepada Nabi Yusuf a.s.  telah meresap ke lubuk jantung hati perempuan itu; atau kecintaan kepada beliau telah menguasai seluruh jiwa raganya atau telah membelah shighaf-nya (kandung jantungnya) (Lexicon Lane). Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
فَلَمَّا سَمِعَتۡ بِمَکۡرِہِنَّ  اَرۡسَلَتۡ اِلَیۡہِنَّ وَ اَعۡتَدَتۡ لَہُنَّ مُتَّکَاً  وَّ اٰتَتۡ کُلَّ وَاحِدَۃٍ  مِّنۡہُنَّ سِکِّیۡنًا وَّ قَالَتِ اخۡرُجۡ عَلَیۡہِنَّ ۚ فَلَمَّا رَاَیۡنَہٗۤ  اَکۡبَرۡنَہٗ وَ قَطَّعۡنَ اَیۡدِیَہُنَّ وَ قُلۡنَ حَاشَ لِلّٰہِ مَا ہٰذَا بَشَرًا ؕ اِنۡ  ہٰذَاۤ  اِلَّا مَلَکٌ  کَرِیۡمٌ ﴿۳۲   
Maka tatkala ia mendengar gunjingan mereka, ia memanggil mereka dan menyediakan bagi mereka jamuan makan, dan memberikan kepada setiap orang dari antara mereka itu sebilah pisau, lalu ia berkata kepada Yusuf: “Keluarlah di hadapan mereka.” Maka tatkala mereka melihat dia seorang yang sangat mulia, mereka  mengerat tangannya sendiri   dan bberkata: “Allah Maha Mulia! Ini bukan manusia, melainkan  ini   malaikat yang mulia!” (Yusuf [12]:32).
 Kalimat “maka tatkala mereka melihat dia seorang yang sangat mulia” maknanya     mereka mempunyai pandangan sangat tinggi mengenai Nabi Yusuf a.s.. Sedangkan ungkapan mengerat tangan mereka dapat diartikan bahwa, ketika para perempuan itu melihat Nabi Yusuf a.s., mereka itu begitu terpesona oleh wajah beliau yang kudus lagi elok dan rupawan, sehingga dalam keadaan tidak sadar beberapa dari antara mereka mengerat tangan sendiri dengan pisau yang sedang mereka pegang.
Atau kalimat itu dapat diartikan sebagai kiasan, yang melukiskan keheranan dan kekaguman mereka. Ungkapan bahasa Arab adhdhul anamili, artinya “menggigit ujung jari”, dipakai pula untuk melukiskan ketakjuban, dan karena kadang-kadang suatu benda keseluruhannya digunakan untuk hanya sebagian, maka kata “tangan” boleh jadi telah dipakai di sini untuk “ujung-ujung jari”. Menurut Talmud, jeruk telah dihidangkan kepada para tamu, dan perempuan-perempuan itu dengan tidak sengaja mengerat tangannya sendiri, karena asyiknya memandang Nabi Yusuf a.s.   (Jewish  Encyclopaedia & Talmud).

Persekongkolan & Ancaman Istri Potifar

Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai ancaman istri Potifar terhadap Nabi Yusuf a.s., karena ia merasa telah dapat membungkam mulut perempuan yang menggunjingnya kenapa ia tergila-gila kepada Nabi Yusuf a.s.:
 قَالَتۡ فَذٰلِکُنَّ الَّذِیۡ لُمۡتُنَّنِیۡ فِیۡہِ ؕ وَ لَقَدۡ رَاوَدۡتُّہٗ عَنۡ نَّفۡسِہٖ فَاسۡتَعۡصَمَ ؕ وَ لَئِنۡ لَّمۡ  یَفۡعَلۡ  مَاۤ  اٰمُرُہٗ   لَیُسۡجَنَنَّ وَ لَیَکُوۡنًا مِّنَ  الصّٰغِرِیۡنَ ﴿۳۳   قَالَ رَبِّ السِّجۡنُ اَحَبُّ اِلَیَّ مِمَّا یَدۡعُوۡنَنِیۡۤ  اِلَیۡہِ ۚ وَ اِلَّا تَصۡرِفۡ عَنِّیۡ کَیۡدَہُنَّ اَصۡبُ  اِلَیۡہِنَّ وَ اَکُنۡ مِّنَ الۡجٰہِلِیۡنَ ﴿۳۴
Ia, perempuan itu, berkata: “Maka inilah dia orangnya yang karenanya kamu mencelaku, dan memang aku telah berusaha menggoda dia berlawanan dengan kehendaknya, tetapi dia telah memelihara kesucian dirinya. Dan jika  dia benar-benar  tidak mengerjakan apa yang kuperintahkan kepadanya niscaya dia akan dipenjarakan dan niscaya ia akan termasuk orang-orang yang dihinakan.”   Ia, Yusuf, berkata:  “Ya Tuhan-ku, penjara itu lebih kusukai bagiku daripada apa yang mereka mengajakku kepadanya, dan jika Engkau tidak mengelakkan dari diriku tipu-daya mereka tentu aku akan cenderung kepada mereka itu dan aku akan termasuk orang-orang yang jahil.” (Yusuf [12]:33-34).
     Perkataan Nabi Yusuf a.s. “apa yang mereka mengajakku kepadanya“ mengisyaratkan bahwa istri Potifar telah melakukan kesepakatan dengan para perempuan yang juga terpesona oleh ketampanan Nabi Yusuf a.s. untuk memaksa Nabi Yusuf a.s. dengan segala cara agar melayani   keinginan hawa-nafsu mereka. Nabi Nabi Yusuf a.s. tetap teguh pada pendiriannya yang suci, firman-Nya:
فَاسۡتَجَابَ لَہٗ  رَبُّہٗ  فَصَرَفَ عَنۡہُ کَیۡدَہُنَّ ؕ اِنَّہٗ  ہُوَ السَّمِیۡعُ الۡعَلِیۡمُ ﴿۳۴   ثُمَّ بَدَا لَہُمۡ مِّنۡۢ بَعۡدِ مَا رَاَوُا الۡاٰیٰتِ لَیَسۡجُنُنَّہٗ حَتّٰی حِیۡنٍ ﴿٪۳۵
Maka Tuhan mengabulkan doanya lalu   mengelakkan dari   tipu-daya mereka, sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui. (Yusuf [12]:35).
Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
ثُمَّ بَدَا لَہُمۡ مِّنۡۢ بَعۡدِ مَا رَاَوُا الۡاٰیٰتِ لَیَسۡجُنُنَّہٗ حَتّٰی حِیۡنٍ ﴿٪۳۶
Kemudian timbul pikiran pada mereka yakni para pembesar, setelah mereka melihat tanda-tanda kesucian Yusuf itu, bahwa untuk menjaga nama baik,  mereka harus memenjarakannya untuk sementara waktu. (Yusuf [12]:36).
  Rupa-rupanya karena desas-desus tentang istri Potifar telah tersebar, kaum keluarganya berpendapat, bahwa cara yang terbaik untuk menghentikan gunjingan itu ialah dengan memenjarakan Nabi Yusuf a.s. agar supaya pendapat umum akan memandang beliau sebagai orang yang bersalah, dan noda itu dapat berpindah dari perempuan yang berdosa itu kepada beliau.

(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid



Tidak ada komentar:

Posting Komentar