Rabu, 25 Januari 2012

Nubuatan Dalam Mimpi Raja Mesir


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ

 
HUBUNGAN  NABI YUSUF A.S. 
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
  
Bagian   XXIX

Tentang
 
      Nubuatan Dalam Mimpi Raja Mesir
 
 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

 
یُوۡسُفُ اَیُّہَا الصِّدِّیۡقُ اَفۡتِنَا فِیۡ سَبۡعِ بَقَرٰتٍ سِمَانٍ یَّاۡکُلُہُنَّ سَبۡعٌ عِجَافٌ وَّ سَبۡعِ سُنۡۢبُلٰتٍ خُضۡرٍ وَّ اُخَرَ  یٰبِسٰتٍ ۙ لَّعَلِّیۡۤ  اَرۡجِعُ  اِلَی النَّاسِ لَعَلَّہُمۡ یَعۡلَمُوۡنَ ﴿۴۷  قَالَ تَزۡرَعُوۡنَ سَبۡعَ سِنِیۡنَ دَاَبًا ۚ فَمَا حَصَدۡتُّمۡ  فَذَرُوۡہُ  فِیۡ  سُنۡۢبُلِہٖۤ  اِلَّا قَلِیۡلًا  مِّمَّا  تَاۡکُلُوۡنَ ﴿۴۸   ثُمَّ یَاۡتِیۡ مِنۡۢ بَعۡدِ ذٰلِکَ سَبۡعٌ شِدَادٌ یَّاۡکُلۡنَ مَا قَدَّمۡتُمۡ لَہُنَّ اِلَّا قَلِیۡلًا مِّمَّا     تُحۡصِنُوۡنَ ﴿۴۹   ثُمَّ  یَاۡتِیۡ مِنۡۢ  بَعۡدِ ذٰلِکَ  عَامٌ فِیۡہِ یُغَاثُ  النَّاسُ  وَ فِیۡہِ  یَعۡصِرُوۡنَ ﴿٪۵۰
Dan dia berkata: “Yusuf, hai engkau orang yang benar! Terangkanlah pendapat engkau kepada kami arti mimpi tujuh ekor sapi betina gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi kurus dan tujuh bulir hijau dan lainnya kering, supaya aku dapat kembali kepada orang-orang itu, agar mereka dapat mengetahui.” Ia, Yusuf, menjawab: “Kamu hendaknya bercocok tanam tujuh tahun lamanya terus-menerus, dan apa yang kamu ketam biarlah itu dalam bulirnya, kecuali sedikit darinya yang kamu makan.    Kemudian akan datang sesudah itu tujuh tahun paceklik, yang akan menelan apa yang telah kamu sediakan untuk itu sebelumnya, kecuali sedikit yang tinggal dari apa yang kamu simpan. Kemudian sesudah itu akan datang tahun  yang di dalamnya    permohonan-permohonan manusia akan ditolong dan dalam keadaan itu mereka akan saling memberi hadiah.” (Yusuf [12]:47-50).

Dalam Bab sebelumnya telah dibahas mengenai latar belakang mengungsinya Nabi Ibrahim a.s. dan keluarganya ke Mesir, yang akan dialami juga oleh keturunan beliau a.s. dari Nabi Ishaq a.s., yakni Nabi Ya’qub a.s. dan keluarganya, serta hubungannya dengan dengan mimpi Fir’aun,  firman-Nya:
وَ قَالَ الۡمَلِکُ اِنِّیۡۤ  اَرٰی سَبۡعَ بَقَرٰتٍ سِمَانٍ یَّاۡکُلُہُنَّ سَبۡعٌ عِجَافٌ وَّ سَبۡعَ سُنۡۢبُلٰتٍ خُضۡرٍ وَّ اُخَرَ  یٰبِسٰتٍ ؕ یٰۤاَیُّہَا الۡمَلَاُ  اَفۡتُوۡنِیۡ فِیۡ رُءۡیَایَ اِنۡ کُنۡتُمۡ لِلرُّءۡیَا تَعۡبُرُوۡنَ ﴿۴۴   قَالُوۡۤا اَضۡغَاثُ اَحۡلَامٍ ۚ وَ مَا نَحۡنُ بِتَاۡوِیۡلِ  الۡاَحۡلَامِ  بِعٰلِمِیۡنَ ﴿۴۵
Dan raja itu  berkata: “Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi tujuh ekor sapi betina yang gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi kurus, dan tujuh bulir yang hijau dan yang lainnya kering. Hai para pembesar,  terangkanlah pendapatmu kepadaku tentang mimpiku jika   kamu sungguh dapat menafsirkan  makna mimpi itu.”    Mereka menjawab: “Mimpi-mimpi ini kacau-balau dan kami  sama sekali tidak mengetahui ta’bir mimpi-mimpi seperti itu.”  (Yusuf [12]:44-45).

Penjelasan Nabi Yusuf a.s. Mengenai Mimpi Raja

    Ketidakmampuan para pembesar raja  untuk menakwilkan mimpi raja Mesir tersebut telah membuat  pelayan minuman raja yang dibebaskan dari penjara  ingat kembali pesan Nabi Yusuf a.s. beberapa tahun sebelumnya, firman-Nya:
 وَ قَالَ الَّذِیۡ نَجَا مِنۡہُمَا وَ ادَّکَرَ  بَعۡدَ اُمَّۃٍ  اَنَا  اُنَبِّئُکُمۡ  بِتَاۡوِیۡلِہٖ فَاَرۡسِلُوۡنِ ﴿۴۶  یُوۡسُفُ اَیُّہَا الصِّدِّیۡقُ اَفۡتِنَا فِیۡ سَبۡعِ بَقَرٰتٍ سِمَانٍ یَّاۡکُلُہُنَّ سَبۡعٌ عِجَافٌ وَّ سَبۡعِ سُنۡۢبُلٰتٍ خُضۡرٍ وَّ اُخَرَ  یٰبِسٰتٍ ۙ لَّعَلِّیۡۤ  اَرۡجِعُ  اِلَی النَّاسِ لَعَلَّہُمۡ یَعۡلَمُوۡنَ ﴿۴۷
Dan berkata seorang yang telah selamat dari kedua orang itu, dan  sesudah beberapa lama baru teringat:  “Aku akan memberitahukan kepada kamu  mengenai ta’birnya karena itu utuslah aku.” Dan dia berkata: “Yusuf, hai engkau orang yang benar! Terangkanlah pendapat engkau kepada kami arti mimpi tujuh ekor sapi betina gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi kurus dan tujuh bulir hijau dan lainnya kering, supaya aku dapat kembali kepada orang-orang itu, agar mereka dapat mengetahui.” (Yusuf [12]:46-47).
       Atas permintaan utusan para pembesar Mesir tersebut Nabi Yusuf a.s. menerangkan makna dari mimpi raja tersebut serta tindakan apa yang harus dilakukan oleh raja, firman-Nya:
 یُوۡسُفُ اَیُّہَا الصِّدِّیۡقُ اَفۡتِنَا فِیۡ سَبۡعِ بَقَرٰتٍ سِمَانٍ یَّاۡکُلُہُنَّ سَبۡعٌ عِجَافٌ وَّ سَبۡعِ سُنۡۢبُلٰتٍ خُضۡرٍ وَّ اُخَرَ  یٰبِسٰتٍ ۙ لَّعَلِّیۡۤ  اَرۡجِعُ  اِلَی النَّاسِ لَعَلَّہُمۡ یَعۡلَمُوۡنَ ﴿۴۷  قَالَ تَزۡرَعُوۡنَ سَبۡعَ سِنِیۡنَ دَاَبًا ۚ فَمَا حَصَدۡتُّمۡ  فَذَرُوۡہُ  فِیۡ  سُنۡۢبُلِہٖۤ  اِلَّا قَلِیۡلًا  مِّمَّا  تَاۡکُلُوۡنَ ﴿۴۸   ثُمَّ یَاۡتِیۡ مِنۡۢ بَعۡدِ ذٰلِکَ سَبۡعٌ شِدَادٌ یَّاۡکُلۡنَ مَا قَدَّمۡتُمۡ لَہُنَّ اِلَّا قَلِیۡلًا مِّمَّا     تُحۡصِنُوۡنَ ﴿۴۹   ثُمَّ  یَاۡتِیۡ مِنۡۢ  بَعۡدِ ذٰلِکَ  عَامٌ فِیۡہِ یُغَاثُ  النَّاسُ  وَ فِیۡہِ  یَعۡصِرُوۡنَ ﴿٪۵۰
Dan dia berkata: “Yusuf, hai engkau orang yang benar! Terangkanlah pendapat engkau kepada kami arti mimpi tujuh ekor sapi betina gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi kurus dan tujuh bulir hijau dan lainnya kering, supaya aku dapat kembali kepada orang-orang itu, agar mereka dapat mengetahui.” Ia, Yusuf, menjawab: “Kamu hendaknya bercocok tanam tujuh tahun lamanya terus-menerus, dan apa yang kamu ketam biarlah itu dalam bulirnya, kecuali sedikit darinya yang kamu makan.    Kemudian akan datang sesudah itu tujuh tahun paceklik, yang akan menelan apa yang telah kamu sediakan untuk itu sebelumnya, kecuali sedikit yang tinggal dari apa yang kamu simpan. Kemudian sesudah itu akan datang tahun  yang di dalamnya    permohonan-permohonan manusia akan ditolong dan dalam keadaan itu mereka akan saling memberi hadiah.” (Yusuf [12]:47-50).

Nubuatan bagi Kaum Kafir Makkah

    Jadi, sebagaimana pada zaman Nabi Yaqub a.s.  umumnya wilayah Timur Tengah mengelami musim kemarau berkepanjangan selama 7 tahun, sehingga menyebabkan Nabi Ya’qub a.s. sekeluarga harus membeli bahan makanan ke negeri Mesir, demikian pula pada zaman Nabi Besar Muhammad saw. negeri Arab telah dilanda kemarau panjang sehingga menyebabkan terjadinya bencana  kelaparan dahsyat, yang lamanya tujuh tahun. Malapetaka itu begitu hebatnya, sehingga orang terpaksa makan bangkai (Bukhari).
       Jadi  mimpi raja Mesir tersebut dan takwil yang dikemukakan Nabi Yusuf a.s. merupakan nubuatan  mengenai bencana kelaparan hebat yang akan terjadi di zaman Nabi Besar Muhammad saw.. Berikut  firman Allah Swt. dalam Al-Quran mengenai    peristiwa tersebut:
بَلۡ  ہُمۡ  فِیۡ  شَکٍّ  یَّلۡعَبُوۡنَ ﴿۱۰   فَارۡتَقِبۡ یَوۡمَ تَاۡتِی السَّمَآءُ بِدُخَانٍ مُّبِیۡنٍ ﴿ۙ۱۱  یَّغۡشَی النَّاسَ ؕ ہٰذَا  عَذَابٌ  اَلِیۡمٌ ﴿۱۲   رَبَّنَا  اکۡشِفۡ عَنَّا الۡعَذَابَ  اِنَّا مُؤۡمِنُوۡنَ ﴿۱۳   اَنّٰی لَہُمُ الذِّکۡرٰی وَ قَدۡ جَآءَہُمۡ رَسُوۡلٌ مُّبِیۡنٌ ﴿ۙ۱۴   ثُمَّ تَوَلَّوۡا عَنۡہُ  وَ قَالُوۡا مُعَلَّمٌ  مَّجۡنُوۡنٌ ﴿ۘ۱۵   اِنَّا کَاشِفُوا الۡعَذَابِ قَلِیۡلًا  اِنَّکُمۡ عَآئِدُوۡنَ ﴿ۘ۱۶

Bahkan mereka bermain-main dalam keraguan. Maka tunggulah Hari itu  ketika langit membawa asap yang nyata, yang meliputi seluruh manusia. Ini adalah suatu azab yang pedih.   Mereka berseru:  "Hai Tuhan kami, lenyapkanlah azab ini dari kami, sesungguhnya kami orang-orang yang beriman." Bagaimanakah  mereka akan memperoleh manfaat dari peringatan itu, padahal telah datang kepada mereka seorang rasul yang menerangkan dengan jelas,   kemudian mereka berpaling darinya dan berkata: "Ia telah  diajari, ia orang gila." Sesungguhnya Kami akan melenyapkan azab itu sementara waktu, tetapi sesungguhnya kamu akan kembali kepada keburukan. (Al-Dukhaan [44]:10-16).

Nubuatan Mengenai Perang Dunia
    
      Isyarat ayat “Maka tunggulah Hari itu  ketika langit membawa asap yang nyata“   dapat tertuju kepada bencana kelaparan hebat yang melanda Makkah dan berlaku beberapa tahun, hingga Abu Sufyan yang pada saat itu pemimpin besar orang-orang kafir datang kepada Nabi Besar Muhammad saw.  dan memohon kepada beliau saw. berdoa supaya mereka diselamatkan dari pukulan dahsyat itu. Bencana kelaparan itu konon begitu hebat  sehingga orang-orang Mekkah memakan kulit, tulang, dan bahkan bangkai (Bukhari, Kitab al-Istisqa').
  Bencana kelaparan itu telah dilukiskan dengan kata dukhan (asap), sebab menurut riwayat bencana kelaparan itu begitu hebat sehingga orang merasakan ada semacam asap mengambang di hadapan mata mereka. Atau, kata itu mungkin telah dipakai karena tidak ada hujan turun selama waktu yang panjang di Makkah, dan udara seluruhnya menjadi penuh debu, sebab dukhaan berarti pula debu (Lexicon Lane). 
   Ayat ini dapat pula diartikan mengisyaratkan kepada dua Perang Dunia terakhir, ketika kota-kota kecil maupun besar rebah terbakar dan hancur berantakan, dan asap yang mengepul dari puing-puingnya memenuhi udara seluruhnya dengan asap dan debu. Perang Dunia III pun hanya tinggal menunggu waktu, insya Allah.
  Menurut riwayat yang dapat dipercaya Nabi Besar Muhammad saw.  berdoa  lalu  bencana kelaparan itu lenyap, tetapi kaum Quraisy tidak mengambil faedah dari kejadian itu dan terus melawan beliau saw.. Apa yang dilakukan Abu Sufyan tersebut sebelumnya dilakukan juga oleh Fir’aun kepada  Nabi Musa a.s.  (QS.7:135-137; QS.43:47-51).
Kembali kepada masalah penjelasan Nabi Yusuf a.s. mengenai mimpi raja Mesir, firman-Nya:
ثُمَّ  یَاۡتِیۡ مِنۡۢ  بَعۡدِ ذٰلِکَ  عَامٌ فِیۡہِ یُغَاثُ  النَّاسُ  وَ فِیۡہِ  یَعۡصِرُوۡنَ ﴿٪۵۰
Kemudian sesudah itu akan datang tahun  yang di dalamnya    permohonan-permohonan manusia akan ditolong dan dalam keadaan itu mereka akan saling memberi hadiah.”  (Yusuf [12]:50).
     Karena tidak dapat menangkap arti kata yughaatsu, yang selain berarti “mereka akan diberi hujan” mengandung pula arti “mereka akan diringankan dari kesengsaraan” atau “mereka akan dibantu dan ditolong”, maka beberapa penulis Kristen telah mengemukakan bantahan, bahwa dikarenakan di Mesir jarang sekali turun hujan, dan bahwa kesuburan tanahnya bergantung kepada air banjir sungai Nil, pernyataan Al-Quran itu bertentangan dengan kenyataan-kenyataan ilmu bumi yang sederhana.     
     Jelaslah, bahwa kedua arti terakhir itu sesuai sekali dengan bunyi ayat Al-Quran. Tetapi seandainya pun kata itu dipakai dalam pengertian yang disebut pertama, tiada alasan untuk mengajukan keberatan, sebab meskipun kesuburan tanah Mesir bergantung kepada banjir sungai Nil, banjir sungai Nil itu sendiri bergantung pada hujan yang jatuh di gunung-gunung, tempat letak sumbernya (hulunya).
     Ya’shirun asalnya dari ashira, yang berarti: (1) ia peras atau kempa buah itu, sehingga keluarlah sari buahnya, dan sebagainya; (2) ia tolong atau bantu, selamatkan atau pelihara  dia; (3) ia berikan sesuatu kepada seseorang atau berbuat sesuatu kebajikan kepada seseorang (Lexicon Lane).

Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid



Tidak ada komentar:

Posting Komentar