بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
HUBUNGAN NABI YUSUF A.S.
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
Bagian XXIX
Tentang
Nubuatan Dalam Mimpi Raja Mesir
Oleh
Ki Langlang
Buana Kusuma
یُوۡسُفُ
اَیُّہَا الصِّدِّیۡقُ اَفۡتِنَا فِیۡ سَبۡعِ بَقَرٰتٍ سِمَانٍ یَّاۡکُلُہُنَّ
سَبۡعٌ عِجَافٌ وَّ سَبۡعِ سُنۡۢبُلٰتٍ خُضۡرٍ وَّ اُخَرَ یٰبِسٰتٍ ۙ لَّعَلِّیۡۤ اَرۡجِعُ
اِلَی النَّاسِ لَعَلَّہُمۡ یَعۡلَمُوۡنَ ﴿۴۷﴾ قَالَ تَزۡرَعُوۡنَ سَبۡعَ
سِنِیۡنَ دَاَبًا ۚ فَمَا حَصَدۡتُّمۡ
فَذَرُوۡہُ فِیۡ سُنۡۢبُلِہٖۤ
اِلَّا قَلِیۡلًا مِّمَّا تَاۡکُلُوۡنَ ﴿۴۸﴾ ثُمَّ یَاۡتِیۡ مِنۡۢ بَعۡدِ ذٰلِکَ سَبۡعٌ شِدَادٌ
یَّاۡکُلۡنَ مَا قَدَّمۡتُمۡ لَہُنَّ اِلَّا قَلِیۡلًا مِّمَّا تُحۡصِنُوۡنَ ﴿۴۹﴾ ثُمَّ یَاۡتِیۡ مِنۡۢ بَعۡدِ ذٰلِکَ
عَامٌ فِیۡہِ یُغَاثُ
النَّاسُ وَ فِیۡہِ یَعۡصِرُوۡنَ ﴿٪۵۰﴾
Dan dia berkata: “Yusuf, hai engkau orang yang benar!
Terangkanlah pendapat engkau kepada kami arti mimpi tujuh ekor sapi
betina gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi kurus dan tujuh bulir hijau
dan lainnya kering, supaya aku dapat kembali kepada orang-orang itu, agar
mereka dapat mengetahui.” Ia, Yusuf, menjawab: “Kamu hendaknya
bercocok tanam tujuh tahun lamanya terus-menerus, dan apa yang kamu ketam
biarlah itu dalam bulirnya, kecuali sedikit darinya yang kamu makan. Kemudian akan datang sesudah itu tujuh tahun
paceklik, yang akan menelan apa yang telah kamu sediakan untuk itu
sebelumnya, kecuali sedikit yang tinggal dari apa yang kamu simpan.
Kemudian sesudah itu akan datang tahun
yang di dalamnya
permohonan-permohonan manusia akan ditolong dan dalam keadaan itu
mereka akan saling memberi hadiah.” (Yusuf [12]:47-50).
Dalam Bab
sebelumnya telah dibahas mengenai latar belakang mengungsinya Nabi Ibrahim a.s.
dan keluarganya ke Mesir, yang akan dialami juga oleh keturunan beliau a.s.
dari Nabi Ishaq a.s., yakni Nabi Ya’qub a.s. dan keluarganya, serta hubungannya
dengan dengan mimpi Fir’aun, firman-Nya:
وَ قَالَ الۡمَلِکُ اِنِّیۡۤ
اَرٰی سَبۡعَ بَقَرٰتٍ سِمَانٍ یَّاۡکُلُہُنَّ سَبۡعٌ عِجَافٌ وَّ سَبۡعَ
سُنۡۢبُلٰتٍ خُضۡرٍ وَّ اُخَرَ یٰبِسٰتٍ ؕ
یٰۤاَیُّہَا الۡمَلَاُ اَفۡتُوۡنِیۡ فِیۡ
رُءۡیَایَ اِنۡ کُنۡتُمۡ لِلرُّءۡیَا تَعۡبُرُوۡنَ ﴿۴۴﴾ قَالُوۡۤا اَضۡغَاثُ اَحۡلَامٍ ۚ وَ مَا نَحۡنُ
بِتَاۡوِیۡلِ الۡاَحۡلَامِ بِعٰلِمِیۡنَ ﴿۴۵﴾
Dan raja itu berkata:
“Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi tujuh ekor sapi betina
yang gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi kurus, dan tujuh bulir
yang hijau dan yang lainnya kering. Hai para pembesar, terangkanlah pendapatmu kepadaku tentang
mimpiku jika kamu sungguh dapat
menafsirkan makna mimpi
itu.” Mereka
menjawab: “Mimpi-mimpi ini kacau-balau dan kami sama sekali tidak mengetahui ta’bir
mimpi-mimpi seperti itu.”
(Yusuf [12]:44-45).
Penjelasan Nabi Yusuf a.s. Mengenai Mimpi Raja
Ketidakmampuan para pembesar raja untuk menakwilkan mimpi raja Mesir
tersebut telah membuat pelayan minuman
raja yang dibebaskan dari penjara ingat
kembali pesan Nabi Yusuf a.s. beberapa tahun sebelumnya, firman-Nya:
وَ قَالَ الَّذِیۡ
نَجَا مِنۡہُمَا وَ ادَّکَرَ بَعۡدَ
اُمَّۃٍ اَنَا اُنَبِّئُکُمۡ
بِتَاۡوِیۡلِہٖ فَاَرۡسِلُوۡنِ ﴿۴۶﴾ یُوۡسُفُ اَیُّہَا الصِّدِّیۡقُ
اَفۡتِنَا فِیۡ سَبۡعِ بَقَرٰتٍ سِمَانٍ یَّاۡکُلُہُنَّ سَبۡعٌ عِجَافٌ وَّ سَبۡعِ
سُنۡۢبُلٰتٍ خُضۡرٍ وَّ اُخَرَ یٰبِسٰتٍ ۙ
لَّعَلِّیۡۤ اَرۡجِعُ اِلَی النَّاسِ لَعَلَّہُمۡ یَعۡلَمُوۡنَ ﴿۴۷﴾
Dan
berkata seorang yang telah selamat dari kedua orang itu, dan sesudah beberapa lama baru
teringat: “Aku akan memberitahukan
kepada kamu mengenai ta’birnya
karena itu utuslah aku.” Dan dia berkata: “Yusuf, hai engkau
orang yang benar! Terangkanlah pendapat engkau kepada kami arti mimpi
tujuh ekor sapi betina gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi kurus
dan tujuh bulir hijau dan lainnya kering, supaya aku dapat kembali
kepada orang-orang itu, agar mereka dapat mengetahui.” (Yusuf
[12]:46-47).
Atas permintaan utusan para pembesar
Mesir tersebut Nabi Yusuf a.s. menerangkan makna dari mimpi raja
tersebut serta tindakan apa yang harus dilakukan oleh raja, firman-Nya:
یُوۡسُفُ اَیُّہَا الصِّدِّیۡقُ اَفۡتِنَا فِیۡ سَبۡعِ
بَقَرٰتٍ سِمَانٍ یَّاۡکُلُہُنَّ سَبۡعٌ عِجَافٌ وَّ سَبۡعِ سُنۡۢبُلٰتٍ خُضۡرٍ
وَّ اُخَرَ یٰبِسٰتٍ ۙ لَّعَلِّیۡۤ اَرۡجِعُ
اِلَی النَّاسِ لَعَلَّہُمۡ یَعۡلَمُوۡنَ ﴿۴۷﴾ قَالَ تَزۡرَعُوۡنَ سَبۡعَ
سِنِیۡنَ دَاَبًا ۚ فَمَا حَصَدۡتُّمۡ
فَذَرُوۡہُ فِیۡ سُنۡۢبُلِہٖۤ
اِلَّا قَلِیۡلًا مِّمَّا تَاۡکُلُوۡنَ ﴿۴۸﴾ ثُمَّ یَاۡتِیۡ مِنۡۢ بَعۡدِ ذٰلِکَ سَبۡعٌ شِدَادٌ
یَّاۡکُلۡنَ مَا قَدَّمۡتُمۡ لَہُنَّ اِلَّا قَلِیۡلًا مِّمَّا تُحۡصِنُوۡنَ ﴿۴۹﴾ ثُمَّ یَاۡتِیۡ مِنۡۢ بَعۡدِ ذٰلِکَ
عَامٌ فِیۡہِ یُغَاثُ
النَّاسُ وَ فِیۡہِ یَعۡصِرُوۡنَ ﴿٪۵۰﴾
Dan dia berkata: “Yusuf, hai engkau orang yang benar!
Terangkanlah pendapat engkau kepada kami arti mimpi tujuh ekor sapi
betina gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi kurus dan tujuh bulir
hijau dan lainnya kering, supaya aku dapat kembali kepada orang-orang itu,
agar mereka dapat mengetahui.” Ia, Yusuf, menjawab: “Kamu
hendaknya bercocok tanam tujuh tahun lamanya terus-menerus, dan apa
yang kamu ketam biarlah itu dalam bulirnya, kecuali sedikit darinya yang
kamu makan. Kemudian akan datang sesudah itu tujuh
tahun paceklik, yang akan menelan apa yang telah kamu sediakan untuk
itu sebelumnya, kecuali sedikit yang tinggal dari apa yang
kamu simpan. Kemudian sesudah itu akan datang tahun yang di dalamnya permohonan-permohonan manusia akan
ditolong dan dalam keadaan itu mereka akan saling memberi hadiah.” (Yusuf
[12]:47-50).
Nubuatan bagi Kaum Kafir Makkah
Jadi, sebagaimana pada zaman Nabi Yaqub
a.s. umumnya wilayah Timur Tengah
mengelami musim kemarau berkepanjangan selama 7 tahun, sehingga menyebabkan
Nabi Ya’qub a.s. sekeluarga harus membeli bahan makanan ke negeri Mesir,
demikian pula pada zaman Nabi Besar Muhammad saw. negeri Arab telah dilanda
kemarau panjang sehingga menyebabkan terjadinya bencana kelaparan
dahsyat, yang lamanya tujuh tahun. Malapetaka itu begitu hebatnya, sehingga
orang terpaksa makan bangkai (Bukhari).
Jadi
mimpi raja Mesir tersebut dan takwil yang dikemukakan Nabi
Yusuf a.s. merupakan nubuatan mengenai bencana kelaparan hebat yang
akan terjadi di zaman Nabi Besar Muhammad saw.. Berikut firman Allah Swt. dalam Al-Quran mengenai peristiwa tersebut:
بَلۡ ہُمۡ
فِیۡ شَکٍّ یَّلۡعَبُوۡنَ ﴿۱۰﴾ فَارۡتَقِبۡ یَوۡمَ تَاۡتِی السَّمَآءُ بِدُخَانٍ
مُّبِیۡنٍ ﴿ۙ۱۱﴾ یَّغۡشَی النَّاسَ ؕ ہٰذَا عَذَابٌ
اَلِیۡمٌ ﴿۱۲﴾ رَبَّنَا
اکۡشِفۡ عَنَّا الۡعَذَابَ اِنَّا
مُؤۡمِنُوۡنَ ﴿۱۳﴾ اَنّٰی لَہُمُ
الذِّکۡرٰی وَ قَدۡ جَآءَہُمۡ رَسُوۡلٌ مُّبِیۡنٌ ﴿ۙ۱۴﴾ ثُمَّ تَوَلَّوۡا عَنۡہُ وَ قَالُوۡا مُعَلَّمٌ مَّجۡنُوۡنٌ ﴿ۘ۱۵﴾ اِنَّا کَاشِفُوا الۡعَذَابِ قَلِیۡلًا اِنَّکُمۡ عَآئِدُوۡنَ ﴿ۘ۱۶﴾
Bahkan
mereka bermain-main dalam keraguan. Maka tunggulah Hari itu ketika langit membawa asap yang nyata, yang
meliputi seluruh manusia. Ini adalah suatu azab yang pedih. Mereka
berseru: "Hai Tuhan kami,
lenyapkanlah azab ini dari kami, sesungguhnya kami orang-orang yang
beriman." Bagaimanakah mereka
akan memperoleh manfaat dari peringatan itu, padahal telah datang
kepada mereka seorang rasul yang menerangkan dengan jelas, kemudian
mereka berpaling darinya dan berkata: "Ia telah diajari, ia orang gila."
Sesungguhnya Kami akan melenyapkan azab itu sementara waktu, tetapi sesungguhnya kamu akan kembali kepada
keburukan. (Al-Dukhaan [44]:10-16).
Nubuatan
Mengenai Perang Dunia
Isyarat ayat “Maka tunggulah Hari itu ketika langit membawa asap yang nyata“ dapat
tertuju kepada bencana kelaparan hebat yang melanda Makkah dan berlaku
beberapa tahun, hingga Abu Sufyan yang pada saat itu pemimpin besar orang-orang
kafir datang kepada Nabi Besar Muhammad saw. dan memohon kepada beliau saw. berdoa
supaya mereka diselamatkan dari pukulan dahsyat itu. Bencana kelaparan itu
konon begitu hebat sehingga orang-orang
Mekkah memakan kulit, tulang, dan bahkan bangkai (Bukhari, Kitab
al-Istisqa').
Bencana kelaparan itu telah
dilukiskan dengan kata dukhan (asap), sebab menurut riwayat bencana kelaparan
itu begitu hebat sehingga orang merasakan ada semacam asap mengambang di
hadapan mata mereka. Atau, kata itu mungkin telah dipakai karena tidak ada
hujan turun selama waktu yang panjang di Makkah, dan udara seluruhnya menjadi
penuh debu, sebab dukhaan berarti pula debu (Lexicon Lane).
Ayat ini dapat pula diartikan mengisyaratkan kepada dua Perang Dunia terakhir, ketika kota-kota kecil maupun besar rebah terbakar dan hancur berantakan, dan asap yang mengepul dari puing-puingnya memenuhi udara seluruhnya dengan asap dan debu. Perang Dunia III pun hanya tinggal menunggu waktu, insya Allah.
Ayat ini dapat pula diartikan mengisyaratkan kepada dua Perang Dunia terakhir, ketika kota-kota kecil maupun besar rebah terbakar dan hancur berantakan, dan asap yang mengepul dari puing-puingnya memenuhi udara seluruhnya dengan asap dan debu. Perang Dunia III pun hanya tinggal menunggu waktu, insya Allah.
Menurut riwayat yang dapat dipercaya Nabi
Besar Muhammad saw. berdoa lalu bencana
kelaparan itu lenyap, tetapi kaum Quraisy tidak mengambil faedah dari
kejadian itu dan terus melawan beliau saw.. Apa yang dilakukan Abu Sufyan
tersebut sebelumnya dilakukan juga oleh Fir’aun kepada Nabi Musa a.s. (QS.7:135-137; QS.43:47-51).
Kembali kepada masalah penjelasan Nabi Yusuf a.s. mengenai mimpi
raja Mesir, firman-Nya:
ثُمَّ یَاۡتِیۡ مِنۡۢ بَعۡدِ ذٰلِکَ
عَامٌ فِیۡہِ یُغَاثُ
النَّاسُ وَ فِیۡہِ یَعۡصِرُوۡنَ ﴿٪۵۰﴾
Kemudian sesudah itu akan datang
tahun yang di dalamnya permohonan-permohonan manusia akan
ditolong dan dalam keadaan itu mereka akan saling memberi hadiah.”
(Yusuf [12]:50).
Karena tidak dapat menangkap arti
kata yughaatsu, yang selain berarti “mereka akan diberi hujan”
mengandung pula arti “mereka akan diringankan dari kesengsaraan” atau “mereka
akan dibantu dan ditolong”, maka beberapa penulis Kristen telah mengemukakan
bantahan, bahwa dikarenakan di Mesir jarang sekali turun hujan, dan bahwa
kesuburan tanahnya bergantung kepada air banjir sungai Nil, pernyataan Al-Quran
itu bertentangan dengan kenyataan-kenyataan ilmu bumi yang sederhana.
Jelaslah,
bahwa kedua arti terakhir itu sesuai sekali dengan bunyi ayat Al-Quran. Tetapi
seandainya pun kata itu dipakai dalam pengertian yang disebut pertama, tiada
alasan untuk mengajukan keberatan, sebab meskipun kesuburan tanah Mesir
bergantung kepada banjir sungai Nil, banjir sungai Nil itu sendiri bergantung
pada hujan yang jatuh di gunung-gunung, tempat letak sumbernya (hulunya).
Ya’shirun
asalnya dari ashira, yang berarti: (1) ia peras atau kempa buah
itu, sehingga keluarlah sari buahnya, dan sebagainya; (2) ia tolong atau
bantu, selamatkan atau pelihara dia; (3)
ia berikan sesuatu kepada seseorang atau berbuat sesuatu kebajikan kepada
seseorang (Lexicon Lane).
Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid
Tidak ada komentar:
Posting Komentar