بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
HUBUNGAN NABI YUSUF A.S.
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
Bagian XXIII
Tentang
"Surga Dunia" yang Menipu
Oleh
Ki Langlang
Buana Kusuma
وَ لِمَنۡ خَافَ مَقَامَ رَبِّہٖ
جَنَّتٰنِ ﴿ۚ۴۷﴾ فَبِاَیِّ
اٰلَآءِ رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ
﴿ۙ۴۸﴾
Dan bagi
orang yang takut akan Keagungan
Tuhan-nya ada dua surga. Maka
yang manakah di antara nikmat-nikmat Tuhan kamu berdua, yang kamu dustakan? (Al-Rahmaan
[55]:47-48).
Pada Bab sebelumnya
telah dijelaskan makna pertama mengenai
hakikat “turunnya malaikat-malaikat” (QS.41:31-33) sehubungan
dengan firman-Nya dalam Surah Yaa Siin mengenai perintah Allah Swt. untuk “masuk ke dalam
surga” kepada “seorang laki-laki yang datang berlari-lari dari bagian terjauh
kota itu” (QS.36:21-25), firman-Nya:
اِنِّیۡۤ
اٰمَنۡتُ بِرَبِّکُمۡ
فَاسۡمَعُوۡنِ ﴿ؕ۲۶﴾ قِیۡلَ ادۡخُلِ الۡجَنَّۃَ ؕ قَالَ یٰلَیۡتَ
قَوۡمِیۡ یَعۡلَمُوۡنَ ﴿ۙ۲۷﴾ بِمَا غَفَرَ لِیۡ رَبِّیۡ وَ جَعَلَنِیۡ مِنَ
الۡمُکۡرَمِیۡنَ ﴿۲۸﴾
Sesungguhnya aku beriman kepada Tuhan kamu maka dengarlah aku.” Dikatakan kepadanya: “Masuklah ke dalam surga.” Ia
berkata: “Wahai alangkah baiknya jika kaumku mengetahui, oleh karena apa Tuhan-ku telah
mengampuniku dan telah menjadikan aku dari antara orang-orang yang dimuliakan.”
(Yaa Siin [36]:26-28).
Kesedihan
Rasul Akhir Zaman
Ada pun makna yang kedua dari firman
Allah Swt. mengenai ucapan “laki-laki”
tersebut: “Wahai alangkah baiknya jika kaumku mengetahui, oleh karena apa Tuhan-ku telah mengampuniku dan telah menjadikan aku
dari antara orang-orang yang dimuliakan” dalam firman-Nya berikut ini:
اِنِّیۡۤ اٰمَنۡتُ بِرَبِّکُمۡ فَاسۡمَعُوۡنِ ﴿ؕ۲۶﴾ قِیۡلَ ادۡخُلِ
الۡجَنَّۃَ ؕ قَالَ یٰلَیۡتَ قَوۡمِیۡ یَعۡلَمُوۡنَ ﴿ۙ۲۷﴾ بِمَا غَفَرَ لِیۡ
رَبِّیۡ وَ جَعَلَنِیۡ مِنَ الۡمُکۡرَمِیۡنَ ﴿۲۸﴾
“Sesungguhnya
aku beriman kepada Tuhan kamu
maka dengarlah aku.” Dikatakan kepadanya: “Masuklah ke dalam surga.” Ia
berkata: “Wahai alangkah baiknya jika kaumku mengetahui, oleh karena apa Tuhan-ku telah
mengampuniku dan telah menjadikan aku dari antara orang-orang yang dimuliakan.”
(Yaa Siin [36):26-28).
Perkataan itu mengisyaratkan kepada “rasa sesal” atau “rasa masygul” hamba
Allah tersebut, bahwa seandainya kaum beliau – yakni umat Islam – beriman
kepada pendakwaannya dan patuh-taat
kepadanya maka mereka pun, insya
Allah, akan mengalami apa yang dialaminya, yakni Allah Swt. pun akan berfirman kepada mereka:
“Masuklah ke dalam surga” dan umat Islam pun akan menjadi orang-orang yang dimuliakan Allah Swt. pula seperti dirinya.
Namun dalam kenyataannya “hamba Allah”
yang hakiki tersebut mendapat perlakuan buruk yang sama dari
“penduduk kota” -- seperti yang
terjadi atas 3 orang Rasul Allah yang
sebelumnya telah diutus kepada mereka (QS.36:14-20) -- yakni penduduk kota
tersebut mendustakan dan menentang wujud-wujud suci itu.
Pada hakikatnya pendustaan dan penentangan terhadap “laki-laki
yang datang berlari-lari dari bagian terjauh kota itu” serta kesedihan
yang dialaminya tersebut berhubungan
erat dengan kesedihan hati yang dirasakan oleh Rasul Akhir Zaman
berikut ini, firman-Nya:
اَلۡمُلۡکُ
یَوۡمَئِذِۣ الۡحَقُّ لِلرَّحۡمٰنِ ؕ وَ کَانَ یَوۡمًا عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ
عَسِیۡرًا ﴿۲۷﴾وَ یَوۡمَ یَعَضُّ الظَّالِمُ عَلٰی یَدَیۡہِ یَقُوۡلُ
یٰلَیۡتَنِی اتَّخَذۡتُ مَعَ الرَّسُوۡلِ سَبِیۡلًا ﴿۲۸﴾یٰوَیۡلَتٰی
لَیۡتَنِیۡ لَمۡ اَتَّخِذۡ فُلَانًا خَلِیۡلًالَقَدۡ اَضَلَّنِیۡ عَنِ الذِّکۡرِ
بَعۡدَ اِذۡ جَآءَنِیۡ ؕ وَ کَانَ الشَّیۡطٰنُ لِلۡاِنۡسَانِ خَذُوۡلًا ﴿۳۱﴾ وَ قَالَ الرَّسُوۡلُ
یٰرَبِّ اِنَّ قَوۡمِی اتَّخَذُوۡا ہٰذَا الۡقُرۡاٰنَ مَہۡجُوۡرًا ﴿۳۰﴾وَ کَذٰلِکَ
جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا مِّنَ الۡمُجۡرِمِیۡنَ ؕ وَ کَفٰی بِرَبِّکَ
ہَادِیًا وَّ نَصِیۡرًا ﴿۳۲﴾
Kerajaan yang haq pada hari itu milik
Yang Maha Pemurah, dan azab pada hari itu atas orang-orang kafir sangat keras. Dan
pada hari itu orang zalim akan menggigit-gigit kedua tangannya lalu
berkata: ”Wahai
alangkah baiknya jika aku mengambil jalan bersama dengan Rasul itu. Wahai celakalah aku, alangkah baiknya seandainya
aku tidak menjadikan si fulan itu
sahabat. Sungguh ia benar-benar telah melalaikanku dari
mengingat kepada Allah sesudah ia datang kepadaku.” Dan syaitan
selalu menelantarkan manusia. Dan
Rasul itu berkata: “Ya Tuhan-ku, sesungguhnya kaumku
telah menjadikan Al-Quran ini sesuatu yang telah ditinggalkan. Dan demikianlah Kami telah menjadikan musuh bagi tiap-tiap
nabi dari antara orang-orang yang
berdosa, dan cukuplah Tuhan engkau sebagai pemberi petunjuk
dan penolong. (Al-Furqan [25]:27-32).
Bandingkan firman Allah Swt. tersebut
dengan firman Allah Swt. dalam Surah Yaa Siin berikut ini mengenai perumpamaan sebuah kota yang
mendustakan dan menentang rasul-rasul Allah yang diutus kepada mereka –
termasuk mendustakan “seorang laki-laki yang datang berlari-lari dari bagian terjauh
kota itu, maka akan ada persamaan mengenai "perasaan sedih" yang dikemukakan oleh kedua Surah yang berbeda tersebut, karena pada hakikatnya kedua Surah tersebut merujuk kepada orang yang sama yakni Rasul Akhir Zaman yang dibangkitkan dari kalangan umat Islam (QS.61:10; QS.63:3-5), firman-Nya:
وَ
اضۡرِبۡ لَہُمۡ مَّثَلًا اَصۡحٰبَ
الۡقَرۡیَۃِ ۘ اِذۡ جَآءَہَا
الۡمُرۡسَلُوۡنَ ﴿ۚ۱۴﴾ اِذۡ اَرۡسَلۡنَاۤ
اِلَیۡہِمُ اثۡنَیۡنِ فَکَذَّبُوۡہُمَا فَعَزَّزۡنَا بِثَالِثٍ
فَقَالُوۡۤا اِنَّاۤ اِلَیۡکُمۡ
مُّرۡسَلُوۡنَ ﴿۱۵﴾ قَالُوۡا مَاۤ
اَنۡتُمۡ اِلَّا بَشَرٌ مِّثۡلُنَا
ۙ وَ مَاۤ اَنۡزَلَ الرَّحۡمٰنُ مِنۡ شَیۡءٍ ۙ اِنۡ اَنۡتُمۡ
اِلَّا تَکۡذِبُوۡنَ ﴿۱۶﴾ قَالُوۡا رَبُّنَا یَعۡلَمُ اِنَّاۤ
اِلَیۡکُمۡ لَمُرۡسَلُوۡنَ ﴿۱۷﴾ وَ مَا عَلَیۡنَاۤ اِلَّا
الۡبَلٰغُ الۡمُبِیۡنُ ﴿۱۸﴾ قَالُوۡۤا اِنَّا تَطَیَّرۡنَا
بِکُمۡ ۚ لَئِنۡ لَّمۡ تَنۡتَہُوۡا لَنَرۡجُمَنَّکُمۡ وَ لَیَمَسَّنَّکُمۡ مِّنَّا
عَذَابٌ اَلِیۡمٌ ﴿۱۹﴾ قَالُوۡا طَآئِرُکُمۡ مَّعَکُمۡ ؕ اَئِنۡ
ذُکِّرۡتُمۡ ؕ بَلۡ اَنۡتُمۡ قَوۡمٌ
مُّسۡرِفُوۡنَ ﴿۲۰۱۹﴾ وَ جَآءَ مِنۡ اَقۡصَا
الۡمَدِیۡنَۃِ رَجُلٌ یَّسۡعٰی قَالَ
یٰقَوۡمِ اتَّبِعُوا الۡمُرۡسَلِیۡنَ ﴿ۙ۲۱﴾ اتَّبِعُوۡا مَنۡ لَّا
یَسۡـَٔلُکُمۡ اَجۡرًا وَّ ہُمۡ مُّہۡتَدُوۡنَ ﴿۲۲﴾
Dan
kemukakanlah bagi mereka misal (perumpamaan)
mengenai penduduk suatu kota
ketika rasul-rasul datang
kepada mereka. Ketika Kami
mengirimkan kepada mereka dua orang rasul, lalu mereka
mendustakan keduanya, maka Kami memperkuat dengan yang ketiga,
lalu mereka berkata: “Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diutus
kepada kamu.” Mereka
berkata: ”Kamu
sekali-kali tidak lain hanya manusia
seperti kami, dan Tuhan Yang Maha Pemurah sekali-kali tidak
menurunkan sesuatu, kamu tidak lain hanya berdusta belaka.” Mereka (rasul-rasul) berkata: “Tuhan kami mengetahui
sesungguhnya kami benar-benar diutus kepada kamu. Dan tugas kami
sekali-kali tidak lain hanya menyampaikan dengan jelas.” Mereka berkata: “Sesungguhnya kemalangan kami
ini karena kamu, jika kamu tidak benar-benar berhenti
niscaya kami akan merajammu, dan niscaya azab yang pedih
akan menimpamu dari kami.” Mereka,
para rasul, berkata: “Kemalangan kamu itu bersama (akibat) dirimu
sendiri. Apakah jika kamu diperingatkan
kamu mengancam kami? Bahkan kamu adalah
kaum yang melampaui batas.” Dan datang dari bagian terjauh
kota itu seorang laki-laki
dengan berlari-lari, ia berkata: “Hai kaumku, ikutilah rasul-rasul
itu.
Ikutilah mereka yang tidak
meminta upah dari kamu dan mereka yang telah mendapat petunjuk.” (Yaa Siin [36]:14-21).
Perkataan Rasul Allah pada
Al-Furqaan ayat 31 sebelumnya dengan sangat tepat sekali dapat
dikenakan kepada mereka yang menamakan diri orang-orang Muslim tetapi
telah menyampingkan Al-Quran dan telah melemparkannya ke
belakang. Barangkali belum pernah terjadi selama 14 abad ini di mana Al-Quran
demikian rupa diabaikan dan dilupakan oleh orang-orang Muslim
seperti dewasa ini. Ada sebuah hadits Nabi Besar Muhammad saw. yang mengatakan: “Satu saat akan
datang kepada kaumku, bila tidak ada yang tinggal dari Islam melainkan namanya
dan dari Al-Quran melainkan kata-katanya” (Baihaqi, Syu’ab-ul-iman).
Sungguh masa sekarang-sekarang inilah saat yang dimaksudkan itu.
“Dua Surga” yang Dijanjikan Allah Swt.
Berikut ini firman Allah Swt. mengenai 2
surga yang dijanjikan Allah Swt. bagi hamba-hamba-Nya yang hakiki:
وَ لِمَنۡ خَافَ مَقَامَ رَبِّہٖ
جَنَّتٰنِ ﴿ۚ۴۷﴾ فَبِاَیِّ
اٰلَآءِ رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ
﴿ۙ۴۸﴾
Dan bagi orang
yang takut akan Keagungan Tuhan-nya
ada dua surga. Maka
yang manakah di antara nikmat-nikmat Tuhan kamu berdua, yang kamu
dustakan? (Al-Rahmaan [55]:47-48).
Kata “dua surga” dapat
berarti: (1) ketenteraman pikiran yang merupakan hasil menjalani kehidupan yang
baik, dan (2) kebebasan dari kekhawatiran dan kecemasan yang mencekam hati
akibat menjalani hidup mengejar kesenangan dan kebahagiaan duniawi.
Kebun surgawi pertama terdapat di dunia ini dalam hal melepaskan
keinginan sendiri karena Allah, dan kebun surgawi lainnya dalam memperoleh
berkat dan keridhaan Ilahi di akhirat. Seorang mukmin sejati
selama-lamanya berjemur di dalam sinar matahari rahmat Ilahi di dunia
ini, yang tidak dapat diusik oleh pikiran-pikiran susah. Inilah surga
dunia, yang dianugerahkan kepada hamba Allah yang bertakwa dan di dalamnya ia
akan tinggal selamanya; surga yang dijanjikan di akhirat hanyalah
suatu bayangan surga di dunia ini, yang merupakan suatu peragaan
rahmat ruhani yang dinikmati orang serupa itu di dunia ini.
Kepada keadaan hidup surgawi
seorang mukmin sejati inilah Al-Quran mengisyaratkan di dalam QS.41:31-33
sebelum ini dan dalam firman-Nya berikut ini mengenai keadaan para wali
Allah (sahabat-sahabat Allah):
اَلَاۤ اِنَّ اَوۡلِیَآءَ اللّٰہِ لَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ ﴿ۚۖ۶۳﴾ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ کَانُوۡا یَتَّقُوۡنَ ﴿ؕ۶۴﴾
Ingatlah! Sesungguhnya sahabat-sahabat Allah itu, tidak ada ketakutan atas mereka dan tidak
pula mereka akan bersedih. Yaitu orang-orang yang beriman dan senantiasa bertakwa, bagi
mereka ada kabar gem-bira dalam
kehidupan di dunia dan di
akhirat, tidak ada perubahan pada firman-firman Allah, itulah
keme-nangan yang besar. (Yunus [10]:63-64).
Kata
“dua surga” itu pun mungkin juga mengisyaratkan dua lembah subur
-- yang diairi oleh dua aliran sungai Jaihan dan Saihan serta Efrat dan Nil -- yang
menurut sebuah hadits adalah sungai-sungai surgawi (Muslim).
Kedua lembah subur tersebut jatuh ke tangan orang-orang Islam di masa
Khalifah Umar bin Khaththab r.a. .
Jadi, kembali kepada Surah Yaa Siin
mengenai perintah Allah Swt. kepada “seorang laki-laki yang berlari-lari
dari bagian terjauh dari kota itu” (ayat 21)untuk “masuk ke dalam surga”
(ayat 27) bukanlah masuk “surga”
yang ada di alam akhirat melainkan kepada “surga” yang disediakan Allah
Swt. di dunia ini yang disediakan
bagi hamba-hamba-Nya yang hakiki
Pendek kata, kembali kepada hakikat “rayuan
istri Potifar” terhadap Nabi Yusuf a.s. yang secara duniawi Nabi
Yusuf a.s. menjalani kehidupan di rumah Potifar – seorang pejabat tinggi kerajaan Mesir –
bagaikan hidup di dalam “surga” -- jika
dibandingkan dengan kehidupan beliau sebelumnya bersama ayah dan saudara-saudara beliau seayah
di Kanaan -- namun terbukti “kehidupan
surgawi” secara duniawi di rumah Potifar benar-benar merupakan “ujian
berat” bagi keimanan beliau,
sebagaimana tercermin dari perkataan Nabi Yusuf a.s. sendiri, firman-Nya:
وَ مَاۤ اُبَرِّیُٔ نَفۡسِیۡ ۚ
اِنَّ النَّفۡسَ لَاَمَّارَۃٌۢ
بِالسُّوۡٓءِ اِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّیۡ ؕ اِنَّ رَبِّیۡ غَفُوۡرٌ
رَّحِیۡمٌ ﴿۵۴﴾
Dan aku sama sekali tidak menganggap diriku bebas dari
kelemahan, sesungguhnya nafsu ammarah itu senantiasa menyuruh
kepada keburukan, kecuali orang yang dikasihani oleh Tuhan-ku,
sesungguhnya Tuhan-ku Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Yusuf
[12]:54).
Itulah sebabnya Nabi Yusuf a.s. lebih memilih “hidup
dalam penjara” yang diancamkan istri majikannya daripada hidup mewah
di rumahnya tetapi membahayakan keimanan beliau, firman-Nya:
قَالَ رَبِّ السِّجۡنُ
اَحَبُّ اِلَیَّ مِمَّا یَدۡعُوۡنَنِیۡۤ
اِلَیۡہِ ۚ وَ اِلَّا تَصۡرِفۡ عَنِّیۡ کَیۡدَہُنَّ اَصۡبُ اِلَیۡہِنَّ وَ اَکُنۡ مِّنَ الۡجٰہِلِیۡنَ ﴿۳۴﴾ فَاسۡتَجَابَ
لَہٗ رَبُّہٗ فَصَرَفَ عَنۡہُ کَیۡدَہُنَّ ؕ اِنَّہٗ ہُوَ السَّمِیۡعُ الۡعَلِیۡمُ ﴿۳۴﴾ ثُمَّ بَدَا لَہُمۡ
مِّنۡۢ بَعۡدِ مَا رَاَوُا الۡاٰیٰتِ لَیَسۡجُنُنَّہٗ حَتّٰی حِیۡنٍ ﴿٪۳۵﴾
Ia, Yusuf, berkata:
“Ya Tuhan-ku, penjara itu lebih kusukai bagiku daripada apa yang
mereka mengajakku kepadanya, dan jika Engkau tidak mengelakkan dari
diriku tipu-daya mereka tentu aku akan cenderung kepada mereka itu
dan aku akan termasuk orang-orang yang jahil.” Maka Tuhan mengabulkan
doanya lalu mengelakkan
dari tipu-daya mereka, sesungguhnya
Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui. (Yusuf [12]:34-35).
(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid
Tidak ada komentar:
Posting Komentar