Selasa, 17 Januari 2012

"Surga Dunia" yang Menipu

 
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ

 
HUBUNGAN  NABI YUSUF A.S. 
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
  
Bagian   XXIII

Tentang

     "Surga   Dunia" yang Menipu  
      
 Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
وَ  لِمَنۡ خَافَ مَقَامَ  رَبِّہٖ  جَنَّتٰنِ ﴿ۚ۴۷  فَبِاَیِّ  اٰلَآءِ  رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ ﴿ۙ۴۸
Dan bagi orang yang takut akan   Keagungan Tuhan-nya ada dua surga.  Maka yang manakah di antara nikmat-nikmat Tuhan kamu berdua, yang kamu dustakan? (Al-Rahmaan [55]:47-48).

Pada Bab sebelumnya telah dijelaskan makna pertama  mengenai hakikat “turunnya malaikat-malaikat” (QS.41:31-33) sehubungan dengan  firman-Nya  dalam Surah Yaa Siin mengenai  perintah Allah Swt. untuk “masuk ke dalam surga” kepada “seorang laki-laki yang datang berlari-lari dari bagian terjauh kota itu” (QS.36:21-25), firman-Nya:
       اِنِّیۡۤ   اٰمَنۡتُ بِرَبِّکُمۡ   فَاسۡمَعُوۡنِ ﴿ؕ۲۶   قِیۡلَ ادۡخُلِ الۡجَنَّۃَ ؕ قَالَ یٰلَیۡتَ قَوۡمِیۡ یَعۡلَمُوۡنَ ﴿ۙ۲۷   بِمَا غَفَرَ لِیۡ رَبِّیۡ وَ جَعَلَنِیۡ مِنَ الۡمُکۡرَمِیۡنَ ﴿۲۸  
Sesungguhnya aku beriman kepada Tuhan kamu  maka dengarlah aku.”    Dikatakan kepadanya:  Masuklah ke dalam surga.” Ia berkata: “Wahai alangkah baiknya jika kaumku mengetahui,  oleh karena apa Tuhan-ku telah mengampuniku dan telah menjadikan aku dari antara orang-orang yang dimuliakan.”   (Yaa Siin [36]:26-28).

Kesedihan Rasul Akhir Zaman

      Ada pun makna yang kedua dari firman Allah Swt. mengenai ucapan “laki-laki”  tersebut: “Wahai alangkah baiknya jika kaumku mengetahui,  oleh karena apa Tuhan-ku  telah mengampuniku dan telah menjadikan aku dari antara orang-orang yang dimuliakan”  dalam firman-Nya berikut ini:
اِنِّیۡۤ   اٰمَنۡتُ بِرَبِّکُمۡ   فَاسۡمَعُوۡنِ ﴿ؕ۲۶   قِیۡلَ ادۡخُلِ الۡجَنَّۃَ ؕ قَالَ یٰلَیۡتَ قَوۡمِیۡ یَعۡلَمُوۡنَ ﴿ۙ۲۷   بِمَا غَفَرَ لِیۡ رَبِّیۡ وَ جَعَلَنِیۡ مِنَ الۡمُکۡرَمِیۡنَ ﴿۲۸  
“Sesungguhnya aku beriman kepada Tuhan kamu  maka dengarlah aku.” Dikatakan kepadanya:  “Masuklah ke dalam surga.” Ia berkata: “Wahai alangkah baiknya jika kaumku mengetahui,  oleh karena apa Tuhan-ku telah mengampuniku dan telah menjadikan aku dari antara orang-orang yang dimuliakan.(Yaa Siin [36):26-28).
     Perkataan  itu mengisyaratkan kepada  “rasa sesal” atau “rasa masygul” hamba Allah tersebut, bahwa seandainya kaum beliau – yakni umat Islamberiman kepada pendakwaannya  dan patuh-taat kepadanya  maka mereka pun, insya Allah, akan mengalami apa yang dialaminya, yakni  Allah Swt. pun akan berfirman kepada mereka: “Masuklah ke dalam surga” dan umat Islam pun  akan menjadi  orang-orang yang dimuliakan  Allah Swt. pula seperti dirinya. 
      Namun dalam kenyataannya “hamba Allah” yang hakiki tersebut mendapat perlakuan buruk  yang sama dari  “penduduk kota”  -- seperti yang terjadi  atas 3 orang Rasul Allah yang sebelumnya telah diutus kepada mereka (QS.36:14-20) -- yakni penduduk kota tersebut mendustakan dan menentang wujud-wujud suci itu.
      Pada hakikatnya pendustaan dan penentangan terhadap “laki-laki yang datang berlari-lari dari bagian terjauh kota itu” serta kesedihan yang dialaminya  tersebut berhubungan erat dengan kesedihan hati yang dirasakan oleh Rasul Akhir Zaman berikut ini, firman-Nya:
اَلۡمُلۡکُ یَوۡمَئِذِۣ الۡحَقُّ لِلرَّحۡمٰنِ ؕ وَ کَانَ یَوۡمًا عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ عَسِیۡرًا ﴿۲۷﴾وَ یَوۡمَ یَعَضُّ الظَّالِمُ عَلٰی یَدَیۡہِ یَقُوۡلُ یٰلَیۡتَنِی اتَّخَذۡتُ مَعَ الرَّسُوۡلِ سَبِیۡلًا ﴿۲۸﴾یٰوَیۡلَتٰی لَیۡتَنِیۡ لَمۡ اَتَّخِذۡ فُلَانًا خَلِیۡلًالَقَدۡ اَضَلَّنِیۡ عَنِ الذِّکۡرِ بَعۡدَ اِذۡ جَآءَنِیۡ ؕ وَ کَانَ الشَّیۡطٰنُ لِلۡاِنۡسَانِ خَذُوۡلًا ﴿۳۱        وَ قَالَ الرَّسُوۡلُ یٰرَبِّ اِنَّ قَوۡمِی اتَّخَذُوۡا ہٰذَا الۡقُرۡاٰنَ مَہۡجُوۡرًا ﴿۳۰﴾وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا مِّنَ الۡمُجۡرِمِیۡنَ ؕ وَ کَفٰی بِرَبِّکَ ہَادِیًا وَّ نَصِیۡرًا ﴿۳۲
Kerajaan yang haq pada hari itu milik Yang Maha Pemurah, dan azab pada  hari itu atas orang-orang kafir  sangat keras.   Dan pada hari itu orang zalim akan menggigit-gigit kedua tangannya lalu berkata:  Wahai alangkah baiknya jika aku mengambil jalan bersama dengan Rasul itu.   Wahai celakalah aku, alangkah baiknya seandainya aku tidak  menjadikan si fulan itu sahabat.  Sungguh  ia benar-benar telah melalaikanku dari mengingat kepada Allah sesudah ia datang kepadaku.” Dan syaitan selalu menelantarkan manusia. Dan  Rasul itu berkata: “Ya Tuhan-ku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Quran ini sesuatu yang telah ditinggalkan.   Dan demikianlah Kami  telah menjadikan musuh bagi tiap-tiap nabi   dari antara orang-orang yang berdosa, dan cukuplah Tuhan engkau sebagai pemberi petunjuk dan penolong. (Al-Furqan [25]:27-32).
      Bandingkan firman Allah Swt. tersebut dengan firman Allah Swt. dalam Surah Yaa Siin berikut ini mengenai perumpamaan sebuah kota yang mendustakan dan menentang rasul-rasul Allah yang diutus kepada mereka – termasuk mendustakan  “seorang laki-laki yang datang berlari-lari dari bagian terjauh kota itu,   maka akan ada  persamaan  mengenai  "perasaan sedih" yang dikemukakan oleh kedua Surah yang berbeda tersebut, karena pada hakikatnya kedua Surah tersebut merujuk kepada  orang yang sama yakni Rasul Akhir Zaman yang dibangkitkan dari kalangan umat Islam (QS.61:10; QS.63:3-5),  firman-Nya:
وَ اضۡرِبۡ لَہُمۡ مَّثَلًا  اَصۡحٰبَ الۡقَرۡیَۃِ ۘ اِذۡ جَآءَہَا  الۡمُرۡسَلُوۡنَ ﴿ۚ۱۴  اِذۡ  اَرۡسَلۡنَاۤ  اِلَیۡہِمُ  اثۡنَیۡنِ  فَکَذَّبُوۡہُمَا فَعَزَّزۡنَا بِثَالِثٍ فَقَالُوۡۤا اِنَّاۤ  اِلَیۡکُمۡ مُّرۡسَلُوۡنَ ﴿۱۵   قَالُوۡا مَاۤ  اَنۡتُمۡ  اِلَّا بَشَرٌ مِّثۡلُنَا ۙ وَ مَاۤ اَنۡزَلَ  الرَّحۡمٰنُ  مِنۡ شَیۡءٍ ۙ اِنۡ  اَنۡتُمۡ  اِلَّا تَکۡذِبُوۡنَ ﴿۱۶   قَالُوۡا رَبُّنَا یَعۡلَمُ  اِنَّاۤ  اِلَیۡکُمۡ لَمُرۡسَلُوۡنَ ﴿۱۷  وَ مَا عَلَیۡنَاۤ  اِلَّا  الۡبَلٰغُ  الۡمُبِیۡنُ ﴿۱۸  قَالُوۡۤا اِنَّا تَطَیَّرۡنَا بِکُمۡ ۚ لَئِنۡ لَّمۡ تَنۡتَہُوۡا لَنَرۡجُمَنَّکُمۡ وَ لَیَمَسَّنَّکُمۡ مِّنَّا عَذَابٌ  اَلِیۡمٌ ﴿۱۹   قَالُوۡا طَآئِرُکُمۡ مَّعَکُمۡ ؕ اَئِنۡ ذُکِّرۡتُمۡ ؕ بَلۡ  اَنۡتُمۡ  قَوۡمٌ  مُّسۡرِفُوۡنَ ﴿۲۰۱۹  وَ جَآءَ مِنۡ اَقۡصَا الۡمَدِیۡنَۃِ  رَجُلٌ یَّسۡعٰی قَالَ یٰقَوۡمِ اتَّبِعُوا الۡمُرۡسَلِیۡنَ ﴿ۙ۲۱  اتَّبِعُوۡا مَنۡ لَّا یَسۡـَٔلُکُمۡ اَجۡرًا وَّ ہُمۡ مُّہۡتَدُوۡنَ ﴿۲۲
Dan kemukakanlah bagi mereka   misal (perumpamaan) mengenai  penduduk suatu kota ketika rasul-rasul datang kepada mereka.    Ketika Kami mengirimkan kepada mereka dua orang rasul, lalu mereka mendustakan keduanya, maka Kami memperkuat dengan yang ketiga,  lalu mereka berkata: “Sesungguhnya  kami adalah orang-orang yang diutus kepada  kamu.”   Mereka berkata:  Kamu sekali-kali tidak lain hanya  manusia seperti kami, dan Tuhan Yang Maha Pemurah sekali-kali tidak menurunkan sesuatu, kamu tidak lain hanya berdusta belaka.”    Mereka (rasul-rasul)  berkata: “Tuhan kami mengetahui sesungguhnya kami benar-benar diutus kepada kamu.  Dan  tugas  kami  sekali-kali tidak lain hanya menyampaikan dengan jelas.”  Mereka berkata: “Sesungguhnya kemalangan kami ini karena kamu, jika kamu tidak benar-benar berhenti niscaya kami akan merajammu, dan niscaya azab yang pedih akan menimpamu dari  kami.”   Mereka, para rasul, berkata: “Kemalangan kamu itu bersama (akibat) dirimu sendiri. Apakah jika kamu  diperingatkan kamu mengancam kami? Bahkan kamu adalah  kaum yang melampaui batas.”    Dan datang dari bagian terjauh kota itu  seorang laki-laki  dengan berlari-lari,  ia berkata: “Hai kaumku, ikutilah rasul-rasul  itu.     Ikutilah mereka yang tidak meminta upah dari kamu dan mereka yang telah mendapat petunjuk.”   (Yaa Siin [36]:14-21).
       Perkataan Rasul Allah  pada Al-Furqaan ayat 31 sebelumnya dengan sangat tepat sekali dapat dikenakan kepada mereka yang menamakan diri orang-orang Muslim tetapi telah menyampingkan Al-Quran dan telah melemparkannya ke belakang. Barangkali belum pernah terjadi selama 14 abad ini di mana Al-Quran demikian rupa diabaikan dan dilupakan oleh orang-orang Muslim seperti dewasa ini. Ada sebuah hadits Nabi Besar Muhammad saw.  yang mengatakan: “Satu saat akan datang kepada kaumku, bila tidak ada yang tinggal dari Islam melainkan namanya dan dari Al-Quran melainkan kata-katanya (Baihaqi, Syu’ab-ul-iman). Sungguh masa sekarang-sekarang inilah saat yang dimaksudkan itu.

“Dua Surga” yang Dijanjikan Allah Swt.

     Berikut ini firman Allah Swt. mengenai 2 surga yang dijanjikan Allah Swt. bagi hamba-hamba-Nya yang hakiki:
وَ  لِمَنۡ خَافَ مَقَامَ  رَبِّہٖ  جَنَّتٰنِ ﴿ۚ۴۷  فَبِاَیِّ  اٰلَآءِ  رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ ﴿ۙ۴۸
Dan bagi orang yang takut akan   Keagungan Tuhan-nya ada dua surga.  Maka yang manakah di antara nikmat-nikmat Tuhan kamu berdua, yang kamu dustakan? (Al-Rahmaan [55]:47-48).
 Kata “dua surga” dapat berarti: (1) ketenteraman pikiran yang merupakan hasil menjalani kehidupan yang baik, dan (2) kebebasan dari kekhawatiran dan kecemasan yang mencekam hati akibat menjalani hidup mengejar kesenangan dan kebahagiaan duniawi.
   Kebun surgawi pertama terdapat di dunia ini dalam hal melepaskan keinginan sendiri karena Allah, dan kebun surgawi lainnya dalam memperoleh berkat dan keridhaan Ilahi di akhirat. Seorang mukmin sejati selama-lamanya berjemur di dalam sinar matahari rahmat Ilahi di dunia ini, yang tidak dapat diusik oleh pikiran-pikiran susah. Inilah surga dunia, yang dianugerahkan kepada hamba Allah yang bertakwa dan di dalamnya ia akan tinggal selamanya; surga yang dijanjikan di akhirat hanyalah suatu bayangan surga di dunia ini, yang merupakan suatu peragaan rahmat ruhani yang dinikmati orang serupa itu di dunia ini.
Kepada keadaan hidup surgawi seorang mukmin sejati inilah Al-Quran mengisyaratkan di dalam   QS.41:31-33 sebelum ini dan dalam firman-Nya berikut ini mengenai keadaan para wali Allah (sahabat-sahabat Allah):
اَلَاۤ اِنَّ اَوۡلِیَآءَ اللّٰہِ لَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا  ہُمۡ  یَحۡزَنُوۡنَ ﴿ۚۖ۶۳  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا  وَ کَانُوۡا  یَتَّقُوۡنَ ﴿ؕ۶۴
Ingatlah! Sesungguhnya sahabat-sahabat Allah itu,  tidak  ada ketakutan atas mereka dan tidak pula mereka akan bersedih.  Yaitu orang-orang yang  beriman dan senantiasa bertakwa, bagi mereka ada kabar gem-bira   dalam kehidupan di dunia dan  di akhirat, tidak ada perubahan pada firman-firman Allah, itulah keme-nangan yang besar. (Yunus [10]:63-64).
       Kata “dua surga” itu pun mungkin juga mengisyaratkan dua lembah subur --  yang diairi oleh dua aliran sungai  Jaihan dan Saihan  serta Efrat dan Nil -- yang menurut sebuah hadits adalah sungai-sungai surgawi (Muslim). Kedua lembah  subur tersebut  jatuh ke tangan orang-orang Islam di masa Khalifah Umar bin Khaththab r.a. .
     Jadi, kembali kepada Surah Yaa Siin mengenai perintah Allah Swt. kepada “seorang laki-laki yang berlari-lari dari bagian terjauh dari kota itu” (ayat 21)untuk “masuk ke dalam surga” (ayat 27) bukanlah  masuk “surga” yang ada di alam akhirat melainkan kepada “surga” yang disediakan Allah Swt.  di dunia ini yang disediakan bagi hamba-hamba-Nya yang hakiki
       Pendek kata, kembali kepada hakikat “rayuan istri Potifar” terhadap Nabi Yusuf a.s. yang secara duniawi Nabi Yusuf a.s. menjalani kehidupan  di rumah Potifar – seorang pejabat tinggi kerajaan Mesir – bagaikan hidup di dalam “surga” --  jika dibandingkan dengan kehidupan beliau sebelumnya bersama   ayah dan saudara-saudara beliau seayah di  Kanaan -- namun terbukti “kehidupan surgawi” secara duniawi di rumah Potifar benar-benar merupakan “ujian berat” bagi keimanan   beliau, sebagaimana tercermin dari perkataan Nabi Yusuf a.s. sendiri, firman-Nya:
وَ مَاۤ  اُبَرِّیُٔ نَفۡسِیۡ ۚ اِنَّ  النَّفۡسَ لَاَمَّارَۃٌۢ بِالسُّوۡٓءِ  اِلَّا مَا رَحِمَ  رَبِّیۡ ؕ اِنَّ رَبِّیۡ  غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ ﴿۵۴
Dan aku sama sekali tidak menganggap diriku bebas dari kelemahan, sesungguhnya nafsu ammarah itu senantiasa menyuruh kepada keburukan, kecuali orang yang dikasihani oleh Tuhan-ku, sesungguhnya Tuhan-ku Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Yusuf [12]:54).
         Itulah sebabnya  Nabi Yusuf a.s. lebih memilih “hidup dalam penjara” yang diancamkan istri majikannya daripada hidup mewah di rumahnya tetapi membahayakan keimanan beliau, firman-Nya:
قَالَ رَبِّ السِّجۡنُ اَحَبُّ اِلَیَّ مِمَّا یَدۡعُوۡنَنِیۡۤ  اِلَیۡہِ ۚ وَ اِلَّا تَصۡرِفۡ عَنِّیۡ کَیۡدَہُنَّ اَصۡبُ  اِلَیۡہِنَّ وَ اَکُنۡ مِّنَ الۡجٰہِلِیۡنَ ﴿۳۴   فَاسۡتَجَابَ لَہٗ  رَبُّہٗ  فَصَرَفَ عَنۡہُ کَیۡدَہُنَّ ؕ اِنَّہٗ  ہُوَ السَّمِیۡعُ الۡعَلِیۡمُ ﴿۳۴   ثُمَّ بَدَا لَہُمۡ مِّنۡۢ بَعۡدِ مَا رَاَوُا الۡاٰیٰتِ لَیَسۡجُنُنَّہٗ حَتّٰی حِیۡنٍ ﴿٪۳۵
Ia, Yusuf, berkata:  “Ya Tuhan-ku, penjara itu lebih kusukai bagiku daripada apa yang mereka mengajakku kepadanya, dan jika Engkau tidak mengelakkan dari diriku tipu-daya mereka tentu aku akan cenderung kepada mereka itu dan aku akan termasuk orang-orang yang jahil.” Maka Tuhan mengabulkan doanya lalu   mengelakkan dari  tipu-daya mereka, sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.  (Yusuf [12]:34-35).

(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar