Selasa, 03 Januari 2012

Hubungan Khusus Nabi Yusuf a.s. dengan Nabi Besar Muhammad Saw.



بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ




HUBUNGAN  NABI YUSUF A.S. 
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
  
Bagian   XII

Tentang

     Hubungan Khusus Nabi Besar Muhammad Saw. 
dengan Nabi Yusuf a.s.  
  
 Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma

 
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿۱    الٓرٰ ۟ تِلۡکَ اٰیٰتُ الۡکِتٰبِ الۡمُبِیۡنِ ۟﴿۲   اِنَّاۤ اَنۡزَلۡنٰہُ  قُرۡءٰنًا عَرَبِیًّا لَّعَلَّکُمۡ تَعۡقِلُوۡنَ ﴿۳   نَحۡنُ نَقُصُّ عَلَیۡکَ اَحۡسَنَ الۡقَصَصِ بِمَاۤ اَوۡحَیۡنَاۤ اِلَیۡکَ ہٰذَا الۡقُرۡاٰنَ ٭ۖ وَ اِنۡ   کُنۡتَ  مِنۡ  قَبۡلِہٖ  لَمِنَ  الۡغٰفِلِیۡنَ ﴿۴   اِذۡ  قَالَ یُوۡسُفُ لِاَبِیۡہِ یٰۤاَبَتِ اِنِّیۡ  رَاَیۡتُ اَحَدَعَشَرَ کَوۡکَبًا وَّ الشَّمۡسَ وَ الۡقَمَرَ رَاَیۡتُہُمۡ  لِیۡ  سٰجِدِیۡنَ ﴿۵   قَالَ یٰبُنَیَّ  لَا تَقۡصُصۡ رُءۡیَاکَ عَلٰۤی اِخۡوَتِکَ فَیَکِیۡدُوۡا لَکَ کَیۡدًا ؕ اِنَّ الشَّیۡطٰنَ  لِلۡاِنۡسَانِ  عَدُوٌّ  مُّبِیۡنٌ ﴿۶   وَ کَذٰلِکَ یَجۡتَبِیۡکَ رَبُّکَ وَ یُعَلِّمُکَ مِنۡ تَاۡوِیۡلِ الۡاَحَادِیۡثِ وَ یُتِمُّ نِعۡمَتَہٗ عَلَیۡکَ وَ عَلٰۤی اٰلِ یَعۡقُوۡبَ کَمَاۤ  اَتَمَّہَا عَلٰۤی  اَبَوَیۡکَ  مِنۡ قَبۡلُ  اِبۡرٰہِیۡمَ وَ  اِسۡحٰقَ ؕ اِنَّ رَبَّکَ عَلِیۡمٌ  حَکِیۡمٌ ٪﴿۷     
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.   Aku Allah Yang Maha Melihat.  Itulah ayat-ayat Kitab yang terang.  Sesungguhnya   Kami telah me-nurunkannya yakni Al-Quran  dalam bahasa Arab supaya kamu memahami.   Kami menceriterakan kepada engkau kisah yang paling baik dengan mewahyukan kepada engkau Al-Qur-an ini, dan walau pun sebelumnya engkau benar-benar termasuk orang yang tidak mengetahui.  Ingatlah  ketika Yusuf  berka-ta kepada ayahnya: “Hai ayahku, se-sungguhnya aku melihat dalam mimpi sebelas bintang, matahari dan bulan, aku melihat mereka bersujud kepadaku.”  Ia, Ya’qub, berkata: “Hai anakku, janganlah engkau menceriterakan mimpi engkau itu kepada saudara-saudara engkau, karena mereka akanmelakukan tipu-daya buruk untuk memperdayakan engkau,   sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagi manusia.  Dan demikianlah Tuhan engkau akan memilih engkau dan  akan mengajar engkau  ta'wil mimpi-mimpi dan akan menyempurnakan nikmat-Nya atas engkau dan atas keturunan Ya’qub, seperti Dia telah menyempurnakannya atas kedua bapak engkau dahulu, Ibrahim dan Ishaq, sesungguhnya Tuhan engkau Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.” (Yusuf [12]:1-7).

Mulai Bab I sampai dengan Bab XII telah dijelaskan beberapa topik, sebagai pengantar topic utama yaitu “Hubungan Nabi Besar Muhammad saw. dengan Nabi Yusuf a.s.”. Topik-topik bahasan tersebut antara lain:
(1)   Ketetapan Allah Swt. mengenai Nabi Besar Muhammad saw. sebagai puncak  proses penciptaan alam semesta: “Law laka lamaa khalaqtul aflaq – kalau bukan bagi (karena) engkau  Aku sekali-kali tidak akan menciptakan alam semesta.” (Hadits Qudsi).
(2)   Pembelaan Allah Swt.   kepada Nabi Besar Muhammad saw.  melalui ayat Khaataman-nabiyyiin (QS.33:41)  dalam hal pernikahan beliau saw. dengan Sitti Zainab r.a., janda dari Zaid bin Haritsah r.a., anak angkat beliau saw., yang menurut para penentang beliau saw. bertentangan dengan adat istiadat jahiliyah bangsa Arab.
(3)   Makna lain Khaataman-Nabiyyiin  (QS.33:41) dan hubungannya dengan berakhirnya pengutusan nabi mustaqil (nabi yang mandiri/berdiri sendiri) – baik nabi mustaqil yang membawa syariat mau pun nabi mustaqil yang tidak membawa syariat  (QS.3:86; QS.5:4) --  dan terbukanya kenabian mutabi’ atau kenabian ummati (nabi pengikut) atau nabi buruzi  atau nabi dzilli (nabi bayangan) melalui ketaatan kepada Nabi Besar Muhammad saw. (QS.3:32; QS.4:70), sebab Nabi Besar Muhammad saw., na’uudzubillaahi min dzaalik,  bukanlah seorang yang abtar (yang terputus keturunannya),  sebagaimana tuduhan para pemimpin kafir Quraisy Makkah karena semua putra  (anak laki-laki) Nabi Besar Muhammad saw.  wafat di masa kecil (QS.108:1-5).
(4)   Hubungan Nabi Besar Muhammad saw. dengan beberapa rasul Allah Swt. sebelumnya, misalnya hubungan beliau saw.  dengan Nabi Musa a.s. dalam kaitan  adanya kesamaan dalam status kerasulan keduanya, yaitu sama-sama sebagai nabi pembawa syariat, dan Nabi Besar Muhammad saw. sebagai misal Nabi Musa a.s. (QS.46:11) sebagaimana dinubuatkan  Allah Sw. melalui mulut  Nabi Musa a.s. dalam Bible (Ulangan 18:15-19). Persamaan beliau saw. dengan Nabi Shalih a.s. dalam hubungannya sebagai  orang yang merupakan “harapan” masing-masing kaumnya dan dalam hal makar buruk yang dihadapinya berupa upaya pembunuhan (QS.8:31; QS.27:48-54).
(5)   Hubungan secara umum antara para rasul Allah yang diutus sebelum Nabi Besar Muhammad saw. dengan Nabi Besar Muhammad saw.,  atau hubungan agama-agama  (kitab-kitab suci)  yang diturunkan sebelum agama Islam  (Al-Quran) dengan agama Islam (Al-Quran) adalah bagaikan sungai-sungai yang bermuara ke dalam samudra (lautan – QS.18:110; QS.31:28), sehingga sejak Allah Swt. mengutus Nabi Besar Muhammad saw. dengan membawa agama Islam dan kitab suci terakhir dan tersempurna (Al-Quran  QS.5:4) maka kecuali memeluk dan mengamalkan ajaran Islam (Al-Quran) -- sebagaimana yang disunnahkan oleh Nabi Besar Muhammad saw. --  jika manusia memeluk dan beribadah dengan ajaran agama-agama sebelum Islam maka ibadah mereka tidak akan diterima Allah Swt.  dan di akhirat akan menjadi orang-orang yang rugi (QS.3:86), karena agama-agama sebelum agama Islam selain keberadaannya bersifat sementara dan hanya untuk kaum-kaum tertentu saja, juga agama-agama sementara tersebut tidak mendapat jaminan pemeliharaan Allah Swt. seperti halnya Al-Quran (QS.15:10).
        Itulah beberapa topik yang dikemukakan dalam Bab-bab sebelumnya, dan dalam Bab ini akan dibahas secara terinci hubungan khusus Nabi Besar Muhammad saw. dengan Nabi Yusuf a.s., karena dari seluruh kisah para Rasul Allah yang dikemukakan dalam Al-Quran – mulai dari Nabi Adam a.s. sampai dengan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. --  hubungan yang paling lengkap adalah dengan Nabi Yusuf a.s..

Kisah Nabi Yusuf dalam Surah Yusuf

     Menurut kebanyakan sahabat Nabi Besar Muhammad saw. seluruh Surah Yusuf   -- dalam Al-Quran adalah Surah ke 12 -- diturunkan di Makkah, tetapi menurut Ibn ‘Abbas dan Qatadah, ayat-ayat 2-4 diturunkan sesudah Hijrah. Seperti telah diterangkan sebelumnya, Surah 10 (Surah Yunus) membicarakan kedua macam segi perlakuan Allah Swt.    terhadap manusia — baik hukuman maupun rahmat-Nya. Tetapi kalau Surah 11 (Surah Huud) membicarakan masalah hukuman Ilahi, maka Surah ini (Surah ke 12) membicarakan rahmat Allah Swt.. Surah yang membicarakan hukuman Allah Swt. yakni Surah Huud  diletakkan sebelum Surah ini yang membahas rahmat-Nya — sebab musuh-musuh Nabi Besar Muhammad saw. kemudian akan dikasihani, setelah mereka itu dihukum karena perbuatan buruknya.
     Tetapi Surah Yusuf ini mempunyai suatu keistimewaan. Seluruhnya membahas riwayat hidup hanya mengenai seorang nabi saja yaitu Nabi Yusuf a.s..  Dalam hal inilah Surah ini berbeda dari semua Surah lainnya. Alasan adanya keistimewaan itu  ialah  karena kehidupan Nabi Yusuf a.s.   mengandung persamaan yang sangat erat dengan kehidupan Nabi Besar Muhammad saw., bahkan dalam urusan-urusan kecil sekalipun. Seluruh Surah ini dikhususkan untuk menceriterakan riwayat yang agak terinci mengenai kehidupan Nabi Yusuf a.s.   agar dapat digunakan sebagai peringatan mengenai peristiwa-peristiwa yang akan terjadi dalam kehidupan Rasulullah saw.. 
     Dalam Surah 10 (Surah Yunus) riwayat Nabi Yunus a.s.  telah dipilih untuk melukiskan rahmat Allah Swt.,  sedang dalam uraiannya yang disajikan secara rinci dalam Surah Yusuf ini, riwayat Nabi Yusuf a.s.   telah dikemukakan sebagai contoh untuk melukiskan tujuan yang sama. Dua alasan dapat diberikan untuk itu:
    (1) Kehidupan Nabi Yunus a.s. dan kehidupan Nabi Besar Muhahmmad saw.  menunjukkan persamaan-persamaan antara satu sama lain, hanya pada tahap-tahap terakhir, tetapi kehidupan Nabi Yusuf a.s.  menyerupai kehidupan Nabi Besar Muhammad saw. sampai kepada hal-hal kecil sekalipun.
        (2) Meskipun peristiwa Nabi Yunus a.s.  menyerupai peristiwa Nabi Besar Muhammad saw.  dalam kenyataan bahwa --  baik kaum Nabi Yunus a.s.   maupun kaum Nabi Besar Muhammad saw.  akhirnya mendapat pengampunan Tuhan berkat kerahiman-Nya, namun persamaan antara kedua nabi itu hanya pada bagian-bagian tertentu saja,    tetapi persamaan antara Nabi Yusuf a.s.    dan Nabi Besar Muhammad saw. -- terutama dalam cara Allah Swt. memperlakukan saudara-saudara Nabi Yusuf a.s. . dan kaum Nabi Besar Muhammad saw. -- sangat erat dan hampir sempurna.
       Kerahiman yang diperlihatkan kepada kaum Nabi Yunus a.s.  merupakan akibat langsung karunia Allah Swt.  karena tidak ada campur tangan Nabi Yunus a.s.  di dalamnya. Tetapi pernyataan ampunan bagi saudara-saudara Nabi Yusuf a.s. dibuat oleh Nabi Yusuf a.s. sendiri, dan demikian pula halnya mengenai kaum Quraisy Makkah, pernyataan ampunan yang sepenuhnya dan tiada taranya itu langsung diucapkan oleh lisan Nabi Besar Muhammad saw.  sendiri: “Laa tatsriiba ‘alaykumul yawma – pada hari ini tidak ada celaan apa pun atas kamu” (QS.12:93).

Perbedaan Kata  Mubiin dengan Mustabiin 

       Berikut firman Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhammad saw. mengenai percakapan antara Nabi Yusuf a.s. dengan ayah beliau, Nabi Ya’qub a.s., sehubungan dengan  mimpi aneh yang dilihat oleh Nabi Yusuf a.s.:

 بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿۱    الٓرٰ ۟ تِلۡکَ اٰیٰتُ الۡکِتٰبِ الۡمُبِیۡنِ ۟﴿۲   اِنَّاۤ اَنۡزَلۡنٰہُ  قُرۡءٰنًا عَرَبِیًّا لَّعَلَّکُمۡ تَعۡقِلُوۡنَ ﴿۳   نَحۡنُ نَقُصُّ عَلَیۡکَ اَحۡسَنَ الۡقَصَصِ بِمَاۤ اَوۡحَیۡنَاۤ اِلَیۡکَ ہٰذَا الۡقُرۡاٰنَ ٭ۖ وَ اِنۡ   کُنۡتَ  مِنۡ  قَبۡلِہٖ  لَمِنَ  الۡغٰفِلِیۡنَ  ﴿۴
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.   Aku Allah Yang Maha Melihat.  Inilah ayat-ayat Kitab yang terang.  Sesungguhnya   Kami telah menurunkannya yakni Al-Quran  dalam bahasa Arab supaya kamu memahami.   Kami menceriterakan kepada engkau  dengan mewahyukan kepada engkau Al-Quran ini, dan walau pun sebelumnya engkau benar-benar termasuk orang yang tidak mengetahui.  (Yusuf [12]:1-4).
       Kata mubiin (terang) sebagai ism fa’il (bentuk pelaku) dari abana, yang dapat digunakan berpelengkap (transitif) maupun tidak berpelengkap (intransitif) kedua-duanya berarti: (1) apa yang keadaannya sendiri jelas dan nyata; (2) apa yang menjadikan hal-hal itu jelas dan (3) apa yang memutuskan sesuatu benda dari yang lain serta  menjadikannya beda-kentara dan terpisah dari yang lain itu (Lexicon Lane).
      Kata mubiin itu seperti diperlihatkan oleh artinya menunjuk kepada tiga sifat Al-Quran yang menonjol, yaitu:
    (1) bahwa Al-Quran bukan saja menyatakan dengan jelas fakta-fakta dan nubuatan-nubuatan, dan menetapkan hukum-hukum dan peraturan-peraturan, tetapi mendukung dan membuktikan pula apa yang dikatakannya, dan didakwakannya dengan dalil-dalil yang kuat dan alasan-alasan yang sehat;
   (2) bahwa  Al-Quran  bukan saja keadaannya sendiri terang serta jelas, tetapi menghilangkan pula kesamaran-kesamaran dan keraguan-keraguan yang terdapat dalam kitab-kitab yang telah diturunkan sebelumnya; dan
      (3) bahwa segala sesuatu yang perlu untuk mencapai qurb Ilahi (kedekatan kepada Tuhan) dan yang berhubungan dengan hukum syariat, budi pekerti dan dengan perkara-perkara keimanan, telah dibuat jelas sekali dalam Al-Quran, hal mana sama sekali tidak dimiliki oleh semua kitab suci lainnya.
      Semua kitab lainnya hanya bersifat mustabiin (jelas tentang dirinya sendiri), tetapi Al-Quran bukan saja mustabiin  melainkan juga mubiin (menghilangkan kesamaran-kesamaran yang terdapat dalam kitab-kitab lain). Apa yang lebih menambah keindahan Al-Quran sebagai “kitab yang jelas dan terang” ialah bahwa segala ajarannya serasi dan sesuai sepenuhnya dengan fitrat manusia dan juga dengan hukum alam.

Kesempurnaan Bahasa Arab

   Kata  ‘arabiy dalam kalimat “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya yakni Al-Quran  dalam bahasa Arab supaya kamu memahami“, asalnya dari 'ariba atau ‘aruba. ‘Aribat al-bi’ru berarti sumur itu mengandung banyak air. ‘Aruba ar-rajulu berarti: orang itu mulai bicara jelas, terang, dan nyata, sedang sebelumnya ia bicara dengan kasar; ia adalah atau ia menjadi cekatan atau lincah. Jadi ungkapan qur’ānan ‘arabiyan,  berarti:    (1) sebuah kitab yang dibaca orang dengan sangat luas dan dawam, dan  (2) yang dapat melahirkan maksudnya dengan bahasa yang jelas, lancar, dan mudah dipahami (Lexicon Lane).
      Kata ‘arabiy mengandung arti: penuh, limpah-ruah, dan jelas; bahasa Arab  disebut demikian karena masdar-masdarnya (akar-akar katanya) tidak terhitung banyaknya, dan penuh dengan arti, dan karena bahasa Arab itu sangat tegas, fasih, dan mudah dipahami. Bahasa Arab mempunyai kata-kata dan kalimat-kalimat yang cocok dan tepat untuk mengungkapkan sepenuhnya segala macam pikiran dan aneka  macam arti. Masalah apa pun dapat dibahas dalam bahasa ini dengan tepat dan mendalam, hal itu tidak dapat ditandingi oleh bahasa-bahasa lain mana pun. Sarjana-sarjana Eropa terpaksa mengakui bahwa bahasa Arab itu lengkap dalam masdar-masdarnya. Bahasa Arab terdiri dari ratusan ribu akar kata, yang penuh dengan pelbagai arti yang amat luas.
       Ibn Jinni, seorang tokoh ahli bahasa telah menyatakan dengan menukil pendapat seorang ahli bahasa yang sangat terkemuka lainnya, Abu Ali, bahwa huruf-hurufnya pun mempunyai arti yang jelas dan pasti. Umpamanya, ia menerangkan bahwa huruf-huruf mim, lam, dan kaf dalam gabungan atau kombinasi apa pun melukiskan “kekuasaan”, hal mana terdapat hampir pada semua kata yang terbentuk oleh huruf-huruf itu, atau berasal dari akar kata itu.
      Dalam ayat yang mendahuluinya  Al-Quran disebut “Alkitab”, yang mengandung suatu nubuatan  bahwa ia senantiasa akan terpelihara dalam bentuk sebuah kitab. Dalam ayat ini ia disebut “Al-Quran”, hal mana merupakan kabar gaib  bahwa kitab itu akan dibaca dan dipelajari dengan sangat luas.
     Memang ini merupakan kenyataan, bahwa tidak ada musuh Islam dapat menyangkal dengan alasan yang kuat, bahwa tidak ada kitab lainnya yang begitu luas dan sering dibaca seperti Al-Quran. Profesor Noldeke mengatakan: “Oleh karena penggunaan Al-Quran dalam salat-salat berjamaah, di madrasah-madrasah dan lain-lain, jauh lebih luas dari-pada umpamanya, pembacaan Bible di sebagian negeri-negeri Kristen, maka patutlah ia dianggap sebagai kitab yang paling luas dibaca di antara buku-buku bacaan yang ada” (Encyclopaedia Britannica, edisi 9).
      Yang menjadi sebab mengapa riwayat Nabi Yusuf a.s.   diturunkan kepada Nabi Besar Muhammad saw.  begitu rinci ialah, karena riwayat itu mengandung banyak sekali isyarat berupa kabar gaib (nubuatan) mengenai kehidupan beliau saw. sendiri. Seluruh riwayat itu seolah-olah akan terulang kembali dalam kehidupan beliau saw.  sendiri dan dalam kehidupan sanak-saudara beliau saw., kaum Quraisy.

(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid      



Tidak ada komentar:

Posting Komentar