بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
HUBUNGAN NABI YUSUF A.S.
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
Bagian XII
Tentang
Hubungan Khusus Nabi Besar Muhammad Saw.
dengan Nabi Yusuf a.s.
Oleh
Ki Langlang
Buana Kusuma
بِسۡمِ
اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿۱﴾ الٓرٰ ۟ تِلۡکَ اٰیٰتُ الۡکِتٰبِ الۡمُبِیۡنِ ۟﴿۲﴾ اِنَّاۤ اَنۡزَلۡنٰہُ قُرۡءٰنًا عَرَبِیًّا لَّعَلَّکُمۡ
تَعۡقِلُوۡنَ ﴿۳﴾ نَحۡنُ نَقُصُّ عَلَیۡکَ اَحۡسَنَ الۡقَصَصِ
بِمَاۤ اَوۡحَیۡنَاۤ اِلَیۡکَ ہٰذَا الۡقُرۡاٰنَ ٭ۖ وَ اِنۡ کُنۡتَ مِنۡ قَبۡلِہٖ
لَمِنَ الۡغٰفِلِیۡنَ ﴿۴﴾ اِذۡ قَالَ یُوۡسُفُ لِاَبِیۡہِ یٰۤاَبَتِ اِنِّیۡ رَاَیۡتُ اَحَدَعَشَرَ کَوۡکَبًا
وَّ الشَّمۡسَ
وَ الۡقَمَرَ رَاَیۡتُہُمۡ لِیۡ سٰجِدِیۡنَ ﴿۵﴾ قَالَ یٰبُنَیَّ لَا تَقۡصُصۡ رُءۡیَاکَ عَلٰۤی اِخۡوَتِکَ فَیَکِیۡدُوۡا لَکَ کَیۡدًا ؕ اِنَّ الشَّیۡطٰنَ لِلۡاِنۡسَانِ عَدُوٌّ
مُّبِیۡنٌ ﴿۶﴾ وَ کَذٰلِکَ یَجۡتَبِیۡکَ رَبُّکَ وَ یُعَلِّمُکَ مِنۡ تَاۡوِیۡلِ الۡاَحَادِیۡثِ وَ یُتِمُّ نِعۡمَتَہٗ عَلَیۡکَ وَ عَلٰۤی اٰلِ یَعۡقُوۡبَ کَمَاۤ اَتَمَّہَا عَلٰۤی اَبَوَیۡکَ مِنۡ قَبۡلُ اِبۡرٰہِیۡمَ وَ اِسۡحٰقَ ؕ اِنَّ رَبَّکَ عَلِیۡمٌ حَکِیۡمٌ ٪﴿۷﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Aku Allah Yang Maha Melihat. Itulah ayat-ayat Kitab yang terang.
Sesungguhnya Kami telah me-nurunkannya yakni
Al-Quran dalam bahasa Arab supaya
kamu memahami. Kami menceriterakan kepada engkau kisah yang
paling baik dengan mewahyukan kepada engkau Al-Qur-an ini, dan walau pun
sebelumnya engkau benar-benar termasuk orang yang tidak mengetahui.
Ingatlah ketika Yusuf berka-ta kepada ayahnya: “Hai ayahku,
se-sungguhnya aku melihat dalam mimpi sebelas bintang, matahari dan
bulan, aku melihat mereka bersujud kepadaku.” Ia, Ya’qub, berkata: “Hai anakku,
janganlah engkau menceriterakan mimpi engkau itu kepada saudara-saudara engkau,
karena mereka akanmelakukan tipu-daya buruk untuk memperdayakan
engkau, sesungguhnya syaitan itu musuh yang
nyata bagi manusia. Dan demikianlah Tuhan engkau akan memilih
engkau dan akan
mengajar engkau ta'wil mimpi-mimpi dan
akan menyempurnakan nikmat-Nya atas engkau dan atas keturunan Ya’qub, seperti
Dia telah menyempurnakannya atas kedua bapak engkau dahulu, Ibrahim dan Ishaq,
sesungguhnya Tuhan engkau Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.” (Yusuf [12]:1-7).
Mulai Bab
I sampai dengan Bab XII telah dijelaskan beberapa topik, sebagai pengantar
topic utama yaitu “Hubungan Nabi Besar Muhammad saw. dengan Nabi Yusuf a.s.”.
Topik-topik bahasan tersebut antara lain:
(1)
Ketetapan Allah Swt. mengenai Nabi Besar Muhammad saw. sebagai
puncak proses penciptaan alam semesta: “Law
laka lamaa khalaqtul aflaq – kalau bukan bagi (karena) engkau Aku sekali-kali tidak akan menciptakan alam
semesta.” (Hadits Qudsi).
(2)
Pembelaan Allah Swt. kepada
Nabi Besar Muhammad saw. melalui ayat Khaataman-nabiyyiin
(QS.33:41) dalam hal pernikahan
beliau saw. dengan Sitti Zainab r.a., janda dari Zaid bin Haritsah r.a.,
anak angkat beliau saw., yang menurut para penentang beliau saw. bertentangan
dengan adat istiadat jahiliyah bangsa Arab.
(3)
Makna lain Khaataman-Nabiyyiin (QS.33:41) dan hubungannya dengan berakhirnya
pengutusan nabi mustaqil (nabi yang mandiri/berdiri sendiri) – baik nabi
mustaqil yang membawa syariat mau pun nabi mustaqil yang tidak membawa
syariat (QS.3:86; QS.5:4) -- dan terbukanya kenabian mutabi’ atau
kenabian ummati (nabi pengikut) atau nabi buruzi atau nabi dzilli (nabi
bayangan) melalui ketaatan kepada Nabi Besar Muhammad saw.
(QS.3:32; QS.4:70), sebab Nabi Besar Muhammad saw., na’uudzubillaahi min
dzaalik, bukanlah seorang yang abtar
(yang terputus keturunannya),
sebagaimana tuduhan para pemimpin kafir Quraisy Makkah karena
semua putra (anak laki-laki) Nabi
Besar Muhammad saw. wafat di masa
kecil (QS.108:1-5).
(4)
Hubungan Nabi Besar Muhammad saw. dengan beberapa rasul Allah Swt.
sebelumnya, misalnya hubungan beliau saw.
dengan Nabi Musa a.s. dalam kaitan
adanya kesamaan dalam status kerasulan keduanya, yaitu
sama-sama sebagai nabi pembawa syariat, dan Nabi Besar Muhammad saw.
sebagai misal Nabi Musa a.s. (QS.46:11) sebagaimana dinubuatkan Allah Sw. melalui mulut Nabi Musa a.s. dalam Bible (Ulangan 18:15-19).
Persamaan beliau saw. dengan Nabi Shalih a.s. dalam hubungannya sebagai orang yang merupakan “harapan” masing-masing
kaumnya dan dalam hal makar buruk yang dihadapinya berupa upaya pembunuhan
(QS.8:31; QS.27:48-54).
(5)
Hubungan secara umum antara para rasul Allah yang diutus
sebelum Nabi Besar Muhammad saw. dengan Nabi Besar Muhammad saw., atau hubungan agama-agama (kitab-kitab suci) yang diturunkan sebelum agama Islam (Al-Quran) dengan agama Islam
(Al-Quran) adalah bagaikan sungai-sungai yang bermuara ke dalam samudra
(lautan – QS.18:110; QS.31:28), sehingga sejak Allah Swt. mengutus Nabi
Besar Muhammad saw. dengan membawa agama Islam dan kitab suci
terakhir dan tersempurna (Al-Quran
QS.5:4) maka kecuali memeluk dan mengamalkan ajaran Islam
(Al-Quran) -- sebagaimana yang disunnahkan oleh Nabi Besar Muhammad saw.
-- jika manusia memeluk dan beribadah
dengan ajaran agama-agama sebelum Islam maka ibadah mereka tidak akan
diterima Allah Swt. dan di akhirat
akan menjadi orang-orang yang rugi (QS.3:86), karena agama-agama sebelum
agama Islam selain keberadaannya bersifat sementara dan hanya untuk
kaum-kaum tertentu saja, juga agama-agama sementara tersebut tidak
mendapat jaminan pemeliharaan Allah Swt. seperti halnya Al-Quran
(QS.15:10).
Itulah beberapa topik yang dikemukakan
dalam Bab-bab sebelumnya, dan dalam Bab ini akan dibahas secara terinci
hubungan khusus Nabi Besar Muhammad saw. dengan Nabi Yusuf a.s.,
karena dari seluruh kisah para Rasul Allah yang dikemukakan dalam
Al-Quran – mulai dari Nabi Adam a.s. sampai dengan Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s. -- hubungan yang paling
lengkap adalah dengan Nabi Yusuf a.s..
Kisah
Nabi Yusuf dalam Surah Yusuf
Menurut
kebanyakan sahabat Nabi Besar Muhammad saw. seluruh Surah Yusuf --
dalam Al-Quran adalah Surah ke 12 -- diturunkan di Makkah, tetapi menurut Ibn
‘Abbas dan Qatadah, ayat-ayat 2-4 diturunkan sesudah Hijrah. Seperti
telah diterangkan sebelumnya, Surah 10 (Surah Yunus) membicarakan kedua macam
segi perlakuan Allah Swt. terhadap
manusia — baik hukuman maupun rahmat-Nya. Tetapi kalau Surah 11
(Surah Huud) membicarakan masalah hukuman Ilahi, maka Surah ini (Surah ke 12)
membicarakan rahmat Allah Swt.. Surah yang membicarakan hukuman
Allah Swt. yakni Surah Huud diletakkan sebelum Surah ini yang membahas rahmat-Nya
— sebab musuh-musuh Nabi Besar Muhammad saw. kemudian akan dikasihani, setelah
mereka itu dihukum karena perbuatan buruknya.
Tetapi
Surah Yusuf ini mempunyai suatu keistimewaan. Seluruhnya membahas
riwayat hidup hanya mengenai seorang nabi saja yaitu Nabi Yusuf a.s.. Dalam hal inilah Surah ini berbeda dari semua
Surah lainnya. Alasan adanya keistimewaan itu
ialah karena kehidupan Nabi
Yusuf a.s. mengandung persamaan
yang sangat erat dengan kehidupan Nabi Besar Muhammad saw., bahkan dalam
urusan-urusan kecil sekalipun. Seluruh Surah ini dikhususkan untuk
menceriterakan riwayat yang agak terinci mengenai kehidupan Nabi Yusuf a.s. agar dapat digunakan sebagai peringatan
mengenai peristiwa-peristiwa yang akan terjadi dalam kehidupan Rasulullah saw..
Dalam
Surah 10 (Surah Yunus) riwayat Nabi Yunus a.s. telah dipilih untuk melukiskan rahmat
Allah Swt., sedang dalam uraiannya yang
disajikan secara rinci dalam Surah Yusuf ini, riwayat Nabi Yusuf a.s. telah dikemukakan sebagai contoh untuk
melukiskan tujuan yang sama. Dua alasan dapat diberikan untuk itu:
(1)
Kehidupan Nabi Yunus a.s. dan kehidupan Nabi Besar Muhahmmad saw.
menunjukkan persamaan-persamaan
antara satu sama lain, hanya pada tahap-tahap terakhir, tetapi kehidupan
Nabi Yusuf a.s. menyerupai
kehidupan Nabi Besar Muhammad saw. sampai kepada hal-hal kecil sekalipun.
(2)
Meskipun peristiwa Nabi Yunus a.s. menyerupai peristiwa Nabi Besar
Muhammad saw. dalam
kenyataan bahwa -- baik kaum Nabi Yunus
a.s. maupun kaum Nabi Besar
Muhammad saw. akhirnya mendapat
pengampunan Tuhan berkat kerahiman-Nya, namun persamaan antara kedua nabi itu
hanya pada bagian-bagian tertentu saja, tetapi
persamaan antara Nabi Yusuf a.s. dan Nabi Besar Muhammad saw. --
terutama dalam cara Allah Swt. memperlakukan saudara-saudara Nabi Yusuf a.s. .
dan kaum Nabi Besar Muhammad saw. -- sangat erat dan hampir sempurna.
Kerahiman
yang diperlihatkan kepada kaum Nabi Yunus a.s. merupakan akibat langsung karunia Allah
Swt. karena tidak ada campur tangan
Nabi Yunus a.s. di dalamnya.
Tetapi pernyataan ampunan bagi saudara-saudara Nabi Yusuf a.s. dibuat
oleh Nabi Yusuf a.s. sendiri, dan demikian pula halnya mengenai kaum Quraisy Makkah,
pernyataan ampunan yang sepenuhnya dan tiada taranya itu langsung
diucapkan oleh lisan Nabi Besar Muhammad saw. sendiri: “Laa tatsriiba ‘alaykumul
yawma – pada hari ini tidak ada celaan apa pun atas kamu” (QS.12:93).
Perbedaan Kata Mubiin dengan Mustabiin
Berikut
firman Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhammad saw. mengenai percakapan antara
Nabi Yusuf a.s. dengan ayah beliau, Nabi Ya’qub a.s., sehubungan dengan mimpi aneh yang dilihat oleh Nabi Yusuf
a.s.:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ
الرَّحِیۡمِ ﴿۱﴾ الٓرٰ ۟ تِلۡکَ اٰیٰتُ الۡکِتٰبِ الۡمُبِیۡنِ ۟﴿۲﴾ اِنَّاۤ اَنۡزَلۡنٰہُ قُرۡءٰنًا عَرَبِیًّا لَّعَلَّکُمۡ
تَعۡقِلُوۡنَ ﴿۳﴾ نَحۡنُ نَقُصُّ عَلَیۡکَ اَحۡسَنَ الۡقَصَصِ
بِمَاۤ اَوۡحَیۡنَاۤ اِلَیۡکَ ہٰذَا الۡقُرۡاٰنَ ٭ۖ وَ اِنۡ کُنۡتَ مِنۡ قَبۡلِہٖ
لَمِنَ الۡغٰفِلِیۡنَ ﴿۴﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Aku Allah Yang Maha Melihat.
Inilah ayat-ayat Kitab
yang terang. Sesungguhnya
Kami telah
menurunkannya yakni Al-Quran
dalam bahasa Arab supaya kamu memahami. Kami menceriterakan
kepada engkau dengan mewahyukan
kepada engkau Al-Quran ini, dan walau pun sebelumnya engkau benar-benar
termasuk orang yang tidak mengetahui. (Yusuf [12]:1-4).
Kata mubiin
(terang) sebagai ism fa’il (bentuk pelaku) dari abana, yang dapat
digunakan berpelengkap (transitif) maupun tidak berpelengkap (intransitif)
kedua-duanya berarti: (1) apa yang keadaannya sendiri jelas dan nyata; (2)
apa yang menjadikan hal-hal itu jelas dan (3) apa yang memutuskan
sesuatu benda dari yang lain serta
menjadikannya beda-kentara dan terpisah dari yang lain itu (Lexicon
Lane).
Kata mubiin itu seperti diperlihatkan
oleh artinya menunjuk kepada tiga sifat Al-Quran yang menonjol, yaitu:
(1)
bahwa Al-Quran bukan saja menyatakan dengan jelas fakta-fakta dan
nubuatan-nubuatan, dan menetapkan hukum-hukum dan peraturan-peraturan, tetapi
mendukung dan membuktikan pula apa yang dikatakannya, dan didakwakannya dengan
dalil-dalil yang kuat dan alasan-alasan yang sehat;
(2)
bahwa Al-Quran bukan saja keadaannya sendiri terang serta
jelas, tetapi menghilangkan pula kesamaran-kesamaran dan keraguan-keraguan yang
terdapat dalam kitab-kitab yang telah diturunkan sebelumnya; dan
(3)
bahwa segala sesuatu yang perlu untuk mencapai qurb Ilahi (kedekatan
kepada Tuhan) dan yang berhubungan dengan hukum syariat, budi pekerti dan
dengan perkara-perkara keimanan, telah dibuat jelas sekali dalam Al-Quran, hal
mana sama sekali tidak dimiliki oleh semua kitab suci lainnya.
Semua
kitab lainnya hanya bersifat mustabiin (jelas tentang dirinya sendiri),
tetapi Al-Quran bukan saja mustabiin melainkan juga mubiin (menghilangkan
kesamaran-kesamaran yang terdapat dalam kitab-kitab lain). Apa yang lebih
menambah keindahan Al-Quran sebagai “kitab yang jelas dan terang” ialah
bahwa segala ajarannya serasi dan sesuai sepenuhnya dengan fitrat manusia
dan juga dengan hukum alam.
Kesempurnaan Bahasa Arab
Kata ‘arabiy
dalam kalimat “Sesungguhnya Kami
telah menurunkannya yakni Al-Quran dalam
bahasa Arab supaya kamu memahami“, asalnya dari 'ariba
atau ‘aruba. ‘Aribat al-bi’ru berarti sumur itu mengandung banyak air. ‘Aruba
ar-rajulu berarti: orang itu mulai bicara jelas, terang, dan nyata, sedang
sebelumnya ia bicara dengan kasar; ia adalah atau ia menjadi cekatan atau
lincah. Jadi ungkapan qur’ānan ‘arabiyan, berarti: (1) sebuah kitab yang dibaca orang
dengan sangat luas dan dawam, dan (2)
yang dapat melahirkan maksudnya dengan bahasa yang jelas, lancar, dan mudah
dipahami (Lexicon Lane).
Kata ‘arabiy
mengandung arti: penuh, limpah-ruah, dan jelas; bahasa Arab disebut demikian karena masdar-masdarnya
(akar-akar katanya) tidak terhitung banyaknya, dan penuh dengan arti, dan
karena bahasa Arab itu sangat tegas, fasih, dan mudah dipahami. Bahasa Arab
mempunyai kata-kata dan kalimat-kalimat yang cocok dan tepat untuk
mengungkapkan sepenuhnya segala macam pikiran dan aneka macam arti. Masalah apa pun dapat dibahas
dalam bahasa ini dengan tepat dan mendalam, hal itu tidak dapat ditandingi oleh
bahasa-bahasa lain mana pun. Sarjana-sarjana Eropa terpaksa mengakui bahwa
bahasa Arab itu lengkap dalam masdar-masdarnya. Bahasa Arab terdiri dari
ratusan ribu akar kata, yang penuh dengan pelbagai arti yang amat luas.
Ibn
Jinni, seorang tokoh ahli bahasa telah menyatakan dengan menukil pendapat
seorang ahli bahasa yang sangat terkemuka lainnya, Abu Ali, bahwa
huruf-hurufnya pun mempunyai arti yang jelas dan pasti. Umpamanya, ia
menerangkan bahwa huruf-huruf mim, lam, dan kaf dalam gabungan
atau kombinasi apa pun melukiskan “kekuasaan”, hal mana terdapat hampir pada
semua kata yang terbentuk oleh huruf-huruf itu, atau berasal dari akar kata
itu.
Dalam
ayat yang mendahuluinya Al-Quran disebut
“Alkitab”, yang mengandung suatu nubuatan bahwa ia senantiasa akan terpelihara dalam
bentuk sebuah kitab. Dalam ayat ini ia disebut “Al-Quran”, hal mana
merupakan kabar gaib bahwa kitab itu
akan dibaca dan dipelajari dengan sangat luas.
Memang
ini merupakan kenyataan, bahwa tidak ada musuh Islam dapat menyangkal dengan
alasan yang kuat, bahwa tidak ada kitab lainnya yang begitu luas dan sering
dibaca seperti Al-Quran. Profesor Noldeke mengatakan: “Oleh karena penggunaan
Al-Quran dalam salat-salat berjamaah, di madrasah-madrasah dan lain-lain, jauh
lebih luas dari-pada umpamanya, pembacaan Bible di sebagian negeri-negeri
Kristen, maka patutlah ia dianggap sebagai kitab yang paling luas dibaca di
antara buku-buku bacaan yang ada” (Encyclopaedia Britannica, edisi 9).
Yang
menjadi sebab mengapa riwayat Nabi Yusuf a.s. diturunkan kepada Nabi Besar Muhammad
saw. begitu rinci ialah,
karena riwayat itu mengandung banyak sekali isyarat berupa kabar gaib (nubuatan)
mengenai kehidupan beliau saw. sendiri. Seluruh riwayat itu seolah-olah akan
terulang kembali dalam kehidupan beliau saw. sendiri dan dalam kehidupan
sanak-saudara beliau saw., kaum Quraisy.
(Bersambung)
Rujukan:
The
Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid
Tidak ada komentar:
Posting Komentar