بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Tentang
Ki Langlang
Buana Kusuma
HUBUNGAN NABI YUSUF A.S.
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
Bagian XIX
Tentang
Godaan Istri Potifar &
Godaan Kesenangan Duniawi (2)
Godaan Kesenangan Duniawi (2)
Oleh
یُنۡفِقُوۡنَ فِیۡ ہٰذِہِ الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا کَمَثَلِ رِیۡحٍ فِیۡہَا صِرٌّ اَصَابَتۡ
حَرۡثَ قَوۡمٍ ظَلَمُوۡۤا اَنۡفُسَہُمۡ فَاَہۡلَکَتۡہُ ؕ وَ مَا ظَلَمَہُمُ اللّٰہُ وَ لٰکِنۡ اَنۡفُسَہُمۡ یَظۡلِمُوۡنَ ﴿۱۱۸﴾
Sesungguhnya orang-orang kafir,
harta mereka dan anak keturunan mereka sedikit pun tidak akan pernah
dapat menyelamatkan mereka dari azab Allah, dan mereka itulah penghuni Api,
mereka kekal di dalamnya. Perumpamaan apa yang mereka
belanjakan di dalam kehidupan dunia, seumpama angin yang di dalamnya mengandung
suhu sangat dingin yang menimpa ladang suatu kaum yang berlaku zalim terhadap
diri mereka, lalu angin itu membinasakannya, dan Allah sekali-kali tidak menzalimi mereka tetapi merekalah yang menzalimi
dirinya sendiri. (Ali ‘Imraan [3]:117-118).
Dalam Bab
sebelumnya telah dijelaskan bagaimana kekuasaan duniawi dan kekayaan
duniawi yang telah diraih oleh Nabi Besar Muhammad saw. bukan saja tidak
berhasil mengubah kesempurnaan akhlak dan ruhani beliau saw.
serta kesederhanaan kehidupan pribadi dan kesederhanaan keadaan
ekonomi rumah tangga beliau saw. bersama semua istri-istrinya, sehingga ketika kepada mereka ditawarkan apakah akan
memilih kesenangan hidup duniawi ataukah tetap hidup bersama Nabi Besar
Muhammad saw. dengan penuh sederhana maka mereka dengan sepenuh hati untuk tetap hidup bersama
Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا
النَّبِیُّ قُلۡ لِّاَزۡوَاجِکَ اِنۡ کُنۡـتُنَّ تُرِدۡنَ الۡحَیٰوۃَ
الدُّنۡیَا وَ زِیۡنَتَہَا فَتَعَالَیۡنَ اُمَتِّعۡکُنَّ وَ اُسَرِّحۡکُنَّ
سَرَاحًا جَمِیۡلًا ﴿۲۹﴾ وَ اِنۡ کُنۡـتُنَّ تُرِدۡنَ اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ وَ الدَّارَ الۡاٰخِرَۃَ فَاِنَّ اللّٰہَ اَعَدَّ لِلۡمُحۡسِنٰتِ مِنۡکُنَّ اَجۡرًا عَظِیۡمًا ﴿۳۰﴾ یٰنِسَآءَ
النَّبِیِّ مَنۡ یَّاۡتِ مِنۡکُنَّ بِفَاحِشَۃٍ مُّبَیِّنَۃٍ یُّضٰعَفۡ لَہَا الۡعَذَابُ
ضِعۡفَیۡنِ ؕ وَ کَانَ ذٰلِکَ عَلَی اللّٰہِ
یَسِیۡرًا ﴿۳۱﴾
Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istri
engkau: “Jika kamu menginginkan kehidupan dunia ini dan perhiasannya
maka marilah aku akan memberikannya kepadamu dan aku akan menceraikan
kamu dengan cara yang baik, tetapi jika kamu menginginkan Allah,
Rasul-Nya, dan rumah di akhirat, maka sesungguhnya Allah telah
menyediakan ganjaran yang besar bagi siapa di antaramu yang berbuat ihsan.
Wahai istri-istri Nabi, barang-siapa di antara kamu berbuat kekejian
yang nyata, baginya azab
akan dilipatgandakan dua
kali lipat, dan yang demikian itu mudah bagi Allah. Tetapi barangsiapa di antara kamu taat kepada Allah dan
Rasul-Nya serta beramal saleh, Kami akan memberi kepadanya ganjarannya
dua kali lipat, dan Kami telah menyediakan baginya rezeki yang mulia.
(Al-Ahzab [33]:29-32).
Hal-hal yang Diinginkan Manusia
Firman Allah Swt. yang
sedang dibahas sebelumnya sehubungan dengan hal itu adalah firman-Nya berikut
ini:
زُیِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ
الشَّہَوٰتِ مِنَ النِّسَآءِ وَ الۡبَنِیۡنَ وَ الۡقَنَاطِیۡرِ الۡمُقَنۡطَرَۃِ
مِنَ الذَّہَبِ وَ الۡفِضَّۃِ وَ الۡخَیۡلِ الۡمُسَوَّمَۃِ وَ الۡاَنۡعَامِ وَ
الۡحَرۡثِ ؕ ذٰلِکَ مَتَاعُ الۡحَیٰوۃِ
الدُّنۡیَا ۚ وَ اللّٰہُ عِنۡدَہٗ حُسۡنُ الۡمَاٰبِ ﴿۱۵﴾
Ditampakkan indah bagi manusia kecintaan
terhadap apa-apa yang diingini yaitu: perempuan-perempuan, anak-anak, kekayaan yang berlimpah
berupa emas dan perak, kuda
pilihan, binatang ternak dan sawah
ladang. Yang
demikian itu adalah perlengkapan hidup di dunia, dan Allah, di
sisi-Nya-lah sebaik-baik tempat
kembali. (Ali ‘Imraan
[3]:15).
Islam tidak melarang
mempergunakan atau mencari barang-barang yang baik dari dunia ini, tetapi tentu
saja Islam mencela mereka yang menyibukkan diri dalam urusan
duniawi dan menjadikannya satu-satunya tujuan hidup mereka.
Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
قُلۡ
اَؤُنَبِّئُکُمۡ بِخَیۡرٍ مِّنۡ ذٰلِکُمۡ ؕ لِلَّذِیۡنَ اتَّقَوۡا عِنۡدَ
رَبِّہِمۡ جَنّٰتٌ تَجۡرِیۡ مِنۡ
تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا وَ اَزۡوَاجٌ مُّطَہَّرَۃٌ وَّ
رِضۡوَانٌ مِّنَ اللّٰہِ ؕ وَ اللّٰہُ بَصِیۡرٌۢ
بِالۡعِبَادِ ﴿ۚ۱۶﴾ اَلَّذِیۡنَ یَقُوۡلُوۡنَ رَبَّنَاۤ اِنَّنَاۤ اٰمَنَّا فَاغۡفِرۡ
لَنَا ذُنُوۡبَنَا وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ ﴿ۚ۱۷﴾ اَلصّٰبِرِیۡنَ وَ الصّٰدِقِیۡنَ وَ الۡقٰنِتِیۡنَ وَ الۡمُنۡفِقِیۡنَ
وَ الۡمُسۡتَغۡفِرِیۡنَ بِالۡاَسۡحَارِ ﴿۱۸﴾
Katakanlah: “Maukah kamu aku beri tahu sesuatu yang lebih baik daripada yang
demikian itu?” Bagi orang-orang yang bertakwa, di sisi Tuhan mereka ada kebun-kebun
yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di
dalamnya, jodoh-jodoh suci dan keridhaan
dari Allah, dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. Yaitu orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah
beriman maka ampunilah
dosa-dosa kami, dan peliharalah kami dari azab Api.” Orang-orang yang sabar,
orang-orang yang benar, orang-orang yang taat, orang-orang yang membelanjakan
di jalan Allah dan orang-orang
yang memohon ampun di bagian akhir malam (Aali ‘Imraan
[3]:16-18).
Sebagaimana telah
dikemukakan dalam Bab sebelumnya bahwa kata Qul (katakanlah) terutama
sekali ditujukan kepada Nabi Besar Muhammad saw., sebab apa yang selanjutnya
dikemukakan dalam firman Allah Swt. benar-benar telah dilaksanakan oleh Nabi
Besar Muhammad saw., karena walau pun pada akhirnya seluruh wilayah jazirah
Arabia berada di bawah kekuasaan beliau saw., akan tetapi kekuasaan duniawi
mau pun kekayaan duniawi tersebut sedikit pun tidak berhasil mengubah kesempurnaan
akhlak dan ruhani Nabi Besar Muhammad saw. seperti lazimnya terjadi
pada umumnya manusia yang tergoda oleh tahta (kekuasaan), harta (kekayaan) dan wanita –
“tiga serangkai” -- bagaikan rayuan
istri Potifar terhadap Nabi Yusuf a.s.. (QS.12:22-36).
Kata
dzunub dalam doa yang beriman dalam ayat tersebut, yakni: “Ya Tuhan
kami, sesungguhnya kami telah beriman maka ampunilah dosa-dosa kami“ adalah jamak dari dzanb
yang berarti: kealpaan, perbuatan salah, pelanggaran, sesuatu yang patut dicela
jika dilakukan dengan sengaja. Perbedaannya dengan itsm adalah bahwa dzanb itu boleh jadi disengaja
atau dilakukan karena kealpaan, sedangkan itsm yang
khusus dilakukan dengan sengaja. Atau dzanb berarti
kekeliruan-kekeliruan dan kesalahan-kesalahan yang membawa akibat buruk atau
menjadikan si pelakunya layak dituntut. Sesungguhnya dzanb berarti
kelemahan-kelemahan atau kekurangan-kekurangan yang melekat pada fitrat
manusia, seperti halnya dzanb (ekor, atau bagian tubuh yang seperti itu
pada manusia) melekat pada tubuh,
artinya kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan alami
pada diri manusia (Lexicon Lane & Mufradat
Imam Raghib).
Tanda-tanda Khas Orang-orang Bertakwa
Ciri-ciri
khas orang beriman sejati yang disebut dalam ayat ini melukiskan empat
tingkat kemajuan ruhani:
(1)
Bila seseorang memeluk agama sejati -- yang beriman kepada Rasul Allah
yang kedatangannya dijanjikan
(QS.7:35-37) -- biasanya ia menjadi sasaran kezaliman, maka tingkat pertama yang harus dilaluinya
ialah tingkat “kesabaran dan kegigihan.”
(2)
Bila penzaliman berakhir dan ia
bebas untuk berbuat menurut kehendaknya, ia mengamalkan ajaran-ajaran yang
sebelum itu ia tidak dapat mengerjakan sepenuhnya. Tingkat kedua ini bertalian
dengan “hidup berpegang pada kebenaran,” yaitu hidup sesuai dengan keyakinannya.
(3)
Apabila sebagai akibat melaksanakan perintah-perintah
agama dengan setia, orang beriman
sejati memperoleh kekuasaan, ketika itu pun sifat merendahkan diri tidak
beranjak dari mereka. Mereka tetap bersikap “merendah” seperti sediakala.
(4) Bukan sampai di situ saja, bahkan rasa pengabdian
mereka bertambah besar. Mereka “membelanjakan” apa yang direzekikan
Allah Swt. kepada mereka untuk kesejahteraan umat manusia. Tetapi seperti
kata-kata penutup ayat ini menunjukkan, sepanjang masa itu mereka terus-menerus
mendoa kepada Allah Swt. agar
memaafkan setiap kekurangan mereka dalam mencapai cita-cita luhur mereka untuk
berbakti kepada umat manusia di tengah keheningan malam.
Keempat keadaan tersebut telah diamalkan secara sempurna oleh Nabi Besar Muhammad
saw., sebagaimana telah dikemukakan
firman Allah Swt. pada bagian akhir Bab sebelum ini:
قُلۡ اِنَّنِیۡ ہَدٰىنِیۡ رَبِّیۡۤ اِلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ ۬ۚ دِیۡنًا
قِیَمًا مِّلَّۃَ اِبۡرٰہِیۡمَ حَنِیۡفًا
ۚ وَ مَا کَانَ مِنَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ ﴿۱۶۲﴾ قُلۡ اِنَّ صَلَاتِیۡ وَ نُسُکِیۡ وَ مَحۡیَایَ وَ مَمَاتِیۡ لِلّٰہِ
رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿۱۶۳﴾ۙ لَا شَرِیۡکَ لَہٗ ۚ
وَ بِذٰلِکَ اُمِرۡتُ وَ اَنَا اَوَّلُ
الۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿۱۶۴﴾
Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah diberi petunjuk
oleh Tuhan-ku kepada jalan lurus, agama yang teguh, agama Ibrahim yang lurus dan dia
bukanlah dari orang-orang musyrik.” Katakanlah:
“Sesungguhnya shalatku, pengorbananku,
kehidupan-ku, dan kematianku hanyalah untuk Allāh, Tuhan seluruh alam; 164. Tidak ada sekutu bagi-Nya,
untuk itulah aku diperintahkan,
dan akulah orang pertama yang
berserah diri. (Al-An’aam [6]:162-164).
Shalat, korban, hidup, dan mati meliputi
seluruh bidang amal perbuatan manusia; dan Nabi Besar Muhammad saw. diperintah
menyatakan bahwa semua segi kehidupan di dunia ini dipersembahkan oleh
beliau kepada Allah Swt., semua
amal ibadah beliau saw. dipersembahkan kepada Allah Swt., semua pengorbanan dilakukan beliau saw. untuk
Dia; segala penghidupan dihibahkan beliau untuk berbakti kepada-Nya, maka bila
di jalan agama beliau mencari maut, itu pun guna meraih keridhaan-Nya.
Kesenangan
yang Menipu
Berikut
ini beberapa firman Allah Swt. lainnya mengenai kehidupan duniawi yang
kesenangannya tidak abadi serta
tidak pernah memberikan kepuasan, malah sebaliknya yakni bagaikan perempuan cantik yang
menggoda serta merayu tetapi setelah diperoleh
malah “membunuh” orang-orang yang
mencintainya, sebagaimana “perempuan
yang memakai berbagai perhiasan” dalam peristiwa mikraj Nabi Besar
Muhammad saw., yang menurut malaikat
Jibril a.s. ia telah banyak membunuh suami-suami yang menikahinya.
اِنَّ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا لَنۡ تُغۡنِیَ عَنۡہُمۡ اَمۡوَالُہُمۡ وَ لَاۤ اَوۡلَادُہُمۡ مِّنَ اللّٰہِ شَیۡـًٔا ؕ وَ اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿۱۱۷﴾
مَثَلُ
مَا یُنۡفِقُوۡنَ فِیۡ ہٰذِہِ الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا کَمَثَلِ رِیۡحٍ فِیۡہَا صِرٌّ اَصَابَتۡ
حَرۡثَ قَوۡمٍ ظَلَمُوۡۤا اَنۡفُسَہُمۡ فَاَہۡلَکَتۡہُ ؕ وَ مَا ظَلَمَہُمُ اللّٰہُ وَ لٰکِنۡ اَنۡفُسَہُمۡ یَظۡلِمُوۡنَ ﴿۱۱۸﴾
Sesungguhnya orang-orang kafir, harta mereka dan anak keturunan
mereka sedikit pun tidak akan pernah dapat menyelamatkan mereka dari
azab Allah, dan mereka itulah penghuni Api, mereka kekal di dalamnya. Perumpamaan apa yang mereka
belanjakan di dalam kehidupan dunia, seumpama angin yang di dalamnya
mengandung suhu sangat dingin yang menimpa ladang suatu kaum yang
berlaku zalim terhadap diri mereka, lalu angin itu membinasakannya,
dan Allah sekali-kali
tidak menzalimi mereka tetapi
merekalah yang menzalimi dirinya sendiri. (Ali ‘Imraan
[3]:117-118).
Firman-Nya lagi:
وَ مَا الۡحَیٰوۃُ الدُّنۡیَاۤ
اِلَّا لَعِبٌ وَّ لَہۡوٌ ؕ وَ لَلدَّارُ الۡاٰخِرَۃُ خَیۡرٌ لِّلَّذِیۡنَ یَتَّقُوۡنَ ؕ اَفَلَا تَعۡقِلُوۡنَ ﴿۳۲﴾
Dan sekali-kali tidak lain kehidupan dunia ini
kecuali permainan dan hiburan belaka. Dan sesungguhnya rumah akhirat itu lebih
baik bagi orang-orang yang bertakwa, maka apakah kamu tidak mengerti?
(Al-An’aam [6]:33).
Selanjutnya Allah Swt. berfirman lagi:
اِنَّمَا
الۡحَیٰوۃُ الدُّنۡیَا لَعِبٌ وَّ لَہۡوٌ ؕ وَ اِنۡ تُؤۡمِنُوۡا وَ تَتَّقُوۡا یُؤۡتِکُمۡ اُجُوۡرَکُمۡ
وَ لَا یَسۡـَٔلۡکُمۡ
اَمۡوَالَکُمۡ ﴿۳۶﴾
Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanya permainan
dan senda gurau, dan jika kamu beriman dan bertakwa Dia
akan memberi ganjaranmu kepadamu dan Dia tidak akan meminta kepadamu
harta kamu. (Muhammad
[47]:37). LIhat pula QS.29:65;
QS.57:21.
Cara
Melumpuhkan Racun Kesenangan Duniawi
Ayat ini bermaksud mengatakan bahwa karena
orang-orang Muslim telah diperintahkan berjuang di jalan Allah, mereka
akan diwajibkan memikul segala biaya perang juga, dan untuk maksud itu mereka
harus memberikan pengorbanan uang. Akan tetapi Allah tidak memerlukan uang mereka. Bagi
faedah mereka sendirilah makanya dituntut dari mereka pengorbanan jiwa
dan harta sebab tiada sukses dapat dicapai tanpa pengorbanan
demikian. Orang-orang beriman hakiki seyogianya mengerti dan menghayati pelajaran
agung lagi luhur ini. Firman-Nya lagi:
وَ لَئِنۡ سَاَلۡتَہُمۡ مَّنۡ
نَّزَّلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءً
فَاَحۡیَا بِہِ الۡاَرۡضَ مِنۡۢ بَعۡدِ مَوۡتِہَا لَیَقُوۡلُنَّ اللّٰہُ ؕ
قُلِ الۡحَمۡدُ لِلّٰہِ ؕ بَلۡ
اَکۡثَرُہُمۡ لَا یَعۡقِلُوۡنَ ﴿٪۶۴﴾ وَ مَا ہٰذِہِ
الۡحَیٰوۃُ الدُّنۡیَاۤ اِلَّا لَہۡوٌ وَّ لَعِبٌ ؕ وَ اِنَّ الدَّارَ
الۡاٰخِرَۃَ لَہِیَ الۡحَیَوَانُ ۘ
لَوۡ کَانُوۡا یَعۡلَمُوۡنَ ﴿۶۵﴾
Dan jika engkau bertanya kepada mereka: “Siapakah yang
menurunkan air dari awan lalu dengannya menghidupkan bumi setelah
matinya?” Niscaya mereka akan
berka-ta: “Allah.” Katakanlah: “Segala puji bagi Allah.” Tetapi
kebanyakan mereka tidak mau mengerti. Dan sekali-kali tidak lain kehidupan di dunia ini melainkan pengisi
waktu serta permainan. Dan sesungguhnya rumah di akhirat
itulah kehidupan yang hakiki, seandainya
mereka mengetahui! (Al-Ankabuut [29]:64-65).
Hidup
tanpa menanggung jerih payah dan kesusahan demi suatu tujuan
agung, dan tanpa pengurbanan-pengurbanan sebagai bakti kepada
Allah Swt. dalah “hanya pelengah waktu dan permainan”; suatu keadaan
yang tidak berguna dan tidak bertujuan. Kehidupan yang padat tujuan
ialah yang ditempuh demi mencapai tujuan agung serta mulia, dan untuk
mengadakan persiapan guna kehidupan yang kekal abadi, yang untuk kehidupan
itu Allah Swt. telah menciptakan
manusia.
Jadi, sesuai dengan arti
kata dunia (dunya) -- yang asal
dari kara danaa atau adna -- yang artinya dekat atau rendah,
karena dibandingkan dengan kehidupan
akhirat – baik kehidupan di alam barzakh
mau pun pada Hari Kebangkitan – kehidupan dunia ini adalah yang paling rendah
tingkatannya, karena itu kesenangannya pun tidak dapat menandingi kesenangan
yang hakiki dan abadi kehidupan di alam akhirat,
firman-Nya:
قَدۡ اَفۡلَحَ
مَنۡ تَزَکّٰی ﴿ۙ۱۵﴾ وَ ذَکَرَ اسۡمَ
رَبِّہٖ فَصَلّٰی ﴿ؕ۱۶﴾ بَلۡ تُؤۡثِرُوۡنَ
الۡحَیٰوۃَ الدُّنۡیَا ﴿۫ۖ۱۷﴾ وَ الۡاٰخِرَۃُ خَیۡرٌ
وَّ اَبۡقٰی ﴿ؕ۱۸﴾ اِنَّ ہٰذَا
لَفِی الصُّحُفِ الۡاُوۡلٰی ﴿ۙ۱۹﴾ صُحُفِ اِبۡرٰہِیۡمَ وَ مُوۡسٰی ﴿٪۲۰﴾
Sungguh
berhasil orang yang mensucikan diri, dan mengingat nama Tuhan-nya lalu mendirikan
shalat. Tetapi kamu mendahulukan kehidupan dunia, padahal akhirat itu lebih baik
dan lebih kekal. Sesungguhnya
inilah yang diajarkan dalam Kitab-kitab terdahulu, Kitab-kitab Ibrahim dan Musa.
(Al-A’laa [87]:15-20). Lihat pul QS.93:5
Karena asas-asas pokok
mengenai setiap agama itu sama, maka ajaran yang tersebut dalam
ayat-ayat yang mendahuluinya terdapat pula dalam Kitab-kitab suci Nabi Musa
a.s. dan Nabi Ibrahim a.s.
Ayat ini dapat pula berarti bahwa nubuatan mengenai kemunculan seorang nabi
besar, yang akan memberikan kepada dunia Amanat Ilahi terakhir serta
memberikan ajaran yang paling sempurna, terdapat dalam Kitab-kitab suci
Nabi Musa a.s. dan Nabi
Ibrahim a.s. (Ulangan
18:18 -19 dan 33:2).
Sunnatullah
dalam Perjalanan Ruhani
Jadi, kembali kepada peristiwa
Nabi Yusuf a.s. dan istri Potifar pada hakikatnya “kasus”
tersebut merupakan bagian dari Sunnatullah dalam perjalanan ruhani
seseorang dalam dunia keruhaian,
bahwa apabila seseorang mendapat pertolongan
dan karunia Allah Swt. dari kesusahan hidup yang dideritanya maka
akan muncul godaan atau rayuan syaitan yang sangat
menarik, yaitu berupa kesenangan
hidup duniawi, namun Nabi Yusuf a.s.
sangat menyadari hal tersebut dan beliau tidak mau terbuai oleh bujuk-rayu
istri Potifar yang cantik jelita, karena Nabi Yusuf a.s. ingat terus
akan mimpi yang sangat menakjubkan, yang telah
diceritakannya kepada ayah beliau, Nabi Ya’qub a.s.:
اِذۡ قَالَ یُوۡسُفُ لِاَبِیۡہِ یٰۤاَبَتِ اِنِّیۡ رَاَیۡتُ اَحَدَعَشَرَ کَوۡکَبًا
وَّ الشَّمۡسَ
وَ الۡقَمَرَ رَاَیۡتُہُمۡ لِیۡ سٰجِدِیۡنَ ﴿۵﴾ قَالَ یٰبُنَیَّ لَا تَقۡصُصۡ رُءۡیَاکَ عَلٰۤی اِخۡوَتِکَ فَیَکِیۡدُوۡا لَکَ کَیۡدًا ؕ اِنَّ الشَّیۡطٰنَ لِلۡاِنۡسَانِ عَدُوٌّ
مُّبِیۡنٌ ﴿۶﴾ وَ کَذٰلِکَ یَجۡتَبِیۡکَ رَبُّکَ وَ یُعَلِّمُکَ مِنۡ تَاۡوِیۡلِ الۡاَحَادِیۡثِ وَ یُتِمُّ نِعۡمَتَہٗ عَلَیۡکَ وَ عَلٰۤی اٰلِ یَعۡقُوۡبَ کَمَاۤ اَتَمَّہَا عَلٰۤی اَبَوَیۡکَ مِنۡ قَبۡلُ اِبۡرٰہِیۡمَ وَ اِسۡحٰقَ ؕ اِنَّ رَبَّکَ عَلِیۡمٌ حَکِیۡمٌ ٪﴿۷﴾
Ingatlah ketika
Yusuf berka-ta kepada
ayahnya: “Hai ayahku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi sebelas
bintang, matahari dan bulan, aku melihat mereka bersujud kepada-ku.” Ia, Ya’qub, berkata: “Hai anakku, janganlah
engkau menceriterakan mimpi engkau itu kepada saudara-sau-dara engkau,
karena mereka akan melakukan tipu-daya
buruk untuk memperdayakan engkau,
sesungguhnya syaitan
itu musuh yang nyata bagi manusia.
Dan demikianlah Tuhan engkau akan memilih engkau dan akan mengajar engkau ta'wil mimpi-mimpi dan akan menyempurnakan
nikmat-Nya atas engkau dan atas keturunan Ya’qub, seperti
Dia telah menyempurnakannya atas kedua bapak engkau dahulu, Ibrahim
dan Ishaq, sesung-uhnya Tuhan engkau Maha Mengetahui, Maha
Bijaksana.” (Yusuf [12]:5-7).
Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid
Tidak ada komentar:
Posting Komentar