Jumat, 13 Januari 2012

Godaan Istri Potifar & Godaan Kesenangan Duniawi (2)


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


HUBUNGAN  NABI YUSUF A.S. 
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
  
Bagian   XIX

Tentang
    Godaan Istri Potifar &  
Godaan Kesenangan Duniawi (2)
      
 Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma



یُنۡفِقُوۡنَ فِیۡ ہٰذِہِ الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا کَمَثَلِ رِیۡحٍ فِیۡہَا صِرٌّ اَصَابَتۡ حَرۡثَ قَوۡمٍ ظَلَمُوۡۤا اَنۡفُسَہُمۡ فَاَہۡلَکَتۡہُ ؕ وَ مَا ظَلَمَہُمُ اللّٰہُ وَ لٰکِنۡ  اَنۡفُسَہُمۡ  یَظۡلِمُوۡنَ ﴿۱۱۸

Sesungguhnya orang-orang kafir,  harta mereka dan anak keturunan mereka sedikit pun tidak akan pernah dapat menyelamatkan mereka dari azab Allah, dan mereka itulah penghuni Api, mereka kekal  di dalamnya.   Perumpamaan apa yang mereka belanjakan di dalam kehidupan dunia, seumpama angin yang di dalamnya mengandung suhu sangat dingin yang menimpa ladang suatu kaum yang berlaku zalim terhadap diri mereka, lalu angin itu membinasakannya, dan Allah sekali-kali tidak  menzalimi mereka tetapi merekalah yang menzalimi dirinya sendiri. (Ali ‘Imraan [3]:117-118).

 Dalam Bab sebelumnya telah dijelaskan bagaimana kekuasaan duniawi dan kekayaan duniawi yang telah diraih oleh Nabi Besar Muhammad saw. bukan saja tidak berhasil mengubah kesempurnaan akhlak dan ruhani beliau saw. serta kesederhanaan kehidupan pribadi dan kesederhanaan keadaan ekonomi rumah tangga beliau saw. bersama semua istri-istrinya, sehingga  ketika kepada mereka ditawarkan apakah akan memilih kesenangan hidup duniawi ataukah tetap hidup bersama Nabi Besar Muhammad saw. dengan penuh sederhana maka mereka  dengan sepenuh hati untuk tetap hidup bersama Nabi Besar Muhammad saw.,  firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا النَّبِیُّ  قُلۡ  لِّاَزۡوَاجِکَ اِنۡ  کُنۡـتُنَّ تُرِدۡنَ  الۡحَیٰوۃَ  الدُّنۡیَا وَ زِیۡنَتَہَا فَتَعَالَیۡنَ اُمَتِّعۡکُنَّ وَ اُسَرِّحۡکُنَّ سَرَاحًا جَمِیۡلًا ﴿۲۹  وَ اِنۡ کُنۡـتُنَّ تُرِدۡنَ اللّٰہَ  وَ رَسُوۡلَہٗ وَ الدَّارَ الۡاٰخِرَۃَ  فَاِنَّ اللّٰہَ  اَعَدَّ لِلۡمُحۡسِنٰتِ مِنۡکُنَّ  اَجۡرًا عَظِیۡمًا ﴿۳۰   یٰنِسَآءَ  النَّبِیِّ مَنۡ یَّاۡتِ مِنۡکُنَّ بِفَاحِشَۃٍ  مُّبَیِّنَۃٍ یُّضٰعَفۡ لَہَا الۡعَذَابُ ضِعۡفَیۡنِ ؕ وَ کَانَ ذٰلِکَ عَلَی اللّٰہِ  یَسِیۡرًا ﴿۳۱
Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istri engkau: “Jika kamu menginginkan kehidupan dunia ini dan perhiasannya maka marilah aku akan memberikannya kepadamu dan aku akan menceraikan kamu dengan cara yang baik, tetapi jika kamu menginginkan Allah, Rasul-Nya, dan rumah di akhirat, maka sesungguhnya Allah telah menyediakan ganjaran yang besar bagi siapa di antaramu yang berbuat ihsan. Wahai istri-istri Nabi, barang-siapa di antara kamu berbuat kekejian yang nyata,  baginya azab akan dilipatgandakan   dua kali lipat, dan yang demikian itu mudah bagi Allah.    Tetapi barangsiapa  di antara kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta beramal saleh, Kami akan memberi kepadanya ganjarannya dua kali lipat, dan Kami telah menyediakan baginya rezeki yang mulia.  (Al-Ahzab [33]:29-32).

Hal-hal yang Diinginkan Manusia

     Firman Allah Swt. yang sedang dibahas sebelumnya sehubungan dengan hal itu adalah firman-Nya berikut ini:
 زُیِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّہَوٰتِ مِنَ النِّسَآءِ وَ الۡبَنِیۡنَ وَ الۡقَنَاطِیۡرِ الۡمُقَنۡطَرَۃِ مِنَ الذَّہَبِ وَ الۡفِضَّۃِ وَ الۡخَیۡلِ الۡمُسَوَّمَۃِ وَ الۡاَنۡعَامِ وَ الۡحَرۡثِ ؕ ذٰلِکَ مَتَاعُ  الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا ۚ وَ اللّٰہُ عِنۡدَہٗ حُسۡنُ الۡمَاٰبِ ﴿۱۵
Ditampakkan indah bagi manusia kecintaan terhadap apa-apa yang diingini yaitu: perempuan-perempuananak-anak, kekayaan yang berlimpah berupa emas dan perakkuda pilihanbinatang ternak dan sawah ladang.  Yang demikian itu adalah perlengkapan hidup di dunia, dan Allah, di sisi-Nya-lah  sebaik-baik tempat kembali.  (Ali ‘Imraan [3]:15).
      Islam tidak melarang mempergunakan atau mencari barang-barang yang baik dari dunia ini, tetapi tentu saja Islam mencela mereka yang menyibukkan diri dalam urusan duniawi dan menjadikannya satu-satunya tujuan hidup mereka. Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
قُلۡ اَؤُنَبِّئُکُمۡ بِخَیۡرٍ مِّنۡ ذٰلِکُمۡ ؕ لِلَّذِیۡنَ اتَّقَوۡا عِنۡدَ رَبِّہِمۡ جَنّٰتٌ  تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا وَ اَزۡوَاجٌ مُّطَہَّرَۃٌ وَّ رِضۡوَانٌ مِّنَ اللّٰہِ ؕ وَ اللّٰہُ بَصِیۡرٌۢ  بِالۡعِبَادِ ﴿ۚ۱۶ اَلَّذِیۡنَ یَقُوۡلُوۡنَ رَبَّنَاۤ اِنَّنَاۤ اٰمَنَّا فَاغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوۡبَنَا وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ ﴿ۚ۱۷ اَلصّٰبِرِیۡنَ وَ الصّٰدِقِیۡنَ وَ الۡقٰنِتِیۡنَ وَ الۡمُنۡفِقِیۡنَ وَ الۡمُسۡتَغۡفِرِیۡنَ بِالۡاَسۡحَارِ ﴿۱۸
Katakanlah: “Maukah kamu aku beri tahu sesuatu  yang lebih baik daripada yang demikian itu?” Bagi orang-orang yang bertakwa, di sisi Tuhan mereka ada kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya,  jodoh-jodoh suci dan keridhaan dari Allah, dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.    Yaitu orang-orang yang berkata:  “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman maka  ampunilah dosa-dosa  kami,  dan peliharalah kami dari azab Api.”   Orang-orang yang sabar, orang-orang yang benar, orang-orang yang taat, orang-orang yang membelanjakan  di jalan Allah dan orang-orang yang memohon ampun di bagian akhir malam (Aali ‘Imraan [3]:16-18).
     Sebagaimana telah dikemukakan dalam Bab sebelumnya bahwa kata Qul (katakanlah) terutama sekali ditujukan kepada Nabi Besar Muhammad saw., sebab apa yang selanjutnya dikemukakan dalam firman Allah Swt. benar-benar telah dilaksanakan oleh Nabi Besar Muhammad saw., karena walau pun pada akhirnya seluruh wilayah jazirah Arabia berada di bawah kekuasaan beliau saw., akan tetapi kekuasaan duniawi mau pun kekayaan duniawi tersebut sedikit pun tidak berhasil mengubah kesempurnaan akhlak dan ruhani Nabi Besar Muhammad saw. seperti lazimnya terjadi pada umumnya manusia yang tergoda oleh tahta (kekuasaan),  harta (kekayaan) dan wanita – “tiga serangkai” --  bagaikan rayuan istri Potifar terhadap Nabi Yusuf a.s.. (QS.12:22-36).
 Kata dzunub dalam doa yang beriman dalam ayat tersebut, yakni: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman maka  ampunilah dosa-dosa  kami“ adalah jamak dari dzanb yang berarti: kealpaan, perbuatan salah, pelanggaran, sesuatu yang patut dicela jika dilakukan dengan sengaja. Perbedaannya dengan itsm adalah  bahwa dzanb itu boleh jadi disengaja atau dilakukan karena kealpaan, sedangkan itsm  yang  khusus dilakukan dengan sengaja. Atau dzanb berarti kekeliruan-kekeliruan dan kesalahan-kesalahan yang membawa akibat buruk atau menjadikan si pelakunya layak dituntut. Sesungguhnya dzanb berarti kelemahan-kelemahan atau kekurangan-kekurangan yang melekat pada fitrat manusia, seperti halnya dzanb (ekor, atau bagian tubuh yang seperti itu pada manusia) melekat pada tubuh,  artinya kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan alami pada diri manusia (Lexicon Lane & Mufradat Imam Raghib).

Tanda-tanda Khas Orang-orang Bertakwa

Ciri-ciri khas orang beriman sejati yang disebut dalam ayat ini melukiskan empat tingkat kemajuan ruhani:
(1) Bila seseorang memeluk agama sejati  -- yang beriman kepada Rasul Allah yang  kedatangannya dijanjikan (QS.7:35-37) -- biasanya ia menjadi sasaran kezaliman,  maka tingkat pertama yang harus dilaluinya ialah tingkat “kesabaran dan kegigihan.”
(2) Bila penzaliman  berakhir dan ia bebas untuk berbuat menurut kehendaknya, ia mengamalkan ajaran-ajaran yang sebelum itu ia tidak dapat mengerjakan sepenuhnya. Tingkat kedua ini bertalian dengan “hidup berpegang pada kebenaran,” yaitu hidup sesuai dengan keyakinannya.
(3) Apabila  sebagai akibat melaksanakan perintah-perintah agama dengan setia,   orang beriman sejati memperoleh kekuasaan, ketika itu pun sifat merendahkan diri tidak beranjak dari mereka. Mereka tetap bersikap “merendah” seperti sediakala.
 (4) Bukan sampai di situ saja, bahkan rasa pengabdian mereka bertambah besar. Mereka “membelanjakan” apa yang direzekikan Allah Swt. kepada mereka untuk kesejahteraan umat manusia. Tetapi seperti kata-kata penutup ayat ini menunjukkan, sepanjang masa itu mereka terus-menerus mendoa kepada Allah Swt.  agar memaafkan setiap kekurangan mereka dalam mencapai cita-cita luhur mereka untuk berbakti kepada umat manusia di tengah keheningan malam.
Keempat  keadaan tersebut telah diamalkan  secara sempurna oleh Nabi Besar Muhammad saw., sebagaimana telah dikemukakan  firman Allah Swt. pada bagian akhir Bab sebelum ini:
قُلۡ  اِنَّنِیۡ ہَدٰىنِیۡ رَبِّیۡۤ  اِلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ ۬ۚ دِیۡنًا قِیَمًا مِّلَّۃَ  اِبۡرٰہِیۡمَ حَنِیۡفًا ۚ وَ مَا کَانَ مِنَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ ﴿۱۶۲   قُلۡ  اِنَّ صَلَاتِیۡ  وَ نُسُکِیۡ وَ مَحۡیَایَ وَ مَمَاتِیۡ   لِلّٰہِ   رَبِّ  الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿۱۶۳﴾ۙ   لَا شَرِیۡکَ لَہٗ ۚ وَ بِذٰلِکَ اُمِرۡتُ وَ اَنَا  اَوَّلُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿۱۶۴
Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah diberi petunjuk oleh Tuhan-ku kepada jalan lurus, agama yang teguh,  agama Ibrahim yang lurus dan dia bukanlah dari   orang-orang musyrik.”   Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, pengorbananku,  kehidupan-ku, dan  kematianku  hanyalah untuk Allāh, Tuhan seluruh  alam;  164.  Tidak ada sekutu bagi-Nya, untuk itulah aku diperintahkan,  dan akulah orang pertama  yang berserah diri. (Al-An’aam [6]:162-164).
 Shalat, korban, hidup, dan mati meliputi seluruh bidang amal perbuatan manusia; dan Nabi Besar Muhammad saw. diperintah menyatakan bahwa semua segi kehidupan di dunia ini dipersembahkan oleh beliau kepada Allah Swt.,  semua amal ibadah beliau saw. dipersembahkan kepada  Allah Swt.,  semua pengorbanan dilakukan beliau saw. untuk Dia; segala penghidupan dihibahkan beliau untuk berbakti kepada-Nya, maka bila di jalan agama beliau mencari maut, itu pun guna meraih keridhaan-Nya.

Kesenangan yang Menipu

Berikut ini beberapa firman Allah Swt. lainnya mengenai kehidupan duniawi yang kesenangannya  tidak abadi serta tidak pernah memberikan kepuasan, malah sebaliknya yakni  bagaikan perempuan cantik yang menggoda serta merayu tetapi setelah diperoleh  malah “membunuh” orang-orang  yang mencintainya, sebagaimana  “perempuan yang memakai berbagai perhiasan” dalam peristiwa mikraj Nabi Besar Muhammad saw.,  yang menurut malaikat Jibril a.s. ia telah banyak membunuh suami-suami yang menikahinya.
 اِنَّ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا لَنۡ تُغۡنِیَ عَنۡہُمۡ اَمۡوَالُہُمۡ وَ لَاۤ اَوۡلَادُہُمۡ مِّنَ اللّٰہِ شَیۡـًٔا ؕ وَ اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ  ﴿۱۱۷  مَثَلُ مَا یُنۡفِقُوۡنَ فِیۡ ہٰذِہِ الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا کَمَثَلِ رِیۡحٍ فِیۡہَا صِرٌّ اَصَابَتۡ حَرۡثَ قَوۡمٍ ظَلَمُوۡۤا اَنۡفُسَہُمۡ فَاَہۡلَکَتۡہُ ؕ وَ مَا ظَلَمَہُمُ اللّٰہُ وَ لٰکِنۡ  اَنۡفُسَہُمۡ  یَظۡلِمُوۡنَ ﴿۱۱۸

Sesungguhnya orang-orang kafirharta mereka dan anak keturunan mereka sedikit pun tidak akan pernah dapat menyelamatkan mereka dari azab Allah, dan mereka itulah penghuni Api, mereka kekal  di dalamnya.   Perumpamaan apa yang mereka belanjakan di dalam kehidupan dunia, seumpama angin yang di dalamnya mengandung suhu sangat dingin yang menimpa ladang suatu kaum yang berlaku zalim terhadap diri mereka, lalu angin itu membinasakannya,  dan Allah sekali-kali tidak  menzalimi mereka tetapi merekalah yang menzalimi dirinya sendiri. (Ali ‘Imraan [3]:117-118).
Firman-Nya lagi:
وَ مَا الۡحَیٰوۃُ  الدُّنۡیَاۤ  اِلَّا  لَعِبٌ وَّ لَہۡوٌ ؕ وَ  لَلدَّارُ الۡاٰخِرَۃُ  خَیۡرٌ  لِّلَّذِیۡنَ  یَتَّقُوۡنَ ؕ اَفَلَا  تَعۡقِلُوۡنَ ﴿۳۲
Dan  sekali-kali tidak lain  kehidupan dunia ini kecuali permainan dan hiburan belaka. Dan sesungguhnya  rumah akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa, maka apakah kamu tidak  mengerti?  (Al-An’aam [6]:33).
Selanjutnya Allah Swt. berfirman lagi:
اِنَّمَا الۡحَیٰوۃُ  الدُّنۡیَا  لَعِبٌ وَّ لَہۡوٌ ؕ وَ اِنۡ  تُؤۡمِنُوۡا وَ تَتَّقُوۡا یُؤۡتِکُمۡ  اُجُوۡرَکُمۡ  وَ لَا یَسۡـَٔلۡکُمۡ  اَمۡوَالَکُمۡ ﴿۳۶
Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanya permainan dan senda gurau, dan jika kamu beriman dan bertakwa Dia akan memberi ganjaranmu kepadamu dan Dia tidak akan meminta kepadamu harta kamu.   (Muhammad [47]:37). LIhat pula     QS.29:65;  QS.57:21.

Cara Melumpuhkan Racun Kesenangan Duniawi

  Ayat ini bermaksud mengatakan bahwa karena orang-orang Muslim telah diperintahkan berjuang di jalan Allah, mereka akan diwajibkan memikul segala biaya perang juga, dan untuk maksud itu mereka harus memberikan pengorbanan uang. Akan tetapi  Allah tidak memerlukan uang mereka. Bagi faedah mereka sendirilah makanya dituntut dari mereka pengorbanan jiwa dan harta sebab tiada sukses dapat dicapai tanpa pengorbanan demikian. Orang-orang beriman hakiki seyogianya mengerti dan menghayati pelajaran agung lagi luhur ini. Firman-Nya lagi:
 وَ لَئِنۡ سَاَلۡتَہُمۡ مَّنۡ نَّزَّلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءً  فَاَحۡیَا بِہِ الۡاَرۡضَ مِنۡۢ بَعۡدِ مَوۡتِہَا لَیَقُوۡلُنَّ اللّٰہُ ؕ قُلِ الۡحَمۡدُ لِلّٰہِ ؕ بَلۡ  اَکۡثَرُہُمۡ  لَا  یَعۡقِلُوۡنَ ﴿٪۶۴  وَ مَا ہٰذِہِ  الۡحَیٰوۃُ  الدُّنۡیَاۤ  اِلَّا لَہۡوٌ وَّ لَعِبٌ ؕ وَ اِنَّ الدَّارَ الۡاٰخِرَۃَ  لَہِیَ الۡحَیَوَانُ ۘ لَوۡ  کَانُوۡا یَعۡلَمُوۡنَ ﴿۶۵
Dan jika engkau bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menurunkan air dari awan lalu dengannya menghidupkan bumi setelah matinya?” Niscaya mereka   akan berka-ta: “Allah.” Katakanlah: “Segala puji bagi Allah.” Tetapi kebanyakan mereka tidak mau mengerti.  Dan sekali-kali tidak lain  kehidupan di dunia ini melainkan pengisi waktu serta permainan. Dan sesungguhnya rumah di akhirat itulah kehidupan yang hakiki,  seandainya  mereka mengetahui! (Al-Ankabuut [29]:64-65).
Hidup tanpa menanggung jerih payah dan kesusahan demi suatu tujuan agung, dan tanpa pengurbanan-pengurbanan sebagai bakti kepada Allah Swt. dalah “hanya pelengah waktu dan permainan”; suatu keadaan yang tidak berguna dan tidak bertujuan. Kehidupan yang padat tujuan ialah yang ditempuh demi mencapai tujuan agung serta mulia, dan untuk mengadakan persiapan guna kehidupan yang kekal abadi, yang untuk kehidupan itu  Allah Swt. telah menciptakan manusia.  
 Jadi,  sesuai dengan arti kata  dunia (dunya) -- yang asal dari kara danaa atau adna -- yang artinya dekat atau rendah, karena  dibandingkan dengan kehidupan akhirat – baik kehidupan  di alam barzakh mau pun pada Hari Kebangkitan – kehidupan dunia ini adalah yang paling rendah tingkatannya, karena itu kesenangannya pun tidak dapat menandingi kesenangan yang hakiki dan abadi kehidupan di alam akhirat, firman-Nya: 
قَدۡ  اَفۡلَحَ  مَنۡ  تَزَکّٰی ﴿ۙ۱۵   وَ ذَکَرَ اسۡمَ رَبِّہٖ فَصَلّٰی ﴿ؕ۱۶  بَلۡ  تُؤۡثِرُوۡنَ الۡحَیٰوۃَ  الدُّنۡیَا ﴿۫ۖ۱۷   وَ الۡاٰخِرَۃُ  خَیۡرٌ  وَّ اَبۡقٰی ﴿ؕ۱۸   اِنَّ ہٰذَا  لَفِی الصُّحُفِ الۡاُوۡلٰی ﴿ۙ۱۹   صُحُفِ اِبۡرٰہِیۡمَ وَ مُوۡسٰی ﴿٪۲۰
 Sungguh  berhasil orang yang mensucikan diri,    dan mengingat nama Tuhan-nya lalu mendirikan shalat.  Tetapi  kamu mendahulukan kehidupan dunia padahal akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.  Sesungguhnya inilah yang diajarkan dalam Kitab-kitab terdahulu,    Kitab-kitab Ibrahim dan Musa.  (Al-A’laa [87]:15-20). Lihat pul QS.93:5
 Karena asas-asas pokok mengenai setiap agama itu sama, maka ajaran yang tersebut dalam ayat-ayat yang mendahuluinya terdapat pula dalam Kitab-kitab suci Nabi Musa a.s.  dan Nabi Ibrahim a.s. Ayat ini dapat pula berarti bahwa nubuatan mengenai kemunculan seorang nabi besar, yang akan memberikan kepada dunia Amanat Ilahi terakhir serta memberikan ajaran yang paling sempurna, terdapat dalam Kitab-kitab suci Nabi Musa a.s.  dan Nabi Ibrahim a.s.  (Ulangan 18:18 -19 dan 33:2).

Sunnatullah dalam Perjalanan Ruhani

       Jadi, kembali kepada  peristiwa  Nabi Yusuf a.s. dan istri Potifar pada hakikatnya “kasus” tersebut merupakan bagian dari Sunnatullah dalam perjalanan ruhani seseorang dalam dunia keruhaian,  bahwa apabila seseorang  mendapat pertolongan dan karunia Allah Swt. dari kesusahan hidup  yang dideritanya  maka  akan muncul godaan atau rayuan syaitan yang sangat menarik,  yaitu berupa kesenangan hidup duniawi,  namun Nabi Yusuf a.s. sangat menyadari hal tersebut dan beliau tidak mau terbuai oleh bujuk-rayu istri Potifar yang cantik jelita, karena Nabi Yusuf a.s. ingat terus akan  mimpi  yang sangat menakjubkan, yang telah diceritakannya kepada ayah beliau, Nabi Ya’qub a.s.:
اِذۡ  قَالَ یُوۡسُفُ لِاَبِیۡہِ یٰۤاَبَتِ اِنِّیۡ  رَاَیۡتُ اَحَدَعَشَرَ کَوۡکَبًا وَّ الشَّمۡسَ وَ الۡقَمَرَ رَاَیۡتُہُمۡ  لِیۡ  سٰجِدِیۡنَ ﴿۵  قَالَ یٰبُنَیَّ  لَا تَقۡصُصۡ رُءۡیَاکَ عَلٰۤی اِخۡوَتِکَ فَیَکِیۡدُوۡا لَکَ کَیۡدًا ؕ اِنَّ الشَّیۡطٰنَ  لِلۡاِنۡسَانِ  عَدُوٌّ  مُّبِیۡنٌ ﴿۶  وَ کَذٰلِکَ یَجۡتَبِیۡکَ رَبُّکَ وَ یُعَلِّمُکَ مِنۡ تَاۡوِیۡلِ الۡاَحَادِیۡثِ وَ یُتِمُّ نِعۡمَتَہٗ عَلَیۡکَ وَ عَلٰۤی اٰلِ یَعۡقُوۡبَ کَمَاۤ  اَتَمَّہَا عَلٰۤی  اَبَوَیۡکَ  مِنۡ قَبۡلُ  اِبۡرٰہِیۡمَ وَ  اِسۡحٰقَ ؕ اِنَّ رَبَّکَ عَلِیۡمٌ  حَکِیۡمٌ ٪﴿۷

Ingatlah  ketika Yusuf  berka-ta kepada ayahnya: “Hai ayahku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi sebelas bintang, matahari dan bulan, aku melihat mereka bersujud kepada-ku.”  Ia, Ya’qub, berkata: “Hai anakku, janganlah engkau menceriterakan mimpi engkau itu kepada saudara-sau-dara engkau, karena mereka akan melakukan  tipu-daya buruk untuk memperdayakan engkau sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagi manusia.  Dan demikianlah Tuhan engkau akan memilih engkau dan  akan mengajar engkau  ta'wil mimpi-mimpi dan akan menyempurnakan nikmat-Nya atas engkau dan atas keturunan Ya’qub, seperti Dia telah menyempurnakannya atas kedua bapak engkau dahulu, Ibrahim dan Ishaq, sesung-uhnya Tuhan engkau Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.” (Yusuf [12]:5-7).
  
Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid

Tidak ada komentar:

Posting Komentar