Sabtu, 14 Januari 2012

Menjadi "Sarana" Kehendak Allah Swt. Melalui Baiat kepada Nabi Besar Muhammad Saw.


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


HUBUNGAN  NABI YUSUF A.S. 
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
  
Bagian   XXI

Tentang
     Menjadi "Sarana" Kehendak Allah Swt. Melalui  Baiat  kepada Nabi Besar Muhammad Saw. 
      
 Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma

 
اِنَّ اللّٰہَ اشۡتَرٰی مِنَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ اَنۡفُسَہُمۡ وَ اَمۡوَالَہُمۡ بِاَنَّ لَہُمُ الۡجَنَّۃَ ؕ یُقَاتِلُوۡنَ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ فَیَقۡتُلُوۡنَ وَ یُقۡتَلُوۡنَ ۟ وَعۡدًا عَلَیۡہِ حَقًّا فِی التَّوۡرٰىۃِ وَ الۡاِنۡجِیۡلِ وَ الۡقُرۡاٰنِ ؕ وَ مَنۡ اَوۡفٰی بِعَہۡدِہٖ مِنَ اللّٰہِ فَاسۡتَبۡشِرُوۡا بِبَیۡعِکُمُ الَّذِیۡ بَایَعۡتُمۡ بِہٖ ؕ وَ  ذٰلِکَ ہُوَ الۡفَوۡزُ  الۡعَظِیۡمُ ﴿۱۱۱   
Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang beriman jiwa mereka dan harta mereka bahwa  sesungguhnya mereka akan memperoleh ganjaran surga.  Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh dan  terbunuh, janji yang haq (benar) atas-Nya  dalam Taurat,  Injil  dan Al-Quran. Dan siapakah yang lebih menepati  janji-nya  daripada Allah? Maka bergembiralah kamu dengan jual-beli yang telah kamu lakukan dengan-Nya, dan itulah kemenangan yang besar. (Al-Taubah [9]:111).

Dalam Bab sebelumnya telah dikemukakan bahwa “godaan duniawi” – yang digambarkan sebagai “bujuk-rayu” istri Potifar terhadap Nabi Yusuf a.s. -- merupakan Sunnatullah yang pasti akan terjadi pada para  penempuh  jalan keruhanian  (suluk)   menuju perjumpaan dengan Allah Swt.. yang lazim disebut liqailLaah yakni “bertemu” dengan Allah Swt., yakni mereka akan mengalami kehidupan duniawi yang menyenangkan setelah sebelumnya mereka mengalami penderitaan hidup, sebagaimana yang dialami oleh Nabi Yusuf a.s.  oleh perlakuan kakak-kakak seayah beliau mendapat tempat tinggal yang baik  di rumah Potifar, seorang pejabat tinggi kerajaan Mesir, tetapi kemudian beliau harus mengalami rayuan  istri Potifar untuk berbuat tidak baik dengannya (QS.12:24-26). 
“Perpaduan” yang Paling Sempurna

      Contoh paling sempurna mengenai “perpaduan”  (liqa) dengan Allah Swt. tersebut adalah apa yang telah diraih  oleh Nabi Besar Muhammad saw.. Berikut adalah beberapa firman Allah Swt.  mengenai hal itu:
اِنَّ  الَّذِیۡنَ یُبَایِعُوۡنَکَ  اِنَّمَا یُبَایِعُوۡنَ اللّٰہَ ؕ یَدُ اللّٰہِ  فَوۡقَ  اَیۡدِیۡہِمۡ ۚ فَمَنۡ  نَّکَثَ فَاِنَّمَا یَنۡکُثُ عَلٰی نَفۡسِہٖ ۚ وَ مَنۡ  اَوۡفٰی بِمَا عٰہَدَ عَلَیۡہُ اللّٰہَ  فَسَیُؤۡتِیۡہِ  اَجۡرًا عَظِیۡمًا ﴿٪۱۱
Sesungguhnya orang-orang yang baiat kepada engkau  sebenarnya mereka baiat kepada  Allah. Tangan Allah ada di atas tangan mereka, maka barangsiapa melanggar janjinya maka ia melanggar janji atas  dirinya sendiri, dan barangsiapa memenuhi apa yang telah  dia  janjikan kepada Allah maka Dia segera akan memberinya ganjaran yang besar. (Al-Fath [48]:11).
     Jadi, menurut Allah Swt. betapa pentingnya beriman dan bai’at kepada Nabi Besar Muhammad saw.,  makna bai’at   artinya adalah melakukan  jual-beli  dengan Allah Swt., yakni manusia  “menjual” dirinya  serta apa pun  yang dimilikinya  berupa kepatuhan sempurna terhadap kehendak Allah Swt. – yang dituangkan berupa hukum-hukum syariat Islam (Al-Quran) sebagaimana yang difahami,  diajarkan dan diamalkan (disunnahkan) oleh Nabi Besar Muhammad saw. (QS.3:32; QS.59:8) – sebagaimana firman-Nya:
اِنَّ اللّٰہَ اشۡتَرٰی مِنَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ اَنۡفُسَہُمۡ وَ اَمۡوَالَہُمۡ بِاَنَّ لَہُمُ الۡجَنَّۃَ ؕ یُقَاتِلُوۡنَ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ فَیَقۡتُلُوۡنَ وَ یُقۡتَلُوۡنَ ۟ وَعۡدًا عَلَیۡہِ حَقًّا فِی التَّوۡرٰىۃِ وَ الۡاِنۡجِیۡلِ وَ الۡقُرۡاٰنِ ؕ وَ مَنۡ اَوۡفٰی بِعَہۡدِہٖ مِنَ اللّٰہِ فَاسۡتَبۡشِرُوۡا بِبَیۡعِکُمُ الَّذِیۡ بَایَعۡتُمۡ بِہٖ ؕ وَ  ذٰلِکَ ہُوَ الۡفَوۡزُ  الۡعَظِیۡمُ     ﴿۱۱۱   
Sesungguhnya   Allah telah membeli dari orang-orang beriman jiwa mereka dan harta mereka bahwa  sesungguhnya mereka akan memperoleh ganjaran surga.  Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh dan  terbunuh, janji yang haq (benar) atas-Nya  dalam TauratInjil  dan Al-Quran. Dan siapakah yang lebih menepati  janji-nya  daripada Allah? Maka bergembiralah kamu dengan jual-beli yang telah kamu lakukan dengan-Nya, dan itulah kemenangan yang besar. (Al-Taubah [9]:111).
Kalimat “janji yang haq (benar) atas-Nya  dalam TauratInjil  dan Al-Quran”  lihat  Taurat (Ulangan 6:3-5) dan Injil (Matius 19:21 dan 27-29).

Berperang Membela Diri & Membela yang Dizalimi

      Sehubungan dengan kalimat “Mereka berperang pada jalan Allah“,   dalam Surah Al-Quran lain Allah Swt. berfirman:
فَلۡیُقَاتِلۡ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ الَّذِیۡنَ یَشۡرُوۡنَ الۡحَیٰوۃَ الدُّنۡیَا بِالۡاٰخِرَۃِ ؕ وَ مَنۡ یُّقَاتِلۡ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ فَیُقۡتَلۡ اَوۡ یَغۡلِبۡ فَسَوۡفَ نُؤۡتِیۡہِ اَجۡرًا عَظِیۡمًا ﴿۷۵   وَ مَا لَکُمۡ لَا تُقَاتِلُوۡنَ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ وَ الۡمُسۡتَضۡعَفِیۡنَ مِنَ الرِّجَالِ وَ النِّسَآءِ وَ الۡوِلۡدَانِ الَّذِیۡنَ یَقُوۡلُوۡنَ رَبَّنَاۤ اَخۡرِجۡنَا مِنۡ ہٰذِہِ الۡقَرۡیَۃِ الظَّالِمِ اَہۡلُہَا ۚ وَ اجۡعَلۡ لَّنَا مِنۡ لَّدُنۡکَ وَلِیًّا ۚۙ وَّ اجۡعَلۡ لَّنَا مِنۡ لَّدُنۡکَ نَصِیۡرًا ﴿ؕ۷۶   اَلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا یُقَاتِلُوۡنَ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ ۚ وَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا یُقَاتِلُوۡنَ فِیۡ سَبِیۡلِ الطَّاغُوۡتِ فَقَاتِلُوۡۤا اَوۡلِیَآءَ الشَّیۡطٰنِ ۚ اِنَّ کَیۡدَ الشَّیۡطٰنِ کَانَ ضَعِیۡفًا ﴿٪۷۷
Maka hendaklah mereka yaitu  orang-orang yang menukar kehidupan dunia dengan akhirat berperang di jalan Allah, dan barangsiapa berperang di jalan Allah, lalu ia terbunuh atau ia memperoleh kemenangan, maka Kami segera akan memberinya ganjaran yang besar.   Dan mengapakah kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan membela  orang-orang lemah,  laki-laki, perempuan-perempuan dan anak-anak, yang mengatakan: “Wahai Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri  ini yang penduduknya kejam  dan jadikanlah bagi kami   pelindung dari sisi Engkau, dan jadikanlah bagi kami   penolong dari sisi Engkau.”    Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, sedangkan orang-orang  kafir  berperang di jalan thaghut (syaitan) maka perangilah oleh kamu kawan-kawan syaitan, sesungguhnya tipu daya syaitan itu senantiasa lemah. (Al-Nisaa [4]:75-77).
     Ayat 76 merupakan satu bukti yang jelas bahwa orang-orang Muslim tidak pernah mengawali permusuhan (peperangan). Mereka hanya berperang membela diri demi melindungi agama mereka (QS.22:40-41), dan menolong para ikhwan (saudara-saudara ruhani) mereka yang lebih lemah.  Dan  yang dimaksud dengan “orang-orang yang lemah” dijelaskan dalam   firman-Nya berikut ini:

  اِنَّ الَّذِیۡنَ تَوَفّٰہُمُ الۡمَلٰٓئِکَۃُ ظَالِمِیۡۤ اَنۡفُسِہِمۡ قَالُوۡا فِیۡمَ کُنۡتُمۡ ؕ قَالُوۡا کُنَّا مُسۡتَضۡعَفِیۡنَ فِی الۡاَرۡضِ ؕ قَالُوۡۤا اَلَمۡ تَکُنۡ اَرۡضُ اللّٰہِ وَاسِعَۃً فَتُہَاجِرُوۡا فِیۡہَا ؕ فَاُولٰٓئِکَ مَاۡوٰىہُمۡ جَہَنَّمُ ؕ وَ سَآءَتۡ مَصِیۡرًا ﴿ۙ۹۸  اِلَّا الۡمُسۡتَضۡعَفِیۡنَ مِنَ الرِّجَالِ وَ النِّسَآءِ وَ الۡوِلۡدَانِ لَا یَسۡتَطِیۡعُوۡنَ حِیۡلَۃً  وَّ لَا  یَہۡتَدُوۡنَ سَبِیۡلًا ﴿ۙ۹۹   فَاُولٰٓئِکَ عَسَی اللّٰہُ اَنۡ یَّعۡفُوَ عَنۡہُمۡ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ عَفُوًّا غَفُوۡرًا ﴿۱۰۰ وَ مَنۡ یُّہَاجِرۡ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ یَجِدۡ فِی الۡاَرۡضِ مُرٰغَمًا کَثِیۡرًا وَّ سَعَۃً ؕ وَ مَنۡ یَّخۡرُجۡ مِنۡۢ بَیۡتِہٖ مُہَاجِرًا  اِلَی اللّٰہِ وَ رَسُوۡلِہٖ ثُمَّ  یُدۡرِکۡہُ الۡمَوۡتُ فَقَدۡ وَقَعَ اَجۡرُہٗ عَلَی اللّٰہِ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ غَفُوۡرًا رَّحِیۡمًا ﴿۱۰۱﴾٪
Sesungguhnya  orang-orang yang  para malaikat mewafatkan mereka dalam keadaan zalim terhadap dirinya, mereka yakni  para malaikat berkata:  “Bagaimana keadaan kamu dahulu?” Mereka menjawab: “Kami dahulu dipandang lemah di muka bumi.”  Mereka yakni para malaikat berkata:Tidakkah bumi Allah itu luas untuk kamu berhijrah di dalamnya?”  Maka mereka inilah yang tempat tinggalnya Jahannam dan sangat buruk tempat kembali itu  Kecuali  orang-orang lemah di antara laki-laki, perempuan  dan anak-anak yang tidak mampu berupaya dan tidak pula mendapatkan suatu jalan  untuk hijrah,  maka  mengenai  mereka ini boleh jadi Allah akan memaafkan mereka, dan Allah benar-benar Maha Pemaaf, Maha Pengampun.    Dan barangsiapa  hijrah di jalan Allah pasti akan memperoleh banyak tempat perlindungan dan kelapangan  di muka bumi. Dan barang-siapa keluar dari rumahnya dengan maksud  hijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian  kematian  mencapainya maka sungguh  telah tersedia ganjarannya pada Allah, dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Al-Nisaa [4]:98-101).

Mukjizat Melakukan Baiat kepada Allah Swt.

       Mengenai kalimat “dan barangsiapa berperang di jalan Allah, lalu ia  terbunuh atau ia memperoleh kemenangan“ (QS.4:75-77) sebelum ini,  dalam Surah lainnya Allah Swt. berfirman  mengenai terjadinya liqa (perpaduan) dalam tindakan antara  manusia dengan   Allah Swt., berikut firman-Nya mengenai perang Badar: 
فَلَمۡ تَقۡتُلُوۡہُمۡ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ  قَتَلَہُمۡ ۪ وَ مَا رَمَیۡتَ اِذۡ رَمَیۡتَ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ رَمٰی ۚ وَ لِیُبۡلِیَ  الۡمُؤۡمِنِیۡنَ  مِنۡہُ  بَلَآءً  حَسَنًا ؕ اِنَّ اللّٰہَ  سَمِیۡعٌ  عَلِیۡمٌ ﴿۱۷  ذٰلِکُمۡ وَ اَنَّ اللّٰہَ  مُوۡہِنُ کَیۡدِ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿۱۸
Maka bukan  kamu yang membunuh mereka melainkan Allah yang telah membunuh mereka, dan bukan engkau yang melemparkan pasir ketika engkau melempar, melainkan Allah-lah yang telah melempar,  dan supaya Dia  menganugerahi orang-orang yang beriman  anugerah yang baik dari-Nya,  sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui. Demikianlah yang terjadi, dan sesungguhnya Allah melemahkan tipu-daya orang-orang kafir.  (Al-Anfaal [8]:18-19).  
      Kemenangan umat Islam dalam Perang Badar itu sebenarnya bukan disebabkan oleh suatu kecakapan atau kemahiran pihak orang-orang Islam, karena dalam kenyataannya mereka terlalu sedikit, terlalu lemah, dan terlalu buruk persenjataan mereka untuk memperoleh kemenangan terhadap  lasykar kaum kafir Quraisy Makkah, yang jauh lebih besar jumlahnya, jauh lebih baik persenjataannya, lagi pula jauh lebih terlatih. Perlemparan segenggam kerikil dan pasir oleh Nabi Besar Muhammad saw. mempunyai kesamaan yang ajaib dengan pemukulan air laut dengan tongkat oleh Nabi Musa a.s.. .
     Sebagaimana dalam   perbuatan Nabi Musa a.s. memukulkan tongkatnya ke air laut  seolah-olah merupakan isyarat bagi angin untuk bertiup dan bagi air-pasang naik kembali sehingga membawa akibat tenggelamnya Fir’aun serta lasykarnya di laut, demikian pula halnya pelemparan segenggam kerikil oleh Nabi Besar Muhammad saw.  merupakan satu isyarat untuk angin bertiup kencang dengan membawa akibat kebinasaan Abu Jahal  -- yang pernah disebut oleh Nabi Besar Muhammad saw..   sebagai Fir’aun kaumnya --  dan lasykarnya di padang pasir itu. Dalam kedua kejadian tersebut bekerjanya kekuatan-kekuatan alam itu, bertepatan benar dengan tindakan-tindakan kedua nabi Allah itu, di bawah takdir khas Allah Swt..

Menjadi “Sarana” Kehendak Allah Swt.

      Jadi, betapa menakjubkannya pengaruh  yang ditimbulkan bai’at yang dilakukan dengan sempurna oleh orang-orang beriman kepada Allah Swt. melalui “tangan” Nabi Besar Muhammad saw.,   bahwa orang-orang beriman pun  -- sebagaimana halnya Nabi Besar Muhammad saw. --  mereka pun dijadikan sarana (alat) oleh  Allah Swt. untuk mengazab (menghukum) orang-orang kafir: “Maka bukan  kamu yang membunuh mereka melainkan Allah yang telah membunuh mereka,“ sehubungan dengan hal itu Allah Swt. berfirman  lagi:
 قُلۡ لَّنۡ یُّصِیۡبَنَاۤ اِلَّا مَا کَتَبَ اللّٰہُ  لَنَا ۚ ہُوَ مَوۡلٰىنَا ۚ وَ عَلَی اللّٰہِ  فَلۡیَتَوَکَّلِ  الۡمُؤۡمِنُوۡنَ ﴿۵۱   قُلۡ ہَلۡ تَرَبَّصُوۡنَ بِنَاۤ اِلَّاۤ اِحۡدَی الۡحُسۡنَیَیۡنِ ؕ وَ نَحۡنُ نَتَرَبَّصُ بِکُمۡ  اَنۡ یُّصِیۡبَکُمُ اللّٰہُ بِعَذَابٍ مِّنۡ عِنۡدِہٖۤ  اَوۡ بِاَیۡدِیۡنَا ۫ۖ فَتَرَبَّصُوۡۤا اِنَّا مَعَکُمۡ مُّتَرَبِّصُوۡنَ ﴿۵۲
Katakanlah: “Tidak akan pernah menimpa diri kami kecuali apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dia-lah Pelindung kami, dan   kepada Allah-lah orang-orang beriman  bertawakal.”   Katakanlah: “Tidak ada  yang kamu tunggu-tunggu untuk kami kecuali salah satu dari dua kebaikan,  dan kami pun menunggu-nunggu  untukmu agar  Allah menimpakan siksaan kepadamu  langsung dari sisi-Nya,  atau dengan perantaraan tangan kami, maka  tunggulah sesungguhnya kami pun besertamu   termasuk orang-orang yang menunggu-nunggu.” (Al-Taubah [9]:51-52).
       Dengan demikian jelaslah, bahwa dalam hal  berperang di jalan Allah Swt;, hanya ada satu kemungkinan atau satu pilihan bagi seorang Muslim sejati dalam  perjuangan menegakkan Tauhid Ilahi yaitu: mati syahid di medan perang atau memperoleh kemenangan. Tidak ada pilihan lain baginya.
    Jadi, kembali kepada masalah baiat atau “jual-beli” dengan Allah Swt. dalam QS.9:111, selanjutnya Allah Swt. berfirman  mengenai  tanda-tanda bahwa  baiat  (jual-beli) yang dilakukan orang-orang yang beriman kepada Allah Swt. -- melalui tangan Nabi Besar Muhammad saw.  (QS.48:11) -- tersebut  memberikan hasilnya yang baik, hal tersebut  dijelaskan  oleh ayat selanjutnya:
اَلتَّآئِبُوۡنَ الۡعٰبِدُوۡنَ الۡحٰمِدُوۡنَ السَّآئِحُوۡنَ الرّٰکِعُوۡنَ السّٰجِدُوۡنَ الۡاٰمِرُوۡنَ بِالۡمَعۡرُوۡفِ وَ النَّاہُوۡنَ عَنِ الۡمُنۡکَرِ وَ الۡحٰفِظُوۡنَ لِحُدُوۡدِ اللّٰہِ ؕ وَ بَشِّرِ  الۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿۱۱۲  
Yaitu orang-orang yang  taubat,   yang  ibadah, yang memuji Allah, yang bepergian pada jalan Allah, yang rukuk, yang sujud,  yang menyuruh terhadap kebaikan, melarang keburukan dan yang menjaga batas-batas yang ditetapkan Allah. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman. (Al-Taubah [9]:111-112).

(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid

Tidak ada komentar:

Posting Komentar