بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
HUBUNGAN NABI YUSUF A.S.
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
Bagian XXI
Tentang
Menjadi "Sarana" Kehendak Allah Swt. Melalui Baiat kepada Nabi Besar Muhammad Saw.
Oleh
Ki Langlang
Buana Kusuma
اِنَّ
اللّٰہَ اشۡتَرٰی مِنَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ اَنۡفُسَہُمۡ وَ اَمۡوَالَہُمۡ بِاَنَّ
لَہُمُ الۡجَنَّۃَ ؕ یُقَاتِلُوۡنَ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ فَیَقۡتُلُوۡنَ وَ
یُقۡتَلُوۡنَ ۟ وَعۡدًا عَلَیۡہِ حَقًّا فِی التَّوۡرٰىۃِ وَ الۡاِنۡجِیۡلِ وَ
الۡقُرۡاٰنِ ؕ وَ مَنۡ اَوۡفٰی بِعَہۡدِہٖ مِنَ اللّٰہِ فَاسۡتَبۡشِرُوۡا
بِبَیۡعِکُمُ الَّذِیۡ بَایَعۡتُمۡ بِہٖ ؕ وَ
ذٰلِکَ ہُوَ الۡفَوۡزُ الۡعَظِیۡمُ
﴿۱۱۱﴾
Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang
beriman jiwa mereka dan harta mereka bahwa
sesungguhnya mereka akan memperoleh ganjaran surga. Mereka berperang pada jalan Allah,
lalu mereka membunuh dan terbunuh, janji
yang haq (benar) atas-Nya dalam
Taurat, Injil dan Al-Quran. Dan siapakah yang lebih
menepati janji-nya daripada Allah? Maka bergembiralah kamu
dengan jual-beli yang telah kamu lakukan dengan-Nya, dan itulah kemenangan yang
besar. (Al-Taubah [9]:111).
Dalam Bab sebelumnya telah dikemukakan bahwa “godaan duniawi” –
yang digambarkan sebagai “bujuk-rayu” istri Potifar terhadap Nabi Yusuf a.s.
-- merupakan Sunnatullah yang pasti akan terjadi pada para penempuh jalan keruhanian (suluk) menuju perjumpaan dengan Allah Swt.. yang lazim disebut liqailLaah
yakni “bertemu” dengan Allah Swt., yakni mereka akan mengalami kehidupan duniawi yang menyenangkan setelah sebelumnya mereka mengalami penderitaan hidup, sebagaimana yang dialami oleh Nabi Yusuf a.s. oleh perlakuan kakak-kakak seayah beliau mendapat tempat tinggal yang baik di rumah Potifar, seorang pejabat tinggi kerajaan Mesir, tetapi kemudian beliau harus mengalami rayuan istri Potifar untuk berbuat tidak baik dengannya (QS.12:24-26).
“Perpaduan” yang Paling Sempurna
Contoh paling sempurna
mengenai “perpaduan” (liqa) dengan Allah
Swt. tersebut adalah apa yang telah diraih oleh Nabi Besar
Muhammad saw.. Berikut adalah beberapa firman Allah Swt. mengenai hal itu:
اِنَّ الَّذِیۡنَ یُبَایِعُوۡنَکَ اِنَّمَا یُبَایِعُوۡنَ اللّٰہَ ؕ یَدُ
اللّٰہِ فَوۡقَ اَیۡدِیۡہِمۡ ۚ فَمَنۡ نَّکَثَ فَاِنَّمَا یَنۡکُثُ عَلٰی نَفۡسِہٖ ۚ
وَ مَنۡ اَوۡفٰی بِمَا عٰہَدَ عَلَیۡہُ
اللّٰہَ فَسَیُؤۡتِیۡہِ اَجۡرًا عَظِیۡمًا ﴿٪۱۱﴾
Sesungguhnya
orang-orang yang baiat kepada engkau sebenarnya mereka baiat kepada Allah. Tangan Allah ada di atas tangan
mereka, maka barangsiapa melanggar janjinya maka ia melanggar janji
atas dirinya sendiri, dan barangsiapa
memenuhi apa yang telah dia janjikan kepada Allah maka Dia segera
akan memberinya ganjaran yang besar. (Al-Fath [48]:11).
Jadi,
menurut Allah Swt. betapa pentingnya beriman dan bai’at kepada
Nabi Besar Muhammad saw., makna bai’at artinya adalah melakukan jual-beli dengan Allah Swt., yakni manusia “menjual” dirinya serta apa pun
yang dimilikinya berupa kepatuhan
sempurna terhadap kehendak Allah Swt. – yang dituangkan
berupa hukum-hukum syariat Islam (Al-Quran) sebagaimana yang difahami, diajarkan dan diamalkan (disunnahkan)
oleh Nabi Besar Muhammad saw. (QS.3:32; QS.59:8) – sebagaimana
firman-Nya:
اِنَّ
اللّٰہَ اشۡتَرٰی مِنَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ اَنۡفُسَہُمۡ وَ اَمۡوَالَہُمۡ بِاَنَّ
لَہُمُ الۡجَنَّۃَ ؕ یُقَاتِلُوۡنَ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ فَیَقۡتُلُوۡنَ وَ
یُقۡتَلُوۡنَ ۟ وَعۡدًا عَلَیۡہِ حَقًّا فِی التَّوۡرٰىۃِ وَ الۡاِنۡجِیۡلِ وَ
الۡقُرۡاٰنِ ؕ وَ مَنۡ اَوۡفٰی بِعَہۡدِہٖ مِنَ اللّٰہِ فَاسۡتَبۡشِرُوۡا
بِبَیۡعِکُمُ الَّذِیۡ بَایَعۡتُمۡ بِہٖ ؕ وَ
ذٰلِکَ ہُوَ الۡفَوۡزُ الۡعَظِیۡمُ
﴿۱۱۱﴾
Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang
beriman jiwa mereka dan harta mereka bahwa
sesungguhnya mereka akan memperoleh ganjaran surga. Mereka berperang pada jalan Allah,
lalu mereka membunuh dan terbunuh,
janji yang haq (benar) atas-Nya
dalam Taurat, Injil
dan Al-Quran. Dan siapakah
yang lebih menepati janji-nya daripada Allah? Maka bergembiralah
kamu dengan jual-beli yang telah kamu lakukan dengan-Nya, dan itulah kemenangan
yang besar. (Al-Taubah [9]:111).
Kalimat “janji yang haq
(benar) atas-Nya dalam Taurat, Injil dan Al-Quran” lihat Taurat (Ulangan 6:3-5)
dan Injil (Matius 19:21 dan 27-29).
Berperang Membela Diri & Membela yang Dizalimi
Sehubungan dengan kalimat “Mereka berperang
pada jalan Allah“, dalam Surah
Al-Quran lain Allah Swt. berfirman:
فَلۡیُقَاتِلۡ
فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ الَّذِیۡنَ یَشۡرُوۡنَ الۡحَیٰوۃَ الدُّنۡیَا بِالۡاٰخِرَۃِ
ؕ وَ مَنۡ یُّقَاتِلۡ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ فَیُقۡتَلۡ اَوۡ یَغۡلِبۡ فَسَوۡفَ
نُؤۡتِیۡہِ اَجۡرًا عَظِیۡمًا ﴿۷۵﴾ وَ مَا لَکُمۡ لَا تُقَاتِلُوۡنَ فِیۡ سَبِیۡلِ
اللّٰہِ وَ الۡمُسۡتَضۡعَفِیۡنَ مِنَ الرِّجَالِ وَ النِّسَآءِ وَ الۡوِلۡدَانِ
الَّذِیۡنَ یَقُوۡلُوۡنَ رَبَّنَاۤ اَخۡرِجۡنَا مِنۡ ہٰذِہِ الۡقَرۡیَۃِ
الظَّالِمِ اَہۡلُہَا ۚ وَ اجۡعَلۡ لَّنَا مِنۡ لَّدُنۡکَ وَلِیًّا ۚۙ وَّ اجۡعَلۡ
لَّنَا مِنۡ لَّدُنۡکَ نَصِیۡرًا ﴿ؕ۷۶﴾ اَلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا یُقَاتِلُوۡنَ فِیۡ سَبِیۡلِ
اللّٰہِ ۚ وَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا یُقَاتِلُوۡنَ فِیۡ سَبِیۡلِ الطَّاغُوۡتِ
فَقَاتِلُوۡۤا اَوۡلِیَآءَ الشَّیۡطٰنِ ۚ اِنَّ کَیۡدَ الشَّیۡطٰنِ کَانَ
ضَعِیۡفًا ﴿٪۷۷﴾
Maka hendaklah mereka yaitu orang-orang yang menukar
kehidupan dunia dengan akhirat berperang di jalan Allah, dan barangsiapa
berperang di jalan Allah, lalu ia terbunuh atau ia
memperoleh kemenangan, maka Kami segera akan memberinya ganjaran yang
besar. Dan mengapakah kamu tidak
mau berperang di jalan Allah dan membela orang-orang lemah, laki-laki, perempuan-perempuan dan anak-anak,
yang mengatakan: “Wahai Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini yang penduduknya kejam dan jadikanlah bagi kami pelindung dari sisi Engkau, dan jadikanlah
bagi kami penolong dari sisi Engkau.” Orang-orang yang beriman berperang di jalan
Allah, sedangkan orang-orang kafir berperang di jalan thaghut (syaitan) maka
perangilah oleh kamu kawan-kawan syaitan, sesungguhnya tipu
daya syaitan itu senantiasa lemah. (Al-Nisaa [4]:75-77).
Ayat 76
merupakan satu bukti yang jelas bahwa orang-orang Muslim tidak pernah
mengawali permusuhan (peperangan). Mereka hanya berperang membela diri
demi melindungi agama mereka (QS.22:40-41), dan menolong para ikhwan (saudara-saudara
ruhani) mereka yang lebih lemah. Dan yang dimaksud dengan “orang-orang yang
lemah” dijelaskan dalam firman-Nya berikut ini:
اِنَّ الَّذِیۡنَ
تَوَفّٰہُمُ الۡمَلٰٓئِکَۃُ ظَالِمِیۡۤ اَنۡفُسِہِمۡ قَالُوۡا فِیۡمَ کُنۡتُمۡ ؕ
قَالُوۡا کُنَّا مُسۡتَضۡعَفِیۡنَ فِی الۡاَرۡضِ ؕ قَالُوۡۤا اَلَمۡ تَکُنۡ اَرۡضُ
اللّٰہِ وَاسِعَۃً فَتُہَاجِرُوۡا فِیۡہَا ؕ فَاُولٰٓئِکَ مَاۡوٰىہُمۡ جَہَنَّمُ ؕ
وَ سَآءَتۡ مَصِیۡرًا ﴿ۙ۹۸﴾ اِلَّا الۡمُسۡتَضۡعَفِیۡنَ مِنَ
الرِّجَالِ وَ النِّسَآءِ وَ الۡوِلۡدَانِ لَا یَسۡتَطِیۡعُوۡنَ حِیۡلَۃً وَّ لَا
یَہۡتَدُوۡنَ سَبِیۡلًا ﴿ۙ۹۹﴾ فَاُولٰٓئِکَ عَسَی اللّٰہُ اَنۡ یَّعۡفُوَ عَنۡہُمۡ ؕ وَ
کَانَ اللّٰہُ عَفُوًّا غَفُوۡرًا ﴿۱۰۰﴾ وَ مَنۡ یُّہَاجِرۡ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ یَجِدۡ فِی
الۡاَرۡضِ مُرٰغَمًا کَثِیۡرًا وَّ سَعَۃً ؕ وَ مَنۡ یَّخۡرُجۡ مِنۡۢ بَیۡتِہٖ
مُہَاجِرًا اِلَی اللّٰہِ وَ رَسُوۡلِہٖ
ثُمَّ یُدۡرِکۡہُ الۡمَوۡتُ فَقَدۡ وَقَعَ
اَجۡرُہٗ عَلَی اللّٰہِ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ غَفُوۡرًا رَّحِیۡمًا ﴿۱۰۱﴾٪
Sesungguhnya orang-orang
yang para malaikat mewafatkan mereka
dalam keadaan zalim terhadap dirinya, mereka yakni para malaikat berkata: “Bagaimana keadaan kamu dahulu?” Mereka
menjawab: “Kami dahulu dipandang lemah di muka bumi.” Mereka yakni para malaikat berkata:
“Tidakkah bumi Allah itu luas untuk kamu berhijrah di dalamnya?” Maka mereka inilah yang tempat tinggalnya
Jahannam dan sangat buruk tempat kembali itu Kecuali orang-orang lemah di antara
laki-laki, perempuan dan anak-anak yang
tidak mampu berupaya dan tidak pula mendapatkan suatu jalan untuk hijrah, maka mengenai mereka ini boleh jadi Allah akan memaafkan
mereka, dan Allah benar-benar Maha Pemaaf, Maha Pengampun. Dan barangsiapa hijrah di jalan Allah pasti akan
memperoleh banyak tempat perlindungan dan kelapangan di muka bumi. Dan barang-siapa keluar
dari rumahnya dengan maksud hijrah
kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian
kematian mencapainya maka
sungguh telah tersedia ganjarannya
pada Allah, dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Al-Nisaa
[4]:98-101).
Mukjizat Melakukan Baiat kepada Allah Swt.
Mengenai kalimat “dan
barangsiapa berperang di jalan Allah, lalu ia terbunuh atau ia memperoleh
kemenangan“ (QS.4:75-77) sebelum ini, dalam Surah lainnya Allah Swt. berfirman mengenai terjadinya liqa (perpaduan) dalam tindakan antara manusia dengan Allah Swt., berikut firman-Nya mengenai perang Badar:
فَلَمۡ
تَقۡتُلُوۡہُمۡ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ
قَتَلَہُمۡ ۪ وَ مَا رَمَیۡتَ اِذۡ رَمَیۡتَ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ رَمٰی ۚ وَ
لِیُبۡلِیَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ مِنۡہُ
بَلَآءً حَسَنًا ؕ اِنَّ اللّٰہَ سَمِیۡعٌ
عَلِیۡمٌ ﴿۱۷﴾ ذٰلِکُمۡ وَ اَنَّ اللّٰہَ مُوۡہِنُ کَیۡدِ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿۱۸﴾
Maka bukan kamu yang
membunuh mereka melainkan Allah yang telah membunuh mereka, dan bukan
engkau yang melemparkan pasir ketika engkau melempar,
melainkan Allah-lah yang telah melempar, dan supaya Dia menganugerahi orang-orang yang beriman anugerah yang baik dari-Nya, sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha
Mengetahui. Demikianlah yang terjadi, dan sesungguhnya Allah
melemahkan tipu-daya orang-orang kafir. (Al-Anfaal [8]:18-19).
Kemenangan umat Islam
dalam Perang Badar itu sebenarnya bukan disebabkan oleh suatu kecakapan
atau kemahiran pihak orang-orang Islam, karena dalam kenyataannya
mereka terlalu sedikit, terlalu lemah, dan terlalu buruk persenjataan mereka
untuk memperoleh kemenangan terhadap lasykar kaum kafir Quraisy Makkah, yang
jauh lebih besar jumlahnya, jauh lebih baik persenjataannya, lagi pula jauh
lebih terlatih. Perlemparan segenggam kerikil dan pasir oleh Nabi
Besar Muhammad saw. mempunyai kesamaan yang ajaib dengan pemukulan air laut
dengan tongkat oleh Nabi Musa a.s.. .
Sebagaimana
dalam perbuatan Nabi Musa a.s. memukulkan tongkatnya
ke air laut seolah-olah merupakan isyarat bagi angin
untuk bertiup dan bagi air-pasang naik kembali sehingga membawa akibat tenggelamnya
Fir’aun serta lasykarnya di laut, demikian pula halnya pelemparan
segenggam kerikil oleh Nabi Besar Muhammad saw. merupakan satu isyarat untuk angin
bertiup kencang dengan membawa akibat kebinasaan Abu Jahal -- yang pernah disebut oleh Nabi Besar
Muhammad saw.. sebagai
Fir’aun kaumnya -- dan lasykarnya di
padang pasir itu. Dalam kedua kejadian tersebut bekerjanya kekuatan-kekuatan
alam itu, bertepatan benar dengan tindakan-tindakan kedua nabi Allah
itu, di bawah takdir khas Allah Swt..
Menjadi “Sarana” Kehendak Allah Swt.
Jadi,
betapa menakjubkannya pengaruh
yang ditimbulkan bai’at yang dilakukan dengan sempurna oleh
orang-orang beriman kepada Allah Swt. melalui “tangan” Nabi Besar Muhammad
saw., bahwa orang-orang beriman pun -- sebagaimana halnya Nabi Besar Muhammad saw.
-- mereka pun dijadikan sarana
(alat) oleh Allah Swt. untuk mengazab
(menghukum) orang-orang kafir: “Maka bukan
kamu yang membunuh mereka melainkan Allah yang telah membunuh
mereka,“ sehubungan dengan hal itu Allah Swt. berfirman lagi:
قُلۡ لَّنۡ یُّصِیۡبَنَاۤ اِلَّا مَا کَتَبَ اللّٰہُ لَنَا ۚ ہُوَ مَوۡلٰىنَا ۚ وَ عَلَی اللّٰہِ فَلۡیَتَوَکَّلِ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ ﴿۵۱﴾ قُلۡ ہَلۡ تَرَبَّصُوۡنَ بِنَاۤ اِلَّاۤ اِحۡدَی الۡحُسۡنَیَیۡنِ ؕ وَ نَحۡنُ
نَتَرَبَّصُ بِکُمۡ اَنۡ یُّصِیۡبَکُمُ اللّٰہُ
بِعَذَابٍ مِّنۡ عِنۡدِہٖۤ اَوۡ بِاَیۡدِیۡنَا ۫ۖ فَتَرَبَّصُوۡۤا اِنَّا مَعَکُمۡ مُّتَرَبِّصُوۡنَ ﴿۵۲﴾
Katakanlah: “Tidak akan pernah menimpa diri kami kecuali apa
yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dia-lah Pelindung kami,
dan kepada Allah-lah orang-orang
beriman bertawakal.” Katakanlah: “Tidak ada yang kamu tunggu-tunggu untuk kami
kecuali salah satu dari dua kebaikan, dan kami pun menunggu-nunggu untukmu agar Allah menimpakan siksaan kepadamu langsung dari sisi-Nya, atau dengan perantaraan tangan
kami, maka tunggulah
sesungguhnya kami pun besertamu termasuk orang-orang yang menunggu-nunggu.”
(Al-Taubah [9]:51-52).
Dengan demikian jelaslah, bahwa dalam hal berperang di jalan Allah Swt;, hanya ada satu
kemungkinan atau satu pilihan bagi seorang Muslim sejati dalam perjuangan menegakkan Tauhid Ilahi
yaitu: mati syahid di medan perang atau memperoleh kemenangan. Tidak ada
pilihan lain baginya.
Jadi, kembali kepada masalah baiat atau “jual-beli”
dengan Allah Swt. dalam QS.9:111, selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai
tanda-tanda bahwa baiat (jual-beli) yang dilakukan orang-orang yang
beriman kepada Allah Swt. -- melalui tangan Nabi Besar Muhammad saw. (QS.48:11) -- tersebut memberikan hasilnya yang baik, hal tersebut
dijelaskan oleh ayat selanjutnya:
اَلتَّآئِبُوۡنَ
الۡعٰبِدُوۡنَ الۡحٰمِدُوۡنَ السَّآئِحُوۡنَ الرّٰکِعُوۡنَ السّٰجِدُوۡنَ
الۡاٰمِرُوۡنَ بِالۡمَعۡرُوۡفِ وَ النَّاہُوۡنَ عَنِ الۡمُنۡکَرِ وَ الۡحٰفِظُوۡنَ
لِحُدُوۡدِ اللّٰہِ ؕ وَ بَشِّرِ
الۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿۱۱۲﴾
Yaitu orang-orang yang taubat, yang
ibadah, yang memuji Allah,
yang bepergian pada jalan Allah, yang rukuk, yang sujud,
yang menyuruh
terhadap kebaikan, melarang keburukan dan yang menjaga
batas-batas yang ditetapkan Allah. Dan sampaikanlah kabar gembira
kepada orang-orang yang beriman. (Al-Taubah [9]:111-112).
(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid
Tidak ada komentar:
Posting Komentar