بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
HUBUNGAN NABI YUSUF A.S.
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
Bagian XXII
Tentang
Ki Langlang
Buana Kusuma
Hakikat "Turunnya Para Malaikat"
Oleh
اِنَّ الَّذِیۡنَ قَالُوۡا رَبُّنَا اللّٰہُ ثُمَّ اسۡتَقَامُوۡا تَتَنَزَّلُ عَلَیۡہِمُ
الۡمَلٰٓئِکَۃُ اَلَّا تَخَافُوۡا وَ لَا
تَحۡزَنُوۡا وَ اَبۡشِرُوۡا بِالۡجَنَّۃِ
الَّتِیۡ کُنۡتُمۡ تُوۡعَدُوۡنَ ﴿۴۱﴾ نَحۡنُ
اَوۡلِیٰٓؤُکُمۡ فِی الۡحَیٰوۃِ
الدُّنۡیَا وَ فِی الۡاٰخِرَۃِ ۚ وَ لَکُمۡ فِیۡہَا مَا تَشۡتَہِیۡۤ
اَنۡفُسُکُمۡ وَ لَکُمۡ فِیۡہَا مَا تَدَّعُوۡنَ ﴿ؕ۴۲﴾ نُزُلًا مِّنۡ غَفُوۡرٍ رَّحِیۡمٍ ﴿٪۴۳﴾
Sesungguhnya orang-orang yang berkata: ”Tuhan kami Allah,” kemudian
mereka teguh, kepada mereka turun malaikat-malaikat seraya berkata: ”Janganlah
kamu takut, dan jangan pula bersedih, dan bergembiralah kamu dengan surga yang telah dijanjikan
kepadamu. Kami adalah
teman-teman kamu di dalam kehidupan dunia dan di akhirat. Dan bagi kamu di dalamnya apa yang diinginkan
dirimu dan bagi kamu di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan dari Tuhan
Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Al-Fushshilat
[41]:31-33).
Dalam Bab sebelum ini telah dijelaskan hubungan antara nafs muthmainnah
dengan “2 surga” yang dijanjikan Allah bagi orang-orang yang bertakwa,
firman-Nya:
وَ لِمَنۡ خَافَ مَقَامَ رَبِّہٖ
جَنَّتٰنِ ﴿ۚ۴۷﴾ فَبِاَیِّ
اٰلَآءِ رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ
﴿ۙ۴۸﴾
Dan bagi orang
yang takut akan Keagungan Tuhan-nya
ada dua surga. Maka
yang manakah di antara nikmat-nikmat Tuhan kamu berdua, yang kamu
dustakan? (Al-Rahmaan [55]:47-48).
Salah
satu “surga” yang dijanjikan Allah Swt. tersebut mengisyaratkan kepada keadaan kehidupan
surgawi di dalam kehidupan di dunia ini pulalah
firman Allah Swt. mengenai “seorang laki-laki yang berlari-lari dari
bagian terjauh kota itu” – yakni kota Makkah – dalam Surah Yaa Siin,
yang menggenapi 3 orang Rasul
Allah yang telah diutus sebelumnya
tetapi semuanya didustakan oleh penduduk kota tersebut (QS.36:14-20), firman-Nya:
وَ
جَآءَ مِنۡ اَقۡصَا الۡمَدِیۡنَۃِ رَجُلٌ
یَّسۡعٰی قَالَ یٰقَوۡمِ اتَّبِعُوا الۡمُرۡسَلِیۡنَ ﴿ۙ۲۱﴾ اتَّبِعُوۡا مَنۡ لَّا
یَسۡـَٔلُکُمۡ اَجۡرًا وَّ ہُمۡ مُّہۡتَدُوۡنَ ﴿۲۲﴾ وَ مَا لِیَ لَاۤ
اَعۡبُدُ الَّذِیۡ فَطَرَنِیۡ وَ
اِلَیۡہِ تُرۡجَعُوۡنَ ﴿۲۳﴾ ءَاَتَّخِذُ مِنۡ دُوۡنِہٖۤ اٰلِہَۃً اِنۡ یُّرِدۡنِ الرَّحۡمٰنُ بِضُرٍّ
لَّا تُغۡنِ عَنِّیۡ شَفَاعَتُہُمۡ شَیۡئًا وَّ لَا
یُنۡقِذُوۡنِ ﴿ۚ۲۴﴾ اِنِّیۡۤ
اِذًا لَّفِیۡ ضَلٰلٍ
مُّبِیۡنٍ ﴿۲۵﴾ اِنِّیۡۤ
اٰمَنۡتُ بِرَبِّکُمۡ
فَاسۡمَعُوۡنِ ﴿ؕ۲۶﴾ قِیۡلَ ادۡخُلِ الۡجَنَّۃَ ؕ قَالَ یٰلَیۡتَ
قَوۡمِیۡ یَعۡلَمُوۡنَ ﴿ۙ۲۷﴾ بِمَا غَفَرَ لِیۡ رَبِّیۡ وَ جَعَلَنِیۡ مِنَ
الۡمُکۡرَمِیۡنَ ﴿۲۸﴾
Dan datang dari bagian terjauh kota itu seorang laki-laki dengan
berlari-lari, ia berkata:
“Hai kaumku, ikutilah rasul-rasul itu.
Ikutilah mereka yang tidak meminta upah dari kamu dan mereka yang
telah mendapat petunjuk. Dan
mengapakah aku tidak menyembah Tuhan Yang menciptakan diriku dan Yang
kepada-Nya kamu akan dikembalikan? Apakah aku akan mengambil selain Dia sebagai
sembahan-sembahan, padahal jika Tuhan Yang Maha
Pemurah menghendaki sesuatu ke-mudaratan bagiku syafaat mereka itu tidak akan bermanfaat bagiku sedikit pun,
dan mereka tidak dapat menyelamatkanku? Sesungguhnya jika aku berbuat
demikian niscaya berada dalam kesesatan yang nyata. Sesungguhnya aku beriman kepada Tuhan kamu maka dengarlah aku.” Dikatakan kepadanya: “Ma-suklah ke dalam surga.” Ia
berkata: “Wahai alangkah baiknya jika kaum-ku mengetahui, oleh karena apa Tuhan-ku telah
mengampuniku dan telah menjadikan aku dari antara orang-orang yang dimuliakan.”
(Yaa
Siin [36]:21-28).
Hakikat
Turunnya Para Malaikat di Dunia
Makna ayat “Sesungguhnya aku
beriman kepada Tuhan kamu maka dengarlah
aku.” Dikatakan kepadanya: “Masuklah
ke dalam surga.” Ia berkata: “Wahai alangkah baiknya jika
kaumku mengetahui, oleh karena apa Tuhan-ku
telah mengampuniku dan telah menjadikan aku dari antara orang-orang yang
dimuliakan” mengisyaratkan
kepada beberapa ketetapan Allah Swt. dalam Al-Quran mengenai orang-orang
yang berpegang-teguh pada Tauhid Ilahi, yakni:
(1)
Bahwa malaikat-malaikat di dalam kehidupannya
di dunia ini juga akan turun kepada mereka memberikan berbagai kabar
gembira guna menentramkan serta meneguhkan hati mereka dalam
menegakkan Tauhid Ilahi yang diyakininya, firman-Nya:
اِنَّ الَّذِیۡنَ قَالُوۡا رَبُّنَا اللّٰہُ ثُمَّ اسۡتَقَامُوۡا تَتَنَزَّلُ عَلَیۡہِمُ
الۡمَلٰٓئِکَۃُ اَلَّا تَخَافُوۡا وَ لَا
تَحۡزَنُوۡا وَ اَبۡشِرُوۡا بِالۡجَنَّۃِ
الَّتِیۡ کُنۡتُمۡ تُوۡعَدُوۡنَ ﴿۴۱﴾ نَحۡنُ
اَوۡلِیٰٓؤُکُمۡ فِی الۡحَیٰوۃِ
الدُّنۡیَا وَ فِی الۡاٰخِرَۃِ ۚ وَ لَکُمۡ فِیۡہَا مَا تَشۡتَہِیۡۤ
اَنۡفُسُکُمۡ وَ لَکُمۡ فِیۡہَا مَا تَدَّعُوۡنَ ﴿ؕ۴۲﴾ نُزُلًا مِّنۡ غَفُوۡرٍ رَّحِیۡمٍ ﴿٪۴۳﴾
Sesungguhnya
orang-orang yang berkata: ”Tuhan kami Allah,” kemudian mereka teguh, kepada mereka turun malaikat-malaikat seraya berkata:
”Janganlah kamu takut, dan jangan pula bersedih, dan bergembiralah kamu dengan surga yang telah dijanjikan
kepadamu. Kami adalah
teman-teman kamu di dalam kehidupan dunia dan di akhirat. Dan bagi kamu di dalamnya apa yang
diinginkan dirimu dan bagi kamu di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai
hidangan dari Tuhan Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
(Al-Fushshilat [41]:31-33).
Sabda Nabi Besar
Muhammad saw. bahwa lafaz dzikr yang paling afdhal (unggul) adalah kalimat Laa
Ilaaha illalLaah (Tidak ada Tuhan kecuali Allah), tetapi makna dari firman Allah Swt. tersebut tidak
berarti bahwa siapa pun yang mengucapkan kalimat Laa Ilaaha illalLaah lalu para malaikat akan turun kepadanya
memberikan kabar-kabar gembira.
Makna yang benar dari firman Allah Swt.
tersebut terutama sekali adalah mengenai turunnya malaikat-malaikat di dunia ini kepada orang-orang yang
beriman untuk memberi mereka kata-kata penghibur dan pelipur lara
jika mereka menampakkan keteguhan dan ketabahan di tengah-tengah cobaan
dan kemalangan yang berat akibat dari berpegang-teguh pada Tauhid
Ilahi, yang diajarkan Rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan
kepada mereka (QS.7:35-37). Frman-Nya
lagi:
اِنَّ الَّذِیۡنَ قَالُوۡا رَبُّنَا اللّٰہُ ثُمَّ اسۡتَقَامُوۡا فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ ﴿ۚ۱۴﴾ اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ
الۡجَنَّۃِ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا ۚ جَزَآءًۢ بِمَا
کَانُوۡا یَعۡمَلُوۡنَ ﴿۱۵﴾
Sesungguhnya orang-orang yang berkata: "Tuhan kami adalah
Allah" kemudian mereka tetap teguh maka tidak ada ketakutan atas mereka,
dan tidak pula mereka bersedih. Mereka
itulah penghuni-penghuni surga,
mereka kekal di dalamnya, sebagai ganjaran atas apa yang
senantiasa mereka kerjakan. (Al-Ahqaf [46]:14-15).
Jihad Besar Melawan
hawa-Nafsu
Ketakutan atau kesedihan apakah -- sekalipun di bawah
himpitan cobaan sehebat-hebatnya – yang mungkin dapat mengganggu watak sabar
dan sikap tenang seorang mukmin sejati yang memiliki keimanan
tangguh bahwa Allah Swt., Sang Khaaliq (Pencipta) dan
Rabb seluruh alam, berada di belakangnya? Selanjutnya Allah
Swt. berfirman:
اِنَّ
الَّذِیۡنَ سَبَقَتۡ لَہُمۡ مِّنَّا الۡحُسۡنٰۤی ۙ
اُولٰٓئِکَ عَنۡہَا مُبۡعَدُوۡنَ ﴿۱۰۲﴾ۙ لَا یَسۡمَعُوۡنَ حَسِیۡسَہَا ۚ وَ ہُمۡ فِیۡ مَا اشۡتَہَتۡ اَنۡفُسُہُمۡ خٰلِدُوۡنَ ﴿۱۰۳﴾ۚ لَا یَحۡزُنُہُمُ الۡفَزَعُ الۡاَکۡبَرُ وَ تَتَلَقّٰہُمُ الۡمَلٰٓئِکَۃُ ؕ ہٰذَا یَوۡمُکُمُ الَّذِیۡ کُنۡتُمۡ تُوۡعَدُوۡنَ ﴿۱۰۴﴾
Sesungguhnya orang-orang yang telah lebih dahulu mendapat
ganjaran yang baik dari Kami, mereka itu akan dijauhkan darinya, yakni
neraka. Mereka tidak akan mendengar sedikit pun
suaranya, dan mereka
kekal dalam menikmati apa yang
diingini diri mereka. Tidak akan menyedihkan mereka kegentaran
besar, dan malaikat-malaikat akan bertemu
dengan mereka seraya berkata: “Inilah hari-kamu yang telah
dijanjikan kepadamu.” (Al-Anbiya [21]:102-104)
Ayat 102 ini dengan yang berikutnya
menunjukkan, bahwa hamba-hamba Allah yang saleh akan dijauhkan
dari neraka, dan bahkan tidak akan mendengar suara yang
sekecil-kecilnya pun, apalagi memasukinya seperti pada umumnya dengan
keliru disim-pulkan dari ayat QS.19:72.
Semua pernyataan Allah Swt. dalam ayat-ayat
tersebut adalah karena mereka benar-benar telah berjihad di
jalan Allah Swt. dengan jihad yang hakiki, firman-Nya:
وَ الَّذِیۡنَ جَاہَدُوۡا فِیۡنَا لَنَہۡدِیَنَّہُمۡ سُبُلَنَا ؕ وَ
اِنَّ اللّٰہَ لَمَعَ الۡمُحۡسِنِیۡنَ ﴿٪۷۰﴾
Dan orang-orang yang berjuang untuk Kami niscaya Kami
akan memberi petunjuk kepada mereka pada jalan-jalan Kami, dan sesungguhnya
Allah beserta orang-orang yang berbuat ihsan. (Al-Ankabuut
[29]:70).
Jihad
sebagaimana diperintahkan oleh Islam, tidak berarti harus membunuh atau menjadi
kurban pembunuhan, melainkan harus berjuang keras guna memperoleh keridhaan
Ilahi, sebab kata fiina berarti “untuk menjumpai Kami.”
Ketika umat Islam selesai melakukan perang Badar -- yang sangat menentukan nasib agama Islam
(Al-Quran) dan umat Islam di dunia – Nabi Besar Muhammad saw. diriwayatkan
telah bersabda: “Kita baru selesai melakukan jihad kecil dan akan menghadapi jihad besar”,
dan ketika sahabat menanyakan tentang “jihad besar” yang dimaksud oleh
beliau saw., Nabi Besar Muhammad saw. bersabda: “Perang melawan hawa nafsu”.
Hamba-hamba
Allah yang hakiki seperti itulah yang diseru Allah Swt. dalam
firman-Nya:
یٰۤاَیَّتُہَا النَّفۡسُ
الۡمُطۡمَئِنَّۃُ ﴿٭ۖ۲۸﴾ ارۡجِعِیۡۤ
اِلٰی رَبِّکِ رَاضِیَۃً مَّرۡضِیَّۃً ﴿ۚ۲۹﴾ فَادۡخُلِیۡ فِیۡ عِبٰدِیۡ ﴿ۙ۳۰﴾ وَ ادۡخُلِیۡ جَنَّتِیۡ ﴿٪۳۱﴾
Hai jiwa yang
tenteram! Kembalilah kepada Tuhan engkau, engkau ridha kepada-Nya
dan Dia pun ridha kepada engkau, maka masuklah dalam golongan hamba-hamba-Ku,
dan masuklah ke dalam surga-Ku. (Al-Fajr
[89]:27-31).
Dengan demikian jelaslah bahwa makna
dari pernyataan Allah Swt. “masuklah ke dalam surga” dalam surah Yaa
Siin ayat 27-28 bukan hanya nanti di alam akhirat saja setelah
mati, melainkan di dunia ini juga hamba-hamba Allah yang hakiki
akan memasuki surga di dunia dari 2 surga yang dijanjikan kepada
mereka:
وَ لِمَنۡ خَافَ مَقَامَ رَبِّہٖ
جَنَّتٰنِ ﴿ۚ۴۷﴾
فَبِاَیِّ اٰلَآءِ
رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ ﴿ۙ۴۸﴾
Dan bagi orang
yang takut akan Keagungan Tuhan-nya
ada dua surga. Maka
yang manakah di antara nikmat-nikmat Tuhan kamu berdua, yang kamu
dustakan? (Al-Rahmaan [55]:47-48).
Demikian makna pertama mengenai hakikat “turunnya
malaikat-malaikat” (QS.41: 31-33)
sehubungan dengan firman-Nya dalam Surah Yaa Siin mengenai
perintah Allah Swt. untuk “masuk ke dalam surga” kepada “seorang laki-laki yang datang berlari-lari
dari bagian terjauh kota itu “ (QS.36:21-25), firman-Nya:
اِنِّیۡۤ
اٰمَنۡتُ بِرَبِّکُمۡ
فَاسۡمَعُوۡنِ ﴿ؕ۲۶﴾ قِیۡلَ ادۡخُلِ الۡجَنَّۃَ ؕ قَالَ یٰلَیۡتَ
قَوۡمِیۡ یَعۡلَمُوۡنَ ﴿ۙ۲۷﴾ بِمَا غَفَرَ لِیۡ رَبِّیۡ وَ جَعَلَنِیۡ مِنَ
الۡمُکۡرَمِیۡنَ ﴿۲۸﴾
Sesungguhnya aku beriman kepada Tuhan kamu maka dengarlah aku.” Dikatakan kepadanya: “Masuklah ke dalam surga.” Ia
berkata: “Wahai alangkah baiknya jika kaumku mengetahui, oleh karena apa Tuhan-ku telah
mengampuniku dan telah menjadikan aku dari antara orang-orang yang dimuliakan.”
(Yaa Siin [36]:26-28).
(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid
Tidak ada komentar:
Posting Komentar