Selasa, 17 Januari 2012

Hakikat "Turunnya Para Malaikat"



بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
 

HUBUNGAN  NABI YUSUF A.S. 
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
  
Bagian   XXII
Tentang
 
     Hakikat "Turunnya Para Malaikat"   
      
 Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
اِنَّ  الَّذِیۡنَ قَالُوۡا رَبُّنَا اللّٰہُ  ثُمَّ اسۡتَقَامُوۡا تَتَنَزَّلُ عَلَیۡہِمُ الۡمَلٰٓئِکَۃُ  اَلَّا تَخَافُوۡا وَ لَا تَحۡزَنُوۡا وَ اَبۡشِرُوۡا بِالۡجَنَّۃِ  الَّتِیۡ  کُنۡتُمۡ تُوۡعَدُوۡنَ ﴿۴۱   نَحۡنُ اَوۡلِیٰٓؤُکُمۡ فِی الۡحَیٰوۃِ  الدُّنۡیَا وَ فِی الۡاٰخِرَۃِ ۚ وَ لَکُمۡ فِیۡہَا مَا تَشۡتَہِیۡۤ اَنۡفُسُکُمۡ وَ لَکُمۡ فِیۡہَا مَا تَدَّعُوۡنَ ﴿ؕ۴۲   نُزُلًا  مِّنۡ غَفُوۡرٍ  رَّحِیۡمٍ ﴿٪۴۳
Sesungguhnya orang-orang yang berkata: ”Tuhan kami Allah,” kemudian mereka teguh,  kepada mereka turun  malaikat-malaikat seraya berkata: ”Janganlah kamu takut, dan jangan pula bersedih, dan bergembiralah  kamu dengan surga yang telah dijanjikan kepadamu.  Kami adalah teman-teman kamu di dalam kehidupan dunia dan di akhirat. Dan bagi  kamu di dalamnya apa yang diinginkan dirimu dan bagi kamu di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan dari Tuhan Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Al-Fushshilat [41]:31-33).   

Dalam Bab sebelum ini telah dijelaskan  hubungan antara nafs muthmainnah dengan “2 surga” yang dijanjikan Allah bagi orang-orang yang bertakwa, firman-Nya:
وَ  لِمَنۡ خَافَ مَقَامَ  رَبِّہٖ  جَنَّتٰنِ ﴿ۚ۴۷  فَبِاَیِّ  اٰلَآءِ  رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ ﴿ۙ۴۸
Dan bagi orang yang takut akan   Keagungan Tuhan-nya ada dua surga.  Maka yang manakah di antara nikmat-nikmat Tuhan kamu berdua, yang kamu dustakan? (Al-Rahmaan [55]:47-48).
    Salah satu “surga” yang dijanjikan Allah Swt. tersebut mengisyaratkan kepada keadaan kehidupan surgawi  di dalam  kehidupan di dunia ini  pulalah  firman Allah Swt. mengenai “seorang laki-laki yang berlari-lari dari bagian terjauh kota itu” – yakni kota Makkah – dalam Surah Yaa Siin,  yang menggenapi 3 orang Rasul Allah yang telah diutus sebelumnya  tetapi semuanya didustakan oleh penduduk kota tersebut  (QS.36:14-20), firman-Nya:
وَ جَآءَ مِنۡ اَقۡصَا الۡمَدِیۡنَۃِ  رَجُلٌ یَّسۡعٰی قَالَ یٰقَوۡمِ اتَّبِعُوا الۡمُرۡسَلِیۡنَ ﴿ۙ۲۱   اتَّبِعُوۡا مَنۡ لَّا یَسۡـَٔلُکُمۡ اَجۡرًا وَّ ہُمۡ مُّہۡتَدُوۡنَ ﴿۲۲ وَ مَا لِیَ  لَاۤ  اَعۡبُدُ الَّذِیۡ فَطَرَنِیۡ وَ  اِلَیۡہِ تُرۡجَعُوۡنَ ﴿۲۳   ءَاَتَّخِذُ مِنۡ دُوۡنِہٖۤ  اٰلِہَۃً اِنۡ یُّرِدۡنِ الرَّحۡمٰنُ بِضُرٍّ لَّا تُغۡنِ عَنِّیۡ شَفَاعَتُہُمۡ شَیۡئًا  وَّ لَا  یُنۡقِذُوۡنِ ﴿ۚ۲۴   اِنِّیۡۤ   اِذًا  لَّفِیۡ  ضَلٰلٍ  مُّبِیۡنٍ ﴿۲۵  اِنِّیۡۤ   اٰمَنۡتُ بِرَبِّکُمۡ   فَاسۡمَعُوۡنِ ﴿ؕ۲۶   قِیۡلَ ادۡخُلِ الۡجَنَّۃَ ؕ قَالَ یٰلَیۡتَ قَوۡمِیۡ یَعۡلَمُوۡنَ ﴿ۙ۲۷   بِمَا غَفَرَ لِیۡ رَبِّیۡ وَ جَعَلَنِیۡ مِنَ الۡمُکۡرَمِیۡنَ ﴿۲۸  

Dan datang dari bagian terjauh kota itu  seorang laki-laki dengan berlari-lari,  ia berkata: “Hai kaumku, ikutilah rasul-rasul  itu. Ikutilah mereka yang tidak meminta upah dari kamu dan mereka yang telah mendapat petunjuk.  Dan mengapakah aku tidak menyembah Tuhan Yang menciptakan diriku  dan  Yang kepada-Nya  kamu   akan dikembalikan?  Apakah aku akan mengambil selain Dia sebagai sembahan-sembahan, padahal  jika Tuhan Yang Maha Pemurah menghendaki sesuatu ke-mudaratan bagiku  syafaat mereka itu  tidak akan bermanfaat bagiku sedikit pun, dan mereka tidak dapat menyelamatkanku? Sesungguhnya jika aku berbuat demikian niscaya berada dalam kesesatan yang nyata.   Sesungguhnya aku beriman kepada Tuhan kamu  maka dengarlah aku.”    Dikatakan kepadanya:  Ma-suklah ke dalam surga.” Ia berkata: “Wahai alangkah baiknya jika kaum-ku mengetahui,  oleh karena apa Tuhan-ku telah mengampuniku dan telah menjadikan aku dari antara orang-orang yang dimuliakan.”   (Yaa Siin [36]:21-28).

Hakikat Turunnya Para Malaikat di Dunia

      Makna ayat “Sesungguhnya aku beriman kepada Tuhan kamu  maka dengarlah aku.” Dikatakan kepadanya:  “Masuklah ke dalam surga.” Ia berkata: “Wahai alangkah baiknya jika kaumku mengetahui,  oleh karena apa Tuhan-ku telah mengampuniku dan telah menjadikan aku dari antara orang-orang yang dimuliakan  mengisyaratkan kepada beberapa ketetapan Allah Swt. dalam Al-Quran mengenai orang-orang yang berpegang-teguh pada Tauhid Ilahi, yakni:
      (1)   Bahwa  malaikat-malaikat di dalam kehidupannya di dunia ini juga akan turun kepada mereka memberikan berbagai kabar gembira guna menentramkan serta meneguhkan hati mereka dalam menegakkan Tauhid Ilahi yang diyakininya, firman-Nya:
اِنَّ  الَّذِیۡنَ قَالُوۡا رَبُّنَا اللّٰہُ  ثُمَّ اسۡتَقَامُوۡا تَتَنَزَّلُ عَلَیۡہِمُ الۡمَلٰٓئِکَۃُ  اَلَّا تَخَافُوۡا وَ لَا تَحۡزَنُوۡا وَ اَبۡشِرُوۡا بِالۡجَنَّۃِ  الَّتِیۡ  کُنۡتُمۡ تُوۡعَدُوۡنَ ﴿۴۱   نَحۡنُ اَوۡلِیٰٓؤُکُمۡ فِی الۡحَیٰوۃِ  الدُّنۡیَا وَ فِی الۡاٰخِرَۃِ ۚ وَ لَکُمۡ فِیۡہَا مَا تَشۡتَہِیۡۤ اَنۡفُسُکُمۡ وَ لَکُمۡ فِیۡہَا مَا تَدَّعُوۡنَ ﴿ؕ۴۲   نُزُلًا  مِّنۡ غَفُوۡرٍ  رَّحِیۡمٍ ﴿٪۴۳
 Sesungguhnya orang-orang yang berkata: ”Tuhan kami Allah,” kemudian mereka teguh,  kepada mereka turun  malaikat-malaikat seraya berkata: Janganlah kamu takut, dan jangan pula bersedih, dan bergembiralah  kamu dengan surga yang telah dijanjikan kepadamu.  Kami adalah teman-teman kamu di dalam kehidupan dunia dan di akhirat. Dan bagi  kamu di dalamnya apa yang diinginkan dirimu dan bagi kamu di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan dari Tuhan Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Al-Fushshilat [41]:31-33).   
      Sabda Nabi Besar Muhammad saw. bahwa lafaz dzikr yang paling  afdhal (unggul) adalah kalimat Laa Ilaaha illalLaah (Tidak ada Tuhan kecuali Allah), tetapi  makna dari firman Allah Swt. tersebut tidak berarti bahwa siapa pun yang mengucapkan kalimat  Laa Ilaaha illalLaah  lalu para malaikat akan turun kepadanya memberikan kabar-kabar gembira.
      Makna yang benar dari firman Allah Swt. tersebut terutama sekali adalah mengenai turunnya malaikat-malaikat  di dunia ini kepada orang-orang yang beriman untuk memberi mereka kata-kata penghibur dan pelipur lara jika mereka menampakkan keteguhan dan ketabahan di tengah-tengah cobaan dan kemalangan yang berat akibat dari berpegang-teguh pada Tauhid Ilahi, yang diajarkan Rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan kepada mereka (QS.7:35-37).  Frman-Nya lagi:
 اِنَّ  الَّذِیۡنَ قَالُوۡا رَبُّنَا اللّٰہُ  ثُمَّ اسۡتَقَامُوۡا فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ  وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ ﴿ۚ۱۴   اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ الۡجَنَّۃِ  خٰلِدِیۡنَ  فِیۡہَا ۚ جَزَآءًۢ  بِمَا  کَانُوۡا  یَعۡمَلُوۡنَ ﴿۱۵
Sesungguhnya orang-orang yang berkata: "Tuhan kami adalah Allah" kemudian mereka tetap teguh  maka tidak ada ketakutan atas mereka, dan tidak pula mereka bersedih.  Mereka itulah penghuni-penghuni surga,  mereka kekal di dalamnya, sebagai ganjaran atas apa yang senantiasa mereka kerjakan. (Al-Ahqaf [46]:14-15).

Jihad Besar  Melawan hawa-Nafsu

 Ketakutan atau kesedihan apakah -- sekalipun di bawah himpitan cobaan sehebat-hebatnya – yang mungkin dapat mengganggu watak sabar dan sikap tenang seorang mukmin sejati yang memiliki keimanan tangguh bahwa Allah Swt., Sang Khaaliq (Pencipta) dan Rabb seluruh alam, berada di belakangnya? Selanjutnya Allah Swt. berfirman:  
اِنَّ الَّذِیۡنَ سَبَقَتۡ لَہُمۡ مِّنَّا الۡحُسۡنٰۤی ۙ اُولٰٓئِکَ عَنۡہَا مُبۡعَدُوۡنَ ﴿۱۰۲﴾ۙ   لَا یَسۡمَعُوۡنَ حَسِیۡسَہَا ۚ وَ ہُمۡ  فِیۡ مَا اشۡتَہَتۡ  اَنۡفُسُہُمۡ  خٰلِدُوۡنَ ﴿۱۰۳﴾ۚ   لَا یَحۡزُنُہُمُ الۡفَزَعُ الۡاَکۡبَرُ وَ تَتَلَقّٰہُمُ الۡمَلٰٓئِکَۃُ ؕ ہٰذَا یَوۡمُکُمُ الَّذِیۡ  کُنۡتُمۡ تُوۡعَدُوۡنَ ﴿۱۰۴
Sesungguhnya orang-orang yang telah lebih dahulu mendapat ganjaran yang baik dari Kami, mereka itu akan dijauhkan darinya, yakni neraka.   Mereka tidak akan mendengar sedikit pun suaranya,  dan mereka kekal dalam menikmati apa yang  diingini diri mereka. Tidak akan menyedihkan mereka kegentaran besar,  dan  malaikat-malaikat akan bertemu dengan mereka seraya berkata: Inilah hari-kamu yang telah dijanjikan kepadamu.” (Al-Anbiya [21]:102-104)
 Ayat 102 ini dengan yang berikutnya menunjukkan, bahwa hamba-hamba Allah yang saleh akan dijauhkan dari neraka, dan bahkan tidak akan mendengar suara yang sekecil-kecilnya pun, apalagi memasukinya seperti pada umumnya dengan keliru disim-pulkan dari ayat QS.19:72.
Semua  pernyataan Allah Swt. dalam ayat-ayat tersebut adalah karena mereka benar-benar telah berjihad di jalan Allah Swt. dengan jihad yang hakiki, firman-Nya:
وَ الَّذِیۡنَ جَاہَدُوۡا فِیۡنَا لَنَہۡدِیَنَّہُمۡ سُبُلَنَا ؕ وَ اِنَّ اللّٰہَ  لَمَعَ الۡمُحۡسِنِیۡنَ ﴿٪۷۰
Dan orang-orang yang berjuang untuk Kami niscaya Kami akan memberi petunjuk kepada mereka pada jalan-jalan Kami, dan sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang berbuat ihsan. (Al-Ankabuut [29]:70).
 Jihad sebagaimana diperintahkan oleh Islam, tidak berarti harus membunuh atau menjadi kurban pembunuhan, melainkan harus berjuang keras guna memperoleh keridhaan Ilahi, sebab kata fiina berarti “untuk menjumpai Kami.” Ketika umat Islam selesai melakukan perang Badar  -- yang sangat menentukan nasib agama Islam (Al-Quran) dan umat Islam di dunia – Nabi Besar Muhammad saw. diriwayatkan telah bersabda: “Kita baru selesai melakukan jihad kecil  dan akan menghadapi jihad besar”, dan ketika sahabat menanyakan tentang “jihad besar” yang dimaksud oleh beliau saw., Nabi Besar Muhammad saw. bersabda: “Perang melawan hawa nafsu”.
       Hamba-hamba Allah yang hakiki seperti itulah  yang diseru Allah Swt. dalam firman-Nya: 
 یٰۤاَیَّتُہَا النَّفۡسُ الۡمُطۡمَئِنَّۃُ ﴿٭ۖ۲۸   ارۡجِعِیۡۤ  اِلٰی  رَبِّکِ رَاضِیَۃً  مَّرۡضِیَّۃً ﴿ۚ۲۹   فَادۡخُلِیۡ  فِیۡ عِبٰدِیۡ ﴿ۙ۳۰  وَ ادۡخُلِیۡ جَنَّتِیۡ ﴿٪۳۱
Hai jiwa yang tenteram! Kembalilah kepada Tuhan engkau, engkau ridha kepada-Nya dan Dia pun ridha kepada engkau, maka    masuklah dalam golongan hamba-hamba-Ku,  dan masuklah ke dalam surga-Ku. (Al-Fajr [89]:27-31).
       Dengan demikian jelaslah bahwa makna dari pernyataan Allah Swt. “masuklah ke dalam surga” dalam surah Yaa Siin ayat 27-28 bukan hanya nanti di alam akhirat saja setelah mati, melainkan di dunia ini juga hamba-hamba Allah yang hakiki akan memasuki    surga di dunia  dari 2 surga yang dijanjikan kepada mereka: 
وَ  لِمَنۡ خَافَ مَقَامَ  رَبِّہٖ  جَنَّتٰنِ ﴿ۚ۴۷  فَبِاَیِّ  اٰلَآءِ  رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ ﴿ۙ۴۸
Dan bagi orang yang takut akan   Keagungan Tuhan-nya ada dua surga.  Maka yang manakah di antara nikmat-nikmat Tuhan kamu berdua, yang kamu dustakan? (Al-Rahmaan [55]:47-48).
      Demikian makna pertama mengenai hakikat “turunnya malaikat-malaikat” (QS.41:    31-33) sehubungan dengan  firman-Nya  dalam Surah Yaa Siin mengenai perintah Allah Swt. untuk “masuk ke dalam surga” kepada  “seorang laki-laki yang datang berlari-lari dari bagian terjauh kota itu “ (QS.36:21-25), firman-Nya:
       اِنِّیۡۤ   اٰمَنۡتُ بِرَبِّکُمۡ   فَاسۡمَعُوۡنِ ﴿ؕ۲۶   قِیۡلَ ادۡخُلِ الۡجَنَّۃَ ؕ قَالَ یٰلَیۡتَ قَوۡمِیۡ یَعۡلَمُوۡنَ ﴿ۙ۲۷   بِمَا غَفَرَ لِیۡ رَبِّیۡ وَ جَعَلَنِیۡ مِنَ الۡمُکۡرَمِیۡنَ ﴿۲۸  
Sesungguhnya aku beriman kepada Tuhan kamu  maka dengarlah aku.”    Dikatakan kepadanya:  Masuklah ke dalam surga.” Ia berkata: “Wahai alangkah baiknya jika kaumku mengetahui,  oleh karena apa Tuhan-ku telah mengampuniku dan telah menjadikan aku dari antara orang-orang yang dimuliakan.”   (Yaa Siin [36]:26-28).

(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid




Tidak ada komentar:

Posting Komentar