Sabtu, 14 Januari 2012

Pecinta Kehidupan Duniawi & Perumpamaan "Anjing yang Lidahnya Terjulur"


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


HUBUNGAN  NABI YUSUF A.S. 
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
  
Bagian   XX

Tentang
     Pecinta Kehidupan Duniawi &
Perumpamaan "Anjing yang Lidahnya Terjulur"
      
 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

 
ٰۤاَیُّہَا الۡاِنۡسَانُ  اِنَّکَ کَادِحٌ  اِلٰی رَبِّکَ کَدۡحًا  فَمُلٰقِیۡہِ ۚ﴿۷
Hai manusia, sesungguhnya engkau bekerja keras dengan sungguh-sungguh menuju Tuhan engkau, maka   engkau akan bertemu dengan-Nya. (Al-Insyiqaq [84]:5).  

Dalam 2 Bab sebelumnya telah dikemukakan    rayuan istri Potifar terhadap Nabi Yusuf a.s., yang pada hakikatnya merupakan godaan  kesenangan duniawi yang merintangi jalan orang-orang  yang melakukan perjalanan ruhani (suluk) menuju “perjumpaan” dengan Allah Swt. -- di dalam kehidupan di dunia ini pula, yang dalam dunia tashawuf disebut tingkatan liqa, sebagaimana firman-Nya di awal Bab ini  dan juga dalam QS.2:224;  QS.11:30;  QS.18:111 -- yang apabila   rayuan  kesenangan duniawi tersebut berhasil menguasai manusia maka itu merupakan semacam “perzinahan” atau “perselingkuhan” atau “pengkhianatan” terhadap Allah Swt. – yang dalam kisah Nabi Yusuf a.s. digambarkan  sebagai ketidak-sukaan Nabi Yusuf a.s. untuk “berkhianat” terhadap  orang yang telah memberikan “perlindungan” kepada beliau  di Mesir, yakni Potifar (QS.12:53).
      Mengisyaratkan kepada hal itulah ketika Nabi Yusuf a.s. dipanggil oleh raja Mesir – karena telah memberikan tafsir yang memuaskan hati raja mengenai mimpi  yang dilihatnya (QS.12:44-50) --  tetapi beliau  menolak hadir sebelum  kasus "rayuan istri Potifar”  terhadap diri beliau terlebih dulu menjadi jelas,  siapa yang benar dan siapa yang salah, sehingga di masa datang tidak akan menimbulkan fitnah bagi diri Nabi Yusuf a.s.. Mengenai hal itu Allah Swt. berfirman:
وَ  قَالَ الۡمَلِکُ ائۡتُوۡنِیۡ بِہٖ ۚ فَلَمَّا جَآءَہُ الرَّسُوۡلُ قَالَ ارۡجِعۡ  اِلٰی رَبِّکَ فَسۡـَٔلۡہُ مَا بَالُ النِّسۡوَۃِ  الّٰتِیۡ قَطَّعۡنَ اَیۡدِیَہُنَّ ؕ اِنَّ رَبِّیۡ بِکَیۡدِہِنَّ عَلِیۡمٌ ﴿۵۱
Dan raja itu berkata: “Bawalah dia kepadaku.” Maka tatkala utusan itu datang kepadanya, ia (Yusuf) berkata: “Kembalilah kepada majikan engkau dan  tanyakanlah kepadanya, bagaimana  keadaan para perempuan yang telah mengerat tangan mereka sendiri,  sesungguhnya Tuhan-ku Maha Mengetahui rencana tipu daya mereka.” (Yusuf [12]:51).

Penghakiman Raja atas Kasus Nabi Yusuf a.s.

      Menyadari bahwa Nabi Yusuf a.s. itu bukanlah orang biasa, maka raja Mesir bermaksud membebaskan beliau dari penjara seketika itu juga. Tetapi Nabi Yusuf a.s.   menolak untuk dibebaskan sebelum diadakan pemeriksaan lengkap mengenai perkara beliau, dan sebelum beliau terbukti bersih dari tuduhan yang dikenakan kepada beliau.
      Tujuan Nabi Yusuf a.s.  menuntut agar diadakan pemeriksaan itu, agaknya ada dua:  (1) supaya raja dapat mengetahui bahwa beliau tidak bersalah, sehingga di hari kemudian pikiran raja tidak dapat diracuni oleh orang-orang yang bersikap tidak baik terhadap beliau atas dasar tuduhan-tuduhan yang karenanya beliau dipenjarakan. (2) supaya Potifar, pelindungnya, jangan lagi mempunyai kesan bahwa Nabi Yusuf a.s.   terbukti tidak setia kepadanya.
      Raja mengabulkan permintaan dari Nabi Yusuf a.s. dan ia sendiri yang melakukan  penghakiman dalam kasus yang menimpa Nabi Yusuf a.s. dengan memanggil semua perempuan yang terlibat langsung dalam  kasus tersebut, firman-Nya:
قَالَ مَا خَطۡبُکُنَّ  اِذۡ  رَاوَدۡتُّنَّ یُوۡسُفَ عَنۡ نَّفۡسِہٖ ؕ قُلۡنَ حَاشَ لِلّٰہِ  مَا عَلِمۡنَا عَلَیۡہِ مِنۡ سُوۡٓءٍ ؕ قَالَتِ امۡرَاَتُ الۡعَزِیۡزِ الۡـٰٔنَ حَصۡحَصَ الۡحَقُّ ۫ اَنَا رَاوَدۡتُّہٗ عَنۡ  نَّفۡسِہٖ  وَ  اِنَّہٗ   لَمِنَ  الصّٰدِقِیۡنَ ﴿۵۲

 Ia, raja itu, berkata kepada para perempuan itu: “Bagaimana  keadaanmu yang sebenarnya, ketika kamu menggoda Yusuf berlawanan dengan kehendaknya?” Mereka menjawab: “Ia menjauhkan diri dari dosa karena takut kepada Allah,  kami sekali-kali tidak mengetahui adanya sesuatu keburukan padanya.” Istri Aziz itu berkata: “Sekarang kebenaran itu telah menjadi nyata, akulah yang telah menggoda dia  berlawanan dengan kehendaknya, dan sesungguhnya ia termasuk  orang-orang yang benar.” (Yusuf [12]:52).
         Kalimat “Ia menjauhkan diri dari dosa karena takut kepada Allah,  kami sekali-kali tidak mengetahui adanya sesuatu keburukan padanya”  hal tersebut menunjukkan, bahwa peristiwa perempuan-perempuan yang mengerat tangan sendiri itu benar-benar telah terjadi, karena  jika tidak demikian Nabi Yusuf a.s. tidak mungkin menyebutkannya.
       Baik karena tercengang atau karena asyiknya bercakap-cakap, beberapa dari antara mereka dengan tidak sengaja mengiris tangannya. Atau kata-kata itu mungkin berarti, bahwa dengan melancarkan tuduhan palsu terhadap Nabi Yusuf a.s. perempuan-perempuan itu telah mengerat tangannya sendiri, artinya mereka telah menjerumuskan diri mereka sendiri dalam kedudukan yang tidak benar. Seandainya  peristiwa   itu tidak pernah terjadi, niscaya Nabi Yusuf a.s.  tidak akan menyinggung tentang “mengiris tangan” itu. Haasya lillaahi berarti pula na’uudzu billaahi (kami berlindung kepada  Allah) atau “alangkah jauhnya Allah dari segala aib” (Lexicon Lane).

Mengembalikan Kepercayaan Pihak Lain

       Selanjutnya Nabi Yusuf a.s. menjelaskan apa tujuan utama beliau agar  kasus yang menimpa beliau diselidiki secara tuntas serta jelas pihak mana yang  benar dan yang salah, firman:
ذٰلِکَ لِیَعۡلَمَ اَنِّیۡ لَمۡ اَخُنۡہُ بِالۡغَیۡبِ وَ اَنَّ  اللّٰہَ  لَا یَہۡدِیۡ  کَیۡدَ  الۡخَآئِنِیۡنَ ﴿۵۲ وَ مَاۤ  اُبَرِّیُٔ نَفۡسِیۡ ۚ اِنَّ  النَّفۡسَ لَاَمَّارَۃٌۢ بِالسُّوۡٓءِ  اِلَّا مَا رَحِمَ  رَبِّیۡ ؕ اِنَّ رَبِّیۡ  غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ ﴿۵۳
Penyelidikan  itu supaya ia yakni Aziz mengetahui bahwa aku tidak pernah mengkhianatinya pada waktu ia tidak ada, dan sesungguhnya Allah tidak akan membiarkan tipu daya orang yang khianat itu berhasil.   Dan aku sama sekali tidak menganggap diriku bebas dari kelemahan, sesungguhnya nafsu ammarah itu senantiasa menyuruh kepada keburukan, kecuali orang yang dikasihani oleh Tuhan-ku,  sesungguhnya Tuhan-ku Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Yusuf [12]:53-54).
      Mengenai ayat 54 telah dijelaskan dalam salah satu Bab sebelumnya, yakni anak kalimat illa maa  rahiima rabbiy (kecuali orang yang dikasihani oleh Tuhan-ku) dapat mempunyai tiga tafsiran yang berlainan:
     (a) Kecuali nafs (jiwa) yang kepadanya Tuhan-ku berkasih sayang, huruf maa  di sini menggantikan kata nafs.
     (b) Kecuali dia, yang kepadanya Tuhan-ku berkasih sayang, maa  di sini berarti man (siapa).
      (c) Memang begitu, tetapi kasih-sayang Tuhan-lah yang menyelamatkan siapa yang dipilih-Nya. Ketiga arti tersebut menunjuk kepada ketiga taraf perkembangan ruhani manusia.
Arti pertama menunjuk kepada taraf ketika manusia telah mencapai tingkat kesempurnaan ruhani — tingkat nafs muthmainnah (jiwa yang tenteram — QS.89:28). Arti kedua dikenakan kepada orang yang masih pada tingkat nafs lawwamah (jiwa yang menyesali diri sendiri — QS.75:3), ketika ia berjuang melawan dosa dan kecenderungan-kecenderungan buruknya, kadang-kadang ia mengalahkannya dan kadang-kadang ia dikalahkan olehnya. Arti ketiga dikenakan kepada orang, ketika nafsu kebinatangannya bersimaharajalela dalam dirinya. Tingkatan ini disebut nafs ammarah (jiwa yang cenderung kepada keburukan).

Berbahayanya  Keadaan “Nafs Ammarah” &
Perumpamaan “Anjing yang Menjulurkan Lidahnya

    Dalam ayat tersebut Nabi Yusuf a.s. mengakui bahwa kecuali orang-orang yang dikehendaki Allah Swt. – yakni orang-orang yang Allah Swt. berlaku rahiim (kasih-sayang) kepadanya, karena orang tersebut benar-benar  telah berusaha melawan gejolak nafs ammarah yang sangat kuat) – tidak akan ada seorang pun yang  dapat benar-benar terbebas  dari cengkramannya.
       Dari Al-Quran diketahui, bahwa jangankan orang-orang awam,  karena  orang-orang yang telah meraih derajat wali Allah pun,  kalau mereka tidak senantiasa mewaspadai godaan-godaan syaitan melalui gejolak nafs ammarah tersebut tidak mustahil akan tergelincir. Salah satu contohnya adalah yang dialami oleh Balam bin Baura atau Bileam bin Beor di zaman Nabi Musa a.s..
      Konon ia adalah seorang wali Allah di zaman itu yang doa-doanya selalu terkabul serta ramalan-ramalannya pun selalu benar (Bilangan fasal 22 sd 24  & 31) tetapi karena ia kemudian berlaku takabbur terhadap Nabi Musa a.s., akibat pengaruh istrinya yang mencintai kekayaan duniawi, akhirnya ia mengalami kehidupan yang sangat hina seperti keadaan anjing yang senantiasa menjulurkan lidahnya.  Mengisyaratkan kepada kenyataan itulah firman Allah Swt. berikut ini:
وَ اتۡلُ عَلَیۡہِمۡ  نَبَاَ الَّذِیۡۤ  اٰتَیۡنٰہُ  اٰیٰتِنَا فَانۡسَلَخَ مِنۡہَا فَاَتۡبَعَہُ الشَّیۡطٰنُ فَکَانَ مِنَ  الۡغٰوِیۡنَ ﴿۱۷۶
Dan ceritakanlah kepada mereka  berita orang-orang yang telah Kami berikan Tanda-tanda Kami kepadanya, lalu ia melepaskan diri darinya maka syaitan mengikutinya dan jadilah ia termasuk orang-orang yang sesat. (Al-‘Araaf [7]:176).
   Yang dimaksudkan di sini bukanlah seseorang tertentu melainkan semua orang yang kepada mereka Allah Swt.  memperlihatkan Tanda-tanda melalui seorang nabi Allah tapi mereka menolaknya (mendustakannya). Ungkapan semacam itu terdapat di tempat lain dalam Al-Quran (seperti QS.2:18).  Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya, bahwa ayat itu telah dikenakan secara khusus kepada seorang yang bernama Bal’am bin Ba’ura (Bileam bin Beor) yang menurut kisah pernah hidup di zaman Nabi Musa a.s.    dan konon dahulunya ia seorang wali. Kesombongan merusak pikirannya dan ia mengakhiri hidupnya dalam kenistaan. Ayat itu dapat juga dikenakan kepada Abu Jahal atau Abdullah bin Ubbay bin Salul atau dapat pula kepada tiap-tiap pemimpin kekafiran yang mendustakan serta menantang Rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan kepada mereka (QS.7:35-37).
Selanjutnya Allah Swt.  mengemukakan misal (perumpamaan)  keadaan anjing mengenai  mereka:
وَ لَوۡ شِئۡنَا لَرَفَعۡنٰہُ بِہَا وَ لٰکِنَّہٗۤ اَخۡلَدَ اِلَی الۡاَرۡضِ وَ اتَّبَعَ ہَوٰىہُ ۚ فَمَثَلُہٗ  کَمَثَلِ الۡکَلۡبِ ۚ اِنۡ  تَحۡمِلۡ عَلَیۡہِ یَلۡہَثۡ اَوۡ تَتۡرُکۡہُ یَلۡہَثۡ ؕ ذٰلِکَ مَثَلُ الۡقَوۡمِ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا ۚ فَاقۡصُصِ الۡقَصَصَ لَعَلَّہُمۡ یَتَفَکَّرُوۡنَ ﴿۱۷۷   سَآءَ مَثَلَاۨ الۡقَوۡمُ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اَنۡفُسَہُمۡ کَانُوۡا یَظۡلِمُوۡنَ ﴿۱۷۸   مَنۡ یَّہۡدِ اللّٰہُ فَہُوَ الۡمُہۡتَدِیۡ ۚ وَ مَنۡ یُّضۡلِلۡ  فَاُولٰٓئِکَ  ہُمُ  الۡخٰسِرُوۡنَ ﴿۱۷۹
Dan seandainya  Kami menghendaki niscaya Kami meninggikan derajatnya denganTanda-tanda itu, akan tetapi ia cenderung ke bumi1 dan mengikuti hawa nafsunya, maka keadaannya seperti seekor anjing yang kehausan, jika engkau menghalaunya ia menjulurkan lidahnya dan jika engkau membiarkannya ia tetap menjulurkan lidahnya.  Demikianlah misal orang-orang yang mendustakan Tanda-tanda Kami, maka beritakanlah kisah ini supaya mereka merenungkannya.  Sangat buruk misal  orang-orang yang mendustakan Tanda-tanda Kami, dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zalim.   Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah   maka dialah yang mendapat petunjuk, dan barangsiapa yang Dia sesatkan  maka mereka itulah orang-orang yang rugi. (Al-‘Araaf [7]:177-179).
     Makna kata “bumi” dalam  kalimat  “akan tetapi ia cenderung ke bumi  “  adalah hal-hal yang bersifat kebendaan, pada khususnya kecintaan akan uang, sebab pada umumnya orang-orang yang mendustakan serta menentang para Rasul Allah   adalah orang-orang yang menginginkan kekuasaan dan kekayaan duniawi.
     Yalhats    -- dari lahatsa -- yang berarti nafasnya tersengal-sengal karena  lelah atau  penat, maksudnya  adalah  baik diminta ataupun tidak untuk berkorban pada jalan agama, orang semacam itu nampaknya terengah-engah seperti seekor anjing kehausan, seakan-akan beban pemberian pengorbanan yang terus menerus bertambah membuatnya amat penat sekali.
    Kembali kepada Nabi Yusuf a.s. mau pun kepada Nabi Besar Muhammad saw., kedua wujud suci tersebut berhasil melepaskan diri dari “godaan kesenangan duniawi” dan sebagai akibatnya mereka harus menderita  di jalan Allah, sebagaimana  ancaman dari istri Potidar kepada Nabi Yusuf a.s. (QS.12:33). Atas ancaman tersebut  Nabi Yusuf a.s. berdoa, firman-Nya:
    قَالَ رَبِّ السِّجۡنُ اَحَبُّ اِلَیَّ مِمَّا یَدۡعُوۡنَنِیۡۤ  اِلَیۡہِ ۚ وَ اِلَّا تَصۡرِفۡ عَنِّیۡ کَیۡدَہُنَّ اَصۡبُ  اِلَیۡہِنَّ وَ اَکُنۡ مِّنَ الۡجٰہِلِیۡنَ ﴿۳۴    فَاسۡتَجَابَ لَہٗ  رَبُّہٗ  فَصَرَفَ عَنۡہُ کَیۡدَہُنَّ ؕ اِنَّہٗ  ہُوَ السَّمِیۡعُ الۡعَلِیۡمُ ﴿۳۴   ثُمَّ بَدَا لَہُمۡ مِّنۡۢ بَعۡدِ مَا رَاَوُا الۡاٰیٰتِ لَیَسۡجُنُنَّہٗ حَتّٰی حِیۡنٍ ﴿٪۳۵

Ia, Yusuf, berkata:  “Ya Tuhan-ku, penjara itu lebih kusukai bagiku daripada apa yang mereka mengajakku kepadanya, dan jika Engkau tidak mengelakkan dari diriku tipu-daya mereka tentu aku akan cenderung kepada mereka itu dan aku akan termasuk orang-orang yang jahil.” Maka Tuhan mengabulkan doanya lalu   mengelakkan dari   tipu-daya mereka, sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.  (Yusuf [12]:34-35).

(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid

Tidak ada komentar:

Posting Komentar