بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Tentang
Ki Langlang
Buana Kusuma
HUBUNGAN NABI YUSUF A.S.
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
Bagian XX
Tentang
Pecinta Kehidupan Duniawi &
Perumpamaan "Anjing yang Lidahnya Terjulur"
Perumpamaan "Anjing yang Lidahnya Terjulur"
Oleh
ٰۤاَیُّہَا الۡاِنۡسَانُ اِنَّکَ کَادِحٌ اِلٰی رَبِّکَ کَدۡحًا فَمُلٰقِیۡہِ ۚ﴿۷﴾
Hai manusia, sesungguhnya engkau bekerja
keras dengan sungguh-sungguh menuju Tuhan engkau, maka engkau akan bertemu dengan-Nya. (Al-Insyiqaq
[84]:5).
Dalam 2
Bab sebelumnya telah dikemukakan rayuan
istri Potifar terhadap Nabi Yusuf a.s., yang pada hakikatnya merupakan godaan kesenangan duniawi yang merintangi jalan
orang-orang yang melakukan perjalanan
ruhani (suluk) menuju “perjumpaan” dengan Allah Swt. -- di dalam kehidupan di
dunia ini pula, yang dalam dunia tashawuf disebut tingkatan liqa, sebagaimana firman-Nya di awal Bab ini dan juga dalam QS.2:224; QS.11:30;
QS.18:111 -- yang apabila rayuan
kesenangan duniawi tersebut berhasil menguasai manusia maka
itu merupakan semacam “perzinahan” atau “perselingkuhan” atau “pengkhianatan”
terhadap Allah Swt. – yang dalam kisah Nabi Yusuf a.s. digambarkan sebagai ketidak-sukaan Nabi Yusuf a.s.
untuk “berkhianat” terhadap orang
yang telah memberikan “perlindungan” kepada beliau di Mesir, yakni Potifar (QS.12:53).
Mengisyaratkan
kepada hal itulah ketika Nabi Yusuf a.s. dipanggil oleh raja Mesir –
karena telah memberikan tafsir yang memuaskan hati raja mengenai mimpi
yang dilihatnya (QS.12:44-50) -- tetapi beliau
menolak hadir sebelum kasus "rayuan istri Potifar” terhadap diri beliau terlebih dulu menjadi jelas, siapa yang benar dan siapa yang salah, sehingga di masa datang tidak akan menimbulkan
fitnah bagi diri Nabi Yusuf a.s.. Mengenai hal itu Allah Swt. berfirman:
وَ قَالَ الۡمَلِکُ ائۡتُوۡنِیۡ بِہٖ ۚ فَلَمَّا
جَآءَہُ الرَّسُوۡلُ قَالَ ارۡجِعۡ اِلٰی
رَبِّکَ فَسۡـَٔلۡہُ مَا بَالُ النِّسۡوَۃِ
الّٰتِیۡ قَطَّعۡنَ اَیۡدِیَہُنَّ ؕ اِنَّ رَبِّیۡ بِکَیۡدِہِنَّ عَلِیۡمٌ
﴿۵۱﴾
Dan raja itu berkata: “Bawalah dia kepadaku.” Maka
tatkala utusan itu datang kepadanya, ia (Yusuf) berkata: “Kembalilah
kepada majikan engkau dan tanyakanlah
kepadanya, bagaimana keadaan para
perempuan yang telah mengerat tangan mereka sendiri, sesungguhnya Tuhan-ku Maha Mengetahui
rencana tipu daya mereka.” (Yusuf [12]:51).
Penghakiman Raja atas Kasus Nabi Yusuf a.s.
Menyadari
bahwa Nabi Yusuf a.s. itu bukanlah orang biasa, maka raja Mesir bermaksud membebaskan
beliau dari penjara seketika itu juga. Tetapi Nabi Yusuf a.s. menolak untuk dibebaskan sebelum
diadakan pemeriksaan lengkap mengenai perkara beliau, dan sebelum
beliau terbukti bersih dari tuduhan yang dikenakan kepada beliau.
Tujuan
Nabi Yusuf a.s. menuntut agar
diadakan pemeriksaan itu, agaknya ada dua: (1) supaya raja dapat mengetahui bahwa
beliau tidak bersalah, sehingga di hari kemudian pikiran raja
tidak dapat diracuni oleh orang-orang yang bersikap tidak baik terhadap
beliau atas dasar tuduhan-tuduhan yang karenanya beliau dipenjarakan. (2)
supaya Potifar, pelindungnya, jangan lagi mempunyai kesan bahwa
Nabi Yusuf a.s. terbukti tidak
setia kepadanya.
Raja
mengabulkan permintaan dari Nabi Yusuf a.s. dan ia sendiri yang melakukan penghakiman dalam kasus yang
menimpa Nabi Yusuf a.s. dengan memanggil semua perempuan yang terlibat langsung
dalam kasus tersebut, firman-Nya:
قَالَ
مَا خَطۡبُکُنَّ اِذۡ رَاوَدۡتُّنَّ یُوۡسُفَ عَنۡ نَّفۡسِہٖ ؕ
قُلۡنَ حَاشَ لِلّٰہِ مَا عَلِمۡنَا
عَلَیۡہِ مِنۡ سُوۡٓءٍ ؕ قَالَتِ امۡرَاَتُ الۡعَزِیۡزِ الۡـٰٔنَ حَصۡحَصَ
الۡحَقُّ ۫ اَنَا رَاوَدۡتُّہٗ عَنۡ
نَّفۡسِہٖ وَ اِنَّہٗ
لَمِنَ الصّٰدِقِیۡنَ ﴿۵۲﴾
Ia, raja itu, berkata
kepada para perempuan itu: “Bagaimana
keadaanmu yang sebenarnya, ketika kamu menggoda Yusuf
berlawanan dengan kehendaknya?” Mereka menjawab: “Ia menjauhkan
diri dari dosa karena takut kepada Allah, kami sekali-kali tidak mengetahui adanya
sesuatu keburukan padanya.” Istri Aziz itu berkata: “Sekarang kebenaran
itu telah menjadi nyata, akulah yang telah menggoda dia berlawanan dengan kehendaknya, dan
sesungguhnya ia termasuk orang-orang
yang benar.” (Yusuf [12]:52).
Kalimat “Ia menjauhkan diri dari dosa karena
takut kepada Allah, kami
sekali-kali tidak mengetahui adanya sesuatu keburukan padanya” hal tersebut menunjukkan, bahwa peristiwa perempuan-perempuan
yang mengerat tangan sendiri itu benar-benar telah terjadi,
karena jika tidak demikian Nabi Yusuf
a.s. tidak mungkin menyebutkannya.
Baik
karena tercengang atau karena asyiknya bercakap-cakap, beberapa dari antara
mereka dengan tidak sengaja mengiris tangannya. Atau kata-kata itu mungkin
berarti, bahwa dengan melancarkan tuduhan palsu terhadap Nabi Yusuf a.s.
perempuan-perempuan itu telah mengerat tangannya sendiri, artinya mereka
telah menjerumuskan diri mereka sendiri dalam kedudukan yang tidak
benar. Seandainya peristiwa itu
tidak pernah terjadi, niscaya Nabi Yusuf a.s. tidak akan menyinggung tentang “mengiris
tangan” itu. Haasya lillaahi berarti pula na’uudzu billaahi (kami
berlindung kepada Allah) atau “alangkah
jauhnya Allah dari segala aib” (Lexicon Lane).
Mengembalikan Kepercayaan Pihak Lain
Selanjutnya
Nabi Yusuf a.s. menjelaskan apa tujuan utama beliau agar kasus yang menimpa beliau diselidiki
secara tuntas serta jelas pihak mana yang
benar dan yang salah, firman:
ذٰلِکَ
لِیَعۡلَمَ اَنِّیۡ لَمۡ اَخُنۡہُ بِالۡغَیۡبِ وَ اَنَّ اللّٰہَ
لَا یَہۡدِیۡ کَیۡدَ الۡخَآئِنِیۡنَ ﴿۵۲﴾ وَ مَاۤ اُبَرِّیُٔ نَفۡسِیۡ ۚ
اِنَّ النَّفۡسَ لَاَمَّارَۃٌۢ بِالسُّوۡٓءِ اِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّیۡ ؕ اِنَّ رَبِّیۡ غَفُوۡرٌ
رَّحِیۡمٌ ﴿۵۳﴾
Penyelidikan itu supaya
ia yakni Aziz mengetahui bahwa aku tidak pernah
mengkhianatinya pada waktu ia tidak ada, dan sesungguhnya Allah
tidak akan membiarkan tipu daya orang yang khianat itu berhasil. Dan aku
sama sekali tidak menganggap diriku bebas dari kelemahan,
sesungguhnya nafsu ammarah itu senantiasa menyuruh kepada keburukan,
kecuali orang yang dikasihani oleh Tuhan-ku, sesungguhnya Tuhan-ku Maha Pengampun, Maha
Penyayang.” (Yusuf [12]:53-54).
Mengenai ayat 54 telah
dijelaskan dalam salah satu Bab sebelumnya, yakni anak kalimat illa maa rahiima rabbiy (kecuali orang yang
dikasihani oleh Tuhan-ku) dapat mempunyai tiga tafsiran yang berlainan:
(a) Kecuali nafs
(jiwa) yang kepadanya Tuhan-ku berkasih sayang, huruf maa di sini menggantikan kata nafs.
(b)
Kecuali dia, yang kepadanya Tuhan-ku berkasih sayang, maa di sini berarti man (siapa).
(c) Memang
begitu, tetapi kasih-sayang Tuhan-lah yang menyelamatkan siapa yang
dipilih-Nya. Ketiga arti tersebut menunjuk kepada ketiga taraf perkembangan
ruhani manusia.
Arti
pertama menunjuk kepada taraf ketika manusia telah mencapai tingkat
kesempurnaan ruhani — tingkat nafs muthmainnah (jiwa yang tenteram —
QS.89:28). Arti kedua dikenakan kepada orang yang masih pada tingkat nafs
lawwamah (jiwa yang menyesali diri sendiri — QS.75:3), ketika ia berjuang
melawan dosa dan kecenderungan-kecenderungan buruknya, kadang-kadang ia
mengalahkannya dan kadang-kadang ia dikalahkan olehnya. Arti ketiga dikenakan
kepada orang, ketika nafsu kebinatangannya bersimaharajalela dalam
dirinya. Tingkatan ini disebut nafs ammarah (jiwa yang cenderung kepada
keburukan).
Berbahayanya Keadaan “Nafs
Ammarah” &
Perumpamaan “Anjing yang Menjulurkan Lidahnya”
Dalam ayat tersebut Nabi Yusuf a.s.
mengakui bahwa kecuali orang-orang yang dikehendaki Allah Swt. – yakni
orang-orang yang Allah Swt. berlaku rahiim (kasih-sayang) kepadanya,
karena orang tersebut benar-benar telah berusaha
melawan gejolak nafs ammarah yang sangat kuat) – tidak akan ada seorang
pun yang dapat benar-benar terbebas
dari cengkramannya.
Dari Al-Quran diketahui, bahwa jangankan
orang-orang awam, karena orang-orang yang telah meraih derajat wali
Allah pun, kalau mereka tidak
senantiasa mewaspadai godaan-godaan syaitan melalui gejolak nafs
ammarah tersebut tidak mustahil akan tergelincir. Salah satu
contohnya adalah yang dialami oleh Balam bin Baura atau Bileam bin
Beor di zaman Nabi Musa a.s..
Konon ia adalah seorang wali Allah
di zaman itu yang doa-doanya selalu terkabul serta ramalan-ramalannya
pun selalu benar (Bilangan fasal 22 sd 24 & 31) tetapi karena ia kemudian berlaku
takabbur terhadap Nabi Musa a.s., akibat pengaruh istrinya yang mencintai
kekayaan duniawi, akhirnya ia mengalami kehidupan yang sangat hina
seperti keadaan anjing yang senantiasa menjulurkan lidahnya. Mengisyaratkan kepada kenyataan itulah firman
Allah Swt. berikut ini:
وَ
اتۡلُ عَلَیۡہِمۡ نَبَاَ الَّذِیۡۤ اٰتَیۡنٰہُ
اٰیٰتِنَا فَانۡسَلَخَ مِنۡہَا فَاَتۡبَعَہُ الشَّیۡطٰنُ فَکَانَ مِنَ الۡغٰوِیۡنَ ﴿۱۷۶﴾
Dan ceritakanlah kepada mereka
berita orang-orang yang telah Kami berikan Tanda-tanda Kami kepadanya,
lalu ia melepaskan diri darinya maka syaitan mengikutinya dan
jadilah ia termasuk orang-orang yang sesat. (Al-‘Araaf
[7]:176).
Yang dimaksudkan di sini bukanlah seseorang
tertentu melainkan semua orang yang kepada mereka Allah Swt. memperlihatkan Tanda-tanda
melalui seorang nabi Allah tapi mereka menolaknya (mendustakannya).
Ungkapan semacam itu terdapat di tempat lain dalam Al-Quran (seperti QS.2:18). Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya,
bahwa ayat itu telah dikenakan secara khusus kepada seorang yang bernama Bal’am
bin Ba’ura (Bileam bin Beor) yang menurut kisah pernah hidup di zaman Nabi
Musa a.s. dan konon
dahulunya ia seorang wali. Kesombongan merusak pikirannya dan ia
mengakhiri hidupnya dalam kenistaan. Ayat itu dapat juga dikenakan kepada Abu
Jahal atau Abdullah bin Ubbay bin Salul atau dapat pula kepada tiap-tiap
pemimpin kekafiran yang mendustakan serta menantang Rasul
Allah yang kedatangannya dijanjikan kepada mereka (QS.7:35-37).
Selanjutnya Allah Swt. mengemukakan misal (perumpamaan) keadaan anjing mengenai mereka:
وَ
لَوۡ شِئۡنَا لَرَفَعۡنٰہُ بِہَا وَ لٰکِنَّہٗۤ اَخۡلَدَ اِلَی الۡاَرۡضِ وَ
اتَّبَعَ ہَوٰىہُ ۚ فَمَثَلُہٗ کَمَثَلِ
الۡکَلۡبِ ۚ اِنۡ تَحۡمِلۡ عَلَیۡہِ
یَلۡہَثۡ اَوۡ تَتۡرُکۡہُ یَلۡہَثۡ ؕ ذٰلِکَ مَثَلُ الۡقَوۡمِ الَّذِیۡنَ
کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا ۚ فَاقۡصُصِ الۡقَصَصَ لَعَلَّہُمۡ یَتَفَکَّرُوۡنَ ﴿۱۷۷﴾ سَآءَ مَثَلَاۨ
الۡقَوۡمُ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اَنۡفُسَہُمۡ کَانُوۡا
یَظۡلِمُوۡنَ ﴿۱۷۸﴾ مَنۡ یَّہۡدِ اللّٰہُ فَہُوَ الۡمُہۡتَدِیۡ ۚ وَ
مَنۡ یُّضۡلِلۡ فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ
الۡخٰسِرُوۡنَ ﴿۱۷۹﴾
Dan seandainya Kami
menghendaki niscaya Kami meninggikan derajatnya denganTanda-tanda itu, akan tetapi ia
cenderung ke bumi1 dan mengikuti hawa nafsunya, maka keadaannya
seperti seekor anjing yang kehausan, jika engkau menghalaunya ia menjulurkan
lidahnya dan jika engkau membiarkannya ia tetap menjulurkan lidahnya. Demikianlah misal orang-orang yang
mendustakan Tanda-tanda Kami, maka beritakanlah kisah ini supaya
mereka merenungkannya. Sangat buruk misal orang-orang yang mendustakan
Tanda-tanda Kami, dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat
zalim. Barangsiapa yang diberi petunjuk
oleh Allah maka dialah yang
mendapat petunjuk, dan barangsiapa yang Dia sesatkan maka mereka itulah orang-orang yang rugi.
(Al-‘Araaf [7]:177-179).
Makna kata “bumi” dalam kalimat
“akan tetapi ia cenderung ke bumi “
adalah hal-hal yang bersifat kebendaan, pada khususnya kecintaan
akan uang, sebab pada umumnya orang-orang yang mendustakan serta menentang
para Rasul Allah adalah orang-orang yang menginginkan kekuasaan
dan kekayaan duniawi.
Yalhats -- dari
lahatsa -- yang berarti nafasnya tersengal-sengal karena lelah atau penat, maksudnya adalah
baik diminta ataupun tidak untuk berkorban pada jalan agama,
orang semacam itu nampaknya terengah-engah seperti seekor anjing
kehausan, seakan-akan beban pemberian pengorbanan yang terus menerus
bertambah membuatnya amat penat sekali.
Kembali kepada Nabi Yusuf a.s. mau pun
kepada Nabi Besar Muhammad saw., kedua wujud suci tersebut berhasil melepaskan
diri dari “godaan kesenangan duniawi” dan sebagai akibatnya mereka
harus menderita di jalan Allah, sebagaimana ancaman dari istri Potidar kepada Nabi Yusuf a.s. (QS.12:33). Atas ancaman tersebut Nabi Yusuf a.s. berdoa, firman-Nya:
قَالَ رَبِّ السِّجۡنُ اَحَبُّ اِلَیَّ مِمَّا
یَدۡعُوۡنَنِیۡۤ اِلَیۡہِ ۚ وَ اِلَّا
تَصۡرِفۡ عَنِّیۡ کَیۡدَہُنَّ اَصۡبُ
اِلَیۡہِنَّ وَ اَکُنۡ مِّنَ الۡجٰہِلِیۡنَ ﴿۳۴﴾ فَاسۡتَجَابَ
لَہٗ رَبُّہٗ فَصَرَفَ عَنۡہُ کَیۡدَہُنَّ ؕ اِنَّہٗ ہُوَ السَّمِیۡعُ الۡعَلِیۡمُ ﴿۳۴﴾ ثُمَّ بَدَا لَہُمۡ
مِّنۡۢ بَعۡدِ مَا رَاَوُا الۡاٰیٰتِ لَیَسۡجُنُنَّہٗ حَتّٰی حِیۡنٍ ﴿٪۳۵﴾
Ia, Yusuf, berkata:
“Ya Tuhan-ku, penjara itu lebih kusukai bagiku daripada apa
yang mereka mengajakku kepadanya, dan jika Engkau tidak mengelakkan dari
diriku tipu-daya mereka tentu aku akan cenderung kepada mereka itu
dan aku akan termasuk orang-orang yang jahil.” Maka Tuhan mengabulkan
doanya lalu mengelakkan
dari tipu-daya mereka, sesungguhnya
Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui. (Yusuf [12]:34-35).
(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam
Farid
Tidak ada komentar:
Posting Komentar