بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
HUBUNGAN NABI YUSUF A.S.
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
Bagian XXIII
Tentang
Mimpi Raja Mesir
Oleh
Ki Langlang
Buana Kusuma
وَ قَالَ الۡمَلِکُ اِنِّیۡۤ
اَرٰی سَبۡعَ بَقَرٰتٍ سِمَانٍ یَّاۡکُلُہُنَّ سَبۡعٌ عِجَافٌ وَّ سَبۡعَ
سُنۡۢبُلٰتٍ خُضۡرٍ وَّ اُخَرَ یٰبِسٰتٍ ؕ
یٰۤاَیُّہَا الۡمَلَاُ اَفۡتُوۡنِیۡ فِیۡ
رُءۡیَایَ اِنۡ کُنۡتُمۡ لِلرُّءۡیَا تَعۡبُرُوۡنَ ﴿۴۴﴾
Dan raja itu berkata:
“Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi tujuh ekor sapi betina yang gemuk
dimakan oleh tujuh ekor sapi kurus, dan tujuh bulir yang hijau dan yang
lain-nya kering. Hai para pembesar,
te-rangkanlah pendapatmu kepadaku ten-tang mimpiku jika kamu sungguh dapat menafsirkan makna mimpi itu.”(Yusuf
[12]:44).
Dalam Bab sebelumnya telah dijelaskan
mengenai takwil mimpi kedua rekan sepenjara Nabi Yusuf a.s. serta alasan
lamanya Nabi Yusuf a.s. dalam penjara, akibat orang yang dibebaskan dari
penjara serta dapat kembali bekerja sebagai pelayan minuman raja Mesir lupa menyampaikan kasus Nabi Yusuf
a.s. kepada raja, firman-Nya:
وَ قَالَ لِلَّذِیۡ
ظَنَّ اَنَّہٗ نَاجٍ مِّنۡہُمَا اذۡکُرۡنِیۡ عِنۡدَ رَبِّکَ ۫ فَاَنۡسٰہُ الشَّیۡطٰنُ
ذِکۡرَ رَبِّہٖ فَلَبِثَ فِی السِّجۡنِ بِضۡعَ سِنِیۡنَ ﴿ؕ٪۴۳﴾
Dan dia berkata kepada orang yang diduga (diyakini) akan dibebaskan dari antara
kedua orang itu: “Ceriterakanlah
mengenai diriku kepada majikan engkau.” Tetapi syaitan menyebabkannya
lupa menceritakannya kepada majikannya maka dia (Yusuf)
tinggal dalam penjara beberapa tahun lamanya. (Yusuf [12]:42-43).
Bidh menyatakan bermacam-macam
bilangan, tetapi pada umumnya dianggap berarti bilangan dari tiga sampai
sembilan (Lexicon Lane). Dalam bagian akhir Bab sebelumnya telah
dikemukakan 2 alasan kenapa Nabi Yusuf
a.s. tinggal dalam penjara lebih lama dari yang direncanakan orang-orang yang
mengatur rekayasa pemenjaraan beliau, yakni:
(1) dari pihak orang yang diberi pesan oleh Nabi Yusuf a.s. ada unsur ketidaksukaan
atas dakwah Nabi Yusuf a.s. yang mencela kemusyrikan yang dilakukan oleh
masyarakat kerajaan Mesir, sehingga akhirnya ia lupa menyampaikannya.
(2) dari pihak Nabi
Yusuf a.s., walaupun sangat wajar Nabi Yusuf a.s. menitipkan pesan kepada raja
Mesir melalui orang yang dibebaskan dari
penjara, karena memang beliau sama sekali tidak bersalah dalam kasus dengan
istri Potifar, tetapi sebagai seorang suci (nabi Allah) menjadi kurang
bijaksana beliau mengadukan kasusnya
melalui kepada makhluk, padahal berada
dalam penjara adalah pilihan beliau sendiri, firman-Nya:
قَالَ
رَبِّ السِّجۡنُ اَحَبُّ اِلَیَّ مِمَّا یَدۡعُوۡنَنِیۡۤ اِلَیۡہِ ۚ وَ اِلَّا تَصۡرِفۡ عَنِّیۡ
کَیۡدَہُنَّ اَصۡبُ اِلَیۡہِنَّ وَ اَکُنۡ
مِّنَ الۡجٰہِلِیۡنَ ﴿۳۴﴾ فَاسۡتَجَابَ لَہٗ
رَبُّہٗ فَصَرَفَ عَنۡہُ
کَیۡدَہُنَّ ؕ اِنَّہٗ ہُوَ السَّمِیۡعُ
الۡعَلِیۡمُ ﴿۳۵﴾ ثُمَّ بَدَا لَہُمۡ مِّنۡۢ بَعۡدِ مَا رَاَوُا الۡاٰیٰتِ
لَیَسۡجُنُنَّہٗ حَتّٰی حِیۡنٍ ﴿٪۳۶﴾
Ia, Yusuf, berkata:
“Ya Tuhan-ku, penjara itu lebih kusukai bagiku daripada apa
yang mereka mengajakku kepadanya, dan jika Engkau tidak mengelakkan dari
diriku tipu-daya mereka tentu aku akan cenderung kepada mereka itu dan aku
akan terma-uk orang-orang yang jahil.” Maka Tuhan mengabulkan doanya lalu mengelakkan dari tipu-daya mereka, sesungguhnya Dia
Maha Mendengar, Maha Mengetahui. Kemudian
timbul pikiran pada mereka yakni para pembesar, setelah mereka
melihat tanda-tanda kesucian Yusuf itu, bahwa untuk menjaga
nama baik, mereka harus
memenjarakannya untuk sementara waktu (Yusuf [12]:34-36).
Tetapi mungkin saja ada
hikmah lainnya kenapa Nabi Yusuf a.s. lebih lama lagi tinggal dalam
penjara, yang pasti adalah bahwa Allah Swt. tidak akan membiarkan takdir mengenai Nabi Yusuf a.s. yang telah dilihat
beliau melalui mimpinya akan sia-sia.
Hanya Allah Swt. Yang Maha Mengetahui
semuanya itu.
Mimpi Raja Mesir
Sesuai dengan sifat
Rabubiyyah Allah Swt. (QS.1:2), berbagai takdir yang harus dijalani oleh semua manusia –
termasuk Nabi Yusuf a.s. – tidak lepas dari rangkaian hukum “sebab-akibat”,
demikian pula juga genapnya mimpi yang diceritakan Nabi Yusuf a.s. kepada
ayahanda beliau, Nabi Ya’qub a.s., firman-Nya:
اِذۡ قَالَ یُوۡسُفُ لِاَبِیۡہِ یٰۤاَبَتِ اِنِّیۡ رَاَیۡتُ اَحَدَعَشَرَ کَوۡکَبًا
وَّ الشَّمۡسَ
وَ الۡقَمَرَ رَاَیۡتُہُمۡ لِیۡ سٰجِدِیۡنَ ﴿۵﴾ قَالَ یٰبُنَیَّ لَا تَقۡصُصۡ رُءۡیَاکَ عَلٰۤی اِخۡوَتِکَ فَیَکِیۡدُوۡا لَکَ کَیۡدًا ؕ اِنَّ الشَّیۡطٰنَ لِلۡاِنۡسَانِ عَدُوٌّ
مُّبِیۡنٌ ﴿۶﴾ وَ کَذٰلِکَ یَجۡتَبِیۡکَ رَبُّکَ وَ یُعَلِّمُکَ مِنۡ تَاۡوِیۡلِ الۡاَحَادِیۡثِ وَ یُتِمُّ نِعۡمَتَہٗ عَلَیۡکَ وَ عَلٰۤی اٰلِ یَعۡقُوۡبَ کَمَاۤ اَتَمَّہَا عَلٰۤی اَبَوَیۡکَ مِنۡ قَبۡلُ اِبۡرٰہِیۡمَ وَ اِسۡحٰقَ ؕ اِنَّ رَبَّکَ عَلِیۡمٌ حَکِیۡمٌ ٪﴿۷﴾
Ingatlah ketika
Yusuf berkata kepada
ayahnya: “Hai ayahku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi
sebelas bintang, matahari dan bulan, aku melihat mereka sujud kepadaku.” Ia, Ya’qub,
berkata: “Hai anakku, janganlah engkau menceriterakan mimpi engkau itu
kepada saudara-saudara engkau, karena mereka akan melakukan tipu-daya buruk
untuk memperdayakan engkau, sesungguhnya syaitan itu musuh yang
nyata bagi manusia. Dan demikianlah Tuhan engkau akan memilih
engkau dan akan mengajar engkau ta'wil mimpi-mimpi dan akan menyempurnakan
nikmat-Nya atas engkau dan atas keturunan Ya’qub, seperti
Dia telah menyempurnakannya atas kedua bapak engkau dahulu, Ibrahim
dan Ishaq, sesungguhnya Tuhan engkau Maha Mengetahui, Maha
Bijaksana.” (Yusuf [12]:5-7).
Takdir-takdir
awal yang harus dijalani oleh Nabi Yusuf a.s. telah beliau jalani, demikian
juga mengenai cara menakwilkan mimpi yang benar pun telah beliau lakukan
terhadap dua rekan beliau
sepenjara, tetapi hal tersebut belum sepenuhnya mengubah nasib
Nabi Yusuf a.s. ke arah yang lebih baik karena untuk beberapa tahun
harus tetap berada dalam penjara.
Nasib
Nabi Yusuf a.s. mulai berubah secara drastis ketika beliau menakwilkan mimpi
raja Mesir yang dianggap oleh para
pembesarnya sebagai mimpi yang kacau-balau, firman-Nya:
وَ قَالَ الۡمَلِکُ اِنِّیۡۤ
اَرٰی سَبۡعَ بَقَرٰتٍ سِمَانٍ یَّاۡکُلُہُنَّ سَبۡعٌ عِجَافٌ وَّ سَبۡعَ
سُنۡۢبُلٰتٍ خُضۡرٍ وَّ اُخَرَ یٰبِسٰتٍ ؕ
یٰۤاَیُّہَا الۡمَلَاُ اَفۡتُوۡنِیۡ فِیۡ
رُءۡیَایَ اِنۡ کُنۡتُمۡ لِلرُّءۡیَا تَعۡبُرُوۡنَ ﴿۴۴﴾ قَالُوۡۤا اَضۡغَاثُ اَحۡلَامٍ ۚ وَ مَا نَحۡنُ
بِتَاۡوِیۡلِ الۡاَحۡلَامِ بِعٰلِمِیۡنَ ﴿۴۵﴾
Dan raja itu berkata:
“Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi tujuh ekor sapi betina
yang gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi kurus, dan tujuh bulir
yang hijau dan yang lainnya kering. Hai para pembesar, terangkanlah pendapatmu kepadaku tentang
mimpiku jika kamu sungguh dapat
menafsirkan makna mimpi
itu.” Mereka
menjawab: “Mimpi-mimpi ini kacau-balau dan kami sama sekali tidak mengetahui ta’bir
mimpi-mimpi seperti itu.”
(Yusuf [12]:44-45).
Rukya (Penglihatan Ruhani) Nabi Ibrahim a.s.
Betapa kuatnya ketentuan takdir
baik Allah Swt. yang harus dijalani
oleh Nabi Yusuf a.s., karena pada akhirnya pelayan minuman raja terpaksa
harus menyampaikan pesan Nabi Yusuf a.s., sebab baginya
merupakan kesempatan yang sangat bagus baginya untuk
mempersembahkan suatu “jasa” kepada raja, yang baginya tidak mungkin terulang
memiliki kesempatan bagus seperti itu. Lalu ia menyampaikan informasi
yang dialaminya sendiri mengenai Nabi
Yusuf a.s. kepada raja melalui para pembesar tersebut, firman-Nya:
وَ
قَالَ الَّذِیۡ نَجَا مِنۡہُمَا وَ ادَّکَرَ
بَعۡدَ اُمَّۃٍ اَنَا اُنَبِّئُکُمۡ
بِتَاۡوِیۡلِہٖ فَاَرۡسِلُوۡنِ ﴿۴۶﴾ یُوۡسُفُ اَیُّہَا الصِّدِّیۡقُ
اَفۡتِنَا فِیۡ سَبۡعِ بَقَرٰتٍ سِمَانٍ یَّاۡکُلُہُنَّ سَبۡعٌ عِجَافٌ وَّ سَبۡعِ
سُنۡۢبُلٰتٍ خُضۡرٍ وَّ اُخَرَ یٰبِسٰتٍ ۙ
لَّعَلِّیۡۤ اَرۡجِعُ اِلَی النَّاسِ لَعَلَّہُمۡ یَعۡلَمُوۡنَ ﴿۴۷﴾
Dan berkata seorang yang telah selamat dari kedua orang itu,
dan sesudah beberapa lama baru
teringat: “Aku akan memberitahukan
kepada kamu mengenai ta’birnya
karena itu utuslah aku.” Dan dia berkata: “Yusuf, hai engkau
orang yang benar! Terangkanlah pendapat engkau kepada kami arti mimpi
tujuh ekor sapi betina gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi kurus
dan tujuh bulir hijau dan lainnya kering, supaya aku dapat kembali
kepada orang-orang itu, agar mereka dapat mengetahui.” (Yusuf
[12]:46-47).
Untuk sekedar mengingatkan kembali, bahwa di
dalam Bible terdapat nubuatan (kabar gaib) mengenai keturunan Nabi Ibrahim a.s. melalui Nabi Ishaq a.s. bahwa mereka
akan menjadi orang asing di suatu
negeri selama 400 tahun lamanya, yakni sebagaimana
Nabi Ibrahim a.s.dan istri beliau, Sarah, pernah mengungsi ke Mesir -- karena
di wilayah Kanaan terjadi bencana kelaparan yang hebat -- peristiwa mengungsi ke Mesir tersebut
akan terulang kembali pada masa cucu Nabi Ibrahim a.s., yakni Nabi Yaqub
a.s. dan anak-anak beliau, dengan alasan yang sama, yakni terjadinya kemarau panjang selama 7
tahun yang menyebabkan terjadinya bencana kelaparan yang melanda kawasan Timur Tengah. Berikut nubuatan
tersebut:
Menjelang
matahari terbenam tertidurlah Abram
dengan nyenyak. Lalu turunlah meliputinya gelap gulita yang mengerikan. Firman
Tuhan kepada Abram: “Ketahuilah dengan sesungguhnya bahwa keturunanmu akan
menjadi orang asing dalam suatu negeri, yang bukan kepunyaan mereka, dan bahwa
mereka akan diperbudak dan dianiaya empat ratus tahun lamanya. Tetapi
bangsa yang akan memperbudak mereka akan Kuhukum, dan sesudah itu mereka akan
keluar dengan membawa harta benda yang banyak. Tetapi engau akan pergi kepada
nenek moyangmu dengan sejahtera; engkau akan dikuburkan pada waktu telah putih
rambutmu. Tetapi keturunan yang keempat akan kembali ke sini, sebab
sebelum itu kedurhakaan orang Amori itu belum genap,” (Kejadian 15:12-16).
Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid
Tidak ada komentar:
Posting Komentar