Rabu, 25 Januari 2012

Mimpi Raja Mesir


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ

 
HUBUNGAN  NABI YUSUF A.S. 
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
  
Bagian   XXIII
Tentang
 
      Mimpi Raja Mesir 
 
 Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma

 
وَ قَالَ الۡمَلِکُ اِنِّیۡۤ  اَرٰی سَبۡعَ بَقَرٰتٍ سِمَانٍ یَّاۡکُلُہُنَّ سَبۡعٌ عِجَافٌ وَّ سَبۡعَ سُنۡۢبُلٰتٍ خُضۡرٍ وَّ اُخَرَ  یٰبِسٰتٍ ؕ یٰۤاَیُّہَا الۡمَلَاُ  اَفۡتُوۡنِیۡ فِیۡ رُءۡیَایَ اِنۡ کُنۡتُمۡ لِلرُّءۡیَا تَعۡبُرُوۡنَ ﴿۴۴
Dan raja itu  berkata: “Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi tujuh ekor sapi betina yang gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi kurus, dan tujuh bulir yang hijau dan yang lain-nya kering. Hai para pembesar,  te-rangkanlah pendapatmu kepadaku ten-tang mimpiku jika   kamu sungguh dapat menafsirkan  makna mimpi itu.”(Yusuf [12]:44).

Dalam Bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai takwil mimpi kedua rekan sepenjara Nabi Yusuf a.s. serta alasan lamanya Nabi Yusuf a.s. dalam penjara, akibat orang yang dibebaskan dari penjara serta dapat kembali bekerja sebagai pelayan minuman  raja Mesir lupa menyampaikan kasus Nabi Yusuf a.s. kepada raja, firman-Nya:
وَ قَالَ لِلَّذِیۡ ظَنَّ اَنَّہٗ نَاجٍ مِّنۡہُمَا اذۡکُرۡنِیۡ عِنۡدَ رَبِّکَ ۫ فَاَنۡسٰہُ الشَّیۡطٰنُ ذِکۡرَ رَبِّہٖ فَلَبِثَ فِی السِّجۡنِ بِضۡعَ سِنِیۡنَ ﴿ؕ٪۴۳
Dan dia berkata kepada orang yang diduga  (diyakini) akan dibebaskan dari antara kedua orang itu:  “Ceriterakanlah mengenai diriku kepada majikan engkau.” Tetapi syaitan menyebabkannya lupa menceritakannya kepada majikannya maka   dia (Yusuf) tinggal dalam penjara beberapa tahun lamanya.  (Yusuf [12]:42-43). 
  Bidh menyatakan bermacam-macam bilangan, tetapi pada umumnya dianggap berarti bilangan dari tiga sampai sembilan (Lexicon Lane). Dalam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan 2 alasan kenapa  Nabi Yusuf a.s. tinggal dalam penjara lebih lama dari yang direncanakan orang-orang yang mengatur rekayasa pemenjaraan beliau, yakni:
     (1) dari pihak orang yang diberi pesan  oleh Nabi Yusuf a.s. ada unsur ketidaksukaan atas dakwah Nabi Yusuf a.s. yang mencela kemusyrikan yang dilakukan oleh masyarakat kerajaan Mesir, sehingga akhirnya ia lupa menyampaikannya.
     (2) dari pihak Nabi Yusuf a.s., walaupun sangat wajar Nabi Yusuf a.s. menitipkan pesan kepada raja Mesir melalui  orang yang dibebaskan dari penjara, karena memang beliau sama sekali tidak bersalah dalam kasus dengan istri Potifar, tetapi sebagai seorang suci (nabi Allah) menjadi kurang bijaksana beliau  mengadukan kasusnya melalui  kepada makhluk, padahal berada dalam penjara adalah pilihan beliau sendiri, firman-Nya:
قَالَ رَبِّ السِّجۡنُ اَحَبُّ اِلَیَّ مِمَّا یَدۡعُوۡنَنِیۡۤ  اِلَیۡہِ ۚ وَ اِلَّا تَصۡرِفۡ عَنِّیۡ کَیۡدَہُنَّ اَصۡبُ  اِلَیۡہِنَّ وَ اَکُنۡ مِّنَ الۡجٰہِلِیۡنَ ﴿۳۴  فَاسۡتَجَابَ لَہٗ  رَبُّہٗ  فَصَرَفَ عَنۡہُ کَیۡدَہُنَّ ؕ اِنَّہٗ  ہُوَ السَّمِیۡعُ الۡعَلِیۡمُ ﴿۳۵  ثُمَّ بَدَا لَہُمۡ مِّنۡۢ بَعۡدِ مَا رَاَوُا الۡاٰیٰتِ لَیَسۡجُنُنَّہٗ حَتّٰی حِیۡنٍ ﴿٪۳۶
Ia, Yusuf, berkata:  “Ya Tuhan-ku, penjara itu lebih kusukai bagiku daripada apa yang mereka mengajakku kepadanya, dan jika Engkau tidak mengelakkan dari diriku tipu-daya mereka tentu aku akan cenderung kepada mereka itu dan aku akan terma-uk orang-orang yang jahil.”  Maka Tuhan mengabulkan doanya lalu   mengelakkan dari   tipu-daya mereka, sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.  Kemudian timbul pikiran pada mereka yakni para pembesar, setelah mereka melihat tanda-tanda kesucian Yusuf itu, bahwa untuk menjaga nama baik,  mereka harus memenjarakannya untuk sementara waktu (Yusuf [12]:34-36).
      Tetapi mungkin saja ada hikmah lainnya kenapa Nabi Yusuf a.s. lebih lama lagi tinggal dalam penjara, yang pasti adalah bahwa Allah Swt. tidak akan membiarkan takdir  mengenai Nabi Yusuf a.s. yang telah dilihat beliau melalui mimpinya akan  sia-sia. Hanya Allah Swt.  Yang Maha Mengetahui semuanya itu.

Mimpi Raja Mesir

 Sesuai dengan sifat Rabubiyyah Allah Swt. (QS.1:2), berbagai takdir   yang harus dijalani oleh semua manusia – termasuk Nabi Yusuf a.s. – tidak lepas dari rangkaian hukum “sebab-akibat”, demikian pula juga genapnya mimpi yang diceritakan Nabi Yusuf a.s. kepada ayahanda beliau, Nabi Ya’qub a.s., firman-Nya:
   اِذۡ  قَالَ یُوۡسُفُ لِاَبِیۡہِ یٰۤاَبَتِ اِنِّیۡ  رَاَیۡتُ اَحَدَعَشَرَ کَوۡکَبًا وَّ الشَّمۡسَ وَ الۡقَمَرَ رَاَیۡتُہُمۡ  لِیۡ  سٰجِدِیۡنَ ﴿۵   قَالَ یٰبُنَیَّ  لَا تَقۡصُصۡ رُءۡیَاکَ عَلٰۤی اِخۡوَتِکَ فَیَکِیۡدُوۡا لَکَ کَیۡدًا ؕ اِنَّ الشَّیۡطٰنَ  لِلۡاِنۡسَانِ  عَدُوٌّ  مُّبِیۡنٌ ﴿۶   وَ کَذٰلِکَ یَجۡتَبِیۡکَ رَبُّکَ وَ یُعَلِّمُکَ مِنۡ تَاۡوِیۡلِ الۡاَحَادِیۡثِ وَ یُتِمُّ نِعۡمَتَہٗ عَلَیۡکَ وَ عَلٰۤی اٰلِ یَعۡقُوۡبَ کَمَاۤ  اَتَمَّہَا عَلٰۤی  اَبَوَیۡکَ  مِنۡ قَبۡلُ  اِبۡرٰہِیۡمَ وَ  اِسۡحٰقَ ؕ اِنَّ رَبَّکَ عَلِیۡمٌ  حَکِیۡمٌ ٪﴿۷     
Ingatlah  ketika Yusuf  berkata kepada ayahnya: “Hai ayahku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi sebelas bintang, matahari dan bulan, aku melihat mereka  sujud kepadaku.” Ia, Ya’qub, berkata: “Hai anakku, janganlah engkau menceriterakan mimpi engkau itu kepada saudara-saudara engkau, karena mereka akan melakukan tipu-daya buruk untuk memperdayakan engkau, sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagi manusia.  Dan demikianlah Tuhan engkau akan memilih engkau dan akan mengajar engkau ta'wil mimpi-mimpi dan akan menyempurnakan nikmat-Nya atas engkau dan atas keturunan Ya’qub, seperti Dia telah menyempurnakannya atas kedua bapak engkau dahulu, Ibrahim dan Ishaq, sesungguhnya Tuhan engkau Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.” (Yusuf [12]:5-7).
       Takdir-takdir awal yang harus dijalani oleh Nabi Yusuf a.s. telah beliau jalani, demikian juga mengenai cara menakwilkan mimpi yang benar pun telah beliau lakukan terhadap  dua rekan beliau sepenjara,  tetapi  hal tersebut belum sepenuhnya mengubah  nasib  Nabi Yusuf a.s. ke arah yang lebih baik karena untuk beberapa tahun harus tetap berada dalam penjara.
      Nasib Nabi Yusuf a.s. mulai berubah secara drastis ketika beliau menakwilkan mimpi raja Mesir yang  dianggap oleh para pembesarnya sebagai mimpi yang kacau-balau, firman-Nya:
وَ قَالَ الۡمَلِکُ اِنِّیۡۤ  اَرٰی سَبۡعَ بَقَرٰتٍ سِمَانٍ یَّاۡکُلُہُنَّ سَبۡعٌ عِجَافٌ وَّ سَبۡعَ سُنۡۢبُلٰتٍ خُضۡرٍ وَّ اُخَرَ  یٰبِسٰتٍ ؕ یٰۤاَیُّہَا الۡمَلَاُ  اَفۡتُوۡنِیۡ فِیۡ رُءۡیَایَ اِنۡ کُنۡتُمۡ لِلرُّءۡیَا تَعۡبُرُوۡنَ ﴿۴۴   قَالُوۡۤا اَضۡغَاثُ اَحۡلَامٍ ۚ وَ مَا نَحۡنُ بِتَاۡوِیۡلِ  الۡاَحۡلَامِ  بِعٰلِمِیۡنَ ﴿۴۵
Dan raja itu  berkata: “Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi tujuh ekor sapi betina yang gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi kurus, dan tujuh bulir yang hijau dan yang lainnya kering. Hai para pembesar,  terangkanlah pendapatmu kepadaku tentang mimpiku jika   kamu sungguh dapat menafsirkan  makna mimpi itu.”    Mereka menjawab: “Mimpi-mimpi ini kacau-balau dan kami  sama sekali tidak mengetahui ta’bir mimpi-mimpi seperti itu.”  (Yusuf [12]:44-45).

Rukya (Penglihatan Ruhani) Nabi Ibrahim a.s.
      
      Betapa kuatnya ketentuan  takdir  baik Allah Swt. yang harus dijalani oleh Nabi Yusuf a.s., karena pada akhirnya pelayan minuman raja terpaksa harus menyampaikan pesan Nabi Yusuf a.s., sebab  baginya  merupakan kesempatan yang sangat bagus baginya untuk mempersembahkan suatu “jasa” kepada raja, yang baginya tidak mungkin terulang memiliki kesempatan bagus seperti itu. Lalu ia menyampaikan informasi yang dialaminya sendiri  mengenai Nabi Yusuf a.s. kepada raja melalui para pembesar tersebut,  firman-Nya:
وَ قَالَ الَّذِیۡ نَجَا مِنۡہُمَا وَ ادَّکَرَ  بَعۡدَ اُمَّۃٍ  اَنَا  اُنَبِّئُکُمۡ  بِتَاۡوِیۡلِہٖ فَاَرۡسِلُوۡنِ ﴿۴۶  یُوۡسُفُ اَیُّہَا الصِّدِّیۡقُ اَفۡتِنَا فِیۡ سَبۡعِ بَقَرٰتٍ سِمَانٍ یَّاۡکُلُہُنَّ سَبۡعٌ عِجَافٌ وَّ سَبۡعِ سُنۡۢبُلٰتٍ خُضۡرٍ وَّ اُخَرَ  یٰبِسٰتٍ ۙ لَّعَلِّیۡۤ  اَرۡجِعُ  اِلَی النَّاسِ لَعَلَّہُمۡ یَعۡلَمُوۡنَ ﴿۴۷
Dan berkata seorang yang telah selamat dari kedua orang itu, dan  sesudah beberapa lama baru teringat:  “Aku akan memberitahukan kepada kamu  mengenai ta’birnya karena itu utuslah aku.” Dan dia berkata: “Yusuf, hai engkau orang yang benar! Terangkanlah pendapat engkau kepada kami arti mimpi tujuh ekor sapi betina gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi kurus dan tujuh bulir hijau dan lainnya kering, supaya aku dapat kembali kepada orang-orang itu, agar mereka dapat mengetahui.” (Yusuf [12]:46-47).
        Untuk sekedar mengingatkan kembali, bahwa di dalam Bible terdapat nubuatan (kabar gaib) mengenai keturunan Nabi Ibrahim a.s.  melalui Nabi Ishaq a.s. bahwa mereka akan  menjadi orang asing di suatu negeri   selama 400 tahun lamanya, yakni sebagaimana Nabi Ibrahim a.s.dan istri beliau, Sarah, pernah mengungsi ke Mesir -- karena di wilayah Kanaan terjadi bencana kelaparan yang hebat --  peristiwa mengungsi ke Mesir tersebut akan terulang kembali pada masa cucu Nabi Ibrahim a.s., yakni Nabi Yaqub a.s. dan anak-anak beliau, dengan alasan yang sama, yakni  terjadinya kemarau panjang selama 7 tahun yang menyebabkan terjadinya bencana kelaparan  yang melanda kawasan Timur Tengah. Berikut nubuatan tersebut:
Menjelang matahari terbenam tertidurlah  Abram dengan nyenyak. Lalu turunlah meliputinya gelap gulita yang mengerikan. Firman Tuhan kepada Abram: “Ketahuilah dengan sesungguhnya bahwa keturunanmu akan menjadi orang asing dalam suatu negeri, yang bukan kepunyaan mereka, dan bahwa mereka akan diperbudak dan dianiaya empat ratus tahun lamanya. Tetapi bangsa yang akan memperbudak mereka akan Kuhukum, dan sesudah itu mereka akan keluar dengan membawa harta benda yang banyak. Tetapi engau akan pergi kepada nenek moyangmu dengan sejahtera; engkau akan dikuburkan pada waktu telah putih rambutmu. Tetapi keturunan yang keempat akan kembali ke sini, sebab sebelum itu kedurhakaan orang Amori itu belum genap,” (Kejadian 15:12-16).

Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid

Tidak ada komentar:

Posting Komentar