Jumat, 20 Januari 2012

Dakwah Nabi Yusuf a.s. Dalam Penjara & Persamaan dan Perbedaannya dengan Nabi Besar Muhammad saw.


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ

 
HUBUNGAN  NABI YUSUF A.S. 
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
  
Bagian   XXVI
Tentang
 
     Dakwah Nabi Yusuf a.s.  Dalam Penjara & 
Persamaan dan Perbedaannya 
dengan Nabi Besar Muhammad Saw.
 Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma

 
قَالَ لَا یَاۡتِیۡکُمَا طَعَامٌ تُرۡزَقٰنِہٖۤ  اِلَّا نَبَّاۡتُکُمَا بِتَاۡوِیۡلِہٖ  قَبۡلَ اَنۡ یَّاۡتِیَکُمَا ؕ ذٰلِکُمَا مِمَّا عَلَّمَنِیۡ رَبِّیۡ ؕ اِنِّیۡ تَرَکۡتُ مِلَّۃَ  قَوۡمٍ لَّا یُؤۡمِنُوۡنَ بِاللّٰہِ  وَ ہُمۡ  بِالۡاٰخِرَۃِ  ہُمۡ  کٰفِرُوۡنَ ﴿۳۸      
Ia, Yusuf, menjawab: “Tidak akan datang kepada kamu berdua makanan yang akan diberikan kepadamu, tetapi akan aku beritahukan kepadamu takwilnya sebelum makanan itu sampai kepadamu, yang demikian itu karena Tuhan-ku telah mengajariku. Sesungguhnya aku telah meninggalkan agama kaum yang tidak beriman ke-pada Allah dan mereka itu  kafir kepada akhirat.

Dalam Bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai adanya perbedaan sikap Nabi Yusuf a.s. dalam menghadapi godaan kesenangan duniwai -- yang digambarkan berupa bujuk rayu istri Potifar – dengan generasi penerus Bani Israil selanjutnya yang juga  menghubungkan dirinya Nabi Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (Yesus Kristus),  tetapi  dalam pemahaman tentang Tuhan dan sikap terhadap kehidupan duniawi bertolak belakang dengan   faham dan  sikap Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. -- dan juga  bertentangan dengan sikap murid-murid sejati beliau,  yang digambarkan  dalam Al-Quran sebagai Ashhabul Kahf (para penghuni gua -   QS.18:10-18), karena sikap mereka menjauhi kehidupan duniawi -- firman-Nya:

فَخَلَفَ مِنۡۢ بَعۡدِہِمۡ خَلۡفٌ وَّرِثُوا الۡکِتٰبَ یَاۡخُذُوۡنَ عَرَضَ ہٰذَا الۡاَدۡنٰی وَ یَقُوۡلُوۡنَ سَیُغۡفَرُ لَنَا ۚ وَ اِنۡ یَّاۡتِہِمۡ عَرَضٌ مِّثۡلُہٗ یَاۡخُذُوۡہُ ؕ اَلَمۡ یُؤۡخَذۡ عَلَیۡہِمۡ مِّیۡثَاقُ الۡکِتٰبِ اَنۡ لَّا یَقُوۡلُوۡا عَلَی اللّٰہِ  اِلَّا الۡحَقَّ وَ دَرَسُوۡا مَا فِیۡہِ  ؕ وَ الدَّارُ  الۡاٰخِرَۃُ  خَیۡرٌ لِّلَّذِیۡنَ  یَتَّقُوۡنَ ؕ اَفَلَا  تَعۡقِلُوۡنَ ﴿۱۷۰
Maka datang menggantikan sesudah mereka suatu generasi  pengganti  yang mewarisi Kitab Taurat  itu, mereka mengambil harta dunia yang rendah ini dan mereka mengatakan: “Pasti kami akan diampuni.” Dan jika datang kepada mereka harta semacam itu lagi mereka akan mengambilnya. Bukankah telah diambil perjanjian dari mereka dalam Kitab bahwa mereka tidak akan mengatakan sesuatu terhadap Allah kecuali yang haq, dan  mereka telah mempelajari apa yang tercantum di dalamnya? Padahal kampung  akhirat itu   lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa, apakah kamu tidak mau mengerti? (Al-A’raaf  [7]:169-170).
       Mengenai generasi penerus Bani Israil  yang memiliki pemahaman keagamaan yang bertentangan  dengan ajaran Taurat dan Injil tersebut Allah Swt. berfirman:
یٰۤاَہۡلَ الۡکِتٰبِ لَا تَغۡلُوۡا فِیۡ دِیۡنِکُمۡ وَ لَا تَقُوۡلُوۡا عَلَی اللّٰہِ  اِلَّا الۡحَقَّ ؕ اِنَّمَا الۡمَسِیۡحُ عِیۡسَی ابۡنُ مَرۡیَمَ رَسُوۡلُ اللّٰہِ وَ کَلِمَتُہٗ ۚ اَلۡقٰہَاۤ اِلٰی مَرۡیَمَ وَ رُوۡحٌ مِّنۡہُ ۫ فَاٰمِنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ ۚ۟ وَ لَا تَقُوۡلُوۡا ثَلٰثَۃٌ ؕ اِنۡتَہُوۡا خَیۡرًا  لَّکُمۡ ؕ اِنَّمَا اللّٰہُ اِلٰہٌ وَّاحِدٌ ؕ سُبۡحٰنَہٗۤ اَنۡ یَّکُوۡنَ لَہٗ  وَلَدٌ ۘ لَہٗ  مَا  فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا  فِی  الۡاَرۡضِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ  وَکِیۡلًا ﴿۱۷۳﴾٪   لَنۡ یَّسۡتَنۡکِفَ الۡمَسِیۡحُ اَنۡ یَّکُوۡنَ عَبۡدًا لِّلّٰہِ وَ لَا الۡمَلٰٓئِکَۃُ الۡمُقَرَّبُوۡنَ ؕ وَ مَنۡ یَّسۡتَنۡکِفۡ عَنۡ عِبَادَتِہٖ وَ یَسۡتَکۡبِرۡ فَسَیَحۡشُرُہُمۡ  اِلَیۡہِ جَمِیۡعًا ﴿۱۷۳
Hai Ahlul Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam urusan agamamu, dan janganlah kamu mengatakan mengenai Allah kecuali yang haq. Sesungguhnya Al-Masih Isa Ibnu Maryam hanyalah  seorang rasul Allah, suatu kalimat dari-Nya  yang diturunkan kepada Maryam, dan  ruh dari-Nya, maka berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan janganlah kamu  mengatakan: “Tuhan itu tiga”, berhentilah, itu lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa.  Maha Suci Dia dari memiliki anak. Kepunyaan-Nya apa pun  yang ada di seluruh langit dan   apa  pun yang ada di bumi. Dan cukuplah Allah sebagai Pemelihara.   Al-Masih tidak pernah   merasa hina menjadi hamba bagi Allah, dan tidak juga malaikat yang dekat kepada-Nya, dan barangsiapa merasa hina karena beribadah kepada-Nya dan berlaku takabur maka Dia akan mengumpulkan mereka semua kepada-Nya. (Al-Nisaa [4]:172-173).
       Berikut adalah penolakan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. mengenai kepercayaan generasi penerus Bani Israil yang telah mempertuhankan beliau dan ibunya, Sitti Maryam, fir man-Nya:
وَ  اِذۡ قَالَ اللّٰہُ یٰعِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ  ءَاَنۡتَ قُلۡتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُوۡنِیۡ وَ اُمِّیَ  اِلٰہَیۡنِ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ؕ قَالَ سُبۡحٰنَکَ مَا یَکُوۡنُ لِیۡۤ  اَنۡ اَقُوۡلَ مَا لَیۡسَ لِیۡ ٭ بِحَقٍّ ؕ؃ اِنۡ کُنۡتُ قُلۡتُہٗ فَقَدۡ عَلِمۡتَہٗ ؕ تَعۡلَمُ  مَا فِیۡ نَفۡسِیۡ وَ لَاۤ اَعۡلَمُ مَا فِیۡ نَفۡسِکَ ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ عَلَّامُ  الۡغُیُوۡبِ ﴿۱۱۷  مَا قُلۡتُ لَہُمۡ اِلَّا مَاۤ اَمَرۡتَنِیۡ بِہٖۤ اَنِ اعۡبُدُوا اللّٰہَ رَبِّیۡ وَ رَبَّکُمۡ ۚ وَ کُنۡتُ عَلَیۡہِمۡ  شَہِیۡدًا مَّا دُمۡتُ فِیۡہِمۡ ۚ فَلَمَّا تَوَفَّیۡتَنِیۡ  کُنۡتَ اَنۡتَ الرَّقِیۡبَ عَلَیۡہِمۡ ؕ وَ  اَنۡتَ عَلٰی کُلِّ  شَیۡءٍ  شَہِیۡدٌ ﴿۱۱۸
Dan ingatlah ketika Allah berfirman: “Hai ‘Isa ibnu Maryam, apakah engkau telah berkata kepada manusia: Jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan selain  Allah?" Ia berkata: “Maha Suci Engkau. Tidak patut bagiku mengatakan apa yang  sekali-kali  bukan hakku. Jika  aku telah mengatakannya maka sungguh Engkau mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada dalam diriku, sedangkan aku tidak mengetahui apa yang ada dalam diri Engkau, sesungguh-nya Engkau benar-benar Maha Mengetahui segala yang gaib.    Aku sekali-kali tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang telah Engkau perintahkan kepadaku, yaitu:  Beribadahlah ke-pada Allah, Tuhan-ku dan Tuhan-mu.” Dan aku menjadi saksi atas mereka selama aku berada di antara mereka, tetapi tatkala  Engkau telah mewafatkanku maka Engkau-lah Yang benar-benar menjadi Pengawas atas mereka, dan Engkau adalah Saksi atas segala sesuatu. (Al-Maaidah [5]:117-118).

Nabi Yusuf a.s. Dalam Penjara

        Menanggapi permintaan   mantan kedua pelayan raja Mesir tersebut Nabi Yusuf a.s. memberi penjelasan, sambil berdakwah kepada kedua rekan beliau sepenjara tersebut, firman-Nya:
قَالَ لَا یَاۡتِیۡکُمَا طَعَامٌ تُرۡزَقٰنِہٖۤ  اِلَّا نَبَّاۡتُکُمَا بِتَاۡوِیۡلِہٖ  قَبۡلَ اَنۡ یَّاۡتِیَکُمَا ؕ ذٰلِکُمَا مِمَّا عَلَّمَنِیۡ رَبِّیۡ ؕ اِنِّیۡ تَرَکۡتُ مِلَّۃَ  قَوۡمٍ لَّا یُؤۡمِنُوۡنَ بِاللّٰہِ  وَ ہُمۡ  بِالۡاٰخِرَۃِ  ہُمۡ  کٰفِرُوۡنَ ﴿۳۸      
Ia, Yusuf, menjawab: “Tidak akan datang kepada kamu berdua makanan yang akan diberikan kepadamu, tetapi akan aku beritahukan kepadamu takwilnya sebelum makanan itu sampai kepadamu, yang demikian itu karena Tuhan-ku telah mengajariku. Sesungguhnya aku telah meninggalkan agama kaum yang tidak beriman kepada Allah dan mereka itu  kafir kepada akhirat. (Yusuf [12]:38).
      Pertama-tama Nabi Yusuf a.s. memberitahukan bahwa makna dari apa yang disaksikan dalam mimpi tidak sama sepenuhnya seperti apa yang disaksikan dalam mimpi, sebab  memerlukan takwil  yang benar, dan  takwil yang benar   hanya mungkin jika petunjuk Allah Swt. ikut berperan di dalamnya, karena pada hakikatnya manusia tidak mengetahui hal-hal yang gaib (QS.7:188-189).
        Selanjutnya  Nabi Yusuf a.s. memberikan penjelasan mengenai sikap dan keyakinan beliau serta leluhur beliau  tentang Tuhan Pencipta alam semesta, firman-Nya:
وَ اتَّبَعۡتُ مِلَّۃَ  اٰبَآءِیۡۤ   اِبۡرٰہِیۡمَ  وَ اِسۡحٰقَ وَ یَعۡقُوۡبَ ؕ مَا کَانَ لَنَاۤ  اَنۡ نُّشۡرِکَ بِاللّٰہِ  مِنۡ  شَیۡءٍ ؕ ذٰلِکَ مِنۡ فَضۡلِ اللّٰہِ عَلَیۡنَا وَ عَلَی النَّاسِ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَ  النَّاسِ لَا  یَشۡکُرُوۡنَ ﴿۳۹
 ”Dan aku mengikuti agama bapak-bapakku: Ibrahim, Ishaq, dan Ya’qub, kami sama sekali tidak berhak mempersekutukan apa pun dengan Allah, yang demikian itu adalah dari karunia Allah kepada kami dan kepada seluruh manusia tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur. (Yusuf [12]:39).
       Dakwah Nabi Yusuf a.s. tentang Allah Swt. tersebut sesuai dengan firman Allah Swt. dalam firman-Nya berikut ini:
وَ مَنۡ یَّرۡغَبُ عَنۡ مِّلَّۃِ  اِبۡرٰہٖمَ  اِلَّا مَنۡ سَفِہَ نَفۡسَہٗ ؕ وَ لَقَدِ اصۡطَفَیۡنٰہُ فِی الدُّنۡیَا ۚ وَ اِنَّہٗ فِی الۡاٰخِرَۃِ  لَمِنَ الصّٰلِحِیۡنَ ﴿۱۳۱  اِذۡ قَالَ لَہٗ رَبُّہٗۤ  اَسۡلِمۡ ۙ قَالَ اَسۡلَمۡتُ لِرَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿۱۳۲  وَ وَصّٰی بِہَاۤ اِبۡرٰہٖمُ  بَنِیۡہِ وَ یَعۡقُوۡبُ ؕ یٰبَنِیَّ  اِنَّ اللّٰہَ اصۡطَفٰی لَکُمُ الدِّیۡنَ فَلَا تَمُوۡتُنَّ  اِلَّا وَ اَنۡتُمۡ  مُّسۡلِمُوۡنَ ﴿۱۳۳﴾ؕ  اَمۡ کُنۡتُمۡ  شُہَدَآءَ  اِذۡ حَضَرَ یَعۡقُوۡبَ الۡمَوۡتُ ۙ اِذۡ  قَالَ لِبَنِیۡہِ مَا تَعۡبُدُوۡنَ مِنۡۢ بَعۡدِیۡ ؕ قَالُوۡا نَعۡبُدُ اِلٰہَکَ وَ اِلٰـہَ اٰبَآئِکَ اِبۡرٰہٖمَ  وَ  اِسۡمٰعِیۡلَ وَ  اِسۡحٰقَ  اِلٰـہًا وَّاحِدًا ۚۖ وَّ نَحۡنُ لَہٗ مُسۡلِمُوۡنَ ﴿۱۳۴  تِلۡکَ اُمَّۃٌ قَدۡ خَلَتۡ ۚ لَہَا مَا کَسَبَتۡ وَ لَکُمۡ مَّا کَسَبۡتُمۡ ۚ وَ لَا تُسۡـَٔلُوۡنَ عَمَّا  کَانُوۡا یَعۡمَلُوۡنَ ﴿۱۳۵
Dan siapakah yang berpaling dari  agama Ibrahim selain orang yang memperbodoh dirinya sendiri? Dan  sungguh  Kami  benar-benar telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya di akhirat pun dia termasuk orang-orang yang saleh.  Ingatlah ketika Tuhan-nya berfirman kepadanya: “Berserah dirilah”, ia berkata:  Aku telah berserah diri kepada Tuhan seluruh  alam.”  Dan Ibrahim mewasiatkan yang demikian kepada anak-anaknya dan demikian pula Ya’qub  seraya  berkata: “Hai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu,   maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan berserah diri.”  Ataukah  kamu hadir  saat kematian menjelang Ya’qub ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apakah yang akan kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhan engkau dan Tuhan bapak-bapak engkau: Ibrahim, Isma’il, dan Ishaq, yaitu Tuhan Yang Esa, dan hanya  kepada-Nya kami berserah  diri.”     Itulah umat yang telah berlalu, baginya apa yang mereka usahakan dan bagimu apa yang kamu usahakan, dan kamu tidak akan dimintai tanggungjawab mengenai apa yang senantiasa mereka kerjakan.   (Al-Baqarah [2]:131-134).
      Berbagai bentuk dari kata safiha, safaha dan safuha mempunyai arti yang berbeda, safiha berarti: ia jahil, bodoh atau kurang akal. Jika kata itu dipakai bersama dengan nafsahu, seolah-olah sebagai pelengkapnya seperti dalam ayat ini, kata itu tidak sungguh-sungguh menjadi transitif (berpelengkap), hanya nampaknya saja demikian (Lisan-al-‘Arab dan Al-Mufradat). Kata-kata itu berarti juga  “yang telah membinasakan jiwanya sendiri.”
      Karena tidak ada saat ditentukan untuk mati, maka orang hendaknya setiap saat menjalani kehidupannya dengan berserah diri sepenuhnya kepada Allah Swt..  Ayat ini dapat pula berarti bahwa orang beriman sejati hendaknya begitu sepenuhnya berserah diri kepada kehendak Ilahi dan meraih keridhaan-Nya begitu sempurna sehingga Allah Swt.  dengan kemurahan-Nya yang tidak terbatas, akan mengatur demikian rupa sehingga kematian akan datang kepadanya pada saat ketika ia berserah  diri sepenuhnya kepada kehendak-Nya.
          Nabi Isma’il a.s.  itu uwa (pakde - jw.) Nabi Ya’qub a.s. , namun demikian di sini anak-anak Nabi Ya’qub a.s.  mencakupkan juga Nabi Isma’il a.s. di antara “bapak-bapak” mereka, hal itu menunjukkan bahwa kata ab kadang-kadang berarti pula uwa (paman).  Anak-anak Nabi Ya’qub a.s.  — kaum Bani Isra’il — sangat menghormati Nabi Isma’il a.s.: “Kami akan menyembah Tuhan engkau dan Tuhan bapak-bapak eng-kau: Ibrahim, Isma’il, dan Ishaq, yaitu Tuhan Yang Esa, dan hanya  kepada-Nya kami berserah  diri.”
“Pada waktu ayah kami Ya’qub meninggal dunia, beliau memanggil kepada duabelas putranya, dan berkata kepada mereka: Dengarlah akan perkataan bapakmu Israil” (Kejadian 49:2). “Apakah kamu masih mempunyai suatu keraguan dalam hatimu mengenai Yang Suci? Mubaraklah Dia”. Mereka berkata: “Dengarlah hai Israil, ayah kami, sebagaimana tiada keraguan di dalam hati Anda, demikian pula tiada dalam hati kami. Sebab Junjungan itu Tuhan kami dan Dia Tunggal.” (Mider Rabbah on Gen. par. 98 & on Deut. par.2). Bandingkan pula Targ. Jer. on Deut. 6:4.

Persamaan dan perbedaan Nabi Yusuf a.s. dan Nabi Besar Muhammad saw.

       Selanjutnya Nabi Yusuf a.s.  menyinggung masalah  kemusyrikan, yakni kepercayaan yang dianut oleh masyarakat Mesir ketika itu, firman-Nya:
 یٰصَاحِبَیِ السِّجۡنِ ءَاَرۡبَابٌ مُّتَفَرِّقُوۡنَ خَیۡرٌ  اَمِ  اللّٰہُ   الۡوَاحِدُ  الۡقَہَّارُ ﴿ؕ۳۹   مَا تَعۡبُدُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِہٖۤ  اِلَّاۤ  اَسۡمَآءً سَمَّیۡتُمُوۡہَاۤ  اَنۡتُمۡ وَ اٰبَآؤُکُمۡ مَّاۤ اَنۡزَلَ اللّٰہُ  بِہَا مِنۡ سُلۡطٰنٍ ؕ اِنِ الۡحُکۡمُ  اِلَّا لِلّٰہِ ؕ اَمَرَ اَلَّا تَعۡبُدُوۡۤا اِلَّاۤ اِیَّاہُ ؕ ذٰلِکَ الدِّیۡنُ الۡقَیِّمُ  وَ لٰکِنَّ  اَکۡثَرَ  النَّاسِ لَا  یَعۡلَمُوۡنَ ﴿۴۰
“Hai kawanku sepenjara, apakah yang lebih baik itu tuhan-tuhan yang saling bertentangan  ataukah Allah Yang Maha Esa, Maha Gagah?   Kamu sekali-kali  tidak menyembah  selain Allah  melainkan hanyalah nama-nama yang   kamu dan bapak-bapakmu telah menamakannya padahal  Allah sama sekali tidak menurunkan satu dalil pun mengenai itu, sesungguhnya  keputusan itu hanya milik Allah.  Dia telah memerintahkan bahwa janganlah kamu sembah kecuali hanya  Dia semata,  itulah agama yang benar tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Yusuf [12]:41).
  Ada pun persamaan dan perbedaan antara Nabi Yusuf a.s. dengan Nabi Besar Muhammad saw.  sehubungan dengan masalah “penjara” dan “dakwah di dalam penjara” adalah:
(1)   Kehidupan Nabi Yusuf a.s.   di Mesir dalam posisi yang jauh lebih beruntung daripada  keadaan kakak-kakak beliau di negerinya, yaini Kanaan, karena Nabi Yusuf a.s. telah dibeli oleh Potifar, seorang pejabat tinggi kerajaan Mesir yang Nabi Yusuf a.s. sebagai orang anak yang pantas untuk tinggal di   rumahnya di Mesir (QS.12:22-23).
(2)  Keberadaan Nabi Yusuf a.s. dalam penjara adalah keinginan beliau sendiri, walau pun erat kaitannya juga dengan rencana  para pembesar Mesir – termasuk Potifar -- yang mengetahui  bahwa istri-istri mereka pun sama seperti halnya istri Potifar, yaitu mereka tergoda oleh ketampanan dan keanggunan Nabi Yusuf a.s. (QS;12:34-36), sekali pun para pembesar kerajaan Mesir tersebut mengetahui bahwa Nabi Yusuf a.s.   tidak bersalah.
(3)  Keberanian Nabi Yusuf a.s. mentablighkan Tauhid Ilahi serta mengkritik kemusyrikan yang dianut masyarakat Mesir karena beliau dalam posisi yang  lebih tidak membahayakan diri beliau,  karena keberadaan beliau di dalam penjara  bukan karena beliau benar-benar telah melakukan pelanggaran hukum, sehingga harus dijebloskan ke dalam penjara, melainkan hanya sekedar untuk mengalihkan perhatian masyarakat  bahwa dalam  kasus istri Potifar dan perempuan-perempuan yang mengerat tangannya sendiri  yang bersalah adalah Nabi Yusuf a.s. (QS.12:31-36).  Karena itu tentu para petugas penjara pun – atas perintah Potifar dan rekan-rekan sesama pejabat  Mesir lainnya – tidak memperlakukan Nabi Yusuf a.s. seperti terhadap  para tahanan lainnya. Demikian juga kedua orang itu pun tidak berani melaporkan apa yang dilakukan oleh Nabi Yusuf a.s. karena keduanya sangat berkepentingan dengan penjelasan Nabi Yusuf a.s. mengenai mimpi mereka.
Mengenai "penjara"  Makkah yang dialami Nabi Besar Muhammad saw.: 
(1)  Kehidupan Nabi Besar Muhammad saw. sejak beliau saw. mendakwakan diri sebagai Rasul Allah benar-benar telah mengubah keadaan kota Makkah yang sebelumnya  merupakan tempat yang ramah dan aman  – dan bahkan masyarakatnya sangat menghormati beliau saw. – tiba-tiba berubah menjadi sebuah “penjara” yang sangat mengerikan.
(2)  “Pemenjaraan”  yang harus dialami oleh Nabi Besar Muhammad saw. di Makklah tersebut  jauh lebih mengerikan dari keadaan di dalam penjara mana pun,   karena beliau saw., keluarga beliau saw., serta para pengikut setia beliau saw. (para sahabah r.a.), bukan saja pernah diboikot selama beberapa bulan di sebuah lembah, sehingga mereka menderita kekurangan bahan makanan – dan bahkan istri beliau tercinta Sitti  Khadijah r.a. wafat dalam masa pemboikotan tersebut --  bahkan “pemenjaraan” yang beliau saw. dan umat Islam alami berlangsung selama 13 tahun di Makkah, dimana selama itu segala macam kezaliman melampaui batas telah ditimpakan kepada beliau saw. dan para sahabah beliau saw.   oleh  para pemimpin kafir Qurasiy Makkah  terhadap Nabi beliau saw. dan umat Islam. Dan   menjelang terjadinya hijrah Nabi Besar Muhammad saw. ke Madinah mereka telah merancang makar buruk untuk, membunuh, atau mengusir, atau menjebloskan Nabi besar Muhammad saw. ke dalam penjara (QS.8:31).
(3)  “Terpenjaranya” Nabi Besar Muhammad saw. di Makkah adalah  pilihan beliau saw. karena beliau saw. benar-benar ingin  membawa kaumnya dari  perbuatan musyrik dan kejahiliyahan kepada Tauhid Ilahi dan akhlak yang mulia,  karena semua itu adalah merupakan cita-cita beliau saw. sejak awal, sampai-sampai beliau saw. sering pergi bertafakkur di gua Hira hingga akhirnya datang malaikat Jibril a.s. atas perintah Allah menurunkan wahyu pertama Al-Quran (QS.95:1-6;   QS.93:1-12 & QS.94:1-9).
        Demikianlah beberapa persamaan dan perbedaan  antara Nabi Yusuf a.s. dan Nabi Besar Muhammad saw. dalam hal “penjara” dan  menablighkan “Tauhid Ilahi”.

Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid

Tidak ada komentar:

Posting Komentar