بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
HUBUNGAN NABI YUSUF A.S.
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
Bagian XXVI
Tentang
Dakwah Nabi Yusuf a.s. Dalam Penjara &
Persamaan dan Perbedaannya
dengan Nabi Besar Muhammad Saw.
Persamaan dan Perbedaannya
dengan Nabi Besar Muhammad Saw.
Oleh
Ki Langlang
Buana Kusuma
قَالَ
لَا یَاۡتِیۡکُمَا طَعَامٌ تُرۡزَقٰنِہٖۤ
اِلَّا نَبَّاۡتُکُمَا بِتَاۡوِیۡلِہٖ
قَبۡلَ اَنۡ یَّاۡتِیَکُمَا ؕ ذٰلِکُمَا مِمَّا عَلَّمَنِیۡ رَبِّیۡ ؕ اِنِّیۡ
تَرَکۡتُ مِلَّۃَ قَوۡمٍ لَّا یُؤۡمِنُوۡنَ
بِاللّٰہِ وَ ہُمۡ بِالۡاٰخِرَۃِ
ہُمۡ کٰفِرُوۡنَ ﴿۳۸﴾
Ia, Yusuf, menjawab: “Tidak akan datang kepada kamu berdua
makanan yang akan diberikan kepadamu, tetapi akan aku beritahukan kepadamu
takwilnya sebelum makanan itu sampai kepadamu, yang demikian itu karena
Tuhan-ku telah mengajariku. Sesungguhnya aku telah meninggalkan agama kaum
yang tidak beriman ke-pada Allah dan mereka itu
kafir kepada akhirat.
Dalam Bab
sebelumnya telah dijelaskan mengenai adanya perbedaan sikap Nabi Yusuf a.s.
dalam menghadapi godaan kesenangan duniwai -- yang digambarkan berupa bujuk
rayu istri Potifar – dengan generasi penerus Bani Israil selanjutnya
yang juga menghubungkan dirinya Nabi
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (Yesus Kristus), tetapi
dalam pemahaman tentang Tuhan dan sikap terhadap kehidupan
duniawi bertolak belakang dengan
faham dan sikap Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s. -- dan juga bertentangan dengan sikap murid-murid sejati beliau, yang digambarkan dalam Al-Quran sebagai Ashhabul Kahf
(para penghuni gua - QS.18:10-18),
karena sikap mereka menjauhi kehidupan duniawi -- firman-Nya:
فَخَلَفَ
مِنۡۢ بَعۡدِہِمۡ خَلۡفٌ وَّرِثُوا الۡکِتٰبَ یَاۡخُذُوۡنَ عَرَضَ ہٰذَا الۡاَدۡنٰی
وَ یَقُوۡلُوۡنَ سَیُغۡفَرُ لَنَا ۚ وَ اِنۡ یَّاۡتِہِمۡ عَرَضٌ مِّثۡلُہٗ یَاۡخُذُوۡہُ
ؕ اَلَمۡ یُؤۡخَذۡ عَلَیۡہِمۡ مِّیۡثَاقُ الۡکِتٰبِ اَنۡ لَّا یَقُوۡلُوۡا عَلَی
اللّٰہِ اِلَّا الۡحَقَّ وَ دَرَسُوۡا مَا
فِیۡہِ ؕ وَ الدَّارُ الۡاٰخِرَۃُ
خَیۡرٌ لِّلَّذِیۡنَ یَتَّقُوۡنَ ؕ
اَفَلَا تَعۡقِلُوۡنَ ﴿۱۷۰﴾
Maka datang
menggantikan sesudah mereka suatu generasi pengganti
yang mewarisi Kitab Taurat itu,
mereka mengambil harta dunia yang rendah ini dan mereka mengatakan: “Pasti
kami akan diampuni.” Dan jika datang kepada mereka harta semacam itu
lagi mereka akan mengambilnya. Bukankah telah diambil perjanjian dari
mereka dalam Kitab bahwa mereka tidak akan mengatakan sesuatu
terhadap Allah kecuali yang haq, dan
mereka telah mempelajari apa yang tercantum di dalamnya?
Padahal kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa,
apakah kamu tidak mau mengerti? (Al-A’raaf [7]:169-170).
Mengenai generasi penerus Bani Israil yang memiliki pemahaman keagamaan yang bertentangan dengan ajaran Taurat dan Injil tersebut Allah Swt. berfirman:
یٰۤاَہۡلَ
الۡکِتٰبِ لَا تَغۡلُوۡا فِیۡ دِیۡنِکُمۡ وَ لَا تَقُوۡلُوۡا عَلَی اللّٰہِ اِلَّا الۡحَقَّ ؕ اِنَّمَا الۡمَسِیۡحُ
عِیۡسَی ابۡنُ مَرۡیَمَ رَسُوۡلُ اللّٰہِ وَ کَلِمَتُہٗ ۚ اَلۡقٰہَاۤ اِلٰی
مَرۡیَمَ وَ رُوۡحٌ مِّنۡہُ ۫ فَاٰمِنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ ۚ۟ وَ لَا
تَقُوۡلُوۡا ثَلٰثَۃٌ ؕ اِنۡتَہُوۡا خَیۡرًا
لَّکُمۡ ؕ اِنَّمَا اللّٰہُ اِلٰہٌ وَّاحِدٌ ؕ سُبۡحٰنَہٗۤ اَنۡ یَّکُوۡنَ
لَہٗ وَلَدٌ ۘ لَہٗ مَا
فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ وَکِیۡلًا ﴿۱۷۳﴾٪ لَنۡ یَّسۡتَنۡکِفَ
الۡمَسِیۡحُ اَنۡ یَّکُوۡنَ عَبۡدًا لِّلّٰہِ وَ لَا الۡمَلٰٓئِکَۃُ
الۡمُقَرَّبُوۡنَ ؕ وَ مَنۡ یَّسۡتَنۡکِفۡ عَنۡ عِبَادَتِہٖ وَ یَسۡتَکۡبِرۡ
فَسَیَحۡشُرُہُمۡ اِلَیۡہِ جَمِیۡعًا ﴿۱۷۳﴾
Hai Ahlul Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam urusan
agamamu, dan janganlah kamu mengatakan mengenai Allah kecuali yang
haq. Sesungguhnya Al-Masih Isa Ibnu Maryam hanyalah seorang rasul Allah, suatu kalimat
dari-Nya yang diturunkan
kepada Maryam, dan ruh
dari-Nya, maka berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya,
dan janganlah kamu mengatakan:
“Tuhan itu tiga”, berhentilah, itu lebih baik bagimu. Sesungguhnya
Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa. Maha Suci Dia dari memiliki anak. Kepunyaan-Nya apa pun yang ada di seluruh langit dan apa
pun yang ada di bumi. Dan cukuplah Allah sebagai Pemelihara. Al-Masih tidak pernah merasa hina menjadi hamba bagi Allah,
dan tidak juga malaikat yang dekat kepada-Nya, dan barangsiapa merasa
hina karena beribadah kepada-Nya dan berlaku takabur maka Dia akan mengumpulkan
mereka semua kepada-Nya. (Al-Nisaa [4]:172-173).
Berikut adalah penolakan Nabi Isa
Ibnu Maryam a.s. mengenai kepercayaan generasi penerus Bani Israil yang telah mempertuhankan
beliau dan ibunya, Sitti Maryam, fir man-Nya:
وَ اِذۡ قَالَ اللّٰہُ یٰعِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ ءَاَنۡتَ قُلۡتَ
لِلنَّاسِ اتَّخِذُوۡنِیۡ وَ اُمِّیَ اِلٰہَیۡنِ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ؕ قَالَ سُبۡحٰنَکَ
مَا یَکُوۡنُ لِیۡۤ اَنۡ اَقُوۡلَ مَا لَیۡسَ
لِیۡ ٭ بِحَقٍّ ؕ اِنۡ کُنۡتُ قُلۡتُہٗ فَقَدۡ عَلِمۡتَہٗ ؕ تَعۡلَمُ مَا فِیۡ نَفۡسِیۡ وَ لَاۤ اَعۡلَمُ مَا فِیۡ نَفۡسِکَ ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ
عَلَّامُ الۡغُیُوۡبِ ﴿۱۱۷﴾ مَا قُلۡتُ لَہُمۡ
اِلَّا مَاۤ اَمَرۡتَنِیۡ بِہٖۤ اَنِ اعۡبُدُوا اللّٰہَ رَبِّیۡ وَ رَبَّکُمۡ ۚ وَ کُنۡتُ عَلَیۡہِمۡ شَہِیۡدًا مَّا دُمۡتُ فِیۡہِمۡ ۚ فَلَمَّا تَوَفَّیۡتَنِیۡ کُنۡتَ اَنۡتَ الرَّقِیۡبَ عَلَیۡہِمۡ ؕ وَ اَنۡتَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ شَہِیۡدٌ ﴿۱۱۸﴾
Dan ingatlah ketika Allah berfirman: “Hai ‘Isa ibnu Maryam,
apakah engkau telah berkata kepada manusia: Jadikanlah aku dan ibuku sebagai
dua tuhan selain Allah?"
Ia berkata: “Maha Suci Engkau. Tidak patut bagiku mengatakan apa
yang sekali-kali bukan hakku. Jika aku telah mengatakannya maka sungguh Engkau
mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada dalam diriku, sedangkan aku
tidak mengetahui apa yang ada dalam diri Engkau, sesungguh-nya
Engkau benar-benar Maha Mengetahui segala yang gaib. Aku sekali-kali tidak pernah mengatakan
kepada mereka kecuali apa yang telah Engkau perintahkan kepadaku,
yaitu: ”Beribadahlah
ke-pada Allah, Tuhan-ku dan
Tuhan-mu.” Dan aku menjadi saksi atas mereka selama aku berada di
antara mereka, tetapi tatkala Engkau telah mewafatkanku maka
Engkau-lah Yang benar-benar menjadi Pengawas atas mereka, dan Engkau
adalah Saksi atas segala sesuatu. (Al-Maaidah
[5]:117-118).
Nabi Yusuf a.s. Dalam Penjara
Menanggapi permintaan mantan kedua pelayan raja Mesir tersebut
Nabi Yusuf a.s. memberi penjelasan, sambil berdakwah kepada kedua rekan beliau
sepenjara tersebut, firman-Nya:
قَالَ
لَا یَاۡتِیۡکُمَا طَعَامٌ تُرۡزَقٰنِہٖۤ
اِلَّا نَبَّاۡتُکُمَا بِتَاۡوِیۡلِہٖ
قَبۡلَ اَنۡ یَّاۡتِیَکُمَا ؕ ذٰلِکُمَا مِمَّا عَلَّمَنِیۡ رَبِّیۡ ؕ
اِنِّیۡ تَرَکۡتُ مِلَّۃَ قَوۡمٍ لَّا
یُؤۡمِنُوۡنَ بِاللّٰہِ وَ ہُمۡ بِالۡاٰخِرَۃِ
ہُمۡ کٰفِرُوۡنَ ﴿۳۸﴾
Ia, Yusuf, menjawab: “Tidak akan datang kepada kamu berdua
makanan yang akan diberikan kepadamu, tetapi akan aku beritahukan kepadamu
takwilnya sebelum makanan itu sampai kepadamu, yang demikian itu
karena Tuhan-ku telah mengajariku. Sesungguhnya aku telah
meninggalkan agama kaum yang tidak beriman kepada Allah dan mereka itu kafir kepada akhirat. (Yusuf
[12]:38).
Pertama-tama Nabi Yusuf
a.s. memberitahukan bahwa makna dari apa yang disaksikan dalam mimpi tidak
sama sepenuhnya seperti apa yang disaksikan dalam mimpi, sebab memerlukan takwil yang benar, dan takwil yang benar hanya mungkin jika petunjuk Allah
Swt. ikut berperan di dalamnya, karena pada hakikatnya manusia tidak mengetahui
hal-hal yang gaib (QS.7:188-189).
Selanjutnya Nabi Yusuf a.s. memberikan penjelasan
mengenai sikap dan keyakinan beliau serta leluhur beliau tentang Tuhan Pencipta alam semesta,
firman-Nya:
وَ اتَّبَعۡتُ
مِلَّۃَ اٰبَآءِیۡۤ اِبۡرٰہِیۡمَ
وَ اِسۡحٰقَ وَ یَعۡقُوۡبَ ؕ مَا کَانَ لَنَاۤ اَنۡ نُّشۡرِکَ بِاللّٰہِ مِنۡ
شَیۡءٍ ؕ ذٰلِکَ مِنۡ فَضۡلِ اللّٰہِ عَلَیۡنَا وَ عَلَی النَّاسِ وَ
لٰکِنَّ اَکۡثَرَ النَّاسِ لَا یَشۡکُرُوۡنَ ﴿۳۹﴾
”Dan
aku mengikuti agama bapak-bapakku: Ibrahim, Ishaq, dan Ya’qub,
kami sama sekali tidak berhak mempersekutukan apa pun dengan Allah, yang
demikian itu adalah dari karunia Allah kepada kami dan kepada
seluruh manusia tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur. (Yusuf
[12]:39).
Dakwah Nabi Yusuf a.s.
tentang Allah Swt. tersebut sesuai dengan firman Allah Swt. dalam firman-Nya
berikut ini:
وَ
مَنۡ یَّرۡغَبُ عَنۡ مِّلَّۃِ اِبۡرٰہٖمَ اِلَّا مَنۡ سَفِہَ نَفۡسَہٗ ؕ وَ لَقَدِ اصۡطَفَیۡنٰہُ فِی الدُّنۡیَا ۚ وَ اِنَّہٗ فِی الۡاٰخِرَۃِ لَمِنَ الصّٰلِحِیۡنَ ﴿۱۳۱﴾ اِذۡ قَالَ لَہٗ رَبُّہٗۤ اَسۡلِمۡ ۙ قَالَ اَسۡلَمۡتُ لِرَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿۱۳۲﴾ وَ وَصّٰی بِہَاۤ اِبۡرٰہٖمُ بَنِیۡہِ وَ یَعۡقُوۡبُ ؕ
یٰبَنِیَّ اِنَّ اللّٰہَ اصۡطَفٰی لَکُمُ الدِّیۡنَ فَلَا تَمُوۡتُنَّ اِلَّا وَ اَنۡتُمۡ مُّسۡلِمُوۡنَ ﴿۱۳۳﴾ؕ اَمۡ کُنۡتُمۡ شُہَدَآءَ اِذۡ حَضَرَ یَعۡقُوۡبَ الۡمَوۡتُ ۙ اِذۡ قَالَ لِبَنِیۡہِ مَا تَعۡبُدُوۡنَ مِنۡۢ بَعۡدِیۡ ؕ قَالُوۡا نَعۡبُدُ اِلٰہَکَ وَ اِلٰـہَ اٰبَآئِکَ اِبۡرٰہٖمَ وَ اِسۡمٰعِیۡلَ وَ اِسۡحٰقَ اِلٰـہًا وَّاحِدًا ۚۖ وَّ نَحۡنُ لَہٗ مُسۡلِمُوۡنَ ﴿۱۳۴﴾ تِلۡکَ اُمَّۃٌ قَدۡ خَلَتۡ ۚ لَہَا مَا کَسَبَتۡ وَ
لَکُمۡ مَّا کَسَبۡتُمۡ ۚ وَ لَا تُسۡـَٔلُوۡنَ عَمَّا کَانُوۡا یَعۡمَلُوۡنَ ﴿۱۳۵﴾
Dan siapakah yang berpaling dari agama Ibrahim selain orang
yang memperbodoh dirinya sendiri? Dan
sungguh Kami benar-benar telah memilihnya di dunia
dan sesungguhnya di akhirat pun dia termasuk orang-orang yang saleh. Ingatlah ketika Tuhan-nya berfirman
kepadanya: “Berserah dirilah”, ia berkata: ”Aku telah berserah diri kepada
Tuhan seluruh alam.” Dan Ibrahim mewasiatkan yang demikian
kepada anak-anaknya dan demikian pula Ya’qub seraya
berkata: “Hai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah
memilih agama ini bagimu, maka
janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan berserah diri.” Ataukah
kamu hadir saat kematian
menjelang Ya’qub ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apakah yang
akan kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah
Tuhan engkau dan Tuhan bapak-bapak engkau: Ibrahim,
Isma’il, dan Ishaq, yaitu Tuhan Yang Esa, dan hanya kepada-Nya kami berserah diri.” Itulah umat yang telah berlalu,
baginya apa yang mereka usahakan dan bagimu apa yang kamu usahakan, dan kamu
tidak akan dimintai tanggungjawab mengenai apa yang senantiasa mereka
kerjakan. (Al-Baqarah
[2]:131-134).
Berbagai
bentuk dari kata safiha, safaha dan safuha mempunyai arti
yang berbeda, safiha berarti: ia jahil, bodoh atau kurang akal. Jika
kata itu dipakai bersama dengan nafsahu, seolah-olah sebagai
pelengkapnya seperti dalam ayat ini, kata itu tidak sungguh-sungguh menjadi
transitif (berpelengkap), hanya nampaknya saja demikian (Lisan-al-‘Arab
dan Al-Mufradat). Kata-kata itu berarti juga “yang telah membinasakan jiwanya sendiri.”
Karena
tidak ada saat ditentukan untuk mati, maka orang hendaknya setiap saat
menjalani kehidupannya dengan berserah diri sepenuhnya kepada Allah
Swt.. Ayat ini dapat pula
berarti bahwa orang beriman sejati hendaknya begitu sepenuhnya berserah diri
kepada kehendak Ilahi dan meraih keridhaan-Nya begitu sempurna
sehingga Allah Swt. dengan kemurahan-Nya
yang tidak terbatas, akan mengatur demikian rupa sehingga kematian akan
datang kepadanya pada saat ketika ia berserah diri sepenuhnya kepada kehendak-Nya.
Nabi
Isma’il a.s. itu uwa (pakde -
jw.) Nabi Ya’qub a.s. , namun demikian di sini anak-anak Nabi Ya’qub a.s. mencakupkan juga Nabi Isma’il a.s. di
antara “bapak-bapak” mereka, hal itu menunjukkan bahwa kata ab
kadang-kadang berarti pula uwa (paman).
Anak-anak Nabi Ya’qub a.s. —
kaum Bani Isra’il — sangat menghormati Nabi Isma’il a.s.: “Kami akan
menyembah Tuhan engkau dan Tuhan bapak-bapak eng-kau: Ibrahim,
Isma’il, dan Ishaq, yaitu Tuhan Yang Esa, dan hanya kepada-Nya kami berserah diri.”
“Pada
waktu ayah kami Ya’qub meninggal dunia, beliau memanggil kepada duabelas
putranya, dan berkata kepada mereka: Dengarlah akan perkataan bapakmu Israil” (Kejadian
49:2). “Apakah kamu masih mempunyai suatu keraguan dalam hatimu mengenai
Yang Suci? Mubaraklah Dia”. Mereka berkata: “Dengarlah hai Israil, ayah kami,
sebagaimana tiada keraguan di dalam hati Anda, demikian pula tiada dalam hati
kami. Sebab Junjungan itu Tuhan kami dan Dia Tunggal.” (Mider Rabbah on
Gen. par. 98 & on Deut. par.2). Bandingkan
pula Targ. Jer. on Deut. 6:4.
Persamaan dan perbedaan Nabi Yusuf a.s. dan Nabi Besar Muhammad
saw.
Selanjutnya
Nabi Yusuf a.s. menyinggung masalah kemusyrikan,
yakni kepercayaan yang dianut oleh masyarakat Mesir ketika itu, firman-Nya:
یٰصَاحِبَیِ السِّجۡنِ ءَاَرۡبَابٌ مُّتَفَرِّقُوۡنَ
خَیۡرٌ اَمِ اللّٰہُ
الۡوَاحِدُ الۡقَہَّارُ ﴿ؕ۳۹﴾ مَا تَعۡبُدُوۡنَ مِنۡ
دُوۡنِہٖۤ اِلَّاۤ اَسۡمَآءً سَمَّیۡتُمُوۡہَاۤ اَنۡتُمۡ وَ اٰبَآؤُکُمۡ مَّاۤ اَنۡزَلَ
اللّٰہُ بِہَا مِنۡ سُلۡطٰنٍ ؕ اِنِ
الۡحُکۡمُ اِلَّا لِلّٰہِ ؕ اَمَرَ اَلَّا
تَعۡبُدُوۡۤا اِلَّاۤ اِیَّاہُ ؕ ذٰلِکَ الدِّیۡنُ الۡقَیِّمُ وَ لٰکِنَّ
اَکۡثَرَ النَّاسِ لَا یَعۡلَمُوۡنَ ﴿۴۰﴾
“Hai kawanku sepenjara, apakah yang lebih baik itu tuhan-tuhan
yang saling bertentangan ataukah Allah
Yang Maha Esa, Maha Gagah? Kamu
sekali-kali tidak menyembah selain Allah
melainkan hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapakmu telah menamakannya
padahal Allah sama sekali
tidak menurunkan satu dalil pun mengenai itu, sesungguhnya keputusan itu hanya milik
Allah. Dia telah
memerintahkan bahwa janganlah kamu sembah kecuali hanya Dia semata, itulah agama yang benar
tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Yusuf [12]:41).
Ada pun persamaan dan perbedaan
antara Nabi Yusuf a.s. dengan Nabi Besar Muhammad saw. sehubungan dengan masalah “penjara” dan
“dakwah di dalam penjara” adalah:
(1) Kehidupan Nabi Yusuf a.s. di
Mesir dalam posisi yang jauh lebih beruntung daripada keadaan kakak-kakak beliau di negerinya,
yaini Kanaan, karena Nabi Yusuf a.s. telah dibeli oleh Potifar, seorang pejabat
tinggi kerajaan Mesir yang Nabi Yusuf a.s. sebagai orang anak yang pantas untuk
tinggal di rumahnya di Mesir
(QS.12:22-23).
(2) Keberadaan Nabi Yusuf a.s. dalam penjara adalah keinginan
beliau sendiri, walau pun erat kaitannya juga dengan rencana para pembesar Mesir – termasuk Potifar -- yang
mengetahui bahwa istri-istri
mereka pun sama seperti halnya istri Potifar, yaitu mereka tergoda oleh
ketampanan dan keanggunan Nabi Yusuf a.s. (QS;12:34-36), sekali pun para pembesar
kerajaan Mesir tersebut mengetahui bahwa Nabi Yusuf a.s. tidak
bersalah.
(3) Keberanian Nabi Yusuf a.s. mentablighkan Tauhid Ilahi serta
mengkritik kemusyrikan yang dianut masyarakat Mesir karena beliau dalam
posisi yang lebih tidak membahayakan
diri beliau, karena keberadaan beliau di
dalam penjara bukan karena beliau
benar-benar telah melakukan pelanggaran hukum, sehingga harus
dijebloskan ke dalam penjara, melainkan hanya sekedar untuk mengalihkan
perhatian masyarakat bahwa
dalam kasus istri Potifar dan
perempuan-perempuan yang mengerat tangannya sendiri yang bersalah adalah Nabi Yusuf a.s.
(QS.12:31-36). Karena itu tentu para
petugas penjara pun – atas perintah Potifar dan rekan-rekan sesama pejabat Mesir lainnya – tidak memperlakukan Nabi
Yusuf a.s. seperti terhadap para tahanan
lainnya. Demikian juga kedua orang itu pun tidak berani melaporkan apa yang
dilakukan oleh Nabi Yusuf a.s. karena keduanya sangat berkepentingan dengan
penjelasan Nabi Yusuf a.s. mengenai mimpi mereka.
Mengenai "penjara" Makkah yang dialami Nabi Besar Muhammad saw.:
(1) Kehidupan Nabi Besar Muhammad saw. sejak beliau saw. mendakwakan
diri sebagai Rasul Allah benar-benar telah mengubah keadaan kota Makkah yang
sebelumnya merupakan tempat yang ramah
dan aman – dan bahkan masyarakatnya
sangat menghormati beliau saw. – tiba-tiba berubah menjadi sebuah “penjara”
yang sangat mengerikan.
(2) “Pemenjaraan” yang harus dialami
oleh Nabi Besar Muhammad saw. di Makklah tersebut jauh lebih mengerikan dari keadaan di dalam
penjara mana pun, karena beliau saw., keluarga beliau saw., serta
para pengikut setia beliau saw. (para sahabah r.a.), bukan saja pernah diboikot
selama beberapa bulan di sebuah lembah, sehingga mereka menderita
kekurangan bahan makanan – dan bahkan istri beliau tercinta Sitti Khadijah r.a. wafat dalam masa pemboikotan
tersebut -- bahkan “pemenjaraan” yang
beliau saw. dan umat Islam alami berlangsung selama 13 tahun di Makkah, dimana selama itu segala macam kezaliman melampaui
batas telah ditimpakan kepada beliau saw. dan para sahabah beliau saw. oleh
para pemimpin kafir Qurasiy Makkah
terhadap Nabi beliau saw. dan umat Islam. Dan menjelang terjadinya hijrah Nabi Besar Muhammad saw. ke Madinah
mereka telah merancang makar buruk untuk, membunuh, atau mengusir, atau
menjebloskan Nabi besar Muhammad saw. ke dalam penjara (QS.8:31).
(3) “Terpenjaranya” Nabi Besar Muhammad saw. di Makkah adalah pilihan beliau saw. karena beliau saw. benar-benar
ingin membawa kaumnya dari perbuatan musyrik dan kejahiliyahan
kepada Tauhid Ilahi dan akhlak yang mulia, karena semua itu adalah merupakan cita-cita
beliau saw. sejak awal, sampai-sampai beliau saw. sering pergi bertafakkur
di gua Hira hingga akhirnya datang malaikat Jibril a.s. atas perintah Allah
menurunkan wahyu pertama Al-Quran (QS.95:1-6; QS.93:1-12
& QS.94:1-9).
Demikianlah beberapa persamaan
dan perbedaan antara Nabi Yusuf
a.s. dan Nabi Besar Muhammad saw. dalam hal “penjara” dan menablighkan “Tauhid Ilahi”.
Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid
Tidak ada komentar:
Posting Komentar