بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
HUBUNGAN NABI YUSUF A.S.
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
Bagian XXXII
Tentang
Kepergian Saudara-saudara Nabi Yusuf a.s. ke Mesir
Oleh
Ki Langlang
Buana Kusuma
وَ
مَنۡ یُّطِعِ اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ فَاُولٰٓئِکَ مَعَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ
عَلَیۡہِمۡ مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ
ۚ وَ حَسُنَ اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا ﴿ؕ۷۰﴾ ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا ﴿٪۷۱﴾
Dan barangsiapa
taat kepada Allah dan
Rasul ini maka mereka akan termasuk di antara orang-orang yang Allah memberi nikmat kepada mereka yakni: nabi-nabi,
shiddiq-shiddiq, syahid-syahid, dan orang-orang shalih, dan mereka itulah sahabat yang sejati. Itulah
karunia dari Allah, dan cukuplah Allāh Yang Maha Mengetahui. (Al-Nisaa
[4]:70-71).
Dalam Bab
sebelumnya telah dijelaskan mengenai kedudukan Nabi Yusuf a.s. di sisi raja Mesir -- yang secara jasmani lebih tinggi daripada kedudukan
duniawi beliau sebelumnya di lingkungan rumah Potifar -- karena dalam
kedudukan khusus beliau di sisi raja Mesir membuat Nabi Yusuf a.s. dapat
melaksanakan apa pun keinginan atau program beliau dalam melaksanakan sempurnanya mimpi beliau mau pun mimpi raja
Mesir, firman-Nya:
وَ قَالَ الۡمَلِکُ ائۡتُوۡنِیۡ
بِہٖۤ اَسۡتَخۡلِصۡہُ لِنَفۡسِیۡ ۚ
فَلَمَّا کَلَّمَہٗ قَالَ
اِنَّکَ الۡیَوۡمَ لَدَیۡنَا
مَکِیۡنٌ اَمِیۡنٌ ﴿۵۵﴾
Dan raja itu berkata: “Bawalah dia kepadaku, supaya aku
memilih dia untuk tugas-tugas pribadiku.” Maka tatkala ia (Yusuf) berbicara dengannya ia (raja) berkata:
“Sesungguhnya engkau, Yusuf, hari ini seorang yang
berkedudukan tinggi di sisi kami lagi terpercaya.” (Yusuf [12]:55).
Selanjutnya
Allah Swt. berfirman:
وَ
کَذٰلِکَ مَکَّنَّا لِیُوۡسُفَ فِی الۡاَرۡضِ ۚ یَتَبَوَّاُ مِنۡہَا حَیۡثُ
یَشَآءُ ؕ نُصِیۡبُ بِرَحۡمَتِنَا مَنۡ نَّشَآءُ وَ لَا نُضِیۡعُ اَجۡرَ الۡمُحۡسِنِیۡنَ ﴿۵۶﴾ وَ لَاَجۡرُ الۡاٰخِرَۃِ خَیۡرٌ لِّلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ
کَانُوۡا یَتَّقُوۡنَ ﴿٪۵۷﴾
Dan demikianlah Kami telah memberikan kepada Yusuf kedudukan
di negeri itu, ia tinggal dimana saja yang ia kehendaki. Kami melimpahkan rahmat Kami
kepada siapa yang Kami kehendaki, dan Kami
tidak menghilangkan ganjaran orang-orang yang berbuat ihsan. Dan sesungguhnya ganjaran di akhirat itu
lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan bertakwa. (Yusuf [12]:57-58).
Hakikat “Dua Kalimah Syahadat”
Sehubungan
dengan kalimat “Dan sesungguhnya ganjaran di akhirat itu lebih baik bagi orang-orang
yang beriman dan bertakwa.
(Yusuf [12]:58), Allah Swt. berfirman pada bagian
akhir Bab sebelumnya:
اِنَّ الۡمُتَّقِیۡنَ فِیۡ جَنّٰتٍ وَّ نَہَرٍ ﴿ۙ۵۵﴾ فِیۡ مَقۡعَدِ صِدۡقٍ
عِنۡدَ مَلِیۡکٍ مُّقۡتَدِرٍ ﴿٪۵۶﴾
Sesungguhnya
orang-orang yang bertakwa itu berada dalam kebun-kebun dan sungai-sungai,
dalam tempat tinggal yang mulia
di sisi Raja Yang Maha Kuasa. (Al-Qamar [54]:55-56).
Sudah pasti bahwa berada “di sisi” (di
hadirat) Allah Swt. – Raja Yang Maha Kuasa – adalah suatu maqam
(martabat) yang jauh lebih mulia daripada martabat di sisi siapa pun di dunia
ini, dan dari seluruh rasul Allah maqam (martabat ruhani) yang diraih oleh Nabi Besar Muhammad saw. adalah
maqam yang paling sempurna, sehingga Allah Swt. mengabadikan maqam
tersebut dalam dua Kalimah Syahadat, yakni:
“Aku
bersaksi bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad
adalah Rasul Allah.”
Makna dari dua Kalimah Syahadat
tersebut adalah bahwa sejak diutusnya Nabi Besar Muhammad saw. dengan
membawa agama dan Kitab suci terakhir
dan tersempurna – yakni agama Islam dan Al-Quran (QS.5:4) -- siapa pun tidak akan pernah
dapat memperoleh maqam (kedudukan) yang mulia “di sisi” Allah Swt. kecuali
melalui kepatuh-taatan sempurna kepada Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:
قُلۡ اِنۡ کُنۡتُمۡ تُحِبُّوۡنَ
اللّٰہَ فَاتَّبِعُوۡنِیۡ یُحۡبِبۡکُمُ اللّٰہُ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ ذُنُوۡبَکُمۡ ؕ
وَ اللّٰہُ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ ﴿۳۲﴾
Katakanlah: ”Jika
kamu benar-benar mencintai Allah
maka ikutilah aku,
Allah pun akan mencintaimu dan akan mengampuni
dosa-dosamu. Dan Allah
Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Ali ‘Imran [3]:32).
Ayat
ini dengan tegas menyatakan bahwa tujuan memperoleh kecintaan Ilahi
sekarang tidak mungkin terlaksana kecuali dengan mengikuti Nabi Besar
Muhammad saw.. Selanjutnya
ayat ini melenyapkan kesalahpahaman yang mungkin dapat timbul dari QS.2:63
bahwa iman kepada adanya Tuhan dan alam akhirat saja sudah cukup
untuk memperoleh najat (keselamatan).
Ada
pun maqam-maqam (martabat-martabat) ruhani yang disediakan Allah
Sw. kepada orang-orang yang melaksanakan dua Kalimah Syahadat yang dikemukakan firman Allah Swt. tersebut,
dijelaskan dalam firman-Nya berikut ini:
وَ
مَنۡ یُّطِعِ اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ فَاُولٰٓئِکَ مَعَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ
عَلَیۡہِمۡ مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ
ۚ وَ حَسُنَ اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا ﴿ؕ۷۰﴾ ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا ﴿٪۷۱﴾
Dan barangsiapa
taat kepada Allah dan Rasul
ini maka mereka akan termasuk di antara orang-orang yang Allah memberi nikmat kepada mereka yakni: nabi-nabi,
shiddiq-shiddiq, syahid-syahid, dan orang-orang shalih, dan mereka
itulah sahabat yang sejati.
Itulah karunia dari Allah, dan cukuplah Allāh Yang Maha Mengetahui. (Al-Nisaa
[4]:70-71).
Ayat
ini sangat penting sebab ia menerangkan semua jalur kemajuan ruhani yang
terbuka bagi kaum Muslimin. Keempat martabat keruhanian — para nabi,
para shiddiq, para syuhada (saksi-saksi) dan para shalih
(orang-orang saleh) — kini semuanya dapat dicapai hanya dengan jalan mengikuti
Nabi Besar Muhammad saw.. Hal
ini merupakan kehormatan khusus bagi beliau saw. semata. Tidak ada nabi lain
menyamai beliau saw. dalam perolehan nikmat ini.
Kesimpulan
itu lebih lanjut ditunjang oleh ayat yang membicarakan nabi-nabi secara umum
dan mengatakan: “Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan para rasul-Nya, mereka
adalah orang-orang shiddiq dan syuhada (saksi-saksi) di sisi
Tuhan mereka” (QS.57: 20). Apabila kedua ayat ini dibaca bersama-sama maka
kedua ayat itu berarti bahwa, kalau para pengikut nabi-nabi lainnya dapat
mencapai martabat shiddiq, syahid, dan shalih dan tidak
lebih tinggi dari itu, maka pengikut Nabi Besar Muhammad saw. dapat naik ke martabat nabi juga.
Kitab
“Bahr-ul-Muhit” (jilid III, hlm. 287) menukil Al-Raghib yang
mengatakan: “Tuhan telah membagi orang-orang beriman dalam empat golongan dalam ayat ini, dan
telah menetapkan bagi mereka empat tingkatan, sebagian di antaranya lebih
rendah dari yang lain, dan Dia telah mendorong orang-orang beriman sejati agar
jangan tertinggal dari keempat tingkatan ini.” Dan membubuhkan bahwa: “Kenabian
itu ada dua macam: umum dan khusus. Kenabian khusus, yakni kenabian yang
membawa syariat, sekarang tidak dapat dicapai lagi; tetapi kenabian yang umum
masih tetap dapat dicapai.”
Kedatangan Saudara-suudara Nabi Yusuf a.s. di Mesir
Dengan diangkatnya Nabi Yusuf a.s. oleh raja
Mesir menjadi salah seorang dari orang-orang kepercayaan penguasa kerajaan Mesir tersebut untuk melaksanakan tugas-tugas khusus
raja, hal itu mengakhiri rangkaian penderitaan yang
dialami oleh Nabi Yusuf a.s..
Kehormatan duniawi yang dianugerahkan
Allah Swt.. tersebut merupakan puncak tertinggi
martabat yang diraih oleh Nabi Yusuf a.s. sebagai hasil dari kesabaran
beliau menjalani berbagai ujian-ujian keimanan – baik ujian keimanan yang
pahit mau pun ujian keimanan yang manis coraknya -- yang merupakan hal yang sangat mustahil
dalam pandangan saudara-saudara tua Nabi Yusuf a.s. akan dapat diraih
oleh beliau, itulah sebabnya ketika mereka
bertemu dengan Nabi Yusuf a.s. mereka sama sekali tidak mengenali
beliau, firman-Nya:
وَ جَآءَ اِخۡوَۃُ یُوۡسُفَ فَدَخَلُوۡا عَلَیۡہِ فَعَرَفَہُمۡ وَ ہُمۡ
لَہٗ مُنۡکِرُوۡنَ ﴿۵۹﴾
Dan saudara-saudara Yusuf datang
lalu menghadap kepadanya, ia
mengenal mereka, tetapi
mereka itu tidak mengenalinya. (Yusuf [12]:59).
Dari peristiwa
kedatangan saudara-saudara Nabi Yusuf
a.s. ke Mesir dapat diketahui bahwa
mimpi raja Mesir yang ditakwilkan oleh Nabi Yusuf a.s. telah
mulai terjadi, yakni di kawasan Kanaan telah terjadi musim kemarau panjang,
sehingga membuat saudara-saudara Nabi Yusuf a.s. harus pergi ke ibukota kerajaan
Mesir untuk membeli bahan makanan.
Karena yang
bertanggungjawab dalam hal penyimpanan dan pendistribusian bahan
makanan di Mesir adalah Nabi Yusuf a.s. maka – sesuai dengan takdir
Allah Swt. – mereka dapat bertemu Nabi Yusuf a.s., namun mereka sama sekali
tidak mengenai beliau, sebab selain
penampilan fisik Nabi Yusuf a.s. jauh berbeda dengan keadaan beliau yang ada dalam benak mereka --
sehingga sedikit pun mereka tidak
mengenali Nabi Yusuf a.s. -- tetapi juga
kedengkian mereka terhadap Nabi Yusuf a.s. masih tetap bercokol dalam
hati mereka, sehingga menjadi tabir yang menghalangi mereka dari mengenai saudaranya
yang mereka pernah berupaya membunuhnya.
Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid
Tidak ada komentar:
Posting Komentar