بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
HUBUNGAN NABI YUSUF A.S.
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
Bagian XXVII
Tentang
Takwil Mimpi Rekan sepenjara Nabi Yusuf a.s.&
Penyebab Nabi Yusuf a.s. Lama Dalam Penjara
Penyebab Nabi Yusuf a.s. Lama Dalam Penjara
Oleh
Ki Langlang
Buana Kusuma
یٰصَاحِبَیِ السِّجۡنِ
اَمَّاۤ اَحَدُ کُمَا فَیَسۡقِیۡ رَبَّہٗ
خَمۡرًا ۚ وَ اَمَّا الۡاٰخَرُ فَیُصۡلَبُ فَتَاۡکُلُ الطَّیۡرُ مِنۡ رَّاۡسِہٖ ؕ
قُضِیَ الۡاَمۡرُ الَّذِیۡ فِیۡہِ تَسۡتَفۡتِیٰنِ ﴿ؕ۴۱﴾ وَ قَالَ لِلَّذِیۡ
ظَنَّ اَنَّہٗ نَاجٍ مِّنۡہُمَا اذۡکُرۡنِیۡ عِنۡدَ رَبِّکَ ۫ فَاَنۡسٰہُ
الشَّیۡطٰنُ ذِکۡرَ رَبِّہٖ فَلَبِثَ فِی السِّجۡنِ بِضۡعَ سِنِیۡنَ ﴿ؕ٪۴۲﴾
“Hai kedua kawanku sepenjara, ada pun seorang di antara kamu akan
menuangkan minuman anggur kepada majikannya, dan ada pun mengenai yang lain ia akan disalibkan, lalu
burung-burung akan memakan kepalanya.
Perkara yang kamu ber-dua menanyakan
pendapatku mengenainya telah diputuskan. Dan dia berkata
kepada orang yang diduganya akan
dibebaskan dari antara kedua orang itu:
“Ceriterakanlah mengenai diriku kepada majikan engkau.” Tetapi syaitan
menyebabkannya lupa menceritakannya kepada majikannya maka tinggallah dia dalam
penjara beberapa tahun lamanya. (Yusuf
[12]:42-43).
Dalam bagian akhir Bab sebelumnya telah
dikemukakan persamaan dan perbedaan antara Nabi Yusuf a.s. dengan
Nabi Besar Muhammad saw. sehubungan dengan masalah “penjara”. Selanjutnya
setelah melakukan dakwah barulah Nabi Yusuf a.s. menjelaskan takwil mimpi kedua
rekan beliau sepenjara, firman-Nya:
یٰصَاحِبَیِ السِّجۡنِ
اَمَّاۤ اَحَدُ کُمَا فَیَسۡقِیۡ رَبَّہٗ
خَمۡرًا ۚ وَ اَمَّا الۡاٰخَرُ فَیُصۡلَبُ فَتَاۡکُلُ الطَّیۡرُ مِنۡ رَّاۡسِہٖ ؕ
قُضِیَ الۡاَمۡرُ الَّذِیۡ فِیۡہِ تَسۡتَفۡتِیٰنِ ﴿ؕ۴۱﴾ وَ قَالَ لِلَّذِیۡ
ظَنَّ اَنَّہٗ نَاجٍ مِّنۡہُمَا اذۡکُرۡنِیۡ عِنۡدَ رَبِّکَ ۫ فَاَنۡسٰہُ
الشَّیۡطٰنُ ذِکۡرَ رَبِّہٖ فَلَبِثَ فِی السِّجۡنِ بِضۡعَ سِنِیۡنَ ﴿ؕ٪۴۲﴾
“Hai kedua kawanku sepenjara, ada pun seorang di antara kamu akan
menuangkan minuman anggur kepada majikannya, dan ada pun mengenai yang lain ia
akan disalibkan, lalu burung-burung akan memakan kepalanya. Perkara yang kamu ber-dua menanyakan pendapatku
mengenainya telah diputuskan. Dan dia berkata kepada orang yang
diduga (diyakini) akan dibebaskan dari
antara kedua orang itu: “Ceriterakanlah
mengenai diriku kepada majikan engkau.” Tetapi syaitan menyebabkannya lupa
menceritakannya kepada majikannya maka tinggallah dia dalam penjara beberapa
tahun lamanya. (Yusuf [12]:42-43).
Hukuman Mati Melalui Penyaliban
Dari firman Allah Swt. tersebut diketahui bahwa
hukuman mati melalui penyaliban sudah biasa dilakukan di kerajaan Mesir,
dan ungkapan “lalu burung-burung akan memakan kepalanya“ mengisyaratkan bahwa orang
yang disalibkan akan dibiarkan mengalami
proses kematian dengan cara yang lambat dan penuh penderitaan di tiang salib.
Menurut pengalaman,
orang yang dipakukan di tiang salib akan mengalami kematian paling cepat
setelah 3 hari tergantung di tiang salib dengan penuh penderitaan. Bandingkan
dengan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. yang
juga mengalami hukuman melalui penyaliban,
tetapi beliau hanya mengalami pemakuan di tiang salib selama 3 jam saja,
karena keadaan mengharuskan beliau segera diturunkan dari tiang salib, tanpa
terlebih dulu dipatahkannya tulang-tulang kaki dan tangan beliau – yang
merupakan proses terakhir penyaliban guna meyakini bahwa orang-orang
yang disalib benar-benar mengalami kematian -- seperti yang dialami oleh kedua
pencuri yang juga mendapat
hukuman penyaliban bersama-sama
beliau.
Kenyataan tersebut menunjukkan bahwa walau pun benar Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s. sempat mengalami pemakuan di tiang salib, tetapi beliau
tidak sampai mengalami kematian terkutuk di tiang salib
sebagaimana yang diinginkan oleh para ulama Yahudi yang memaksa penghukuman
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. melalui penyaliban, karena menurut hukum
Taurat orang yang matinya tergantung di tiang salib merupakan kutuk
baginya (Ulangan 18:20 & Ulangan 21:22-23).
Dengan demikian benarlah firman Allah Swt. berikut ini
mengenai kegagalan total makar buruk yang dirancang oleh
ulama-ulama Yahudi dalam hal “penyaliban” Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.,
firman-Nya:
وَّ قَوۡلِہِمۡ اِنَّا قَتَلۡنَا
الۡمَسِیۡحَ عِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ رَسُوۡلَ اللّٰہِ ۚ وَ مَا قَتَلُوۡہُ وَ مَا
صَلَبُوۡہُ وَ لٰکِنۡ شُبِّہَ لَہُمۡ ؕ وَ
اِنَّ الَّذِیۡنَ اخۡتَلَفُوۡا فِیۡہِ لَفِیۡ شَکٍّ مِّنۡہُ ؕ مَا لَہُمۡ
بِہٖ مِنۡ عِلۡمٍ اِلَّا اتِّبَاعَ
الظَّنِّ ۚ وَ مَا قَتَلُوۡہُ یَقِیۡنًۢا
﴿۱۵۸﴾ۙ بَلۡ رَّفَعَہُ
اللّٰہُ اِلَیۡہِ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ عَزِیۡزًا حَکِیۡمًا ﴿۱۵۹﴾
Dan mereka
diazab karena ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh
Al-Masih, Isa Ibnu Maryam, Rasul Allah,” padahal mereka tidak
membunuhnya secara biasa dan tidak pula mematikannya melalui
penyaliban, tetapi ia
disamarkan kepada mereka seperti telah mati di atas salib. Dan
sesungguhnya orang-orang yang
berselisih dalam hal ini benar-benar ada
dalam keraguan mengenai ini, mereka tidak memiliki pengetahuan yang pasti mengenai
ini melainkan menuruti dugaan belaka dan mereka tidak yakin telah membunuh-nya. Bahkan Allah telah mengangkatnya
kepada-Nya dan Allah
Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (Al- Nisaa [4]:158-159).
Kalimat “Bahkan Allah telah mengangkatnya
kepada-Nya dan Allah
Maha Perkasa, Maha Bijaksana” sama sekali tidak ada hubungannya
dengan pengangkatan Nabi Isa Ibnu Maryam
a.s. hidup-hidup ke langit –
sebagaimana umumnya dipercayai umat
Islam – melainkan maksudnya adalah bahwa apabila para ulama Yahudi berhasil membunuh
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. melalui penyaliban berarti mereka
berhasil menghinakan beliau
dan membuktikan beliau sebagai “orang yang matinya terkutuk”.
Tetapi dengan terhindarnya Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
dari kematian terkutuk di tinga salib – walau pun benar beliau sempat
mengalami pemakuan di tiang salib selama 3 jam – berarti Allah Swt. telah mengangkat
kehormatan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dari makar buruk para ulama
Yahudi melalui penyaliban tersebut. Makna ini diperkuat dengan penyebutan sifat
Allah Swt. “dan Allah Maha Perkasa,
Maha Bijaksana“, yang artinya adalah bahwa yang menang dalam “duel
makar” melalui penyaliban
tersebut adalah Allah Swt., firman-Nya:
وَ
مَکَرُوۡا وَ مَکَرَ اللّٰہُ ؕ وَ اللّٰہُ خَیۡرُ الۡمٰکِرِیۡنَ ﴿٪۵۵﴾
Dan
mereka, yakni musuh Al-Masih, merancang
makar buruk dan Allah pun merancang makar tandingan dan Allah sebaik-baik Perancang makar.
(Aali ‘Imran [3]:55).
Firman
Allah Swt. selanjutnya memperkuat makna
yang benar tersebut:
اِذۡ قَالَ اللّٰہُ یٰعِیۡسٰۤی اِنِّیۡ
مُتَوَفِّیۡکَ وَ رَافِعُکَ اِلَیَّ وَ مُطَہِّرُکَ مِنَ الَّذِیۡنَ
کَفَرُوۡا وَ جَاعِلُ الَّذِیۡنَ
اتَّبَعُوۡکَ فَوۡقَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡۤا اِلٰی یَوۡمِ الۡقِیٰمَۃِ ۚ ثُمَّ اِلَیَّ مَرۡجِعُکُمۡ فَاَحۡکُمُ بَیۡنَکُمۡ
فِیۡمَا کُنۡتُمۡ فِیۡہِ تَخۡتَلِفُوۡنَ ﴿۵۶﴾
Ingatlah ketika Allah berfirman: “Hai Isa, sesungguhnya Aku akan mewafatkan engkau secara
wajar dan akan meninggikan derajat
kemuliaan engkau di sisi-Ku, akan membersihkan engkau dari tuduhan
orang-orang yang kafir kepada engkau, dan akan menjadikan orang-orang yang mengikuti engkau di atas
orang-orang yang kafir hingga Hari
Kiamat, kemudian
kepada-Ku kamu akan dikembalikan, lalu Aku
akan menghakimi di antaramu dalam apa yang kamu senantiasa berselisih
mengenainya.” (Aali ‘Imran [3]:56).
Penyebab Nabi Yusuf
a.s. Lama
Dalam Penjara
Kembali kepada masalah penjelasan
Nabi Yusuf a.s. mengenai takwil mimpi dua rekan beliau dalam penjara, firman-Nya:
یٰصَاحِبَیِ السِّجۡنِ
اَمَّاۤ اَحَدُ کُمَا فَیَسۡقِیۡ رَبَّہٗ
خَمۡرًا ۚ وَ اَمَّا الۡاٰخَرُ فَیُصۡلَبُ فَتَاۡکُلُ الطَّیۡرُ مِنۡ رَّاۡسِہٖ ؕ
قُضِیَ الۡاَمۡرُ الَّذِیۡ فِیۡہِ تَسۡتَفۡتِیٰنِ ﴿ؕ۴۲﴾
“Hai kedua kawanku sepenjara, ada pun seorang di antara kamu akan
menuangkan minuman anggur kepada majikannya, dan ada pun mengenai yang
lain ia akan disalibkan, lalu burung-burung akan memakan kepalanya. Perkara yang kamu ber-dua menanyakan pendapatku
mengenainya telah diputuskan. (Yusuf [12]:42).
Hal yang menarik untuk dibahas adalah ucapan
nabi Yusuf a.s. selanjutnya, firman-Nya:
وَ قَالَ لِلَّذِیۡ
ظَنَّ اَنَّہٗ نَاجٍ مِّنۡہُمَا اذۡکُرۡنِیۡ عِنۡدَ رَبِّکَ ۫ فَاَنۡسٰہُ
الشَّیۡطٰنُ ذِکۡرَ رَبِّہٖ فَلَبِثَ فِی السِّجۡنِ بِضۡعَ سِنِیۡنَ ﴿ؕ٪۴۳﴾
Dan dia berkata kepada orang yang diduga (diyakini) akan dibebaskan dari antara
kedua orang itu: “Ceriterakanlah
mengenai diriku kepada majikan engkau.” Tetapi syaitan menyebabkannya
lupa menceritakannya kepada majikannya maka dia (Yusuf)
tinggal dalam penjara beberapa tahun lamanya. (Yusuf [12]:42-43).
Bidh menyatakan bermacam-macam
bilangan, tetapi pada umumnya dianggap berarti bilangan dari tiga sampai
sembilan (Lexicon Lane).
Walaupun Allah Swt.
menyatakan bahwa setan itulah yang menyebabkan orang yang dibebaskan dari penjara itu lupa menyampaikan pesan Nabi
Yusuf a.s. kepada raja Mesir, tetapi hal
itu tetap tidak terlepas dari beberapa alasan berikut ini:
(1) Dibebaskannya orang tersebut dari mengalami hukuman salib
seperti yang dialami oleh rekannya, sebenarnya bukan suatu peristiwa yang mudah
dilupakan begitu saja oleh yang
bersangkutan untuk segera menyampaikan pesan Nabi Yusuf a.s., tetapi adanya rasa tidak senang
terhadap dakwah Nabi Yusuf a.s.
mengenai kemusyrikan yang menjadi kepercayaan masyarakat Mesir
itulah yang membuatnya menunda-nunda untuk menyampaikan Nabi
Yusuf a.s kepada majikannya, yakni raja
Mesir. Artinya bahwa dalam peristiwa ini pun adalah semacam makar buruk terhadap Nabi Yusuf a.s.
dari orang tersebut.
(2) Walau pun pesan Nabi Yusuf a.s. kepada orang tersebut
sesuatu yang sangat wajar – karena beliau memang tidak bersalah dalam kasus yang dialaminya
dengan istri Potifar – tetapi sebagai seorang
suci (nabi Allah) maka pesan
Nabi Yusuf a.s. tersebut menjadi “kurang bijaksana” beliau lakukan. Dan ini
pulalah perbedaan lainnya antara Nabi Yusuf a.s. dengan Nabi Besar
Muhammad saw. yang sepenuhnya benar-benar “berserah diri” kepada
kehendak (keputusan) Allah Swt., bahkan melebihi Nabi Ibrahim a.s. (QS.2:125;
QS.6:163-164).
Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid
Tidak ada komentar:
Posting Komentar