Selasa, 24 Januari 2012

Takwil Mimpi Rekan Sepenjara Nabi Yusuf a.s. & Penyebab Nabi Yusuf a.s. Lama Dalam penjara


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ

 
HUBUNGAN  NABI YUSUF A.S. 
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
  
Bagian   XXVII
Tentang
 
     Takwil Mimpi Rekan sepenjara Nabi Yusuf a.s.&
Penyebab Nabi Yusuf a.s. Lama Dalam Penjara
   
 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma
 
یٰصَاحِبَیِ السِّجۡنِ اَمَّاۤ  اَحَدُ کُمَا فَیَسۡقِیۡ رَبَّہٗ خَمۡرًا ۚ وَ اَمَّا الۡاٰخَرُ فَیُصۡلَبُ فَتَاۡکُلُ الطَّیۡرُ مِنۡ رَّاۡسِہٖ ؕ قُضِیَ الۡاَمۡرُ  الَّذِیۡ  فِیۡہِ تَسۡتَفۡتِیٰنِ ﴿ؕ۴۱  وَ قَالَ لِلَّذِیۡ ظَنَّ اَنَّہٗ نَاجٍ مِّنۡہُمَا اذۡکُرۡنِیۡ عِنۡدَ رَبِّکَ ۫ فَاَنۡسٰہُ الشَّیۡطٰنُ ذِکۡرَ رَبِّہٖ فَلَبِثَ فِی السِّجۡنِ بِضۡعَ سِنِیۡنَ ﴿ؕ٪۴۲
“Hai kedua kawanku sepenjara, ada pun seorang di antara kamu akan menuangkan minuman anggur kepada majikannya, dan ada pun  mengenai yang lain ia akan disalibkan, lalu burung-burung akan memakan  kepalanya. Perkara yang   kamu ber-dua menanyakan pendapatku mengenainya telah diputuskan. Dan dia berkata kepada  orang yang diduganya akan dibebaskan dari antara kedua orang itu:  “Ceriterakanlah mengenai diriku kepada majikan engkau.” Tetapi syaitan menyebabkannya lupa menceritakannya kepada majikannya maka tinggallah dia dalam penjara beberapa tahun lamanya.  (Yusuf [12]:42-43). 

Dalam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan persamaan dan perbedaan antara Nabi Yusuf a.s. dengan Nabi Besar Muhammad saw. sehubungan dengan masalah “penjara”. Selanjutnya setelah melakukan dakwah barulah Nabi Yusuf a.s. menjelaskan takwil mimpi kedua rekan beliau sepenjara, firman-Nya:
یٰصَاحِبَیِ السِّجۡنِ اَمَّاۤ  اَحَدُ کُمَا فَیَسۡقِیۡ رَبَّہٗ خَمۡرًا ۚ وَ اَمَّا الۡاٰخَرُ فَیُصۡلَبُ فَتَاۡکُلُ الطَّیۡرُ مِنۡ رَّاۡسِہٖ ؕ قُضِیَ الۡاَمۡرُ  الَّذِیۡ  فِیۡہِ تَسۡتَفۡتِیٰنِ ﴿ؕ۴۱  وَ قَالَ لِلَّذِیۡ ظَنَّ اَنَّہٗ نَاجٍ مِّنۡہُمَا اذۡکُرۡنِیۡ عِنۡدَ رَبِّکَ ۫ فَاَنۡسٰہُ الشَّیۡطٰنُ ذِکۡرَ رَبِّہٖ فَلَبِثَ فِی السِّجۡنِ بِضۡعَ سِنِیۡنَ ﴿ؕ٪۴۲
“Hai kedua kawanku sepenjara, ada pun seorang di antara kamu akan menuangkan minuman anggur kepada majikannya, dan ada pun mengenai yang lain ia akan disalibkan, lalu burung-burung akan memakan  kepalanya. Perkara yang   kamu ber-dua menanyakan pendapatku mengenainya telah diputuskan. Dan dia berkata kepada orang yang diduga  (diyakini) akan dibebaskan dari antara kedua orang itu:  “Ceriterakanlah mengenai diriku kepada majikan engkau.” Tetapi syaitan menyebabkannya lupa menceritakannya kepada majikannya maka tinggallah dia dalam penjara beberapa tahun lamanya.  (Yusuf [12]:42-43). 

Hukuman Mati Melalui Penyaliban

   Dari  firman Allah Swt. tersebut diketahui bahwa hukuman mati melalui penyaliban sudah biasa dilakukan di kerajaan Mesir, dan ungkapan “lalu burung-burung akan memakan  kepalanya“ mengisyaratkan bahwa orang yang disalibkan akan dibiarkan  mengalami proses kematian dengan cara yang lambat dan penuh penderitaan  di tiang salib.
  Menurut  pengalaman,   orang yang dipakukan di tiang salib akan mengalami kematian paling cepat setelah 3 hari tergantung di tiang salib dengan penuh penderitaan. Bandingkan dengan   Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. yang juga mengalami  hukuman melalui penyaliban, tetapi beliau hanya mengalami pemakuan di tiang salib selama 3 jam saja, karena  keadaan mengharuskan beliau  segera diturunkan dari tiang salib, tanpa terlebih dulu dipatahkannya tulang-tulang kaki dan tangan beliau – yang merupakan proses terakhir penyaliban guna meyakini bahwa orang-orang yang disalib benar-benar mengalami kematian -- seperti yang dialami oleh kedua pencuri yang juga   mendapat hukuman  penyaliban bersama-sama beliau.
Kenyataan tersebut menunjukkan bahwa walau pun benar Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. sempat mengalami pemakuan di tiang salib, tetapi beliau tidak sampai mengalami kematian terkutuk di tiang salib sebagaimana yang diinginkan oleh para ulama Yahudi yang memaksa penghukuman Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. melalui penyaliban, karena menurut hukum Taurat orang yang matinya tergantung di tiang salib merupakan kutuk baginya (Ulangan 18:20 & Ulangan 21:22-23).
  Dengan demikian  benarlah firman Allah Swt. berikut ini mengenai kegagalan total makar buruk yang dirancang oleh ulama-ulama Yahudi   dalam hal  “penyaliban” Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., firman-Nya:
وَّ قَوۡلِہِمۡ اِنَّا قَتَلۡنَا الۡمَسِیۡحَ عِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ رَسُوۡلَ اللّٰہِ ۚ وَ مَا قَتَلُوۡہُ وَ مَا صَلَبُوۡہُ وَ لٰکِنۡ شُبِّہَ لَہُمۡ ؕ وَ  اِنَّ الَّذِیۡنَ اخۡتَلَفُوۡا فِیۡہِ لَفِیۡ شَکٍّ مِّنۡہُ ؕ مَا لَہُمۡ بِہٖ مِنۡ عِلۡمٍ  اِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ ۚ وَ مَا قَتَلُوۡہُ  یَقِیۡنًۢا ﴿۱۵۸﴾ۙ  بَلۡ رَّفَعَہُ اللّٰہُ اِلَیۡہِ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ عَزِیۡزًا حَکِیۡمًا ﴿۱۵۹
Dan mereka diazab karena ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, Isa Ibnu Maryam, Rasul Allah,” padahal mereka tidak membunuhnya secara biasa dan tidak pula mematikannya melalui penyaliban,  tetapi ia disamarkan kepada mereka seperti telah mati di atas salib. Dan sesungguhnya  orang-orang yang berselisih dalam hal ini benar-benar  ada dalam keraguan mengenai ini, mereka tidak memiliki  pengetahuan yang pasti mengenai ini melainkan menuruti dugaan belaka dan mereka tidak  yakin telah membunuh-nya.   Bahkan Allah telah mengangkatnya kepada-Nya  dan Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (Al- Nisaa [4]:158-159).
    Kalimat “Bahkan Allah telah mengangkatnya kepada-Nya  dan Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana” sama sekali tidak ada hubungannya dengan pengangkatan  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  hidup-hidup ke langit – sebagaimana  umumnya dipercayai umat Islam – melainkan maksudnya adalah bahwa apabila para ulama Yahudi berhasil membunuh Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. melalui penyaliban berarti mereka berhasil  menghinakan  beliau   dan membuktikan beliau sebagai “orang yang matinya terkutuk”.
     Tetapi dengan  terhindarnya Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dari kematian terkutuk di tinga salib – walau pun benar beliau sempat mengalami pemakuan di tiang salib selama 3 jam –  berarti Allah Swt. telah mengangkat kehormatan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dari makar buruk para ulama Yahudi melalui penyaliban tersebut. Makna ini diperkuat dengan penyebutan sifat Allah Swt.  “dan Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana“, yang artinya adalah bahwa yang menang dalam “duel makar” melalui  penyaliban tersebut adalah Allah Swt., firman-Nya:
وَ مَکَرُوۡا وَ مَکَرَ اللّٰہُ ؕ وَ اللّٰہُ خَیۡرُ الۡمٰکِرِیۡنَ ﴿٪۵۵
Dan mereka,   yakni musuh Al-Masih, merancang makar  buruk  dan Allah pun merancang makar  tandingan  dan Allah sebaik-baik Perancang makar.    (Aali ‘Imran [3]:55).
Firman Allah Swt. selanjutnya memperkuat makna  yang benar tersebut:
  اِذۡ قَالَ اللّٰہُ یٰعِیۡسٰۤی اِنِّیۡ مُتَوَفِّیۡکَ وَ رَافِعُکَ اِلَیَّ وَ مُطَہِّرُکَ مِنَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا  وَ جَاعِلُ الَّذِیۡنَ اتَّبَعُوۡکَ فَوۡقَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡۤا اِلٰی یَوۡمِ الۡقِیٰمَۃِ ۚ ثُمَّ  اِلَیَّ مَرۡجِعُکُمۡ فَاَحۡکُمُ بَیۡنَکُمۡ فِیۡمَا کُنۡتُمۡ  فِیۡہِ  تَخۡتَلِفُوۡنَ ﴿۵۶
Ingatlah ketika Allah berfirman: “Hai Isa, sesungguhnya   Aku akan mewafatkan engkau secara wajar dan   akan meninggikan derajat kemuliaan engkau di sisi-Ku, akan membersihkan engkau dari tuduhan orang-orang yang kafir kepada engkau, dan akan menjadikan   orang-orang yang mengikuti engkau di atas orang-orang yang kafir  hingga Hari Kiamat,  kemudian kepada-Ku  kamu akan dikembalikan, lalu Aku akan menghakimi di antaramu dalam apa yang kamu senantiasa berselisih mengenainya.”  (Aali ‘Imran [3]:56).

Penyebab  Nabi Yusuf  a.s.   Lama    Dalam Penjara

      Kembali kepada  masalah penjelasan Nabi Yusuf a.s.  mengenai takwil mimpi   dua rekan beliau  dalam penjara, firman-Nya:
یٰصَاحِبَیِ السِّجۡنِ اَمَّاۤ  اَحَدُ کُمَا فَیَسۡقِیۡ رَبَّہٗ خَمۡرًا ۚ وَ اَمَّا الۡاٰخَرُ فَیُصۡلَبُ فَتَاۡکُلُ الطَّیۡرُ مِنۡ رَّاۡسِہٖ ؕ قُضِیَ الۡاَمۡرُ  الَّذِیۡ  فِیۡہِ تَسۡتَفۡتِیٰنِ ﴿ؕ۴۲   
“Hai kedua kawanku sepenjara, ada pun seorang di antara kamu akan menuangkan minuman anggur kepada majikannya, dan ada pun mengenai yang lain ia akan disalibkan, lalu burung-burung akan memakan  kepalanya. Perkara yang   kamu ber-dua menanyakan pendapatku mengenainya telah diputuskan. (Yusuf [12]:42).
      Hal yang menarik untuk dibahas adalah ucapan nabi Yusuf a.s. selanjutnya, firman-Nya:
وَ قَالَ لِلَّذِیۡ ظَنَّ اَنَّہٗ نَاجٍ مِّنۡہُمَا اذۡکُرۡنِیۡ عِنۡدَ رَبِّکَ ۫ فَاَنۡسٰہُ الشَّیۡطٰنُ ذِکۡرَ رَبِّہٖ فَلَبِثَ فِی السِّجۡنِ بِضۡعَ سِنِیۡنَ ﴿ؕ٪۴۳
Dan dia berkata kepada orang yang diduga  (diyakini) akan dibebaskan dari antara kedua orang itu:  “Ceriterakanlah mengenai diriku kepada majikan engkau.” Tetapi syaitan menyebabkannya lupa menceritakannya kepada majikannya maka   dia (Yusuf) tinggal dalam penjara beberapa tahun lamanya.  (Yusuf [12]:42-43). 
  Bidh menyatakan bermacam-macam bilangan, tetapi pada umumnya dianggap berarti bilangan dari tiga sampai sembilan (Lexicon Lane).
  Walaupun Allah Swt. menyatakan bahwa setan itulah yang menyebabkan  orang yang dibebaskan dari penjara itu   lupa menyampaikan pesan Nabi Yusuf a.s.  kepada raja Mesir, tetapi hal itu tetap tidak terlepas dari beberapa alasan berikut ini:
(1)  Dibebaskannya orang tersebut dari mengalami hukuman salib seperti yang dialami oleh rekannya, sebenarnya bukan suatu peristiwa yang mudah dilupakan  begitu saja oleh yang bersangkutan untuk segera menyampaikan pesan Nabi Yusuf a.s.,  tetapi adanya rasa tidak senang terhadap dakwah Nabi Yusuf a.s.  mengenai kemusyrikan yang menjadi kepercayaan masyarakat Mesir itulah yang membuatnya menunda-nunda  untuk menyampaikan   Nabi Yusuf a.s kepada  majikannya, yakni raja Mesir. Artinya bahwa dalam peristiwa ini pun adalah semacam  makar buruk terhadap Nabi Yusuf a.s. dari orang tersebut.
(2)  Walau pun pesan Nabi Yusuf a.s. kepada orang tersebut sesuatu yang sangat wajar – karena beliau memang tidak  bersalah dalam kasus yang dialaminya dengan istri Potifar –  tetapi sebagai seorang suci (nabi Allah)  maka pesan Nabi Yusuf a.s. tersebut menjadi “kurang bijaksana” beliau lakukan. Dan ini pulalah perbedaan lainnya antara Nabi Yusuf a.s. dengan Nabi Besar Muhammad saw. yang sepenuhnya benar-benar “berserah diri” kepada kehendak (keputusan) Allah Swt., bahkan melebihi Nabi Ibrahim a.s. (QS.2:125; QS.6:163-164).

Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid

Tidak ada komentar:

Posting Komentar