بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
HUBUNGAN NABI YUSUF A.S.
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
Bagian X
Tentang
Nabi Besar Muhammad saw. &
Kabar Gembira dalam Surah Al-Kautsar
Kabar Gembira dalam Surah Al-Kautsar
Oleh
Ki Langlang
Buana Kusuma
اِنَّاۤ
اَوۡحَیۡنَاۤ اِلَیۡکَ کَمَاۤ اَوۡحَیۡنَاۤ اِلٰی نُوۡحٍ وَّ النَّبِیّٖنَ مِنۡۢ
بَعۡدِہٖ ۚ وَ اَوۡحَیۡنَاۤ اِلٰۤی اِبۡرٰہِیۡمَ وَ اِسۡمٰعِیۡلَ وَ اِسۡحٰقَ وَ
یَعۡقُوۡبَ وَ الۡاَسۡبَاطِ وَ عِیۡسٰی وَ اَیُّوۡبَ وَ یُوۡنُسَ وَ ہٰرُوۡنَ وَ
سُلَیۡمٰنَ ۚ وَ اٰتَیۡنَا دَاوٗدَ
زَبُوۡرًا ﴿۱۶۴﴾ۚ وَ رُسُلًا قَدۡ قَصَصۡنٰہُمۡ عَلَیۡکَ مِنۡ قَبۡلُ وَ
رُسُلًا لَّمۡ نَقۡصُصۡہُمۡ عَلَیۡکَ ؕ وَ کَلَّمَ اللّٰہُ مُوۡسٰی تَکۡلِیۡمًا ﴿۱۶۵﴾ۚ
Sesungguhnya Kami telah mewahyukan kepada engkau
sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi yang sesudahnya; dan
telah Kami wahyukan pula kepada Ibrahim,
Isma'il dan Ishaq, Ya’qub dan keturunan-nya, dan juga kepada Isa, Ayyub, Yunus, Harun, Su-laiman, dan telah bKami
berikan Zabur kepada
Daud. Dan ada rasul-rasul yang
sungguh telah Kami beritahukan kepada engkau sebelum ini, dan ada rasul-rasul
yang tidak Kami beritahukan kepada engkau, dan Allah telah
berca-kap-cakap secara langsung dengan
Musa. (Al-Nisaa [4]:164-165).
Dalam
salah satu Bab sebelum ini telah dikemukakan bahwa hubungan Nabi Besar Muhammad
saw. dengan para Rasul Allah yang diutus sebelumnya adalah seperti sebuah lautan
yang ke dalamnya semua sungai bermuara. Ada pun yang dimaksud dengan lautan tersebut adalah Nabi Besar
Muhammad saw. dan Al-Quran, sedangkan gambaran sungai-sungai
adalah para Rasul Allah serta
Kitab-kitab suci yang diutus dan diturunkan
sebelumnya.
Ketiadataraan
Khazanah-khazanah Al-Quran
Mengisyaratkan kepada kenyataan itu
pulalah firman Allah Swt. berikut ini mengenai ketiadataraan khazanah-khazanah ruhani yang terkandung dalam Al-Quran:
وَ
لَوۡ اَنَّ مَا فِی الۡاَرۡضِ مِنۡ شَجَرَۃٍ
اَقۡلَامٌ وَّ الۡبَحۡرُ
یَمُدُّہٗ مِنۡۢ بَعۡدِہٖ
سَبۡعَۃُ اَبۡحُرٍ مَّا نَفِدَتۡ
کَلِمٰتُ اللّٰہِ ؕ اِنَّ
اللّٰہَ عَزِیۡزٌ حَکِیۡمٌ ﴿۲۸﴾
Katakanlah:
"Seandainya lautan menjadi tinta untuk menuliskan
kalimat-kalimat Tuhan-ku, niscaya lautan
itu akan habis sebelum kalimat-kalimat Tuhan-ku habis dituliskan,
sekalipun Kami datangkan sebanyak itu lagi sebagai tambahannya (Luqman
[31]:28).
Bangsa-bangsa Kristen dari barat
membanggakan diri atas penemuan-penemuan dan hasil-hasil mereka yang besar
dalam ilmu pengetahuan, dan nampaknya mereka dikuasai anggapan keliru bahwa mereka telah berhasil mengetahui
seluk-beluk rahasia-rahasia takhliq (penciptaan) itu sendiri.
Hal itu hanya pembualan yang sia-sia belaka.
Rahasia-rahasia Tuhan tidak ada habisnya dan tidak dapat diselami sehingga apa
yang telah mereka temukan sampai sekarang, dan apa yang nanti akan ditemukan
dengan segala susah payah, jika dibandingkan dengan rahasia-rahasia Allah
belumlah merupakan setitik pun air dalam samudera. Demikian juga halnya dengan khazanah-khazanah
ruhani Al-Quran, firman-Nya lagi:
قُلۡ لَّوۡ کَانَ
الۡبَحۡرُ مِدَادًا لِّکَلِمٰتِ رَبِّیۡ لَنَفِدَ
الۡبَحۡرُ قَبۡلَ اَنۡ تَنۡفَدَ کَلِمٰتُ رَبِّیۡ وَ لَوۡ جِئۡنَا بِمِثۡلِہٖ مَدَدًا ﴿۱۱۰﴾
Dan seandainya pohon-pohon di bumi ini menjadi pena dan laut ditambahkan kepadanya sesudahnya tujuh laut menjadi tinta,
kalimat Allah sekali-kali
tidak akan habis. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (Al-Kahf
[18]:110).
Bilangan
7 dan 70 digunakan dalam bahasa Arab adalah menyatakan
jumlah besar, dan bukan benar-benar “tujuh” dan “tujuh puluh” sebagai
angka-angka bilangan lazim.
Lautan
dan sungai-sungai sama-sama berisi air, tetapi keduanya tidak memiliki air yang sama
banyaknya. Demikian juga Nabi Besar Muhammad saw. seperti juga semua rasul
Allah lainnya sama-sama menerima wahyu
Ilahi, akan tetapi kuantitas dan kualitas wahyu Al-Quran yang
diterima oleh Nabi Besar Muhammad saw. tidak dapat dibandingkan kesempurnaannya
dengan wahyu-wahyu syariat yang diterima oleh para Rasul Allah
lainnya, firman-Nya:
اِنَّاۤ
اَوۡحَیۡنَاۤ اِلَیۡکَ کَمَاۤ اَوۡحَیۡنَاۤ اِلٰی نُوۡحٍ وَّ النَّبِیّٖنَ مِنۡۢ
بَعۡدِہٖ ۚ وَ اَوۡحَیۡنَاۤ اِلٰۤی اِبۡرٰہِیۡمَ وَ اِسۡمٰعِیۡلَ وَ اِسۡحٰقَ وَ
یَعۡقُوۡبَ وَ الۡاَسۡبَاطِ وَ عِیۡسٰی وَ اَیُّوۡبَ وَ یُوۡنُسَ وَ ہٰرُوۡنَ وَ
سُلَیۡمٰنَ ۚ وَ اٰتَیۡنَا دَاوٗدَ
زَبُوۡرًا ﴿۱۶۴﴾ۚ وَ رُسُلًا قَدۡ قَصَصۡنٰہُمۡ عَلَیۡکَ مِنۡ قَبۡلُ وَ
رُسُلًا لَّمۡ نَقۡصُصۡہُمۡ عَلَیۡکَ ؕ وَ کَلَّمَ اللّٰہُ مُوۡسٰی تَکۡلِیۡمًا ﴿۱۶۵﴾ۚ
Sesungguhnya Kami telah mewahyukan kepada
engkau sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi
yang sesudahnya; dan telah Kami wahyukan pula kepada
Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya’-qub dan
keturunannya, dan juga kepada Isa, Ayyub, Yunus, Harun, Sulaiman, dan telah Kami berikan Zabur kepada Daud. Dan ada rasul-rasul yang sungguh telah
Kami beritahukan kepada engkau sebelum ini, dan ada rasul-rasul
yang tidak Kami beritahukan kepada engkau, dan Allah telah
bercakap-cakap secara langsung dengan
Musa. (Al-Nisaa [4]:164-165).
Beberapa
nabi telah disebutkan dalam ayat ini dan ayat berikutnya untuk menerangkan
bahwa risalat (missi) Nabi Muhammad saw.
bukan suatu hal baru. Zabur yakni Kitab Hikmah yang diberikan
kepada Nabi Daud a.s. secara
khusus disebut dalam ayat ini, dan mengenai wahyu syariat yang
dianugerahkan kepada Nabi Musa a.s. dalam ayat berikutnya dimaksudkan bahwa Al-Quran
menggabungkan di dalamnya "hukum" dan "hikmah."
Al-Quran hanya menyebut nama 25 nabi, sedangkan
menurut hadits Nabi Besar Muhammad saw. ada 124.000 nabi yang telah diutus ke
dunia (Musnad Ahmad bin Hanbal, jld. V, hlm 266). Di tempat lain
Al-Quran berkata: "Dan tidak ada sesuatu umat melainkan telah diutus
kepada mereka seorang pemberi peringatan" (QS.35:25).
Ada
pun salah satu hikmah penyebutan hanya 25 orang Rasul Allah saja di
dalam Al-Quran, karena berbagai
kekhususan yang dimiliki oleh para Rasul Allah tersebut telah juga diserap dan
diperagakan dalam kualitas dan kualitasnya yang paling sempurna oleh Nabi Besar
Muhammad saw., firman-Nya:
اَلۡیَوۡمَ
اَکۡمَلۡتُ لَکُمۡ دِیۡنَکُمۡ وَ اَتۡمَمۡتُ عَلَیۡکُمۡ نِعۡمَتِیۡ وَ رَضِیۡتُ
لَکُمُ الۡاِسۡلَامَ دِیۡنًا
Hari ini telah Kusempurnakan agamamu bagimu,
telah Kulengkapkan nikmat-Ku atasmu, dan telah Kusukai Islam sebagai agama bagimu. (Al-Maaidah [5]4).
Oleh
karena itu sejak Nabi Besar Muhammad saw. diutus membawa syariat terakhir dan
tersempurna, yakni agama Islam dan Kitab Suci Al-Quran, maka tidak ada
kewajiban lagi bagi para pengikut agama di luar agama Islam untuk melaksanakan ajaran agama-agama yang dibawa oleh para rasul Allah
sebelumnya, karena semuanya telah tercakup dalam agama Islam (Al-Quran)
dalam kuantitas serta kualitasnya yang paling sempurna. Mengisyaratkan kepada
kenyataan itulah makna firman Allah Swt. berikut ini:
وَ مَنۡ یَّبۡتَغِ غَیۡرَ الۡاِسۡلَامِ دِیۡنًا فَلَنۡ یُّقۡبَلَ
مِنۡہُ ۚ وَ ہُوَ فِی الۡاٰخِرَۃِ مِنَ الۡخٰسِرِیۡنَ ﴿۸۶﴾
Dan barangsiapa mencari agama yang
bukan agama Islam, maka agama itu tidak akan pernah diterima
darinya, dan di akhirat ia termasuk orang-orang yang rugi. (Ali
‘Imraan [3]:86).
Mereka wajib
beriman kepada Nabi Besar Muhammad saw. dan melaksanakan ajaran Islam
(Al-Quran) sebagaimana yang diajarkan dan diamalkan (disunnahkan)
oleh Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:
قُلۡ اِنۡ کُنۡتُمۡ
تُحِبُّوۡنَ اللّٰہَ فَاتَّبِعُوۡنِیۡ یُحۡبِبۡکُمُ اللّٰہُ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ
ذُنُوۡبَکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ غَفُوۡرٌ
رَّحِیۡمٌ ﴿۳۲﴾
Katakanlah:”Jika kamu benar-benar mencintai Allah maka ikutilah
aku, Allah pun akan mencintaimu dan akan
mengampuni dosa-dosamu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Aali
‘Imran [3]:32).
Buah dari kecintaan
dan ketaatan kepada Allah Swt. dan Nabi Besar Muhammad saw. tersebut
maka Allah Swt. akan berkenan mengaruniakan nikmat-nikmat keruhanian
yang telah disediakan bagi mereka, karena sebagaimana halnya kertas yang
menempelkan dirinya pada stempel maka
pada kertas tersebut akan terdapat gambar cap stempel tersebut.
Demikian pula orang-orang
yang secara ruhani menempelkan
pribadinya pada Khaataman-Nabiyyiin
Nabi Besar Muhammad saw. (QS.33:41) maka di dalam pribadinya akan membayang (tercermin) gambar cap stempel Khaataman-Nabiyyiin beliau saw.,
yang secara umum ada 4 macam nikmat,
yakni: nabiyyiin (nabi-nabi), shiddiqiin (shiddiq-shiddiq), syuhada
(saksi-saksi), dan shaalihiin (orang-orang shalih), firman-Nya:
وَ
مَنۡ یُّطِعِ اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ فَاُولٰٓئِکَ مَعَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ
اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ
الصّٰلِحِیۡنَ ۚ وَ حَسُنَ اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا ﴿ؕ۷۰﴾ ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ
وَ کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا ﴿٪۷۱﴾
Dan barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul ini maka mereka
akan termasuk di antara orang-orang yang Allah memberi nikmat kepada
mereka yakni: nabi-nabi, shiddiq-shiddiq, syahid-syahid, dan orang-orang
shalih, dan mereka itulah
sahabat yang sejati. Itulah karunia dari Allah, dan cukuplah Allah Yang Maha Mengetahui. (Al-Nisaa
[4]:70-71).
Kenabian Ummati & Kautsar (Kebaikan yang Berlimpah-impah)
Dan sebagaimana telah dijelaskan dalam salah satu Bab sebelumnya ini bahwa jenis kenabian yang terjadi akibat fana firrasuul tersebut disebut kenabian ummati atau buruuzi atau dzilli (bayangan), kenabian jenis ini sama sekali tidak menggugurkan kenabian syariati Nabi Besar Muhammad saw., bahkan sebaliknya sebagai bukti kebenaran sempurnanya ajaran agama Islam (Al-Quran) dan kesempurnaan martabat ruhani Nabi Besar Muhammad saw. sebagai “ayah ruhani” yang hakiki (QS.33:7) yang bergelar Khaataman-Nabiyyiin (QS.33:41) serta menolak tuduhan abtar (yang terputus keturunannya) sebagaimana yang dilontarkan oleh para pemimpin kaum kafir Quraisy ketika semua putera laki-laki beliau saw. meninggal dunia di masa kanak-kanak, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ
الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿۱﴾ اِنَّاۤ
اَعۡطَیۡنٰکَ الۡکَوۡثَرَ ؕ﴿۲﴾ فَصَلِّ لِرَبِّکَ وَ انۡحَرۡ ؕ﴿۳﴾ اِنَّ شَانِئَکَ ہُوَ
الۡاَبۡتَرُ ٪﴿۵﴾
Aku baca dengan
nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Sesungguhnya Kami telah menganugerahkan kepada engkau berlimpah-limpah
kebaikan. Maka shalatlah bagi Tuhan eng-kau dan. Sesungguhnya musuh engkau, dialah yang tanpa keturunan (Al-Kautsar
[108]:1-5).
(Bersambung)
Kautsar antara
lain berarti berlimpah-limpah kebaikan. Kautsar berarti pula orang yang mempunyai banyak kebaikan dan
orang yang banyak dan sering memberi (Al-Mufradat Imam Raghib dan
Tafsir Ibnu Jarir). Surah ini mengemukakan Nabi
Besar Muhammad saw. sebagai pribadi yang telah dianugerahi Allah Swt. kautsar yakni kebaikan
berlimpah-limpah.
Surah ini diturunkan kepada Nabi
Besar Muhammad saw. pada saat ketika beliau saw. tidak memiliki apapun dan tidak punya
sesuatu untuk diberikan. Ketika itu beliau sangat miskin dan pengakuan beliau
sebagai nabi dipandang dengan hina dan sebagai sesuatu yang tidak perlu
mendapat perhatian sungguh-sungguh.
Bertahun-tahun lamanya sesudah Surah
ini turun, Nabi Besar Muhammad saw. masih terus juga diperolok-olokkan dan
ditertawakan, dilawan serta ditindas, dan pada akhirnya beliau terpaksa
meninggalkan kota kelahiran beliau saw., Makkah, sebagai seorang pelarian, dan
telah dijanjikan hadiah bagi siapa yang berhasil menangkap beliau dalam keadaan
hidup atau mati.
Selama beberapa tahun di Medinah pun
jiwa Nabi Besar Muhammad saw. dalam keadaan bahaya dan musuh dengan tidak sabar
menanti-nanti peluang untuk menyaksikan kesudahan Islam yang tragis
(menyedihkan) dan cepat datangnya, yang menurut ukuran otak manusia memang
bakal demikian terjadinya. Kemudian menjelang akhir hayat beliau saw. kebaikan
berlimpah-limpah dalam segala corak dan bentuk turun kepada beliau saw. bagaikan air hujan, dan janji yang
terkandung dalam Surah Al-Kautsar ini telah menjadi sempurna secara harfiah.
“Pelarian” dari kota Makkah itu
telah menjadi orang yang menentukan nasib seluruh negeri Arab, dan sang putra
padang pasir yang tidak dapat membaca dan menulis itu terbukti menjadi Guru
Abadi seluruh umat manusia. Allah Swt. telah memberi beliau saw. sebuah Kitab
yang merupakan petunjuk yang tidak mungkin gagal, untuk seluruh umat manusia
dan untuk sepanjang masa; dan dengan meresapkan sifat-sifat Tuhan ke
dalam diri beliau saw., Nabi Besar Muhammad saw. telah mencapai martabat
tertinggi, yakni kedekatan kepada Khaliq-nya, yang mungkin dapat dicapai
oleh seorang manusia.
Nabi Besar Muhammad saw. dikaruniai
sahabat-sahabat yang kesetiakawanan serta pengabdiannya tidak pernah ada tara
bandingannya; dan ketika panggilan Al-Khaliq datang kepada beliau saw. agar
meninggalkan dunia yang fana ini, beliau merasa puas telah melaksanakan tugas
suci yang diserahkan kepada beliau dengan sepenuhnya dan
sesempurna-sempurnanya. Pendek kata, segala macam kebaikan, baik bersifat
kebendaan maupun moral, telah dilimpahkan kepada Nabi Besar Muhammad saw. dalam ukuran yang penuh. Oleh sebab itu
beliaulah yang paling pantas disebut “Nabi paling berhasil dari antara
sekalian nabi” (Encyclopaedia Britannica).
Adalah sangat bermakna bahwa dalam ayat 5
Surah ini musuh-musuh Nabi Besar Muhammad saw. telah disebut dengan kata-kata tegas
bahwa mereka itu abtar (tidak mempunyai anak laki-laki),
sedangkan menurut kenyataan sejarah sendiri, semua putra beliau saw. -- baik yang dilahirkan sebelum maupun sesudah
ayat ini turun -- telah wafat dan beliau saw. tidak meninggalkan seorang
pun putra. Hal itu menunjukkan bahwa kata abtar di sini hanya
berarti: “orang yang tidak mempunyai keturunan ruhani (putra-putra
ruhani) dan bukan putra-putra seperti biasa dikatakan orang.”
Pada hakikatnya, hal ini merupakan
rencana Allah Sendiri bahwa Nabi Besar Muhammad saw. tidak akan meninggalkan anak
laki-laki seorang pun, oleh karena beliau saw. telah ditakdirkan menjadi ayah
ruhani (QS.33:7) berjuta-juta putra ruhani, sepanjang masa sampai
akhir zaman – putra-putra yang akan jauh lebih setia, patuh taat dan penuh
cinta daripada putra-putra jasmani ayah mana pun.
Jadi, bukan Nabi Besar Muhammad saw.
melainkan musuh-musuh beliau
saw. itulah yang mati tanpa berketurunan (abtar), sebab dengan masuknya anak-anak
mereka ke dalam pangkuan Islam mereka itu telah menjadi putra-putra
ruhani Nabi Besar Muhammad saw. – salah satunya adalah Ikrimah bin Abu
Jahal -- dan mereka itu merasa
malu dan merasa hina, bila asal-usul mereka itu dikaitkan kepada ayah
yang melahirkan mereka sendiri.
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam
Farid
Tidak ada komentar:
Posting Komentar