Senin, 02 Januari 2012

Nabi Besar Muhammad Saw. & Kabar Gembira dalam Surah Al-Kautsar


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ




HUBUNGAN  NABI YUSUF A.S. 
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
  
Bagian   X

Tentang

    Nabi Besar Muhammad saw. &  
Kabar Gembira dalam Surah Al-Kautsar   

 
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma

اِنَّاۤ اَوۡحَیۡنَاۤ اِلَیۡکَ کَمَاۤ اَوۡحَیۡنَاۤ اِلٰی نُوۡحٍ وَّ النَّبِیّٖنَ مِنۡۢ بَعۡدِہٖ ۚ وَ اَوۡحَیۡنَاۤ اِلٰۤی اِبۡرٰہِیۡمَ وَ اِسۡمٰعِیۡلَ وَ اِسۡحٰقَ وَ یَعۡقُوۡبَ وَ الۡاَسۡبَاطِ وَ عِیۡسٰی وَ اَیُّوۡبَ وَ یُوۡنُسَ وَ ہٰرُوۡنَ وَ سُلَیۡمٰنَ ۚ وَ اٰتَیۡنَا دَاوٗدَ  زَبُوۡرًا ﴿۱۶۴﴾ۚ  وَ رُسُلًا قَدۡ قَصَصۡنٰہُمۡ عَلَیۡکَ مِنۡ قَبۡلُ وَ رُسُلًا لَّمۡ نَقۡصُصۡہُمۡ عَلَیۡکَ ؕ وَ کَلَّمَ اللّٰہُ مُوۡسٰی تَکۡلِیۡمًا ﴿۱۶۵﴾ۚ
Sesungguhnya  Kami telah mewahyukan kepada engkau sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi yang sesudahnya; dan telah Kami wahyukan pula kepada Ibrahim,  Isma'il dan Ishaq, Ya’qub dan keturunan-nya, dan  juga kepada Isa, Ayyub, Yunus,  Harun, Su-laiman, dan telah bKami berikan Zabur  kepada Daud.    Dan ada rasul-rasul yang sungguh telah Kami beritahukan kepada engkau sebelum ini, dan ada rasul-rasul yang tidak Kami beritahukan kepada engkau, dan Allah telah berca-kap-cakap secara langsung dengan  Musa. (Al-Nisaa [4]:164-165).   

Dalam salah satu Bab sebelum ini telah dikemukakan bahwa hubungan Nabi Besar Muhammad saw. dengan para Rasul Allah yang diutus sebelumnya adalah seperti sebuah lautan yang ke dalamnya semua sungai bermuara. Ada pun yang dimaksud dengan  lautan tersebut adalah Nabi Besar Muhammad saw. dan Al-Quran, sedangkan gambaran sungai-sungai adalah para Rasul Allah  serta Kitab-kitab suci yang diutus dan diturunkan  sebelumnya.

Ketiadataraan Khazanah-khazanah Al-Quran

      Mengisyaratkan kepada kenyataan itu pulalah firman Allah Swt. berikut ini mengenai ketiadataraan khazanah-khazanah  ruhani yang terkandung dalam Al-Quran:
وَ لَوۡ اَنَّ مَا فِی الۡاَرۡضِ مِنۡ شَجَرَۃٍ  اَقۡلَامٌ  وَّ  الۡبَحۡرُ  یَمُدُّہٗ  مِنۡۢ بَعۡدِہٖ سَبۡعَۃُ  اَبۡحُرٍ  مَّا نَفِدَتۡ  کَلِمٰتُ اللّٰہِ ؕ اِنَّ  اللّٰہَ  عَزِیۡزٌ  حَکِیۡمٌ ﴿۲۸

Katakanlah: "Seandainya lautan menjadi tinta untuk me­nuliskan kalimat-kalimat Tuhan-ku, niscaya  lautan itu akan habis se­belum kalimat-kalimat Tuhan-ku habis dituliskan, sekalipun Kami datangkan sebanyak itu lagi sebagai tambahannya (Luqman [31]:28).
 Bangsa-bangsa Kristen dari barat membanggakan diri atas penemuan­-penemuan dan hasil-hasil mereka yang besar dalam ilmu pengetahuan, dan nampaknya mereka dikuasai anggapan keliru  bahwa mereka telah berhasil mengetahui seluk-beluk rahasia-rahasia takhliq (penciptaan) itu sendiri.
Hal itu hanya pembualan yang sia-sia belaka. Rahasia-rahasia Tuhan tidak ada habisnya dan tidak dapat diselami sehingga apa yang telah mereka temukan sampai sekarang, dan apa yang nanti akan ditemukan dengan segala susah payah, jika dibandingkan dengan rahasia-rahasia Allah belumlah merupakan setitik pun air dalam samudera. Demikian juga halnya dengan khazanah-khazanah ruhani Al-Quran, firman-Nya lagi:
  قُلۡ لَّوۡ کَانَ الۡبَحۡرُ مِدَادًا لِّکَلِمٰتِ رَبِّیۡ لَنَفِدَ الۡبَحۡرُ  قَبۡلَ اَنۡ تَنۡفَدَ کَلِمٰتُ رَبِّیۡ وَ لَوۡ  جِئۡنَا بِمِثۡلِہٖ  مَدَدًا ﴿۱۱۰
Dan  seandainya pohon-pohon  di bumi ini menjadi pena dan laut    ditambahkan kepadanya  sesudahnya tujuh laut menjadi tinta,  kalimat Allah sekali-kali tidak akan habis. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (Al-Kahf [18]:110).
Bilangan  7  dan  70  digunakan dalam bahasa Arab adalah menyatakan jumlah besar, dan bukan benar-benar “tujuh” dan “tujuh puluh” sebagai angka-angka bilangan lazim. 
Lautan dan sungai-sungai sama-sama berisi air, tetapi   keduanya tidak memiliki air yang sama banyaknya. Demikian juga Nabi Besar Muhammad saw. seperti juga semua rasul Allah  lainnya sama-sama menerima wahyu Ilahi, akan tetapi kuantitas dan kualitas wahyu Al-Quran yang diterima oleh Nabi Besar Muhammad saw. tidak dapat dibandingkan kesempurnaannya dengan wahyu-wahyu syariat yang diterima oleh para Rasul Allah lainnya, firman-Nya: 
اِنَّاۤ اَوۡحَیۡنَاۤ اِلَیۡکَ کَمَاۤ اَوۡحَیۡنَاۤ اِلٰی نُوۡحٍ وَّ النَّبِیّٖنَ مِنۡۢ بَعۡدِہٖ ۚ وَ اَوۡحَیۡنَاۤ اِلٰۤی اِبۡرٰہِیۡمَ وَ اِسۡمٰعِیۡلَ وَ اِسۡحٰقَ وَ یَعۡقُوۡبَ وَ الۡاَسۡبَاطِ وَ عِیۡسٰی وَ اَیُّوۡبَ وَ یُوۡنُسَ وَ ہٰرُوۡنَ وَ سُلَیۡمٰنَ ۚ وَ اٰتَیۡنَا دَاوٗدَ  زَبُوۡرًا ﴿۱۶۴﴾ۚ  وَ رُسُلًا قَدۡ قَصَصۡنٰہُمۡ عَلَیۡکَ مِنۡ قَبۡلُ وَ رُسُلًا لَّمۡ نَقۡصُصۡہُمۡ عَلَیۡکَ ؕ وَ کَلَّمَ اللّٰہُ مُوۡسٰی تَکۡلِیۡمًا ﴿۱۶۵﴾ۚ
Sesungguhnya  Kami telah mewahyukan kepada engkau sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi yang sesudahnya; dan telah Kami wahyukan pula kepada Ibrahim,  Isma'il, Ishaq, Ya’-qub dan keturunannya, dan  juga kepada Isa, Ayyub, Yunus,  Harun, Sulaiman, dan telah  Kami berikan Zabur  kepada Daud.    Dan ada  rasul-rasul yang sungguh telah Kami beritahukan kepada engkau sebelum ini, dan ada rasul-rasul yang tidak Kami beritahukan kepada engkau, dan Allah telah bercakap-cakap secara langsung dengan  Musa. (Al-Nisaa [4]:164-165).
   Beberapa nabi telah disebutkan dalam ayat ini dan ayat berikutnya untuk menerangkan bahwa risalat (missi) Nabi Muhammad  saw. bukan suatu hal baru. Zabur yakni Kitab Hikmah yang diberikan kepada Nabi Daud a.s.  secara khusus disebut dalam ayat ini, dan mengenai wahyu syariat yang dianugerahkan kepada Nabi Musa a.s.  dalam ayat berikutnya dimaksudkan bahwa Al-Quran menggabungkan di dalamnya "hukum" dan "hikmah."
 Al-Quran hanya menyebut nama 25 nabi, sedangkan menurut hadits Nabi Besar Muhammad saw.  ada 124.000 nabi yang telah diutus ke dunia (Musnad Ahmad bin Hanbal, jld. V, hlm 266). Di tempat lain Al-Quran berkata: "Dan tidak ada sesuatu umat melainkan telah diutus kepada mereka seorang pemberi peringatan" (QS.35:25).
   Ada pun salah satu hikmah penyebutan hanya 25 orang Rasul Allah saja di dalam Al-Quran, karena  berbagai kekhususan yang dimiliki oleh para Rasul Allah tersebut telah juga diserap dan diperagakan dalam kualitas dan kualitasnya yang paling sempurna oleh Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:
 اَلۡیَوۡمَ اَکۡمَلۡتُ لَکُمۡ دِیۡنَکُمۡ وَ اَتۡمَمۡتُ عَلَیۡکُمۡ نِعۡمَتِیۡ وَ رَضِیۡتُ لَکُمُ الۡاِسۡلَامَ دِیۡنًا
Hari ini telah Kusempurnakan agamamu bagimu, telah Kulengkapkan nikmat-Ku atasmu, dan  telah Kusukai  Islam sebagai agama bagimu.  (Al-Maaidah [5]4).
 Oleh karena itu sejak Nabi Besar Muhammad saw. diutus membawa syariat terakhir dan tersempurna, yakni agama Islam dan Kitab Suci Al-Quran, maka tidak ada kewajiban lagi bagi para pengikut agama di luar agama Islam untuk  melaksanakan ajaran agama-agama  yang dibawa oleh para rasul Allah sebelumnya, karena semuanya telah tercakup dalam agama Islam (Al-Quran) dalam kuantitas serta kualitasnya yang paling sempurna. Mengisyaratkan kepada kenyataan itulah makna firman Allah Swt. berikut ini:
وَ مَنۡ یَّبۡتَغِ غَیۡرَ الۡاِسۡلَامِ دِیۡنًا فَلَنۡ یُّقۡبَلَ مِنۡہُ ۚ وَ ہُوَ فِی الۡاٰخِرَۃِ مِنَ الۡخٰسِرِیۡنَ ﴿۸۶
Dan   barangsiapa mencari agama yang bukan agama Islam, maka  agama itu tidak akan pernah diterima darinya, dan di akhirat ia termasuk orang-orang yang rugi. (Ali ‘Imraan [3]:86).
       Mereka wajib beriman kepada Nabi Besar Muhammad saw. dan melaksanakan ajaran Islam (Al-Quran) sebagaimana yang diajarkan dan diamalkan (disunnahkan) oleh Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:
قُلۡ  اِنۡ کُنۡتُمۡ تُحِبُّوۡنَ اللّٰہَ فَاتَّبِعُوۡنِیۡ یُحۡبِبۡکُمُ اللّٰہُ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ ذُنُوۡبَکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ ﴿۳۲
Katakanlah:”Jika kamu benar-benar mencintai Allah maka ikutilah  aku,  Allah pun akan mencintaimu dan akan mengampuni dosa-dosamu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Aali ‘Imran [3]:32).
      Buah dari kecintaan dan ketaatan kepada Allah Swt. dan Nabi Besar Muhammad saw. tersebut maka Allah Swt. akan berkenan mengaruniakan nikmat-nikmat keruhanian yang telah disediakan bagi mereka, karena sebagaimana halnya kertas yang menempelkan dirinya pada stempel  maka pada kertas tersebut akan terdapat gambar cap stempel tersebut.
      Demikian pula orang-orang yang secara ruhani menempelkan  pribadinya  pada Khaataman-Nabiyyiin Nabi Besar Muhammad saw. (QS.33:41) maka di dalam pribadinya akan  membayang (tercermin) gambar  cap stempel  Khaataman-Nabiyyiin beliau saw., yang secara umum  ada 4 macam nikmat, yakni: nabiyyiin (nabi-nabi), shiddiqiin (shiddiq-shiddiq), syuhada (saksi-saksi), dan shaalihiin (orang-orang shalih),  firman-Nya:
وَ مَنۡ یُّطِعِ اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ فَاُولٰٓئِکَ مَعَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ ۚ وَ حَسُنَ اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا ﴿ؕ۷۰  ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا ﴿٪۷۱
Dan barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul ini maka mereka akan termasuk di antara orang-orang  yang Allah memberi nikmat kepada mereka yakni: nabi-nabi, shiddiq-shiddiq, syahid-syahid, dan orang-orang shalih, dan mereka  itulah sahabat yang sejati.  Itulah karunia dari Allah,  dan cukuplah Allah Yang Maha Mengetahui. (Al-Nisaa [4]:70-71).

Kenabian Ummati &  Kautsar (Kebaikan yang Berlimpah-impah)

     Dan sebagaimana telah dijelaskan dalam salah satu Bab sebelumnya ini bahwa jenis kenabian yang terjadi akibat  fana firrasuul tersebut disebut kenabian ummati atau buruuzi atau dzilli (bayangan), kenabian jenis ini sama sekali tidak menggugurkan kenabian syariati Nabi Besar Muhammad saw., bahkan sebaliknya sebagai  bukti kebenaran sempurnanya ajaran agama Islam (Al-Quran) dan kesempurnaan martabat ruhani Nabi Besar Muhammad saw. sebagai “ayah ruhani” yang hakiki (QS.33:7)  yang bergelar Khaataman-Nabiyyiin (QS.33:41) serta menolak tuduhan abtar  (yang terputus keturunannya) sebagaimana yang dilontarkan oleh para pemimpin kaum kafir Quraisy ketika semua putera laki-laki beliau saw. meninggal dunia di masa kanak-kanak, firman-Nya:
 بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿۱  اِنَّاۤ  اَعۡطَیۡنٰکَ  الۡکَوۡثَرَ ؕ﴿۲   فَصَلِّ  لِرَبِّکَ وَ انۡحَرۡ ؕ﴿۳  اِنَّ شَانِئَکَ ہُوَ الۡاَبۡتَرُ ٪﴿۵
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Sesungguhnya Kami  telah  menganugerahkan kepada engkau berlimpah-limpah kebaikan.  Maka shalatlah  bagi Tuhan eng-kau dan.   Sesungguhnya musuh engkau, dialah yang  tanpa keturunan (Al-Kautsar [108]:1-5).
 Kautsar antara lain berarti berlimpah-limpah kebaikan. Kautsar berarti pula  orang yang mempunyai banyak kebaikan dan orang yang banyak dan sering memberi (Al-Mufradat Imam Raghib dan Tafsir Ibnu Jarir). Surah ini mengemukakan Nabi Besar Muhammad saw. sebagai pribadi yang telah dianugerahi Allah Swt.  kautsar yakni kebaikan berlimpah-limpah.
 Surah ini diturunkan kepada Nabi Besar Muhammad saw. pada saat ketika beliau saw. tidak memiliki apapun dan tidak punya sesuatu untuk diberikan. Ketika itu beliau sangat miskin dan pengakuan beliau sebagai nabi dipandang dengan hina dan sebagai sesuatu yang tidak perlu mendapat perhatian sungguh-sungguh.
Bertahun-tahun lamanya sesudah Surah ini turun, Nabi Besar Muhammad saw. masih terus juga diperolok-olokkan dan ditertawakan, dilawan serta ditindas, dan pada akhirnya beliau terpaksa meninggalkan kota kelahiran beliau saw., Makkah, sebagai seorang pelarian, dan telah dijanjikan hadiah bagi siapa yang berhasil menangkap beliau dalam keadaan hidup atau mati.
Selama beberapa tahun di Medinah pun jiwa Nabi Besar Muhammad saw. dalam keadaan bahaya dan musuh dengan tidak sabar menanti-nanti peluang untuk menyaksikan kesudahan Islam yang tragis (menyedihkan) dan cepat datangnya, yang menurut ukuran otak manusia memang bakal demikian terjadinya. Kemudian menjelang akhir hayat beliau saw. kebaikan berlimpah-limpah dalam segala corak dan bentuk turun kepada beliau  saw. bagaikan air hujan, dan janji yang terkandung dalam Surah Al-Kautsar ini  telah menjadi sempurna secara harfiah.
 “Pelarian” dari kota Makkah itu telah menjadi orang yang menentukan nasib seluruh negeri Arab, dan sang putra padang pasir yang tidak dapat membaca dan menulis itu terbukti menjadi Guru Abadi seluruh umat manusia. Allah Swt. telah memberi beliau saw. sebuah Kitab yang merupakan petunjuk yang tidak mungkin gagal, untuk seluruh umat manusia dan untuk sepanjang masa; dan dengan meresapkan sifat-sifat Tuhan ke dalam diri beliau saw., Nabi Besar Muhammad saw. telah mencapai martabat tertinggi, yakni kedekatan kepada Khaliq-nya, yang mungkin dapat dicapai oleh seorang manusia.
 Nabi Besar Muhammad saw. dikaruniai sahabat-sahabat yang kesetiakawanan serta pengabdiannya tidak pernah ada tara bandingannya; dan ketika panggilan Al-Khaliq datang kepada beliau saw. agar meninggalkan dunia yang fana ini, beliau merasa puas telah melaksanakan tugas suci yang diserahkan kepada beliau dengan sepenuhnya dan sesempurna-sempurnanya. Pendek kata, segala macam kebaikan, baik bersifat kebendaan maupun moral, telah dilimpahkan kepada Nabi Besar Muhammad saw.  dalam ukuran yang penuh. Oleh sebab itu beliaulah yang paling pantas disebut “Nabi paling berhasil dari antara sekalian nabi” (Encyclopaedia   Britannica).
Adalah sangat bermakna bahwa dalam ayat 5 Surah ini musuh-musuh Nabi Besar Muhammad saw.  telah disebut dengan kata-kata tegas bahwa mereka itu abtar (tidak mempunyai anak laki-laki), sedangkan menurut kenyataan sejarah sendiri, semua putra beliau saw. --  baik yang dilahirkan sebelum maupun sesudah ayat ini turun -- telah wafat dan beliau saw. tidak meninggalkan seorang pun putra. Hal itu menunjukkan bahwa kata abtar di sini hanya berarti: “orang yang tidak mempunyai keturunan ruhani (putra-putra ruhani) dan bukan putra-putra seperti biasa dikatakan orang.”
Pada hakikatnya, hal ini merupakan rencana Allah Sendiri bahwa Nabi Besar Muhammad saw.  tidak akan meninggalkan anak laki-laki seorang pun, oleh karena beliau saw. telah ditakdirkan menjadi ayah ruhani (QS.33:7) berjuta-juta putra ruhani, sepanjang masa sampai akhir zaman – putra-putra yang akan jauh lebih setia, patuh taat dan penuh cinta daripada putra-putra jasmani ayah mana pun.
Jadi, bukan Nabi Besar Muhammad saw.   melainkan musuh-musuh beliau saw. itulah yang mati tanpa berketurunan (abtar), sebab dengan masuknya anak-anak mereka ke dalam pangkuan Islam mereka itu telah menjadi putra-putra ruhani Nabi Besar Muhammad saw. – salah satunya adalah Ikrimah bin Abu Jahal  -- dan mereka itu merasa malu dan merasa hina, bila asal-usul mereka itu dikaitkan kepada ayah yang melahirkan mereka sendiri.

(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar