Minggu, 08 Januari 2012

Nabi Yusuf a.s. & Istri Potifar


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ




HUBUNGAN  NABI YUSUF A.S. 
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
  
Bagian   XVI

Tentang

     Nabi Yusuf a.s. & Istri Potifar 
      
 Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
 
وَ لَمَّا بَلَغَ اَشُدَّہٗۤ  اٰتَیۡنٰہُ حُکۡمًا وَّ عِلۡمًا ؕ وَ کَذٰلِکَ نَجۡزِی الۡمُحۡسِنِیۡنَ ﴿۲۳   وَ رَاوَدَتۡہُ الَّتِیۡ ہُوَ فِیۡ بَیۡتِہَا عَنۡ نَّفۡسِہٖ  وَ غَلَّقَتِ الۡاَبۡوَابَ وَ قَالَتۡ ہَیۡتَ لَکَ ؕ قَالَ مَعَاذَ اللّٰہِ  اِنَّہٗ  رَبِّیۡۤ  اَحۡسَنَ مَثۡوَایَ ؕ اِنَّہٗ  لَا یُفۡلِحُ الظّٰلِمُوۡنَ ﴿۲۴

Dan tatkala ia sampai kepada kedewasaannya Kami memberikan kepadanya  kebijaksanaan serta ilmu, dan demikianlah Kami memberi ganjaran kepada orang-orang yang berbuat ihsan. Dan perempuan yang di rumahnya ia tinggal, berusaha   menggodanya  untuk berbuat yang berlawanan dengan kehendaknya. Dan perempuan itu menutup semua pintu  dan berkata: “Aku telah siap untuk engkau.”  Ia (Yusuf)   berkata:  “Aku berlindung kepada Allah, sesungguhnya Dia-lah Tuhan-ku Yang telah memberiku tempat tinggal yang baik, sesungguhnya orang-orang zalim itu tidak akan berhasil.” (Yusuf [12]:23-24).

Dalam Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai  penjualan Nabi Yusuf a.s. dengan harga rendah kepada Potifar oleh rombongan kafilah yang menemukan beliau di dalam sumur,  firman-Nya:
وَ قَالَ الَّذِی اشۡتَرٰىہُ مِنۡ مِّصۡرَ لِامۡرَاَتِہٖۤ  اَکۡرِمِیۡ مَثۡوٰىہُ عَسٰۤی اَنۡ یَّنۡفَعَنَاۤ  اَوۡ نَتَّخِذَہٗ  وَلَدًا ؕ وَ کَذٰلِکَ مَکَّنَّا لِیُوۡسُفَ فِی الۡاَرۡضِ ۫ وَ لِنُعَلِّمَہٗ مِنۡ تَاۡوِیۡلِ الۡاَحَادِیۡثِ ؕ وَ اللّٰہُ غَالِبٌ عَلٰۤی اَمۡرِہٖ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَ النَّاسِ لَا  یَعۡلَمُوۡنَ ﴿۲۲
Dan orang dari Mesir yang membeli dia berkata kepada istrinya: “Berilah dia tempat tinggal yang terhormat. Boleh jadi dia akan bermanfaat bagi kita atau dia akan kita angkat sebagai anak.”  Dan demikianlah Kami memberi Yusuf kedudukan di negeri itu, dan supaya Kami mengajarkan kepadanya ta’bir mimpi-mimpi. Dan Allah berkuasa penuh atas keputusan-Nya  tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.  (Yusuf [12]:22).
      Orang Mesir yang telah membeli Nabi Yusuf a.s. dikenal dalam pustaka Yahudi dengan nama Potifar (Encyclopaedia  Biblica  & Kejadian 39:1). Ia adalah komandan barisan pengawal raja, seorang perwira yang tinggi pangkatnya di zaman dahulu. Ia tampak memiliki pandangan   positif  mengenai Nabi Yusuf a.s. dibandingkan sikap tidak peduli  kafilah yang menjual Nabi Yusuf a.s.  dengan harga rendah,  firman-Nya:
 وَ جَآءَتۡ سَیَّارَۃٌ  فَاَرۡسَلُوۡا وَارِدَہُمۡ فَاَدۡلٰی دَلۡوَہٗ ؕ قَالَ یٰبُشۡرٰی ہٰذَا غُلٰمٌ ؕ وَ اَسَرُّوۡہُ بِضَاعَۃً ؕ وَ اللّٰہُ عَلِیۡمٌۢ بِمَا یَعۡمَلُوۡنَ ﴿۱۹   وَ شَرَوۡہُ بِثَمَنٍۭ بَخۡسٍ دَرَاہِمَ مَعۡدُوۡدَۃٍ ۚ وَ کَانُوۡا  فِیۡہِ  مِنَ  الزَّاہِدِیۡنَ ﴿٪۲۰
Dan datang suatu kafilah, lalu mereka mengirim pengambil air mereka, lalu  ia menurunkan timbanya ke dalam sumur itu. Ia berkata:  “Wahai, ada kabar suka! Ini seorang anak laki-laki!” Dan mereka menyembunyikannya sebagai barang dagangan,  dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.  Dan mereka menjualnya  dengan harga yang murah  yaitu beberapa dirham saja, dan mereka tidak peduli mengenai itu (Yusuf [12]:20-21).
       Memang seperti itulah sikap tidak peduli yang diperlihatkan oleh suatu kaum kepada seorang calon rasul Allah yang  ada di kalangan mereka, sikap tidak peduli tersebut terjadi  karena pada hakikatnya mereka itu tidak memilik bashirah (pandangan ruhani) atau firasat yang baik. Dan sikap tidak peduli tersebut terjadi karena  yang mereka pikirkan hanyalah masalah keuntungan duniawi belaka.
      Salah satu contoh sikap atau respons yang baik yang diperlihatkan seseorang ketika mendengar sesuatu yang menakjubkan adalah Waraqah bin Naufal, saudara misan Sitti Khadijah r.a., ketika mendengar cerita Siti Khadijah r.a. tentang pengalaman ruhani  Nabi Besar Muhammad saw. bertemu dengan malaikat Jibril a.s. di gua Hira. Ia langsung memberi tanggapan baik dengan penuh semangat: “Yang telah datang kepadanya itu adalah Namus yang juga telah datang juga kepada Musa. Seandainya aku masih hidup maka aku akan membantunya ketika ia akan diusir oleh kaumnya.” Waraqah bin Naufal adalah seorang  bangsa Arab yang beragama Nasrani dan telah menerjemahkan Taurat ke dalam bahasa Arab.

Nabi Yusuf a.s. di Rumah Potifar & Zulaikha

      Nabi Yusuf a.s.  benar-benar sangat beruntung,  karena  setelah beliau dibuang oleh kakak-kakak beliau ke dalam sumur, kemudian dijual oleh rombongan kafilah di Mesir dengan harga murah, tetapi dengan karunia Allah Swt. Nabi Yusuf a.s. tidak menjadi “komoditi dagangan” sebagai seorang budak yang  dijual-belikan oleh majikan yang membelinya, tetapi  beliau malah tinggal secara terhormat di rumah seorang pejabat tinggi  kerajaan Mesir.
       Jadi, pada hakikatnya dibelinya Nabi Yusuf a.s. oleh seorang pejabat tinggi di kerajaan Mesir, Potifar,  merupakan karunia Allah Swt. berikutnya kepada beliau, berupa  pengangkatan  derajat Nabi Yusuf a.s. dari segi duniawi, setelah beliau mengalami perlakuan-perlakuan yang sangat rendah, baik dari  kakak-kakak beliau  seayah  mau pun dari kafilah yang menemukan beliau di dalam sumur.
       Dapat dipastikan bahwa pandangan dan harapan Potifar berkenaan Nabi Yusuf a.s. untuk beberapa tahun tidak meleset, namun ketika keadaan Nabi Yusuf a.s. semakin beranjak dewasa   situasi di dalam  rumah pejabat tinggi kerajaan Mesir tersebut mulai timbul masalah, yakni ternyata  ketampanan serta keanggunan Nabi Yusuf a.s.  menjadi “ujian berat” bagi istri Potifar, yang konon bernama Zulaikha, firman-Nya:
 وَ لَمَّا بَلَغَ اَشُدَّہٗۤ  اٰتَیۡنٰہُ حُکۡمًا وَّ عِلۡمًا ؕ وَ کَذٰلِکَ نَجۡزِی الۡمُحۡسِنِیۡنَ ﴿۲۳   وَ رَاوَدَتۡہُ الَّتِیۡ ہُوَ فِیۡ بَیۡتِہَا عَنۡ نَّفۡسِہٖ  وَ غَلَّقَتِ الۡاَبۡوَابَ وَ قَالَتۡ ہَیۡتَ لَکَ ؕ قَالَ مَعَاذَ اللّٰہِ  اِنَّہٗ  رَبِّیۡۤ  اَحۡسَنَ مَثۡوَایَ ؕ اِنَّہٗ  لَا یُفۡلِحُ الظّٰلِمُوۡنَ ﴿۲۴
Dan tatkala ia sampai kepada kedewasaannya Kami memberikan kepadanya  kebijaksanaan serta ilmu, dan demikianlah Kami memberi ganjaran kepada orang-orang yang berbuat ihsan. Dan perempuan yang di rumahnya ia tinggal, berusaha   menggodanya  untuk berbuat yang berlawanan dengan kehendaknya. Dan perempuan itu menutup semua pintu  dan berkata: “Aku telah siap untuk engkau.”  Ia (Yusuf)   berkata:  “Aku berlindung kepada Allah, sesungguhnya Dia-lah Tuhan-ku Yang telah memberiku tempat tinggal yang baik, sesungguhnya orang-orang zalim itu tidak akan berhasil.” (Yusuf [12]:23-24).
      Raawada-hu berarti, ia berusaha atau berikhtiar untuk memalingkan dia kepada atau dari sesuatu hal dengan bujukan atau tipu daya (Lexicon Lane).  Haita berarti “ayolah atau tampillah” atau “cepat-cepatlah” dan ungkapan haita laka berarti  “ayolah engkau” atau “marilah sekarang”; atau “ayo aku telah siap untuk engkau” atau “aku siap untuk menerimamu” (Lexicon Lane & Mufradat).
      Berbeda dengan pendapat umum, bahwa dalam “kasus” tersebut Nabi Yusuf a.s. pun memiliki hasrat yang sama dengan hasrat perempuan tersebut, karena istri Potifar  iotu sangat cantik. Dan memang tidak mustahil bahwa  Zulaikha adalah seorang perempuan yang sangat cantik, tetapi tidak lantas harus mengartikan  bahwa menurut  firman Allah Swt. tersebut Nabi Yusuf a.s. pun merasa tertarik pula kepada Zulaikha, hanya saja dihalangi oleh Allah Swt., karena hal tersebut bertentangan dengan fitrat suci dan sifat terpuji seorang nabi Allah.

Godaan  Kesenangan Kehidupan Duniawi yang Menipu

       Bahwa Zulaikha – yakni istri Potifar  itu seorang  perempuan yang sangat cantik, itu mungkin saja benar,  berikut adalah beberapa alasan mengenai hal tersebut:
(1)   Tidak  mungkin Potifar tetap mempertahankan dan membela istrinya walau pun ia kemudian mengetahui bahwa dalam “kasus” istrinya dengan Nabi Yusuf a.s. pihak istrinyalah yang salah, sebagaimana  akan dijelaskan  mengenai  ayat selanjutnya  (QS.12:27-30).
(2)   Dalam peristiwa mikraj yang dialami oleh Nabi Besar Muhammad saw. diceraikan mengenai seorang perempuan yang memakai berbagai perhiasan yang telah banyak membunuh suami-suaminya. Ketika hal itu  beliau saw. ditanyakan   kepada malaikat Jibril a.s. bahwa “perempuan pesolek” tersebut adalah gambaran “kehidupan duniawi.”  Keterangan malaikat Jibril a.s. tersebut sesuai dengan penjelasan Allah Swt. dalam Al-Quran  mengenai    kehidupan duniawi  yang menipu (QS. 10:25; QS.18:46-47).
(3)   Dalam QS.64:15-16 dikatakan bahwa di antara istri-istri dan anak-anak ada yang merupakan musuh bagi suami (kepala keluarga), dan dalam ayat 16 dikatakan bahwa istri pun ternasuk ke dalam golongan “harta kekayaan” suaminya. Dan selaras dengan kenyataan tersebut Nabi Besar Muhammad saw. telah bersabda bahwa sebaik-baik harta seorang suami adalah “istri yang shalihah.”
      Bukti lainnya bahwa istri Potifar itu – yakni Zulaikha -- adalah seorang  perempuan yang sangat cantik, adalah doa yang biasa dikemukakan oleh  petugas KUA ketika selesai memimpin acara aqad nikah yaitu:  “Allaahumma allif.... .... kamaa allafta baina Adam wa Hawa.... kamaa allafta baina Yusuf wa Zulaikha...” – seakan-akan benar bahwa pada akhirnya setelah Nabi Yusuf a.s. menjadi pejabat tinggi di Kerajaan Mesir kemudian beliau memperistri Zulaikha, seorang perempuan (istri) yang telah mengkhianati suaminya, Potifar (QS.12:22-36).  Na’udzubillahi min dzaalik.
      Tetapi ayat QS.12:24-25 menunjukkan bahwa perempuan yang berusaha  merayu Nabi Yusuf a.s. itu gagal dalam usahanya, dan Nabi Yusuf a.s. berhasil melawan bisikan jahat dari perempuan itu. Dengan demikian sungguh keliru   pendapat bahwa Nabi Yusuf a.s. pun sebenarnya tertarik pula kepada istri majikan beliau yang cantik jelita tersebut, sehingga kemudian beliau menjadikan  perempuan yang  mengkhianati suaminya tersebut sebagai istrinya, na’udzubillahi min dzaalik –  sebagaimana tergambar dari doa para petugas KUA sebelum ini, ketika selesai  melaksanakan acara aqad nikah pasangan pengantin.
       Kata-kata innahu rabbi (Dia adalah Tuhan-ku) dalam QS.12:24 menunjuk kepada Tuhan, dan bukan kepada majikan Nabi Yusuf a.s. yang berbangsa Mesir itu, sebagaimana dengan keliru disangka oleh beberapa ahli tafsir. Ayat selanjutnya mendukung kenyataan bahwa Nabi Yusuf a.s. sama sekali tidak melayani keinginan istri majikan beliau, dan itu beliau lakukan dengan berusaha keluar dari ruangan tersebut dengan cara berlari menuju pintu yang  tertutup (QS.12:26-27), firman-Nya:
وَ لَقَدۡ ہَمَّتۡ بِہٖ ۚ وَ ہَمَّ بِہَا لَوۡ لَاۤ  اَنۡ رَّاٰ بُرۡہَانَ رَبِّہٖ ؕ کَذٰلِکَ لِنَصۡرِفَ عَنۡہُ السُّوۡٓءَ  وَ الۡفَحۡشَآءَ ؕ اِنَّہٗ  مِنۡ  عِبَادِنَا الۡمُخۡلَصِیۡنَ  ﴿۲۵
Dan sungguh perempuan itu benar-benar telah bertekad keras terhadap dia untuk menggodanya, dan ia (Yusuf) pun telah bertekad keras untuk menolak keinginan perempuan itu.  Seandainya ia (Yusuf) belum melihat Tanda yang nyata Tuhan-nya ia tidak akan dapat ia perlihatkan tekad semacam itu. Demikianlah supaya Kami men-jauhkan dari dia segala keburukan dan kerendahan budi, sesungguhnya ia ter-masuk hamba-hamba Kami yang terpilih. (Yusuf [12]:25).

Hubungan Peristiwa Nabi Yusuf dan Zulaikha
dengan Nabi Besar Muhammad saw.

         Menurut ayat tersebut istri majikan Nabi Yusuf a.s. bertekad melakukan sesuatu dengan Nabi Yusuf a.s. . (berbuat serong). Begitu juga Nabi Yusuf a.s.   bertekad melakukan sesuatu mengenai perempuan itu, ialah melawan niat jahatnya itu. Bahwa Nabi Yusuf a.s. tidak bertekad  melakukan sesuatu yang buruk telah jelas dari ayat yang sebelumnya. Tujuan beliau satu-satunya hanya untuk mencegah perempuan  itu dari niat jahatnya.
     “Tanda nyata” dimaksudkan Tanda-tanda dari langit, yang Nabi Yusuf a.s.  telah menyaksikan sebelumnya, ialah (1) suatu rukya (mimpi) ajaib yang mengisyaratkan keagungan beliau kelak (ayat 5), (2) wahyu yang beliau terima ketika beliau dimasukkan ke dalam sumur, yang pula menunjuk kepada keagungan dan kemuliaan beliau di masa kemudian (ayat 16) dan (3)  kepada peristiwa dikeluarkannya beliau dari dalam sumur itu dalam keadaan hidup.
       Ada pun hubungan perstiwa yang dialami oleh Nabi Yusuf a.s. di rumah majikannya dengan apa yang terjadi dengan Nabi Besar Muhammad saw., yaitu bahwa persis seperti adanya usaha untuk merayu Nabi Yusuf a.s.   supaya keluar dari jalan kesucian dan kejujuran, demikian pula kaum musyrikin Makkah telah gagal dalam usaha mereka untuk membuat Nabi Besar Muhammad saw.  meninggalkan kegiatan menablighkan Tauhid Ilahi dengan menawarkan bahwa mereka akan menjadikan beliau saw. raja atau mengumpulkan harta-kekayaan yang besar untuk beliau saw., dan memberikan kepada beliau saw.  gadis yang paling cantik di seluruh Arab untuk dinikahi.
       Tawaran   para pemuka kaum musyrik Makkah yang disampaikan oleh Abu Thalib , paman Nabi Besar Muhammad saw, itu dengan sendirinya ditolak mentah-mentah oleh Nabi Besar Muhammad saw., seraya mengucapkan kata-kata bersejarah: “Sekalipun bila kamu letakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, aku tidak akan berhenti dari menyebarkan tauhid Ilahi” (Hisyam). Dan karena terpengaruh oleh tekad membaja kemenakannya tersebut Abu Thalib pun sangat terpengaruh dan dengan penuh rasa haru beliau mengatakan: “Wahai keponakanku, lakukanlah terus apa yang menjadi keyakinan engkau.” Walau pun dalam kenyataannya sampai meninggalnya Abu Thalib tetap tidak menyatakan beriman kepada Nabi Besar Muhammad saw., berbeda  dengan sikap putranya yakni Ali bin Abi Thalib r.a., yang benar-benar telah menyerahkan seluruh jiwa raganya untuk membela perjuangan  suci Nabi Besar Muhammad saw..
        Berkat keteguhan tekad Nabi Besar Muhammad saw. dalam menyebarkan Tauhid Ilahi pada akhirnya   Allah Swt. di masa Khalifah Umar bin Khaththab r.a. memberikan kepada beliau saw. kekuasaan atas seluruh  jazirah Arabia dan wilayah Persia (Iran)  -- bahkan Mesir -- dimana  “bulan” adalah lambang bangsa Arab sedangkan “matahari” adalah lambang bangsa Iran (Persia) – hadiah yang jauh lebih berharga daripada yang ditawarkan oleh para pemuka kaum musyrik Makkah sebelumnya kepada Nabi Muhammad saw..

(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid


Tidak ada komentar:

Posting Komentar