بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
HUBUNGAN NABI YUSUF A.S.
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
Bagian XVI
Tentang
Nabi Yusuf a.s. & Istri Potifar
Oleh
Ki Langlang
Buana Kusuma
وَ
لَمَّا بَلَغَ اَشُدَّہٗۤ اٰتَیۡنٰہُ
حُکۡمًا وَّ عِلۡمًا ؕ وَ کَذٰلِکَ نَجۡزِی الۡمُحۡسِنِیۡنَ ﴿۲۳﴾ وَ رَاوَدَتۡہُ
الَّتِیۡ ہُوَ فِیۡ بَیۡتِہَا عَنۡ نَّفۡسِہٖ
وَ غَلَّقَتِ الۡاَبۡوَابَ وَ قَالَتۡ ہَیۡتَ لَکَ ؕ قَالَ مَعَاذَ
اللّٰہِ اِنَّہٗ رَبِّیۡۤ
اَحۡسَنَ مَثۡوَایَ ؕ اِنَّہٗ لَا
یُفۡلِحُ الظّٰلِمُوۡنَ ﴿۲۴﴾
Dan tatkala ia sampai kepada kedewasaannya Kami memberikan
kepadanya kebijaksanaan serta ilmu, dan
demikianlah Kami memberi ganjaran kepada orang-orang yang berbuat ihsan. Dan
perempuan yang di rumahnya ia tinggal, berusaha menggodanya untuk berbuat yang berlawanan dengan
kehendaknya. Dan perempuan itu menutup semua pintu dan berkata: “Aku telah siap untuk engkau.”
Ia (Yusuf) berkata: “Aku berlindung kepada Allah, sesungguhnya
Dia-lah Tuhan-ku Yang telah memberiku tempat tinggal yang baik,
sesungguhnya orang-orang zalim itu tidak akan berhasil.” (Yusuf [12]:23-24).
Dalam Bab
sebelumnya telah dikemukakan mengenai
penjualan Nabi Yusuf a.s. dengan harga rendah kepada Potifar oleh
rombongan kafilah yang menemukan beliau di dalam sumur, firman-Nya:
وَ
قَالَ الَّذِی اشۡتَرٰىہُ مِنۡ مِّصۡرَ لِامۡرَاَتِہٖۤ اَکۡرِمِیۡ مَثۡوٰىہُ عَسٰۤی اَنۡ یَّنۡفَعَنَاۤ اَوۡ نَتَّخِذَہٗ وَلَدًا ؕ وَ کَذٰلِکَ مَکَّنَّا لِیُوۡسُفَ
فِی الۡاَرۡضِ ۫ وَ لِنُعَلِّمَہٗ مِنۡ تَاۡوِیۡلِ الۡاَحَادِیۡثِ ؕ وَ اللّٰہُ
غَالِبٌ عَلٰۤی اَمۡرِہٖ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَ النَّاسِ لَا یَعۡلَمُوۡنَ ﴿۲۲﴾
Dan orang dari Mesir yang membeli dia berkata
kepada istrinya: “Berilah dia tempat tinggal yang terhormat. Boleh jadi dia
akan bermanfaat bagi kita atau dia akan kita angkat sebagai anak.” Dan demikianlah Kami memberi
Yusuf kedudukan di negeri itu, dan supaya Kami mengajarkan kepadanya
ta’bir mimpi-mimpi. Dan Allah berkuasa penuh atas keputusan-Nya tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.
(Yusuf [12]:22).
Orang
Mesir yang telah membeli Nabi Yusuf a.s. dikenal dalam pustaka Yahudi dengan
nama Potifar (Encyclopaedia
Biblica & Kejadian
39:1). Ia adalah komandan barisan pengawal raja, seorang perwira yang
tinggi pangkatnya di zaman dahulu. Ia tampak memiliki pandangan positif mengenai Nabi Yusuf a.s. dibandingkan sikap
tidak peduli kafilah yang menjual
Nabi Yusuf a.s. dengan harga rendah, firman-Nya:
وَ جَآءَتۡ سَیَّارَۃٌ فَاَرۡسَلُوۡا وَارِدَہُمۡ فَاَدۡلٰی دَلۡوَہٗ
ؕ قَالَ یٰبُشۡرٰی ہٰذَا غُلٰمٌ ؕ وَ اَسَرُّوۡہُ بِضَاعَۃً ؕ وَ اللّٰہُ
عَلِیۡمٌۢ بِمَا یَعۡمَلُوۡنَ ﴿۱۹﴾ وَ شَرَوۡہُ بِثَمَنٍۭ بَخۡسٍ دَرَاہِمَ
مَعۡدُوۡدَۃٍ ۚ وَ کَانُوۡا فِیۡہِ مِنَ
الزَّاہِدِیۡنَ ﴿٪۲۰﴾
Dan datang suatu kafilah, lalu mereka
mengirim pengambil air mereka, lalu
ia menurunkan timbanya ke dalam sumur itu. Ia berkata: “Wahai, ada kabar suka! Ini seorang anak
laki-laki!” Dan mereka menyembunyikannya sebagai barang dagangan,
dan Allah Maha Mengetahui
apa yang mereka kerjakan. Dan mereka
menjualnya dengan harga yang murah yaitu beberapa dirham saja, dan
mereka tidak peduli mengenai itu (Yusuf [12]:20-21).
Memang
seperti itulah sikap tidak peduli yang diperlihatkan oleh suatu kaum
kepada seorang calon rasul Allah yang
ada di kalangan mereka, sikap tidak peduli tersebut terjadi karena pada hakikatnya mereka itu tidak
memilik bashirah (pandangan ruhani) atau firasat yang baik. Dan
sikap tidak peduli tersebut terjadi karena
yang mereka pikirkan hanyalah masalah keuntungan duniawi belaka.
Salah
satu contoh sikap atau respons yang baik yang diperlihatkan seseorang ketika
mendengar sesuatu yang menakjubkan adalah Waraqah bin Naufal, saudara
misan Sitti Khadijah r.a., ketika mendengar cerita Siti Khadijah r.a. tentang pengalaman
ruhani Nabi Besar Muhammad saw. bertemu
dengan malaikat Jibril a.s. di gua Hira. Ia langsung memberi tanggapan
baik dengan penuh semangat: “Yang telah datang kepadanya itu adalah Namus yang
juga telah datang juga kepada Musa. Seandainya aku masih hidup maka aku akan
membantunya ketika ia akan diusir oleh kaumnya.” Waraqah bin Naufal
adalah seorang bangsa Arab yang beragama
Nasrani dan telah menerjemahkan Taurat ke dalam bahasa Arab.
Nabi Yusuf a.s. di Rumah Potifar & Zulaikha
Nabi
Yusuf a.s. benar-benar sangat
beruntung, karena setelah beliau dibuang oleh
kakak-kakak beliau ke dalam sumur, kemudian dijual oleh rombongan kafilah
di Mesir dengan harga murah, tetapi dengan karunia Allah Swt. Nabi Yusuf a.s.
tidak menjadi “komoditi dagangan” sebagai seorang budak yang dijual-belikan oleh majikan yang
membelinya, tetapi beliau malah tinggal
secara terhormat di rumah seorang pejabat tinggi kerajaan Mesir.
Jadi, pada hakikatnya
dibelinya Nabi Yusuf a.s. oleh seorang pejabat tinggi di kerajaan Mesir,
Potifar, merupakan karunia Allah Swt.
berikutnya kepada beliau, berupa pengangkatan derajat Nabi Yusuf a.s. dari segi
duniawi, setelah beliau mengalami perlakuan-perlakuan yang sangat rendah,
baik dari kakak-kakak beliau seayah mau
pun dari kafilah yang menemukan beliau di dalam sumur.
Dapat dipastikan bahwa
pandangan dan harapan Potifar berkenaan Nabi Yusuf a.s. untuk beberapa tahun
tidak meleset, namun ketika keadaan Nabi Yusuf a.s. semakin beranjak dewasa situasi
di dalam rumah pejabat tinggi kerajaan Mesir
tersebut mulai timbul masalah, yakni ternyata ketampanan serta keanggunan Nabi
Yusuf a.s. menjadi “ujian berat” bagi istri
Potifar, yang konon bernama Zulaikha, firman-Nya:
وَ لَمَّا بَلَغَ اَشُدَّہٗۤ اٰتَیۡنٰہُ حُکۡمًا وَّ عِلۡمًا ؕ وَ کَذٰلِکَ
نَجۡزِی الۡمُحۡسِنِیۡنَ ﴿۲۳﴾ وَ رَاوَدَتۡہُ الَّتِیۡ ہُوَ فِیۡ بَیۡتِہَا عَنۡ
نَّفۡسِہٖ وَ غَلَّقَتِ الۡاَبۡوَابَ وَ
قَالَتۡ ہَیۡتَ لَکَ ؕ قَالَ مَعَاذَ اللّٰہِ
اِنَّہٗ رَبِّیۡۤ اَحۡسَنَ مَثۡوَایَ ؕ اِنَّہٗ لَا یُفۡلِحُ الظّٰلِمُوۡنَ ﴿۲۴﴾
Dan tatkala ia sampai kepada kedewasaannya Kami memberikan
kepadanya kebijaksanaan serta ilmu,
dan demikianlah Kami memberi ganjaran kepada orang-orang yang berbuat ihsan.
Dan perempuan yang di rumahnya ia tinggal, berusaha menggodanya untuk berbuat yang berlawanan dengan
kehendaknya. Dan perempuan itu menutup semua pintu dan berkata: “Aku telah siap untuk engkau.”
Ia (Yusuf) berkata: “Aku berlindung kepada Allah,
sesungguhnya Dia-lah Tuhan-ku Yang telah memberiku tempat tinggal
yang baik, sesungguhnya orang-orang zalim itu tidak akan berhasil.”
(Yusuf [12]:23-24).
Raawada-hu
berarti, ia berusaha atau berikhtiar untuk memalingkan dia kepada atau dari
sesuatu hal dengan bujukan atau tipu daya (Lexicon Lane). Haita berarti “ayolah atau tampillah”
atau “cepat-cepatlah” dan ungkapan haita laka berarti “ayolah engkau” atau “marilah
sekarang”; atau “ayo aku telah siap untuk engkau” atau “aku siap
untuk menerimamu” (Lexicon Lane & Mufradat).
Berbeda dengan pendapat umum, bahwa dalam
“kasus” tersebut Nabi Yusuf a.s. pun memiliki hasrat yang sama dengan hasrat
perempuan tersebut, karena istri Potifar iotu sangat cantik. Dan memang tidak mustahil
bahwa Zulaikha adalah seorang perempuan
yang sangat cantik, tetapi tidak lantas harus mengartikan bahwa menurut
firman Allah Swt. tersebut Nabi Yusuf a.s. pun merasa tertarik
pula kepada Zulaikha, hanya saja dihalangi oleh Allah Swt., karena hal tersebut
bertentangan dengan fitrat suci dan sifat terpuji seorang nabi
Allah.
Godaan Kesenangan Kehidupan
Duniawi yang Menipu
Bahwa
Zulaikha – yakni istri Potifar itu
seorang perempuan yang sangat cantik,
itu mungkin saja benar, berikut adalah beberapa
alasan mengenai hal tersebut:
(1) Tidak mungkin Potifar tetap
mempertahankan dan membela istrinya walau pun ia kemudian mengetahui bahwa dalam
“kasus” istrinya dengan Nabi Yusuf a.s. pihak istrinyalah yang salah,
sebagaimana akan dijelaskan mengenai
ayat selanjutnya (QS.12:27-30).
(2) Dalam peristiwa mikraj yang dialami oleh Nabi Besar Muhammad
saw. diceraikan mengenai seorang perempuan yang memakai berbagai perhiasan
yang telah banyak membunuh suami-suaminya. Ketika hal itu beliau saw. ditanyakan kepada malaikat Jibril a.s. bahwa “perempuan
pesolek” tersebut adalah gambaran “kehidupan duniawi.” Keterangan malaikat Jibril a.s. tersebut
sesuai dengan penjelasan Allah Swt. dalam Al-Quran mengenai kehidupan
duniawi yang menipu (QS. 10:25;
QS.18:46-47).
(3) Dalam QS.64:15-16 dikatakan bahwa di antara istri-istri dan anak-anak
ada yang merupakan musuh bagi suami (kepala keluarga), dan dalam
ayat 16 dikatakan bahwa istri pun ternasuk ke dalam golongan “harta
kekayaan” suaminya. Dan selaras dengan kenyataan tersebut Nabi Besar Muhammad
saw. telah bersabda bahwa sebaik-baik harta seorang suami adalah “istri
yang shalihah.”
Bukti lainnya bahwa
istri Potifar itu – yakni Zulaikha -- adalah seorang perempuan yang sangat cantik, adalah doa yang
biasa dikemukakan oleh petugas KUA
ketika selesai memimpin acara aqad nikah yaitu:
“Allaahumma allif.... .... kamaa allafta baina Adam wa Hawa....
kamaa allafta baina Yusuf wa Zulaikha...” – seakan-akan benar bahwa pada
akhirnya setelah Nabi Yusuf a.s. menjadi pejabat tinggi di Kerajaan
Mesir kemudian beliau memperistri Zulaikha, seorang perempuan (istri)
yang telah mengkhianati suaminya, Potifar (QS.12:22-36). Na’udzubillahi min dzaalik.
Tetapi
ayat QS.12:24-25 menunjukkan bahwa perempuan yang berusaha merayu Nabi Yusuf a.s. itu gagal
dalam usahanya, dan Nabi Yusuf a.s. berhasil melawan bisikan jahat
dari perempuan itu. Dengan demikian sungguh keliru pendapat bahwa Nabi Yusuf a.s. pun
sebenarnya tertarik pula kepada istri majikan beliau yang cantik
jelita tersebut, sehingga kemudian beliau menjadikan perempuan yang mengkhianati suaminya tersebut sebagai
istrinya, na’udzubillahi min dzaalik – sebagaimana tergambar dari doa para petugas
KUA sebelum ini, ketika selesai melaksanakan acara aqad nikah pasangan
pengantin.
Kata-kata
innahu rabbi (Dia adalah Tuhan-ku) dalam QS.12:24 menunjuk kepada Tuhan,
dan bukan kepada majikan Nabi Yusuf a.s. yang berbangsa Mesir itu,
sebagaimana dengan keliru disangka oleh beberapa ahli tafsir. Ayat
selanjutnya mendukung kenyataan bahwa Nabi Yusuf a.s. sama sekali tidak
melayani keinginan istri majikan beliau, dan itu beliau lakukan
dengan berusaha keluar dari ruangan tersebut dengan cara berlari menuju pintu
yang tertutup (QS.12:26-27), firman-Nya:
وَ لَقَدۡ ہَمَّتۡ
بِہٖ ۚ وَ ہَمَّ بِہَا لَوۡ لَاۤ اَنۡ
رَّاٰ بُرۡہَانَ رَبِّہٖ ؕ کَذٰلِکَ لِنَصۡرِفَ عَنۡہُ السُّوۡٓءَ وَ الۡفَحۡشَآءَ ؕ اِنَّہٗ مِنۡ
عِبَادِنَا الۡمُخۡلَصِیۡنَ ﴿۲۵﴾
Dan sungguh perempuan itu benar-benar telah bertekad keras
terhadap dia untuk menggodanya, dan ia (Yusuf) pun telah bertekad
keras untuk menolak keinginan perempuan itu. Seandainya ia (Yusuf) belum melihat Tanda
yang nyata Tuhan-nya ia tidak akan dapat ia perlihatkan tekad
semacam itu. Demikianlah supaya Kami men-jauhkan dari dia segala
keburukan dan kerendahan budi, sesungguhnya ia ter-masuk hamba-hamba
Kami yang terpilih. (Yusuf [12]:25).
Hubungan Peristiwa Nabi Yusuf dan Zulaikha
dengan Nabi Besar Muhammad saw.
Menurut ayat tersebut istri majikan
Nabi Yusuf a.s. bertekad melakukan sesuatu dengan Nabi Yusuf a.s. .
(berbuat serong). Begitu juga Nabi Yusuf a.s. bertekad melakukan sesuatu
mengenai perempuan itu, ialah melawan niat jahatnya itu. Bahwa Nabi Yusuf a.s. tidak
bertekad melakukan sesuatu yang buruk
telah jelas dari ayat yang sebelumnya. Tujuan beliau satu-satunya hanya untuk
mencegah perempuan itu dari niat
jahatnya.
“Tanda
nyata” dimaksudkan Tanda-tanda dari langit, yang Nabi Yusuf a.s. telah menyaksikan sebelumnya, ialah (1) suatu
rukya (mimpi) ajaib yang mengisyaratkan keagungan beliau kelak (ayat 5), (2) wahyu
yang beliau terima ketika beliau dimasukkan ke dalam sumur, yang pula menunjuk
kepada keagungan dan kemuliaan beliau di masa kemudian (ayat 16) dan (3) kepada peristiwa dikeluarkannya beliau dari
dalam sumur itu dalam keadaan hidup.
Ada pun hubungan
perstiwa yang dialami oleh Nabi Yusuf a.s. di rumah majikannya dengan apa yang
terjadi dengan Nabi Besar Muhammad saw., yaitu bahwa persis seperti adanya
usaha untuk merayu Nabi Yusuf a.s. supaya keluar dari jalan kesucian
dan kejujuran, demikian pula kaum musyrikin Makkah telah gagal
dalam usaha mereka untuk membuat Nabi Besar Muhammad saw. meninggalkan kegiatan
menablighkan Tauhid Ilahi dengan menawarkan bahwa mereka akan
menjadikan beliau saw. raja atau mengumpulkan harta-kekayaan yang
besar untuk beliau saw., dan memberikan kepada beliau saw. gadis yang paling cantik di seluruh
Arab untuk dinikahi.
Tawaran
para
pemuka kaum musyrik Makkah yang disampaikan oleh Abu Thalib , paman Nabi
Besar Muhammad saw, itu dengan sendirinya ditolak mentah-mentah oleh Nabi
Besar Muhammad saw., seraya mengucapkan kata-kata bersejarah: “Sekalipun bila
kamu letakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan
kiriku, aku tidak akan berhenti dari menyebarkan tauhid Ilahi” (Hisyam).
Dan karena terpengaruh oleh tekad membaja kemenakannya tersebut Abu
Thalib pun sangat terpengaruh dan dengan penuh rasa haru beliau mengatakan: “Wahai
keponakanku, lakukanlah terus apa yang menjadi keyakinan engkau.” Walau pun
dalam kenyataannya sampai meninggalnya Abu Thalib tetap tidak menyatakan
beriman kepada Nabi Besar Muhammad saw., berbeda dengan sikap putranya yakni Ali bin Abi Thalib
r.a., yang benar-benar telah menyerahkan seluruh jiwa raganya untuk membela
perjuangan suci Nabi Besar Muhammad
saw..
Berkat
keteguhan tekad Nabi Besar Muhammad saw. dalam menyebarkan Tauhid
Ilahi pada akhirnya Allah Swt. di masa Khalifah Umar bin Khaththab
r.a. memberikan kepada beliau saw. kekuasaan atas seluruh jazirah Arabia dan wilayah Persia
(Iran) -- bahkan Mesir -- dimana “bulan” adalah lambang bangsa Arab
sedangkan “matahari” adalah lambang bangsa Iran (Persia) – hadiah
yang jauh lebih berharga daripada yang ditawarkan oleh para pemuka
kaum musyrik Makkah sebelumnya kepada Nabi Muhammad saw..
(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid
Tidak ada komentar:
Posting Komentar