بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
HUBUNGAN NABI YUSUF A.S.
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
Bagian 1
Tentang
Hubungan Agama Islam dan Nabi Besar Muhammad Saw.
dengan
Agama-agama Sebelumnya
Oleh
Ki Langlang
Buana Kusuma
مَا کَانَ مُحَمَّدٌ اَبَاۤ
اَحَدٍ مِّنۡ رِّجَالِکُمۡ وَ لٰکِنۡ رَّسُوۡلَ اللّٰہِ وَ خَاتَمَ النَّبِیّٖنَ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ
بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمًا ﴿٪۴۱﴾
Muhammad sekali-kali bukan bapak salah seorang laki-laki di antara
laki-laki kamu, tetapi ia adalah Rasul Allah dan Khaataman-nabiyyiin,
dan Allah Maha Mengetahui segala
sesuatu. (Al-Ahzab [33]:41).
Allah
Swt. menurunkan agama-agama erat kaitannya dengan tujuan utama
penciptaan umat manusia, yaitu untuk beribadah kepada-Nya, firman-Nya:
وَ مَا خَلَقۡتُ الۡجِنَّ وَ الۡاِنۡسَ اِلَّا لِیَعۡبُدُوۡنِ ﴿۵۶﴾
Dan Aku sekali-kali tidak
menciptakan jin dan
ins (manusia) melainkan supaya
mereka menyembah-Ku (Al-Dzaariyaat [51]:57).
Arti yang utama untuk kata ‘ibadah adalah
menundukkan diri sendiri kepada disiplin keruhanian yang ketat,
lalu bekerja dengan segala kemampuan dan kekuatan yang ada sampai sepenuh jangkauannya, sepenuhnya serasi
dengan dan taat kepada perintah-perintah Ilahi agar menerima meterai
pengesahan Allah dan mampu mencampurkan
dan menjelmakan dalam dirinya sendiri sifat-sifat Allah Swt..
Sebagaimana tersebut dalam ayat ini
itulah maksud dan tujuan agung lagi mulia bagi penciptaan manusia
dan memang itulah makna ibadah kepada Allah Swt... Karunia-karunia lahir
dan batin yang terdapat pada sifat manusia memberikan dengan
jelas pengertian kepada kita, bahwa ada di antara kemampuan manusia yang
membangunkan pada dirinya dorongan untuk mencari Allah Swt. dan
yang meresapkan kepadanya keinginan mulia untuk menyerahkan diri
sepenuhnya kepada Allah Swt..
(QS.7:173-175; QS.6:162-163).
Fungsi Agama & “Pakaian
Takwa”
Satu-satunya sarana agar manusia
dapat mewujudkan tujuan utama penciptaannya itu adalah agama atau
hukum-hukum syariat, yang
diturunkan Allah Swt. kepada Rasul Allah pengemban syariat, karena tidak setiap rasul (nabi) Allah membawa agama (hukum-hukum
syariat), contohnya adalah Nabi Harun a.s.. dan para rasul Allah di kalangan Bani Israil yang diutus
setelahnya sampai dengan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.2:88-89; QS.5:47;
QS.57:28).
Seandainya sejak awal manusia diciptakan mereka itu memiliki kemampuan untuk mengamalkan agama (syariat) terakhir dan tersempurna – yakni agama Islam (Al-Quran) – maka
pasti di dunia ini hanya ada satu macam agama
dan KItab suci saja, yakni agama Islam dan Al-Quran.
Tetapi
kenyataannya tidak demikian, sebab sebagaimana halnya tubuh jasmani manusia – sesuai dengan
sifat Rabbubiyyah Allah Swt. (QS.1:2)
-- berkembang secara bertahap, demikian
pula halnya keadaan ruhani (jiwa) manusia pun mengalami perkembangan
secara bertahap, sampai akhirnya tiba saatnya
manusia secara keseluruhan mampu untuk menerima dan mengamalkan agama terakhir dan tersempurna yaitu agama Islam (Al-Quran) yang
diturunkan Allah Swt. bersama pengutusan
Nabi Besar Muhammad saw..
Allah
Swt. telah berfirman dalam Al-Quran bahwa Dia tidak pernah membebani manusia
dengan suatu perintah yang melebihi batas kesanggupannya, firman-Nya:
لَا یُکَلِّفُ
اللّٰہُ نَفۡسًا اِلَّا وُسۡعَہَا ؕ لَہَا مَا کَسَبَتۡ وَ عَلَیۡہَا
مَا اکۡتَسَبَتۡ ؕ
Allah
tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemam-puannya. Baginya
ganjaran untuk apa yang diusahakannya, dan ia akan mendapat siksaan
untuk apa yang diusahakannya. (Al-Baqarah
[2]:287).
Sebagaimana seorang ibu membuat pakaian untuk anak-anaknya disesuaikan dengan perkembangan tubuh mereka, sehingga pakaian anak-anaknya selalu berubah semakin besar
ukurannya dan semakin sempurna bentuknya, demikian pula halnya Allah Swt. menurunkan agama (hukum-hukum syariat) pun secara bertahap sesuai dengan perkembangan jiwa manusia, yang pada
akhirnya mencapai puncak perkembangannya sebagai manusia dewasa, karena pada hakikatnya
agama (hukum-hukum) agama pun berfungsi
seperti pembuat pakaian bagi jiwa (ruh) manusia, yang
disebut pakaian takwa (ketakwaan), firman-Nya:
یٰبَنِیۡۤ اٰدَمَ
قَدۡ اَنۡزَلۡنَا عَلَیۡکُمۡ لِبَاسًا یُّوَارِیۡ سَوۡاٰتِکُمۡ وَ رِیۡشًا ؕ
وَ لِبَاسُ التَّقۡوٰی ۙ ذٰلِکَ خَیۡرٌ ؕ ذٰلِکَ مِنۡ اٰیٰتِ اللّٰہِ لَعَلَّہُمۡ
یَذَّکَّرُوۡنَ ﴿۲۶﴾
Wahai Bani Adam, sungguh
Kami telah menurunkan kepada kamu pakaian penutup auratmu dan
sebagai perhiasan, dan pakaian
takwa itulah yang terbaik,
yang demikian itu adalah sebagian dari Tanda-tanda Allah, supaya mereka mendapat nasihat. (Al-‘Araaf
[7]:27).
Ajaran Pokok Semua Agama di Masa Awal Sama
Dikarenakan keadaan manusia di dunia ini
terdiri dari berbagai bangsa serta suku-suku bangsa dan memiliki keadaan perkembangan
jiwa, bahasa dan adat istiadat yang berbeda-beda (QS.49:14; QS.30:23), dan mereka itu tersebar
di berbagai wilayah dunia yang berlain-lainan keadaannya, maka Allah Swt. pun dalam menurunkan agama (syariat) kepada bangsa-bangsa atau kaum-kaum
tersebut tidak seragam, melainkan
disesuaikan dengan keadaan perkembangan jiwa serta intelektual mereka,
walau pun ajaran pokok dari agama-agama tersebut sama, yaitu
mengajarkan dasar-dasar haququllah
(Tauhid Ilahi) dan haququl ‘ibaad, firman-Nya:
وَ
لَقَدۡ بَعَثۡنَا فِیۡ کُلِّ اُمَّۃٍ
رَّسُوۡلًا اَنِ اعۡبُدُوا اللّٰہَ
وَ اجۡتَنِبُوا الطَّاغُوۡتَ ۚ فَمِنۡہُمۡ مَّنۡ ہَدَی اللّٰہُ وَ مِنۡہُمۡ
مَّنۡ حَقَّتۡ عَلَیۡہِ الضَّلٰلَۃُ ؕ
فَسِیۡرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ فَانۡظُرُوۡا کَیۡفَ کَانَ عَاقِبَۃُ الۡمُکَذِّبِیۡنَ ﴿۳۷﴾
Dan sungguh Kami benar-benar telah
membangkitkan dalam setiap umat seorang rasul dengan seruan: “Sembahlah
Allah dan jauhilah thaghut.” Maka sebagian dari mereka ada yang diberi
petunjuk oleh Allah dan sebagian dari mereka ada yang telah pasti kesesatan
atasnya. Maka
berjalanlah kamu di muka bumi, lalu lihatlah betapa buruk akibat orang-orang yang mendustakan rasul-rasul.
(Al-Nahl [16]:37).
Akibat dari adanya
berbagai macam perbedaan keadaan manusia
tersebut maka agama yang diturunkan Allah Swt. dengan
perantaraan para Rasul Allah yang dibangkitkan di kalangan kaum-kaum
tersebut pun tidak sepenuhnya seragam segala sesuatunya, namun
yang pasti bahwa ajaran pokok dari
agama-agama tersebut tetap dipertahankan yakni haququlLah dan haququl
‘ibaad.
Hal lainnya yang
ditekankan Allah Swt. dalam agama-agama yang diturunkan Allah Swt.
kepada berbagai kaum (bangsa) tersebut
adalah mengenai kedatangan rasul-rasul yang
dijanjikan Allah Swt. kepada mereka, firman-Nya:
وَ
اِذۡ اَخَذَ اللّٰہُ مِیۡثَاقَ النَّبِیّٖنَ لَمَاۤ اٰتَیۡتُکُمۡ مِّنۡ کِتٰبٍ وَّ
حِکۡمَۃٍ ثُمَّ جَآءَکُمۡ رَسُوۡلٌ مُّصَدِّقٌ لِّمَا مَعَکُمۡ لَتُؤۡمِنُنَّ
بِہٖ وَ لَتَنۡصُرُنَّہٗ ؕ قَالَ ءَاَقۡرَرۡتُمۡ وَ اَخَذۡتُمۡ عَلٰی ذٰلِکُمۡ
اِصۡرِیۡ ؕ قَالُوۡۤا اَقۡرَرۡنَا ؕ قَالَ فَاشۡہَدُوۡا وَ اَنَا مَعَکُمۡ
مِّنَ الشّٰہِدِیۡنَ ﴿۸۲﴾ فَمَنۡ تَوَلّٰی
بَعۡدَ ذٰلِکَ فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡفٰسِقُوۡنَ ﴿۸۳﴾ اَفَغَیۡرَ دِیۡنِ اللّٰہِ یَبۡغُوۡنَ وَ
لَہٗۤ اَسۡلَمَ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ طَوۡعًا وَّ
کَرۡہًا وَّ اِلَیۡہِ یُرۡجَعُوۡنَ ﴿۸۴﴾
Dan ingatlah ketika
Allah mengambil perjanjian dari manusia melalui nabi-nabi:
“Apa saja yang Aku berikan kepada kamu berupa Kitab dan Hikmah,
kemudian datang ke-padamu seorang rasul yang menggenapi apa yang ada padamu, kamu benar-benar harus beriman kepadanya
dan kamu benar-benar harus membantunya.” Dia
berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima tanggung-jawab yang
Aku be-bankan kepadamu mengenai itu?” Mereka berkata: “Kami
mengakui.” Dia berfirman: “Maka bersaksilah dan Aku pun besertamu termasuk orang-orang yang menjadi saksi.” Maka barangsiapa berpaling sesudah
itu, maka merekalah orang-orang fasiq. Apakah mereka itu mencari yang bukan agama Allah,
padahal kepada Dia-lah berserah diri siapa pun yang ada di seluruh langit
dan bumi, dengan rela atau terpaksa, dan kepada-Nya mereka akan dikembalikan? (Ali-‘Imraan
[3]:82-84).
Ungkapan miitsaq an-nabiyyiin dapat
berarti “perjanjian nabi-nabi dengan Tuhan” atau “perjanjian yang
diambil Tuhan dari orang-orang dengan perantaraan nabi-nabi mereka”.
Ungkapan ini telah dipakai di sini dalam artian yang kedua, sebab qira'ah
(pembacaan) lain seperti yang didukung oleh Ubayy bin Ka’b dan ‘Abdullah bin
Mas’ud ialah miitsaq alladziina uutul Kitaab, yang artinya “perjanjian
mereka yang diberi Kitab” (Bahrul Muhith). Penafsiran ini didukung pula oleh kata-kata
berikut, yaitu “kemudian datang
kepadamu seorang rasul yang menggenapi apa yang ada padamu”, sebab
kepada orang-oranglah rasul-rasul Allah datang dan bukan kepada nabi-nabi
mereka.
Kata mushaddiq
telah dipakai di sini untuk menyatakan tolok ukur yang dengan tolok ukur itu pendakwa
yang benar dapat dibedakan dari seorang pendakwa yang palsu. Secara
tepat kata itu telah diterjemahkan di sini sebagai “menggenapi”, sebab hanya
dengan “menggenapi” dalam dirinya maka nubuatan-nubuatan yang terkandung
dalam Kitab-kitab wahyu terdahulu, seorang pendakwa dapat dibuktikan
kebenarannya.
Ayat ini dianggap pula berlaku kepada
para nabi pada umumnya dan kepada Nabi Besar Muhammad saw. pada khususnya. Kedua pemakaian itu
tepat. Ayat tersebut menetapkan suatu peraturan umum. Kedatangan setiap nabi
terjadi sebagai penggenapan nubuatan-nubuatan tertentu yang dibuat oleh
seorang nabi yang mendahuluinya, ketika nabi itu menyuruh pengikutnya supaya menerima nabi
yang berikutnya kapan pun nabi itu datang (QS.7:35-37).
Nabi Besar Muhammad Saw. dan Agama Islam Dinubuatkan Semua Nabi dan Agama
Jika
nabi itu datang memenuhi nubuatan-nubuatan dalam Kitab-kitab
dari satu kaum saja, seperti halnya dengan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dan para nabi Bani Israil lainnya, maka
hanya kaum itu saja yang wajib menerima dan membantu beliau,
tetapi bila Kitab-kitab semua agama
menubuatkan kedatangan seorang nabi, seperti halnya mengenai Nabi
Besar Muhammad saw. maka
semua bangsa harus menerima beliau saw., sebab beliau saw. . datang
sebagai penyempurnaan nubuatan-nubuatan, bukan hanya dari para nabi
Bani Israil saja (Yesaya 21:13-15; Ulangan
18:18; 33:2; Yahya 14:25,
26; 16:7-13), tetapi juga dari ahli-ahli kasyaf bangsa Aria dan
ruhaniawan-ruhaniawan agama Budha dan Zoroaster (Syafrang Dasatir
hlm. 188, Siraji Press, Delhi Yamaspi, diterbitkan oleh Nizham Al-Masyaich,
Delhi, 1330 Hijrah).
Dari uraian tersebut jelaslah bahwa yang kemudian membuat agama Allah menjadi bermacam-macam di
dunia ini -- dengan berbagai persepsi yang berbeda-beda mengenai Tuhan
yang Hakiki, yakni Allah Swt. – adalah para pemuka agama dari kaum-kaum
tersebut yang mengingkari perjanjian mereka dengan Allah Swt. melalui
para nabi mereka (QS.3:82), padahal
dengan tegas Allah Swt. telah menyatakan bahwa sejak awal pun agama-agama yang
diturunkan Allah Swt. melalui para Rasul
Allah itu adalah ISLAM,
namun nama ISLAM belum diberikan kepada agama-agama
tersebut karena masih dalam proses penyempurnaan, atau ibarat perkembangan tubuh
manusia agama-agama tersebut masih dalam proses menuju kepada kedewasaannya,
firman-Nya:
اِنَّ
الدِّیۡنَ عِنۡدَ اللّٰہِ الۡاِسۡلَامُ ۟ وَ مَا اخۡتَلَفَ الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ
اِلَّا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَہُمُ الۡعِلۡمُ بَغۡیًۢا بَیۡنَہُمۡ ؕ وَ مَنۡ یَّکۡفُرۡ
بِاٰیٰتِ اللّٰہِ فَاِنَّ اللّٰہَ سَرِیۡعُ
الۡحِسَابِ ﴿۲۰﴾
Sesungguhnya agama yang benar di sisi Allah adalah Islam,
dan sekali-kali tidaklah berselisih
orang-orang yang diberi Kitab melainkan setelah ilmu datang kepada mereka
karena kedengkian di antara mereka. Dan barangsiapa kafir kepada Tanda-tanda
Allah maka sesungguhnya
Allah sangat cepat
dalam menghisab. (Aali ‘Imraan [3]:20).
Semua
agama senantiasa menanamkan kepercayaan Tauhid Ilahi dan kepatuhan
kepada kehendak-Nya, namun demikian hanya dalam Islam sajalah
paham kepatuhan kepada kehendak
Ilahi mencapai kesempurnaan, sebab kepatuhan sepenuhnya meminta
pengejewantahan penuh Sifat-sifat Allah
Swt. serta telah sempurnnya hukum-hukum syariat yang mengatur
seluruh segi kehidupan manusia, dan hanya pada Islam sajalah pengenjewantahan
demikian telah terjadi (QS.5:4).
Jadi
dari semua tatanan keagamaan hanya Islam yang berhak
disebut agama Tuhan pribadi (agama Allah) dalam arti yang sebenarnya meminta pengejawantahan penuh Sifat-sifat
Allah Swt., dan hanya pada Islam
sajalah pengejawantahan demikian telah terjadi. Jadi dari semua tatanan keagamaan hanya Islam yang
berhak disebut agama Allāh,
dalam arti kata yang sebenarnya.
Semua
agama yang benar -- lebih atau
kurang -- dalam bentuknya yang asli adalah agama Islam,
sedang para pengikut agama-agama itu adalah Muslim dalam
arti kata secara harfiah, tetapi nama Al-Islam
tidak diberikan sebelum tiba saat bila agama menjadi lengkap dalam
segala ragam seginya, karena nama itu dicadangkan untuk syariat yang
terakhir dan mencapai kesempurnaan dalam Al-Quran.
Atas dasar pengertian makna ISLAM dan MUSLIM
seperti itulah setelah Allah Swt. menurunkan agama terakhir dan tersempurna
yakni AGAMA ISLAM (Al-Quran) melalui Nabi pembawa syariat
terakhir dan tersempurna yakni Nabi Besar Muhammad saw., namun
manusia (umat beragama) tetap bertahan dalam agama mereka masing-masing maka agama
dan keagamaan mereka tidak akan diterima oleh Allah Swt., sebab agama-agama
serta sikap keagamaan mereka itu tidak lagi ISLAM dan MUSLIM
seperti pada awal diwahyukan Allah Swt. melainkan telah menjadi agama-agama
yang bertentangan dengan ajaran asli agama-agama tersebut
dan di dalamnya telah muncul berbagai bentuk kemusyrikan (syirik).
Mengisyaratkan kepada kenyataan itulah
firman Allah Swt. berikut ini:
وَ مَنۡ یَّبۡتَغِ غَیۡرَ الۡاِسۡلَامِ دِیۡنًا فَلَنۡ یُّقۡبَلَ مِنۡہُ
ۚ وَ ہُوَ فِی الۡاٰخِرَۃِ مِنَ الۡخٰسِرِیۡنَ ﴿۸۶﴾
Dan barangsiapa mencari agama yang
bukan agama Islam, maka agama itu tidak akan pernah diterima
darinya, dan di akhirat ia termasuk orang-orang yang rugi. (Ali
‘Imraan [3]:86).
(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam
Farid
Tidak ada komentar:
Posting Komentar