Jumat, 23 Desember 2011

Tiga Pembelaan Allah Swt. dengan Khaataman-Nabiyyiin


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ




HUBUNGAN  NABI YUSUF A.S. 
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
  
Bagian V

Tentang

  Tiga Pembelaan Allah Swt. dengan Khaataman-Nabiyyiin


Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma

مَا کَانَ مُحَمَّدٌ اَبَاۤ  اَحَدٍ مِّنۡ رِّجَالِکُمۡ وَ لٰکِنۡ رَّسُوۡلَ اللّٰہِ وَ خَاتَمَ  النَّبِیّٖنَ ؕ وَ  کَانَ اللّٰہُ  بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمًا ﴿٪۴۱
Muhammad sekali-kali bukan  bapak salah seorang laki-laki di antara laki-laki  kamu,  tetapi ia adalah Rasul Allah dan Khaataman-nabiyyiin,  dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al-Ahzab [33]:41).

Dalam  Bab-bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai hubungan tujuan utama penciptaan alam semesta dengan Nabi Besar Muhammad saw. – yang merupakan Mahkota seluruh makhluk    – sehingga dari seluruh Rasul Allah, baik yang diutus sebelum beliau saw.  mau pun yang diutus sesudah beliau saw. (QS.7:35-37; QS.62:3-5)  hanya  Nabi Besar Muhammad saw. sajalah yang diberi gelar Khaataman-Nabiyyin oleh Allah Swt. (QS.33:41).
      Dengan demikian jelaslah bahwa asbabun-nuzul Surah Al-Ahzab ayat 41  sehubungan dengan dibolehkannya seseorang menikahi janda (bekas istri) “anak-angkatnya” memberikan pengertian  bahwa gelak Khaataman-Nabiyyiin  bukan sekedar berarti penutup nabi-nabi sebagaimana yang umumnya difahami karena dalam ayat tersebut terdapat pembelaan berlapis Allah Swt. terhadap akumulasi cemoohan bangsa Arab Jahiliyah mulai dari mengatakan bahwa  Nabi Besar Muhammad saw. adalah seorang abtar (terputus keturunannya) -- karena semua anak laki-laki beliau meninggal dunia  pada waktu  masih kecil -- tuduhan yang kedua adalah fitnah bahwa Nabi Besar Muhammad saw. telah melanggar istiadat bangsa Arab,   karena telah menikahi janda (bekas istri) anak-angkatnya sendiri, yaitu Siti Zainab r.a.  (QS.33:40), padahal menurut mereka  kedudukan anak-angkat sama dengan anak-kandung, sedangkan menurut Allah Swt. tidak sama (QS.33:6-7).

Pembelaan Allah Swt.  yang Pertama

      Terhadap puncak dari akumulasi berbagai tuduhan dusta  tersebut Allah Swt. memberikan pembelaan berlapis, firman-Nya:
مَا کَانَ مُحَمَّدٌ اَبَاۤ  اَحَدٍ مِّنۡ رِّجَالِکُمۡ وَ لٰکِنۡ رَّسُوۡلَ اللّٰہِ وَ خَاتَمَ  النَّبِیّٖنَ ؕ وَ  کَانَ اللّٰہُ  بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمًا ﴿٪۴۱
Muhammad sekali-kali bukan  bapak salah seorang laki-laki di antara laki  kamu,  tetapi ia adalah Rasul Allah dan Khaataman-nabiyyiin,  dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al-Ahzab [33]:41).
Dalam ayat tersebut Allah Swt. memberikan jawaban:
مَا کَانَ مُحَمَّدٌ اَبَاۤ  اَحَدٍ مِّنۡ رِّجَالِکُمۡ
Muhammad sekali-kali bukan  bapak salah seorang laki-laki di antara laki  kamu”.
Yakni: “Hai orang-orang kafir, kalian mengetahui bahwa semua anak laki-laki Rasulullah saw. telah wafat di masa kecil, sehingga kalian telah menuduhnya sebagai seorang abtar (yang terputus keturunannya), dan kalian pun mengetahui bahwa Zaid bin Haritsah hanyalah seseorang yang diangkat anak oleh Muhammad Rasulullah saw., sehingga sesuai dengan adat istiadat kalian Rasulullah saw. sempat mengumumkan kepada masyarakat bahwa sejak Zaid bin Haritsah dimerdekakannya  sebagai sebagai budak lalu  dijadikan    sebagai anak angkatnya, sehingga  nama Zaid bin Haritsah menjadi Zaid bin Muhammad.
       Namun  adat istiadat jahiliyah  kalian itu sama sekali dusta, karena kedudukan anak-angkat tidak sama dengan kedudukan anak-kandung, sebab anak-angkat tidak memiliki hubungan darah dengan ayah-angkatnya seperti halnya dengan anak-kandung. Aku adalah Tuhan Yang Maha Mengetahui sedangkan kalian sama sekali tidak mengetahui apa pun:
مَا جَعَلَ اللّٰہُ  لِرَجُلٍ مِّنۡ قَلۡبَیۡنِ فِیۡ جَوۡفِہٖ ۚ وَ مَا جَعَلَ  اَزۡوَاجَکُمُ الِّٰٓیۡٔ  تُظٰہِرُوۡنَ مِنۡہُنَّ اُمَّہٰتِکُمۡ ۚ وَ مَا جَعَلَ  اَدۡعِیَآءَکُمۡ  اَبۡنَآءَکُمۡ ؕ ذٰلِکُمۡ قَوۡلُکُمۡ بِاَفۡوَاہِکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ یَقُوۡلُ الۡحَقَّ  وَ ہُوَ  یَہۡدِی  السَّبِیۡلَ ﴿۵۴ اُدۡعُوۡہُمۡ لِاٰبَآئِہِمۡ ہُوَ  اَقۡسَطُ عِنۡدَ اللّٰہِ ۚ فَاِنۡ لَّمۡ تَعۡلَمُوۡۤا اٰبَآءَہُمۡ فَاِخۡوَانُکُمۡ فِی الدِّیۡنِ وَ مَوَالِیۡکُمۡ ؕ وَ لَیۡسَ عَلَیۡکُمۡ جُنَاحٌ فِیۡمَاۤ  اَخۡطَاۡتُمۡ بِہٖ  ۙ  وَ لٰکِنۡ مَّا تَعَمَّدَتۡ قُلُوۡبُکُمۡ ؕ وَ  کَانَ اللّٰہُ  غَفُوۡرًا  رَّحِیۡمًا ﴿۶
Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua hati dalam dadanya, dan Dia sekali-kali tidak pula menjadikan istri-istrimu  yang kamu menjauhi mereka dengan menyebut mereka ibu adalah ibu-ibumu yang hakiki, dan Dia tidak pula men-jadikan anak-anak angkatmu  seba-gai anak-anakmu. Yang demikian itu hanyalah ucapanmu dengan mulutmu. Dan Allah mengatakan yang haq, dan Dia memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.   Panggillah mereka dengan nama ayah-ayah mereka, hal itu lebih adil di sisi Allah. Tetapi jika kamu tidak mengetahui bapak mereka maka mereka adalah saudara-saudara kamu dalam agama dan sahabat-sahabatmu. Dan tidak ada dosa atasmu  mengenai kesalahan yang telah kamu kerjakan dalam urusan ini, tetapi kamu diminta pertanggung-jawaban atas apa yang sengaja disengaja hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Al-Ahzab [33]:5-6).

Pembelaan Allah Swt. yang kedua
وَ لٰکِنۡ رَّسُوۡلَ اللّٰہِ
tetapi ia adalah Rasul Allah”.
Yakni: Hai orang-orang kafir, kalian sendiri yang menjadi saksi atas kejujuran Muhammad Rasulullah saw.  sebelum ia mendakwaan diri sebagai Rasul Allah, sehingga kalian sendiri memberi dia gelar “Al-Amin”. Tetapi ketika atas perintah-Ku dia mendakwakan diri sebagai Rasul Allah -- sebagai pengabulan  doa yang dipanjatkan oelh leluhur kalian Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Isma’il a.s. ketika membangun kembali Ka’bah (Baitullah  - QS.2:128-130)  -- lalu kalian mendustakan pendakwaannya.
      Jika demikain berarti gelar “Al-Amin” yang kalian berikan kepadanya pun gelar dusta, karena bagaimana mungkin Muhammad yang sebelum mendakwakan  diri sebagai Rasul Allah tidak pernah berkata dusta terhadap sesama manusia, tetapi tiba-tiba ia berani berdusta  terhadap-Ku? Tidakkah kalian memiliki akal?
قُلۡ لَّوۡ شَآءَ اللّٰہُ مَا تَلَوۡتُہٗ عَلَیۡکُمۡ  وَ لَاۤ اَدۡرٰىکُمۡ بِہٖ ۫ۖ فَقَدۡ لَبِثۡتُ فِیۡکُمۡ عُمُرًا مِّنۡ  قَبۡلِہٖ ؕ اَفَلَا  تَعۡقِلُوۡنَ ﴿۱۷  فَمَنۡ  اَظۡلَمُ  مِمَّنِ افۡتَرٰی عَلَی اللّٰہِ  کَذِبًا اَوۡ کَذَّبَ بِاٰیٰتِہٖ ؕ اِنَّہٗ  لَا یُفۡلِحُ الۡمُجۡرِمُوۡنَ ﴿۱۸

Katakanlah: “Seandainya  Allah menghendaki,  aku sama sekali tidak akan  membacakannya (Al-Quran) kepada kamu dan tidak pula Dia akan memberitahukan mengenainya kepadamu. Maka sungguh sebelum ini aku telah tinggal bersama kamu dalam masa yang panjang, tidakkah kamu mempergunakan akal?”  Maka  siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan suatu dusta terhadap Allah atau mendustakan Tanda-tanda-Nya? Sesungguhnya orang-orang berdosa  tidak akan berhasil.” (Yunus [10]:17-18).
      Ayat 17 mengandung batu ujian yang amat jitu untuk menguji kebenaran seseorang yang mengaku dirinya seorang nabi. Bila kehidupan seorang nabi sebelum dakwa kenabiannya menampakkan kejujuran dan ketulusan hati yang bertaraf luar biasa tingginya, dan di antara masa itu dengan dakwa kenabiannya tidak ada masa-antara yang dapat memberikan kesan  bahwa beliau telah jatuh dari keutamaan akhlak yang tinggi tarafnya itu, maka dakwa kenabiannya harus diterima sebagai dakwa orang yang tinggi akhlaknya, orang jujur, dan benar.
     Tentu saja seseorang yang terbiasa kepada suatu sikap atau tingkah-laku tertentu disebabkan adat-kebiasaannya atau tabiatnya, akan memerlukan waktu yang lama untuk mengadakan perubahan besar dalam dirinya untuk menjadi orang baik atau orang buruk, karena itu bagaimanakah Nabi Besar Muhammad saw.   tiba-tiba dapat berubah menjadi seorang penipu, padahal sepanjang kehidupan beliau saw. sebelum dakwa kenabian, beliau saw. adalah orang yang tidak ada taranya dalam kejujuran dan kelurusan sehingga kaumnya memberi gelar Al-Amin?
  Ayat 18  menjelaskan dua kebenaran yang kekal: (a) Orang-orang yang mengada-adakan dusta mengenai Allah Swt.   dan orang-orang yang menolak serta menentang rasul-rasul-Nya sama sekali tidak akan luput dari hukuman Tuhan; (b) Pendusta-pendusta dan nabi-nabi palsu tidak dapat berhasil dalam tujuannya.

Pembelaan Allah Swt. yang ketiga

Selanjutnya Allah Swt. berfirman:

وَ خَاتَمَ  النَّبِیّٖنَ
Dan Khaataman-Nabiyyiin.” 
Yakni:Hai orang-orang kafir, kalian mengetahui bahwa sebelum  Muhammad saw. Aku  angkat sebagai Rasul Allah sangat banyak para nabi Allah telah Aku bangkitkan di kalangan kaum-kaum terdahulu (QS.7:35-37), namun gelar Khaataman-Nabiyyiin hanya diberikan kepada  Muhammad Rasulullah saw.,  sebab ia merupakan puncak kesempurnaan dari penciptaan alam semesta --   “Law laka lamaa khalaqtul aflaaq --  kalau bukan bagi (karena) engkau, Muhammad saw., Aku sekali-kali tidak akan menciptakan alam semesta.”
      Jadi, hai orang-orang kafir,  bagaimana mungkin wujud suci Muhammad Rasulullah saw. yang telah mencapai puncak kesempurnaan martabat akhlak dan ruhani seperti itu – bahkan meraih puncak martabat kenabian sebagai  Khaataman-Nabiyyiin -- melakukan tindakan-tindakan yang  dalam  pandangan kalian merupakan aib atau mengada-ada dusta atas nama Allah?  Bagaimana mungkin Aku salah menetapkan dia sebagai uswatun hasanah (suri terladan terbaik – QS.33:22) bagi seluruh manusia?
لَقَدۡ کَانَ لَکُمۡ  فِیۡ رَسُوۡلِ اللّٰہِ  اُسۡوَۃٌ حَسَنَۃٌ  لِّمَنۡ کَانَ یَرۡجُوا اللّٰہَ وَ الۡیَوۡمَ  الۡاٰخِرَ  وَ ذَکَرَ  اللّٰہَ  کَثِیۡرًا ﴿ؕ۲۲
Sungguh dalam  diri Rasulullah benar-benar terdapat suri teladan yang sebaik-baiknya  bagi kamu, yaitu bagi  orang yang mengharapkan Allah dan Hari Akhir,  dan bagi yang banyak mengingat Allah. (Al-Ahzab [33]:22).
     Bagaimana mungkin Aku  keliru menjadikan dia  satu-satunya ikutan   yang dapat menyampaikan siapa pun yang mengikuti sunnahnya dan suri teladannya bertemu dengan-Ku?
قُلۡ  اِنۡ کُنۡتُمۡ تُحِبُّوۡنَ اللّٰہَ فَاتَّبِعُوۡنِیۡ یُحۡبِبۡکُمُ اللّٰہُ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ ذُنُوۡبَکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ ﴿۳۲
Katakanlah:”Jika kamu benar-benar mencintai Allah maka ikutilah  aku,  Allah pun akan mencintaimu dan akan mengampuni dosa-dosamu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Aali ‘Imran [3]:32).
      Hai orang-orang kafir! Benar, bahwa sebelum Muhammad Rasulullah saw. pun Aku telah mengutus ribuan bahkan ratusan ribu   nabi-nabi kepada kaum-kaum purbakala di berbagai wilayah  dunia ini,  tetapi para nabi Allah yang Aku utus bersifat nabi mustaqil yakni kenabian yang sepenuhnya kehendak-Ku mengangkatnya  menjadi nabi (rasul), contohnya Harun  Aku jadikannya sebagai  nabi atas permintaan Musa a.s.  (QS.26:11-14; QS.28:34-37) padahal ketika itu Taurat  belum aku berikan kepada Musa a.s. (QS.7:143-146).
    Ruang ringkup tugas  nabi-nabi  mustaqil tersebut bersifat kaumi, yakni untuk kaumnya masing-masing, misalnya  kenabian Nabi Musa a.s. sampai dengan kenabian Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. hanyalah untuk Bani Israil saja (QS.61:6-7). Ada 2 mavam nabi mustaqil, yakni nabi mustaqil yang membawa syariat, contohnya Nabi Musa a.s., dan ada nabi mustaqil yang tidak membawa syariat, contohnya Nabi Harun a.s. sampai dengan Nabi Isa Ibu Maryam a.s.,
    Tetapi sejak Aku menetapkan Muhammad   sebagai Rasul Allah yang berpangkat Khaataman-Nabiyyyin (QS.33:41) yang kepadanya Aku mewahyukan syariat terakhir dan tersempurna yakni agama Islam (Al-Quran – QS.5:4)  serta missi kenabiannya adalah untuk seluruh umat manusia sampai Hari Kiamat (QS.7:159; QS.21:108; QS.25:2; QS.34:29), maka sejak pengutusannya sifat kenabian yang terus berlanjut setelahnya  (QS.7:35-37)  bukan lagi i kenabian mustaqil melainkan  kenabian ummati -- yakni  meraih derajat kenabian semata-mata sebagai buah ketaatan sempurna kepada Nabi Besar Muhammad saw (QS.3:32) --  atau kenabian dzilli atau buruzi (bayangan – QS.62:3-5),  seperti halnya bayangan orang yang berdiri di depan cermin, firman-Nya:
وَ مَنۡ یُّطِعِ اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ فَاُولٰٓئِکَ مَعَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ ۚ وَ حَسُنَ اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا ﴿ؕ۷۰  ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا ﴿٪۷۱
Dan barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul ini maka mereka akan termasuk di antara orang-orang  yang Allah memberi nikmat kepada mereka yakni: nabi-nabi, shiddiq-shiddiq, syahid-syahid, dan orang-orang shalih, dan mereka  itulah sahabat yang sejati.   Itulah karunia dari Allah,  dan cukuplah Allah Yang Maha Mengetahui. (Al-Nisaa [4]:70-71).

Menghina Kemuliaan Nabi Besar Muhammad Saw.

      Oleh karena itu jika Khaataman-Nabiyyin  hanya diartikan sebagai tertutup rapatnya semua bentuk kenabian ­– sebagaimana yang difahami oleh umumnya umat Islam --  maka bukan saja  pengertian tersebut menghilangkan pembelaan Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhammad saw., bahkan menghinakan kemuliaan akhlak dan ruhani serta kenabian beliau saw., sebab – na’udzubillah min  dzaalik – kedatangan beliau saw. bukan menjadi rahmatan- lil-‘aalamiin (QS.21:108) tetapi menjadi laknat bagi alam, sebab menurut mereka semua macam kenabian dan semua  macam wahyu Ilahi telah tertutup rapat dengan  pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. sebagai Khaataman-Nabiyyiin. Benarkah demikian makna Khaataman-Nabiyyiin Nabi Besar Muhammad saw.?
      Kalau pengertian mereka mengenai Khaataman- Nabiyyiin seperti itu maka semua tuduhan orang-orang kafir Quraisy Mekkah benar adanya termasuk tuduhan sebagai abtar (yang terputus keturunannya), padahal dengan tegas Allah Swt. menyatakan bahwa justru mereka itulah yang akan abtar, firman-Nya:
 بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿۱  اِنَّاۤ  اَعۡطَیۡنٰکَ  الۡکَوۡثَرَ ؕ﴿۲   فَصَلِّ  لِرَبِّکَ وَ انۡحَرۡ ؕ﴿۳  اِنَّ شَانِئَکَ ہُوَ الۡاَبۡتَرُ ٪﴿۵
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Sesungguhnya Kami telah  menganugerahkan kepada engkau ber-limpah-limpah kebaikan.  Maka shalatlah  bagi Tuhan eng-kau dan.   Sesungguhnya musuh engkau, dialah ayang  tanpa keturunan (Al-Kautsar [108]:1-5).
    Dengan  demikian  ketiga tingkatan pembelaan Allah Swt.   menjadi  semakin kokoh lagi dan tidak terbantahkan

(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid

Tidak ada komentar:

Posting Komentar