بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
HUBUNGAN NABI YUSUF A.S.
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
Bagian V
Tentang
Tiga Pembelaan Allah Swt. dengan Khaataman-Nabiyyiin
Oleh
Ki Langlang
Buana Kusuma
مَا کَانَ مُحَمَّدٌ
اَبَاۤ اَحَدٍ مِّنۡ رِّجَالِکُمۡ وَ
لٰکِنۡ رَّسُوۡلَ اللّٰہِ وَ خَاتَمَ
النَّبِیّٖنَ ؕ وَ کَانَ
اللّٰہُ بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمًا ﴿٪۴۱﴾
Muhammad sekali-kali bukan bapak salah seorang laki-laki di antara laki-laki kamu, tetapi
ia adalah Rasul Allah dan Khaataman-nabiyyiin, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al-Ahzab
[33]:41).
Dalam Bab-bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai
hubungan tujuan utama penciptaan alam semesta dengan Nabi Besar Muhammad saw. –
yang merupakan Mahkota seluruh makhluk
– sehingga dari seluruh Rasul Allah, baik yang diutus sebelum
beliau saw. mau pun yang diutus sesudah
beliau saw. (QS.7:35-37; QS.62:3-5)
hanya Nabi Besar Muhammad saw.
sajalah yang diberi gelar Khaataman-Nabiyyin oleh Allah Swt. (QS.33:41).
Dengan
demikian jelaslah bahwa asbabun-nuzul Surah Al-Ahzab ayat 41 sehubungan dengan dibolehkannya seseorang menikahi
janda (bekas istri) “anak-angkatnya” memberikan pengertian bahwa gelak Khaataman-Nabiyyiin bukan sekedar berarti penutup nabi-nabi
sebagaimana yang umumnya difahami karena dalam ayat tersebut terdapat pembelaan
berlapis Allah Swt. terhadap akumulasi cemoohan bangsa Arab Jahiliyah mulai
dari mengatakan bahwa Nabi Besar
Muhammad saw. adalah seorang abtar (terputus keturunannya) -- karena
semua anak laki-laki beliau meninggal dunia
pada waktu masih kecil -- tuduhan
yang kedua adalah fitnah bahwa Nabi Besar Muhammad saw. telah melanggar
istiadat bangsa Arab, karena telah menikahi
janda (bekas istri) anak-angkatnya sendiri, yaitu Siti Zainab r.a. (QS.33:40), padahal menurut mereka kedudukan anak-angkat sama dengan anak-kandung,
sedangkan menurut Allah Swt. tidak sama (QS.33:6-7).
Pembelaan
Allah Swt. yang Pertama
Terhadap puncak dari akumulasi berbagai tuduhan
dusta tersebut Allah Swt. memberikan
pembelaan berlapis, firman-Nya:
مَا کَانَ مُحَمَّدٌ اَبَاۤ
اَحَدٍ مِّنۡ رِّجَالِکُمۡ وَ لٰکِنۡ رَّسُوۡلَ اللّٰہِ وَ خَاتَمَ النَّبِیّٖنَ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ
بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمًا ﴿٪۴۱﴾
Muhammad sekali-kali bukan bapak salah seorang laki-laki di antara
laki kamu, tetapi ia adalah Rasul Allah dan Khaataman-nabiyyiin,
dan Allah Maha Mengetahui segala
sesuatu. (Al-Ahzab [33]:41).
Dalam ayat tersebut Allah Swt. memberikan jawaban:
مَا کَانَ مُحَمَّدٌ
اَبَاۤ اَحَدٍ مِّنۡ رِّجَالِکُمۡ
“Muhammad
sekali-kali bukan bapak salah seorang
laki-laki di antara laki kamu”.
Yakni: “Hai orang-orang kafir, kalian mengetahui bahwa semua anak laki-laki
Rasulullah saw. telah wafat di masa kecil, sehingga kalian telah menuduhnya
sebagai seorang abtar (yang terputus keturunannya), dan kalian pun
mengetahui bahwa Zaid bin Haritsah hanyalah seseorang yang diangkat anak oleh
Muhammad Rasulullah saw., sehingga sesuai dengan adat istiadat kalian Rasulullah saw.
sempat mengumumkan kepada masyarakat bahwa sejak Zaid bin Haritsah
dimerdekakannya sebagai sebagai budak
lalu dijadikan sebagai anak angkatnya, sehingga nama Zaid bin Haritsah menjadi Zaid
bin Muhammad.
Namun adat istiadat jahiliyah kalian itu sama sekali dusta, karena
kedudukan anak-angkat tidak sama dengan kedudukan anak-kandung, sebab
anak-angkat tidak memiliki hubungan darah dengan ayah-angkatnya
seperti halnya dengan anak-kandung. Aku adalah Tuhan Yang Maha
Mengetahui sedangkan kalian sama sekali tidak mengetahui apa pun:
مَا
جَعَلَ اللّٰہُ لِرَجُلٍ مِّنۡ قَلۡبَیۡنِ
فِیۡ جَوۡفِہٖ ۚ وَ مَا جَعَلَ
اَزۡوَاجَکُمُ الِّٰٓیۡٔ
تُظٰہِرُوۡنَ مِنۡہُنَّ اُمَّہٰتِکُمۡ ۚ وَ مَا جَعَلَ اَدۡعِیَآءَکُمۡ اَبۡنَآءَکُمۡ ؕ ذٰلِکُمۡ قَوۡلُکُمۡ
بِاَفۡوَاہِکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ یَقُوۡلُ الۡحَقَّ
وَ ہُوَ یَہۡدِی السَّبِیۡلَ ﴿۵۴﴾ اُدۡعُوۡہُمۡ لِاٰبَآئِہِمۡ ہُوَ اَقۡسَطُ عِنۡدَ اللّٰہِ ۚ فَاِنۡ لَّمۡ
تَعۡلَمُوۡۤا اٰبَآءَہُمۡ فَاِخۡوَانُکُمۡ فِی الدِّیۡنِ وَ مَوَالِیۡکُمۡ ؕ وَ
لَیۡسَ عَلَیۡکُمۡ جُنَاحٌ فِیۡمَاۤ
اَخۡطَاۡتُمۡ بِہٖ ۙ وَ لٰکِنۡ مَّا تَعَمَّدَتۡ قُلُوۡبُکُمۡ ؕ
وَ کَانَ اللّٰہُ غَفُوۡرًا
رَّحِیۡمًا ﴿۶﴾
Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi
seseorang dua hati dalam dadanya, dan Dia sekali-kali tidak pula
menjadikan istri-istrimu yang kamu
menjauhi mereka dengan menyebut mereka ibu adalah ibu-ibumu
yang hakiki, dan Dia tidak pula men-jadikan anak-anak angkatmu
seba-gai anak-anakmu.
Yang demikian itu hanyalah ucapanmu dengan mulutmu. Dan Allah
mengatakan yang haq, dan Dia memberi petunjuk kepada jalan yang
lurus. Panggillah mereka dengan nama ayah-ayah
mereka, hal itu lebih adil di sisi Allah. Tetapi jika kamu tidak
mengetahui bapak mereka maka mereka adalah saudara-saudara kamu dalam
agama dan sahabat-sahabatmu. Dan tidak ada dosa atasmu mengenai kesalahan yang telah kamu
kerjakan dalam urusan ini, tetapi kamu diminta pertanggung-jawaban atas apa
yang sengaja disengaja hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.
(Al-Ahzab [33]:5-6).
Pembelaan
Allah Swt. yang kedua
وَ لٰکِنۡ رَّسُوۡلَ
اللّٰہِ
“tetapi
ia adalah Rasul Allah”.
Yakni: Hai orang-orang kafir, kalian sendiri yang
menjadi saksi atas kejujuran Muhammad Rasulullah saw. sebelum ia mendakwaan diri sebagai Rasul
Allah, sehingga kalian sendiri memberi dia gelar “Al-Amin”.
Tetapi ketika atas perintah-Ku dia mendakwakan diri sebagai Rasul Allah
-- sebagai pengabulan doa yang dipanjatkan
oelh leluhur kalian Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Isma’il a.s. ketika membangun
kembali Ka’bah (Baitullah -
QS.2:128-130) -- lalu kalian mendustakan pendakwaannya.
Jika demikain berarti gelar “Al-Amin”
yang kalian berikan kepadanya pun gelar dusta, karena bagaimana mungkin
Muhammad yang sebelum mendakwakan diri
sebagai Rasul Allah tidak pernah berkata dusta terhadap sesama
manusia, tetapi tiba-tiba ia berani berdusta terhadap-Ku? Tidakkah kalian memiliki akal?
قُلۡ
لَّوۡ شَآءَ اللّٰہُ مَا تَلَوۡتُہٗ عَلَیۡکُمۡ
وَ لَاۤ اَدۡرٰىکُمۡ بِہٖ ۫ۖ فَقَدۡ لَبِثۡتُ فِیۡکُمۡ عُمُرًا مِّنۡ قَبۡلِہٖ ؕ اَفَلَا تَعۡقِلُوۡنَ ﴿۱۷﴾ فَمَنۡ اَظۡلَمُ
مِمَّنِ افۡتَرٰی عَلَی اللّٰہِ
کَذِبًا اَوۡ کَذَّبَ بِاٰیٰتِہٖ ؕ اِنَّہٗ لَا یُفۡلِحُ الۡمُجۡرِمُوۡنَ ﴿۱۸﴾
Katakanlah: “Seandainya
Allah menghendaki, aku
sama sekali tidak akan membacakannya
(Al-Quran) kepada kamu dan tidak pula Dia akan memberitahukan mengenainya
kepadamu. Maka sungguh sebelum ini aku telah tinggal bersama kamu dalam
masa yang panjang, tidakkah kamu mempergunakan akal?” Maka siapakah yang lebih zalim daripada
orang-orang yang mengada-adakan suatu dusta terhadap Allah atau mendustakan
Tanda-tanda-Nya? Sesungguhnya orang-orang berdosa tidak akan berhasil.” (Yunus
[10]:17-18).
Ayat
17 mengandung batu ujian yang amat jitu untuk menguji kebenaran seseorang
yang mengaku dirinya seorang nabi. Bila kehidupan seorang nabi sebelum
dakwa kenabiannya menampakkan kejujuran dan ketulusan hati yang
bertaraf luar biasa tingginya, dan di antara masa itu dengan dakwa
kenabiannya tidak ada masa-antara yang dapat memberikan kesan bahwa beliau telah jatuh dari keutamaan
akhlak yang tinggi tarafnya itu, maka dakwa kenabiannya harus diterima
sebagai dakwa orang yang tinggi akhlaknya, orang jujur, dan benar.
Tentu
saja seseorang yang terbiasa kepada suatu sikap atau tingkah-laku tertentu
disebabkan adat-kebiasaannya atau tabiatnya, akan memerlukan waktu yang lama
untuk mengadakan perubahan besar dalam dirinya untuk menjadi orang baik atau
orang buruk, karena itu bagaimanakah Nabi Besar Muhammad saw. tiba-tiba dapat berubah menjadi seorang
penipu, padahal sepanjang kehidupan beliau saw. sebelum dakwa kenabian,
beliau saw. adalah orang yang tidak ada taranya dalam kejujuran dan kelurusan
sehingga kaumnya memberi gelar Al-Amin?
Ayat 18
menjelaskan dua kebenaran yang kekal: (a) Orang-orang yang mengada-adakan
dusta mengenai Allah Swt. dan
orang-orang yang menolak serta menentang rasul-rasul-Nya sama
sekali tidak akan luput dari hukuman Tuhan; (b) Pendusta-pendusta dan
nabi-nabi palsu tidak dapat berhasil dalam tujuannya.
Pembelaan Allah Swt. yang ketiga
Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
وَ خَاتَمَ النَّبِیّٖنَ
“Dan Khaataman-Nabiyyiin.”
Yakni:Hai orang-orang kafir, kalian mengetahui bahwa sebelum Muhammad
saw. Aku angkat sebagai Rasul Allah
sangat banyak para nabi Allah telah Aku bangkitkan di kalangan kaum-kaum
terdahulu (QS.7:35-37), namun gelar Khaataman-Nabiyyiin hanya
diberikan kepada Muhammad Rasulullah
saw., sebab ia merupakan puncak
kesempurnaan dari penciptaan alam semesta -- “Law laka lamaa khalaqtul aflaaq
-- kalau
bukan bagi (karena) engkau, Muhammad saw., Aku sekali-kali tidak akan
menciptakan alam semesta.”
Jadi,
hai orang-orang kafir, bagaimana mungkin
wujud
suci Muhammad
Rasulullah saw. yang telah mencapai puncak kesempurnaan martabat akhlak dan ruhani seperti itu –
bahkan meraih puncak martabat kenabian sebagai Khaataman-Nabiyyiin -- melakukan
tindakan-tindakan yang dalam pandangan kalian merupakan aib atau mengada-ada dusta
atas nama Allah? Bagaimana mungkin Aku salah menetapkan dia
sebagai uswatun hasanah (suri terladan terbaik – QS.33:22) bagi seluruh manusia?
لَقَدۡ
کَانَ لَکُمۡ فِیۡ رَسُوۡلِ اللّٰہِ اُسۡوَۃٌ حَسَنَۃٌ لِّمَنۡ کَانَ یَرۡجُوا اللّٰہَ وَ
الۡیَوۡمَ الۡاٰخِرَ وَ ذَکَرَ
اللّٰہَ کَثِیۡرًا ﴿ؕ۲۲﴾
Sungguh dalam diri
Rasulullah benar-benar terdapat suri teladan yang sebaik-baiknya bagi kamu, yaitu bagi orang yang mengharapkan Allah dan Hari
Akhir, dan bagi yang
banyak mengingat Allah. (Al-Ahzab [33]:22).
Bagaimana mungkin Aku keliru menjadikan dia satu-satunya ikutan
yang dapat menyampaikan siapa pun yang mengikuti sunnahnya dan suri teladannya bertemu dengan-Ku?
قُلۡ اِنۡ کُنۡتُمۡ
تُحِبُّوۡنَ اللّٰہَ فَاتَّبِعُوۡنِیۡ یُحۡبِبۡکُمُ اللّٰہُ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ
ذُنُوۡبَکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ غَفُوۡرٌ
رَّحِیۡمٌ ﴿۳۲﴾
Katakanlah:”Jika kamu benar-benar mencintai Allah maka ikutilah
aku, Allah pun akan mencintaimu dan akan
mengampuni dosa-dosamu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Aali
‘Imran [3]:32).
Hai orang-orang kafir! Benar, bahwa sebelum
Muhammad Rasulullah saw. pun Aku telah mengutus ribuan bahkan ratusan ribu nabi-nabi kepada kaum-kaum purbakala di
berbagai wilayah dunia ini, tetapi para nabi Allah yang Aku utus
bersifat nabi mustaqil yakni kenabian yang sepenuhnya kehendak-Ku
mengangkatnya menjadi nabi
(rasul), contohnya Harun Aku
jadikannya sebagai nabi atas permintaan
Musa a.s. (QS.26:11-14; QS.28:34-37) padahal ketika itu Taurat belum aku
berikan kepada Musa a.s. (QS.7:143-146).
Ruang ringkup tugas nabi-nabi mustaqil tersebut bersifat kaumi, yakni untuk kaumnya masing-masing, misalnya kenabian Nabi Musa a.s. sampai dengan kenabian Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. hanyalah untuk Bani Israil saja (QS.61:6-7). Ada 2 mavam nabi mustaqil, yakni nabi mustaqil yang membawa syariat, contohnya Nabi Musa a.s., dan ada nabi mustaqil yang tidak membawa syariat, contohnya Nabi Harun a.s. sampai dengan Nabi Isa Ibu Maryam a.s.,
Ruang ringkup tugas nabi-nabi mustaqil tersebut bersifat kaumi, yakni untuk kaumnya masing-masing, misalnya kenabian Nabi Musa a.s. sampai dengan kenabian Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. hanyalah untuk Bani Israil saja (QS.61:6-7). Ada 2 mavam nabi mustaqil, yakni nabi mustaqil yang membawa syariat, contohnya Nabi Musa a.s., dan ada nabi mustaqil yang tidak membawa syariat, contohnya Nabi Harun a.s. sampai dengan Nabi Isa Ibu Maryam a.s.,
Tetapi sejak Aku
menetapkan Muhammad sebagai Rasul
Allah yang berpangkat Khaataman-Nabiyyyin (QS.33:41) yang kepadanya
Aku mewahyukan syariat terakhir dan tersempurna yakni agama
Islam (Al-Quran – QS.5:4) serta
missi kenabiannya adalah untuk seluruh umat manusia sampai Hari
Kiamat (QS.7:159; QS.21:108; QS.25:2; QS.34:29), maka sejak pengutusannya sifat kenabian
yang terus berlanjut setelahnya (QS.7:35-37) bukan lagi i kenabian mustaqil melainkan kenabian ummati -- yakni meraih derajat kenabian semata-mata sebagai buah ketaatan sempurna kepada Nabi
Besar Muhammad saw (QS.3:32) -- atau
kenabian dzilli atau buruzi (bayangan – QS.62:3-5), seperti halnya bayangan orang yang
berdiri di depan cermin, firman-Nya:
وَ
مَنۡ یُّطِعِ اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ فَاُولٰٓئِکَ مَعَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ
اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ
الصّٰلِحِیۡنَ ۚ وَ حَسُنَ اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا ﴿ؕ۷۰﴾ ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی
بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا ﴿٪۷۱﴾
Dan barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul ini maka mereka
akan termasuk di antara orang-orang yang Allah memberi nikmat kepada
mereka yakni: nabi-nabi, shiddiq-shiddiq, syahid-syahid, dan orang-orang
shalih, dan mereka itulah
sahabat yang sejati. Itulah karunia dari Allah, dan cukuplah Allah Yang Maha Mengetahui. (Al-Nisaa
[4]:70-71).
Menghina Kemuliaan Nabi Besar Muhammad Saw.
Oleh karena itu jika Khaataman-Nabiyyin hanya diartikan sebagai tertutup
rapatnya semua bentuk kenabian – sebagaimana yang difahami oleh
umumnya umat Islam -- maka bukan
saja pengertian tersebut menghilangkan pembelaan
Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhammad saw., bahkan menghinakan kemuliaan akhlak
dan ruhani serta kenabian beliau saw., sebab – na’udzubillah min dzaalik – kedatangan beliau saw. bukan
menjadi rahmatan- lil-‘aalamiin (QS.21:108) tetapi menjadi laknat
bagi alam, sebab menurut mereka semua macam kenabian dan semua macam wahyu Ilahi telah tertutup
rapat dengan pengutusan Nabi Besar
Muhammad saw. sebagai Khaataman-Nabiyyiin. Benarkah demikian makna Khaataman-Nabiyyiin
Nabi Besar Muhammad saw.?
Kalau pengertian mereka
mengenai Khaataman- Nabiyyiin seperti itu maka semua tuduhan
orang-orang kafir Quraisy Mekkah benar adanya termasuk tuduhan sebagai abtar
(yang terputus keturunannya), padahal dengan tegas Allah Swt. menyatakan bahwa
justru mereka itulah yang akan abtar, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ
الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿۱﴾ اِنَّاۤ
اَعۡطَیۡنٰکَ الۡکَوۡثَرَ ؕ﴿۲﴾ فَصَلِّ لِرَبِّکَ وَ انۡحَرۡ ؕ﴿۳﴾ اِنَّ شَانِئَکَ ہُوَ الۡاَبۡتَرُ
٪﴿۵﴾
Aku baca dengan
nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Sesungguhnya Kami telah menganugerahkan kepada engkau
ber-limpah-limpah kebaikan. Maka shalatlah bagi Tuhan eng-kau dan. Sesungguhnya
musuh engkau, dialah ayang
tanpa keturunan (Al-Kautsar [108]:1-5).
Dengan demikian
ketiga tingkatan pembelaan Allah Swt.
menjadi semakin kokoh lagi dan
tidak terbantahkan
(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam
Farid
Tidak ada komentar:
Posting Komentar