Selasa, 31 Januari 2012

Nabi Ya'qub a.s. Menangkap Isyarat Halus Nabi Yusuf a.s. dari Mesir


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ

 
HUBUNGAN  NABI YUSUF A.S. 
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
  
Bagian   XXXIII

Tentang
 
       Nabi Ya'qub a.s.   Menangkap Isyarat Halus
dari Nabi Yusuf a.s. dari Mesir 

  Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma  
 
وَ لَمَّا جَہَّزَہُمۡ بِجَہَازِہِمۡ قَالَ ائۡتُوۡنِیۡ بِاَخٍ  لَّکُمۡ  مِّنۡ اَبِیۡکُمۡ ۚ اَلَا تَرَوۡنَ اَنِّیۡۤ اُوۡفِی الۡکَیۡلَ وَ اَنَا خَیۡرُ الۡمُنۡزِلِیۡنَ ﴿۶۰  فَاِنۡ لَّمۡ  تَاۡتُوۡنِیۡ بِہٖ  فَلَا کَیۡلَ  لَکُمۡ  عِنۡدِیۡ  وَ لَا  تَقۡرَبُوۡنِ  ﴿۶۱
Dan ketika ia telah melengkapi mereka dengan persediaannya, ia berkata: “Bawalah kepadaku saudara seayahmu, tidakkah kamu melihat   sesungguhnya aku memberimu sukatan gandum yang penuh dan aku sebaik-baik penerima tamu?    “Tetapi jika kamu tidak membawanya kepadaku, maka tidak ada lagi dariku sukatan gandum bagimu, dan janganlah kamu mendekatiku.” (Yusuf [12]:60-61).

Dalam  bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai beberapa alasan saudara-saudara Nabi Yusuf a.s. tidak mengenali beliau ketika menghadap kepadanya,  yakni (1) karena penampilan secara fisik Nabi Yusuf a.s. yang jauh berbeda dengan apa yang ada dalam benak mereka tentang adik mereka itu ketika berada di Kanaan, dan (2) karena rasa dengki mereka terhadap Nabi Yusuf a.s. masih terdapat dalam hati mereka, firman-Nya:
وَ جَآءَ اِخۡوَۃُ یُوۡسُفَ فَدَخَلُوۡا عَلَیۡہِ فَعَرَفَہُمۡ  وَ ہُمۡ  لَہٗ  مُنۡکِرُوۡنَ ﴿۵۹
Dan saudara-saudara Yusuf datang  lalu menghadap kepadanya,  ia mengenal mereka, tetapi mereka itu tidak mengenalnya. (Yusuf [12]:59).
Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
وَ لَمَّا جَہَّزَہُمۡ بِجَہَازِہِمۡ قَالَ ائۡتُوۡنِیۡ بِاَخٍ  لَّکُمۡ  مِّنۡ اَبِیۡکُمۡ ۚ اَلَا تَرَوۡنَ اَنِّیۡۤ اُوۡفِی الۡکَیۡلَ وَ اَنَا خَیۡرُ الۡمُنۡزِلِیۡنَ ﴿۶۰  فَاِنۡ لَّمۡ  تَاۡتُوۡنِیۡ بِہٖ  فَلَا کَیۡلَ  لَکُمۡ  عِنۡدِیۡ  وَ لَا  تَقۡرَبُوۡنِ  ﴿۶۱
Dan tatkala ia (Yusuf) telah melengkapi mereka dengan  bahan makanan mereka, ia berkata: “Bawalah kepadaku saudara seayahmu, tidakkah kamu melihat  sesungguhnya aku memberimu sukatan gandum yang penuh dan aku sebaik-baik penerima tamu?    “Tetapi jika kamu tidak membawanya kepadaku, maka tidak ada lagi dariku sukatan gandum bagimu, dan janganlah kamu mendekatiku.” (Yusuf [12]:60-61).

Upaya Nabi Yusuf a.s. Mendatangkan Adiknya ke Mesir

        Nabi Ya’qub a.s. mempunyai 12 orang anak, Nabi Yusuf a.s. dan Benyamin dari istri yang bernama Rakhel, sedang 10 anak lainnya dari istri-istri yang lain. Nampaknya sebelum Nabi Yusuf a.s. memberikan bahan makanan yang mereka beli terlebih dulu telah terjadi perbincangan singkat antara Nabi Yusuf a.s. mereka mereka itu, sehingga ketika Nabi Yusuf a.s. telah memenuhi seluruh kebutuhan mereka lalu beliau meminta mereka untuk membawa serta adik mereka yang paling kecil (bungsu) maka mereka tidak  mencurigai. Menanggapi permintaan Nabi Yusuf a.s. tersebut mereka berkata, firman-Nya:
قَالُوۡا سَنُرَاوِدُ عَنۡہُ اَبَاہُ وَ اِنَّا لَفٰعِلُوۡنَ ﴿۷۲
Mereka menjawab: “Kami pasti akan membujuk ayahnya agar mau berpisah dengan dia dan sesungguhnya  kami niscaya akan mengerjakan  hal itu.” (Yusuf [12]:62).
      Nabi Yusuf a.s. sangat mengenal sifat-sifat tidak terpuji  saudara-saudara seyah tersebut, dan dari ucapan mereka  mengenai Benyamin: “Kami pasti akan membujuk ayahnya agar mau berpisah dengan dia”, Nabi Yusuf a.s. semakin yakin bahwa saudara-saudara tuanya tersebut tetap membenci beliau dan adik beliau, Benyamin,  dari perkataan mereka itu Nabi Yusuf a.s. mengetahui bahwa mereka tidak bersedia  mengakui Nabi Yusuf a.s. dan Benymin  sebagai “saudara-saudara mereka  seayah”.
    Terlebih  lagi perkataan mereka yang tidak mengucapkan insya Allah (jika Allah menghendaki)   -- melainkan menggunakan kata “sanuraawidu – kami  pasti akan membujuk” dan  kalimat innaa lafa’iluun – sesungguhnya kami niscaya akan mengerjakannya” mengandung indikasi bahwa mereka itu adalah orang-orang yang takabbur dan hanya untuk menyenangkan hati  nabi Yusuf a.s. saja.
     Untuk tujuan agar mereka melaksanakan pemintaannya maka Nabi Yusuf a.s. pun melakukan upaya yang akan membuat mereka mau tidak mau  akan melaksanakan pemintaan beliau, firman-Nya:
وَ  قَالَ لِفِتۡیٰنِہِ اجۡعَلُوۡا بِضَاعَتَہُمۡ فِیۡ رِحَالِہِمۡ لَعَلَّہُمۡ یَعۡرِفُوۡنَہَاۤ اِذَا انۡقَلَبُوۡۤا اِلٰۤی اَہۡلِہِمۡ لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ ﴿۶۳
Dan ia berkata kepada para pelayannya: “Masukkanlah kembali barang pembayaran mereka ke dalam kantung pelananya, supaya mereka mengenalnya kembali, apabila mereka telah pulang lagi kepada keluarganya, supaya mereka akan kembali lagi.” (Yusuf [12]:63).
     Upaya Nabi Yusuf a.s. berhasil baik, dan bahkan  agar permintaan mereka dikabulkan oleh Nabi Ya’qub a.s. maka mereka telah  bukan saja mengemukakan perkataan yang bernada “mengancam” --  “kita tidak akan mendapat lagi sukatan  serta menyebut Benyamin dengan  “saudara kami”,  serta seperti menjadi kebiasaan mereka yakni mengemukakan kata-kata yang meyakinkan “niscaya akan menjaganya”,   firman-Nya: 
فَلَمَّا رَجَعُوۡۤا اِلٰۤی اَبِیۡہِمۡ قَالُوۡا یٰۤاَبَانَا مُنِعَ مِنَّا الۡکَیۡلُ فَاَرۡسِلۡ مَعَنَاۤ  اَخَانَا نَکۡتَلۡ  وَ  اِنَّا لَہٗ  لَحٰفِظُوۡنَ ﴿۶۴
Maka tatkala mereka kembali kepada ayahnya mereka berkata: “Wahai ayah kami, untuk kemudian hari kita tidak akan mendapat lagi sukatan gandum  karena itu  kirimkanlah beserta kami saudara kami, supaya kita  mendapat sukatan,  dan sesungguhnya kami niscaya akan menjaganya.”  (Yusuf [12]:64).

Isyarat Halus Nabi Yusuf a.s. kepada Nabi Ya’qub a.s.

    Menanggapi permintaan mereka Nabi Ya’qub a.s. berkata sambil mengingatkan perbuatan mereka terhadap adik mereka, Nabi Yusuf a.s., yang juga mereka telah berkata “dan sesungguhnya kami pasti akan menjaganya “ (QS.12:13) namun pada kenyataannya tidak demikian, firman-Nya:
قَالَ ہَلۡ اٰمَنُکُمۡ عَلَیۡہِ اِلَّا کَمَاۤ اَمِنۡتُکُمۡ عَلٰۤی اَخِیۡہِ مِنۡ قَبۡلُ ؕ فَاللّٰہُ خَیۡرٌ حٰفِظًا ۪ وَّ ہُوَ اَرۡحَمُ الرّٰحِمِیۡنَ ﴿۶۵
Ia, Yaqub,  berkata: “Bagaimanakah aku akan mempercayakan dia kepada kamu, kecuali dengan akibat serupa ketika aku mempercayakan saudaranya kepadamu dahulu? Tetapi Allah sebaik-baik penjaga dan Dia-lah Yang Paling Penyayang dari semua penyayang.” (Yusuf [12]:65).
    Nampaknya prediksi Nabi Yusuf a.s. tepat sekali, karena pasti ayah mereka, Nabi Ya’qub a.s.,  tidak akan  mempercayai lagi perkataan kakak-kakak beliau, itulah sebabnya Nabi Yusuf a.s. telah memasukkan kembali uang pembayaran mereka ke dalam kantung bahan makanan  yang mereka dapatkan dari Nabi Yusuf a.s., sehingga dengan demikian  -- selain untuk memberikan alasan tambahan bagi saudara-saudaranya agar  ayah mereka mengizinkan  mereka membawa Benyamin ke Mesir – juga sebagai isyarat  halus kepada Nabi Ya’qub a.s. mengenai keberadaan Nabi Yusuf a.s. di Mesir, sehingga Nabi Ya’qub a.s. tidak merasa khawatir lagi untuk melepaskan Benyamin untuk pergi bersama mereka ke Mesir, firman-Nya:
 وَ لَمَّا فَتَحُوۡا مَتَاعَہُمۡ وَجَدُوۡا بِضَاعَتَہُمۡ رُدَّتۡ  اِلَیۡہِمۡ ؕ قَالُوۡا  یٰۤاَبَانَا مَا نَبۡغِیۡ ؕ ہٰذِہٖ  بِضَاعَتُنَا رُدَّتۡ اِلَیۡنَا ۚ وَ نَمِیۡرُ اَہۡلَنَا وَ نَحۡفَظُ اَخَانَا وَ نَزۡدَادُ کَیۡلَ  بَعِیۡرٍ ؕ ذٰلِکَ  کَیۡلٌ یَّسِیۡرٌ ﴿۶۵
Dan tatkala mereka membuka barang-barangnya didapatinya pembayaran mereka telah dikembalikan kepada mereka. Mereka berkata: “Wahai ayah kami, apa lagi yang kita inginkan? Lihatlah ini, pembayaran kita telah dikembalikan kepada kita. Dan akan kami bawa bahan makanan untuk keluarga kita, dan  kami akan menjaga saudara kami dan kita akan mendapatkan tambahan sukatan sepemuat seekor unta.  Itulah sukatan yang diperoleh dengan mudah.” (Yusuf [12]:66).
       Namun walaupun Nabi Ya’qub a.s. dapat menangkap isyarat halus dari Nabi Yusuf a.s. di Mesir melalui pengembalian uang pembelian bahan makanan tersebut, namun untuk mengingatkan mereka – dan juga agar tidak menimbulkan kecurigaan mereka terhadap perubahan sikapnya – Nabi Ya’qub a.s. tetap meminta mereka untuk berjanji atas nama Allah, firman-Nya:
قَالَ لَنۡ اُرۡسِلَہٗ  مَعَکُمۡ حَتّٰی تُؤۡتُوۡنِ مَوۡثِقًا مِّنَ اللّٰہِ  لَتَاۡتُنَّنِیۡ بِہٖۤ اِلَّاۤ اَنۡ یُّحَاطَ بِکُمۡ ۚ فَلَمَّاۤ اٰتَوۡہُ مَوۡثِقَہُمۡ قَالَ اللّٰہُ عَلٰی مَا نَقُوۡلُ  وَکِیۡلٌ ﴿۶۷۶۶

Ia (Ya’qub) berkata:  “Aku tidak akan pernah mengirimkannya bersamamu  sebelum kamu berjanji yang teguh kepadaku atas nama Allah bahwa kamu pasti akan membawanya kembali kepadaku, kecuali jika kamu terkepung.” Maka setelah mereka memberikan kepadanya janji mereka yang teguh, ia berkata: “Allah menjadi saksi atas apa yang kita katakan.” (Yusuf [12]:67).

Petunjuk   Nabi Yaqub a.s.

      Untuk memberi kesempatan  agar Nabi Yusuf a.s. dapat bertemu dengan adiknya, Benyamin, selanjutnya Nabi Ya’qub a.s. memberikan pertunjuk kepada mereka, firman-Nya:
وَ قَالَ یٰبَنِیَّ  لَا تَدۡخُلُوۡا مِنۡۢ بَابٍ وَّاحِدٍ  وَّ ادۡخُلُوۡا  مِنۡ  اَبۡوَابٍ  مُّتَفَرِّقَۃٍ ؕ وَ مَاۤ  اُغۡنِیۡ عَنۡکُمۡ  مِّنَ اللّٰہِ مِنۡ شَیۡءٍ ؕ اِنِ الۡحُکۡمُ  اِلَّا لِلّٰہِ ؕ عَلَیۡہِ تَوَکَّلۡتُ ۚ وَ عَلَیۡہِ فَلۡیَتَوَکَّلِ الۡمُتَوَکِّلُوۡنَ ﴿۶۸
Dan ia (Ya’qub) berkata: “Hai anak-anakku, janganlah kamu masuk dari satu pintu, tetapi masuklah dari pintu-pintu yang berlainan, dan aku tidak berguna sedikit pun bagimu terhadap rencana Allah. Keputusan itu hanya pada Allah kepada-Nyalah aku bertawakal dan kepada-Nya-lah hendaknya bertawakkal  orang-orang yang tawakkal.” (Yusuf [12]:68).
       Dari firman Allah Swt. nampak jelas bahwa Nabi Ya’qub a.s. benar-benar telah dapat menangkap isyarat halus yang dikirimkan beliau dari Mesir mengenai keberadaan dirinya, sebab jika tidak maka atas dasar apa  uang pembelian bahan makanan (gandum)  di Mesir tersebut dikembalikan lagi kepada mereka, dan atas dasar alasan apa pula  pejabat di Mesir tersebut meminta mereka untuk membawa serta Benyamin, adik Nabi Yusuf a.s..

Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid

Kepergian Saudara-sudara Nabi Yusuf a.s. di Mesir

 
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ

 
HUBUNGAN  NABI YUSUF A.S. 
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
  
Bagian   XXXII

Tentang
 
       Kepergian Saudara-saudara Nabi Yusuf a.s.  ke Mesir 
 
  Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma
 
 
وَ مَنۡ یُّطِعِ اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ فَاُولٰٓئِکَ مَعَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ ۚ وَ حَسُنَ اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا ﴿ؕ۷۰ ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا ﴿٪۷۱
Dan  barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul ini maka mereka akan termasuk di antara orang-orang  yang Allah memberi nikmat kepada mereka yakni: nabi-nabi, shiddiq-shiddiq, syahid-syahid, dan orang-orang shalih, dan mereka  itulah sahabat yang sejati.   Itulah karunia dari Allah,  dan cukuplah Allāh Yang Maha Mengetahui. (Al-Nisaa [4]:70-71).

Dalam Bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai kedudukan Nabi Yusuf a.s. di  sisi  raja Mesir --  yang secara jasmani lebih tinggi daripada kedudukan duniawi beliau sebelumnya di lingkungan rumah Potifar -- karena dalam kedudukan khusus beliau di sisi raja Mesir membuat Nabi Yusuf a.s. dapat melaksanakan apa pun keinginan atau program beliau dalam  melaksanakan sempurnanya  mimpi beliau mau pun mimpi raja Mesir, firman-Nya:
 وَ قَالَ الۡمَلِکُ ائۡتُوۡنِیۡ بِہٖۤ  اَسۡتَخۡلِصۡہُ لِنَفۡسِیۡ ۚ فَلَمَّا  کَلَّمَہٗ  قَالَ  اِنَّکَ الۡیَوۡمَ  لَدَیۡنَا مَکِیۡنٌ  اَمِیۡنٌ ﴿۵۵
Dan raja itu berkata: “Bawalah dia kepadaku, supaya aku memilih dia untuk tugas-tugas pribadiku.” Maka tatkala  ia (Yusuf) berbicara dengannya ia (raja)  berkata:  Sesungguhnya engkau, Yusuf,  hari ini seorang yang berkedudukan tinggi di sisi kami lagi terpercaya.”  (Yusuf [12]:55).
Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
وَ کَذٰلِکَ مَکَّنَّا لِیُوۡسُفَ فِی الۡاَرۡضِ ۚ یَتَبَوَّاُ مِنۡہَا حَیۡثُ یَشَآءُ ؕ نُصِیۡبُ بِرَحۡمَتِنَا مَنۡ نَّشَآءُ  وَ لَا نُضِیۡعُ  اَجۡرَ الۡمُحۡسِنِیۡنَ ﴿۵۶ وَ لَاَجۡرُ الۡاٰخِرَۃِ خَیۡرٌ لِّلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ کَانُوۡا  یَتَّقُوۡنَ ﴿٪۵۷
Dan demikianlah Kami telah memberikan kepada Yusuf kedudukan di negeri itu, ia tinggal dimana saja yang ia kehendaki.  Kami melimpahkan rahmat Kami kepada siapa yang Kami kehendaki, dan  Kami tidak menghilangkan ganjaran orang-orang yang berbuat ihsan.  Dan sesungguhnya ganjaran di akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan bertakwa.   (Yusuf [12]:57-58).

Hakikat “Dua Kalimah Syahadat”

       Sehubungan dengan kalimat “Dan sesungguhnya ganjaran di akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan bertakwa.   (Yusuf [12]:58), Allah Swt. berfirman pada bagian akhir Bab sebelumnya:
اِنَّ الۡمُتَّقِیۡنَ فِیۡ جَنّٰتٍ وَّ نَہَرٍ ﴿ۙ۵۵   فِیۡ مَقۡعَدِ صِدۡقٍ عِنۡدَ مَلِیۡکٍ مُّقۡتَدِرٍ ﴿٪۵۶
Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam kebun-kebun dan sungai-sungai, dalam tempat tinggal yang   mulia di sisi Raja Yang Maha Kuasa. (Al-Qamar [54]:55-56).
        Sudah pasti bahwa berada “di sisi” (di hadirat) Allah Swt. – Raja Yang Maha Kuasa – adalah suatu maqam (martabat) yang jauh lebih mulia daripada martabat di sisi siapa pun di dunia ini, dan dari seluruh  rasul Allah  maqam (martabat ruhani)  yang diraih oleh Nabi Besar Muhammad saw. adalah  maqam yang paling sempurna, sehingga Allah Swt. mengabadikan maqam tersebut dalam dua Kalimah Syahadat, yakni:
Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasul Allah.”
       Makna dari dua Kalimah Syahadat tersebut adalah bahwa sejak diutusnya Nabi Besar Muhammad saw. dengan membawa  agama dan Kitab suci terakhir dan tersempurna – yakni agama Islam dan Al-Quran (QS.5:4) -- siapa pun tidak akan pernah dapat memperoleh maqam  (kedudukan) yang mulia “di sisi” Allah Swt. kecuali melalui kepatuh-taatan sempurna kepada Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:
قُلۡ  اِنۡ کُنۡتُمۡ تُحِبُّوۡنَ اللّٰہَ فَاتَّبِعُوۡنِیۡ یُحۡبِبۡکُمُ اللّٰہُ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ ذُنُوۡبَکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ ﴿۳۲
Katakanlah:  ”Jika kamu benar-benar mencintai Allah maka ikutilah  aku,  Allah pun akan mencintaimu dan akan mengampuni dosa-dosamu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Ali ‘Imran [3]:32).
       Ayat ini dengan tegas menyatakan bahwa tujuan memperoleh kecintaan Ilahi sekarang tidak mungkin terlaksana kecuali dengan mengikuti Nabi Besar Muhammad saw..  Selanjutnya ayat ini melenyapkan kesalahpahaman yang mungkin dapat timbul dari QS.2:63 bahwa iman kepada adanya Tuhan dan alam akhirat saja sudah cukup untuk memperoleh najat (keselamatan).
      Ada pun maqam-maqam (martabat-martabat) ruhani yang disediakan Allah Sw. kepada orang-orang yang melaksanakan dua Kalimah Syahadat  yang dikemukakan firman Allah Swt. tersebut, dijelaskan dalam firman-Nya berikut ini:
وَ مَنۡ یُّطِعِ اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ فَاُولٰٓئِکَ مَعَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ ۚ وَ حَسُنَ اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا ﴿ؕ۷۰ ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا ﴿٪۷۱
Dan  barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul ini maka mereka akan termasuk di antara orang-orang  yang Allah memberi nikmat kepada mereka yakni: nabi-nabi, shiddiq-shiddiq, syahid-syahid, dan orang-orang shalih, dan mereka  itulah sahabat yang sejatiItulah karunia dari Allah,  dan cukuplah Allāh Yang Maha Mengetahui. (Al-Nisaa [4]:70-71).
       Ayat ini sangat penting sebab ia menerangkan semua jalur kemajuan ruhani yang terbuka bagi kaum Muslimin. Keempat martabat keruhanian — para nabi, para shiddiq, para syuhada (saksi-saksi) dan para shalih (orang-orang saleh) — kini semuanya dapat dicapai hanya dengan jalan mengikuti Nabi Besar Muhammad saw..  Hal ini merupakan kehormatan khusus bagi beliau saw. semata. Tidak ada nabi lain menyamai beliau saw. dalam perolehan nikmat ini.
       Kesimpulan itu lebih lanjut ditunjang oleh ayat yang membicarakan nabi-nabi secara umum dan mengatakan: “Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan para rasul-Nya, mereka adalah orang-orang shiddiq dan syuhada (saksi-saksi) di sisi Tuhan mereka” (QS.57: 20). Apabila kedua ayat ini dibaca bersama-sama maka kedua ayat itu berarti bahwa, kalau para pengikut nabi-nabi lainnya dapat mencapai martabat shiddiq, syahid, dan shalih dan tidak lebih tinggi dari itu, maka pengikut Nabi Besar Muhammad saw.  dapat naik ke martabat nabi juga.
       Kitab “Bahr-ul-Muhit” (jilid III, hlm. 287) menukil Al-Raghib yang mengatakan: “Tuhan telah membagi orang-orang beriman  dalam empat golongan dalam ayat ini, dan telah menetapkan bagi mereka empat tingkatan, sebagian di antaranya lebih rendah dari yang lain, dan Dia telah mendorong orang-orang beriman sejati agar jangan tertinggal dari keempat tingkatan ini.” Dan membubuhkan bahwa: “Kenabian itu ada dua macam: umum dan khusus. Kenabian khusus, yakni kenabian yang membawa syariat, sekarang tidak dapat dicapai lagi; tetapi kenabian yang umum masih tetap dapat dicapai.”

Kedatangan Saudara-suudara Nabi Yusuf a.s. di Mesir

      Dengan diangkatnya Nabi Yusuf a.s. oleh raja Mesir menjadi salah seorang dari orang-orang kepercayaan  penguasa kerajaan Mesir  tersebut untuk melaksanakan tugas-tugas khusus raja,  hal itu   mengakhiri rangkaian penderitaan yang dialami oleh Nabi Yusuf a.s..
      Kehormatan duniawi yang dianugerahkan Allah Swt.. tersebut merupakan puncak tertinggi  martabat yang diraih oleh Nabi Yusuf a.s. sebagai hasil dari kesabaran beliau menjalani berbagai ujian-ujian keimanan – baik ujian keimanan yang pahit mau pun ujian keimanan yang manis coraknya --  yang merupakan hal yang sangat mustahil dalam pandangan saudara-saudara tua Nabi Yusuf a.s. akan dapat diraih oleh beliau, itulah sebabnya ketika mereka  bertemu dengan Nabi Yusuf a.s. mereka sama sekali tidak mengenali beliau, firman-Nya:
وَ جَآءَ اِخۡوَۃُ یُوۡسُفَ فَدَخَلُوۡا عَلَیۡہِ فَعَرَفَہُمۡ  وَ ہُمۡ  لَہٗ  مُنۡکِرُوۡنَ ﴿۵۹
Dan saudara-saudara Yusuf datang  lalu menghadap kepadanya,  ia mengenal mereka,  tetapi mereka itu tidak mengenalinya. (Yusuf [12]:59).
     Dari peristiwa kedatangan  saudara-saudara Nabi Yusuf a.s. ke Mesir dapat diketahui bahwa  mimpi raja Mesir yang ditakwilkan oleh Nabi Yusuf  a.s. telah mulai terjadi, yakni di kawasan Kanaan telah terjadi musim kemarau panjang, sehingga membuat saudara-saudara Nabi Yusuf a.s. harus pergi ke ibukota kerajaan Mesir untuk membeli bahan makanan.
      Karena yang bertanggungjawab dalam hal penyimpanan dan pendistribusian   bahan makanan  di Mesir  adalah Nabi Yusuf a.s. maka – sesuai dengan takdir Allah Swt. – mereka dapat bertemu Nabi Yusuf a.s., namun mereka sama sekali  tidak mengenai beliau, sebab selain penampilan fisik Nabi Yusuf a.s. jauh berbeda dengan  keadaan beliau yang ada dalam benak mereka --  sehingga sedikit pun mereka tidak mengenali Nabi Yusuf a.s. --  tetapi juga kedengkian mereka terhadap Nabi Yusuf a.s. masih tetap bercokol dalam hati mereka, sehingga menjadi tabir yang menghalangi mereka dari mengenai saudaranya yang  mereka pernah berupaya membunuhnya.

Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid