بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
HUBUNGAN NABI YUSUF A.S.
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
Bagian XXXVII
Tentang
Berbagai Cara Allah Berkomunikasi
Berbagai Cara Allah Berkomunikasi
dengan Hamba-hamba-Nya
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
اِذۡہَبُوۡا بِقَمِیۡصِیۡ ہٰذَا فَاَلۡقُوۡہُ عَلٰی وَجۡہِ اَبِیۡ یَاۡتِ بَصِیۡرًا ۚ وَ اۡتُوۡنِیۡ بِاَہۡلِکُمۡ اَجۡمَعِیۡنَ ﴿٪۹۴﴾ وَ لَمَّا فَصَلَتِ الۡعِیۡرُ قَالَ اَبُوۡہُمۡ اِنِّیۡ لَاَجِدُ رِیۡحَ یُوۡسُفَ لَوۡ لَاۤ اَنۡ تُفَنِّدُوۡنِ ﴿۹۵﴾ قَالُوۡا تَاللّٰہِ اِنَّکَ لَفِیۡ ضَلٰلِکَ الۡقَدِیۡمِ
﴿ٙ۹۶﴾
Pergilah kamu bersama dengan kemejaku ini dan letakkanlah di hadapan ayahku, ia akan mengetahui segala
sesuatu. Dan bawalah kepada-ku keluargamu semuanya. Dan
tatkala kafilah itu telah berangkat dari Mesir, ayah mereka berkata:
“Sesungguhnya aku mencium harum Yusuf
meskipun kamu meng-anggap diriku seorang pikun.” Mereka menjawab: “Demi Allah, sesungguhnya engkau
benar-benar masih dalam kekeliruan
engkau yang lama itu.” (Yusuf [12]:94-95).
Dalam Bab
sebelumnya telah dikemukakan beberapa
persamaan lainnya antara Nabi Besar Muhammad saw. dengan Nabi Yusuf a.s. serta
bukti-bukti kelebihan Nabi Besar Muhammad saw.
dalam berbagai segi dibandingkan dengan Nabi Yusuf a.s., sehingga Allah
Swt. menyatakan dalam Al-Quran bahwa
Nabi Besar Muhammad saw. adalah suri teladan terbaik dalam berbagai segi kehidupan manusia,
firman-Nya:
لَقَدۡ کَانَ لَکُمۡ فِیۡ
رَسُوۡلِ اللّٰہِ اُسۡوَۃٌ حَسَنَۃٌ لِّمَنۡ کَانَ یَرۡجُوا اللّٰہَ وَ
الۡیَوۡمَ الۡاٰخِرَ وَ ذَکَرَ
اللّٰہَ کَثِیۡرًا ﴿ؕ۲۲﴾
Sungguh dalam diri
Rasulullah benar-benar terdapat suri teladan yang sebaik-baiknya
bagi kamu, yaitu bagi orang
yang mengharapkan Allah dan Hari Akhir, dan bagi yang banyak mengingat
Allah. (Al-Ahzab [33]:22).
Nabi Ya’qub a.s. Mencium
Aroma Wangi nabi Yusuf a.s.
Setelah Nabi Yusuf
a.s. mengemukakan pengampunannya atas semua kesalahan kakak-kakak beliau,
selanjutnya berkata, firman-Nya:
اِذۡہَبُوۡا بِقَمِیۡصِیۡ ہٰذَا فَاَلۡقُوۡہُ عَلٰی وَجۡہِ اَبِیۡ یَاۡتِ بَصِیۡرًا ۚ وَ اۡتُوۡنِیۡ بِاَہۡلِکُمۡ اَجۡمَعِیۡنَ ﴿٪۹۴﴾ وَ لَمَّا فَصَلَتِ الۡعِیۡرُ قَالَ اَبُوۡہُمۡ اِنِّیۡ لَاَجِدُ رِیۡحَ یُوۡسُفَ لَوۡ لَاۤ اَنۡ تُفَنِّدُوۡنِ ﴿۹۵﴾ قَالُوۡا تَاللّٰہِ اِنَّکَ لَفِیۡ ضَلٰلِکَ الۡقَدِیۡمِ
﴿ٙ۹۶﴾
Pergilah kamu bersama dengan kemejaku ini dan letakkanlah di hadapan ayahku, ia akan mengetahui
segala sesuatu. Dan bawalah kepadaku keluargamu semuanya.” Dan
tatkala kafilah itu telah berangkat dari Mesir, ayah mereka berkata:
“Sesungguhnya aku mencium harum Yusuf
meskipun kamu menganggap diriku seorang pikun.” Mereka menjawab: “Demi Allah, sesungguhnya engkau
benar-benar masih dalam kekeliruan
engkau yang lama itu.” (Yusuf [12]:94-96).
Bahkan
sebelum kafilah itu sampai di rumah, Nabi Ya’qub a.s. telah
memberitahukan kepada kaumnya bahwa walaupun keadaan lahirnya nampak
bertentangan, namun beliau punya harapan akan segera bertemu dengan
Nabi Yusuf a.s. dan untuk menguatkan keyakinan beliau itu, beliau tambahkan
kata-kata: “meskipun kamu menganggap diriku seorang pikun.” Maksudnya:
“kamu menganggap pertemuan itu suatu kemustahilan, tidak lebih dari khayalan
dan lamunan seorang tua-bangka, tetapi aku mengetahui bahwa hal itu merupakan
suatu kenyataan atau kepastian.” Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
فَلَمَّاۤ اَنۡ جَآءَ الۡبَشِیۡرُ اَلۡقٰىہُ عَلٰی وَجۡہِہٖ فَارۡتَدَّ بَصِیۡرًا ۚ قَالَ اَلَمۡ اَقُلۡ لَّکُمۡ ۚۙ اِنِّیۡۤ اَعۡلَمُ مِنَ اللّٰہِ
مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ ﴿۹۷﴾
Maka tatkala pembawa kabar gembira itu telah datang, ia
meletakkan kemeja itu di hadapannya, maka ia (Ya’qub) menjadi mengerti,
ia berkata: “Tidakkah telah aku
katakan kepadamu sesungguhnya aku
mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui?” (Yusuf [12]:97).
Ketika
kemeja Nabi Yusuf a.s. diletakkan
di hadapan Nabi Ya’qub a.s. keyakinan
beliau atas dasar kabar gaib --
mengenai keberadaan Nabi Yusuf a.s. -- yang mula-mula hanya merupakan soal kepercayaan
saja, bahwa Nabi Yusuf a.s. masih
hidup, sekarang telah berubah menjadi pengetahuan yang nyata. Itulah
arti kata-kata, ia menjadi mengerti.
Jadi, sungguh keliru pendapat yang
mengatakan bahwa ketika baju Nabi
Yusuf a.s. diletakkan di hadapan Nabi Ya’qub a.s. maka kebutaan beliau
menjadi sembuh, yakni kalimat fartadda
bashiiran bukan berarti “penglihatannya kembali normal”
melainkan maknanya adalah penglihatan
ruhani atau firasat yang
selama itu beliau rasakan mengenai masih hidupnya Nabi Yusuf a.s., dengan adanya kiriman baju dari Nabi
Yusuf a.s. tersebut maka firasat Nabi Ya’qub a.s. tersebut menjadi suatu keyaqinan yang
lebih pasti lagi karena beliau mengenali
baju Nabi Yusuf a.s. tersebut ketika terakhir kali pergi bersama kakak-kakaknya.
Cara-cara
Allah Swt. Berkomunikasi dengan Hamba-hamba-Nya
Ada hal yang menarik dari perkataan Nabi
Ya’qub a.s. tersebut – yakni: “Tidakkah telah aku katakan kepadamu sesungguhnya aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu
ketahui?” (Yusuf [12]:97). Kalimat tersebut
hampir sama dengan firman Allah
Swt. kepada para malaikat ketika Adam memberitahukan kepada
mereka al-Asmaa (nama-nama) yang diajarkan Allah Swt. kepada Adam,
dimana ketika hal tersebut sebelumnya dikemukakan kepada para malaikat
untuk memberitahukannya kepada Allah maka mereka menyatakan tidak
mengetahui hal tersebut, firman-Nya:
قَالَ
یٰۤاٰدَمُ
اَنۡۢبِئۡہُمۡ بِاَسۡمَآئِہِمۡ ۚ فَلَمَّاۤ اَنۡۢبَاَہُمۡ بِاَسۡمَآئِہِمۡ ۙ قَالَ اَلَمۡ
اَقُلۡ لَّکُمۡ اِنِّیۡۤ اَعۡلَمُ غَیۡبَ
السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۙ وَ اَعۡلَمُ مَا تُبۡدُوۡنَ وَ مَا کُنۡتُمۡ
تَکۡتُمُوۡنَ ﴿۳۴﴾
Dia berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama mereka itu”,
maka tatkala diberitahukannya kepada mereka nama-nama mereka itu,
Dia berfirman: “Bukankah telah Aku katakan kepadamu bahwa sesungguhnya
Aku mengetahui rahasia seluruh langit
dan bumi dan mengetahui apa pun yang
kamu nyatakan dan apa pun yang kamu
sembunyikan?” (Al-Baqarah [2]:34).
Dari kenyataan
tersebut jelaslah bahwa memang Nabi Ya’qub a.s. – sebagaimana halnya Nabi Adam a.s. sebagai Khalifah
Allah (QS.2:31-34) -- adalah seorang
rasul (nabi) Allah yang
memiliki hubungan komunikasi dengan Allah Swt., baik melalui wahyu
Ilahi mau pun dengan sarana-sarana lainnya, termasuk melalui indera penciuman: “Sesungguhnya aku
mencium harum Yusuf meskipun kamu
menganggap diriku seorang pikun.” (QS.12:95).
Sehubungan hal tersebut Allah Swt. berfirman
kepada Nabi Besar Muhammad saw. mengenai cara-cara Allah Swt. berkomunikasi
dengan manusia:
وَ
مَا کَانَ لِبَشَرٍ اَنۡ یُّکَلِّمَہُ
اللّٰہُ اِلَّا وَحۡیًا اَوۡ مِنۡ
وَّرَآیِٔ حِجَابٍ اَوۡ یُرۡسِلَ رَسُوۡلًا فَیُوۡحِیَ بِاِذۡنِہٖ مَا یَشَآءُ ؕ
اِنَّہٗ عَلِیٌّ حَکِیۡمٌ ﴿۵۲﴾
Dan sekali-kali tidak mungkin bagi manusia bahwa Allah berbicara kepadanya,
kecuali dengan wahyu atau dari belakang tabir atau dengan
mengirimkan seorang utusan guna mewahyukan dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki, sesungguh-nya, Dia
Maha Tinggi, Maha Bijaksana. (Al-Syura
[43]:52).
Ayat
ini menyebut 3 cara Allah
Swt. berbicara (berkomunikasi)
kepada hamba-Nya dan menampakkan Wujud-Nya kepada mereka:
(a) Dia
berfirman secara langsung kepada mereka tanpa perantara; (b) Dia
membuat mereka menyaksikan kasyaf (penglihatan gaib), yang dapat
ditakwilkan atau tidak, atau kadang-kadang membuat mereka mendengar kata-kata
dalam keadaan jaga dan sadar, di waktu itu mereka tidak melihat wujud orang
yang berbicara kepada mereka. Inilah arti kata-kata "dari belakang
tabir"; (c) Allah Swt. menurunkan seorang
utusan atau seorang malaikat yang menyampaikan Amanat Ilahi.
Selanjutnya Allah Swt.
berfirman mengenai Al-Quran yang diwahyukan-Nya kepada Nabi Besar
Muhammad saw.:
وَ
کَذٰلِکَ اَوۡحَیۡنَاۤ اِلَیۡکَ رُوۡحًا مِّنۡ اَمۡرِنَا ؕ مَا کُنۡتَ
تَدۡرِیۡ مَا الۡکِتٰبُ وَ لَا
الۡاِیۡمَانُ وَ لٰکِنۡ جَعَلۡنٰہُ
نُوۡرًا نَّہۡدِیۡ بِہٖ مَنۡ
نَّشَآءُ مِنۡ عِبَادِنَا ؕ وَ اِنَّکَ
لَتَہۡدِیۡۤ اِلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ
﴿ۙ۵۳﴾ صِرَاطِ اللّٰہِ
الَّذِیۡ لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ
وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ اَلَاۤ اِلَی
اللّٰہِ تَصِیۡرُ الۡاُمُوۡرُ ﴿٪۵۴﴾
Dan demikianlah Kami telah mewahyukan kepada engkau firman ini
dengan perintah Kami. Engkau sekali-kali tidak mengetahui apa
Kitab itu, dan tidak pula mengetahui apa iman itu, tetapi Kami telah menjadikan wahyu itu nur,
yang dengan itu Kami memberi petunjuk kepada siapa yang Kami kehendaki
dari antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya engkau benar-benar
memberi petunjuk ke jalan lurus, yakni jalan Allah Yang milik-Nya apa pun yang ada di seluruh langit dan
apa yang ada di bumi. Ketahuilah, kepada Allah segala perkara kembali. (Al-Syuraa
[43]:53-54).
Al-Quran dalam ayat 53 disebut ruh
(nafas hidup — Lexicon Lane), sebab dengan perantaraan Al-Quran maka
bangsa yang telah mati keadaan akhlak dan keruhaniannya mendapat kehidupan
baru, contohnya bangsa Arab jahiliyah hanya dalam waktu 23 tahun
saja melalui suri teladan Nabi
Besar Muhammad saw. (QS.33:22) telah berubah menjadi umat yang terbaik
yang dijadikan untuk kepentingan seluruh manusia (QS.2:144; QS.3:111).
Islam adalah kehidupan, nur, dan jalan yang
membawa manusia kepada Allah
Swt. dan menyadarkan manusia akan tujuan
agung dan luhur kejadiannya, yakni untuk beribadah kepada Allah Swt.
melalui pelaksanaan haququlLah dan haququl ‘ibaad (QS.51:57). Menueut Allah Swt. bahwa siapa pun -- termasuk Nabi Besar Muhammad saw. -- tidak mengetahui hal-hal yang gaib, kecuali jika Allah Swt. memberitahukan hal-hal gaib tersebut dengan perantaraan sarana-sarana komunikasi yang telah ditetapkan Allah Swt. tersebut (QS.72:27-29).
Rahasia Gaib Khusus Hanya Dibukakan Kepada para Rasul Allah
Mengenai kenyataan tersebut berikut adalah firman Allah Swt. kepada
Nabi Besar Muhammad saw.:
قُلۡ اِنۡ
اَدۡرِیۡۤ اَقَرِیۡبٌ مَّا
تُوۡعَدُوۡنَ اَمۡ یَجۡعَلُ لَہٗ
رَبِّیۡۤ اَمَدًا ﴿۲۶﴾ عٰلِمُ الۡغَیۡبِ
فَلَا یُظۡہِرُ عَلٰی غَیۡبِہٖۤ اَحَدًا ﴿ۙ۲۷﴾ اِلَّا مَنِ ارۡتَضٰی مِنۡ رَّسُوۡلٍ فَاِنَّہٗ
یَسۡلُکُ مِنۡۢ بَیۡنِ یَدَیۡہِ وَ مِنۡ خَلۡفِہٖ رَصَدًا ﴿ۙ۲۸﴾ لِّیَعۡلَمَ اَنۡ
قَدۡ اَبۡلَغُوۡا رِسٰلٰتِ
رَبِّہِمۡ وَ اَحَاطَ بِمَا لَدَیۡہِمۡ وَ اَحۡصٰی کُلَّ شَیۡءٍ عَدَدًا ﴿٪۲۹﴾
Katakanlah: “Aku tidak mengetahui
apakah azab yang dijanjikan kepada kamu itu telah dekat ataukah Tuhan-ku
telah menetapkan baginya masa yang lama.” Dia-lah Yang mengetahui yang gaib,
maka Dia tidak menzahirkan rahasia gaib-Nya kepada siapa pun, kecuali
kepada Rasul yang Dia ridhai maka
sesungguhnya barisan pengawal berjalan di hadapannya dan di belakangnya,
supaya Dia mengetahui bah-wa
sungguh mereka (rasul-rasul)
telah menyampaikan Amanat-amanat Tuhan mere-ka, dan Dia
meliputi semua yang ada pada mereka dan Dia membuat perhitungan
mengenai segala sesuatu. (Al-Jin [72]:26-29).
Ungkapan,
“izhhar ‘ala al-ghaib” berarti: diberi pengetahuan dengan sering dan
secara berlimpah-limpah mengenai rahasia gaib bertalian dengan dan mengenai
peristiwa dan kejadian yang sangat penting.
Ayat ini merupakan ukuran yang tiada
tara bandingannya guna membedakan antara sifat dan jangkauan rahasia-rahasia
gaib yang dibukakan kepada seorang rasul Allah dan rahasia-rahasia
gaib yang dibukakan kepada orang-orang
beriman yang bertakwa lainnya.
Perbedaan itu letaknya pada
kenyataan bahwa, kalau rasul-rasul Allah dianugerahi izhhar ‘ala
al-ghaib yakni penguasaan atas yang gaib, maka rahasia-rahasia
yang diturunkan kepada orang-orang bertakwa dan orang-orang suci lainnya
tidak menikmati kehormatan serupa itu. Tambahan pula wahyu yang dianugerahkan
kepada rasul-rasul Allah, karena ada dalam pemeliharaan-istimewa-Ilahi,
keadaannya aman dari pemutar-balikkan atau pemalsuan oleh
jiwa-jiwa yang jahat, sedang rahasia-rahasia yang dibukakan kepada orang-orang
bertakwa lainnya tidak begitu terpelihara.
Wahyu rasul-rasul Allah itu dijamin
keamanannya terhadap pemutarbalikkan atau pemalsuan, sebab para rasul
itu membawa tugas (amanat) dari Allah Swt. yang harus dipenuhi dan
mengemban Amanat Ilahi yang harus disampaikan oleh mereka.
Kembali kepada masalah sarana komunikasi yang dianugerahkan
Allah Swt. kepada Nabi Ya’qub a.s. berupa “penciuman ruhani” , hal itulah yang membuat
beliau saw. mampu mengetahui keberadaan Nabi Yusuf a.s. di Mesir dengan segala
kemuliaannya, sebagaimana tergambar dari mimpi yang pernah
diceritakannya kepada beliau, sebelum
rombongan dari Mesir sampai ke rumah, firman-Nya:
فَلَمَّاۤ اَنۡ جَآءَ الۡبَشِیۡرُ اَلۡقٰىہُ عَلٰی وَجۡہِہٖ فَارۡتَدَّ بَصِیۡرًا ۚ قَالَ اَلَمۡ اَقُلۡ لَّکُمۡ ۚۙ اِنِّیۡۤ اَعۡلَمُ مِنَ اللّٰہِ
مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ ﴿۹۷﴾
Maka tatkala pembawa kabar gembira itu telah datang, ia
meletakkan kemeja itu di hadapannya, maka ia (Ya’qub) menjadi
mengerti, ia berkata:
“Tidakkah telah aku katakan kepadamu sesungguhnya aku mengetahui dari Allah apa yang tidak
kamu ketahui?” (Yusuf [12]:97).
(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid
Tidak ada komentar:
Posting Komentar