Minggu, 05 Februari 2012

Berbagai Cara Allah Swt. Berkomunikasi dengan Hamba-hamba-Nya


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ

 
HUBUNGAN  NABI YUSUF A.S. 
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
  
Bagian   XXXVII

Tentang

        Berbagai Cara Allah Berkomunikasi 
dengan Hamba-hamba-Nya
Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma
 
اِذۡہَبُوۡا بِقَمِیۡصِیۡ ہٰذَا فَاَلۡقُوۡہُ عَلٰی وَجۡہِ اَبِیۡ یَاۡتِ بَصِیۡرًا ۚ وَ اۡتُوۡنِیۡ بِاَہۡلِکُمۡ  اَجۡمَعِیۡنَ ﴿٪۹۴  وَ لَمَّا فَصَلَتِ الۡعِیۡرُ قَالَ اَبُوۡہُمۡ اِنِّیۡ لَاَجِدُ رِیۡحَ یُوۡسُفَ لَوۡ لَاۤ اَنۡ تُفَنِّدُوۡنِ ﴿۹۵   قَالُوۡا تَاللّٰہِ  اِنَّکَ لَفِیۡ ضَلٰلِکَ الۡقَدِیۡمِ ﴿ٙ۹۶
Pergilah kamu bersama dengan kemejaku ini dan letakkanlah  di hadapan ayahku, ia akan mengetahui segala sesuatu. Dan bawalah kepada-ku keluargamu semuanya.   Dan tatkala kafilah itu telah berangkat dari Mesir, ayah mereka berkata: “Sesungguhnya aku mencium harum  Yusuf meskipun kamu meng-anggap diriku seorang pikun.”   Mereka  menjawab: “Demi Allah, sesungguhnya engkau benar-benar masih  dalam kekeliruan engkau yang lama itu.” (Yusuf [12]:94-95).

Dalam Bab sebelumnya  telah dikemukakan beberapa persamaan lainnya antara Nabi Besar Muhammad saw. dengan Nabi Yusuf a.s. serta bukti-bukti kelebihan Nabi Besar Muhammad saw.  dalam berbagai segi dibandingkan dengan Nabi Yusuf a.s., sehingga Allah Swt. menyatakan  dalam Al-Quran bahwa Nabi Besar Muhammad saw. adalah suri teladan terbaik   dalam berbagai segi kehidupan manusia, firman-Nya: 
لَقَدۡ کَانَ لَکُمۡ  فِیۡ رَسُوۡلِ اللّٰہِ  اُسۡوَۃٌ حَسَنَۃٌ  لِّمَنۡ کَانَ یَرۡجُوا اللّٰہَ وَ الۡیَوۡمَ  الۡاٰخِرَ  وَ ذَکَرَ  اللّٰہَ  کَثِیۡرًا ﴿ؕ۲۲
Sungguh dalam  diri Rasulullah benar-benar terdapat  suri teladan yang sebaik-baiknya bagi kamu, yaitu bagi  orang yang mengharapkan Allah dan Hari Akhir,  dan bagi yang banyak mengingat Allah. (Al-Ahzab [33]:22).

Nabi Ya’qub a.s. Mencium  Aroma Wangi nabi Yusuf a.s.

   Setelah Nabi Yusuf a.s. mengemukakan pengampunannya atas semua kesalahan kakak-kakak beliau, selanjutnya  berkata, firman-Nya:
اِذۡہَبُوۡا بِقَمِیۡصِیۡ ہٰذَا فَاَلۡقُوۡہُ عَلٰی وَجۡہِ اَبِیۡ یَاۡتِ بَصِیۡرًا ۚ وَ اۡتُوۡنِیۡ بِاَہۡلِکُمۡ  اَجۡمَعِیۡنَ ﴿٪۹۴  وَ لَمَّا فَصَلَتِ الۡعِیۡرُ قَالَ اَبُوۡہُمۡ اِنِّیۡ لَاَجِدُ رِیۡحَ یُوۡسُفَ لَوۡ لَاۤ اَنۡ تُفَنِّدُوۡنِ ﴿۹۵   قَالُوۡا تَاللّٰہِ  اِنَّکَ لَفِیۡ ضَلٰلِکَ الۡقَدِیۡمِ ﴿ٙ۹۶
Pergilah kamu bersama dengan kemejaku ini dan letakkanlah  di hadapan ayahku, ia akan mengetahui segala sesuatu. Dan bawalah kepadaku keluargamu semuanya.”   Dan tatkala kafilah itu telah berangkat dari Mesir, ayah mereka berkata: “Sesungguhnya aku mencium harum  Yusuf meskipun kamu menganggap diriku seorang pikun.”   Mereka  menjawab: “Demi Allah, sesungguhnya engkau benar-benar masih  dalam kekeliruan engkau yang lama itu.” (Yusuf [12]:94-96).
       Bahkan sebelum kafilah itu sampai di rumah, Nabi Ya’qub a.s. telah memberitahukan kepada kaumnya bahwa walaupun keadaan lahirnya nampak bertentangan, namun beliau punya harapan akan segera bertemu dengan Nabi Yusuf a.s. dan untuk menguatkan keyakinan beliau itu, beliau tambahkan kata-kata: “meskipun kamu menganggap diriku seorang pikun.” Maksudnya: “kamu menganggap pertemuan itu suatu kemustahilan, tidak lebih dari khayalan dan lamunan seorang tua-bangka, tetapi aku mengetahui bahwa hal itu merupakan suatu kenyataan atau kepastian.” Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
فَلَمَّاۤ  اَنۡ جَآءَ الۡبَشِیۡرُ اَلۡقٰىہُ عَلٰی وَجۡہِہٖ فَارۡتَدَّ بَصِیۡرًا ۚ قَالَ اَلَمۡ اَقُلۡ لَّکُمۡ ۚۙ اِنِّیۡۤ اَعۡلَمُ مِنَ اللّٰہِ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ ﴿۹۷
Maka tatkala pembawa kabar gembira itu telah datang, ia meletakkan kemeja itu di hadapannya, maka ia (Ya’qub) menjadi mengerti,  ia berkata: “Tidakkah telah aku katakan kepadamu sesungguhnya  aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui?” (Yusuf [12]:97).
       Ketika kemeja Nabi Yusuf a.s.  diletakkan di hadapan Nabi Ya’qub a.s.  keyakinan beliau atas dasar kabar gaib  -- mengenai keberadaan Nabi Yusuf a.s. -- yang mula-mula hanya merupakan soal kepercayaan saja, bahwa Nabi Yusuf a.s.   masih hidup, sekarang telah berubah menjadi pengetahuan yang nyata. Itulah arti kata-kata, ia menjadi mengerti.
       Jadi, sungguh keliru pendapat yang mengatakan bahwa ketika  baju Nabi Yusuf a.s. diletakkan di hadapan Nabi Ya’qub a.s. maka kebutaan beliau menjadi sembuh,  yakni kalimat fartadda bashiiran  bukan berarti  “penglihatannya kembali normal” melainkan maknanya adalah  penglihatan ruhani  atau firasat yang selama itu beliau rasakan mengenai masih hidupnya Nabi Yusuf a.s.,  dengan adanya kiriman baju dari Nabi Yusuf a.s. tersebut maka firasat Nabi Ya’qub a.s.  tersebut menjadi suatu keyaqinan yang lebih pasti lagi karena beliau mengenali  baju Nabi Yusuf a.s. tersebut ketika  terakhir kali pergi bersama kakak-kakaknya.

Cara-cara Allah Swt. Berkomunikasi dengan Hamba-hamba-Nya

       Ada hal yang menarik dari perkataan Nabi Ya’qub a.s. tersebut – yakni: “Tidakkah telah aku katakan kepadamu sesungguhnya  aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui?” (Yusuf [12]:97). Kalimat  tersebut  hampir sama  dengan firman Allah Swt. kepada para malaikat ketika Adam memberitahukan kepada mereka al-Asmaa (nama-nama) yang diajarkan Allah Swt. kepada Adam, dimana ketika hal tersebut sebelumnya dikemukakan kepada para malaikat untuk memberitahukannya kepada Allah maka mereka menyatakan tidak mengetahui hal tersebut, firman-Nya:
قَالَ یٰۤاٰدَمُ اَنۡۢبِئۡہُمۡ بِاَسۡمَآئِہِمۡ ۚ فَلَمَّاۤ اَنۡۢبَاَہُمۡ بِاَسۡمَآئِہِمۡ ۙ قَالَ اَلَمۡ اَقُلۡ لَّکُمۡ اِنِّیۡۤ  اَعۡلَمُ غَیۡبَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۙ وَ اَعۡلَمُ مَا تُبۡدُوۡنَ وَ مَا کُنۡتُمۡ تَکۡتُمُوۡنَ ﴿۳۴
Dia berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah  kepada mereka nama-nama mereka itu”, maka tatkala diberitahukannya kepada mereka nama-nama mereka itu, Dia berfirman: “Bukankah telah Aku katakan kepadamu bahwa sesungguhnya Aku mengetahui  rahasia seluruh langit dan bumi  dan mengetahui apa pun yang kamu nyatakan dan apa pun yang    kamu sembunyikan?” (Al-Baqarah [2]:34).
       Dari kenyataan tersebut jelaslah bahwa memang Nabi Ya’qub a.s.  – sebagaimana halnya Nabi Adam a.s. sebagai Khalifah Allah (QS.2:31-34) --  adalah seorang rasul (nabi) Allah  yang  memiliki hubungan komunikasi dengan Allah Swt., baik melalui wahyu Ilahi mau pun dengan sarana-sarana lainnya, termasuk melalui  indera penciuman: “Sesungguhnya aku mencium harum  Yusuf meskipun kamu menganggap diriku seorang pikun.”  (QS.12:95).  
    Sehubungan hal tersebut Allah Swt. berfirman kepada Nabi Besar Muhammad saw. mengenai cara-cara Allah Swt. berkomunikasi dengan manusia:
وَ مَا کَانَ  لِبَشَرٍ اَنۡ یُّکَلِّمَہُ اللّٰہُ  اِلَّا وَحۡیًا اَوۡ مِنۡ وَّرَآیِٔ حِجَابٍ اَوۡ یُرۡسِلَ رَسُوۡلًا فَیُوۡحِیَ بِاِذۡنِہٖ مَا یَشَآءُ ؕ اِنَّہٗ عَلِیٌّ  حَکِیۡمٌ ﴿۵۲
Dan sekali-kali tidak mungkin bagi manusia bahwa Allah berbicara kepadanya, kecuali dengan wahyu atau dari belakang tabir atau dengan mengirimkan seorang utusan guna mewahyukan dengan seizin-Nya  apa yang Dia kehendaki, sesungguh-nya, Dia Maha Tinggi, Maha Bijaksana.  (Al-Syura [43]:52).
        Ayat ini menyebut 3 cara Allah Swt.  berbicara (berkomunikasi) kepada hamba-Nya dan menampakkan Wujud-Nya kepada mereka:
          (a)  Dia berfirman secara langsung kepada mereka tanpa perantara; (b) Dia membuat mereka menyaksikan kasyaf (penglihatan gaib), yang dapat ditakwilkan atau tidak, atau kadang-kadang membuat mereka mendengar kata-kata dalam keadaan jaga dan sadar, di waktu itu mereka tidak melihat wujud orang yang berbicara kepada mereka. Inilah arti kata-kata "dari belakang tabir";  (c) Allah Swt. menurunkan seorang utusan atau seorang malaikat yang menyampaikan Amanat Ilahi.
      Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai Al-Quran yang diwahyukan-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
وَ کَذٰلِکَ  اَوۡحَیۡنَاۤ  اِلَیۡکَ رُوۡحًا مِّنۡ اَمۡرِنَا ؕ مَا کُنۡتَ تَدۡرِیۡ مَا الۡکِتٰبُ وَ لَا  الۡاِیۡمَانُ وَ لٰکِنۡ جَعَلۡنٰہُ  نُوۡرًا نَّہۡدِیۡ  بِہٖ مَنۡ نَّشَآءُ  مِنۡ عِبَادِنَا ؕ وَ اِنَّکَ لَتَہۡدِیۡۤ  اِلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ ﴿ۙ۵۳   صِرَاطِ اللّٰہِ  الَّذِیۡ  لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ اَلَاۤ  اِلَی اللّٰہِ  تَصِیۡرُ الۡاُمُوۡرُ ﴿٪۵۴
Dan demikianlah Kami telah mewahyukan kepada engkau firman ini dengan perintah Kami. Engkau sekali-kali tidak mengetahui apa Kitab itu, dan tidak pula mengetahui apa iman itu,  tetapi Kami telah menjadikan wahyu itu nur, yang dengan itu Kami memberi petunjuk kepada siapa yang Kami kehendaki dari antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya engkau benar-benar memberi petunjuk ke jalan lurus,  yakni  jalan Allah Yang milik-Nya apa pun yang ada di seluruh langit dan apa yang ada di bumi. Ketahuilah, kepada Allah segala perkara kembali.  (Al-Syuraa [43]:53-54).
  Al-Quran  dalam ayat 53 disebut   ruh (nafas hidup — Lexicon Lane), sebab dengan perantaraan Al-Quran maka bangsa yang telah mati keadaan akhlak dan keruhaniannya mendapat kehidupan baru, contohnya bangsa Arab jahiliyah hanya dalam waktu 23 tahun saja  melalui suri teladan Nabi Besar Muhammad saw. (QS.33:22) telah berubah menjadi umat yang terbaik yang dijadikan untuk kepentingan seluruh manusia (QS.2:144; QS.3:111).
   Islam adalah kehidupan, nur, dan jalan yang membawa manusia kepada Allah  Swt. dan menyadarkan manusia akan tujuan agung dan luhur kejadiannya, yakni untuk beribadah kepada Allah Swt. melalui pelaksanaan haququlLah dan haququl ‘ibaad (QS.51:57). Menueut Allah Swt. bahwa siapa pun  -- termasuk Nabi Besar Muhammad saw.  --  tidak mengetahui hal-hal yang gaib, kecuali jika Allah Swt. memberitahukan hal-hal gaib tersebut dengan perantaraan sarana-sarana komunikasi yang telah ditetapkan Allah Swt. tersebut  (QS.72:27-29).

Rahasia Gaib Khusus Hanya Dibukakan Kepada para Rasul Allah

    Mengenai kenyataan tersebut berikut adalah firman Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
 قُلۡ  اِنۡ  اَدۡرِیۡۤ  اَقَرِیۡبٌ مَّا تُوۡعَدُوۡنَ اَمۡ  یَجۡعَلُ  لَہٗ  رَبِّیۡۤ   اَمَدًا ﴿۲۶   عٰلِمُ الۡغَیۡبِ فَلَا یُظۡہِرُ عَلٰی غَیۡبِہٖۤ اَحَدًا ﴿ۙ۲۷   اِلَّا مَنِ ارۡتَضٰی مِنۡ رَّسُوۡلٍ فَاِنَّہٗ یَسۡلُکُ مِنۡۢ  بَیۡنِ یَدَیۡہِ  وَ مِنۡ خَلۡفِہٖ رَصَدًا ﴿ۙ۲۸  لِّیَعۡلَمَ  اَنۡ  قَدۡ  اَبۡلَغُوۡا رِسٰلٰتِ رَبِّہِمۡ وَ اَحَاطَ بِمَا لَدَیۡہِمۡ وَ اَحۡصٰی کُلَّ  شَیۡءٍ عَدَدًا ﴿٪۲۹
Katakanlah: “Aku tidak mengetahui apakah azab yang dijanjikan kepada kamu itu telah dekat ataukah Tuhan-ku telah menetapkan baginya masa yang lama.” Dia-lah Yang mengetahui yang gaib, maka Dia tidak menzahirkan  rahasia gaib-Nya kepada siapa pun,  kecuali kepada Rasul yang Dia ridhai  maka sesungguhnya barisan pengawal berjalan di hadapannya dan di belakangnya, supaya Dia mengetahui bah-wa  sungguh  mereka (rasul-rasul) telah menyampaikan Amanat-amanat Tuhan mere-ka, dan Dia meliputi semua yang ada pada mereka dan Dia membuat perhitungan mengenai segala sesuatu. (Al-Jin [72]:26-29).
 Ungkapan, “izhhar ‘ala al-ghaib” berarti: diberi pengetahuan dengan sering dan secara berlimpah-limpah mengenai rahasia gaib bertalian dengan dan mengenai peristiwa dan kejadian yang sangat penting.
Ayat ini merupakan ukuran yang tiada tara bandingannya guna membedakan antara sifat dan jangkauan rahasia-rahasia gaib yang dibukakan kepada seorang rasul Allah dan rahasia-rahasia gaib yang dibukakan kepada orang-orang   beriman  yang bertakwa lainnya.
Perbedaan itu letaknya pada kenyataan bahwa, kalau rasul-rasul Allah dianugerahi izhhar ‘ala al-ghaib yakni penguasaan atas yang gaib, maka rahasia-rahasia yang diturunkan kepada orang-orang bertakwa dan orang-orang suci lainnya tidak menikmati kehormatan serupa itu. Tambahan pula wahyu yang dianugerahkan kepada rasul-rasul Allah, karena ada dalam pemeliharaan-istimewa-Ilahi, keadaannya aman dari pemutar-balikkan atau pemalsuan oleh jiwa-jiwa yang jahat, sedang rahasia-rahasia yang dibukakan kepada orang-orang bertakwa lainnya tidak begitu terpelihara.
 Wahyu rasul-rasul Allah itu dijamin keamanannya terhadap pemutarbalikkan atau pemalsuan, sebab para rasul itu membawa tugas (amanat) dari Allah Swt. yang harus dipenuhi dan mengemban Amanat Ilahi yang harus disampaikan oleh mereka.
   Kembali kepada masalah  sarana komunikasi yang dianugerahkan Allah Swt. kepada Nabi Ya’qub a.s. berupa   “penciuman ruhani” , hal itulah yang membuat beliau saw. mampu mengetahui keberadaan Nabi Yusuf a.s. di Mesir dengan segala kemuliaannya, sebagaimana tergambar dari mimpi yang pernah diceritakannya  kepada beliau, sebelum rombongan dari Mesir sampai ke rumah, firman-Nya:
فَلَمَّاۤ  اَنۡ جَآءَ الۡبَشِیۡرُ اَلۡقٰىہُ عَلٰی وَجۡہِہٖ فَارۡتَدَّ بَصِیۡرًا ۚ قَالَ اَلَمۡ اَقُلۡ لَّکُمۡ ۚۙ اِنِّیۡۤ اَعۡلَمُ مِنَ اللّٰہِ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ ﴿۹۷
Maka tatkala pembawa kabar gembira itu telah datang, ia meletakkan kemeja itu di hadapannya, maka ia (Ya’qub) menjadi mengerti,  ia berkata: “Tidakkah telah aku katakan kepadamu sesungguhnya  aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui?” (Yusuf [12]:97).

(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid

Tidak ada komentar:

Posting Komentar