Senin, 06 Februari 2012

Nabi Ya'qub a.s. di Mesir & Genapnya Mimpi Nabi Yusuf a.s.


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ

 
HUBUNGAN  NABI YUSUF A.S. 
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
  
Bagian   XXXVIII

Tentang

        Nabi Ya'qub a.s. di Mesir &
          Genapnya Mimpi Nabi Yusuf a.s.
 
Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma
  
 
فَلَمَّا دَخَلُوۡا عَلٰی یُوۡسُفَ اٰوٰۤی اِلَیۡہِ اَبَوَیۡہِ وَ قَالَ ادۡخُلُوۡا مِصۡرَ اِنۡ شَآءَ اللّٰہُ   اٰمِنِیۡنَ ﴿ؕ۱۰۰
Maka tatkala mereka datang ke hadapan Yusuf, ia menempatkan kedua orangtuanya   di sampingnya dan ia berkata: “Masuklah ke Mesir dengan aman jika Allāh menghendaki.” (Yusuf [12]:100).

Dalam Bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai permintaan ampunan Allah Swt. yang dikemukakan oleh saudara-saudara Nabi Yusuf a.s., setelah mereka mengetahui bahwa selama itu  mereka telah bersikap dan  berprasangka  buruk terhadap Nabi Ya’qub a.s. dan juga terhadap Nabi Yusuf a.s. dan Benyamin, adik mereka, firman-Nya:
قَالُوۡا یٰۤاَبَانَا اسۡتَغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوۡبَنَاۤ اِنَّا کُنَّا خٰطِئِیۡنَ ﴿۹۸  قَالَ سَوۡفَ اَسۡتَغۡفِرُ لَکُمۡ رَبِّیۡ ؕ اِنَّہٗ ہُوَ  الۡغَفُوۡرُ  الرَّحِیۡمُ ﴿۹۹
Mereka berkata: “Ya, ayah kami, mohonkanlah ampunan bagi kami kepada Allah atas dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah.”  Ia berkata:  “Aku segera akan memohon  pengampunan bagi kamu dari Tuhan-ku, sesungguhnya Dia  Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Yusuf [12]:98-99).
    Berarti ada dua peristiwa permintaan maaf, yakni,  pertama  yang dilakukan  saudara-saudara Nabi Yusuf a.s. di Mesir, berupa pengakuan kesalahan mereka, firman-Nya:
قَالُوۡا تَاللّٰہِ لَقَدۡ اٰثَرَکَ اللّٰہُ عَلَیۡنَا وَ  اِنۡ کُنَّا لَخٰطِئِیۡنَ ﴿۹۲
Mereka berkata:  “Demi Allah, sungguh Allah benar-benar telah melebihkan engkau di atas kami dan sesungguhnya kami benar-benar  orang-orang yang bersalah.”  (Yusuf [12]:92).
    Namun    kakak-kakak Nabi Yusuf a.s. tidak memiliki keberanian untuk meminta maaf kepada Nabi Yusuf a.s., dan Nabi Yusuf a.s. mengetahui hal itu,  karena itu guna menentramkan kegelisahan hati mereka Nabi Yusuf a.s. menyatakan telah memaafkan kesalahan mereka itu, firman-Nya:
قَالَ لَا تَثۡرِیۡبَ عَلَیۡکُمُ الۡیَوۡمَ ؕ یَغۡفِرُ اللّٰہُ  لَکُمۡ ۫ وَ ہُوَ اَرۡحَمُ الرّٰحِمِیۡنَ ﴿۹۳
Ia (Yusuf) berkata: “Tidak ada celaan bagi kamu pada hari ini, semoga Allah mengampuni kamu, dan Dia-lah Yang Paling Penyayang dari semua penyayang.” Yusuf [12]:93).
      Yang kedua adalah permohonan maaf yang dilakukan mereka di hadapan Nabi Ya’qub a.s. di Kanaan  yang dikemukakan sebelumnya, firman-Nya:
قَالُوۡا یٰۤاَبَانَا اسۡتَغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوۡبَنَاۤ اِنَّا کُنَّا خٰطِئِیۡنَ ﴿۹۸  قَالَ سَوۡفَ اَسۡتَغۡفِرُ لَکُمۡ رَبِّیۡ ؕ اِنَّہٗ ہُوَ  الۡغَفُوۡرُ  الرَّحِیۡمُ ﴿۹۹
Mereka berkata: “Ya, ayah kami, mohonkanlah ampunan bagi kami kepada Allah atas dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah.”  Ia berkata:  “Aku segera akan memohon  pengampunan bagi kamu dari Tuhan-ku, sesungguhnya Dia  Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Yusuf [12]:98-99).

Nabi Ya’qub a.s. Sekeluarga Hijrah Ke Mesir

       Sesuai dengan kasyaf (pemandangan ruhani) yang dilihat oleh Nabi Ibraim a.s. sebelumnya – bahwa keturunan beliau akan berada di negeri asing selama 400 tahun (Kejadian 15:12-16) – nubuatan (kabar gaib) tersebut mulai berlaku dengan hijrahnya seluruh keluarga Nabi Ya’qub a.s. ke Mesir memenuhi undangan Nabi Yusuf a.s., firman-Nya:
فَلَمَّا دَخَلُوۡا عَلٰی یُوۡسُفَ اٰوٰۤی اِلَیۡہِ اَبَوَیۡہِ وَ قَالَ ادۡخُلُوۡا مِصۡرَ اِنۡ شَآءَ اللّٰہُ   اٰمِنِیۡنَ ﴿ؕ۱۰۰
Maka tatkala mereka datang ke hadapan Yusuf, ia menempatkan kedua orangtuanya   di sampingnya dan ia berkata: “Masuklah ke Mesir dengan aman jika Allah menghendaki.” (Yusuf [12]:100).
      Rakhel, ibunda Nabi Yusuf a.s.   sendiri telah wafat, tetapi pemakaian kata “orang-orang tua” dalam ayat ini mengandung arti, bahwa ibu tiri mempunyai hak untuk dihormati dan dicintai sama seperti ibu kandung sendiri.
      Ucapan nabi Yusuf a.s. dalam ayat tersebut patut mendapat perhatian, yakni “Masuklah ke Mesir dengan aman jika Allah menghendaki.”  Memang benar bahwa dengan hijrahnya nabi Ya’qub a.s. beserta seluruh keluarga besar beliau ke Mesir mereka itu seakan-akan memasuki “surga duniawi” jika dibandingkan dengan keadaan kehidupan mereka sebelumnya di Kanaan, karena  Nabi Yusuf a.s. sebagai seorang pejabat tinggi  kerajaan Mesir tentu mendapat berbagai perlakuan dan fasilitas khusus dari raja Mesir.
      Namun sebagaimana halnya ketika Allah Swt. memerintahkan “Adam dan istrinya” untuk bertempat tinggal di “jannah”,  selain dikatakan kepada keduanya untuk menikmati berbagai fasilitas  kemudahan hidup yang tersedia di dalam “jannah”  tersebut sekehendak mereka, tetapi Allah Swt. pun memperingatkan mereka agar jangan mendekati “pohon terlarang”, firman-Nya:
وَ قُلۡنَا یٰۤاٰدَمُ اسۡکُنۡ اَنۡتَ وَ زَوۡجُکَ الۡجَنَّۃَ وَ کُلَا مِنۡہَا رَغَدًا حَیۡثُ شِئۡتُمَا ۪ وَ لَا تَقۡرَبَا ہٰذِہِ الشَّجَرَۃَ فَتَکُوۡنَا مِنَ الظّٰلِمِیۡنَ ﴿۳۶
Dan Kami berfirman: “Hai Adam,  tinggallah engkau dan isteri engkau dalam kebun ini, dan makanlah darinya sepuas hati di mana pun kamu berdua sukai,  tetapi janganlah kamu berdua mendekati pohon ini,   jika tidak maka kamu berdua akan  menjadi orang-orang  zalim.” (Al-Baqarah [2]:36).
     Nabi Yusuf a.s. pun memahami hal tersebut dan juga mengetahui bahwa bagaimana sebenarnya keadaan akhir yang akan menimpa generasi berikutnya dari keturunan Nabi Yaqub a.s. (Bani Israil) di Mesir  setelah Nabi Ya’qub dan Nabi Yusuf a.s. wafat, karena secara otomatis keadaan keluarga besar Nabi Ya’qub a.s. (Bani Israil) di Mesir tidak lagi memiliki “pelindung”  seperti keadaan sebelumnya. 
     Dengan demikian  ucapan Nabi Yusuf a.s. tersebut sesuai dengan kenyataan, sebagaimana diisyaratkan dalam kasyaf  (peliharan ruhani) yang sebelumnya telah dilihat oleh Nabi Ibrahim a.s., firman-Nya:
 فَلَمَّا دَخَلُوۡا عَلٰی یُوۡسُفَ اٰوٰۤی اِلَیۡہِ اَبَوَیۡہِ وَ قَالَ ادۡخُلُوۡا مِصۡرَ اِنۡ شَآءَ اللّٰہُ   اٰمِنِیۡنَ ﴿ؕ۱۰۰
Maka tatkala mereka datang ke hadapan Yusuf, ia menempatkan kedua orangtuanya   di sampingnya dan ia berkata: “Masuklah ke Mesir dengan aman jika Allah menghendaki.” (Yusuf [12]:100).

Sempurnanya Takwil Mimpi Nabi Yusuf a.s.

       Dengan hijrahnya Nabi Ya’qub a.s. bersama seluruh keluarga besar beliau ke Mesir  maka takwil  beliau atas mimpi Nabi Yusuf  a.s. benar-benar menjadi sempurna seluruhnya, firman-Nya:
وَ رَفَعَ اَبَوَیۡہِ عَلَی الۡعَرۡشِ وَ خَرُّوۡا لَہٗ سُجَّدًا ۚ وَ قَالَ یٰۤاَبَتِ ہٰذَا تَاۡوِیۡلُ رُءۡیَایَ مِنۡ قَبۡلُ ۫ قَدۡ جَعَلَہَا رَبِّیۡ حَقًّا ؕ وَ قَدۡ  اَحۡسَنَ  بِیۡۤ   اِذۡ  اَخۡرَجَنِیۡ مِنَ السِّجۡنِ وَ جَآءَ بِکُمۡ مِّنَ الۡبَدۡوِ مِنۡۢ بَعۡدِ اَنۡ  نَّزَغَ  الشَّیۡطٰنُ  بَیۡنِیۡ وَ بَیۡنَ اِخۡوَتِیۡ ؕ اِنَّ رَبِّیۡ  لَطِیۡفٌ لِّمَا یَشَآءُ ؕ اِنَّہٗ  ہُوَ  الۡعَلِیۡمُ  الۡحَکِیۡمُ ﴿۱۰۱
Dan ia menaikkan kedua orangtuanya di atas singgasana, dan mereka merebahkan diri bersujud kepada Allah untuknya. Dan ia (Yusuf) berkata: “Wahai ayahku, inilah takwil mimpiku dahulu. Sungguh Tuhan-ku telah menjadikannya benar, dan  sungguh Dia telah berbuat ihsan kepadaku ketika Dia mengeluarkan aku dari penjara dan membawa kamu semua dari padang pasir kepadaku setelah syaitan menghasut di antara aku dan saudara-saudaraku. Sesungguhnya Tuhan-ku Maha Dermawan kepada siapa yang Dia kehendaki, sesungguhnya  Dia Maha Mengetahui, Maha Bijaksana. (Yusuf [12]:101).
       Kata-kata “ia menaikkan kedua orangtuanya di atas singgasana”  dapat berarti, bahwa Nabi Yusuf a.s.   membawa orang tua beliau ke hadapan raja (Kejadian 47:2, 7), atau bahwa beliau dudukkan ibu-bapak beliau pada singgasana beliau sendiri dengan seizin raja. Di zaman dahulu menteri-menteri dan para duta raja-raja pun mempunyai singgasana sendiri.
     Saudara-saudara dan ayah-bunda Nabi Yusuf a.s.    sujud dan menyatakan syukur kepada  Allah Swt.  atas pengangkatan Nabi Yusuf a.s.  pada kedudukan yang begitu tinggi. Jadi Nabi Yusuf a.s.  hanya menjadi sebab dan bukan tujuan dari sujud mereka, sebagaimana diisyaratkan dalam mimpi Nabi Yusuf a.s., firman-Nya:
اِذۡ  قَالَ یُوۡسُفُ لِاَبِیۡہِ یٰۤاَبَتِ اِنِّیۡ  رَاَیۡتُ اَحَدَعَشَرَ کَوۡکَبًا وَّ الشَّمۡسَ وَ الۡقَمَرَ رَاَیۡتُہُمۡ  لِیۡ  سٰجِدِیۡنَ ﴿۵
Ingatlah  ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: “Hai ayahku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi sebelas bintang, matahari dan bulan, aku melihat mereka  sujud kepadaku.”  (Yusuf [12]:5).
      Dalam menyebut karunia Allah Swt., Nabi Yusuf a.s. hanya menyebutkan dibebaskannya beliau dari penjara, dan tidak menyebutkan diselamatkannya beliau dari sumur, jangan-jangan saudara-saudara beliau akan merasa malu.  Atas semua karunia Allah Swt. tersebut selanjutnya Nabi Yusuf a.s. berdoa, firman-Nya:
رَبِّ قَدۡ اٰتَیۡتَنِیۡ مِنَ الۡمُلۡکِ وَ عَلَّمۡتَنِیۡ مِنۡ تَاۡوِیۡلِ الۡاَحَادِیۡثِ ۚ فَاطِرَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۟ اَنۡتَ وَلِیّٖ فِی الدُّنۡیَا وَ الۡاٰخِرَۃِ ۚ تَوَفَّنِیۡ مُسۡلِمًا وَّ اَلۡحِقۡنِیۡ  بِالصّٰلِحِیۡنَ ﴿۱۰۲
“Ya Tuhan-ku, Engkau telah menganugerahkan sebagian kedaulatan kepadaku, dan mengajariku  takwil mimpi. Ya  Pencipta seluruh langit dan bumi, Engkau-lah Pelindung-ku di dunia dan akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan berserah diri dan  gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh.”  (Yusuf [12]:102).
      Doa Nabi Yusuf a.s. tersebut menggenapi  benarnya takwil mimpi yang sebelumnya telah dikemukakan oleh Nabi Ya’qub a.s.  firman-Nya:
وَ کَذٰلِکَ یَجۡتَبِیۡکَ رَبُّکَ وَ یُعَلِّمُکَ مِنۡ تَاۡوِیۡلِ الۡاَحَادِیۡثِ وَ یُتِمُّ نِعۡمَتَہٗ عَلَیۡکَ وَ عَلٰۤی اٰلِ یَعۡقُوۡبَ کَمَاۤ  اَتَمَّہَا عَلٰۤی  اَبَوَیۡکَ  مِنۡ قَبۡلُ  اِبۡرٰہِیۡمَ وَ  اِسۡحٰقَ ؕ اِنَّ رَبَّکَ عَلِیۡمٌ  حَکِیۡمٌ ٪﴿۷
“Dan demikianlah Tuhan engkau akan memilih engkau dan akan mengajar engkau  ta'wil mimpi-mimpi dan akan menyempurnakan nikmat-Nya atas engkau dan atas keturunan Ya’-qub, seperti Dia telah menyempurnakannya atas kedua bapak engkau dahulu, Ibrahim dan Ishaq, sesungguhnya Tuhan engkau Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.” (Yusuf [12]:7).

(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid

Tidak ada komentar:

Posting Komentar