بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
HUBUNGAN NABI YUSUF A.S.
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
Bagian XXXVIII
Tentang
Nabi Ya'qub a.s. di Mesir &
Genapnya Mimpi Nabi Yusuf a.s.
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
فَلَمَّا دَخَلُوۡا عَلٰی یُوۡسُفَ اٰوٰۤی اِلَیۡہِ اَبَوَیۡہِ وَ قَالَ ادۡخُلُوۡا مِصۡرَ اِنۡ شَآءَ اللّٰہُ اٰمِنِیۡنَ ﴿ؕ۱۰۰﴾
Maka tatkala mereka datang ke hadapan Yusuf, ia menempatkan kedua
orangtuanya di sampingnya
dan ia berkata: “Masuklah ke Mesir dengan aman jika Allāh menghendaki.” (Yusuf
[12]:100).
Dalam Bab
sebelumnya telah dijelaskan mengenai permintaan ampunan Allah Swt. yang
dikemukakan oleh saudara-saudara Nabi Yusuf a.s., setelah mereka mengetahui
bahwa selama itu mereka telah bersikap
dan berprasangka buruk terhadap Nabi Ya’qub a.s. dan juga
terhadap Nabi Yusuf a.s. dan Benyamin, adik mereka, firman-Nya:
قَالُوۡا یٰۤاَبَانَا اسۡتَغۡفِرۡ
لَنَا ذُنُوۡبَنَاۤ اِنَّا کُنَّا خٰطِئِیۡنَ ﴿۹۸﴾ قَالَ سَوۡفَ اَسۡتَغۡفِرُ لَکُمۡ رَبِّیۡ ؕ اِنَّہٗ ہُوَ الۡغَفُوۡرُ الرَّحِیۡمُ ﴿۹۹﴾
Mereka berkata: “Ya, ayah kami, mohonkanlah ampunan bagi kami
kepada Allah atas dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah
orang-orang yang bersalah.” Ia
berkata: “Aku segera akan
memohon pengampunan bagi kamu dari
Tuhan-ku, sesungguhnya Dia Maha
Pengampun, Maha Penyayang.” (Yusuf [12]:98-99).
Berarti ada dua peristiwa
permintaan maaf, yakni, pertama yang dilakukan
saudara-saudara Nabi Yusuf a.s. di Mesir, berupa pengakuan kesalahan
mereka, firman-Nya:
قَالُوۡا تَاللّٰہِ لَقَدۡ اٰثَرَکَ اللّٰہُ عَلَیۡنَا وَ اِنۡ کُنَّا لَخٰطِئِیۡنَ ﴿۹۲﴾
Mereka berkata: “Demi
Allah, sungguh Allah benar-benar telah melebihkan engkau di atas
kami dan sesungguhnya kami benar-benar
orang-orang yang bersalah.” (Yusuf
[12]:92).
Namun
kakak-kakak Nabi Yusuf a.s. tidak memiliki
keberanian untuk meminta maaf kepada Nabi Yusuf a.s., dan Nabi Yusuf a.s. mengetahui
hal itu, karena itu guna menentramkan
kegelisahan hati mereka Nabi Yusuf a.s. menyatakan telah memaafkan kesalahan
mereka itu, firman-Nya:
قَالَ لَا تَثۡرِیۡبَ عَلَیۡکُمُ الۡیَوۡمَ ؕ یَغۡفِرُ اللّٰہُ لَکُمۡ ۫ وَ ہُوَ اَرۡحَمُ الرّٰحِمِیۡنَ ﴿۹۳﴾
Ia (Yusuf) berkata: “Tidak ada celaan bagi kamu pada hari ini,
semoga Allah mengampuni kamu, dan Dia-lah Yang Paling
Penyayang dari semua penyayang.” Yusuf [12]:93).
Yang kedua adalah permohonan maaf yang dilakukan mereka di hadapan Nabi
Ya’qub a.s. di Kanaan yang dikemukakan sebelumnya,
firman-Nya:
قَالُوۡا یٰۤاَبَانَا اسۡتَغۡفِرۡ
لَنَا ذُنُوۡبَنَاۤ اِنَّا کُنَّا خٰطِئِیۡنَ ﴿۹۸﴾ قَالَ سَوۡفَ اَسۡتَغۡفِرُ لَکُمۡ رَبِّیۡ ؕ اِنَّہٗ ہُوَ الۡغَفُوۡرُ الرَّحِیۡمُ ﴿۹۹﴾
Mereka berkata: “Ya, ayah kami, mohonkanlah ampunan bagi kami
kepada Allah atas dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah
orang-orang yang bersalah.” Ia
berkata: “Aku segera akan
memohon pengampunan bagi kamu dari
Tuhan-ku, sesungguhnya Dia Maha
Pengampun, Maha Penyayang.” (Yusuf [12]:98-99).
Nabi Ya’qub a.s. Sekeluarga Hijrah Ke
Mesir
Sesuai dengan kasyaf (pemandangan
ruhani) yang dilihat oleh Nabi Ibraim a.s. sebelumnya – bahwa keturunan beliau
akan berada di negeri asing selama 400 tahun (Kejadian 15:12-16) –
nubuatan (kabar gaib) tersebut mulai berlaku dengan hijrahnya seluruh keluarga
Nabi Ya’qub a.s. ke Mesir memenuhi undangan Nabi Yusuf a.s., firman-Nya:
فَلَمَّا دَخَلُوۡا عَلٰی یُوۡسُفَ اٰوٰۤی اِلَیۡہِ اَبَوَیۡہِ وَ قَالَ ادۡخُلُوۡا مِصۡرَ اِنۡ شَآءَ اللّٰہُ اٰمِنِیۡنَ ﴿ؕ۱۰۰﴾
Maka tatkala mereka datang ke hadapan Yusuf, ia menempatkan kedua
orangtuanya di sampingnya
dan ia berkata: “Masuklah ke Mesir dengan aman jika Allah menghendaki.”
(Yusuf [12]:100).
Rakhel,
ibunda Nabi Yusuf a.s. sendiri
telah wafat, tetapi pemakaian kata “orang-orang tua” dalam ayat ini
mengandung arti, bahwa ibu tiri mempunyai hak untuk dihormati dan dicintai sama
seperti ibu kandung sendiri.
Ucapan
nabi Yusuf a.s. dalam ayat tersebut patut mendapat perhatian, yakni “Masuklah
ke Mesir dengan aman jika Allah menghendaki.” Memang benar bahwa dengan hijrahnya
nabi Ya’qub a.s. beserta seluruh keluarga besar beliau ke Mesir mereka itu
seakan-akan memasuki “surga duniawi” jika dibandingkan dengan keadaan
kehidupan mereka sebelumnya di Kanaan, karena Nabi Yusuf a.s. sebagai seorang pejabat
tinggi kerajaan Mesir tentu mendapat
berbagai perlakuan dan fasilitas khusus dari raja Mesir.
Namun
sebagaimana halnya ketika Allah Swt. memerintahkan “Adam dan istrinya”
untuk bertempat tinggal di “jannah”, selain dikatakan kepada keduanya untuk menikmati
berbagai fasilitas kemudahan hidup yang
tersedia di dalam “jannah” tersebut sekehendak
mereka, tetapi Allah Swt. pun memperingatkan mereka agar jangan
mendekati “pohon terlarang”, firman-Nya:
وَ
قُلۡنَا یٰۤاٰدَمُ اسۡکُنۡ اَنۡتَ وَ زَوۡجُکَ الۡجَنَّۃَ وَ کُلَا مِنۡہَا
رَغَدًا حَیۡثُ شِئۡتُمَا ۪ وَ لَا تَقۡرَبَا ہٰذِہِ الشَّجَرَۃَ فَتَکُوۡنَا مِنَ
الظّٰلِمِیۡنَ ﴿۳۶﴾
Dan Kami berfirman: “Hai Adam, tinggallah engkau dan isteri
engkau dalam kebun ini, dan makanlah darinya sepuas hati di
mana pun kamu berdua sukai, tetapi janganlah kamu berdua mendekati
pohon ini, jika tidak
maka kamu berdua akan menjadi
orang-orang zalim.” (Al-Baqarah
[2]:36).
Nabi Yusuf a.s. pun
memahami hal tersebut dan juga mengetahui bahwa bagaimana sebenarnya keadaan
akhir yang akan menimpa generasi berikutnya dari keturunan Nabi Yaqub a.s. (Bani
Israil) di Mesir setelah Nabi Ya’qub dan
Nabi Yusuf a.s. wafat, karena secara otomatis keadaan keluarga besar Nabi Ya’qub
a.s. (Bani Israil) di Mesir tidak lagi memiliki “pelindung” seperti keadaan sebelumnya.
Dengan demikian ucapan Nabi Yusuf a.s. tersebut sesuai dengan
kenyataan, sebagaimana diisyaratkan dalam kasyaf (peliharan ruhani) yang sebelumnya telah
dilihat oleh Nabi Ibrahim a.s., firman-Nya:
فَلَمَّا دَخَلُوۡا عَلٰی یُوۡسُفَ اٰوٰۤی اِلَیۡہِ اَبَوَیۡہِ وَ قَالَ ادۡخُلُوۡا مِصۡرَ اِنۡ شَآءَ اللّٰہُ اٰمِنِیۡنَ ﴿ؕ۱۰۰﴾
Maka tatkala mereka datang ke hadapan Yusuf, ia menempatkan kedua
orangtuanya di sampingnya
dan ia berkata: “Masuklah ke Mesir dengan aman jika Allah menghendaki.”
(Yusuf [12]:100).
Sempurnanya Takwil Mimpi Nabi Yusuf a.s.
Dengan hijrahnya Nabi
Ya’qub a.s. bersama seluruh keluarga besar beliau ke Mesir maka takwil beliau atas mimpi Nabi Yusuf a.s. benar-benar menjadi sempurna seluruhnya,
firman-Nya:
وَ
رَفَعَ اَبَوَیۡہِ عَلَی الۡعَرۡشِ وَ
خَرُّوۡا لَہٗ سُجَّدًا ۚ وَ قَالَ یٰۤاَبَتِ ہٰذَا تَاۡوِیۡلُ رُءۡیَایَ مِنۡ قَبۡلُ ۫ قَدۡ جَعَلَہَا رَبِّیۡ حَقًّا ؕ وَ قَدۡ اَحۡسَنَ بِیۡۤ اِذۡ اَخۡرَجَنِیۡ مِنَ السِّجۡنِ وَ
جَآءَ بِکُمۡ مِّنَ الۡبَدۡوِ مِنۡۢ بَعۡدِ اَنۡ نَّزَغَ الشَّیۡطٰنُ بَیۡنِیۡ وَ بَیۡنَ اِخۡوَتِیۡ ؕ اِنَّ رَبِّیۡ لَطِیۡفٌ لِّمَا یَشَآءُ ؕ اِنَّہٗ ہُوَ الۡعَلِیۡمُ الۡحَکِیۡمُ ﴿۱۰۱﴾
Dan ia menaikkan kedua orangtuanya di atas singgasana, dan
mereka merebahkan diri bersujud kepada Allah untuknya. Dan
ia (Yusuf) berkata: “Wahai ayahku, inilah takwil mimpiku dahulu. Sungguh
Tuhan-ku telah menjadikannya benar, dan
sungguh Dia telah berbuat ihsan kepadaku ketika Dia
mengeluarkan aku dari penjara dan membawa kamu semua dari padang pasir
kepadaku setelah syaitan menghasut di antara aku dan
saudara-saudaraku. Sesungguhnya Tuhan-ku Maha Dermawan kepada siapa
yang Dia kehendaki, sesungguhnya Dia
Maha Mengetahui, Maha Bijaksana. (Yusuf [12]:101).
Kata-kata
“ia menaikkan kedua orangtuanya di atas singgasana” dapat berarti, bahwa Nabi Yusuf a.s. membawa orang tua beliau ke hadapan
raja (Kejadian 47:2, 7), atau bahwa beliau dudukkan ibu-bapak
beliau pada singgasana beliau sendiri dengan seizin raja. Di zaman
dahulu menteri-menteri dan para duta raja-raja pun mempunyai singgasana
sendiri.
Saudara-saudara
dan ayah-bunda Nabi Yusuf a.s. sujud dan menyatakan syukur
kepada Allah Swt. atas
pengangkatan Nabi Yusuf a.s. pada
kedudukan yang begitu tinggi. Jadi Nabi Yusuf a.s. hanya menjadi sebab dan bukan tujuan
dari sujud mereka, sebagaimana diisyaratkan dalam mimpi Nabi Yusuf a.s.,
firman-Nya:
اِذۡ قَالَ یُوۡسُفُ لِاَبِیۡہِ یٰۤاَبَتِ اِنِّیۡ رَاَیۡتُ اَحَدَعَشَرَ کَوۡکَبًا
وَّ الشَّمۡسَ
وَ الۡقَمَرَ رَاَیۡتُہُمۡ لِیۡ سٰجِدِیۡنَ ﴿۵﴾
Ingatlah ketika
Yusuf berkata kepada ayahnya: “Hai ayahku, sesungguhnya aku
melihat dalam mimpi sebelas bintang, matahari dan bulan,
aku melihat mereka sujud kepadaku.”
(Yusuf [12]:5).
Dalam
menyebut karunia Allah Swt., Nabi Yusuf a.s. hanya menyebutkan dibebaskannya
beliau dari penjara, dan tidak menyebutkan diselamatkannya beliau dari sumur,
jangan-jangan saudara-saudara beliau akan merasa malu. Atas semua karunia Allah Swt. tersebut selanjutnya
Nabi Yusuf a.s. berdoa, firman-Nya:
رَبِّ
قَدۡ اٰتَیۡتَنِیۡ مِنَ الۡمُلۡکِ وَ
عَلَّمۡتَنِیۡ مِنۡ تَاۡوِیۡلِ الۡاَحَادِیۡثِ ۚ فَاطِرَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۟ اَنۡتَ وَلِیّٖ فِی الدُّنۡیَا وَ الۡاٰخِرَۃِ ۚ تَوَفَّنِیۡ مُسۡلِمًا وَّ اَلۡحِقۡنِیۡ بِالصّٰلِحِیۡنَ ﴿۱۰۲﴾
“Ya Tuhan-ku, Engkau telah menganugerahkan sebagian
kedaulatan kepadaku, dan mengajariku takwil mimpi. Ya Pencipta seluruh langit dan bumi, Engkau-lah
Pelindung-ku di dunia dan akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan
berserah diri dan gabungkanlah
aku dengan orang-orang yang saleh.” (Yusuf [12]:102).
Doa Nabi Yusuf a.s. tersebut
menggenapi benarnya takwil mimpi yang
sebelumnya telah dikemukakan oleh Nabi Ya’qub a.s. firman-Nya:
وَ
کَذٰلِکَ یَجۡتَبِیۡکَ رَبُّکَ وَ یُعَلِّمُکَ مِنۡ تَاۡوِیۡلِ الۡاَحَادِیۡثِ وَ یُتِمُّ نِعۡمَتَہٗ عَلَیۡکَ وَ عَلٰۤی اٰلِ یَعۡقُوۡبَ کَمَاۤ اَتَمَّہَا عَلٰۤی اَبَوَیۡکَ مِنۡ قَبۡلُ اِبۡرٰہِیۡمَ وَ اِسۡحٰقَ ؕ اِنَّ رَبَّکَ عَلِیۡمٌ حَکِیۡمٌ ٪﴿۷﴾
“Dan demikianlah Tuhan engkau akan memilih engkau dan
akan mengajar engkau ta'wil mimpi-mimpi
dan akan menyempurnakan nikmat-Nya atas engkau dan atas keturunan
Ya’-qub, seperti Dia telah menyempurnakannya atas kedua bapak
engkau dahulu, Ibrahim dan Ishaq, sesungguhnya Tuhan engkau Maha
Mengetahui, Maha Bijaksana.” (Yusuf [12]:7).
(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid
Tidak ada komentar:
Posting Komentar