بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
HUBUNGAN NABI YUSUF A.S.
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
Bagian XLIX
Tentang
Cara Allah Swt. Melakukan Penghakiman
Perpecahan Umat Beragama (1)
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لِمَ
تَقُوۡلُوۡنَ مَا لَا تَفۡعَلُوۡنَ
﴿۲﴾ کَبُرَ مَقۡتًا عِنۡدَ اللّٰہِ
اَنۡ تَقُوۡلُوۡا مَا لَا تَفۡعَلُوۡنَ ﴿۳﴾ اِنَّ اللّٰہَ یُحِبُّ
الَّذِیۡنَ یُقَاتِلُوۡنَ فِیۡ سَبِیۡلِہٖ
صَفًّا کَاَنَّہُمۡ بُنۡیَانٌ مَّرۡصُوۡصٌ ﴿۴﴾
Hai orang-orang yang beriman, mengapa
kamu mengatakan apa yang kamu tidak kerjakan? Adalah sesuatu yang paling dibenci di sisi
Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang
berperang dalam barisan-barisan, mereka
itu seakan-akan suatu bangunan yang tersusun rapat. (Al-Shaf
[61]:3-5).
Dalam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan bahwa dalam
rangka mewujudkan Kejayaan Islam yang kedua kali di Akhir Zaman
ini terlebih dulu perlu mengadakan perbaikan di lingkungan umat Islam
sendiri, sebab jika hal tersebut tidak dilakukan maka akan banyak pertanyaan
dan masalah yang akan muncul serta sulit untuk menjawabnya dan mengatasinya.
Contohnya, jika
para pemuka umat Islam melakukan seruan
(ajakan) kepada para penganut agama-agama
lainnya agar mereka bergabung
ke dalam umat Islam dan agama Islam, lalu mereka balik bertanya: “Kepada
golongan umat Islam dan ajaran Islam yang mana kami harus
menggabungkan diri? Bukankah di kalangan umat Islam pun banyak terdapat sekte
dan firqah yang saling bertentangan, bahkan yang satu dengan yang
lainnya saling mengkafirkan dan saling
serang? Mengapa kalian tidak
terlebih dulu memperbaiki keadaan di lingkungan kalian sendiri?”
Itulah
salah satu contoh pertanyaan balik yang sangat sulit untuk dijawab
oleh para pemuka umat Islam dari sekte
dan firqah apa pun, walau pun benar bahwa menurut Allah Swt. agama Islam dan Al-Quran adalah agama terakhir
dan kitab suci terakhir dan paling sempurna (QS.5:4).
Meninggalkan Petunjuk Allah
Swt. dalam Al-Quran
Kenapa
demikian? Sebab umumnya umat Islam sendiri di Akhir Zaman ini telah
meninggalkan berbagai petunjuk
Allah Swt. dalam Al-Quran, sebagaimana firman-Nya di awal Bab ini:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لِمَ
تَقُوۡلُوۡنَ مَا لَا تَفۡعَلُوۡنَ
﴿۲﴾ کَبُرَ مَقۡتًا عِنۡدَ اللّٰہِ
اَنۡ تَقُوۡلُوۡا مَا لَا تَفۡعَلُوۡنَ ﴿۳﴾ اِنَّ اللّٰہَ یُحِبُّ
الَّذِیۡنَ یُقَاتِلُوۡنَ فِیۡ سَبِیۡلِہٖ
صَفًّا کَاَنَّہُمۡ بُنۡیَانٌ مَّرۡصُوۡصٌ ﴿۴﴾
Hai orang-orang yang beriman, mengapa
kamu mengatakan apa yang kamu tidak kerjakan? Adalah sesuatu yang paling dibenci di sisi
Allah bahwa kamu me-ngatakan apa yang tidak kamu kerjakan. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang
yang berperang dalam barisan-barisan,
mereka itu seakan-akan suatu bangunan yang tersusun rapat. (Al-Shaf
[61]:3-5).
Perbuatan
seorang Muslim hendaknya sesuai dengan pernyataan-pernyataannya. Bicara
sombong dan kosong membawa seseorang tidak keruan kemana yang dituju, dan ikrar-ikrar
lidah tanpa disertai perbuatan-perbuatan nyata adalah berbau kemunafikan
dan ketidaktulusan.
Selanjutnya dalam ayat 5 Allah Swt. lebih
jauh menyatakan bahwa orang-orang Muslim
– sebagai umat terbaik yang dijadikan untuk kepantingan seluruh umat
manusia (QS.2:144; QS.3:111) -- diharapkan
tampil dalam barisan yang rapat, teguh dan kuat terhadap
kekuatan-kekuatan kejahatan, di bawah komando pemimpin mereka, yang
terhadapnya mereka harus taat dengan sepenuhnya dan seikhlas-ikhlasnya.
Pentingnya Berpegang-teguh Pada “Tali Allah”
Tetapi suatu kaum, yang berusaha
menjadi satu jemaat yang kokoh-kuat, harus mempunyai satu tata-cara
hidup, satu cita-cita, satu maksud, satu tujuan dan
satu rencana untuk mencapai tujuan itu. Semua itu hanya
mungkin dapat diwujudkan jika Allah Swt.
kembali menurunkan nikmat dan karunia-Nya
seperti pada masa awal kebangkitan
dan kejayaan Islam yang
pertama, yaitu dengan cara mengulurkan “tali
Allah” yang diulurkan dari langit, bukan “tali-tali”
yang muncul dari dalam bumi,
karena yang “tali-tali” demikian, bukannya menimbulkan persatuan dan kesatuan
umat Islam, bahkan sebaliknya akan
semakin memperparah terjadinya perpecahan di kalangan umat Islam. Mengenai hal tersebut Allah Swt. berfirman:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا تَّقُوا
اللّٰہَ حَقَّ تُقٰتِہٖ وَ لَا تَمُوۡتُنَّ اِلَّا وَ اَنۡتُمۡ مُّسۡلِمُوۡنَ ﴿۱۰۳﴾ وَ اعۡتَصِمُوۡا بِحَبۡلِ اللّٰہِ جَمِیۡعًا وَّ لَا تَفَرَّقُوۡا ۪ وَ اذۡکُرُوۡا نِعۡمَتَ اللّٰہِ عَلَیۡکُمۡ اِذۡ
کُنۡتُمۡ اَعۡدَآءً فَاَلَّفَ بَیۡنَ قُلُوۡبِکُمۡ فَاَصۡبَحۡتُمۡ بِنِعۡمَتِہٖۤ اِخۡوَانًا ۚ وَ کُنۡتُمۡ عَلٰی شَفَا حُفۡرَۃٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنۡقَذَکُمۡ مِّنۡہَا ؕ کَذٰلِکَ یُبَیِّنُ اللّٰہُ لَکُمۡ اٰیٰتِہٖ لَعَلَّکُمۡ
تَہۡتَدُوۡنَ ﴿۱۰۴﴾ وَلۡتَکُنۡ مِّنۡکُمۡ اُمَّۃٌ یَّدۡعُوۡنَ اِلَی الۡخَیۡرِ وَ یَاۡمُرُوۡنَ بِالۡمَعۡرُوۡفِ وَ یَنۡہَوۡنَ عَنِ الۡمُنۡکَرِ ؕ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ ﴿۱۰۵﴾وَ لَا تَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ تَفَرَّقُوۡا وَ اخۡتَلَفُوۡا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَہُمُ الۡبَیِّنٰتُ ؕ وَ اُولٰٓئِکَ لَہُمۡ عَذَابٌ عَظِیۡمٌ ﴿۱۰۶﴾ۙ
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah
dengan takwa yang sebenar-benarnya, dan janganlah sekali-kali kamu mati
kecuali kamu dalam keadaan berserah
diri. Dan berpegangteguhlah kamu sekalian
pada tali Allah, dan janganlah kamu berpecah-belah, dan ingatlah akan nikmat Allah atasmu
ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan, lalu Dia menyatukan hatimu dengan kecintaan
antara satu sama lain
maka dengan nikmat-Nya itu ka-mu
menjadi bersaudara, dan kamu dahulu berada di tepi jurang Api lalu Dia menyelamatkanmu darinya.
Demikianlah Allah menjelaskan Ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu
mendapat petunjuk. Dan hendaklah ada segolongan di antara kamu yang senan-tiasa menyeru manusia
kepada kebaikan, dan menyuruh
kepada yang makruf, serta melarang
dari berbuat munkar, dan mereka itulah orang-orang yang berhasil.
Dan janganlah kamu menjadi
seperti orang-orang yang aberpecah belah dan berselisih
sesudah bukti-bukti yang jelas datang kepada
mereka, dan mereka itulah orang-orang yang baginya ada azab yang besar. (Ali ‘Imran
[3]:103-106).
Habl berarti: seutas tali atau
pengikat yang dengan itu sebuah benda diikat atau dikencangkan; suatu ikatan,
suatu perjanjian atau permufakatan; suatu kewajiban yang karenanya kita menjadi
bertanggung jawab untuk keselamatan seseorang atau suatu barang; persekutuan
dan perlindungan (Lexicon Lane). Nabi Besar Muhammad saw. diriwayatkan telah bersabda: “Kitab Allah itu tali Allah yang telah
diulurkan dari langit ke bumi” (Tafsir Ibnu Jarir, IV, 30).
Sangat
sukar kita mendapatkan suatu kaum yang terpecah-belah lebih daripada orang-orang
Arab sebelum kedatangan Nabi Besar
Muhammad saw. di tengah
mereka, tetapi dalam pada itu sejarah umat manusia tidak dapat mengemukakan
satu contoh pun ikatan persaudaraan penuh cinta yang menjadikan orang-orang
Arab telah bersatu-padu, berkat ajaran dan teladan luhur
lagi mulia Junjungan Agung mereka, Nabi Besar Muhammad saw. (QS.62:3-5;
QS.33:22).
Kata-kata
“di tepi jurang Api” berarti peperangan, saling membinasakan yang di
dalam peperangan itu orang-orang Arab senantiasa terlibat dan menghabiskan kaum
pria mereka. Hal tersebut di Akhir Zaman kembali terjadi di kalangan
umumnya umat Islam, terutama di wilayah Timur Tengah.
Sabda Nabi Besar Muhammad saw. tentang
Akan Terjadinya Perpecahan di Kalangan Umat Islam
Ayat
106 menunjuk kepada perpecahan
dan perselisihan-perselisihan di tengah-tengah kalangan Ahlul Kitab,
untuk menyadarkan kaum Muslimin akan bahaya ketidak-serasian dan ketidaksepakatan.
Mengenai peringatan Allah Swt. kepada umat Islam mengenai akan
adanya perpecahan di kalangan mereka, Nabi Besar Muhammad saw.
telah bersabda bahwa umat sebelumnya (Yahudi dan Nasrani) telah pecah menjadi 73
firqah sedangkan umat Islam akan pecah menjadi 73 firqah. Menurut beliau
saw. bahwa semuanya akan “masuk api”
kecuali satu firqah, yakni firqah atau golongan umat Islam
yang keadaannya seperti ketika Nabi Besar Muhammad saw. dan para sahabat
beliau saw. berada di dalamnya.
Sebagaimana
telah disinggung sebelumnya, untuk
membuktikan benarnya pernyataan Nabi
Besar Muhammad saw. bahwa dari “73 firqah” di lingkungan umat Islam yang saling
bertentangan tersebut hanya satu firqah saja yang akan terhindar dari
“api” – yakni firqah atau golongan Islam yang keadaannya sama sepert keadaan umat Islam di zaman Nabi Besar
Muhammad saw. dan di zaman para
Khulafatur Rasyidah -- berikut adalah
firman Allah Swt. mengenai hal itu:
مَا کَانَ اللّٰہُ لِیَذَرَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ عَلٰی
مَاۤ اَنۡتُمۡ عَلَیۡہِ حَتّٰی
یَمِیۡزَ الۡخَبِیۡثَ مِنَ الطَّیِّبِ ؕ
وَ مَا کَانَ اللّٰہُ لِیُطۡلِعَکُمۡ عَلَی الۡغَیۡبِ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ یَجۡتَبِیۡ
مِنۡ رُّسُلِہٖ مَنۡ یَّشَآءُ ۪ فَاٰمِنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ ۚ وَ اِنۡ تُؤۡمِنُوۡا وَ تَتَّقُوۡا فَلَکُمۡ اَجۡرٌ
عَظِیۡمٌ ﴿۱۸۰﴾
Allah sekali-kali tidak akan
membiarkan orang-orang yang beriman di dalam keadaan kamu berada
di dalamnya hingga Dia memisahkan yang buruk dari yang baik.
Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan yang gaib kepada kamu, tetapi Allah
memilih di antara
rasul-rasul-Nya siapa yang Dia kehendaki, karena itu berimanlah
kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan jika kamu beriman
dan bertakwa, maka bagimu ganjaran yang besar. (Ali ‘Imran
[3]:180).
Sebagaimana sabda Nabi Besar Muhammad saw.
sebelum ini, ketika di kalangan umat
Yahudi telah timbul berbagai firqah yang saling mengkafirkan, maka cara Allah Swt. melakukan pemisahan “yang
buruk” dan “yang baik” dari kalangan
mereka adalah dengan cara mengutus Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., sebagai Al-Masih
atau Mesias yang kedatangannya dijanjikan kepada mereka (Yahya
1:1-28), dan orang-orang Yahudi -- dari firqah
apa pun mereka itu -- yang beriman kepada pendakwaan Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s. maka dalam pandangan Allah Swt. mereka itulah
yang keimanannya benar, sedangkan
golongan-golongan lain yang mendustakan dan menentang
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. adalah golongan yang keimanannya tidak benar.
Begitu juga
ketika di kalangan umat Nasrani
pun terjadi perpecahan menjadi
berbagai sekte (firqah) yang saling mengkafirkan – dan keadaan yang sama tetap berlangsung di
kalangan umat Yahudi, selain mengkafirkan kalangan umat Nasrani (QS.2:112, 114, 136) -- maka SunnatulLah tersebut kembali
terjadi, yakni Allah Swt. mengutus Nabi Besar Muhammad saw. sebagai rasul
Allah yang kedatangannya sedang mereka tunggu-tunggu dengan dengan penuh harap, yakni “nabi yang
seperti Musa” atau “nabi yang
akan datang itu” (Ulangan 18:18-19; Yahya 1:1-28;
QS. 46:11) atau “Dia yang datang dalam nama Tuhan” (Matius
23:37-39) atau “Roh Kebenaran” (Yahya 16:12-13).
Rasul Akhir Zaman
Demikian juga ketika di
Akhir Zaman ini perpercahan umat tersebut terjadi di kalangan
umat Islam maka SunnatulLah dalam
firman Allah Swt. tersebut kembali terjadi, yakni Allah Swt. kembali melakukan “pemisahan yang baik” dan “yang
buruk”, dan pemisahan tersebut bukan hanya terjadi di kalangan umat
Islam saja, tetapi juga berlaku bagi semua umat agama-agama lainnya,
melalui pengutusan Rasul Akhir
Zaman yang kedatangannya mereka tunggu-tunggu -- dengan sebutan (nama)
yang berbeda-beda, padahal merujuk kepada orang yang sama -- yakni Mirza Ghulam Ahmad a.s.,
yang atas perintah Allah Swt. telah mendakwakan diri sebagai Rasul
Allah yang kedatangannya ditunggu-tunggu oleh semua umat beragama
(QS.77:12-20).
(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid
Tidak ada komentar:
Posting Komentar