Rabu, 15 Februari 2012

Cara Allah Swt. Melakukan Penghakiman Perpecahan Umat Beragama (1)


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ

 
HUBUNGAN  NABI YUSUF A.S. 
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
  
Bagian   XLIX 
Tentang

        Cara Allah Swt. Melakukan Penghakiman 
    Perpecahan Umat Beragama (1)  
  
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
 
یٰۤاَیُّہَا  الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا  لِمَ  تَقُوۡلُوۡنَ مَا لَا  تَفۡعَلُوۡنَ ﴿۲  کَبُرَ  مَقۡتًا عِنۡدَ  اللّٰہِ  اَنۡ  تَقُوۡلُوۡا مَا  لَا تَفۡعَلُوۡنَ ﴿۳   اِنَّ اللّٰہَ یُحِبُّ الَّذِیۡنَ یُقَاتِلُوۡنَ فِیۡ سَبِیۡلِہٖ  صَفًّا کَاَنَّہُمۡ  بُنۡیَانٌ  مَّرۡصُوۡصٌ  ﴿۴
Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang kamu tidak kerjakan? Adalah sesuatu yang paling dibenci di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.  Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang  dalam barisan-barisan, mereka itu seakan-akan suatu bangunan yang tersusun rapat. (Al-Shaf [61]:3-5).

Dalam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan bahwa dalam rangka mewujudkan Kejayaan Islam yang kedua kali di Akhir Zaman ini terlebih dulu perlu mengadakan perbaikan di lingkungan umat Islam sendiri, sebab jika hal tersebut tidak dilakukan maka akan banyak pertanyaan dan masalah yang akan muncul serta sulit untuk menjawabnya dan mengatasinya.
     Contohnya,  jika   para pemuka umat Islam melakukan  seruan (ajakan)   kepada para penganut agama-agama lainnya agar mereka  bergabung ke dalam umat Islam dan agama Islam, lalu mereka balik bertanya:  “Kepada  golongan umat Islam dan ajaran Islam yang mana kami harus menggabungkan diri? Bukankah di kalangan umat Islam pun banyak terdapat sekte dan firqah yang saling bertentangan, bahkan yang satu dengan yang lainnya saling mengkafirkan  dan saling serang?  Mengapa kalian tidak terlebih dulu memperbaiki keadaan di lingkungan kalian sendiri?”
     Itulah salah satu contoh pertanyaan balik yang sangat sulit untuk dijawab oleh  para pemuka umat Islam dari sekte dan firqah apa pun, walau pun benar bahwa menurut Allah Swt.  agama Islam  dan Al-Quran adalah agama terakhir dan kitab suci terakhir dan paling sempurna (QS.5:4).

Meninggalkan  Petunjuk Allah Swt. dalam Al-Quran

    Kenapa demikian? Sebab umumnya umat Islam sendiri di Akhir Zaman ini telah meninggalkan  berbagai petunjuk Allah Swt. dalam Al-Quran, sebagaimana firman-Nya di awal Bab ini:
یٰۤاَیُّہَا  الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا  لِمَ  تَقُوۡلُوۡنَ مَا لَا  تَفۡعَلُوۡنَ ﴿۲  کَبُرَ  مَقۡتًا عِنۡدَ  اللّٰہِ  اَنۡ  تَقُوۡلُوۡا مَا  لَا تَفۡعَلُوۡنَ ﴿۳   اِنَّ اللّٰہَ یُحِبُّ الَّذِیۡنَ یُقَاتِلُوۡنَ فِیۡ سَبِیۡلِہٖ  صَفًّا کَاَنَّہُمۡ  بُنۡیَانٌ  مَّرۡصُوۡصٌ  ﴿۴
Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang kamu tidak kerjakan?  Adalah sesuatu yang paling dibenci di sisi Allah bahwa kamu me-ngatakan apa yang tidak kamu kerjakan.   Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang  dalam barisan-barisan, mereka itu seakan-akan suatu bangunan yang tersusun rapat. (Al-Shaf [61]:3-5).
Perbuatan seorang Muslim hendaknya sesuai dengan pernyataan-pernyataannya. Bicara sombong dan kosong membawa seseorang tidak keruan kemana yang dituju, dan ikrar-ikrar lidah tanpa disertai perbuatan-perbuatan nyata adalah berbau kemunafikan dan ketidaktulusan.
 Selanjutnya dalam ayat 5 Allah Swt. lebih jauh  menyatakan bahwa orang-orang Muslim – sebagai umat terbaik yang dijadikan untuk kepantingan seluruh umat manusia  (QS.2:144; QS.3:111) -- diharapkan tampil dalam barisan yang rapat, teguh dan kuat terhadap kekuatan-kekuatan kejahatan, di bawah komando pemimpin mereka, yang terhadapnya mereka harus taat dengan sepenuhnya dan seikhlas-ikhlasnya.

Pentingnya Berpegang-teguh Pada “Tali Allah”

Tetapi suatu kaum, yang berusaha menjadi satu jemaat yang kokoh-kuat, harus mempunyai satu tata-cara hidup, satu cita-cita, satu maksud, satu tujuan dan satu rencana untuk mencapai tujuan itu. Semua itu hanya mungkin  dapat diwujudkan jika Allah Swt. kembali menurunkan  nikmat dan karunia-Nya seperti pada  masa awal kebangkitan dan  kejayaan Islam yang pertama, yaitu dengan cara  mengulurkan “tali Allah” yang diulurkan dari langit, bukan “tali-tali” yang  muncul dari dalam bumi, karena yang “tali-tali” demikian, bukannya menimbulkan persatuan dan kesatuan umat Islam, bahkan sebaliknya  akan semakin memperparah terjadinya perpecahan  di kalangan umat Islam.  Mengenai hal tersebut Allah Swt. berfirman:
یٰۤاَیُّہَا  الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا     تَّقُوا اللّٰہَ حَقَّ تُقٰتِہٖ وَ لَا تَمُوۡتُنَّ  اِلَّا وَ اَنۡتُمۡ  مُّسۡلِمُوۡنَ ﴿۱۰۳  وَ اعۡتَصِمُوۡا بِحَبۡلِ اللّٰہِ جَمِیۡعًا وَّ لَا تَفَرَّقُوۡا ۪ وَ اذۡکُرُوۡا نِعۡمَتَ اللّٰہِ عَلَیۡکُمۡ  اِذۡ  کُنۡتُمۡ اَعۡدَآءً فَاَلَّفَ بَیۡنَ قُلُوۡبِکُمۡ فَاَصۡبَحۡتُمۡ بِنِعۡمَتِہٖۤ اِخۡوَانًا ۚ وَ کُنۡتُمۡ عَلٰی شَفَا حُفۡرَۃٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنۡقَذَکُمۡ مِّنۡہَا ؕ کَذٰلِکَ یُبَیِّنُ اللّٰہُ لَکُمۡ اٰیٰتِہٖ  لَعَلَّکُمۡ  تَہۡتَدُوۡنَ ﴿۱۰۴  وَلۡتَکُنۡ مِّنۡکُمۡ اُمَّۃٌ یَّدۡعُوۡنَ اِلَی الۡخَیۡرِ وَ یَاۡمُرُوۡنَ بِالۡمَعۡرُوۡفِ وَ یَنۡہَوۡنَ عَنِ الۡمُنۡکَرِ ؕ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ  الۡمُفۡلِحُوۡنَ ﴿۱۰۵وَ لَا تَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ تَفَرَّقُوۡا وَ اخۡتَلَفُوۡا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَہُمُ الۡبَیِّنٰتُ ؕ وَ اُولٰٓئِکَ لَہُمۡ عَذَابٌ عَظِیۡمٌ ﴿۱۰۶﴾ۙ
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan takwa yang sebenar-benarnya, dan  janganlah sekali-kali kamu mati kecuali kamu dalam keadaan berserah  diri.  Dan  berpegangteguhlah kamu sekalian pada tali  Allah, dan   janganlah kamu berpecah-belah,  dan  ingatlah akan nikmat Allah atasmu ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan, lalu  Dia menyatukan hatimu dengan kecintaan  antara satu sama lain maka  dengan nikmat-Nya itu ka-mu menjadi bersaudara, dan kamu dahulu berada di tepi jurang Api  lalu Dia menyelamatkanmu darinya. Demikianlah Allah menjelaskan Ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu mendapat petunjuk.   Dan hendaklah ada segolongan di antara kamu   yang senan-tiasa menyeru manusia kepada kebaikan,   dan menyuruh kepada yang makruf,  serta melarang dari berbuat munkar,  dan mereka itulah orang-orang yang berhasil.    Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang aberpecah belah dan berselisih  sesudah  bukti-bukti yang jelas datang kepada mereka, dan mereka itulah orang-orang  yang baginya  ada azab yang besar. (Ali ‘Imran [3]:103-106).
   Habl berarti: seutas tali atau pengikat yang dengan itu sebuah benda diikat atau dikencangkan; suatu ikatan, suatu perjanjian atau permufakatan; suatu kewajiban yang karenanya kita menjadi bertanggung jawab untuk keselamatan seseorang atau suatu barang; persekutuan dan perlindungan (Lexicon Lane). Nabi Besar Muhammad saw.  diriwayatkan telah bersabda:  “Kitab Allah itu tali Allah yang telah diulurkan dari langit ke bumi” (Tafsir Ibnu Jarir, IV, 30).
    Sangat sukar kita mendapatkan suatu kaum yang terpecah-belah lebih daripada orang-orang Arab sebelum  kedatangan Nabi Besar Muhammad saw.   di tengah mereka, tetapi dalam pada itu sejarah umat manusia tidak dapat mengemukakan satu contoh pun ikatan persaudaraan penuh cinta yang menjadikan orang-orang Arab telah bersatu-padu, berkat ajaran dan teladan luhur lagi mulia Junjungan Agung mereka, Nabi Besar Muhammad saw. (QS.62:3-5; QS.33:22).
     Kata-kata “di tepi jurang Api” berarti peperangan, saling membinasakan yang di dalam peperangan itu orang-orang Arab senantiasa terlibat dan menghabiskan kaum pria mereka. Hal tersebut di Akhir Zaman kembali terjadi di kalangan umumnya umat Islam, terutama di wilayah Timur Tengah.

Sabda Nabi Besar Muhammad saw. tentang
Akan Terjadinya Perpecahan di Kalangan Umat Islam

      Ayat 106  menunjuk kepada perpecahan dan perselisihan-perselisihan di tengah-tengah kalangan Ahlul Kitab, untuk menyadarkan kaum Muslimin akan bahaya ketidak-serasian dan ketidaksepakatan. Mengenai peringatan Allah Swt. kepada umat Islam mengenai akan adanya  perpecahan  di kalangan mereka, Nabi Besar Muhammad saw. telah bersabda bahwa umat sebelumnya (Yahudi dan Nasrani) telah pecah menjadi 73 firqah sedangkan umat Islam akan  pecah menjadi 73 firqah. Menurut beliau saw. bahwa  semuanya akan “masuk api” kecuali satu firqah, yakni firqah atau golongan umat Islam yang keadaannya seperti ketika Nabi Besar Muhammad saw. dan para sahabat beliau saw. berada di dalamnya.
      Sebagaimana telah disinggung sebelumnya,  untuk membuktikan benarnya pernyataan  Nabi Besar Muhammad saw. bahwa dari “73 firqah” di lingkungan umat Islam yang saling bertentangan tersebut hanya satu firqah saja yang akan terhindar dari “api” – yakni firqah atau golongan Islam yang keadaannya sama  sepert keadaan umat Islam di zaman Nabi Besar Muhammad saw. dan di zaman  para Khulafatur Rasyidah --  berikut adalah firman Allah Swt. mengenai hal itu:
مَا  کَانَ اللّٰہُ لِیَذَرَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ عَلٰی مَاۤ  اَنۡتُمۡ عَلَیۡہِ حَتّٰی یَمِیۡزَ  الۡخَبِیۡثَ مِنَ الطَّیِّبِ ؕ وَ مَا کَانَ اللّٰہُ لِیُطۡلِعَکُمۡ عَلَی الۡغَیۡبِ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ یَجۡتَبِیۡ مِنۡ رُّسُلِہٖ مَنۡ یَّشَآءُ ۪ فَاٰمِنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ ۚ وَ  اِنۡ تُؤۡمِنُوۡا وَ تَتَّقُوۡا فَلَکُمۡ  اَجۡرٌ  عَظِیۡمٌ ﴿۱۸۰
Allah sekali-kali tidak akan  membiarkan orang-orang yang beriman di dalam keadaan kamu berada di dalamnya  hingga  Dia memisahkan yang buruk dari yang baik. Dan Allah sekali-kali tidak akan  memperlihatkan  yang gaib kepada kamu, tetapi Allah memilih  di antara rasul-rasul-Nya siapa yang Dia kehendaki, karena itu berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan jika kamu beriman dan bertakwa, maka bagimu ganjaran yang besar. (Ali ‘Imran [3]:180).
      Sebagaimana sabda Nabi Besar Muhammad saw. sebelum ini,  ketika di kalangan umat Yahudi  telah timbul berbagai  firqah yang saling  mengkafirkan,  maka cara Allah Swt. melakukan pemisahan “yang buruk” dan “yang baik”  dari kalangan mereka adalah dengan cara mengutus Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., sebagai Al-Masih atau Mesias yang kedatangannya dijanjikan kepada mereka (Yahya 1:1-28), dan orang-orang Yahudi  -- dari firqah apa pun mereka itu -- yang beriman kepada pendakwaan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.   maka   dalam pandangan Allah Swt. mereka itulah yang keimanannya benar, sedangkan  golongan-golongan  lain  yang mendustakan dan menentang Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  adalah  golongan yang keimanannya tidak benar.
       Begitu juga ketika  di kalangan umat Nasrani pun  terjadi perpecahan menjadi berbagai sekte (firqah) yang saling mengkafirkan – dan keadaan yang sama tetap berlangsung di kalangan umat Yahudi, selain mengkafirkan  kalangan umat Nasrani (QS.2:112, 114, 136)  -- maka SunnatulLah tersebut kembali terjadi, yakni Allah Swt.   mengutus Nabi Besar Muhammad saw. sebagai rasul Allah yang kedatangannya sedang mereka tunggu-tunggu dengan  dengan penuh harap, yakni “nabi yang seperti Musa”  atau “nabi yang akan datang itu” (Ulangan 18:18-19; Yahya 1:1-28; QS. 46:11) atau “Dia yang datang dalam nama Tuhan” (Matius 23:37-39) atau “Roh Kebenaran” (Yahya 16:12-13).

Rasul Akhir Zaman

       Demikian juga ketika di Akhir Zaman ini perpercahan umat tersebut terjadi di kalangan umat Islam maka SunnatulLah  dalam firman Allah Swt. tersebut kembali terjadi, yakni Allah Swt. kembali melakukan  “pemisahan yang baik” dan “yang buruk”, dan pemisahan tersebut bukan hanya terjadi di kalangan umat Islam saja, tetapi juga berlaku bagi semua umat agama-agama lainnya, melalui pengutusan  Rasul Akhir Zaman yang kedatangannya mereka tunggu-tunggu -- dengan sebutan (nama) yang berbeda-beda, padahal merujuk kepada orang yang sama  -- yakni Mirza Ghulam Ahmad a.s., yang atas perintah Allah Swt. telah mendakwakan diri sebagai Rasul Allah yang kedatangannya ditunggu-tunggu oleh semua umat beragama (QS.77:12-20).

(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid

Tidak ada komentar:

Posting Komentar