بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
HUBUNGAN NABI YUSUF A.S.
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
Bagian XXXIII
Tentang
Saudara-sudara Nabi Yusuf a.s. Kembali
Mengkhianati Janji-Nya
Oleh
Ki Langlang
Buana Kusuma
وَ
لَمَّا دَخَلُوۡا مِنۡ حَیۡثُ اَمَرَہُمۡ اَبُوۡہُمۡ ؕ مَا کَانَ یُغۡنِیۡ عَنۡہُمۡ مِّنَ اللّٰہِ مِنۡ شَیۡءٍ اِلَّا حَاجَۃً فِیۡ نَفۡسِ یَعۡقُوۡبَ قَضٰہَا ؕ وَ اِنَّہٗ لَذُوۡ عِلۡمٍ لِّمَا عَلَّمۡنٰہُ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَ النَّاسِ
لَا یَعۡلَمُوۡنَ ﴿٪۶۹﴾
Dan tatkala
mereka masuk dengan cara yang telah
diperintahkan ayahnya kepada mereka, hal itu sama sekali tidak berguna bagi
mereka sedikit pun terhadap keputusan Allah, kecuali sekedar adanya suatu keinginan
dalam diri Ya’qub yang telah menggenapinya, dan sesungguhnya ia (Ya’qub) benar-benar
memiliki ilmu yang Kami telah
mengajarkannya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Yusuf [12]:69).
Dalam Bab sebelumnya telah dijelaskan
mengenai kedatangan saudara-saudara Nabi Yusuf a.s. ke Mesir karena bencana
kekeringan yang melanda wilayah Kanaan
atau Timur sedang terjadi, sehingga
terpaksa saudara-saudara Nabi Yusuf a.s. pergi Mesir untuk membeli gandum.
Namun sepulangnya kembali ke Kanaan mereka mendapati uang pembelian
gamdum dikembalikan lagi dalam salah satu karung gandum mereka, sehingga hal
itu menjadi alasan bagi mereka agar ayah
mereka, Nabi Ya’qub a.s. mengizinkan Benyamin, adik Nabi Yusuf a.s., turut
serta bersama mereka pergi ke Mesir.
Nabi Ya’qub a.s. telah dapat menangkap isyarat keberadaan Nabi Yusuf
a.s. di Mesir ketika mendengar bahwa
seorang pejabat di Mesir meminta agar
pada waktu mereka datang lagi ke
Mesir harus membawa serta Banyamin, sebagai syarat akan dilayaninya pembelian
gandum, dan keyakinan Nabi Ya’qub a.s. semakin kuat mengenal hal tersebut
setelah diketahui bahwa uang pembelian gandum dari mereka dikembalikan lagi.
Tetapi untuk menghindari kecurigaan mereka terhadap hal tersebut, Nabi Ya’qub a.s. tetap
meminta mereka berjanji atas nama Allah
agar menjaga Benyamin, sambil mengatur siasat agar Benyamin dapat bertemu
dengan Nabi Yusuf a.s. di Mesir, yakni meminta mereka untuk masuk ke Mesir dari pintu yang berbeda satu
sama, firman-Nya:
وَ
قَالَ یٰبَنِیَّ لَا تَدۡخُلُوۡا مِنۡۢ بَابٍ وَّاحِدٍ وَّ ادۡخُلُوۡا مِنۡ اَبۡوَابٍ مُّتَفَرِّقَۃٍ ؕ وَ مَاۤ اُغۡنِیۡ عَنۡکُمۡ مِّنَ اللّٰہِ مِنۡ شَیۡءٍ ؕ اِنِ الۡحُکۡمُ اِلَّا لِلّٰہِ ؕ عَلَیۡہِ تَوَکَّلۡتُ ۚ وَ عَلَیۡہِ فَلۡیَتَوَکَّلِ الۡمُتَوَکِّلُوۡنَ ﴿۶۸﴾
Dan ia (Ya’qub) berkata: “Hai anak-anakku, janganlah kamu masuk
dari satu pintu, tetapi masuklah dari pintu-pintu yang berlainan,
dan aku tidak berguna sedikit pun bagimu terhadap rencana Allah. Keputusan
itu hanya pada Allah, kepada-Nyalah aku bertawakal
dan kepada-Nya-lah hendaknya bertawakkal orang-orang yang tawakkal.” (Yusuf
[12]:68).
Benyamin Bertemu Nabi Yusuf a.s.
Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
وَ
لَمَّا دَخَلُوۡا مِنۡ حَیۡثُ اَمَرَہُمۡ اَبُوۡہُمۡ ؕ مَا کَانَ یُغۡنِیۡ عَنۡہُمۡ مِّنَ اللّٰہِ مِنۡ شَیۡءٍ اِلَّا حَاجَۃً فِیۡ نَفۡسِ یَعۡقُوۡبَ قَضٰہَا ؕ وَ اِنَّہٗ لَذُوۡ عِلۡمٍ لِّمَا عَلَّمۡنٰہُ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَ النَّاسِ
لَا یَعۡلَمُوۡنَ ﴿٪۶۹﴾
Dan tatkala
mereka masuk dengan cara yang telah
diperintahkan ayahnya kepada mereka, hal itu sama sekali tidak berguna bagi
mereka sedikit pun terhadap keputusan Allah, kecuali sekedar adanya suatu keinginan dalam
diri Ya’qub yang telah menggenapinya, dan sesungguhnya ia (Ya’qub) benar-benar
memiliki ilmu yang Kami telah
mengajarkannya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Yusuf [12]:69).
Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya, bahwa Nabi Ya’qub a.s. agaknya telah menyadari, atau kepada beliau mungkin telah diberitahukan dengan wahyu Ilahi, bahwa orang di Mesir itu Nabi Yusuf a.s., dan karena itu beliau minta agar putra-putra beliau memasuki kota secara terpisah, supaya Nabi Yusuf a.s. dapat memperoleh kesempatan untuk bertemu dan bercakap-cakap dengan saudaranya, Benyamin, secara berempat mata.
Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya, bahwa Nabi Ya’qub a.s. agaknya telah menyadari, atau kepada beliau mungkin telah diberitahukan dengan wahyu Ilahi, bahwa orang di Mesir itu Nabi Yusuf a.s., dan karena itu beliau minta agar putra-putra beliau memasuki kota secara terpisah, supaya Nabi Yusuf a.s. dapat memperoleh kesempatan untuk bertemu dan bercakap-cakap dengan saudaranya, Benyamin, secara berempat mata.
Oleh
karena itu tidak benar pendapat yang mengatakan bahwa karena Nabi Ya’qub a.s. bertahun-tahun
terus menerus menangis karena selalu merindukan Nabi Yusuf a.s. sehingga mata beliau, na’udzubillaah min dzaalik, menjadi buta, pendapat
tersebut tidak benar (QS.12:85), sebab dari mimpi Nabi Yusuf a.s. yang
diceritakan kepada beliau (QS.12:5-7), Nabi Ya’qub a.s. mengetahui bahwa Nabi Yusuf
a.s. bukan saja akan berumur panjang, bahkan akan meraih kehidupan yang mulia,
baik dari segi ruhani maupun dari segi duniawi. Mengenai hal ini akan
dijelaskan lebih lanjut setelah pembahasan sampai ke ayat tersebut. Selanjutnya
Allah Swt. berfirman:
وَ لَمَّا دَخَلُوۡا عَلٰی یُوۡسُفَ اٰوٰۤی اِلَیۡہِ اَخَاہُ قَالَ اِنِّیۡۤ اَنَا اَخُوۡکَ فَلَا تَبۡتَئِسۡ
بِمَا کَانُوۡا یَعۡمَلُوۡنَ ﴿۷۰﴾
Dan ketika
mereka menghadap kepada Yusuf, ia memberikan tempat tinggal kepada saudaranya
itu bersama dia, dan ia berkata: “Sesungguhnya aku saudara engkau, maka janganlah engkau
bersedih atas apa yang mereka telah perbuat.” (Yusuf [12]:70).
“Rencana” Allah
Swt. Untuk Nabi Yusuf a.s.
Dari ayat tersebut
diketahui, bahwa jangankan kakak-kakak Nabi Yusuf a.s. yang tidak menyukai
beliau, Benyamin pun benar-benar tidak mengenali kakak kandungnya sendiri, Nabi
Yusuf a.s., karena ada diluar batas bayangan pemikiran mereka kalau Nabi Yusuf
a.s. yang mereka kenal di masa kecilnya sebagaimana halnya keadaan umumnya keadaan
anak-anak di kampung akan berada di lingkungan istana kerajaan Mesir sebagai
salah seorang pejabat tinggi kerajaan Mesir. Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
فَلَمَّا
جَہَّزَہُمۡ بِجَہَازِہِمۡ جَعَلَ السِّقَایَۃَ فِیۡ رَحۡلِ اَخِیۡہِ ثُمَّ اَذَّنَ مُؤَذِّنٌ اَیَّتُہَا الۡعِیۡرُ اِنَّکُمۡ لَسٰرِقُوۡنَ ﴿۷۰﴾ قَالُوۡا وَ اَقۡبَلُوۡا عَلَیۡہِمۡ مَّا ذَا
تَفۡقِدُوۡنَ ﴿۷۱﴾
Maka tatkala ia telah melengkapi mereka dengan perlengkapan bahan
makanannya, ia (Yusuf) meletakkan piala takaran ke dalam kantong
pelana saudaranya (Benyamin) kemudian berseru
seorang penyeru: “Hai orang-orang kafilah, sesungguhnya kamu
benar-benar pencuri! (Yusuf
[12]:71).
Nabi Yusuf a.s. tentu
ingin lebih lama lagi bersama adik kandungnya, Benyamin, karena keduanya sangat
lama tidak bertemu, tetapi keadaan tidak memungkinkan bagi Nabi Yusuf a.s. untuk
melakukan hal tersebut karena pasti
saudara-saudara beliau yang akan menaruh curiga.
Namun Allah Swt. telah
merencanakan suatu “rencana” khusus bagi Nabi Yusuf a.s., yang benar-benar tidak diketahui oleh Nabi
Yusuf a.s., sebab pada hakikatnya “rencana” Allah Swt. merupakan langkah awal
dari proses hijrahnya seluruh keluarga
besar Nabi Ya’qub a.s. dari Kanaan ke Mesir, yang pada akhirnya mimpi Nabi Yusuf a.s. sepenuhnya menjadi
kenyataan sebagaimana yang ditakwilkan oleh Nabi Ya’qub a.s. (QS.12:5-7).
Kata
ja’ala (meletakkan) dapat juga menunjukkan bahwa Nabi Yusuf a.s. sendiri memerintahkan supaya piala itu
dimasukkan ke dalam kantong saudaranya, sehingga ia dapat mempergunakannya pada
perjalanan pulang; atau piala itu dengan tidak sengaja telah diletakkan di
antara barang-barang Benyamin, sedang Nabi Yusuf a.s. tidak mengetahui bahwa benda itu ada di
sana.
Tidaklah
benar kalau dikatakan bahwa Nabi Yusuf a.s. sendirilah yang mula-mula memerintahkan
supaya piala untuk minum itu ditempatkan dalam karung adiknya, lalu menuduhnya
sebagai pencuri — suatu perbuatan yang tidak mungkin dilaksanakan oleh wujud
semulia beliau. Kenyataannya ialah, sebuah piala minumlah (siqayah) yang
telah Nabi Yusuf a.s. perintah memasukkannya ke dalam karung adik beliau,
sedangkan bejana yang dinyatakan hilang oleh tukang seru kerajaan, ialah suatu shuwa'
(bejana penakar, gantang).
Agaknya
dari kesibukan membantu saudara-saudara beliau untuk mempersiapkan bagi
perjalanan pulang mereka dan mengingat pendeknya waktu untuk berpisah dengan Benyamin
sesudah pertemuan yang sesingkat itu, Nabi Yusuf a.s. merasa haus dan minta dibawakan air.
Air itu dibawa kepada beliau dalam piala atau bejana penakar milik kerajaan.
Piala-piala demikian pada waktu itu dipergunakan, baik sebagai penakar maupun
untuk minum.
Sesudah
melepaskan dahaga, Nabi Yusuf a.s. tanpa sengaja telah meletakkan piala itu di
antara barang-barang Benyamin, dan dengan demikian piala itu ikut terbungkus
bersama barang-barang saudara beliau itu, tanpa diketahui oleh siapa pun. Nabi
Yusuf a.s. segera mengerti
bagaimana kekeliruan itu telah terjadi, tetapi mengingat bahwa kesemuanya itu
adalah rencana Ilahi sendiri yang mengandung maksud untuk menahan Benyamin,
maka beliau dengan bijaksana bersikap diam diri saja sebelum kafilah itu pergi. Jadi terjadinya hal tersebut benar-benar merupakan “rencana” Allah Swt.. Firman-Nya:
قَالُوۡا وَ اَقۡبَلُوۡا عَلَیۡہِمۡ مَّا ذَا
تَفۡقِدُوۡنَ ﴿۷۲﴾ قَالُوۡا نَفۡقِدُ صُوَاعَ الۡمَلِکِ
وَ لِمَنۡ جَآءَ بِہٖ حِمۡلُ
بَعِیۡرٍ وَّ اَنَا بِہٖ زَعِیۡمٌ ﴿۷۳﴾ قَالُوۡا تَاللّٰہِ لَقَدۡ عَلِمۡتُمۡ مَّا جِئۡنَا
لِنُفۡسِدَ فِی الۡاَرۡضِ وَ مَا کُنَّا سٰرِقِیۡنَ ﴿۷۴﴾
Mereka
sambil berbalik kepada mereka itu berkata: “Kehilangan barang apakah
kamu?” Mereka menjawab: “Kami kehilangan piala takaran raja, dan barangsiapa
menemukannya kembali akan mendapat gandum sepemuatan unta, dan aku
menjaminnya.” Mereka menjawab: “Demi Allah,
sungguh kamu benar-benar mengetahui kami tidak datang untuk berbuat
kerusakan di negeri ini, dan kami sama sekali bukanlah pencuri.” (Yusuf
[12]:72-74).
Jadi, nampak jelas bahwa
pada hakikatnya peristiwa itu terjadi merupakan bagian dari “duel makar”
antara makar buruk yang dilakukan kakak-kakak Nabi Yusuf a.s. terhadap
Nabi Yusuf a.s. karena kedengkian mereka (QS.12:8-21) dengan “makar tandingan”
Allah Swt. untuk mendukung Nabi Yusuf a.s. (QS.3:55; QS.8:31; QS.27:51).
(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid
Tidak ada komentar:
Posting Komentar