Rabu, 01 Februari 2012

Saudara-saudara Nabi Yusuf a.s. Kembali Mengkhianati Janjinya


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ

 
HUBUNGAN  NABI YUSUF A.S. 
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
  
Bagian   XXXIII
Tentang
 

       Saudara-sudara Nabi Yusuf a.s. Kembali 
Mengkhianati Janji-Nya
  Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma  
 
وَ لَمَّا دَخَلُوۡا مِنۡ حَیۡثُ اَمَرَہُمۡ  اَبُوۡہُمۡ ؕ مَا کَانَ یُغۡنِیۡ عَنۡہُمۡ مِّنَ اللّٰہِ مِنۡ شَیۡءٍ اِلَّا حَاجَۃً فِیۡ نَفۡسِ یَعۡقُوۡبَ قَضٰہَا ؕ وَ اِنَّہٗ  لَذُوۡ عِلۡمٍ لِّمَا عَلَّمۡنٰہُ  وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَ  النَّاسِ  لَا  یَعۡلَمُوۡنَ ﴿٪۶۹
Dan tatkala mereka masuk dengan cara yang  telah diperintahkan ayahnya kepada mereka, hal itu sama sekali tidak berguna bagi mereka sedikit pun terhadap keputusan Allah, kecuali sekedar adanya suatu keinginan dalam diri Ya’qub yang telah menggenapinya, dan sesungguhnya ia (Ya’qub) benar-benar memiliki ilmu yang  Kami telah mengajarkannya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Yusuf [12]:69).

Dalam Bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai kedatangan saudara-saudara Nabi Yusuf a.s. ke Mesir karena bencana kekeringan yang melanda  wilayah Kanaan atau Timur  sedang terjadi, sehingga terpaksa saudara-saudara Nabi Yusuf a.s. pergi Mesir untuk membeli gandum.
      Namun sepulangnya kembali ke Kanaan mereka mendapati uang pembelian gamdum dikembalikan lagi dalam salah satu karung gandum mereka, sehingga hal itu  menjadi alasan bagi mereka agar ayah mereka, Nabi Ya’qub a.s. mengizinkan Benyamin, adik Nabi Yusuf a.s., turut serta bersama  mereka pergi ke Mesir.
      Nabi Ya’qub a.s. telah dapat menangkap isyarat keberadaan Nabi Yusuf a.s. di Mesir ketika mendengar bahwa  seorang pejabat di Mesir meminta agar  pada waktu   mereka datang lagi ke Mesir harus membawa serta Banyamin, sebagai syarat akan dilayaninya pembelian gandum, dan keyakinan Nabi Ya’qub a.s. semakin kuat mengenal hal tersebut setelah diketahui bahwa uang pembelian gandum dari mereka dikembalikan lagi.
     Tetapi untuk menghindari kecurigaan mereka  terhadap hal tersebut, Nabi Ya’qub a.s. tetap meminta mereka  berjanji atas nama Allah agar menjaga Benyamin, sambil mengatur siasat agar Benyamin dapat bertemu dengan Nabi Yusuf a.s. di Mesir, yakni meminta mereka untuk  masuk ke Mesir dari pintu yang berbeda satu sama, firman-Nya:
وَ قَالَ یٰبَنِیَّ  لَا تَدۡخُلُوۡا مِنۡۢ بَابٍ وَّاحِدٍ  وَّ ادۡخُلُوۡا  مِنۡ  اَبۡوَابٍ  مُّتَفَرِّقَۃٍ ؕ وَ مَاۤ  اُغۡنِیۡ عَنۡکُمۡ  مِّنَ اللّٰہِ مِنۡ شَیۡءٍ ؕ اِنِ الۡحُکۡمُ  اِلَّا لِلّٰہِ ؕ عَلَیۡہِ تَوَکَّلۡتُ ۚ وَ عَلَیۡہِ فَلۡیَتَوَکَّلِ الۡمُتَوَکِّلُوۡنَ ﴿۶۸
Dan ia (Ya’qub) berkata: “Hai anak-anakku, janganlah kamu masuk dari satu pintu, tetapi masuklah dari pintu-pintu yang berlainan, dan aku tidak berguna sedikit pun bagimu terhadap rencana Allah. Keputusan itu hanya pada Allah,  kepada-Nyalah aku bertawakal dan kepada-Nya-lah hendaknya bertawakkal  orang-orang yang tawakkal.” (Yusuf [12]:68).

Benyamin Bertemu Nabi Yusuf a.s.

Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
وَ لَمَّا دَخَلُوۡا مِنۡ حَیۡثُ اَمَرَہُمۡ  اَبُوۡہُمۡ ؕ مَا کَانَ یُغۡنِیۡ عَنۡہُمۡ مِّنَ اللّٰہِ مِنۡ شَیۡءٍ اِلَّا حَاجَۃً فِیۡ نَفۡسِ یَعۡقُوۡبَ قَضٰہَا ؕ وَ اِنَّہٗ  لَذُوۡ عِلۡمٍ لِّمَا عَلَّمۡنٰہُ  وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَ  النَّاسِ  لَا  یَعۡلَمُوۡنَ ﴿٪۶۹
Dan tatkala mereka masuk dengan cara yang  telah diperintahkan ayahnya kepada mereka,  hal itu sama sekali tidak berguna bagi mereka sedikit pun terhadap keputusan Allah, kecuali sekedar adanya suatu keinginan dalam diri Ya’qub yang telah menggenapinya, dan sesungguhnya ia (Ya’qub) benar-benar memiliki ilmu yang  Kami telah mengajarkannya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Yusuf [12]:69).
      Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya, bahwa  Nabi Ya’qub a.s. agaknya telah menyadari, atau kepada beliau mungkin telah diberitahukan dengan wahyu Ilahi, bahwa orang di Mesir itu  Nabi Yusuf a.s.,  dan  karena itu beliau minta agar putra-putra beliau memasuki kota secara terpisah, supaya Nabi Yusuf a.s. dapat memperoleh kesempatan untuk bertemu dan bercakap-cakap dengan saudaranya, Benyamin, secara berempat mata.
       Oleh karena itu tidak benar pendapat yang mengatakan bahwa karena Nabi Ya’qub a.s. bertahun-tahun terus menerus menangis   karena selalu merindukan Nabi  Yusuf a.s. sehingga mata beliau, na’udzubillaah  min dzaalik, menjadi buta, pendapat tersebut tidak benar (QS.12:85), sebab dari mimpi Nabi Yusuf a.s. yang diceritakan kepada beliau (QS.12:5-7), Nabi Ya’qub a.s. mengetahui bahwa Nabi Yusuf a.s. bukan saja akan berumur panjang, bahkan akan meraih kehidupan yang mulia, baik dari segi ruhani maupun dari segi duniawi. Mengenai hal ini akan dijelaskan lebih lanjut setelah pembahasan sampai ke ayat tersebut. Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
 وَ لَمَّا دَخَلُوۡا عَلٰی یُوۡسُفَ اٰوٰۤی اِلَیۡہِ اَخَاہُ  قَالَ  اِنِّیۡۤ   اَنَا  اَخُوۡکَ فَلَا تَبۡتَئِسۡ بِمَا  کَانُوۡا  یَعۡمَلُوۡنَ ﴿۷۰
Dan ketika mereka menghadap kepada Yusuf, ia memberikan tempat tinggal kepada saudaranya itu bersama dia, dan ia berkata: “Sesungguhnya aku  saudara engkau, maka janganlah engkau bersedih atas apa yang mereka telah perbuat.” (Yusuf  [12]:70).

“Rencana” Allah Swt. Untuk Nabi Yusuf a.s.

     Dari ayat tersebut diketahui, bahwa jangankan kakak-kakak Nabi Yusuf a.s. yang tidak menyukai beliau, Benyamin pun benar-benar tidak mengenali kakak kandungnya sendiri, Nabi Yusuf a.s., karena ada diluar batas bayangan pemikiran mereka kalau Nabi Yusuf a.s. yang mereka kenal di masa kecilnya sebagaimana halnya keadaan umumnya keadaan anak-anak di kampung akan berada di lingkungan istana kerajaan Mesir sebagai salah seorang pejabat tinggi kerajaan Mesir. Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
فَلَمَّا جَہَّزَہُمۡ بِجَہَازِہِمۡ جَعَلَ السِّقَایَۃَ  فِیۡ رَحۡلِ اَخِیۡہِ  ثُمَّ اَذَّنَ مُؤَذِّنٌ اَیَّتُہَا الۡعِیۡرُ اِنَّکُمۡ لَسٰرِقُوۡنَ ﴿۷۰   قَالُوۡا وَ اَقۡبَلُوۡا عَلَیۡہِمۡ  مَّا ذَا  تَفۡقِدُوۡنَ ﴿۷۱
Maka tatkala ia telah melengkapi mereka dengan perlengkapan bahan makanannya, ia (Yusuf)   meletakkan piala takaran ke dalam kantong pelana saudaranya (Benyamin) kemudian berseru  seorang penyeru: “Hai orang-orang kafilah, sesungguhnya kamu benar-benar  pencuri!  (Yusuf [12]:71).
     Nabi Yusuf a.s. tentu ingin lebih lama lagi bersama adik kandungnya, Benyamin, karena keduanya sangat lama tidak bertemu, tetapi keadaan tidak memungkinkan bagi Nabi Yusuf a.s. untuk melakukan hal tersebut karena  pasti saudara-saudara beliau yang akan menaruh curiga. 
       Namun Allah Swt. telah merencanakan suatu “rencana” khusus bagi Nabi Yusuf a.s.,  yang benar-benar tidak diketahui oleh Nabi Yusuf a.s., sebab pada hakikatnya “rencana” Allah Swt. merupakan langkah awal dari proses  hijrahnya seluruh keluarga besar Nabi  Ya’qub a.s. dari  Kanaan ke Mesir,  yang pada akhirnya mimpi  Nabi Yusuf a.s. sepenuhnya menjadi kenyataan sebagaimana yang ditakwilkan oleh Nabi Ya’qub a.s. (QS.12:5-7).
     Kata ja’ala (meletakkan) dapat juga menunjukkan bahwa Nabi Yusuf a.s.  sendiri memerintahkan supaya piala itu dimasukkan ke dalam kantong saudaranya, sehingga ia dapat mempergunakannya pada perjalanan pulang; atau piala itu dengan tidak sengaja telah diletakkan di antara barang-barang Benyamin, sedang Nabi Yusuf a.s.  tidak mengetahui bahwa benda itu ada di sana.
     Tidaklah benar kalau dikatakan bahwa Nabi Yusuf a.s.  sendirilah yang mula-mula memerintahkan supaya piala untuk minum itu ditempatkan dalam karung adiknya, lalu menuduhnya sebagai pencuri — suatu perbuatan yang tidak mungkin dilaksanakan oleh wujud semulia beliau. Kenyataannya ialah, sebuah piala minumlah (siqayah) yang telah Nabi Yusuf a.s. perintah memasukkannya ke dalam karung adik beliau, sedangkan bejana yang dinyatakan hilang oleh tukang seru kerajaan, ialah suatu shuwa' (bejana penakar, gantang).
      Agaknya dari kesibukan membantu saudara-saudara beliau untuk mempersiapkan bagi perjalanan pulang mereka dan mengingat pendeknya waktu untuk berpisah dengan Benyamin sesudah pertemuan yang sesingkat itu, Nabi Yusuf a.s.   merasa haus dan minta dibawakan air. Air itu dibawa kepada beliau dalam piala atau bejana penakar milik kerajaan. Piala-piala demikian pada waktu itu dipergunakan, baik sebagai penakar maupun untuk minum.
         Sesudah melepaskan dahaga, Nabi Yusuf a.s. tanpa sengaja telah meletakkan piala itu di antara barang-barang Benyamin, dan dengan demikian piala itu ikut terbungkus bersama barang-barang saudara beliau itu, tanpa diketahui oleh siapa pun. Nabi Yusuf a.s.  segera mengerti bagaimana kekeliruan itu telah terjadi, tetapi mengingat bahwa kesemuanya itu adalah rencana Ilahi sendiri yang mengandung maksud untuk menahan Benyamin, maka beliau dengan bijaksana bersikap diam diri saja sebelum kafilah itu pergi.  Jadi terjadinya hal tersebut   benar-benar merupakan “rencana” Allah Swt.. Firman-Nya:
قَالُوۡا وَ اَقۡبَلُوۡا عَلَیۡہِمۡ  مَّا ذَا  تَفۡقِدُوۡنَ ﴿۷۲   قَالُوۡا نَفۡقِدُ صُوَاعَ  الۡمَلِکِ  وَ لِمَنۡ  جَآءَ بِہٖ  حِمۡلُ  بَعِیۡرٍ  وَّ اَنَا  بِہٖ  زَعِیۡمٌ ﴿۷۳   قَالُوۡا تَاللّٰہِ  لَقَدۡ عَلِمۡتُمۡ مَّا جِئۡنَا لِنُفۡسِدَ فِی الۡاَرۡضِ وَ مَا کُنَّا سٰرِقِیۡنَ ﴿۷۴
Mereka sambil berbalik kepada mereka itu berkata: “Kehilangan barang apakah kamu?” Mereka menjawab: “Kami kehilangan piala takaran raja, dan barangsiapa menemukannya kembali akan mendapat gandum sepemuatan unta, dan aku menjaminnya.” Mereka menjawab: “Demi Allah, sungguh kamu benar-benar mengetahui kami tidak datang untuk berbuat kerusakan di negeri ini, dan kami sama sekali bukanlah pencuri.” (Yusuf [12]:72-74).
     Jadi, nampak jelas bahwa pada hakikatnya peristiwa itu terjadi merupakan bagian dari “duel makar” antara makar buruk yang dilakukan kakak-kakak Nabi Yusuf a.s. terhadap Nabi Yusuf a.s. karena kedengkian mereka  (QS.12:8-21) dengan “makar tandingan” Allah Swt. untuk mendukung Nabi Yusuf a.s. (QS.3:55; QS.8:31; QS.27:51).

(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid

Tidak ada komentar:

Posting Komentar