Sabtu, 11 Februari 2012

"Duel Makar" dalam Peristiwa Hijrah Nabi Besar Muhammad Saw.


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ

 
HUBUNGAN  NABI YUSUF A.S. 
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
  
Bagian   XLIV

Tentang

        "Duel Makar"  Dalam Peristiwa 
         Hijrah Nabi Besar Muhammad Saw.
 
Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma 

سُبۡحٰنَ الَّذِیۡۤ  اَسۡرٰی بِعَبۡدِہٖ لَیۡلًا مِّنَ الۡمَسۡجِدِ الۡحَرَامِ  اِلَی الۡمَسۡجِدِ الۡاَقۡصَا الَّذِیۡ بٰرَکۡنَا حَوۡلَہٗ  لِنُرِیَہٗ مِنۡ اٰیٰتِنَا ؕ اِنَّہٗ  ہُوَ  السَّمِیۡعُ  الۡبَصِیۡرُ ﴿۲
Maha Suci Dia  Yang  memperjalankan   hamba-Nya pada waktu malam  dari Masjid Haram ke Masjid Aqsha  yang   sekelilingnya telah Kami berkati,   supaya Kami memperlihatkan kepadanya sebagian dari Tanda-tanda Kami, sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat. (Bani Israil [17]:2).

Dalam Bab sebelumnya telah dikemukakan “duel makar” dalam peristiwa  penyaliban antara “makar buruk” yang dirancang oleh para penentang Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. melalui penyaliban  beliau dengan “makar tandingan” Allah Swt., yang dimenangkan oleh Allah Swt..
      Perlu diketahui bahwa menurut Allah Swt. -- kecuali orang-orang yang rugi  --  semua orang beriman yang hakiki sangat takut terhadap “makar” Allah Swt., firman-Nya:
اَفَاَمِنَ اَہۡلُ الۡقُرٰۤی اَنۡ  یَّاۡتِیَہُمۡ  بَاۡسُنَا بَیَاتًا  وَّ ہُمۡ  نَآئِمُوۡنَ ﴿ؕ۹۸ اَوَ  اَمِنَ  اَہۡلُ الۡقُرٰۤی اَنۡ یَّاۡتِیَہُمۡ بَاۡسُنَا ضُحًی  وَّ ہُمۡ  یَلۡعَبُوۡنَ ﴿۹۹ اَفَاَمِنُوۡا مَکۡرَ اللّٰہِ ۚ فَلَا  یَاۡمَنُ مَکۡرَ اللّٰہِ   اِلَّا الۡقَوۡمُ  الۡخٰسِرُوۡنَ ﴿٪۱۰۰
Maka apakah penduduk negeri-negeri ini merasa aman dari  kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari selagi mereka tidur?   Ataukah penduduk negeri-negeri ini merasa aman dari  kedatangan siksaan Kami kepada mereka, waktu matahari naik sepenggalah sedangkan mereka bermain-main?   Apakah mereka merasa aman dari makar Allah? Maka tidak ada yang merasa dirinya aman dari makar Allah kecuali kaum yang rugi. (Al-‘Araaf [7]:98-100).

Golongan “Maghdhuub dan Dhaalliin

       Kata-kata “kota-kota ini” menunjuk kepada kota Makkah dan kota-kota lainnya di Hijaz. Artinya, yaitu: “Tidakkah kaum Makkah dan lain-lain mengambil pelajaran dari nasib buruk bangsa ‘Ad, Tsamud, umat Nabi Luth a.s., dan pula umat Nabi Syu’aib a.s.?”
         Bukti bahwa “makar tandingan” Allah Swt. tersebut sangat  tersembunyi  dan tidak mudah diketahui tetapi hasilnya meyakinkan, adalah ketidakmengertian Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. mengenai  adalah “makar tandingan” Allah Swt. dalam peristiwa penyaliban beliau, itulah sebabnya ketika Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. berdoa di taman Getsemani sebanyak 3 kali, seakan-akan Allah Swt. tidak mengabulkan permohonan beliau agar “cawan” – yakni kematian terkutuk di tiang salib” dihindarkan dari beliau (Matius 26:36-46), padahal doa  beliau tersebut dikabulkan Allah Swt., hanya saja  Allah Swt. tidak menyatakan hal itu secara jelas kepada Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., karena Allah Swt. mempunyai rencana lain berkenaan dengan "penyaliban" tersebut.
      Ketidaktahuan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. mengenai adanya “makar tandingan” Allah Swt. melawan “makar buruk” para penentang beliau dalam peristiwa penyaliban tersebut  berlangsung sampai pemakuan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di tiang salib, dan menjelang pingsan berat (mati suri)  beliau berteriak nyaring – seakan-akan meneriakan keputus-asaan, mengapa Allah Swt. membiarkan beliau harus mengalami pemakuan di tiang salib -- padahal sebelumnya beliau telah berdoa  di taman Getsemani agar terhindar dari peristiwa yang mengerikan tersebut:
Mulai dari dua belas kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga. Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: Eli, Eli, lama sabakhtani?” Artinya: Allahku, Allahku, Allahku, mengapa  Engkau meninggalkan aku?” (Matius 75:45-46).
Dengan demikian benarlah firman Allah Swt. sebelumnya bahwa  -- kecuali orang-orang yang ditakdirkan  menjadi orang-orang yang rugi   -- orang-orang yang memiliki makrifat Ilahi yang benar merasa takut terhadap makar Allah Swt., sebab walau pun “makar tandingan” Allah Swt. tersebut berlangsung  dengan cara-cara yang sangat tersembunyi tetapi pasti mencapai tujuan-tujuan yang telah direncanakan Allah Swt., di antaranya adalah menggelincirkan orang-orang yang berhati bengkok, yakni mereka setelah menjadi golongan maghdhubi ‘alaihim (orang-orang yang dimurkai Allah), tetapi  karena mereka senantiasa mendurhakai Allah Swt. dan rasul-rasul-Nya, kemudian mereka menjadi dhaalliin (orang-orang yang sesat), firman-Nya:
اِیَّاکَ نَعۡبُدُ وَ اِیَّاکَ نَسۡتَعِیۡنُ  ﴿۵  اِہۡدِ نَا الصِّرَاطَ الۡمُسۡتَقِیۡمَ ۙ ﴿۶  صِرَاطَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمۡتَ عَلَیۡہِمۡ ۙ۬  غَیۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا الضَّآلِّیۡنَ ٪﴿۷
Hanya Engkau-lah Yang kami sembah dan  hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan. Tunjukilah kami   jalan yang lurus,  yaitu jalan  orang-orang yang telah Engkau beri nikmat atas mereka,  bukan jalan mereka  yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka  yang sesat. (Al-Fatihah [1]:5-7).
       Para ulama Islam sepakat bahwa yang dimaksud dengan maghdhubi ‘alaihim adalah orang-orang Yahudi, karena akibat senantiasa  durhaka kepada Allah Swt. dan kepada para Rasul Allah yang dibangkitkan di kalangan mereka,  akhirnya mereka  -- yang sebelumnya sebagai “umat  pilihan Tuhan” --  berubah menjadi  golongan yang dimurkai Allah Swt. (QS.2:88-91), dan bahkan di antara mereka akan yang kemudian menjadi golongan “dhaalliin”  karena telah mempertuhankan  Nabi Uzair a.s. dan  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. serta mempertuhankan ulama-ulama mereka (QS.9:30-35). 

Duel “Makar Buruk” dalam  Peristiwa Hijrah
Nabi Besar Muhammad saw.

       Demikian juga “makar tandingan” yang Allah Swt. lancarkan melawan  “makar buruk” yang dilakukan Abu Jahal dan kawan-kawannya terhadap Nabi Besar Muhammad saw. pun berakhir dengan kesuksesan perjuangan suci Nabi Besar Muhammad saw.  setelah melakukan hijrah dari Makkah ke Madinah, dan  setelah berada di Madinah seluruh  kekuatan  kemusyrikan  -- yang dibantu oleh golongan ahli  Kitab --  semuanya sirna dari seluruh  jazirah Arabia, firman-Nya:
وَ اِذۡ یَمۡکُرُ بِکَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا لِیُثۡبِتُوۡکَ اَوۡ یَقۡتُلُوۡکَ اَوۡ یُخۡرِجُوۡکَ ؕ وَ یَمۡکُرُوۡنَ وَ یَمۡکُرُ  اللّٰہُ  ؕ وَ اللّٰہُ خَیۡرُ الۡمٰکِرِیۡنَ ﴿۳۱
Dan ingatlah ketika orang-orang kafir merancang makar buruk  terhadap engkau, supaya mereka dapat menangkap engkau atau membunuh engkau atau mengusir engkau. Mereka merancang makar buruk, dan Allah pun merancang  makar tandingan,  dan Allah sebaik-baik  Perancang makar. (Al-Anfaal [8]:31).
       Sebagaimana telah dijelaslan, ayat ini mengisyaratkan kepada musyawarah rahasia yang diadakan di Darun Nadwah (Balai Permusyawaratan) di Makkah. Ketika mereka melihat bahwa semua usaha mereka mencegah berkembangnya aliran kepercayaan baru – yakni agama (ajaran) Islam -- gagal, dan bahwa kebanyakan orang-orang Muslim yang mampu meninggalkan Makkah telah  hijrah ke Madinah dan mereka sudah jauh dari bahaya, maka orang-orang terkemuka warga kota  pimpinan Abu Jahal berkumpul di Darun Nadwah untuk membuat program ke arah usaha terakhir guna menghabisi Islam.
      Sesudah diadakan pertimbangan mendalam, terpikir oleh mereka satu rencana, ialah sejumlah orang-orang muda dari berbagai kabilah Quraisy harus secara serempak menyergap Nabi Besar Muhammad saw.  lalu membunuh beliau. Tetapi dengan pertolongan Allah Swt., tanpa setahu orang Nabi Besar Muhammad saw.  meninggalkan rumah tengah malam buta, ketika para penjaga dikuasai oleh kantuk, lalu beliau saw. untuk beberapa lama berlindung di Gua Tsur bersama-sama Hadhrat Abubakar a.s., sahabat beliau yang setia, guna menghindari  penangkapan dari para pemburu beliau saw. yang telah diiming-imingi hadiah besar bagi siapa yang mampu menangkap beliau saw. –  baik dalam keadaan hidup mau pun mati (QS.9:40) -- dan ak  keduanya setelah mengalami berbagai peristiwa yang menegangkan di perjalanan,  berkat karunia Allah Swt.,  akhirnya  Nabi Besar Muhammad saw.  serta Abu Bakar Shiddiq r.a. sampai di Medinah dengan selamat.
       Berikut adalah salah satu peristiwa yang sangat menegangkan yang dialami oleh Nabi Besar Muhammad saw. dan Abu Bakar Shiddiq r.a., ketika keduanya terpaksa harus bersembunyi di gua Tsur – sebuah gua yang sangat sempit dan dangkal serta penuh dengan binatang berbisa – firman-Nya:
اِلَّا تَنۡصُرُوۡہُ فَقَدۡ  نَصَرَہُ  اللّٰہُ  اِذۡ اَخۡرَجَہُ الَّذِیۡنَ  کَفَرُوۡا ثَانِیَ اثۡنَیۡنِ اِذۡ ہُمَا فِی الۡغَارِ اِذۡ یَقُوۡلُ لِصَاحِبِہٖ لَا تَحۡزَنۡ اِنَّ اللّٰہَ مَعَنَا ۚ فَاَنۡزَلَ اللّٰہُ سَکِیۡنَتَہٗ عَلَیۡہِ وَ اَیَّدَہٗ  بِجُنُوۡدٍ لَّمۡ تَرَوۡہَا وَ جَعَلَ کَلِمَۃَ  الَّذِیۡنَ کَفَرُوا السُّفۡلٰی ؕ وَ کَلِمَۃُ  اللّٰہِ ہِیَ الۡعُلۡیَا ؕ وَ اللّٰہُ  عَزِیۡزٌ  حَکِیۡمٌ  ﴿۴۰
Jika kamu tidak menolongnya maka  sungguh Allah  telah menolongnya ketika ia (Rasulullah) diusir oleh orang-orang kafir, sedangkan ia kedua dari yang dua ketika keduanya berada dalam gua, lalu ia (Rasulullah) berkata kepada temannya: “Janganlah engkau sedih sesungguhnya Allah beserta kita”, lalu  Allah menurunkan ketenteraman-Nya kepadanya  dan menolongnya dengan lasykar-lasykar yang kamu tidak melihatnya,  dan Dia menjadikan perkataan orang-orang yang kafir itu rendah sedangkan Kalimah Allah itulah yang tertinggi, dan Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.  (Al-Taubah [9]:40).

Peristiwa “Isra” Nabi Besar Muhammad Saw.

      Jadi, berbeda dengan “makar buruk” yang dilakukan oleh para penentang Rasul Allah, “makar tandingan” Allah Swt.  berlangsung secara tersembunyi  tetapi pasti mencapai  target-target  yang telah ditetapkan oleh-Nya bagi kedua belah pihak yang saling bertentangan dalam “duel makar” tersebut, firman-Nya:
وَ قَدۡ مَکَرَ الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ فَلِلّٰہِ الۡمَکۡرُ  جَمِیۡعًا ؕ یَعۡلَمُ  مَا تَکۡسِبُ کُلُّ نَفۡسٍ ؕ وَ سَیَعۡلَمُ  الۡکُفّٰرُ  لِمَنۡ  عُقۡبَی الدَّارِ ﴿۴۲  وَ یَقُوۡلُ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا لَسۡتَ مُرۡسَلًا ؕ قُلۡ  کَفٰی بِاللّٰہِ  شَہِیۡدًۢا بَیۡنِیۡ وَ بَیۡنَکُمۡ ۙ وَ مَنۡ عِنۡدَہٗ  عِلۡمُ  الۡکِتٰبِ ﴿٪۴۳
Dan  sungguh orang-orang sebelum mereka telah melakukan makar buruk, tetapi semua  makar  yang berhasil ada pada Allah.  Dia mengetahui apa yang telah diusahakan oleh tiap-tiap jiwa, dan segera orang-orang kafir akan  mengetahui  bagi siapa balasan tempat tinggal   yang  baik itu. Dan orang-orang kafir itu berkata:  Engkau bukanlah seorang rasul!”   Katakanlah:Cukuplah Allah sebagai saksi antara aku dengan kamu, dan  bagi orang yang memiliki pengetahuan Kitab.  (Al-Raa’d [13]:43-44).
      Segala rencana rahasia musuh-musuh Islam diketahui Allah Swt. dan oleh karena itu tiada rencana dan siasat (makar) mereka dapat menggagalkan tujuan Allah Swt., kemenangan mutlak pada akhirnya bagi Islam. Selanjutnya Allah Swt. berfirman lagi:
وَ قَدۡ مَکَرُوۡا مَکۡرَہُمۡ وَ عِنۡدَ اللّٰہِ مَکۡرُہُمۡ ؕ وَ اِنۡ کَانَ مَکۡرُہُمۡ لِتَزُوۡلَ مِنۡہُ  الۡجِبَالُ ﴿۴۷  فَلَا تَحۡسَبَنَّ اللّٰہَ مُخۡلِفَ وَعۡدِہٖ  رُسُلَہٗ ؕ اِنَّ  اللّٰہَ  عَزِیۡزٌ  ذُو انۡتِقَامٍ ﴿ؕ۴۸
Dan  sungguh  mereka telah melakukan makar buruk mereka, tetapi makar buruk mereka ada di sisi Allah, dan  jika sekali pun  makar buruk mereka dapat memindahkan gunung-gunung.  Maka janganlah engkau sama sekali menyangka  bahwa  Allah akan menyalahi janji-Nya kepada rasul-rasul-Nya, sesungguhnya  Allah Maha Perkasa, Yang memiliki pembalasan. (Ibrahim [14]:47-48).
      Jadi, sebagaimana halnya pada peristiwa  “penyaliban” Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. “makar tandingan” Allah Swt. berlangsung  secara anggun dan  tanpa ingar-bingar, demikian juga “makar tandingan” yang dilaksanakan Allah Swt. melawan “makar buruk” kaum kafir Quraisy Makkah pun berlangsung dengan cara-cara yang anggun dan tanpa ingar bingar.
      Sungguh sangat sempurna Allah Swt. menjelaskan berlangsungnya “makar tandingan” yang dilaksanakan Allah Swt. dalam peristiwa hijrah Nabi Besar Muhammad saw. dari Makkah ke Madinah tersebut, yaitu dengan memakai  kalimat “memperjalankan hamba-Nya pada malam hari”,  firman-Nya:
سُبۡحٰنَ الَّذِیۡۤ  اَسۡرٰی بِعَبۡدِہٖ لَیۡلًا مِّنَ الۡمَسۡجِدِ الۡحَرَامِ  اِلَی الۡمَسۡجِدِ الۡاَقۡصَا الَّذِیۡ بٰرَکۡنَا حَوۡلَہٗ  لِنُرِیَہٗ مِنۡ اٰیٰتِنَا ؕ اِنَّہٗ  ہُوَ  السَّمِیۡعُ  الۡبَصِیۡرُ ﴿۲
Maha Suci Dia  Yang  memperjalankan   hamba-Nya pada waktu malam  dari Masjid Haram ke Masjid Aqsha  yang   sekelilingnya telah Kami berkati supaya Kami memperlihatkan kepadanya sebagian dari Tanda-tanda Kami, sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat. (Bani Israil [17]:2).
     Penjelasan terinci mengenai  firman Allah Swt. ini, insya Allah,  akan dibahas pada Bab selanjutnya.

(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid



Tidak ada komentar:

Posting Komentar