بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
HUBUNGAN NABI YUSUF A.S.
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
Bagian XLIV
Tentang
"Duel Makar" Dalam Peristiwa
Hijrah Nabi Besar Muhammad Saw.
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
سُبۡحٰنَ الَّذِیۡۤ اَسۡرٰی بِعَبۡدِہٖ لَیۡلًا مِّنَ الۡمَسۡجِدِ الۡحَرَامِ
اِلَی الۡمَسۡجِدِ الۡاَقۡصَا الَّذِیۡ بٰرَکۡنَا حَوۡلَہٗ لِنُرِیَہٗ مِنۡ اٰیٰتِنَا ؕ اِنَّہٗ ہُوَ السَّمِیۡعُ الۡبَصِیۡرُ ﴿۲﴾
Maha Suci Dia Yang memperjalankan hamba-Nya pada waktu malam dari Masjid Haram ke Masjid Aqsha yang sekelilingnya telah Kami
berkati, supaya Kami memperlihatkan kepadanya
sebagian dari Tanda-tanda Kami, sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
(Bani Israil [17]:2).
Dalam Bab
sebelumnya telah dikemukakan “duel makar” dalam peristiwa penyaliban antara “makar buruk” yang
dirancang oleh para penentang Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. melalui penyaliban beliau dengan “makar tandingan” Allah
Swt., yang dimenangkan oleh Allah Swt..
Perlu diketahui bahwa menurut Allah Swt.
-- kecuali orang-orang yang rugi -- semua orang beriman yang hakiki sangat takut
terhadap “makar” Allah Swt., firman-Nya:
اَفَاَمِنَ
اَہۡلُ الۡقُرٰۤی اَنۡ یَّاۡتِیَہُمۡ بَاۡسُنَا بَیَاتًا وَّ ہُمۡ
نَآئِمُوۡنَ ﴿ؕ۹۸﴾ اَوَ اَمِنَ اَہۡلُ الۡقُرٰۤی اَنۡ یَّاۡتِیَہُمۡ بَاۡسُنَا
ضُحًی وَّ ہُمۡ یَلۡعَبُوۡنَ ﴿۹۹﴾ اَفَاَمِنُوۡا مَکۡرَ اللّٰہِ ۚ فَلَا
یَاۡمَنُ مَکۡرَ اللّٰہِ اِلَّا
الۡقَوۡمُ الۡخٰسِرُوۡنَ ﴿٪۱۰۰﴾
Maka apakah penduduk negeri-negeri ini
merasa aman dari kedatangan
siksaan Kami kepada mereka di malam hari selagi mereka tidur? Ataukah
penduduk negeri-negeri ini merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada
mereka, waktu matahari naik sepenggalah sedangkan mereka bermain-main?
Apakah mereka merasa aman dari makar Allah?
Maka tidak ada yang merasa dirinya aman dari makar Allah kecuali kaum yang
rugi. (Al-‘Araaf [7]:98-100).
Golongan “Maghdhuub dan Dhaalliin”
Kata-kata “kota-kota ini” menunjuk
kepada kota Makkah dan kota-kota lainnya di Hijaz. Artinya, yaitu: “Tidakkah
kaum Makkah dan lain-lain mengambil pelajaran dari nasib buruk bangsa ‘Ad, Tsamud,
umat Nabi Luth a.s., dan pula umat Nabi Syu’aib a.s.?”
Bukti bahwa “makar tandingan”
Allah Swt. tersebut sangat tersembunyi dan tidak mudah diketahui tetapi hasilnya meyakinkan, adalah
ketidakmengertian Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. mengenai adalah “makar tandingan” Allah Swt. dalam
peristiwa penyaliban beliau, itulah sebabnya ketika Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
berdoa di taman Getsemani sebanyak 3 kali, seakan-akan Allah Swt. tidak
mengabulkan permohonan beliau agar “cawan” – yakni kematian terkutuk di tiang
salib” dihindarkan dari beliau (Matius 26:36-46), padahal doa beliau tersebut dikabulkan Allah Swt., hanya saja Allah Swt. tidak menyatakan hal itu secara jelas kepada Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., karena Allah Swt. mempunyai rencana lain berkenaan dengan "penyaliban" tersebut.
Ketidaktahuan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
mengenai adanya “makar tandingan” Allah Swt. melawan “makar buruk” para
penentang beliau dalam peristiwa penyaliban tersebut berlangsung sampai pemakuan Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s. di tiang salib, dan menjelang pingsan berat (mati suri) beliau berteriak nyaring – seakan-akan
meneriakan keputus-asaan, mengapa Allah Swt. membiarkan beliau harus mengalami
pemakuan di tiang salib -- padahal sebelumnya beliau telah berdoa di taman Getsemani agar terhindar dari peristiwa
yang mengerikan tersebut:
Mulai dari dua belas kegelapan meliputi
seluruh daerah itu sampai jam tiga. Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan
suara nyaring: Eli, Eli, lama sabakhtani?” Artinya: Allahku, Allahku,
Allahku, mengapa Engkau meninggalkan
aku?” (Matius 75:45-46).
Dengan demikian
benarlah firman Allah Swt. sebelumnya bahwa -- kecuali orang-orang yang ditakdirkan menjadi orang-orang yang rugi -- orang-orang yang memiliki makrifat
Ilahi yang benar merasa takut terhadap makar Allah Swt.,
sebab walau pun “makar tandingan” Allah Swt. tersebut berlangsung dengan cara-cara yang sangat tersembunyi
tetapi pasti mencapai tujuan-tujuan yang telah direncanakan Allah Swt.,
di antaranya adalah menggelincirkan orang-orang yang berhati bengkok,
yakni mereka setelah menjadi golongan maghdhubi ‘alaihim (orang-orang
yang dimurkai Allah), tetapi karena mereka senantiasa mendurhakai Allah Swt. dan rasul-rasul-Nya, kemudian mereka menjadi dhaalliin (orang-orang yang
sesat), firman-Nya:
اِیَّاکَ نَعۡبُدُ وَ اِیَّاکَ نَسۡتَعِیۡنُ ﴿۵﴾
اِہۡدِ نَا الصِّرَاطَ
الۡمُسۡتَقِیۡمَ ۙ ﴿۶﴾ صِرَاطَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمۡتَ عَلَیۡہِمۡ ۙ۬ غَیۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا الضَّآلِّیۡنَ ٪﴿۷﴾
Hanya Engkau-lah Yang kami sembah dan hanya kepada Engkau-lah kami
mohon pertolongan. Tunjukilah kami
jalan yang
lurus, yaitu jalan
orang-orang yang telah
Engkau beri nikmat atas mereka, bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan
mereka yang
sesat. (Al-Fatihah [1]:5-7).
Para ulama Islam sepakat bahwa yang
dimaksud dengan maghdhubi ‘alaihim adalah orang-orang Yahudi, karena
akibat senantiasa durhaka kepada
Allah Swt. dan kepada para Rasul Allah yang dibangkitkan di kalangan
mereka, akhirnya mereka -- yang sebelumnya sebagai “umat pilihan Tuhan” -- berubah menjadi golongan yang dimurkai Allah Swt.
(QS.2:88-91), dan bahkan di antara mereka akan yang kemudian menjadi golongan
“dhaalliin” karena telah mempertuhankan Nabi Uzair a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. serta mempertuhankan
ulama-ulama mereka (QS.9:30-35).
Duel “Makar Buruk” dalam Peristiwa Hijrah
Nabi Besar Muhammad saw.
Demikian
juga “makar tandingan” yang Allah Swt. lancarkan melawan “makar buruk” yang dilakukan Abu Jahal
dan kawan-kawannya terhadap Nabi Besar Muhammad saw. pun berakhir dengan kesuksesan
perjuangan suci Nabi Besar Muhammad saw.
setelah melakukan hijrah dari Makkah ke Madinah, dan setelah berada di Madinah seluruh kekuatan kemusyrikan -- yang dibantu oleh golongan ahli Kitab --
semuanya sirna dari seluruh
jazirah Arabia, firman-Nya:
وَ
اِذۡ یَمۡکُرُ بِکَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا لِیُثۡبِتُوۡکَ اَوۡ یَقۡتُلُوۡکَ اَوۡ
یُخۡرِجُوۡکَ ؕ وَ یَمۡکُرُوۡنَ وَ یَمۡکُرُ
اللّٰہُ ؕ وَ اللّٰہُ خَیۡرُ
الۡمٰکِرِیۡنَ ﴿۳۱﴾
Dan ingatlah ketika orang-orang kafir merancang makar buruk terhadap engkau, supaya mereka dapat menangkap
engkau atau membunuh engkau atau mengusir engkau. Mereka
merancang makar buruk, dan Allah pun merancang makar tandingan, dan Allah sebaik-baik Perancang makar. (Al-Anfaal
[8]:31).
Sebagaimana
telah dijelaslan, ayat ini mengisyaratkan kepada musyawarah rahasia yang
diadakan di Darun Nadwah (Balai Permusyawaratan) di Makkah. Ketika
mereka melihat bahwa semua usaha mereka mencegah berkembangnya aliran
kepercayaan baru – yakni agama (ajaran) Islam -- gagal, dan bahwa kebanyakan
orang-orang Muslim yang mampu meninggalkan Makkah telah hijrah ke Madinah dan mereka sudah jauh
dari bahaya, maka orang-orang terkemuka warga kota pimpinan Abu Jahal berkumpul di Darun
Nadwah untuk membuat program ke arah usaha terakhir guna menghabisi
Islam.
Sesudah
diadakan pertimbangan mendalam, terpikir oleh mereka satu rencana, ialah sejumlah
orang-orang muda dari berbagai kabilah Quraisy harus secara serempak menyergap Nabi
Besar Muhammad saw. lalu
membunuh beliau. Tetapi dengan pertolongan Allah Swt., tanpa setahu orang Nabi
Besar Muhammad saw. meninggalkan
rumah tengah malam buta, ketika para penjaga dikuasai oleh kantuk, lalu beliau
saw. untuk beberapa lama berlindung di Gua Tsur bersama-sama Hadhrat Abubakar
a.s., sahabat beliau yang setia, guna menghindari penangkapan dari para pemburu beliau saw.
yang telah diiming-imingi hadiah besar bagi siapa yang mampu menangkap
beliau saw. – baik dalam keadaan hidup
mau pun mati (QS.9:40) -- dan ak keduanya setelah
mengalami berbagai peristiwa yang menegangkan di perjalanan, berkat karunia Allah Swt., akhirnya
Nabi Besar Muhammad saw. serta
Abu Bakar Shiddiq r.a. sampai di Medinah dengan selamat.
Berikut
adalah salah satu peristiwa yang sangat menegangkan yang dialami oleh Nabi
Besar Muhammad saw. dan Abu Bakar Shiddiq r.a., ketika keduanya terpaksa harus
bersembunyi di gua Tsur – sebuah gua yang sangat sempit dan dangkal
serta penuh dengan binatang berbisa – firman-Nya:
اِلَّا تَنۡصُرُوۡہُ فَقَدۡ نَصَرَہُ
اللّٰہُ اِذۡ اَخۡرَجَہُ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا ثَانِیَ اثۡنَیۡنِ اِذۡ ہُمَا فِی الۡغَارِ اِذۡ یَقُوۡلُ لِصَاحِبِہٖ لَا تَحۡزَنۡ اِنَّ اللّٰہَ مَعَنَا ۚ فَاَنۡزَلَ اللّٰہُ سَکِیۡنَتَہٗ عَلَیۡہِ وَ اَیَّدَہٗ بِجُنُوۡدٍ لَّمۡ تَرَوۡہَا وَ جَعَلَ کَلِمَۃَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوا السُّفۡلٰی ؕ وَ کَلِمَۃُ اللّٰہِ ہِیَ الۡعُلۡیَا ؕ وَ اللّٰہُ عَزِیۡزٌ حَکِیۡمٌ ﴿۴۰﴾
Jika kamu tidak menolongnya maka
sungguh Allah telah
menolongnya ketika ia (Rasulullah) diusir oleh orang-orang kafir, sedangkan
ia kedua dari yang dua ketika keduanya berada dalam gua, lalu ia (Rasulullah)
berkata kepada temannya: “Janganlah engkau sedih sesungguhnya Allah beserta
kita”, lalu Allah
menurunkan ketenteraman-Nya kepadanya dan menolongnya dengan lasykar-lasykar yang
kamu tidak melihatnya, dan Dia
menjadikan perkataan orang-orang yang kafir itu rendah sedangkan Kalimah
Allah itulah yang tertinggi, dan Allah Maha Perkasa, Maha
Bijaksana. (Al-Taubah [9]:40).
Peristiwa “Isra” Nabi Besar Muhammad Saw.
Jadi, berbeda dengan “makar buruk”
yang dilakukan oleh para penentang Rasul Allah, “makar tandingan” Allah
Swt. berlangsung secara tersembunyi tetapi pasti mencapai target-target yang telah ditetapkan oleh-Nya bagi kedua
belah pihak yang saling bertentangan dalam “duel makar” tersebut, firman-Nya:
وَ
قَدۡ مَکَرَ الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ فَلِلّٰہِ الۡمَکۡرُ جَمِیۡعًا ؕ یَعۡلَمُ مَا تَکۡسِبُ کُلُّ نَفۡسٍ ؕ وَ سَیَعۡلَمُ الۡکُفّٰرُ
لِمَنۡ عُقۡبَی الدَّارِ ﴿۴۲﴾ وَ یَقُوۡلُ الَّذِیۡنَ
کَفَرُوۡا لَسۡتَ مُرۡسَلًا ؕ قُلۡ کَفٰی
بِاللّٰہِ شَہِیۡدًۢا بَیۡنِیۡ وَ بَیۡنَکُمۡ
ۙ وَ مَنۡ عِنۡدَہٗ عِلۡمُ الۡکِتٰبِ ﴿٪۴۳﴾
Dan sungguh orang-orang sebelum mereka telah
melakukan makar buruk, tetapi semua makar yang
berhasil ada pada Allah.
Dia mengetahui apa yang telah
diusahakan oleh tiap-tiap jiwa, dan segera orang-orang kafir akan mengetahui bagi siapa balasan tempat tinggal
yang
baik itu. Dan
orang-orang kafir itu berkata: ”Engkau
bukanlah seorang rasul!” Katakanlah: “Cukuplah Allah sebagai saksi antara aku
dengan kamu, dan bagi orang yang
memiliki pengetahuan Kitab.” (Al-Raa’d [13]:43-44).
Segala
rencana rahasia musuh-musuh Islam diketahui Allah Swt. dan oleh karena itu tiada rencana dan siasat (makar)
mereka dapat menggagalkan tujuan Allah
Swt., kemenangan mutlak pada akhirnya bagi Islam. Selanjutnya Allah Swt. berfirman lagi:
وَ
قَدۡ مَکَرُوۡا مَکۡرَہُمۡ وَ عِنۡدَ اللّٰہِ مَکۡرُہُمۡ ؕ وَ اِنۡ کَانَ مَکۡرُہُمۡ
لِتَزُوۡلَ مِنۡہُ الۡجِبَالُ ﴿۴۷﴾ فَلَا تَحۡسَبَنَّ
اللّٰہَ مُخۡلِفَ وَعۡدِہٖ رُسُلَہٗ ؕ
اِنَّ اللّٰہَ عَزِیۡزٌ
ذُو انۡتِقَامٍ ﴿ؕ۴۸﴾
Dan sungguh mereka telah melakukan makar buruk mereka,
tetapi makar buruk mereka ada di sisi Allah, dan jika sekali pun makar buruk mereka dapat
memindahkan gunung-gunung. Maka janganlah
engkau sama sekali menyangka bahwa
Allah akan menyalahi janji-Nya
kepada rasul-rasul-Nya, sesungguhnya
Allah Maha
Perkasa, Yang memiliki pembalasan. (Ibrahim
[14]:47-48).
Jadi, sebagaimana halnya pada peristiwa “penyaliban” Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. “makar
tandingan” Allah Swt. berlangsung secara anggun dan tanpa ingar-bingar, demikian juga “makar
tandingan” yang dilaksanakan Allah Swt. melawan “makar buruk” kaum
kafir Quraisy Makkah pun berlangsung dengan cara-cara yang anggun dan
tanpa ingar bingar.
Sungguh sangat sempurna Allah Swt. menjelaskan
berlangsungnya “makar tandingan” yang dilaksanakan Allah Swt. dalam
peristiwa hijrah Nabi Besar Muhammad saw. dari Makkah ke Madinah
tersebut, yaitu dengan memakai kalimat “memperjalankan
hamba-Nya pada malam hari”, firman-Nya:
سُبۡحٰنَ الَّذِیۡۤ اَسۡرٰی بِعَبۡدِہٖ لَیۡلًا مِّنَ الۡمَسۡجِدِ الۡحَرَامِ
اِلَی الۡمَسۡجِدِ الۡاَقۡصَا الَّذِیۡ بٰرَکۡنَا حَوۡلَہٗ لِنُرِیَہٗ مِنۡ اٰیٰتِنَا ؕ اِنَّہٗ ہُوَ السَّمِیۡعُ الۡبَصِیۡرُ ﴿۲﴾
Maha Suci Dia
Yang memperjalankan hamba-Nya pada waktu malam dari Masjid Haram ke Masjid Aqsha yang
sekelilingnya
telah Kami berkati, supaya Kami memperlihatkan
kepadanya sebagian dari Tanda-tanda Kami, sesungguhnya Dia Maha
Mendengar, Maha Melihat. (Bani Israil [17]:2).
Penjelasan terinci
mengenai firman Allah Swt. ini, insya Allah, akan
dibahas pada Bab selanjutnya.
(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid
Tidak ada komentar:
Posting Komentar