Sabtu, 11 Februari 2012

"Duel Makar" dalam peristiwa Penyaliban Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ

 
HUBUNGAN  NABI YUSUF A.S. 
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
  
Bagian   XLIII
Tentang

        "Duel Makar"  Dalam Peristiwa 
Penyaliban Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
 
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma 
ذٰلِکَ  مِنۡ  اَنۡۢبَآءِ الۡغَیۡبِ نُوۡحِیۡہِ  اِلَیۡکَ ۚ وَ مَا کُنۡتَ لَدَیۡہِمۡ  اِذۡ  اَجۡمَعُوۡۤا  اَمۡرَہُمۡ  وَ ہُمۡ  یَمۡکُرُوۡنَ ﴿۱۰۳
Itulah dari kabar-kabar gaib yang telah Kami wahyukan kepada engkau, dan engkau tidak beserta mereka ketika mereka telah bersepakat mengenai urusan  mereka dan mereka akan melakukan makar. (Yusuf [12]:103).

Dalam Bab sebelumnya telah dikemukakan berbagai firman Allah Swt. sehubungan dengan “Kun fayakun”, tidak ada satu pun yang berkaitan dengan  tanda-tanda  atau mukjizat-mukjizat yang diperlihatkan oleh Nabi isa Ibnu Maryam a.s.  kepada para penentang beliau di kalangan Bani Israil, yang ada hanyalah kalimat bi-idznillaah – dengan     izin Allah”   atau “bi-idzniy  - dengan izin-Ku”, firman-Nya:      
وَ رَسُوۡلًا اِلٰی بَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ ۬ۙ اَنِّیۡ قَدۡ جِئۡتُکُمۡ بِاٰیَۃٍ مِّنۡ رَّبِّکُمۡ ۙ اَنِّیۡۤ  اَخۡلُقُ لَکُمۡ مِّنَ الطِّیۡنِ کَہَیۡـَٔۃِ الطَّیۡرِ فَاَنۡفُخُ فِیۡہِ فَیَکُوۡنُ طَیۡرًۢا بِاِذۡنِ اللّٰہِ ۚ وَ اُبۡرِیُٔ الۡاَکۡمَہَ وَ الۡاَبۡرَصَ وَ اُحۡیِ الۡمَوۡتٰی بِاِذۡنِ اللّٰہِ ۚ  وَ اُنَبِّئُکُمۡ بِمَا تَاۡکُلُوۡنَ وَ مَا تَدَّخِرُوۡنَ ۙ فِیۡ بُیُوۡتِکُمۡ ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیَۃً لَّکُمۡ اِنۡ کُنۡتُمۡ مُّؤۡمِنِیۡنَ ﴿ۚ۵۰
”Dan sebagai rasul kepada Bani Israil, dengan pesan: Sungguh aku datang kepada kamu dengan membawa Tanda dari Tuhan-mu, yaitu  aku menciptakan untukmu suatu makhluk yang bersifat tanah seperti bentuk burung, lalu aku meniupkan ke dalamnya jiwa baru, maka jadilah ia burung dengan izin Allah, dan aku menyembuhkan  orang buta, orang berpenyakit  kustaaku menghidupkan orang mati dengan izin Allah, aku akan memberitahukan kepadamu tentang apa-apa yang kamu makan dan apa-apa yang kamu simpan di rumah-rumahmu, sesungguhnya dalam hal ini benar-benar ada suatu Tanda jika kamu orang-orang yang beriman. (Ali ‘Imran [3]:50).
Firman-Nya lagi:
اِذۡ قَالَ اللّٰہُ یٰعِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ اذۡکُرۡ نِعۡمَتِیۡ عَلَیۡکَ وَ عَلٰی وَالِدَتِکَ ۘ اِذۡ اَیَّدۡتُّکَ بِرُوۡحِ الۡقُدُسِ ۟ تُکَلِّمُ  النَّاسَ فِی الۡمَہۡدِ وَ کَہۡلًا ۚ وَ اِذۡ عَلَّمۡتُکَ الۡکِتٰبَ وَ الۡحِکۡمَۃَ وَ التَّوۡرٰىۃَ وَ الۡاِنۡجِیۡلَ ۚ وَ اِذۡ تَخۡلُقُ مِنَ الطِّیۡنِ کَہَیۡـَٔۃِ الطَّیۡرِ بِاِذۡنِیۡ فَتَنۡفُخُ فِیۡہَا فَتَکُوۡنُ طَیۡرًۢا بِاِذۡنِیۡ وَ تُبۡرِیُٔ الۡاَکۡمَہَ وَ الۡاَبۡرَصَ بِاِذۡنِیۡ ۚ وَ اِذۡ تُخۡرِجُ الۡمَوۡتٰی بِاِذۡنِیۡ ۚ وَ اِذۡ کَفَفۡتُ بَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ عَنۡکَ اِذۡ جِئۡتَہُمۡ بِالۡبَیِّنٰتِ فَقَالَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡہُمۡ  اِنۡ ہٰذَاۤ  اِلَّا سِحۡرٌ مُّبِیۡنٌ ﴿۱۱۱
Ketika Allah berfirman: “Hai ‘Isa ibnu Maryam, ingatlah nikmat-Ku atas engkau dan atas ibu engkau ketika  Aku memperkuat engkau dengan Ruhulqudus,  engkau bertutur kata  kepada orang-orang ketika engkau masih kanak-kanak dan ketika usia lanjut, dan ingatlah ketika Aku mengajari engkau Al-kitab, Hikmah, Taurat dan Injil; dan ketika engkau dengan izin-Ku menciptakan sesuatu dari tanah seperti bentuk burung, lalu engkau meniupkan jiwa baru ke dalamnya, maka jadilah ia sesuatu yang dengan izinku dapat terbang, dan engkau dengan izin-Ku  menyembuhkan orang-orang buta dan yang berpenyakit kusta; dan ketika engkau  dengan izin-Ku membangkitkan yang mati ruhani;  dan ketika  Aku menghalangi Bani Israil dari membunuh  engkau, ketika engkau datang kepada mereka dengan Tanda-tanda yang nyata, lalu   orang-orang yang kafir  di antara mereka berkata: “Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata.” (Al-Maaidah [5]:111).
      Dengan demikian jelaslah, bahwa berbagai “tanda” atau mukjizat  yang dilakukan  oleh Nabi Isa Ibnu Maryam atas izin Allah, bukanlah hal-hal luar biasa yang tidak bisa dilakukan oleh para rasul Allah lainnya – terutama oleh Nabi Besar Muhammad saw. --  sehingga dapat dijadikan dalil atau alasan untuk “mempertuhankan” beliau atau menganggap beliau  memiliki kedudukan yang lebih mulia daripada para rasul Allah lainnya.

 “Duel Makar”  Dalam Peristiwa Hijrah ke Madinah
  
       Kembali kepada topik pembahasan  yang dikemukakan firman Allah pada awal Bab ini dalam Surah Yusuf:
ذٰلِکَ  مِنۡ  اَنۡۢبَآءِ الۡغَیۡبِ نُوۡحِیۡہِ  اِلَیۡکَ ۚ وَ مَا کُنۡتَ لَدَیۡہِمۡ  اِذۡ  اَجۡمَعُوۡۤا  اَمۡرَہُمۡ  وَ ہُمۡ  یَمۡکُرُوۡنَ ﴿۱۰۳
Itulah dari kabar-kabar gaib yang telah Kami wahyukan kepada engkau, dan engkau tidak beserta mereka ketika mereka telah bersepakat mengenai urusan  mereka dan mereka akan melakukan makar. (Yusuf [12]:103).
     Ada pun makna dari kalimat “engkau tidak beserta mereka ketika mereka telah bersepakat mengenai urusan  mereka” dapat dikenakan kepada saudara-saudara Nabi Yusuf a.s. yang merancang “makar buruk” untuk membunuh Nabi Yusuf a.s. (QS.12:8-21). Atau tertuju kepada para pemimpin kafir Quraisy yang dipimpin Abu Jahal untuk melakukan  “makar buruk” terhadap Nabi Besar Muhammad saw. , firman-Nya:
 یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا اِنۡ تَتَّقُوا اللّٰہَ یَجۡعَلۡ لَّکُمۡ فُرۡقَانًا وَّ یُکَفِّرۡ عَنۡکُمۡ سَیِّاٰتِکُمۡ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ  ذُو الۡفَضۡلِ  الۡعَظِیۡمِ ﴿۳۰ وَ اِذۡ یَمۡکُرُ بِکَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا لِیُثۡبِتُوۡکَ اَوۡ یَقۡتُلُوۡکَ اَوۡ یُخۡرِجُوۡکَ ؕ وَ یَمۡکُرُوۡنَ وَ یَمۡکُرُ  اللّٰہُ  ؕ وَ اللّٰہُ خَیۡرُ الۡمٰکِرِیۡنَ ﴿۳۱
Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah Dia akan menjadikan  bagimu   pembeda,  dan Dia akan menghapuskan darimu keburukan-keburukanmu, Dia akan mengampunimu, dan Allah  Memiliki  karunia yang sangat besar. Dan ingatlah ketika orang-orang kafir merancang makar buruk terhadap engkau, supaya mereka dapat menangkap engkau atau membunuh engkau atau mengusir engkau. Mereka merancang makar buruk, dan Allah pun merancang  makar tandingan, dan Allāh sebaik-baik  Perancang makar. (Al-Anfaal [8]:30-31).
      Furqan berarti: (1) sesuatu yang membedakan antara yang benar dan yang salah; (2) bukti atau bahan bukti atau dalil; (3) bantuan atau kemenangan, dan (4) fajar (Lexicon Lane).
    Ayat  31 I mengisyaratkan kepada musyawarah rahasia yang diadakan di Darun Nadwah (Balai Permusyawaratan) di Makkah. Ketika mereka melihat bahwa semua usaha mereka mencegah berkembangnya aliran kepercayaan baru ini gagal, dan bahwa kebanyakan orang-orang Muslim yang mampu meninggalkan Makkah telah berhijrah ke Madinah dan mereka sudah jauh dari bahaya, maka orang-orang terkemuka warga kota berkumpul di Darun Nadwah untuk membuat rencana ke arah usaha terakhir guna menghabisi Islam.
     Sesudah diadakan pertimbangan mendalam, terpikir oleh mereka satu rencana, ialah sejumlah orang-orang muda dari berbagai kabilah Quraisy harus secara serempak menyergap Nabi Besar Muhammad saw.   lalu membunuh beliau saw.  Tetapi tanpa  mereka ketahui  beliau saw.  mening-galkan rumah tengah malam buta, ketika para penjaga dikuasai oleh kantuk, berlindung di Gua Tsur bersama-sama  Abu Bakar Shidiq r.a.,  sahabat beliau yang setia – wala pun  harus mengalami berbagao kejadian yang menegangkan --  dan akhirnya keduanya  sampai di Madinah dengan selamat.

“Makar Buruk” yang  Berulang  Kali Terjadi

     Ada pun yang menarik adalah bahwa  “makar buruk” yang dilakukan kepada Nabi Besar Muhammad saw. tersebut pernah juga dilakukan terhadap Nabi Salih a.s. oleh para penentang beliau,  dengan cara  yang sama dan   para pemimpin kekafiran yang merancang makar  buruk  pun sama pula jumlahnya, firman-Nya:
وَ کَانَ فِی الۡمَدِیۡنَۃِ  تِسۡعَۃُ  رَہۡطٍ یُّفۡسِدُوۡنَ فِی الۡاَرۡضِ وَ لَا یُصۡلِحُوۡنَ ﴿۴۹  قَالُوۡا تَقَاسَمُوۡا بِاللّٰہِ لَنُبَیِّتَنَّہٗ وَ اَہۡلَہٗ ثُمَّ لَنَقُوۡلَنَّ لِوَلِیِّہٖ مَا شَہِدۡنَا مَہۡلِکَ  اَہۡلِہٖ  وَ  اِنَّا  لَصٰدِقُوۡنَ ﴿۵۰  وَ مَکَرُوۡا مَکۡرًا وَّ  مَکَرۡنَا مَکۡرًا  وَّ ہُمۡ لَا  یَشۡعُرُوۡنَ ﴿۵۱  فَانۡظُرۡ کَیۡفَ کَانَ عَاقِبَۃُ مَکۡرِہِمۡ ۙ اَنَّا دَمَّرۡنٰہُمۡ  وَ  قَوۡمَہُمۡ  اَجۡمَعِیۡنَ ﴿۵۲   فَتِلۡکَ بُیُوۡتُہُمۡ خَاوِیَۃًۢ بِمَا ظَلَمُوۡا ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیَۃً   لِّقَوۡمٍ  یَّعۡلَمُوۡنَ ﴿۵۳  وَ اَنۡجَیۡنَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ کَانُوۡا یَتَّقُوۡنَ ﴿۵۴
Dan dalam kota itu ada  sem-bilan orang   yang  berbuat kerusakan di bumi  dan tidak mau mengadakan perbaikan.   Mereka berkata: “Hendaklah kamu sekalian bersumpah dengan nama Allah bahwa niscaya kami  akan menyerbu pada malam hari kepada dia dan keluarganya, kemudian kami niscaya akan berkata kepada pelindungnya:  “Kami sekali-kali tidak menyaksikan keluarganya menjadi binasa dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang benar.”   Dan mereka membuat makar buruk  dan Kami pun membuat makar tandingan, tetapi mereka tidak menya-dari hal itu. Maka perhatikanlah betapa buruknya akibat makar buruk mereka, sesungguhnya Kami memusnahkan mereka dan kaumnya semua.  Maka itulah rumah-rumah mereka yang telah runtuh  karena mereka berbuat zalim. Sesungguhnya dalam yang demikian itu benar-benar ada Tanda untuk kaum yang mengetahui.  Dan Kami menyelamatkan  orang-orang yang beriman dan bertakwa.  (Al-Naml [27]:49-54). 
    Dengan sendirinya yang diisyaratkan dalam ayat ini adalah 9 orang  musuh Nabi Besar Muhammad saw.  terkemuka, 8 orang di antaranya terbunuh dalam pertempuran Badar dan yang kesembilan, Abu Lahab -- yang terkenal keburukannya itu -- mati di Makkah ketika sampai ke telinganya kabar tentang kekalahan di Badar.
     Kedelapan orang itu adalah Abu Jahal, Muthim bin Adiy, Syaibah bin Rabiah, Utbah bin Rabiah, Walid bin Utbah, Umayah  bin Khalf, Nadhr bin Harts, dan Aqbah bin Abi Mu’aith. Mereka bersekongkol untuk membunuh Nabi Besar Muhammad saw.. Rencana  mereka ialah memilih seorang dari tiap-tiap kabilah kaum Quraisy, dan kemudian mengadakan serangan pembunuhan yang berencana atas beliau saw., sehingga tidak ada kabilah tertentu dapat dianggap bertanggung-jawab atas pembunuhan terhadap beliau itu. Rencana itu datang dari Abu Jahal, pemimpin kelompok jahat itu.
     Akibat dari makar buruk yang gagal tersebut Nabi Besar Muhammad saw. terpaksa hijrah dari Makkah, tetapi hijrah beliau saw. tersebut akhirnya mengakibatkan kehancuran kekuatan kaum Quraisy yang tidak menyadari, bahwa dengan memaksa Nabi Besar Muhammad saw. hijrah dari Makkah, mereka meletakkan dasar kehancuran bagi mereka sendiri. Sebab pada hakikatnya selama seorang rasul Allah ada di sutu tempat maka tempat tersebut akan tetap terpelihara dari azab Allah Swt, firman-Nya:
وَ  اِذۡ  قَالُوا اللّٰہُمَّ  اِنۡ کَانَ ہٰذَا ہُوَ الۡحَقَّ مِنۡ عِنۡدِکَ فَاَمۡطِرۡ عَلَیۡنَا حِجَارَۃً مِّنَ السَّمَآءِ اَوِ ائۡتِنَا بِعَذَابٍ اَلِیۡمٍ ﴿۳۳  وَ مَا کَانَ اللّٰہُ  لِیُعَذِّبَہُمۡ  وَ اَنۡتَ فِیۡہِمۡ ؕ وَ مَا کَانَ اللّٰہُ مُعَذِّبَہُمۡ وَ ہُمۡ یَسۡتَغۡفِرُوۡنَ ﴿۳۴
Dan ingatlah ketika mereka berkata: “Ya Allah, jika  Al-Quran ini  benar-benar   kebenaran dari Engkau  maka hujanilah kami dengan batu dari langit atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih.”  Tetapi Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka selama eng-kau berada di tengah-tengah mereka, dan  Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka sedangkan  mereka  meminta ampun. (Al-Anfaal [8]:33-34).
       Kira-kira seperti kata-kata itu jugalah Abu Jahal mendoa di medan perang Badar (Bukhari — Kitab Tafsir). Doa itu dikabulkan secara harfiah. Abu Jahal bersama beberapa pemimpin Quraisy yang lain, terbunuh dan mayat-ayat mereka dilemparkan ke dalam sebuah lubang.  Orang-orang Mekkah mendapat hukuman setelah Nabi Besar Muhammad saw.  meninggalkan Makkah hijrah ke Madinah. Rasul-rasul  Allah berfungsi semacam perisai terhadap hukuman-hukum-an dari langit, firman-Nya:
وَ مَا لَہُمۡ  اَلَّا یُعَذِّبَہُمُ اللّٰہُ  وَ ہُمۡ  یَصُدُّوۡنَ عَنِ الۡمَسۡجِدِ الۡحَرَامِ وَ مَا کَانُوۡۤا اَوۡلِیَآءَہٗ ؕ اِنۡ  اَوۡلِیَآؤُہٗۤ  اِلَّا الۡمُتَّقُوۡنَ وَ لٰکِنَّ  اَکۡثَرَہُمۡ  لَا  یَعۡلَمُوۡنَ ﴿۳۵
Dan  mengapa  Allah tidak akan mengazab mereka, sedangkan  mereka menghalang-halangi orang-orang dari Masjidilharam, dan mereka sekali-kali bukanlah orang-orang yang berhak melindunginya?  Tidak lain  yang berhak melindunginya  melainkan orang-orang yang bertakwa, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.  (Al-Anfaal [8]:35).

Peristiwa  Penyaliban Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
yang Menggelincirkan 

      Berbeda dengan makar-makar buruk rancangan manusia  –  khususnya para penentang Rasul Allah –  yang dilakukan dengan cara-cara  kasar dan zalim, contohnya upaya pembunuhan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. melalui penyaliban (QS.3:55;  QS.4:158-159),   sedangkan  makar tandingan Allah Swt.  sangat halus sehingga tidak mudah untuk dilihat (dimengerti),  tetapi keberhasilnya  sangat pasti,  sehingga dalam “duel-duel makar” tersebut “makar tandingan” Allah Swt.  selalu   sukses, sedangkan “makar buruk” para penentang Rasul Allah   selain  gagal sama sekali juga menjadi “batu sandungan” yang menggelincirkan orang-orang yang berhati bengkok.
       Berikut firman Allah Swt. mengenai “duel makar” berupa  upaya pembunuhan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. melalui penyaliban, firman-Nya:

وَّ بِکُفۡرِہِمۡ وَ قَوۡلِہِمۡ عَلٰی مَرۡیَمَ  بُہۡتَانًا عَظِیۡمًا ﴿۱۵۷﴾ۙ   وَّ قَوۡلِہِمۡ اِنَّا قَتَلۡنَا الۡمَسِیۡحَ عِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ رَسُوۡلَ اللّٰہِ ۚ وَ مَا قَتَلُوۡہُ وَ مَا صَلَبُوۡہُ وَ لٰکِنۡ شُبِّہَ لَہُمۡ ؕ وَ  اِنَّ الَّذِیۡنَ اخۡتَلَفُوۡا فِیۡہِ لَفِیۡ شَکٍّ مِّنۡہُ ؕ مَا لَہُمۡ بِہٖ مِنۡ عِلۡمٍ  اِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ ۚ وَ مَا قَتَلُوۡہُ  یَقِیۡنًۢا ﴿۱۵۸ۙ  بَلۡ رَّفَعَہُ اللّٰہُ اِلَیۡہِ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ عَزِیۡزًا حَکِیۡمًا ﴿۱۵۹
Dan juga  mereka  Kami azab karena kekafiran mereka dan ucapan mereka terhadap Maryam berupa tuduhan palsu yang besar,  Dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, Isa Ibnu Maryam, Rasul Allah,” padahal mereka tidak membunuhnya secara biasa dan tidak pula mematikannya melalui penyaliban,  akan tetapi ia disamarkan kepada mereka seperti telah mati di atas salib. Dan sesungguhnya  orang-orang yang berselisih dalam hal ini niscaya ada dalam keraguan mengenai ini, mereka tidak memiliki  pengetahuan yang pasti mengenai ini melainkan menuruti dugaan belaka dan mereka tidak  yakin telah membunuhnya. Bahkan Allah telah mengangkat dia kepada-Nya dan Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (Al-Nisaa [4]:157-159).
      Orang-orang Yahudi menuduh Siti Maryam berbuat zina ("Yewish Life of Yesus" oleh Panther). Kenyataan bahwa orang-orang Yahudi mengemukakan "tuduhan palsu" terhadap Siti Maryam merupakan bukti yang terang  mengenai lahirnya Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  tanpa ayah. Sebab seandainya Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.   mempunyai ayah,   "tuduhan palsu" apakah yang dikemukakan orang-orang Yahudi terhadap Siti Maryam? Hanya semata-mata mencerca beliau karena pengakuan-pengakuan yang dikemukakan oleh Nabi Isa ibnu Maryam a.s.  tidak dapat disebut tuduhan palsu. Di lain tempat Al-Quran membantah tuduhan itu dengan mengatakan bahwa ibunda Nabi Isa  Ibnu Maryam a.s.  itu seorang perempuan yang bertakwa (QS.3:43; QS.5:76).
      Berbagai pendapat keliru yang berkembang mengenai upaya menghinakan Nabi  Isa Ibnu Maryam a.s. melalui penyaliban. Tetapi  baik yang berpendapat bahwa  Nabi isa Ibnu Maryam a.s. benar-benar mati terkutuk di tiang salib sebagaimana ketentuan hukum Taurat bagi pendusta (Ulangan 21:22-23), atau yang berpendapat Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. terlebih dulu dibunuh barulah mayatnya  dipakukan pada tiang salib, mapun yang berpendapat bahwa bukan  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. yang disalibkan melainkan, Yudas Iskariot,  murid durhaka beliau,  -- serta berbagai pendapat keliru  lainnya   berkenaan penyaliban dengan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. – semuanya dimentahkan oleh kalimat: “Dan sesungguhnya  orang-orang yang berselisih dalam hal ini niscaya ada dalam keraguan mengenai ini,  mereka tidak memiliki  pengetahuan yang pasti mengenai ini melainkan menuruti dugaan belaka dan mereka tidak  yakin telah membunuhnya”, dan diperkuat oleh kalimat akhir:  “Bahkan Allah telah mengangkat dia kepada-Nya dan Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”
      Pada hakikatnya kedua  pernyataan Allah Swt. tersebut  membantah  kematian Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. benar-benar telah terbunuh di tiang salib, sebab hal itu artinya upaya para penentang beliau untuk  menghinakan atau merendahkan derajat beliau berhasil. Sebaliknya Allah Swt. telah mengangkat – yakni meninggikan derajat beliau dengan terhindarnya kematian  beliau di atas tiang salib, walau pun sempat tergantung selama 3 jam bersama-sama dengan 2 orang pencuri lainnya   yang juga disalib bersama-sama dengan beliau, guna memperlihatkan kepada masyarakat luas bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. adalah orang yang hina seperti kedua pencuri tersebut.
      Namun “makar buruk” yang dirancang sedemikian rupa oleh para pemuka agama Yahudi tersebut gagal total dalam mencapai tujuan akhirnya – yakni Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. mati tergantung di tiang salib, lalu sebelum mayatnya diturunkan  dari tiang salib terlebih dulu  tulang-tulangnya harus dipatahkan untuk membuktikan bahwa  orang yang dieksekusi mati melalui penyaliban tersebut benar-benar telah mati – tetapI kenyataan yang terjadi di lapangan tidak demikian, sebab baru saja 3 jam Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. digantung di atas tiang salib,  para pemuka agama Yahudi tersebut bergegas meminta kepada tentara Romawi untuk segera menurunkan tubuh Nabi Isa ibnu Maryam  a.s. dari tiang salib, karena mereka menyangka malam telah  tiba, dimana menurut hukum Taurat  pada malam menjelang Hari Sabat tidak boleh ada mayat yang tergantung di tiang salib. Lazimnya orang yang disalib baru mati  setelah  tergantung di tiang salib selama 3 hari.

Arti Kata “Salib”
 
Maa shalabuu hu artinya  “mereka tidak menyebabkan kematian dia pada tiang salib”, sebab shalab itu cara membunuh yang terkenal. Orang berkata Shalaba al-lish-sha, yakni ia membunuh pencuri itu dengan memakunya pada tiang salib. Ayat itu tidak mengingkari kenyataan bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  dipakukan ke tiang salib, tetapi menyangkal beliau mati di atas tiang salib itu.
  Kata-kata syubbiha lahum artinya: Nabi Isa a.s. ditampakkan kepada orang-orang Yahudi seperti orang yang mati disalib; atau hal kematian Nabi Isa a.s. menjadi samar atau menjadi teka-teki kepada mereka. Syubbiha 'alaihi al-amru, artinya hal itu dibuat kalang-kabut, samar atau teka-teki kepadanya (Lexicon Lane).
Ungkapan, maa qataluu hu yaqiinan, artinya: (1) mereka tidak membunuh dia dengan nyata; (2) mereka tidak mengubah  dugaan mereka  jadi keyakinan, yakni  penge-tahuan mereka mengenai kematian Nabi Isa a.s. pada tiang salib tidak demikian pastinya sampai tidak ada suatu celah keraguan pun dalam pikiran mereka bahwa mereka benar-benar telah membunuh beliau. Dalam hal ini kata ganti hu dalam qatalūhu menunjuk kepada kata benda zhann (dugaan). Orang-orang Arab berkata qatalasy-syai’a khubran, yakni ia memperoleh pengetahuan sepenuhnya dan pasti mengenai hal itu supaya menia-dakan segala kemungkinan untuk meragukan hal itu (Lexicon Lane, Lisan-al’Arab, dan Al-Mufradat).
Bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  tidak wafat pada tiang salib melainkan wafat secara wajar, jelas nampak dari Al-Quran. Fakta-fakta berikut -- sebagaimana dikisahkan dalam Injil sendiri -- memberi dukungan yang kuat kepada keterangan Al-Quran itu:
1. Karena Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.a  itu seorang nabi (rasul) Allah, beliau tak mungkin mati pada kayu salib, sebab menurut Bible: "orang yang tergantung itu kutuklah bagi Tuhan Allah" (Ulangan 21:23; Yahya19:6-7).
 2. Beliau telah berdoa kepada Tuhan dalam kesakitan yang amat sangat supaya "biarkanlah kiranya cawan (kematian di atas salib) ini lepas dariku" (Markus 14:36; Matius 26:29; Lukas 22:42); dan doa beliau telah terkabul (Iberani 5:7).
3. Beliau telah mengabarkan sebelumnya bahwa seperti Nabi Yunus a.s.  yang telah masuk ke perut ikan hiu dan telah keluar lagi hidup-hidup (Matius 12:40), beliau akan tinggal dalam "perut bumi" selama 3 hari dan akan keluar lagi hidup-hidup.
4. Beliau telah menubuatkan pula bahwa beliau akan pergi mencari kesepuluh suku bangsa Israil yang hilang (Yahya 10:16). Bahkan orang-orang Yahudi di masa Nabi Isa  ibnu Maryam a.s.  pun mempercayai bahwa suku-suku bangsa Israil yang hilang itu telah terpencar ke berbagai negeri (Yahya 7:34, 35).
5. Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.    telah terpancang pada tiang salib hanya selama kira-kira 3 jam (Yahya 19:14) dan sebagai orang yang memiliki kesehatan jasmani yang normal, beliau tidak mungkin wafat dalam waktu yang sependek itu.
6. Segera sesudah beliau diturunkan dari tiang salib, pinggang beliau ditusuk dan darah serta air keluar darinya. Hal demikian merupakan tanda yang pasti bahwa beliau masih hidup (Yahya 19:34). Beliau tidak mengalami pematahan tulang-tulang sebelum diturunkan dari tiang salib, sesuai dengan nubuatan (Yahya 19:31-37).
7. Orang-orang Yahudi sendiri merasa tidak yakin mengenai kematian Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.   karena itu  mereka telah meminta kepada Pilatus untuk menempatkan penjaga di kuburannya "supaya jangan murid-muridnya datang mencuri Dia, serta mengatakan kepada kaum, bahwa Ia sudah bangkit dari antara orang mati" (Matius 27:64).
8. Tidak didapatkan dalam semua Injil barang sebuah pun pernyataan tertulis dari seorang saksi yang menerangkan bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  telah wafat ketika beliau diturunkan dari tiang salib atau ketika beliau ditempatkan dalam kuburan. Lagi pula, tidak seorang pun dari antara murid beliau hadir di tempat kejadian penyaliban, semuanya melarikan diri tatkala  beliau  dibawa ke tempat penyaliban.
Kejadian yang sebenarnya nampaknya demikian, boleh jadi disebabkan oleh impian istrinya agar "Jangan berbuat barang apapun ke atas orang yang benar itu" (Matius 27: 19), maka Pilatus telah percaya bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  tidak bersalah, dan karenanya telah bersekongkol dengan Yusuf Arimatea - seorang tokoh dari perkumpulan Essene, tempat Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  sendiri pernah menjadi anggotanya, sebelum beliau diutus sebagai nabi - untuk menolong jiwa beliau.
Sidang pemeriksaan perkara Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. berlangsung pada hari Jum'at, karena Pilatus dengan sengaja mengulur waktu dengan perhitungan bahwa esok harinya jatuh Hari Sabat, saat orang-orang terhukum tidak dapat dibiarkan di atas tiang salib sesudah matahari terbenam.
Ketika pada akhirnya Pilatus merasa terpaksa menghukum Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. ia memberikan keputusannya hanya 3 jam sebelum terbenamnya matahari, dengan demikian meyakinkan dirinya bahwa tidak ada orang yang normal kesehatannya tinggal di atas tiang salib dalam waktu yang sesingkat itu dapat mati. Selain itu Pilatus telah sudi mengusahakan agar Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. diberi anggur atau cuka dicampur dengan rempah-rempah mur (myrrh) untuk mengurangi perasaan sakitnya.
Tatkala sesudah 3 jam lamanya tergantung, beliau diturunkan dari salib dalam keadaan tidak sadarkan diri (mungkin karena pengaruh cuka yang diminumkan kepada beliau), Pilatus dengan senang hati mengabulkan permintaan Yusuf Arimatea dan menyerahkan badan beliau kepadanya. Lain halnya dari kedua penjahat yang digantung bersama-sama Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. tulang-tulang beliau tidak dipatahkan dan Yusuf Arimatea telah meletakkan beliau di suatu rongga yang ruangnya luas, digali di bagian samping bukit padas. Ketika itu tidak ada ilmu pemeriksaan mayat (medical autopsy), tidak ada percobaan stethoscopis, tidak diadakan pemeriksaan dari segi hukum dengan pertolongan kesaksian dari mereka yang terakhir bersama beliau ("Mystical life of Yesus" oleh H. Spencer Lewis).
9. Marham Isa (salep Isa) yang terkenal itu dibuat dan dipakai untuk mengobati luka-luka Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.,  dan beliau diurus serta dirawat oleh Yusuf Arimatea dan Nicodemus yang juga seorang yang sangat terpelajar dan anggota yang amat terhormat dari Ikatan Persaudaraan Essene.
10. Setelah luka-luka beliau cukup sembuh, Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.    meninggalkan kuburan itu dan menemui beberapa murid beliau dan bersantap bersama mereka, lalu menempuh perjalanan jauh dari Yerusalem ke Galilea dengan berjalan kaki (Lukas 24:50).
11. "The Crucifixion by an Eye Witness," sebuah buku yang untuk pertama kalinya iterbitkan pada tahun 1873 di Amerika Serikat, merupakan terjemahan dalam bahasa Inggeris dari sebuah naskah surat dalam bahasa Latin purba yang ditulis 7 tahun sesudah peristiwa salib oleh seorang warga Essene di Yerusalem kepada seorang anggota perkumpulan itu di Iskandaria, memberi dukungan yang kuat kepada pendapat bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. telah diturunkan dari salib dalam keadaan masih hidup. Buku itu menceriterakan secara terinci semua kejadian yang menjurus kepada peristiwa salib, pemandangan di bukit tempat terjadinya penyaliban dan juga peristiwa-peristiwa yang terjadi kemudian.

Benarnya Firman Allah Swt. dalam  Al-Quran
  
       Dua pendapat yang berbeda tersebar di tengah-tengah orang-orang Yahudi mengenai dugaan wafat Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.   karena penyaliban. Beberapa di antara mereka berpendapat bahwa beliau pertama-tama dibunuh, kemudian badan beliau digantung pada tiang salib, sedang yang lainnya berpendapat bahwa beliau dibunuh dengan dipakukan pada tiang salib. Pendapat yang pertama tercermin dalam Kisah Rasul-rasul 5:50, kita baca: "Yang sudah kamu ini bunuh dan menggantungkan Dia pada kayu itu."
Al-Quran membantah kedua pendapat ini dengan mengatakan:  "mereka tidak membunuhnya, dan tidak pula mematikannya di atas salib." Pertama Al-Quran menolak pembunuhan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dalam bentuk apapun, dan selanjutnya menyangkal cara pembunuhan yang khas dengan jalan menggantungkan pada salib. Al-Quran  tidak menolak ide bahwa Nabi Isa  Ibnu Maryam a.s. digantung pada tiang salib, Al-Quran hanya menyangkal wafatnya di atas tiang salib.
Orang-orang Yahudi dengan gembira mengumandangkan telah membunuh Nabi Isa a.s. di atas tiang salib, sehingga dengan demikian telah membuktikan bahwa pendakwaan beliau sebagai nabi Allah tidak benar. Ayat itu bersama-sama ayat sebelumnya mengandung sangkalan yang keras  terhadap tuduhan tersebut serta membersihkan beliau dari noda yang didesas-desuskan, lalu mengutarakan keluhuran derajat ruhani beliau dan bahwa beliau telah mendapat kehormatan di hadirat Allah. Dalam ayat itu sama sekali tidak ada sebutan  mengenai kenaikan beliau ke langit dengan tubuh jasmani. Ayat itu hanya mengatakan bahwa Allah Swt. menaikkan beliau ke haribaan-Nya Sendiri, hal demikian menunjukkan dengan jelas suatu kenaikan ruhani, sebab tidak ada tempat kediaman tertentu dapat ditunjukkan bagi Allah Swt..

(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid

Tidak ada komentar:

Posting Komentar