بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
HUBUNGAN NABI YUSUF A.S.
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
Bagian XL
Tentang
"Duel Makar" Dalam Peristiwa Hijrah
Nabi Besar Muhammad Saw. &
Bersembunyi di Gua Tsur (2)
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
ذٰلِکَ مِنۡ اَنۡۢبَآءِ الۡغَیۡبِ نُوۡحِیۡہِ اِلَیۡکَ ۚ وَ مَا کُنۡتَ لَدَیۡہِمۡ اِذۡ اَجۡمَعُوۡۤا اَمۡرَہُمۡ وَ ہُمۡ یَمۡکُرُوۡنَ ﴿۱۰۳﴾
Itulah dari kabar-kabar gaib yang telah Kami wahyukan kepada
engkau, dan engkau tidak beserta mereka ketika mereka telah bersepakat mengenai
urusan mereka dan mereka akan melakukan
makar. (Yusuf [12]:103).
Dalam Bab
sebelumnya pembahasan mengenai hijrah Nabi Besar Muhammad saw. dari
Makkah ke Madinah, sampai dengan peristiwa bersembunyinya beliau saw. bersama
Abu Bakar Shiddiq r.a. di gua Tsur, firman-Nya:
اِلَّا تَنۡصُرُوۡہُ فَقَدۡ نَصَرَہُ
اللّٰہُ اِذۡ اَخۡرَجَہُ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا ثَانِیَ اثۡنَیۡنِ اِذۡ ہُمَا فِی الۡغَارِ اِذۡ یَقُوۡلُ لِصَاحِبِہٖ لَا تَحۡزَنۡ اِنَّ اللّٰہَ مَعَنَا ۚ فَاَنۡزَلَ اللّٰہُ سَکِیۡنَتَہٗ عَلَیۡہِ وَ اَیَّدَہٗ بِجُنُوۡدٍ لَّمۡ تَرَوۡہَا وَ جَعَلَ کَلِمَۃَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوا السُّفۡلٰی ؕ وَ کَلِمَۃُ اللّٰہِ ہِیَ الۡعُلۡیَا ؕ وَ اللّٰہُ عَزِیۡزٌ حَکِیۡمٌ ﴿۴۰﴾
Jika kamu tidak menolongnya maka
sungguh Allah telah
menolongnya ketika ia (Rasulullah) diusir oleh orang-orang kafir, sedangkan
ia kedua dari yang dua ketika keduanya berada dalam gua, lalu ia (Rasulullah)
berkata kepada temannya: “Janganlah engkau sedih sesungguhnya Allah beserta
kita”, lalu Allah
menurunkan ketenteraman-Nya kepadanya dan menolongnya dengan lasykar-lasykar yang
kamu tidak melihatnya, dan Dia menjadikan
perkataan orang-orang yang kafir itu rendah sedangkan Kalimah Allah
itulah yang tertinggi, dan Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (Al-Taubah
[9]:40).
“Makar Tandingan” Allah Swt.
Sebagaimana
telah dijelaskan dalam Bab sebelumnya bahwa kata pengganti nama hii (nya) dalam anak kalimat “ketenteraman-Nya
kepadanya” dapat mengisyaratkan kepada
Abubakar Shiidiq r.a., karena
selama itu Nabi Besar Muhammad saw. sendiri senantiasa dalam keadaan
setenang-tenangnya. Sedangkan kata pengganti “nya” dalam anak kalimat “menolongnya”
bagaimanapun juga mengisyaratkan kepada Nabi Besar Muhammad saw.. Dipergunakannya
kata-kata pengganti nama dengan cara berpencaran ini, dikenal sebagai Intisyar
al-Dhama’ir dan sudah lazim dalam bahasa Arab.
Yang dimaksud oleh ayat ini ialah peristiwa hijrah Nabi Besar Muhammad saw. saw.
dari Makkah ke Madinah ketika beliau didampingi oleh Abu Bakar Shiddiq r.a. berlindung di sebuah gua yang disebut
Tsur -- sebuah gua sempit dan dan
dangkal serta menjadi sarang binatang berbisa, khususnya kalajengking
padang pasir yang sangat berbisa --
karena kegelapan malam akan segera
berakhir.
Ada
pun yang membuat para pemburu dari Makkah – yang dipandu oleh pencari jejak
yang sangat mahir – tersebut tidak menaruh curiga terhadap gua yang ada di hadapan mereka, pertama adalah:
(1)
Mulut gua tersebut telah tertutup
oleh jaringan sarang laba-laba, sehingga mereka piker kalau ada orang yang
masuk gua tersebut maka pasti sarang laba-laba tersebut rusak.
(2) Di depan mulut gua tersebut terdapat burung
yang sedang mengerami telornya,
sehingga mereka berkesimpulan bahwa
tidak ada orang yang masuk ke dalam gua
tersebut.
Itulah sebabnya
setelah pencari jejak yang mahir tersebut mendapati jejak-jejak kedua pelarian
dari Makkah tersebut berhenti di depan mulut gua, la berkata bahwa
buruan yang mereka cari itu hanya ada 2 kemungkinan, yaitu (1) keduanya
berada di dalam gua; atau keduanya naik ke langit.
Karena mereka hanya
mengandalkan analisa secara akal
(logika) saja, akhirnya mereka memutuskan untuk meninggalkan gua Tsur tersebut, sehingga
dengan karunia dan pertolongan khusus Allah Nabi Besar Muhammad
saw. dan Abu Bakar Shiddiq r.a. selamat dari para pemburu yang haus darah
tersebut.
Ketinggian Martabat Ruhani
Abu Bakar Shiddiq r.a.
Ayat 40 Surah Al-Taubah tersebut menjelaskan
martabat ruhani amat tinggi Abubakar
Shiddiq r.a.., yang telah disebut sebagai “salah satu di antara
dua orang” dengan disertai Allah Swt. dan
Allah Swt. Sendiri meredakan
rasa ketakutannya. Telah tercatat dalam sejarah bahwa ketika berada dalam
gua Abu Bakar Shiddiq r.a. mulai
menangis, dan ketika ditanya oleh Nabi Besar Muhammad saw. mengapa beliau menangis, beliau
menjawab: “Saya tidak menangis untuk hidupku, ya Rasulullah, sebab jika saya
mati, ini hanya menyangkut satu jiwa saja, tetapi jika Anda mati, ini akan
merupakan kematian Islam dan kematian seluruh umat Islam.” (Zurqani).
Menangisnya
Abu Bakar Shiddiq r.a. tersebut terjadi ketika rombongan pemburu mereka tiba di
depan mulut gua, sehingga kedua pelarian dari Makkah tersebut dapat melihat
kaki mereka, sehingga seandainya ada di antara mereka yang mau melihat-lihat ke mulut gua Tsur lebih
saksama lagi pasti ia akan melihat keduanya. Kenyataan yang sangat menegangkan
itulah yang membuat Abu Bakar Shiddiq r.a. sangat gelisah sampai mengucurkan
air mata, yang kemudian ditenangkan oleh Nabi Besar Muhammad saw. dengan ucapan
yang penuh yakin: “Janganlah engkau sedih sesungguhnya Allah beserta kita”.
Ada
peristiwa lainnya yang membuat Abu Bakar Shiddiq r.a. harus mengeluarkan air mata, yakni akibat
menahan sakit sengatan seekor binatang berbisa yang lubangnya terlewat ditutup,
sehingga terpaksa lobang binatang berbisa tersebut harus ditutup dengan salah satu jari kakinya, dan beliau
harus tetap menutup lubang binatang berbisa tersebut walau pun harus menderita akibat
sengatan yang sangat menyakitkan dari binatang beracun tersebut.
Kenapa demikian? Sebab pada saat itu akibat
kelelahan Nabi Besar Muhammad saw. tertidur
dan kepala beliau saw. berada di atas
paha Abu Bakar Shiddiq r.a.. Dan karena
tidak mau mengganggu istirahat Nabi Besar Muhammad saw. maka Abu Bakar
Shiddiq r.a. tidak mau melakukan gerakan yang dapat membuat Nabi Besar Muhammad saw. terbangun dari
tidurnya. Dengan alasan itulah ketika ia
melihat ada seekor binatang berbisa mau keluar dari lubangnya, supaya binatang
tersebut tidak menggigit Nabi Besar Muhammad saw. lalu
Abu Bakar Shiddiq r.a. menutup lobang
binatang berbisa tersebut dengan kakinnya. Rasa
sakit yang hebat itulah yang membuat Abu Bakar Shiddiq r.a. tidak mampu menahan
cucuran air matanya sehingga membasahi wajah suci Nabi Besar Muhammad saw.,
yang membuat beliau saw. bangun dari tidurnya. Dan ketika beliau saw.
menanyakan kepadanya kenapa ia menangis lalu Abu Bakar Shiddiq r.a.
menceritakan apa yang telah
dilakukannya.
Mendengar pengorbanan dari sahabatnya -- yang rela mengorbankan keselamatan jiwanya
– tersebut tentu saja membuat Nabi Besar Muhammad saw. sangat terharu, dan Allah Swt. pun tidak mensia-siakan berbagai penderitaan dan pengorbanan di jalan Allah yang dialami kedua orang suci
tersebut, firman-Nya:
فَاَنۡزَلَ اللّٰہُ سَکِیۡنَتَہٗ عَلَیۡہِ وَ اَیَّدَہٗ بِجُنُوۡدٍ لَّمۡ تَرَوۡہَا وَ جَعَلَ کَلِمَۃَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوا السُّفۡلٰی ؕ وَ کَلِمَۃُ اللّٰہِ ہِیَ الۡعُلۡیَا ؕ وَ اللّٰہُ عَزِیۡزٌ حَکِیۡمٌ ﴿۴۰﴾
“....lalu
Allah menurunkan
ketenteraman-Nya kepadanya dan menolongnya dengan lasykar-lasykar yang
kamu tidak melihatnya, dan Dia
menjadikan perkataan orang-orang yang kafir itu rendah sedangkan Kalimah
Allah itulah yang tertinggi, dan Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (Al-Taubah
[9]:40).
Makna
“Kun Fayakun” Allah Swt.
Makna “Kun Fayakun” yang Disalahartikan
Banyak pelajaran yang dapat diambil dari “duel
makar” antara “makar buruk” yang dilakukan oleh Abu Jahal dan
kawan-kawannya dengan “makar tandingan”
Allah Swt.. adalah
sehubungan kalimat “Kun
fayakun” (Jadilah! Maka terjadilah) yang
telah disalah-tafsirkan oleh
umumnya umat Islam, terutama sekali berkenaan dengan Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s..
Di
dalam beberapa Surah Al-Quran terdapat
kalimat “kun fayakun” berkenaan dengan Kemahakuasaan Allah Swt., berikut
beberapa contoh mengenai hal tersebut:
(1)
Allah Swt. berfirman “Kun fayakun” (Jadilah
maka terjadilah) mengenai sesuatu yang dikehendaki-Nya terjadi - QS.2:29; QS.16:41;
QS.36:83; QS.40:69);
(2)
Allah Swt. berfirman “Kun fayakun” mengenai
penciptaan seluruh langit dan bumi - QS.2:118; QS.6:74);
(3)
Allah Swt.
berfirman “Kun fayakun” mengenai kehamilan Siti Maryam - QS.3:48);
(4)
Allah Swt.
berfirman “Kun fayakun” mengenai misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
seperti misal Nabi Adam a.s. -
QS.3-60);
(5)
Allah Swt.
berfirman “Kun” (jadilah) kepada Nabi Musa a.s. dan Nabi Besar Muhammad
saw. agar menjadi orang yang bersyukur - QS.7:145; QS.39:67);
(6)
Allah Swt.
berfirman “Kun” (jadilah)
mengenai Nabi Besar Muhammad saw. agar menjadi orang-orang yang sujud
- QS.15:99);
(7)
Allah Swt.
berfirman “Kun fayakun” mengenai ketidaklayakan bagi Allah Swt.
mengambil seorang anak bagi-Nya - QS.19:36);
(8)
Allah Swt.
berfirman “Kuuniy” (jadilah) ketika memerintahkan api menjadi dingin
dan keselamatan ketika
Nabi Ibrahim a.s. dilemparkan ke dalamnya (QS.21:70)
Dari semua ayat
berkenaan dengan penggunaan kata “Kun”
(Jadilah) tidak ada satu pun yang seperti
apa yang difahami, dipercayai oleh umumnya umat Islam sama seperti
trick-trick (tipu-daya)
pesulap yang – misalnya -- “menciptakan”
burung merpati dari saputangan atau benda lainnya, atau “menciptakan bunga”
dari golongan kertas Koran sambil mengucapkan: “Adakadabra!”
Allah Swt. tidak
pernah melakukan perbuatan sia-sia dan dusta seperti para pesulap atau tukang-tukang
sihir yang dengan “kekuatan pikirnya
(daya khayalnya) mahir menampakkan berbagai hal-hal yang bersifat “khayal”, seperti yang dilakukan oleh tukang-tukang
sihir Fir’aun ketika berhadap dengan Nabi Musa a.s. (QS.7:117-121); QS.20:66-71;
QS.26:44-49).
Demikian juga Allah Swt. tidak pernah memberi kemampuan kepada Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. untuk
melakukan hal-hal yang disalah-tafsirkan mengenai firman Allah Swt.
dalam QS.3:50; QS.5:111, bahwa “dengan
izin Allah Swt., Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s. benar-benar dapat menciptakan burung dari tanah liat, dapat menghidupkan
orang yang telah mati dan lain-lain, padahal semua perbuatan tersebut merupakan hak
Allah Swt. sebagai Al-Khaaliq (Maha Pencipta - QS.2:29; QS.10:57;
QS.40:69); firman-Nya:
قُلۡ مَنۡ رَّبُّ السَّمٰوٰتِ
وَ الۡاَرۡضِ ؕ قُلِ اللّٰہُ ؕ قُلۡ
اَفَاتَّخَذۡتُمۡ مِّنۡ دُوۡنِہٖۤ
اَوۡلِیَآءَ لَا یَمۡلِکُوۡنَ لِاَنۡفُسِہِمۡ
نَفۡعًا وَّ لَا ضَرًّا ؕ قُلۡ ہَلۡ یَسۡتَوِی الۡاَعۡمٰی وَ الۡبَصِیۡرُ ۬ۙ اَمۡ
ہَلۡ تَسۡتَوِی الظُّلُمٰتُ وَ النُّوۡرُ ۬ۚ اَمۡ
جَعَلُوۡا لِلّٰہِ شُرَکَآءَ خَلَقُوۡا کَخَلۡقِہٖ فَتَشَابَہَ الۡخَلۡقُ
عَلَیۡہِمۡ ؕ قُلِ اللّٰہُ خَالِقُ کُلِّ شَیۡءٍ وَّ ہُوَ الۡوَاحِدُ الۡقَہَّارُ
﴿۱۷﴾
Katakanlah: “Siapakah Tuhan seluruh langit dan bumi?”
Katakanlah: “Allah!” Katakanlah: “Apakah kamu mengambil selain Dia pelindung-pelindung yang tidak me-miliki kekuasaan untuk kemanfaatan ataupun
kemudaratan, meskipun bagi dirinya sendiri?” Katakanlah: ”Apakah
sama keadaan orang-orang buta dan
orang-orang yang melihat? Atau samakah gelap dan terang?
Atau apakah mereka itu menjadikan
bagi Allah sekutu yang telah menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua jenis ciptaan itu
nampak serupa saja bagi mereka?” Katakanlah: “Hanya Allah yang
telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia-lah Yang Maha Esa, Maha
Perkasa.” (Al-Ra’d [13]:17).
(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid
Tidak ada komentar:
Posting Komentar