Selasa, 07 Februari 2012

"Duel Makar" Dalam Peristiwa Hijrah Nabi Besar Muhammad saw. & Bersembunyi di Gua Tsur (2)



بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ

 
HUBUNGAN  NABI YUSUF A.S. 
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
  
Bagian   XL
Tentang

        "Duel Makar"  Dalam Peristiwa Hijrah 
Nabi Besar Muhammad Saw.  &
Bersembunyi di Gua Tsur (2)
 
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
 
ذٰلِکَ  مِنۡ  اَنۡۢبَآءِ الۡغَیۡبِ نُوۡحِیۡہِ  اِلَیۡکَ ۚ وَ مَا کُنۡتَ لَدَیۡہِمۡ  اِذۡ  اَجۡمَعُوۡۤا  اَمۡرَہُمۡ  وَ ہُمۡ  یَمۡکُرُوۡنَ ﴿۱۰۳
Itulah dari kabar-kabar gaib yang telah Kami wahyukan kepada engkau, dan engkau tidak beserta mereka ketika mereka telah bersepakat mengenai urusan  mereka dan mereka akan melakukan makar. (Yusuf [12]:103).
 
Dalam Bab sebelumnya pembahasan mengenai hijrah Nabi Besar Muhammad saw. dari Makkah ke Madinah, sampai dengan peristiwa bersembunyinya beliau saw. bersama Abu Bakar Shiddiq r.a. di gua Tsur, firman-Nya:
اِلَّا تَنۡصُرُوۡہُ فَقَدۡ  نَصَرَہُ  اللّٰہُ  اِذۡ اَخۡرَجَہُ الَّذِیۡنَ  کَفَرُوۡا ثَانِیَ اثۡنَیۡنِ اِذۡ ہُمَا فِی الۡغَارِ اِذۡ یَقُوۡلُ لِصَاحِبِہٖ لَا تَحۡزَنۡ اِنَّ اللّٰہَ مَعَنَا ۚ فَاَنۡزَلَ اللّٰہُ سَکِیۡنَتَہٗ عَلَیۡہِ وَ اَیَّدَہٗ  بِجُنُوۡدٍ لَّمۡ تَرَوۡہَا وَ جَعَلَ کَلِمَۃَ  الَّذِیۡنَ کَفَرُوا السُّفۡلٰی ؕ وَ کَلِمَۃُ  اللّٰہِ ہِیَ الۡعُلۡیَا ؕ وَ اللّٰہُ  عَزِیۡزٌ  حَکِیۡمٌ  ﴿۴۰
Jika kamu tidak menolongnya maka  sungguh Allah  telah menolongnya ketika ia (Rasulullah) diusir oleh orang-orang kafir, sedangkan ia kedua dari yang dua ketika keduanya berada dalam gua, lalu ia (Rasulullah) berkata kepada temannya: “Janganlah engkau sedih sesungguhnya Allah beserta kita”, lalu Allah menurunkan ketenteraman-Nya kepadanya  dan menolongnya dengan lasykar-lasykar yang kamu tidak melihatnya,  dan Dia menjadikan perkataan orang-orang yang kafir itu rendah sedangkan Kalimah Allah itulah yang tertinggi, dan Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.  (Al-Taubah [9]:40).

“Makar Tandingan” Allah Swt.

       Sebagaimana telah dijelaskan dalam Bab sebelumnya bahwa kata pengganti nama hii  (nya) dalam anak kalimat “ketenteraman-Nya kepadanya” dapat mengisyaratkan kepada   Abubakar Shiidiq r.a.,   karena selama itu Nabi Besar Muhammad saw. sendiri senantiasa dalam keadaan setenang-tenangnya. Sedangkan kata pengganti “nya” dalam anak kalimat “menolongnya” bagaimanapun juga mengisyaratkan kepada Nabi Besar Muhammad saw.. Dipergunakannya kata-kata pengganti nama dengan cara berpencaran ini, dikenal sebagai Intisyar al-Dhama’ir dan sudah lazim dalam bahasa Arab.  
        Yang dimaksud oleh ayat ini ialah peristiwa  hijrah Nabi Besar Muhammad saw. saw. dari Makkah ke Madinah ketika beliau didampingi oleh   Abu Bakar Shiddiq r.a.  berlindung di sebuah gua yang disebut Tsur --  sebuah gua sempit dan dan dangkal serta  menjadi sarang  binatang berbisa, khususnya kalajengking padang pasir yang sangat berbisa  -- karena   kegelapan malam akan segera berakhir.
       Ada pun yang membuat para pemburu dari Makkah – yang dipandu oleh pencari jejak yang sangat mahir – tersebut tidak menaruh curiga terhadap gua  yang ada di hadapan mereka, pertama adalah:
      (1)  Mulut gua tersebut telah  tertutup oleh jaringan sarang laba-laba, sehingga mereka piker kalau ada orang yang masuk gua tersebut maka pasti sarang laba-laba tersebut rusak.
      (2)  Di depan mulut gua tersebut terdapat burung yang sedang  mengerami telornya, sehingga  mereka berkesimpulan bahwa tidak ada orang yang  masuk ke dalam gua tersebut.
       Itulah  sebabnya setelah pencari jejak yang mahir tersebut mendapati jejak-jejak kedua pelarian dari Makkah tersebut berhenti di depan mulut gua, la berkata  bahwa  buruan yang mereka cari itu hanya ada 2 kemungkinan, yaitu (1) keduanya berada di dalam gua; atau keduanya naik ke langit.
      Karena mereka hanya mengandalkan analisa  secara akal (logika) saja,  akhirnya  mereka memutuskan untuk  meninggalkan gua Tsur tersebut, sehingga dengan karunia dan pertolongan khusus Allah Nabi Besar Muhammad saw. dan Abu Bakar Shiddiq r.a. selamat dari para pemburu yang haus darah tersebut.

Ketinggian  Martabat Ruhani Abu Bakar Shiddiq r.a.

    Ayat 40 Surah Al-Taubah tersebut menjelaskan martabat ruhani amat tinggi  Abubakar Shiddiq r.a.., yang telah disebut sebagai “salah satu di antara dua orang” dengan disertai Allah Swt.  dan  Allah Swt.  Sendiri meredakan rasa ketakutannya. Telah tercatat dalam sejarah bahwa ketika berada dalam gua  Abu Bakar Shiddiq r.a. mulai menangis, dan ketika ditanya oleh Nabi Besar Muhammad saw.  mengapa beliau menangis, beliau menjawab: “Saya tidak menangis untuk hidupku, ya Rasulullah, sebab jika saya mati, ini hanya menyangkut satu jiwa saja, tetapi jika Anda mati, ini akan merupakan kematian Islam dan kematian seluruh umat Islam.” (Zurqani).
      Menangisnya Abu Bakar Shiddiq r.a. tersebut terjadi ketika rombongan pemburu mereka tiba di depan mulut gua, sehingga kedua pelarian dari Makkah tersebut dapat melihat kaki mereka, sehingga seandainya ada di antara mereka yang  mau melihat-lihat ke mulut gua Tsur lebih saksama lagi pasti ia akan melihat keduanya. Kenyataan yang sangat menegangkan itulah yang membuat Abu Bakar Shiddiq r.a. sangat gelisah sampai mengucurkan air mata, yang kemudian ditenangkan oleh Nabi Besar Muhammad saw. dengan ucapan yang penuh yakin:  Janganlah engkau sedih sesungguhnya Allah beserta kita”.
       Ada peristiwa lainnya yang membuat Abu Bakar Shiddiq r.a.  harus mengeluarkan  air mata, yakni akibat menahan sakit sengatan seekor binatang berbisa yang lubangnya terlewat ditutup, sehingga terpaksa lobang binatang berbisa tersebut harus ditutup  dengan salah satu jari kakinya, dan beliau harus tetap menutup lubang binatang berbisa tersebut walau pun harus menderita akibat sengatan yang sangat menyakitkan dari binatang beracun tersebut.
       Kenapa demikian? Sebab pada saat itu akibat kelelahan Nabi Besar Muhammad saw.  tertidur dan kepala beliau saw. berada di atas  paha Abu Bakar Shiddiq r.a.. Dan karena  tidak mau mengganggu istirahat Nabi Besar Muhammad saw. maka Abu Bakar Shiddiq r.a. tidak mau melakukan gerakan yang dapat membuat  Nabi Besar Muhammad saw. terbangun dari tidurnya.  Dengan alasan itulah ketika ia melihat ada seekor binatang berbisa mau keluar dari lubangnya, supaya binatang tersebut tidak menggigit Nabi Besar Muhammad saw.  lalu      
        Abu Bakar Shiddiq r.a. menutup lobang binatang berbisa tersebut dengan kakinnya. Rasa sakit yang hebat itulah yang membuat Abu Bakar Shiddiq r.a. tidak mampu menahan cucuran air matanya sehingga membasahi wajah suci Nabi Besar Muhammad saw., yang membuat beliau saw. bangun dari tidurnya. Dan ketika beliau saw. menanyakan kepadanya kenapa ia menangis lalu Abu Bakar Shiddiq r.a. menceritakan  apa yang telah dilakukannya.
       Mendengar pengorbanan dari sahabatnya  -- yang rela mengorbankan keselamatan jiwanya – tersebut tentu saja membuat Nabi Besar Muhammad saw.  sangat terharu, dan  Allah Swt. pun tidak mensia-siakan  berbagai penderitaan dan pengorbanan  di jalan Allah yang dialami kedua orang suci tersebut, firman-Nya: 
فَاَنۡزَلَ اللّٰہُ سَکِیۡنَتَہٗ عَلَیۡہِ وَ اَیَّدَہٗ  بِجُنُوۡدٍ لَّمۡ تَرَوۡہَا وَ جَعَلَ کَلِمَۃَ  الَّذِیۡنَ کَفَرُوا السُّفۡلٰی ؕ وَ کَلِمَۃُ  اللّٰہِ ہِیَ الۡعُلۡیَا ؕ وَ اللّٰہُ  عَزِیۡزٌ  حَکِیۡمٌ  ﴿۴۰
“....lalu  Allah menurunkan ketenteraman-Nya kepadanya  dan menolongnya dengan lasykar-lasykar yang kamu tidak melihatnya,  dan Dia menjadikan perkataan orang-orang yang kafir itu rendah sedangkan Kalimah Allah itulah yang tertinggi, dan Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.  (Al-Taubah [9]:40).
Makna “Kun Fayakun” Allah Swt.

Makna   “Kun Fayakun” yang Disalahartikan

      Banyak pelajaran yang dapat diambil dari “duel makar” antara “makar buruk” yang dilakukan oleh Abu Jahal dan kawan-kawannya dengan “makar tandingan”  Allah Swt.. adalah  sehubungan  kalimat “Kun fayakun” (Jadilah! Maka terjadilah) yang  telah disalah-tafsirkan oleh   umumnya umat Islam, terutama sekali berkenaan dengan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s..
Di dalam beberapa Surah  Al-Quran terdapat kalimat “kun fayakun” berkenaan dengan Kemahakuasaan Allah Swt., berikut beberapa contoh mengenai hal tersebut:
(1)    Allah Swt. berfirman “Kun fayakun” (Jadilah maka terjadilah) mengenai sesuatu yang dikehendaki-Nya terjadi - QS.2:29; QS.16:41; QS.36:83; QS.40:69);  
(2)    Allah Swt. berfirman “Kun fayakun” mengenai penciptaan seluruh langit dan bumi - QS.2:118; QS.6:74);
(3)   Allah Swt. berfirman “Kun fayakun” mengenai kehamilan Siti Maryam - QS.3:48);
(4)   Allah Swt. berfirman “Kun fayakun” mengenai misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. seperti misal Nabi Adam  a.s. - QS.3-60);
(5)   Allah Swt. berfirman “Kun” (jadilah) kepada Nabi Musa a.s. dan Nabi Besar Muhammad saw. agar menjadi orang yang bersyukur - QS.7:145; QS.39:67);
(6)   Allah Swt. berfirman “Kun” (jadilah)   mengenai Nabi Besar Muhammad saw. agar menjadi orang-orang yang sujud - QS.15:99);  
(7)   Allah Swt. berfirman “Kun fayakun” mengenai ketidaklayakan bagi Allah Swt. mengambil seorang anak bagi-Nya - QS.19:36);
(8)   Allah Swt. berfirman “Kuuniy” (jadilah) ketika memerintahkan api menjadi dingin dan  keselamatan  ketika  Nabi Ibrahim a.s. dilemparkan ke dalamnya (QS.21:70)
       Dari semua ayat berkenaan dengan penggunaan  kata “Kun” (Jadilah)  tidak ada satu pun yang seperti apa yang difahami, dipercayai oleh umumnya umat Islam  sama seperti   trick-trick  (tipu-daya) pesulap yang – misalnya  -- “menciptakan” burung merpati dari saputangan atau benda lainnya, atau “menciptakan bunga” dari golongan kertas Koran sambil mengucapkan: “Adakadabra!
        Allah Swt. tidak pernah melakukan perbuatan sia-sia dan dusta seperti  para pesulap atau tukang-tukang sihir yang  dengan “kekuatan pikirnya (daya khayalnya) mahir menampakkan berbagai hal-hal yang bersifat  “khayal”, seperti yang dilakukan oleh tukang-tukang sihir Fir’aun ketika berhadap dengan Nabi Musa a.s. (QS.7:117-121); QS.20:66-71; QS.26:44-49).
      Demikian juga Allah Swt. tidak pernah  memberi kemampuan  kepada Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. untuk melakukan hal-hal yang disalah-tafsirkan mengenai firman Allah Swt. dalam QS.3:50; QS.5:111,  bahwa “dengan izin Allah Swt.,  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. benar-benar dapat menciptakan burung dari tanah liat, dapat menghidupkan orang yang telah mati dan lain-lain,  padahal semua perbuatan tersebut merupakan hak Allah Swt. sebagai Al-Khaaliq (Maha Pencipta - QS.2:29; QS.10:57; QS.40:69);  firman-Nya:
 قُلۡ مَنۡ رَّبُّ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ قُلِ اللّٰہُ ؕ قُلۡ  اَفَاتَّخَذۡتُمۡ  مِّنۡ  دُوۡنِہٖۤ  اَوۡلِیَآءَ  لَا یَمۡلِکُوۡنَ لِاَنۡفُسِہِمۡ نَفۡعًا وَّ لَا ضَرًّا ؕ قُلۡ ہَلۡ یَسۡتَوِی الۡاَعۡمٰی وَ الۡبَصِیۡرُ ۬ۙ اَمۡ ہَلۡ تَسۡتَوِی الظُّلُمٰتُ وَ النُّوۡرُ ۬ۚ اَمۡ  جَعَلُوۡا لِلّٰہِ  شُرَکَآءَ  خَلَقُوۡا کَخَلۡقِہٖ فَتَشَابَہَ الۡخَلۡقُ عَلَیۡہِمۡ ؕ قُلِ اللّٰہُ خَالِقُ کُلِّ شَیۡءٍ وَّ ہُوَ الۡوَاحِدُ الۡقَہَّارُ ﴿۱۷
Katakanlah: “Siapakah Tuhan seluruh langit dan bumi?” Katakanlah: “Allah!” Katakanlah: “Apakah kamu mengambil selain Dia pelindung-pelindung  yang tidak me-miliki  kekuasaan untuk kemanfaatan ataupun kemudaratan, meskipun bagi dirinya sendiri?” Katakanlah: ”Apakah sama keadaan orang-orang buta dan   orang-orang yang melihat? Atau samakah gelap dan terang? Atau  apakah mereka itu menjadikan bagi Allah sekutu yang telah menciptakan seperti ciptaan-Nya  sehingga kedua jenis ciptaan itu nampak serupa saja bagi mereka?” Katakanlah: “Hanya Allah yang telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia-lah Yang Maha Esa, Maha Perkasa.” (Al-Ra’d [13]:17).

(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid

Tidak ada komentar:

Posting Komentar