بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
HUBUNGAN NABI YUSUF A.S.
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
Bagian XXXIV
Tentang
Kelemahan Iman Saudara-saudara Tua
Nabi Yusuf a.s.
Nabi Yusuf a.s.
Oleh
Ki Langlang
Buana Kusuma
قَالُوۡا فَمَا جَزَآؤُہٗۤ اِنۡ کُنۡتُمۡ کٰذِبِیۡنَ ﴿۷۴﴾ قَالُوۡا جَزَآؤُہٗ مَنۡ وُّجِدَ فِیۡ رَحۡلِہٖ فَہُوَ جَزَآؤُہٗ ؕ
کَذٰلِکَ نَجۡزِی
الظّٰلِمِیۡنَ ﴿۷۵﴾
Mereka berkata: “Maka apakah balasannya jika kamu ternyata pendusta?”
Mereka menjawab: “Hukumannya adalah orang yang di dalam kantung pelananya
terdapat piala ta-karan itu, maka dialah yang memikul hukumannya,
demikianlah kami menghukum orang-orang
yang zalim.” (Yusuf [12]:75-76).
Dalam bab
sebelumnya telah dijelaskan mengenai pertemuan NabiYusuf a.s. dan adiknya,
Benyamin, serta bagaimana Allah Swt. “merencanakan” untuk Nabi Yusuf a.s. agar
dapat bersama dengan Benyamin lebih lama lagi. Keputusan Allah Swt. tersebut
dimulai dengan – baik disengaja atau pun tanpa sengaja – Nabi Yusuf a.s.
meletakkan siqayah (piala) milik beliau – ke dalam kantung perbekalan
Benyamin dengan tujuan agar dapat dimanfaatkan
untuk minum di perjalanan, tetapi di lain pihak pegawai istana
menyatakan bahwa mereka kehilangan sebuah
suwa’a (piala takaran milik raja), firman-Nya:
قَالُوۡا وَ اَقۡبَلُوۡا عَلَیۡہِمۡ مَّا ذَا
تَفۡقِدُوۡنَ ﴿۷۲﴾ قَالُوۡا نَفۡقِدُ
صُوَاعَ الۡمَلِکِ وَ لِمَنۡ جَآءَ بِہٖ حِمۡلُ
بَعِیۡرٍ وَّ اَنَا بِہٖ زَعِیۡمٌ ﴿۷۳﴾ قَالُوۡا تَاللّٰہِ لَقَدۡ عَلِمۡتُمۡ مَّا جِئۡنَا
لِنُفۡسِدَ فِی الۡاَرۡضِ وَ مَا کُنَّا سٰرِقِیۡنَ ﴿۷۴﴾
Mereka sambil berbalik kepada mereka itu berkata: “Kehilangan
barang apakah kamu?” Mereka menjawab: “Kami kehilangan piala takaran
raja, dan barangsiapa menemukannya kembali akan mendapat gandum sepemuatan
unta, dan aku menjaminnya.” Mereka menjawab: “Demi Allah, sungguh kamu
benar-benar mengetahui kami tidak datang untuk berbuat kerusakan di negeri
ini, dan kami sama sekali bukanlah pencuri.” (Yusuf [12]:72-74).
Barang yang Hilang Berbeda Jenisnya
Menanggapi
jawaban saudara-saudara Nabi Yusuf a.s.
tersebut petugas yang mengumumkan kehilangan piala takaran raja (suwa’a)
balik bertanya kepada mereka,
firman-Nya:
قَالُوۡا فَمَا جَزَآؤُہٗۤ اِنۡ کُنۡتُمۡ کٰذِبِیۡنَ ﴿۷۴﴾ قَالُوۡا جَزَآؤُہٗ مَنۡ وُّجِدَ فِیۡ رَحۡلِہٖ فَہُوَ جَزَآؤُہٗ ؕ
کَذٰلِکَ نَجۡزِی
الظّٰلِمِیۡنَ ﴿۷۵﴾
Mereka berkata: “Maka apakah balasannya jika kamu ternyata
pendusta?” Mereka menjawab: “Hukumannya adalah orang yang
di dalam kantung pelananya terdapat piala takaran itu, maka dialah
yang memikul hukumannya, demikianlah kami menghukum orang-orang yang zalim.” (Yusuf
[12]:75-76).
Saudara-saudara
Nabi Yusuf a.s. sendiri,
karena sangat gelisah dan gugup, mengusulkan agar siapa yang kedapatan dalam
karungnya takaran itu, supaya dia ditahan untuk mempertanggungjawabkan
perbuatannya. Dengan demikian Nabi Yusuf a.s. dapat menahan saudaranya tanpa menuduhnya
telah mencuri. Seba barang yang diumumkan hilang adalah “suwa’a” (piala
takaran milik kerajaan), sedangkan “barang” yang terdapat dalam karung Benyamin
adalah “siqayah” kepunyaan Nabi Yusuf a.s..
Jadi, betapa halus – tetapi sangat kokoh – “rencana” atau “makar tandingan”
Allah Swt. untuk membuat saudara-saudara
Nabi Yusuf a.s. kembali terpuruk ke dalam pengkhianatan atas janji
mereka kepada ayah mereka, Nabi Ya’qub a.s. (QS.12:67), namun demikian Nabi Ya’qub
a.s. pun sebelumnya telah “memprediksi” akan terjadinya hal tersebut, firman-Nya:
وَ
قَالَ یٰبَنِیَّ لَا تَدۡخُلُوۡا مِنۡۢ بَابٍ وَّاحِدٍ وَّ ادۡخُلُوۡا مِنۡ اَبۡوَابٍ مُّتَفَرِّقَۃٍ ؕ وَ مَاۤ اُغۡنِیۡ عَنۡکُمۡ مِّنَ اللّٰہِ مِنۡ شَیۡءٍ ؕ اِنِ الۡحُکۡمُ اِلَّا لِلّٰہِ ؕ عَلَیۡہِ تَوَکَّلۡتُ ۚ وَ عَلَیۡہِ فَلۡیَتَوَکَّلِ الۡمُتَوَکِّلُوۡنَ ﴿۶۸﴾
Dan ia (Ya’qub) berkata: “Hai anak-anakku, janganlah kamu masuk
dari satu pintu, tetapi masuklah dari pintu-pintu yang berlainan,
dan aku tidak berguna sedikit pun bagimu terhadap rencana Allah. Keputusan
itu hanya pada Allah, kepada-Nya-lah aku bertawakal
dan kepada-Nya-lah hendaknya bertawakkal orang-orang yang tawakkal.” (Yusuf
[12]:68).
Sepenuhnya Kehendak Allah
Swt.
Petugas
kerajaan segera melakukan pemeriksaan tempat bahan makanan saudara-saudara Nabi
Yusuf a.s., namun karena mereka mengetahui adanya perhatian khusus Nabi Yusuf
a.s. kepada Benyamin maka pemeriksaan terhadap barang-barang bawaan Benyamin
dilakukan terakhir, firman-Nya:
فَبَدَاَ بِاَوۡعِیَتِہِمۡ قَبۡلَ وِعَآءِ اَخِیۡہِ ثُمَّ اسۡتَخۡرَجَہَا مِنۡ وِّعَآءِ اَخِیۡہِ ؕ کَذٰلِکَ کِدۡنَا لِیُوۡسُفَ ؕ مَا کَانَ
لِیَاۡخُذَ اَخَاہُ فِیۡ دِیۡنِ الۡمَلِکِ اِلَّاۤ اَنۡ یَّشَآءَ اللّٰہُ ؕ نَرۡفَعُ دَرَجٰتٍ مَّنۡ نَّشَآءُ ؕ وَ فَوۡقَ کُلِّ ذِیۡ عِلۡمٍ
عَلِیۡمٌ ﴿۷۷﴾
Maka ia (petugas) mulai
menggeledah karung-karung mereka, sebelum karung saudara Yusuf,
kemudian ia mengeluarkannya
dari karung saudaranya, demikianlah Kami telah merencanakan untuk Yusuf.
Ia tidak dapat menahan
saudaranya menurut undang-undang kerajaan, kecuali kalau Allah
menghendaki. Kami meninggikan
derajat siapa yang Kami kehendaki, dan di atas setiap orang yang berilmu
ada Satu Yang Maha Tahu. (Yusuf [12]:77).
Seluruh
kejadian itu telah direncanakan oleh Allah Swt. —
sedang Nabi Yusuf a.s. sedikit pun tidak ikut campur tangan di dalamnya. Sama
sekali tidak dengan sengaja Nabi Yusuf a.s. telah memasukkan takaran
yang beliau pergunakan sebagai piala pada peristiwa itu ke dalam karung
Benyamin, dan saudara-saudaranya sendirilah yang mengajukan usul, hingga
memungkinkan Nabi Yusuf a.s. menahan
Benyamin.
Dengan demikian suatu paduan keadaan
yang diatur oleh Allah
Swt.. telah memungkinkan Nabi Yusuf a.s. memenuhi keinginan hati beliau untuk
bersama-sama Benyamin di Mesir, karena Nabi Yusuf a.s. mengetahui bahwa
Benyamin pun mendapat perlakuan yang tidak baik dari kakak-kakak beliau. Kenyataan
tersebut dapat diketahui dari firman Allah Swt. selanjutnya:
قَالُوۡۤا اِنۡ یَّسۡرِقۡ فَقَدۡ سَرَقَ
اَخٌ
لَّہٗ مِنۡ قَبۡلُ ۚ فَاَسَرَّہَا یُوۡسُفُ فِیۡ نَفۡسِہٖ وَ لَمۡ یُبۡدِہَا لَہُمۡ ۚ قَالَ اَنۡتُمۡ شَرٌّ مَّکَانًا ۚ وَ اللّٰہُ اَعۡلَمُ بِمَا تَصِفُوۡنَ ﴿۷۸﴾
Mereka berkata: “Jika ia mencuri maka saudaranya pun sebelumnya telah
mencuri.” Tetapi Yusuf telah merahasiakan dalam hatinya
dan tidak membukakannya kepada mereka, ia berkata dalam hatinya: “Kamu ada
dalam keadaan yang seburuk-buruknya, dan Allah lebih mengetahui apa yang kamu tuduhkan itu.” (Yusuf [12]:78).
Dosa
yang satu membawa kepada dosa yang lain. Saudara-saudara Nabi Yusuf a.s. mula-mula berusaha membunuhnya. Sekarang
mereka dengan tiada malu-malu cepat-cepat menuduh Nabi Yusuf a.s. pencuri. Tidak puas dengan menuduh Benyamin
sebagai pencuri, mereka sampai hati tidak mau mengakuinya sebagai
saudara mereka dengan mengatakan “ia
mempunyai ayah yang sudah tua renta.”
Kelemahan Iman Saudara-saudara Tua Nabi Yusuf a.s.
Jadi,
nampak jelas bahwa saudara-saudara seayah Nabi Yusuf a.s. sangat tidak menghormati ayah
mereka yang berkedudukan sebagai seorang rasul Allah, seperti halnya
leluhur mereka yaitu Nabi Ibrahim
a.s. dan Nabi Ishaq a.s., dan tidak mustahil bahwa sebenarnya mereka
itu tidak mempercayai hal tersebut, sebab kalau benar bahwa mereka itu
menghormati Nabi Ya’qub a.s. sebagai seorang rasul (nabi) Allah tentu
mereka tidak akan menuduh Nabi Ya’qub a.s. telah sesat (keliru) karena lebih
mencintai Nabi Yusuf a.s. dan
saudaranya daripada mencintai mereka, firman-Nya:
اِذۡ قَالُوۡا لَیُوۡسُفُ وَ اَخُوۡہُ اَحَبُّ اِلٰۤی اَبِیۡنَا مِنَّا وَ نَحۡنُ
عُصۡبَۃٌ ؕ اِنَّ اَبَانَا لَفِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنِۣ
ۚ﴿ۖ۹﴾
Ketika mereka berkata: “Sesungguhnya Yusuf dan saudaranya
lebih dicintai oleh ayah kita daripada kita, padahal kita satu
golongan yang kuat, sesungguhnya ayah kita ada dalam kesesatan
(kekeliruan) yang nyata. (Yusuf [12]:9). Lihat pula
QS.12:95-96.
Jadi, dapat pula disimpulkan bahwa permohonan
mereka agar Nabi Yusuf a.s. bersedia menukar Benyamin dengan salah seorang
dari mereka untuk menjadi tahanan
di Mesir nampaknya bukan karena mereka merasa
kasihan terhadap Benyamin, melainkan mereka ingat akan janji mereka
kepada ayah mereka sebelum berangkat
membawa serta Benyamin ke Mesir (QS.12:67), karena kalau sampai Benyamin
tidak pulang bersama mereka maka tuduhan ayah mereka sebagai orang-orang
yang mengkhianati janji terbukti benar (QS.12:64-65). Selanjutnya Allah Swt.
berfirman:
قَالُوۡا یٰۤاَیُّہَا الۡعَزِیۡزُ اِنَّ لَہٗۤ اَبًا شَیۡخًا کَبِیۡرًا فَخُذۡ اَحَدَنَا مَکَانَہٗ ۚ اِنَّا نَرٰىکَ مِنَ الۡمُحۡسِنِیۡنَ ﴿۷۹﴾
Mereka berkata: “Wahai tuan besar, sesungguhnya ia
mempunyai ayah yang sudah tua renta, karena itu ambillah salah seorang
dari antara kami sebagai gantinya, sesungguhnya kami melihat engkau
termasuk orang-orang yang berbuat ihsan.” (Yusuf [12]:79).
Perhatikan, betapa
mereka sendiri telah menyebut Nabi Yusuf a.s. sebagai al-‘aziiz (yang mulia atau tuan besar),
padahal sebelumnya mereka telah menyatakan bahwa Nabi Yusuf a.s. pun adalah
juga “telah mencuri” seperti adiknya, Benyamin. Jadi, betapa Allah Swt. telah
membuat mereka sendiri menghinakan diri mereka sendiri di hadapan Nabi Yusuf a.s. dengan
cara mengemis-ngemis mohon belas kasihan beliau. Selanjutnya Allah Swt.
berfirman:
قَالَ مَعَاذَ اللّٰہِ اَنۡ نَّاۡخُذَ اِلَّا مَنۡ وَّجَدۡنَا مَتَاعَنَا
عِنۡدَہٗۤ ۙ اِنَّاۤ اِذًا لَّظٰلِمُوۡنَ ﴿٪۸۰﴾
Ia, Yusuf, menjawab: “Kami berlindung kepada Allah dari menahan orang
lain kecuali siapa yang padanya telah kami mendapatkan barang kami,
sesungguhnya jika kami berbuat demikian, sungguh kami orang zalim”
(Yusuf [12]:80).
(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid
Tidak ada komentar:
Posting Komentar