Rabu, 01 Februari 2012

Kelemahan Iman Saudara-saudara Tua Nabi Yusuf a.s.



بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ

 
HUBUNGAN  NABI YUSUF A.S. 
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
  
Bagian   XXXIV
Tentang
 

       Kelemahan Iman Saudara-saudara Tua
Nabi Yusuf a.s. 

  Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma  

قَالُوۡا  فَمَا  جَزَآؤُہٗۤ   اِنۡ  کُنۡتُمۡ کٰذِبِیۡنَ ﴿۷۴  قَالُوۡا جَزَآؤُہٗ  مَنۡ وُّجِدَ فِیۡ  رَحۡلِہٖ  فَہُوَ جَزَآؤُہٗ ؕ  کَذٰلِکَ  نَجۡزِی  الظّٰلِمِیۡنَ ﴿۷۵
Mereka berkata: “Maka apakah balasannya jika kamu ternyata pendusta?” Mereka menjawab: “Hukumannya adalah orang yang di dalam kantung pelananya terdapat piala ta-karan itu, maka dialah yang memikul hukumannya, demikianlah kami menghukum  orang-orang yang zalim.” (Yusuf [12]:75-76).

Dalam bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai pertemuan NabiYusuf a.s. dan adiknya, Benyamin, serta bagaimana Allah Swt. “merencanakan” untuk Nabi Yusuf a.s. agar dapat bersama dengan Benyamin lebih lama lagi. Keputusan Allah Swt. tersebut dimulai dengan – baik disengaja atau pun tanpa sengaja – Nabi Yusuf a.s. meletakkan siqayah (piala) milik beliau – ke dalam kantung perbekalan Benyamin dengan tujuan agar dapat dimanfaatkan  untuk minum di perjalanan, tetapi di lain pihak pegawai istana menyatakan bahwa mereka kehilangan sebuah  suwa’a (piala takaran milik raja), firman-Nya:
قَالُوۡا وَ اَقۡبَلُوۡا عَلَیۡہِمۡ  مَّا ذَا  تَفۡقِدُوۡنَ ﴿۷۲   قَالُوۡا نَفۡقِدُ صُوَاعَ  الۡمَلِکِ  وَ لِمَنۡ  جَآءَ بِہٖ  حِمۡلُ  بَعِیۡرٍ  وَّ اَنَا  بِہٖ  زَعِیۡمٌ ﴿۷۳   قَالُوۡا تَاللّٰہِ  لَقَدۡ عَلِمۡتُمۡ مَّا جِئۡنَا لِنُفۡسِدَ فِی الۡاَرۡضِ وَ مَا کُنَّا سٰرِقِیۡنَ ﴿۷۴
Mereka sambil berbalik kepada mereka itu berkata: “Kehilangan barang apakah kamu?” Mereka menjawab: “Kami kehilangan piala takaran raja, dan barangsiapa menemukannya kembali akan mendapat gandum sepemuatan unta, dan aku menjaminnya.” Mereka menjawab: “Demi Allah, sungguh kamu benar-benar mengetahui kami tidak datang untuk berbuat kerusakan di negeri ini, dan kami sama sekali bukanlah pencuri.” (Yusuf [12]:72-74).

Barang yang Hilang Berbeda Jenisnya

       Menanggapi jawaban  saudara-saudara Nabi Yusuf a.s. tersebut petugas yang mengumumkan kehilangan piala takaran raja (suwa’a) balik bertanya kepada mereka,  firman-Nya:
قَالُوۡا  فَمَا  جَزَآؤُہٗۤ   اِنۡ  کُنۡتُمۡ کٰذِبِیۡنَ ﴿۷۴  قَالُوۡا جَزَآؤُہٗ  مَنۡ وُّجِدَ فِیۡ  رَحۡلِہٖ  فَہُوَ جَزَآؤُہٗ ؕ  کَذٰلِکَ  نَجۡزِی  الظّٰلِمِیۡنَ ﴿۷۵
Mereka berkata: “Maka apakah balasannya jika kamu ternyata pendusta?” Mereka menjawab: “Hukumannya adalah orang yang di dalam kantung pelananya terdapat piala takaran itu, maka dialah yang memikul hukumannya, demikianlah kami menghukum  orang-orang yang zalim.” (Yusuf [12]:75-76).
      Saudara-saudara Nabi Yusuf a.s.  sendiri, karena sangat gelisah dan gugup, mengusulkan agar siapa yang kedapatan dalam karungnya takaran itu, supaya dia ditahan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Dengan demikian Nabi Yusuf a.s.  dapat menahan saudaranya tanpa menuduhnya telah mencuri. Seba barang yang diumumkan hilang adalah “suwa’a” (piala takaran milik kerajaan), sedangkan “barang” yang terdapat dalam karung Benyamin adalah “siqayah” kepunyaan Nabi Yusuf a.s..
      Jadi, betapa  halus – tetapi sangat  kokoh – “rencana” atau “makar tandingan” Allah Swt. untuk  membuat saudara-saudara Nabi Yusuf a.s. kembali terpuruk ke dalam  pengkhianatan atas  janji mereka kepada ayah mereka, Nabi Ya’qub a.s. (QS.12:67), namun demikian Nabi Ya’qub a.s. pun  sebelumnya telah “memprediksi” akan terjadinya hal tersebut, firman-Nya:
وَ قَالَ یٰبَنِیَّ  لَا تَدۡخُلُوۡا مِنۡۢ بَابٍ وَّاحِدٍ  وَّ ادۡخُلُوۡا  مِنۡ  اَبۡوَابٍ  مُّتَفَرِّقَۃٍ ؕ وَ مَاۤ  اُغۡنِیۡ عَنۡکُمۡ  مِّنَ اللّٰہِ مِنۡ شَیۡءٍ ؕ اِنِ الۡحُکۡمُ  اِلَّا لِلّٰہِ ؕ عَلَیۡہِ تَوَکَّلۡتُ ۚ وَ عَلَیۡہِ فَلۡیَتَوَکَّلِ الۡمُتَوَکِّلُوۡنَ ﴿۶۸
Dan ia (Ya’qub) berkata: “Hai anak-anakku, janganlah kamu masuk dari satu pintu, tetapi masuklah dari pintu-pintu yang berlainan, dan aku tidak berguna sedikit pun bagimu terhadap rencana Allah. Keputusan itu hanya pada Allah, kepada-Nya-lah aku bertawakal dan kepada-Nya-lah hendaknya bertawakkal  orang-orang yang tawakkal.” (Yusuf [12]:68).

Sepenuhnya  Kehendak Allah Swt.

        Petugas kerajaan segera melakukan pemeriksaan tempat bahan makanan saudara-saudara Nabi Yusuf a.s., namun karena mereka mengetahui adanya perhatian khusus Nabi Yusuf a.s. kepada Benyamin maka pemeriksaan terhadap barang-barang bawaan Benyamin dilakukan terakhir, firman-Nya:
فَبَدَاَ بِاَوۡعِیَتِہِمۡ قَبۡلَ وِعَآءِ اَخِیۡہِ ثُمَّ اسۡتَخۡرَجَہَا مِنۡ وِّعَآءِ اَخِیۡہِ ؕ کَذٰلِکَ  کِدۡنَا لِیُوۡسُفَ ؕ مَا  کَانَ  لِیَاۡخُذَ اَخَاہُ فِیۡ  دِیۡنِ الۡمَلِکِ  اِلَّاۤ  اَنۡ  یَّشَآءَ  اللّٰہُ ؕ نَرۡفَعُ دَرَجٰتٍ مَّنۡ نَّشَآءُ ؕ وَ فَوۡقَ کُلِّ ذِیۡ  عِلۡمٍ  عَلِیۡمٌ ﴿۷۷
Maka ia (petugas) mulai  menggeledah karung-karung mereka, sebelum karung saudara Yusuf,  kemudian ia mengeluarkannya dari karung saudaranya, demikianlah Kami telah merencanakan untuk Yusuf.   Ia tidak dapat menahan saudaranya menurut undang-undang kerajaan, kecuali kalau Allah menghendaki.  Kami meninggikan derajat siapa yang Kami kehendaki, dan di atas setiap orang yang berilmu ada Satu Yang Maha Tahu. (Yusuf [12]:77).
       Seluruh kejadian itu telah direncanakan oleh Allah Swt.  — sedang Nabi Yusuf a.s. sedikit pun tidak ikut campur tangan di dalamnya. Sama sekali tidak dengan sengaja Nabi Yusuf a.s. telah memasukkan takaran yang beliau pergunakan sebagai piala pada peristiwa itu ke dalam karung Benyamin, dan saudara-saudaranya sendirilah yang mengajukan usul, hingga memungkinkan Nabi Yusuf a.s.  menahan Benyamin.
       Dengan demikian suatu paduan keadaan yang diatur oleh Allah Swt.. telah memungkinkan Nabi Yusuf a.s.   memenuhi keinginan hati beliau untuk bersama-sama Benyamin di Mesir, karena Nabi Yusuf a.s. mengetahui bahwa Benyamin pun mendapat perlakuan yang tidak baik dari kakak-kakak beliau. Kenyataan tersebut dapat diketahui dari firman Allah Swt. selanjutnya:
 قَالُوۡۤا اِنۡ یَّسۡرِقۡ فَقَدۡ سَرَقَ اَخٌ لَّہٗ  مِنۡ قَبۡلُ ۚ فَاَسَرَّہَا یُوۡسُفُ فِیۡ نَفۡسِہٖ وَ لَمۡ یُبۡدِہَا لَہُمۡ ۚ قَالَ اَنۡتُمۡ شَرٌّ مَّکَانًا ۚ وَ اللّٰہُ  اَعۡلَمُ  بِمَا تَصِفُوۡنَ ﴿۷۸
Mereka berkata: “Jika ia mencuri  maka saudaranya pun sebelumnya telah mencuri.” Tetapi Yusuf telah merahasiakan dalam hatinya dan tidak membukakannya kepada mereka, ia  berkata dalam hatinya:Kamu ada dalam keadaan yang seburuk-buruknya, dan Allah lebih mengetahui apa yang kamu tuduhkan itu.”  (Yusuf [12]:78).
     Dosa yang satu membawa kepada dosa yang lain. Saudara-saudara Nabi Yusuf a.s. mula-mula berusaha membunuhnya. Sekarang mereka dengan tiada malu-malu cepat-cepat menuduh Nabi Yusuf a.s.  pencuri. Tidak puas dengan menuduh Benyamin sebagai pencuri, mereka sampai hati tidak mau mengakuinya sebagai saudara mereka dengan mengatakan  “ia mempunyai ayah yang sudah tua renta.”

Kelemahan Iman Saudara-saudara Tua Nabi Yusuf a.s.

     Jadi, nampak jelas bahwa saudara-saudara seayah  Nabi Yusuf a.s. sangat tidak menghormati ayah mereka yang berkedudukan sebagai seorang rasul Allah, seperti halnya leluhur mereka  yaitu Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Ishaq a.s., dan tidak mustahil bahwa sebenarnya mereka itu tidak mempercayai hal tersebut, sebab kalau benar bahwa mereka itu menghormati Nabi Ya’qub a.s. sebagai seorang rasul (nabi) Allah tentu mereka tidak akan menuduh Nabi Ya’qub a.s. telah  sesat (keliru) karena lebih mencintai  Nabi Yusuf a.s. dan saudaranya daripada mencintai mereka, firman-Nya:
اِذۡ قَالُوۡا لَیُوۡسُفُ وَ اَخُوۡہُ  اَحَبُّ اِلٰۤی اَبِیۡنَا مِنَّا وَ نَحۡنُ عُصۡبَۃٌ ؕ اِنَّ اَبَانَا لَفِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنِۣ ۚ﴿ۖ۹
Ketika mereka berkata: “Sesungguhnya Yusuf dan saudaranya lebih dicintai oleh ayah kita daripada kita, padahal kita satu golongan yang kuat, sesungguhnya ayah kita ada dalam kesesatan (kekeliruan) yang nyata. (Yusuf [12]:9). Lihat pula QS.12:95-96.
        Jadi, dapat pula disimpulkan bahwa permohonan mereka agar  Nabi Yusuf a.s.  bersedia menukar Benyamin dengan salah seorang dari mereka untuk  menjadi tahanan di Mesir nampaknya  bukan karena mereka merasa kasihan terhadap Benyamin, melainkan mereka ingat akan janji mereka kepada ayah mereka sebelum berangkat  membawa serta Benyamin ke Mesir (QS.12:67), karena kalau sampai Benyamin tidak pulang bersama mereka maka tuduhan ayah mereka sebagai orang-orang yang mengkhianati janji terbukti  benar (QS.12:64-65). Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
قَالُوۡا یٰۤاَیُّہَا الۡعَزِیۡزُ اِنَّ لَہٗۤ  اَبًا شَیۡخًا کَبِیۡرًا فَخُذۡ اَحَدَنَا مَکَانَہٗ ۚ اِنَّا نَرٰىکَ مِنَ  الۡمُحۡسِنِیۡنَ ﴿۷۹
Mereka berkata: “Wahai tuan besar, sesungguhnya ia mempunyai ayah yang sudah tua renta, karena itu ambillah salah seorang dari antara kami sebagai gantinya, sesungguhnya kami melihat engkau termasuk orang-orang yang berbuat ihsan.” (Yusuf [12]:79).
       Perhatikan, betapa mereka sendiri telah menyebut Nabi Yusuf a.s. sebagai  al-‘aziiz (yang mulia atau tuan besar), padahal sebelumnya mereka telah menyatakan bahwa Nabi Yusuf a.s. pun adalah juga “telah mencuri” seperti adiknya, Benyamin. Jadi, betapa Allah Swt. telah membuat mereka sendiri menghinakan diri  mereka sendiri di hadapan Nabi Yusuf a.s. dengan cara mengemis-ngemis mohon belas kasihan beliau. Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
قَالَ مَعَاذَ اللّٰہِ اَنۡ نَّاۡخُذَ اِلَّا مَنۡ وَّجَدۡنَا مَتَاعَنَا عِنۡدَہٗۤ ۙ اِنَّاۤ اِذًا لَّظٰلِمُوۡنَ ﴿٪۸۰
Ia, Yusuf, menjawab: “Kami berlindung kepada Allah dari menahan orang lain kecuali siapa yang padanya telah kami mendapatkan barang kami, sesungguhnya jika kami berbuat demikian, sungguh kami orang zalim” (Yusuf [12]:80).

(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid

Tidak ada komentar:

Posting Komentar