Rabu, 29 Februari 2012

Pujian Khusus Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhammad Saw.

بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ

 
HUBUNGAN  NABI YUSUF A.S. 
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
  
Bagian   XLXXII
 
Tentang

        Pujian Khusus Allah Swt. 
Kepada Nabi Besar Muhammad Saw.
     
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
 
ذٰلِکَ  مِنۡ  اَنۡۢبَآءِ الۡغَیۡبِ نُوۡحِیۡہِ  اِلَیۡکَ ۚ وَ مَا کُنۡتَ لَدَیۡہِمۡ  اِذۡ  اَجۡمَعُوۡۤا  اَمۡرَہُمۡ  وَ ہُمۡ  یَمۡکُرُوۡنَ ﴿۱۰۳ وَ مَاۤ  اَکۡثَرُ النَّاسِ وَ لَوۡ حَرَصۡتَ بِمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿۱۰۴ وَ مَا تَسۡـَٔلُہُمۡ عَلَیۡہِ مِنۡ اَجۡرٍ ؕ اِنۡ ہُوَ اِلَّا ذِکۡرٌ  لِّلۡعٰلَمِیۡنَ ﴿۱۰۵﴾٪
Itulah dari kabar-kabar gaib yang telah Kami wahyukan kepada engkau, dan engkau tidak beserta mereka ketika mereka telah bersepakat mengenai urusan  mereka dan mereka akan melakukan makar. Dan kebanyakan manusia  sekali-kali tidak akan beriman, walaupun engkau sangat menginginkan.  Dan engkau  sekali-kali tidak minta ganjaran apa pun dari mereka,  itu tidak  lain melainkan   kehormatan untuk seluruh umat manusia. (Yusuf [12]:103-105).

Kembali kepada pokok pembahasan  firman Allah Swt. di awal Bab ini, bahwa jelaslah bahwa kisah Nabi Yusuf a.s. dalam Surah Yusuf   merupakan kabar gaib (nubuatan) yang akan terjadi  dalam kehidupan Nabi Besar Muhammad saw., setelah beliau saw.  diutus oleh Allah Swt. sebagai Rasul Allah untuk seluruh umat manusia (QS.7:159; QS.21:108; QS.25:2; QS.34:29), walau pun beliau saw. berasal dari kalangan bangsa Arab.
     Ungkapan kalimat “Dan kebanyakan manusia sama sekali tidak akan beriman, walaupun engkau sangat menginginkan”, mengisyaratkan kepada kepedulian luar biasa Nabi Besar Muhammad  saw. terhadap  tanggungjawab beliau saw. dalam mengemban amanat sangat berat yang harus disampaikan kepada seluruh umat manusia  (QS.33:73-74; QS.7:143-144),   walau pun  Allah Swt. telah berfirman dalam QS.6:112-114 -- bahwa sekali pun berbagai dalil dan tanda-tanda nyata yang mendukung kebenaran pendakwaan beliau saw. sebagai rasul Allah dihadapkan kepada mereka, tetapi   mereka tetap tidak akan beriman.

Pujian Khusus Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhammad Saw.

      Namun demikian Nabi Besar Muhammad saw.  tetap berusaha dengan segala daya-upaya yang mungkin untuk menyadarkan mereka dari syirik dan  kesesatan,  sehingga Allah Swt.   karena merasa kasihan kepada beliau saw. telah   memberi nasihat -- yang sekali gus merupakan pujian khusus -- yang bagi orang-orang yang tidak mengerti   telah dianggap sebagai   teguran keras Allah Swt. kepada beliau saw., padahal  bukan -- firman-Nya:
وَ اِنۡ کَانَ  کَبُرَ عَلَیۡکَ اِعۡرَاضُہُمۡ فَاِنِ اسۡتَطَعۡتَ اَنۡ تَبۡتَغِیَ نَفَقًا فِی الۡاَرۡضِ اَوۡ  سُلَّمًا فِی السَّمَآءِ  فَتَاۡتِیَہُمۡ  بِاٰیَۃٍ ؕ وَ لَوۡ شَآءَ اللّٰہُ  لَجَمَعَہُمۡ عَلَی الۡہُدٰی فَلَا تَکُوۡنَنَّ مِنَ  الۡجٰہِلِیۡنَ ﴿۳۶ اِنَّمَا یَسۡتَجِیۡبُ الَّذِیۡنَ یَسۡمَعُوۡنَ  ؕؔ وَ الۡمَوۡتٰی یَبۡعَثُہُمُ اللّٰہُ  ثُمَّ  اِلَیۡہِ یُرۡجَعُوۡنَ ﴿۷
Dan jika berpalingnya mereka terasa berat bagi engkau, maka kalau engkau sanggup mencari lubang ke dalam bumi atau tangga ke langit, lalu engkau mendatangkan kepada mereka suatu Tanda. Dan  jika Allah menghendaki niscaya mereka akan dihimpun-Nya kepada petunjuk, maka janganlah sekali-kali engkau menjadi orang-orang yang jahil. Sesungguhnya orang-orang yang menerima  kebenaran hanyalah orang-orang yang mendengar, sedangkan orang-orang mati  Allah akan membangkitkan mereka, kemudian kepada-Nya mereka akan dikembali-kan. (Al-An’aam [6]:36-37).
      Kata-kata  mencari lubang tembusan ke dalam bumi  berarti “menggunakan daya-upaya dunawi,” yakni  menablighkan dan menyebarkan kebenaran, sedangkan kata-kata tangga ke langit, maknanya “menggunakan daya-upaya ruhani,” yakni memanjatkan doa ke hadirat Allah Swt.  untuk memohon hidayah (petunjuk) bagi orang-orang kafir dan sebagainya. Shalat sungguh merupakan tangga yang dengan itu orang  secara ruhani  dapat naik ke langit.  Nabi Besar Muhammad saw.  diberi tahu supaya menggunakan kedua upaya ini.
       Kata jahil seperti dalam QS.2:274 artinya  “seseorang yang tidak tahu-menahu” atau “tidak mengenal.”  Nabi Besar Muhammad saw. dianjurkan agar jangan sampai tidak mengenal hukum Tuhan dalam perkara ini. Ayat itu pun menyingkapkan keprihatinan dan perhatian besar beliau saw.  untuk kesejahteraan ruhani kaum beliau. Beliau saw. bersedia untuk sedapat mungkin membawakan kepada mereka Tanda, sekalipun beliau harus “mencari lubang tembusan ke dalam bumi atau tangga ke langit.” Yang pasti beliau saw., na'udzubillaahi min dzaalik -- bukan seorang yang "jahil" walau pun Allah Swt. telah menggunakan kata tersebut.
     “Pujian khusus”  seperti itu  yang menggambarkan kepedulian luar biasa Nabi Besar Muhammad saw. --  yang  tidak mudah dimengerti oleh kebanyakan orang-orang yang tidak mengenal hikmah-hikmah ayat-ayat Al-Quran  --  banyak terdapat dalam Al-Quran, berikut contoh lainnya lagi:
لَعَلَّکَ بَاخِعٌ نَّفۡسَکَ اَلَّا یَکُوۡنُوۡا مُؤۡمِنِیۡنَ ﴿۴   اِنۡ نَّشَاۡ نُنَزِّلۡ عَلَیۡہِمۡ مِّنَ السَّمَآءِ  اٰیَۃً فَظَلَّتۡ اَعۡنَاقُہُمۡ  لَہَا خٰضِعِیۡنَ ﴿۵   وَ مَا یَاۡتِیۡہِمۡ مِّنۡ ذِکۡرٍ مِّنَ الرَّحۡمٰنِ مُحۡدَثٍ  اِلَّا  کَانُوۡا عَنۡہُ  مُعۡرِضِیۡنَ  ﴿۶  فَقَدۡ کَذَّبُوۡا  فَسَیَاۡتِیۡہِمۡ  اَنۡۢبٰٓؤُا مَا کَانُوۡا  بِہٖ  یَسۡتَہۡزِءُوۡنَ ﴿۷
Boleh jadi engkau akan membinasakan diri sendiri  karena mereka tidak mau beriman. Jika Kami menghendaki, Kami dapat menurunkan kepada mereka suatu Tanda dari langit  sehingga leher-leher mereka akan tertunduk kepadanya.    Dan sekali-kali tidak datang kepada mereka peringatan yang baru  dari Tuhan Yang Maha Pemurah melainkan mereka selalu berpaling darinya.   Maka  sungguh  mereka  telah mendustakan, tetapi segera datang kepada mereka kabar-kabar mengenai apa yang  mereka perolok-olokkan. (Al-Syu’araa [26]:4-7).
       Kesedihan Nabi Besar Muhammad saw. tidak akan sia-sia. Jika kaumnya tidak berhenti menentang beliau saw., mereka akan didatangi oleh Tanda hukuman (Tanda azab) yang akan merendahkan dan menghinakan pemimpin-pemimpin mereka, ‘anaq berarti pemimpin-pemimpin (Lexicon Lane). Itulah makna kalimat “Kami dapat menurunkan kepada mereka suatu Tanda dari langit  sehingga leher-leher mereka akan tertunduk kepadanya. “   
       Kalimat   “peringatan yang baru” berarti “dalam bentuk yang baru”, atau “dengan  rincian yang baru”. Pada hakikatnya semua syariat serupa dalam ajaran-ajaran dasar dan pokoknya, hanya dalam perkara yang kecil-kecil saja ada perbedaan. Atau suatu syariat diwahyukan dalam bentuk yang telah diubah dan diperbaiki (disempurnakan) agar supaya bisa cocok dengan cita-cita, kepentingan-kepentingan dan keperluan-keperluan masa tertentu ketika syariat itu diturunkan. Beberapa rasul Allah  datang dengan suatu syariat yang baru, sedang yang lainnya hanya mengkhidmati syariat yang sudah ada.

Al-Quran Puncak Penyempurnaan Hukum-hukum Syariat

       Puncak dari proses penyempurnaan hukum-hukum syariat tersebut adalah Al-Quran   yang diwahyukan kepada Nabi Besar Muhammad saw. , firman-Nya:  
مَا نَنۡسَخۡ مِنۡ اٰیَۃٍ اَوۡ نُنۡسِہَا نَاۡتِ بِخَیۡرٍ مِّنۡہَاۤ  اَوۡ مِثۡلِہَا ؕ اَلَمۡ تَعۡلَمۡ اَنَّ اللّٰہَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ  قَدِیۡرٌ ﴿۲۰۷
Ayat mana pun yang Kami mansukhkan . yakni batalkan atau Kami biarkan terlupa, maka Kami mendatangkan yang lebih baik darinya atau yang semisalnya. Apakah kamu tidak  mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala se-suatu? (Al-Baqarah [107).
      Ayah berarti: pesan, tanda, perintah atau ayat Al-Quran (Lexicon Lane).  Ada kekeliruan dalam mengambil kesimpulan dari ayat ini bahwa beberapa ayat Al-Quran telah dimansukhkan (dibatalkan). Kesimpulan itu jelas salah dan tidak beralasan. Tidak ada sesuatu dalam ayat ini yang menunjukkan bahwa kata āyah itu maksudnya ayat-ayat Al-Quran,  melainkan  hukum-hukum syariat yang telah diwahyukan sebelum Al-Quran, termasuk Taurat dan Injil.
       Dalam ayat sebelum dan sesudahnya telah disinggung mengenai Ahlul Kitab dan kedengkian  mereka terhadap wahyu baru  (Al-Quran), yang menunjukkan bahwa āyah yang disebut dalam ayat ini sebagai mansukh (batal)  menunjuk kepada wahyu-wahyu terdahulu. Dijelaskan bahwa Kitab Suci terdahulu mengandung dua macam perintah:   
      (a) yang menghendaki penghapusan karena keadaan sudah berubah dan karena keuniversilan wahyu baru itu  menghendaki pembatalan;
       (b) yang mengandung kebenaran kekal-abadi, atau memerlukan penyegaran kembali sehingga orang dapat diingatkan kembali akan kebenaran yang terlupakan, karena itu perlu sekali menghapuskan bagian-bagian tertentu Kitab-kitab Suci itu dan mengganti dengan perintah-perintah baru dan pula menegakkan kembali perintah-perintah yang sudah hilang, maka Allah Swt.  menghapuskan beberapa bagian wahyu-wahyu (hukum-hukum syariat) terdahulu, menggantikannya dengan yang baru dan lebih baik, dan di samping itu memasukkan lagi bagian-bagian yang hilang dengan yang sama. Itulah arti yang sesuai dan cocok dengan konteks (letak) ayat ini dan dengan jiwa umum ajaran Al-Quran.
       Al-Quran telah    membatalkan semua Kitab Suci sebelumnya, sebab — mengingat keadaan umat manusia telah berubah — Al-Quran membawa syariat baru yang bukan saja lebih baik daripada semua syariat lama, tetapi ditujukan pula kepada seluruh umat manusia dari semua zaman. Ajaran yang lebih rendah dengan lingkup tugas yang terbatas harus memberikan tempatnya kepada ajaran yang lebih baik dan lebih tinggi dengan lingkup tugas universal.
       Dalam ayat ini kata nansakh (Kami membatalkan) bertalian dengan kata bi-khairin (yang lebih baik), dan kata nunsiha (Kami biarkan terlupakan) bertalian dengan kata bi-mitslihā (yang semisalnya), maksudnya bahwa jika Allah Swt.  menghapuskan sesuatu maka Dia menggantikannya dengan yang lebih baik, dan bila untuk sementara waktu Dia membiarkan sesuatu dilupakan orang, Dia menghidupkannya kembali pada waktu yang lain. Diakui oleh ulama-ulama Yahudi sendiri bahwa sesudah bangsa Yahudi diangkut sebagai tawanan ke Babil oleh Nebukadnezar, seluruh Taurat (lima Kitab Nabi Musa a.s.) telah hilang (Encyclopaedia  Biblica).

Keprihatinan atas  Akibat Buruk “Penyembahan Manusia”

      Berikut contoh lainnya keprihatinan Nabi Besar Muhammad saw. kepada kalangan Bani Israil, terutama mereka yang telah terjerumus ke dalam  syirik berupa mempertuhankan manusia --  yakni  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.,  sebagaimana ajaran Paulus dalam surat-surat kirimannya  (QS.9:30-33) – firman-Nya:
 اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ الَّذِیۡۤ  اَنۡزَلَ عَلٰی عَبۡدِہِ الۡکِتٰبَ  وَ لَمۡ  یَجۡعَلۡ  لَّہٗ عِوَجًا ؕ﴿ٜ۲ قَیِّمًا  لِّیُنۡذِرَ بَاۡسًا شَدِیۡدًا مِّنۡ لَّدُنۡہُ وَ یُبَشِّرَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ الَّذِیۡنَ یَعۡمَلُوۡنَ الصّٰلِحٰتِ اَنَّ  لَہُمۡ  اَجۡرًا حَسَنًا ۙ﴿۳   مَّاکِثِیۡنَ فِیۡہِ اَبَدًا ۙ﴿۴  وَّ یُنۡذِرَ الَّذِیۡنَ قَالُوا اتَّخَذَ اللّٰہُ وَلَدًا ٭﴿۵  مَا لَہُمۡ بِہٖ مِنۡ عِلۡمٍ وَّ لَا لِاٰبَآئِہِمۡ ؕ کَبُرَتۡ کَلِمَۃً  تَخۡرُجُ مِنۡ اَفۡوَاہِہِمۡ ؕ اِنۡ یَّقُوۡلُوۡنَ  اِلَّا کَذِبًا ﴿۶  فَلَعَلَّکَ بَاخِعٌ نَّفۡسَکَ عَلٰۤی اٰثَارِہِمۡ  اِنۡ لَّمۡ  یُؤۡمِنُوۡا بِہٰذَا  الۡحَدِیۡثِ  اَسَفًا ﴿۷
Segala puji bagi Allah  Yang  telah menurunkan kepada hamba-Nya Kitab Al-Quran ini dan   Dia  tidak menjadikan padanya ke­bengkokan.   Sebagai penjaga,      untuk memberi peringatan mengenai  siksaan yang dahsyat dari hadirat-Nya, dan memberikan kabar gembira  kepada orang-orang  beriman  yang beramal saleh bahwa sesungguhnya bagi mereka ada ganjaran yang baik,  mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Dan supaya memperingat­kan orang-orang yang berkata: "Allah  mengambil seorang  anak laki-laki.   Mereka   sekali-kali tidak memiliki pengetahuan mengenainya, dan tidak pula bapak-bapak mereka memilikinya.  Sangat besar keburukan perkataan yang keluar dari mulut mereka,   mereka tidak mengucapkan kecuali kedustaan.     Maka sangat mungkin engkau akan  membinasakan diri engkau    karena sangat sedih  sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini. (Al-Kahf [18]:2-7).
      Pendek kata, itulah beberapa contoh keprihatinan dan kepedulian besar Nabi Besar Muhammad saw. terhadap umat manusia jika mereka mendustakan beliau saw. dan Al-Quran,  yang merupakan agama dan Kitab suci terakhir dan tersempurna (QS.5:4), sebab  mereka pasti akan menanggung akibat-akibat yang sangat mengerikan, di antaranya mereka akan ditimpa oleh berbagai azab Ilahi yang dijanjikan Allah Swt.  kepada mereka, firman-Nya:
ذٰلِکَ  مِنۡ  اَنۡۢبَآءِ الۡغَیۡبِ نُوۡحِیۡہِ  اِلَیۡکَ ۚ وَ مَا کُنۡتَ لَدَیۡہِمۡ  اِذۡ  اَجۡمَعُوۡۤا  اَمۡرَہُمۡ  وَ ہُمۡ  یَمۡکُرُوۡنَ ﴿۱۰۳ وَ مَاۤ  اَکۡثَرُ النَّاسِ وَ لَوۡ حَرَصۡتَ بِمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿۱۰۴ وَ مَا تَسۡـَٔلُہُمۡ عَلَیۡہِ مِنۡ اَجۡرٍ ؕ اِنۡ ہُوَ اِلَّا ذِکۡرٌ  لِّلۡعٰلَمِیۡنَ ﴿۱۰۵﴾٪
Itulah dari kabar-kabar gaib yang telah Kami wahyukan kepada engkau, dan engkau tidak beserta mereka ketika mereka telah bersepakat mengenai urusan  mereka dan mereka akan melakukan makar.   Dan kebanyakan manusia  sekali-kali tidak akan beriman, walaupun engkau sangat menginginkan.  Dan engkau sekali-kali  tidak minta ganjaran apa pun dari mereka,  itu tidak  lain melainkan   kehormatan untuk seluruh umat manusia. (Yusuf [12]:103-105).

Tidak  Boleh Ada Paksaan  dan Kekerasan Dalam Masalah Agama

       Jadi,  seluruh sikap terpuji yang diperagakan oleh Nabi Besar Muhammad saw. tersebut menjungkir-balikkan sikap  keliru  segolongan umat Islam yang melakukan berbagai tindakan kekerasan secara fisik dengan  atas namakan  agama Islam, dengan dalih  untuk menjaga kehormatan agama Islam dan Nabi Besar Muhammad saw., padahal Nabi Besar Muhammad saw. tidak pernah mencontohkan berbagai bentuk kebrutalan atas nama agama seperti  yang dilakukan oleh "orang-orang yang jahil" mengenai ajaran Islam (Al-Quran) yang hakiki, sebagaimana yang diajarkan dan diamalkan oleh Nabi Besar Muhammad saw..
      Dengan tegas Allah Swt. berfirman bahwa tidak perlu ada paksaan dalam masalah agama Islam, karena untuk untuk tersebarnya agama Islam (Al-Quran)   di masa awal Nabi Besar Muhammad saw. tidak pernah melakukannya dengan  tindakan-tindakan faksa secara fisik, terutama sekali selama 13 tahun di Makkah, demikian pula selama 10 tahun di Madinah pun peperangan yang dilakukan  beliau saw. oleh umat Islam dilakukan hanya semata-mata untuk  membela diri  agar  agama Islam (Al-Quran)   dan umat Islam tidak musnah dari muka bumi (QS.22:40-41), peperangan tersebut sama sekali tidak ada hubungannya dengan penyebaran agama Islam, firman-Nya:
لَاۤ اِکۡرَاہَ فِی الدِّیۡنِ ۟ۙ قَدۡ تَّبَیَّنَ الرُّشۡدُ مِنَ الۡغَیِّ ۚ فَمَنۡ یَّکۡفُرۡ بِالطَّاغُوۡتِ وَ یُؤۡمِنۡۢ بِاللّٰہِ فَقَدِ اسۡتَمۡسَکَ بِالۡعُرۡوَۃِ الۡوُثۡقٰی ٭ لَا انۡفِصَامَ  لَہَا ؕ وَ اللّٰہُ سَمِیۡعٌ عَلِیۡمٌ ﴿۲۵۷
Tidak ada paksaan dalam agama. Sungguh  jalan benar itu nyata bedanya dari kesesatan, karena itu barangsiapa kafir kepada thaghut   dan beriman kepada Allah, maka sungguh  ia  telah berpegang kepada suatu pegangan yang sangat kuat lagi tidak akan putus, dan Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui. (Al-Baqarah [2]:257).
       Perintah dalam ayat sebelumnya (QS.2:255-256) untuk melakukan pengorbanan khusus guna kepentingan agama dan memerangi musuh Islam boleh jadi dapat menimbulkan salah pengertian, seakan-akan Allah Swt. menghendaki kaum Muslimin menggunakan kekerasan guna menablighkan agama mereka.
       Ayat QS.2:257 ini melenyapkan salah paham itu dan bukan saja --  dengan kata-kata yang sangat tegas -- melarang kaum Muslimin, mempergunakan kekerasan dalam rangka menarik orang-orang bukan-Muslim masuk Islam, tetapi memberikan pula alasan-alasan mengapa kekerasan tidak boleh dipakai untuk tujuan tersebut. Alasan itu ialah karena kebenaran itu nyata berbeda dari kesesatan maka tidak ada alasan untuk membenarkan penggunaan kekerasan, karena  Islam adalah  kebenaran yang nyata.
      Thaghut adalah: orang-orang yang bertindak melampaui batas-batas kewajaran; iblis; orang-orang yang menyesatkan orang lain dari jalan lurus dan benar; segala bentuk berhala. Kata itu dipakai dalam arti mufrad dan jamak (QS.2:258 dan QS.4:61).

(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid

Tidak ada komentar:

Posting Komentar