بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
HUBUNGAN NABI YUSUF A.S.
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
Bagian XLXXII
Tentang
Pujian Khusus Allah Swt.
Kepada Nabi Besar Muhammad Saw.
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
ذٰلِکَ مِنۡ اَنۡۢبَآءِ الۡغَیۡبِ نُوۡحِیۡہِ اِلَیۡکَ ۚ وَ مَا کُنۡتَ لَدَیۡہِمۡ اِذۡ اَجۡمَعُوۡۤا اَمۡرَہُمۡ وَ ہُمۡ یَمۡکُرُوۡنَ ﴿۱۰۳﴾
وَ مَاۤ اَکۡثَرُ النَّاسِ وَ لَوۡ حَرَصۡتَ
بِمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿۱۰۴﴾ وَ مَا تَسۡـَٔلُہُمۡ عَلَیۡہِ مِنۡ اَجۡرٍ ؕ اِنۡ ہُوَ اِلَّا ذِکۡرٌ لِّلۡعٰلَمِیۡنَ ﴿۱۰۵﴾٪
Itulah dari kabar-kabar gaib yang telah Kami
wahyukan kepada engkau, dan engkau tidak beserta mereka ketika mereka telah
bersepakat mengenai urusan mereka dan
mereka akan melakukan makar. Dan kebanyakan manusia sekali-kali tidak akan beriman, walaupun
engkau sangat menginginkan. Dan
engkau sekali-kali tidak minta ganjaran
apa pun dari mereka, itu
tidak lain melainkan kehormatan untuk seluruh umat manusia. (Yusuf
[12]:103-105).
Kembali
kepada pokok pembahasan firman Allah
Swt. di awal Bab ini, bahwa jelaslah bahwa kisah Nabi Yusuf a.s. dalam Surah
Yusuf merupakan kabar gaib
(nubuatan) yang akan terjadi dalam
kehidupan Nabi Besar Muhammad saw., setelah beliau saw. diutus oleh Allah Swt. sebagai Rasul Allah
untuk seluruh umat manusia (QS.7:159; QS.21:108; QS.25:2; QS.34:29), walau pun
beliau saw. berasal dari kalangan bangsa Arab.
Ungkapan kalimat “Dan kebanyakan
manusia sama sekali tidak akan beriman, walaupun engkau sangat menginginkan”,
mengisyaratkan kepada kepedulian luar biasa Nabi Besar Muhammad saw. terhadap
tanggungjawab beliau saw. dalam mengemban amanat sangat berat
yang harus disampaikan kepada seluruh umat manusia (QS.33:73-74; QS.7:143-144), walau
pun Allah Swt. telah berfirman dalam
QS.6:112-114 -- bahwa sekali pun berbagai dalil dan tanda-tanda
nyata yang mendukung kebenaran pendakwaan beliau saw. sebagai rasul
Allah dihadapkan kepada mereka, tetapi
mereka tetap tidak akan
beriman.
Pujian
Khusus Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhammad Saw.
Namun demikian Nabi Besar Muhammad saw. tetap berusaha dengan segala daya-upaya
yang mungkin untuk menyadarkan mereka dari syirik dan kesesatan, sehingga Allah Swt. karena merasa kasihan kepada beliau
saw. telah memberi nasihat --
yang sekali gus merupakan pujian khusus -- yang bagi orang-orang
yang tidak mengerti telah dianggap sebagai teguran keras Allah Swt. kepada
beliau saw., padahal bukan -- firman-Nya:
وَ
اِنۡ کَانَ کَبُرَ عَلَیۡکَ اِعۡرَاضُہُمۡ
فَاِنِ اسۡتَطَعۡتَ اَنۡ تَبۡتَغِیَ نَفَقًا فِی الۡاَرۡضِ اَوۡ سُلَّمًا فِی السَّمَآءِ فَتَاۡتِیَہُمۡ بِاٰیَۃٍ ؕ وَ لَوۡ شَآءَ اللّٰہُ لَجَمَعَہُمۡ عَلَی الۡہُدٰی فَلَا تَکُوۡنَنَّ
مِنَ الۡجٰہِلِیۡنَ ﴿۳۶﴾ اِنَّمَا یَسۡتَجِیۡبُ الَّذِیۡنَ یَسۡمَعُوۡنَ ؕؔ وَ الۡمَوۡتٰی یَبۡعَثُہُمُ اللّٰہُ ثُمَّ
اِلَیۡہِ یُرۡجَعُوۡنَ ﴿۷﴾
Dan jika berpalingnya mereka terasa berat bagi engkau, maka
kalau engkau sanggup mencari lubang ke dalam bumi atau tangga ke
langit, lalu engkau mendatangkan kepada mereka suatu Tanda. Dan jika Allah menghendaki niscaya
mereka akan dihimpun-Nya kepada petunjuk, maka janganlah sekali-kali
engkau menjadi orang-orang yang jahil. Sesungguhnya orang-orang yang
menerima kebenaran hanyalah orang-orang
yang mendengar, sedangkan orang-orang mati Allah akan membangkitkan mereka,
kemudian kepada-Nya mereka akan dikembali-kan. (Al-An’aam
[6]:36-37).
Kata-kata mencari lubang tembusan ke dalam bumi berarti “menggunakan daya-upaya dunawi,” yakni
menablighkan dan menyebarkan
kebenaran, sedangkan kata-kata tangga ke langit, maknanya
“menggunakan daya-upaya ruhani,” yakni memanjatkan doa ke hadirat Allah
Swt. untuk memohon hidayah
(petunjuk) bagi orang-orang kafir dan sebagainya. Shalat sungguh
merupakan tangga yang dengan itu orang secara ruhani dapat naik ke langit. Nabi Besar Muhammad saw. diberi tahu supaya menggunakan kedua
upaya ini.
Kata
jahil seperti dalam QS.2:274 artinya
“seseorang yang tidak tahu-menahu” atau “tidak mengenal.” Nabi Besar Muhammad saw. dianjurkan agar
jangan sampai tidak mengenal hukum Tuhan dalam perkara ini. Ayat itu pun
menyingkapkan keprihatinan dan perhatian besar beliau saw. untuk kesejahteraan ruhani kaum
beliau. Beliau saw. bersedia untuk sedapat mungkin membawakan kepada mereka Tanda,
sekalipun beliau harus “mencari lubang tembusan ke dalam bumi atau tangga ke
langit.” Yang pasti beliau saw., na'udzubillaahi min dzaalik -- bukan seorang yang "jahil" walau pun Allah Swt. telah menggunakan kata tersebut.
“Pujian khusus” seperti itu yang menggambarkan kepedulian luar biasa Nabi Besar Muhammad saw. -- yang
tidak mudah dimengerti oleh kebanyakan orang-orang yang tidak mengenal
hikmah-hikmah ayat-ayat Al-Quran -- banyak terdapat dalam Al-Quran, berikut contoh lainnya lagi:
لَعَلَّکَ
بَاخِعٌ نَّفۡسَکَ اَلَّا یَکُوۡنُوۡا مُؤۡمِنِیۡنَ ﴿۴﴾ اِنۡ نَّشَاۡ نُنَزِّلۡ
عَلَیۡہِمۡ مِّنَ السَّمَآءِ اٰیَۃً
فَظَلَّتۡ اَعۡنَاقُہُمۡ لَہَا خٰضِعِیۡنَ
﴿۵﴾ وَ مَا یَاۡتِیۡہِمۡ
مِّنۡ ذِکۡرٍ مِّنَ الرَّحۡمٰنِ مُحۡدَثٍ
اِلَّا کَانُوۡا عَنۡہُ مُعۡرِضِیۡنَ ﴿۶﴾ فَقَدۡ کَذَّبُوۡا
فَسَیَاۡتِیۡہِمۡ اَنۡۢبٰٓؤُا مَا
کَانُوۡا بِہٖ یَسۡتَہۡزِءُوۡنَ ﴿۷﴾
Boleh jadi engkau akan membinasakan diri sendiri karena mereka tidak mau beriman. Jika
Kami menghendaki, Kami dapat menurunkan kepada mereka suatu Tanda dari langit sehingga leher-leher mereka
akan tertunduk kepadanya. Dan sekali-kali tidak datang kepada
mereka peringatan yang baru dari Tuhan Yang Maha Pemurah
melainkan mereka selalu berpaling darinya. Maka
sungguh mereka telah mendustakan, tetapi segera
datang kepada mereka kabar-kabar mengenai apa yang mereka perolok-olokkan. (Al-Syu’araa
[26]:4-7).
Kesedihan
Nabi Besar Muhammad saw. tidak akan sia-sia. Jika kaumnya tidak berhenti
menentang beliau saw., mereka akan didatangi oleh Tanda hukuman (Tanda
azab) yang akan merendahkan dan menghinakan pemimpin-pemimpin
mereka, ‘anaq berarti pemimpin-pemimpin (Lexicon Lane).
Itulah makna kalimat “Kami dapat menurunkan kepada mereka suatu Tanda
dari langit sehingga leher-leher
mereka akan tertunduk kepadanya. “
Kalimat
“peringatan yang baru” berarti “dalam
bentuk yang baru”, atau “dengan
rincian yang baru”. Pada hakikatnya semua syariat serupa
dalam ajaran-ajaran dasar dan pokoknya, hanya dalam perkara yang
kecil-kecil saja ada perbedaan. Atau suatu syariat diwahyukan dalam
bentuk yang telah diubah dan diperbaiki (disempurnakan) agar
supaya bisa cocok dengan cita-cita, kepentingan-kepentingan dan
keperluan-keperluan masa tertentu ketika syariat itu diturunkan. Beberapa rasul
Allah datang dengan suatu syariat
yang baru, sedang yang lainnya hanya mengkhidmati syariat yang sudah
ada.
Al-Quran Puncak Penyempurnaan Hukum-hukum Syariat
Puncak dari proses penyempurnaan hukum-hukum
syariat tersebut adalah Al-Quran yang diwahyukan kepada Nabi Besar Muhammad
saw. , firman-Nya:
مَا نَنۡسَخۡ مِنۡ اٰیَۃٍ اَوۡ
نُنۡسِہَا نَاۡتِ بِخَیۡرٍ مِّنۡہَاۤ اَوۡ مِثۡلِہَا ؕ اَلَمۡ تَعۡلَمۡ اَنَّ اللّٰہَ
عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿۲۰۷﴾
Ayat mana pun yang Kami mansukhkan . yakni
batalkan atau Kami biarkan terlupa, maka Kami mendatangkan yang
lebih baik darinya atau yang semisalnya. Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha
Kuasa atas segala se-suatu? (Al-Baqarah [107).
Ayah berarti: pesan, tanda,
perintah atau ayat Al-Quran (Lexicon Lane). Ada kekeliruan dalam mengambil kesimpulan
dari ayat ini bahwa beberapa ayat Al-Quran telah dimansukhkan
(dibatalkan). Kesimpulan itu jelas salah dan tidak beralasan. Tidak ada sesuatu
dalam ayat ini yang menunjukkan bahwa kata āyah itu maksudnya ayat-ayat
Al-Quran, melainkan hukum-hukum syariat yang telah
diwahyukan sebelum Al-Quran, termasuk Taurat dan Injil.
Dalam
ayat sebelum dan sesudahnya telah disinggung mengenai Ahlul Kitab dan kedengkian mereka terhadap wahyu baru (Al-Quran), yang menunjukkan bahwa āyah
yang disebut dalam ayat ini sebagai mansukh (batal) menunjuk kepada wahyu-wahyu terdahulu.
Dijelaskan bahwa Kitab Suci terdahulu mengandung dua macam perintah:
(a)
yang menghendaki penghapusan karena keadaan sudah berubah dan karena
keuniversilan wahyu baru itu
menghendaki pembatalan;
(b)
yang mengandung kebenaran kekal-abadi, atau memerlukan penyegaran kembali
sehingga orang dapat diingatkan kembali akan kebenaran yang terlupakan, karena
itu perlu sekali menghapuskan bagian-bagian tertentu Kitab-kitab Suci itu dan
mengganti dengan perintah-perintah baru dan pula menegakkan kembali
perintah-perintah yang sudah hilang, maka Allah Swt. menghapuskan beberapa bagian wahyu-wahyu
(hukum-hukum syariat) terdahulu, menggantikannya dengan yang baru dan lebih
baik, dan di samping itu memasukkan lagi bagian-bagian yang hilang dengan
yang sama. Itulah arti yang sesuai dan cocok dengan konteks (letak) ayat ini
dan dengan jiwa umum ajaran Al-Quran.
Al-Quran
telah membatalkan semua Kitab Suci
sebelumnya, sebab — mengingat keadaan umat manusia telah berubah — Al-Quran
membawa syariat baru yang bukan saja lebih baik daripada semua syariat
lama, tetapi ditujukan pula kepada seluruh umat manusia dari semua zaman.
Ajaran yang lebih rendah dengan lingkup tugas yang terbatas harus memberikan
tempatnya kepada ajaran yang lebih baik dan lebih tinggi dengan lingkup tugas
universal.
Dalam
ayat ini kata nansakh (Kami membatalkan) bertalian dengan kata bi-khairin
(yang lebih baik), dan kata nunsiha (Kami biarkan terlupakan) bertalian
dengan kata bi-mitslihā (yang semisalnya), maksudnya bahwa jika Allah
Swt. menghapuskan sesuatu
maka Dia menggantikannya dengan yang lebih baik, dan bila untuk sementara waktu
Dia membiarkan sesuatu dilupakan orang, Dia menghidupkannya kembali pada waktu
yang lain. Diakui oleh ulama-ulama Yahudi sendiri bahwa sesudah bangsa Yahudi
diangkut sebagai tawanan ke Babil oleh Nebukadnezar, seluruh Taurat (lima Kitab
Nabi Musa a.s.) telah hilang (Encyclopaedia Biblica).
Keprihatinan atas Akibat
Buruk “Penyembahan Manusia”
Berikut
contoh lainnya keprihatinan Nabi Besar Muhammad saw. kepada kalangan
Bani Israil, terutama mereka yang telah terjerumus ke dalam syirik berupa mempertuhankan
manusia -- yakni Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., sebagaimana ajaran Paulus dalam surat-surat
kirimannya (QS.9:30-33) – firman-Nya:
اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ الَّذِیۡۤ اَنۡزَلَ عَلٰی عَبۡدِہِ الۡکِتٰبَ وَ لَمۡ
یَجۡعَلۡ لَّہٗ عِوَجًا ؕ﴿ٜ۲﴾ قَیِّمًا لِّیُنۡذِرَ بَاۡسًا شَدِیۡدًا مِّنۡ لَّدُنۡہُ وَ یُبَشِّرَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ الَّذِیۡنَ یَعۡمَلُوۡنَ الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَہُمۡ اَجۡرًا حَسَنًا ۙ﴿۳﴾ مَّاکِثِیۡنَ فِیۡہِ اَبَدًا ۙ﴿۴﴾ وَّ یُنۡذِرَ الَّذِیۡنَ قَالُوا اتَّخَذَ
اللّٰہُ وَلَدًا ٭﴿۵﴾ مَا لَہُمۡ بِہٖ مِنۡ عِلۡمٍ وَّ لَا لِاٰبَآئِہِمۡ ؕ کَبُرَتۡ کَلِمَۃً تَخۡرُجُ مِنۡ اَفۡوَاہِہِمۡ ؕ اِنۡ یَّقُوۡلُوۡنَ اِلَّا کَذِبًا ﴿۶﴾
فَلَعَلَّکَ بَاخِعٌ نَّفۡسَکَ
عَلٰۤی اٰثَارِہِمۡ اِنۡ لَّمۡ یُؤۡمِنُوۡا بِہٰذَا الۡحَدِیۡثِ اَسَفًا ﴿۷﴾
Segala puji bagi Allah
Yang telah menurunkan kepada
hamba-Nya Kitab Al-Quran ini dan
Dia tidak menjadikan padanya
kebengkokan. Sebagai penjaga, untuk memberi peringatan
mengenai siksaan yang dahsyat dari hadirat-Nya,
dan memberikan kabar gembira kepada
orang-orang beriman yang beramal saleh bahwa sesungguhnya
bagi mereka ada ganjaran yang baik, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Dan
supaya memperingatkan orang-orang yang berkata:
"Allah mengambil seorang anak laki-laki. Mereka sekali-kali tidak memiliki pengetahuan
mengenainya, dan tidak pula bapak-bapak mereka memilikinya. Sangat besar keburukan perkataan
yang keluar dari mulut mereka, mereka
tidak mengucapkan kecuali kedustaan. Maka
sangat mungkin engkau akan membinasakan diri engkau
karena sangat sedih sekiranya mereka tidak beriman kepada
keterangan ini. (Al-Kahf [18]:2-7).
Pendek kata, itulah beberapa contoh keprihatinan
dan kepedulian besar Nabi Besar Muhammad saw. terhadap umat manusia jika
mereka mendustakan beliau saw. dan Al-Quran, yang merupakan agama dan Kitab suci
terakhir dan tersempurna (QS.5:4), sebab
mereka pasti akan menanggung akibat-akibat yang sangat mengerikan, di
antaranya mereka akan ditimpa oleh berbagai azab Ilahi yang dijanjikan
Allah Swt. kepada mereka, firman-Nya:
ذٰلِکَ مِنۡ اَنۡۢبَآءِ الۡغَیۡبِ نُوۡحِیۡہِ اِلَیۡکَ ۚ وَ مَا کُنۡتَ لَدَیۡہِمۡ اِذۡ اَجۡمَعُوۡۤا اَمۡرَہُمۡ وَ ہُمۡ یَمۡکُرُوۡنَ ﴿۱۰۳﴾
وَ مَاۤ اَکۡثَرُ النَّاسِ وَ لَوۡ حَرَصۡتَ
بِمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿۱۰۴﴾ وَ مَا تَسۡـَٔلُہُمۡ عَلَیۡہِ مِنۡ اَجۡرٍ ؕ اِنۡ ہُوَ اِلَّا ذِکۡرٌ لِّلۡعٰلَمِیۡنَ ﴿۱۰۵﴾٪
Itulah dari kabar-kabar gaib yang telah Kami
wahyukan kepada engkau, dan engkau tidak beserta mereka ketika mereka
telah bersepakat mengenai urusan
mereka dan mereka akan melakukan makar. Dan kebanyakan manusia sekali-kali tidak akan beriman, walaupun
engkau sangat menginginkan. Dan engkau sekali-kali tidak minta ganjaran apa pun dari mereka,
itu tidak lain melainkan kehormatan untuk seluruh umat manusia.
(Yusuf [12]:103-105).
Tidak Boleh Ada Paksaan dan Kekerasan Dalam Masalah Agama
Jadi, seluruh sikap terpuji yang diperagakan
oleh Nabi Besar Muhammad saw. tersebut menjungkir-balikkan sikap keliru
segolongan umat Islam yang melakukan berbagai tindakan kekerasan
secara fisik dengan atas
namakan agama Islam, dengan dalih untuk menjaga kehormatan agama Islam
dan Nabi Besar Muhammad saw., padahal Nabi Besar Muhammad saw. tidak pernah
mencontohkan berbagai bentuk kebrutalan atas nama agama seperti yang dilakukan oleh "orang-orang yang jahil" mengenai ajaran Islam (Al-Quran) yang hakiki, sebagaimana yang diajarkan dan diamalkan oleh Nabi Besar Muhammad saw..
Dengan tegas Allah Swt.
berfirman bahwa tidak perlu ada paksaan dalam masalah agama Islam,
karena untuk untuk tersebarnya agama Islam (Al-Quran) di masa awal Nabi Besar Muhammad saw. tidak
pernah melakukannya dengan
tindakan-tindakan faksa secara fisik, terutama sekali selama 13 tahun di
Makkah, demikian pula selama 10 tahun di Madinah pun peperangan yang
dilakukan beliau saw. oleh umat Islam
dilakukan hanya semata-mata untuk membela
diri agar agama Islam (Al-Quran) dan umat Islam tidak musnah dari muka
bumi (QS.22:40-41), peperangan tersebut sama sekali tidak ada hubungannya
dengan penyebaran agama Islam, firman-Nya:
لَاۤ
اِکۡرَاہَ فِی الدِّیۡنِ ۟ۙ قَدۡ تَّبَیَّنَ الرُّشۡدُ مِنَ الۡغَیِّ ۚ فَمَنۡ یَّکۡفُرۡ
بِالطَّاغُوۡتِ وَ یُؤۡمِنۡۢ بِاللّٰہِ فَقَدِ اسۡتَمۡسَکَ بِالۡعُرۡوَۃِ الۡوُثۡقٰی
٭ لَا انۡفِصَامَ لَہَا ؕ وَ اللّٰہُ سَمِیۡعٌ
عَلِیۡمٌ ﴿۲۵۷﴾
Tidak ada paksaan dalam agama. Sungguh jalan benar itu nyata bedanya dari
kesesatan, karena itu barangsiapa kafir kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka
sungguh ia telah berpegang kepada suatu
pegangan yang sangat kuat lagi tidak akan putus, dan Allah Maha
Mendengar, Maha Mengetahui. (Al-Baqarah [2]:257).
Perintah
dalam ayat sebelumnya (QS.2:255-256) untuk melakukan pengorbanan khusus guna kepentingan
agama dan memerangi musuh Islam boleh jadi dapat menimbulkan salah
pengertian, seakan-akan Allah Swt. menghendaki kaum Muslimin menggunakan kekerasan
guna menablighkan agama mereka.
Ayat
QS.2:257 ini melenyapkan salah paham itu dan bukan saja -- dengan kata-kata yang sangat tegas -- melarang
kaum Muslimin, mempergunakan kekerasan dalam rangka menarik
orang-orang bukan-Muslim masuk Islam, tetapi memberikan pula alasan-alasan
mengapa kekerasan tidak boleh dipakai untuk tujuan tersebut. Alasan itu
ialah karena kebenaran itu nyata berbeda dari kesesatan maka tidak ada
alasan untuk membenarkan penggunaan kekerasan, karena Islam adalah kebenaran yang nyata.
Thaghut
adalah: orang-orang yang bertindak melampaui batas-batas kewajaran; iblis;
orang-orang yang menyesatkan orang lain dari jalan lurus dan benar; segala
bentuk berhala. Kata itu dipakai dalam arti mufrad dan jamak (QS.2:258 dan
QS.4:61).
(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid
Tidak ada komentar:
Posting Komentar