بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
HUBUNGAN NABI YUSUF A.S.
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
Bagian XLX
Tentang
Berdirinya "Khilafat Kenabian" di Akhir Zaman
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
وَعَدَ اللّٰہُ
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مِنۡکُمۡ وَ
عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَیَسۡتَخۡلِفَنَّہُمۡ فِی الۡاَرۡضِ کَمَا اسۡتَخۡلَفَ
الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ ۪ وَ لَیُمَکِّنَنَّ لَہُمۡ دِیۡنَہُمُ الَّذِی ارۡتَضٰی لَہُمۡ وَ لَیُبَدِّلَنَّہُمۡ
مِّنۡۢ بَعۡدِ خَوۡفِہِمۡ اَمۡنًا ؕ یَعۡبُدُوۡنَنِیۡ
لَا یُشۡرِکُوۡنَ بِیۡ شَیۡئًا ؕ وَ مَنۡ کَفَرَ بَعۡدَ ذٰلِکَ فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡفٰسِقُوۡنَ ﴿۵۶﴾
Allah telah
berjanji kepada orang-orang yang beriman
dan beramal saleh di antara kamu
niscaya Dia akan menjadikan mereka itu
khalifah di bumi ini sebagaimana Dia telah menjadikan khalifah orang-orang yang
sebelum mereka, dan niscaya Dia akan meneguhkan bagi mereka agamanya yang telah
Dia ridhai bagi mereka, dan niscaya Dia
akan mengubah keadaan mereka dengan keamanan sesudah ketakutan
mereka. Mereka akan menyembah-Ku dan mereka tidak akan mempersekutukan sesuatu
dengan-Ku, dan barangsiapa kafir sesudah itu
mereka itulah orang-orang durhaka.
(Al-Hajj [22]:56).
Dalam Bab sebelumnya telah
dikemukakan bahwa salah satu jawaban pertanyaan
balik dari panggilan (seruan) para
pemuka umat Islam kepada umat-umat dari
kalangan agama-agama lainnya untuk bergabung ke dalam agama Islam, yakni:
“Kepada golongan umat Islam dan ajaran
Islam yang mana kami harus menggabungkan diri? Bukankah di kalangan umat
Islam pun banyak terdapat sekte dan firqah yang saling
bertentangan, bahkan yang satu dengan yang lainnya saling mengkafirkan dan saling serang? Mengapa kalian tidak terlebih dulu
memperbaiki keadaan di lingkungan kalian sendiri?”
Mendirikan suatu “Jemaat Ilahi”
Jadi, jawabannya
yang paling tetap adalah sebagaimana sabda Nabi Besar Muhammad saw. mengenai satu golongan umat Islam dari 73 firqah yang berada dalam “api”,
yang keadaan golongan umat Islam tersebut sama dengan keadaan awal umat Islam,
yakni didirikan oleh Rasul Allah, dan sebagai suatu jama’ah Ilahi golongan tersebut kemudian dipimpin
oleh para Khalifah Rasul Allah, firman-Nya:
مَا کَانَ اللّٰہُ لِیَذَرَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ عَلٰی
مَاۤ اَنۡتُمۡ عَلَیۡہِ حَتّٰی
یَمِیۡزَ الۡخَبِیۡثَ مِنَ الطَّیِّبِ ؕ
وَ مَا کَانَ اللّٰہُ لِیُطۡلِعَکُمۡ عَلَی الۡغَیۡبِ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ
یَجۡتَبِیۡ مِنۡ رُّسُلِہٖ مَنۡ یَّشَآءُ ۪ فَاٰمِنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ ۚ
وَ اِنۡ تُؤۡمِنُوۡا وَ تَتَّقُوۡا
فَلَکُمۡ اَجۡرٌ عَظِیۡمٌ ﴿۱۸۰﴾
Allah sekali-kali tidak akan
membiarkan orang-orang yang beriman di dalam keadaan kamu berada
di dalamnya hingga Dia memisahkan yang buruk dari yang baik.
Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan yang gaib kepada kamu, tetapi Allah
memilih di antara
rasul-rasul-Nya siapa yang Dia kehendaki, karena itu berimanlah
kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan jika kamu beriman
dan bertakwa, maka bagimu ganjaran yang besar. (Ali ‘Imran
[3]:180).
Dalam Surah lainnya Allah Swt. telah berfirman kepada Nabi Besar
Muhammad saw. mengenai keberhasilan beliau saw. membangun suatu jama’ah
Muslim yang benar-benar merupakan “umat terbaik” yang dijadikan untuk manfaat umat manusia (QS.2:144; QS.3:111) bukan melalui
harta-kekayaan yang berlimpah-ruah atau pun melalui kekuasaan tanpa batas dan
tanpa tanding, melainkan melalui kecintaan hati mereka kepada Allah Swt.
dan Rasul-Nya, sehingga terbentuk “persaudaraan ruhani” yang mengakibatkan terjadinya kesatuan dan persatuan
di kalangan umat Islam, firman-Nya:
وَ
اَلَّفَ
بَیۡنَ قُلُوۡبِہِمۡ ؕ لَوۡ اَنۡفَقۡتَ مَا فِی الۡاَرۡضِ جَمِیۡعًا مَّاۤ اَلَّفۡتَ بَیۡنَ قُلُوۡبِہِمۡ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ اَلَّفَ بَیۡنَہُمۡ ؕ اِنَّہٗ عَزِیۡزٌ حَکِیۡمٌ ﴿۶۴﴾ یٰۤاَیُّہَا النَّبِیُّ حَسۡبُکَ اللّٰہُ وَ
مَنِ اتَّبَعَکَ مِنَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿٪۶۵﴾
Dan Dia telah menanamkan kecintaan di antara hati mereka,
seandainya engkau membelanjakan yang ada di bumi ini seluruhnya,
engkau sekali-kali tidak akan dapat
menanamkan kecintaan di antara hati mereka, tetapi Allah telah menanamkan kecintaan di antara mereka,
sesungguhnya Dia Maha Perkasa, Maha Bijaksana. Hai Nabi,
Allah
mencukupi bagi engkau dan bagi orang-orang yang mengikuti engkau di
antara orang-orang beriman. (Al-Anfaal [8]:64-65).
Firman Allah Swt. ini sangat erat
hubungannya – dan bahkan merupakan penjelasan – dari firman Allah Swt. berikut ini:
وَ
اعۡتَصِمُوۡا بِحَبۡلِ اللّٰہِ جَمِیۡعًا وَّ لَا تَفَرَّقُوۡا ۪ وَ اذۡکُرُوۡا نِعۡمَتَ اللّٰہِ عَلَیۡکُمۡ اِذۡ
کُنۡتُمۡ اَعۡدَآءً فَاَلَّفَ بَیۡنَ قُلُوۡبِکُمۡ فَاَصۡبَحۡتُمۡ بِنِعۡمَتِہٖۤ اِخۡوَانًا ۚ وَ کُنۡتُمۡ عَلٰی شَفَا حُفۡرَۃٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنۡقَذَکُمۡ مِّنۡہَا ؕ کَذٰلِکَ یُبَیِّنُ اللّٰہُ لَکُمۡ اٰیٰتِہٖ لَعَلَّکُمۡ
تَہۡتَدُوۡنَ ﴿۱۰۴﴾
Dan berpegangteguhlah
kamu sekalian pada tali Allah,
dan janganlah kamu berpecah-belah, dan ingatlah akan nikmat Allah atasmu
ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan, lalu Dia menyatukan hatimu dengan kecintaan
antara satu sama lain
maka dengan nikmat-Nya itu kamu
menjadi bersaudara, dan kamu dahulu berada di tepi jurang Api lalu Dia menyelamatkanmu darinya.
Demikianlah Allah menjelaskan Ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu
mendapat petunjuk. (Ali ‘Imran [3]:104).
Silsilah Khilafat Kenabian
Jadi, jawaban atas pertanyaan balik
tersebut di lingkungan umat Islam tersebut harus terdapat satu golongan umat
Islam yang keadaan segala sesuatunya sama dengan keadaan umat
Islam di zaman awal di masa Nabi Besar Muhammad saw. dan para Khalifatul
Rasyidin (QS.24:56), yang mengenai persamaan tersebut Nabi Besar
Muhammad saw. pernah bersabda bahwa keadaan umat Islam itu adalah seperti hujan
yang turun dari langit, selanjutnya beliau saw. menjelaskan: “Aku tidak
mengetahui apa yang terbaik itu tetesan air hujan yang awal atau yang akhir”.
Sehubungan dengan sabda Nabi Besar Muhammad saw. tersebut Allah Swt. berfirman mengenai dua kali kebangkitan (pengutusan) Nabi Besar Muhammad saw.:
Sehubungan dengan sabda Nabi Besar Muhammad saw. tersebut Allah Swt. berfirman mengenai dua kali kebangkitan (pengutusan) Nabi Besar Muhammad saw.:
ہُوَ الَّذِیۡ
بَعَثَ فِی الۡاُمِّیّٖنَ رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِہٖ
وَ یُزَکِّیۡہِمۡ وَ یُعَلِّمُہُمُ
الۡکِتٰبَ وَ الۡحِکۡمَۃَ ٭
وَ اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ
لَفِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ ۙ﴿۳﴾ وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ ﴿۴﴾ ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ
وَ اللّٰہُ ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ ﴿۵﴾
Dia-lah Yang telah membangkitkan di
kalangan bangsa yang buta huruf seorang rasul
dari antara mereka, yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nya, mensucikan mereka, dan mengajarkan
kepada mereka Kitab dan Hikmah walaupun sebelumnya mereka
berada dalam kesesatan yang nyata, Dan juga akan membangkitkannya pada
kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka. Dan
Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana. Itulah karunia
Allah, Dia menganugerahkannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah
mempunyai karunia yang besar. (Al-Jumu’ah [62]:3-5).
Selanjutnya Allah Swt.
berfirman mengenai akan berlangsungnya sistim Khilafat atas jalan
(minhaaj) kenabian, setelah sistim khilafat kenabian di masa awal hanya berlangsung sampai masa Khalifah Ali bin Abu Thalib r.a., karena selanjutnya yang ada di kalangan umat Islam adalah para sultan (raja) -- walau pun mereka disebut sebagai "khalifah" -- serta kedatangan para mujaddid di setiap awal abad, sebagaimana yang juga disabdakan oleh Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:
وَعَدَ اللّٰہُ
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مِنۡکُمۡ وَ
عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَیَسۡتَخۡلِفَنَّہُمۡ فِی الۡاَرۡضِ کَمَا اسۡتَخۡلَفَ
الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ ۪ وَ لَیُمَکِّنَنَّ لَہُمۡ دِیۡنَہُمُ الَّذِی ارۡتَضٰی لَہُمۡ وَ لَیُبَدِّلَنَّہُمۡ
مِّنۡۢ بَعۡدِ خَوۡفِہِمۡ اَمۡنًا ؕ یَعۡبُدُوۡنَنِیۡ
لَا یُشۡرِکُوۡنَ بِیۡ شَیۡئًا ؕ وَ مَنۡ کَفَرَ بَعۡدَ ذٰلِکَ فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡفٰسِقُوۡنَ ﴿۵۶﴾
Allah telah
berjanji kepada orang-orang yang beriman dan beramal
saleh di antara kamu niscaya Dia
akan menjadikan mereka itu khalifah di bumi ini sebagaimana Dia
telah menjadikan khalifah orang-orang yang sebelum mereka, dan niscaya
Dia akan meneguhkan bagi mereka agamanya yang telah Dia ridhai bagi mereka, dan niscaya Dia akan mengubah keadaan
mereka dengan keamanan sesudah ketakutan mereka. Mereka akan menyembah-Ku
dan mereka tidak akan mempersekutukan sesuatu dengan-Ku, dan barangsiapa
kafir sesudah itu mereka
itulah orang-orang durhaka. (Al-Hajj
[22]:56).
Dikarenakan
ayat ini berlaku sebagai pendahuluan untuk mengantarkan masalah khilafat,
maka dalam ayat-ayat QS.52:55 berulang-ulang telah diberi tekanan mengenai ketaatan
kepada Allah dan rasul-Nya.
Tekanan ini merupakan isyarat mengenai tingkat dan kedudukan seorang khalifah
dalam Islam. Ayat ini berisikan janji bahwa orang-orang Muslim akan dianugerahi
pimpinan ruhani maupun duniawi.
Janji
itu diberikan kepada seluruh umat Islam, tetapi lembaga khilafat akan
mendapat bentuk nyata dalam wujud perorangan-perorangan tertentu, yang akan
menjadi penerus Nabi Besar Muhammad saw. serta wakil seluruh umat Islam. Janji
mengenai ditegakkannya khilafat adalah jelas dan tidak dapat menimbulkan
salah paham.
Pendiri Jemaat Ahmadiyah
Karena
kini Nabi Besar Muhammad saw. satu-satunya hadi (petunjuk
jalan) umat manusia untuk selama-lamanya, khilafat beliau saw. akan
terus berwujud dalam salah satu bentuk di dunia ini sampai Hari Kiamat, karena
semua khilafat yang lain telah tiada lagi. Inilah, di antara banyak
keunggulan yang lainnya lagi, merupakan kelebihan Nabi Besar Muhammad saw. yang menonjol di atas semua nabi dan
rasul Allah lainnya.
Di Akhir zaman Allah Swt. -- sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya dalam QS.61:3-5 -- telah mendirikan khalifah ruhani beliau saw. yang terbesar dalam wujud Pendiri Jemaat Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad a.s. yakni Al-Masih Mau’ud a.s.. atau Rasul Akhir Zaman yang akan mewujudkan kejayaan Islam yang kedua kali, firman-Nya:
Di Akhir zaman Allah Swt. -- sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya dalam QS.61:3-5 -- telah mendirikan khalifah ruhani beliau saw. yang terbesar dalam wujud Pendiri Jemaat Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad a.s. yakni Al-Masih Mau’ud a.s.. atau Rasul Akhir Zaman yang akan mewujudkan kejayaan Islam yang kedua kali, firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡۤ اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ ۙ وَ لَوۡ کَرِہَ الۡمُشۡرِکُوۡنَ ﴿۳۳﴾
Dia-lah Yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama
yang haq (benar), supaya Dia mengunggulkannya atas semua agama
walau pun orang-orang musyrik tidak menyukainya. (Al Taubah
33), lihat pula QS.61:10.
Jadi, itulah keadaan intern umat Islam
yang harus terlebih dahulu dibenahi, yakni terbentuknya satu keadaan umat
Islam sebagaimana ketika Nabi Besar Muhammad saw. dan para Khalifatur
Rasyidin memimpin umat Islam di zaman kejayaan Islam yang pertama. Ada
pun beberapa contoh perbaikan
intern kalangan umat Islam lainnya
adalah berbagai pemahaman umat Islam yang perlu diluruskan, sebagaimana telah dijelaskan dalam Bab-bab
sebelum ini, antara lain:
(1) tentang
peristiwa penyaliban Nabi
Isa Ibnu Maryam a.s., karena mereka berpendapat mengenai firman Allah Swt. dalam QS.4:158-159 bahwa
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. tidak pernah mengalami penangkapan apalagi penyaliban,
sebab menurut pendapat mereka bahwa yang
ditangkap dan dipakukan di tiang salib adalah Yudas Iskariot, murid
durhaka Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., yang wajahnya oleh Allah Swt. telah “disamarkan”
atau “diserupakan” dengan wajah
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.. Ada pun mengenai Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. sendiri
menurut mereka beliau telah “diangkat
hidup-hidup dengan jasad kasarnya ke langit” berdasarkan firman Allah Swt. dalam QS.4:159.
Padahal Allah Swt. dengan jelas telah
menyatakan bahwa seluruh Rasul Allah yang diutus sebelum Nabi Besar Muhammad
saw., seperti juga beliau saw. semuanya telah wafat, termasuk Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.3:55,
145; QS.5:76; QS.21:35-36).
(2)
Tentang kedatangan beliau kedua kali sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi
Besar Muhammad saw., bahwa menurut mereka Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. yang pernah diutus sebagai rasul Allah
kepada Bani Israil itulah yang akan turun dari langit untuk mewujudkan kejayaan Islam yang kedua kali.
Padahal selain Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. telah wafat, menurut Allah Swt. yang dimaksudkan dengan
kedatangan beliau kedua kali adalah kedatangan misal Nabi Isa Ibnu Maryam
a.s. (QS.43:58), sebagaimana halnya Nabi Besar Muhammad saw. adalah misal
Nabi Musa a.s. (QS.46:11).
“4 Burung” Nabi Ibrahim a.s. &
Pembukaan Rahasia Gaib kepada Rasul Allah
Jadi,
sebagaimana di kalangan Bani Israil ada Musa dan Isa,
maka di kalangan Bani Ismail
ada misal Musa dan misal Isa, dengan
demikian “burung” Nabi Ibrahim a.s. benar-benar jumlahnya “4 ekor burung”
(QS.2:261), sebab kalau Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. Israili datang dua
kali maka bukan saja berarti jumlah
“burung” Nabi Ibrahim a.s. hanya “3 ekor”, tetapi juga hal itu merupakan tindakan Allah Swt. yang tidak adil bagi Bani Ismail
– na’udzubilLaahi min dzaalik -- serta merupakan kesia-siaan Allah Swt. memindahkan nikmat kenabian
dari Bani Israil kepada Bani Ismail dengan mengutus Nabi Besar Muhammad saw.
(QS.2:128-130), dan karena menurut
mereka tidak boleh ada wahyu baru dan nabi baru lagi jenis apa
pun setelah Nabi Besar Muhammad saw,
maka yang menjadi Rasul Akhir Zaman adalah Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s. dari Bani Israil lagi. Jika benar demikian, dimana letak kebenaran bahwa umat Islam merupakan umat
terbaik yang dijadikan untuk kepantingan seluruh umat manusia (QS.2:144;
QS.3:111)?
Itulah berbagai contoh dari banyak contoh lainnya yang perlu dibenahi
di kalangan umumnya Umat Islam, sebelum umat
Islam dapat mewujudkan kejayaannya
yang kedua kali di Akhir Zaman ini, yang menurut Allah Swt. merupakan
tugas Rasul Allah untuk mewujudkannya, yakni Rasul Akhir Zaman,
sebab hanya kepada Rasul Allah sajalah Dia memberitakan hal-hal gaib-Nya, firman-Nya:
قُلۡ اِنۡ
اَدۡرِیۡۤ اَقَرِیۡبٌ مَّا
تُوۡعَدُوۡنَ اَمۡ یَجۡعَلُ لَہٗ
رَبِّیۡۤ اَمَدًا ﴿۲۶﴾ عٰلِمُ الۡغَیۡبِ
فَلَا یُظۡہِرُ عَلٰی غَیۡبِہٖۤ اَحَدًا ﴿ۙ۲۷﴾ اِلَّا مَنِ ارۡتَضٰی مِنۡ رَّسُوۡلٍ فَاِنَّہٗ یَسۡلُکُ
مِنۡۢ بَیۡنِ یَدَیۡہِ وَ مِنۡ خَلۡفِہٖ رَصَدًا ﴿ۙ۲۸﴾ لِّیَعۡلَمَ اَنۡ
قَدۡ اَبۡلَغُوۡا رِسٰلٰتِ
رَبِّہِمۡ وَ اَحَاطَ بِمَا لَدَیۡہِمۡ وَ اَحۡصٰی کُلَّ شَیۡءٍ عَدَدًا ﴿٪۲۹﴾
Katakanlah: “Aku tidak mengetahui
apakah yang dijanjikan kepada kamu itu telah dekat ataukah Tuhan-ku telah
menetapkan baginya masa yang lama.” Dia-lah
Yang mengetahui yang gaib, maka Dia tidak menzahirkan rahasia
gaib-Nya kepada siapa pun, kecuali
kepada Rasul yang Dia ridhai, maka sesungguhnya barisan pengawal
berjalan di hadapannya dan di belakangnya, supaya Dia mengetahui
bahwa sungguh mereka telah menyampaikan Amanat-amanat
Tuhan mereka, dan Dia
meliputi semua yang ada pada mereka dan Dia membuat perhitungan mengenai segala
sesuatu. (Al-Jin [72]:27-29).
Ungkapan, “izhhar ‘ala
al-ghaib” berarti: diberi pengetahuan dengan sering dan secara
berlimpah-limpah mengenai rahasia gaib bertalian dengan dan mengenai peristiwa
dan kejadian yang sangat penting.
Ayat
ini merupakan ukuran yang tiada tara bandingannya guna membedakan antara sifat
dan jangkauan rahasia-rahasia gaib yang dibukakan kepada seorang rasul
Allah dan rahasia-rahasia
gaib yang dibukakan kepada orang-orang
beriman yang bertakwa lainnya.
Perbedaan itu letaknya pada
kenyataan bahwa, kalau rasul-rasul Allah dianugerahi izhhar ‘ala al-ghaib yakni
penguasaan atas yang gaib, maka rahasia-rahasia yang diturunkan kepada
orang-orang bertakwa dan orang-orang suci lainnya tidak menikmati kehormatan
serupa itu. Tambahan pula wahyu yang dianugerahkan kepada rasul-rasul
Allah, karena ada
dalam pemeliharaan-istimewa-Ilahi, keadaannya aman dari pemutar-balikkan
atau pemalsuan oleh jiwa-jiwa yang jahat, sedang rahasia-rahasia yang
dibukakan kepada orang-orang bertakwa lainnya tidak begitu terpelihara.
Wahyu rasul-rasul Allah itu dijamin keamanannya terhadap pemutarbalikkan atau
pemalsuan, sebab para rasul itu membawa tugas dari Allah Swt. yang harus dipenuhi dan mengemban Amanat Ilahi
yang harus disampaikan oleh mereka.
(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid
Tidak ada komentar:
Posting Komentar