Rabu, 15 Februari 2012

Berdirinya "Khilafat Kenabian" di Akhir Zaman

بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ

 
HUBUNGAN  NABI YUSUF A.S. 
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
  
Bagian   XLX  
Tentang

        Berdirinya "Khilafat Kenabian" di Akhir Zaman
  
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
وَعَدَ  اللّٰہُ  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا مِنۡکُمۡ وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَیَسۡتَخۡلِفَنَّہُمۡ فِی الۡاَرۡضِ کَمَا اسۡتَخۡلَفَ الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ ۪ وَ لَیُمَکِّنَنَّ لَہُمۡ دِیۡنَہُمُ  الَّذِی ارۡتَضٰی لَہُمۡ وَ لَیُبَدِّلَنَّہُمۡ مِّنۡۢ بَعۡدِ خَوۡفِہِمۡ  اَمۡنًا ؕ یَعۡبُدُوۡنَنِیۡ لَا  یُشۡرِکُوۡنَ بِیۡ شَیۡئًا ؕ وَ مَنۡ  کَفَرَ بَعۡدَ ذٰلِکَ فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ  الۡفٰسِقُوۡنَ ﴿۵۶
Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman  dan  beramal saleh di antara kamu niscaya Dia  akan menjadikan mereka itu khalifah di bumi ini sebagaimana Dia telah menjadikan khalifah orang-orang yang sebelum mereka, dan niscaya Dia akan meneguhkan bagi mereka agamanya yang telah Dia ridhai bagi mereka,  dan niscaya Dia akan mengubah keadaan mereka dengan keamanan sesudah ketakutan mereka. Mereka akan menyembah-Ku dan mereka tidak akan mempersekutukan sesuatu dengan-Ku, dan barangsiapa kafir sesudah itu  mereka itulah orang-orang  durhaka. (Al-Hajj [22]:56).

Dalam   Bab sebelumnya telah dikemukakan bahwa  salah satu jawaban pertanyaan balik dari panggilan (seruan)  para pemuka umat Islam  kepada umat-umat dari kalangan agama-agama lainnya untuk bergabung ke dalam agama Islam, yakni: “Kepada  golongan umat Islam dan ajaran Islam yang mana kami harus menggabungkan diri? Bukankah di kalangan umat Islam pun banyak terdapat sekte dan firqah yang saling bertentangan, bahkan yang satu dengan yang lainnya saling mengkafirkan  dan saling serang?  Mengapa kalian tidak terlebih dulu memperbaiki keadaan di lingkungan kalian sendiri?”

Mendirikan suatu “Jemaat Ilahi”

         Jadi, jawabannya yang paling tetap adalah sebagaimana sabda Nabi Besar Muhammad saw. mengenai satu  golongan umat Islam    dari 73 firqah yang berada dalam “api”, yang keadaan golongan umat Islam tersebut sama dengan keadaan awal umat Islam, yakni didirikan oleh Rasul Allah, dan sebagai suatu jama’ah  Ilahi golongan tersebut kemudian dipimpin oleh para Khalifah Rasul Allah, firman-Nya:
مَا  کَانَ اللّٰہُ لِیَذَرَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ عَلٰی مَاۤ  اَنۡتُمۡ عَلَیۡہِ حَتّٰی یَمِیۡزَ  الۡخَبِیۡثَ مِنَ الطَّیِّبِ ؕ وَ مَا کَانَ اللّٰہُ لِیُطۡلِعَکُمۡ عَلَی الۡغَیۡبِ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ یَجۡتَبِیۡ مِنۡ رُّسُلِہٖ مَنۡ یَّشَآءُ ۪ فَاٰمِنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ ۚ وَ  اِنۡ تُؤۡمِنُوۡا وَ تَتَّقُوۡا فَلَکُمۡ  اَجۡرٌ  عَظِیۡمٌ ﴿۱۸۰
Allah sekali-kali tidak akan  membiarkan orang-orang yang beriman di dalam keadaan kamu berada di dalamnya  hingga  Dia memisahkan yang buruk dari yang baik. Dan Allah sekali-kali tidak akan  memperlihatkan  yang gaib kepada kamu, tetapi Allah memilih  di antara rasul-rasul-Nya siapa yang Dia kehendaki, karena itu berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan jika kamu beriman dan bertakwa, maka bagimu ganjaran yang besar. (Ali ‘Imran [3]:180).
      Dalam Surah lainnya Allah Swt. telah berfirman kepada Nabi Besar Muhammad saw. mengenai keberhasilan beliau saw. membangun suatu jama’ah Muslim yang benar-benar merupakan “umat terbaik” yang dijadikan untuk  manfaat umat manusia  (QS.2:144; QS.3:111) bukan melalui harta-kekayaan yang berlimpah-ruah atau pun melalui kekuasaan tanpa batas dan tanpa tanding, melainkan melalui kecintaan hati mereka kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya, sehingga terbentuk “persaudaraan ruhani” yang mengakibatkan  terjadinya kesatuan dan persatuan di kalangan umat Islam, firman-Nya:
وَ اَلَّفَ بَیۡنَ قُلُوۡبِہِمۡ ؕ لَوۡ اَنۡفَقۡتَ مَا فِی الۡاَرۡضِ جَمِیۡعًا مَّاۤ  اَلَّفۡتَ بَیۡنَ قُلُوۡبِہِمۡ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ  اَلَّفَ بَیۡنَہُمۡ ؕ اِنَّہٗ  عَزِیۡزٌ  حَکِیۡمٌ ﴿۶۴ یٰۤاَیُّہَا النَّبِیُّ حَسۡبُکَ اللّٰہُ وَ مَنِ اتَّبَعَکَ  مِنَ  الۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿٪۶۵
Dan Dia telah menanamkan kecintaan di antara hati mereka, seandainya engkau membelanjakan yang ada di bumi ini seluruhnya, engkau  sekali-kali tidak akan dapat menanamkan kecintaan di antara hati mereka, tetapi Allah  telah menanamkan kecintaan di antara mereka, sesungguhnya Dia Maha Perkasa, Maha Bijaksana.   Hai Nabi,    Allah mencukupi bagi engkau dan bagi  orang-orang yang mengikuti engkau di antara orang-orang beriman. (Al-Anfaal [8]:64-65).
       Firman Allah Swt. ini  sangat erat hubungannya – dan bahkan merupakan penjelasan – dari firman Allah Swt.  berikut ini:
وَ اعۡتَصِمُوۡا بِحَبۡلِ اللّٰہِ جَمِیۡعًا وَّ لَا تَفَرَّقُوۡا ۪ وَ اذۡکُرُوۡا نِعۡمَتَ اللّٰہِ عَلَیۡکُمۡ  اِذۡ  کُنۡتُمۡ اَعۡدَآءً فَاَلَّفَ بَیۡنَ قُلُوۡبِکُمۡ فَاَصۡبَحۡتُمۡ بِنِعۡمَتِہٖۤ اِخۡوَانًا ۚ وَ کُنۡتُمۡ عَلٰی شَفَا حُفۡرَۃٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنۡقَذَکُمۡ مِّنۡہَا ؕ کَذٰلِکَ یُبَیِّنُ اللّٰہُ لَکُمۡ اٰیٰتِہٖ  لَعَلَّکُمۡ  تَہۡتَدُوۡنَ ﴿۱۰۴  
Dan  berpegangteguhlah kamu sekalian pada tali  Allah, dan janganlah kamu berpecah-belah, dan  ingatlah akan nikmat Allah atasmu ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan, lalu  Dia menyatukan hatimu dengan kecintaan  antara satu sama lain maka  dengan nikmat-Nya itu kamu menjadi bersaudara, dan kamu dahulu berada di tepi jurang Api  lalu Dia menyelamatkanmu darinya. Demikianlah Allah menjelaskan Ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu mendapat petunjuk.   (Ali ‘Imran [3]:104).

Silsilah Khilafat Kenabian

      Jadi, jawaban atas pertanyaan balik tersebut di lingkungan umat Islam tersebut harus terdapat satu golongan umat Islam yang keadaan segala sesuatunya sama dengan keadaan umat Islam di zaman awal di masa Nabi Besar Muhammad saw. dan para Khalifatul Rasyidin (QS.24:56), yang mengenai persamaan tersebut Nabi Besar Muhammad saw. pernah bersabda bahwa keadaan umat Islam itu adalah seperti hujan yang turun dari langit, selanjutnya beliau saw. menjelaskan: “Aku tidak mengetahui apa yang terbaik itu tetesan air hujan yang  awal atau yang  akhir”.
     Sehubungan dengan  sabda Nabi Besar Muhammad saw.  tersebut Allah Swt. berfirman mengenai dua kali kebangkitan (pengutusan) Nabi Besar Muhammad saw.:
  ہُوَ الَّذِیۡ  بَعَثَ فِی  الۡاُمِّیّٖنَ  رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ  یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ  اٰیٰتِہٖ  وَ  یُزَکِّیۡہِمۡ وَ  یُعَلِّمُہُمُ  الۡکِتٰبَ وَ  الۡحِکۡمَۃَ ٭ وَ  اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ  قَبۡلُ  لَفِیۡ ضَلٰلٍ  مُّبِیۡنٍ ۙ﴿۳  وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ ﴿۴  ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ ﴿۵
Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan bangsa yang buta huruf seorang rasul dari antara mereka, yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nyamensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah walaupun sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata, Dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana. Itulah karunia Allah, Dia menganugerahkannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (Al-Jumu’ah [62]:3-5).
     Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai akan berlangsungnya sistim Khilafat atas jalan (minhaaj) kenabian, setelah sistim khilafat  kenabian  di masa awal hanya berlangsung sampai masa Khalifah Ali  bin Abu Thalib r.a.,  karena selanjutnya yang ada di kalangan umat Islam adalah para sultan (raja) -- walau pun mereka disebut sebagai "khalifah" -- serta  kedatangan para mujaddid di setiap awal abad, sebagaimana yang juga disabdakan oleh Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:
وَعَدَ  اللّٰہُ  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا مِنۡکُمۡ وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَیَسۡتَخۡلِفَنَّہُمۡ فِی الۡاَرۡضِ کَمَا اسۡتَخۡلَفَ الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ ۪ وَ لَیُمَکِّنَنَّ لَہُمۡ دِیۡنَہُمُ  الَّذِی ارۡتَضٰی لَہُمۡ وَ لَیُبَدِّلَنَّہُمۡ مِّنۡۢ بَعۡدِ خَوۡفِہِمۡ  اَمۡنًا ؕ یَعۡبُدُوۡنَنِیۡ لَا  یُشۡرِکُوۡنَ بِیۡ شَیۡئًا ؕ وَ مَنۡ  کَفَرَ بَعۡدَ ذٰلِکَ فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ  الۡفٰسِقُوۡنَ ﴿۵۶
Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman  dan  beramal saleh di antara kamu niscaya Dia  akan menjadikan mereka itu khalifah di bumi ini sebagaimana Dia telah menjadikan khalifah orang-orang yang sebelum mereka, dan niscaya Dia akan meneguhkan bagi mereka agamanya yang telah Dia ridhai bagi mereka,  dan niscaya Dia akan mengubah keadaan mereka dengan keamanan sesudah ketakutan mereka. Mereka akan menyembah-Ku dan mereka tidak akan mempersekutukan sesuatu dengan-Ku, dan barangsiapa kafir sesudah itu  mereka itulah orang-orang  durhaka. (Al-Hajj [22]:56).
       Dikarenakan ayat ini berlaku sebagai pendahuluan untuk mengantarkan masalah khilafat, maka dalam ayat-ayat QS.52:55 berulang-ulang telah diberi tekanan mengenai ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya. Tekanan ini merupakan isyarat mengenai tingkat dan kedudukan seorang khalifah dalam Islam. Ayat ini berisikan janji bahwa orang-orang Muslim akan dianugerahi pimpinan ruhani maupun duniawi.
     Janji itu diberikan kepada seluruh umat Islam, tetapi lembaga khilafat akan mendapat bentuk nyata dalam wujud perorangan-perorangan tertentu, yang akan menjadi penerus Nabi Besar Muhammad saw.  serta wakil seluruh umat Islam. Janji mengenai ditegakkannya khilafat adalah jelas dan tidak dapat menimbulkan salah paham.

Pendiri  Jemaat  Ahmadiyah

       Karena  kini Nabi Besar Muhammad saw.  satu-satunya hadi (petunjuk jalan) umat manusia untuk selama-lamanya, khilafat beliau saw. akan terus berwujud dalam salah satu bentuk di dunia ini sampai Hari Kiamat, karena semua khilafat yang lain telah tiada lagi. Inilah, di antara banyak keunggulan yang lainnya lagi, merupakan kelebihan Nabi Besar Muhammad saw. yang menonjol di atas semua nabi dan rasul Allah lainnya. 
      Di Akhir zaman  Allah Swt. -- sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya dalam QS.61:3-5 --  telah mendirikan khalifah ruhani beliau saw. yang terbesar dalam wujud Pendiri Jemaat Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad a.s. yakni Al-Masih Mau’ud a.s.. atau Rasul Akhir Zaman yang akan mewujudkan kejayaan Islam yang kedua kali, firman-Nya: 
ہُوَ الَّذِیۡۤ  اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ              بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ ۙ وَ لَوۡ کَرِہَ  الۡمُشۡرِکُوۡنَ ﴿۳۳
Dia-lah Yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang haq (benar), supaya Dia mengunggulkannya atas semua agama walau pun orang-orang musyrik tidak menyukainya. (Al Taubah 33), lihat pula QS.61:10.
    Jadi, itulah keadaan intern umat Islam yang harus terlebih dahulu dibenahi, yakni terbentuknya satu keadaan umat Islam sebagaimana ketika Nabi Besar Muhammad saw. dan para Khalifatur Rasyidin memimpin umat Islam di zaman kejayaan Islam yang pertama. Ada pun  beberapa contoh perbaikan intern  kalangan umat Islam lainnya adalah berbagai pemahaman umat Islam yang perlu diluruskan, sebagaimana telah dijelaskan dalam  Bab-bab  sebelum ini, antara lain:  
      (1)  tentang  peristiwa penyaliban  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., karena mereka berpendapat mengenai  firman Allah Swt. dalam QS.4:158-159 bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. tidak pernah mengalami penangkapan apalagi penyaliban, sebab  menurut pendapat mereka bahwa yang ditangkap dan dipakukan di tiang salib adalah Yudas Iskariot, murid durhaka Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., yang wajahnya oleh Allah Swt. telah “disamarkan” atau “diserupakan”  dengan wajah Nabi Isa Ibnu Maryam a.s..  Ada pun  mengenai Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. sendiri menurut mereka beliau telah  “diangkat hidup-hidup dengan jasad kasarnya ke langit”  berdasarkan firman Allah Swt. dalam QS.4:159. Padahal  Allah Swt. dengan jelas telah menyatakan bahwa seluruh Rasul Allah yang diutus sebelum Nabi Besar Muhammad saw., seperti juga beliau saw. semuanya telah wafat,  termasuk Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.3:55, 145; QS.5:76; QS.21:35-36).
     (2) Tentang kedatangan beliau kedua kali sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi Besar Muhammad saw., bahwa menurut mereka Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  yang pernah diutus sebagai rasul Allah kepada Bani Israil itulah yang akan turun dari langit   untuk mewujudkan  kejayaan Islam yang kedua kali. Padahal selain Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. telah wafat,   menurut Allah Swt. yang dimaksudkan dengan kedatangan beliau kedua kali adalah kedatangan misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58), sebagaimana halnya Nabi Besar Muhammad saw. adalah misal Nabi Musa a.s. (QS.46:11).

“4 Burung” Nabi Ibrahim a.s. &
Pembukaan Rahasia Gaib kepada Rasul Allah

     Jadi, sebagaimana di kalangan Bani Israil ada Musa dan Isa, maka  di kalangan Bani Ismail ada misal Musa dan misal Isa, dengan demikian “burung” Nabi Ibrahim a.s. benar-benar jumlahnya “4 ekor burung” (QS.2:261), sebab kalau Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. Israili datang dua kali maka bukan saja  berarti jumlah “burung” Nabi Ibrahim a.s. hanya “3 ekor”, tetapi  juga hal itu merupakan  tindakan Allah Swt.  yang tidak adil bagi Bani Ismail – na’udzubilLaahi min dzaalik --   serta merupakan kesia-siaan  Allah Swt. memindahkan nikmat kenabian dari Bani Israil kepada Bani Ismail   dengan mengutus Nabi Besar Muhammad saw. (QS.2:128-130), dan karena    menurut mereka tidak boleh ada wahyu baru dan nabi baru lagi jenis apa pun setelah Nabi Besar Muhammad saw,  maka yang menjadi Rasul Akhir Zaman adalah Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  dari   Bani Israil lagi.  Jika benar demikian, dimana letak kebenaran bahwa umat Islam merupakan umat terbaik yang dijadikan untuk kepantingan seluruh umat manusia (QS.2:144; QS.3:111)?
     Itulah berbagai contoh dari  banyak contoh lainnya yang perlu dibenahi di kalangan umumnya Umat Islam, sebelum  umat Islam  dapat mewujudkan kejayaannya yang kedua kali di Akhir Zaman ini, yang menurut Allah Swt. merupakan tugas Rasul Allah untuk mewujudkannya, yakni Rasul Akhir Zaman, sebab hanya kepada Rasul Allah sajalah Dia memberitakan hal-hal gaib-Nya, firman-Nya:
 قُلۡ  اِنۡ  اَدۡرِیۡۤ  اَقَرِیۡبٌ مَّا تُوۡعَدُوۡنَ اَمۡ  یَجۡعَلُ  لَہٗ  رَبِّیۡۤ   اَمَدًا ﴿۲۶  عٰلِمُ الۡغَیۡبِ فَلَا یُظۡہِرُ عَلٰی غَیۡبِہٖۤ اَحَدًا ﴿ۙ۲۷   اِلَّا مَنِ ارۡتَضٰی مِنۡ رَّسُوۡلٍ فَاِنَّہٗ یَسۡلُکُ مِنۡۢ  بَیۡنِ یَدَیۡہِ  وَ مِنۡ خَلۡفِہٖ رَصَدًا ﴿ۙ۲۸  لِّیَعۡلَمَ  اَنۡ  قَدۡ  اَبۡلَغُوۡا رِسٰلٰتِ رَبِّہِمۡ وَ اَحَاطَ بِمَا لَدَیۡہِمۡ وَ اَحۡصٰی کُلَّ  شَیۡءٍ عَدَدًا ﴿٪۲۹
Katakanlah: “Aku tidak mengetahui apakah yang dijanjikan kepada kamu itu telah dekat ataukah Tuhan-ku telah menetapkan baginya masa yang lama.”  Dia-lah Yang mengetahui yang gaib, maka Dia tidak menzahirkan rahasia gaib-Nya kepada siapa pun,    kecuali kepada Rasul yang Dia ridhai, maka sesungguhnya barisan pengawal berjalan di hadapannya dan di belakangnya, supaya Dia mengetahui bahwa  sungguh  mereka telah menyampaikan Amanat-amanat Tuhan mereka,  dan Dia meliputi semua yang ada pada mereka dan Dia membuat perhitungan mengenai segala sesuatu. (Al-Jin [72]:27-29).
 Ungkapan, “izhhar ‘ala al-ghaib” berarti: diberi pengetahuan dengan sering dan secara berlimpah-limpah mengenai rahasia gaib bertalian dengan dan mengenai peristiwa dan kejadian yang sangat penting.
Ayat ini merupakan ukuran yang tiada tara bandingannya guna membedakan antara sifat dan jangkauan rahasia-rahasia gaib yang dibukakan kepada seorang rasul Allah dan rahasia-rahasia gaib yang dibukakan kepada orang-orang   beriman  yang bertakwa lainnya.
Perbedaan itu letaknya pada kenyataan bahwa, kalau rasul-rasul Allah dianugerahi izhhar ‘ala al-ghaib yakni penguasaan atas yang gaib, maka rahasia-rahasia yang diturunkan kepada orang-orang bertakwa dan orang-orang suci lainnya tidak menikmati kehormatan serupa itu. Tambahan pula wahyu yang dianugerahkan kepada rasul-rasul Allah, karena ada dalam pemeliharaan-istimewa-Ilahi, keadaannya aman dari pemutar-balikkan atau pemalsuan oleh jiwa-jiwa yang jahat, sedang rahasia-rahasia yang dibukakan kepada orang-orang bertakwa lainnya tidak begitu terpelihara.
 Wahyu rasul-rasul Allah itu dijamin keamanannya terhadap pemutarbalikkan atau pemalsuan, sebab para rasul itu membawa tugas dari Allah Swt. yang harus dipenuhi dan mengemban Amanat Ilahi yang harus disampaikan oleh mereka. 

(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar