بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
HUBUNGAN NABI YUSUF A.S.
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
Bagian XLXII
Tentang
Tanda-tanda Ilahi Selalu Didustakan
Para Penentang Rasul Allah
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
ذٰلِکَ مِنۡ اَنۡۢبَآءِ الۡغَیۡبِ نُوۡحِیۡہِ اِلَیۡکَ ۚ وَ مَا کُنۡتَ لَدَیۡہِمۡ اِذۡ اَجۡمَعُوۡۤا اَمۡرَہُمۡ وَ ہُمۡ یَمۡکُرُوۡنَ ﴿۱۰۳﴾ وَ مَاۤ اَکۡثَرُ النَّاسِ وَ
لَوۡ حَرَصۡتَ بِمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿۱۰۴﴾ وَ مَا تَسۡـَٔلُہُمۡ عَلَیۡہِ مِنۡ اَجۡرٍ ؕ اِنۡ ہُوَ اِلَّا ذِکۡرٌ لِّلۡعٰلَمِیۡنَ ﴿۱۰۵﴾٪
Itulah dari kabar-kabar gaib yang telah Kami wahyukan kepada
engkau, dan engkau tidak beserta mereka ketika mereka telah sepakat mengenai urusan mereka dan mereka akan melakukan makar. Dan kebanyakan manusia sama sekali
tidak akan beriman, walaupun engkau sangat menginginkan. Dan engkau sama sekali tidak minta ganjaran
apa pun dari mereka, itu
tidak lain melainkan kehormatan untuk seluruh umat manusia. (Yusuf
[12]:103-106).
Dalam Bab
sebelumnya telah dikemukakan takdir
Allah Swt. mengenai kemenangan perjuangan suci para Rasul Allah pada akhirnya, walau
pun mereka sebelumnya harus menghadapi
berbagai macam “makar buruk” yang dilakukan oleh para penentang mereka, namun “makar tandingan” Allah Swt.
itulah yang selalu muncul sebagai pemenang,
walau pun prosesnya berlangsung “sunyi-senyap” -- tidak ingar-bingar seperti “makar buruk” yang dilakukan oleh para penentang rasul
Allah -- tetapi mencapai berbagai target yang telah ditetapkan
Allah Swt.. Dalam makna itulah “Kun fayakun” (Jadilah, maka terjadilah),
yakni tidak ada yang dapat menggagalkan kehendak Allah Swt. mengenai
sesuatu.
Sembilan Tanda (Mukjizat) Nabi Musa a.s.
Dari sekian banyak target yang telah ditetapkan Allah Swt. tersebut
adalah mereka tetap tidak dapat mengenali atau mendustakan berbagai
macam Tanda (mukjizat) Allah Swt. yang diperlihatkan-Nya melalui para rasul Allah tersebut.
Contohnya, Allah Swt. telah menyatakan bahwa
untuk mendukung benarnya
pendakwaan Nabi Musa a.s. Allah Swt. telah
memperlihatkan 9 buah Tanda (mukjizat) kepada Fir’aun, akan tetapi tetap saja Fir’aun tidak menganggap Tanda-tanda
yang mendukung pendakwaan Nabi Musa a.s. tersebut sebagai mukjizat dan ia
tetap mendustakan dan menentang Nabi Musa a.s. dan Nabi Harun a.s.,
firman-Nya:
وَ
لَقَدۡ اٰتَیۡنَا مُوۡسٰی تِسۡعَ اٰیٰتٍۭ بَیِّنٰتٍ فَسۡـَٔلۡ بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ اِذۡ جَآءَہُمۡ فَقَالَ
لَہٗ فِرۡعَوۡنُ اِنِّیۡ لَاَظُنُّکَ یٰمُوۡسٰی مَسۡحُوۡرًا ﴿۱۰۲﴾ قَالَ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَاۤ اَنۡزَلَ ہٰۤؤُلَآءِ اِلَّا رَبُّ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ
بَصَآئِرَ ۚ وَ اِنِّیۡ لَاَظُنُّکَ یٰفِرۡعَوۡنُ مَثۡبُوۡرًا ﴿۱۰۳﴾ فَاَرَادَ اَنۡ
یَّسۡتَفِزَّہُمۡ مِّنَ الۡاَرۡضِ فَاَغۡرَقۡنٰہُ
وَ مَنۡ مَّعَہٗ جَمِیۡعًا ﴿۱۰۴﴾ۙ
Dan sungguh Kami benar-benar telah memberi Musa sembilan
buah Tanda yang terang, maka tanyakanlah kepada Bani Israil. Ketika
ia datang kepada mereka maka Fir’aun berkata kepadanya:
“Sesungguhnya aku menganggap engkau, hai Musa, seorang yang kena
sihir.” Ia berkata: “Sungguh engkau benar-benar telah mengetahui bahwa
sama sekali tidak ada yang menurunkan Tanda-tanda
ini, melainkan Tuhan seluruh langit dan bumi sebagai bukti-bukti
nyata, dan sesungguhnya aku
benar-benar yakin engkau, hai Fir’aun, orang yang akan
binasa.” Maka ia (Fir’aun) telah
bertekad mengusir mereka dari negeri itu, tetapi Kami menenggelamkannya dan orang-orang yang beserta dia semuanya.
(Bani Israil [17]:102-104).
Sembilan
Tanda ini yang telah tersebut di tempat lain dalam Al-Quran ialah (1)
tongkat (QS.7:108); (2) tangan putih (QS.7:109); (3) musim kering
dan kekurangan buah-buahan (QS.7:131); (4) badai; (5) belalang; (6)
kutu; (7) katak; dan (8) azab darah (QS.7:134). Tanda kesembilan
adalah menyebrangi laut setelah Nabi
Musa a.s. atas perintah Allah Swt. memukulkan atau mengarahkan tongkat
beliau ke laut, sehingga mulai terjadi proses pasang surut yang keadaannya
berbeda dengan yang selama itu
terjadi di wilayah tersebut.
Jadi, sebagaimana para pemimpin kafir
Quraisy tidak membiarkan Nabi Besar Muhamad saw. dapat meloloskan diri dari “makar buruk” mereka -- sehingga ketika
mereka mengetahui beliau saw. telah lolos dari kepungan mereka di rumah yang
mereka kepung secara ketat, lalu mereka mengejar beliau saw. dalam
perjalanan hijrah ke Madinah
sampai di depan gua Tsur, tempat beliau saw. dan Abu Bakar Shiddiq r.a.
bersembunyi -- demikian pula halnya
dengan Fir’aun, firman-Nya:
اِلَّا تَنۡصُرُوۡہُ فَقَدۡ نَصَرَہُ
اللّٰہُ اِذۡ اَخۡرَجَہُ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا ثَانِیَ اثۡنَیۡنِ اِذۡ ہُمَا فِی الۡغَارِ اِذۡ یَقُوۡلُ لِصَاحِبِہٖ لَا تَحۡزَنۡ اِنَّ اللّٰہَ مَعَنَا ۚ فَاَنۡزَلَ اللّٰہُ سَکِیۡنَتَہٗ عَلَیۡہِ وَ اَیَّدَہٗ بِجُنُوۡدٍ لَّمۡ تَرَوۡہَا وَ جَعَلَ کَلِمَۃَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوا السُّفۡلٰی ؕ وَ کَلِمَۃُ اللّٰہِ ہِیَ الۡعُلۡیَا ؕ وَ اللّٰہُ عَزِیۡزٌ حَکِیۡمٌ ﴿۴۰﴾
Jika kamu tidak menolongnya maka sungguh Allah telah menolongnya ketika ia (Rasulullah)
diusir oleh orang-orang kafir, sedangkan ia kedua dari yang dua ketika
keduanya berada dalam gua, lalu ia (Rasulullah) berkata kepada temannya: “Janganlah
engkau sedih sesungguhnya Allah beserta kita”, lalu Allah menurunkan ketenteraman-Nya
kepadanya dan menolongnya
dengan lasykar-lasykar yang kamu tidak melihatnya, dan Dia menjadikan perkataan orang-orang
yang kafir itu rendah sedangkan Kalimah Allah itulah yang tertinggi,
dan Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (Al-Taubah
[9]:40).
Keimanan Para Pengikut Nabi Musa a.s. Sangat Lemah
Berikut firman Allah Swt. mengenai pengejaran yang dilakukan Fir’aun dan bala
tentaranya ketika ia mengetahui Bani
Israil telah pergi meninggalkan Mesir
bersama dengan Nabi Musa a.s. dan Nabi Harun a.s. pada malam hari:
وَ
اَوۡحَیۡنَاۤ اِلٰی مُوۡسٰۤی اَنۡ اَسۡرِ
بِعِبَادِیۡۤ اِنَّکُمۡ مُّتَّبَعُوۡنَ ﴿۵۳﴾ فَاَرۡسَلَ فِرۡعَوۡنُ
فِی الۡمَدَآئِنِ حٰشِرِیۡنَ ﴿ۚ۵۴﴾ اِنَّ ہٰۤؤُلَآءِ
لَشِرۡ ذِمَۃٌ قَلِیۡلُوۡنَ ﴿ۙ۵۵﴾ وَ اِنَّہُمۡ
لَنَا لَغَآئِظُوۡنَ ﴿ۙ۵۶﴾ وَ اِنَّا
لَجَمِیۡعٌ حٰذِرُوۡنَ ﴿ؕ۵۷﴾ فَاَخۡرَجۡنٰہُمۡ
مِّنۡ جَنّٰتٍ وَّ عُیُوۡنٍ ﴿ۙ۵۸﴾ وَّ کُنُوۡزٍ وَّ مَقَامٍ
کَرِیۡمٍ ﴿ۙ۵۹﴾ کَذٰلِکَ ؕ وَ اَوۡرَثۡنٰہَا بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ ﴿ؕ۶۰﴾ فَاَتۡبَعُوۡہُمۡ
مُّشۡرِقِیۡنَ ﴿۶۱﴾ فَلَمَّا تَرَآءَ
الۡجَمۡعٰنِ قَالَ اَصۡحٰبُ مُوۡسٰۤی
اِنَّا لَمُدۡرَکُوۡنَ ﴿ۚ۶۲﴾ قَالَ کَلَّا ۚ اِنَّ مَعِیَ
رَبِّیۡ سَیَہۡدِیۡنِ ﴿۶۳﴾ فَاَوۡحَیۡنَاۤ اِلٰی مُوۡسٰۤی اَنِ اضۡرِبۡ بِّعَصَاکَ الۡبَحۡرَ ؕ فَانۡفَلَقَ فَکَانَ کُلُّ
فِرۡقٍ کَالطَّوۡدِ الۡعَظِیۡمِ ﴿ۚ۶۴﴾ وَ اَزۡلَفۡنَا ثَمَّ الۡاٰخَرِیۡنَ ﴿ۚ۶۵﴾ وَ اَنۡجَیۡنَا
مُوۡسٰی وَ مَنۡ مَّعَہٗۤ اَجۡمَعِیۡنَ ﴿ۚ۶۶﴾ ثُمَّ اَغۡرَقۡنَا
الۡاٰخَرِیۡنَ ﴿ؕ۶۷﴾ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیَۃً ؕ وَ مَا کَانَ اَکۡثَرُہُمۡ مُّؤۡمِنِیۡنَ ﴿۶۸۶۷﴾ وَ اِنَّ
رَبَّکَ لَہُوَ الۡعَزِیۡزُ الرَّحِیۡمُ ﴿٪۶۹﴾
Dan Kami mewahyukan kepada Musa: “Bawalah hamba-hamba-Ku
pada waktu malam hari, sesungguhnya kamu akan dikejar.” Dan
Fir’aun mengirimkan penyeru-penyeru ke kota-kota untuk mengumpulkan: “Sesungguhnya
mereka itu hanyalah segolongan kecil,
tetapi sesungguhnya mereka benar-benar telah menimbulkan kemarahan
pada kita.“ Sedangkan sesungguhnya kita benar-benar
golongan besar yang selalu
bersiaga”. Kemudian Kami mengeluarkan mereka
dari kebun-kebun dan mata air-mata air, dan dari
khazanah-khazanah serta tempat tinggal yang terhormat. Demikianlah, dan Kami mewariskannya
kepada Bani Israil. Maka
lasykar-lasykar Fir’aun menyusul
mereka pada waktu matahari terbit. Lalu tatkala kedua lasykar itu dapat melihat
satu sama lain, pengikut-pengikut
Musa berkata: “Sesungguhnya kita pasti akan tertangkap!” Musa berkata: “Sekali-kali tidak,
sesungguhnya Tuhan-ku beserta-ku, segera Dia akan menunjukkan jalan
keselamatan.” Maka Kami mewahyukan kepada
Musa: “Pukullah laut dengan tongkat engkau.” lalu setiap
bagiannya nampak seperti gunung yang besar. Dan
Kami mendekatkan di sana golongan yang lain, dan Kami menyelamatkan Musa
dan orang-orang beserta dia semuanya, lalu Kami menenggelamkan golongan yang lain. Sesungguhnya dalam hal itu ada Tanda yang
besar, tetapi kebanyakan dari
mereka tidak mau beriman. Dan sesungguhnya Tuhan engkau Dia benar-benar Maha
Perkasa, Maha Penyayang. (Al-Syu’aara [26]:53-69).
Menggunakan Kata Asri dan Asraa
Berkenaan
kepergian Nabi Musa a.s. dengan Bani Israil dari Mesir dalam ayat 53 Allah Swt.
menggunakan kata asri yakni an asri bi-‘ibaadiy (“bawalah hamba-hamba-Ku pada waktu malam hari”
atau “berjalanlah bersama hamba-hamba-Ku
pada malam hari”). Demikian pula mengenai hijrah Nabi Besar Muhammad
saw. dari Makkah
ke Madinah Allah Swt. berfirman: “Subhaana- ladziy asraa bi-‘abdihii laylan
-- Maha Suci Dia Yang memperjalankan
hambanya pada malam hari”, firman-Nya:
سُبۡحٰنَ الَّذِیۡۤ اَسۡرٰی بِعَبۡدِہٖ لَیۡلًا مِّنَ الۡمَسۡجِدِ
الۡحَرَامِ اِلَی الۡمَسۡجِدِ الۡاَقۡصَا الَّذِیۡ بٰرَکۡنَا حَوۡلَہٗ لِنُرِیَہٗ مِنۡ اٰیٰتِنَا ؕ اِنَّہٗ ہُوَ السَّمِیۡعُ الۡبَصِیۡرُ ﴿۲﴾
Maha Suci Dia
Yang memperjalankan hamba-Nya pada waktu malam dari Masjid Haram ke Masjid Aqsha yang
sekelilingnya
telah Kami berkati, supaya Kami memperlihatkan
kepadanya sebagian dari Tanda-tanda Kami, sesungguhnya Dia Maha
Mendengar, Maha Melihat. (Bani Israil [17]:2).
Hal
tersebut membuktikan bahwa apa yang dilakukan oleh kedua Rasul Allah tersebut
bukan upaya melarikan diri atas kehendak diri sendiri karena takut
kepada Fir’aun, melainkan sepenuhnya
adalah melaksanakan perintah
Allah Swt.. Penggunakan kata asri atau asraa terhadap kedua peristiwa hijrah
tersebut merupakan bukti yang menguatkan bahwa banyak terdapat persamaan antara Nabi Besar
Muhammad saw. dengan Nabi Musa a.s.,
sehingga Allah Swt. telah menyebut Nabi Besar Muhammad saw. saw. sebagai “nabi
yang seperti Musa” (Ulangan 18:18-19) atau “misal Musa” (QS.46:11) yang “para ulama bani Israil”
pun mengetahui hal itu (QS.26:193-198).
Ayat
53-57 menerangkan bahwa kemunculan seorang nabi Allah di tengah-tengah
suatu kaum merupakan jaminan yang pasti mengenai masa depan
mereka yang besar dan cemerlang, jika mereka mau menerima amanat beliau
dan mengikutinya. Nabi itu memberikan kepada mereka suatu kehidupan baru,
dan menciptakan di dalam diri mereka suatu harapan dan keyakinan baru,
yang mengubah seluruh pandangan hidup mereka.Sesudah Nabi Musa.s. datang, Fir’aun pasti akan merasakan
adanya perubahan besar di kalangan orang-orang Bani Israil dan hal itu pasti
menggelisahkannya.
Ayat ”Kemudian Kami mengeluarkan mereka
dari kebun-kebun dan mata air-mata air, dan dari khazanah-khazanah serta
tempat tinggal yang terhormat. Demikianlah, dan Kami
mewariskannya kepada Bani Israil”, tidak berarti bahwa beberapa mata air, kebun-kebun dan
khazanah-khazanah kepunyaan Fir’aun dan orang-orang Mesir telah diserahkan
kepada orang-orang Bani Israil.
Orang-orang
Bani Israil telah meninggalkan Mesir
menuju Kanaan, tanah yang dijanjikan, tempat “mengalir susu dan madu”.
Di sanalah mereka akan diberi barang-barang seperti itu. Palestina sungguh
menyamai Mesir dalam berkelimpahan kebun-kebun dan banyaknya mata air.
Kalimat “Lalu tatkala kedua lasykar itu dapat
melihat satu sama lain,
pengikut-pengikut Musa berkata: “Sesungguhnya kita pasti akan
tertangkap!” para sahabat
Nabi Musa a.s. nampaknya mempunyai keimanan yang sangat
lemah. Keadaan ini jelas juga dari QS.5:22-23 – ketika mereka diajak nabi
Musa a.s. untuk memasuki “negeri yang dijanjikan” – dan ketika mereka kembali
menyembah “patung anak sapi” QS.7:149;
QS.20:87-92.
Mukjizat Pemukulan Laut oleh Tongkat &
Pengakuan Fir’aun
Kata-kata
“Pukullah laut dengan tongkat engkau.”
ini pun berarti “bawa serta kaum
engkau ke (menyebrangi) laut,” ashaa’
berarti kaum (bangsa) atau masyarakat (Lexicon Lane). Hanya
mukjizat “pemukulan laut” oleh tongkat Nabi Musa a.s. inilah dari 9 Tanda-tanda yang diperlihatkan
Allah Swt. kepada Fir’aun yang
benar-benar membuat Fir’aun menyatakan beriman kepada “Tuhan-nya Bani Israil”, sedangkan Tanda-tanda lainnya selalu
ia dustakan dan perolok-olokan, firman-Nya:
وَ
جٰوَزۡنَا بِبَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ
الۡبَحۡرَ فَاَتۡبَعَہُمۡ فِرۡعَوۡنُ وَ جُنُوۡدُہٗ بَغۡیًا وَّ عَدۡوًا ؕ حَتّٰۤی اِذَاۤ اَدۡرَکَہُ الۡغَرَقُ ۙ قَالَ اٰمَنۡتُ اَنَّہٗ لَاۤ اِلٰہَ
اِلَّا الَّذِیۡۤ اٰمَنَتۡ بِہٖ بَنُوۡۤا اِسۡرَآءِیۡلَ وَ اَنَا مِنَ
الۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿۹۱﴾ آٰلۡـٰٔنَ وَ قَدۡ عَصَیۡتَ قَبۡلُ وَ کُنۡتَ مِنَ
الۡمُفۡسِدِیۡنَ ﴿۹۲﴾ فَالۡیَوۡمَ
نُنَجِّیۡکَ بِبَدَنِکَ لِتَکُوۡنَ لِمَنۡ
خَلۡفَکَ اٰیَۃً ؕ وَ اِنَّ کَثِیۡرًا مِّنَ النَّاسِ عَنۡ اٰیٰتِنَا
لَغٰفِلُوۡنَ ﴿٪۹۳﴾
Dan Kami telah membuat Bani Israil menyeberangi laut, lalu Fir’aun
dan lasykar-lasykarnya mengejar mereka secara durhaka dan aniaya, sehingga
apabila ia menjelang tenggelam ia berkata: “Aku percaya, sesungguhnya
Dia tidak ada Tuhan kecuali yang dipercayai oleh Bani Israil, dan
aku termasuk orang-orang yang berserah diri kepada-Nya.” Apa, sekarang baru beriman!? Padahal
engkau telah membangkang sebelum
ini, dan engkau termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. Maka pada hari ini Kami akan menyelamatkan
engkau hanya badan engkau,
supaya engkau menjadi suatu Tanda bagi orang-orang sesudah engkau, dan sesungguhnya kebanyakan
dari manusia benar-benar lengah terhadap
Tanda-tanda Kami.” (Yunus [10]:91-93).
Ucapan
Fir’aun: “Aku percaya, sesungguhnya Dia tidak ada Tuhan kecuali yang
dipercayai oleh Bani Israil, dan
aku termasuk orang-orang yang berserah diri kepada-Nya.” Kata-kata tersebut melukiskan kedalaman lembah kehinaan yang si
congkak Fir’aun telah terjerumus ke dalamnya.
Sangat
menarik perhatian kita, bahwa hanya Al-Quran sajalah dari semua kitab keagamaan
dan buku-buku sejarah, yang menceritakan kenyataan yang disinggung oleh ayat
ini. Bible tak menyebutkannya dan tidak pula kitab sejarah mana pun.
Tetapi dengan cara yang alangkah ajaibnya firman Allah Swt. itu telah terbukti kebenarannya. Setelah
lewat lebih dari 3000 tahun, mayat Fir’aun itu telah ditemukan orang kembali
dan sekarang tersimpan dalam keadaan terpelihara di museum di Kairo.
Nampak
dari mayat itu, bahwa Fir’aun itu orangnya kurus dan pendek dengan wajah yang
mencerminkan kebengisan campur kebodohan. Nabi Musa a.s. dilahirkan di zaman
Ramses II dan dibesarkan olehnya (Keluaran 2:2-10), tetapi pada
pemerintahan putranya, ialah Merneptah (Meneptah), beliau diserahi tugas
kenabian (Jewish Encyclopaedia,
jilid 9 hlm. 500 & Encyclopaedia Biblica. pada kata “Pharaoh”
& pada “Egypt”).
Jadi, bagaimana pun jelasnya berbagai Tanda-tanda
Ilahi yang diperlihatkan p;eh para Rasul Allah – termasuk Tanda berupa azab
Ilahi – tetap semua itu tetap tidak membuat
“mata ruhani” para penentang Rasul Allah
menjadi melihat lalu mereka beriman kepada para rasul Allah.
Demikian juga yang terjadi di Akhir Zaman ini, firman-Nya:
وَ لَوۡ اَنَّنَا نَزَّلۡنَاۤ اِلَیۡہِمُ الۡمَلٰٓئِکَۃَ وَ کَلَّمَہُمُ الۡمَوۡتٰی وَ حَشَرۡنَا عَلَیۡہِمۡ کُلَّ شَیۡءٍ
قُبُلًا مَّا کَانُوۡا لِیُؤۡمِنُوۡۤا اِلَّاۤ اَنۡ یَّشَآءَ اللّٰہُ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَہُمۡ یَجۡہَلُوۡنَ ﴿۱۱۲﴾ وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا
لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا شَیٰطِیۡنَ الۡاِنۡسِ وَ الۡجِنِّ یُوۡحِیۡ بَعۡضُہُمۡ اِلٰی بَعۡضٍ زُخۡرُفَ
الۡقَوۡلِ غُرُوۡرًا ؕ وَ لَوۡ شَآءَ رَبُّکَ مَا فَعَلُوۡہُ فَذَرۡہُمۡ وَ مَا یَفۡتَرُوۡنَ ﴿۱۱۳﴾
وَ
لِتَصۡغٰۤی اِلَیۡہِ اَفۡـِٕدَۃُ الَّذِیۡنَ لَا یُؤۡمِنُوۡنَ بِالۡاٰخِرَۃِ وَ لِیَرۡضَوۡہُ وَ لِیَقۡتَرِفُوۡا مَا ہُمۡ مُّقۡتَرِفُوۡنَ ﴿۱۱۴﴾
Dan seandainya
pun Kami benar-benar menurunkan
malaikat-malaikat kepada mereka, orang-orang yang telah mati berbicara
de-ngan mereka, dan Kami mengumpulkan segala sesuatu berhadap-hadapan di depan mereka, mereka sekali-kali
tidak akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi
kebanyakan mereka berlaku jahil. Dan dengan cara demikian Kami telah
menjadikan musuh bagi setiap nabi yaitu syaitan-syai-tan di antara manusia
dan jin, sebagian mereka membisikkan
kepada sebagian lainnya kata-kata indah untuk mengelabui, dan jika Tuhan
engkau menghendaki mereka tidak akan mengerjakannya, maka biarkanlah mereka
dengan apa-apa yang mereka ada-adakan, dan
supaya hati orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat cenderung
kepada bisikan itu, mereka menyukainya dan supaya mereka mengusahakan
apa yang sedang mereka usahakan. (Al-An’aam
[6]:112-114).
(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam
Farid
Tidak ada komentar:
Posting Komentar