Minggu, 19 Februari 2012

Tanda-tanda Ilahi Selalu Didustakan para Penentang Rasul Allah


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ

 
HUBUNGAN  NABI YUSUF A.S. 
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
  
Bagian   XLXII
 
Tentang

        Tanda-tanda Ilahi  Selalu Didustakan
        Para Penentang Rasul Allah
   
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
ذٰلِکَ  مِنۡ  اَنۡۢبَآءِ الۡغَیۡبِ نُوۡحِیۡہِ  اِلَیۡکَ ۚ وَ مَا کُنۡتَ لَدَیۡہِمۡ  اِذۡ  اَجۡمَعُوۡۤا  اَمۡرَہُمۡ  وَ ہُمۡ  یَمۡکُرُوۡنَ ﴿۱۰۳ وَ مَاۤ  اَکۡثَرُ النَّاسِ وَ لَوۡ حَرَصۡتَ بِمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿۱۰۴ وَ مَا تَسۡـَٔلُہُمۡ عَلَیۡہِ مِنۡ اَجۡرٍ ؕ اِنۡ ہُوَ اِلَّا ذِکۡرٌ  لِّلۡعٰلَمِیۡنَ ﴿۱۰۵﴾٪
Itulah dari kabar-kabar gaib yang telah Kami wahyukan kepada engkau, dan engkau tidak beserta mereka ketika mereka telah  sepakat mengenai urusan  mereka dan mereka akan melakukan makar.   Dan kebanyakan manusia sama sekali tidak akan beriman, walaupun engkau sangat menginginkan.  Dan engkau sama sekali tidak minta ganjaran apa pun dari mereka,  itu tidak  lain melainkan   kehormatan untuk seluruh umat manusia. (Yusuf [12]:103-106).
Dalam Bab sebelumnya telah dikemukakan  takdir Allah  Swt. mengenai kemenangan perjuangan suci  para Rasul Allah pada akhirnya, walau pun mereka sebelumnya  harus menghadapi berbagai macam “makar buruk” yang dilakukan oleh para penentang  mereka, namun “makar tandingan” Allah Swt. itulah yang  selalu muncul sebagai pemenang, walau pun prosesnya berlangsung “sunyi-senyap” -- tidak ingar-bingar  seperti “makar buruk”  yang dilakukan oleh para penentang rasul Allah  -- tetapi mencapai  berbagai target yang telah ditetapkan Allah Swt.. Dalam makna itulah “Kun fayakun” (Jadilah, maka terjadilah), yakni tidak ada yang dapat menggagalkan kehendak Allah Swt. mengenai sesuatu.

Sembilan Tanda (Mukjizat) Nabi Musa a.s.

     Dari sekian banyak target  yang telah ditetapkan Allah Swt. tersebut adalah mereka tetap tidak dapat mengenali atau mendustakan berbagai macam Tanda (mukjizat) Allah Swt. yang diperlihatkan-Nya  melalui para rasul Allah tersebut. Contohnya, Allah Swt. telah menyatakan bahwa  untuk mendukung  benarnya pendakwaan Nabi Musa a.s. Allah Swt. telah  memperlihatkan 9 buah Tanda (mukjizat) kepada Fir’aun, akan  tetapi tetap saja Fir’aun tidak menganggap Tanda-tanda yang mendukung pendakwaan  Nabi Musa  a.s. tersebut sebagai mukjizat dan ia tetap mendustakan dan menentang  Nabi Musa a.s. dan Nabi Harun a.s., firman-Nya:
وَ لَقَدۡ اٰتَیۡنَا مُوۡسٰی تِسۡعَ اٰیٰتٍۭ بَیِّنٰتٍ فَسۡـَٔلۡ بَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ اِذۡ جَآءَہُمۡ فَقَالَ لَہٗ  فِرۡعَوۡنُ  اِنِّیۡ لَاَظُنُّکَ یٰمُوۡسٰی مَسۡحُوۡرًا ﴿۱۰۲ قَالَ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَاۤ  اَنۡزَلَ ہٰۤؤُلَآءِ  اِلَّا رَبُّ السَّمٰوٰتِ  وَ الۡاَرۡضِ  بَصَآئِرَ ۚ وَ  اِنِّیۡ  لَاَظُنُّکَ یٰفِرۡعَوۡنُ مَثۡبُوۡرًا ﴿۱۰۳ فَاَرَادَ  اَنۡ یَّسۡتَفِزَّہُمۡ مِّنَ الۡاَرۡضِ فَاَغۡرَقۡنٰہُ  وَ مَنۡ  مَّعَہٗ  جَمِیۡعًا ﴿۱۰۴﴾ۙ
Dan  sungguh   Kami benar-benar telah memberi Musa sembilan buah Tanda yang terang, maka tanyakanlah kepada Bani Israil. Ketika ia datang kepada mereka  maka    Fir’aun berkata kepadanya: “Sesungguhnya aku menganggap engkau, hai Musa, seorang yang kena sihir.” Ia berkata: “Sungguh engkau benar-benar telah mengetahui bahwa sama sekali  tidak ada yang menurunkan Tanda-tanda ini, melainkan Tuhan seluruh langit dan bumi sebagai bukti-bukti nyata,  dan sesungguhnya aku benar-benar  yakin  engkau, hai Fir’aun, orang yang akan binasa.” Maka  ia (Fir’aun) telah bertekad mengusir mereka dari negeri itu,  tetapi Kami menenggelamkannya  dan orang-orang yang beserta dia semuanya. (Bani Israil [17]:102-104).
      Sembilan Tanda ini yang telah tersebut di tempat lain dalam Al-Quran ialah (1) tongkat (QS.7:108); (2) tangan putih (QS.7:109); (3) musim kering dan kekurangan buah-buahan (QS.7:131); (4) badai; (5) belalang; (6) kutu; (7) katak; dan (8) azab darah (QS.7:134). Tanda kesembilan adalah  menyebrangi laut setelah Nabi Musa a.s. atas perintah Allah Swt. memukulkan atau mengarahkan tongkat beliau ke laut, sehingga mulai terjadi proses pasang surut yang  keadaannya   berbeda dengan  yang selama itu terjadi di wilayah tersebut.
      Jadi, sebagaimana para pemimpin kafir Quraisy tidak membiarkan Nabi Besar Muhamad saw. dapat meloloskan diri  dari “makar buruk” mereka -- sehingga ketika mereka mengetahui  beliau saw. telah  lolos dari kepungan mereka di rumah yang mereka kepung secara ketat, lalu mereka mengejar beliau saw. dalam perjalanan  hijrah ke Madinah sampai di depan gua Tsur, tempat beliau saw. dan Abu Bakar Shiddiq r.a. bersembunyi --  demikian pula halnya dengan Fir’aun, firman-Nya:
اِلَّا تَنۡصُرُوۡہُ فَقَدۡ  نَصَرَہُ  اللّٰہُ  اِذۡ اَخۡرَجَہُ الَّذِیۡنَ  کَفَرُوۡا ثَانِیَ اثۡنَیۡنِ اِذۡ ہُمَا فِی الۡغَارِ اِذۡ یَقُوۡلُ لِصَاحِبِہٖ لَا تَحۡزَنۡ اِنَّ اللّٰہَ مَعَنَا ۚ فَاَنۡزَلَ اللّٰہُ سَکِیۡنَتَہٗ عَلَیۡہِ وَ اَیَّدَہٗ  بِجُنُوۡدٍ لَّمۡ تَرَوۡہَا وَ جَعَلَ کَلِمَۃَ  الَّذِیۡنَ کَفَرُوا السُّفۡلٰی ؕ وَ کَلِمَۃُ  اللّٰہِ ہِیَ الۡعُلۡیَا ؕ وَ اللّٰہُ  عَزِیۡزٌ  حَکِیۡمٌ  ﴿۴۰
Jika kamu tidak menolongnya maka  sungguh Allah  telah menolongnya ketika ia (Rasulullah) diusir oleh orang-orang kafir, sedangkan ia kedua dari yang dua ketika keduanya berada dalam gua, lalu ia (Rasulullah) berkata kepada temannya: “Janganlah engkau sedih sesungguhnya Allah beserta kita”, lalu  Allah menurunkan ketenteraman-Nya kepadanya  dan menolongnya dengan lasykar-lasykar yang kamu tidak melihatnya,  dan Dia menjadikan perkataan orang-orang yang kafir itu rendah sedangkan Kalimah Allah itulah yang tertinggi, dan Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.  (Al-Taubah [9]:40).

Keimanan Para Pengikut Nabi Musa a.s. Sangat Lemah

      Berikut firman Allah Swt. mengenai  pengejaran yang dilakukan Fir’aun dan bala tentaranya ketika ia mengetahui   Bani Israil telah pergi meninggalkan  Mesir bersama dengan Nabi Musa a.s. dan Nabi Harun a.s.  pada malam hari:
وَ اَوۡحَیۡنَاۤ   اِلٰی مُوۡسٰۤی اَنۡ اَسۡرِ بِعِبَادِیۡۤ  اِنَّکُمۡ  مُّتَّبَعُوۡنَ ﴿۵۳   فَاَرۡسَلَ فِرۡعَوۡنُ فِی الۡمَدَآئِنِ  حٰشِرِیۡنَ ﴿ۚ۵۴  اِنَّ  ہٰۤؤُلَآءِ   لَشِرۡ  ذِمَۃٌ  قَلِیۡلُوۡنَ ﴿ۙ۵۵   وَ  اِنَّہُمۡ  لَنَا  لَغَآئِظُوۡنَ ﴿ۙ۵۶   وَ  اِنَّا  لَجَمِیۡعٌ  حٰذِرُوۡنَ ﴿ؕ۵۷  فَاَخۡرَجۡنٰہُمۡ مِّنۡ جَنّٰتٍ  وَّ  عُیُوۡنٍ ﴿ۙ۵۸  وَّ کُنُوۡزٍ وَّ  مَقَامٍ  کَرِیۡمٍ ﴿ۙ۵۹  کَذٰلِکَ ؕ وَ اَوۡرَثۡنٰہَا بَنِیۡۤ   اِسۡرَآءِیۡلَ ﴿ؕ۶۰  فَاَتۡبَعُوۡہُمۡ مُّشۡرِقِیۡنَ ﴿۶۱  فَلَمَّا تَرَآءَ   الۡجَمۡعٰنِ قَالَ اَصۡحٰبُ مُوۡسٰۤی  اِنَّا  لَمُدۡرَکُوۡنَ ﴿ۚ۶۲  قَالَ  کَلَّا ۚ اِنَّ  مَعِیَ  رَبِّیۡ  سَیَہۡدِیۡنِ ﴿۶۳  فَاَوۡحَیۡنَاۤ  اِلٰی مُوۡسٰۤی اَنِ اضۡرِبۡ بِّعَصَاکَ  الۡبَحۡرَ ؕ فَانۡفَلَقَ فَکَانَ کُلُّ فِرۡقٍ  کَالطَّوۡدِ  الۡعَظِیۡمِ ﴿ۚ۶۴  وَ  اَزۡلَفۡنَا ثَمَّ   الۡاٰخَرِیۡنَ ﴿ۚ۶۵  وَ اَنۡجَیۡنَا مُوۡسٰی وَ مَنۡ  مَّعَہٗۤ   اَجۡمَعِیۡنَ ﴿ۚ۶۶  ثُمَّ   اَغۡرَقۡنَا  الۡاٰخَرِیۡنَ ﴿ؕ۶۷  اِنَّ  فِیۡ  ذٰلِکَ لَاٰیَۃً ؕ وَ مَا کَانَ  اَکۡثَرُہُمۡ مُّؤۡمِنِیۡنَ ﴿۶۸۶۷   وَ  اِنَّ  رَبَّکَ لَہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الرَّحِیۡمُ ﴿٪۶۹
Dan Kami mewahyukan kepada Musa: Bawalah hamba-hamba-Ku pada waktu malam hari, sesungguhnya kamu akan dikejar.”   Dan Fir’aun mengirimkan penyeru-penyeru ke kota-kota untuk mengumpulkan: “Sesungguhnya mereka itu hanyalah segolongan kecil,  tetapi sesungguhnya mereka  benar-benar telah menimbulkan kemarahan pada kita.“  Sedangkan sesungguhnya kita  benar-benar  golongan besar yang selalu  bersiaga”.  Kemudian Kami mengeluarkan mereka dari kebun-kebun dan mata air-mata air,   dan dari khazanah-khazanah serta tempat tinggal yang terhormat.   Demikianlah, dan Kami mewariskannya kepada Bani Israil.  Maka lasykar-lasykar Fir’aun  menyusul mereka pada waktu matahari terbit.   Lalu tatkala kedua lasykar itu dapat melihat satu sama lain,  pengikut-pengikut Musa berkata: “Sesungguhnya kita pasti akan tertangkap!”  Musa berkata: “Sekali-kali tidak, sesungguhnya Tuhan-ku beserta-ku, segera Dia akan menunjukkan  jalan  keselamatan.  Maka Kami mewahyukan kepada Musa: “Pukullah laut dengan tongkat engkau.” lalu setiap bagiannya nampak seperti gunung yang besar.   Dan Kami mendekatkan di sana golongan yang lain,    dan Kami menyelamatkan Musa dan orang-orang beserta dia semuanya,    lalu Kami menenggelamkan  golongan yang lain.    Sesungguhnya dalam hal itu ada Tanda yang besar,   tetapi kebanyakan dari mereka tidak mau beriman.   Dan sesungguhnya Tuhan engkau Dia benar-benar Maha Perkasa, Maha Penyayang. (Al-Syu’aara [26]:53-69).

Menggunakan Kata Asri dan Asraa

       Berkenaan kepergian Nabi Musa a.s. dengan Bani Israil dari Mesir dalam ayat 53 Allah Swt. menggunakan kata asri yakni an asri bi-‘ibaadiy  (“bawalah hamba-hamba-Ku pada waktu malam hari” atau “berjalanlah  bersama hamba-hamba-Ku pada malam hari”). Demikian pula mengenai hijrah Nabi Besar Muhammad saw.  dari   Makkah ke Madinah Allah Swt. berfirman: “Subhaana- ladziy asraa bi-‘abdihii laylan --  Maha Suci Dia Yang memperjalankan hambanya pada malam hari”, firman-Nya:
سُبۡحٰنَ الَّذِیۡۤ  اَسۡرٰی بِعَبۡدِہٖ لَیۡلًا مِّنَ الۡمَسۡجِدِ الۡحَرَامِ  اِلَی الۡمَسۡجِدِ الۡاَقۡصَا الَّذِیۡ بٰرَکۡنَا حَوۡلَہٗ  لِنُرِیَہٗ مِنۡ اٰیٰتِنَا ؕ اِنَّہٗ  ہُوَ  السَّمِیۡعُ  الۡبَصِیۡرُ ﴿۲
Maha Suci Dia  Yang  memperjalankan   hamba-Nya pada waktu malam  dari Masjid Haram ke Masjid Aqsha  yang   sekelilingnya telah Kami berkati supaya Kami memperlihatkan kepadanya sebagian dari Tanda-tanda Kami, sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat. (Bani Israil [17]:2).
      Hal tersebut membuktikan bahwa apa yang dilakukan oleh kedua Rasul Allah tersebut bukan upaya melarikan diri atas kehendak diri sendiri karena takut kepada Fir’aun, melainkan sepenuhnya adalah  melaksanakan perintah Allah Swt.. Penggunakan kata asri atau asraa  terhadap kedua peristiwa hijrah tersebut  merupakan bukti yang  menguatkan bahwa  banyak terdapat persamaan antara Nabi Besar Muhammad saw.  dengan Nabi Musa a.s., sehingga Allah Swt. telah menyebut Nabi Besar Muhammad saw. saw. sebagai “nabi yang seperti Musa” (Ulangan 18:18-19) atau “misal Musa”  (QS.46:11) yang “para ulama bani Israil” pun  mengetahui hal itu (QS.26:193-198).
      Ayat 53-57 menerangkan bahwa kemunculan seorang nabi Allah di tengah-tengah suatu kaum merupakan jaminan yang pasti mengenai masa depan mereka yang besar dan cemerlang, jika mereka mau menerima amanat beliau dan mengikutinya. Nabi itu memberikan kepada mereka suatu kehidupan baru, dan menciptakan di dalam diri mereka suatu harapan dan keyakinan baru, yang mengubah seluruh pandangan hidup mereka.Sesudah Nabi Musa.s.  datang, Fir’aun pasti akan merasakan adanya perubahan besar di kalangan orang-orang Bani Israil dan hal itu pasti menggelisahkannya.
        Ayat  ”Kemudian Kami mengeluarkan mereka dari kebun-kebun dan mata air-mata air,  dan dari khazanah-khazanah serta tempat tinggal yang terhormat.   Demikianlah, dan Kami mewariskannya kepada Bani Israil”,  tidak berarti  bahwa beberapa mata air, kebun-kebun dan khazanah-khazanah kepunyaan Fir’aun dan orang-orang Mesir telah diserahkan kepada orang-orang Bani Israil.
       Orang-orang Bani Israil telah meninggalkan Mesir  menuju Kanaan, tanah yang dijanjikan, tempat “mengalir susu dan madu”. Di sanalah mereka akan diberi barang-barang seperti itu. Palestina sungguh menyamai Mesir dalam berkelimpahan kebun-kebun dan banyaknya mata air.
      Kalimat    “Lalu tatkala kedua lasykar itu dapat melihat satu sama lain,   pengikut-pengikut Musa berkata: “Sesungguhnya kita pasti akan tertangkap!”  para sahabat Nabi Musa a.s.   nampaknya mempunyai keimanan yang sangat lemah. Keadaan ini jelas juga dari QS.5:22-23 – ketika mereka diajak nabi Musa a.s. untuk memasuki “negeri yang dijanjikan” – dan ketika mereka kembali menyembah “patung anak sapi”  QS.7:149; QS.20:87-92.

Mukjizat Pemukulan Laut oleh Tongkat &
Pengakuan Fir’aun

     Kata-kata   “Pukullah laut dengan tongkat engkau.”   ini pun berarti “bawa serta kaum engkau ke (menyebrangi) laut,”  ashaa’ berarti kaum (bangsa) atau masyarakat (Lexicon Lane). Hanya mukjizat “pemukulan laut” oleh tongkat Nabi Musa a.s. inilah  dari 9 Tanda-tanda yang diperlihatkan Allah Swt.  kepada Fir’aun yang benar-benar membuat Fir’aun menyatakan beriman kepada  “Tuhan-nya Bani Israil”,    sedangkan Tanda-tanda lainnya selalu ia dustakan dan perolok-olokan, firman-Nya:
وَ جٰوَزۡنَا بِبَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ الۡبَحۡرَ فَاَتۡبَعَہُمۡ فِرۡعَوۡنُ وَ جُنُوۡدُہٗ  بَغۡیًا وَّ عَدۡوًا ؕ حَتّٰۤی اِذَاۤ  اَدۡرَکَہُ الۡغَرَقُ ۙ قَالَ اٰمَنۡتُ اَنَّہٗ  لَاۤ اِلٰہَ  اِلَّا الَّذِیۡۤ اٰمَنَتۡ بِہٖ بَنُوۡۤا اِسۡرَآءِیۡلَ وَ اَنَا مِنَ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿۹۱  آٰلۡـٰٔنَ وَ قَدۡ عَصَیۡتَ قَبۡلُ وَ کُنۡتَ مِنَ الۡمُفۡسِدِیۡنَ ﴿۹۲ فَالۡیَوۡمَ نُنَجِّیۡکَ بِبَدَنِکَ  لِتَکُوۡنَ لِمَنۡ خَلۡفَکَ اٰیَۃً ؕ وَ اِنَّ کَثِیۡرًا مِّنَ النَّاسِ عَنۡ  اٰیٰتِنَا  لَغٰفِلُوۡنَ ﴿٪۹۳
Dan Kami telah membuat Bani Israil menyeberangi laut, lalu Fir’aun dan lasykar-lasykarnya mengejar mereka secara durhaka dan aniaya, sehingga apabila ia menjelang tenggelam ia berkata: “Aku percaya, sesungguhnya Dia tidak ada Tuhan kecuali yang dipercayai oleh Bani Israil, dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri kepada-Nya.”   Apa, sekarang baru beriman!? Padahal engkau  telah membangkang sebelum ini, dan  engkau  termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.  Maka pada hari ini Kami akan menyelamatkan engkau hanya  badan engkau, supaya engkau menjadi suatu Tanda bagi orang-orang  sesudah engkau, dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia benar-benar  lengah terhadap Tanda-tanda Kami.” (Yunus [10]:91-93).
     Ucapan Fir’aun: “Aku percaya, sesungguhnya Dia tidak ada Tuhan kecuali yang dipercayai oleh Bani Israil,  dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri kepada-Nya.”  Kata-kata tersebut  melukiskan kedalaman lembah kehinaan yang si congkak Fir’aun telah terjerumus ke dalamnya.
    Sangat menarik perhatian kita, bahwa hanya Al-Quran sajalah dari semua kitab keagamaan dan buku-buku sejarah, yang menceritakan kenyataan yang disinggung oleh ayat ini. Bible tak menyebutkannya dan tidak pula kitab sejarah mana pun. Tetapi dengan cara yang alangkah ajaibnya firman Allah Swt.  itu telah terbukti kebenarannya. Setelah lewat lebih dari 3000 tahun, mayat Fir’aun itu telah ditemukan orang kembali dan sekarang tersimpan dalam keadaan terpelihara di museum di Kairo.
       Nampak dari mayat itu, bahwa Fir’aun itu orangnya kurus dan pendek dengan wajah yang mencerminkan kebengisan campur kebodohan. Nabi Musa a.s. dilahirkan di zaman Ramses II dan dibesarkan olehnya (Keluaran 2:2-10), tetapi pada pemerintahan putranya, ialah Merneptah (Meneptah), beliau diserahi tugas kenabian (Jewish  Encyclopaedia, jilid 9 hlm. 500 & Encyclopaedia Biblica. pada kata “Pharaoh” & pada “Egypt”).
       Jadi, bagaimana pun jelasnya berbagai Tanda-tanda Ilahi yang diperlihatkan p;eh para Rasul Allah – termasuk Tanda berupa azab Ilahi – tetap semua itu tetap tidak membuat  “mata ruhani” para penentang Rasul Allah  menjadi melihat lalu mereka beriman kepada para rasul Allah. Demikian juga yang terjadi di Akhir Zaman ini, firman-Nya:
وَ لَوۡ اَنَّنَا نَزَّلۡنَاۤ  اِلَیۡہِمُ الۡمَلٰٓئِکَۃَ وَ کَلَّمَہُمُ الۡمَوۡتٰی وَ حَشَرۡنَا عَلَیۡہِمۡ کُلَّ شَیۡءٍ قُبُلًا مَّا کَانُوۡا لِیُؤۡمِنُوۡۤا اِلَّاۤ  اَنۡ یَّشَآءَ اللّٰہُ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَہُمۡ یَجۡہَلُوۡنَ ﴿۱۱۲  وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا شَیٰطِیۡنَ الۡاِنۡسِ وَ  الۡجِنِّ  یُوۡحِیۡ بَعۡضُہُمۡ اِلٰی بَعۡضٍ زُخۡرُفَ الۡقَوۡلِ غُرُوۡرًا ؕ وَ لَوۡ شَآءَ رَبُّکَ مَا فَعَلُوۡہُ فَذَرۡہُمۡ وَ مَا یَفۡتَرُوۡنَ ﴿۱۱۳  وَ لِتَصۡغٰۤی اِلَیۡہِ اَفۡـِٕدَۃُ الَّذِیۡنَ لَا یُؤۡمِنُوۡنَ بِالۡاٰخِرَۃِ وَ لِیَرۡضَوۡہُ وَ لِیَقۡتَرِفُوۡا  مَا  ہُمۡ  مُّقۡتَرِفُوۡنَ ﴿۱۱۴
Dan seandainya pun  Kami benar-benar menurunkan malaikat-malaikat kepada mereka,   orang-orang yang telah mati berbicara de-ngan mereka, dan Kami mengumpulkan segala sesuatu berhadap-hadapan  di depan mereka, mereka sekali-kali tidak akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka  berlaku jahil.    Dan  dengan cara demikian Kami telah menjadikan musuh bagi setiap nabi yaitu syaitan-syai-tan di antara manusia dan jin,  sebagian mereka membisikkan kepada sebagian lainnya kata-kata indah untuk mengelabui, dan jika Tuhan engkau menghendaki mereka tidak akan mengerjakannya, maka biarkanlah mereka dengan apa-apa yang mereka ada-adakan,   dan supaya hati orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat cenderung kepada bisikan itu, mereka menyukainya dan supaya mereka mengusahakan apa yang sedang mereka usahakan.  (Al-An’aam [6]:112-114).


(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid

Tidak ada komentar:

Posting Komentar