Minggu, 05 Februari 2012

Kesempurnaan Suri Teladan Nabi Besar Muhammad Saw.


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ

 
HUBUNGAN  NABI YUSUF A.S. 
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
  
Bagian   XXXVI

Tentang
 

       Kesempurnaan Suri Teladan Nabi Besar Muhammad Saw.
 
Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma
یٰبَنِیَّ اذۡہَبُوۡا فَتَحَسَّسُوۡا مِنۡ یُّوۡسُفَ وَ اَخِیۡہِ وَ لَا تَایۡـَٔسُوۡا مِنۡ رَّوۡحِ اللّٰہِ ؕ اِنَّہٗ  لَا یَایۡـَٔسُ مِنۡ رَّوۡحِ اللّٰہِ  اِلَّا الۡقَوۡمُ  الۡکٰفِرُوۡنَ ﴿۸۷
“Hai anak-anakku, pergilah dan selidikilah mengenai Yusuf dan saudaranya,  dan  janganlah   kamu putus asa akan rahmat Allah, sesungguh-nya tidak ada  yang  putus asa akan rahmat Allah kecuali orang-orang yang kafir.” (Yusuf [12]:88).

Dalam Bab sebelumnya telah dikemukakan kehinaan demi kehinaan yang terus membuntuti saudara-saudara tua Nabi Yusuf a.s., bertentangan dengan keadaan nabi Yusuf a.s. yang terus menerus mendapat kemuliaan dari Allah Swt., baik secara  jasmani mau pun secara ruhani,  namun karena mereka tidak menyadari  hal tersebut maka mereka tetap saja memendam kedengkian terhadap Nabi Yusuf a.s., dan kedengkian mereka itu terucap apabila Nabi Ya’qub a.s. menyebut-nyebut tentang adik mereka, Nabi Ya.s., firman-Nya:
 قَالُوۡا تَاللّٰہِ تَفۡتَؤُا تَذۡکُرُ  یُوۡسُفَ حَتّٰی تَکُوۡنَ حَرَضًا اَوۡ تَکُوۡنَ مِنَ الۡہٰلِکِیۡنَ ﴿۸۶   قَالَ اِنَّمَاۤ اَشۡکُوۡا بَثِّیۡ وَ حُزۡنِیۡۤ   اِلَی اللّٰہِ وَ اَعۡلَمُ  مِنَ  اللّٰہِ  مَا  لَا  تَعۡلَمُوۡنَ ﴿۸۷
Mereka berkata: “Demi Allah, engkau tidak akan berhenti menyebut-nyebut Yusuf hingga engkau menjadi sakit atau hingga engkau termasuk menjadi orang-orang yang binasa!” Ia (Yaqub) menjawab: “Sesungguhnya aku keluh-kesahkan kesusahanku dan dukacitaku hanya kepada Allah, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tidak ketahui.”  (Yusuf [12]:86-87).
Selanjutnya  Nabi Yaqub a.s. berkata, firman-Nya:
یٰبَنِیَّ اذۡہَبُوۡا فَتَحَسَّسُوۡا مِنۡ یُّوۡسُفَ وَ اَخِیۡہِ وَ لَا تَایۡـَٔسُوۡا مِنۡ رَّوۡحِ اللّٰہِ ؕ اِنَّہٗ  لَا یَایۡـَٔسُ مِنۡ رَّوۡحِ اللّٰہِ  اِلَّا الۡقَوۡمُ  الۡکٰفِرُوۡنَ ﴿۸۷
“Hai anak-anakku, pergilah dan selidikilah mengenai Yusuf dan saudaranya,  dan  janganlah   kamu putus asa akan rahmat Allah, sesungguhnya tidak ada  yang  putus asa akan rahmat Allah kecuali orang-orang yang kafir.” (Yusuf [12]:88).
      Sebagaimana ayat sebelumnya (QS.12:87), ayat ini pun menampakkan, bahwa Nabi Ya’qub a.s. yakin bahwa Nabi Yusuf a.s.,   Benyamin, dan Yehuda ketika itu masih ada dalam keadaan hidup di Mesir. Selanjutnya Dia berfirman:
فَلَمَّا دَخَلُوۡا عَلَیۡہِ قَالُوۡا یٰۤاَیُّہَا الۡعَزِیۡزُ مَسَّنَا وَ اَہۡلَنَا الضُّرُّ وَ جِئۡنَا بِبِضَاعَۃٍ مُّزۡجٰىۃٍ فَاَوۡفِ لَنَا الۡکَیۡلَ وَ تَصَدَّقۡ عَلَیۡنَا ؕ اِنَّ اللّٰہَ یَجۡزِی  الۡمُتَصَدِّقِیۡنَ ﴿۸۹
Maka tatkala mereka itu datang lagi kepadanya, mereka berkata: “Wahai yang muliakesengsaraan telah menimpa kami dan keluarga kami, dan  kami membawa sejumlah uang yang tidak berharga maka berilah kami sukatan yang penuh dan engkau sedekahilah kami, sesungguhnya Allah memberi balasan kepada orang-orang bersedekah.” (Yusuf [12]:89).

Nabi Yusuf a.s. Membuka Rahasia Dirinya

      Tingkah laku saudara-saudara Nabi Yusuf a.s.  pada kejadian itu agaknya sukar dijelaskan. Mereka itu agaknya telah menjadi begitu merosot akhlaknya, sehingga dengan mengabaikan tujuan sebenarnya dari kunjungan mereka sekarang ke Mesir adalah mencari Nabi Yusuf a.s., Benyamin, dan Yehuda, malah mulai mengemis-ngemis untuk diberi gandum.
        Ketika dosa dan kedengkian meliputi hati manusia maka hal tersebut membuat hati manusia semakin tidak  peka, demikian juga halnya dengan  kakak-kakak Nabi Yusuf a.s. pun tidak mampu isyarat-isyarat halus yang terdapat dalam ucapan-ucapan ayah mereka  mengenai Nabi Yusuf a.s., sehingga walau pun mereka sudah dua kali   bertemu dengan adik mereka itu tetapi tetap saja mereka tidak mengetahui bahwa orang yang terhadapnya mereka memiinta belas-kasihan itu adalah adik mereka yang sangat mereka benci dan yang mereka telah membuangnya, bahkan hendak membunuhnya. Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
Ia, Yusuf, berkata:  “Apakah kamu mengetahui apa yang telah ka-mu lakukan terhadap Yusuf dan saudaranya ketika kamu berbuat jahil kepadanya?” (Yusuf [12]:90).
        Karena tak tahan lagi melihat saudara-saudaranya secara demikian merendahkan harkat mereka sendiri dengan minta-minta gandum, Nabi Yusuf a.s. mengambil keputusan untuk membuka rahasia dirinya yang sebenarnya kepada mereka; tetapi beliau membuka persoalan itu dengan cara tidak langsung., firman-Nya:
قَالَ ہَلۡ عَلِمۡتُمۡ مَّا فَعَلۡتُمۡ بِیُوۡسُفَ وَ اَخِیۡہِ   اِذۡ  اَنۡتُمۡ  جٰہِلُوۡنَ ﴿۹۰
Ia, Yusuf, berkata:  “Apakah kamu mengetahui apa yang telah kamu lakukan terhadap Yusuf dan saudaranya ketika kamu berbuat jahil kepadanya?” (Yusuf [12]:90).
      Atas pertanyaan nabi Yusuf a.s. tersebut mereka balik bertanya dengan penuh rasa terkejut, firman-Nya: 
قَالُوۡۤا ءَاِنَّکَ لَاَنۡتَ یُوۡسُفُ ؕ قَالَ اَنَا یُوۡسُفُ وَ ہٰذَاۤ  اَخِیۡ ۫ قَدۡ مَنَّ اللّٰہُ عَلَیۡنَا ؕ اِنَّہٗ  مَنۡ یَّـتَّقِ وَ یَصۡبِرۡ  فَاِنَّ اللّٰہَ  لَا  یُضِیۡعُ  اَجۡرَ  الۡمُحۡسِنِیۡنَ ﴿۹۱
Mereka berkata: “Apakah engkau ini Yusuf?” Ia berkata:  “Ya, aku adalah Yusuf dan ini saudaraku, sungguh Allah telah melimpahkan karunia atas kami. Sesungguhnya barangsiapa bertakwa dan bersabar maka sesungguhnya  Allah   tidak akan menyia-nyiakan ganjaran orang-orang yang berbuat ihsan.” (Yusuf [12]:90).
         Menyadari akan kesalahan mereka selama ini terhadap  adik mereka, Nabi Yusuf a.s. dan Benyamin, maka segera mereka mengakui kebenaran perkataan Nabi Yusuf a.s.  dan mereka mengakui kesalahan mereka selama itu, firman-Nya:
قَالُوۡا تَاللّٰہِ لَقَدۡ اٰثَرَکَ اللّٰہُ عَلَیۡنَا وَ  اِنۡ کُنَّا لَخٰطِئِیۡنَ ﴿۹۲
Mereka berkata:  Demi Allah, sungguh Allah benar-benar telah melebihkan engkau di atas kami dan sesungguhnya kami benar-benar  orang-orang yang bersalah.”  (Yusuf [12]:92).
         Bandingkan perkataan mereka itu dengan perkataan mereka sebelumnya mengenai Nabi Yusuf a.s.:
اِذۡ قَالُوۡا لَیُوۡسُفُ وَ اَخُوۡہُ  اَحَبُّ اِلٰۤی اَبِیۡنَا مِنَّا وَ نَحۡنُ عُصۡبَۃٌ ؕ اِنَّ اَبَانَا لَفِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنِۣ ۚ﴿ۖ۹ اقۡتُلُوۡا یُوۡسُفَ اَوِ اطۡرَحُوۡہُ  اَرۡضًا یَّخۡلُ لَکُمۡ وَجۡہُ  اَبِیۡکُمۡ وَ تَکُوۡنُوۡا مِنۡۢ  بَعۡدِہٖ  قَوۡمًا  صٰلِحِیۡنَ ﴿۱۰
Ketika mereka berkata: “Sesungguhnya Yusuf dan saudaranya lebih dicintai oleh ayah kita daripada kita, padahal kita satu golongan yang kuat, sesungguhnya ayah kita ada dalam kesesatan (keliruan) yang nyata.   Karena itu bunuhlah Yusuf atau buanglah dia ke negeri lain, supaya perhatian ayahmu kepada kamu saja, dan sesudah itu kamu bertaubat dan menjadi orang-orang yang shalih.”  (Yusuf [12]:9-10).
Selanjutnya Allah Swt. berfirman: 
قَالَ لَا تَثۡرِیۡبَ عَلَیۡکُمُ الۡیَوۡمَ ؕ یَغۡفِرُ اللّٰہُ  لَکُمۡ ۫ وَ ہُوَ اَرۡحَمُ الرّٰحِمِیۡنَ ﴿۹۳
Ia (Yusuf) berkata: “Tidak ada celaan bagi kamu pada hari ini, semoga Allah mengampuni kamu, dan Dia-lah Yang Paling Penyayang dari semua penyayang.” Yusuf [12]:93).
        Nabi Yusuf a.s. tidak membiarkan saudara-saudaranya dalam kegelisahan, dan seketika itu juga melenyapkan segala kekhawatiran dan kecemasan mereka mengenai cara bagaimanakah beliau akan memperlakukan mereka, dengan segera mengatakan bahwa beliau akan mengampuni semua kesalahan mereka tanpa batas dan tanpa syarat apa pun.

Pengampunan Nabi Besar Muhammad Saw. atas Para Penganiaya  Beliau saw.

      Pengampunan Nabi Yusuf a.s. terhadap saudara-saudaranya dengan kelapangan dan kemurahan hati merupakan persamaan yang paling besar dan menonjol dengan Nabi Besar Muhammad saw.. Seperti Nabi Yusuf a.s., beliau saw.   pun mencapai kemuliaan dan kekuasaan dalam masa hijrah dan pembuangan, saw. dan ketika sesudah bertahun-tahun mengalami pembuangan beliau saw. memasuki kota kelahiran beliau sebagai penakluk  dengan memimpin 10.000 Sahabat, dan Makkah bertekuk-lutut dan mencium duli telapak kaki Nabi Besar Muhammad saw., beliau bertanya kepada kaum beliau saw. bahwa perlakuan apa yang mereka harapkan dari beliau? Mereka menjawab: “Perlakuan yang Nabi Yusuf a.s. berikan kepada saudara-saudaranya.” Atas permohonan mereka segera Nabi Besar Muhammad saw. menjawab: “Tidak ada celaan atas kamu  pada hari ini.”  
       Perlakuan mulia dari Nabi Besar Muhammad saw. terhadap musuh-musuh beliau saw. yang haus darah, yakni kaum Quraisy Mekkah, yang tidak ada suatu kesempatan pun mereka biarkan untuk membunuh beliau saw. dan membinasakan Islam sampai ke akar-akarnya, adalah tidak ada bandingannya sepanjang sejarah umat manusia.
      Itulah persamaan lainnya antara Nabi Besar Muhammad saw. dengan Nabi Yusuf a.s., walau pun – sebebagaimana telah dikemukakan dalam Bab-bab  sebelumnya – apa yang    dialami  dan apa yang dilakukan oleh  Nabi Besar Muhammad saw. jauh lebih sempurna daripada apa  yang dialami   dan dilakukan oleh Nabi Yusuf a.s., baik  dari segi kuantitas mau pun dari segi kualitasnya. Contohnya:
(1)  Nabi Yusuf a.s. hanya sekedar mengalami rencana pembunuhan, dan pada akhirnya hanya berupa dimasukkannya beliau ke dalam sumur oleh kakak-kakak beliau, sedangkan  Nabi Besar Muhammad saw. benar-benar berkali-kali mengalami upaya pembunuhan serta mengalami berbagai tindakan yang sangat zalim, dan kepergian beliau saw. dari Makkah ke Madinah pun  adalah karena  adanya   makar-buruk dari para pemimpin kaum kafir Quraisy serta pemimpin-pemimpin qabilah-qabilah bangsa Arab yang sangat membenci beliau saw. (QS.8:31).
(2)  Nabi Yusuf a.s. di Mesir langsung mendapat kehidupan duniawi yang baik di rumah Potifar, walau pun  akibat ulah buruk istri majikannya tersebut,  beliau memilih menjadi penghuni penjara selama bertahun-tahun. Nabi Besar Muhammad saw. di Madinah bukan saja harus  berhadapan dengan kedengkian golongan Ahli Kitab – yakni Bani Qainuqa', Nadhir dan Bani Quraizhah – dan kemunafikan orang-orang munafik  pimpinan Abdullah bin Ubay bin Salul, tetapi juga harus menghadapi serangan-serangan yang dilancarkan oleh golongan persekutuan bangsa Arab  pimpinan Abu Jahal Abu Sufyan dan 8 rekannya dan juga Abu Sufyan dan kawan-kawannya, dalam Perang Badar, Perang Uhud, dan perang Ahzab. Sejak beliau saw. hijrah dari Makkah ke Madinah berkali-kali beliau saw. mengalami upaya pembunuhan, termasuk dengan cara meracuni makanan yang dihidangkan kepada beliau  saw. yang dilakukan orang-orang Yahudi.
(3)   Nabi Yusuf a.s. di Mesir hanya mencapai kedudukan mulia duniawi sebagai salah seorang wazir (menteri) dari kerajaan Mesir dan tinggal di dalam istana yang mewah, sedangkan Nabi Besar Muhammad saw. benar-benar meraih kedudukan sebagai raja ruhani dan raja duniawi,  yang selalu sukses menghadapi berbagai peperangan -- khususnya 3 perang yang sangat penting, yakni perang Badar, Perang Uhud, dan perang Ahzab. Namun demikian penampilan beliau saw. secara jasmani (lahiriyah)   demikian juga tempat tinggal beliau saw. tidak pernah mengalami perubahan, yakni tetap dalam keadaan yang sangat sederhana.

Suri Teladan yang Paling Sempurna

      Sangat tepat pendapat dan gambaran yang dikemukakan seorang peneliti non-Muslim di bagian akhir penjelasan berikut ini berkenaan dengan keadaan Nabi Besar Muhammad saw., yang walau pun telah mengalami berbagai ujian keimanan yang sangat berat serta telah mencapai kesuksesan ruhani dan duniawi akan tetapi  semuanya  itu sedikit pun tidak mampu mengubah akhlak terpuji yang senantiasa beliau saw. peragakan sesuai petunjuk Allah Swt. dalam Al-Quran, firman-Nya:
لَقَدۡ کَانَ لَکُمۡ  فِیۡ رَسُوۡلِ اللّٰہِ  اُسۡوَۃٌ حَسَنَۃٌ  لِّمَنۡ کَانَ یَرۡجُوا اللّٰہَ وَ الۡیَوۡمَ  الۡاٰخِرَ  وَ ذَکَرَ  اللّٰہَ  کَثِیۡرًا ﴿ؕ۲۲
Sungguh dalam  diri Rasulullah benar-benar terdapat  suri teladan yang sebaik-baiknya bagi kamu, yaitu bagi  orang yang mengharapkan Allah dan Hari Akhir,  dan bagi yang banyak mengingat Allah. (Al-Ahzab [33]:22).
  Pertempuran Khandak mungkin merupakan percobaan paling pahit di dalam seluruh jenjang kehidupan  Nabi Besar Muhammad saw.  dan beliau saw. keluar dari ujian yang paling berat itu dengan keadaan akhlak dan wibawa yang lebih tinggi lagi. Sesungguhnyalah pada saat yang sangat berbahayalah, yakni ketika di sekitar gelap gelita, atau dalam waktu mengenyam sukses dan kemenangan, yakni ketika musuh bertekuk lutut di hadapannya, watak dan perangai yang sesungguhnya seseorang diuji; dan sejarah memberi kesaksian yang jelas kepada kenyataan bahwa Nabi Besar Muhammad saw. --  baik dalam keadaan dukacita karena dirundung kesengsaraan dan pada saat sukacita karena meraih kemenangan — tetap menunjukkan kepribadian agung lagi mulia.
Pertempuran Khandak, Uhud, dan Hunain menjelaskan dengan seterang-seterangnya satu watak beliau saw. yang indah, dan Fatah Mekkah (Kemenangan atas Makkah) memperlihatkan watak beliau lainnya. Mara bahaya tidak mengurangi semangat beliau saw.  atau mengecutkan hati beliau saw., begitu pula kemenangan dan sukses tidak merusak watak beliau saw..
Ketika beliau ditinggalkan hampir seorang diri pada hari Pertempuran Hunain, sedang nasib Islam berada di antara hidup dan mati, beliau saw. tanpa gentar sedikit pun dan seorang diri belaka maju ke tengah barisan musuh seraya berseru dengan kata-kata yang patut dikenang selama-lamanya: “Aku nabi Allah dan aku tidak berkata dusta. Aku anak Abdul Muthalib.” Dan tatkala Makkah jatuh (Fatah Makkah) dan seluruh tanah Arab bertekuk lutut maka kekuasaan yang mutlak dan tak tersaingi itu tidak kuasa merusak beliau sa... Beliau saw. menunjukkan keluhuran budi (akhlak) yang tiada taranya terhadap musuh-musuh beliau saw.. – yakni memperlakukan mereka sebagaimana   Nabi Yusuf a.s.. telah mengampuni saudara-saudaranya.
Kesaksian lebih besar mana lagi yang mungkin ada terhadap keagungan watak Nabi Besar Muhammad saw.  selain kenyataan bahwa pribadi-pribadi yang paling akrab dengan beliau saw. dan yang paling mengenal beliau saw., mereka itulah yang paling mencintai beliau saw. dan merupakan yang pertama-tama percaya akan misi beliau saw., yakni, istri beliau saw. yang tercinta, Sitti Khadijah r.a.; sahabat beliau saw. sepanjang hayat, Abu Bakar ra.s.; saudara sepupu yang juga menantu beliau, Ali bin Abi Thalib r.a.; dan bekas budak beliau saw. yang telah dimerdekakan, Zaid bin Haristsah r.a.. Nabi Besar Muhammad saw. merupakan contoh kemanusiaan yang paling mulia dan model yang paling sempurna dalam keindahan dan kebajikan.
 Dalam segala segi kehidupan dan watak Nabi Besar Muhammad saw. yang beraneka ragam, tidak ada duanya dan merupakan contoh yang tiada bandingannya bagi umat manusia untuk ditiru dan diikuti. Seluruh kehidupan beliau saw. nampak dengan jelas dan nyata dalam cahaya lampu-sorot sejarah. Nabi Besar Muhammad saw. mengawali kehidupan beliau saw, sebagai anak yatim dan mengakhirinya dengan berperan sebagai wasit yang menentukan nasib seluruh bangsa.
Sebagai kanak-kanak beliau saw. penyabar lagi gagah, dan di ambang pintu usia remaja, beliau saw. tetap merupakan contoh yang sempurna dalam akhlak, ketakwaan, dan kesabaran. Pada usia setengah-baya beliau saw. mendapat julukan Al-Amin (si Jujur dan setia kepada amanat) dan selaku seorang niagawan beliau  saw.terbukti paling jujur dan cermat.
Nabi Besar Muhammad saw.  menikah dengan perempuan-perempuan yang di antaranya ada yang jauh lebih tua daripada beliau saw. sendiri dan ada juga yang jauh lebih muda, namun semua bersedia memberi kesaksian dengan mengangkat sumpah mengenai kesetiaan, kecintaan, dan kekudusan beliau saw..
 Sebagai ayah beliau saw. penuh dengan kasih sayang, dan sebagai sahabat beliau saw. sangat setia dan murah hati. Ketika beliau saw. mendapat amanat tugas yang amat besar dan berat dalam usaha memperbaiki suatu masyarakat yang sudah rusak, beliau saw. menjadi sasaran derita aniaya dan pembuangan, namun beliau saw, memikul semua penderitaan itu dengan sikap agung dan budi luhur.
Nabi Besar Muhammad saw. ertempur sebagai prajurit gagah-berani dan memimpin pasukan-pasukan. Beliau saw. menghadapi kekalahan dan beliau saw. memperoleh kemenangan-kemenangan. Beliau saw. menghakimi dan mengambil serta menjatuhkan keputusan dalam berbagai perkara. Beliau saw. adalah seorang negarawan, seorang pendidik, dan seorang pemimpin.
Kepala negara merangkap Penghulu Agama, beliau adalah Kaisar dan Paus sekaligus. Tetapi beliau adalah Paus yang tidak berlaga Paus, dan Kaisar tanpa pasukan-pasukan yang megah. Tanpa balatentara tetap, tanpa pengawal, tanpa istana yang megah, tanpa pungutan pajak tetap dan tertentu, sehingga jika ada orang berhak mengatakan bahwa ia memerintah dengan hak ketuhanan, maka orang itu hanyalah Muhammad, sebab beliau mempunyai kekuasaan tanpa alat-alat kekuasaan dan tanpa bantuan kekuasaan. Beliau biasa melakukan pekerjaan rumah tangga dengan tangan beliau sendiri, biasa tidur di atas sehelai tikar kulit, dan makanan beliau terdiri dari kurma dan air putih atau roti jawawut, dan setelah melakukan bermacam-macam tugas sehari penuh, beliau biasa melewatkan malam hari dengan mendirikan shalat dan doa-doa hingga kedua belah kaki beliau bengkak-bengkak. Tidak ada orang yang dalam keadaan dan suasana yang begitu banyak berubah telah berubah begitu sedikitnya” (Muhammad and Muham-madanism” karya Bosworth Smith).

 (Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid

Tidak ada komentar:

Posting Komentar