بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
HUBUNGAN NABI YUSUF A.S.
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
Bagian XXXVI
Tentang
Kesempurnaan Suri Teladan Nabi Besar Muhammad Saw.
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
یٰبَنِیَّ اذۡہَبُوۡا فَتَحَسَّسُوۡا مِنۡ یُّوۡسُفَ وَ اَخِیۡہِ وَ لَا تَایۡـَٔسُوۡا مِنۡ رَّوۡحِ اللّٰہِ ؕ اِنَّہٗ لَا یَایۡـَٔسُ مِنۡ رَّوۡحِ اللّٰہِ اِلَّا الۡقَوۡمُ الۡکٰفِرُوۡنَ ﴿۸۷﴾
“Hai anak-anakku, pergilah dan selidikilah mengenai Yusuf dan saudaranya,
dan janganlah kamu putus asa akan rahmat Allah,
sesungguh-nya tidak ada yang putus asa akan rahmat Allah kecuali
orang-orang yang kafir.” (Yusuf [12]:88).
Dalam Bab
sebelumnya telah dikemukakan kehinaan demi kehinaan yang terus
membuntuti saudara-saudara tua Nabi Yusuf a.s., bertentangan dengan keadaan
nabi Yusuf a.s. yang terus menerus mendapat kemuliaan dari Allah Swt., baik
secara jasmani mau pun secara ruhani, namun karena mereka tidak menyadari hal tersebut maka mereka tetap saja memendam kedengkian
terhadap Nabi Yusuf a.s., dan kedengkian mereka itu terucap apabila
Nabi Ya’qub a.s. menyebut-nyebut tentang adik mereka, Nabi Ya.s., firman-Nya:
قَالُوۡا تَاللّٰہِ تَفۡتَؤُا تَذۡکُرُ یُوۡسُفَ حَتّٰی تَکُوۡنَ حَرَضًا اَوۡ تَکُوۡنَ مِنَ الۡہٰلِکِیۡنَ ﴿۸۶﴾ قَالَ اِنَّمَاۤ اَشۡکُوۡا بَثِّیۡ وَ حُزۡنِیۡۤ اِلَی اللّٰہِ وَ اَعۡلَمُ مِنَ
اللّٰہِ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ ﴿۸۷﴾
Mereka berkata: “Demi Allah, engkau tidak akan berhenti menyebut-nyebut
Yusuf hingga engkau menjadi sakit atau hingga engkau termasuk
menjadi orang-orang yang binasa!” Ia (Yaqub) menjawab:
“Sesungguhnya aku keluh-kesahkan kesusahanku dan dukacitaku hanya
kepada Allah, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tidak
ketahui.” (Yusuf
[12]:86-87).
Selanjutnya Nabi Yaqub a.s.
berkata, firman-Nya:
یٰبَنِیَّ اذۡہَبُوۡا فَتَحَسَّسُوۡا مِنۡ یُّوۡسُفَ وَ اَخِیۡہِ وَ لَا تَایۡـَٔسُوۡا مِنۡ رَّوۡحِ اللّٰہِ ؕ اِنَّہٗ لَا یَایۡـَٔسُ مِنۡ رَّوۡحِ اللّٰہِ اِلَّا الۡقَوۡمُ الۡکٰفِرُوۡنَ ﴿۸۷﴾
“Hai anak-anakku, pergilah dan selidikilah mengenai Yusuf
dan saudaranya, dan janganlah kamu putus asa akan rahmat Allah,
sesungguhnya tidak ada yang putus asa akan rahmat Allah kecuali orang-orang
yang kafir.” (Yusuf [12]:88).
Sebagaimana
ayat sebelumnya (QS.12:87), ayat ini pun menampakkan, bahwa Nabi Ya’qub a.s. yakin
bahwa Nabi Yusuf a.s., Benyamin, dan
Yehuda ketika itu masih ada dalam keadaan hidup di Mesir. Selanjutnya Dia
berfirman:
فَلَمَّا
دَخَلُوۡا عَلَیۡہِ قَالُوۡا یٰۤاَیُّہَا الۡعَزِیۡزُ مَسَّنَا وَ اَہۡلَنَا الضُّرُّ وَ
جِئۡنَا بِبِضَاعَۃٍ مُّزۡجٰىۃٍ فَاَوۡفِ لَنَا الۡکَیۡلَ وَ تَصَدَّقۡ عَلَیۡنَا ؕ اِنَّ اللّٰہَ یَجۡزِی الۡمُتَصَدِّقِیۡنَ ﴿۸۹﴾
Maka tatkala mereka itu datang lagi kepadanya, mereka
berkata: “Wahai yang mulia, kesengsaraan
telah menimpa kami dan keluarga kami, dan kami membawa sejumlah uang yang tidak
berharga maka berilah kami sukatan yang penuh dan engkau sedekahilah
kami, sesungguhnya Allah memberi balasan kepada orang-orang
bersedekah.” (Yusuf [12]:89).
Nabi Yusuf a.s. Membuka Rahasia Dirinya
Tingkah laku
saudara-saudara Nabi Yusuf a.s. pada
kejadian itu agaknya sukar dijelaskan. Mereka itu agaknya telah menjadi begitu
merosot akhlaknya, sehingga dengan mengabaikan tujuan sebenarnya dari kunjungan
mereka sekarang ke Mesir adalah mencari Nabi Yusuf a.s., Benyamin, dan Yehuda,
malah mulai mengemis-ngemis untuk diberi gandum.
Ketika dosa
dan kedengkian meliputi hati manusia maka hal tersebut membuat
hati manusia semakin tidak
peka, demikian juga halnya dengan
kakak-kakak Nabi Yusuf a.s. pun tidak mampu isyarat-isyarat halus
yang terdapat dalam ucapan-ucapan ayah mereka mengenai Nabi Yusuf a.s., sehingga walau pun
mereka sudah dua kali bertemu dengan
adik mereka itu tetapi tetap saja mereka tidak mengetahui bahwa orang yang
terhadapnya mereka memiinta belas-kasihan itu adalah adik mereka yang sangat
mereka benci dan yang mereka telah membuangnya, bahkan hendak membunuhnya.
Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
Ia, Yusuf, berkata:
“Apakah kamu mengetahui apa yang telah ka-mu lakukan terhadap Yusuf dan
saudaranya ketika kamu berbuat jahil kepadanya?” (Yusuf
[12]:90).
Karena
tak tahan lagi melihat saudara-saudaranya secara demikian merendahkan harkat
mereka sendiri dengan minta-minta gandum, Nabi Yusuf a.s. mengambil keputusan
untuk membuka rahasia dirinya yang sebenarnya kepada mereka; tetapi beliau
membuka persoalan itu dengan cara tidak langsung., firman-Nya:
قَالَ ہَلۡ عَلِمۡتُمۡ مَّا فَعَلۡتُمۡ بِیُوۡسُفَ وَ اَخِیۡہِ اِذۡ اَنۡتُمۡ جٰہِلُوۡنَ ﴿۹۰﴾
Ia, Yusuf, berkata:
“Apakah kamu mengetahui apa yang telah kamu lakukan terhadap Yusuf
dan saudaranya ketika kamu berbuat jahil kepadanya?” (Yusuf
[12]:90).
Atas pertanyaan nabi
Yusuf a.s. tersebut mereka balik bertanya dengan penuh rasa terkejut,
firman-Nya:
قَالُوۡۤا ءَاِنَّکَ لَاَنۡتَ یُوۡسُفُ ؕ قَالَ اَنَا یُوۡسُفُ وَ ہٰذَاۤ اَخِیۡ ۫ قَدۡ مَنَّ اللّٰہُ
عَلَیۡنَا ؕ اِنَّہٗ مَنۡ یَّـتَّقِ وَ یَصۡبِرۡ فَاِنَّ اللّٰہَ لَا یُضِیۡعُ اَجۡرَ الۡمُحۡسِنِیۡنَ ﴿۹۱﴾
Mereka berkata: “Apakah engkau ini Yusuf?” Ia berkata: “Ya, aku adalah Yusuf dan ini
saudaraku, sungguh Allah telah melimpahkan karunia atas kami.
Sesungguhnya barangsiapa bertakwa dan bersabar maka
sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan ganjaran
orang-orang yang berbuat ihsan.” (Yusuf [12]:90).
Menyadari
akan kesalahan mereka selama ini terhadap
adik mereka, Nabi Yusuf a.s. dan Benyamin, maka segera mereka mengakui
kebenaran perkataan Nabi Yusuf a.s. dan
mereka mengakui kesalahan mereka selama itu, firman-Nya:
قَالُوۡا تَاللّٰہِ لَقَدۡ اٰثَرَکَ اللّٰہُ عَلَیۡنَا وَ اِنۡ کُنَّا لَخٰطِئِیۡنَ ﴿۹۲﴾
Mereka berkata: “Demi
Allah, sungguh Allah benar-benar telah melebihkan engkau di atas
kami dan sesungguhnya kami benar-benar
orang-orang yang bersalah.” (Yusuf
[12]:92).
Bandingkan perkataan mereka itu dengan
perkataan mereka sebelumnya mengenai Nabi Yusuf a.s.:
اِذۡ قَالُوۡا لَیُوۡسُفُ وَ اَخُوۡہُ اَحَبُّ اِلٰۤی اَبِیۡنَا مِنَّا وَ نَحۡنُ
عُصۡبَۃٌ ؕ اِنَّ اَبَانَا لَفِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنِۣ
ۚ﴿ۖ۹﴾ اقۡتُلُوۡا یُوۡسُفَ اَوِ اطۡرَحُوۡہُ اَرۡضًا یَّخۡلُ لَکُمۡ وَجۡہُ اَبِیۡکُمۡ وَ تَکُوۡنُوۡا مِنۡۢ بَعۡدِہٖ
قَوۡمًا صٰلِحِیۡنَ ﴿۱۰﴾
Ketika mereka berkata: “Sesungguhnya Yusuf dan saudaranya lebih
dicintai oleh ayah kita daripada kita, padahal kita satu golongan yang
kuat, sesungguhnya ayah kita ada dalam kesesatan (keliruan)
yang nyata. Karena itu bunuhlah Yusuf atau buanglah
dia ke negeri lain, supaya perhatian ayahmu kepada kamu saja, dan
sesudah itu kamu bertaubat dan menjadi orang-orang yang shalih.” (Yusuf [12]:9-10).
Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
قَالَ لَا تَثۡرِیۡبَ عَلَیۡکُمُ الۡیَوۡمَ ؕ یَغۡفِرُ اللّٰہُ لَکُمۡ ۫ وَ ہُوَ اَرۡحَمُ الرّٰحِمِیۡنَ ﴿۹۳﴾
Ia (Yusuf) berkata: “Tidak ada celaan bagi kamu pada hari ini,
semoga Allah mengampuni kamu, dan Dia-lah Yang Paling
Penyayang dari semua penyayang.” Yusuf [12]:93).
Nabi
Yusuf a.s. tidak membiarkan saudara-saudaranya dalam kegelisahan, dan seketika
itu juga melenyapkan segala kekhawatiran dan kecemasan mereka mengenai cara
bagaimanakah beliau akan memperlakukan mereka, dengan segera mengatakan bahwa beliau
akan mengampuni semua kesalahan mereka tanpa batas dan tanpa syarat apa pun.
Pengampunan Nabi Besar Muhammad Saw. atas Para Penganiaya Beliau saw.
Pengampunan
Nabi Yusuf a.s. terhadap saudara-saudaranya dengan kelapangan dan kemurahan
hati merupakan persamaan yang paling besar dan menonjol dengan Nabi Besar
Muhammad saw.. Seperti Nabi Yusuf a.s., beliau saw. pun mencapai kemuliaan dan kekuasaan
dalam masa hijrah dan pembuangan, saw. dan ketika sesudah
bertahun-tahun mengalami pembuangan beliau saw. memasuki kota kelahiran
beliau sebagai penakluk dengan
memimpin 10.000 Sahabat, dan Makkah bertekuk-lutut dan mencium duli telapak
kaki Nabi Besar Muhammad saw., beliau bertanya kepada kaum beliau saw. bahwa perlakuan
apa yang mereka harapkan dari beliau? Mereka menjawab: “Perlakuan yang Nabi
Yusuf a.s. berikan kepada saudara-saudaranya.” Atas permohonan
mereka segera Nabi Besar Muhammad saw. menjawab: “Tidak ada celaan atas
kamu pada hari ini.”
Perlakuan
mulia dari Nabi Besar Muhammad saw. terhadap musuh-musuh beliau saw. yang haus
darah, yakni kaum Quraisy Mekkah, yang tidak ada suatu kesempatan pun mereka
biarkan untuk membunuh beliau saw. dan membinasakan Islam sampai ke akar-akarnya,
adalah tidak ada bandingannya sepanjang sejarah umat manusia.
Itulah
persamaan lainnya antara Nabi Besar Muhammad saw. dengan Nabi Yusuf a.s., walau
pun – sebebagaimana telah dikemukakan dalam Bab-bab sebelumnya – apa yang dialami
dan apa yang dilakukan oleh Nabi
Besar Muhammad saw. jauh lebih sempurna daripada apa yang dialami
dan dilakukan oleh Nabi Yusuf a.s., baik
dari segi kuantitas mau pun dari segi kualitasnya. Contohnya:
(1) Nabi Yusuf a.s. hanya sekedar mengalami rencana pembunuhan, dan
pada akhirnya hanya berupa dimasukkannya beliau ke dalam sumur oleh
kakak-kakak beliau, sedangkan Nabi Besar
Muhammad saw. benar-benar berkali-kali mengalami upaya pembunuhan serta
mengalami berbagai tindakan yang sangat zalim, dan kepergian beliau saw.
dari Makkah ke Madinah pun adalah
karena adanya makar-buruk dari para pemimpin kaum
kafir Quraisy serta pemimpin-pemimpin qabilah-qabilah bangsa Arab yang sangat
membenci beliau saw. (QS.8:31).
(2) Nabi Yusuf a.s. di Mesir langsung mendapat kehidupan duniawi yang
baik di rumah Potifar, walau pun akibat
ulah buruk istri majikannya tersebut,
beliau memilih menjadi penghuni penjara selama bertahun-tahun. Nabi
Besar Muhammad saw. di Madinah bukan saja harus
berhadapan dengan kedengkian golongan Ahli Kitab – yakni Bani
Qainuqa', Nadhir dan Bani Quraizhah – dan kemunafikan orang-orang munafik pimpinan Abdullah bin Ubay bin Salul, tetapi
juga harus menghadapi serangan-serangan yang dilancarkan oleh golongan
persekutuan bangsa Arab pimpinan Abu
Jahal Abu Sufyan dan 8 rekannya dan juga Abu Sufyan dan kawan-kawannya, dalam
Perang Badar, Perang Uhud, dan perang Ahzab. Sejak beliau saw. hijrah
dari Makkah ke Madinah berkali-kali beliau saw. mengalami upaya pembunuhan,
termasuk dengan cara meracuni makanan yang dihidangkan kepada beliau saw. yang dilakukan orang-orang Yahudi.
(3) Nabi Yusuf a.s. di Mesir
hanya mencapai kedudukan mulia duniawi sebagai salah seorang wazir (menteri)
dari kerajaan Mesir dan tinggal di dalam istana yang mewah, sedangkan Nabi
Besar Muhammad saw. benar-benar meraih kedudukan sebagai raja ruhani dan
raja duniawi, yang selalu sukses
menghadapi berbagai peperangan -- khususnya 3 perang yang sangat penting, yakni
perang Badar, Perang Uhud, dan perang Ahzab. Namun demikian penampilan beliau
saw. secara jasmani (lahiriyah)
demikian juga tempat tinggal beliau saw. tidak pernah mengalami
perubahan, yakni tetap dalam keadaan yang sangat sederhana.
Suri Teladan yang Paling Sempurna
Sangat tepat pendapat
dan gambaran yang dikemukakan seorang peneliti non-Muslim di bagian akhir
penjelasan berikut ini berkenaan dengan keadaan Nabi Besar Muhammad saw.,
yang walau pun telah mengalami berbagai ujian keimanan yang sangat berat
serta telah mencapai kesuksesan ruhani dan duniawi akan
tetapi semuanya itu sedikit pun tidak mampu mengubah akhlak
terpuji yang senantiasa beliau saw. peragakan sesuai petunjuk Allah Swt.
dalam Al-Quran, firman-Nya:
لَقَدۡ کَانَ لَکُمۡ فِیۡ
رَسُوۡلِ اللّٰہِ اُسۡوَۃٌ حَسَنَۃٌ لِّمَنۡ کَانَ یَرۡجُوا اللّٰہَ وَ
الۡیَوۡمَ الۡاٰخِرَ وَ ذَکَرَ
اللّٰہَ کَثِیۡرًا ﴿ؕ۲۲﴾
Sungguh dalam diri
Rasulullah benar-benar terdapat suri teladan yang sebaik-baiknya
bagi kamu, yaitu bagi orang
yang mengharapkan Allah dan Hari Akhir, dan bagi yang banyak mengingat
Allah. (Al-Ahzab [33]:22).
Pertempuran Khandak mungkin merupakan percobaan paling pahit di
dalam seluruh jenjang kehidupan Nabi
Besar Muhammad saw. dan beliau saw. keluar
dari ujian yang paling berat itu dengan keadaan akhlak dan wibawa
yang lebih tinggi lagi. Sesungguhnyalah pada saat yang sangat berbahayalah,
yakni ketika di sekitar gelap gelita, atau dalam waktu mengenyam sukses dan
kemenangan, yakni ketika musuh bertekuk lutut di hadapannya, watak
dan perangai yang sesungguhnya seseorang diuji; dan sejarah memberi
kesaksian yang jelas kepada kenyataan bahwa Nabi Besar Muhammad saw. -- baik dalam keadaan dukacita karena
dirundung kesengsaraan dan pada saat sukacita karena meraih kemenangan — tetap
menunjukkan kepribadian agung lagi mulia.
Pertempuran Khandak, Uhud, dan Hunain menjelaskan dengan
seterang-seterangnya satu watak beliau saw. yang indah, dan Fatah Mekkah
(Kemenangan atas Makkah) memperlihatkan watak beliau lainnya. Mara bahaya tidak
mengurangi semangat beliau saw. atau
mengecutkan hati beliau saw., begitu pula kemenangan dan sukses tidak merusak
watak beliau saw..
Ketika beliau ditinggalkan hampir seorang diri pada hari Pertempuran
Hunain, sedang nasib Islam berada di antara hidup dan mati, beliau saw. tanpa
gentar sedikit pun dan seorang diri belaka maju ke tengah barisan musuh seraya
berseru dengan kata-kata yang patut dikenang selama-lamanya: “Aku nabi Allah
dan aku tidak berkata dusta. Aku anak Abdul Muthalib.” Dan tatkala Makkah
jatuh (Fatah Makkah) dan seluruh tanah Arab bertekuk lutut maka kekuasaan
yang mutlak dan tak tersaingi itu tidak kuasa merusak beliau sa... Beliau saw.
menunjukkan keluhuran budi (akhlak) yang tiada taranya terhadap musuh-musuh
beliau saw.. – yakni memperlakukan mereka sebagaimana Nabi Yusuf a.s.. telah mengampuni
saudara-saudaranya.
Kesaksian lebih besar mana lagi yang mungkin ada terhadap keagungan
watak Nabi Besar Muhammad saw. selain
kenyataan bahwa pribadi-pribadi yang paling akrab dengan beliau saw. dan yang
paling mengenal beliau saw., mereka itulah yang paling mencintai beliau saw. dan merupakan yang pertama-tama percaya akan
misi beliau saw., yakni, istri beliau saw. yang tercinta, Sitti Khadijah r.a.;
sahabat beliau saw. sepanjang hayat, Abu Bakar ra.s.; saudara sepupu yang juga
menantu beliau, Ali bin Abi Thalib r.a.; dan bekas budak beliau saw. yang telah
dimerdekakan, Zaid bin Haristsah r.a.. Nabi Besar Muhammad saw. merupakan
contoh kemanusiaan yang paling mulia dan model yang paling sempurna
dalam keindahan dan kebajikan.
Dalam segala segi kehidupan
dan watak Nabi Besar Muhammad saw. yang beraneka ragam, tidak ada
duanya dan merupakan contoh yang tiada bandingannya bagi umat manusia
untuk ditiru dan diikuti. Seluruh kehidupan beliau saw. nampak dengan jelas dan
nyata dalam cahaya lampu-sorot sejarah. Nabi Besar Muhammad saw. mengawali
kehidupan beliau saw, sebagai anak yatim dan mengakhirinya dengan
berperan sebagai wasit yang menentukan nasib seluruh bangsa.
Sebagai kanak-kanak beliau saw. penyabar lagi gagah, dan di ambang
pintu usia remaja, beliau saw. tetap merupakan contoh yang sempurna dalam
akhlak, ketakwaan, dan kesabaran. Pada usia setengah-baya beliau saw. mendapat
julukan Al-Amin (si Jujur dan setia kepada amanat) dan selaku seorang
niagawan beliau saw.terbukti paling
jujur dan cermat.
Nabi Besar Muhammad saw. menikah dengan perempuan-perempuan yang di
antaranya ada yang jauh lebih tua daripada beliau saw. sendiri dan ada juga
yang jauh lebih muda, namun semua bersedia memberi kesaksian dengan mengangkat
sumpah mengenai kesetiaan, kecintaan, dan kekudusan beliau saw..
Sebagai ayah beliau saw. penuh
dengan kasih sayang, dan sebagai sahabat beliau saw. sangat setia dan murah
hati. Ketika beliau saw. mendapat amanat tugas yang amat besar dan berat
dalam usaha memperbaiki suatu masyarakat yang sudah rusak, beliau saw. menjadi
sasaran derita aniaya dan pembuangan, namun beliau saw, memikul
semua penderitaan itu dengan sikap agung dan budi luhur.
Nabi Besar Muhammad saw. ertempur sebagai prajurit gagah-berani dan
memimpin pasukan-pasukan. Beliau saw. menghadapi kekalahan dan beliau saw. memperoleh
kemenangan-kemenangan. Beliau saw. menghakimi dan mengambil serta
menjatuhkan keputusan dalam berbagai perkara. Beliau saw. adalah seorang
negarawan, seorang pendidik, dan seorang pemimpin.
“Kepala negara merangkap Penghulu Agama, beliau adalah Kaisar
dan Paus sekaligus. Tetapi beliau adalah Paus yang tidak berlaga Paus, dan
Kaisar tanpa pasukan-pasukan yang megah. Tanpa balatentara tetap, tanpa
pengawal, tanpa istana yang megah, tanpa pungutan pajak tetap dan tertentu,
sehingga jika ada orang berhak mengatakan bahwa ia memerintah dengan hak
ketuhanan, maka orang itu hanyalah Muhammad, sebab beliau mempunyai kekuasaan
tanpa alat-alat kekuasaan dan tanpa bantuan kekuasaan. Beliau biasa melakukan
pekerjaan rumah tangga dengan tangan beliau sendiri, biasa tidur di atas sehelai
tikar kulit, dan makanan beliau terdiri dari kurma dan air putih atau roti
jawawut, dan setelah melakukan bermacam-macam tugas sehari penuh, beliau biasa
melewatkan malam hari dengan mendirikan shalat dan doa-doa hingga kedua belah
kaki beliau bengkak-bengkak. Tidak ada orang yang dalam keadaan dan suasana
yang begitu banyak berubah telah berubah begitu sedikitnya” (Muhammad
and Muham-madanism” karya Bosworth Smith).
(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid
Tidak ada komentar:
Posting Komentar