بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
HUBUNGAN NABI YUSUF A.S.
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
Bagian XLXIII
Tentang
Dua Golongan Manusia "Jin dan "Ins"
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
یٰمَعۡشَرَ الۡجِنِّ وَ الۡاِنۡسِ اَلَمۡ یَاۡتِکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ وَ یُنۡذِرُوۡنَکُمۡ لِقَآءَ یَوۡمِکُمۡ ہٰذَا ؕ قَالُوۡا شَہِدۡنَا عَلٰۤی اَنۡفُسِنَا وَ غَرَّتۡہُمُ الۡحَیٰوۃُ الدُّنۡیَا وَ شَہِدُوۡا عَلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ اَنَّہُمۡ کَانُوۡا کٰفِرِیۡنَ ﴿۱۳۱﴾ ذٰلِکَ اَنۡ لَّمۡ یَکُنۡ رَّبُّکَ مُہۡلِکَ الۡقُرٰی بِظُلۡمٍ وَّ
اَہۡلُہَا غٰفِلُوۡنَ ﴿۱۳۲﴾ وَ لِکُلٍّ دَرَجٰتٌ مِّمَّا عَمِلُوۡا ؕ وَ مَا
رَبُّکَ بِغَافِلٍ عَمَّا یَعۡمَلُوۡنَ ﴿۱۳۳﴾
Hai golongan jin dan ins (manusia),
tidakkah telah datang kepada kamu rasul-rasul dari antaramu yang menceriterakan
kepadamu Tanda-tanda-Ku dan memperingatkan kamu mengenai pertemuan pada hari kamu
ini?” Mereka berkata: “Kami menjadi
saksi atas kekafiran diri kami sendiri.” Tetapi kehidupan dunia
telah memperdayakan mereka, dan mereka telah menjadi saksi atas diri mereka
sendiri bahwa sesungguhnya mereka adalah orang-orang kafir. Yang demikian itu
karena Tuhan engkau tidak pernah membinasakan negeri-negeri secara
zalim padahal penduduknya dalam keadaan
lengah. Dan bagi setiap orang ada derajat-derajat
menurut apa yang telah mereka kerjakan
dan Tuhan engkau tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan. (Al-An’aam
[6]:131-133).
Dalam bab
sebelumnya telah dikemukakan mengenai kebiasaan para penentang Rasul Allah
untuk mendustakan dan memperolok-olok Tanda-tanda Ilahi yang mendukung pendakwaan
para rasul Allah, contohnya adalah 9 buah Tanda Ilahi yang
diperlihatkan oleh Nabi Musa a.s. kepada
Fir’aun dan sekutu-sekutunya,
firman-Nya:
وَ
لَقَدۡ اٰتَیۡنَا مُوۡسٰی تِسۡعَ اٰیٰتٍۭ بَیِّنٰتٍ فَسۡـَٔلۡ بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ اِذۡ جَآءَہُمۡ فَقَالَ
لَہٗ فِرۡعَوۡنُ اِنِّیۡ لَاَظُنُّکَ یٰمُوۡسٰی مَسۡحُوۡرًا ﴿۱۰۲﴾ قَالَ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَاۤ اَنۡزَلَ ہٰۤؤُلَآءِ اِلَّا رَبُّ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ
بَصَآئِرَ ۚ وَ اِنِّیۡ لَاَظُنُّکَ یٰفِرۡعَوۡنُ مَثۡبُوۡرًا ﴿۱۰۳﴾ فَاَرَادَ اَنۡ
یَّسۡتَفِزَّہُمۡ مِّنَ الۡاَرۡضِ فَاَغۡرَقۡنٰہُ
وَ مَنۡ مَّعَہٗ جَمِیۡعًا ﴿۱۰۴﴾ۙ
Dan sungguh Kami benar-benar telah memberi Musa sembilan
buah Tanda yang terang, maka tanyakanlah kepada Bani Israil. Ketika
ia datang kepada mereka maka Fir’aun berkata kepadanya:
“Sesungguhnya aku menganggap engkau, hai Musa, seorang yang kena
sihir.” Ia berkata: “Sungguh engkau benar-benar telah mengetahui bahwa
sama sekali tidak ada yang menurunkan Tanda-tanda
ini, melainkan Tuhan seluruh langit dan bumi sebagai bukti-bukti
nyata, dan sesungguhnya aku
benar-benar yakin engkau, hai Fir’aun, orang yang akan
binasa.” Maka ia (Fir’aun) telah
bertekad mengusir mereka dari negeri itu, tetapi Kami menenggelamkannya dan orang-orang yang beserta dia semuanya.
(Bani Israil [17]:102-104).
Sembilan
Tanda ini yang telah tersebut di tempat lain dalam Al-Quran ialah (1)
tongkat (QS.7:108); (2) tangan putih (QS.7:109); (3) musim kering
dan kekurangan buah-buahan (QS.7:131); (4) badai; (5) belalang; (6)
kutu; (7) katak; dan (8) azab darah (QS.7:134). Tanda kesembilan
adalah menyebrangi laut setelah Nabi
Musa a.s. atas perintah Allah Swt. memukulkan atau mengarahkan tongkat
beliau ke laut, sehingga mulai terjadi proses pasang surut yang keadaannya
berbeda dengan yang selama itu
terjadi di wilayah tersebut.
Dua
Golongan Manusia: “Jin” dan “Ins”
Jadi, bagaimana pun jelasnya berbagai Tanda-tanda
Ilahi yang diperlihatkan p;eh para Rasul Allah – termasuk Tanda berupa azab
Ilahi – tetap semua itu tetap tidak membuat
“mata ruhani” para penentang Rasul Allah
menjadi melihat lalu mereka beriman kepada para rasul Allah.
Demikian juga yang terjadi di Akhir Zaman ini, firman-Nya:
وَ لَوۡ اَنَّنَا نَزَّلۡنَاۤ اِلَیۡہِمُ الۡمَلٰٓئِکَۃَ وَ کَلَّمَہُمُ الۡمَوۡتٰی وَ حَشَرۡنَا عَلَیۡہِمۡ کُلَّ شَیۡءٍ
قُبُلًا مَّا کَانُوۡا لِیُؤۡمِنُوۡۤا اِلَّاۤ اَنۡ یَّشَآءَ اللّٰہُ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَہُمۡ یَجۡہَلُوۡنَ ﴿۱۱۲﴾ وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا
لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا شَیٰطِیۡنَ الۡاِنۡسِ وَ الۡجِنِّ یُوۡحِیۡ بَعۡضُہُمۡ اِلٰی بَعۡضٍ زُخۡرُفَ
الۡقَوۡلِ غُرُوۡرًا ؕ وَ لَوۡ شَآءَ رَبُّکَ مَا فَعَلُوۡہُ فَذَرۡہُمۡ وَ مَا یَفۡتَرُوۡنَ ﴿۱۱۳﴾
وَ
لِتَصۡغٰۤی اِلَیۡہِ اَفۡـِٕدَۃُ الَّذِیۡنَ لَا یُؤۡمِنُوۡنَ بِالۡاٰخِرَۃِ وَ لِیَرۡضَوۡہُ وَ لِیَقۡتَرِفُوۡا مَا ہُمۡ مُّقۡتَرِفُوۡنَ ﴿۱۱۴﴾
Dan seandainya
pun Kami benar-benar menurunkan
malaikat-malaikat kepada mereka, orang-orang yang telah mati berbicara
dengan mereka, dan Kami mengumpulkan segala sesuatu berhadap-hadapan di depan mereka, mereka sekali-kali
tidak akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi
kebanyakan mereka berlaku jahil. Dan dengan cara demikian Kami telah
menjadikan musuh bagi setiap nabi yaitu syaitan-syaitan di antara manusia
dan jin, sebagian mereka membisikkan
kepada sebagian lainnya kata-kata indah untuk mengelabui, dan jika Tuhan
engkau menghendaki mereka tidak akan mengerjakannya, maka biarkanlah mereka
dengan apa-apa yang mereka ada-adakan, dan
supaya hati orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat cenderung
kepada bisikan itu, mereka menyukainya dan supaya mereka mengusahakan
apa yang sedang mereka usahakan. (Al-An’aam
[6]:112-114).
Salah satu tugas malaikat-malaikat adalah membisikkan kepada manusia pikiran-pikiran
baik untuk mengajak mereka kepada kebenaran (QS.41:32, 33). Kadangkala
mereka melaksanakan tugas-tugas ini melalui mimpi-mimpi dan kasyaf-kasyaf.
Orang-orang bertakwa yang sudah meninggal dunia nampak kepada manusia dalam mimpi
untuk membenarkan pendakwaan nabi-nabi.
Ada satu cara lain yaitu orang-orang yang sudah
mati bercakap-cakap kepada manusia. Bila suatu umat yang secara ruhani sudah
mati mereka dihidupkan kembali untuk memperoleh kehidupan ruhani baru
oleh ajaran nabi mereka, kelahiran-baru ruhani mereka itu seakan-akan
berbicara kepada orang-orang kafir dan memberikan persaksian terhadap kebenaran
pendakwaannya itu.
Kata-kata
“Kami mengumpulkan segala sesuatu berhadap-hadapan di depan mereka” itu menunjuk
kepada kesaksian dari berbagai-bagai benda alam yang memberi kesaksian
terhadap kebenaran seorang nabi dalam bentuk gempa, wabah, kelaparan,
peperangan, dan azab-azab lainnya. Dengan demikian alam sendiri nampaknya gusar
terhadap orang-orang yang ingkar; unsur-unsur alam itu sendiri memerangi
mereka.
Kata-kata manusia dan jin yang terdapat
pada banyak tempat dalam ayat-ayat Al-Quran bukan berarti ada dua jenis makhluk
Allah yang berlainan melainkan dua golongan makhluk manusia, sebutan ins
(manusia) mengisyaratkan kepada orang-orang
awam atau rakyat jelata, sedangkan jin dikatakan kepada orang-orang besar yang
biasa hidup memisahkan diri dari rakyat jelata dan tidak berbaur dengan mereka,
boleh dikatakan tinggal tersembunyi dari penglihatan umum.
Berserikat
Mendustakan dan Menentang Rasul Allah
Kedua golongan manusia inilah – yakni jin
dan ins – yang di akhirat nanti akan bertengkar saling
menyalahkan, firman-Nya:
وَ یَوۡمَ یَحۡشُرُہُمۡ جَمِیۡعًا ۚ یٰمَعۡشَرَ الۡجِنِّ قَدِ اسۡتَکۡثَرۡتُمۡ مِّنَ الۡاِنۡسِ ۚ وَ قَالَ
اَوۡلِیٰٓؤُہُمۡ مِّنَ الۡاِنۡسِ رَبَّنَا
اسۡتَمۡتَعَ بَعۡضُنَا بِبَعۡضٍ وَّ بَلَغۡنَاۤ اَجَلَنَا الَّذِیۡۤ اَجَّلۡتَ لَنَا ؕ قَالَ النَّارُ مَثۡوٰىکُمۡ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَاۤ اِلَّا مَا شَآءَ اللّٰہُ ؕ اِنَّ رَبَّکَ
حَکِیۡمٌ عَلِیۡمٌ ﴿۱۲۸﴾ وَ کَذٰلِکَ نُوَلِّیۡ بَعۡضَ الظّٰلِمِیۡنَ بَعۡضًۢا بِمَا کَانُوۡا یَکۡسِبُوۡنَ ﴿۱۲۹﴾٪
Dan ingatlah
hari ketika Dia akan menghimpun mereka semua, Dia berfirman:
“Hai golongan jin, sesungguhnya kamu telah menarik banyak
dari kalangan ins (manusia), dan teman-temannya dari kalangan ins (manusia) berkata: “Hai Tuhan kami, sebagian kami
telah mengambil keuntungan dari sebagian
yang lainnya, dan kami telah sampai
kepada ajal (jangka waktu) kami
yang telah Engkau tetapkan bagi kami.” Dia berfirman: Api itulah tempat
tinggal kamu semua, kamu kekal di dalamnya, kecuali apa yang
Allah kehendaki”. Sesungguhnya Tuhan engkau Maha Bijaksana, Maha Pengampun. Dan
demikianlah Kami menjadikan sebagian orang-orang yang zalim sebagai teman
sebagian yang lain disebabkan
apa yang senantiasa mereka usahakan. (Al-An’aam [6]:129-30).
Ma’syar berarti segolongan orang yang mempunyai urusan
dan kepentingan yang sama (Lexicon Lane). Dalam ayat ini
sebutan jin jelas menunjukkan
orang-orang besar dan orang-orang kuat sebagai lawan kata ins, yakni
golongan orang-orang lemah dan miskin (rakyat jelata).
Kata-kata
Arab “sesungguhnya kamu telah menarik banyak dari kalangan manusia”
dapat diartikan: (1) Kamu telah menawan hati banyak dari antara khalayak ramai
sehingga mereka berpihak kepadamu dan membuat mereka mengikuti kamu; (2) Kamu
telah memeras mereka; (3) Kamu telah menganggap khalayak ramai sangat penting;
yakni, kamu tidak menerima kebenaran karena takut jangan-jangan masyarakat
tidak akan mengikut kamu lagi.
Sebagaimana
halnya orang lemah tidak menerima kebenaran Rasul Allah karena takut
akan orang-orang besar, seperti itu pula halnya orang-orang besar kadang-kadang
takut akan pengikut-pengikut mereka dan tidak menerima kebenaran karena takut
kalau-kalau para pengikut mereka akan meninggalkan mereka.
Ayat ini
memberikan bukti lagi atas kenyataan bahwa kata jin di sini hanya
berarti satu golongan manusia, yaitu
orang-orang besar dan orang-orang berpengaruh, sebab hanya segolongan
manusia juga memeras tenaga golongan lain. Sedangkan jin sebagai makhluk
lain yang bukan-manusia, tidak pernah memperbudak manusia. Begitu pun sepanjang
pengetahuan kita Utusan-utusan Ilahi tak pernah dibangkitkan dari antara
mereka, yakni makhluk halus yang juga disebut jin.
Kata-kata
“Kami menjadikan sebagian orang-orang yang zalim sebagai teman sebagian yang lain“ itu dapat diartikan pula:
“Dan dengan demikian Kami mendu-dukkan beberapa pendurhaka di atas yang
lainnya.”
Lebih
lanjut Allah Swt. berfirman mengenai dua golongan manusia, yakni jin dan ins, yang sepakat mendustakan
dan menentang para rasul Allah yang diutus kepada mereka:
یٰمَعۡشَرَ الۡجِنِّ وَ الۡاِنۡسِ اَلَمۡ یَاۡتِکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ وَ یُنۡذِرُوۡنَکُمۡ لِقَآءَ یَوۡمِکُمۡ ہٰذَا ؕ قَالُوۡا شَہِدۡنَا عَلٰۤی اَنۡفُسِنَا وَ غَرَّتۡہُمُ الۡحَیٰوۃُ الدُّنۡیَا وَ شَہِدُوۡا عَلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ اَنَّہُمۡ کَانُوۡا کٰفِرِیۡنَ ﴿۱۳۱﴾ ذٰلِکَ اَنۡ لَّمۡ یَکُنۡ رَّبُّکَ مُہۡلِکَ الۡقُرٰی بِظُلۡمٍ وَّ
اَہۡلُہَا غٰفِلُوۡنَ ﴿۱۳۲﴾ وَ لِکُلٍّ دَرَجٰتٌ مِّمَّا عَمِلُوۡا ؕ وَ مَا
رَبُّکَ بِغَافِلٍ عَمَّا یَعۡمَلُوۡنَ ﴿۱۳۳﴾
Hai golongan jin dan ins (manusia),
tidakkah telah datang kepada kamu rasul-rasul dari antaramu yang menceriterakan
kepadamu Tanda-tanda-Ku dan memperingatkan kamu mengenai pertemuan pada
hari kamu ini?” Mereka berkata:
“Kami menjadi saksi atas kekafiran diri kami sendiri.” Tetapi
kehidupan dunia telah memperdayakan mereka, dan mereka telah menjadi saksi
atas diri mereka sendiri bahwa sesungguhnya mereka adalah orang-orang
kafir. Yang demikian itu karena Tuhan engkau tidak pernah membinasakan
negeri-negeri secara zalim
padahal penduduknya dalam keadaan lengah. Dan bagi setiap orang ada derajat-derajat
menurut apa yang telah mereka kerjakan
dan Tuhan engkau tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan. (Al-An’aam
[6]:131-133).
Azab Ilahi Turun Setelah Rasul Allah
Didustakan dan Ditentang
Karena Nabi Besar Muhammad saw. dibangkitkan untuk seluruh umat manusia
maka kata al-qura (negeri-negeri) sehubungan dengan diri beliau saw.,
tentu berlaku untuk seluruh dunia. Dan Allah Swt. tidak pernah menurunkan azab yang
bersifat umum sebelum Dia terlebih dahulu memperingatkan umat-manusia
mengenai azab yang sedang mengancam dengan membangkitkan seorang Pemberi
Peringatan (QS.11:118; QS.17:16); QS.20:135; QS.26:209; QS.28:60). Azab
yang disebut di sini ialah azab yang bersifat umum seperti: gempa bumi,
peperangan yang membinasakan, wabah, dan sebagainya yang melanda seluruh kaum,
sebagaimana yang terjadi di Akhir Zaman ini.
(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid
Tidak ada komentar:
Posting Komentar