Minggu, 19 Februari 2012

Kepastian Suksesnya Misi Suci Para Rasul Allah

 
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ

 
HUBUNGAN  NABI YUSUF A.S. 
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
  
Bagian   XLXI 
 
Tentang

        Kepastian  Suksesnya  Misi Suci Para Rasul Allah
  
Oleh
 
Ki Langlang Buana Kusuma
 
 
اِنَّ  الَّذِیۡنَ یُحَآدُّوۡنَ اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗۤ اُولٰٓئِکَ فِی  الۡاَذَلِّیۡنَ ﴿۲۱  کَتَبَ اللّٰہُ  لَاَغۡلِبَنَّ  اَنَا وَ  رُسُلِیۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ  قَوِیٌّ عَزِیۡزٌ ﴿۲۲
Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya mereka itu termasuk orang-orang yang sangat hina. Allah telah menetapkan: “Aku dan rasul-rasul-Ku  pasti akan menang.” Sesungguhnya Allah Maha Kuat, Maha Perkasa. (Al-Al-Mujaadilah [58]:21-22).

Dalam beberapa Bab sebelum ini telah dibahas mengenai keberhasilan   Allah Swt. dalam “duel makar” antara “makar buruk” para penentang para rasul Allah dengan “makar tandingan” Allah Swt. (QS.3:55; QS.8:31; QS.13:43; QS.27:51-52), karena semua perencanaan atau makar apa pun semuanya sudah tercatan di hadirat Allah Swt., karena itu yang pasti unggul dalam “duel-duel makar” seperti itu adalah Allah Swt. firman-Nya:
وَ قَدۡ مَکَرُوۡا مَکۡرَہُمۡ وَ عِنۡدَ اللّٰہِ مَکۡرُہُمۡ ؕ وَ اِنۡ کَانَ مَکۡرُہُمۡ لِتَزُوۡلَ مِنۡہُ  الۡجِبَالُ ﴿۴۷   فَلَا تَحۡسَبَنَّ اللّٰہَ مُخۡلِفَ وَعۡدِہٖ  رُسُلَہٗ ؕ اِنَّ  اللّٰہَ  عَزِیۡزٌ  ذُو انۡتِقَامٍ ﴿ؕ۴۸
Dan  sungguh  mereka telah melakukan makar mereka, tetapi makar mereka ada di sisi Allah,  dan  jika sekali pun  makar mereka dapat memindahkan gunung-gunung, maka janganlah engkau sama sekali menyangka  bahwa  Allah akan menyalahi janji-Nya kepada rasul-rasul-Nya, sesungguhnya  Allah Maha Perkasa, Yang memiliki pembalasan. (Ibrahim [14]:47-48).

Ketetapan Takdir Allah Swt. Mengenai para Rasul Allah

      Kembali kepada masalah kalimat “Kun, fayakun” (Jadilah, maka terjadilah), dalam “duel-duel makar” tersebut yang berlaku adalah “Kun, fayakun” Allah Swt., tetapi bukan dalam pengertian sebagaimana yang umumnya orang memahami bahwa  makna kalimat “Kun, fayakun” itu adalah   seketika itu juga  sesuatu  itu terjadi dengan hanya mengucapkan “Kun!” (Jadilah),  melainkan dalam makna bahwa bagaimana pun  lemahnya keadaan duniawi  para rasul Allah dan para pengikut mereka  dibandingkan dengan keadaan para penentangnya -- yang dalam segala seginya mereka itu jauh lebih unggul, namun karena Allah Swt. telah menetapkan bahwa perjuangan suci para rasul Allah itulah yang pada akhirnya akan sukses   maka itulah yang  akan terjadi, firman-Nya:
اِنَّ  الَّذِیۡنَ یُحَآدُّوۡنَ اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗۤ اُولٰٓئِکَ فِی  الۡاَذَلِّیۡنَ ﴿۲۱  کَتَبَ اللّٰہُ  لَاَغۡلِبَنَّ  اَنَا وَ  رُسُلِیۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ  قَوِیٌّ عَزِیۡزٌ ﴿۲۲
Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya mereka itu termasuk orang-orang yang sangat hina. Allah telah menetapkan: “Aku dan rasul-rasul-Ku  pasti akan menang.” Sesungguhnya Allah Maha Kuat, Maha Perkasa. (Al-Mujaadilah [58]:21-22). Lihat pula QS.5:57.
     Ada tersurat nyata pada lembaran-lembaran sejarah bahwa kebenaran senantiasa menang terhadap kepalsuan.
      Firman Allah Swt.  tersebut merupakan penjelasan mengenai  takdir akhir yang telah ditetapkan Allah Swt.   bagi pihak-pihak yang  menolak “sujud” kepada Adam (Khalifah Allah) ketika  Allah Swt. dalam Kisah Monumental “Adam, Malaikat, Iblis” memerintahkan hal tersebut kepada  para malaikat (QS.2:31-35), dan itulah sebabnya Allah Swt. telah menyebut pemimpin mereka yang membangkang terhadap perintah Allah Swt. dengan sebutan iblis,  firman-Nya:
وَ اِذۡ قُلۡنَا لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اسۡجُدُوۡا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوۡۤا  اِلَّاۤ  اِبۡلِیۡسَ ؕ اَبٰی وَ اسۡتَکۡبَرَ ٭۫ وَ  کَانَ مِنَ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿۳۵
Dan ingatlah ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah yakni tunduk-patuhlah  kamu kepada  Adam” lalu mereka sujud kecuali iblis,  ia menolak dan takabur,  dan   ia  termasuk dari antara orang-orang yang  kafir. (Al-Baqarah [2]:35).

Maka Kata “Iblis”

        Kata iblis berasal dari ablasa, yang berarti: (1) kebaikan dan kebajikannya berkurang; (2) ia sudah melepaskan harapan atau jadi putus asa akan kasih-sayang      Allah Swt.,  (3) telah patah semangat; (4) telah bingung dan tidak mampu melihat jalannya; dan (5) ia tertahan dari mencapai harapannya.
      Berdasarkan akar-katanya, arti kata iblis itu adalah suatu wujud yang sedikit sekali memiliki kebaikan tapi banyak kejahatan, dan disebabkan oleh rasa putus asa akan kasih-sayang Allah Swt.  oleh sikap pembangkangannya sendiri, maka ia dibiarkan dalam kebingungan lagi pula tidak mampu melihat jalannya. Dalam Al-Quran Allah Swt.   orang-orang yang putus asa disebut mublisiin (QS.30:50) atau mublisuun (QS.6L45; QS.23:78; QS.43:76), yang juga berasal dari kata iblis atau ablasa.
     Iblis seringkali dianggap sama dengan syaitan, tetapi dalam beberapa hal berlainan dari dia. Harus dipahami bahwa iblis itu bukan salah seorang dari para malaikat, sebab ia di sini dilukiskan sebagai tidak patuh kepada Allah Swt., sedangkan para malaikat dilukiskan sebagai senantiasa “tunduk” dan “patuh” (QS.66:7).  Allah Swt. telah murka kepada iblis karena ia pun diperintahkan mengkhidmati Adam a.s. -- yakni Khalifah Allah atau Rasul Allah --  tetapi iblis membangkang (QS.7:13). Tambahan pula, sekalipun jika tiada perintah tersendiri bagi iblis, tetapi perintah kepada para malaikat harus dianggap meliputi semua wujud, sebab perintah kepada para malaikat — sebagai penjaga berbagai bagian alam semesta — dengan sendirinya mencakup juga semua wujud.      
       Seperti dinyatakan di atas, iblis  sesungguhnya nama sifat yang diberikan atas dasar arti akar kata itu (ablasa)  kepada ruh jahat yang bertolak belakang dari sifat malaikat. Diberi nama demikian karena ia mempunyai sifat-sifat buruk seperti dirinci di atas, terutama bahwa ia sama sekali  luput dari kebaikan dan telah dibiarkan kebingungan dalam langkahnya dan hilang harapan akan kasih-sayang Allah Swt..   
       Bahwa iblis bukanlah syaitan — yang disebut dalam QS.2:37 — jelas dari ke-nyataan bahwa Al-Quran menyebut kedua nama itu berdampingan, kapan saja riwayat Adam a.s. dituturkan. Tetapi di mana-mana dilakukan pemisahan yang cermat antara keduanya itu, yaitu kapan saja Al-Quran membicarakan makhluk yang — berbeda dari para malaikat — menolak berbakti kepada Adam a.s.,  maka senantiasa Al-Quran menyebutnya dengan nama iblis, tetapi bila Al-Quran membicarakan wujud yang menipu Adam a.s. dan menjadi sebab Adam a.s. diusir dari “kebun” (jannah) maka Al-Quran menyebutnya dengan nama  syaitan. 
      Perbedaan ini — yang sangat besar artinya dan tetap dipertahankan dalam Al-Quran, sedikitnya pada 10 tempat (QS.2:35, 37; QS.7:12, 21; QS.15:32; QS.17:62; QS.18:51; QS.20:117, 121; QS.38:75) — jelas memperlihatkan bahwa iblis   berbeda dari syaitan yang menipu Adam a.s.  dan merupakan salah seorang dari kaum Nabi Adam a.s. sendiri. Di tempat lain Al-Quran mengatakan bahwa iblis tergolong makhluk-makhluk Allah tersembunyi dan — berlainan dari para malaikat — mampu menaati atau menentang Allah Swt..  (QS.7:12-13).
      Dalam Surah Yusuf,  yang memerankan “iblis” adalah saudara-saudara tua Nabi Yusuf a.s., karena kedengkian mereka kepada Nabi Yusuf a.s.  telah   merencanakan   membunuh Nabi Yusuf a.s. atau membuang beliau ke negeri yang jauh,  agar perhatian ayah mereka, Nabi Ya’qub a.s. sepenuhnya berpaling kepada mereka (QS.12:4-21). Tetapi kenyataan membuktikan bahwa  Nabi Yusuf a.s.  mendapat kehormatan sebagai seorang kepercayaan raja Mesir (QS.12:55-58), sedangkan saudara-saudara beliau datang ke Mesir sebagai orang-orang yang meminta belas kasihan beliau  dan meminta maaf atas kesalahan mereka kepada Nabi Yusuf a.s. (QS.12:59-102). Itulah bentung "keputus-asaan" yang dterkandung dalam  kata "iblis" (ablasa)

 “Kun Fayakun”

      Jadi, dalam “duel-duel makar”  antara Allah Swt. dengan para penentang Rasul Allah tersebut   kalimat “Kun, fayakun” -- yang  merupakan  kehendak Allah Swt. yang tidak mungkin gagal dalam perwujudannya --  tidak pernah dalam bentuk suatu peristiwa ajaib yang  serta merta terjadi sehingga membuat orang-orang yang menyaksikannya  melihat sesuatu yang baru  yang terjadi secara tiba-tiba setelah  kata “Kun – jadilah” diucapkan,   melainkan senantiasa dalam makna bahwa bagaimana pun hebat berbagai  makar muruk  para penentang untuk menggagalkan perjuangan suci para rasul Allah, tetapi pada kenyataannya mereka harus mengakhiri perjuangan mereka sebagaimana diisyaratkan dalam kata  iblis” (putus asa atau binasa),  sedangkan para rasul Allah dan para pengikut mereka muncul sebagai pemenang dalam “duel makar” tersebut, sesuai SunnatulLah, firman-Nya:
اِنَّ  الَّذِیۡنَ یُحَآدُّوۡنَ اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗۤ اُولٰٓئِکَ فِی  الۡاَذَلِّیۡنَ ﴿۲۱  کَتَبَ اللّٰہُ  لَاَغۡلِبَنَّ  اَنَا وَ  رُسُلِیۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ  قَوِیٌّ عَزِیۡزٌ ﴿۲۲
Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya mereka itu termasuk orang-orang yang sangat hina. Allah telah menetapkan: “Aku dan rasul-rasul-Ku  pasti akan menang.” Sesungguhnya Allah Maha Kuat, Maha Perkasa. (Al-Al-Mujaadilah [58]:21-22).

(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid

Tidak ada komentar:

Posting Komentar