بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
HUBUNGAN NABI YUSUF A.S.
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
Bagian XLXI
Tentang
Kepastian Suksesnya Misi Suci Para Rasul Allah
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
اِنَّ الَّذِیۡنَ یُحَآدُّوۡنَ اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗۤ
اُولٰٓئِکَ فِی الۡاَذَلِّیۡنَ ﴿۲۱﴾ کَتَبَ اللّٰہُ لَاَغۡلِبَنَّ
اَنَا وَ رُسُلِیۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ قَوِیٌّ عَزِیۡزٌ ﴿۲۲﴾
Sesungguhnya
orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya mereka itu termasuk orang-orang
yang sangat hina. Allah telah menetapkan: “Aku dan rasul-rasul-Ku pasti akan menang.” Sesungguhnya
Allah Maha Kuat, Maha Perkasa. (Al-Al-Mujaadilah [58]:21-22).
Dalam
beberapa Bab sebelum ini telah dibahas mengenai keberhasilan Allah Swt. dalam “duel makar” antara “makar
buruk” para penentang para rasul Allah dengan “makar tandingan” Allah Swt.
(QS.3:55; QS.8:31; QS.13:43; QS.27:51-52), karena semua perencanaan atau
makar apa pun semuanya sudah tercatan di hadirat Allah Swt., karena itu
yang pasti unggul dalam “duel-duel makar” seperti itu adalah Allah Swt.
firman-Nya:
وَ
قَدۡ مَکَرُوۡا مَکۡرَہُمۡ وَ عِنۡدَ اللّٰہِ مَکۡرُہُمۡ ؕ وَ اِنۡ کَانَ مَکۡرُہُمۡ
لِتَزُوۡلَ مِنۡہُ الۡجِبَالُ ﴿۴۷﴾ فَلَا تَحۡسَبَنَّ
اللّٰہَ مُخۡلِفَ وَعۡدِہٖ رُسُلَہٗ ؕ
اِنَّ اللّٰہَ عَزِیۡزٌ
ذُو انۡتِقَامٍ ﴿ؕ۴۸﴾
Dan sungguh mereka telah melakukan makar mereka, tetapi
makar mereka ada di sisi Allah, dan
jika sekali pun makar mereka
dapat memindahkan gunung-gunung, maka janganlah engkau sama sekali
menyangka bahwa Allah akan menyalahi janji-Nya
kepada rasul-rasul-Nya, sesungguhnya
Allah Maha Perkasa, Yang memiliki pembalasan. (Ibrahim
[14]:47-48).
Ketetapan Takdir Allah Swt. Mengenai para Rasul Allah
Kembali kepada masalah kalimat “Kun,
fayakun” (Jadilah, maka terjadilah), dalam “duel-duel makar” tersebut
yang berlaku adalah “Kun, fayakun” Allah Swt., tetapi bukan dalam
pengertian sebagaimana yang umumnya orang memahami bahwa makna kalimat “Kun, fayakun” itu
adalah seketika itu juga sesuatu
itu terjadi dengan hanya mengucapkan “Kun!” (Jadilah), melainkan dalam makna bahwa bagaimana pun lemahnya keadaan duniawi para rasul Allah dan para pengikut
mereka dibandingkan dengan keadaan para
penentangnya -- yang dalam segala seginya mereka itu jauh lebih unggul, namun
karena Allah Swt. telah menetapkan bahwa perjuangan suci para rasul Allah
itulah yang pada akhirnya akan sukses
maka itulah yang akan terjadi,
firman-Nya:
اِنَّ الَّذِیۡنَ یُحَآدُّوۡنَ اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗۤ
اُولٰٓئِکَ فِی الۡاَذَلِّیۡنَ ﴿۲۱﴾ کَتَبَ اللّٰہُ لَاَغۡلِبَنَّ
اَنَا وَ رُسُلِیۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ قَوِیٌّ عَزِیۡزٌ ﴿۲۲﴾
Sesungguhnya orang-orang yang
menentang Allah dan Rasul-Nya mereka itu termasuk orang-orang yang
sangat hina. Allah telah menetapkan: “Aku dan rasul-rasul-Ku pasti akan menang.” Sesungguhnya
Allah Maha Kuat, Maha Perkasa. (Al-Mujaadilah
[58]:21-22). Lihat pula QS.5:57.
Ada
tersurat nyata pada lembaran-lembaran sejarah bahwa kebenaran senantiasa menang
terhadap kepalsuan.
Firman Allah Swt. tersebut
merupakan penjelasan mengenai takdir
akhir yang telah ditetapkan Allah Swt.
bagi pihak-pihak yang menolak
“sujud” kepada Adam (Khalifah Allah) ketika Allah Swt. dalam Kisah Monumental “Adam,
Malaikat, Iblis” memerintahkan hal tersebut kepada para malaikat (QS.2:31-35), dan itulah
sebabnya Allah Swt. telah menyebut pemimpin mereka yang membangkang
terhadap perintah Allah Swt. dengan sebutan iblis, firman-Nya:
وَ اِذۡ قُلۡنَا لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اسۡجُدُوۡا لِاٰدَمَ
فَسَجَدُوۡۤا اِلَّاۤ اِبۡلِیۡسَ ؕ اَبٰی وَ اسۡتَکۡبَرَ ٭۫ وَ کَانَ مِنَ
الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿۳۵﴾
Dan ingatlah ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah
yakni tunduk-patuhlah kamu kepada
Adam” lalu mereka sujud kecuali
iblis, ia menolak
dan takabur, dan ia
termasuk dari antara orang-orang yang
kafir. (Al-Baqarah [2]:35).
Maka Kata “Iblis”
Kata
iblis berasal dari ablasa, yang berarti: (1) kebaikan dan
kebajikannya berkurang; (2) ia sudah melepaskan harapan atau jadi putus asa
akan kasih-sayang Allah Swt., (3) telah patah semangat; (4) telah bingung
dan tidak mampu melihat jalannya; dan (5) ia tertahan dari mencapai harapannya.
Berdasarkan akar-katanya, arti kata iblis
itu adalah suatu wujud yang sedikit sekali memiliki kebaikan tapi banyak
kejahatan, dan disebabkan oleh rasa putus asa akan kasih-sayang
Allah Swt. oleh sikap pembangkangannya
sendiri, maka ia dibiarkan dalam kebingungan lagi pula tidak mampu
melihat jalannya. Dalam Al-Quran Allah Swt.
orang-orang yang putus asa disebut mublisiin (QS.30:50) atau mublisuun
(QS.6L45; QS.23:78; QS.43:76), yang juga berasal dari kata iblis atau ablasa.
Iblis
seringkali dianggap sama dengan syaitan, tetapi dalam beberapa hal
berlainan dari dia. Harus dipahami bahwa iblis itu bukan salah seorang dari
para malaikat, sebab ia di sini dilukiskan sebagai tidak patuh kepada Allah Swt., sedangkan para malaikat dilukiskan
sebagai senantiasa “tunduk” dan “patuh” (QS.66:7). Allah Swt. telah murka kepada iblis karena ia pun
diperintahkan mengkhidmati Adam a.s. -- yakni Khalifah Allah atau Rasul Allah -- tetapi iblis membangkang (QS.7:13). Tambahan pula, sekalipun jika
tiada perintah tersendiri bagi iblis, tetapi perintah kepada para malaikat harus
dianggap meliputi semua wujud, sebab perintah kepada para malaikat — sebagai
penjaga berbagai bagian alam semesta — dengan sendirinya mencakup juga semua
wujud.
Seperti
dinyatakan di atas, iblis sesungguhnya
nama sifat yang diberikan atas dasar arti akar kata itu (ablasa) kepada ruh jahat yang bertolak belakang dari
sifat malaikat. Diberi nama demikian karena ia mempunyai sifat-sifat buruk
seperti dirinci di atas, terutama bahwa ia sama sekali luput dari kebaikan dan telah dibiarkan
kebingungan dalam langkahnya dan hilang harapan akan kasih-sayang Allah Swt..
Bahwa
iblis bukanlah syaitan — yang disebut dalam QS.2:37 — jelas dari
ke-nyataan bahwa Al-Quran menyebut kedua nama itu berdampingan, kapan saja
riwayat Adam a.s. dituturkan. Tetapi di mana-mana dilakukan pemisahan yang
cermat antara keduanya itu, yaitu kapan saja Al-Quran membicarakan makhluk yang
— berbeda dari para malaikat — menolak berbakti kepada Adam a.s., maka senantiasa Al-Quran menyebutnya
dengan nama iblis, tetapi bila Al-Quran membicarakan wujud yang menipu
Adam a.s. dan menjadi sebab Adam a.s. diusir dari “kebun” (jannah) maka
Al-Quran menyebutnya dengan nama syaitan.
Perbedaan
ini — yang sangat besar artinya dan tetap dipertahankan dalam Al-Quran,
sedikitnya pada 10 tempat (QS.2:35, 37; QS.7:12, 21; QS.15:32; QS.17:62;
QS.18:51; QS.20:117, 121; QS.38:75) — jelas memperlihatkan bahwa iblis berbeda dari syaitan yang menipu Adam
a.s. dan merupakan salah
seorang dari kaum Nabi Adam a.s. sendiri. Di tempat lain Al-Quran
mengatakan bahwa iblis tergolong makhluk-makhluk Allah tersembunyi dan —
berlainan dari para malaikat — mampu menaati atau menentang Allah Swt.. (QS.7:12-13).
Dalam
Surah Yusuf, yang memerankan “iblis”
adalah saudara-saudara tua Nabi Yusuf a.s., karena kedengkian
mereka kepada Nabi Yusuf a.s. telah merencanakan
membunuh Nabi Yusuf a.s.
atau membuang beliau ke negeri yang jauh, agar perhatian ayah mereka, Nabi Ya’qub
a.s. sepenuhnya berpaling kepada mereka (QS.12:4-21). Tetapi kenyataan membuktikan bahwa Nabi Yusuf a.s. mendapat kehormatan sebagai seorang
kepercayaan raja Mesir (QS.12:55-58), sedangkan saudara-saudara beliau datang
ke Mesir sebagai orang-orang yang meminta belas kasihan beliau dan meminta maaf atas kesalahan mereka
kepada Nabi Yusuf a.s. (QS.12:59-102). Itulah bentung "keputus-asaan" yang dterkandung dalam kata "iblis" (ablasa)
“Kun Fayakun”
Jadi,
dalam “duel-duel makar” antara Allah Swt. dengan para penentang Rasul Allah tersebut kalimat “Kun, fayakun” -- yang merupakan kehendak Allah Swt. yang tidak mungkin gagal
dalam perwujudannya -- tidak pernah
dalam bentuk suatu peristiwa ajaib yang serta merta terjadi sehingga membuat orang-orang yang
menyaksikannya melihat sesuatu yang
baru yang terjadi secara tiba-tiba
setelah kata “Kun – jadilah”
diucapkan, melainkan senantiasa dalam
makna bahwa bagaimana pun hebat berbagai makar muruk para penentang untuk menggagalkan
perjuangan suci para rasul Allah, tetapi pada kenyataannya mereka harus mengakhiri perjuangan
mereka sebagaimana diisyaratkan dalam kata
“iblis” (putus asa atau binasa),
sedangkan para rasul Allah dan para pengikut mereka muncul sebagai
pemenang dalam “duel makar” tersebut, sesuai SunnatulLah,
firman-Nya:
اِنَّ الَّذِیۡنَ یُحَآدُّوۡنَ
اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗۤ اُولٰٓئِکَ فِی الۡاَذَلِّیۡنَ
﴿۲۱﴾ کَتَبَ اللّٰہُ لَاَغۡلِبَنَّ
اَنَا وَ رُسُلِیۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ قَوِیٌّ عَزِیۡزٌ ﴿۲۲﴾
Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan
Rasul-Nya mereka itu termasuk orang-orang yang sangat hina. Allah
telah menetapkan: “Aku dan rasul-rasul-Ku pasti akan menang.” Sesungguhnya
Allah Maha Kuat, Maha Perkasa. (Al-Al-Mujaadilah
[58]:21-22).
(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid
Tidak ada komentar:
Posting Komentar