بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
HUBUNGAN NABI YUSUF A.S.
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
Bagian XLVII
Tentang
Ketergelinciran Orang-orang yang
Berhati Bengkok (1)
Berhati Bengkok (1)
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
مَا
کَانَ لِبَشَرٍ اَنۡ یُّؤۡتِیَہُ اللّٰہُ الۡکِتٰبَ وَ الۡحُکۡمَ وَ النُّبُوَّۃَ
ثُمَّ یَقُوۡلَ لِلنَّاسِ کُوۡنُوۡا عِبَادًا لِّیۡ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ وَ لٰکِنۡ
کُوۡنُوۡا رَبّٰنِیّٖنَ بِمَا کُنۡتُمۡ تُعَلِّمُوۡنَ الۡکِتٰبَ وَ بِمَا کُنۡتُمۡ تَدۡرُسُوۡنَ ﴿ۙ۸۰﴾ وَ لَا یَاۡمُرَکُمۡ اَنۡ تَتَّخِذُوا الۡمَلٰٓئِکَۃَ وَ النَّبِیّٖنَ
اَرۡبَابًا ؕ اَیَاۡمُرُکُمۡ بِالۡکُفۡرِ بَعۡدَ اِذۡ اَنۡتُمۡ مُّسۡلِمُوۡنَ ﴿٪۸۱﴾
Sekali-kali tidak mungkin bagi seorang manusia yang
kepadanya Allah memberi Kitab, kekuasaan, dan
kenabian, kemudian ia berkata kepada manusia: “Jadilah kamu
hamba-hamba-Ku, bukan hamba-hamba Allah”,
tetapi ia akan berkata:
“Jadilah kamu orang yang berbakti hanya kepada Allah, karena kamu
senantiasa mengajarkan Kitab, kamu senantiasa mempelajarinya, dan kamu
senantiasa membacanya. Dan tidak pula
ia akan menyuruh kamu supaya kamu menjadikan malaikat-malaikat dan
nabi-nabi sebagai tuhan-tuhan. Apakah ia
akan menyuruhmu kafir setelah kamu menjadi orang-orang yang berserah diri kepada
Allah? (Ali ‘Imran [3]:80-81).
Dalam 3
Bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai keadaan “makar tandingan” Allah Swt.
yang berlangsung dengan sunyi-senyap
-- tanpa ingar bingar seperti makar buruk yang dilaksanakan oleh
para penentang rasul Allah di
setiap zaman (QS.7:35-37) – tetapi target-target yang dituju oleh “makar tandingan” Allah Swt. sepenuhnya
tercapai.
Salah satu dari target-target
yang dicapai oleh “makar tandingan” Allah Swt. tersebut adalah membuat
orang-orang yang berhati bengkok dan berpenyakit semakin tersesat
dari haq (kebenaran), antara lain dengan menyalahtafsirkan peristiwa
yang menjadi ajang “duel makar” tersebut.
Contohnya adalah ketidakjelasan hasil
dari upaya pembunuhan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. melalui penyaliban,
sehingga orang-orang Yahudi tetap pada pendiriannya tentang ketidakpercayaan
mereka terhadap pendakwaan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. sebagai Al-Masih
atau sebagai Kristus yang kedatangannya sedang mereka tunggu-tunggu -- selain menunggu kedatangan dua orang lainnya,
yakni (1) kedatangan Nabi yang seperti Musa atau nabi itu (Ulangan 18:18-19) (2) kedatangan kedua kali Nabi Elia
dari langit (Matius
11:2-19; Yahya 1:19-28, Maleakhi 4:5-6),
firman-Nya:
وَ اِنۡ مِّنۡ اَہۡلِ الۡکِتٰبِ اِلَّا لَیُؤۡمِنَنَّ بِہٖ قَبۡلَ
مَوۡتِہٖ ۚ وَ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ
یَکُوۡنُ عَلَیۡہِمۡ شَہِیۡدًا ﴿۱۶۰﴾ۚ
Dan tidak ada seorang pun dari Ahlul Kitab melainkan akan tetap beriman
kepada hal ini sebelum ajalnya, dan pada Hari Kiamat ia (Isa) akan menjadi saksi terhadap mereka. (Al-Nisaa
[4]:160).
Kedegilan Hati Orang-orang
Yahudi
Orang-orang Yahudi dengan gembira
mengumandangkan telah membunuh Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di tiang salib, sehingga dengan
demikian telah membuktikan bahwa pendakwaan beliau sebagai nabi Allah tidak
benar. Ayat itu bersama-sama ayat sebelumnya mengandung sangkalan yang keras terhadap tuduhan tersebut serta membersihkan
beliau dari noda yang didesas-desuskan, lalu mengutarakan keluhuran derajat
ruhani beliau dan bahwa beliau telah mendapat kehormatan di hadirat
Allah Swt. (QS.4:159).
Dalam ayat itu sama sekali tidak ada sebutan mengenai kenaikan beliau ke langit dengan
tubuh jasmani.Ayat itu hanya mengatakan bahwa Allah Swt. menaikkan
beliau ke haribaan-Nya Sendiri, hal demikian menunjukkan dengan jelas suatu kenaikan
ruhani, sebab tidak ada tempat kediaman tertentu dapat ditunjukkan bagi Allah
Swt..
Kata ganti nya dalam kalimat sebelum ajalnya mengantikan kata benda tidak ada seorang pun, artinya setiap
orang di antara Ahlul Kitab sebelum kematiannya sendiri.... Arti ini
ditunjang oleh bacaan kedua mautihi yaitu mautihim (kematian mereka) sebagaimana diriwayatkan
oleh ‘Ubayy (Tafsir Ibnu Jarir, VI hlm. 13). Orang-orang Yahudi
percaya bahwa mereka telah membunuh Nabi
Isa Ibnu Maryam a.s. di atas tiang salib, karena dengan demikian mereka ingin
membuktikan beliau bukan seorang nabi yang benar atau bukan Mesiah (Al-Masih) yang sedang mereka tunggu-tunggu kedatangannya
Orang Kristen percaya
bahwa beliau telah wafat di atas tiang salib sebagai orang yang terkutuk
-- na’uudzubillaahi min dzaalik -- dan hal itu menyebabkan mereka telah
menganut akidah “Penebusan dosa” dan “Trinitas” yang diajarkan Paulus dalam surat-surat
kirimannya.
Tetapi atas semua bentuk ketergelinciran
(ketersandungan) tersebut Allah Swt. dalam ayat sebelumnya (QS.4:158)
dengan tegas menyatakan bahwa “mereka
tidak yakin telah membunuhnya, firman-Nya:
وَّ بِکُفۡرِہِمۡ وَ
قَوۡلِہِمۡ عَلٰی مَرۡیَمَ بُہۡتَانًا
عَظِیۡمًا ﴿۱۵۷﴾ۙ وَّ قَوۡلِہِمۡ اِنَّا قَتَلۡنَا الۡمَسِیۡحَ
عِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ رَسُوۡلَ اللّٰہِ ۚ وَ مَا قَتَلُوۡہُ وَ مَا صَلَبُوۡہُ
وَ لٰکِنۡ شُبِّہَ لَہُمۡ ؕ وَ اِنَّ
الَّذِیۡنَ اخۡتَلَفُوۡا فِیۡہِ لَفِیۡ شَکٍّ مِّنۡہُ ؕ مَا لَہُمۡ بِہٖ مِنۡ
عِلۡمٍ اِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ ۚ وَ
مَا قَتَلُوۡہُ یَقِیۡنًۢا ﴿۱۵۸ۙ بَلۡ رَّفَعَہُ
اللّٰہُ اِلَیۡہِ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ عَزِیۡزًا حَکِیۡمًا ﴿۱۵۹﴾
Dan juga mereka Kami azab karena kekafiran mereka
dan ucapan mereka terhadap Maryam berupa tuduhan palsu yang
besar, Dan karena ucapan
mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, Isa Ibnu Maryam, Rasul
Allah,” padahal mereka tidak membunuhnya secara biasa dan tidak
pula mematikannya melalui penyaliban, akan tetapi ia disamarkan kepada
mereka seperti telah mati di atas salib. Dan sesungguhnya orang-orang yang berselisih dalam hal ini
niscaya ada dalam keraguan mengenai ini, mereka tidak memiliki pengetahuan yang pasti mengenai
ini melainkan menuruti dugaan belaka dan mereka tidak yakin telah membunuhnya. Bahkan Allah
telah mengangkat dia kepada-Nya dan Allah Maha Perkasa, Maha
Bijaksana. (Al-Nisaa [4]:157-159).
Munculnya “Ajaran” Paulus tentang
Trinitas dan Penebusan Dosa
Ketidakyakinan mereka
itulah yang kemudian dikembangkan oleh Paulus untuk membuat-buat ajaran
baru tentang peristiwa penyaliban Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. yang
telah menggelincirkan banyak pihak, yaitu tentang faham Trinitas dan Penebusan Dosa
sebagaimana dikemukakannya dalam surat-surat kirimannya.
Berikut adalah beberapa
pernyataan Allah Swt. dalam Al-Quran yang mengisyaratkan kepada ajaran baru hasil kreativitas Paulus, yang sangat
bertentangan dengan ajaran asli Nabi Isa Ibnu Maryam a..s., firman-Nya:
مَا
کَانَ لِبَشَرٍ اَنۡ یُّؤۡتِیَہُ اللّٰہُ الۡکِتٰبَ وَ الۡحُکۡمَ وَ النُّبُوَّۃَ
ثُمَّ یَقُوۡلَ لِلنَّاسِ کُوۡنُوۡا عِبَادًا لِّیۡ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ وَ لٰکِنۡ
کُوۡنُوۡا رَبّٰنِیّٖنَ بِمَا کُنۡتُمۡ تُعَلِّمُوۡنَ الۡکِتٰبَ وَ بِمَا
کُنۡتُمۡ تَدۡرُسُوۡنَ ﴿ۙ۸۰﴾ وَ لَا یَاۡمُرَکُمۡ اَنۡ تَتَّخِذُوا الۡمَلٰٓئِکَۃَ وَ
النَّبِیّٖنَ اَرۡبَابًا ؕ اَیَاۡمُرُکُمۡ بِالۡکُفۡرِ بَعۡدَ اِذۡ اَنۡتُمۡ
مُّسۡلِمُوۡنَ ﴿٪۸۱﴾
Sekali-kali tidak mungkin bagi seorang manusia
yang kepadanya Allah memberi Kitab, kekuasaan, dan kenabian, kemudian ia berkata kepada manusia: “Jadilah kamu
hamba-hamba-Ku, bukan hamba-hamba Allah”, tetapi ia akan berkata: “Jadilah kamu orang yang berbakti
hanya kepada Allah, karena kamu
senantiasa mengajarkan Kitab, kamu senantiasa mempelajarinya, dan kamu
senantiasa membacanya. Dan tidak
pula ia akan menyuruh kamu supaya kamu menjadikan
malaikat-malaikat dan nabi-nabi sebagai tuhan-tuhan. Apakah ia akan menyuruhmu kafir
setelah kamu menjadi orang-orang
yang berserah diri kepada Allah? (Ali ‘Imran
[3]:80-81).
Kalimat maa kaana lahu dipakai
dalam tiga pengertian: (a) tidak layak baginya berbuat demikian; (b) tidak
mungkin baginya berbuat demikian; atau tidak masuk akal ia sampai berbuat
demikian; (c) tidak ada kemungkinan ia dapat berbuat demikian, yakni secara
fisik mustahil ia berbuat demikian.
Rabbaniyyiin
itu jamak dari Rabbaniy yang berarti: (1) orang yang mewakafkan diri
untuk mengkhidmati agama atau menyediakan dirinya untuk menjalankan ibadah; (2)
orang yang memiliki ilmu Ilahiyyat (Ketuhanan); (3) orang yang ahli dalam
pengetahuan agama, atau seorang yang baik dan bertakwa; (4) guru yang mulai
memberikan kepada orang-orang pengetahuan atau ilmu yang ringan-ringan sebelum
beranjak ke ilmu-ilmu yang berat-berat; (5) induk semang atau majikan atau
pemimpin; (6) seorang muslih (pembaharu). (Lexixon Lane, Sibawaih,
dan Mubarrad).
Kata-kata:
Karena kamu senantiasa mengajarkan Al-Kitab dan senantiasa mempelajarinya,
menunjukkan bahwa telah menjadi kewajiban bagi semua yang telah meraih ilmu
keruhanian, agar mereka meneruskannya kepada orang-orang lain dan jangan
membiarkan orang-orang meraba-raba dalam kegelapan, kejahilan atau kebodohan.
Firman-Nya lagi:
یٰۤاَہۡلَ
الۡکِتٰبِ لَا تَغۡلُوۡا فِیۡ دِیۡنِکُمۡ وَ لَا تَقُوۡلُوۡا عَلَی اللّٰہِ اِلَّا الۡحَقَّ ؕ اِنَّمَا الۡمَسِیۡحُ
عِیۡسَی ابۡنُ مَرۡیَمَ رَسُوۡلُ اللّٰہِ وَ کَلِمَتُہٗ ۚ اَلۡقٰہَاۤ اِلٰی
مَرۡیَمَ وَ رُوۡحٌ مِّنۡہُ ۫ فَاٰمِنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ ۚ۟ وَ لَا
تَقُوۡلُوۡا ثَلٰثَۃٌ ؕ اِنۡتَہُوۡا خَیۡرًا
لَّکُمۡ ؕ اِنَّمَا اللّٰہُ اِلٰہٌ وَّاحِدٌ ؕ سُبۡحٰنَہٗۤ اَنۡ یَّکُوۡنَ
لَہٗ وَلَدٌ ۘ لَہٗ مَا
فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ وَکِیۡلًا ﴿۱۷۲﴾٪ لَنۡ یَّسۡتَنۡکِفَ الۡمَسِیۡحُ اَنۡ یَّکُوۡنَ عَبۡدًا
لِّلّٰہِ وَ لَا الۡمَلٰٓئِکَۃُ الۡمُقَرَّبُوۡنَ ؕ وَ مَنۡ یَّسۡتَنۡکِفۡ عَنۡ
عِبَادَتِہٖ وَ یَسۡتَکۡبِرۡ فَسَیَحۡشُرُہُمۡ
اِلَیۡہِ جَمِیۡعًا ﴿۱۷۳﴾
Hai Ahlul Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam urusan
agamamu, dan janganlah kamu mengatakan mengenai Allah kecuali yang
haq. Sesungguhnya Al-Masih Isa Ibnu Maryam hanyalah seorang rasul Allah, suatu kalimat
dari-Nya yang diturunkan kepada Maryam, dan ruh dari-Nya, maka
berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan janganlah kamu cmengatakan: “Tuhan
itu tiga”, berhentilah, itu lebih baik bagimu.
Sesungguhnya Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa. Maha Suci Dia dari
memiliki anak.
Milik-Nya apa pun yang ada di seluruh
langit dan apa pun yang ada di bumi. Dan cukuplah Allah
sebagai Pemelihara. Al-Masih
tidak pernah merasa hina menjadi hamba
bagi Allah, dan tidak juga malaikat yang dekat kepada-Nya, dan
barangsiapa merasa hina karena beribadah kepada-Nya dan berlaku
takabur maka Dia akan mengumpulkan mereka semua kepada-Nya. (Al-Nisaa
[4]:172-173).
Tidak Ada Alasan untuk “Mempertuhankan” Nabi Isa Ibnu Maryam a.s
Ruuh
berarti: ruh atau jiwa, nafas yang
memenuhi seluruh jisim, dan apabila nafas berhenti maka orang akan mati; wahyu Ilahi atau ilham;
Al-Quran; malaikat; kegembiraan dan kebahagiaan; rahmat (Lexicon Lane).
Dari berbagai arti ruuh dan kalimah tersebut di atas jelaslah
bahwa tidak ada kedudukan ruhani yang istimewa pada Nabi Isa Ibnu Maryam a.s..
Kata-kata itu dan ucapan-ucapan lainnya yang seperti itu dipakai dalam
Al-Quran mengenai nabi-nabi lainnya, dan juga mengenai orang-orang shalih
lainnya seperti Siti Maryam (QS.15:30; QS.32:10; QS.58:23). Kata-kata itu telah
dipergunakan untuk membersihkan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dan Siti Maryam dari noda-noda
yang dilemparkan oleh orang-orang Yahudi kepada kedua mereka itu
(QS.4:157-159), dan bukan memberikan kepada mereka suatu kedudukan ruhani
istimewa.
"Dalil yang nyata" dapat mengacu kepada Al-Quran yang mengandung Tanda-tanda dan bukti-bukti
yang agung dan nyata; atau kepada Nabi Besar Muhammad saw. yang dengan suri teladan beliau saw.
(QS.33:22) memperlihatkan, bahwa ajaran-ajaran Al-Quran itu adalah nikmat besar untuk seluruh umat manusia
(QS.21:108). "Nur yang terang benderang" dapat mengisyaratkan
pula, baik kepada Nabi Besar Muhammad saw. atau kepada Al-Quran.
Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai penolakan
keras Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. berkenaan ajaran baru yang
diada-adakan oleh Paulus mengenai Trinitas dan Penebusan Dosa -- akibat tergelincir oleh “duel
makar” melalui peristiwa penyaliban Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. tersebut:
وَ اِذۡ قَالَ اللّٰہُ یٰعِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ ءَاَنۡتَ قُلۡتَ
لِلنَّاسِ اتَّخِذُوۡنِیۡ وَ اُمِّیَ اِلٰہَیۡنِ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ؕ قَالَ
سُبۡحٰنَکَ مَا یَکُوۡنُ لِیۡۤ اَنۡ اَقُوۡلَ
مَا لَیۡسَ لِیۡ ٭ بِحَقٍّ ؕ اِنۡ کُنۡتُ قُلۡتُہٗ فَقَدۡ عَلِمۡتَہٗ ؕ تَعۡلَمُ مَا فِیۡ نَفۡسِیۡ وَ لَاۤ اَعۡلَمُ مَا فِیۡ نَفۡسِکَ ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ
عَلَّامُ الۡغُیُوۡبِ ﴿۱۱۷﴾ مَا قُلۡتُ لَہُمۡ اِلَّا مَاۤ اَمَرۡتَنِیۡ بِہٖۤ
اَنِ اعۡبُدُوا اللّٰہَ رَبِّیۡ وَ رَبَّکُمۡ ۚ وَ کُنۡتُ عَلَیۡہِمۡ شَہِیۡدًا مَّا دُمۡتُ فِیۡہِمۡ ۚ
فَلَمَّا تَوَفَّیۡتَنِیۡ کُنۡتَ اَنۡتَ الرَّقِیۡبَ
عَلَیۡہِمۡ ؕ وَ اَنۡتَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ شَہِیۡدٌ ﴿۱۱۸﴾ اِنۡ تُعَذِّبۡہُمۡ
فَاِنَّہُمۡ عِبَادُکَ ۚ وَ اِنۡ تَغۡفِرۡ لَہُمۡ فَاِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ ﴿۱۱۹﴾
Dan ingatlah ketika Allah berfirman: “Hai ‘Isa ibnu
Maryam, apakah engkau telah berkata kepada manusia: Jadikanlah
aku dan ibuku sebagai dua tuhan selain
Allah?" Ia berkata: “Maha Suci Engkau. Tidak patut
bagiku mengatakan apa yang
sekali-kali bukan hakku.
Jika aku telah mengatakannya maka sungguh Engkau mengetahuinya. Engkau mengetahui
apa yang ada dalam diriku, sedangkan aku tidak mengetahui apa yang ada dalam
diri Engkau, sesungguhnya Engkau benar-benar
Maha Mengetahui segala yang gaib. Aku sekali-kali tidak pernah
mengatakan kepada mereka kecuali apa yang telah Engkau perintahkan
kepadaku, yaitu: ”Beribadahlah
ke-pada Allah, Tuhan-ku dan
Tuhan-mu.” Dan aku menjadi saksi atas mereka selama aku berada di antara
mereka, tetapi tatkala Engkau telah mewafatkanku maka Engkau-lah Yang benar-benar menjadi
Pengawas atas mereka, dan Engkau adalah Saksi atas segala sesuatu.
Jika Engkau mengazab mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba
Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau
benar-benar Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (Al-Maaidah
[5]:17-19).
(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid
Tidak ada komentar:
Posting Komentar