Selasa, 14 Februari 2012

Ketergelinciran Orang-orang yang Berhati Bengkok" (1)

بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ

 
HUBUNGAN  NABI YUSUF A.S. 
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
  
Bagian   XLVII 
Tentang

        Ketergelinciran  Orang-orang yang 
Berhati  Bengkok (1) 
  
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
مَا کَانَ لِبَشَرٍ اَنۡ یُّؤۡتِیَہُ اللّٰہُ الۡکِتٰبَ وَ الۡحُکۡمَ وَ النُّبُوَّۃَ ثُمَّ یَقُوۡلَ لِلنَّاسِ کُوۡنُوۡا عِبَادًا لِّیۡ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ وَ لٰکِنۡ کُوۡنُوۡا رَبّٰنِیّٖنَ بِمَا کُنۡتُمۡ تُعَلِّمُوۡنَ الۡکِتٰبَ وَ بِمَا کُنۡتُمۡ  تَدۡرُسُوۡنَ ﴿ۙ۸۰ وَ لَا یَاۡمُرَکُمۡ اَنۡ تَتَّخِذُوا الۡمَلٰٓئِکَۃَ وَ النَّبِیّٖنَ اَرۡبَابًا ؕ اَیَاۡمُرُکُمۡ بِالۡکُفۡرِ بَعۡدَ اِذۡ اَنۡتُمۡ مُّسۡلِمُوۡنَ ﴿٪۸۱
Sekali-kali tidak mungkin bagi seorang manusia yang kepadanya Allah memberi Kitab, kekuasaan, dan  kenabian,  kemudian ia  berkata kepada manusia: “Jadilah kamu hamba-hamba-Ku, bukan hamba-hamba Allah”,  tetapi ia akan berkata:  “Jadilah kamu orang yang berbakti  hanya kepada Allah, karena kamu senantiasa mengajarkan Kitab, kamu senantiasa mempelajarinya, dan kamu senantiasa membacanya. Dan tidak  pula ia akan menyuruh kamu supaya kamu menjadikan malaikat-malaikat dan nabi-nabi sebagai tuhan-tuhan. Apakah  ia akan menyuruhmu  kafir  setelah kamu menjadi  orang-orang yang berserah diri kepada Allah? (Ali ‘Imran [3]:80-81).

Dalam 3 Bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai keadaan “makar tandingan” Allah Swt. yang berlangsung dengan  sunyi-senyap --  tanpa ingar bingar seperti  makar buruk yang dilaksanakan oleh para penentang rasul Allah  di setiap zaman (QS.7:35-37) – tetapi target-target yang dituju  oleh “makar tandingan” Allah Swt. sepenuhnya tercapai.
       Salah satu dari target-target yang dicapai oleh “makar tandingan” Allah Swt. tersebut adalah membuat orang-orang yang berhati bengkok dan berpenyakit semakin tersesat dari haq (kebenaran), antara lain dengan menyalahtafsirkan peristiwa yang menjadi ajang “duel makar” tersebut.
     Contohnya adalah ketidakjelasan hasil dari upaya pembunuhan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. melalui penyaliban, sehingga orang-orang Yahudi tetap pada pendiriannya tentang ketidakpercayaan mereka terhadap pendakwaan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. sebagai Al-Masih atau sebagai Kristus yang kedatangannya sedang mereka tunggu-tunggu --  selain menunggu kedatangan dua orang lainnya, yakni (1) kedatangan Nabi yang seperti Musa atau nabi itu  (Ulangan 18:18-19)  (2) kedatangan kedua kali Nabi Elia dari langit   (Matius 11:2-19; Yahya 1:19-28, Maleakhi 4:5-6), firman-Nya:
وَ اِنۡ مِّنۡ اَہۡلِ الۡکِتٰبِ اِلَّا لَیُؤۡمِنَنَّ بِہٖ قَبۡلَ مَوۡتِہٖ ۚ وَ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ  یَکُوۡنُ عَلَیۡہِمۡ  شَہِیۡدًا ﴿۱۶۰﴾ۚ
Dan tidak ada seorang pun dari Ahlul  Kitab melainkan akan tetap beriman kepada hal ini sebelum ajalnya, dan pada Hari Kiamat ia (Isa)  akan menjadi saksi terhadap mereka. (Al-Nisaa [4]:160).

 Kedegilan Hati Orang-orang Yahudi

 Orang-orang Yahudi dengan gembira mengumandangkan telah membunuh Nabi Isa Ibnu Maryam  a.s. di tiang salib, sehingga dengan demikian telah membuktikan bahwa pendakwaan beliau sebagai nabi Allah tidak benar. Ayat itu bersama-sama ayat sebelumnya mengandung sangkalan yang keras  terhadap tuduhan tersebut serta membersihkan beliau dari noda yang didesas-desuskan, lalu mengutarakan keluhuran derajat ruhani beliau dan bahwa beliau telah mendapat kehormatan di hadirat Allah Swt. (QS.4:159). 
 Dalam ayat itu sama sekali tidak ada sebutan  mengenai kenaikan beliau ke langit dengan tubuh jasmani.Ayat itu hanya mengatakan bahwa Allah Swt. menaikkan beliau ke haribaan-Nya Sendiri, hal demikian menunjukkan dengan jelas suatu kenaikan ruhani, sebab tidak ada tempat kediaman tertentu dapat ditunjukkan bagi Allah Swt..
     Kata ganti nya  dalam kalimat sebelum ajalnya  mengantikan kata benda  tidak ada seorang pun, artinya setiap orang di antara Ahlul Kitab sebelum kematiannya sendiri.... Arti ini ditunjang oleh bacaan kedua mautihi yaitu mautihim  (kematian mereka) sebagaimana diriwayatkan oleh ‘Ubayy (Tafsir Ibnu Jarir, VI hlm. 13). Orang-orang Yahudi percaya bahwa mereka telah  membunuh Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di atas tiang salib, karena dengan demikian mereka ingin membuktikan beliau bukan seorang nabi yang benar atau bukan Mesiah (Al-Masih) yang sedang mereka tunggu-tunggu kedatangannya
      Orang Kristen   percaya bahwa beliau telah wafat di atas tiang salib sebagai orang yang terkutuk -- na’uudzubillaahi min dzaalik -- dan hal itu menyebabkan mereka telah menganut akidah “Penebusan dosa” dan “Trinitas”  yang diajarkan Paulus dalam surat-surat kirimannya.
      Tetapi atas semua bentuk ketergelinciran (ketersandungan) tersebut Allah Swt. dalam ayat sebelumnya (QS.4:158) dengan tegas menyatakan  bahwa “mereka tidak yakin telah membunuhnya, firman-Nya:
وَّ بِکُفۡرِہِمۡ وَ قَوۡلِہِمۡ عَلٰی مَرۡیَمَ  بُہۡتَانًا عَظِیۡمًا ﴿۱۵۷﴾ۙ   وَّ قَوۡلِہِمۡ اِنَّا قَتَلۡنَا الۡمَسِیۡحَ عِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ رَسُوۡلَ اللّٰہِ ۚ وَ مَا قَتَلُوۡہُ وَ مَا صَلَبُوۡہُ وَ لٰکِنۡ شُبِّہَ لَہُمۡ ؕ وَ  اِنَّ الَّذِیۡنَ اخۡتَلَفُوۡا فِیۡہِ لَفِیۡ شَکٍّ مِّنۡہُ ؕ مَا لَہُمۡ بِہٖ مِنۡ عِلۡمٍ  اِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ ۚ وَ مَا قَتَلُوۡہُ  یَقِیۡنًۢا ﴿۱۵۸ۙ  بَلۡ رَّفَعَہُ اللّٰہُ اِلَیۡہِ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ عَزِیۡزًا حَکِیۡمًا ﴿۱۵۹
Dan juga  mereka  Kami azab karena kekafiran mereka dan ucapan mereka terhadap Maryam berupa tuduhan palsu yang besar,  Dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, Isa Ibnu Maryam, Rasul Allah,” padahal mereka tidak membunuhnya secara biasa dan tidak pula mematikannya melalui penyaliban,  akan tetapi ia disamarkan kepada mereka seperti telah mati di atas salib. Dan sesungguhnya  orang-orang yang berselisih dalam hal ini niscaya ada dalam keraguan mengenai ini, mereka tidak memiliki  pengetahuan yang pasti mengenai ini melainkan menuruti dugaan belaka dan mereka tidak  yakin telah membunuhnya. Bahkan Allah telah mengangkat dia kepada-Nya dan Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (Al-Nisaa [4]:157-159).

Munculnya “Ajaran” Paulus tentang
Trinitas dan Penebusan Dosa

  Ketidakyakinan mereka itulah yang kemudian dikembangkan oleh Paulus untuk membuat-buat ajaran baru tentang peristiwa penyaliban Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. yang telah menggelincirkan banyak pihak, yaitu tentang faham  Trinitas dan Penebusan Dosa sebagaimana dikemukakannya dalam surat-surat kirimannya.
    Berikut adalah beberapa pernyataan Allah Swt. dalam Al-Quran yang mengisyaratkan kepada ajaran baru  hasil kreativitas Paulus, yang sangat bertentangan dengan ajaran asli Nabi Isa Ibnu Maryam a..s., firman-Nya:
مَا کَانَ لِبَشَرٍ اَنۡ یُّؤۡتِیَہُ اللّٰہُ الۡکِتٰبَ وَ الۡحُکۡمَ وَ النُّبُوَّۃَ ثُمَّ یَقُوۡلَ لِلنَّاسِ کُوۡنُوۡا عِبَادًا لِّیۡ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ وَ لٰکِنۡ کُوۡنُوۡا رَبّٰنِیّٖنَ بِمَا کُنۡتُمۡ تُعَلِّمُوۡنَ الۡکِتٰبَ وَ بِمَا کُنۡتُمۡ  تَدۡرُسُوۡنَ ﴿ۙ۸۰ وَ لَا یَاۡمُرَکُمۡ اَنۡ تَتَّخِذُوا الۡمَلٰٓئِکَۃَ وَ النَّبِیّٖنَ اَرۡبَابًا ؕ اَیَاۡمُرُکُمۡ بِالۡکُفۡرِ بَعۡدَ اِذۡ اَنۡتُمۡ مُّسۡلِمُوۡنَ ﴿٪۸۱
Sekali-kali tidak mungkin bagi seorang manusia yang kepadanya Allah memberi Kitab, kekuasaan, dan  kenabian,  kemudian ia  berkata kepada manusia: “Jadilah kamu hamba-hamba-Ku, bukan hamba-hamba Allah”,  tetapi ia akan berkata:  “Jadilah kamu orang yang berbakti  hanya kepada Allah, karena kamu senantiasa mengajarkan Kitab, kamu senantiasa mempelajarinya, dan kamu senantiasa membacanya. Dan tidak  pula ia akan menyuruh kamu supaya kamu menjadikan malaikat-malaikat dan nabi-nabi sebagai tuhan-tuhan. Apakah  ia akan menyuruhmu  kafir  setelah kamu menjadi  orang-orang yang berserah diri kepada Allah? (Ali ‘Imran [3]:80-81).
       Kalimat  maa kaana lahu dipakai dalam tiga pengertian: (a) tidak layak baginya berbuat demikian; (b) tidak mungkin baginya berbuat demikian; atau tidak masuk akal ia sampai berbuat demikian; (c) tidak ada kemungkinan ia dapat berbuat demikian, yakni secara fisik mustahil ia berbuat demikian.
      Rabbaniyyiin itu jamak dari Rabbaniy yang berarti: (1) orang yang mewakafkan diri untuk mengkhidmati agama atau menyediakan dirinya untuk menjalankan ibadah; (2) orang yang memiliki ilmu Ilahiyyat (Ketuhanan); (3) orang yang ahli dalam pengetahuan agama, atau seorang yang baik dan bertakwa; (4) guru yang mulai memberikan kepada orang-orang pengetahuan atau ilmu yang ringan-ringan sebelum beranjak ke ilmu-ilmu yang berat-berat; (5) induk semang atau majikan atau pemimpin; (6) seorang muslih (pembaharu). (Lexixon Lane, Sibawaih, dan Mubarrad).
  Kata-kata: Karena kamu senantiasa mengajarkan Al-Kitab dan senantiasa mempelajarinya, menunjukkan bahwa telah menjadi kewajiban bagi semua yang telah meraih ilmu keruhanian, agar mereka meneruskannya kepada orang-orang lain dan jangan membiarkan orang-orang meraba-raba dalam kegelapan, kejahilan atau kebodohan.
Firman-Nya lagi: 
یٰۤاَہۡلَ الۡکِتٰبِ لَا تَغۡلُوۡا فِیۡ دِیۡنِکُمۡ وَ لَا تَقُوۡلُوۡا عَلَی اللّٰہِ  اِلَّا الۡحَقَّ ؕ اِنَّمَا الۡمَسِیۡحُ عِیۡسَی ابۡنُ مَرۡیَمَ رَسُوۡلُ اللّٰہِ وَ کَلِمَتُہٗ ۚ اَلۡقٰہَاۤ اِلٰی مَرۡیَمَ وَ رُوۡحٌ مِّنۡہُ ۫ فَاٰمِنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ ۚ۟ وَ لَا تَقُوۡلُوۡا ثَلٰثَۃٌ ؕ اِنۡتَہُوۡا خَیۡرًا  لَّکُمۡ ؕ اِنَّمَا اللّٰہُ اِلٰہٌ وَّاحِدٌ ؕ سُبۡحٰنَہٗۤ اَنۡ یَّکُوۡنَ لَہٗ  وَلَدٌ ۘ لَہٗ  مَا  فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا  فِی  الۡاَرۡضِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ  وَکِیۡلًا ﴿۱۷۲﴾٪ لَنۡ یَّسۡتَنۡکِفَ الۡمَسِیۡحُ اَنۡ یَّکُوۡنَ عَبۡدًا لِّلّٰہِ وَ لَا الۡمَلٰٓئِکَۃُ الۡمُقَرَّبُوۡنَ ؕ وَ مَنۡ یَّسۡتَنۡکِفۡ عَنۡ عِبَادَتِہٖ وَ یَسۡتَکۡبِرۡ فَسَیَحۡشُرُہُمۡ  اِلَیۡہِ جَمِیۡعًا ﴿۱۷۳
Hai Ahlul Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam urusan agamamu, dan janganlah kamu mengatakan mengenai Allah kecuali yang haq. Sesungguhnya Al-Masih Isa Ibnu Maryam hanyalah  seorang rasul Allah, suatu kalimat dari-Nya yang diturunkan kepada Maryam, dan  ruh dari-Nya, maka berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan janganlah kamu  cmengatakan: “Tuhan itu tiga”, berhentilah, itu lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa. Maha Suci Dia dari memiliki  anak. Milik-Nya apa pun  yang ada di seluruh langit dan   apa  pun yang ada di bumi. Dan cukuplah Allah sebagai Pemelihara.  Al-Masih tidak pernah   merasa hina menjadi hamba bagi Allah, dan tidak juga malaikat yang dekat kepada-Nya, dan barangsiapa merasa hina karena beribadah kepada-Nya dan berlaku takabur maka Dia akan mengumpulkan mereka semua kepada-Nya. (Al-Nisaa [4]:172-173).

Tidak Ada Alasan untuk “Mempertuhankan” Nabi Isa Ibnu Maryam a.s

 Ruuh berarti:  ruh atau jiwa, nafas yang memenuhi seluruh jisim, dan apabila nafas berhenti  maka orang akan mati; wahyu Ilahi atau ilham; Al-Quran; malaikat; kegembiraan dan kebahagiaan; rahmat (Lexicon Lane). Dari berbagai arti ruuh dan kalimah tersebut di atas jelaslah bahwa tidak ada kedudukan ruhani yang istimewa pada Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.. Kata-kata itu dan ucapan-ucapan lainnya yang seperti itu dipakai dalam Al-Quran mengenai nabi-nabi lainnya, dan juga mengenai orang-orang shalih lainnya seperti Siti Maryam (QS.15:30; QS.32:10; QS.58:23). Kata-kata itu telah dipergunakan untuk membersihkan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  dan Siti Maryam dari noda-noda yang dilemparkan oleh orang-orang Yahudi kepada kedua mereka itu (QS.4:157-159), dan bukan memberikan kepada mereka suatu kedudukan ruhani istimewa.
  "Dalil yang  nyata" dapat mengacu kepada Al-Quran  yang mengandung Tanda-tanda dan bukti-bukti yang agung dan nyata; atau kepada Nabi Besar Muhammad saw.  yang dengan suri teladan beliau saw. (QS.33:22) memperlihatkan, bahwa ajaran-ajaran Al-Quran itu adalah  nikmat besar untuk seluruh umat manusia (QS.21:108). "Nur yang terang benderang" dapat mengisyaratkan pula, baik kepada Nabi Besar Muhammad saw.  atau kepada Al-Quran.
  Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai penolakan keras Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. berkenaan ajaran baru yang diada-adakan oleh Paulus mengenai Trinitas dan Penebusan Dosa  -- akibat tergelincir oleh “duel makar” melalui peristiwa penyaliban Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. tersebut:
 وَ  اِذۡ قَالَ اللّٰہُ یٰعِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ  ءَاَنۡتَ قُلۡتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُوۡنِیۡ وَ اُمِّیَ  اِلٰہَیۡنِ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ؕ قَالَ سُبۡحٰنَکَ مَا یَکُوۡنُ لِیۡۤ  اَنۡ اَقُوۡلَ مَا لَیۡسَ لِیۡ ٭ بِحَقٍّ ؕ؃ اِنۡ کُنۡتُ قُلۡتُہٗ فَقَدۡ عَلِمۡتَہٗ ؕ تَعۡلَمُ  مَا فِیۡ نَفۡسِیۡ وَ لَاۤ اَعۡلَمُ مَا فِیۡ نَفۡسِکَ ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ عَلَّامُ  الۡغُیُوۡبِ ﴿۱۱۷   مَا قُلۡتُ لَہُمۡ اِلَّا مَاۤ اَمَرۡتَنِیۡ بِہٖۤ اَنِ اعۡبُدُوا اللّٰہَ رَبِّیۡ وَ رَبَّکُمۡ ۚ وَ کُنۡتُ عَلَیۡہِمۡ  شَہِیۡدًا مَّا دُمۡتُ فِیۡہِمۡ ۚ فَلَمَّا تَوَفَّیۡتَنِیۡ  کُنۡتَ اَنۡتَ الرَّقِیۡبَ عَلَیۡہِمۡ ؕ وَ  اَنۡتَ عَلٰی کُلِّ  شَیۡءٍ  شَہِیۡدٌ ﴿۱۱۸  اِنۡ تُعَذِّبۡہُمۡ فَاِنَّہُمۡ عِبَادُکَ ۚ وَ اِنۡ تَغۡفِرۡ لَہُمۡ فَاِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿۱۱۹
Dan ingatlah ketika Allah berfirman: “Hai ‘Isa ibnu Maryam, apakah engkau telah berkata kepada manusia: Jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan  selain  Allah?" Ia berkata: “Maha Suci Engkau. Tidak patut bagiku mengatakan apa yang  sekali-kali  bukan hakku. Jika  aku telah mengatakannya maka sungguh  Engkau mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada dalam diriku, sedangkan aku tidak mengetahui apa yang ada dalam diri Engkau sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Mengetahui segala yang gaib. Aku sekali-kali tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang telah Engkau perintahkan kepadaku, yaitu:  Beribadahlah ke-pada Allah, Tuhan-ku  dan Tuhan-mu.” Dan aku menjadi saksi atas mereka selama aku berada di antara mereka, tetapi tatkala  Engkau telah mewafatkanku  maka Engkau-lah Yang benar-benar menjadi Pengawas atas mereka, dan Engkau adalah Saksi atas segala sesuatu. Jika Engkau mengazab mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (Al-Maaidah [5]:17-19).

(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid


Tidak ada komentar:

Posting Komentar