Selasa, 14 Februari 2012

Ketergelinciran "Orang-orang yang Berhati Bengkok" (2)


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ

 
HUBUNGAN  NABI YUSUF A.S. 
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
  
Bagian   XLVIII
Tentang

        Ketergelinciran  "Orang-orang 
      yang Berhati Bengkok" (2) 
  
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
 
وَ قَالَتِ الۡیَہُوۡدُ عُزَیۡرُۨ  ابۡنُ اللّٰہِ وَ قَالَتِ النَّصٰرَی الۡمَسِیۡحُ  ابۡنُ  اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ قَوۡلُہُمۡ بِاَفۡوَاہِہِمۡ ۚ یُضَاہِـُٔوۡنَ  قَوۡلَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ قَبۡلُ ؕ قٰتَلَہُمُ اللّٰہُ ۚ۫ اَنّٰی  یُؤۡفَکُوۡنَ ﴿۳۰
Dan  orang-orang Yahudi berkata: “Uzair  adalah  anak Allah”, dan orang-orang Nasrani berkata: “Al-Masih adalah  anak  Allah.” Demikian itulah perkataan mereka dengan mulutnya, mereka  meniru-niru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Allah membinasakan mereka, bagaimana mereka sampai dipalingkan dari Tauhid? (Al-Taubah [9]:30).

Dalam Bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai ketergelinciran atau ketersandungan orang-orang yang berhati bengkok atau berpenyakit oleh  “duel makar” dalam peristiwa penyaliban Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., yang dimenangkan oleh “makar tandingan” Allah Swt.,  firman-Nya:
وَّ بِکُفۡرِہِمۡ وَ قَوۡلِہِمۡ عَلٰی مَرۡیَمَ  بُہۡتَانًا عَظِیۡمًا ﴿۱۵۷﴾ۙ   وَّ قَوۡلِہِمۡ اِنَّا قَتَلۡنَا الۡمَسِیۡحَ عِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ رَسُوۡلَ اللّٰہِ ۚ وَ مَا قَتَلُوۡہُ وَ مَا صَلَبُوۡہُ وَ لٰکِنۡ شُبِّہَ لَہُمۡ ؕ وَ  اِنَّ الَّذِیۡنَ اخۡتَلَفُوۡا فِیۡہِ لَفِیۡ شَکٍّ مِّنۡہُ ؕ مَا لَہُمۡ بِہٖ مِنۡ عِلۡمٍ  اِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ ۚ وَ مَا قَتَلُوۡہُ  یَقِیۡنًۢا ﴿۱۵۸ۙ  بَلۡ رَّفَعَہُ اللّٰہُ اِلَیۡہِ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ عَزِیۡزًا حَکِیۡمًا ﴿۱۵۹
Dan juga  mereka  Kami azab karena kekafiran mereka dan ucapan mereka terhadap Maryam berupa tuduhan palsu yang besar,  Dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, Isa Ibnu Maryam, Rasul Allah,” padahal mereka tidak membunuhnya secara biasa dan tidak pula mematikannya melalui penyaliban,  akan tetapi ia disamarkan kepada mereka seperti telah mati di atas salib. Dan sesungguhnya  orang-orang yang berselisih dalam hal ini niscaya ada dalam keraguan mengenai ini, mereka tidak memiliki  pengetahuan yang pasti mengenai ini melainkan menuruti dugaan belaka dan mereka tidak  yakin telah membunuhnya. Bahkan Allah telah mengangkat dia kepada-Nya dan Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (Al-Nisaa [4]:157-159).

Meniru Perbuatan Kafir Orang-orang Terdahulu

      Menurut Allah Swt., “ajaran baru” hasil rekayasa Paulus mengenai “kasus penyaliban” Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. --  yang “sangat menggelincirkan” orang-orang yang berhati bengkok dan berpenyakit tersebut  -- pada hakikatnya meniru-niru perbuatan sesat orang-orang terdahulu, firman-Nya:
وَ قَالَتِ الۡیَہُوۡدُ عُزَیۡرُۨ  ابۡنُ اللّٰہِ وَ قَالَتِ النَّصٰرَی الۡمَسِیۡحُ  ابۡنُ  اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ قَوۡلُہُمۡ بِاَفۡوَاہِہِمۡ ۚ یُضَاہِـُٔوۡنَ  قَوۡلَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ قَبۡلُ ؕ قٰتَلَہُمُ اللّٰہُ ۚ۫ اَنّٰی  یُؤۡفَکُوۡنَ ﴿۳۰
Dan  orang-orang Yahudi berkata: “Uzair  adalah  anak Allah”, dan orang-orang Nasrani berkata: “Al-Masih adalah  anak  Allah.” Demikian itulah perkataan mereka dengan mulutnya, mereka  meniru-niru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Allah membinasakan mereka, bagaimana mereka sampai dipalingkan dari Tauhid? (Al-Taubah [9]:30).
      ‘Uzair atau Ezra hidup pada abad kelima sebelum Masehi. Beliau keturunan Seraya, imam agung, dan karena beliau sendiri pun anggota Dewan Imam dan dikenal sebagai Imam Ezra. Beliau termasuk seorang tokoh terpenting di masanya dan mempunyai pengaruh yang luas sekali dalam mengembangkan agama Yahudi. Beliau mendapat kehormatan khas di antara nabi-nabi Israil.
     Orang-orang Yahudi di Medinah dan suatu mazhab Yahudi di Hadramaut, mempercayai beliau sebagai anak Allāh. Para Rabbi (pendeta-pendeta Yahudi) menghubungkan nama beliau dengan beberapa lembaga-lembaga penting. Renan mengemukakan dalam mukadimah bukunya “History of the People of Israel” bahwa bentuk agama Yahudi yang-pasti dapat dianggap berwujud semenjak masa Ezra. Dalam kepustakaan golongan Rabbi, beliau dianggap patut jadi wahana pengemban syariat seandainya syariat itu tidak dibawa oleh Nabi Musa a.s..  Beliau bekerjasama dengan Nehemya dan wafat pada usia 120 tahun di Babil (Yew. Enc. & Enc. Bib).
      Jadi, sebagaimana orang-orang kafir sebelumnya, orang-orang Yahudi pun  -- baik yang tetap beragama Yahudi  maupun yang kemudian menganut ajaran  Paulus -- memiliki kecenderungan untuk mempertuhankan manusia, khususnya para rasul Allah dan para pemuka agama mereka,  mengenai hal tersbeut selanjutnya Allah Swt. berfirman:
اِتَّخَذُوۡۤا اَحۡبَارَہُمۡ وَ رُہۡبَانَہُمۡ اَرۡبَابًا مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ وَ الۡمَسِیۡحَ ابۡنَ مَرۡیَمَ ۚ وَ مَاۤ  اُمِرُوۡۤا  اِلَّا  لِیَعۡبُدُوۡۤا  اِلٰـہًا  وَّاحِدًا ۚ لَاۤ اِلٰہَ  اِلَّا ہُوَ ؕ سُبۡحٰنَہٗ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ ﴿۳۱
Mereka telah menjadikan ulama-ulama mereka dan rahib-rahib mereka  sebagai tuhan-tuhan selain Allah, dan begitu juga Al-Masih ibnu Maryam, padahal  mereka tidak diperintahkan melainkan supaya mereka menyembah Tuhan Yang Mahaesa. Tidak ada Tuhan kecuali Dia. Mahasuci Dia dari apa yang mereka sekutukan.  (Al-Taubah [9]:31).
Ahbar adalah ulama-ulama Yahudi dan Ruhban adalah para rahib agama Nasrani. Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
  یُرِیۡدُوۡنَ  اَنۡ یُّطۡفِـُٔوۡا نُوۡرَ اللّٰہِ بِاَفۡوَاہِہِمۡ وَ یَاۡبَی اللّٰہُ  اِلَّاۤ  اَنۡ  یُّتِمَّ  نُوۡرَہٗ وَ لَوۡ  کَرِہَ  الۡکٰفِرُوۡنَ ﴿۳۲  ہُوَ الَّذِیۡۤ  اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ  بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ ۙ وَ لَوۡ کَرِہَ  الۡمُشۡرِکُوۡنَ ﴿۳۳
Mereka berkehendak memadamkan cahaya Allah  dengan mulut mereka, tetapi Allah menolak bahkan menyempurnakan cahaya-Nya, walau pun orang-orang kafir tidak menyukai.   Dia-lah Yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang haq (benar), supaya Dia mengunggulkannya atas semua agama walau pun orang-orang musyrik tidak menyukainya. (Al Taubah 32-33).

Upaya Memadamkan “Cahaya Allah” (Tauhid Ilahi)

      Orang-orang Nasrani yang berdiam di tanah Arab telah menghasut orang-orang kuat seagama mereka di Siria, dan dengan pertolongan mereka  mencoba untuk memadamkan Nur Islam yang telah dinyalakan Allah Swt.   di tanah Arab melalui pengutusan Nabi yang seperti Musa (Ulangan 18:18-19; QS.46:11) yakni Nabi Besar Muhammad saw., atau “Dia yang datang dalam nama Tuhan” (Matius 23:37-39), atau     Roh Kebenaran yang membawa seluruh kebenaran (Yahya 16:12-13). Orang-orang Yahudi pun pernah berupaya semacam itu, dengan menghasut orang-orang Parsi untuk bangkit melawan Nabi Besar Muhammad saw..
      Para mufassir (ahli tafsir) Al-Quran sepakat bahwa, seperti dikemukakan dalam sebuah hadits Nabi Besar Muhammad saw. bahwa kemenangan Islam pada akhirnya akan terjadi di masa Masih Mau’ud a.s... (Tafsir Ibnu Jarir), manakala semua agama yang beraneka ragam akan bangkit dan akan berusaha sekeras-kerasnya untuk menyiarkan ajaran mereka sendiri.
      Cita-cita dan asas-asas Islam yang luhur sudah mulai semakin bertambah diakui, dan hari itu tidak jauh lagi bila Islam akan memperoleh kemenangan atas semua agama lainnya dan pengikut-pengikut agama-agama itu akan masuk ke dalam haribaan Islam dalam jumlah besar.
      Namun untuk mewujudkan takdir Allah Swt. tersebut, Rasul Akhir Zaman yang ditakdirkan Allah Swt. untuk mewujudkan kejayaan Islam kedua kali  tersebut (QS.61:10) perlu kerja keras untuk memperbaiki   berbagai kesalahan yang dianut oleh umumnya umat Islam tersebut, baik dari segi pemahaman Al-Quran mau pun pengamalannya, yang tidak sesuai lagi dengan pemahaman dan pengamalan yang telah disunnahkan oleh Nabi Besar Muhammad saw. dan para Khulafatur Rasyidin.
       Dari sekian banyak pemahaman umat Islam yang perlu diluruskan lagi antara lain adalah: 
       (1)  tentang  peristiwa penyaliban  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., karena mereka berpendapat mengenai  firman Allah Swt. dalam QS.4:158-159 bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. tidak pernah mengalami penangkapan apalagi penyaliban, sebab  menurut pendapat mereka bahwa yang ditangkap dan dipakukan di tiang salib adalah Yudas Iskariot, murid durhaka Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., yang wajahnya oleh Allah Swt. telah “disamarkan” atau “diserupakan”  dengan wajah Nabi Isa Ibnu Maryam a.s..  Ada pun  mengenai Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. sendiri menurut mereka beliau telah  “diangkat hidup-hidup dengan jasad kasarnya ke langit”  berdasarkan firman Allah Swt. dalam QS.4:159. Padahal  Allah Swt. dengan jelas telah menyatakan bahwa seluruh Rasul Allah yang diutus sebelum Nabi Besar Muhammad saw., seperti juga beliau saw. semuanya telah wafat,  termasuk Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.3:55, 145; QS.5:76; QS.21:35-36).
        (2) Tentang kedatangan Nabi Isa Ibnu maryam a.s. kedua kali sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi Besar Muhammad saw., bahwa menurut mereka Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  yang pernah diutus sebagai rasul Allah kepada Bani Israil itulah yang akan turun dari langit   untuk mewujudkan  kejayaan Islam yang kedua kali. Padahal selain Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. telah wafat,   menurut Allah Swt. yang dimaksudkan dengan kedatangan beliau kedua kali adalah kedatangan misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58), sebagaimana halnya Nabi Besar Muhammad saw. adalah misal Nabi Musa a.s. (QS.46:11).
      Jadi, sebagaimana di kalangan Bani Israil ada Musa dan Isa, maka  di kalangan Bani Ismail ada misal Musa dan misal Isa, dengan demikian “burung” Nabi Ibrahim a.s. benar-benar jumlahnya “4 ekor burung” (QS.2:261), sebab kalau Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. Israili datang dua kali maka bukan saja  berarti jumlah “burung” Nabi Ibrahim a.s. hanya “3 ekor”, tetapi  juga hal itu merupakan  tindakan Allah Swt.  yang tidak adil bagi Bani Ismail – na’udzubilLaahi min dzaalik --   serta merupakan kesia-siaan  Allah Swt. memindahkan nikmat kenabian dari Bani Israil kepada Bani Ismail   dengan mengutus Nabi Besar Muhammad saw. (QS.2:128-130), dan karena    menurut mereka tidak boleh ada wahyu baru dan nabi baru lagi jenis apa pun setelah Nabi Besar Muhammad saw,  maka yang menjadi Rasul Akhir Zaman adalah Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  dari   Bani Israil lagi.  Jika benarkah  demikian dimana letak kebenaran bahwa umat Islam merupakan umat terbaik yang dijadikan untuk kepantingan seluruh umat manusia (QS.2:144; QS.3:111)?
         Itulah dua contoh dari  banyak contoh lainnya yang perlu dibenahi di kalangan umumnya Umat Islam, sebelum  umat Islam  dapat mewujudkan kejayaannya yang kedua kali di Akhir Zaman ini, yang menurut Allah Swt. merupakan tugas Rasul Allah untuk mewujudkannya, yakni Rasul Akhir Zaman, firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡۤ  اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ  بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ ۙ وَ لَوۡ کَرِہَ  الۡمُشۡرِکُوۡنَ ﴿۳۳
 Dia-lah Yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang haq (benar), supaya Dia mengunggulkannya atas semua agama walau pun orang-orang musyrik tidak menyukainya. (Al Taubah 33), lihat pula QS.61:10.

(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar