بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
HUBUNGAN NABI YUSUF A.S.
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
Bagian XLVIII
Tentang
Ketergelinciran "Orang-orang
yang Berhati Bengkok" (2)
yang Berhati Bengkok" (2)
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
وَ
قَالَتِ الۡیَہُوۡدُ عُزَیۡرُۨ ابۡنُ اللّٰہِ وَ قَالَتِ النَّصٰرَی الۡمَسِیۡحُ ابۡنُ
اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ قَوۡلُہُمۡ بِاَفۡوَاہِہِمۡ ۚ یُضَاہِـُٔوۡنَ قَوۡلَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ قَبۡلُ ؕ قٰتَلَہُمُ اللّٰہُ ۚ۫ اَنّٰی یُؤۡفَکُوۡنَ ﴿۳۰﴾
Dan orang-orang
Yahudi berkata: “Uzair adalah
anak Allah”, dan orang-orang Nasrani
berkata: “Al-Masih adalah anak Allah.” Demikian itulah perkataan mereka
dengan mulutnya, mereka meniru-niru
perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Allah membinasakan mereka,
bagaimana mereka sampai dipalingkan dari Tauhid? (Al-Taubah
[9]:30).
Dalam Bab sebelumnya telah dijelaskan
mengenai ketergelinciran atau ketersandungan orang-orang yang berhati bengkok
atau berpenyakit oleh “duel makar” dalam
peristiwa penyaliban Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., yang dimenangkan oleh “makar
tandingan” Allah Swt., firman-Nya:
وَّ بِکُفۡرِہِمۡ وَ
قَوۡلِہِمۡ عَلٰی مَرۡیَمَ بُہۡتَانًا
عَظِیۡمًا ﴿۱۵۷﴾ۙ وَّ قَوۡلِہِمۡ اِنَّا قَتَلۡنَا الۡمَسِیۡحَ
عِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ رَسُوۡلَ اللّٰہِ ۚ وَ مَا قَتَلُوۡہُ وَ مَا صَلَبُوۡہُ
وَ لٰکِنۡ شُبِّہَ لَہُمۡ ؕ وَ اِنَّ
الَّذِیۡنَ اخۡتَلَفُوۡا فِیۡہِ لَفِیۡ شَکٍّ مِّنۡہُ ؕ مَا لَہُمۡ بِہٖ مِنۡ
عِلۡمٍ اِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ ۚ وَ
مَا قَتَلُوۡہُ یَقِیۡنًۢا ﴿۱۵۸ۙ بَلۡ رَّفَعَہُ
اللّٰہُ اِلَیۡہِ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ عَزِیۡزًا حَکِیۡمًا ﴿۱۵۹﴾
Dan juga mereka Kami azab karena kekafiran mereka
dan ucapan mereka terhadap Maryam berupa tuduhan palsu yang
besar, Dan karena ucapan
mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, Isa Ibnu Maryam, Rasul
Allah,” padahal mereka tidak membunuhnya secara biasa dan tidak
pula mematikannya melalui penyaliban, akan tetapi ia disamarkan kepada
mereka seperti telah mati di atas salib. Dan sesungguhnya orang-orang yang berselisih dalam hal ini
niscaya ada dalam keraguan mengenai ini, mereka tidak memiliki pengetahuan yang pasti mengenai
ini melainkan menuruti dugaan belaka dan mereka tidak yakin telah membunuhnya. Bahkan Allah
telah mengangkat dia kepada-Nya dan Allah Maha Perkasa, Maha
Bijaksana. (Al-Nisaa [4]:157-159).
Meniru Perbuatan Kafir Orang-orang
Terdahulu
Menurut Allah Swt., “ajaran baru” hasil
rekayasa Paulus mengenai “kasus penyaliban” Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. -- yang “sangat menggelincirkan” orang-orang yang
berhati bengkok dan berpenyakit tersebut -- pada hakikatnya meniru-niru perbuatan
sesat orang-orang terdahulu, firman-Nya:
وَ
قَالَتِ الۡیَہُوۡدُ عُزَیۡرُۨ ابۡنُ اللّٰہِ وَ قَالَتِ النَّصٰرَی الۡمَسِیۡحُ ابۡنُ
اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ قَوۡلُہُمۡ بِاَفۡوَاہِہِمۡ ۚ یُضَاہِـُٔوۡنَ قَوۡلَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ قَبۡلُ ؕ قٰتَلَہُمُ اللّٰہُ ۚ۫ اَنّٰی یُؤۡفَکُوۡنَ ﴿۳۰﴾
Dan orang-orang
Yahudi berkata: “Uzair adalah anak Allah”, dan orang-orang Nasrani
berkata: “Al-Masih adalah anak Allah.” Demikian itulah perkataan
mereka dengan mulutnya, mereka meniru-niru
perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Allah membinasakan mereka,
bagaimana mereka sampai dipalingkan dari Tauhid? (Al-Taubah
[9]:30).
‘Uzair atau Ezra hidup pada abad
kelima sebelum Masehi. Beliau keturunan Seraya, imam agung, dan karena beliau
sendiri pun anggota Dewan Imam dan dikenal sebagai Imam Ezra. Beliau termasuk
seorang tokoh terpenting di masanya dan mempunyai pengaruh yang luas sekali
dalam mengembangkan agama Yahudi. Beliau mendapat kehormatan khas di antara
nabi-nabi Israil.
Orang-orang
Yahudi di Medinah dan suatu mazhab Yahudi di Hadramaut, mempercayai beliau
sebagai anak Allāh. Para Rabbi (pendeta-pendeta Yahudi) menghubungkan
nama beliau dengan beberapa lembaga-lembaga penting. Renan mengemukakan dalam
mukadimah bukunya “History of the People of Israel” bahwa bentuk
agama Yahudi yang-pasti dapat dianggap berwujud semenjak masa Ezra. Dalam
kepustakaan golongan Rabbi, beliau dianggap patut jadi wahana pengemban syariat
seandainya syariat itu tidak dibawa oleh Nabi Musa a.s.. Beliau bekerjasama dengan Nehemya dan
wafat pada usia 120 tahun di Babil (Yew. Enc. & Enc.
Bib).
Jadi,
sebagaimana orang-orang kafir sebelumnya, orang-orang Yahudi pun -- baik yang tetap beragama Yahudi maupun yang kemudian menganut ajaran Paulus -- memiliki kecenderungan untuk mempertuhankan
manusia, khususnya para rasul Allah dan para pemuka agama
mereka, mengenai hal tersbeut
selanjutnya Allah Swt. berfirman:
اِتَّخَذُوۡۤا اَحۡبَارَہُمۡ وَ رُہۡبَانَہُمۡ اَرۡبَابًا مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ وَ
الۡمَسِیۡحَ ابۡنَ مَرۡیَمَ ۚ وَ مَاۤ
اُمِرُوۡۤا اِلَّا لِیَعۡبُدُوۡۤا اِلٰـہًا وَّاحِدًا ۚ لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَ ؕ سُبۡحٰنَہٗ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ ﴿۳۱﴾
Mereka telah menjadikan ulama-ulama mereka dan rahib-rahib
mereka sebagai tuhan-tuhan
selain Allah, dan begitu juga Al-Masih ibnu Maryam, padahal mereka tidak diperintahkan
melainkan supaya mereka menyembah Tuhan Yang Mahaesa. Tidak ada Tuhan
kecuali Dia. Mahasuci Dia dari apa yang mereka sekutukan. (Al-Taubah [9]:31).
Ahbar
adalah ulama-ulama Yahudi dan Ruhban adalah para rahib agama Nasrani.
Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
یُرِیۡدُوۡنَ اَنۡ یُّطۡفِـُٔوۡا نُوۡرَ اللّٰہِ بِاَفۡوَاہِہِمۡ وَ یَاۡبَی اللّٰہُ اِلَّاۤ اَنۡ یُّتِمَّ نُوۡرَہٗ وَ لَوۡ کَرِہَ الۡکٰفِرُوۡنَ ﴿۳۲﴾ ہُوَ الَّذِیۡۤ اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ ۙ وَ لَوۡ کَرِہَ الۡمُشۡرِکُوۡنَ ﴿۳۳﴾
Mereka berkehendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut mereka, tetapi Allah
menolak bahkan menyempurnakan cahaya-Nya, walau pun orang-orang
kafir tidak menyukai. Dia-lah Yang telah mengutus
Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang haq (benar), supaya Dia
mengunggulkannya atas semua agama walau pun orang-orang musyrik tidak
menyukainya. (Al Taubah 32-33).
Upaya Memadamkan “Cahaya Allah” (Tauhid Ilahi)
Orang-orang Nasrani yang berdiam di tanah Arab
telah menghasut orang-orang kuat seagama mereka di Siria, dan dengan
pertolongan mereka mencoba untuk memadamkan
Nur Islam yang telah dinyalakan Allah Swt. di tanah Arab melalui pengutusan Nabi
yang seperti Musa (Ulangan 18:18-19; QS.46:11) yakni Nabi
Besar Muhammad saw., atau “Dia yang datang dalam nama Tuhan” (Matius
23:37-39), atau Roh Kebenaran
yang membawa seluruh kebenaran (Yahya 16:12-13). Orang-orang
Yahudi pun pernah berupaya semacam itu, dengan menghasut orang-orang Parsi
untuk bangkit melawan Nabi Besar Muhammad saw..
Para
mufassir (ahli tafsir) Al-Quran sepakat bahwa, seperti dikemukakan dalam
sebuah hadits Nabi Besar Muhammad saw. bahwa kemenangan Islam pada
akhirnya akan terjadi di masa Masih Mau’ud a.s... (Tafsir
Ibnu Jarir), manakala semua agama yang beraneka ragam akan bangkit dan
akan berusaha sekeras-kerasnya untuk menyiarkan ajaran mereka sendiri.
Cita-cita dan
asas-asas Islam yang luhur sudah mulai semakin bertambah diakui, dan
hari itu tidak jauh lagi bila Islam akan memperoleh kemenangan
atas semua agama lainnya dan pengikut-pengikut agama-agama itu akan masuk ke
dalam haribaan Islam dalam jumlah besar.
Namun
untuk mewujudkan takdir Allah Swt. tersebut, Rasul Akhir Zaman
yang ditakdirkan Allah Swt. untuk mewujudkan kejayaan Islam kedua
kali tersebut (QS.61:10) perlu kerja
keras untuk memperbaiki berbagai
kesalahan yang dianut oleh umumnya umat Islam tersebut, baik dari segi pemahaman
Al-Quran mau pun pengamalannya, yang tidak sesuai lagi dengan pemahaman
dan pengamalan yang telah disunnahkan oleh Nabi Besar
Muhammad saw. dan para Khulafatur Rasyidin.
Dari
sekian banyak pemahaman umat Islam yang perlu diluruskan lagi
antara lain adalah:
(1) tentang
peristiwa penyaliban Nabi
Isa Ibnu Maryam a.s., karena mereka berpendapat mengenai firman Allah Swt. dalam QS.4:158-159 bahwa
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. tidak pernah mengalami penangkapan apalagi penyaliban,
sebab menurut pendapat mereka bahwa yang
ditangkap dan dipakukan di tiang salib adalah Yudas Iskariot, murid
durhaka Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., yang wajahnya oleh Allah Swt. telah “disamarkan”
atau “diserupakan” dengan wajah
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.. Ada pun mengenai Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. sendiri
menurut mereka beliau telah “diangkat
hidup-hidup dengan jasad kasarnya ke langit” berdasarkan firman Allah Swt. dalam QS.4:159.
Padahal Allah Swt. dengan jelas telah
menyatakan bahwa seluruh Rasul Allah yang diutus sebelum Nabi Besar Muhammad
saw., seperti juga beliau saw. semuanya telah wafat, termasuk Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.3:55,
145; QS.5:76; QS.21:35-36).
(2)
Tentang kedatangan Nabi Isa Ibnu maryam a.s. kedua kali sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi
Besar Muhammad saw., bahwa menurut mereka Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. yang pernah diutus sebagai rasul Allah kepada
Bani Israil itulah yang akan turun dari langit untuk mewujudkan kejayaan Islam yang kedua kali.
Padahal selain Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. telah wafat, menurut Allah Swt. yang dimaksudkan dengan
kedatangan beliau kedua kali adalah kedatangan misal Nabi Isa Ibnu Maryam
a.s. (QS.43:58), sebagaimana halnya Nabi Besar Muhammad saw. adalah misal
Nabi Musa a.s. (QS.46:11).
Jadi,
sebagaimana di kalangan Bani Israil ada Musa dan Isa,
maka di kalangan Bani Ismail
ada misal Musa dan misal Isa, dengan
demikian “burung” Nabi Ibrahim a.s. benar-benar jumlahnya “4 ekor burung”
(QS.2:261), sebab kalau Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. Israili datang dua
kali maka bukan saja berarti jumlah “burung”
Nabi Ibrahim a.s. hanya “3 ekor”, tetapi juga hal itu merupakan tindakan Allah Swt. yang tidak adil bagi Bani Ismail
– na’udzubilLaahi min dzaalik -- serta merupakan kesia-siaan Allah Swt. memindahkan nikmat kenabian
dari Bani Israil kepada Bani Ismail dengan mengutus Nabi Besar Muhammad saw. (QS.2:128-130),
dan karena menurut
mereka tidak boleh ada wahyu baru dan nabi baru lagi jenis apa
pun setelah Nabi Besar Muhammad saw, maka yang menjadi Rasul Akhir Zaman adalah
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dari Bani
Israil lagi. Jika benarkah demikian dimana letak kebenaran bahwa umat
Islam merupakan umat terbaik yang dijadikan untuk kepantingan seluruh umat
manusia (QS.2:144; QS.3:111)?
Itulah dua contoh dari banyak contoh lainnya yang perlu dibenahi
di kalangan umumnya Umat Islam, sebelum umat
Islam dapat mewujudkan kejayaannya
yang kedua kali di Akhir Zaman ini, yang menurut Allah Swt. merupakan
tugas Rasul Allah untuk mewujudkannya, yakni Rasul Akhir Zaman, firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡۤ اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ ۙ وَ لَوۡ کَرِہَ الۡمُشۡرِکُوۡنَ ﴿۳۳﴾
Dia-lah Yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama
yang haq (benar), supaya Dia mengunggulkannya atas semua agama
walau pun orang-orang musyrik tidak menyukainya. (Al Taubah
33), lihat pula QS.61:10.
(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid
Tidak ada komentar:
Posting Komentar