Rabu, 08 Februari 2012

Makna "Kun Fayakun" (1)

بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ

 
HUBUNGAN  NABI YUSUF A.S. 
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
  
Bagian   XLI
Tentang

        "Duel Makar"  Dalam Peristiwa Hijrah 
Nabi Besar Muhammad Saw.  &
  Makna "Kun Fayakun" (1)
 
Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma
وَ مَا جَعَلۡنَا لِبَشَرٍ مِّنۡ قَبۡلِکَ الۡخُلۡدَ ؕ اَفَا۠ئِنۡ  مِّتَّ  فَہُمُ  الۡخٰلِدُوۡنَ  ﴿۳۵
Dan Kami sekali-kali tidak  menjadikan seorang manusia pun sebelum engkau hidup kekal, maka  jika engkau mati  maka apakah mereka itu akan hidup kekal? (Al-Anbiya [21]:35).

Dalam Bab sebelumnya telah dijelaskan sedikit mengenai   makna “Kun fayakun”  yang berkaitan dengan berbagai hal di dalam beberapa Surah  Al-Quran berkenaan dengan Kemahakuasaan Allah Swt., berikut beberapa contoh mengenai hal tersebut:
(1)  Allah Swt. berfirman “Kun fayakun” (Jadilah maka terjadilah) mengenai sesuatu yang dikehendaki-Nya terjadi - QS.2:29; QS.16:41; QS.36:83; QS.40:69);  
(2)   Allah Swt. berfirman “Kun fayakun” mengenai penciptaan seluruh langit dan bumi - QS.2:118; QS.6:74);
(3)  Allah Swt. berfirman “Kun fayakun” mengenai kehamilan Siti Maryam - QS.3:48);
(4)  Allah Swt. berfirman “Kun fayakun” mengenai misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. seperti misal Nabi Adam  a.s. - QS.3-60);
(5)  Allah Swt. berfirman “Kun” (jadilah) kepada Nabi Musa a.s. dan Nabi Besar Muhammad saw. agar menjadi orang yang bersyukur - QS.7:145; QS.39:67);
(6)  Allah Swt. berfirman “Kun” (jadilah)   mengenai Nabi Besar Muhammad saw. agar menjadi orang-orang yang sujud - QS.15:99);  
(7)  Allah Swt. berfirman “Kun fayakun” mengenai ketidaklayakan bagi Allah Swt. mengambil seorang anak bagi-Nya - QS.19:36);
(8)  Allah Swt. berfirman “Kuuniy” (jadilah) ketika memerintahkan api menjadi dingin dan  keselamatan  ketika  Nabi Ibrahim a.s. dilemparkan ke dalamnya (QS.21:70).

Makna Berbagai Mukjizat Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.

       Dari semua ayat berkenaan dengan penggunaan  kata “Kun” (Jadilah)  tidak ada satu pun yang seperti apa yang difahami, dipercayai oleh umumnya umat Islam  sama seperti trick-trick  (tipu-daya) pesulap yang – misalnya  -- “menciptakan” burung merpati atau kelinci dari saputangan atau benda lainnya, atau “menciptakan bunga” secara tiba-tiba dari  gulungan kertas sambil mengucapkan: “Adakadabra!
      Kenapa demikian? Sebab Allah Swt. tidak pernah melakukan perbuatan sia-sia dan dusta seperti  para pesulap atau tukang-tukang sihir yang  dengan “kekuatan pikirnya (daya khayalnya) mahir menampakkan berbagai hal-hal yang bersifat  “khayal”, seperti yang dilakukan oleh tukang-tukang sihir Fir’aun ketika berhadap dengan Nabi Musa a.s. (QS.7:117-121); QS.20:66-71; QS.26:44-49).
        Sifat Allah Swt. yang mendominasi tatanan alam semesta jasmani maupun tatanan alam  ruhani ini adalah sifat-sifat:  Rabbubiyat, Rahmaaniyyat, Rahiimiyat, dan Maaliki yaumid-diin  (QS.1-1-7), bukan “Kun fayakun”  yang umumnya dimaknai secara keliru oleh orang-orang atau pihak-pihak yang menyenangi hal-hal yang  spektakuler  serta  ajaib.
      Demikian juga Allah Swt. tidak pernah  memberi kemampuan  kepada Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. untuk melakukan hal-hal yang disalah-tafsirkan mengenai firman Allah Swt. dalam QS.3:50 dan QS.5:111,   bahwa “dengan izin Allah Swt.,  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. benar-benar dapat menciptakan burung dari tanah liat, dapat menghidupkan orang yang telah mati dan lain-lain,  padahal semua perbuatan tersebut merupakan hak Allah Swt. sebagai Al-Khaaliq (Maha Pencipta - QS.2:29; QS.10:57; QS.40:69);  firman-Nya:
 وَ رَسُوۡلًا اِلٰی بَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ ۬ۙ اَنِّیۡ قَدۡ جِئۡتُکُمۡ بِاٰیَۃٍ مِّنۡ رَّبِّکُمۡ ۙ اَنِّیۡۤ  اَخۡلُقُ لَکُمۡ مِّنَ الطِّیۡنِ کَہَیۡـَٔۃِ الطَّیۡرِ فَاَنۡفُخُ فِیۡہِ فَیَکُوۡنُ طَیۡرًۢا بِاِذۡنِ اللّٰہِ ۚ وَ اُبۡرِیُٔ الۡاَکۡمَہَ وَ الۡاَبۡرَصَ وَ اُحۡیِ الۡمَوۡتٰی بِاِذۡنِ اللّٰہِ ۚ  وَ اُنَبِّئُکُمۡ بِمَا تَاۡکُلُوۡنَ وَ مَا تَدَّخِرُوۡنَ ۙ فِیۡ بُیُوۡتِکُمۡ ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیَۃً لَّکُمۡ اِنۡ کُنۡتُمۡ مُّؤۡمِنِیۡنَ ﴿ۚ۵۰
”Dan sebagai rasul kepada Bani Israil, dengan pesan: Sungguh aku datang kepada kamu dengan membawa Tanda dari Tuhan-mu, yaitu  aku menciptakan untukmu suatu makhluk yang bersifat tanah seperti bentuk burung, lalu aku meniupkan ke dalamnya jiwa baru, maka jadilah ia burung dengan izin Allah, dan aku menyembuhkan  orang buta, orang berpenyakit  kustaaku menghidupkan orang mati dengan izin Allah, aku akan memberitahukan kepadamu tentang apa-apa yang kamu makan dan apa-apa yang kamu simpan di rumah-rumahmu, sesungguhnya dalam hal ini benar-benar ada suatu Tanda jika kamu orang-orang yang beriman. (Ali ‘Imran [3]:50).
Khalaqa berarti: ia mengukur, membuat, membentuk atau merancang; Allah Swt.  mengadakan atau menjadikan atau mewujudkan sesuatu benda atau makhluk tanpa sesuatu pola atau contoh atau persamaannya yang sudah ada sebelumnya, yaitu Dia paling awal mencipta sesuatu (Lexicon Lane & Lisan-al-‘Arab).
    Thiin berarti: lempung, tanah liat, cetakan, dan sebagainya. Secara kiasan ath-thiin berarti orang-orang yang sifatnya penurut, cocok untuk dicetak ke dalam bentuk apa pun yang baik seperti tanah liat. Hai’ah berarti: bentuk, model, busana, keadaan, cara, gaya atau mutu (Lexicon Lane).
     Thair berarti burung. Dalam arti kiasan kata itu mengandung arti, orang yang tinggi martabat keruhaniannya terbang tinggi di kawasan keruhanian, seperti asad (secara harfiah artinya seekor singa) dipakai untuk orang gagah-berani dan dabbah untuk orang yang tak ada harganya, seekor cacing tanah (QS.34:15).
      ‘Ubri’u diserap dari kata bari’a yang berarti, ia pernah atau ia menjadi jernih atau bebas dari sesuatu. ‘Ubri’u berarti: saya menyembuhkan; saya menyatakan orang itu bebas dari aib yang dialamatkan kepadanya (Lexicon Lane).
      Akmah berarti: orang yang buta ayam; orang yang buta sejak lahir; orang yang menjadi buta kemudian hari; orang yang tidak punya akal dan pengertian (Mufradat).

Dalam Bible Tidak Ada Mukjizat Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
“Menciptakan Burung”

     Dalam Bible tidak ada keterangan tentang mukjizat yang populer dipercayai telah diperlihatkan oleh Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., yaitu beliau menjadikan burung-burung. Bila benar bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  telah menciptakan burung-burung  maka tiada alasan mengapa Bible sengaja meninggalkan keterangan ini, apalagi bila penciptaan burung itu suatu mukjizat yang seperti itu tak pernah diperlihatkan sebelumnya oleh nabi mana pun.  Sebab dengan menyebutkan mukjizat demikian pasti dapat membuktikan keluhuran beliau dari semua nabi lainnya, dan niscaya dapat menguatkan pengakuan Ketuhanan, yang telah dinisbahkan leh para pengikut beliau kepada beliau di kemudian hari sebagaimana ajaran Paulus.  
      Mengenai berbagai arti khalq yaitu: (1) mengukur; menetapkan; merencanakan; (2) membentuk; membuat dan menciptakan, dan sebagainya, maka dalam arti pertama kata itulah yang telah dipergunakan dalam ayat ini. Dalam arti “menciptakan” tindakan khalq tidak dikaitkan oleh Al-Quran kepada sesuatu wujud selain Allah Swt.   (QS.13:17; QS.16:21; QS.22:74; QS.25:4; QS.31:11, 12; QS.35:41 dan QS.46:5).
      Menurut keterangan di atas dan mengingat arti kiasan kata “tanah liat,” seluruh anak kalimat: aku akan menciptakan untukmu suatu makhluk. . . . . . . . maka jadilah ia burung, berarti bahwa orang-orang biasa dari kalangan rendah dan hina, tetapi mempunyai kemampuan tersembunyi untuk tumbuh dan berkembang bila berhubungan dengan beliau serta menerima amanat beliau akan mengalami perubahan dalam kehidupan mereka.Dari manusia yang merangkak-rangkak di atas debu dan tidak melihat lebih jauh dari urusan kebendaan dan kepentingan duniawi, mereka akan berubah menjadi burung-burung yang terbang tinggi ke kawasan-kawasan yang tinggi lagi mulia di angkasa keruhanian. Dan inilah yang sungguh-sungguh telah terjadi. Penangkap-penangkap ikan yang hina dan rendah dari Galilea, berkat pengaruh ajaran dan contoh  junjungan  mereka, berangsur melayang tinggi bagaikan burung menyampaikan kalam (firman) Allah ke dunia orang-orang Bani Israil.
      Adapun tentang penyembuhan orang buta dan berpenyakit kusta, nampak dari Bible bahwa dahulu penderita-penderita penyakit-penyakit tertentu (kusta dan lain-lain) dianggap kotor oleh orang-orang Bani Israil, dan tidak diizinkan mempunyai hubungan kemasyarakatan dengan orang-orang lain.
     Kata ‘Ubri’u yang dapat pula diartikan  “Aku menyatakan bebas” menunjukkan bahwa kelemahan dan kesusahan yang dari segi hukum dan kemasyarakatan, dialami oleh para penderita penyakit serupa itu, telah dihapuskan oleh Nabi Isa Ibnu Maryam a.s..
     Atau, bahwa beliau suka mengobati para penderita penyakit-penyakit itu. Nabi-nabi Allah adalah dokter-dokter ruhani, beliau-beliau memberikan mata (penglihatan) kepada mereka yang kehilangan pandangan (buta) ruhani, dan memberi pendengaran kepada mereka yang telinga ruhaninya pekak, dan beliau-beliau itu menghidupkan kembali mereka yang telah mati ruhaninya (Matius 13:15).
      Dalam hal ini kata akmah (buta) akan berarti orang yang mempunyai nur keimanan, tetapi karena kekuatan iradahnya (keinginannya)  lemah maka mereka tidak dapat bertahan terhadap cobaan dan ujian. Ia melihat pada waktu siang hari, yakni selama tiada cobaan dan matahari iman memancar-mancar tanpa halangan awan, tetapi bila malam datang, yakni bila ada cobaan dan ujian, dan menuntut pengorbanan, ia kehilangan penglihatan ruhaninya lalu berhenti (bandingkan QS.2:21). Demikian pula  kata abrash (kusta) dalam urusan ruhani berarti orang yang tidak sempurna imannya, mempunyai kulit bercacat, berpenyakit ruhani di antara bagian-bagian yang sehat.

Ruhulqudus

      Anak kalimat aku hidupkan yang telah mati tidak mengandung arti bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. sungguh-sungguh telah menghidupkan kembali orang yang sudah mati. Mereka yang benar-benar sudah mati, tidak pernah dihidupkan kembali di dunia ini. Kepercayaan demikian sangat  bertentangan dengan seluruh ajaran Al-Quran (QS.2:29; QS.23:100, 101; QS.21:96; QS.39:59, 60; QS.40:12; QS.45:27).
      Perubahan yang ajaib pada akhlak dan keruhanian yang dilaksanakan oleh Nabi-nabi Allah dalam kehidupan para pengikutnya, menurut istilah keruhanian disebut “membangkitkan dan menghidupkan orang mati.”
      Firman Allah Swt.  berikut ini menjelaskan kenapa dalam QS.3:50  sebelum ini Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  menggunakan kalimat “aku menciptakan untukmu suatu makhluk yang bersifat tanah seperti bentuk burung, lalu aku meniupkan ke dalamnya jiwa baru, maka jadilah ia burung dengan izin Allah”.  Alasannya adalah karena Allah Swt. telah memperkuat jiwa beliau dengan Ruhulqudus, firman-Nya:
اِذۡ قَالَ اللّٰہُ یٰعِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ اذۡکُرۡ نِعۡمَتِیۡ عَلَیۡکَ وَ عَلٰی وَالِدَتِکَ ۘ اِذۡ اَیَّدۡتُّکَ بِرُوۡحِ الۡقُدُسِ ۟ تُکَلِّمُ  النَّاسَ فِی الۡمَہۡدِ وَ کَہۡلًا ۚ وَ اِذۡ عَلَّمۡتُکَ الۡکِتٰبَ وَ الۡحِکۡمَۃَ وَ التَّوۡرٰىۃَ وَ الۡاِنۡجِیۡلَ ۚ وَ اِذۡ تَخۡلُقُ مِنَ الطِّیۡنِ کَہَیۡـَٔۃِ الطَّیۡرِ بِاِذۡنِیۡ فَتَنۡفُخُ فِیۡہَا فَتَکُوۡنُ طَیۡرًۢا بِاِذۡنِیۡ وَ تُبۡرِیُٔ الۡاَکۡمَہَ وَ الۡاَبۡرَصَ بِاِذۡنِیۡ ۚ وَ اِذۡ تُخۡرِجُ الۡمَوۡتٰی بِاِذۡنِیۡ ۚ وَ اِذۡ کَفَفۡتُ بَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ عَنۡکَ اِذۡ جِئۡتَہُمۡ بِالۡبَیِّنٰتِ فَقَالَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡہُمۡ  اِنۡ ہٰذَاۤ  اِلَّا سِحۡرٌ مُّبِیۡنٌ ﴿۱۱۱
Ketika Allah berfirman: “Hai ‘Isa ibnu Maryam, ingatlah nikmat-Ku atas engkau dan atas ibu engkau ketika  Aku memperkuat engkau dengan Ruhulqudus,  engkau bertutur kata  kepada orang-orang ketika engkau masih kanak-kanak dan ketika usia lanjut, dan ingatlah ketika Aku mengajari engkau Al-kitab, Hikmah, Taurat dan Injil; dan ketika engkau dengan izin-Ku menciptakan sesuatu dari tanah seperti bentuk burung, lalu engkau meniupkan jiwa baru ke dalamnya, maka jadilah ia sesuatu yang dengan izinku dapat terbang, dan engkau dengan izin-Ku  menyembuhkan orang-orang buta dan yang berpenyakit kusta; dan ketika engkau  dengan izin-Ku membangkitkan yang mati ruhani;  dan ketika  Aku menghalangi Bani Israil dari membunuh  engkau, ketika engkau datang kepada mereka dengan Tanda-tanda yang nyata, lalu   orang-orang yang kafir  di antara mereka berkata: “Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata.” (Al-Maaidah [5]:111).
      Bertutur kata dalam buaian berarti mengucapkan kata-kata yang berhikmah dan bertuah semasa masih kanak-kanak. Nabi Isa berbicara semacam ini mencerminkan pujian besar bagi ibundanya yang karena Siti Maryam sendiri seorang ibu yang bijaksana lagi saleh, membesarkan puteranya menjadi anak yang bijak-bestari dan saleh pula.
     Ada pun makna mengucapkan kata-kata baik di pertengahan umur menunjukkan bahwa tidak hanya Siti Maryam saja seorang perempuan yang salehah, tetapi Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  juga seorang yang bertakwa sehingga ketika beliau berusia lanjut dan tidak lagi ada di bawah pengaruh langsung bundanya, beliau mengucapkan pula kata-kata shalih dan berhikmah.

Tidak Ada Kalimat “Kun fayakun” Berkenaan
Mukjijat Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.

      Sehubungan dengan berbagai mukjizat yang diperlihatkan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. kepada para pemuka  agama Yahudi tersebut  tidak ada satu pun yang mengenai hal tersebut Allah Swt. menghubungkannya dengan kalimat: “Kun,  fayakun (Jadilah, maka terjadilah). Penggunaaan kalimat “Kun fayakun”  justru berhubungan dengan kelahiran Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. tanpa ayah berupa seorang laki-laki, melainkan ibu beliau sendiri, Siti Maryam sendiri,  yang juga merangkap sebagai ayah beliau. Itulah sebabnya nama beliau adalah Isa Ibnu (anak) Maryam, bukan Isa Ibnu Fulan apa lagi Isa IbnulLaah (Isa Anak Allah) sebagaimana ajaran  Paulus.
     Saya kutip kembali  berbagai ayat Al-Quran  berkenaan dengan kalimat “Kun fayakun” sebelum ini dimana tidak ada satu pun yang berkaitan dengan berbagai  mukjizat Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.:
(1)  Allah Swt. berfirman “Kun fayakun” (Jadilah maka terjadilah) mengenai sesuatu yang dikehendaki-Nya terjadi - QS.2:29; QS.16:41; QS.36:83; QS.40:69);  
(2)   Allah Swt. berfirman “Kun fayakun” mengenai penciptaan seluruh langit dan bumi - QS.2:118; QS.6:74);
(3)  Allah Swt. berfirman “Kun fayakun” mengenai kehamilan Siti Maryam - QS.3:48);
(4)  Allah Swt. berfirman “Kun fayakun” mengenai misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. seperti misal Nabi Adam  a.s. - QS.3-60);
(5)  Allah Swt. berfirman “Kun” (jadilah) kepada Nabi Musa a.s. dan Nabi Besar Muhammad saw. agar menjadi orang yang bersyukur - QS.7:145; QS.39:67);
(6)  Allah Swt. berfirman “Kun” (jadilah)   mengenai Nabi Besar Muhammad saw. agar menjadi orang-orang yang sujud - QS.15:99);  
(7)  Allah Swt. berfirman “Kun fayakun” mengenai ketidaklayakan bagi Allah Swt. mengambil seorang anak bagi-Nya - QS.19:36);
(8)  Allah Swt. berfirman “Kuuniy” (jadilah) ketika memerintahkan api menjadi dingin dan  keselamatan  ketika  Nabi Ibrahim a.s. dilemparkan ke dalam api yang berkobar-kobar (QS.21:70).

(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar