بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
HUBUNGAN NABI YUSUF A.S.
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
Bagian XLI
Tentang
"Duel Makar" Dalam Peristiwa Hijrah
Nabi Besar Muhammad Saw. &
Makna "Kun Fayakun" (1)
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
وَ مَا جَعَلۡنَا لِبَشَرٍ مِّنۡ قَبۡلِکَ الۡخُلۡدَ ؕ اَفَا۠ئِنۡ مِّتَّ
فَہُمُ الۡخٰلِدُوۡنَ ﴿۳۵﴾
Dan Kami sekali-kali tidak
menjadikan seorang manusia pun sebelum engkau hidup kekal,
maka jika engkau mati maka apakah mereka itu akan hidup kekal? (Al-Anbiya
[21]:35).
Dalam Bab sebelumnya telah dijelaskan sedikit mengenai makna “Kun
fayakun” yang berkaitan dengan
berbagai hal di dalam beberapa Surah
Al-Quran berkenaan dengan Kemahakuasaan Allah Swt., berikut
beberapa contoh mengenai hal tersebut:
(1) Allah Swt. berfirman “Kun fayakun” (Jadilah maka terjadilah)
mengenai sesuatu yang dikehendaki-Nya terjadi - QS.2:29; QS.16:41; QS.36:83; QS.40:69);
(2) Allah Swt. berfirman “Kun
fayakun” mengenai penciptaan seluruh langit dan bumi - QS.2:118; QS.6:74);
(3) Allah Swt. berfirman “Kun fayakun” mengenai kehamilan Siti
Maryam - QS.3:48);
(4) Allah Swt. berfirman “Kun fayakun” mengenai misal Nabi
Isa Ibnu Maryam a.s. seperti misal Nabi Adam a.s. - QS.3-60);
(5) Allah Swt. berfirman “Kun” (jadilah) kepada Nabi Musa a.s. dan
Nabi Besar Muhammad saw. agar menjadi orang yang bersyukur - QS.7:145;
QS.39:67);
(6) Allah Swt. berfirman “Kun” (jadilah) mengenai Nabi Besar Muhammad saw. agar
menjadi orang-orang yang sujud - QS.15:99);
(7) Allah Swt. berfirman “Kun fayakun” mengenai ketidaklayakan
bagi Allah Swt. mengambil seorang anak bagi-Nya - QS.19:36);
(8) Allah Swt. berfirman “Kuuniy” (jadilah) ketika memerintahkan
api menjadi dingin dan keselamatan
ketika Nabi Ibrahim a.s. dilemparkan ke dalamnya
(QS.21:70).
Makna Berbagai Mukjizat Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
Dari semua ayat
berkenaan dengan penggunaan kata “Kun”
(Jadilah) tidak ada satu pun yang seperti
apa yang difahami, dipercayai oleh umumnya umat Islam sama seperti trick-trick (tipu-daya)
pesulap yang – misalnya -- “menciptakan”
burung merpati atau kelinci dari saputangan atau benda lainnya, atau
“menciptakan bunga” secara tiba-tiba dari gulungan kertas sambil mengucapkan: “Adakadabra!”
Kenapa demikian?
Sebab Allah Swt. tidak pernah melakukan perbuatan sia-sia dan dusta
seperti para pesulap atau tukang-tukang
sihir yang dengan “kekuatan pikirnya
(daya khayalnya) mahir menampakkan berbagai hal-hal yang bersifat “khayal”, seperti yang dilakukan oleh tukang-tukang
sihir Fir’aun ketika berhadap dengan Nabi Musa a.s. (QS.7:117-121); QS.20:66-71;
QS.26:44-49).
Sifat Allah Swt. yang
mendominasi tatanan alam semesta jasmani maupun tatanan alam ruhani ini adalah sifat-sifat: Rabbubiyat, Rahmaaniyyat, Rahiimiyat,
dan Maaliki yaumid-diin (QS.1-1-7),
bukan “Kun fayakun” yang umumnya dimaknai secara keliru oleh orang-orang atau pihak-pihak yang menyenangi hal-hal yang spektakuler serta ajaib.
Demikian juga Allah Swt. tidak pernah memberi kemampuan kepada Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. untuk
melakukan hal-hal yang disalah-tafsirkan mengenai firman Allah Swt.
dalam QS.3:50 dan QS.5:111, bahwa “dengan izin Allah Swt., Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. benar-benar dapat
menciptakan burung dari tanah liat, dapat menghidupkan orang yang telah
mati dan lain-lain, padahal semua perbuatan
tersebut merupakan hak Allah Swt. sebagai Al-Khaaliq (Maha
Pencipta - QS.2:29; QS.10:57; QS.40:69); firman-Nya:
وَ رَسُوۡلًا اِلٰی بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ ۬ۙ اَنِّیۡ قَدۡ جِئۡتُکُمۡ
بِاٰیَۃٍ مِّنۡ رَّبِّکُمۡ ۙ اَنِّیۡۤ
اَخۡلُقُ لَکُمۡ مِّنَ الطِّیۡنِ کَہَیۡـَٔۃِ الطَّیۡرِ فَاَنۡفُخُ فِیۡہِ
فَیَکُوۡنُ طَیۡرًۢا بِاِذۡنِ اللّٰہِ ۚ وَ اُبۡرِیُٔ الۡاَکۡمَہَ وَ الۡاَبۡرَصَ
وَ اُحۡیِ الۡمَوۡتٰی بِاِذۡنِ اللّٰہِ ۚ
وَ اُنَبِّئُکُمۡ بِمَا تَاۡکُلُوۡنَ وَ مَا تَدَّخِرُوۡنَ ۙ فِیۡ
بُیُوۡتِکُمۡ ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیَۃً لَّکُمۡ اِنۡ کُنۡتُمۡ مُّؤۡمِنِیۡنَ
﴿ۚ۵۰﴾
”Dan sebagai rasul kepada Bani Israil, dengan
pesan: Sungguh aku datang kepada kamu dengan membawa Tanda dari
Tuhan-mu, yaitu aku menciptakan
untukmu suatu makhluk yang bersifat tanah seperti bentuk burung,
lalu aku meniupkan ke dalamnya jiwa baru, maka jadilah ia
burung dengan izin Allah, dan aku menyembuhkan orang buta, orang
berpenyakit kusta, aku menghidupkan orang mati dengan izin
Allah, aku akan memberitahukan kepadamu tentang apa-apa yang
kamu makan dan apa-apa yang kamu simpan di rumah-rumahmu,
sesungguhnya dalam hal ini benar-benar ada suatu Tanda jika kamu orang-orang
yang beriman. (Ali ‘Imran [3]:50).
Khalaqa
berarti: ia mengukur, membuat, membentuk atau merancang; Allah Swt. mengadakan atau menjadikan atau mewujudkan
sesuatu benda atau makhluk tanpa sesuatu pola atau contoh atau persamaannya
yang sudah ada sebelumnya, yaitu Dia paling awal mencipta sesuatu (Lexicon
Lane & Lisan-al-‘Arab).
Thiin
berarti: lempung, tanah liat, cetakan, dan sebagainya. Secara kiasan ath-thiin
berarti orang-orang yang sifatnya penurut, cocok untuk dicetak ke
dalam bentuk apa pun yang baik seperti tanah liat. Hai’ah berarti:
bentuk, model, busana, keadaan, cara, gaya atau mutu (Lexicon Lane).
Thair
berarti burung. Dalam arti kiasan kata itu mengandung arti, orang
yang tinggi martabat keruhaniannya terbang tinggi di kawasan keruhanian,
seperti asad (secara harfiah artinya seekor singa) dipakai untuk orang
gagah-berani dan dabbah untuk orang yang tak ada harganya, seekor cacing
tanah (QS.34:15).
‘Ubri’u
diserap dari kata bari’a yang berarti, ia pernah atau ia menjadi jernih
atau bebas dari sesuatu. ‘Ubri’u berarti: saya menyembuhkan; saya
menyatakan orang itu bebas dari aib yang dialamatkan kepadanya (Lexicon Lane).
Akmah
berarti: orang yang buta ayam; orang yang buta sejak lahir; orang yang menjadi
buta kemudian hari; orang yang tidak punya akal dan pengertian (Mufradat).
Dalam Bible Tidak Ada Mukjizat Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
“Menciptakan Burung”
Dalam
Bible tidak ada keterangan tentang mukjizat yang populer
dipercayai telah diperlihatkan oleh Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., yaitu beliau
menjadikan burung-burung. Bila benar bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
telah menciptakan burung-burung maka tiada alasan mengapa Bible sengaja
meninggalkan keterangan ini, apalagi bila penciptaan burung itu suatu mukjizat
yang seperti itu tak pernah diperlihatkan sebelumnya oleh nabi mana pun. Sebab dengan menyebutkan mukjizat demikian
pasti dapat membuktikan keluhuran beliau dari semua nabi lainnya, dan
niscaya dapat menguatkan pengakuan Ketuhanan, yang telah dinisbahkan leh
para pengikut beliau kepada beliau di kemudian hari sebagaimana ajaran Paulus.
Mengenai
berbagai arti khalq yaitu: (1) mengukur; menetapkan;
merencanakan; (2) membentuk; membuat dan menciptakan, dan sebagainya, maka
dalam arti pertama kata itulah yang telah dipergunakan dalam ayat ini. Dalam
arti “menciptakan” tindakan khalq tidak dikaitkan oleh Al-Quran kepada
sesuatu wujud selain Allah Swt. (QS.13:17;
QS.16:21; QS.22:74; QS.25:4; QS.31:11, 12; QS.35:41 dan QS.46:5).
Menurut
keterangan di atas dan mengingat arti kiasan kata “tanah liat,” seluruh anak
kalimat: aku akan menciptakan untukmu suatu makhluk. . . . . . . . maka
jadilah ia burung, berarti bahwa orang-orang biasa dari kalangan rendah dan
hina, tetapi mempunyai kemampuan tersembunyi untuk tumbuh dan berkembang bila
berhubungan dengan beliau serta menerima amanat beliau akan mengalami perubahan
dalam kehidupan mereka.Dari
manusia yang merangkak-rangkak di atas debu dan tidak melihat lebih jauh dari
urusan kebendaan dan kepentingan duniawi, mereka akan berubah menjadi burung-burung
yang terbang tinggi ke kawasan-kawasan yang tinggi lagi mulia di angkasa keruhanian.
Dan inilah yang sungguh-sungguh telah terjadi. Penangkap-penangkap ikan yang
hina dan rendah dari Galilea, berkat pengaruh ajaran dan contoh junjungan
mereka, berangsur melayang tinggi bagaikan burung menyampaikan kalam
(firman) Allah ke dunia orang-orang Bani Israil.
Adapun
tentang penyembuhan orang buta dan berpenyakit kusta, nampak dari
Bible bahwa dahulu penderita-penderita penyakit-penyakit tertentu
(kusta dan lain-lain) dianggap kotor oleh orang-orang Bani Israil, dan tidak
diizinkan mempunyai hubungan kemasyarakatan dengan orang-orang lain.
Kata
‘Ubri’u yang dapat pula diartikan “Aku menyatakan bebas” menunjukkan
bahwa kelemahan dan kesusahan yang dari segi hukum dan kemasyarakatan, dialami
oleh para penderita penyakit serupa itu, telah dihapuskan oleh Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s..
Atau, bahwa beliau suka mengobati
para penderita penyakit-penyakit itu. Nabi-nabi Allah adalah dokter-dokter
ruhani, beliau-beliau memberikan mata (penglihatan) kepada mereka yang
kehilangan pandangan (buta) ruhani, dan memberi pendengaran
kepada mereka yang telinga ruhaninya pekak, dan beliau-beliau itu menghidupkan
kembali mereka yang telah mati ruhaninya (Matius 13:15).
Dalam hal ini kata akmah (buta) akan
berarti orang yang mempunyai nur keimanan, tetapi karena kekuatan iradahnya
(keinginannya) lemah maka mereka tidak
dapat bertahan terhadap cobaan dan ujian. Ia melihat pada waktu
siang hari, yakni selama tiada cobaan dan matahari iman memancar-mancar tanpa
halangan awan, tetapi bila malam datang, yakni bila ada cobaan dan ujian,
dan menuntut pengorbanan, ia kehilangan penglihatan ruhaninya lalu berhenti
(bandingkan QS.2:21). Demikian pula kata
abrash (kusta) dalam urusan ruhani berarti orang yang tidak
sempurna imannya, mempunyai kulit bercacat, berpenyakit ruhani di antara
bagian-bagian yang sehat.
Ruhulqudus
Anak
kalimat aku hidupkan yang telah mati tidak mengandung arti bahwa Nabi
Isa Ibnu Maryam a.s. sungguh-sungguh telah menghidupkan kembali orang yang
sudah mati. Mereka yang benar-benar sudah mati, tidak pernah dihidupkan kembali
di dunia ini. Kepercayaan demikian sangat
bertentangan dengan seluruh ajaran Al-Quran (QS.2:29; QS.23:100, 101;
QS.21:96; QS.39:59, 60; QS.40:12; QS.45:27).
Perubahan
yang ajaib pada akhlak dan keruhanian yang dilaksanakan oleh
Nabi-nabi Allah dalam kehidupan para pengikutnya, menurut istilah keruhanian
disebut “membangkitkan dan menghidupkan orang mati.”
Firman Allah Swt. berikut ini menjelaskan kenapa dalam QS.3:50 sebelum ini Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. menggunakan kalimat “aku menciptakan
untukmu suatu makhluk yang bersifat tanah seperti bentuk burung,
lalu aku meniupkan ke dalamnya jiwa baru, maka jadilah ia burung
dengan izin Allah”. Alasannya
adalah karena Allah Swt. telah memperkuat jiwa beliau dengan Ruhulqudus,
firman-Nya:
اِذۡ
قَالَ اللّٰہُ یٰعِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ اذۡکُرۡ نِعۡمَتِیۡ عَلَیۡکَ وَ عَلٰی وَالِدَتِکَ ۘ اِذۡ اَیَّدۡتُّکَ بِرُوۡحِ الۡقُدُسِ
۟ تُکَلِّمُ النَّاسَ فِی الۡمَہۡدِ وَ کَہۡلًا ۚ وَ اِذۡ عَلَّمۡتُکَ الۡکِتٰبَ وَ الۡحِکۡمَۃَ وَ التَّوۡرٰىۃَ وَ الۡاِنۡجِیۡلَ ۚ وَ اِذۡ تَخۡلُقُ مِنَ الطِّیۡنِ
کَہَیۡـَٔۃِ الطَّیۡرِ بِاِذۡنِیۡ فَتَنۡفُخُ فِیۡہَا فَتَکُوۡنُ طَیۡرًۢا
بِاِذۡنِیۡ وَ تُبۡرِیُٔ الۡاَکۡمَہَ
وَ الۡاَبۡرَصَ بِاِذۡنِیۡ ۚ وَ اِذۡ
تُخۡرِجُ الۡمَوۡتٰی بِاِذۡنِیۡ ۚ وَ اِذۡ کَفَفۡتُ بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ عَنۡکَ اِذۡ جِئۡتَہُمۡ
بِالۡبَیِّنٰتِ فَقَالَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡہُمۡ اِنۡ ہٰذَاۤ اِلَّا سِحۡرٌ مُّبِیۡنٌ ﴿۱۱۱﴾
Ketika Allah berfirman: “Hai ‘Isa ibnu Maryam, ingatlah
nikmat-Ku atas engkau dan atas ibu engkau ketika Aku memperkuat engkau dengan
Ruhulqudus, engkau
bertutur kata kepada
orang-orang ketika engkau masih kanak-kanak dan ketika usia
lanjut, dan ingatlah ketika Aku mengajari engkau
Al-kitab, Hikmah, Taurat dan Injil; dan ketika engkau dengan izin-Ku
menciptakan sesuatu dari tanah seperti bentuk burung, lalu engkau
meniupkan jiwa baru ke dalamnya, maka jadilah ia sesuatu yang
dengan izinku dapat terbang, dan engkau dengan izin-Ku menyembuhkan orang-orang buta dan yang berpenyakit
kusta; dan ketika engkau dengan
izin-Ku membangkitkan yang mati ruhani;
dan ketika Aku
menghalangi Bani Israil dari membunuh engkau, ketika engkau datang kepada
mereka dengan Tanda-tanda yang nyata, lalu orang-orang yang kafir di antara mereka berkata: “Ini tidak lain
melainkan sihir yang nyata.” (Al-Maaidah [5]:111).
Bertutur
kata dalam buaian berarti mengucapkan kata-kata yang berhikmah dan
bertuah semasa masih kanak-kanak. Nabi Isa berbicara semacam ini mencerminkan
pujian besar bagi ibundanya yang karena Siti Maryam sendiri seorang ibu yang
bijaksana lagi saleh, membesarkan puteranya menjadi anak yang bijak-bestari dan
saleh pula.
Ada pun
makna mengucapkan kata-kata baik di pertengahan umur menunjukkan bahwa
tidak hanya Siti Maryam saja seorang perempuan yang salehah, tetapi Nabi Isa
Ibnu Maryam a.s. juga seorang
yang bertakwa sehingga ketika beliau berusia lanjut dan tidak lagi ada di bawah
pengaruh langsung bundanya, beliau mengucapkan pula kata-kata shalih dan
berhikmah.
Tidak Ada Kalimat “Kun fayakun” Berkenaan
Mukjijat Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
Sehubungan
dengan berbagai mukjizat yang diperlihatkan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. kepada
para pemuka agama Yahudi tersebut tidak ada satu pun yang mengenai hal tersebut Allah
Swt. menghubungkannya dengan kalimat: “Kun, fayakun (Jadilah, maka terjadilah). Penggunaaan
kalimat “Kun fayakun” justru berhubungan
dengan kelahiran Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. tanpa ayah berupa seorang laki-laki,
melainkan ibu beliau sendiri, Siti Maryam sendiri, yang juga merangkap sebagai ayah
beliau. Itulah sebabnya nama beliau adalah Isa Ibnu (anak) Maryam,
bukan Isa Ibnu Fulan apa lagi Isa IbnulLaah (Isa Anak Allah)
sebagaimana ajaran Paulus.
Saya kutip kembali berbagai
ayat Al-Quran berkenaan dengan kalimat “Kun
fayakun” sebelum ini dimana tidak ada satu pun yang berkaitan dengan
berbagai mukjizat Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s.:
(1) Allah Swt. berfirman “Kun fayakun” (Jadilah maka terjadilah)
mengenai sesuatu yang dikehendaki-Nya terjadi - QS.2:29; QS.16:41; QS.36:83; QS.40:69);
(2) Allah Swt. berfirman “Kun
fayakun” mengenai penciptaan seluruh langit dan bumi - QS.2:118; QS.6:74);
(3) Allah Swt. berfirman “Kun fayakun” mengenai kehamilan Siti
Maryam - QS.3:48);
(4) Allah Swt. berfirman “Kun fayakun” mengenai misal Nabi
Isa Ibnu Maryam a.s. seperti misal Nabi Adam a.s. - QS.3-60);
(5) Allah Swt. berfirman “Kun” (jadilah) kepada Nabi Musa a.s. dan
Nabi Besar Muhammad saw. agar menjadi orang yang bersyukur - QS.7:145;
QS.39:67);
(6) Allah Swt. berfirman “Kun” (jadilah) mengenai Nabi Besar Muhammad saw. agar
menjadi orang-orang yang sujud - QS.15:99);
(7) Allah Swt. berfirman “Kun fayakun” mengenai ketidaklayakan
bagi Allah Swt. mengambil seorang anak bagi-Nya - QS.19:36);
(8) Allah Swt. berfirman “Kuuniy” (jadilah) ketika memerintahkan
api menjadi dingin dan keselamatan
ketika Nabi Ibrahim a.s. dilemparkan ke dalam api yang berkobar-kobar
(QS.21:70).
(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid
Tidak ada komentar:
Posting Komentar