Selasa, 21 Februari 2012

Beriman kepada "Penyeru dari Allah"


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ

 
HUBUNGAN  NABI YUSUF A.S. 
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
  
Bagian   XLXXI
 
Tentang

        Beriman kepada "Penyeru dari Allah" 
    
Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

 رَبَّنَاۤ اِنَّنَا سَمِعۡنَا مُنَادِیًا یُّنَادِیۡ لِلۡاِیۡمَانِ اَنۡ اٰمِنُوۡا بِرَبِّکُمۡ  فَاٰمَنَّا ٭ۖ رَبَّنَا فَاغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوۡبَنَا وَ کَفِّرۡ عَنَّا سَیِّاٰتِنَا وَ تَوَفَّنَا مَعَ  الۡاَبۡرَارِ ﴿۱۹۳﴾ۚ  رَبَّنَا وَ اٰتِنَا مَا وَعَدۡتَّنَا عَلٰی رُسُلِکَ وَ لَا تُخۡزِنَا یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ ؕ اِنَّکَ لَا تُخۡلِفُ الۡمِیۡعَادَ ﴿۱۹۴
“Wahai Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mendengar seorang Penyeru menyeru kami kepada  keimanan seraya berkata:  "Berimanlah kamu kepada Tuhan-mu" maka kami telah beriman.  Karena itu wahai Tuhan kami,  ampunilah bagi kami dosa-dosa kami, dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, serta wafatkanlah kami bersama orang-orang yang berbuat kebajikan. Wahai Tuhan kami,  dan  berikanlah kepada kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau, dan janganlah Engkau menghinakan kami pada Hari Kiamat, sesungguhnya Engkau tidak pernah me-nyalahi janji.”  (Ali ‘Imran [3]:194-195).

Dalam   Bab sebelumnya telah dijelaskan perbedaan antara orang-orang yang buta mata ruhaninya dengan orang-orang yang mata ruhaninya melihat – yakni “orang-orang yang berakal” (QS.3:191-193). Kalau orang-orang yang buta mata ruhaninya sekali pun berbagai macam Tanda-tanda dari Allah Swt. dikemukakan berhadapan muka dengan mereka (QS.6:112-114) tetapi tetap saja mereka mendustakan dan menentang  pendakwaan Rasul Allah yang diutus kepada mereka (QS.7:35-37).
     Bahkan   -- karena kebodohan serta kesombongannya -- mereka menuntut agar mereka dapat  berbicara langsung dengan mereka berhadapan muka  menyatakan bahwa Rasul Allah yang diutus kepada mereka itu benar dari Allah Swt, firman-Nya:
وَ اِذۡ قُلۡتُمۡ یٰمُوۡسٰی لَنۡ نُّؤۡمِنَ لَکَ حَتّٰی نَرَی اللّٰہَ جَہۡرَۃً فَاَخَذَتۡکُمُ الصّٰعِقَۃُ وَ اَنۡتُمۡ تَنۡظُرُوۡنَ ﴿۵۶
Dan, ingatlah ketika kamu berkata: “Hai Musa, kami tidak akan pernah mempercayai  engkau hingga kami terlebih dulu melihat Allah secara nyata”, lalu kamu disambar petir sedangkan kamu menyaksikan.  (Al-Baqarah [2]:56). Lihat pula QS.4:154.
         Kebutaan mata ruhani seperti itu berulang-ulang terjadi  di setiap zaman dan mereka mengajukan tuntutan yang sama kepada rasul Allah yang mereka dustakan pendakwaannya, firman-Nya:
وَ قَالَ الَّذِیۡنَ لَا یَعۡلَمُوۡنَ لَوۡ لَا یُکَلِّمُنَا اللّٰہُ  اَوۡ تَاۡتِیۡنَاۤ  اٰیَۃٌ  ؕ کَذٰلِکَ قَالَ الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ  مِّثۡلَ قَوۡلِہِمۡ  ؕ تَشَابَہَتۡ قُلُوۡبُہُمۡ ؕ قَدۡ بَیَّنَّا الۡاٰیٰتِ لِقَوۡمٍ  یُّوۡقِنُوۡنَ ﴿۱۱۹
Dan orang-orang yang tidak mengetahui berkata:  “Mengapa Allah tidak berkata-kata langsung dengan kami, atau  mendatangkan satu Tanda kepada kami?” Demikian pula  orang-orang sebelum mereka berkata seperti ucapan mereka itu, hati mereka serupa. Sungguh Kami telah menjelaskan Tanda-tanda kepada suatu kaum yang yakin. (Al-Baqarah [2]:119).

Menuntut agar Azab yang  Dijanjikan Segera Datang

       Perlu diperhatikan bahwa bila orang-orang yang tidak beriman disebutkan menuntut Tanda, kata “Tanda” itu berarti Tanda menurut keinginan mereka atau Tanda azab (QS.21:6; QS.6:38; QS.13:28; QS.20:134, 135; QS.29:51). Kalau Allah Swt. mengabulkan tuntutan mereka maka  semua urusan mereka akan selesai, sehingga  mereka sama sekali tidak mendapat kesempatan  untuk bertaubat dan memperbaiki diri dari kesalahan (kesesatan) mereka, firman-Nya:
قُلۡ اَرَءَیۡتُمۡ اِنۡ اَتٰىکُمۡ عَذَابُہٗ بَیَاتًا اَوۡ نَہَارًا مَّاذَا یَسۡتَعۡجِلُ مِنۡہُ الۡمُجۡرِمُوۡنَ ﴿۵۰   اَثُمَّ  اِذَا مَا وَقَعَ اٰمَنۡتُمۡ  بِہٖ ؕ آٰلۡـٰٔنَ  وَ قَدۡ کُنۡتُمۡ  بِہٖ  تَسۡتَعۡجِلُوۡنَ ﴿۵۱   ثُمَّ  قِیۡلَ  لِلَّذِیۡنَ ظَلَمُوۡا ذُوۡقُوۡا عَذَابَ الۡخُلۡدِ ۚ ہَلۡ تُجۡزَوۡنَ اِلَّا بِمَا کُنۡتُمۡ تَکۡسِبُوۡنَ ﴿۵۲  وَ یَسۡتَنۡۢبِئُوۡنَکَ اَحَقٌّ ہُوَ ؕؔ قُلۡ اِیۡ وَ رَبِّیۡۤ  اِنَّہٗ  لَحَقٌّ ۚؕؔ وَ مَاۤ  اَنۡتُمۡ بِمُعۡجِزِیۡنَ ﴿٪۵۳
Katakanlah: “Bagaimanakah pendapat kamu  jika azab-Nya datang kepadamu di waktu malam atau siang hari, bagaimanakah orang-orang yang berdosa itu dapat melarikan diri darinya?   Apakah  kemudian apabila   azab itu  terjadi  pada waktunya barulah kamu mempercayainya?  ”Apakah baru sekarang kamu percaya padahal sebelum ini kamu senantiasa meminta mempercepat kedatangannya.”  Kemudian akan dikatakan kepada orang-orang yang berbuat zalim itu: “Rasakanlah olehmu azab yang kekal itu, tidaklah kamu dibalas melainkan sesuai  dengan sapa yang telah kamu kerjakan.” Dan mereka menanyakan kepada engkau: “Apakah itu benar?” Katakanlah: “Ya, demi Tuhan-ku,   sesungguhnya itu  benar, dan kamu sama sekali tidak dapat menggagalkannya.” (Yunus [10]:51-54).
      Ayat ini dapat merupakan celaan terhadap orang-orang kafir, bahwa mereka sebaiknya tidak melibatkan diri dalam perbincangan-perbincangan yang tidak berguna mengenai kapan waktunya dan bagaimana bentuknya azab yang dijanjikan itu, tetapi berusaha menyelamatkan diri dari azab itu dengan mengadakan perubahan yang sehat dalam kehidupan mereka.
      Pendek kata, sikap degil dan takabbur mereka itu sama dengan sikap degil dan takabur Fir’aun sekali pun  ia telah menyaksikan berbagai Tanda (mukjizat) yang telah diperlihatkan oleh Nabi Musa a.s. berhadap-hadapan, dan setelah Tanda berupa azab yang dijanjikan itu benar-benar terjadi barulah Fir’aun menyatakan  beriman kepada Tuhan yang disembah Bani Israil -- ia tidak mengatakan beriman kepada Tuhan yang disembah Nabi Musa a.s. dan Nabi Harun a.s. --   firman-Nya:
 وَ جٰوَزۡنَا بِبَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ الۡبَحۡرَ فَاَتۡبَعَہُمۡ فِرۡعَوۡنُ وَ جُنُوۡدُہٗ  بَغۡیًا وَّ عَدۡوًا ؕ حَتّٰۤی اِذَاۤ  اَدۡرَکَہُ الۡغَرَقُ ۙ قَالَ اٰمَنۡتُ اَنَّہٗ  لَاۤ اِلٰہَ  اِلَّا الَّذِیۡۤ اٰمَنَتۡ بِہٖ بَنُوۡۤا اِسۡرَآءِیۡلَ وَ اَنَا مِنَ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿۹۱   آٰلۡـٰٔنَ وَ قَدۡ عَصَیۡتَ قَبۡلُ وَ کُنۡتَ مِنَ الۡمُفۡسِدِیۡنَ ﴿۹۲   فَالۡیَوۡمَ نُنَجِّیۡکَ بِبَدَنِکَ  لِتَکُوۡنَ لِمَنۡ خَلۡفَکَ اٰیَۃً ؕ وَ اِنَّ کَثِیۡرًا مِّنَ النَّاسِ عَنۡ  اٰیٰتِنَا  لَغٰفِلُوۡنَ ﴿٪۹۳
Dan  Kami telah membuat Bani Israil menyeberangi laut, lalu  Fir’aun dan lasykar-lasykarnya mengejar mereka secara durhaka dan aniaya, sehingga apabila ia menjelang tenggelam ia berkata: “Aku percaya, sesungguhnya Dia tidak ada Tuhan kecuali yang dipercayai oleh Bani Israil, dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri kepada-Nya.”  Apa, sekarang baru beriman!? Padahal engkau  telah membangkang sebelum ini, dan  engkau  termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.     Maka pada hari ini Kami akan menyelamatkan engkau hanya  badan engkau, supaya engkau menjadi suatu Tanda bagi orang-orang  sesudah engkau, dan sesungguhnya kebanyakan   manusia benar-benar  lengah terhadap Tanda-tanda Kami.” (Yunus [10]:91-93).

Beriman kepada Rasul Allah

     Jadi, berbeda dengan orang-orang yang buta mata ruhaninya tersebut, ketika “orang-orang yang berakal” menyaksikan berbagai Tanda-tanda alam dan tanda-tanda Zaman  serta berkobarnya  api kemurkaan Allah Swt.   di berbagai wilayah dunia,  maka ia langsung  menyimpulkan bahwa pasti Rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan Allah Swt. kepada mereka telah datang (QS.7:35-37) -- karena ia mengetahui bahwa Allah Swt. tidak pernah menimpakan  azab sebelum terlebih dulu mengutus seorang Rasul-Nya sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan  (QS.11:118; QS.17:16; QS.20:135; QS.26:209; QS.28:60) -- lalu ia menyatakan beriman kepada Rasul Allah tersebut  dan  menggabungkan diri  ke dalam golongannya serta memohon ampun kepada Allah Swt.  atas dosa-dosanya selama itu, firman-Nya:
 رَبَّنَاۤ اِنَّنَا سَمِعۡنَا مُنَادِیًا یُّنَادِیۡ لِلۡاِیۡمَانِ اَنۡ اٰمِنُوۡا بِرَبِّکُمۡ  فَاٰمَنَّا ٭ۖ رَبَّنَا فَاغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوۡبَنَا وَ کَفِّرۡ عَنَّا سَیِّاٰتِنَا وَ تَوَفَّنَا مَعَ  الۡاَبۡرَارِ ﴿۱۹۳﴾ۚ  رَبَّنَا وَ اٰتِنَا مَا وَعَدۡتَّنَا عَلٰی رُسُلِکَ وَ لَا تُخۡزِنَا یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ ؕ اِنَّکَ لَا تُخۡلِفُ الۡمِیۡعَادَ ﴿۱۹۴
“Wahai Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mendengar seorang Penyeru menyeru kami kepada  keimanan seraya berkata:  "Berimanlah kamu kepada Tuhan-mu" maka kami telah beriman.  Karena itu wahai Tuhan kami,  ampunilah bagi kami dosa-dosa kami, dan  hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, serta wafatkanlah kami bersama  orang-orang yang berbuat kebajikan. Wahai Tuhan kami,  dan  berikanlah kepada kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau, dan janganlah Engkau menghinakan kami pada Hari Kiamat, sesungguhnya Engkau tidak pernah me-nyalahi janji.”  (Ali ‘Imran [3]:194-195).
        Dzunub, yang umumnya menunjuk kepada kelemahan-kelemahan serta kesalahan-kesalahan dan kealpaan-kealpaan yang biasa melekat pada diri manusia, dapat melukiskan relung-relung gelap dalam hati, ke tempat itu Nur Ilahi tidak dapat sampai dengan sebaik-baiknya, sedangkan sayyi’at yang secara relatif  merupakan kata yang bobotnya lebih keras, dapat berarti gumpalan-gumpalan awan debu yang menyembunyikan cahaya matahari ruhani dari pemandangan kita.

Pengabulan Doa  “Orang-orang yang Berakal” 

      Terhadap pernyataan keimanan mereka serta berbagai permohonan yang mereka  kemukakan tersebut Allah Swt. memberikan tanggapan baik berupa pengabulan, firman-Nya:
فَاسۡتَجَابَ لَہُمۡ رَبُّہُمۡ اَنِّیۡ لَاۤ اُضِیۡعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِّنۡکُمۡ مِّنۡ ذَکَرٍ اَوۡ اُنۡثٰی ۚ بَعۡضُکُمۡ مِّنۡۢ  بَعۡضٍ ۚ فَالَّذِیۡنَ ہَاجَرُوۡا وَ اُخۡرِجُوۡا مِنۡ دِیَارِہِمۡ وَ اُوۡذُوۡا فِیۡ سَبِیۡلِیۡ وَ قٰتَلُوۡا وَ قُتِلُوۡا لَاُکَفِّرَنَّ عَنۡہُمۡ سَیِّاٰتِہِمۡ وَ لَاُدۡخِلَنَّہُمۡ جَنّٰتٍ     تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ۚ ثَوَابًا مِّنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ ؕ وَ اللّٰہُ عِنۡدَہٗ حُسۡنُ الثَّوَابِ ﴿۱۹۶
Maka Tuhan mereka telah mengabulkan doa mereka seraya berfirman: “Sesungguhnya Aku tidak akan menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal dari antara kamu baik laki-laki maupun perempuan. Sebagian kamu adalah dari sebagian lain,  maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari rumah-rumahnya, yang disakiti pada jalan-Ku,  yang  berperang  dan  yang terbunuh, niscaya Aku akan menghapuskan dari mereka keburukan-keburukannya, dan niscaya Aku  akan memasukkan mereka ke dalam kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai sebagai ganjaran dari sisi Allah,   dan Allah di sisi-Nya sebaik-baik ganjaran. (Ali ‘Imran [3]:196).

(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid


Tidak ada komentar:

Posting Komentar