Senin, 06 Februari 2012

Itikad Sesat "Laa Nabiyaa Ba'dahu" (Tidak Ada Lagi Nabi Sesudahnya)


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ

 
HUBUNGAN  NABI YUSUF A.S. 
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
  
Bagian   XXXVIII
Tentang

        Itikad Sesat "Laa Nabiyya Ba'dahu" 
      (Tidak Ada lagi Nabi Sesudahnya)
 
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
 
قَالُوۡا یٰۤاَبَانَا اسۡتَغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوۡبَنَاۤ اِنَّا کُنَّا خٰطِئِیۡنَ ﴿۹۸  قَالَ سَوۡفَ اَسۡتَغۡفِرُ لَکُمۡ رَبِّیۡ ؕ اِنَّہٗ ہُوَ  الۡغَفُوۡرُ  الرَّحِیۡمُ ﴿۹۹
Mereka berkata: “Ya, ayah kami, mohonkanlah ampunan bagi kami kepada Allah atas dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah.”  Ia berkata:  “Segera aku akan memohon  pengampunan bagi kamu dari Tuhan-ku, sesungguhnya Dia  Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Yusuf [12]:98-99).

Dalam Bab sebelumnya telah diterangkan mengenai berbagai sarana atau cara Allah Swt. berkomunikasi dengan hamba-hamba-Nya, yakni melalui kasyaf (penglihatan ruhani), wahyu langsung --  contohnya  Allah Swt. bercakap-cakap langsung dengan Nabi Musa a.s. (QS.28:30-36); atau  wahyu dengan perantaraan malaikat Jibril a.s. (QS.2:98; QS.26:194-195). Berikut firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
وَ مَا کَانَ  لِبَشَرٍ اَنۡ یُّکَلِّمَہُ اللّٰہُ  اِلَّا وَحۡیًا اَوۡ مِنۡ وَّرَآیِٔ حِجَابٍ اَوۡ یُرۡسِلَ رَسُوۡلًا فَیُوۡحِیَ بِاِذۡنِہٖ مَا یَشَآءُ ؕ اِنَّہٗ عَلِیٌّ  حَکِیۡمٌ ﴿۵۲
Dan sekali-kali tidak mungkin bagi manusia bahwa Allah berbicara kepadanya, kecuali dengan wahyu atau dari belakang tabir atau dengan mengirimkan seorang utusan guna mewahyukan dengan seizin-Nya  apa yang Dia kehendaki, sesungguh-nya, Dia Maha Tinggi, Maha Bijaksana.  (Al-Syura [43]:52).
       Dan jenis sarana komunikasi lainnya adalah melalui penciuman, sebagaimana yang dialami oleh Nabi Ya’qub a.s., firman-Nya:
اِذۡہَبُوۡا بِقَمِیۡصِیۡ ہٰذَا فَاَلۡقُوۡہُ عَلٰی وَجۡہِ اَبِیۡ یَاۡتِ بَصِیۡرًا ۚ وَ اۡتُوۡنِیۡ بِاَہۡلِکُمۡ  اَجۡمَعِیۡنَ ﴿٪۹۴  وَ لَمَّا فَصَلَتِ الۡعِیۡرُ قَالَ اَبُوۡہُمۡ اِنِّیۡ لَاَجِدُ رِیۡحَ یُوۡسُفَ لَوۡ لَاۤ اَنۡ تُفَنِّدُوۡنِ ﴿۹۵   قَالُوۡا تَاللّٰہِ  اِنَّکَ لَفِیۡ ضَلٰلِکَ الۡقَدِیۡمِ ﴿ٙ۹۶
Pergilah kamu bersama dengan kemejaku ini dan letakkanlah  di hadapan ayahku, ia akan mengetahui segala sesuatu. Dan bawalah kepadaku keluargamu semuanya.”   Dan tatkala kafilah itu telah berangkat dari Mesir, ayah mereka berkata: “Sesungguhnya aku mencium harum  Yusuf meskipun kamu menganggap diriku seorang pikun.”   Mereka  menjawab: “Demi Allah, sesungguhnya engkau benar-benar masih  dalam kekeliruan engkau yang lama itu.” (Yusuf [12]:94-95).

Pengakuan Dosa Saudara-saudara Nabi Yusuf a.s.

        Jadi, sebelum kafilah yang membawa baju  Nabi Yusuf a.s.  dari Mesir tersebut sampai ke tempat Nabi Ya’qub a.s. di Kanaan,  Nabi Ya’qub a.s. telah memberitahukan kepada    anak-anak beliau bahwa beliau telah mencium  “aroma wangi” Nabi Yusuf a.s., tetapi mereka mengganggap ucapan ayah mereka itu sebagai perkataan orang yang telah pikun. Tetapi ketika kafilah  dari Mesir itu tiba maka barulah mereka percaya bahwa selama itu apa yang ayah mereka lakukan berkenaan dengan adik mereka, Nabi Yusuf a.s., bukan suatu tindakan yang sesat (keliru) sebagaimana yang mereka  yakini selama itu, firman-Nya:
فَلَمَّاۤ  اَنۡ جَآءَ الۡبَشِیۡرُ اَلۡقٰىہُ عَلٰی وَجۡہِہٖ فَارۡتَدَّ بَصِیۡرًا ۚ قَالَ اَلَمۡ اَقُلۡ لَّکُمۡ ۚۙ اِنِّیۡۤ اَعۡلَمُ مِنَ اللّٰہِ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ ﴿۹۷
Maka tatkala pembawa kabar gembira itu telah datang, ia meletakkan kemeja itu di hadapannya, maka ia (Ya’qub) menjadi mengerti,  ia berkata: “Tidakkah telah aku katakan kepadamu sesungguhnya  aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui?” (Yusuf [12]:97).
     Kembali kepada masalah Kisah Monumental “Adam, Malaikat, Iblis” (QS.2:31), setelah para malaikat mengetahui keunggulan Adam – yakni Khalifah yang dijadikan Allah di bumi – yang mampu memberitahukan al-Asmaa yang diajarkan Allah  Swt. kepadanya, maka ketika Allah Swt. memerintahkan para malaikat untuk “sujud” (patuh-taat) kepada Adam, maka mereka semua “sujud” kepadanya, kecuali iblis (QS.2:32-35).
       Demikian pula dengan saudara-saudara Nabi Yusuf a.s., setelah mereka yakin bahwa  perlakuan khusus yang dilakukan Nabi Ya’qub a.s. terhadap  kedua adik mereka – Nabi Yusuf a.s. dan Benyamin – bukanlah tindakan yang tidak adil serta pilih kasih melainkan berdasarkan pengetahuan Nabi Ya’qub a.s. yang benar – mereka pun kemudian memohon kepada  ayah mereka akan berkenan memohonkan ampunan kepada Allah Swt. bagi mereka, firman-Nya:
قَالُوۡا یٰۤاَبَانَا اسۡتَغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوۡبَنَاۤ اِنَّا کُنَّا خٰطِئِیۡنَ ﴿۹۸  قَالَ سَوۡفَ اَسۡتَغۡفِرُ لَکُمۡ رَبِّیۡ ؕ اِنَّہٗ ہُوَ  الۡغَفُوۡرُ  الرَّحِیۡمُ ﴿۹۹
Mereka berkata: “Ya, ayah kami, mohonkanlah ampunan bagi kami kepada Allah atas dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah.”  Ia berkata:  “Aku segera akan memohon  pengampunan bagi kamu dari Tuhan-ku, sesungguhnya Dia  Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Yusuf [12]:98-99).
       Dari  sikap-sikap buruk saudara-saudara Nabi Yusuf a.s. selama itu – baik terhadap ayah mereka, Nabi Ya’qub a.s. mau pun terhadap saudara mereka Nabi Yusuf a.s. – dapat ditarik kesimpulan bahwa   sebenarnya selama itu mereka  tidak mempercayai bahwa ayah mereka, Nabi Ya’qub a.s. – dan bahkan leluhur mereka, Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Ishaq a.s. – adalah  para nabi Allah.

Itikad Sesat “Laa Nabibiyya Ba’dahu” (Tidak Ada Lagi Sesudahnya)

      Sikap buruk mereka itu diwarisi oleh umumnya keturunan mereka dari kalangan Bani Israil, yakni keturunan mereka itu pun selalu mendustakan para rasul Allah yang dibangkitkan dari kalangan mereka sendiri (Bani Israil), mulai dari Nabi Musa a.s. sampai dengan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., firman-Nya:
وَ لَقَدۡ اٰتَیۡنَا مُوۡسَی الۡکِتٰبَ وَ قَفَّیۡنَا مِنۡۢ بَعۡدِہٖ بِالرُّسُلِ ۫ وَ اٰتَیۡنَا عِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ الۡبَیِّنٰتِ وَ اَیَّدۡنٰہُ بِرُوۡحِ الۡقُدُسِ ؕ اَفَکُلَّمَا جَآءَکُمۡ رَسُوۡلٌۢ بِمَا لَا تَہۡوٰۤی اَنۡفُسُکُمُ اسۡتَکۡبَرۡتُمۡ ۚ  فَفَرِیۡقًا کَذَّبۡتُمۡ  ۫ وَ فَرِیۡقًا تَقۡتُلُوۡنَ ﴿۸۸ وَ قَالُوۡا قُلُوۡبُنَا غُلۡفٌ ؕ بَلۡ لَّعَنَہُمُ اللّٰہُ بِکُفۡرِہِمۡ  فَقَلِیۡلًا مَّا یُؤۡمِنُوۡنَ ﴿۸۹
Dan  sungguh  Kami benar-benar telah  berikan Alkitab kepada Musa dan Kami mengikutkan rasul-rasul di belakangnya Kami  memberikan kepada Isa Ibnu Maryam Tanda-tanda yang nyata, dan juga Kami memperkuatnya dengan   Ruhulqudus. Maka apakah patut setiap datang kepadamu seorang rasul dengan membawa apa yang tidak disukai oleh dirimu  kamu berlaku takabur, lalu  sebagian kamu dustakan dan sebagian lainnya kamu bunuh?   Dan mereka berkata: ”Hati kami tertutup.” Tidak, bahkan Allah telah mengutuk mereka karena kekafiran mereka  maka sedikit sekali apa yang mereka imani. (Al-Baqarah [2]:88-89).
       Demikian pula halnya terhadap Nabi Yusuf a.s. pun nampaknya mereka tidak sepenuhnya mempercayai beliau sebagai seorang rasul Allah,  sebagaimana tersirat dari firman-Nya berikut ini:
وَ لَقَدۡ جَآءَکُمۡ یُوۡسُفُ مِنۡ قَبۡلُ بِالۡبَیِّنٰتِ فَمَا زِلۡتُمۡ فِیۡ  شَکٍّ  مِّمَّا جَآءَکُمۡ بِہٖ ؕ حَتّٰۤی  اِذَا ہَلَکَ قُلۡتُمۡ لَنۡ یَّبۡعَثَ اللّٰہُ  مِنۡۢ بَعۡدِہٖ  رَسُوۡلًا ؕ کَذٰلِکَ یُضِلُّ اللّٰہُ مَنۡ ہُوَ  مُسۡرِفٌ مُّرۡتَابُۨ ﴿ۚۖ۳۵   الَّذِیۡنَ یُجَادِلُوۡنَ فِیۡۤ  اٰیٰتِ اللّٰہِ بِغَیۡرِ سُلۡطٰنٍ اَتٰہُمۡ ؕ کَبُرَ مَقۡتًا عِنۡدَ اللّٰہِ وَ عِنۡدَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا ؕ کَذٰلِکَ یَطۡبَعُ اللّٰہُ  عَلٰی کُلِّ  قَلۡبِ مُتَکَبِّرٍ  جَبَّارٍ ﴿۳۶

Dan sungguh benar-benar telah datang kepada kamu Yusuf sebelum ini dengan bukti-bukti yang nyata, tetapi kamu selalu dalam keraguan dari apa yang dengannya dia datang kepadamu, hingga apabila ia telah mati  kamu berkata: “Allah  tidak akan per-nah mengutus  seorang rasul pun sesudahnya.”  Demikianlah Allah menyesatkan  barangsiapa yang melampaui batas, yang ragu-ragu. Yaitu orang-orang yang bertengkar mengenai  Tanda-tanda Allah tanpa dalil yang datang kepada mereka. Sangat besar kebencian di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman, demikianlah Allah mencap setiap  hati orang sombong lagi  sewenang-wenang. (Al-Mu’min [40]:35-36).
   Nabi-nabi telah senantiasa datang ke dunia semenjak waktu yang jauh silam, tetapi begitu busuknya pikiran orang-orang — setiap kali datang seorang nabi baru, mereka menolak dan menentangnya,dan ketika ia wafat orang-orang yang beriman kepada nabi itu berkata bahwa tidak ada nabi akan datang lagi dan pintu wahyu telah tertutup untuk selama-lamanya.
   Dengan demikian jelaslah bahwa itikad Laa nabiyya ba’dahuu -  “tidak ada lagi nabi sesudahnya” adalah merupakan itikad sesat yang diwariskan dari zaman ke zaman, dan yang menjadi penyebab utama pendustaan dan penentangan yang dilakukan kaum-kaum purbakala terhadap para Rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan kepada mereka (QS.7:35-37). Demikian juga  cara-cara pendustaan dan penentangan terhadap para Rasul Allah pun  dari zaman ke zaman memiliki persamaan, seakan-akan mereka telah saling mewariskan hal-hal buruk tersebut (QS.51:53-54).
  Begitu juga yang terjadi di Akhir Zaman ini,  pendustaan dan penentangan  terhadap Rasul Akhir Zaman --   Imam Mahdi a.s. dan Al-Masih Mau’ud a.s., yakni Mirza Ghulam Ahmad a.s. -- yang kedatangannya ditunggu-tunggu dengan penuh harap oleh seluruh umat beragama dengan sebutan (nama) yang berbeda-beda, pada hakikatnya karena umumnya umat Islam kembali menganut itikad Laa Nabiyya Ba’dahuu (Tidak ada lagi nabi setelahnya), yakni  mereka keliru menafsirkan ucapan Nabi Besar Muhammad saw. tersebut.

(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid

Tidak ada komentar:

Posting Komentar