بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
HUBUNGAN NABI YUSUF A.S.
DENGAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
Bagian XXXVIII
Tentang
Itikad Sesat "Laa Nabiyya Ba'dahu"
(Tidak Ada lagi Nabi Sesudahnya)
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
قَالُوۡا یٰۤاَبَانَا اسۡتَغۡفِرۡ
لَنَا ذُنُوۡبَنَاۤ اِنَّا کُنَّا خٰطِئِیۡنَ ﴿۹۸﴾ قَالَ سَوۡفَ اَسۡتَغۡفِرُ لَکُمۡ رَبِّیۡ ؕ اِنَّہٗ ہُوَ الۡغَفُوۡرُ الرَّحِیۡمُ ﴿۹۹﴾
Mereka berkata: “Ya, ayah kami, mohonkanlah ampunan bagi kami kepada
Allah atas dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang
bersalah.” Ia berkata: “Segera aku akan memohon pengampunan bagi kamu dari Tuhan-ku,
sesungguhnya Dia Maha Pengampun, Maha
Penyayang.” (Yusuf [12]:98-99).
Dalam Bab
sebelumnya telah diterangkan mengenai berbagai sarana atau cara Allah Swt.
berkomunikasi dengan hamba-hamba-Nya, yakni melalui kasyaf (penglihatan
ruhani), wahyu langsung -- contohnya Allah Swt. bercakap-cakap langsung dengan
Nabi Musa a.s. (QS.28:30-36); atau wahyu
dengan perantaraan malaikat Jibril a.s. (QS.2:98; QS.26:194-195). Berikut
firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
وَ مَا کَانَ لِبَشَرٍ اَنۡ
یُّکَلِّمَہُ اللّٰہُ اِلَّا وَحۡیًا اَوۡ
مِنۡ وَّرَآیِٔ حِجَابٍ اَوۡ یُرۡسِلَ رَسُوۡلًا فَیُوۡحِیَ بِاِذۡنِہٖ مَا
یَشَآءُ ؕ اِنَّہٗ عَلِیٌّ حَکِیۡمٌ ﴿۵۲﴾
Dan sekali-kali tidak mungkin bagi manusia bahwa Allah
berbicara kepadanya, kecuali dengan wahyu atau dari belakang
tabir atau dengan mengirimkan seorang utusan guna mewahyukan
dengan seizin-Nya apa
yang Dia kehendaki, sesungguh-nya, Dia Maha Tinggi, Maha Bijaksana. (Al-Syura [43]:52).
Dan jenis sarana
komunikasi lainnya adalah melalui penciuman, sebagaimana yang dialami
oleh Nabi Ya’qub a.s., firman-Nya:
اِذۡہَبُوۡا بِقَمِیۡصِیۡ ہٰذَا فَاَلۡقُوۡہُ عَلٰی وَجۡہِ اَبِیۡ یَاۡتِ بَصِیۡرًا ۚ وَ اۡتُوۡنِیۡ بِاَہۡلِکُمۡ اَجۡمَعِیۡنَ ﴿٪۹۴﴾ وَ لَمَّا فَصَلَتِ الۡعِیۡرُ قَالَ اَبُوۡہُمۡ اِنِّیۡ لَاَجِدُ رِیۡحَ یُوۡسُفَ لَوۡ لَاۤ اَنۡ تُفَنِّدُوۡنِ ﴿۹۵﴾ قَالُوۡا تَاللّٰہِ اِنَّکَ لَفِیۡ ضَلٰلِکَ الۡقَدِیۡمِ
﴿ٙ۹۶﴾
Pergilah kamu bersama dengan kemejaku ini dan letakkanlah di hadapan ayahku, ia akan mengetahui
segala sesuatu. Dan bawalah kepadaku keluargamu semuanya.” Dan
tatkala kafilah itu telah berangkat dari Mesir, ayah mereka berkata:
“Sesungguhnya aku mencium harum Yusuf
meskipun kamu menganggap diriku seorang pikun.” Mereka menjawab: “Demi Allah, sesungguhnya engkau
benar-benar masih dalam kekeliruan
engkau yang lama itu.” (Yusuf [12]:94-95).
Pengakuan Dosa Saudara-saudara Nabi Yusuf a.s.
Jadi, sebelum
kafilah yang membawa baju Nabi
Yusuf a.s. dari Mesir tersebut sampai ke
tempat Nabi Ya’qub a.s. di Kanaan, Nabi
Ya’qub a.s. telah memberitahukan kepada
anak-anak beliau bahwa beliau telah mencium “aroma wangi” Nabi Yusuf a.s., tetapi mereka
mengganggap ucapan ayah mereka itu sebagai perkataan orang yang telah pikun. Tetapi
ketika kafilah dari Mesir itu tiba maka
barulah mereka percaya bahwa selama itu apa yang ayah mereka lakukan berkenaan
dengan adik mereka, Nabi Yusuf a.s., bukan suatu tindakan yang sesat (keliru)
sebagaimana yang mereka yakini selama
itu, firman-Nya:
فَلَمَّاۤ اَنۡ جَآءَ الۡبَشِیۡرُ اَلۡقٰىہُ عَلٰی وَجۡہِہٖ فَارۡتَدَّ بَصِیۡرًا ۚ قَالَ اَلَمۡ اَقُلۡ لَّکُمۡ ۚۙ اِنِّیۡۤ اَعۡلَمُ مِنَ اللّٰہِ
مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ ﴿۹۷﴾
Maka tatkala pembawa kabar gembira itu telah datang, ia
meletakkan kemeja itu di hadapannya, maka ia (Ya’qub) menjadi mengerti,
ia berkata: “Tidakkah telah aku
katakan kepadamu sesungguhnya aku
mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui?” (Yusuf [12]:97).
Kembali kepada masalah Kisah
Monumental “Adam, Malaikat, Iblis” (QS.2:31), setelah para malaikat
mengetahui keunggulan Adam – yakni Khalifah yang dijadikan Allah di
bumi – yang mampu memberitahukan al-Asmaa yang diajarkan Allah Swt. kepadanya, maka ketika Allah Swt. memerintahkan
para malaikat untuk “sujud” (patuh-taat) kepada Adam, maka mereka semua “sujud”
kepadanya, kecuali iblis (QS.2:32-35).
Demikian pula dengan
saudara-saudara Nabi Yusuf a.s., setelah mereka yakin bahwa perlakuan khusus yang dilakukan Nabi Ya’qub
a.s. terhadap kedua adik mereka – Nabi Yusuf
a.s. dan Benyamin – bukanlah tindakan yang tidak adil serta pilih
kasih melainkan berdasarkan pengetahuan Nabi Ya’qub a.s. yang benar –
mereka pun kemudian memohon kepada ayah
mereka akan berkenan memohonkan ampunan kepada Allah Swt. bagi mereka, firman-Nya:
قَالُوۡا یٰۤاَبَانَا اسۡتَغۡفِرۡ
لَنَا ذُنُوۡبَنَاۤ اِنَّا کُنَّا خٰطِئِیۡنَ ﴿۹۸﴾ قَالَ سَوۡفَ اَسۡتَغۡفِرُ لَکُمۡ رَبِّیۡ ؕ اِنَّہٗ ہُوَ الۡغَفُوۡرُ الرَّحِیۡمُ ﴿۹۹﴾
Mereka berkata: “Ya, ayah kami, mohonkanlah ampunan bagi kami
kepada Allah atas dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah
orang-orang yang bersalah.” Ia
berkata: “Aku segera akan
memohon pengampunan bagi kamu dari
Tuhan-ku, sesungguhnya Dia Maha
Pengampun, Maha Penyayang.” (Yusuf [12]:98-99).
Dari sikap-sikap
buruk saudara-saudara Nabi Yusuf a.s. selama itu – baik terhadap ayah
mereka, Nabi Ya’qub a.s. mau pun terhadap saudara mereka Nabi Yusuf a.s. –
dapat ditarik kesimpulan bahwa sebenarnya selama itu mereka tidak mempercayai bahwa ayah mereka, Nabi
Ya’qub a.s. – dan bahkan leluhur mereka, Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi
Ishaq a.s. – adalah para nabi
Allah.
Itikad Sesat “Laa Nabibiyya Ba’dahu” (Tidak Ada Lagi
Sesudahnya)
Sikap buruk mereka itu diwarisi
oleh umumnya keturunan mereka dari kalangan Bani Israil, yakni keturunan
mereka itu pun selalu mendustakan para rasul Allah yang dibangkitkan
dari kalangan mereka sendiri (Bani Israil), mulai dari Nabi Musa a.s. sampai
dengan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., firman-Nya:
وَ
لَقَدۡ اٰتَیۡنَا مُوۡسَی الۡکِتٰبَ وَ قَفَّیۡنَا مِنۡۢ بَعۡدِہٖ
بِالرُّسُلِ ۫ وَ اٰتَیۡنَا عِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ الۡبَیِّنٰتِ وَ اَیَّدۡنٰہُ
بِرُوۡحِ الۡقُدُسِ ؕ اَفَکُلَّمَا جَآءَکُمۡ رَسُوۡلٌۢ بِمَا لَا تَہۡوٰۤی اَنۡفُسُکُمُ
اسۡتَکۡبَرۡتُمۡ ۚ فَفَرِیۡقًا کَذَّبۡتُمۡ ۫ وَ فَرِیۡقًا تَقۡتُلُوۡنَ ﴿۸۸﴾ وَ قَالُوۡا قُلُوۡبُنَا غُلۡفٌ ؕ بَلۡ لَّعَنَہُمُ اللّٰہُ
بِکُفۡرِہِمۡ فَقَلِیۡلًا مَّا یُؤۡمِنُوۡنَ
﴿۸۹﴾
Dan sungguh Kami benar-benar telah berikan Alkitab kepada Musa dan Kami mengikutkan rasul-rasul di
belakangnya, Kami
memberikan kepada Isa Ibnu Maryam Tanda-tanda yang nyata, dan juga
Kami memperkuatnya dengan Ruhulqudus. Maka apakah patut
setiap datang kepadamu seorang rasul dengan membawa apa yang tidak disukai
oleh dirimu kamu berlaku takabur,
lalu sebagian kamu dustakan dan sebagian
lainnya kamu bunuh? Dan mereka berkata: ”Hati kami tertutup.”
Tidak, bahkan Allah telah mengutuk mereka
karena kekafiran mereka maka
sedikit sekali apa yang mereka imani. (Al-Baqarah [2]:88-89).
Demikian pula halnya
terhadap Nabi Yusuf a.s. pun nampaknya mereka tidak sepenuhnya
mempercayai beliau sebagai seorang rasul Allah, sebagaimana tersirat dari firman-Nya berikut
ini:
وَ
لَقَدۡ جَآءَکُمۡ یُوۡسُفُ مِنۡ قَبۡلُ بِالۡبَیِّنٰتِ فَمَا زِلۡتُمۡ فِیۡ شَکٍّ
مِّمَّا جَآءَکُمۡ بِہٖ ؕ حَتّٰۤی
اِذَا ہَلَکَ قُلۡتُمۡ لَنۡ یَّبۡعَثَ اللّٰہُ مِنۡۢ بَعۡدِہٖ رَسُوۡلًا ؕ کَذٰلِکَ یُضِلُّ اللّٰہُ مَنۡ
ہُوَ مُسۡرِفٌ مُّرۡتَابُۨ ﴿ۚۖ۳۵﴾ الَّذِیۡنَ یُجَادِلُوۡنَ
فِیۡۤ اٰیٰتِ اللّٰہِ بِغَیۡرِ سُلۡطٰنٍ
اَتٰہُمۡ ؕ کَبُرَ مَقۡتًا عِنۡدَ اللّٰہِ وَ عِنۡدَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا ؕ کَذٰلِکَ
یَطۡبَعُ اللّٰہُ عَلٰی کُلِّ قَلۡبِ مُتَکَبِّرٍ جَبَّارٍ ﴿۳۶﴾
Dan sungguh benar-benar telah datang kepada kamu Yusuf sebelum
ini dengan bukti-bukti yang nyata, tetapi kamu selalu dalam keraguan
dari apa yang dengannya dia datang kepadamu, hingga apabila ia telah
mati kamu berkata: “Allah tidak akan per-nah mengutus seorang rasul pun sesudahnya.” Demikianlah Allah menyesatkan
barangsiapa yang melampaui batas, yang ragu-ragu. Yaitu orang-orang yang bertengkar
mengenai Tanda-tanda Allah tanpa dalil yang
datang kepada mereka. Sangat besar kebencian di sisi Allah dan di sisi
orang-orang yang beriman, demikianlah Allah mencap setiap hati
orang sombong lagi sewenang-wenang.
(Al-Mu’min [40]:35-36).
Nabi-nabi telah senantiasa datang ke dunia semenjak waktu
yang jauh silam, tetapi begitu busuknya pikiran orang-orang — setiap kali
datang seorang nabi baru, mereka menolak dan menentangnya,dan ketika ia
wafat orang-orang yang beriman kepada nabi itu berkata bahwa tidak ada nabi
akan datang lagi dan pintu wahyu telah tertutup untuk selama-lamanya.
Dengan demikian jelaslah
bahwa itikad Laa nabiyya ba’dahuu - “tidak ada lagi nabi sesudahnya” adalah
merupakan itikad sesat yang diwariskan dari zaman ke zaman, dan
yang menjadi penyebab utama pendustaan dan penentangan yang
dilakukan kaum-kaum purbakala terhadap para Rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan
kepada mereka (QS.7:35-37). Demikian juga cara-cara pendustaan dan penentangan terhadap para Rasul Allah pun dari zaman ke zaman memiliki persamaan, seakan-akan mereka telah saling mewariskan hal-hal buruk tersebut (QS.51:53-54).
Begitu juga yang terjadi di
Akhir Zaman ini, pendustaan
dan penentangan terhadap Rasul
Akhir Zaman -- Imam Mahdi a.s. dan Al-Masih
Mau’ud a.s., yakni Mirza Ghulam Ahmad a.s. -- yang
kedatangannya ditunggu-tunggu dengan penuh harap oleh seluruh umat beragama
dengan sebutan (nama) yang berbeda-beda, pada hakikatnya karena umumnya
umat Islam kembali menganut itikad Laa Nabiyya Ba’dahuu (Tidak
ada lagi nabi setelahnya), yakni mereka keliru
menafsirkan ucapan Nabi Besar Muhammad saw. tersebut.
(Bersambung)
Rujukan:
The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid
Tidak ada komentar:
Posting Komentar